Anda di halaman 1dari 13

Refleksi Kasus

Tumor Nasofaring

Diajukan untuk Melengkapi Tugas Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL di RST dr. Soedjono Magelang

Oleh :

Fieka Amelia

30101306948

Pembimbing :

Kolonel Pur (Ckm) dr. Budi Wiranto, Sp. THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTANAGUNG

SEMARANG

2017
LEMBAR PENGESAHAN

REFLEKSI KASUS
Tumor Nasofaring

Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas


Kepaniteraan Klinik Departemen THT Rumah Sakit Tk.II
dr. Soedjono Magelang

Oleh :

Fieka Amelia

30101306948

Magelang, 5 juli 2017

Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

(Kolonel Pur (Ckm) dr. Budi Wiranto, Sp.THT-KL )

LAPORAN KASUS
2.1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 53 tahun
Alamat : Kaligintung RT 04 RW 14 Kalinegara
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
No. CM :-
Tanggal Masuk : 3 Juli 2017
Tanggal Pemeriksaan : 3 Juli 2017
2.2. ANAMNESIS
Autoanamnesa tanggal 3 Juli 2017 di Poli THT RST. Dr. Soedjono,
Magelang
2.2.1. Keluhan utama
Gemrebek telinga kanan
2.2.2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke poliklinik dengan rujukan dari puskesmas.
Pasien mengeluh gemrebek pada telinga kanan sejak dua minggu
lalu. Keluhan dirasakan terus menerus dan menetap. Keluhan disertai
rasa penuh di telinga kanan. Sebelumnya pasien mengalami batuk
selama 1 bulan dan sudah berobat ke puskesmas. Keluhan batuk
berkurang setelah diberi obat. Pasien menyangkal keluhan seperti
mimisan, hidung tersumbat, pilek, dan hidung berbau busuk. Pasien
menyangkal keluhan keluar cairan dari telinga, nyeri telinga, dan
gangguan pendengaran. Pasien juga menyangkal keluhan sulit
membuka mulut, air liur berlebihan, napas berbau, dan sakit kepala.

2.2.3. Riwayat penyakit dahulu


Riwayat sakit serupa disangkal
Riwayat alergi disangkal
Riwayat trauma disangkal
2.2.4. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama.
2.2.5. RiwayatSosial Ekonomi
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga
Biaya pengobatan menggunakan BPJS
Kesan ekonomi cukup

2.3. PEMERIKSAAN FISIK


Dilakukanpemeriksaan pada tanggal 3 Juli 2017 di Poli THT RST. Dr.
Soedjono Magelang
2.3.1. Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Berat badan : 70 kg
Tinggi Badan : 165 cm
Status Gizi : BMI 25.7 (overweight)
2.3.2. Tanda vital
TD : 120/80
Nadi : 84 x/menit
Respirasi : 22 x/menit
Suhu : 37.0 C
2.3.3. Kepala dan Leher
Kepala : Normocephal
Wajah : Simetris
Leher anterior : tidak ada pembesaran KGB
Leher posterior : tidak ada pembesaran KGB
2.3.4. Gigi dan Mulut :
Gigi geligi : tumbuh beraturan
Lidah : bentuk normal, kotor (-), tremor (-)
Pipi : bengkak (-)
2.3.5. Status Lokalis
2.3.3.1. Pemeriksaan telinga
Telinga luar
Dextra Sinistra
Aurikula Bentuk normal Bentuk normal
Nyeri tarik (-) Nyeri tarik (-)
Oedem (-) Oedem (-)
Preaurikula Tragus pain (-) Tragus pain (-)
Oedem (-) Oedem (-)
Retroaurikula Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Oedem (-) Oedem (-)
Mastoid Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Oedem (-) Oedem (-)
CAE Discharge (-) Discharge (-)
Serumen (-) Serumen (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)

Membran Timpani
Dextra Sinistra
Perforasi (-) (-)
Cone of light (-) (+) anteroinferior
Warna Putih keabu-abuan mengkilat Putih keabu-abuan
seperti mutiara mengkilat seperti mutiara
Retraksi (+) (-)

2.3.3.2. Pemeriksaan hidung

Dextra Sinistra
Hidung Bentuk normal Bentuk normal
Mukosa Hiperemis (-), hipertrofi (-) Hiperemis (-), hipertrofi
(-)
Konka
Media Hiperemis (-), hipertrofi (-) Hiperemis (-), hipertrofi
(-)
Inferior Hiperemis (-), hipertrofi (-) Hiperemis (-), hipertrofi
(-)
Meatus
Media Hiperemis (-), hipertrofi (-) Hiperemis (-), hipertrofi
(-)
Inferior Hiperemis (-), hipertrofi (-) Hiperemis (-), hipertrofi
(-)
Septum Deviasi (-) Deviasi (-)
Massa (-) (-)
Pemeriksaan Rutin Khusus Hidung
Tes palatal phenomen: (-) bila tidak bergerak, kesan ada massa yang
menghambat pergerakan palatum mole

2.3.3.1. Pemeriksaan Tenggorokan

Bibir Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)


Mulut Mukosa mulut basah berwarna merah muda
Geligi Warna kuning gading, caries (-), gangren(-)
Ginggiva Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Lidah Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-), dalam batas
normal
Uvula Bentuk normal, hiperemi (-), edema (-)
Palatum mole Ulkus (-), hiperemi (-)
Faring Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-)
Tonsila palatine Kanan Kiri
Ukuran T0 T0
Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Permukaan Tidak Rata Tidak Rata
Kripte Melebar (-) Melebar (-)
Detritus (-) (-)
Peri Tonsil Abses (-) Abses (-)
Fossa Tonsillaris hiperemi (+) hiperemi (+)
dan Arkus Faringeus

2.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium darah lengkap
Endoskopi nasofaring
X-Foto thoraks
I. RESUME

1. Pemeriksaan Subjektif
a. Keluhan utama: Gembrebeg telinga kanan
b. Riwayat penyakit sekarang :
- Gembrebeg telinga kanan sejak 2 minggu yang lalu
- hearing loss (-), otalgia (-), otorrhea (-)
- Epistaksis (-), hiposmia (-), obstruksi nasi (-), foetor ex nasi (-),
rhinorrhea (-)
- Odinofagia (-) Halitosis (+), Disfagia (-), Disfoni (-), Nyeri gigi
(-)
c. Riwayat penyakit dahulu: riwayat ispa (+), riwayat alergi (-),
riwayat trauma (-)
d. Riwayat penyakit keluarga: keluhan serupa (-)
e. Riwayat sosial ekonomi: kesan ekonomi cukup, menggunakan BPJS
2. Pemeriksaan Objektif
a. Kepala dan leher: dalam batas normal
b. Telinga: dalam batas normal
c. Hidung : Tes palatal phenomen (-)
d. Tenggorok:
Tonsila palatina Dextra et Sinistra T0, hiperemis (-), kripte
melebar, detritus (-). Dinding posterior orofaring : hiperemis (-),
post nasal drip (-), mukosa pucat (-)

2.5. DIAGNOSIS BANDING

Tumor nasofaring + Tuba Catar


Polip nasal

2.6. DIAGNOSIS SEMENTARA

Tumor Nasofaring + Tuba Catar

2.7. PENATALAKSANAAN
2.7.1. Medikamentosa

Cefixim caps 100 mg No X sbdd tab 1


Dexamethason tab 0,5 mg No XV stdd tab 1
2.7.2. Biopsi Nasofaring
2.7.3. Rencana : Rujuk ke Sp.THT-KL
BAB II
PEMBAHASAN

Anamnesis
Dari anamnesis didapatkan seorang perempuan usia 53 tahun datang
dengan keluhan gembrebeg pada telinga kanan terus menerus dan menetap sejak 2
minggu yang lalu. Pasien mempunyai riwayat batuk dan berkurang setelah diberi
obat.

Pemeriksaan Fisik
Dari pemeriksaan fisik didapatkan :
Retraksi membrane timpani auris dextra, palatal phenomen (-). Hal ini
menunjukan bahwa telah terjadi reaksi peradangan pada telinga tengah yang
didahului dengan adanya faktor predisposisi infeksi pada telinga tengah yaitu
adanya sumbatan pada tuba eustachius akibat infeksi saluraan nafas atas,
sehingga menimbulkan gejala-gejala yang dikeluhkan pasien. Palatal
phenomen negative menunjukkan adanya massa pada nasofaring.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik akhirnya ditegakkan
diagnosis sementara tumor nasofaring.
Anatomi faring
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong,
yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Pharynx membentang dari
bassis crania ke bawah sampai setinggi pinggir bawah cartilage cricoidea (setinggi
corpus vertebra cervical 1), dimana ia melnajut sebagai oesophagus. Ke atas,
faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan berhubungan
dengan rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring di bawah
berhubungan melalui aditus laring dan ke bawah berhubungan dengan esofagus.
Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam keluar) selaput lendir, fasia
faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal. Atas dasar
letaknya maka cavum pharyngis dapat dibagi menjadi tiga yaitu pars nasalis
(nasopharynx), pars oralis (oropharynx), dan pars laryngea (laryngopharynx).

A. Nasofaring
Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, di bagian
bawah adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke
belakang adalah vertebra servikal. Pada dinding lateral terdapat muara tuba
eustachii yaitu ostium pharyngeum tubae. Tuba ini menghubungkan
nasopharynx dengan cavum timpani. Ostium tuba disebelah craniodorsal
dibatasi oleh torus tubarius. Disebelah dorsal torus tubarius, dinding
pharynx menerus ke lateral dan membentuk recessus pharyngeus (fossa
rosenmulleri).

B. Orofaring
Orofaring disebut juga mesofaring, dengan batas atasnya adalah
palatum mole, batas bawah adalah tepi atas epiglotis, ke depan adalah
rongga mulut, ke belakang adalah vertebra servikal. Struktur yang terdapat
di rongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil palatina, fossa
tonsilaris serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan
foramen sekum.

C. Laringofaring(Hipofaring)
Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas epiglotis,
batas anterior ialah laring, batas inferior ialah esofagus, serta batas posterior
adalah vertebra servikal. Bila laringofaring diperiksa dengan kaca tenggorok
pada pemeriksaan laring tidak langsung atau dengan laringoskop pada
pemeriksaan laring langsung, maka struktur pertama yang tampak di bagian
dasar lidah valekula. Bagian ini merupakan dua buah cekungan yang
dibentuk oleh ligamentum glosoepiglotika medial dan lateral pada tiap sisi.
Di bawah valekula terdapat epiglotis. Epiglotis berfungsi juga untuk
melindungi (proteksi) glotis ketika menelan minuman atau bolus makanan,
pada saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke esofagus.

Fisiologi faring
Fungsi faring terutama untuk respirasi, menelan, resonansi suara dan artikulasi.

Menelan
Terdapat 3 fase dalam proses menelan , yaitu fase oral, fase faringal dan
fase esofagal. Fase oral, bolus makanan dari mulut menuju ke faring (disadari).
Fase faringal yaitu pada waktu transpor bolus makanan melalui faring
(involuntary). Fase esofagal disini gerakannya tidak disengaja, yaitu pada waktu
bolus makanan bergerak secara peristaltik di esofagus menuju lambung.

Fungsi faring dalam proses berbicara


Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot
palatum dan faring. Gerakan ini antara lain berupa pendekatan palatum mole ke
arah dinding belakang faring. Gerakan penutupan ini terjadi sangat cepat dan
melibatkan mula-mula m.salpingofaring dan m.palatofaring, kemudian m.levator
veli palatini bersama-sama m.konstriktor faring superior. Pada gerakan penutupan
nasofaring m.levator veli palatini menarik palatum mole ke atas belakang hampir
mengenai dinding posterior faring. Jarak yang tersisa ini diisi oleh tonjolan
Passavant pada dinding belakang faring yang terjadi akibat 2 macam mekanisme,
yaitu pengangkatan faring sebagai hasil gerakan m.palatofaring (bersama
m.salpingofaring) dan oleh kontraksi aktif m.konstriktor faring superior. Mungkin
kedua gerakan ini bekerja tidak pada waktu yang bersamaan.

Patofisiologi
Sel yang normal mula-mula terpajan agen yang dapat merusak DNA.
Apabila reparasi DNA gagal terjadi karena gen-gen pengatur pertumbuhan sel
rusak, maka sel akan mengalami pertumbuhan klonal yang tak terkontrol. Lama-
lama, terjadi progresi tumor yang dapat berujung pada neoplasma yang malignan.
Neoplasma malignan memiliki karakteristik berupa invasi dan metastasis. Factor
genetic dan lingkungan merupakan factor yang berperan yang diasosiasikan
dengan virus EBV (Epstein Barr-virus).
Pasien pada pemicu mengalami gangguan pendengaran berupa penurunan
pendengaran dan munculnya suara pada telinga. Gangguan-gangguan ini dapat
disebabkan oleh disfungsi tuba Eustachius. Otitis media dengan efusi memiliki
karakteristik efusi nonpurulen di telinga tengah dengan gejala rasa penuh pada telinga
atau hilangnya pendengaran. Gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya
rangsangan dari luar disebut juga sebagai tinitus. Suara ini muncul akibat aktivitas
elektrik di area auditorius yang bukan berasal dari bunyi eksternal, tetapi dari sumber
impuls abnormal di dalam tubuh pasien. Tinitus dapat terdengar berupa suara
mendenging, menderu, mendesis, dan lain-lain. Tinitus dapat terjadi akibat gangguan
konduksi, misalnya pada sumbatan liang telinga karena serumen atau tumor, otitis media,
dll. Gejala terkait massa di nasofaring yang dialami pasien pada pemicu ini adalah
mimisan ringan, hiposmia, serta penyumbatan (obstruksi) hidung. Penyebab munculnya
massa pada leher adalah metastasis tumor ke kelenjar getah bening (nodus limfatik)
bagian servikal. Rongga tengkorak terletak dekat dengan nasofaring dan terhubungkan
melalui beberapa lubang. Meluasnya tumor sampai ke daerah intrakranial atau mengerosi
clivus dapat menyebabkan gangguan nervus cranialis. Nervus yang paling umum
terpengaruhi adalah nervus V, dilanjutkan dengan VI, IX, X, dan XII. Apabila tumor
menjalar lewat foramen laserum, saraf cranialis III, IV, VI, dan bisa juga V akan terkena.
Manifestasi yang dapat ditemukan contohnya neuralgia trigeminal dan diplopia. Apabila
menjalar lewat foramen jugulare, maka saraf cranialis yang terkena adalah nervus IX, X,
XI, dan XII.

Penatalaksanaan
Medikamentosa
Cefixim caps 100 mg No X sbdd tab 1
Dexamethason tab 0,5 mg No XV stdd tab 1
Non medikamentosa
Biopsy nasofaring