Anda di halaman 1dari 85

A.

Diskripsi Gerusan Dasar Sungai

Gerusan dasar sungai adalah suatu kejadian alami yang disebabkan oleh

turunnya lapis dasar sungai karena erosi sampai suatu elevasi tertentu karena

aliran air. Fenomena gerusan lokal biasanya mengakibatkan terangkatnya bagian

bawah pondasi yang seharusnya tertutup sehingga mengakibatkan rusaknya

pondasi pilar jembatan.

David (2000) dan Graf (1998) menyatakan bahwa gerusan secara umum

dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu :

1. Gerusan umum ( general scour ) / erosi adalah gerusan yang disebabkan oleh

energi dari aliran air. Proses gerusan irui dapat terbentuk secara alami maupun

buatan pada aliran yang ditinjau, dan bisa terjadi pada pilar dan abutment.

2 Gerusan penyempitan ( constriction scour ) adalah gerusan yang terjadi karena

bertambahnya kecepatan aliran yang disebabkan terjadinya penyempitan luas

tampang basah aliran, karena bertambahnya kecepatan ini mengakibatkan

bertambahnya kapasitas angkut sedimen dari aliran air tersebut,

3. Gerusan karena bangunan hidraulik ( hydraulik structures scour ) adalah

gerusan yang terjadi pada dasar sungai karena adanya pengaruh suatu

bangunan terhadap aliran.

Idaho Transportatation Departement (2004) menyatakan bahwa gerusan lokal

di pilar jembatan adalah kepindahan material di sekitar pilar jembatan yang

disebabkan oleh akselerasi arus dan menghasilkan vortices karena adanya pilar

jembatan. Gerusan lokal dapat terjadi karena clear-water maupun live-


30
bed.Gerusan lokal terjadi karena clear-water umumnya pada sungai coarse-bed

atau karena debit aliran melebihi rencana. Sedangkan gerusan lokal pada kondisi

live bed umumnya terjadi pada pangkal jembatan yang disebabkan karena

kedalaman aliran.

Sehubungan hal di atas maka gerusan lokal di sekitar pilar jembatan

adalah karena bertambahnya kecepatan rerata atau intensitas turbulen

setempat yang menyebabkan kapasitas angkut sedimenya bertambah. Untuk

kondisi gerusan lokal dan gerusan akibat penyempitan alur dapat dibedakan atas

gerusan dengan air bersih ( clear water scour ) dan gerusan dengan air

bersedimen (live bed scour). Gerusan dengan air bersih ( clear water scour )

berhubungan erat dengan kondisi dasar sungai di bagian hulu sedimennya tidak

lagi bergerak ( kondisi diam ) yang berarti tidak ada transpor sedimen ke lobang

gerusan ( scour hole ).

Stephen E. Colman (2005) menyatakan bahwa parameter utama dalam gerusan

lokal di sekitar pilar jembatan karena air bersih untuk pilar tunggal adalah kedalaman

aliran (yo), kecepatan rerata aliran (V), material dasar (D n), distribusi diameter butir

material dasar (g), kecepatan kritis (Vc), Tegangan geser kritis (c), tebal pilar (bc),

lebar pilar ( lc), Sedangkan pada kondisi live bed scour telah terjadi gerakan

material dasar sungai yang disebabkan adanya aliran dan tegangan geser pada

dasar saluran telah melebihi kecepatan kritiknya. Kesetirnbangan akan tercapai

bila jumlah material yang telah bergerak dari lubang gerusan sama dengan

jumlah material yang disuplai ke lubang tersebut.

31
Forest Service and Tecnology & Development Program, Transportation

System (1998) menyatakan bahwa parameter utama gerusan adalah : (1)

kemiringan dasar sungai dan kecepatan aliran, (2) jenis material dasar sungai,

(3) gradasi material dasar sungai, (4) konfigurasi bentuk sungai, (5) letak pilar

dan abutment pada alur sungai yang menyebabkan potensi gerusan, (6)

bertambahnya debit dan kecepatan aliran, (7) efek backwater , (8) historis

kedalaman gerusan, (9) historis kedalaman aliran.

Idaho Transportatation Departement (2004) menyatakan bahwa parameter yang

menyebabkan gerusan lokal adalah : (1) flow velocity, (2) bentuk pilar (pilar yang

lebar, panjang), (3) sudut datang aliran, (4) ukuran, gradasi, kohesi butiran, jenis

material, (5) debit aliran, (6) bentuk hidung pilar.

Stephen E. Colman dan Bruce W. Melville( 2001) menyatakan bahwa

parameter yang menyebabkan gerusan lokal disekitar pilar jembatan adalah (1):

lebar pilar (b), (2) lebar pile cap (b), (3) lebar eqevalent pilar (bc), (4) faktor

kedalaman aliran (Kyb), (5) ukuran butir material dasar sungai (d), (6) tegangan

geser kritis (ca) , (7)kecepatan kritis (Vca), (8)kecepatan aliran (Va), (9) faktor

intensitas aliran (Ki), (10) faktor ukuran butir sedimen (Kd), (11) faktor bentuk

podasi (Ks), (12) panjang pilar (l), (13) sudut datang aliran (), (14) faktor sudut

datang aliran (K), (15) faktor geometri sungai (KG), (16) waktu keseimbangan (te),

(17) faktor waktu (Kt), diameter butir material dasar (d).

D. Max Sheppard (2003) menyatakan bahwa asumsi untuk perkiraan

kedalaman gerusan lokal dapat dipengaruhi oleh : jumlah pilar (n), massa

32
jenis material dasar sungai ( s), bentuk (Ks), diameter pilar (b), penempatan

pilar, ukuran pilar (b/bcol) dan sudut datang aliran (). Ketergantungan

fungsional dari garis tengah efektif pilar sebagai bagian komponen pada bentuk,

ukuran dan penempatan pilar tergantung pada banyaknya pengalaman

eksperimen.

Kedalaman gerusan lokal menurut J. Sterling Jones (2003) bahwa analisis

yang digunakan untuk mengukur kedalaman gerusan lokal di sekitar pilar

jembatan mengikuti rumus-rumus empiris. Dalam percobaannya difokuskan

pada prediksi keseimbangan kedalaman gerusan lokal pada aliran

stasioner ( laminar). Dalam penelitianya ada tiga variasi yaitu : (a) pilar

tunggal (Singgle pile ), (b) pilar dengan menggunakan pondasi tapak ( pile

cap ) dan (c) kelompok pilar ( pile group ).

Stephen E. Colman dan Bruce W. Melville (2001) menyatakan bahwa data

secara kuantitatif untuk menganalisis kedalaman gerusan lokal () adalah :

(1) tampang melintang saluran (W, y r), (2) rerata diameter butir sediment

(dm), (3) koefisien tikungan ( convergen coeficien = c ), (4) sudut arah aliran

(), (5) rerata kedalaman aliran (y u), (6) kemiringan saluran (So), (7) material

dasar yang meliputi : diameter rerata butiran (d m), standar deviasi diameter

butir ( s), tegangan geser kritik ( c), dan berat jenis butiran (S s), (8) aliran

meliputi : debit puncak aliran ( Q), waktu (t) dan debit per satuan lebar

saluran (q).

Dari uraian di atas proses terjadinya gerusan lokal disekitar pilar jembatan

sangat dipengaruhi banyak faktor antara lain adalah aliran ( flood flow ),

33
material/sedimen dasar sungai ( bed sediment ) dan bentuk geometri pilar

jembatan (bridge pier geometry). Hal tersebut diasumsikan bahwa massa jenis

sediment dasar dan geometri pilar adalah konstant maka pengaruh dari aliran

akan membentuk suatu keseimbangan kedalaman gerusan dasar sungai

disekitar pilar jembatan.

B. Mekanisme Gerusan

Gerusan yang terjadi di sekitar pilar jembatan akibat dari adanya sistem

pusaran (vortex system ) di sekitar pilar jembatan. Sistem pusaran tersebut

merupakan mekanisme terjadinya gerusan lokal.

Pada alur sungai yang terhalang pilar jembatan / bangunan menyebabkan

adanya pusaran bagian hulu pilar. Isnugroho (1992 ), Raudkivi (1991), Bruce W.

Melville (1999), Yee-Meng Chiew (2000), Francis C.K Ting (2003), Stephen E.

Coleman (2005), D. Max Sheppard (2003) secara umum menyatakan bahwa :

"adanya pilar akan mengganggu kestabilan butiran dasar. Bila perubahan air hulu

tertahan akan terjadi gangguan pada elevasi muka air di sekitar pilar. Aliran akan

berubah secara cepat karena adanya percepatan aliran dan ada energi air akan

turun ( interference ) di bagian depan pilar dan dibagian belakang terjadi

dissipation of flow energi."

Pada kondisi seperti di atas ( aliran di sekitar pilar ) akan terjadi pula

adanya kecepatan aliran arah tegak lurus dan sejajar garis energi arus yang

merupakan pemisahan tiga dimensi, akan tetapi lambat laun kecepatan aliran

menurun pada arah tegak lurus aliran. Perubahan arus aliran ini merupakan

34
bagian integral dari struktur aliran. Sistem aliran yang tertahan akan berbalik

kearah vertikal merupakan komponen vertikal dari kecepatan, maka terjadilah

transpor material dasar sungai dan terbentuklah yang disebut aliran spirall pada

daerah gerusan. Kondisi aliran yang membentuk pusaran (vortex) mempunyai

dampak berupa terkikisnya dasar sungai di sekitar pilar dan lambat laun akan

menyebabkan kerusakan pada pondasi pilar jembatan. Hal ini akan berlangsung

sampai terjadi keseimbangan dan tergantung dari tipe media angkutnya ( clear

water scour atau live bed water scour). Dalam kasus gerusan lokal ini umumnya

disebabkan oleh adanya fluktuasi gaya tekan yang cukup besar terhadap

material dasar ( lift force dan shear force ). Gaya-gaya yang bekerja pada partikel

sedimen yang terus-menerus akhirnya akan mengubah kedudukan partikel

material dasar. . Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

1. lift force pada partikel adalah drag force ( tegangan geser ). Dalam aliran

seragam drag force ( tegangan geser ) ada indikasi mengarah nilai relatif

sangat kecil,

2. adanya tekanan hidrostatis karena air ke pilar,

3. fluktuasi tekanan drag force pada permukaan material dasar yang dapat

diperhitungkan adalah rerata dari lift force, dan yang dekat dengan dasar

relatif sangat kecil.

Idaho Transportation Departement (2004) menyatakan bahwa mekanisme

yang menyebabkan gerusan lokal pada pilar jembatan adalah pembentukan

vortek yang dikenal dengan pusaran air pada dasar pilar jembatan. Pusaran air

terbentuk yang diakibatkan oleh aliran air yang terhalang hidung pilar dan

35
akselerasi terus-menerus. Proses pusaran air dapat memindahkan material

dasar di sekitar pilar jembatan. Pemindahan sedimen keluar lubang lebih besar

dari pengisian lubang dan konsekuensinya lubang akan semakin berkembang.

Aliran air berkurang maka kekuatan pusaran akan berkurang sehingga dalam

waktu tertentu akan terjadi keseimbangan antara inflow dan outflow sedimen di

sekitar lubang pilar dan proses gerusan air bersedimen ( live bed scour )

berhenti. Dengan demikian terjadilah keseimbangan gerusan lokal di sekitar pilar

jembatan. Karena gerusan clear water maka gerusan berhenti dan terjadilah

keseimbangan tegangan geser yang disebabkan karena pusaran aliran air sama

dengan tegangan geser kritis material dasar sungai.

D. Mark Sheppard (2003) menyatakan bahwa penyebab gerusan lokal

yang terjadi di jembatan karena adanya (1) pilar jembatan, (2) pile-cap pondasi

tiang dan (3) tiang pondasi ( kelompok tiang pondasi ). Ketiga hal di atas

menyebabkan terjadinya kontraksi yang dampaknya adalah terbentuknya

pusaran aliran pada dasar material sungai. Kondisi tersebut akan terjadi transport

sedimen /perpindahan material dasar sungai kehilir. Apabila tidak terjadi

keseimbangan antara transport sedimen masuk dan keluar lubang, sedimen

yang keluar lebih besar dari yang masuk maka akan terjadi gerusan lokal di

sekitar pilar jembatan.

Shen (1970) dari hasil eksperimennya pada saluran rata menyatakan

bahwa batas maksimum sudut hidung pilar masih dapat dianggap pilar dengan

ujung tajam apabila pilar mempunyai sudut hidung 30 o. Jika ujung pilar sudah

melebihi 30, maka pilar dianggap pilar dengan hidung tumpul.

36
Bruse W. Melville (1999) menyatakan bahwa lubang gerusan yang terjadi

pada alur sungai umumnya merupakan korelasi antara kedalaman gerusan

dengan kecepatan aliran sehingga lubang gerusan tersebut merupakan fungsi

waktu ( Gambar 2.1 ).

Sedangkan Breusers dan Rudkivi (1991) menyatakan bahwa kedalaman

gerusan maksimum merupakan fungsi kecepatan geser ( Gambar 2.2 ).

Aleks OliI (1995) menyatakan bahwa gerusan di sekitar pilar jembatan

berbentuk bulat merupakan akibat dari adanya sistem pusaran ( vortex system )

yang terjadi di sekitar pilar jembatan. Di daerah ujung pilar merupakan daerah

pusat tekanan karena aliran.

Rangga Raju (1986): dinyatakan bahwa apabila ujung (hidung) pilar

berbentuk tumpul maka timbul daerah tekanan karena pemusatan aliran.

Tekanan yang kuat akan menyebabkan pemisahan kekuatan tiga dimensi yang

berputar dan dampaknya akan terjadi gerusan di sekitar pilar. Jika pilar berujung

tajam tidak menimbulkan pusaran, namun kenyataannya lambat laun akan terjadi

walaupun relatif kecil jika dibandingkan dengan yang ujungnya tumpul.

Bruse W. Melville (1975) dalam eksperimennya mengukur fluktuasi

besaran rerata aliran turbulen, arahnya, kekuatan aliran dan tegangan geser di

sekitar pilar pada dasar saluran rata. Hasil eksperimen ditemukan bahwa

kekuatan vertikal kebawah sangat kuat dan berkembang di ujung pilar dan terjadi

lubang penggerusan. Aliran vertikal karena perbedaan tekanan akibat distribusi

tekanan yang tidak seragam. Dalam hal ini kecepatan aliran di permukaan lebih

37
besar dari kecepatan aliran di bagian bawah, semakin kebawah semakin kecil.

Dalam penelitiannya juga menemukan bahwa penggerusan dihasilkan yang

besar di hilir pilar saat pusaran tidak terbentuk. Sistem pusaran seolah-olah

seperti vacum cleaner dalam pemindahan material dasar yang kemudian

dibawa aliran ke daerah hilir.

Pendapat di atas bahwa terjadinya gerusan lokal karena adanya

perubahan kecepatan aliran, geometri pilar, dan material dasar sungai yang

saling berkorelasi positif.

Proses gerusan ditandai dengan berpindahnya sedimen yang menutupi

pilar jembatan, serta erosi dasar sungai yang terjadi akan mengikuti pola aliran.

Proses terus berlanjut dan lubang gerusan akan semakin berkembang, semakin

lama semakin besar dengan mencapai kedalaman bertentu ( maksimum ). Dalam

Gambar 2.1 dan 2.2 bahwa gerusan lokal adalah fungsi waktu dan fungsi

kecepatan. Pengaruh kecepatan aliran akan lebih dominan dibandingkan dengan

kecepatan kritis ( U > Uc ) penyebab terjadi keluar dan masuknya partikel material

dasar ke dalam lubang gerusan, namun kedalaman gerusan akan tetap / konstan.

Dalam keadaan setimbang kedalaman gerusan maksimum akan lebih besar dari

kedalaman gerusan rerata. Sistem pusaran yang terjadi di sekitar pilar merupakan

bagian integral dari pola aliran dan berpengaruh sangat besar pada kecepatan

baik vertikal dan horisontal.

equilibriumscourdepth
ScourDepth(ys)

live - bedscour
clear - wate
38rscour

TIME
Gambar 2.1. Tipikal perkembangan kedalaman gerusan terhadap waktu
( Chabert dan Engeldinger,1956 dalam Raudkivi, 1991)
dalam Bruse W. Melville (1999)

Peningkatan waktu (t) aliran akan meningkatkan kedalaman gerusan pada

saat kondisi clear water , dan lambat laun akan stabil saat mencapai

keseimbangan ( Gambar 2.1 ). Terjadinya keseimbangan pada saat rasio

kecepatan kritis dibanding kecepatan aliran (U*c/u*) =1 (Gambar 2.2).

ysmax 0.1ysmax
ScourDepth (ys)

live - bedscour
clear - waterscour

U*c *
U

Gambar 2.2:Tipikal Perkembangan Kedalaman gerusan


terhadap kecepatan geser
Breusers dan Raudkivi (1991) dalam Bruse W. Melville (1999)

Apabila kecepatan aliran lebih besar dari kecepatan kritis ( U > Uc) , maka

aliran menjadi aliran air bersedimen (live bed) dan pola alirannya tidak stabil.

Kecepatan aliran akan berubah-ubah demikian pula dengan tegangan geser yang

terjadi pada sedimen akan berubah pula. Batas clear water scour dan live bed

scour pada saat U/Uc=1 dan apabila U/Uc>1 maka aliran murni live bed scour.

Pada kondisi aliran live bed scour dibawah gerusan maksimum maka sedimen

39
yang ditransport adalah sedimen uniform ( seragam ). Pilar yang terdapat pada

alur sungai akan menghalangi aliran air, maka yang terjadi adalah interferensi

dan bergerak naik turun. Untuk gerakan turun maka akan ada energi untuk

mentransport sedimen keluar dari lubang. Pada saat kedalaman aliran (y o) sama

dengan diameter pilar (D) maka tidak terjadi gerusan lokal di sekitar pilar jembatan

(yo/D = 1).

Bruce W. Melville dan Yee-Meng Chiew (1999) parameter utama dalam

penelitiannya tergantung pada : d s =f ( Food Flow ( , , V , y , g ) , sedimen/

material dasar ( d50, s, s, Vc), dan geometri pilar ( b, Sh, Al), waktu ( t, tc ).

dalam hal ini :

s = standart deviasi distribusi material dasar


Al = parameter penempatan pilar
Sh = parameter bentuk
t = waktu
tc = waktu perkembangan gerusan lokal mencapai keseimbangan

Selanjutnya dikatakan oleh Bruce W. Melville dan Yee-Meng Chiew (1999)

bahwa untuk melakukan percobaan kecil-kecilan dalam mencapai keseimbangan

diperlukan waktu 12 jam untuk mencapai gerusan lokal sebesar 50%.

Waktu merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh pada saat terjadi aliran

yang beraturan untuk mencapai kesetimbangan dalamnya gerusan, tergantung

pada tipe aliran mengangkut sedimen ( U/ Uc > 1 atau tidak ( U/Uc < 1 ) Gambar

2.3. Kejadian pada pembentukan lubang gerusan ke sisi pilar akan terjadi

perubahan bentuk menyerupai kerucut di daerah hulu yang mempunyai dimensi

40
kedalaman gerusan sama panjang dengan sistem pilarnya. Material dasar sungai

yang ditranspor ke daerah hilir pilar dapat menjadi endapan / agradasi dan dapat

pula di transpor ke daerah hilir tanpa menimbulkan pengaruh pada pilarnya.

Kedalaman gerusan masimum yang dapat terjadi di sekitar pilar adalah

seperti pada Gambar 2.4. Untuk menentukan kondisi gerusan yang terjadi ( clear

water scour ataupun live bed water scour ) perlu kiranya diidentifikasi sifat

alirannya serta komposisi material granularnya.

ys

ds equilibrium scour depth

t (ds)max
(ds)

t equil
U
clear - water sediment - transport
scour Uc scour

Gambar 2.3: Tipikal perkembangan kedalaman gerusan (d s) terhadap kecepatan


aliran (U) dan waktu (t) ,
Graf (1998 ) dalam Bruse W. Melville (1999)
a 9

Dp

u(z) ps(z)
pier flow
h

z
i
x

ds
sedimens, d50

Gambar 2.4. Tipikal perkembangan kedalaman gerusan (d s) di sekitar pilar


Graf (1998 ) dalam Bruse W. Melville (1999)

41
Distribusi ukuran partikel terangkut menurut Raudkivi (1991) dinyatakan dalam

diameter rara - rata geometrik ( d 50), standar deviasi geometrik ( b ) adalah

seperti berikut :
0,50
d
( )
g = 84
d50
............................................................................................

(2.5)

sedangkan untuk aliran yang seragam menurut Shields dinyatakan dalam

entraiment function yang merupakan persamaan tegangan geser non

demensional seperti berikut :

c u 2
c = = c
gd gd .......................................................................................

(2.6)

dalam hal ini :


1 /2

angka Reynolds :
ud
Re=
v , Kecepatan geser :
u = o
( )
Tegangan geser :
o =( gy o S )
, nilai kritik

: c
Kedalaman aliran :
yo Kemiringan dasar sungai. : S

Diagram Shields seperti pada Gambar 2.5 untuk sejumlah bilangan Reynolds

tertentu dapat membentuk pusaran yang mengakibatkan terjadinya gerusan

u 2
c

lokal. Entraiment function( gd ) yang merupakan fungsi bilangan Reynolds

hubungannya dengan permulaan gerak butiran, maka besarnya kecepatan kritik

yang mempunyai tipe logaritmik dapat diketahui dengan persamaan di bawah :

42
yo
U c =u c ( 5 .75 . log ( ) 2d
+6 )
..............................................................................

(2.7).

Masoud Ghodsian, 2003 menyatakan bahwa pada percobaan tidak selalu

bergantung bilangan Reynolds (Re), dan persamaannya adalah :

ys V 1 y1 V 1 d
=
d gy 1 d
....

(2.8)

ys
=8, 819 R0,1434
d ..

(2.9)

10O
m m
25

uo uo uo uo
0,1

=
gd
uo

0, = = =
d=

02 0, 0, 0,
1 5 05 1 2
m

m m m m
mm
1m

/s /s /s /s
m
00

50

1m
0,0

0,2
Entrainment Function :

d=
d=

d=

PARTICLES MOVING
mm

2
m

uo
2m
0,5

=
0,
d=
d=

01
25
-1
m

m
10 /s
0m

m
1m

4m
0,3

d=6
d=
d=

5
d=

mm

1
m
8m

64
d=

d=
mm

PARTICLES IN REST
32

2
d=

-2 Uy
10
5 1 2 3
10O 2 5 10 2 5 10 2 5 10 2 5

Reynold Number : Re = u .d
v

Gambar 2.5. Diagram Sheilds untuk permulaan gerak butiran


Breuser dan Raudkivi (1991)

43
ys
Untuk kedalaman gerusan lokal yang maksimum bilangan Reynolds ( d

ys
terhadap Re ) maka d tidak tergantung pada Re terutama pada angka

ys
Reynolds yang tinggi. Ada indikasi bahwa d tidak selalu fungsi Re. Gambar

2.6

6
5
4
Y./d

3
2
1
0
0 20000 40000 60000 80000 100000
Re

Gambar 2.6. Perkembangan gerusan lokal terhadap R e.


Masoud Ghodsian (2003)

Pendekatan dengan bilangan Froude menunjukan bahwa adanya

hubungan / korelasi yang kuat kedalaman gerusan lokal terhadap bilangan

Froude (Fr). Gambar 2.7.

1/2
Fr = U 1 . l ( gy 1 )
..

(2.10)

44
Sedangkan Neils dalam Masoud Ghodsian (2003) menggunakan
Fr 1 =U 1 gd 1

....(2.11)

6
5
4
Y./D

3
2
1
0
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50
Fr

Gambar 2.7. Perkembangan gerusan lokal terhadap bilangan Froude


Masoud Ghodsian, 2003

ys V1 V 1d
maka: b
=f
( gd
;
) .

(2.12)

ys
Hubungan d terhadap Fr adalah seperti berikut :

ys
= 3, 415 F r . d 0,8316
b

(2.13)

Selanjutnya hubungan Fr dengan Re terhadap gerusan lokal adalah :

45
ys
= aFr d b R
b ec .....

(2.14)

a, b dan c adalah konstan, dan dari hasil eksperimennya didapatkan nilai

sebesar:

ys
= 4,24 Fr d 0,833 R 0,023
b e ..

(2.15)

ys
Untuk itu perlu mengkaji hubungan Fr, b dan Re terhadap b tanpa dimensi.

Sheppard et al. (1995) menyatakan bahwa Keseimbangan gerusan lokal

yang dinormalisir (ys/b) terhadap rata-rata kecepatan yang dinormalisir (U lp/Uc),

maka perlu diketahui untuk mengethui ratio kecepatan terhadap perubahan

lubang gerusan.

C. Parameter Gerusan Lokal

Didasarkan pada uraian di atas ( mekanisme gerusan lokal di sekitar

pilar jembatan ), maka faktor yang berpengaruh pada gerusan lokal salah

satunya adalah fluida, aliran, pilar dan konstruksinya, material dasar,

saluran, dan waktu. Menurut Idaho Transportatation Departement (2004),

Stephen E. Colman (2005), Forest Service and Tecnology & Development

Program, Transportation System (1998), Stephen E. Colman dan Bruce W.

Melville (2001), D. Max Sheppard ( 2003 ), J. Sterling Jones (2003) Parameter

46
yang berpengaruh pada gerusan lokal berdasarkan uraian pada mekanisme

gerusan adalah seperti berikut :

1. Fluida

Parameter fluida yang berpengaruh pada gerusan lokal di sekitar pilar

jembatan antara lain :

(a) kerapatan (),

(b) percepatan gravitasi (g) dan

(c) kekentalan kinematik ().

2. Aliran

Parameter aliran yang berpengaruh pada gerusan lokal di sekitar pilar

jembatan antara lain :

(a) Kecepatan meliputi : kecepatan rerata aliran (U), kedalaman aliran (yo),

kecepatan kritis (Uc), Tegangan geser kritis (c), kecepatan kritis (Uca),

kecepatan aliran (Ua),

(b) Kedalaman aliran (y u ), faktor kedalaman aliran (Kyb),

(c) Sudut datang aliran (), faktor sudut datang aliran (K),

(d) Sifat aliran ( seragam dan tak seragam ),

(e) faktor intensitas aliran (Ki),

3. Pilar dan konstruksi

Parameter pilar dan kontruksi yang berpengaruh pada gerusan lokal

di sekitar pilar jembatan antara lain :

(a) Geometri pilar yang meliputi : tebal pilar (bc), lebar pilar ( lc), lebar

eqevalent pilar (bc),dan bentuk hidung,

47
(b) letak pilar dan abutment pada alur sungai yang menyebabkan potensi

gerusan,

(c) Kontruksi yang terdiri dari pilar, pile-cap, dan pondasi ( tiang,

Caisson), faktor bentuk podasi (Ks), lebar pilar (b), lebar pile-cap (bpc),

tebal pile-cap (T), diameter pondasi tiang (d)

4. Material dasar sungai

Parameter material dasar sungai yang berpengaruh pada gerusan

lokal di sekitar pilar jembatan antara lain :

(a) Kerapatan massa sediment ( s ),

(b) kohesivitas material dasar sungai,

(c) diameter butir material dasar (dn),

(d) bentuk butir.

(e) distribusi diameter butir material dasar (g),

(f) jenis material dasar sungai,

(g) gradasi/ kekasaran material dasar sungai,

5. Saluran / sungai

(a) Geometri ( bentuk ) saluran,

(b) Kemiringan dasar sungai (So)

(c) Faktor geometri sungai (KG),

6. Waktu

(a) waktu keseimbangan (te) = waktu perkembangan gerusan lokal

mencapai keseimbangan

(b) faktor waktu (Kt),

48
D. Pola Aliran di Sekitar Pilar.

Berbagai pedekatan untuk mengestimasi pola arus yang terjadi di sekitar

pilar jembatan pada umumnya didapatkan dari hasil-hasil penelitian. Mengingat

akan kompleksitasnya permasalahan tersebut seperti estimasi perilaku

hidrodinamika yang terjadi pada hulu pilar jembatan. Pola arus dari aliran yang

terjadi akan berkembang sesuai dengan mekanisme lubang gerusan yang terjadi

di daerah amatan serta dipengaruhi adanya bentuk pilar dan telapak pilar.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas Bruce W. Melville (1999) dari hasil

penelitiannya didapat bentuk pola arus yang berbeda yang menyebabkan adanya

gerusan lokal di sekitar pilar seperti pada Gambar 2.8 di lembar berikut. Dengan

demikian maka pola arus sangat dipengaruhi adanya bentuk pilar, tapak pilar

serta pola debit yang terjadi.

PIER
Surfece ziier

Woke vortex

Downflow

FLOW

Scour hole

Horseshoe vortex
Sediment bed

Gambar 2.8. Pola aliran penyebab gerusan lokal pada pilar bulat (Breusers dan
Raudkivi ,1991) dalam Graf 1997

49
Tampak Samping

Tampak Atas Pilar Sejajar Aliran

Tampak Atas Pilar bersudut Terhadap Aliran

Gambar 2.9. Bentuk lubang gerusan pada pilar


Guide to Bridge Hydraulic, Neill (1973 )

Vortex

(a) pilar tanpa telapak

Vortex hilang tanpa Vortex

(b) pilar dengan telapak di bawah elevasi muka tanah dasar (d) pilar dengan telapak transisi

Vortex membesar

tanpa Vortex

(c) pilar dengan telapak keluar dari elevasi muka tanah dasar (c) pilar tanpa telapak tetapi bersayap

Gambar 2.10. Pengaruh tapak pilar pada gerusan lokal


Guide to Bridge Hydraulic, Neill (1973 )
50
2.1. Gerusan Pada Aliran Beraturan

Untuk aliran yang beraturan besarnya gerusan yang terjadi secara umum

tergantung pada banyak variabel seperti yang dikemukakan oleh Raudkivi,

1991 antara lain: (1) zat alir, (2) material yang ditranspor, (3) arus, dan (4)

bentuk dan kedudukan pilar, sehingga persamaannya seperti berikut :

y s =f ( , v , g , d , s , y o ,U , b ) ..............................................................

(2.16)

Graf (1998) menyatakan bahwa yang berpengaruh pada kedalaman

gerusan lokal di sekitar pilar jembatan adalah : fluida ( , , g), aliran (d o, U,

), material dasar saluran ( d, s), pilar ( b, sf), sehingga kedalaman rumusan

adalah :

y s =f ( , v , g , d , s , d o ,U , b , s f ) ...

(2.17)

Perbedaannya Raudkivi dan Graf di atas adalah pada faktor bentuk pilar yang

berpengaruh pada kedalaman gerusan. Jika Persamaan 2.12 dibuat tidak

berdemensi maka persamaan tersebut menjadi :

Ub U 2 y o d
y s /b=f ( , , , ,
v gb b b )
Ub U 2 y o g
y s /b=f
( , , ,
v gd b d 50
,
) ...........................................................

(2.18)

B.A. Kironoto dan Graf (1995) tentang distribusi vertikal kecepatan mempunyai

persamaan sebagai berikut :


51
u 1 y
= ln
u s( )
+Br
..........................................................................

(2.19)

Nilai Br = 8.5 15% dengan besaran y o = 0.2 ks, (kappa) = 0.40 dan untuk

rough plate (ks) =4,8 mm adalah kekasaran pasir equivalent Nikuradse.

Distribusi kecepatan logaritmik ini diasumsikan dapat diterapkan diseluruh

kedalaman aliran , namun persamaan tersebut hanya berlaku di daerah inner

region yaitu y/ < 0,2. (Gambar 2.11), dalam hal ini besarnya kecepatan geser :

1/2
U gy o S=( gy o S )

Gambar 2. 11. Distribusi vertikal kecepatan aliran sungai


Djoko Legono (l996)

Von Karman dalam Daryl B. Simons (1976) membuat persamaan distribusi

vertikal kecepatan adalah sebagai berikut :

52
U 1 y
= ln
U s
+K
( ) ...........................................................................

(2.20)

Stephen E. Colman, 2001 menyatakan bahwa :


0,5
U c=[ ( S c 1 ) gd 50 ]
...................................................................................

(2.21)

[
U c =5,75 U c 5, 53
y
d 50 ] untuk aliran turbulen K=2d 50 ...................................

(2.22)

Pendekatan yang umum untuk analisis degradasi secara kuantitatif adalah

pengamatan terhadap bidang, pengamatan permukaan dasar sungai/ saluran/

flume dan dikombinasi dengan rancang bangun yang ada.

Lacey (1930 ) dalam Stephen E. Colman, 2001 :

1/3
Q
y ms= 0,47
f () .......
(2.23)
0,5
Dalam hal ini : f =1,7 d m , dan f untuk dm < 1,3 mm

Blench (1969) dalam Stephen E. Colman, 2001:

y ms=1, 20
[ ]
q 2/3
d 1/6
50 untuk sand dari 0,06< d50 (mm) 2,0 ..........

(2.24)

y ms=1, 20
[ ]
q2/3
d 1/12
50 untuk gravels dari Ss 2,65 dan d50 >2,0 ..

(2.25)

53
Maza Alvarez dan Echavarria Alfaro (1973) dalam Stephen E. Colman ( 2001) :

Q0, 784
y ms= 0,365
( W 0,784 d 0,157
50
) .......

(2.26)

Metode ini sangat valid untuk sedimen pasir dan gravel dengan diameter d 75<

6mm yang diambil dari persamaan W. Watson (1990).

Holmes (1974) dalam Stephen E. Colman (2001) mempunyai indikasi bahwa

gerusan lokal (ys) adalah :

yc U 1 K
ys=
ys= yu atau ( A /W ) .....

(2.27)

Dengan
K=
W
4, 83 Q0,5
1 U 1 =c ( )( )
Q
A
yu
A/W dan C = 1,2

dalam hal ini aliran convergen, dan metode ini y s termasuk gerusan karena

degradasi dan kontraksi ermasuk juga pengaruh tikungan.

Perbedaan pada kedua persamaan di atas pada nilai kontanta K dan Br, dipilih

Persamaan 2.36 yang biasa digunakan. Graf (1998) mempunyai persamaan

gerusan sebagai berikut :

y s =f ( , v , s , d , h ,U ) atau
u,g, D p ................................................

( 2.28)

Breusers (1977) mempunyai persamaan dalam bentuk tak berdemensi seperti di

bawah :

54
u 2
y s / b=f
( u b
,
s y d
, , ,
v g( s ) b b ) .....................................................

( 2.29)

1. Persamaan Aliran Tidak Permanen

Aliran tidak permanen dapat diselesaikan secara numeris dengan

model matematis. Model ini didasarkan atas Barre de St. Venant (1871)

yang didasarkan pada persamaan kontinuitas dan persamaan momentum.

Persamaan ini digunakan dalam program SMS 8.1 dalam olah data

kecepatan aliran maupun untuk menentukan angka kekasaran Manning.

z Q
B + q =0
Persamaan kontinuitas :
t x l ..(2.30)

Persamaan momentum :

Q QB z Q Q Q z A Q|Q| q Q
t
+
A t A x A x x [ Q2
2 B + / z + gA z +
x 2 A x ]
+gA 2 = l
K A

.. (2.31)

Dalam hal ini :

A : Luas tampang basah (m2)


B : Lebar muka air (m)
g : percepatan gravitasi (m/detik2)
K : conveyance =1/n. A5/3. p-2/3
Q : debit (m3/det)
ql : lateral inflow (m2/det)
x : jarak pada arah longitudinal searah aliran (m)
z : elevasi muka air (m)
: koefisien koreksi distribusi kecepatan
Sf : kemiringan garis energi =Q[Q]/K2

55
Persamaan tersebut mempunyai dua variabel yang tak diketahui yaitu Q dan z.

Variabel lainnya dapat dinyatakan oleh Q dan / atau z dengan beberapa

persamaan di bawah ini :

a. Luas tampang basah

Luas tampang fungsi kedalaman dan lebar saluran. Luas total tampang basah

m
A= ak
adalah : k=1 m bagian luasan ak yang didifinisikan sebagai :

ak =(z-0,5(zbk zbk+1))(ybk+1 ybk) ..............................................................(2.32)

b. Kecepatan

Kecepatan adalah kecepatan rerata : U=Q / A .

(2.33)

c. Keliling basah (P)


m
P= P k
Keliling basah total adalah : k =1 m bagian luasan Pk yang didifinisikan

sebagai :
Pk =( y bk - y bk +1 )2 +( z bk - z bk +1 )2 ..

..(2.34)

Apabila muka air berpotongan dengan elemen tampang basah :


Pk =|( z-z bk +1 )| 1+
( y bk - y bk+1 )2
( z bk - z bk +1 )2

(2.35)

d. Lebar muka air

56
m
B= b k
k =1 dengan bk =(ybk+1 ybk) .............................................................

(2.36)

Apabila muka air berpotongan dengan elemen tampang basah :

( z - z bk+1 )
b k=|( y bk +1 -y bk )|
( z bk - z bk +1 ) .

(2.37)

e. Radius hidraulik

Radius hidraulik bagian luasan , rbk adalah : rbk = ak/Pk, radius hidraulik total

1,5

adalah :
Rb = [ ]
K .n b
A .

(2.38)

f. Conveyance

m ak . r
bk 2/3
K= K k Kk=
k=1 dan sub conveyance adalah : nb

(2.39)

g. Kemiringan garis energi

Kemiringan garis energi Sf = (Q/K)2...........................................................(2.40)

2. Sifat Aliran Zat Cair

Sifat aliran ditentukan oleh pengaruh kekentalan dan gravitasi secara

relatif dibanding dengan gaya inertianya. Laminer adalah kekentalan kinematik

57
lebih kuat dibanding gaya inertianya, partikel air bergerak mengikuti pola aliran

sejajar. Turbulen : partikel air bergerak berubah-ubah tidak menentu.

u. L
Re =
....

(2.41)

Pengaruh gravitasi dinyatakan dengan angka Froude (F r) yaitu :

u
Fr =
gL ....
(2.42)

Dalam hal ini :

U = kecepatan aliran (m/det)


L = panjang karakteristik (m), pada saluaran muka air bebas L=h
g = gravitasi (m/det2)
h = Kedalaman hidraulik (m)
R = Jari-jari hidraulik (m)
= Kekentalan kinematik (m2/det)

Tabel 2. 1. Hubungan nilai Froude (Fr) dan jenis aliran

Fr Aliran
<1 Sub-kritik, pengaruh v < g
=1 Kritik
>1 Super-kritik, pengaruh v > g

Sifat air akan mengangkut sedimen, maka perlu untuk mengkritisi berbagai

gejala seperti adanya o (tegangan geser) > c ( tegangan geser kritik butiran

yang menyebabkan gerak butiran ). Untuk air bersih o < c bed material.

Untuk air bersedimen o < c bed material > c suspended load

Kesimpulan : c bed material (Kg force/m 2) = d (cm), artinya d=0,01 cm ,

maka c bed material = 0,01 kg/m2

58
Usaha untuk mencegah gerusan pada tikungan /belokan tunggal :

Jari-jari belokan > 6 lebar muka air (R > 6w)

Jari-jari belokan > 15 dalamnya air ( R > 15w )

Perbesar luas penampang lintang

Perlindungan tebing

Untuk menghindari longsoran tebing, maka perlu dinding nonerodible.

Sedangkan saluran tahan erosi (nonerodible), faktor-faktor yang perlu

diperhatikan adalah kecepatan maksimum, gaya tarik (tractive force),

ukuran penampang ( terbaik, efisien dan praktis) efisiensi hidrolika, jenis

bahan, menentukan kekasaran (koefisien kekasaran), kemiringan dasar

saluran. Untuk kepentingan tersebut perlu adanya kontrol terlebih dahulu

tentang Apakah penampang stabil atau tidak? Data yang diperlukan

adalah : w, s, maka besarnya nilai tegangan geser yang terjadi :

Dasar : o = w. g.h.I ( dalam N/m2) .................................................(2. 43)

Tebing : o = 0,76w. g.h.I ( dalam N/m2)

Tegangan geser kritik yang terjadi :

Dasar : dari Shields (S-3) untuk d (mm), maka :

oc = (s- w) g.d ( dalam N/m2) .(2.44)

Jika o < oc , maka dasar stabil

Tebing : dari grafik Shields (S-6) Fig . C. hubungan d dan sudut

longsor , dan dari grafik S-6 Fig. B untuk hubungan sudut dan

kemiringan talud maka didapatkan nilai :

k = sc/oc , maka sc = k. oc ( dalam N/m2).......................................(2.45)

59
oc = (s- w) g.d ( dalam N/m2) ..........................................................(2.46)

Jika yang terjadi nilai o >s , maka tebing tidak stabil, mudah longsor dan

dimungkinkan akan terjadi transport sedimen.

Dalam dampak keseluruhan akan terjadi gerusan ataupun endapan.

Fenomena lain adalah gerusan dan endapan secara timbal balik. Sungai-

sungai ayang berbelok, bila keadaan alam diganggu dapat diharapkan

bahwa situasi akan berubah. Ditinjau dari sudut ini maka setiap

perubahan buatan pada sungai memerlukan perencanaan yang teliti

untuk memperoleh penyelesaian yang memuaskan. Persoalan lain

adalah gerusan setempat dalam tanah-tanah alluvial disebabkan karena

pemusatan tenaga oleh bangunan-bangunan buatan (local scour ).

Adalah sulit untuk mengetahui dengan tepat perubahan hubungan

timbale balik antara aliran dan dasar selama perubahan lambat laun dari

pada dasar sungai. Lebih sulit lagi bila ditinjau secara 3 dimensi (3D).

Sedimen Transport untuk sungai lebar tak terhingga, bagian

dasarnya haruslah dikaji : apakah butiran dasar sungai bergerak atau

belum?

33 z
U z 5,75 . U . log k
=
U 12 R
5, 75 .U . log
k ....

(2.47)

60
12 R
c=18 . log
k
U=C RI
U = gRI
33 . z
U z =5,75 . U log
k
s w
U 2cr =0, 55 .g.d
w
jika U cr >U butiran diam ..

(2.48)

Untuk analisis aliran, maka gerusan tebing tak boleh diabaikan. Jika

pengaliran dianggap permanent dan beraturan pada bagian yang ditinjau

haruslah dihitung :

debit sungai dengan significant depth di hulu. Angkutan

dengan MPM

Kedalaman aliran di hilir

Hitung diameter butiran yang masih stabil ( butir terkecil )

dengan debit (1).

U = gRI
11, 6
=
U

dari nilai ini akan diketahui gradasi butirannya Hidraulik kasar /halus
7
12. R
Q= A . U= A . 5,75 . U log
d
s w
U 2 cr=0,055 . g.d
w
Jika yang terjadi U cr >U maka tak ada transport bed material

....(2.49)

61
Kedalaman di hilir :

Kedalaman aliran hulu dan hilir akan menentukan terjadinya

transport sedimen. Perbedaan kedalaman hulu-hilir akan membentuk

kemiringan aliran. Untuk keperluan itu kedalaman air di hilir perlu

diketahui, baik model fisik maupun model matematik.

s w d
h= . , Grafik S10 didapatkan nilai kekentalan zat cair ( )
w .I
12 . 4, 06
C =0,792 /3 .18 .log
7, 75 .103
Q= A . C RI

....(2.50)

Jadi kedalaman air di hilir dapat diketahui.

Diameter butiran yang masih stabil ( terkecil ) sebagai pelindung

dasar perlu diketahui sebagai perencanaan model dengan cara

mencoba ( trial ), sehingga nilai butir terkecil yang masih stabil dapat

diketahui diameternya.

U = gRI
12. R
Q= A . U= A . 5,75 . U log
d
s w
U 2 cr=0,045 . g.d
w
U cr >U stabil , tak ada angku tan bed material (d terkecil) ..

(2.51)

3. Aliran Laminer dan Turbulen

Studi untuk aliran tidak lepas dari kedua jenis aliran, yaitu aliran laminer dan

turbulen. Untuk aliran di tikungan/belokan pada umumnya akan terjadi


62
turbulensi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis jenis

aliran yaitu :

a. Kekentalan dinamis sebagai fungsi suhu.

Pengaliran : Qtetap dan profiltetap , maka :

(Stationer) (beraturan )

(steady) ( uniform)

du du
=0 =0
dt dx
h=0

h
z z

Gambar 2.13.Tengangan geser di saluran terbuka

Laminer :

du
z = =(hz ) . g . I
dz

gI
U z= =(hz1 /2 z 2 ) parabola

gI
U= h2
3 ..............................................

(2.52)

Turbulen :

z =(hz) .g . I

63
du 2
z = .l 2 ( ) Pr andatl
dz
l= . z (mixing length), =0,4

U =
o
w
= ghI

2,3 33 z 33 z
U z= U . log =5, 75 U log z=0, 37 h dan U z =U
0,4 k k

12 h
U=5, 75 U . log
k .......................................................................

(2.53)

Tabel 2.2. Kondisi aliran laminer dan turbulen

Laminair Nilai Reynold : Turbulen


U .R
Re =

Re< 250 Saluran terbuka Re > 600
dihubungkan dengan
dalamnya air
U .h
Re =

Re>500 pipa Re > 3000
dihubungkan dengan
diameter pipa
U.D
Re =

Tidak dipengaruhi dipengaruhi kekasaran
kekasaran dinding, dinding
hanya tergantung
Sumber : KMTS UGM, 1982, Transportasi Sedimen, Yogyakarta, Fakultas Teknik
UGM, Biro Penerbit KMTS

6R
C=18 log
a , karena b= maka : R=b dan kecepatan rata-rata
adalah U=C hI

b. Gaya geser kritik untuk bahan non kohesive

64
c. Pengaruh trace saluran

d. Stabilitas dasar dan tebing, dan

e. Sekala Butiran menurut Sub-Comittee untuk Therminology Sedimen

A.G.U seperti tabel di bawah.

Tabel 2.3. Sekala Butiran menurut Sub-Comittee untuk Therminology


Sedimen A.G.U

Nama Diameter Butir Sub pembagian


Boulders 4000-250 mm
Cobbles 250 -64 mm Very fine
Gravel 64 2 mm Fine
Sand 2000 62 Medium
Silt 62 4 Coarse ( kasar )
Clay 4 0,24 Very coarse

Aliran tak beraturan juga disebut sebagai aliran tidak tunak

(unsteady flow). Robert J Kodoatie (2001) menyatakan bahwa aliran tak

tunak didasarkan pada Persamaan Saint Venant, asumsi persamaannya

berdasarkan pada persamaan kontinuitas dan momentum.

Neni Rosalina (1997) menyatakan bahwa bertambahnya kecepatan

disebabkan karena pengaruh gesekan, sedangkan berkurangnya

kecepatan lebih dipengaruhi adanya pusaran yang besar.

Kemiringan dasar saluran yang kecil, maka koefisien kekasaran tidak

tergantung pada kedalaman aliran. Untuk persamaan dinamik aliran

berubah secara umum adalah :

65
2
u
H= z +d cos +
2 g .....

(2.54)

H. Afzalimehr dan B. Levesque (1999) : Jika kemiringan dasar kecil (S o =0)

maka cos , maka persamaannya adalah sebagai berikut :

dy S o S f
=
dx 1+d (u2 /2 g )/dy .....

(2.55)
2
Dimana d(u /2 g )/dy adalah perubahan tinggi kecepatan yang

merupakan fungsi dan x. Jika terjadi aliran kritik di penampang saluran

dengan debit aliran Q maka


Q=Z c
g

dy 1( y n / y )3
=S o
Untuk penampang persegi panjang, maka
dx 1( y c / y )3 ......

(2.56)

Dari persamaan di atas aliran berubah ubah dikarenakan adanya

kemiringan dasar saluran dan kedalaman aliran

4. Aliran di Tikungan

Daerah tikungan umumnya akan menghasilkan gaya sentrifugal yang

menyebabkan terjadinya perbedaan muka air di bagian dalam dan luar

lengkungan. Perbedaan muka air yaitu pada bagian luar lengkungan

kondisi muka air naik (superelevasi) dan penurunan muka air pada baian

66
dalam lengkungan. Adanya superelevasi ini, maka distribu si kecepatan

aliran di daerah lengkungan tidak teratur.

Chow (1997) menyatakan bahwa pada belokan umumnya terjadi aliran

subkritis, dengan permukaan air yang rata dan sedikit terjadi superelevasi.

Untuk aliran subkritis ini yang perlu diperhatikan adalah arus spiral yang

merupakan fenomena gesekan. Dengan demikian analisisnya

menggunakan Bilangan Reynolds sebagai parameternya. Jika terjadi

aliran superkritis ditandai adanya karakteristik pola gelombang bersilang

yang tidak teratur di permukaan serta terjadi superelevasi yang

berlebihan.

Ben R. Hodges dan Jorg Imberger (2001) menyatakan bahwa

paramter sungai berbelok adalah : (1) radius lengkungan, (2) sudut

lengkungan, (3) panjang inlet, (4) lebar sungai, (5) kedalaman aliran, dan

(6) kemiringan sungai.

Koen Blancket dan Walter H. Graf, 2001 melakukan percobaan aliran

di tikungan dengan parameter adalah (1) saluran dari plexiglas tanpa

gesekan, (2) panjang inlet 2m, (3) radius lengkung 120 o, (4) jari jari 2m,

(5) pasir seragam d 50 = 2,1mm, (6) tekukan 45 o, (7) kedalaman aliran, (8)

lebar saluran / sungai.

Idaho Transportation Departement (2004) menyatakan bahwa sudut

datang yang berpotensi menyebabkan gerusan lokal di sekitar pilar

jembatan adalah 0 sampai dengan 45 O.

E. Gerusan Pilar Jembatan

67
Gerusan yang terjadi akibat adanya pilar jembatan banyak faktor yang

berpengaruh pada kedalaman gerusan lokal di sekitarnya. Faktor yang

berpengaruh cukup banyak seperti dalam Bab II.D, yaitu faktor : (1)

kecepatan aliran pada alur sungai, (2) ukuran butir material dasar, (3) ukuran

pilar, (4) kedalaman dasar sungai dari muka air, (5) bentuk pilar, dan (6)

posisi pilar.

1. Pengaruh Kecepatan Aliran pada Alur Sungai.

Kedalaman gerusan lokal maksimum rerata di sekitar pilar sangat

tergantung nilai relatif kecepatan alur sungai ( perbandingan antara

kecepatan rerata aliran dan kecepatan geser ) , nilai diameter butiran

(butiran seragam dan nirseragam), dan lebar pilar. Dengan demikian

maka gerusan lokal maksimum rerata tersebut merupakan gerusan lokal

maksimum dalam kondisi setimbang, maka korelasi dari berbagai

parameter yang terjadi seperti pada Gambar 2.10.

Perlu diperhatikan bila :

a) Apabila U/Uc <0,50 tidak terjadi adanya gerusan lokal dan tidak

terjadi transportasi sedimen pada daerah sekitar pilar,

b) apabila 0,50 < U/Uc <1,0, penyebab utama terjadinya proses gerusan

lokal di daerah sekitar pilar namun tidak terjadi proses transportasi

sedimen. Pada kondisi U/Uc <1,0 maka kecepatan aliran sangat

dominan , dan menurut Shen , 1971 dan Graf, 1998: kekuatan

horseshoe vortex dan angka Reynolds pada pilar adalah : terjadi

proses transportasi sedimen. Pada kondisi U/U c <1,0 maka

68
kecepatan aliran sangat dominan , dan menurut Shen, 1971 dan

Graf, 1998: kekuatan horseshoe vortex dan angka Reynolds pada

pilar adalah :

0,619
Ub
y se =0 . 00022.
v ( ) .............................

(2.57)

yse adalah nilai kesetimbangan gerusan lokal.

c) apabila 1.0 < U/Uc, penyebab utama adalah live bed scour karena

proses transportasi sedimen berlangsung terus akan tetapi tidak

menimbulkan dampak sampai tergerusnya dasar di sekitar pilar

berarti pada daerah tersebut terjadi keseimbangan antara

pengendapan dan erosinya.

2.4
norm oleed scour depthyom
b

2.0
Normalized scour depth

yo
= 1,97
1.6 b

1.2

2.0

1.6

yo
= 1,25
1.2 b

0.8

1.6

1.2 yo
= 0,97
b
moole- non-moole
0.8 forming forming
d 50 0-24 0-35 0-80 0-40
0.4

1.0 2.0 3.0 4.0 5.0

U
Normalized velocity
normolisec velocity
Uo

Gambar 2.14. Hubungan antara rasio kecepatan relatif (U/ U c) terhadap


rasio kedalaman gerusan maksimum rata-rata (y/b)

69
Bruce W. Melville (1997)

2. Ukuran Butir Sedimen Dasar

Ukuran butiran dari sedimen transpor merupakan salah faktor yang

berpengaruh pada kedataman gerusan air bersih ( clear water scour ).

Gambar 2.15a kedalaman gerusan (ys/b) tak berdemensi sebagai fungsi dari

karakteristik ukuran butiran material dasar ( / d50 ). Dengan demikian nilai

koefisien simpangan baku geometrik ( g ) dari distribusi ukuran butiran

material dasar akan berpengaruh pada kedalaman gerusan air bersih dan

dapat ditentukan nilainya dari grafik. Gambar 2.15b.

yo 2.5
b

2.0

1.5

1.0
bed material
d 50 - mm
0.55 mm
0.5 0.85 mm
1.90 mm
4.10 mm
0.00 mm
0.0
0 0.5 1.0 1.5 1.5

Normal standard deviciation /d


normal standard deviollar50s/d 50

Gambar 2.15.a. Kedalaman gerusan setimbang di sekitar pilar fungsi ukuran butir
relatif untuk kondisi aliran air bersih.
Bruce W. Melville, 1997

Estimasi kedalaman gerusan lokal yang setimbang di karenakan

adanya pengaruh distribusi material dasar mempunyai nilai maksimum dalam

kondisi pada aliran air bersih ( clear water ) menurut Breusers dan Raudkivi,

1991 adalah sebagai berikut :


y se ( )/ b = K y /b

............................................( 2.58)
se

70
Parameter K adalah suatu fungsi dari , dan besarnya nilai K seperti

dalam Gambar 2.15b.

Ks 1.00
d 50 < 0.7 mm d 50 - mm
1 > U * / U*c > 0.8 mm 0.55 mm
0.75 0.85 mm
1.90 mm
d 50 > 0.7 mm 4.10 mm

dan
0.50 d 50 < 0.7 mm
U* / U* c < 0.8 mm

0.25

0.00
1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
g
Gambar 2.15.b. Koefisien simpangan baku (K ) fungsi standard deviasi
geometri ukuran butir (g), Bruce W. Melville, 1997

3. Ukuran Pilar dan Ukuran Butir Material Dasar.

Kedalaman gerusan maksimum pada media alir clear water sangat

dipengaruhi adanya ukuran butiran material dasar (sedimen) relatif (b/d 50)

pada sungai alami/ buatan. Untuk sungai alami umumnya koefisien ukuran

butir relatif (b/d50) pada kecepatan relatif (U/U c) = 0.90 pada kondisi clear

water dan umumnya kedalaman gerusan relatif (ys/b) tidak dipengaruh oleh

besarnya ukuran butiran dasar sungai selama b/d 50 > 25.

Koefisien ukuran pilar dan ukuran butir material dasar (K dt) ini

menurut Ettema (1980), Chiew (1984), Chee (1982), Fisher (1980), Breusers

et.al. (1977) dalam Bruce W. Melville (1999) dapat pula untuk kondisi live

bed water.

71
Dari uraian diatas lebih jelas dapat dilihat pada Gambar

2.16 yang memperlihatkan korelasi antara nilai kedalaman gerusan relatif

dengan ukuran butir relatif dan kecepatan relatif U/U c dengan ukuran butir

relatif. Nilai maksimum pada gerusan local karena clear water (y s/b)max tidak

dipengaruhi besarnya ukuran butir material selama nilai b/d 50 lebih besar dari

25.

1000
U/Uc
500
0.90 0.95 1.5 2.0

b/d 50
3.0 3.5 4.0
100

50

10
5

1
0 0.5 1.0 10.0
K (b/d 50)

Gambar 2.16.a. Hubungan koefisien reduksi ukuran butir relatif K(b/d 50)
pengaruh ukuran butir relatif (b/d50) kondisi aliran air bersih dan bersedimen
Breusers and Raudkivi (1991)

yo 3.0
b
b (mm)
2.5 28.5
45.0
50.8
2.0 101.6
150.0
240.0
1.5
d < 0,70 mm
1.0
d > 0,70 mm

0.5 besar kasar antara halus

0.0
1 10 100 100 1
0 b 000
0
d50

Gambar 2.16.b. Kedalaman gerusan lokal pengaruh Ukuran Pilar dan Ukuran
Butir Sedimen rata-rata pada Kondisi Air Bersih dan Air Bersedimen
Breusers and Raudkivi (1991 )

72
4. Kedalaman Dasar Sungai Dari Muka Air.

Dalamnya gerusan lokal yang terjadi dipengaruhi oleh kedalaman

dasar sungai dari muka air (tinggi aliran zat alir), maka kecepatan relatif

(u*/u*c) dan kedalaman relatif (yo/b) merupakan faktor penting untuk

mengistimasi kedalaman gerusan lokal ini. Neill, 1964 dalam Djoko

Legono, 1996 : kedalaman gerusan lokal merupakan fungsi dari tinggi

aliran dengan persamaan seperti di bawah :

ys/yo = 1.5 (b/yo) 0,70 .............................................................. (2.59)

Keseimbangan gerusan lokal akan diperoleh jika telah terjadi

kesamaan nilai u*/u*c dan yo/b, sedangkan korelasi antara kedalaman relatif

(yo/b) dan koefisien kedalaman air (Kda) seperti Gambar 2.17.

8
yo
b 7
b/d50 b/d50 = 5
6
5 15
5 15
20 20
4
50
3 >75
2
50
1
>75
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
Kda

Gambar 2.17. Koefisien kedalaman aliran(Kda) terhadap kedalaman aliran


relatif (yo/b) dengan ukuran pilar relatif (b/d5o),
Breusers and Raudkivi (1991)

5. Bentuk Pilar Jembatan.

Bentuk pilar akan berpengaruh pada kedalaman gerusan lokal, hal

ini juga tergantung pada rasio panjang dan lebar pilar (l/b) masing-masing
73
bentuk mempunyai koefisien yang berbeda, Tison (1940), Laursen & Toch

(1956), Chabert & Engeldinger (1956), Garde (1961), Venkatadri (1965),

Neill (1973) dan Raudkivi (1991), Laursen (1983), Hancau (1971),

Bonasoundas (1973), Basak (1980), Chee (1982), dan Chiew (1984), dan

D. Max Shapperd (2005) seperti yang tertera dalam Tabel 2.1. Koefisien

dari bentuk pilar (Kb) beberapa bentuk menurut para ahli hanya bentuk

silinder (cylindrical) yang mempunyai nilai Kb = 1, yang terbesar adalah

bentuk segi empat dan terkecil bentuk hidung kuncup dengan nilai K b

=0,41 dan bentuk inilah yang terbaik.

Tabel 2.3. Koefisien Bentuk Pilar (Kb)

(1973)Neill
Eneldinger Chaert &
(1940)Tison

(1965)Vekatadri

(1991)Rudkivi
Toch Lausen &

(1961)Garde

Tampang Lintang
Pilar l/b

Lingkaran 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

Segi Empat 1,00 1,22


2,00 1,11
3,00 1,08
4,00 1,40 1,11
5,00 0,99
6,00 1,11
o
Hidung 28 3,00 0,65
Segi tiga 53o 3,00 0,76
60o 4,00 0,75
90o 5,00 1,25

Hidung Parabola 0,56 0,80


Hidung Kuncup 2,00 0,91 0,90 0,80
3,00 0,76 0,80 0,70
4,00 0,67 0,73 0,70
7,00 0,41 0,80
Hidung Ellips 2,00 0,91 0,80 1,00 0,83
3,00 0,83 0,75 0,80

74
Tabel 2.4. Koefisien Bentuk Pilar

Bentuk Pilar Faktor Bentuk ( Ks)


K1 dalam HEC - 18
Flow normal to side 0,9

Flow normal to edge 1,1

Sumber : D. Max Shapperd (2005)

75
Idaho Transportatation Departement (2004) menyatakan bahwa :

bentuk dari hidung pilar sangat mempengaruhi dalamnya gerusan lokal.

Pelurusan yang awal dan akhir mengurangi kekuatan dari pusaran air dan

dampaknya akan mengurangi kedalaman gerusan lokal. Bentuk hidung

segiempat akan lebih dalam penggerusannya dibandingkan dengan bentuk

yang tajam, bulat/ round-nose dan bulat /silindris.

Bentuk hidung pilar jembatan mempunyai pengaruh yang positip

pada kedalaman gerusan lokal. Pergerakan aliran di bagian ujung depan

pilar akan menpengaruhi vortek penggerusan yang menyebabkan

terjadinya gerusan lokal disekitar pilar jembataan. Pergerakan di bagian

belakang ujung pilar juga akan mengurangi voteies. Tabel di atas ( Tabel 2.3

dan 2.4 ) untuk pilar dengan hidung persegi mempunyai pengaruh yang

dinyatakan dalam koefisien bentuk besarnya 1,1 sampai 1,4. Bentuk ini

mempunyai pengaruh pada gerusan lokal sekitar pilar jembatan yang

maksimum, jika dibandingkan dengan bentuk lainnya. Untuk pilar jembatan

yang ujungnya bulat besarnya 0,67 0,90. Pada bentuk bulat bentuk vortek

akan lebih kecil dari vortek bentuk hidung pilar persegi. Untuk pilar

jembatan yang bentuk hidungnya lancip ( tajam ) besarnya koefisien bentuk

adalah sebesar 0,65 -1,25 tergntung dari sudut hidung pilar, lebar pilar dan

panjang horisontal pilar. Efek dari bentuk hidung pilar jembatan akan

memicu terjadinya vortek dan dampaknya adalah terjadinya gerusan lokal di

sekitar pilar jembatan. Pengaruh bentuk hidung linier dengan dampaknya ,

76
yaitu semakin lebar kontraksi yang terjadi semakin besar dan dampaknya

pada horse shoe vortex semakin besar dan kuat yang terjadi di sekitar pilar.

6. Posisi Pilar.

Kedalaman gerusan lokal tergantung pada kedudukan/posisi pilar

terhadap arah aliran yang terjadi serta panjang dan lebar pilar. Rasio dari

panjang dan lebar serta sudut datang dari tinjauan terhadap arah aliran

akan menentukan besarnya koefisien sudut datang aliran. Hal ini tidak

lepas pula dari bentuk tapak (pondasi) pilar yang digunakan sebagai

penyokong pilar (Gambar 2.18).

Laursen dan Toch (1956) menyatakan bahwa koefisien sudut

datang aliran karena posisi pilar dari beberapa bentuk menurut para ahli

hanya bentuk silinder (cylindrical) yang tidak menggunakan koefisien

sudut datang. Koefisien sudut datang arah aliran seperti pada Gambar

2.14.

Idaho Transportation Departement (2004) : bahwa sudut datang

aliran mempunyai pengaruh cukup besar pada kedalaman gerusan lokal di

sekitar pilar jembatan. Sudut datang pada suatu pilar jembatan berkisar

dari 0o sampai 45 dan akan meningkatkan kedalaman gerusan lokal di

sekitar pilar jembatan sebesar 1 sampai 3,5. Gambar 2.18 besarnya

koefisien sudut datang tergantung pada perbandingan /rasio dimensi lebar

dan panjang horisontal pilar (l/b) serta besarnya sudut arah aliran

77
terhadap pilar. Aliran pada jembatan mempunyai sudut antara 0 o sampai

45.

6 b 14

l 12
5
10
Ksd
4 8

3 6

4
2
2
1
0 15 30 45 60 75 90
Angle attacck in degrees
() o

Gambar 2.18 : Tipikal Koefisien arah sudut datang aliran (K sd) pada pilar
Graf (1997)

Pengaruh sudut datang aliran menurut Breusers (1977 ) , Graf

(1997), dalam penelitiannya diperoleh korelasi yang positip antara besarnya

sudut datang aliran dan besarnya kedalaman gerusan. Semakin besar sudut

datang aliran semakin besar pula kedalaman gerusan lokal.

7. Kedalaman Gerusan Lokal Setimbang Rerata untuk Butiran Seragam

dan Tak seragam.

Ukuran butiran sedimen umumnya dikelompokan menjadi dua

kelompok yaitu: seragam (uniform) dan nirseragam (non uniform) untuk

masing-masing mempunyai pengaruh yang berbeda pada kedalaman

gerusan lokal di sekitar pilar. Pada kondisi live bed water kedalaman

gerusan lokal makin bertambah sampai batas yang diijinkan sejalan dengan

pertambahan kecepatan geser dan sebagai pembatas adalah kecepatan

geser kritis (u*c) dan kecepatan kritis aliran. Untuk sedimen kasar seragam

78
pada kondisi demikian akan mempunyai kedalaman lebih besar bila

dibanding dengan sedimen nirseragam atau dapat disebut proses transpor

sedimen berdaur-ulang sampai batas ijin. Bila ditinjau pada aliran clear

water gerusan lokal yang terjadi tidak linier dengan pertambahan

kecepatan relatif karena pertambahan u/u*c terus menerus, akan tetapi

kedalaman relatif semakin berkurang. Gambar 2.19.

2.5
sedimen kasar seragam
Pier diameter (y o/b)
Average scour

2.0
Depth/

sedimen nirseragam
1.5
gerusan air bersedimen
yo
Uc = U* c 5.75 log +6
1.0 2 d 50
gerusan air jernih

0.5
1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
U/Uc

Gambar 2.19. Kesetimbang gerusan rerata pada butiran seragam


(g=1.3) dan butiran takseragam (g=3.5)
Breusers dan Raudviki (1991)

F. Prosedur Analisis Gerusan Lokal Sekitar Pilar.

Secara metodologis untuk estimasi kedalaman gerusan lokal ( local scour

depths ) adalah agrdasi dan atau degradasi, dan kedalaman gerusan local yang

disebabkan oleh kontraksi yang mungkin terjadi sesuai fenomena aliran. Untuk

menganalisis kedalaman gerusan lokal yang perlu diperhatikan adalah :

79
gerusan secara umum yaitu agradasi dan atau degradasi dan gerusan

karena adanya kontraksi,

komponen eksternal seperti dimensi pilar, pile-cap dan pondasi tiang serta

posisi pemasangan yang dapat menyebabkan gerusan lokal,

karakteristik sediment yaitu : massa jenis, median diameter butir, dan

distribusi butiran material dasar,

istimasi kekasaran dasar saluran sehubungan dengan median material

dasar,

karakteristik air yang mengalir yaitu massa jenis air, dan viskositas dinamik

air.

dalamnya aliran dan kecepatan rerata dihulu struktur ( pilar, pile-cap, dan

pondasi tiang ).

1. Model fisik dan matematik

Dari uraian diatas maka untuk analisis gerusan lokal di sekitar pilar untuk

studi banding dari hasil pengukuran dengan berbagai persamaan scouring

maupun sediment transport dari kondisi yang mungkin terjadi seperti telah

diuraikan dalam pustaka. Bruce W. Melville dan Coleman (2000) : proses gerusan

lokal di sekitar pilar jembatan permasalahannya sangat komplek antara lain : (a)

Pendekatan fisik :(1) pilar tunggal, (2) pilar tunggal dengan pondasi tiang dan pile-

cap, (3) Pilar tunggal dengan pondasi tiang dan pile-cap dalam kelompok yang

dilakukan baik model di laboratorium maupun lapangan.

Model matematik menggunakan pendekatan didasarkan atas teori dan

persamaan untuk mendapatkan hasil studi, serta memungkinkan dengan

80
memanipulasi serta mensimulasi berbagai nilai dan parameter. Kelemahan model

pendekatan matematik adalah pada parameter tertentu dapat tidak

diperhitungkan dalam model.

2. Model kondisi aliran

Bruce W. Melville dan Coleman (2000) bahwa kondisi gerusan lokal adalah

: (1) gerusan lokal kondisi air bersih ( clear water scour ), dan (2) gerusan lokal

kondisi air bersih ( live bed scour ).

Pendekatan yang umum untuk analisis degradasi secara kuantitatif

adalah pengamatan terhadap bidang, pengamatan permukaan tanah dan

dikombinasi dengan rancang bangun yang ada. Rumus yang ada umumnya

dipadukan beberapa rumus yang telah ada seperti : Lacey (1930 ) untuk d<

1,3mm, Blench (1969) untuk material sand dan gravels, Maza Alvarez dan

Echavarria Alfaro (1973) untuk sedimen pasir dan gravel dengan diameter d 75<

6 mm yang diambil W. Watson (1990) dan metode ini sangat valid. Holmes

(1974) mempunyai indikasi bahwa gerusan lokal (y s) dalam hal ini aliran

convergen, dan metode ini ys dengan nilai c=1,2 termasuk gerusan karena

degradasi dan kontraksi termasuk juga pengaruh tikungan.

3. Gerusan lokal model pilar tuggal ( singgle pile )

Metode untuk analisis kedalaman gerusan lokal pada pilar tunggal

adalah merupakan versi terbaru yang dikembangkan oleh D. Max Sheppard et

al. (1995). Rumusan disini telah diperbaiki atas versi yang asli sebagai rumusan

yang baru. Keseimbangan kedalaman gerusan lokal untuk pilar tunggal dapat

dianalisis seperti berikut :

81
b

Flow y0

y
Material s
dasar

Gambar 2.20. Difinisi sketsa gerusan lokal pada pilar tunggal

y0/b =const.
Live Bed
b/d50 =
Scour

Clearwater 3
Scour
Peak

0.47 1 Ulp/Uc

U/Uc

Gambar 2.21. Hubungan keseimbangan gerusan lokal dengan


kedalaman efektif kecepatan rata-rata

U
0, 47 1,0
Jika kondisi gerusan lokal Claer water scour maka Uc dan jika

U U lp
1,0
kondisi gerusan lokal live bed scour maka Uc Uc dimana :

82
U U lp
>
Ulp = kecepatan saat kedalaman live bed puncak. Untuk U c Uc maka

terjadi gerusan lokal.

Kedalaman kritis, kecepatan rata-rata kritik (U c) harus diperoleh

lebih dahulu. Angka median ukuran butiran d 50, berat jenis butiran ( specific

gravity ), kedalaman aliran (yo) dan kekasaran relative material dasar (RR),

maka kecepatan kritik dapat diketahui besarnya dengan Persamaan

(Gambar 2.15 dan 2.16). Gambar diatas didasarkan pada grafik Sheilds,

dan untuk nilai RR yang sesuai.

Material dasar saluran yang digunakan mempunyai kekasarannya

10 -15 sesuai. nilai kecepatan kritis dengan nilai di atas sangat sesuai. Nilai

kecepatan kritis relatif sangat sensitif terhadap kekasaran relatif dasar

saluran. Kesalahan prediksi dari nilai kekasaran tidak akan mempunyai

dampak utama pada besarnya kekasaran kritis. Dengan diketahuinya

besarnya nilai kecepatan kritis ini rejim gerusan dapat ditentukan yaitu

tentang besarnya kecepatan desain untuk clear water scour maupun live

bed scour.

4. Gerusan lokal model Pile-Cap

Bruce W. Melville dan Coleman (2000) dan Parala et.al. (1996)

menyatakan bahwa dalam pemasangan pile-cap ada tiga tipe yaitu : (a) pile-cap

di dalam material dasar saluran, (b) pile-cap rata dasar saluran, dan (c) pile-cap

di atas dasar material dasar saluran.

83
Sesuai kasus yang digunakan dalam penelitian ini, pengertian pile cap tidak

ada. Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian pilar tunggal di tikungan,

maka keberadaan pile dimungkinkan akan terjadi seperti gambar di atas (a).

Gambar 2.22. Pemasangan pile-cap


Bruce W. Melville dan Coleman (2000) dan Parala et.al. (1996)

5. Gerusan Lokal Kondisi Air Bersih (clear water scour).

Percobaan gerusan daerah sekitar pilar dapat dilakukan dua macam

kondisi yaitu pada kondisi air bersih (clear water )dan air bersedimen (live bed).

Dua persamaan terkenal, yaitu, Federal Highway Administration, Hydraulic Teknik

Edaran No 18, HEC-18 dilaporkan oleh Richardson dan Davis (2001) dan

Selandia Baru untuk dermaga persamaan yang dilaporkan oleh Melville dan

Coleman (2000) . Prediksi lubang gerusan berdasarkan untuk koreksi sekarang

banyak para peneliti setuju dengan pengamatan. Rumusan untuk kondisi clear

water adalah sebagai berikut :

Jika U/Uc < 1.0 U (kecepatan aliran) pada 0.37 yo (kedalaman aliran).

0,619
Ub
(a) Shen (1971) pada Persamaan 2.10
y se =0 .00022.
v( )
84
(b) Raudkivi (1991) pada Persamaan 2.17 dan (Gambar 2.19)

A.J. Raudkivi (1991) memoodifikasi dari Gambar 2.16b dan

persamaannya di berlakukan dengan persyaratan seperti berikut :

(1) Jika U/ Uc < 0.50 maka g (U/ Uc) = 0

(2) Jika 0,50 < U/ Uc < 1.0 maka g (U/ Uc) = 2 (U/ Uc)-l.0 }

(3) Jika U/ U, > 1.0 maka g (U/ Uc) =1.0

Dalam hal ini


U=U c=5, 75 U c log
[ 5, 53 ( y ms ) c
d 50 ] untuk saluran segi

empat dan kondisi jembatan pada tikungan.

(c) Richardson dan Davis (1995) , menyatakan :

(Q)
( y m ) c= UW
........................................................................................

(2.60)

(d) Persamaan Breusers (1977) :

y
y se /b=g
( )(
U
UC b )
2,0 tanh o K b K sd
.............................................................

(2.61)

6. Gerusan Lokal Kondisi Air Bersedimen (Live bed scour).

Untuk prediksi gerusan pada kondisi air bersedimen ( live bed scour) yang

dipertimbangkan adalah kecepatan aliran, baik aliran yang terjadi dan aliran ktitik

harus lebih dari satu (1).

Jika U/ Uc > 1.0 :

85
a. Persamaan A.J. Raudkivi (1991) :

y se = 2,3 K b K sd K dt K da b ................................................................( 2.62 )

yse = X. K b K sd K dt K da b ................................................................( 2.63)

b. Persamaan Graf (1998) :

y se = 2,0 K K b K sd b (dimodifikasi) ................................................ (2.64)

Koefisien K fungsi dari (standar deviasi berlaku untuk y o/b >1.5 dan b/d5o

>25

c. Richardson dan Davis (1995) , menyatakan :

6/7 k1
( y ms )c Q W1
y ms ( )( )
= 2
Q1 W2
...........................................................................

(2.65)

Untuk saluran segi empat dan besarnya k1 =0,59 -0,69

7. Gerusan Lokal di tikungan

Kedalaman gerusan lokal di tikungan (ybs) adalah sesuai dengan Persamaan

Mayuora (1996) yaitu :

{
y bs =F s ( y ms )c 1,80, 05
rc
( )
W
+ 0, 0084
y
W
[ ]}
( ms ) c
...........................................

(2.66)

86
W
1,25
Faktor keamanan (Fs=1,19 ), metode ini valid jika : ( y ms )c dan

rc rc rc W
<10 =1,5 <1,5 =20
W ; jika W maka W ; dan ( y ms )c , maka

W
<20
( y ms )c dan (yms)c kedalaman gerusan rerata.

Thorne (1988) menyatakan bahwa metode ini valid jika nilai r c/W > 2.

y bs =( y ms )c { 2,070, 19 ln ( r c / W ) 2 }
..

(2.67)

Persamaan 2.66 dan 2.67 diperuntukan pada tikungan dengan aliran di hulu

kurang dari 20% dari kedalaman saluran utama. Persamaan ini juga

berasumsi uniformly scoured area untuk rerata aliran (y ms)c yang memberikan

aliran puncak di tikungan.

Neill (1973) menyatakan bahwa kedalaman gerusan di tikungan pada saat

liran puncak / maksimum adalah :

ybs =2 (yms)c ....(2.68)

Jika kedalaman rerata adalah [(yms)c yu], maka besarnya gerusan adalah :

ybs = yu -2 [(yms)c yu] ....(2.69)

Persamaan 2.69 direkomendasikan untuk gerusan lokal di tikungan.

8. Gerusan lokal pengaruh pertemuan dua aliran

Ashmore dan Parker (1983) ; Klaassen dan Vermer (1988) terdapat rumusan

untuk pasir, gravel non kohesif dan kohesif. Persamaan tersebut adalah :

87
y cs
=2,24 +0, 031
y ms untuk pasir, gravel non kohesif dan = 30o 90o

(2.70)

y cs
=1, 01+0,030
y ms untuk material kohesif..

(2.71)

y cs
=1,29+0,037
y ms untuk 0,60 < Qs/Ql < 1 dan pasir seragam : 0,15 <d 50

(mm) < 0,25 ...........

(2.72)

y ms : pengaruh kedalaman aliran rerata untuk degrdasi di cabang.

Persamaan 2.72 material dasar saluran mempunyai pengaruh terhadap

kedalaman gerusan lokal baik seragam maupun tidak seragam.

9. Gerusan lokal sekitar pilar jembatan

Analisis gerusan lokal disekitar pilar jembatan didasarkan atas analisis

Melville (1997) dan Melville dan Coleman( 2000) yaitu :

y s = K yb K l K d K s K K G K t .

(2.73)

10. Prediksi Gerusan lokal sekitar pilar

88
Dari teori di atas maka dapat dibuat suatu rangkuman untuk analisis

kedalaman gerusan , yaitu

(a) Persamaan Umum

Parameter y dalam Gambar 1 ( bagan alur ) adalah :

y ms adopt y y u
( y ms )c adopt y y ms
y bs adopt y ( y ms )c
y cs adopt y y ms
d s adopt y y s .

(2.78)

Gerusan secara umum persamaannya adalah :

y s . total = y s +d s

(2.79)

A= wy untuk saluran segi empat ..

(2.80)

R =wy /(w+2 y ) untuk saluran segiempat

(2.81)

U =Q/ A .

(2.82)

q =Q/w .

(2.83)
0,5
U c =[ c ( S c1 ) g . d 50 ]
.

(2.84)

89
0,5
d 84
g=
d50 ( ) dan
c =
c
=
U 2
c

gd 50 gd 50 serta besarnya
Re =
Ucd

0,5

U = o
( ) o =( gy o I )

dalam hal ini c dari grafik Shields, dan

U c =5,75 U c log
[ ]
yo
2 d 50
+6 )
atau
[
U c =5,75 U c log 5,53
y
d 50 ] untuk aliran

turbulen dan kekasaran material dasar k=2 d50 . ........................(2.85)

(b) Degradasi secara umum

Pendekatan yang umum untuk analisis degradasi secara kuantitatif adalah

pengamatan terhadap bidang, pengamatan permukaan tanah dan

dikombinasi dengan rancang bangun yang ada.

Lacey (1930 ) :

1/3
Q
y ms= 0,47
f () ...
(2.86)
0,5
Dalam hal ini : f =1,7 d m , dan f untuk dm < 1,3 mm

Blench (1969) :

y ms=1, 20
[ ]
q 2/3
d 1/6
50 untuk sand dari 0,06< d 50 (mm) 2,0 .

(2.87)

y ms=1, 20
[ ]
q2/3
d 1/12
50 untuk gravels dari Ss 2,65 dan d50 >2,0 ....

(2.88)

90
Maza Alvarez dan Echavarria Alfaro (1973) :

Q0, 784
y ms= 0,365
( W 0,784 d 0,157
50
) ..

(2.89)

Metode ini sangat valid untuk sedimen pasir dan gravel dengan diameter d 75<

6 mm yang diambil dari persamaan W. Watson (1990).

Holmes (1974) mempunyai indikasi bahwa gerusan lokal (y s) adalah :

yc U 1 K
ys=
ys= yu atau ( A /W ) ..

(2.90)

Dengan
K=
w
4, 83 Q0,5
1 U 1 =c
A
y
( ) A/w )
Q
( u

dan C = 1,2

dalam hal ini aliran convergen, dan metode ini ys termasuk gerusan karena

degradasi dan kontraksi termasuk juga pengaruh tikungan.

(c) Rerata gerusan karena kontraksi

(1) Live bed scour

Richardson dan Davis (1995) menyatakan bahwa kondisi aliran live

bed scour jika U/Uc 1 dan kedalaman gerusan (y s) dan kedalaman

gerusan karena kontraksi adalah yms,c maka besarnya gerusan adalah :

6/7 k1
( y ms , c ) Q w1
y ms ( )( )
= 2
Q1 w2
(2.91)

91
Melville dan Colman (2000) menyatakan bahwa saluran segi empat yang

panjang, nilai k1 = 0,59 0,69 untuk aliran bersedimen ( suspended dan

bed material )

(2) Clear water scour

Kondisi aliran clear water scour jika U/Uc 1 dan kedalaman gerusan

(ys) dan kedalaman gerusan karena kontraksi adalah y ms,c maka besarnya

gerusan adalah

y ms, c =( UWQ ) .(2.92)

Dalam hal ini U=Uc =5,75U*c log [5,53(yms)c /d50]

(d) Gerusan lokal pengaruh tikungan

Kedalaman gerusan untuk aliran maksimum dalam tikungan dapat

menggunakan Persamaan Mayuora (1996), yaitu :

{
y bs = F s ( y ms )c 1,8 0,05 ( r c / w ) +0, 0084 [ w / ( y ms )c ] } .(2.93)

Faktor keamanan (Fs) =1,19 Metode di atas valid jika W/(y ms)c < 125 dan

rc/W < 10, W/(yms)c = 20 dan rc/W < 20, dan (yms)c kedalaman gerusan

rerata.

Thorne (1988) menyatakan bahwa metode ini valid jika nilai r c/W > 2.

y bs= ( y ms )c { 2,07( 0,19 ln ( r c / W ) 2 ) }


...(2.94)

Persamaan 2.93 dan 2.94 diperuntukan pada tikungan dengan aliran di

hulu kurang dari 20% dari kedalaman saluran utama. Neill,1973

92
menyatakan bahwa kedalaman gerusan di tikungan pada saat liran

puncak / maksimum adalah :

ybs =2 (yms)c ....(2.95)

Jika kedalaman rerata adalah [(y ms)c yu], maka besarnya gerusan adalah :

ybs = yu -2 [(yms)c yu] ..(2.96)

(e) Gerusan lokal pengaruh pertemuan dua aliran

Ashmore dan Parker (1983) Klaassen dan Vermer (1988) terdapat

rumusan untuk pasir, gravel non kohesif dan kohesif. Persamaan tersebut

adalah :

y cs
=2,24 +0, 031
y ms untuk pasir, gravel non kohesif dan = 30o 90o

(2.97)

y cs
=1, 01+0,030
y ms untuk material kohesif ....

(2.98)

y cs
=1,29+0,037
y ms untuk 0,60 < Qs/Ql < 1 dan pasir seragam : 0,15

<d50(mm)<0,25 ...(2.99)

93
y ms : pengaruh kedalaman aliran rerata untuk degrdasi di cabang.

Persamaan 2.99 material dasar saluran mempunyai pengaruh terhadap

kedalaman gerusan lokal baik seragam maupun tidak seragam.

(f) Gerusan lokal disekitar pilar jembatan

Analisis gerusan lokal disekitar pilar jembatan didasarkan atas analisis

Melville (1997) dan Melville dan Coleman (2000) yaitu :

y s = K yb K l K d K s K K G K t .

(2.100)

Tabel 5. Faktor yang berpengaruh pada gerusan lokal

Faktor K Metode untuk estimasi


be = b untuk b lebar pilar, kedalaman gerusan (ys) di sekitar pilar
be = b* untuk b* lebar pile-cap, kedalaman gerusan (ys) di sekitar pilar

y s +Y
Kedalaman
aliran
be =b
( y s +b ) ( b Y
+b
b + y s ) untuk pilar pier dengan lebar b, dan b * lebar
terhadap pile-
ukuran pilar Kyb
cap, kedalaman gerusan (ys) di sekitar pilar

K yb =2,4 b e untuk bc/ys < 0,7

K yb =2 y s b e untuk 0,7 < bc/ys < 5

K yb =4,5 y s untuk bc/ys > 5


Intensitas untuk sedimen uniform : d50 d50 and Ua = Uc
aliran
untuk sedimen nonuniform : d50 = dmax /1,8 d84/1,8 = d50/1,8 ; and Ua = 0,8 Uca
analisis dengan d50 Persamaan (2.54) and (2.55)
U (U aU c )
K i=
Ki Uc untuk [U-(Ua-Uc)/Uc <1

94
K i=1,0 untuk [U-(Ua-Uc)/Uc 1
Ukuran Kd bc
Sedimen
(
K d =0,57 log 2,24
d50 ) untuk bc/d50 25

K d =1,0 untuk bc/d50 > 25


Bentuk Ks Ks =1,0 untuk pilar bentuk bulat
pondasi
Ks =1,0 untuk pilar bentuk non bulat
Nilai Ks =1,0 didasarkan pada Melville and Coleman (2000)
Arah Ke Ke =1,0 untuk pilar bentuk bulat
terhadap 0,65
l
pilar
(
K e= sin +cos
b ) untuk pilar bentuk non bulat
Geometri KG KG = 1,0 jika nilai y, dan U dipilih yang sesuai untuk pilar tertentu
saluran
Waktu be U
t e (hari)=48 , 26
(
U Uc
0,4
) untuk ys/be >6 U/Uc > 0,4

be U y
t e (hari)=30 ,89
U Uc (
0,4 s
be )( ) untuk ys/be >6 U/Uc > 0,4

Kt Kt = 1,0 untuk U/Uc 1 ( ds kondisi live bed )

{ }
1,6
Uc t
K t = exp 0, 03| ln |
U te () untuk U/Uc < 1
Difinisi b, b* and y ilustrasi dari Gambar 6, dimana y adalah nega4tive apabila puncak pile cap atau caisson
diatas bed level.

(g) Analisis Gerusan lokal untuk Pilar noncircular

Kedalaman gerusan lokal untuk pilar noncircular tunggal dapat dihitung

dengan menggunakan factor bentuk (Ks) sepert dalam Persamaan 5 -7. Nilai

nilai Ks diambil dari HEC 18 Tabel B1 dan B2.

Tabel 5. Bed relative roughness, RR guide.

Kekasaran

95
Bed Condition relative dasar
(RR)
1 Laboratory flume, smooth bed ripple forming sand 5,0
(D50< 0,6mm)
2 Laboratory flume, smooth bed non-ripple forming 2,5
sand (D50>0,6mm)
3 Laboratory flume, smooth bed live bed test with 10
dunes
4 Field smoot bed 10
5 Field moderate bed roughness 15
6 Field rough bed 20

(h) Analisis Kecepatan kritis rerata.

Kecepatan kritis rerata dan tegangan geser kritis dapat diperkirakan

dengan menggunakan grafik Sheilds. Kecepatan dan tegangan geser kritis ini

akan mulainya sedimen dasar berkurang.

{
0, 23
0, 005+0, 0023 d 0, 000378 d ln ( d )+ untuk 0, 22d 150
c = [ ( sg1 ) g d 50 ] d


0,00575 untuk d 150

.......(2.101)

1/ 3

[
d = ( sg1 ) g
d 50
V2 ] ......................

(2.102)

dalam hal ini :

c = Tegangan geser kritis


= Massa jenis air ( fresh : 1,94 slugs/ft3 dan salt STP : 1,99 slugs/ft3
sg = berat jenis sediment ( quartz sand in fresh water = 2,655)
g = gravitasi ( 32,174 ft/s2)
d50 = median diameter sediment
= kekentalan kinematik air
5 2
= kekentalan dinamik air ( 2, 09 x 10 lb f s/ ft STP)

96
Jika dasar saluran mempunyai kemiringan ( slope ), maka hubungan antara

kecepatan aliran dan tegangan geser adalah sebagai berikut :

11, 0 y 0
U= 2,5
(


ln
RR . d 50 ) .

(2.103)

sedangkan kecepatan kritik rerata adalah :

U c = 2,5
(
c

ln c
11 ,0 y 0
RR. d 50 )

(2.104)

dan untuk yo dan D50 dalam unit yang sama

(i) Analisis Gerusan air bersih ( Clear water scour ).

U
0, 47 1,0
Persyaratan Clear water scour jika :( Uc ).(2.105)

Jika kecepatan desain dalam clear water scour Persamaan 5 digunakan,

maka :

ys y
b ( ) ( ) ( )
= 2,5 K s . f 1 o f 2
b
U
Uc
f3
b
d 50
..

(2.106)

Dalam hal ini :

[( ) ]
0,4
yo yo
f1 ( )
b
= tanh
b

2
f2
U
( )
Uc
= 11, 75 ln
U
[ ( )]
Uc
97
b 3, 05
f3
( )
d 50
=

[ (
2,6 exp 0, 45 log
( d
b
) )] [ ( )1, 64)]
1, 64 +0, 45 exp 2,6 log
50
( d
b
50

(2.107)

dan

Ks = faktor bentuk ( satu pilar bulat ), maka persamaan di atas menjadi :

{ [( ) ] } { [ ( )] }
0,4 2
ys yo U
= 2,5 K tanh 11,75 ln
b b s Uc

{ }
3,05

[ (
2,6 exp 0, 45 log
( ) )]
b
d 50
1, 64 +0, 45 exp 2,6 log
b
[ (
d 50
1, 64
( ) )]

(2.108)

(j) Analisis Gerusan air bersedimen ( Live Bed Scour )

U U lp
1,0
Persyaratan Live bed scour jika : ( U c U c ) ....

(2.109)

ys
b
= K s.f 1 ( )[ (
yo
b
2,2
UU c
U lpU c ) + 2,5 f 2
( )(
b U U c
d 50 U lp U c )] .

(2.110)

[( ) ]
0,4
ys y0
U U lp =2,2 K s tanh
> d 50 d 50
Jika: U c U c ,maka: .....

(2.111)

98
Kecepatan puncak dekat dasar mempunyai nialai konstan, Perlu

diperhatikan bahwa kedalaman gerusan yang terjadi pada dasar sungai

U
=1
adalah bersifat transisi sehingga ( U c ) harus dihitung sebagai

kecepatan desain live bed dengan beberapa kondisi, ( struktur kecil dengan

diameter material besar dan kecepatan pada kedalaman gerusan transisi

mungkin lebih besar jika disbanding dengan kecepatan desain dan ini perlu

dipilih salah satu dari keduanya.

99
Perkiraan Gerusan Umum Hasil A

Perkiraan Gerusan Hasil B


Penyempitan

Prakiraan Gerusan Lokal

Tentukan gradasi sedimen dan simpangan baku geometri (s)


Tentukan U*c atau Uc rancangan untuk nilai batas gerak butiran d50

yse : Kedalaman gerusan seimbang


yse/b = K b : Lebar pilar jembatan
K : Konstanta

Air Bersih Air Bersedimen


U*c (d50)Uc U*>U*c atau U>Uc

Jika : U > 4Uc Jika : Uc < U < 4Uc


Gunakan K = 2,3 K Gunakan K = 2,3 Prakiraan K

Hitungan Faktor Koreksi lainnya :


Hitung faktor bentuk pilar : Kb ( Tabel 2.3)
Faktor sudut datang arus : Ksd (Gambar 2.18)
Faktor dimensi tiang/pilar : Kdt (Gambar 2.161. 2.16b jika b/d50 <50)
Faktor kedalaman aliran : Kda ( Gambar 2.17)
Fungsi Standar deviasi Geometrik distribusi butiran : K (Gambar 2.15b)

Prakiraan Kedalaman Gerusan Lokal :


yse = (x Kb Ksd Kdt Kda K) b
x = konstanta

100
Gambar 2.20. Bagan alir hitungan kedalaman setimbang gerusan lokal di
pangkal jembatan (Djoko Legono, 1996)

G. Konsep Analisis Pra Penelitian

Konsep untuk membangun rancangan penelitian diperlukan beberapa hal antara

lain adalah :

(1) Untuk mendekati kenyataan di lapangan bahwa yang terjadi merupakan

aliran turbulen sempurna atau minimal turbulen,

(2) Menganalisis tegangan geser turbulen/Reynolds,total (akibat fluktuasi

turbulen) dan tegangan total didekat dasar diwakili oleh e = d/dz :

viskositas dinamik (NEWTON ), e dapat diukur dengan alat Doppler jika

dikehendaki. Rumus logaritmis dijabarkan dari keadaan dekat dasar/

dinding , tetapi hasil pengamatan membuktikan bahwa rumus logaritmik

sering berlaku untuk seluruh kedalaman,

(3) Menaganalisi untuk hidraulik kasar pengaruh kekasaran lebih dominan

(k=a s) ~ Kasar k > 6.

Distribusi kecepatan pada aliran turbulen : U/U o=1/k In (z/zo)

Sub viskositas = sub laminer

S u d
= =Re
( S W ) gd
...................................................................

(2.112)

o = ghI U = (ghI )=
o

101
S u d ghI d
= =
( S W ) gd v
Persamaan 2.71

S v S v I
ghI =
( S W ) gd d ()
h=
( S W ) gd d ( )( ) gI

Dari grafik Sheilds untuk permulaan gerak butiran , dengan

diameter butiran (d) didapat nilai ( S W ) gd yang selanjutnya untuk

menghitung hkritis

U = ( ghI )=
o

o =( ghI )/

g3 I
dari
U d 11 , 6 d

=

U = ghI
maka
h=
( (11, 6 v )2 ) ....................

(2.113)

U = ghI U didapatkan dan o =( ghI )/ didapat pula,

sehingga dapat digunakan untuk memprediksi pergerakan sedimen.

(4) Menganalisis tegangan geser yang terjadi pada dua ketinggian h 1 dan h2,

pada h1 terdapat tegangan 1 dan pada h2 terdapat 2. Beda h1 dan h2

adalah : x1 = arah atas (muka air/h1) terukur setiap perubahan dari

waktu ke waktu (jam) dan x2 = arah dasar sungai yang merupakan

gerusan dasar h1 (Gambar 2.21)

1 h2 gh1 I (h2 ) gh1 I (h1 + x 1 )


2 = = =
1 : 2=h1 :h2 h1 h1 h1

102
jlka c = gI maka :

ch1 ( h1 + x 1 )
2=
h1 ...........(a) , sedang 2 = ghIh 2 =ch 2 .................(b)

ch1 ( h1 + x 1 )
2 = =ch2 h2 =( h1 + x 1 )
Persamaan (a) dan (b) h1 ......

(2.114)

Gambar 2.23. Distribusi tegangan geser

(5) Menganalisis ratio kecepatan maksimum dan tegangan geser di tikungan

dan alur lurus:

(a) menghitung parameter dengan asumsi bahwa sejari hidraulik

mendekati kedalaman aliran sehingga (R=H),

1 /2
R1/ 6 d (g)
2= =0, 42 maks
n1 bc ...........................................

(2.115)

103
dengan menggunakan grafik (b) Karaki (Kinori, 1984) dari nilai x

102 dapat V maks x 102 dan nilai (2x/B)

(b) menghitung kecepatan rerata dengan persamaan Manning untuk

1
U o = R 2/3 I 1/2
bagian lurus yaitu, n dengan grafik

Karaki (Kinori, 1984) untuk nilai 2x/B dan x 102 didapat nilai

Ub/Uo sehingga nilai Vb didapat. Karena besarnya tegangan geser

sebanding dengan kuadrat kecepatan tikungan / bagian lurus maka

besarnya pertambahan tegangan geser di tikungan/belokan

diketahui (dalam %).

kemiringan muka air ditikungan (Rozovskii, 1957) mempunyai

persamaan :

U 2 cr
I r = o +
g . r gd ................

(2.116)

kemiringan dasar sungai didasarkan dari hasil analisis pada tiap

titik kedalaman yang diteliti

Faktor berpengaruh :
Posisi letak pilar
Kemiringan dasar
H. Kerangka Berpikir
Dimensi pilar
Bentuk
Dalampilar penelitian ini digunakan pendekatan system yaitu : input, proses
Sudut datang aliran
dan output. Gambar 2.24. output :
Kedalaman gerusan
lokal
Proses : Lokasi kejadian gerusan
Input : Research ang maksimum
Kedalaman aliran Development untuk Proses gerusan lokal
Kecepatan aliran alat Bentuk dasar flume dan
Material dasar Eksperimen perkembangannya
Fluida Analisis data Nilai Manning dan
Radius tikungan 104 koreksi nilai Manning
Keseimbangan gerusan
Waktu tercapainya
keseimbangan
Gambar 2.24. Alur pemecahan masalah

I. Ringkasan Gerusan Sekitar Pilar

Berdasarkan teori yang dipaparkan di atas maka dalam penelitian

Gerusan sekitar pilar di tikungan ini mengikuti persamaan seperti berikut :

1. Parameter penelitian

Parameter yang ada dalam penelitian ini seperti dalam tabel di bawah

yaitu : (1) saluran, (2) pilar, (3) aliran

Tabel 4. Parameter Gerusan Lokal di sekitar pilar jembatan

a. Fluida

Parameter fluida yang berpengaruh pada gerusan lokal di sekitar pilar

jembatan antara lain :

(1) kerapatan (),

(2) percepatan gravitasi (g) dan

(3) kekentalan kinematik ().

b. Aliran

105
Parameter aliran yang berpengaruh pada gerusan lokal di sekitar pilar

jembatan antara lain :

(1) Kecepatan meliputi : kecepatan rerata aliran (U), kedalaman aliran

(yo), kecepatan kritis (Uc), Tegangan geser kritis (c), kecepatan kritis

(Uca), kecepatan aliran (Ua),

(2) Kedalaman aliran (y u ), faktor kedalaman aliran (Kyb),

(3) Sudut datang aliran (), faktor sudut datang aliran (K),

(4) Sifat aliran ( seragam dan tak seragam ),

(5) faktor intensitas aliran (Ki),

c. Pilar dan konstruksi

Parameter pilar dan kontruksi yang berpengaruh pada gerusan lokal di

sekitar pilar jembatan antara lain :

(1) Geometri pilar yang meliputi : tebal pilar (bc), lebar pilar ( lc), lebar

eqevalent pilar (bc),dan bentuk hidung,

(2) letak pilar dan abutment pada alur sungai yang menyebabkan

potensi gerusan,

(3) Kontruksi yang terdiri dari pilar, faktor bentuk podasi (Ks), lebar pilar

(b),

d. Material dasar sungai

Parameter material dasar sungai yang berpengaruh pada gerusan

lokal di sekitar pilar jembatan antara lain :

(1) Kerapatan massa sediment ( s ),

(2) kohesivitas material dasar sungai,


106
(3) diameter butir material dasar (dn),

(4) bentuk butir.

(5) distribusi diameter butir material dasar (g),

(6) jenis material dasar sungai,

(7) gradasi/ kekasaran material dasar sungai,

e. Saluran / sungai

(1) Geometri ( bentuk ) saluran,

(2) Kemiringan dasar sungai (So)

(3) Faktor geometri sungai (KG),

f. Waktu

(1) waktu keseimbangan (te) = waktu perkembangan gerusan lokal

mencapai keseimbangan

(2) faktor waktu (Kt),

2. Prosedur analisis gerusan lokal kondisi air bersih

(clear water scour)

a. Gerusan lokal pilar tuggal ( singgle pile )

Metode untuk analisis kedalaman gerusan lokal pada pilar tunggal adalah

merupakan versi terbaru yang dikembangkan oleh D. Max Sheppard et al.

(1995). Rumusan disini telah diperbaiki atas versi yang asli sebagai

rumusan yang baru. Keseimbangan kedalaman gerusan lokal untuk pilar

tunggal dapat dianalisis seperti berikut :

107
U
0, 47 1,0
Jika kondisi gerusan lokal Claer water scour maka Uc dan jika

U U lp
1,0
kondisi gerusan lokal live bed scour maka Uc Uc dimana :

U U lp
>
Ulp = kecepatan saat kedalaman live bed puncak. Untuk U c Uc maka

terjadi gerusan lokal.

Kedalaman kritis, kecepatan rata-rata kritik (U c) harus diperoleh lebih

dahulu. Angka median ukuran butiran d50, berat jenis butiran ( specific

gravity ), kedalaman aliran (yo) dan kekasaran relative material dasar (RR),

maka kecepatan kritik dapat diketahui besarnya dengan Persamaan

(Gambar 2.15 dan 2.16). Gambar diatas didasarkan pada grafik Sheilds,

dan untuk nilai RR yang sesuai.

Material dasar saluran yang digunakan mempunyai kekasarannya 10 -15

sesuai. Nilai kecepatan kritis dengan nilai di atas sangat sesuai. Nilai

kecepatan kritis relatif sangat sensitif terhadap kekasaran relatif dasar

saluran. Kesalahan prediksi dari nilai kekasaran tidak akan mempunyai

dampak utama pada besarnya kekasaran kritis. Dengan diketahuinya

besarnya nilai kecepatan kritis ini rejim gerusan dapat ditentukan yaitu

tentang besarnya kecepatan desain untuk clear water scour maupun live

bed scour.

b. Analisis Gerusan air bersih ( Clear water scour ).

108
U
0, 47 1,0
Persyaratan Clear water scour jika :( Uc ).(2.117)

Jika kecepatan desain dalam clear water scour Persamaan 5 digunakan,

maka :

ys yo
b
= 2,5 K s . f 1 ( ) ( ) ( )
b
f2
U
Uc
f3
b
d 50
..(2.118)

Dalam hal ini :

[( ) ]
0,4
yo yo
f1 ( )
b
= tanh
b

2
f2
U
( )
Uc
= 11, 75 ln
U
[ ( )]
Uc

b 3, 05
f3
( )
d 50
=

[ (
2,6 exp 0, 45 log
b
( )
d 50 )] [ (
1, 64 +0, 45 exp 2,6 log
b
( )
d 50
1, 64
)]
(2.119)

dan Ks = faktor bentuk ( satu pilar bulat ), maka persamaan di atas

menjadi :

{ [( ) ] } { [ ( )] }
0,4 2
ys yo U
= 2,5 K tanh 11,75 ln
b b s Uc

{ }
3,05

[ (
2,6 exp 0, 45 log
( ) )]
b
d 50 [ (
1, 64 +0, 45 exp 2,6 log
b
d 50 ( ) )]
1, 64
.(2.120)

2. Analisis Gerusan air bersedimen ( Live Bed Scour )

109
U U lp
1,0
Persyaratan Live bed scour jika : ( U c U c ) ....

(2.121)

ys
b
= K s.f 1 ( )[ (
yo
b
2,2
UU c
U lpU c ) + 2,5 f 2
( )(
b U U c
d 50 U lp U c )] .

(2.122)

[( ) ]
0,4
ys y0
U U lp =2,2 K s tanh
> d 50 d 50
Jika: U c U c ,maka: .....

(2.123)

Kecepatan puncak dekat dasar mempunyai nialai konstan, Perlu

diperhatikan bahwa kedalaman gerusan yang terjadi pada dasar sungai

U
=1
adalah bersifat transisi sehingga ( U c ) harus dihitung sebagai

kecepatan desain live bed dengan beberapa kondisi, ( struktur kecil dengan

diameter material besar dan kecepatan pada kedalaman gerusan transisi

mungkin lebih besar jika disbanding dengan kecepatan desain dan ini perlu

dipilih salah satu dari keduanya.

3. Analisis Gerusan lokal untuk Pilar noncircular

Kedalaman gerusan lokal untuk pilar noncircular tunggal dapat dihitung

dengan menggunakan factor bentuk (Ks) seperti dalam persamaan dan nilai

nilai Ks diambil dari HEC 18 Tabel B1 dan B2.

110
4. Analisis Kecepatan kritis rerata.

Kecepatan kritis rerata dan tegangan geser kritis dapat diperkirakan dengan

menggunakan grafik Sheilds. Kecepatan dan tegangan geser kritis ini akan

mulainya sedimen dasar berkurang.

{
0, 23
0, 005+0, 0023 d 0, 000378 d ln ( d )+ untuk 0, 22d 150
c = [ ( sg1 ) g D50 ] d


0, 00575 untuk d 150

.......(2.124)
1/ 3

[
d = ( sg1 ) g
D 50
V2 ] ....................

(2.125)

dalam hal ini :

c = Tegangan geser kritis


= Massa jenis air ( fresh : 1,94 slugs/ft3 dan salt STP : 1,99 slugs/ft3
sg = berat jenis sediment ( quartz sand in fresh water = 2,655)
g = gravitasi ( 32,174 ft/s2)
d50 = median diameter sediment
= kekentalan kinematik air
5 2
= kekentalan dinamik air ( 2, 09 x 10 lb f s/ ft STP)
Jika dasar saluran mempunyai kemiringan ( slope ), maka hubungan antara

kecepatan aliran dan tegangan geser adalah sebagai berikut :

11, 0 y 0
U= 2,5
(


ln
RR . d 50 ) .

(2.126)

sedangkan kecepatan kritik rerata adalah :

111
U c = 2,5
(
c

ln c
11 ,0 y 0
RR. d 50 )

(2.127)

dan untuk yo dan D50 dalam unit yang sama.

5. Analisis Kecepatan maksimum Live bed scour.

V. Rijns (1993) menyatakan bahwa untuk menganalisis kecepatan rerata

dasar diperlukan : (1) parameter tanpa dimensi T mempunyai kisaran

antara 25 dan 2, dan (2) bilangan Froude 0,8. Kecepatan yang paling kecil

akan dipergunakan untuk menganalis kedalaman gerusan lokal.

Adapun persamaan yang digunakan untuk menganalisis adalah seperti

berikut :
'
c
T= 25
c

(2.128)

Fr 0,8

(2.129)

dimana :

2 2

[( ][ ]
' V V
=g = g
1/2 4y ft 1 /2 4y
18
m
s ) ( ) (
log 10 0
D 50
32 ,6
s ) ( )
log 10 0
D 90

(2.130)

c = Tegangan kritis ( menurut grafik Sheilds )

112
Sedangkan besarnya bilangan Froude adalah :

U
Fr =
gy 0 ......

(2.131)

d50 = berat sedimen 50% lolos saringan

Kecepatan minimum dasar saluran yang terjadi akan menghasilkan

tegangan geser kritis adalah :

2 2

[( ] [( ]
' U U
=g = g
1/2 4 y0 ft 1/ 2 4 y0
18
m
s ) ( )
log 10
d 50
32 , 6
s ) ( )
log 10
d 90
=25 c + c =26 c .

(2.132)

Persamaan untuk kecepatan aliran selanjutnya adalah seperti berikut :

U 1=
26 c
g ( 18
m1/2
s ) log 10
( )
4 y0
d 50
=
26 c
g ( 32 , 6
ft 1/ 2
s ) log ( 4d y )
10
0

90 ....

(2.133)

Jika kecepatan aliran hubungannya dengan bilangan Froude, maka

persamaannya adalah :

U 2 = 0,8 gy 0

(2.134)

Ulp = semakin besar dengan adanya U 1 dan U2 .Dapat digambarkan grafik

hubungan Ulp terhadap kedalaman air (yo) dengan dasar grafik

Snamenkayas (1969 ) dan digunakan dalam analisis metode Van Rijns,

113
5. Klasifikasi aliran

Berdasarkan fungsi waktu :Aliran tidak permanen ( unsteady flow ) :

kedalaman berubah sepanjang waktu tertentu.

Berdasarkan fungsi ruang :Aliran tidak seragam ( varied flow ) : kedalaman

aliran berubah sepanjang saluran, bisa gradually varied flow dan rapidly

varied flow . Rapidly varied flow jika perubahan kedalaman aliran secara

cepat pada jarak yang relatif pendek.

114