Anda di halaman 1dari 9

HEALTH EDUCATION Oktober, 2016

TONSILOFARINGITIS

Nama : Desi Frinaensri Doki


No. Stambuk : N 111 16 088
Pembimbing : dr. Kadek Rupawan
Dr. Amysar Praja, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2016
TONSILOFARINGITIS

A. DEFENISI

Tonsilitis paling sering dijumpai pada anak, jarang pada umur <2 tahun. Istilah faringitis

akut digunakan untuk menunjukkan semua infeksi akut pada faring, termasuk

tonsilofaringitis yang berlangsung hingga 14 hari. Penyakit ini tidak lazim pada anak

dibawah umur 1 tahun. Insidensnya kemudian naik sampai mencapai puncaknya pada 4-7

tahun. Faringitis merupakan peradangan akut membran mukosa faring dan struktur lain di

sekitarnya. Karena letaknya yang sangat dekat dengan hidung dan tonsil, jarang terjadi hanya

infeksi lokal faring atau tonsil. Oleh karena itu, pengertian faringitis secara luas mencakup

tonsillitis, nasofaringitis, dan tonsilofaringitis. Infeksi pada daerah faring dan sekitarnya

ditandai dengan keluhan nyeri tenggorok. (1)(2)

Gambar 1. Anatomi cavum oris dan orofaring (3)


B. ETIOLOGI

Tonsilofaringitis adalah infeksi akut, rekuren atau kronik pada faringotonsil, yang dapat

disebabkan oleh berbagai virus seperti HSV, EBV, sitomegalovirus, adenovirus, dan oleh

bakteri utama yaitu Streptococcus -hemolitikus grup A. Penyebab yang lain adalah

Streptococcus -hemolitikus grup C, Staphylococcus aureus, M. pneumonia, jarang sekali

oleh Neisseria gonorrhea dan C. diphtheria. Pada bentuk kronik, penyebabnya ialah terutama

mikroorganisme penghasil lactamase, spesies aerobic (Streptococcus dan H. influenza) dan

spesies anaerobic (Peptostreptococcus dan Fusobacterium).(1)

C. PATOGENESIS

Penyebaran Streptococcus Beta Hemolitikus grup A (SBHGA) memerlukan penjamu

yang rentan dan difasilitasi dengan kontak erat. Infeksi jarang terjadi pada anak usia di

bawah 2 tahun, mungkin karena kurang kuatnya SBHGA melekat pada sel-sel epitel. Infeksi

pada toddlers paling sering melibatkan nasofaring atau kulit (impetigo). Remaja biasanya

telah mengalami kontak dengan organisme beberapa kali sehingga terbentuk kekebalan, oleh

karena itu infeksi SBHGA lebih jarang pada kelompok ini. (2)

Kontak erat dengan sekumpulan besar anak, misalnya pada kelompok anak sekolah, akan

mempertinggi penyebaran penyakit. Rata-rata anak prasekolah mengalami 4-8 episode

infeksi saluran respiratori atas setiap tahunnya, sedangkan anak usia sekolah mengalami 2-6

episode setiap tahunnya. (2)

Bakteri maupun virus dapat secara langsung menginvasi mukosa faring yang kemudian

menyebabkan respon peradangan local. Rhinovirus menyebabkan iritasi mukosa faring

sekunder akibat sekresi nasal. Sebagian besar peradangan melibatkan nasofaring, uvula dan
palatum mole. Perjalanan penyakitnya ialah terjadi inokulasi dari agen infeksius di faring

yang menyebabkan peradangan lokal, sehingga menyebabkan eritema faring, tonsil atau

keduanya. Infeksi Streptococcus ditandai dengan invasi lokal serta penglepasan toksin

ekstraselular dan protease. Transmisi dari virus yang khusus dan SBHGA terutama terjadi

akibat kontak tangan dengan secret hidung dibandingkan dengan kontak oral. Gejala akan

tampak setelah masa inkubasi yang pendek, yaitu 24-72 jam. (2)

D. MANIFESTASI KLINIS

Gejala tonsilofaringitis yang khas akibat bakteri Streptococcus berupa nyeri tenggorokan

dengan awitan mendadak, disfagia, dan demam. Urutan gejala yang biasanya dikeluhkan oleh

anak berusia di atas 2 tahun adalah nyeri kepala, nyeri perut dan muntah. Selain itu juga

didapatkan demam yang dapat mencapai suhu 400C, beberapa jam kemudian terdapat nyeri

tenggorok. Gejala seperti rinorea, suara serak, batuk, konjungtivitis, dan diare biasanya

disebabkan oleh virus. Kontak dengan pasien rhinitis juga dapat ditemukan pada

anamnesis.(2)

Tonsilofaringitis Streptococcus sangat mungkin jika dijumpai tanda berikut:

- Awitan akut, disertai mual dan muntah

- Faring hiperemis

- Demam

- Nyeri tenggorokan

- Tonsil bengkak dengan eksudasi

- Kelenjar getah bening anterior bengkak dan nyeri

- Uvula bengkak dan merah


- Ekskoriasi hidung disertai lesi impetigo sekunder

- Ruam skarlatina

- Petekia palatum mole (2)

Bila dijumpai gejala dan tanda berikut, maka kemungkinan besar bukan

tonsilofaringitis Streptococcus:

- Usia dibawah 3 tahun

- Awitan bertahap

- Kelainan melibatkan beberapa mukosa

- Konjungtivitis, diare, batuk, pilek, suara serak

- Mengi, ronki di paru

- Eksantem ulseratif(2)

E. DIAGNOSIS

Tanda khas tonsilofaringitis difteri adalah membrane asimetris, mudah berdarah, dan

berwarna kelabu pada faring. Membrane tersebut dapat meluas dari batas anterior tonsil

hingga palatum mole dan/atau ke uvula. Pada anak diatas umur 2 tahun mulai dengan

keluhan nyeri kepala, nyeri perut, dan muntah. Gejala-gejala ini dapat disertai dengan demam

setinggi 400C. Beberapa jam sesudah keluhan awal, tenggorokan dapat menjadi nyeri. (1)(2)(4)

Pada pasien ini, pasien berumur 2 tahun 8 bulan. Berdasarkan umur ini, kemungkinan

tonsilofaringitis cenderung akibat virus, namun tidak menutup kemungkinan diakibatkan oleh

infeksi bakteri. Dari gejala-gejala yang dialami pasien, dapat mengarah ke infeksi bakteri.

Pada pemeriksaan terdapat tonsil yang membesar, hyperemia, eksudasi tonsil dan faring,

petekie di sekitar tonsil sampai palatum, kelenjar limfe membesar dan nyeri. Anak dengan
tonsillitis kronik memperlihatkan halitosis, nyeri kronik pada tenggorok, sensasi benda asing

di faring, dan fisis tampak tonsil yang besar dan sering terdapat debris pada kripta tonsil.

Sulit untuk membedakan antara faringitis Streptococcus dan virus hanya berdasarkan

anamnesis dan pemeriksaan fisik. Baku emas penegakkan diagnosis faringitis bakteri atau

virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari pemeriksaan apusan tenggorokan. Pada saat ini

terdapat metode yang cepat untuk mendeteksi antigen Streptococcus grup A (rapid antigen

detection test). Metode uji cepat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang cukup

tinggi (90-95%) dan hasilnya dapat diketahui dalam 10 menit, sehingga metode ini

setidaknya dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan kultur. (1)(2)

F. TATALAKSANA

Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada faringitis virus, karena tidak akan

mempercepat waktu penyembuhan atau mengurangi derajat keparahan. Istirahat cukup dan

pemberian cairan yang sesuai merupakan terapi suportif yang dapat diberikan. Selain itu,

pemberian gargles (obat kumur) dan lozenges (obat hisap), pada anak yang cukup besar

dapat meringankan keluhan nyeri tenggorok. Antibiotik pilihan pada terapi faringitis akut

Streptococcus -hemolitikus grup A adalah penisilin V oral 15-30 mg/kg/ hari dibagi 3 dosis

selama 10 hari atau benzatin penisilin G IM dosis tunggal dengan dosis 600.000 IU (BB <30

kg) dan 1.200.000 IU (BB >30 kg). Amoksisilin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin

dengan dosis 50 mg/kg/hari dibagai 2 selama 6 hari. Pada infeksi berulang perlu dilakukan

kultur kembali. Apabila hasil kultur kembali positif, beberapa kepustakaan menyarankan

terapi kedua, dengan pilihan obat oral klindamisin 20-30 mg/kg/hari selama 10 hari,

amoksisilin klavulanat 40 mg/kg/hari terbagi menjadi 3 dosis selama 10 hari. Atau injeksi
benzathine penisilin G intramuscular, dosis tunggal 600.000 IU (BB <30 kg) dan 1.200.000

IU (BB >30 kg). Bila setelah terapi kedua kultur tetap positif, kemungkinan pasien

merupakan pasien karier, yang memiliki risiko ringan terkena demam reumatik. Golongan

tersebut tidak memerlukan terapi tambahan.(2)

Kriteria tonsilektomi berdasarkan Childrens Hospital of Pittsburgh Study, yaitu tujuh

atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik pada tahun

sebelumnya, lima atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik

setiap tahun selama 2 tahun sebelumnya, dan tiga atau lebih episode infeksi tenggorokan

yang diterapi dengan antibiotik setiap tahun selama 3 tahun sebelumnya. Tonsilektomi

sedapat mungkin dihindari pada anak berusia dibawah 3 tahun. Bila ada infeksi aktif,

tonsilektomi harus ditunda hingga 2-3 minggu. Indikasi lainnya adalah bila terjadi

obstructive sleep apnea. (2)

G. KOMPLIKASI

Komplikasi tonsillitis terkait dengan Streptococcus -hemolitikus grup A adalah demam

rematik akut dan glomerulonephritis akut, dan komplikasi yang lain ialah infeksi peritonsilar,

infeksi retrofaring, infeksi parafaring, sindrom lemierre, obstruksi saluran pernapasan atas.

Komplikasi lainnya adalah demam scarlet, yaitu sekunder terhadap tonsillitis Streptococcus

akut atau faringitis dengan produksi endotoksin oleh bakteri. Manifestasi termasuk ruam

eritematosa, limfadenopati berat dengan sakit ternggorokan, muntah, sakit kepala, demam,

eritema tonsil dan faring, takikardia, dan eksudat kuning pada tonsil dan faring. (2)(3)
H. PROGNOSIS

Prognosis tonsilofaringitis virus tergolong baik karena komplikasinya jarang. Beberapa

kasus dapat berlanjut menjadi otitis media purulen bakteri. Pada tonsilofaringitis bakteri dan

virus dapat ditemukan komplikasi ulkus kronik yang cukup luas. Sedangkan jika akibat

bakteri, dapat terjadi perluasan secara langsung atau hematogen. Akibat perluasan langsung

dapat berlanjut menjadi rinosinusitis, otitis media, mastoiditis, adenitis servikal, abses

retrofaringeal atau pneumonia. Penyebaran hematogen dapat mengakibatkan meningitis,

osteomyelitis, atau artritis septik, sedangkan komplikasi nonsupuratif berupa demam rematik

dan glomerulonephritis. (2)


DAFTAR PUSTAKA
1. Widagdo. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Anak Dengan Demam. Jakarta: Sagung
Seto, 2012.
2. Naning, R, Triasih, R, Setyati, A. Faringitis, Tonsilitis, dan Tonsilofaringitis Akut, in:
Rahajoe, NN, Supriyatno, B, Setyanto, DB (Eds.): Buku Ajar Respirologi Anak Edisi
Pertama. Jakarta: badan Penerbit IDAI, 2012: 288-95.
3. Cummings, CW, Flent, PW, Barker, LA (Eds). Cummings Otolaryngology Head & Neck
Surgery Fourth Edition. Philadelphia: Elsevier, 2005.
4. Nelson, WE (Ed.). Nelson Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 3, Jakarta: EGC, 2000.