Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua pasangan mempunyai keinginan untuk memiliki keturunan yang
merupakan penunjang kebahagiaan rumah tangga. Pasangan yang belum
mempunyai keturunan pasti akan terus berusaha demi mendapatkan kebahagiaan
rumah tangganya. Namun harapan itu tidak semua orang bisa mendapatkannya
karena permasalahan yang ada seperti infertilitas. Infertilitas merupakan masalah
serius yang dihadapi suami istri. Infertilitas adalah suatu keadaan dimana
pasangan suami istri yang mana aktif dalam melakukan hubungan seksual tanpa
menggunakan kontrasepsi apapun akan tetapi pasangan suami istri tersebut tidak
dapat menghasilkan keturunan dalam jangka waktu satu tahun1.
Dalam beberapa dekade terakhir ini, prevalensi kejadian infertilitas baik di
dunia maupun Indonesia mengalami peningkatan. Pada tingkat global berkisar
(15%), 60 sampai 80 juta orang di dunia mengalami infertil, mayoritas dari mereka
adalah dari negara berkembang. Di Indonesia (10-12%) mengalami infertil. Defek
pada sperma adalah penyebab paling umum yang terjadi pada pria dan hal tersebut
susah untuk disembuhkan. Dimana faktor fisiologi, faktor genetik, stress oksidatif,
dan faktor lingkungan termasuk gaya hidup diketahui juga terlibat dalam
memperburuk fungsi sperma dan dapat menyebabkan infertilitas1,2
Sejalan dengan perubahan gaya hidup pada masyarakat zaman sekarang,
terjadi perubahan pola penyakit yang di mana lebih cenderung ke penyakit
metabolik seperti diabetes melitus (DM). Diabates miletus merupakan penyakit
yang tidak menular yang sifatnya kronik progresif dan akan terus meningkat dari
tahun ke tahun. Diabetes Miletus terus mengalami prevalansi yang terus
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik di negara maju maupun di negara
berkembang.12 Internasional Diabetes Federation (IDF) menunjukan bahwa di
dunia terdapat 366 juta jiwa menderita diabetes pada tahun 2011 dan akan menjadi
sekitar 522 juta pada tahun 2030. Lebih dari 60% dari populasi diabetes melitus
dunia terdapat di Negara-negara Asia. Indonesia saat ini menjadi negara peringkat

1
2

empat dengan jumlah penderita diabetes mellitus terbesar di dunia setelah China,
India, dan Amerika 3.
World Health Organization (WHO) memprediksi kenaikan jumlah
penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3
juta pada tahun 2030. Berdasarkan pola pertambahan penduduk di Indonesia
diperkirakan pada tahun 2030 akan terdapat 12 juta penderita DM di daerah
perkotaan dan 8,1 juta di daerah pedesaan9. Hasil beberapa penelitian menyatakan
bahwa diabetes mellitus ada hubungannya dengan infertilias pada pria 4. Sekitar
90% dari pasien diabetes memimiliki gangguan fungsi seksual, termasuk
penurunan libido, impotensi, gangguan ejakulasi, gangguan spermatogenesis, dan
fungsi kelenjar seks aksesori yang diikuti dengan penurunan kualitas sperma
sehingga menyebabkan infertilitas2,9 Pada penderita diabetes juga ditemukan
adanya penurunan testosterone secara signifikan disertai penurunan kadar LH dan
FSH5. Hasil penelitian pada tikus DM, ditemukan adanya penurunan kadar
testosterone plasma secara signifikan2. Pada penelitian yang lain, dilaporkan
bahwa dampak utama diabetes mellitus terhadap infertilitas pria adalah akibat
adanya peningkatan produksi senyawa oksigen reaktif (reactive oxygen
species/ROS) dalam sel dan penurunan total kapasitas anti oksidan dalam tubuh
yang menyebabkan terjadinya stress oksidatif terhadap sel termasuk sel
spermatozoa. Kondisi ini akan memicu terjadinya kerusakan pada mitokondria
DNA, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kualitas spermatozoa7. Hal ini
terjadi karena kemampuan pertahanan tubuh melalui sistem antioksidan berkurang,
sehingga dibutuhkan suplai antioksidan dari luar tubuh yang dapat ditemukan pada
sayuran dan buah-buahan6,34.
Buah delima (Punica granatum) merupakan salah satu sumber antioksidan
dari tumbuh-tumbuhan dengan kandungan polifenol yang cukup tinggi 7. Bagian
pohon delima merah seperti buah, kulit, dan akarnya mempunyai rasa yang sepat.
Rasa yang sepat ini merupakan tanda bahwa didalam bagian tanaman tersebut
mengandung senyawa polifenol. Kandungan polifenol pada ekstrak kulit buah
delima merah yang berfungsi sebagai antioksidan mencapai 26% dari seluruh
kandungan kimia yang terdapat di dalamnya8.
3

Delima diketahui memiliki senyawa fenol yang memiliki banyak manfaat


bagi kesehatan tubuh. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian sebelumnya yang
dilakukan Parmar dan Kar yang diperoleh bahwa ekstrak kulit buah delima
(Punica granatum L) dosis maksimal (200 mg/kgBB/hari) dapat menstabilkan
kadar gula darah pada tikus diabetes. Begitu juga dengan hasil penelitian
Mohamed et.al., diperoleh dosis maksimal (200 mg/kgBB/hari) dapat
memperbaiki fertilitas pada tikus jantan normal49,46. Namun, belum banyak
diketahui oleh masyarakat tentang manfaat dari ekstrak kulit buah delima,
termasuk pada pencegahan infertil pada penderita Diabetes Melitus. Berdasarkan
uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti ekstrak kulit delima terhadap kualitas
spermatozoa tikus (Rattus norvegicus) strain wistar jantan diabetes melitus.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat
dirumuskan masalah penelitian, Apakah pemberian ekstrak kulit buah delima
(Punica granatum L) dapat menghambat penurunan kualitas sperma tikus putih
(Rattus norvegicus) strain Wistar jantan yang menderita diabetes miletus?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah delima (Punica
granatum L) dapat menghambat penurunan kualitas sperma tikus putih (Rattus
norvegicus) strain Wistar jantan yang menderita diabetes miletus.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan
khususnya dalam ilmu kedokteran serta dapat dipakai sebagai acuan untuk
penelitian selanjutnya mengenai pengaruh pemberian ekstrak delima (Punica
granatum L), sebagai terapi preventif infetilitas pada pria.

2. Manfaat Praktis
4

a. Dapat menjadi bahan rujukan untuk mempertimbangkan penggunaan obat


tradisional seperti delima (punica granatum L), sebagai alternatif terapi
preventif infertilitas pada pria.
b. Sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan ekstrak delima (punica
granatum L) sebagai tanaman obat (fitofarmaka) yang berkhasiat sebagai
antioksidan.

1.5 Hipotesis
Pemberian ekstrak kulit buah delima (Punica granatum L), dapat
menghambat penurunan kualitas sperma tikus putih (Rattus norvegicus) Strain
Wistar jantan yang menderita diabetes melitus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
5

2.1 Sistem Reproduksi Pria


Sistem reproduksi pada pria mempunyai sepasang testis, banyak duktus
eksretorius, dan bermacam-macam kelenjar tambahan seperti vesikula seminalis,
kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretralis yang dapat menghasilkan berbagai
macam produk sekresi untuk ditambahkan ke sperma dalam proses pembentukan
semen10. Fungsi reproduksi pria dapat dibagi dalam tiga sub golongan utama :
pertama, spermatogenesis yang berarti hanya pembentukan sperma, yang kedua
pelaksanaan kerja seksual pria, dan yang ketiga pengaturan fungsi seksual pria
oleh berbagai hormon11.

2.1.1 Anatomi dan Histologi Testis


Testis merupakan organ genitalia pria yang terdapat di dalam skrotum,
berjumlah dua, memiliki bentuk ovoid dengan panjang 4-5 cm dan berdiameter
2.5 cm. Testis pada orang dewasa memiliki ukuran sekitar 4x3x2.5 cm, dengan
volume 15-25 ml. Testis dalam menjalankan fungsinya mendapatkan darah dari
beberapa cabang arteri, yaitu arteri spermatika interna, arteri deferensialis, dan
arteri kremasterika, sedangkan pembuluh vena yang meninggalkan testis akan
berkumpul membentuk pleksus pampiniformis12.
Kedua buah testis dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat tebal yang disebut
tunika albuginea. Lapisan berikutnya yang melapisi testis setelah tunika albuginea
adalah tunika vaginalis yang terdiri dari lapisan viseralis dan parietalis, serta
tunika dartos. Di bagian posterior, tunika albuginea yang melapisi testis nantinya
akan menebal dan meluas ke dalam setiap testis untuk membentuk mediastinum
testis. Septum jaringan ikat tipis akan memanjang dari mediastinum testis dan
membagi setiap testis kedalam menjadi 250 kompartemen piramidal yang disebut
lobulus testis. Setiap lobulus testis nantinya akan ditempati oleh satu sampai
empat tubulus seminiferus12.
Tubulus seminiferus adalah saluran yang berkelok-kelok yang ada di
dalam testis biasanya tampak terpotong melintang, memanjang, atau tangensial

pada sediaan. Tubulus seminiferus dilapisi oleh epitel berlapis, epitel ini
mengandung dua jenis sel, sel yang menghasilkan sperma yaitu sel spermatogenik
dan yang memberi makan kepada sperma saat sedang berkembang yaitu sel
6

sartoli. Sel berlapis atau di sebut sel germinal ini berada di atas membrana basalis
tubulus seminiferus13.
Seluruh tubulus seminiferus akan mendekat menuju mediastinum untuk
menjadi tubulus yang lurus yaitu tubulus rektus yang merupakan bagian pertama
sistem saluran keluar. Tubulus rektus merupakan penghubung antara tubulus
seminiferus dengan labirin saluran-aluran berlapis epitel berkesinambungan, yaitu
rete testis. Rete testis ini kemudian akan dihubungkan dengan bagian kepala
epididimis oleh 1020 duktus eferen14,15.
Epididimis adalah tuba terlilit yang terletak di sepanjang sisi posterior
testis, dan berfungsi menerima sperma dari duktus eferen. Epididimis selanjutnya
mengarah ke dalam vas deferens, kemudian bagian vas deferens ini menembus
prostat yang kemudian pada akhirnya akan bergabung membentuk duktus
ejakulatorius14,15. Di bawah adalah gambar struktur anatomi dan histologi dari
testis :

Gambar 1. Anatomi testis 11.


7

Gambar 2. Histologi testis13.

2.1.2 Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah suatu proses perkembangan dari spermatogenia
sampai ke spermatozoa. Spermatogenia yang terletak di lapisan tubulus terluar
terus-menerus membelah secara mitosis untuk menghasilkan sel anak yang identik
dengan sel induknya poliferasi tersebut menyediakan persediaan sel germinal baru
yang cukup. Setelah pembelahan mitosis, satu dari sel anak tetap berada di bagian
terluar tubulus dan bertahan sebagai spermatogenium yang tidak berdiferensiasi,
yang berfungsi untuk menjaga keberadaan sel-sel germinal. Sel-sel anak lainnya
mulai bergerak menuju lumen sambil menjalani berbagai proses. Pada manusia,
sel-sel tersebut akan membelah secara mitosis sebanyak dua kali untuk
membentuk spermatosit primer yang identik 16.
Setelah proses mitotik yang terakhir, spermatosit primer akan memasuki
fase istirahat. Pada fase ini, kromosom diduplikasikan dan DNA bersiap
memasuki pembelahan meiosis yang pertama. Pada meiosis tahap pertama, setiap
spermatosit primer membentuk dua spermatosit sekunder (masing-masingdengan
23 pasang kromosom haploid) 16. Spermatosit sekunder membelah secara meiosis
untuk kedua kali, menghasilkan spermatid. Proses pembelahan ke dua kali ini
yang menghasilkan spermatid disebut dengan spermatidogenesis36. Spermatid
tidak akan mengalami pembelahan lebih lanjut, tetapi akan berubah menjadi
spermatozoa (sperma) melalui suatu proses yang disebut spermiogenesis.
Spermiogenesis merupakan suatu proses morfologik kompleks yang mengubah
spermatid bulat menjadi sel sperma10.
8

Gambar 3. Spermatogenesis 11.

2.1.3 Kualitas Sperma

Kualitas sperma adalah tingkat baik buruknya mutu spermatozoa,dan


dapat dinilai apakah terdapat ketidak normalan yang dapat mengganggu atau
menghambat terjadinya pembuahan. Kualitas sperma dapat dinilai melalui tiga
criteria yaitu motilitas, morfologi dan jumlah sel sperma50.

a. Motilitas sperma
Motilitas adalah unsur yang sangat penting dalam fertilisasi, karena
motilitas merupakan salah satu faktor yang menentukan gambaran spermatozoa
yang sehat. Motilitas membantu transport spermatozoa untuk mencapai terjadinya
fertilisasi. Sifat motilitas spermatozoa akan tampak setelah bercampur dengan

sekresi dari kelenjar kelamin aksesoris pada saat ejakulasi.Spermatozoa normal


bergerak dalam garis lurus dengan kecepatan 1 sampai 4 mm/menit. Lebih jauh
lagi, spermatozoa yang normal cenderung untuk bergerak lurus, dari pada dalam
gerakan berputar-putar11.

b. Morfologi sperma
Sel sperma memiliki panjang kira-kira 60m. Dari beberapa bagian
sperma yang paling berperan adalah ekor dan kepala. Kepala sel sperma
mempunyai panjang kira-kira 4-5 m terdapat nukleus yang38. Di belakang kepala
terdapat leher dan mengandung sentriol. Sentriol membentuk mikrotubul sebagai
9

bagian dari ekor. Ekor sel sperma dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian ekor
tengah (middle piece) mengandung mitokondria, bagian ekor dasar (principal
piece) merupakan bagian terpanjang dari ekor sperma dan end piece merupakan
bagian akhir ekor sperma dan bagian ujung ekor (end piece)39.

2.2 Diabetes Mellitus


Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit degeneratif kronis yang
meningkat dari tahun ketahun yang ditandai dengan adanya hiperglikemia dan
gangguan metabolisme kabohidrat, yang disebabkan oleh jumlah insulin yang
kurang atau karena kerja insulin yang tidak optimal. Penyakit diabetes millitus ini
adalah penyakit endemik baik di negara maju maupun negara berkembang. Tidak
jarang banyak orang yang mengalami keterlambatan dalam mengetahui atau
mengenal penyakit diabetes mellitus yang tidak terlepas dari perjalan penyakit ini
dimana keadaan intoleransi glukosa yang menimbulkan gejala klinis apabila telah
menyebabkan komplikasi pada organ target seperti jantung, mata, ginjal dan otak.
Tidak jarang penderita diabetic terdeteksi apabila sudah terjadi sindroma
metabolik pada pasien, dimana selain adanya hiperglikimea juga disertai dengan
hiperlipidemia, obesitas, dan hipertensi 17.
Hiperglikemia yang terjadi pada penderita diabetes di karenakan oleh
kelainan sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya. Diabetes melitus secara
umum yang diketahui sebagian besar masyarakat dibagi menjadi dua yaitu type
satu dan tipe dua. Tipe satu disebabkan oleh kerja dari sel beta pankreas yang
memproduksi insulin tidak bisa menghasilkan insulin atau insulin yang di hasilkan
hanya sedikit. Destruksi sel beta pankreas tersebut yang menyebabkan
berkurangnya insulin atau tidak ada sama sekali diproduksi. Diabetes melitus tipe
satu ini bergantung pada insulin dari luar untuk bisa bertahan. Oleh karena itu
diabetes tipe ini biasa disebut juga dengan insulin dependent diabetes mellitus
(IDDM). Diabetes ini bisa terjadi pada usia muda yaitu dibawah 30-40 tahun.
Namun, dapat juga menyerang semua orang18.
Gejala diabetes mellitus type 1 diantaranya adalah merasa sangat haus,
merasa sangat lapar, kelelahan/letih, pandangan kabur, mati rasa atau merasa gatal
pada kaki, kehilangan berat badan, sering buang air kecil. Selain itu, gejala berikut
10

ini juga dapat muncul pada penderita DM tipe 1 apabila kadar gula darah pada
penderita sangat tinggi. Gejala tersebut adalah napas dalam dan cepat, kulit dan
bibir kering, wajah kemerah-merahan, mual, dan muntah 19.
Sedangkan diabetes tipe dua terjadia akibat dari kombinasi dari kecacatan
produksi insulin dan resistensi insulin di membrane sel tubulus. Dibaetes tipe dua
merupakan jenis diabetes yang paling sering jumpai di kalangan masayarakat
dengan jumlah 90% dari seluruh penderita diabetes20.
Diabetes melitus merupakan penyakit degenaratif yang tidak menular.
Untuk penegakan diagnostik bisa dinilai dari kadar gula darah sewaktu ataupun
kadar gula darah puasa, yang mana bila di dapatkan kadar gula darah sewaktu
sama dengan atau besar dari 200 mg/dl dan kadar gula darah puasa sama dengan
atau besar dari 126 mg/dl. Dalam hal ini sudah bisa ditegakkan diagnosis diabetes
melitus21.
Pada saat makan dan makanan akan masuk ke tubuh kita maka glukosa
akan diabsorbsi oleh darah yang kemudian glukosa dibawa kehati oleh kerja
insulin untuk disimpan dalam bentuk glikogen. Namun pada penderita diabetes
melitus terajdi gangguan dari fungsi insulin sehingga glukosa banyak menumpuk
di dalam darah. Keadaan seperti inilah yang dinamakan hiperglikemia 11. Salah
satu khas dari diabetes melitus adalah hiperglikemi dan defisiensi insulin relatif
maupun absolut. Keadaan inilah yang mempengaruhi berbagai struktur maupun
fungsi jaringan termasuk struktur dan berbagai protein di dalam sel 22.
Pada penderita diabetes melitus terdapat 3 mekanisme peningkatan stres
oksidatif yaitu autooksidasi glukosa, glikasi nonenzimatik pada protein, dan jalur
poliol-sorbitol (aldose reduktase). Stress oksidatif akan muncul apabila
pembetukan radikal bebas tidak diimbangi dengan pembentukan antioksidan 41.
Proses autooksidasi glukosa dikatalis oleh senyawa logam dalam jumlah
kecil seperti seng dan besi. Proses katalis ini sejalan dengan glikasi non enzimatik.
Hasil katalis tersebut berupa senyawa oksigen reaktif. Kondisi tersebutlah yang
menyebabkan hiperglikemia menjadi pemicu terbentuknya ROS yang berlebih
dalam tubuh 41.
Pada mekanisme glikasi nonenzimatik, sumber utama radikal bebas adalah
akumulasi AGEs pada jaringan yang berasal dari produksi berbagai gula pereduksi
11

seperti glukosa, glukosa-6-fosfat, dan fruktosa yang meningkat pada kondisi


hiperglikemia melalui proses glikolis dan jalur poliol. Gula pereduksi dapat
menyebabkan reaksi glikasi pada protein, fosfatidiletanolamin dan DNA yang
akan berlanjut menjadi reaksi oksidasi. Hasil akhir dari proses glikasi akan
terbentuk Advance Glycosylation End Products (AGEs) 41.
Pada jalur poliol-sorbitol, sebagian kecil akan memasuki jalur poliol,
disini glukosa akan diubah menjadi sorbitol. Dalam keadaan normal, konsentrasi
sorbitol di dalam sel rendah. Namun apabila terjadi keadaan hiperglikemia,
konsentrasi sorbitol dalam sel akan meningkat sedangkan degradasi sorbitol
berjalan lambat. Sehingga sorbitol akan menumpuk di dalam sel yang dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan osmotik yang dapat merusak sel. Sebagian
besar glukosa seluler mengalami fosforilasi menjadi glukosa-6-fosfat 41.
Selain itu, pada penderita diabetes melitus juga bisa terjadinya kelainan
pada metabolisme lemak yaitu dapat merangsang enzim Lipoprotein Liepase
(LPL), sintesis asam lemak, dan memacu sekresi Very Low Density Lipoprotein
(VLDL). Akan terjadi peningkatan trigliserida, peningkatan kadar Low Density
Lipoprotein (LDL) dan penurunan kadar High Density Lipoprotein (HDL) pada
pasien diabetes melitus dengan resistensi insulin maupun penurunan sekresi
insulin. Kondisi ini yang dapat menyebabkan terjadinya hiperkolestrolemia, yang
mana keadaan ini juga dapat memicu terbentuknya ROS pada tubuh 26,47.

2.3 Radikal Bebas dan Stress Oksidatif

Radikal bebas adalah istilah yang sering kita dengar, tapi banyak orang
yang mungkin tidak mengetahui apa arti yang sebenarnya dari radikal bebas
tersebut. Radikal bebas adalah molekul yang relatif tidak stabil di dalam sel,
mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan diorbit luarnya.
Untuk mencapai kestabilan atom atau molekul, radikal bebas akan beraksi dengan
molekul di sekitarnya untuk memperoleh pasangan elektron. Reaksi ini akan
berlangsung terus menuerus dalam tubuh dan jika tidak ada antioksidan akan
menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah infertilitas25.
Radikal bebas mempunyai dua bentuk yaitu Reactive Oxygen Species
(ROS), dan Reactive Nitrogen Species. ROS mencangkup oxygen free radicals
12

(OFRs) atau radikal oksigen seperti anion superoksida (O2), radikal hidroksil
(OH), radikal peroksil (ROO), hidrokel peroksida (H2O2), dan oksigen singlet
(1O2)25.
Pada dasarnya radikal bebas mempunyai fungsi dalam menjalankan
berbagai fungsi fisiologis di dalam tubuh, yaitu proses komunikasi antar sel,
apoptosis sel dan lain-lain. Radikal bebas memang dibutuhkan di dalam tubuh
tetapi keberadaan radikal bebas harus diimbangi oleh adanya antioksidan yang
berada dalam tubuh, bila tidak diimbangi maka akan menyebabkan kerusakan sel.
Bila produksi radikal bebas melebihi antioksidan di dalam tubuh akan
menyebabkan suatu keadaan yang disebut dengan stress oksidatif 25,26.
Stres oksidatif terjadi karena ketidak seimbangan antara produksi ROS dan
kapasitas antioksidan. Stress oksidatif akan menyebabkan terjadinya peroksidasi
lipid membran sel, kerusakan DNA dan apoptosis sel. Maka dibutuhkan
antioksidan dalam tubuh agar dapat mencegah efek negative dari radikal bebas itu
sendiri27.

2.4 Stress Oksidatif-Kualitas Sperma


Pada kadar glokusa darah yang tinggi terjadi penurunan kadar testosteron
yang signifikan disertai penurunan LH dan FSH, 5 yang mengakibatkan terjadinya
penurunan jumlah spermatozoa23. Beberapa ROS yang berperan dalam reproduksi
adalah superoksida ( O2- ), hidrogen peroksida ( H2O2 ), peroksil ( ROO- ),
hidroksil ( OH- ), dan nitrit oksida ( NO ) 18. Stres oksidatif terjadi jika ada
peningkatan pembentukan radikal bebas dan menurunnya sistem penetralan dan
pembuangan radikal bebas tersebut. Pembentukan ROS yang berlebihan akan
merusak enzim-enzim yang berfungsi sebagai anti oksidan radikal bebas22.
Stres oksidatif yang berperan untuk mediator kerusakan pada membran
plasma, sehingga mengurangi fungsi spermatozoa. Oleh karena stres oksidatif
menginduksi kerusakan DNA yang dapat memercepat apoptosis sel epitel
germinal sehingga menurunkan jumlah dari spermatozoa dan menyebabkan
perubahan morfologi spermatozoa. Energi untuk motilitas spermatozoa disuplai
dalam bentuk adenosin trifosfat yang disintesis oleh mitokondria pada badan ekor
13

Sehingga apabila terjadi kerusakan pada membran mitokondria akan dapat


mengganggu motilitas spermatozoa24.

2.5 Antioksidan
Antioksidan adalah zat yang meperlambat atau mencegah proses oksidasi.
Zat ini secara mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah
teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai
didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya
radikal bebas baik yang berasal dari luar maupun yang berasal dari dalam tubuh.
Antioksidan penting dalam melawan radikal bebas, tetapi dalam kapaitas berlebih
meyebabkan keruskan sel29.
Berdasarkan asalnya, antioksidan terdiri atas antioksigen yang berasal dari
dalam tubuh(endogen). Adakalanya sistem antioksidan endogen tidak cukup
mampu mengatasi stres oksidatif yang berlebihan. Stres oksidatif merupakan
keadaan saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah spesi oksigen
reaktif. Oleh karena itu, diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk
mengatasinya30.
Berdasarkan jenis antioksidan gerdapat dua jenis yaitu antioksidan
enzimatis dan antioksidan non-enzimatis. Antioksidan enzimatis disebut juga
antioksidan primer yang terdiri dari superoxide dismutase (SOD), catalase,
Glutathione reductase, Glutathione peroxidase (GPX). Sedangkan antioksidan
non enzimatis disebut juga antioksidan sekunder terdiri dari vitamin E, vitamin C,
- Lipoic acid (LA), Coenzyme Q10, L-carnitine, albumin, L-carnitine,
Glutathione, Carotenoids28
Berdasarkan sumber antioksidan dibagi menjadi dua macam, yaitu
antioksidan alami dan antioksidan sintetik. Antioksidan alami tingkat
keamanannya lebih baik dan manfaatnya lebih luas di bidang
makanan,kesehatan,dan kosmetik. Antioksidan alami dapat ditemukan pada
sayuran, buah-buahan, dan tumbuhan berkayu30.

2.6 Delima
14

Delima (Punica granatum) adalah tanaman buah-buahan yang dapat


tumbuh hingga 58 m. Tanaman ini diperkirakan berasal dari persia dan daerah
Himalaya yang terletak di selatan India. Tanaman buah delima tersebar mulai dari
daerah subtropik hingga tropik.Tumbuhan ini menyukai tanah gembur yang tidak
terendam air, dengan air tanah yang tidak dalam 31.
Delima dapat berbunga sepanjang tahun, bunganya tunggal dengan tangkai
pendek, serta keluar di ujung ranting atau ketiak daun yang paling atas. Bunga
delima biasanya 1-5 kuntum berada di ujung ranting, berlilin, panjang dan
lebarnya masing-masing 4-5 cm, daun kelopak dan penyangganya sama-sama 2-3
cm panjangnya. Bunga delima biasanya berwarna merah,putih dan ungu. Warna
bunga dapat menentukan warna daging buah delima didalamnya 31.
Di Indonesia, buah delima dikelompokkan sesuai dengan warnanya, yaitu
delima merah,putih dan ungu. Diantara ketiganya, buah delima merah adalah yang
paling terkenal dan mudah ditemui. Buahnya berbentuk bulat dengan diameter 5-
12 cm. Terdapat bercak-bercak yang agak menonjol dan berwarna lebih tua pada
buah tersebut. Buah ini dikenali dengan adanya calyx atau mahkota yang menjadi
ciri khasnya31

.
Gambar 4. Buah Delima33.
15

Delima merah terkenal memiliki banyak kandungan zat aktif pada


beberapa bagian tanamannya, antara lain pada bagian akar, buah, bunga, kulit
batang dan kulit buahnya. Bagian-bagian tersebut memiliki kandungan kimia yang
berbeda-beda pada setiap bagiannya32. Telah dilaporkan bahwa pada kulit delima
memiliki banyak khasiatnya terhadap kesehatan, antara lain sebagai antioksidan,
antibakterial, antiinflamasi dan antikanker . Hasil furifikasi kulit buah delima
40

terdapat senyawa polifenol diantaranya adalah luteolin, quercetin, gallagic,


Ellagic Acid (EA), EA glikosida, punicalagin, pedunculagin, punicalin,
anthocyanin, catechin, procyanidins, asam ellagic asam galat. Fenol merupakan
kandungan utama dari delima yang memiliki efek sebagai antidiabetik dengan
mempengaruhi kadar gula dalam darah dengan berbagai mekanisme. Berdasarkan
hasil penelitian Li dkk, didapatkan kandungan antioksidan dari setiap gram kulit
delima adalah fenol 249,4 mg, flavonoid 59 mg dan proantosianin 10,9 mg 33,42,43.
Pada penelitian sebelumnya, terbukti bahwa fenol yang terdapat pada
ekstrak kulit buah delima sebagai antioksidan dapat menurunkan kadar gula darah
dengan cara menghambat pelepesan enzim -glukosidase pada mukosa usus dan
Ekstrak kulit buah delima sebagai antioksidan bekerja dengan cara meningkatkan
aktivitas enzim antioksidan catalase (CAT), Glutathione peroxidase (GPx),
superoxide dismutase (SOD), Glutathione reductase (GR) dan GST).
Pembentukan dan penyerapan glukosa akan berkurang sehingga dapat memutus
jalur glikasi non-enzimatik, poliol-sorbitol, dan autooksidasi glukosa yang
merupakan penyebab stress oksidatif didalam tubuh. Mekanisme lain yaitu dengan
menghambat glukoneogenesis, stimulai adrenergik pada pengambilan glukosa dan
menstimulasi pelepasan insulin oleh sel pankreas. Beberapa peneliti
mendapatkan bahwa ekstraksi senyawa antioksidan pada kulit dan biji delima
akan mendapatkan hasil yang lebih tinggi dengan menggunakan pelarut etanol
33,44,45.

Berdasarkan penelitian mohamed dkk, Phenolic dapat melindungi fungsi


sperma dan meningkatkan kualitas sperma. Mekanisnme kerja dari phenolic
berupa perlindungan DNA dari kerusakan stres oksidatif, menghambat superoxide
dan hydroxyl radical, dan meningkatkan glutathione (GSH) yang berfungsi
sebagai antioksidan di dalam tubuh. Phenolic berfungsi menangkap radikal
16

bebas, mencegah terjadinya peroksidasi lipid yang disebabkan oleh stres oksidatif
dan meningkatkan hormon gonadotropin yang berperan sebagai proses
spermatogenesis.(46)

.
17

2.7 Kerangka Teori


Hiperglikemi
Hiperglikemi

Autooksidasi
Autooksidasi Glikasi
Glikasi non-
non- Jalur
Jalur poliol
poliol
glukosa enzimatik Gangguan
glukosa enzimatik -- sorbitol
sorbitol insulin

Absorbsi glukosa di usus

Menghambat eksresi enzim


glukosidase
Produksi
ROS
Trigliserida
Delima : Antioksidan (fenol)
LDL
Stress oksidatif
HDL
Aktivitas enzim antioksidan

Kerusakan
Kerusakan membran
membran Kerusakan
Kerusakan Apoptosis
Apoptosis sel
sel
sel
sel DNA
DNA

Motilitas sel Abnormal


Abnormal morfologi
morfologi Jumlah
Jumlah sel
sel Sel germinal
Motilitas sel
sperma sel sperma
sel sperma sperma
sperma pada tubulus
sperma
seminiferus

Kualitas
Kualitas sperma
sperma
Gangguan
spermatogenesis
Infertil
Infertil

Keterangan :
= variabel yang diteliti
= variabel yang tidak diteliti
= variabel penghambat
18

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratorik jenis Post
test Only Control Group Design, dengan menggunakan rancangan acak lengkap
(RAL) pola satu arah dengan lima kelompok perlakuan. Kelompok 1 sebagai
kontrol negatif (KN) yaitu tikus yang tidak diberi apapun. Kelompok 2 sebagai
kontrol positif (KP) yaitu tikus yang diberi induksi aloksan.Kelompok 3 sebagai
perlakuan 1 (K1) yaitu tikus yang diberi induksi aloksan dan diberi
150mg/kgbb/hari ekstrak kulit buah delima selama 30 hari. Kelompok 4 sebagai
perlakuan 2 (K2) yaitu tikus yang diberi induksi aloksan dan diberi
200mg/kgbb/hari ekstrak kulit buah delima selama 30 hari. Kelompok 5 sebagai
perlakuan 3 (K2) yaitu tikus yang diberi induksi aloksan dan diberi 250
mg/kgbb/hari ekstrak kulit buah delima selama 30 hari. Masing-masing kelompok
perlakuan diulangi sebanyak 5 kali51.

Kontrol Negatif Outcome - (ON)


(KN)
Kontrol Positif (KP) Outcome + (OP)

S R Perlakuan1 (K1) Outcome 1 (O1)

Perlakuan2 (K2) Outcome 2 (O2)

Perlakuan3 (K3) Outcome 3 (O3)

Gambar 3.1. Diagram Rancangan Acak Lengkap dengan Post Test

Keterangan:
S : sapel atau hewan percobaan
R : randomisasi/ pembagian secara acak menjadi lima kelompok
KN : kontrol negatif (tanpa diberi perlakuan)
KP : kontrol positif (di beri induksi aloksan)
K1 : perlakuan 1 (diberi induksi aloksan dan ekstrak kulit delima 1)
K2 : perlakuan 2 (diberi induksi aloksan ekstrak kulit delima 2)
19

K3 : perlakuan 3 (diberi induksi aloksan dan ekstrak kulit delima 3)


ON : outcome/ hasil kualitas sperma kelompok kontrol negatif
OP : outcome/ hasil kualitas sperma kelompok kontrol positif
O1 : outcome/ hasil kualitas sperma s kelompok perlakuan 1
O2 : outcome/ hasil kualitas sperma kelompok perlakuan 2
O3 : outcome/hasil kualitas sperma kelompok perlakuan 3

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di tiga Laboratorium. Untuk pembuatan
ekstrak kulit buah delima dilakukan di Laboratorium Kimia Organik Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala, untuk proses
adaptasi hewan hingga akhir perlakuan dilakukan di Laboratorium Hewan Coba
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, dan untuk pengamatan
kualitas spermatozoa tikus yang telah diberikan perlakuan maupun tidak
dilakukan di Laboratorium Fisologi Reproduksi FKH. Waktu yang dibutuhkan
mulai dari persiapan proposal hingga seminar hasil penelitian dimulai dari bulan
Agustus 2015 hingga November 2015.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi Penelitian


Populasi dari penelitian ini adalah sejumlah tikus putih (Rattusnorvegicus)
strain Wistar berjenis kelamin jantan yang diperoleh dari Laboratorium Hewan
Coba Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) melalui perantara
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala.

3.3.2 Sampel Penelitian


Sampel pada penelitian ini berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang
telah ditetapkan sebelumnya. Adapun yang menjadi criteria inklusi dan eksklusi
adalah sebagai berikut :
1. Kriteria Inklusi
a. Tikus putih (Rattusnorvegicus) Strain Wistar berjenis kelamin jantan
b. Berumur 4-5 bulan
c. Berat badan 150-200 gram
d. Tidak ada tampak abnormalitas anatomis makro
20

e. Belum pernah mendapatkan perlakuan apapun


2. Kriteria Drop Out
a. Tikus sakit selama masa adaptasi (tujuh hari)
b. Tikus mati selama perlakuan berlangsung

3.4 Besar Sampel Penelitian


Penentuan banyak sampel dilakukan dengan menggunakan rumus yang
dikembangkan oleh Federer52 :

(n-1) x (t-1) > 15


(n-1) x (5-1) > 15

(n-1) x 4 > 15

n - 1 > 3,75

n > 4,75

Keterangan :
n = Besar sampel tiap kelompok
t = Banyaknya kelompok

Untuk mengantisipasi hilangnya unit eksperimen, dilakukan koreksi


dengan rumus52:

n = n/1-f
n= 5/1-0.1
n= 5,5
n= 6

Keterangan :
n = besar sample setelah dikoreksi
n = besar sample berdasarkan estimasi sebelumnya
f = prediksi presentase drop out dimana nilai f antara 0,05-0,1

Dengan demikian, jumlah yang dipakai setiap kelompok perlakuan adalah


enam ekor tikus jadi seluruh subjek penelitian adalah 30 ekor tikus. Penelitian
menggunakan 30 ekor hewan coba tikus Rattus norvegicus strain Wistar berjenis
21

kelamin jantan dan berumur 3-4 bulan dengan berat 150-200 gram yang terbagi
menjadi lima kelompok.

3.5 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian ini adalah:

Variabel Bebas Variabel Terikat

Pemberian ekstrak kulit


buah delima dosis 150
mg/kgBB/hari Kualitas sperma

Jumlah sperma
Pemberian ekstrak kulit
buah delima dosis 200 Morfologi sperma
mg/kgBB/hari
Motilitas sperma
Pemberian ekstrak kulit
buah delima dosis 250
mg/kgBB/hari

Gambar 3.2.Kerangka konsep

3.6. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.6.1 Variabel Penelitian


a) Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perlakuan pemberian ekstrak
kulit buah delima dengan dosis 150 mg/kgBB/hari, 200 mg/kgBB/hari, dan
250 mg/kgBB/hari.
b) Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kualitas sperma, yang terdiri dari
jumlah, mortilitas, dan morfologi sel sperma.
c) Variabel kontrol adalah jenis kelamin, umur, berat badan, lingkungan,
makanan, jenis delima, dan teknik pemberian ekstrak
22

3.6.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian


a. Ekstrak delima
Punica granatum atau buah delima merah merupakan satu diantara buah-
buahan yang memiliki khasiat dalam mengatasi masalah kesehatan yang
terjadi di masyarakat. Ekstrak kulit buah delima merah dibuat dengan
ekstraksi etanol 80% dengan dosis 150 mg/kgBB/hari, 200 mg/kgBB/hari, dan
250 mg/kgBB/hari mengacu pada penelitian Parmar dan Kar35.
b. Aloksan
Aloksan (2,4,5,6-tetraoksipirimidin; 5,6-dioksiurasil) merupakan senyawa
hidrofilik dan tidak stabil .Waktu paro pada suhu 37C dan pH netral adalah
1,5 menit dan bisa lebih lama pada suhu yang lebih rendah. Sebagai
diabetogenik, aloksan dapat digunakan secara intravena, intraperitoneal dan
subkutan. Dosis intravena yang digunakan biasanya 65 mg/kg BB, sedangkan
intraperitoneal dan subkutan adalah 2-3 kalinya. Disini peneliti mengambil
dosis 120 mg/kg BB 35,36.
c. Kualitas Spermatozoa
a) Morfologi sel spermatozoa
Morfologi sel spermatozoa adalah bentuk dari sel spermatozoa yang terdiri
dari kepala dan ekor sel yang diamati dalam 200 spermatozoa di bawah
mikroskop dengan lensa objektif perbesaran 40x. Hasil ukur morfologi sel
spermatozoa dalam skala numerik.
b) Motilitas sel spermatozoa
Motilitas sel spermatozoa adalah gerakan sel spermatozoa yang diamati di
bawah mikroskop dengan lensa objektif dengan perbesaran 40x rerata 5
lapangan pandang. Terdapat empat kriteria pergerakan sperma yaitu
progresif cepat, progresif lambat, sirkuler dan tidak ada pergerakan. Hasil
ukur motilitas spermatozoa dalam skala numerik.
c) Jumlah sel spermatozoa
Jumlah sel spermatozoa adalah banyaknya spermatozoa yang dihitung dari
rerata 5 lapangan pandang dengan lensa objektif di bawah mikroskop
dengan perbesaran 10x40. Hasil ukur jumlah sel spermatozoa dalam skala
numerik.
23

3.7 Alat dan Bahan Penelitian

3.7.1 Peralatan Penelitian


Peralatan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari kandang
pemeliharaan hewan coba yang dilengkapi dengan tempat makan dan
minum, timbangan hewan model, sonde lambung, penyaring, blender,
tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tes, scapel, timbangan digital, gelas
ukur, batang pengaduk, vacum rotary evaporator, pipet kapiler, alat bedah
minor (minor set), microtome, alat tulis, hotplate, kotak preparat, botol,
incubator, dan mikroskop elektrik binokuler, cawan peri, pipet eritrosit,
pipet tetes, objek glass, cover glass, kamar hitung Neubauer53,54.

3.7.2 Bahan Penelitian


Bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari tikus putih (Rattus
norvegicus) yang berjenis kelamin jantan, pakan standar T79-4, aloksan,
buah delima merah matang yang diperoleh dari perkebunan lokal, etanol
80%, aquades. Bahan yang digunakan adalah sekresi/cairan yang keluar
dari epididimis dan NaCl 0,9%53,54.
3.8. Prosedur Penelitian

3.8.1 Pembuatan Ekstrak Kulit Buah delima


Sebanyak 1500 gram kulit delima merah diperoleh dari perkebunan local.
Delima merah dipilih dalam kondisi yang segar, tidak mengeluarkan getah,
memiliki tingkat kematangan yang sama, dan berasal dari satu tempat pembeliaan
yang sama. Kemudian dilakukan uji herbarium, setelah itu kulit delima dicuci
dengan air sampai bersih. Kulit delima kemudian dipotong kecil-kecil lalu
dikering anginkan selama 5 hari di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Kulit
delima diblender kemudian dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 80%
selama 3x24 jam sampai didapatkan maserat yang jernih, kemudian dievaporasi
dengan menggunakan rotary evaporator vacuum sampai diperoleh ekstrak pekat
dan ditimbang beratnya yang sebelumnya dilakukan uji herbarium dan uji
fitikimia terlebih dahulu 47.
24

3.8.2 Penentuan Dosis ekstrak kulit buah delima


Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Parmar dan
Karmenyatakan bahwa dosis terbaik dari ekstrak kulit delima adalah 200
mg/kgBB/hari, selanjutnya dosis tersebut dipakai sebagai acuan dosis untuk
perlakuan pada hewan coba Dosis pemberian ekstrak delima. Peneliti memakai 3
dosis yaitu 150 mg/kgBB/hari, 200 mg/kgBB/hari, dan 250 mg/kgBB/hari.
Tujuannya untuk mengetahui dosis yang paling efektif untuk hewan coba yang
akan diteliti49.

3.8.3 Persiapan dan Adaptasi Hewan Coba


Sebanyak tiga puluh ekor tikus putih jantan (Rattusnorvegicus) strain
Wistar yang berumur 4-5 bulan dengan berat badan 150-200 gram diadaptasi dan
ditempatkan dalam satu kandang berukuran 30 x 40 x 30 cm3, yang diperlengkapi
dengan tempat air minum dan ransum53.
Selama masa adaptasi tikus-tikus tersebut diberi pakan ransum standar
jenis T79-4 yang diproduksi oleh PT. Central Proteina Prima Medan dan
minum diberi secara ad libitum.Adapun susunan dan nilai nutrisi ransum T79-4
Selama proses adaptasi, berat badan dan aktivitasi hewan coba terus diperhatikan.
Hal tersebut dilakukan agar hewan coba dapat bergerak aktif dan berat badannya
tidak ada yang kurang dari 150 gram selama dan setelah proses adaptasi sehingga
tidak ada sampel yang dikeluarkan53.

Tabel 3.1.Komposisi Ransum T79 - 4

No. Nutrisi Jumlah*


1 Kadar Air (g) 12 %
2 Kadar Abu (g) 12 %
3 Lemak (g) 6%
4 Protein (g) 16 %
5 Seratkasar (g) 8%
6 Karbohidrat (g) 46 %
*
Ditentukan dari ransum yang digunakan
25

3.8.4 Perlakuan Hewan Coba


Pada akhir masa adaptasi masing-masing tikus ditimbang untuk
mengetahui beratnya untuk kesesuaian dengan kriteria inklusi yang telah
ditetapkan, kemudian tikus pada kelompok 2, 3, 4 dan 5 di beri induksi aloksan
secara intraperitoneal dengan dosis tunggal 120 mg/kgBB/hari, sedangkan
kelompok 1 tidak diinduksi aloksan. Adapun masing-masing kelompok tikus
diperlakukan sebagai berikut:
Kelompok 1 sebagai kontrol negatif (KN) yaitu tikus yang diberi pakan
standar selama 37 hari.
Kelompok 2 sebagai kontrol positif (KP) yaitu tikus yang di injeksi aloksan
120 mg/kgBB/hari tanpa diberi ekstrak kulit delima sampai hari ke 37.
Kelompok 3 sebagai perlakuan 1 (K1) yaitu tikus yang di injeksi aloksan
120 mg/kgBB/hari, setelah 7 hari kemudian di cek kadar gulanya, lalu tikus
diberi ekstrak delima dengan dosis 150 mg/kgBB/hari sampai hari ke 37
(pembeian selama 30 hari).
Kelompok 4 sebagai perlakuan 2 (K2) yaitu tikus yang di injeksi aloksan
120 mg/kgBB/hari setelah 7 hari kemudian tikus diberi ekstrak delima
dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, sampai hari ke 37 (pembeian selama 30
hari).

Kelompok 5 sebagai perlakuan 3 (K3) yaitu tikus yang di injeksi aloksan


120mg/kgBB/hari, setelah 7 hari kemudian tikus diberi ekstrak delima
dengan dosis 250 mg/kgBB/hari sampai hari ke 37 (pemberian selama 30
hari).

3.8.5. Pemeriksaan Kualitas Sperma


Setelah perlakuan selama 30 hari pemberian ekstrak kulit buah delima,
semua tikus dibunuh dengan cara pemberian anastesi inhalasi menggunakan
kloroform. Untuk mendapatkan organ reproduksi tikus, tikus diletakkan pada
nampan dengan posisi ventral dan dilakukan pembedahan. Kemudian organ testis
beserta epididimis salah satu sebelah kanan atau kiri diambil dan diletakkan ke
dalam cawan petri yang berisi NaCl 0,9 %. Dengan menggunakan mikroskop
pembesaran 40 kali, cauda epididimis dipisahkan dengan cara memotong bagian
proksimal corpus epididimis dan bagian distal vas deferens. Selanjutnya cauda
26

epididimis dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi 1 ml NaCl 0,9 % hangat
(37 oC), kemudian bagian proksimal cauda dipotong sedikit dengan gunting lalu
cauda ditekan dengan perlahan hingga sekresi/cairan epididimis keluar dan
tersuspensi dengan NaCl 0,9 %. Suspensi semen yang telah diperoleh dilakukan
pengamatan kualitas spermatozoa yang meliputi: jumlah, motilitas dan morfologi
spermatozoa menggunakan metode WHO 2010 yaitu55:
a. Morfologi Spermatozoa
Setelah didapatkan suspensi semen kemudian diteteskan di atas kaca
objek. Kemudian dilakukan pengecatan dengan meneteskan pewarna
eosin. Selanjutnya dismear menggunakan cover glass dengan
kemiringan 45 dan didiamkan pada suhu ruang ataupun dilewatkan di
atas api sampai kering. Selanjutnya preparat diamati di bawah
mikroskop elektrik binokuler dengan perbesaran 400x dan dilanjutkan
dengan pengamatan jumlah sperma abnormal dan menghitung
presentase (%) jumlah sperma abnormal tersebut.
b. Motilitas Spermatozoa
Suspensi semen yang sudah diperoleh diteteskan di atas kaca objek
dan ditutuo dengan cover glas. Kemudian dilakukan pengamatan
sebanyak lebih dari spermatozoa dengan pembesaran 400x di bawah
mikroskop elektrik binoukler.
c. Penghitungan Jumlah Sperma
Spermatozoa yang telah diambil dari epididimis tikus disedot
menggunakan pipet eritrosit sampai batas 0,5. Kemudian, dengan
pipet yang sama, disedot NaCl 0,9% sampai batas 101 sehingga
didapatkan hasil pengenceran 200 kali. Pipet dikocok perlaham agar
campuran spermatozoa dan NaCl menjadi homogen. Kemudian,
campuran dibuang tiga tetes dan diteteskan ke dalam kamar hitung
Neubauer yang sudah di tutup dengan cover glass. Amati dan hitung
jumlah sperma yang ada di bawah mikroskop cahaya perbesaran 400x
dengan menggunakan rumus Nx106 sperma/ml dimana N adalah
jumlah sperma pada kotak 1,5,13,21, dan 25 pada kamar hitung
Neubauer
27

3.9 Pengolahan dan Analisa Data

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap kualitas sperma yaitu
data jumlah dan motilitas sperma di uji dengan uji analisis of varience (ANOVA).
Sebelum diuji ANOVA data terlebih dahulu diuji dengan uji normalitas
menggunakan uji Saphiro Wilk dan homogenitas dengan menggunakan uji Levene.
Sedangkan morfologi sperma dilakukan uji statistik dengan uji Chi Squere. Hasil
pengolahan data akan ditampilkan dalam bentuk gambar, grafik dan tabel.

DAFTAR PUSTAKA
28

1. Respati, G. (2005). Keberhasilan Program Fertilisasi in Vitro di Klinik


Infertilitas UNDIP - RS Dr. Kariadi dan RS Telogorejo Semarang. Semarang

2. Emily EM. A Global Perspective On Infertility: An Under Recognized Public


Health Issue. Carolina Papers International Health. 2004; 18. p.5-37.

3. Taluta, Y. P. (2014). Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Mekanisme


Koping pada Penderita Diabetes Melitus TIPE II di Poliklinik Penyakit dalam
Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo Kabupaten Halmahera Utara. Journal
Keperawatan (e-Kp) .

4. Kharismawati. (2014). Perbedaan Kadarureum Serum Pasien yang Menderita


Diabetes Melitus TIPE 2 Kurang dari 5 Tahun dan Lebih dari Sama dengan 5
tahun: Studi Kasus di RSUD ULIN Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013.
Jurnal Berkala Kedokteran.

5. Rahim, R. (2008). Pengaruh Pemberian Minyak Jinten Hitam (Nigella sativa)


terhadap Motilitas Spermatozoa Mencit Diabetes Melitus yang Diinduksi
Aloksan. Semarang.

6. Adinda Ayu Dyahnugra, S. B. (2015). Pemberian Ekstrak Bubuk Simplisia


Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) Menurunkan Kadar Glukosa Darah
pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Menurunkan Kadar Glukosa Darah
pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Strain Wistar Jantan Kondosis
Hiperglikemik. Jurnal Pangan dan Agroindustri .

7. Aviram M. Methods of Using Pomegranate Extracts for Treating Diabetes


Related Atherosclerotic Complications in Humans. Google patents; 2014.

8. Wiryowidagdo S, Sitanggang M. (2005). Tanaman Obat untuk Penyakit


Darah Tinggi dan Kolesterol. Jakarta : Agro Medika Pustaka

9. Purnamasari D. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus. Editor : Sudoyo


AW, Setiyohadi B, Alwi Idrus, Simadibrata M, Setiati S. dalam: Buku Ajar
Ilmu Penyakit dalam Jilid III. Edisi V. Jakarta : Interna Publishing; 2009. p.
1880.

10. Eroschenko VP, Brahm U. Dharmawan D, editor. Atlas Histologi DeFioire:


dengan korelasi fungsional. 11th ed. Jakarta: EGC. 2010. p. 423-436.

11. Guyton C, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. 2007.

12. Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. 3rd ed. Jakarta: Sagung Seto. 2011. p. 5-
19.

13. Eroschenko Victor P. Atlas histologi difiore. Jakarta : EGC. 2002. P. 426-433
29

14. Eroschenko VP, Brahm U. Dharmawan D, editor. Atlas Histologi DeFioire:


dengan korelasi fungsional. 11th ed. Jakarta: EGC. 2010. p. 423-436.

15. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit.6th ed. Jakarta: EGC. 2005. p. 1311-1314.

16. sherwood L. Human physiology: from cells to systems. Belmont, CA.


Thomson higher education; 2007.

17. Huriatul, dkk. Diabetes Melitus.Lembaga Penelitian Universitas Riau.2012.

18. goldstein, Barry J. dan Dirk Mueller-Wieland. Type-2 Diabetes ; Principles


and Practice. New York ;Informa healthcare, 2008.

19. Eckman, Ari S. type 1 diabetes


dalamhttp;//nlm.nih.gov/medineplus/ency/aricle/000305.htm. (28 juni 2011)

20. Sidartawan S, Reno G. Sindrome Metabolik. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam.


Jakarta :Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI, 2006. Hal (1850-57)

21. Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata KM, Setiati S, editor. Buku
ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI, 2007: 1852-1859

22. Bashandy AES. Effect of fixed oil Nigella Sativa on Male Fertility in
normaland hyperlipidemic rats. [Int J Pharmacol] 2007; 3: 27-33

23. Remzi C, Ali G, Suat A, Kemal N, Ayegul J. Hypotalamicpituitary-gonadal


axis hormones and cortisol in both menstrual phases of women with chronic
fatigue syndrome and effect of depressive mood on these hormrones. BMC
MusculoskeletDisord 2004; 47-51

24. Hammam NR. Pengaruh Pemberian Minyak Jintan Hitam (Nigella Sativa)
Terha dap Jumlah Spermatozoa Mencit Diabetes Melitus Yang Diinduksi
Aloksan. Fakultas Kedokteran UniversitasDiponegoro. 2008

25. Agarwal A, Cocuzza M, Abdelrazik H, Sharma RK. Oxidative stress


measurement in patients with male or female faktor infertility. Handbook of
Chemiluminescent Methods in Oxidative Stress Assessment. 2008. p. 195-
218.

26. Darmawan H. Production of ROS and Its Effects on Mitochondrial and


Nuclear DNA, Human Spermatozoa, and Sperm Function. Medical Journal
Indonesia. 2007; 16: 2.
30

27. Bambang Setiawan, Eko Suhartono .Peroksidasi Lipid dan Penyakit Terkait
Stres Oksidatif pada Bayi Prematur Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 1,
Januari 2007

28. Cemelli, E., Baumgartner, A., Anderson, D. 2009, Antioxidant and


TheCommet Assay. Mutation Research,681:51-67.

29. Winarsi H. Klasifikasi Antioksidan. In Antioksidan Alami dan Radikal


Bebas.Yogyakarta: Kanisius; 2007. p. 77-81.

30. iwalokum BA, usen UA, otunba AA, olukoya DK .2007. comparative
phytochemical evaluation, antimicrobial and antioxidant properties of
pleurotusostreatus. African biotechno6:1732-1739.

31. Madhawati, R. 2012, Si Cantik Delima (Punicagranatum) Dengan Sejuta


Manfaat Antioksidan sebagai bahan Alternatif Alami Tampil Sehat dan Awet
Muda, Universitas Negeri Malang, malang

32. Savitri, E.S. 2008, Rahasia Tumbuhan Berkhasiat Obat Perspektif Islam,
UIN Press, Malang.

33. ViudaMartos M, FernndezLpez J, Prezlvarez J. Pomegranate and its


many functional components as related to human health: a review.
Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety. 2010;9(6):635-
54.

34. Agarwal A, Cocuzza M, Abdelrazik H, Sharma RK. Oxidative stress


measurement in patients with male or female faktor infertility. Handbook of
Chemiluminescent Methods in Oxidative Stress Assessment. 2008. p. 195-
218

35. Olivia Vina Faranita.Kualitass permatoza pada tikus wista ljantan Diabetes
Melitus.2009. Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro Semarang

36. Sherwood. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta: EGC; 2001.

37. Maysaa, dkk. Protective Effect of Plants Extracts Mixture on Sperm


Abnormalities, Testicular and Epididymal Tissues in Diabetic Male
RatsJournal of Natural Sciences Research ISSN 2224-3186 (Paper) ISSN
2225-0921 (Online)Vol.3, No.9, 2013

38. G Tortora JD. Principles of Anatomy and Phsyiology 12th Edition: John
Wiley and Sons; 2009.

39. P T. Male Rwproductive Physiology. US: Elsevier Saunders; 2012.


31

40. Fawole OA, Makunga NP, Opara UL. Antibacterial, Antioxidant and
Tyrosine-Inhibition Activities of Pomegranate Fruit Peel Methanolic Extract.
Complementary and Alternative Med J. 2012 ( 12) : 200

41. Setiawan B, Suhartono E. Stres Oksidatif dan Peran Antioksidan pada Diabetes
Melitus. Maj Kedokt Indon. 2005;55(2):86-91.

42. Li Y, Guo C, Yang J, Wei J, Xu J, Cheng S. Evaluation of Antioxidant Properties


of Pomegranate Peel Extract in Comparison with Pomegranate Pulp extract.
Food Chemistry. 2006;96(2):254-60.

43. Fawole OA, Opara UL, Theron KI. Chemical and Phytochemical Properties and
Antioxidant Activities of Three Pomegranate Cultivars Grown in South Africa.
Food and Bioprocess Technology. 2012;5(7):2934-40.

44. Althunibat OY, Al-Mustafa AH, Tarawneh K, Khleifat KM, Ridzwan B, Qaralleh
HN. Protective role of Punica Granatum L. peel Extract Against Oxidative
Damage in Experimental Diabetic rats. Process Biochemistry. 2010;45(4):581-5.

45. Li Y, Wen S, Kota BP, Peng G, Li GQ, Yamahara J, et al. Punica Granatum
Flower Extract, a Potent -glucosidase Inhibitor, Improves Postprandial
Hyperglycemia in Zucker Diabetic Fatty Rats. Journal of Ethnopharmacology.
2005;99(2):239-44.

46. Mohammed, Karina Paola Leiva JR, Frank Peralta. Effect of Punica
granatum (Pomegranate) on Sperm Production in Male Rats Treated with
Lead Acetate. Informa Healthcare. 2011.

47. Sacks FM. Dyslipidemia, Prediabetes, and Type 2 Diabetes: Clinical


Implications of the VA-HIT Subanaylsis. Advanced Studies in Medicine.
2003;3 (4A):S228-S33.

48. Ibrahium MI. Efficiency of Pomegranate Peel Extract as Antimicrobial,


Antioxidant and Protective Agents. World Journal of Agricultural Sciences.
2010;6(4):338-44.

49. Parmar HS, Kar A. Antidiabetic Potential of Citrus Sinensis and Punica
Granatum peel Extracts in Alloxan Treated Male Mice. Biofactors.
2007;31(1):17-24.

50. The Fertility Institute. Analisis Kehamilan. ITB. Bandung. Dikutip oleh
Arsetyo Rahardhianto. 2012. Pengaruh Konsentrasi Larutan Madu dalam
NaCl Fisiologis Terhadap Viabilitas dan Motilitas Spermatozoa Ikan Patin
(pangasius) selama Masa Penyimpanan. Jurusan Biologi. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Teknologi Sepuluh
November. Surabaya. 2009.

51. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;


2010.
32

52. Supranto J. Teknik Sampling untuk Survei dan Eksperimen. Jakarta: PT


Rineka Cipta; 2000.

53. Ridwan E. Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan dalam Penelitian Kesehatan.


Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. 2013.

54. Ibrahium MI. Efficiency of Pomegranate Peel Extract as Antimicrobial,


Antioxidant and Protective Agents. World Journal of Agricultural Sciences.
2010;6(4):338-44.

55. World Health Organization. WHO Laboratory Manual for The Examination
and Processing of Human Semen. 5th ed. Switzerland: WHO Press; 2010.

Lampiran 1

Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penelitian

Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Penelitian


33

Bulan
No Kegiatan
4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Studi Kepustakaan
2. Pembuatan Proposal
3. Seminar Proposal
4. Persiapan Penelitian
5.. Penelitian
6.. Pengolahan Data
7. Pembuatan Skripsi
8. Sidang Skripsi

LAMPIRAN 2.

Skema Alur Penelitian

Pembuatan ekstrak
delima
Pengadaan 30 ekor tikus putih jantan strain wistar
umur 4-5 bulan dengan berat 150-200 gram
34

Adaptasi tikus selama 7 hari

Pemeriksaan kadar gula darah

Randomisasi

K1 K2 K3 K4 K5

tanpa induksi induksi aloksan induksi aloksan induksi aloksan


Perlakuan aloksan dan ekstrak dan ekstrak dan ekstrak
delima dosis 1 delima dosis 2 delima dosis 3

Pemeriksaan kadar gula darah

K1,K2,K3,K4,K5 dibunuh pada hari ke


30

Pengambilan cauda epididimis dan pembuatan supensi


semen

Perhitungan jumlah,morfologi, dan motilitas


spermatozoa

Analisa data

Lampiran 3

RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Soraya Ulfa


2. Tempat/Tgl Lahir : Banda Aeh, 27 Juli 1994
3. Asal/Tahun Lulus, Nyatakan
a. TK : TK FKIP B. Aceh (2000-2002)
35

b. SD : SDN 82 B. Aceh (2002-2006)


c. SMP : SMPN 2 B. Aceh(2006-2009)
d. SMA : SMAN 3 B. Aceh (2009-2012)
4. Tahun Masuk Universitas : 2012
5. Nomor Mahasiswa : 1207101010112
6. Program Studi : Pendidikan Dokter
7. Dosen Pembimbing I : dr. Dahril, Sp. U
8. Dosen Pembimbing II : Dr. Drh. Dasrul, M.Si
9. Pengalaman :
- Akademik Team CIMSA FK Unsyiah
10. Pekerjaan Sekarang :-
11. Alamat Sekarang : Jl. H. Usman, Lr. Bakti AMD No.9 B.Aceh
12. Status : Belum Kawin
13. Nama Ayah : drs. H. M. Nasir Ibrahim
14. Pekerjaan Ayah : PNS
15. Nama Ibu : Hj. Asmawati
16. Pekerjaan Ibu : Guru
17. Alamat Lengkap Orang Tua : Jl. H. Usman, Lr. Bakti AMD No.9 B.Aceh