Anda di halaman 1dari 4

3.3.

3 Analisis BOD
3.3.3.1 Pembuatan Air Pengencer
Prosedur pembuatan air pengencer, yang pertama dilakukan adalah dengan
menyiapkan akuades sesuai dengan kebuuhan volume dengan labu ukur dan dilakukan aerasi
selama satu jam. Akuades berfungsi sebagai bahan dasar dalam pembuatan air pengencer.
Benih dari tempat pembuangan air limbah yang ditambahkan memiliki perbandingan dengan
akuades, yaitu 1 ml benih untuk 1 liter akuades yang telah diaerasi. Larutan buffer fosfat,
magnesium sulfat, kalsium klorida dan feri klorida ditambahkan dengan perbandingan 1 ml
untuk 1 liter air pengencer yang akan dibuat. Keempat larutan yang ditambahkan ini
berfungsi untuk nutrisi bagi mikroba. Larutan yang telah ditambahkan tadi diaduk hingga
merata kemudian diukur pHnya. pH yang dibutuhkan untuk air pengencer adalah 6-7.
Beberapa larutan tadi dilakukan aerasi minimal hingga 3 jam. Air pengencer yang telah
diaerasi ditambahkan pada sampel dengan komposisi perbandingan ml sampel dan air
pengencer sesuai sumber air limbah. Sampel yang telah diberi air pengencer dituangkan ke
botol winkler untuk dianalisis pada hari ke nol dan hari ke lima. Botol blanko diisi dengan air
pengencer saja yang dimasukkan ke botol Winkler.
3.3.3.2 Analisis Oksigen Terlarut Dengan Metode Titrasi Winkler Pada Hari Ke Nol
Prosedur analisis oksigen terlarut yang pertama dilakukan adalah dengan menyiapkan
botol winkler yang berisi air pengencer saja sebagai blanko dan botol winkler yang berisi
sampel yang telah diencerkan dengan air untuk dianalisis pada hari ke nol. Larutan mangan
sulfat dan alkali iodida azida sebanyak 1 ml ditambahkan untuk tiap botol winkler tersebut.
Botol winkler dikocok agar larutan tersebut dapat merata kemudian didiamkan hingga keluar
gumpalan putih pada larutan dalam botol winkler. Larutan H2SO4 pekat sebanyak 1 ml
ditambahkan kemudian botol winkler dikocok. Fungsi penambahan asam sulfat pekat untuk
melarutkan gumpalan putih, kemudian larutan akan berwarna menjadi bening. Larutan bening
yang ada dalam botol winkler diambil sebanyak 100 ml. Larutan tersebut dititrasi dengan
menggunakan larutan natrium tiosulfat yang lebih diketahui normalitasnya hingga warna
kuning dari larutan menjadi kuning muda yang pertama kalinya. Amilum sebanyak 2 3
tetes ditambahkan hingga larutan berwarna biru. Larutan yang berwarna biru tersebut dititrasi
kembali hingga warna biru menjadi jernih/bening untuk pertama kali. Volume natrium
tiosulfat yang dibutuhkan untuk mentitrasi larutan dicatat. Oksigen terlarut (OT) yang ada
pada setiap botol winkler dihitung dengan menggunakan rumus untuk mengetahui kadar
oksigen terlarutnya pada hari ke nol.
a . N .8000
OT =
V
Keterangan:
OT = Oksigen Terlarut (mgO2/l)
a = volume titran natrium tiosulfat yang terpakai untuk titrasi (ml)
N = Normalitas larutan natrium tiosulfat yang dipakai (ek/l)
V = volume botol winkler (ml)
3.3.3.3 Penyimpanan Sampel Selama 5 Hari Dengan Suhu 20C
Pertama yang dilakukan adalah dengan menyiapkan botol winkler yang berisi air
pengencer saja sebagai botol blanko dan botol winkler yang berisi sampel yang telah
diencerkan dengan pengencer untuk dianalisis pada hari ke lima. Botol tersebut dibungkus
dengan kertas karbon agar botol menjadi gelap. Fungsi botol digelapkan agar oksidasi bahan
organis memang dilakukan oleh mikroba tanpa bantuan cahaya dari luar botol. Botol diberi
label untuk memudahkan dalam membedakan antara botol blanko dengan botol sampel.
3.3.3.4 Analisis Oksigen Terlarut Dengan Metode Titrasi Winkler Pada Hari Ke Lima
Prosedur analisis oksigen terlarut pada hari ke lima yang pertama dilakukan adalah
botol winkler yang berisi blanko dan botol winkler yang berisi sampel dikeluarkan dari
tempat penyimpanan. Kertas karbon yang menjadi pembungkus botol Winkler tersebut
dibuka, kemudian dilakukan analisis oksigen terlarut dengan prosedur seperti 3.3.3.2.
Oksigen terlarut (OT) yang ada pada setiap botol Winkler dihitung dengan menggunakan
rumus untuk mengetahui kadar oksigen terlarutnya pada hari ke lima.
a . N .8000
OT =
V
Keterangan:
OT = Oksigen Terlarut (mgO2/l)
a = volume titran natrium tiosulfat yang terpakai untuk titrasi (ml)
N = Normalitas larutan natrium tiosulfat yang dipakai (ek/l)
V = volume botol winkler (ml)
Oksigen yang terlarut dianalisis dengan metode titrasi winkler, untuk mengetahui nilai BOD
dapat dihitung dengan rumus berikut:
[ ( X 0 X 5 )( B 0B 5 ) ](1P)
BOD 20
5 =
P
Keterangan:
BOD 20
5 = BOD sebagai mg02/ l
X0 = OT (oksigen terlarut) sampel pada saat t=0 (mg O2 / l)
X5 = OT (oksigen terlarut) sampel pada saat t=5 (mg O2 / l)
B0 = OT (oksigen terlarut) blanko pada saat t=0 (mg O2 / l)
B5 = OT (oksigen terlarut) blanko pada saat t=5 (mg O2 / l)
P = derajat pengenceran
Skema kerja analisis BOD dapat dilihat pada Gambar 3.6.

Akuades

Akuades disiapkan sesuai kebutuhan volume dengan labu ukur.


Diaerasi minimal 1 jam.
Benih
Benih sampel diambil dari tempat pengambilan sampel yang telah ditentukan.
Benih sampel yang di tambahkan memiliki perbandingan dengan akuades yaitu 1
ml untuk benih dan 1 liter akuades.
Benih sampel yang diambil disaring terlebih dahulu sebelum dicampur ke
akuades.
Ditambahkan larutan buffer fosfat, magnesium sulfat, kalsium klorida, dan feri
klorida dengan perbandingan 1 ml dan 1 liter air pengencer yang akan dibuat.
Larutan di aduk merata dan diukur pH nya.
Untuk larutan yang kurang asam ditambahkan HCl 0,1N dan jika kurang basa
ditambahkan NaOH.
Larutan diaerasi minimal 3 jam.

Air pengencer

Air pengencer yang telah diaerasi ditambahkan pada sampel sesuai dengan
komposisi perbandingan. Untuk air limbah domestik 11 ml sampel diencerkan
dalam labu ukur 1 liter kemudian ditambahkan air pengencer hingga batas
meniscus.
Dituangkan ke botol winkler untuk dianalisis pada hari ke nol dan hari ke lima.
Air pengencer saja juga diisikan ke botol winkler sebagai blanko untuk dianalisis
Sampel
pada hari ke nol dan hari ke lima.
Sampel
Oksigen terlarut dianalisis dengan metode titrasi winkler pada hari ke nol.
Penyimpanan sampel selama 5 hari pada suhu 20oC.
Oksigen terlarut dianalisis dengan metode titrasi winkler pada hari ke lima.
Nilai BOD dihitung dengan rumus.

Hasil