Anda di halaman 1dari 5

Proses Absoprsi CO2 Selain Menggunakan MEA Dan Recovery CO2

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengolahan Limbah Padat Dan Gas

Dosen : Ir.Muchtar Ghozali

Disusun oleh:

Rahma Elyana Ajie (131424024)


3A TKPB

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016
PROSES RECOVERY GAS CO2

Absorpsi merupakan salah satu proses yang sering ditemukan dalam industri, terutama
absorpsi yang disertai dengan reaksi kimia. Tujuan dari absorpsi di industri adalah untuk
menghilangkan suatu komponen dari campuran gas atau untuk menghasilkan suatu produk
reaksi. Salah satu gas yang biasa dipisahkan dengan proses absorpsi adalah karbon dioksida
(CO2). Namun, hasil dari proses pemisahan CO2 dari gas sintesa menunjukkan bahwa masih
ada gas-gas lain yang terikut, seperti metana (CH4), hidrogen (H2) dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, hasil proses penangkapan CO2 tidak sepenuhnya hanya menangkap CO2
saja, sehingga gas CO2 yang dihasilkan tidak murni. Hal ini dikarenakan proses absorpsi
yang biasa dilakukan pada tekanan tinggi sehingga banyak gas-gas lain yang turut larut dalam
solvent dan mengakibatkan kemurnian CO2 kurang memenuhi syarat. Penelitian-penelitian
terdahulu tentang pemisahan gas CO2 telah dilakukan dengan menggunakan absorben
K2CO3 dalam packed column. Satori dan Savage (1985) membandingkan laju absorpsi dan
kesetimbangan uap-liquid CO2 dalam larutan K2CO3 panas dengan DEA dan larutan DEA
dengan stericaly hindered amines. Alatiqi, dkk (1994) melakukan removal CO2 dimana
absorbernya berupa packed column dan strippernya berupa tray column. Hu (2004)
memperkenalkan 2 fase liquid dalam absorpsi gas, fase organik dan fase aqueous, untuk
menambah kecepatan reaksi. Sumin, dkk (2007) mempelajari absorpsi CO2 dengan partikel
karbon aktif dalam larutan K2CO3/H2O, ternyata partikel karbon aktif dapat meningkatkan
kemampuan absorpsi CO2. Ahmadi, dkk (2008) mengemukakan 2 absorpsi CO2 dengan
katalis potasium borat dalam larutan potassium karbonat menggunakan teori surface
renewal menganggap hanya CO2 dan H2O yang mengalami perpindahan massa. Oyenekan,
dkk (2008) mempelajari proses stripping CO2 dari larutan K2CO3/KHCO3 dengan katalis pipe
razine menggunakan pendekatan berbasis kecepatan. Mofarahi, dkk (2008) melakukan
simulasi Recovery CO2 menggunakan kolom absorpsi dan stripping bersama dengan unit
pemurnian CO2. Fe Yi (2009) mempelajari proses absorpsi CO2 dengan larutan Benfield
dan katalis DEA.
Pengolahan Gas CO2 Hasil Samping Industri Amoniak Melalui Gasifikasi Batubara yang
Telah dipirolisis dengan Menambahkan Ca(OH)2
Gas CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca yang dianggap memiliki kontribusi
terhadap pemanasan global. Industri amoniak menghasilkan emisi CO2 cukup besar dengan faktor
emisi 3,273 ton CO2/ton amoniak. Salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas CO2 yang dapat
dilakukan adalah mengkonversi gas CO2 menjadi gas sintesis (CO) melalui proses gasifikasi
batubara. Gas CO merupakan salah satu bahan baku pembuatan metanol. Reaksi karbon dari arang
batubara dengan gas CO2 pada proses gasifikasi merupakan reaksi endotermis dan berlangsung
sangat lambat pada suhu di bawah 1000oC sehingga digunakan Ca(OH)2 sebagai katalisator.
Proses gasifikasi batubara dijalankan dalam reaktor fixed bed. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa gasifikasi arang batubara dengan penambahan Ca(OH)2 pada proses pirolisis dapat
mengurangi gas CO2.

PROSES GAS SWEETENING


Proses penghilangan zat-zat yang mengandung asam pada natural gas disebut sebagai proses gas
sweetening. Penghilangan H2S dari natural gas disertai dengan penghilangan kandungan CO2 dan COS
(jika ada). Hal ini dikarenakan CO2 dan COS memiliki karakter asam yang sama dengan H2S. Gas
sweetening terdiri dari dua jenis, yakni adsorpsi pada padatan (dry process) dan absorpsi terhadap cairan
(wet process). Kedua proses adsorpsi dan absorpsi tersebut dapat dilakukan secara physical ataupun
chemical. Lebih lanjut lagi, proses-proses ini dapat dikategorikan menjadi:

1. Proses non-regeneratif. Pada poses ini, material yang digunakan pada proses treating gas tidak
direcover kembali.

2. Proses regeneratif dengan recovery H2S. Proses-proses yang termasuk regeneratif adalah
proses absorpsi physical, proses sweetening dengan amina, molecular sieve, dan lain-lain.

3. Proses regeneratif dengan recovery sulfur. Proses ini dilaksanakan untuk mengurangi emisi
sulfur.

Pada proses pemilihan teknologi/metode gas sweetening yang akan digunakan terdapat berbagai
konsiderasi, yang berasal dari internal dan eksternal. Dari internal, faktor yang dipertimbangkan adalah
kandungan dari natural gas, sedangkan dari eksternal dipertimbangkan lingkungan, cost, dan lain-lain.
Sebelum melakukan seleksi terhadap proses gas sweetening yang akan dipilih, berikut akan dijelaskan
mengenai teknologi gas sweetening.

Teknologi Gas Sweetening

A. Proses Absorpsi dengan Chemical Solvent

Proses gas sweetening secara chemical absorption dilakukan berdasarkan adanya kontak antara gas
yang akan di-treatment (feed gas) dengan larutan pengabsorpsi. Gas asam di dalam feed gas merupakan
asam lemah yang akan bereaksi dengan alkanoalamina (produk alkalina) atau garam alkalina. Proses
absorpsi kimia terjadi di dalam kolom fraksionasi (absorber atau kontaktor) yang dilengkapi dengan trays
atau packings. Gas yang memiliki kandungan asam memasuki kolom dari bagian bottom tray sementara
larutan pengabsorpsi akan masuk dari bagian top tray. Di dalam kolom tersebut, kemudian terjadi reaksi
kimia antara amina dengan feed gas sehingga larutan amina tersebut dapat mengabsorpsi gas asam. Reaksi
kimia tersebut terjadi secara eksotermis sehingga suhu gas akan naik. Gas yang telah diproses kini menjadi
sweet gas dan akan meninggalkan kolom dari bagian top sedangkan larutan amina yang kini mengandung
asam akan meninggalkan kolom dari bagian bottom. Terdapat beberapa pelarut chemical (larutan amina)
yang dapat digunakan untuk proses gas sweetening secara absorpsi, yaitu:

Monoethanolamine (MEA)
Diglycolamine (DGA)
Diethanolamine (DEA)
Diisopropanolamine (DIPA)
Methyldiethanolamine (MDEA)

Monoethanolamine (MEA)

MEA dapat digunakan untuk penghilangan secara mendalam (ketika feed gas bebas dari kandungan
H2S ), penghilangan (ketika feed gas bebas dari kandungan CO2), atau penghilangan H2S dan CO2 ketika
feed gas mengandung kedua komponen tersebut. MEA akan dengan mudah mereduksi hingga menjadi
kurang dari 4 ppm. Namun, larutan ini akan bereaksi dengan produk sulfur derivatif seperti karbonil sulfida
(COS) dan karbon disulfida (CS2) sehingga akan diperlukan equipment tambahan untuk membersihkan
larutan yang terbentuk dari reaksi tersebut.
Penggunaan MEA akan memberikan selektivitas yang tinggi untuk absorpsi kandungan asam pada
gas. Namun, karena kereaktifannya yang tinggi penggunaannya dapat menyebabkan korosi serta
meningkatnya maintenance cost pada proses gas sweetening.

Diglycolamine (DGA)

DGA digunakan di dalam larutan pengabsorpsi dengan konsentrasi 50-65 wt %. Semakin tinggi
konsentrasi DGA yang digunakan, laju sirkulasi akan semakin rendah jika dibandingkan dengan proses
yang menggunakan MEA. DGA memiliki sifat yang hampir sama dengan MEA, seperti kereaktifannya
terhadap produk sulfur derivatif. Selain itu, jika terdapat merkaptan pada feed gas, DGA hanya mampu
menghilangkan sebagian kecil dari merkaptan dan menyisakan bulk dari kontaminan tersebut di dalam
treated gas.

Diethanolamine (DEA)

DEA adalah amina sekunder. Proses gas sweetening menggunakan DEA mirip dengan proses yang
menggunakan MEA, kecuali pada ketidakbutuhan akan reclaimer yang digunakan untuk membersihkan
hasil reaksi antara MEA dengan produk sulfur derivatif. DEA digunakan pada larutan dengan konentrasi
25 - 35 wt %. DEA kurang selektif untuk digunakan dalam penghilangan H2S dan CO2 ketika kedua
komponen tersebut terdapat di dalam feed gas. Untuk mendapatkan hasil yang baik, dibutuhkan DEA
dengan konsentrasi yang cukup tinggi. Namun, untuk menghilangkan merkaptan, DEA mampu
menghilangkan 10 hingga 60%. Salah satu kekurangan lainnya dari DEA adalah harganya yang relatif
mahal.

Diisopropanolamine (DIPA)

DIPA juga merupakan amina sekunder. DIPA digunakan pada larutan pengabsorpsi sebanyak 30
40 wt %. DIPA termasuk amina yang selektif untuk menghilangkan H2S ketika H2S dan CO2 terkandung
di dalam feed gas.

Methyldiethanolamine (MDEA)

MDEA merupakan amina tersier. MDEA memiliki selektivitas yang baik untuk menghilangkan
H2S ketika H2S dan CO2 terkandung di dalam feed gas. MDEA cukup disarankan untuk digunakan, karena
mampu memisahkan kandungan asam di dalam gas alam dengan baik.