Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bedah preprostetik merupakan tindakan bedah yang bertujuan

memperbaiki keadaan tulang alveolar rahang agar dapat jadi lebih baik untuk

penempatan gigi tiruan. Tujuan dilakukan bedah preprostetik bertujuan

mendapatkan protesa dengan retensi, stabilsasi, estetik, dan fungsi yang lebih

baik. Macam macam bedah prostetik antara lain torektomi, alveoplasti,

alveolektomi yang disebabkan karena adanya penonjolan tulang atau eksostosis

(Aditya, 1999).

Penonjolan tulang (eksostosis) adalah suatu pertumbuhan benigna jaringan

tulang yang keluar dari permukaan tulang (Rasyid, 2013). Eksostosis merupakan

tonjolan tulang pada prosesus alveolaris yang berbentuk membulat, serta tajam

bila diraba, terasa sakit dan tidak dapat digerakkan. Penyebab eksostosis tersebut

dikarenakan adanya proses resorpsi tulang pada usia lanjut yang terjadi fisologis

dan tidak teratur. Sehingga didapatkan sisa tulang resorpsi yang tajam dan

mungkin ada yang tumpul (Aditya, 1999).

Eksostosis harus dihilangkan untuk persiapan pemakaian gigitiruan, hal

ini disebabkan eksostosis dapat mengganggu retensi, stabilitas dan kenyamanan

pada pasien yang menggunakan gigi tiruan. Agar tidak mengganggu retensi,

stabilitas dan kenyamanan pasien pengguna gigi tiruan maka perlu dilakukan

pengambilan pada eksostosis tersebut. Pembedahan yang digunakan untuk

mengambil eksostosis yaitu dengan alveolektomi (Soelarko dkk,1980).

1
Alveolektomi adalah salah satu bedah preprostetik. Bedah preprostetik

merupakan tindakan bedah minor yang bertujuan memperbaiki keadaan tulang

alveolar rahang agar dapat jadi lebih baik untuk penempatan gigi tiruan. Tujuan

dilakukan bedah preprostetik bertujuan mendapatkan gigi tiruan dengan retensi,

stabilsasi, estetik dan fungsi yang lebih baik (Ghos, 2006).

Pada kasus-kasus tertentu, sebelum pembuatan gigi tiruan perlu dilakukan

alveolektomi agar plat gigi tiruan dapat menempel dengan kuat. Tidak semua

pasien yang ingin memasang gigi tiruan perlu dilakukan alveolektomi. Oleh

karena itu, perlu diketahui berbagai indikasi dan kontraindikasi dilakukannya

alveolektomi. Selain itu, prosedur pembedahan alveolektomi merupakan hal

penting yang perlu diketahui seorang dokter gigi. Dengan mengetahui prosedur

pembedahan yang benar dapat menghindari berbagai komplikasi yang mungkin

terjadi. Medikasi yang diperlukan selama proses alveolektomi juga penting untuk

diketahui agar dapat menghindari kondisi kegawatdaruratan dan mempercepat

penyembuhan luka bedah (Starshak, 1971; Aditya, 1999).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat ditarik suatu

permasalahan yang dapat dilaporkan bagaimana cara penatalaksanaan

alveolektomi di RSGM Universitas Baiturrahmah Padang.

2
1.3 Tujuan Laporan Kasus

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan alveolektomi yang

dilaksanakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Baiturrahmah Padang.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari laporan kasus ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan dari pasien alveolektomi

pada regio 22 yang akan dilakukan oleh mahasiswa profesi fakultas

kedokteran gigi Universitas Baiturrahmah Padang.

2. Untuk mengetahui SOP Alveolektomi di RSGM Universitas Baiturrahmah

Padang.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat laporan kasus ini adalah :

1. Laporan kasus ini diharapkan dapat memberi informasi yang bermanfaat

bagi masyarakat tentang penatalaksanaan alveolektomi yang dilakukan

oleh mahasiswa coass RSGM Universitas Baiturrahmah Padang

2. Dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai SOP Alveolektomi di

RSGM Universitas Baiturrahmah, terutama mahasiswa preklinik fakultas

kedokteran gigi Universitas Baiturrahmah Padang

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Alveolektomi

Banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan tindakan pembuangan

sebagian maupun seluruh prosesus alveolaris yang kadang-kadang rancu. Istilah-

istilah tersebut antara lain alveolektomi, alveolotomi, dan alveoplasti. Menurut

Archer, Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus

alveolaris, baik sebagian maupun seluruhnya. Adapun pembuangan seluruh

prosesus alveolaris yang lebih dikenal alveolektomi. Alveolektomi sebagian

bertujuan untuk mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat menerima gigi

tiruan. Tindakan ini meliputi pembuangan undercut atau cortical plate yang tajam,

mengurangi ketidakteraturan puncak ridge, dan menghilangkan eksostosis

(Literatur Online UNHAS).

Alveolotomi adalah suatu tindakan membuka prosesus alveolaris yang

bertujuan untuk mempermudah pengambilan gigi impaksi atau sisa akar yang

terbenam, kista atau tumor, atau untuk melakukan tindakan apikoektomi.

Alveoplasti adalah mempertahankan, memperbaiki sisa alveolar ridge yang tidak

teratur sebagai akibat pencabutan satu gigi atau beberapa gigi, dan

mempersiapkan sisa ridge dengan pembedahan agar permukaannya dapat

menerima gigi tiruan dengan baik. 17 Alveoplasti merupakan prosedur yang

biasanya dilakukan untuk mempersiapkan lingir, berkisar mulai satu gigi atau

seluruh gigi dalam rahang, dilakukan segera setelah pencabutan atau sekunder,

4
dan tersendiri sebagai prosedur korektif yang dilakukan kemudian (Literatur

Online UNHAS).

Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah untuk membuang prosesus

alveolaris yang menonjol baik sebagian maupun seluruhnya. Alveolektomi juga

berarti pemotongan sebagian atau seluruh prosesus alveolaris yang menonjol atau

prosesus alveolaris yang tajam pada maksila atau mandibula, pengambilan torus

palatinus maupun torus mandibularis yang besar (Rasyid, 2013). Alveolektomi

bertujuan untuk mempersiapkan alveolar ridge sehingga dapat memberikan

dukungan yang baik bagi gigitiruan. Tindakan ini meliputi pembuangan undercut

atau cortical plate yang tajam, mengurangi ketidakteraturan puncak ridge atau

elongasi, dan menghilangkan eksostosis (Rasyid, 2013).

Alveolektomi termasuk bagian dari bedah preprostetik yaitu tindakan

bedah yang dilakukan untuk persiapan pemasangan gigi tiruan (Tjiptono dkk,

1998; Sandira, 2009). Menurut Rendi, dkk (2002) menyebutkan bahwa

alveolektomi adalah suatu tindakan pengurangan tulang soket dengan cara

mengurangi plat labial atau bukal dari prosessus alveolar dengan pengambilan

septum interdental dan interadikuler untuk mereduksi atau mengambil procesus

alveolus disertai dengan pengambilan septum interdental dan interradikuler

sehingga bisa dilaksanakan aposisi mukosa.

2.1.1 Tujuan Alveolektomi

Tujuan dari bedah preprostetik ini adalah untuk mendapatkan gigi

tiruan dengan retensi, stabilitas, estetik dan fungsi yang lebih baik. Tindakan

pengurangan dan perbaikan tulang alveolar yang menonjol atau tidak teratur

untuk menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan gigi tiruan

5
dilakukan dengan prinsip mempertahankan tulang yang tersisa semaksimal

mungkin. Seringkali seorang dokter gigi menemukan sejumlah masalah dalam

pembuatan gigi tiruan yang nyaman walaupun kondisi tersebut dapat diperbaiki

dengan prosedur bedah minor. Penonjolan tulang atau tidak teratur dapat

menyebabkan gigi tiruan tidak stabil yang dapat mempengaruhi kondisi tulang

dan jaringan lunak dibawahnya (Ghosh, 2006).

Indikasi untuk prosedur ini sangat jarang dilakukan tetapi mungkin

dilakukan saat proyeksi gigi anterior dari ridge pada area premaksilaris akan

menjadi masalah untuk estetik dan kestabilan gigi tiruan pada masa yang

mendatang. Maloklusi klass II divisi I adalah tipe yang sangat memungkinkan

untuk dilakukan prosedur ini (Wray et al, 2003).

2.1.2 Indikasi dan Kontraindikasi Alveolektomi

Indikasi

1) Menghilangkan alveolar ridge yang runcing yang dapat

menyebabkan : neuralgia, gigi tiruan tidak stabil, gigi tiruan sakit

pada waktu dipakai.

2) Menghilangkan tuberositas untuk mendapatkan gigi tiruan yang

stabil dan enak dipakai.

3) Pengambilan eksostosis yang menggangu pada pembuatan gigi

tiruan.

4) Menghilangkan interseptal bonediseas.

5) Pengambilan undercut atau tulang yang tajam.

6
6) Untuk keperluan perawatan ortodontik, bila pemakaian alat ortho

tidak maksimal maka dilakukan alveolektomi

7) Pada kasus gigi posterior yang tinggal sendiri sering mengalami

ekstrusi atau supra-erupsi. Tulang dan jaringan lunak

pendukungnya berkembang berlebihan untuk mendukung hal

tersebut, sehingga bila gigi tersebut dicabut akan terlihat prosesus

alveolaris yang lebih menonjol.

8) Pada kasus pencabutan gigi multiple, apabila setelah pencabutan

gigi terdapat sisi marginal alveolar yang kasar dan tidak beraturan

atau jika ridge alveolar tinggi.

9) Pada kasus dengan kelainan eksostosis, torus palatinus maupun

torus mandibularis yang besar yang dapat mengganggu fungsi

pengunyahan,estetis, dan pemakaian gigitiruan. (Thoma, 1969;

Wray et al, 2003; Rasyid, 2013).

Kontraindikasi

1) Tulang kortikal yang tipis

2) Pada pasien yang memiliki bentuk prosesus alveolaris yang tidak

rata, tetapi tidak mengganggu adaptasi gigitiruan baik dalam hal

pemasangan, retensi maupun stabilitas.

3) Pada pasien yang memiliki penyakit sistemik yang tidak terkontrol

yaitu penyakit kardiovaskuler, Diabetes Mellitus (DM) dan

aterosklerosis.

4) Periostitis

7
5) Periodontitis, merupakan penyakit periodontal yang parah, yang

mengakibatkan kehilangan tulang (Tjiptono dkk, 1998;Fragiskos,

2007; Rasyid, 2013).

2.1.3 Syarat - syarat yang harus dipenuhi pada tindakan alveolektomi

Pengambilan tulang tidak boleh terlalu banyak dan sedapat

mungkin mempertahankan tulang kortikal, sebab bila tulang

kortikal terlalu banyak diambil dapat mempercepat terjadinya

resorbsi tulang alveolar tersebut.

Bahagian tulang pendukung gigi tiruan cukup banyak yang tinggal.

Kondisi pasien baik (Tjiptono dkk, 1998).

2.2 Prinsip Bedah

Seorang yang akan melakukan tindakan bedah mulut harus mempunyai

pengetahuan dasar, terutama mengenai anatomi, fisiologi, patologi, farmakologi

dan sebagainya. Prinsip untuk dapat melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya

yang penting adalah:

1. Diagnosa yang tepat

Tanpa mengetahui diagnosa yang tepat, kita tidak akan dapat

mengadakan terapi yang baik, walaupun ada berbagai macam cara

pengobatan tetapi diagnosa yang tepat hanya satu (Tjiptono dkk,

1998).

2. Rencana perawatan

Setiap rencana perawatan disusun dengan sedemikian rupa sehingga

meliputi keadaan lokal, kesehatan umum dan sosial ekonomi dari

pasien. Rencana perawatan tidak terlepas dari pada perawatan pasca

8
bedah. Dari anamnesa perawatan ini akan keluar empat macam hasil

yang akan dilakukan yaitu;

a. Observasi (diamati selanjutnya).

b. Perawatan konserfatif (dirawat secara konserfatif dengan

pengobatan saja).

c. Pembedahan (diambil tindakan operasi).

d. Konsultasi (dikirim ke sejawat yang lebih ahli untuk ditindak lebih

lanjut) (Tjiptono dkk, 1998).

3. Perawatan secara pembedahan

Pada tindakan operasi harus diikuti syarat-syarat sebagai berikut :

a. Asepsis

b. Atraumatic-surgery

c. Memenuhi tata kerja yang teratur (Tjiptono dkk, 1998).

4. Perawatan pasca bedah

Perwatan pasca bedah atau perawatan sesudah operasi yang baik akan

mencegah terjadinya komplikasi sesudah operasi (Tjiptono dkk, 1998).

2.3 Klasifikasi Pembuatan Flap

Flap adalah bagian dari gingiva, mukosa alveolar atau periosteum yang

dipisahkan atau dipotong dari gigi dan prosesus alveolar dengan suplai darah tetap

terpelihara (Rapley, 2005). Flap merupakan pembukaan gingiva dan atau mukosa

yang dipisahkan dari jaringan di bawahnya untuk meluaskan lapang pandang dan

akses menuju tulang dan permukaan akar (Carranza, 2002). Flap adalah bagian

dari gingiva, mukosa alveolar atau periosteum yang dipisahkan atau dipotong dari

gigi dan prosesus alveolar dengan suplai darah tetap terpelihara (Rapley, 2005).

9
Flap merupakan pembukaan gingiva dan atau mukosa yang dipisahkan dari

jaringan di bawahnya untuk meluaskan lapang pandang dan akses menuju tulang

dan permukaan akar (Carranza, 2002).

Menurut Barnes, 2002 prinsip desain flap antara lain :

1. Flap harus memperoleh suplai darah yang cukup, mukosa mulut penuh

dengan pembuluh darah dan dasar flap tidak terlalu sempit maka nekrosis

karena iskemia tidak akan terjadi.

2. Flap harus sesuai ukurannya dan terbuka penuh ( fully reflected ); bila sebuah

luka sembuh dengan penutupan primer maka penyatuannya adalah

berhadapan dan bukan menurut panjangnya sehingga sebuah insisi yang tidak

terinfeksi diharapkan akan sembuh secepatnya.

3. Flap yang dibuat terlalu kecil dapat menyebabkan operasi tidak dapat

dilakukan secara baik karena aksesnya tidak memadai serta kurang luas

daerah pandang; tambahan pula jaringan akan mudah teregang atau robek

sehingga menimbulkan rasa nyeri sesudah operasi dan memperlambat

penyembuhan.

4. Flap harus dapat terbuka penuh dan bersih, serat periosteum yang masih

melekat pada tulang akan berdarah serta menempel pada bur sewaktu

pengambilan tulang dan menyulitkan identifikasi tanda tanda anatomis yang

kecil, bila flap tidak terbuka dengan bersih maka akan dapat menimbulkan

banyak masalah sejak operasi dimulai

5. Tepi tepi flap harus berada pada tulang yang sehat. Bila flap dijahit di atas

bagian berongga akan memudahkan terjadinya infeksi dan kehancuran

10
bekuan darah dibawahnya, akibatnya kesembuhan akan tertunda atau, bila

antrum terlibat, akan terjadi fistula oroantral.

Berikut klasifikasi flap berdarakan :

Flap berdasarkan lokasinya

- lingual

- bukal

- palatal

Flap berdasarkan ketebalannya

a) Flap Berketebalan Penuh (Flap Mukoperiosteal/ Full-Thickness Flap)

Flap ini diindikasi untuk perawatan alveoplasti multiple dan fistula

oroantral. Flap mukoperiosteal ini terbentuk atas gingival, mukosa,

submukosa, dan periosteum. Flap ini dibuat dengan cara memisahkan

jaringan lunak dari tulang dengan pemotongan tumpul.Tekniknya sebagai

berikut. Buatlah insisi serong ke dalam (internal bevel), dari dekat tepi

gingiva ke arah puncak tulang alveolar, dengan mempertahankan gingiva

berkeratin sebanyak mungkin. Mata pisau No.11,12b,15 atau 15c biasa

digunakan untuk membuat insisi awal ini. Pisau No.11 atau 15c dengan

tangkai yang telah dimodifikasi dapat digunakan dengan baik untuk membuat

insisi di daerah lingual atau palatal. Insisi awal ini sebaiknya diperluas ke

sekeliling leher gigi dan daerah interproksimal untuk mempertahankan tinggi

jaringan papilla interdental untuk penjahitan.Kemudian pisahkan jaringan

dari tulang dengan elevator periosteal (rasparatorium) atau chisel (blunt

dissection), agar flap dapat dibuka dan mudah digerakkan, serta memberi

akses yang cukup ke strukturstruktur di bawahnya, seperti puncak tulang,

11
daerah cacat tulang, sementum nekrotik, dll. Setelah itu dibuat insisi kedua

mengelilingi setiap gigi ke arah puncak tulang atau aspek koronal dari

ligamen periodontium dengan pisau bedah, chisel Fedi atau chisel

Ochsenbein. Insisi kedua ini memutuskan serabut gingiva suprakrestal dari

permukaan gigi.Pisau bedah digunakan untuk membuang jaringan yang

tertinggal, dengan cara memotong secara horizontal tepat di atas puncak

tulang.

b) Flap Berketebalan Sebagian (Flap Mukosa/Partial-Thickness Flap)

Flap berketebalan sebagian terdiri atas gingiva, mukosa atau submukosa,

tetapi tidak termasuk periosteum. Flap ini dibuat dengan membuat insisi

tajam sampai ke dekat tulang alveolar, tetapi periosteum dan jaringan ikat

tetap dibiarkan melekat ke tulang dan menutupi tulang. Teknik untuk

melakukan flap ini hampir sama dengan teknik flap berketebalan penuh,

kecuali insisi awal dan cara merefleksi atau membuka flap yang berbeda.

Flap berdasarkan outlinenya

Bentuk dari flap sangat mempengaruhi dalam keberhasilan pembedahan,

dimana terdapat beberapa macam bentuk flap yang dapat dibuat dan dibuat

tergantung dari daerah operasi dan besar lesi yang akan diambil. yaitu;

a) Insisi linear : Biasanya digunakan pada incisional biopsi, incisi pada

ekstirpasi mukokel, incisi pada enukleasi kista, operasi sinus, dsb.

Kedalaman incisi berkaitan dengan batas dasar tempat operasi,

tergantung pada operasi yang akan dikerjakan. Batas dasar pada incisi di

jaringan lunak adalah daerah yang normal didasar lesi patologis,

12
sementara pada bentukan kista, batas dasar incisinya adalah lokasi

dimana kista tersebut melekat

b) Insisi Elips : Biasanya digunakan pada saat hendak melakukan open

biopsi atau pengambilan tumor epitelial seperti fibroma, papiloma,

lipoma dsb

c) Insisi Sirkuler : Digunakan pada saat melakukan operasi marsupialisasi

mandibula

d) Insisi Marginal : Bentuknya berupa garis lurus yg ditarik pada

sepanjang gingival margin bagian bukal/labial atau lingual/palatal,

memotong serabut periodontal & papila interdental. Syarat utama

untuk jenis insisi marginal ini adalah gusi & periodontal dalam keadaan

sehat.

e) Insisi Angular : Insisi angular atau sayatan bersudut adalah insisi

marginal yg dikombinasikan dgn insisi obliqie/sayatan miring. Sayatan

miring dpt dibuat di sisi mesial atau distal sesuai keperluan, yg dimulai

dari ujung insisi marginal menuju ke arah forniks (muko-bukal/labial

fold), membentuk sudut + 120 dgn insisi marginal. Flap angular yang

diperoleh dari insisi angular. Flap jenis ini sering digunakan utk

odontektomi gigi molar bungsu rahang bawah. Flap angular hanya

dilakukan di bagian bukal ataun labial. Kontra indikasi utk bagian lingual

atau palatal, karena resiko terpotongnya arteri, vena & saraf penting.

13
Gambar 1. Bentuk insisi angular

f) Insisi Trapesium : Insisi trapezoid atau sayatan trapesium adalah insisi

marginal yg dikombinasikan dgn 2 insisi oblique pada kedua ujungnya.

Sering digunakan pada bagian anterior maksila & mandibula, seperti

pada ekstirpasi kista, apikoektomi, apeks reseksi, odontektomi gigi

premolar, kaninus, insisif & gigi supernumerary. Pada kasus ini prosedur

alveolektomy dengan melakukan insisi trapesium.

Gambar 2 . Bentuk insisi trapesium

g) Insisi U Shape : Insisi ini tidak melibatkan gingival margin sehingga

tidak mengganggu jaringan periodontal di sekitar margin gusi. Insisi

dilakukan berbentuk huruf U pada jarak yg cukup dari gingival margin

dgn maksud agar tidak merusak suplay darah gingiva & membran

periodontal. Flap U juga hanya diindikasikan untuk bagian anterior

maksila & mandibula. Sering digunakan untuk apikoektomi, apeks

reseksi & pengambilan ujung akar yg patah.

14
h) Insisi Semilunar : Merupakan insisi berbentuk melengkung setengah

lingkaran atau sering disebut insisi semilunar atau semisirkuler. Insisi

semilunar dibuat untuk keperluan bedah yg membutuhkan lapangan

operasi tidak terlalu luas dan hanya pada bagian bukal/labial, kadang

dilakukan di bagian median palatal. Indikasi utk apikoektomi &

apeksreseksi (BPSL, 2014)

Gambar 3. Macam-macam bentuk flap a. linier, b. elips, c.sirkular, d.

marginal, e. angular, f. trapezoid, g. u shape, h. semi lunar

Bentuk flap ini dibuat tergantung dari pada daerah operasi dan besar

bagian yang akan diambil. Apabila tepi gingiva dari pada gigi termasuk dalam

daerah flap, maka harus diinsisi dan tidak boleh diangkat begitu saja. Untuk

melepaskan flap harus dengan gerakan yang halus.P ekerjaan yang tidak rapi akan

menimbulkan trauma dan akan menyebabkan penyembuhan yang lama dan tidak

sempurna, dengan cara bekerja yang atraumatik akan dapat mempertahankan

15
aliran darah dari flap, sehingga flap tetap hidup dan baik terhindar dari terjadinya

nekrose.

Hal-hal yang perlu diketahui dalam pembuatan flap:

Selama melakukan insisi mata pisau harus dipertahankan tetap

pada satu garis & pada kedalaman tertentu, umumnya pisau harus

tetap berkontak dgn tulang.

Hindari insisi melewati lokasi pembuluh darah & saraf karena

dapat menyebabkan terjadinya rasa kebas, biru serta paralise. Insisi

harus direncanakan secara seksama sehingga diperoleh flap yg

baik, medan operasi yg lapang, suplay darah yg cukup untuk flap

serta dukungan tulang yg cukup saat flap ditutup.

Penyembuhan dari flap tidak tergantung dari besarnya tetapi

tergantung dari pada bagaimana membuatnya dan bagaimana kita

bekerja.

Insisi pada jaringan luak, misalnya mukosa pipi, lidah, palatum

mole, atau dasar mulut tidak boleh tegak lurus dan dalam (Tjiptono

dkk, 1998; BPSL, 2014).

Syarat dalam pembuatan desain flap adalah;

a. Lebar dibandingkan tepi bebasnya (insisi tambahan harus serong).

b. Mempertahankan suplai darah (insisi sejajar dengan pembuluh darah

untuk memberikan vaskularisasi).

c. Hindari retraksi flap yang terlalu lama

d. Hindari ketegangan dalam penjahitan, jahitan yang berlebih atau

keduanya

16
e. Persyarafan : Desain diusahakan menghindari saraf yang terletak

didalam terutama nervus mentalis.

f. Pendukung

Tempatkan tepi sedemikian rupa sehingga terletak di atas tulang (lebih

kurang 3-4 mm dari tepi tulang yang rusak).

g. Ukuran : ukuran flap seharusnya lebih besar dan jangan terlalu kecil

serta diperluas terlalu berlebihan

h. Ketebalan : untuk flap periostal, periostum diambil secara menyeluruh

jangan sampai terkoyak dan pada waktu mengangkat flap jangan

sampai tersobek (Pedersen, 1996).

2.4 Langkah-langkah Pembuatan Flap

Langkah langkahnya adalah sebagai berikut : Buat insisi serong ke dalam

(internal bevel) menggunakan pisau bedah, mulai dari tepi gingival, sejajar dan

dekat ke permukaan luar tulang, tetapi biarkan jaringan lunak setebal kurang lebih

0,5-1 mm tetap utuh dan melekat ke tulang. Pisau bedah yang biasa digunakan

adalah No.11, 12b, 15, atau 15c. Kemudian pemotongan dilakukan menggunakan

pisau bedah (sharp dissection), bukan elevator (blunt dissection). Hal ini sering

menyebabkan perdarahan yang banyak selama pembedahan. Pada prinsipnya

sama dengan yang dilakukan pada pembuatan flap berketebalan penuh. Teknik ini

dipertimbangkan apabila flap akan digeser atau ditransfer sehingga menghindari

daerah tulang yang terdedak. Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan

flap antara lain : Scalpel, Scalpel blades (#11,12,15), Needle holder, Pinset

chirrurgis, Gunting benang.

17
Persiapan peralatan:

1. Blade dipasang pada scalpel menggunakan bantuan klem atau needle holder

sesuai cara pada gambar berikut.

Gambar 4. cara pemasangan blade pada scapel

2. Needle holder memegang jarum dan benang pada 1/3 lengkung proksimal

dari panjang jarum seperti pada gambar berikut.

Gambar 5. cara memegang jarum dengan nedle holder

3. Scalpel dipegang seperti memegang pena dengan menggunakan jari I, II dan

III. Tekanan difokuskan pada sisi blade sesuai desain dan kebutuhan.

4. Needle holder dipegang oleh jari ke I dan IV seperti tampak pada gambar, jari

II dan III digunakan sebagai stabilisator (BPSL, 2014).

2.5 Teknik Suturing

Tindakan pembedahan mengakibatkan adanya suatu perlukaan, sehingga

penutupan luka yang tepat dari luka biasanya dibutuhkan untuk memepercepat

penyembuhan yang optimal. Dasar penjahitan luka adalah membuat tekanan yang

18
adekuat pada luka agar tertutup tanpa jarak namun juga cukup longgar untuk

menghindari iskemia dan nekrosis.

2.5.1 Tujuan Suturing

Tujuan dilakukannya suturing adalah :

1. Merawat hemostasis atau perdarahan yang terjadi.

2. Dapat menjadi tindakan untuk pertolongan pertama.

3. Mengurangi rasa sakit post operatif.

4. Merupakan pembuat batasan ikatan pada jaringan sampai dengan sembuh

dan tidak lagi dibutuhkan.

5. Mencegah tulang yang mungkin terekspos pada penyembuhan luka yang

lama dan resorpsi yang tidak diperlukan.

2.5.2 Prinsip Suturing

Kesalahan umum pada penjahitan adalah menempatkan terlalu banyak jahitan

dan pengikatan yang terlalu kencang. Jahitan merupakan benda asing, oleh karena

itu semakin sedikit jahitan maka semakin kecil trauma dan makin sedikit reaksi

jaringan. Jahitan yang diikat terlalu kencang akan menghalangi suplai darah dan

mengurangi drainase. Penempatan jahitan intraoral, akan lebih baik hasilnya

apabila berpegang pada aturan berikut: secara umum, jahitan dimulai dari

posterior ke anterior ( dari jauh ke dekat), dari jaringan yang tidak melekat ke

jaringan yang cekat, apabila memungkinkan tepat menempel tulang (Pedersen,

2012).

19
2.5.3 Jenis- jenis Suturing

1. Jahitan Terputus/Interrupted

Saat luka dijahit dengan beberapa jahitan yang berdiri sendiri dengan jumlah

tertentu maka disebut teknik jahitan terputus/teknik interrupted. Secara umum

teknik ini lebih dipilih untuk digunakan daripada teknik continous.

Indikasi :

- Penjahitan setelah pembedahan di rongga mulut seperti penutupan

flap setelah pencabutan gigi yang impaksi, eksisi frenulum labial.

- Menutup luka pada daerah muka.

- Luka yang dalam.

Keuntungan :

- Kuat

- Tiap jahitan bebas, sehingga bila salah satu jahitan terlepas tidak

akan mempengaruhi jahitan yang lainnya.

- Dapat membuat bermacam-macam jarak antara tiap jahitan dengan

luka.

Kerugian :

- Membutuhkan waktu yang lebih banyak.

- Membutuhkan jumlah benang yang lebih banyak.

- Terdapat banyak lipatan simpul yang tidak diperlukan .

Macam-macam teknik interrupted suture

a) Simple Interrupted

Teknik simple interrupted merupakan teknik yang sering dipakai pada

bedah dentoalveolar. Benang mulai masuk dari salah satu lapisan luka

20
terluar masuk ke dalam dan jarum menembus kulit/mukos dari dalam

menuju keluar ke lapisan luka lainnya dari bawah, kemudian simpul diikat

dan sisa benang dipotong. Benang diikat pada sisi kanan dari garis insisi.

Jahitan yang dibuat melintasi garis insisi. Simpul yang dibuat harus pada

salah satu sisi dan tidak pada garis insisi. Titik penusukkan jarum pada

lapisan luka biasanya 1 sampai 8 inci (2 hingga 3mm) dari garis insisi.

Gambar 6. Teknik interrupted suturing

b) Mattress Interrupted
Suatu modifikasi dari teknik interrupted adalah teknik mattress baik

vertikal maupun horizontal. Teknik mattress menghasilkan eversi dari tepi

luka, yang pada kondisi tertentu diharapkan karena permukaan

penyembuhan dapat memiliki kontak yang luas. Teknik ini digunakan

pada luka yang terdapat ketegangan, sehingga ketegangan tersebut dapat

dikurangi. Terdapat dua macam teknik mattress interrupted yaitu:

o Teknik Horizontal Mattress Interrupted


Indikasi:

- Penutupan rongga kista

- Penjahitan luka pasca pencabutan gigi

21
- Penjahitan luka membran mukosa pada penutupan fistula

- Pengangkatan fibroma

- Kasus bedah palatoplasty

Jahitan mattress horizontal dapat dibuat dengan menggandengkan

dua jahitan terputus yang berdampingan, yang terletak pada dataran

yang sama dengan simpul tunggal.

Gambar 7. Teknik Horizontal Mattress


Interrupted

o Teknik Vertikal Mattress Interrupted


Indikasi : Untuk penutupan luka yang lebih lebar dan

membutuhkan tarikan sedikit lebih besar. Pada teknik mattress

vertikal, jahitan yang kecil dan dangkal diikuti dengan jahitan yang

lebih lebar dan dalam yang ditempatkan pada dataran yang sama.

Pada teknik ini, terdapat dua lapisan jahitan, satu jahitan untuk

membantu memberikan pendukung yang cukup pada permukaan

luka,sedangkan jahitan yg lainnya untuk membantu merapatkan

tepi luka hingga sejajar.

22
2. Jahitan Continous

Pada teknik continous jahitan yang berseri dibuat dari benang yang terus

menyambung sehingga hanya pada jahitan pertama dan yang terakhir saja yang

diikat.

Indikasi:

- Menutup luka pada jaringan sub cutan

- Menutup luka yang panjang pada kulit

- Sering digunakan pada bedah dentoalveolar untuk menutup insisi yang lebih

panjang, misalnya: menutup luka yang panjang pada margin gingival setelah

alveolektomi.

Keuntungan:

- Tehnik jahitan ini menghasilkan jahitan yang lebih rapi.

- Membutuhkan waktu yang lebih singkat.

- Memiliki distribusi tegangan yang tetap pada seluruh garis jahitan.

Kekurangan

- Apabila terjadi kerusakan dimana saja sepanjang benang tersebut dapat

membuat jahitan lepas dan luka dapat terbuka

- Teknik continous tidak sebaik teknik interrupted pada tempat-tempat yang

memiliki tegangan yang kuat dan jika tidak hati-hati ditempatkan maka

penyambungan lapisan luka tidak dapat terjadi dengan baik.

Macam-macam teknik continous :

a) Simple continous
Teknik ini dimulai seperti halnya pada teknik simple interrupted dan

jahitan yang dibuat diteruskan menggunakan benang yang sama sampai

23
pada simpul terakhir kemudian diikat. Benang jahit diteruskan ke jaringan

sudut kanan lapisan dan bagian yang terluar dari jahitan terbentuk diagonal

dari garis insisi.

Gambar 8. Teknik suturing simple


continous

b) Continous Lock Stich

Pada teknik jahitan terkunci/ continous lock stich jahitan yang

dibuat sebelumnya akan tetap kencang, walaupun tidak ditarik.

Lock/penguncian dilakukan dengan cara jarum dan benang melewati tiap

lingkaran pola jahitan simple continous sebelum diikatkan.

Teknik ini menghasilkan adaptasi yang baik pada penutupan

margin gingiva setelah alveolektomi dan juga pada pembedahan dengan

insisi panjang. Keistimewaan teknik ini merupakan jahitan bersambung

yang mengunci,sehingga selain memberi adaptasi yang rapat pada

jaringan, juga jahitan ini akan lebih kuat.

24
Gambar 9. Teknik suturing continous Lock
Stich

c) Mattress Continous

Jahitan mattress bisa juga dibuat dengan cara kontinyu. Teknik mattress

continous digunakan di klinik untuk membuat jahitan yang eversi,

biasanya memiliki panjang tertentu. Teknik ini membutuhkan waktu yang

lebih lama dan apabila jahitan terlalu kuat maka resikonya adalah terlalu

kencangnya jaringan.

Gambar 10. Teknik suturing Mattress


Continous

25
3. Jahitan Figure Eight

Teknik figure eight digunakan pada penjahitan luka pasca pencabutan gigi

untuk memberikan perlindungan pada daerah operasi. Jahitan ditempatkan di

atas alveolus untuk menahan dressing atau pack.

Gambar 11. Teknik suturing Figure Eight

26
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Kasus

Seorang laki-laki berusia 56 tahun datang ke RSGMP Baiturrahmah

Padang dengan keluhan ingin dibuatkan gigi tiruan penuh pada rahang atas dan

rahang bawah. Dari pemeriksaan subjektif didapatkan bahwa pasien tidak ada

kelainan penyakit sistemik dan tidak ada riwayat alergi obat. Saat datang ke

RSGMP tampak tanda-tanda vital normal dan keadaan mulut pasien baik. Pada

hari pertama datang, pasien dirujuk ke bagian prosthodonti untuk memeriksakan

apakah pembuatan gigi tiruan bisa dilakukan atau tidak. Pada pemeriksaan

intraoral terlihat adanya penonjolan pada tulang tepatnya di ridge alveolar pada

regio gigi 22. Sewaktu di palpasi didapatkan adanya rasa sakit, runcing dan tajam.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pasien mempunyai eksostosis pada ridge alveolar

bagian labial di regio gigi 22, yang dapat mengganggu pada pembuatan gigi

tiruan.

3.2 Data Pasien

Nama : Aprianto

Jenis kelamin : Laki-laki

Umur : 56 Tahun

No RM : 041315

Alamat : Gg. Bakti 01 Tunggul Hitam

27
Gambar 12. Foto Pemeriksaan Intra Oral

3.3 Prosedur Pembedahan

1. Siapkan alat dan bahan yang telah disterilkan

a. Alat : Alat standar, Handle blade, Raspatorium, Bone file, Blade no

15, Gunting bedah, Benang + jarum jahit, Needle holder, Low speed (

mikromotor ), Bur tulang, Knabel tang

b. Bahan : Pehacain, Betadine, Nacl 0,9 %, Tampon, kasa, kapas,

Alkohol.

Gambar 13. Alat dan Bahan Alveolektomi

28
2. Dudukkan pasien didental unit, operator menjelaskan kepada pasien

tentang prosedur perawatan secara singkat serta membimbing pasien

dalam mengisi inform consent.

3. Pasien dipasangkan slaber kemudian asepsis dilakukan baik kepada

operator maupun pasien

- Operator : mencuci tangan, membuka perhiasan dan aksesoris tangan

yang dipakai, memakai handscond dan masker.

- Pasien : asepsis intra oral dan ekstra oral dengan menggunakan alkohol

diolesi melingkari bibir dengan searah jarum jam, dan dengan

menggunakan larutan antiseptik (betadine) pada daerah kerja.

4. Lakukan anastesi infiltrasi anastesi, kemudian lakukan pengecekan dengan

menggunakan ujung sonde apakah anastesi sudah berjalan atau belum

(mati rasa)

5. Lakukan bleeding point pada daerah yang akan dilakukan insisi dengan

tegak lurus tulang tujuan tidak meleset, disarankan lebih baik dataran

oklusal, daerah dengan bentuk flap trapesium.

6. Lakukan insisi flap berbentuk trapesium pada region tersebut dengan

menggunakan blade no. 15.

Gambar 14. Pembuatan insisi flap (Literatur Online UNHAS)

29
7. Buka perlekatan flap dengan menggunakan raspatorium, dan tahan pada

posisi tersebut dengan jari telunjuk tangan kiri atau dengan hemostat yang

ditempelkan pada tepi flep atau dengan tissue retactor, kemudian

dilakukan identifikasi penonjolan tulang yang runcing yang akan diambil.

Gambar 15. Membuka perlekatan flap dengan


raspatorium (Literatur Online UNHAS)

8. Buang penonjolan tulang alveolus yang runcing tersebut dengan bur atau

dengan knabel tang. Letakkan kenabel tang atau bone shear atau single

edge bone-cutting rongeur dengan satu blade pada puncak alveolar dan

blade lainnya dibawah undercut yang akan dibuang, dimulai pada regio

insisivus lateral bawah dan berlanjut ke bagian paling distal dari alveolar

ridge pada sisi yang terbuka.

Gambar \16. a. Reduksi undercut dengan Rongeur b. Reduksi


undercut dengan bur tulang

30
9. Raba bagian tulang yang masih tajam dan dihaluskan dengan dengan

menggunakan bone file, setelah dihaluskan lakukan irigasi dengan larutan

Nacl 0,9 %

Gambar 17. Penghalusan tulang dengan bone files


(Literatur Online UNHAS)

10. Kembalikan flap seperti semula kemudian dilakukan suturing dengan

interrupted suture

11. Instruksi pasca bedah dan medikasi kemudian pasein dipulangkan dan

diberi obat berupa antiinflamasi, antibiotik, antiseptik dan vitamin.

12. Setelah 1 minggu apabila tidak ada inflamasi, jahitan dibuka (Tjiptono,

dkk).

13. Pembukaan jahitan dilakukan tepat dekat diatas mukosa dengan

menggunakan gunting benang yang bertujuan supaya bakteri dan sisa

makanan yang lengket pada benang tidak masuk ke dalam mukosa saat

melakukan penarikan benang.

31
BAB IV

KOMPLIKASI

4.1. Komplikasi Pasca Pembedahan

Setelah dilakukan tindakan prosedur bedah biasanya akan muncul keluhan.

Hal ini wajar, salah satu keluhan yang mungkin terjadi adalah rasa

ketidaknyamanan. Rasa ini dapat terjadi sebagai akibat adanya rasa sakit yang

dialami pasein. Rasa ini dapat terjadi akibat adanya rasa sakit yang dialami pasein.

Untuk menghilangkan rasa ketidaknyaman ini dapat diberikan obat penghilang

rasa sakit.

Komplikasi pasca bedah dan pencabutan gigi kadang-kadang tidak dapat

dihindari, dapat terjadi oleh beberapa sebab tanpa memandang operator,

ketrampilan operator maupun kesempurnaan persiapan. Komplikasi yang terjadi

bervariasi demikian juga akibat yang ditimbulkan (Ismardianita, 2013).

Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi, yaitu sebagai berikuit;

a. Laserasi mukosa (sobekan pada mukosa)

Bila terjadi karena ginggiva terjepit pada saat pencabutan, mukosa sudut

mulut luka karena terlalu lebar membuka mulut.

Penanganan : operator harus bekerja secara baik dan benar serta

memperhatikan hal-hal yang yang dapat menyebabkan komplikasi tersebut.

b. Lesi pada nervus

Nervus dapat terluka pada anastesi lokal karena memakai jarum yang

tumpul dan bisa juga terjadi bila waktu penyuntikkan ada sisa alkohol yang

masuk kejaringan dan sampai ke nervus sehingga dapat menyebabkan

terjadi nekrose dan parastesi

32
Penanganan; anastesi lokal harus memakai jarum yanag tajam serta

operator memperhatikan alat dan daerah tempat dilakukan injeksi

c. Pendarahan

Biasa terjadi karena waktu tindakan pembedahan dilakukan banyaknya atau

besarnya pembuluh darah yang terkena.

Penanganan;

- Secara tekanan : Dengan menggunakan kain kasa atau tampon

- Secara biologis

Bila pemakaian tampon padat atau kasa tidak bisa menghentikan

pendarahan maka dapat dipakai obat-obatan seperti adrenalin

- Pengikatan atau penjahitan

Bila pendarahan disebabkan karena terputusnya pembuluh darah

yang besar, maka pembuluh darah tersebut diikat dengan

menggunakan cat gut atau benang absorbel dan bila pendarahan

disebabkan karena terbukanya jahitan operasi maka kita melakukan

penjahitan kembali.

- Hemostat : Digunakan untuk menjepit pembuluh darah

d. Edema

Edema merupakan kelanjutan normal dari setiap pencabutan atau

pembedahan gigi, serta merupakan reaksi normal dari jaringan

terhadap cidera. Edema adalah reaksi individual yaitu trauma yang

besarnya sama, tidak terlalu mengakibatkan derajat pembengkakan

yang sama baik pada pasein yang sama atau berbagai pasien. Usaha-

usaha yang bisa mengontrol udema adalah termal (dingin), fisik

33
(pemekanan), dan obat-obatan. Obat yang sering digunakan adalah

jenis steroid yang dibarikan secara prenatal, oral atau tropical sebagai

pembalut tulang alveolar.

e. Infeksi

Didasarkan atas potensi penyebaran dari infeksi bakterium atau

keduanya. Pencabutan dan pembedahan yang mengalami infeksi akut

yaitu perikoronitis atau abses. Penatalaksanaannya adalah dengan

memberikan obat antibiotik seperti penisilin (Pedersen, 1996).

Ada beberapa tindakan postoperatif yang harus dilakukan

1. Pasien dianjurkan untuk melakukan kompres dengan cairan kompres,

bisa juga air dingin selama kurang lebih 30 menit pada jam pertama

untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya pembengkakan.

2. Pasien diharapkan tidak mengganggu daerah operasi dan menjaga

kebersihan mulutnya dengan cara berkumur pelan-pelan setiap selesai

makan dengan cairan antiseptik atau obat kumur yang telah disiapkan.

3. Istirahat yang cukup. Istirahat yang cukup dapat mempercepat proses

penyembuhan luka.

4. Untuk sementara pasien dianjurkan untuk tidak memakan - makanan

yang keras dan merangsang

5. Lima hari pasca operasi pasien diminta datang untuk pembukaan

jahitan.

6. Pasien harus memakan - makanan yang lunak dan lembut terutama

pada hari pertama pasca pembedahan. Pasien tidak boleh memakan -

makanan yang panas karena dapat terjadinya pendarahan. Pasien baru

34
boleh makan beberapa jam setelah pembedahan agar tidak

mengganggu dan jangan mengunyah pada sisi yang dilakukan

pembedahan.

7. Banyak meminum air putih agar terhindar dari dehidrasi

8. Pasien harus selalu menjaga kebersihan mulut, gigi disikat secara rutin

dan diiringi dengan penggunaan obat kumur.

9. Pasien tidak boleh merokok, karena dapat meningkatkan insiden

terjadinya pendarahan dan dry socket

10. Pasien yang telah melakukan alveolektomi hendaklah diberikan bekal

resep obat anti sakit (analgesik) dan vitamin C untuk mempercepat

penyembuhan. Dapat juga diberikan antibiotik apabila diperlukan dan

sebaiknya juga diberikan obat kumur antiseptik.

11. Setelah melakukan kontrol terakhir yang diikuti dengan pembukaan

jahitan, hendaklah dilakukan pemeriksaan ulang pada daerah operasi

tersebut, apakah hasil alveolektomi yang dilakukan telah berhasil atau

terjadi kegagalan. Apabila terjadi kegagalan maka pengulangan

tindakan alveoektomi dapat direncanakan setelah terjadi penyembuhan

total (Ismardianita, 2013 ; Rasyid, 2013)

35
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Tujuan utama dari suatu tindakan bedah preprostodontik adalah untuk

mempersiapkan bentuk ridge sehingga dapat memberikan dukungan terbaik bagi

gigi tiruan dalam hal stabilitas maupun retensi. Alveolektomi dilakukan untuk

membentuk prosesus alveolaris agar dapat mempermudah pembuatan maupun

adaptasi gigi tiruan. Karena itu sebelum proses pembuatan gigi tiruan dilakukan,

seorang dokter gigi harus memperhatikan apakah terdapat faktor- faktor yang

dapat mengganggu proses pembuatan maupun adaptasi gigi tiruan tersebut, serta

estetik wajah penderita.

Tindakan alvelektomi dilakukan dengan pembuangan tulang alveolar

tersebut seminimal mungkin. Dimana pembuangan tersebut bertujuan untuk

menghilangkan undercut-undercut yang dapat mengganggu pembuatan basis gigi

tiruan dan arah masuknya gigi tiruan tersebut; memperbaiki hubungan antero-

posterior maksila dan mandibula.

5.2. Saran

Sangat penting bagi seorang dokter gigi untuk mengetahui prosedur

pembedahan alveolektomi sesuai dengan SOP, karena keberhasilan suatu

perawatan bedah tidak mungkin dapat dicapai tanpa didasari oleh tindakan yang

benar.

Setelah pelaksanaan suatu tindakan bedah preprostodontik perlu dilakukan

kontrol berkala untuk mengetahui jalan- nya proses penyembuhan, serta menjaga

36
agar tidak terjadi komplikasi- komplikasi yang tidak diharapkan. Kemudian

dilakukan evaluasi keadaan jaringan dan kondisi pasien beberapa minggu setelah

operasi. Jika hasilnya baik, maka dapat segera dilakukan proses pembuatan gigi

tiruan bagi pasien tersebut.

Demikian laporan kasus ini dibuat, diharapkan laporan kasus ini dapat

memberikan manfaat bagi pembaca dan banyak mendapatkan informasi dan

pengetahuan tentang pembedahan dalam melakukan tindakan alveolektomi,

apabila ada salah mohon dimaafkan.

37
DAFTAR PUSTAKA

Aditya, G., 1999, Alveoloplasty Sebagai Tindakan Bedah Preprostetik, Bagian


Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.
Barnes IE. Petunjuk Bergambar Endodontik Bedah, Hipokrates. Jakarta ; 2002,
hal 28-32

Buku Panduan Skills Lab (BPLS), 2014. Pemulihan Sistem Stomatognatik III.
Program Studi Pendidikan Dokter Gigi. Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya.
Carranza FA, Takei HH. The Periodontal Flap, Dalam Carranzas Clinical
Periodontology, Newman MG, Carranza FA, Takei HH. Ed ke-9, W.B.
Saunders Co. Philadelphia; 2002. hal 795-800

Fragiskos, D., 2007,Oral Surgery. Springer-Verlag Berlin, Heidelberg, Germany

Ghosh, 2006., Preprosthetic Oral and maxillofacial Surgery in Donoff B,. Manual
of Oral and Maxillofacial Surgery. St. Louis Mosby
Ismardianita, E. eksodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah,
Padang. 2013.
Pederson, G. W, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut (Oral Surgery ), Jakarta; EGC,
1996 Hal 47-59
Peterson, Larry J., 2006, Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. Fourth
Edition, Mosby, St.Louis, Missouri.
Ragiskos D. Fragiskos. 2007. Oral Surgery. Veldag Berlin Heidelberg : Springer
Rapley J. Penatalaksanaan Jaringan Lunak : Prosedur Mukogingiva, Dalam
Silabus Periodontiti, Fedi PF, Vernino AR, Gray JL. EGC. Jakarta ; 2005, hal
23-25

Rasyid, A. 2013. Prevalensi tindakan alveolektomi berdasarkan jenis kelamin,


umur, dan regio yang dilakukan di Departemen Bedah Mulut dan
Maksilofasial RSGMP FKG USU tahun 2011-2012. Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara.

38
Sandira, 2009. Alveolektomi. Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Fakultas
Kedokteran Universitas Trisakti.
Soelarko, R.M. dan Wachijati, H., 1980, Diktat Prostodonsia Full Denture, FKG
Unpad, Bandung
Starshak ,T.J. Prosthetic Oral surgery ,St.Louis:Mosby, 1971
Thoma, K. H. Oral Surgery. Ed. 5th ed.Vol. I. St. Louis: Mosby, 1969: 409-416.
Tjiptono k Toeti R, dkk , Ilmu Bedah Mulut Edisi ke Dua. Penerbit Cahaya Sukma
Nelti, R. Indikasi pencabutan. Hal 206-208.
Wray,Guernsey, L. H. Preprosthetic Surgery. In:Kruger, G. O., editor. Textbook
of Oraland Maxillofacial Surgery. 5th ed. St.Louis: Mosby, 1979: 111. al,
2003.

Yukna R. A. Penatalaksanaan Jaringan Lunak : Flap untuk Penanganan Poket,


Dalam Silabus Periodontiti, Fedi PF, Vernino AR, Gray JL. EGC. Jakarta ;
2005, hal 30-36

39