Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH SUPERVISI HOTEL

PENGERTIAN DAN PELAKSANAAN AUDIT

Diajukan sebagai Tugas Mandiri Mata Kuliah NTM

Semester Genap Tahun Akademik 2016 / 2017

Angkatan XIII

Disusun Oleh :

Andri Irawan Sanjaya

( 2130 402 028 )

FAKULTAS MANAGEMENT PERHOTELAN

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PARIWISATA

INTERNASIONAL

STEIN

JAKARTA
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya

terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga Penulis dapat menyelesaikan

makalah mata kuliah SUPERVISI HOTEL. Makalah ini merupakan salah satu tugas di

program studi Management Perhotelan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata

Internasional (STEIN). Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada dosen pembimbing mata kuliah Supervisi Hotel dan kepada segenap

pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.

Oleh karena itu agar kalangan intelektual terutama mahasiswa sebagai calon

pengganti pemimpin bangsa di masa mendatang memahami makna serta kedudukan

pancasila yang sebenarnya maka harus dilakukan suatu kajian yang bersifat ilmiah

Akhirnya Penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam

penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 21 Desember 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan...........................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................4
2.1 Supervisi dan Supervisor...............................................................................4
2.2 Supervisi Dalam Tugas Audit........................................................................7
2.3 Supervisi dan Tahap Audit.............................................................................9
2.3.1 Proses Audit.......................................................................................10
2.3.2 Pengendalian Terhadap Proses Audit.................................................13
2.3.2 Supervisi Dalam Tahap dan Proses Audit..........................................13
2.4 Supervisi Pada Tahap Persiapan Audit........................................................14
2.4.1 Kegiatan Persiapan Audit...................................................................14
2.4.2 Supervisi Atas Perumusan Tujuan Audit............................................15
2.4.3 Supervisi Atas Perumusan Potential Audit Objective........................17
2.4.4 Supervisi Atas Penyusunan Program Kerja Audit (PKA)..................18
2.4.5 Supervisi Atas Penyusunan Rencana Waktu Kerja............................19
2.5 Supervisi Pada Tahap Pelaksanaan Audit....................................................21
2.5.1 Kegiatan Pelaksanaan Audit..............................................................21
2.5.2 Supervisi Atas Pelaksanaan Program Kerja Audit.............................23
2.5.3 Review Kertas Kerja Audit (KKA)....................................................25
2.5.4 Supervisi Atas Pelaksanaan Survei Pendahuluan..............................27
2.5.5 Supervisi Atas Pelaksanaan Pengujian Sistem Manajemen...............28
2.5.6 Supervisi Atas Pelaksanaan Audit Lanjutan......................................32
2.6 Supervisi Pada Tahap Penyelesaian Audit...................................................33
2.6.1 Kegiatan Penyelesaian Audit.............................................................33
2.6.2 Supervisi Atas Pengembangan Temuan.............................................33
2.6.3 Supervisi Atas Temuan Laporan Hasil Audit (LHA).........................34
2.6.4 Supervisi Atas Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Temuan.................36
BAB III PENUTUP.........................................................................................................38
3.1 Kesimpulan..................................................................................................38
3.2 Saran..............................................................................................................38

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dalam profesi akuntan publik, supervisi merupakan hal yang sangat penting.

Hal ini disebutkan dalam Statement on Auditing Standard (SAS) Nomor 22 tentang

Standar Lapangan pertama berbunyi The work is to be adequately planned and

assistants, if any are to be properly supervised. Keberadaan akuntan pemula sebagai

pembantu public harus diartikan sebagai suatu kesatuan kerja (satu tim) yang tidak

dapat dipisahkan. Tanggung jawab pekerjaan, walaupun hal tersebut dilakukan atau

dilaksanakan oleh akuntan pemula, tetap harus berada pada akuntan publik yang

bertugas. Selain mempekerjakan akuntan pemula, akuntan public juga dimungkinkan

untuk mengangkat staf ahli untuk memperlancar tugas auditnya.

Comstock (1994) dalam Chandra (2006) mengatakan supervisi merupakan

tindakan mengawasi atau mengarahkan penyelesaian pekerjaan. Seiring dengan

perjalanan waktu, supervisi dikatakan sebagai proses yang dinamis. Pada awalnya

supervisi bersifat kaku atau otoriter. Bilamana seorang tidak bekerja sebagaimana

yang diperintahkan, maka ia akan dihukum. Pada saat ini, supervisi diwarnai dengan

gaya manajemen partisipatif. Artinya bahwa pekerjaan yang dilaksanakan harus

mencapai tingkat kepuasan atas apa yang diperintahkan.

Dalam studinya, Luthans (1995) menyatakan bahwa kepuasan kerja memiliki

tiga dimensi. Pertama, kepuasan kerja adalah tanggapan emosional seseorang

terhadap situasi kerja. Kedua, kepuasan kerja sering ditentukan oleh sejauh mana

1
hasil kerja memenuhi atau melebihi harapan seseorang. Ketiga, kepuasan kerja

mencerminkan hubungan dengan berbagai sikap lainnya dari para individual.

Parker et al (1989) mengatakan bahwa kebutuhan yang paling penting bagi

akuntan yang berkaitan dengan kerja adalah evaluasi secara fair (adil) terhadap

dirinya. Kemudian kebutuhan lainnya yang penting adalah supervisi yang kompeten

dan adil. Hasil studi Kozlowski (1989) dalam Budiman (2002) menunjukkan bahwa

supervisor merupakan pihak yang paling dekat dengan konteks kerja seseorang

karena melalui mereka tercermin budaya atau iklim organisasi. Dengan kata lain,

supervisor mempunyai pengaruh langsung terhadap perilaku bawahannya.

Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang dikutipkan dari

Willingham dan Carmichael (1979), supervisi merupakan hal yang penting. Supervisi

mencakup pengarahan usaha asisten yang terkait dalam pencapaian tujuan audit dan

penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah memberikan

instruksi kepada asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah

penting yang dijumpai dalam bekerja dan mereview pekerjaan yang dilaksanakan.

Luasnya supervisi yang memadai bagi suatu keadaan tergantung atas banyak faktor,

termasuk kompleksitas masalah dan kualifikasi orang yang melaksanakan suatu

pekerjaan. Para auditor harus diberitahu tanggung jawab mereka dan tujuan prosedur

yang mereka laksanakan. Mereka diberitahu hal-hal yang kemungkinan berpengaruh

terhadap sifat, luas dan prosedur yang akan dilaksanakan.

Telaah studi secara empiris oleh AECC (Accounting Education Change

Commission) sebagai badan yang dibentuk untuk menangani pendidikan akuntansi

dalam upaya mempertahankan profesi akuntan sebagai pilihan karir yang menarik di

Amerika Serikat, menerbitkan Issue Statement No.4. dimana tindakan supervisi

2
terbagi atas 3 (tiga) aspek aktivitas yaitu aspek kepemimpinan dan mentoring, aspek

penugasan, dan aspek kondisi kerja.

1.2 TUJUAN PENULISAN

1. Penulisan makalah tentang Supervisi dan Supervisor adalah tugas pribadi/individu

Mahasiswa Program Magister Akuntansi FEB Unsrat.

2. Makalah ini sebagai persyaratan Mid Semester 3 (tiga) yang diasuh oleh dosen

Dr. Lintje Kalangi, SE,.ME,.Ak,.CA

3. Mahasiswa Program Magister Akuntansi FEB Unsrat dapat lebih memahami dan

menggalih lebih dalam tentang Mata Kuliah Kepemimpinan dan Supervisi Audit.

3
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 SUPERVISI DAN SUPERVISOR

Supervisi adalah pengawasan utama, pengontrolan tertinggi atau penyeliaan

(Kamus Besar bahasa Indonesia). Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa

supervisi merupakan kegiatan pengawasan, pengontrolan atau pengendalian yang

dilaksanakan oleh seorang yang disebut Supervisor. Sedangkan supervisor adalah

pengawas utama, pengontrol tertinggi atau penyelia. Dalam kamus Bahasa Inggris-

Indonesia dinyatakan bahwa:

Supervise diartikan Mengawasi

Supervision diartikan Pengawasan

Supervisor diartikan Pengawas

Supervisory diartikan Dalam kedudukan sebagai pengawas

Pengertian supervisi tidak dapat dilepaskan dengan pengertian serta peran

penting seorang supervisor. Oleh karena itu, pemahaman atas fungsi dan peran

penting seorang supervisor akan memberikan pemahaman yang jelas atas makan dari

supervisi. Supervisor adalah seorang manajer yang bertanggung jawab kepada

manajer yang lebih tinggi dengan tugas utama memimpin para pelaksana operasional.

Dalam SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik) IAI (2011) SA Seksi 311,

PSA No.05 menjelaskan bahwa supervisi mencakup pengarahan usaha asisten dalam

mencapai tujuan audit dan penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Supervisi

merupakan tindakan mengawasi atau mengarahkan penyelesaian pekerjaan. Dengan

adanya supervisi dapat memberikan feedback atau masukan-masukan bagi karyawan

untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Supervisi yang buruk dapat menyebabkan


4
ketidakpuasan kerja yang pada akhirnya dapat menyebabkan tingginya absensi dan

turnover.

Agus (2001) dalam Rapina dan Hana (2011) mengungkapkan, supervisi

merupakan kegiatan yang mengkoordinasikan pelaksanaan tugas melalui pengarahan

dan umpan balik (feedback) yang efektif dan efisien.

Program kerja yang akan dilaksanakan direncanakan dengan matang dan

pelaksanaannya oleh para asisten diawasi secara seksama. Kegiatan supervisi bukan

mencari-cari kesalahan, tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan, agar

kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan

semata-mata kesalahannya) untuk dapat dikomunikasikan bagian yang perlu

diperbaiki. Pengawasan atau supervisi merupakan unsur yang sangat penting dalam

audit karena cukup banyak bagian pekerjaan yang dilaksanakan oleh staf yang belum

berpengalaman. (Arens et. al., 2008:43).

Telaah studi AECC (Accounting Education Change Commission) sebagai

badan yang dibentuk untuk menangani pendidikan akuntansi dalam upaya

mempertahankan profesi akuntan sebagai pilihan karir yang menarik di Amerika

Serikat, menerbitkan Issue Statement No.4. Salah satu isi dari Issue Statement No. 4

adalah AECC Recommendations Early Work Experience yang mendorong

pemberdayaan akuntan melalui tindakan supervisi yang tepat akan menumbuhkan

instrinsik motivation, yang berisi saran-saran antara lain :

1. Supervisor hendaknya menunjukkan sikap kepemimpinan dan mentoring. Rincian

aktivitas yang disarankan AECC adalah :

a. Supervisor sering memberikan feedback yang jujur, terbuka dan interaktif

kepada akuntan di bawah supervisinya.

5
b. Supervisor memperhatikan pesan-pesan tak langsung dan jika yang

disampaikan adalah ketidakpuasan, secara langsung supervisor menanyakan

keadaan dan penyebabnya.

c. Supervisor meningkatkan konseling dan mentoring, misalnya dengan

memberikan pujian terhadap kinerja yang baik, memperlakukan sebagai

profesional, membantu untuk mengenali peluang kerja masa datang dan

mendahulukan minat serta rencana akuntan pemula.

d. Supervisor dituntut mampu menjadi panutan sebagai profesional di

bidangnya, mampu menumbuhkan kebanggaan akan profesi dan mampu

menunjukkan kepada klien dan masyarakat akan peran penting profesi yang

digelutinya tersebut.

2. Supervisor hendaknya menciptakan kondisi kerja yang mendorong tercapainya

kesuksesan. Rincian aktivitas yang disarankan AECC adalah :

a. Menumbuhkan sikap mental untuk bekerja dengan benar sejak awal dan

menciptakan kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi. Hal tersebut bisa

dilaksanakan dengan menjelaskan suatu penugasan secara gamblang,

mengalokasikan waktu yang cukup dalam penugasan yang rumit sehingga

bisa terselesaikan dengan baik, menampung semua keluhan akan hambatan

yang dihadapi termasuk diantaranya hambatan budgeter, dan menjelaskan

bagaimana suatu bagian penugasan sesuai dengan penugasan keseluruhan

serta senantiasa mengawasi sampai penugasan selesai.

b. Mendistribusikan tugas dan beban secara adil dan sesuai dengan tingkat

kemampuan.

c. Meminimalkan stress yang berkaitan dengan pekerjaan.

6
3. Supervisor hendaknya memberikan penugasan yang menantang dan menstimulir

terselesaikannya suatu tugas. Rincian aktivitas yang disarankan AECC adalah :

a. Supervisor mendelegasikan tanggung jawab sesuai kemampuan dan kesiapan

auditor.

b. Memaksimalkan kesempatan auditor untuk menggunakan kemampuan verbal,

baik lisan maupun tulisan, berfikir kritis dan menggunakan teknik analitis

serta membantu auditor pemula untuk meningkatkan kemampuan tersebut.

Dalam studi yang dilakukan oleh Patten (1995), hanya menggunakan

penilaian kepuasan kerja yang ada di Kantor Akuntan Publik. Pada penulisan makalah

ini penulis akan menggunakan penilaian yang tidak hanya pada Kantor Akuntan

Publik (Auditor Eksternal) saja, melainkan juga pada perusahaan (Auditor Internal)

dengan alasan kedua auditor tersebut mempunyai karakteristik yang sama, yaitu

sebagai auditor swasta (public auditor). Beeler et.al (1997), mengkategorikan auditor

yang memeriksa keuangan-keuangan Badan Usaha menjadi dua sektor yaitu public

auditor (auditor eksternal dan auditor internal) dan Government Auditor.

2.2 SUPERVISI DALAM TUGAS AUDIT

Dalam setiap penugasan audit kegiatannya dilakukan oleh tim mandiri yang

terdiri dari Pengendali Mutu, Pengendali Teknis, Ketua Tim dan Anggota Tim.

Kegiatan supervisi dilakukan secara berjenjang dalam satu tim mandiri dan

Supervisor diidentikan dengan peran Pengendali Teknis.

Supervisi yang dilakukan berupa bimbingan dan pengawasan terhadap para

asisten, diperlukan untuk mencapai tujuan audit dan menjaga mutu audit. Supervisi

harus dilakukan dalam semua penugasan tanpa memandang tingkat pengalaman

auditor yang bersangkutan. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi kepada

7
asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah penting yang

dijumpai dalam audit, mereviu pekerjaan yang dilaksanakan, dan meyelesaikan

perbedaan pendapat diantara staf audit.

Luasnya supervisi yang memadai dalam sutau keadaan tergantung atas banyak

faktor, termasuk kompleksitas masalah dan kualifikasi staf audit. Supervisi

dilakukan untuk memastikan bahwa:

1. Tim audit memahami tujuan dan rencana audit

2. Audit diselenggarakan sesuai dengan standar audit yang berlaku

3. Rencana dan prosedur audit telah diikuti

4. Kertas kerja audit memuat bukti-bukti mendukung pendapat, simpulan dan

rekomendasi

5. Tujuan audit telah dicapai

6. Laporan audit memuat pendapat, simpulan dan rekomendasi

Selain supervisi, semua pekerjaan audit harus ditelaah (reviu) oleh Ketua Tim

Audit sebelum Tim Audit menyelesaikan laporannya, untuk menentukan apakah

pekerjaan tersebut telah dilaksanakan secara memadai dan harus menilainya apakah

hasilnya sejalan dengan kesimpulan yang disajikan.

Supervisi audit merupakan bagian dari upaya manajemen tim audit untuk

memberikan jaminan dan keyakinan agar penugasan audit dapat mencapai tujuan

yang telah ditetapkan. Supervisi audit merupakan salah satu aktivitas manajerial yang

berfungsi untuk melakukan pengawasan, pengontrolan atau penyeliaan atas

penugasan audit agar tujuan audit dapat dicapai dengan ekonomis, efektif dan efisien

untuk memberikan rekomendasi perbaikan kinerja auditan.

Supervisi dalam setiap tahapan audit merupakan suatu kewajiban yang

disyaratkan dalam standar audit yang berlaku dalam rangka pencapaian tujuan audit

8
serta menjaga mutu/kulaitas pekerjaan audit. Dalam penugasana udit, supervisi bukan

hanya merupakan aktivitas manajerial berupa pengawasan saja, melainkan juga

merupakan upaya pengendalian dan penjaminan terhadap mutu hasil audit (quality

control and quality assurance). Standar Audit Aparat Pengawasan Fungsional

Pemerintah (SA-APFP) tahun 1996 yang diterbitkan BPKP menegaskan kewajiban

tersebut dalam Standar Pelaksanaan Audit, butir 1). Demikian pula halnya dengan

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara yang diterbitkan oleh BPK (Peraturan BPK

Nomr 1 tahun 2007) menyatakan hal serupa dalam Pernyataan Standar Pemeriksaan

02 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan.

2.3 SUPERVISI DAN TAHAP AUDIT

Pengertian Audit dalam modul Auditing II terbitan Pusdiklat Pengawasan

BPKP, adalah:

Suatu proses kegiatn yang brtujuan untuk menyakinkan tingkat keseuaian

antara suatau kondisi dengan kriterianya yang dilakukan oleh auditor yang

kompeten dan independen dengan mendapatkan dan mengevaluasi bukti-bukti

pendukungnya secara sistematis, analitis, dan selektif guna memberikan simpulan

atau pendapat dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Jenis-jenis audit pada dasarnya timbul berdasarkan tujuan yang diinginkan dari

pelaksanaan audit tersebut, yaitu:

1. Audit Keuangan

2. Audit Ketaatan

3. Audit Operasional

4. Audit Investigasi/Khusus

9
Berbagai jenis audit ini dilihat dari tahapan maupun proses, khususnya untuk

kegiatan supervisi nampaknya tidak banyak berbeda. Dalam pelaksanaan suatu

kegiatan secara umum termasuk kegiatan audit berdasarkan waktu pelaksanaan,

selayaknya dimulai dengan kegiatan perencanaan sebelum melaksanakan kegiatan itu

sendiri dan akan diakhiri dengan penyelesaian kegiatn itu sendiri, sehingga tahapan

dalam audit dapat dipisahkan atas:

1. Tahap Persiapan

2. Tahap Pelaksanaan

3. Tahap Penyelesaian

Tahap Perencanaan merupakan tahapan mempersiapkan suatu penugasan audit

sampai dengan diterbitkannya Surat Penugasan dan siap untuk memulai pelaksanaan

audit. Tahap Pelaksanaan merupakan tahapan auditor melaksanakan tugas audit

lapangan, malakukan pengujian, analisis, pengumpulan bukti dan lainnya sebelum

sampai ke penyusunan laporan hasil audit. Pelaksanaan audit ini biasanya terinci atas

tahap:

1. Survei Pendahuluan

2. Pengujian Sistem Pengendalian Manajemen

3. Audit Lanjutan/Rinci

Tahap Penyelesaian adalah proses penyelesaian temuan hasil audit dan laporan

hasil audir serta menyakinkan kesediaan menindak lanjuti hasil audit tersebut oleh

pihak auditan.

2.3.1 Proses Audit

Setiap pelaksanaan audit dilihat bahwa proses audit secara berurutan sebagai

berikut:

10
1. Perumusan tujuan audit

2. Penyusunan Program Kerja atau Langkah Kerja Audit

3. Melaksanakan Program Kerja Audit

4. Penyusunan Kertas Kerja Audit

5. Penyusunan Simpulan

6. Penyusunan Laporan Hasil Audit

Sedangkan dalam pelaksanaan audit terhadap suatu entitas atau kegiatan, proses

audit dimulai dengan mendapatkan gambaran umum sebelum menentukan arah audit.

Pemahaman terhadap kegiatan audit tersebut berguna untuk perencanaan audit,

penentuan sasaran audit, penentuan criteria, maupun penentuan bukti audit yang

diperlukan.

Berdasarkan arah audit yang ditetapkan, dalam pelaksanaan audit lapangan,

diawali dengan menghimpun data global mengenai kegiatan yang dilaksanakan dalam

periode audit sebelum menentukan segmen audit yang akan dilakukan pengujian

secara rinci. Dari data gobal yang telah dihimpun tersebut, dengan memperhatikan

Sistem Pengendalian Manajemen, tingkat maaterialitas serta resiko audit dapat

ditentukan segemen audit yang akan dilakukan pengujian rinci.

Pendekatan pola pikir diatas pada dasarnya dapat diterapkan terhadap berbagai

jenis audit yang dilakukan, yaitu :

1. Untuk audit keuangan yang bertujuan mendapatkan keyakinan memadai bahwa

laporan keuangan yang diuaudit bebas dari salah saji material sehingga laporan

keuangan disajikan secara wajar. Audit dilakukan terlebih dahulu dengan menilai

keandalan system pengendalian intern untuk merencanakan audit dan menentukan

sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Sedangkan pengujian dapat

11
dilakukan secara uji petik dengan memperhatikan tingkat materialitas dan resiko

audit.

2. Terhadap audit operasional atau audit kinerja yang didalmnya termasuk audit

ketaatan, bertujuan untuk mengidentifikasi kegiatan, program dan fungsi suatu

organisasi yang memerlukan koreksi, perbaikan atau penyempurnaan dengan

tyjuan memberikan rekomendasi agar pengelolaannya dapat dilaksanakan secara

lebih hemat, lebih berdaya guna dan lebih berhasil guna. Audit juga dilakukan

dengan terlebih dahulu memahami sistem pengendalian manajemen yang ada

untuk menentukan luas dan lingkup pengujian yang perlu dilakukan.sedangkan

pengujian terlebih dahulu dilakukan pengujian terbatas sebelum dilakukan

pengujian rinci terhadap kegiatan yang telah diidentifikasi dan memerlukan

koreksi.

3. Sedangkan untuk audit investigasi, special audit atau audit khusus yang biasanya

berawal dari adanya sinyalemen baik bersumber dari pengaduan masyarakat atau

pengembangan temuan pemeriksaan, walaupun lebih menekankan pada

pembuktian secara hukum, pada dasarnya sinyalemen tersebut merupakan salah

satu akibat dari kelemahan sistem pengendalian yang ada dan merupakan

informasi awal, sehingga pengamatan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh

terhadap kegiatan atau organisasi yang terkait. Pengujian secara rinci baru

dilakuakn secara segmen yang diduga kuat terjadi penyimpangan untuk dibuktikan

dan dikumpulkan bukti hukumnya.

12
2.3.2 Pengendalian Terhadap Proses Audit

Dalam pelaksanaan audit diperlukan adanya pengendalian agar rencana yang

disusun dapat dilaksanakan dan memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan. Hal

yang perlu dikendalikan antara lain adalah :

1. Waktu memulai audit

2. Waktu selesai audit

3. Penggunaan hari produktif/ hari kerja

4. Pelaksanaan langkah/program kerja pemeriksaan yang direncanakan dan telah

disetujui.

Pengendalian waktu memulai dan waktu selesai audit berkaitan dengan

Rencana Kerja Tahunan yang disusun oleh instansi pemeriksa bersangkutan,

sedangkan pengendalian terhadap penggunaan hari kerja produktif serta pelaksanaan

langkah/program kerja pemeriksaan dilakukan untuk setiap penugasan audit.

2.3.3 Supervisi Dalam Tahap Dan Proses Audit

Supervisi Audit sebagaimana diharuskan oleh Standar Audit yang berlaku

bertujuan untuk menjaga, mempertahankan dan meningkatkan mutu audit. Tingginya

mutu hasil audit tidak terlepas dari kualitas perencanaan, pelaksanaan maupun

penyelesaian audit yang dalam hal ini tercermin dalam kualitas laporan hasil audit

melalui ; tepat isi, tepat waktu, tepat saji, dan tepat alamat (tujuan).

Melalui pelaksanaan supervisi yang efektif diharapkan audit direncanakan,

dilaksanakan, dan diselesaikan dengan :

1. Memenuhi standar audit

2. Tingkat efisiensi dan efektivitas kerja yang cukup tinggi

3. Kualitas perencanaan audit terjamin

13
4. Pelaksanaan audit tepat waktu

5. Dokumentasi bukti audit lengkap

6. Kualitas hasil audit terjamin

7. Penyampaian laporan hasil audit tepat waktu.

Manfaat dilaksanakannya supervisi audit secara berjenjang disemua tahap audit

dan proses audit oleh personil yang lebih berpengalaman akan sangat membantu tim

audit, antara lain untuk :

1. Bimbingan dan pengarahan bagi auditor

2. Sarana komunikasi tim audit

3. Mengendalikan kegiatan audit

4. Sarana alih pengalaman

5. Membantu memecahkan masalah yang timbul.

2.4 SUPERVISI PADA TAHAP PERSIAPAN AUDIT

2.4.1 Kegiatan Persiapan Audit

Dalam pelaksanaan suatu kegiatan secara umum termasuk kegiatan audit

berdasarkan kegiatan pelaksanaan, selayaknya dimulai dengan kegiatan persiapan

sebelum melaksanakan kegiatan itu sendiri, sehingga tahapan dalam audit dapat

dipisahkan atas :

1. Tahap persiapan

2. Tahap pelaksanaan

3. Tahap penyelesaian

Tahap persiapan merupakan tahap merencanakan suatu penugasan audit sampai

dengan diterbitkannya Surat Penugasan dan siap untuk memulai pelaksanaan audit.

Keberhasilan dalam suatu tugas audit sebagian ditentukan oleh sempurnanya

14
perencanaan atas penugasan audit. Sebelum disetujuinya penugasan audit tersebut

dengan menerbitkan surat tugas, terlebih dahulu harus direncanakan dan disiapkan :

1. Perumusan/pemahaman tujuan audit

2. Perumusan potential/possible audit objektive

3. Program Kerja Audit

4. Rencana Kerja (penggunaan waktu audit)

Setiap perumusan dan rencana kerja tersebut perlu dilakukan supervisi agar

perumusannya sesuai tujuan audit dan rencana yang disusun dapat efektif

dilaksanakan. Supervisi perlu dilakukan oleh yang lebih berpengalaman agar dapat

dilaksanakan sebagaimana mestinya.

2.4.2 Supervisi Atas Perumusan Tujuan Audit

Tujuan audit adalah sasaran yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu audit,

yang telah diidentifikasi mengandung kelemahan dan yang memerlukan perbaikan.

Tujuan audit harus jelas, sehingga dapat menjadi pedoman bagi auditor dan

dikembangkan selama pelaksanaan audit dan untuk mencapai tujuan audit diperlukan

juga motivasi kerja.

Menurut Michael Amstrong (2002) Motivasi kerja adalah sesuatu yang

memulai gerakan, sesuatu yang membuat orang bertindak atau berprilaku dalam cara-

cara tertentu. Memotivasi orang adalah menunjukkan arah tertentu kepada mereka dan

mengambil langkah-langkah yang perlu untuk memastikan bahwa mereka sampai ke

suatu tujuan. Tujuan audit ini harus dipahami secara jelas dan dalam persepsi yang

sama diantara Personil Tim Audit agar memperlancar pelaksanan tugas audit.

Kemudian kebutuhan lainnya yang penting adalah supervisi yang kompeten

dan adil. Hasil studi Kozlowski (1989) dalam Budiman (2002) menunjukkan bahwa

15
supervisor merupakan pihak yang paling dekat dengan konteks kerja seseorang karena

melalui mereka tercermin budaya atau iklim organisasi. Dengan kata lain, supervisor

mempunyai pengaruh langsung terhadap perilaku bawahannya.

Supervisi yang harus dilakukan oleh Pengendali Teknis adalah untuk

mendapatkan atau memberikan pemahaman yang cukup bagi setiap auditor mengenai

tujuan audit yang akan dilakukannya. Untuk itu Pengendali teknis haruslah

mempunyai bahan dan pengalaman yang cukup agar menguasai secara mantap dan

mampu memberikan pemahaman secara jelas mengenai tujuan audit kepada Tim

Audit. Bahan-bahan yang perlu dikuasai sebelum penugasan adalah :

1. Mandat audit atau dasar hokum audit

2. Tujuan audit

3. Ruang lingkup audit

Mandat Audit atau dasar hukum audit merupakan dasar kewenanagan untuk

melakukan audit terhadap auditan. Tujuan audit merupakan hasil yang hendak dicapai

dari suatu audit, secara lebih khusus tujuan audit tersebut antara lain :

1. Menilai ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku

2. Menilai kesesuaian dengan pedoman akuntansi yang berlaku

3. Menilai apakah kegiatan dilaksanakan secara ekonomis, efisien dan efektif.

4. Mendeteksi adanya kecurangan.

Sedangkan Ruang Lingkup Audit merupakan periode dan kegiatan/fungsi/program

yang sesuai dengan tujuan audit dalam suatu entitas.

Pengendali Teknis perlu meyakini pemahaman Tim Audit terhadap tujuan kerja

yang akan dilakukan dengan cara melakukan diskusi dengan partisipasi aktif dari

semua anggota tim. Pemahaman terhadap tujuan audit ini akan memantapkan

16
perumusan tujuan audit yang akan dijadikan pedoman dalam penyusunan rencana

kerja, program kerja ataupun dalam pelaksanaan tugas audit nantinya.

2.4.3 Supervisi Atas Perumusan Potential Audit Objective

Potential Audit Objective (PAO) merupakan temuan awal (sinyalemen) yang

disusun secara sederhana berdasarkan pertimbangan dan pemahaman tujuan audit

maupun informasi lainnya yang dapat dikumpulkan sebelum dilakukan audit

lapangan.

Penetapan sasaran umum samara-samar dan memilih potential/possible audit

objective (PAO) merupakan titik awal yang sangat menentukan akan keberhasilan

tugas audit yang akan dilakukan. Kemana arah audit yang akan direncanakan, strategi

serta pendekatan dan penerapan teknik audit mana yang akan dilakukan maupun

perfencanaan output audit serta kepentingan audit lainnya akan sangat dipengaruhi

oleh PAO.

Perumusan PAO yang dilakukan sebelum terjun ke lapangan tentunya

memerlukan informasi-informasi yang dapat dijadikan acuan agar PAO yang

dirumuskan benar-benar mendekati kenyataan sebenarnya sehingga tim audit dalam

melaksanakan audit nanti tidak tersesat ke arah yang tidak menentu. Untuk itu

pengalaman dari Ketua Tim maupun Pengendali Teknis sangat menentukan

disamping cukupnya informasi yang diperoleh. Informasi-informasi yang diperlukan

dapat diperoleh dari :

1. KKA termasuk LHA periode terdahulu (jika rapeat audit) atau KKA entitas

sejenis yang pernah diaudit.

2. Profile Audit Universe yang merupakan peta komprehensif tentang auditan dan

berbagai variabel terkait dengan auditan menyangkut kepentingan audit.

17
3. Pengalaman personil tim audit ataupun informasi yang diperoleh dari surat

menyurat, pemberitaan mass media, serta pengaduan masyarakat jika ada.

Rumusan PAO ini akan sangat menentukan arah audit, untuk itu dalam

merumuskannnya sebaiknya telah memperhitungkan risiko audit :

1. Risiko apa yang ada

2. Di bagian organisasi mana saja

3. Kendali mana saja yang lemah

4. Apa kemungkinan akibat dari kelemahan tersebut

5. Identifikasi rekomendasi potensialnya,

Sehingga rencana kerja yang disusun lebih lanjut berdasarkan PAO tersebut dapat

efektif dilaksanakan dan mendapatkan hasil audit yang memenuhi standar. Superervisi

atas perumusan PAO ini perlu dilakukan guna antara lain :

1. Meyakinkan bahwa pemahaman terhadap tujuan audit telah sesuai yang

diinginkan.

2. Pengalaman yang tentunya lebih banyak pada Pengendali Teknis akan sangat

membantu dalam merumuskan PAO maupun menentukan arah audit.

3. Arah audit yang disusun lebih rinci dlam rencana kerja ataupun Program kerja

Audit (PKA), akan sesuai dengan yang diharapkan.

4. Penggunaan tenaga auditor, waktu audit maupun biaya perjalanan akan dapat

direncanakan lebih realistis.

2.4.4 Supervisi Atas Penyusunan Program Kerja Audit (PKA)

Program kerja Audit atau Langkah Kerja Audit peranannya dalam audit antara

lain : Perintah kerja, Pedoman dan Batas tanggung jawab bagi auditor. Supervisi atas

18
penyusunan Program Kerja Audit (PKA) pada tahap persiapan audit ini dilakukan

oleh Pengendali Teknis untuk menyakinkan bahwa :

1. PKA disusun untuk pelaksana audit tahap survey pendahuluan

2. PKA dapat mengumpulkan informasi guna memperoleh pemahaman/gambaran

umum mengenai auditan yang diperlukan.

3. PKA disusun dengan memperhatikan Potential Audit Objektive (PAO) yang telah

dirumuskan

4. PKA yang disusun mampu menyakinkan benar tidak PAO

5. PKA telah mendistribusikan tugas audit secara merata sesuai porsinya kepada

masing-masing personil tim audit

6. PKA telah memperhitungkan penggunaan waktu pemeriksaan masing-masing

personil tim audit

Di lain pihak Pengendali teknis dalam melakukan supervise ini harus

menykinkan bahwa semua personil tim audit paham mengenai PKA yang akan

dilaksanakan masing-masing, atas PKA tersebut akan menghasilkan Kertas Kerja

Audit (KKA) termasuk KKA simpulan atas hasil pelaksanaan PKA.

2.4.5 Supervisi Atas Penyusunan Rencana Waktu Kerja

Rencana Kerja untuk suatu kegiatan yang dilaksanakan secara kelompok patut

disusun sehingga dapat diketahui kapan waktu memulai dan kapan pekerjaan harus

berakhir, kalaupun terpaksan harus melampaui waktu yang tersedia dapat dianalisi

dimana tidak terjadi ketidaksesuaian dan kenapa sampai terjadi ketidaksesuaian

tersebut. Disamping itu, setiap saat di waktu pelaksanaan kegiatan dapat diketahui

pencapaian target masing-masing anggota kelompok, sehingga secara dini dapat

dilakukan penyesuaian apabila diperlukan.

19
Dalam persiapan audit perlu direncanakan penggunaan waktu pemeriksaan

baik dalam hari maupun dalam jam. Hal ini berkaitan dengan efisiensi pelaksanaan

audit. Untuk suatu rencana kerja yang baik, seharusnya dapat dipantau setiap saat :

siapa mengerjakan apa dan telah menyelesaikan apa saja pada suatu saat, sehingga

memungkinkan seorang Pengendali Teknis (supervisor) untuk menagih hasil kerja

yang seharusnya telah diselesaikan oleh seorang auditor untuk dilakukan review

sebagaimana mestinya, ataupun harus melakukan penyesuaian apabila ditemui

hambatan ataupun harus melakukan pendalaman terhadap masalah yang dianggap

sangat prinsip.

Dalam melakukan supervisi atas penyusunan rencana waktu ini perlu

dilakukan diskusi secara terbuka oleh Pengedali Teknis dengan tim audit, agar setiap

personil tim audit memahami tugas masing-masing dan menghasilkan pemerataan

distribusi tugas audit, sehingga tugas tim dapat dirampungkan secara tepat waktu

sesuai alokasi penugasan. Setelah rencana waktu tersebut disepakati, ia akan

mengikat setiap personil tim untuk mematuhinya dan secara dini harus

mengkonsultasikannya apabila terjadi sesuatu hal yang memerlukan penyesuaian

karena kondisi di lapangan. Penyusunan rencana penggunaan waktu audit ini

dilakukan dengan :

1. Menginvestasikan rincian pekerjaan audit yang akan dilakukan sesuai dengan

program kerja audit.

2. Mendistribusikannya kepada masing-masing personil tim audit sesuai porsi

masing-masing dengan memperhatikan kaitan aliran jenis pekerjaan yang perlu

dilakukan dan waktu yang dialokasikan.

3. Dalam tahap persiapan ini rincian pekerjaan baru dapat disusun hanya untuk

pelaksanaan survey pendahuluan, sedangkan untuk tahapan berikutnya cukup

20
dengan megalokasikan waktu secara global, karena rincian pekerjaan baru

didapatkan setelah hasil survey pendahuluan disimpulkan berupa Tentative

Audit Objective (TAO).

2.5 SUPERVISI PADA TAHAP PELAKSANAAN AUDIT

2.5.1 Kegiatan Pelaksanaan Audit

Pelaksanaan supervisi pada internal audit merupakan salah satu bagian yang

sangat pokok untuk mendukung aktivitas organisasi. Standar Profesi Internal

Auditor pada bagian objektivitas mendeskripsikan bahwa supervisi dilaksanakan

secara seksama, terdokumentasi dan dapat diuji keefektifannya atas pelaksanaan

tugas secara berkelanjutan mulai dari perencanaan, penyusunan, program kerja,

pelaksanaan tugas di lapangan, pelaporan, dan pemantauan tindak lanjut. Anggota

staf audit internal harus disupervisi secara tepat sehingga mereka dapat

melaksanakan tanggungjawabnya secara layak. Supervisi merupakan proses

berlanjut bagi seorang personel yang harus dimulai pada tahap perencanaan audit

dan berakhir pada tahap penyelesaian (Boiman dkk ; 2013).

Dalam pelaksanaan audit dikenal adanya tahapan sebagai berikut :

1. Tahap Survei Pendahuluan

Tahap Survei Pendahuluan dilakukan dengan memperhatikan

Possible/potential Audit Objective (PAO) dan Program Kerja Pemeriksaan yang

dirumuskan di tahap persiapan pemeriksaan. Hasil dari tahap survey

pendahuluan ini adalah berupa Tentative Audit Objective (TAO) dan Program

Kerja Audit untuk mendalami TAO tersebut di tahap berikutnya.

2. Tahap Pengujian Sistem Pengendalian Manajemen

21
Tahap pengujian Sistem Pengendalian Manajemen dilaksanakan dengan

memperhatikan TAO dan PKA yang dihasilkan di tahap survei pendahuluan.

Hasil dari tahap pengujian sistem pengendalian manajemen ini adalah berupa

Firm Audit Objective (FAO) dan PKA untuk mendalami FAO tersebut di tahap

berikutnya

3. Tahap Audit Lanjutan / Rinci

Tahap Audit Lanjutan/Rinci dilaksanakan dengan memperhatikan FAO dan

PKA yang dihasilkan di tahap pengujian sistem pengendalian manjemen. Hasil

dai tahap audit lanjutan ini berupa Audit Objective (AO) yang disusun dalam

bentuk Temuan Pemeriksaan dan Rekomendasi, untuk selanjutnya digunakan

sebagai bahan penyusunan Laporan Hasil Audit (LHA).

Urutan kegiatan audit di atas dapat digambarkan sebagai berikut :

URUTAN POLA PIKIR TAHAPAN AUDIT

PERSIAP
AN TAHAP
AUDIT SURVEI TAHAP TAHAP
PENDA- UJI AUDIT DAFTAR
HULUAN SPM RINCI TEMUAN
AUDIT LH
PA TA FA A
O O O O A

22
Kegiatan auditan yang dilaksanakan dalam setiap tahapan tersebut pada dasarnya

berupa :

1. Pelaksanaan Program Kerja Audit hasil tahap sebelumnya

2. Pengerjaan kertas Kerja Audit

3. Penyusunan kesimpulan untuk tahap yang dilaksanakan

4. Penyusunan Program Kerja Audit untuk tahap berikutnya

Dengan demikian kegiatan supervisi yang perlu dilakukan dalam kegiatan

pelaksanaan audit ini untuk setiap tahap tentunya sejalan dengan kegiatan audit

yang dilaksanakan di atas.

Pelaksanaan Audit biasanya dilakukan di tempat auditan yang tidak selalu

berada satu kota dengan tempat kedudukan/kantor Auditor, sehingga tidak

memungkinkan setiap saat terjadi konsultasi langsung antara Tim Audit dengan

Pengendali teknis. Walaupun pengendalian pelaksanaan audit dapat dilakukan

melalui jalur komunikasi lainnya (telepon, faksimil, email, dll), Pengendali Teknis

tetap diperlukan untuk melakukan supervisi guna mengawasi secara langsung

pelaksanaan audit dengan melakukan :

1. Reviu terhadap pelaksanaan rencana yang telah dirumuskan.

2. Reviu atas dokumentasi bukti audit yang dilakukan

3. Reviu atas rumusan simpulan pada setiap akhir tahap audit tertentu

4. Mengarahkan untuk lebih mendalami masalah yang diidentifikasi dengan

penyusunan PKA untuk dilaksanakan dalam tahap berikutnya.

2.5.2 Supervisi Atas Pelaksanaan Program Kerja Audit

Supervisi atas pelaksanaan PKA ini tiada lain untuk meyakinkan bahwa audit

telah berjalan sebagaimana yang diharapkan, melalui :

23
1. Apakah PKA telah dilaksanakan sebagaimana mestinya

2. Apakah pelaksanaan PKA tidak mengalami hambatan

3. Apakah pencapaian tahap penyelesaian pekerjaan sesuai waktu yang

direncanakan

4. Apakah Anggota dan Ketua Tim telah bekerja dengan efisien

5. Apakah Anggota dan Ketua Tim telah bekerja dengan efektif

6. Apakah atas PKA yang dilaksanakan disusun KKA secara tertib.

7. Apakah riviu berjenjang terhadap KKA telah dilaksanakan.

Dalam melakukan supervisi, Pengendali Teknis perlu mengetahui pencapaian

target pelaksanaan audit berdasarkan target waktu yang telah disepakati, baik

secara tim maupun secara perorangan. Untuk itu reviu terhadap Kertas Kerja Audit

mutlak dilakukan supervisi lapangan untuk meyakinkan bahwa PKA telah

dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Dalam pelaksanaan PKA oleh tim audit sering dijumpai bahwa apa yang

direncanakan tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya sesuai dengan rencana, hal

tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi di lapangan dan asumsi awal yang

dijadikan pertimbangan dalam menyusun rencana tersebut. Kemungkinan yang

dapat terjadi antara lain :

1. Terlambat pengerjaannya, seharusnya telah selesai dikerjakan, ternyata belum

atau selesai dikerjakan.

2. Lebih cepat pengerjaannya, seharusnya belum dikerjakan, ternyata telah

dikerjakan.

3. Rencana tidak dilaksanakan, menurut rencana akan dikerjakan, ternyata tidak

perlu dikerjakan.

24
4. Melaksanakan yang tidak direncanakan, hal ini terjadi karena pengembangan

sesuai kondisi lapangan.

Bukti dari pelaksanaan supervisi atas pelaksanaan PKA ini perlu dibuat secara

tertulis agar tim audit pengendali teknis melaksankan perannya masing-masing. Isi

formulir supervise tersebut antara lain mencantumkan (formulir, lihat lampiran 3) :

1. Saat / waktu melaksanakan supervisi

2. Pencapaian target saat dilakukan supervisi, seharusnya dan kenyataannya.

3. Hambatan yang dialami tim audit di lapangan.

4. Perintah-perintah (PKA) yang perlu segera dilakukan setelah

mempertimbangkan kondisi lapangan.

Formulir ini setelah ditandatangani masing-masing akan menjadi pedoman bagi tim

audit untuk menyelesaikan tugas, dan pertanggungjawaban serta bahan monitoring

oleh Pengendali Teknis pada saat supervisi berikutnya.

2.5.3 Review Kertas Kerja Audit (KKA)

Review atas Kertas Kerja Audit (KKA) merupakan pelaksanaan supervisi atas

penyusunan KKA dan berkaitan erat dengan supervisi atas pelaksanaan Program

Kerja Audit (PKA), karena KKA adalah hasil dari melaksanakan PKA atau KKA

merupakan bukti dari pelaksanaan PKA. Supervisi terhadap KKA ini dilakukan

melalui proses reviu KKA.

Reviu KKA adalah penilaian secara cermat, kritis dan sistematis atas catatan-

catatan yang dibuat, dikumpulkan dan disimpan oleh auditor mengenai prosedur

audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya, informasi yang

diperolehnya, serta simpulan hasil audit yang dilaksanakannya. Tujuan reviu itu

sendiri adalah :

25
1. Memenuhi standar audit

2. Menjaga mutu pelaksanaan audit

3. Menjaga mutu hasil audit

4. Mengurangi risiko audit

5. Meningkatkan efisiensi kerja.

Sedangkan manfaat dari reviu KKA antara lain adalah untuk :

1. Pengendalian kegiatan audit

2. Membimbing auditor junior

3. Sarana komunikasi antar anggota tim secara berjenjang.

Reviu terhadap KKA tersebut akan lebih bermanfaat apabila dilakukan secara

berjenjang dan pelaksaannya secara bertahap tanpa harus menunggu selesainya

audit, sehingga penyesuaian dapat segera dilakukan apabila dianggap pengerjaan

suatu KKA dianggap kurang bermanfaat. Reviu terhadap KKA ini dilakukan

terhadap :

1. Kelengkapan fisik KKA

2. Format dan kerapihan KKA

3. Substansi materi KKA berkaitan dengan PKA

Supervisi atas kertas kerja audit ini dengan melakukan reviu selama audit

berlangsung dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa rencana kerja yang telah

disusun dan disepakati dilaksanakan sebagaimana mestinya. Penyesuaian yang

dilakukan terhadap PKA didasai bukti/pertimbangan yang profesional, serta

simpulan yang disusun didukung bukti yang relevan, kompeten, cukup dan material.

Terhadap auditor yang junior, supervisi ini juga berperan untuk memberikan

bimbingan dan arahan agar pengerjaan KKA sesuai yang diinginkan dari PKA

dukungan, ikhtisar, dengan alur pikir yang logis sampai ke penyusunan simpulan,

26
sehingga audit dapat diselesaikan tepat waktu dan tepat mutu sesuai rencana waktu

yang telah disepakati dan sesuai tujuan audit.

2.5.4 Supervisi Atas Pelaksanaan Survei Pendahuluan

Suvei pendahuluan dilakukan untuk memahami gambaran umum tentang

auditan, termasuk pemahaman mengenai prosedur penyelenggaraan kegiatan

operasional auditan, serta masalah keuangan sampai kebijakan yang berlaku. Dalam

tahap survei pendahuluan ini Potential Audit Objective (PAO) yang telah

dirumuskan dimantapkan menjadi Sasaran Audit Sementara (Tentative Audit

Objective), atau dinyatakan tidak cukup dasar untuk didalami lebih lanjut.

Pelaksanaan Survei Pendahuluan dilakukan dengan melaksanakan program

kerja audit sesuai rencana yang telah disusun dalam persiapan audit. Pelaksanaan

tugas masing-masing anggota tim selama melakukan survei pendahuluan perlu

disupervisi untuk meyakinkan :

1. Rencana kerja dilaksanakan sebagai mestinya

2. PKA dilaksanakan sesuai yang diperintahnya

3. Penyesuaian PKA karena kondisi lapangan dapat dipertanggung jawabkan.

4. Kertas kerja Audit disusun sebagaimana mestinya

5. Simpulan hasil audit didukung bukti yang relevan, kompeten, cukup dan

material.

6. Tidak ada hambatan yang berarti dalam pelaksanaan audit. Jika terdapat

hambatan dengan pihak auditan, perlu dicarikan jalan keluar dengan menjadi

mediator agar audit selanjutnya berjalan lancar.

Dalam melakukan supervisi ini Pengendali Teknis bersama Tim Audit lainnya perlu

mengevaluasi Potential Audit Objective (PAO) yang telah dirumuskan dalam

27
persiapan audit dengan hasil dari pelaksanaan Survei Pendahuluan untuk dapat

merumuskan Sasaran Audit Sementara (Tentative Audit Objective).

Terhadap PAO yang tidak teridentifikasi selama dilakukan survei pendahuluan

perlu disusun simpulan bahwa sinyalemen tersebut ternyata tidak terbukti sehingga

tidak akan dilakukan pendalaman lebih lanjut dalam tahap audit berikutnya.

Untuk PAO yang teridentifikasi dan kemungkinan adanya hal lain yang

teridentifikasi serta perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut dalam tahap audit

berikutnya perlu dirumuskan TAO-nya dengan memperhatikan bukti-bukti yang

telah diperoleh dan telah didokumentasikan dalam KKA.

Berdasarkan rumusan TAO, Pengendali Teknis bersama Tim Audit lainnya

untuk masing-masing TAO perlu menyusun PKA dan rencana waktu serta

pembagian tugas untuk mendalaminya di tahap Pengujian Sistem Pengendalian

Manajemen.

2.5.5 Supervisi Atas Pelaksanaan Pengujian Sistem Manajemen

Sistem Pengendalian Manajemen dibangun untuk mencapai tujuan organisasi

melalui pemanfaatan seluruh sumber daya secara ekonomis, efisien, dan efektif

serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sasaran dari pengendalian tersebut

menurut The Institute of Internal Auditor (IIA) adalah untuk memperoleh jaminan

bahwa :

1. Informasi keuangan dan operasional yang layak dipercaya

2. Seluruh transaksi atau kegiatan dilaksanakan berdasarkan ketaatan terhadap

kebijakan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Terselenggaranya pengamanan asset dengan baik

4. Penggunaan sumber daya yang dilakukan secara ekonomis dan efisien.

28
5. Kegiatan operasional telah ditangani sesuai rencana dan hasilnya telah sesuai

dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

Menurut jenisnya, pengendalian manajemen dapat dikelompokkan dalam :

1. Pengendalian preventif

2. Pengendalian detektif

3. Pengendalian korektif

4. Pengendalian langsung

5. Pengendalian kompensatif

Menurut metodenya, pengendalian manajemen juga dapat dibagi dalam :

1. Pengendalian organisasi

2. Pengendalian operasional

3. Pengendalian personalia

4. Pengendalian reviu

5. Pengendalian melalui fasilitas dan peralatan

Unsur-unsur pengendalian manajemen menurut BPKP (dari GAO) ada delapan

unsur yaitu : Organisasi, Kebijakan, Perencanaan, Prosedur, Pencatatan, Pelaporan,

Personalia dan Reviu Internal. Sedangkan menurut Committee of Sponsoring

Organization of the Treadway Commission (COSO) ada lima unsur pengendalian

yang harus dirancang dan diterapkan manajemen untuk mendapatkan keyakinan

tercapainya tujuan pengendalian, yaitu :

1. Lingkungan pengendalian (control environment)

2. Penaksiran resiko (risk assessment)

3. Sistem informasi dan komunikasi (the information and communication system)

4. Aktivitas pengendalian (control activities), meliputi :

Review kinerja

29
Pemrosesan informasi

Pengendalian fisik

Pemisahan fungsi

5. Pemantauan (moinitoring), meliputi :

Pengawasan rutin terhadap kegiatan yang sedang berjalan

Evaluasi kegiatan oleh unit independen.

Sesempurnanya sistem pengendalian yang dibangun akan tidak efektif apabila

terjadi :

1. Pengabaian Manajemen (management override)

2. Kesalahan atau kekeliruan personel (personnel errors or mistakes)

3. Kolusi (collusion)

Pengujian sistem pengendalain manajemen (SPM) pada dasarnya adalah melakukan

penelitian mengenai efektivitas pengendalian yang dibangun, hasilnya berupa

simpulan mengenai kondisi/keandalan sistem pengendalian yang diuji. Pelaksanaan

pengujian dapat dilakukan melalui dua tahap yaitu :

1. Memahami dan menganalisis SPM, termasuk melakukan :

Pengujian sepintas (walk through test)

Pengujian terbatas (limited testing of the system)

2. Melakukan pengujian pengendalian (test of control), yaitu melakukan pengujian

secara lebih luas terhadap data/dokumen yang mendukung pengendalian.

Pengujian dapat dilakukan secara sampling.

Untuk masing-masing sasaran audit sementara (TAO) setelah dinilai tingkat

keandalan system pengandaliannya dapat memperjelas ataupun memantapkan,

apakah akan menjadi sasaran audit yang pasif (Firm Audit Objective) untuk lebih

30
didalami dalam audit lanjutan/rinci, atau ternyata tidak cukup dasar untuk didalami

lebih lanjut. Supervisi terhadap pengujian SPM adalah untuk meyakinkan bahwa :

1. Rencana kerja dilaksanakan sebagaimana mestinya

2. PKA dilaksanakan sesuai dengan yang diperintahkan

3. Penyesuaian PKA karena kondisi lapangan dapat dipertanggungj awabkan.

4. Kertas Kerja Audit disusun sebagai mestinya

5. Simpulan hasil audit didukung bukti yang relevan, kompeten, cukup dan material

6. Tidak ada hambatan yang berarti dalam pelaksanaan audit, jika terdapat

hambatan dengan pihak auditan, perlu dicarikan jalan keluar dengan menjadi

mediator agar audit berjalan lancar.

Dalam melakukan supervisi ini Pengendali Teknis bersama Tim Audit lainnya

perlu mengevaluasi Tentativel Audit Objective (PAO) yang telah dirumuskan dalam

persiapan audit dengan hasil dari pelaksanaan pengujian sistem pengendalian

manajemen untuk dapat merumuskan Firm Audit Objective (FAO) yang akan

dilakukan pendalaman dalam audit lanjutn/rinci.

Terhadap TAO yang tidak teridentifikasi selama dilakukan pengujian sistem

pengendalian manajemen perlu disusun simpulan bahwa TAO tersebut ternyata

tidak terbukti sehingga tidak akan dilakukan pendalaman lebih lanjut dalam tahap

audit berikutnya.

Untuk TAO yang teridentifikasi dan kemungkinan adanya hal lain yang

teridentifikasi serta perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut dalam tahap audit

berikutnya perlu dirumuskan FAO-nya dengan memperhatikan bukti-bukti yang

telah diperoleh dan telah didokumentasikan dalam KKA.

31
Berdasarkan rumusan FAO, Pengendali Teknis bersama Tim Audit lainnya

untuk masing-masing FAO perlu menyusun PKA dan rencana waktu serta

pembagian tugas untuk mendalaminya di tahap lanjutan/rinci.

2.1.1 Supervisi Atas Pelaksanaan Audit Lanjutan

Audit lanjutan / rinci merupakan tahap pengembangan temuan hasil audit.

Dalam tahap ini dilakukan pengujian substantive terhadap masing-masing Firm

Audit Objective (FAO) dengan tujuan :

1. Membuktikan eksistensi dampak kuantitatif yang bersifat negatif yang

ditimbulkan kelemahan pengendalian yang dideteksi pada pengujian SPM.

2. Meneliti penyebab timbulnya dampak negatif tersebut, dalam rangka

mengembangkan rekomendasi yang konstruktif.

Dalam tahap audit lanjutan ini, FAO lebih didalami sehingga memenuhi unsur-

unsur temuan hasil audit yaitu :

1. Kondisi (apa yang sebenarnya terjadi)

2. Kriteria (apa yang seharusnya terjadi)

3. Sebab (mengapa terjadi perbedaan antara kondisi dan kriteria)

4. Akibat dan Dampak (yang timbul karena perbedaan kondisi dengan kriteria)

5. Rekomendasi (apa yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya).

Supervisi terhadap pengujian SPM adalah untuk meyakinkan bahwa :

1. Rencana kerja dilaksanakan sebagaimana mestinya

2. PKA dilaksanakan sesuai dengan yang diperintahkan

3. Kertas Kerja Audit disusun sebagaimana mestinya

4. Simpulan hasil audit didukung bukti yang relevan, kompeten, cukup dan

material

32
5. Temuan hasil audit dikomunikasikan dan didapat komentar dari pihak auditan

yang berkompeten.

Dalam melakukan supervisi ini Pengendali Teknis bersama Tim Audit lainnya

mengevaluasi Firm Audit Objective (FAO) yang telah dirumuskan dalam tahap

audit sebelumnya dengan hasil dari pelaksanaan audit lanjutan hingga memenuhi

unsur-unsur temuan audit.

Untuk FAO yang terbukti dan memenuhi unsur temuan audit, disusun temuan

hasil audit (daftar temuan) dengan memperhatikan bukti-bukti yang telah diperoleh

dan telah didokumentasikan dalam KKA. Untuk selanjutnya tim audit akan

melangkah ke tahap penyelesaian audit, yaitu tahap pengembangan temuan,

penyusunan laporan hasila audit (LHA) dan Tindak Lanjut temuan audit.

2.6 SUPERVISI PADA TAHAP PENYELESAIAN AUDIT

2.6.1 Kegiatan Penyelasaian Audit

Tahap penyelesaian Audit ini adalah proses penyelesaian temuan hasil audit

dan laporan hasil audit serta meyakinkan kesediaan menindak lanjuti hasil audit

tersebut oleh pihak auditan. Kegiatan supervisi yang dilaksanakan dalam tahap

penyelesaian audit ini adalah Supervisi atas pengembangan temuan, Supervisi atas

penyusunan Laporan Hasil Audit, Supervisi atas Tindak Lanjut Temuan Audit

2.6.2 Supervisi Atas Pengembangan Temuan

Hal yang paling perlu dihindari dalam audit adalah temuan cacat, yaitu

temuan hasil audit yang tidak tepat, dengan demikian rekomendasi akan menjadi

tidak tepat pula. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, sebaiknya supervisi

yang dilakukan adalah sebagai berikut :

33
1. Reviu atribut temuan lakukan dengan hati-hati, dapatkan bukti audit yang

lengkap dan relevan

2. Lakukan pembahasan dengan tim audit untuk lebih meyakinkan dan

kemungkinan mendapatkan informasi tembahan selain yang terdapat dalam

KKA.

3. Lakukan pembahasan materi temuan dengan pihak auditan, guna lebih

meyakinkan atas atribut temuan yang diungkapkan tim audit. Pembahasan

dengan pihak auditan ini dapat juga berfungsi sebagai konfirmasi atas materi

temuan. Apabila pihak auditan sepakat dengan temuan tersebut dan akan segera

mendindaklanjutinya, berarti tugas supervisi yang dilakukan telah cukup

memadai. Tetapi bila auditan tidak sepakat, maka kesempatan inilah bagi

supervisor untuk meminta penjelasan dan bukti tambahan atau bukti lain dari

auditan yang akan digunakan sebagai bahan pembahasan dengan Tim Audit

untuk memproses temuan tersebut lebih lanjut yang kemudian bukan mustahil

temuan tersebut digugurkan karena kurang memenuhi syarat atau cacat, atau

dilakukan penyesuaian sebagaimana bukti yang diperoleh.

Berdasarkan Daftar Temuan dan KKA lainnya yang telah di reviu, Tim Audit akan

melangkah ke tahap berikutnya, yaitu tahap penyusunan Laporan Hasil Audit

(LHA)

2.6.3 Supervisi Atas Temuan Laporan Hasil Audit (LHA)

Laporan Hasil Audit (LHA) adalah dokumen atau media komunikasi auditor

untuk menyampaikan informasi tentang kesimpulan, temuan, dan rekomendasi

hasil audit kepada pihak yang berwenang. Fungsi LHA adalah sebagai :

1. Sarana komunikasi menyampaikan hasil audit

34
2. Dasar pengambilan keputusan untuk : Menetapkan arah, Arahan, Kebijakan,

Strategi, Prioritas, guna meningkatkan keekonomisan, keefisienan, keefektifan,

serta ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

3. Menentukan mutu pelaksanaan audit

4. Memperlihatkan peran Internal Auditor

Untuk memenuhi fungsi tersebut, Laporan Hasil Audit (LHA) sekurang-kurangnya

memenuhi empat (4) tepat yaitu :

1. Tepat isi

2. Tepat waktu

3. Tepat saji

4. Tepat alamat

Supervisi atas penyusunan laporan hasil audit (LHA) perlu dilakukan agar

dihasilkan LHA yang efektif, yaitu LHA disajikan dengan :

1. Gaya laporan yang tepat

2. Menarik perhatian pembaca

3. Jelas tetapi ringkas

4. Konstruktif

5. Mudah dipahami.

Untuk itu, Pengendali Teknis perlu memberikan arahan kepada Tima Audit antara

lain mengenai :

1. Penyusunan LHA sesuai dengan Standar Audit

2. Penyusunan LHA berdasarkan prioritas bobot Temuan Hasil Audit

3. Ketepatan waktu penyelesaian LHA

4. Informasi umum dan informasi lainnya ada yang dapat mulai disusun secara dini

tanpa perlu menunggu selesainya audit lapangan

35
5. Perlu mengungkapkan informasi penyeimbang berupa temuan positif.

Selain memberi arahan diatas, kegiatan supervisi atas penyusunan LHA ini

dilakukan melalui :

1. Reviu atas konsep LHA

2. Pembahasan LHA dengan Tim Audit

3. Reviu kelengkapan KKA dan kesesuainnya dengan LHA

Reviu kelengkapan KKA dan kesesuainnya dengan LHA perlu dilakukan karena

KKA dan konsep LHA merupakan satu kesatuan, apa yang disajikan di LHA harus

didukung dengan KKA. Reviu atas konsep LHA menggunakan Routing Slip untuk

memantau waktu pemrosesan, dan lembar reviu (review sheet) untuk mencatat

pertanyaan maupun penjelasan/penyelesaian dari proses reviu.

2.6.4 Supervisi Atas Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Temuan

Auditor harus selalu memantau tindak lanjut dari temuan auditnya.

Pemantauan tindak lanjut tersebut dapat dimanfaatkan untuk menilai apakah pihak

auditan :

1. Tidak mampu untuk menindak lanjutinya

2. Tidak mau menindak lanjuti, atau

3. Temuan tidak dapat ditidak lanjuti (temuan cacat)

Pemantauan dapat dilakukan dengan menggunakan Kartu/Lembaran untuk

setiap LHA yang diterbitkan yang memuat temuan hasil audit yang perlu ditindak

lanjujti dan kolom realisasi tindak lanjut yang dilakukan berdasarkan informasi

tertulis dari auditan, sehingga setiap saat mudah diketahui jika belum ada realisasi

tindak lanjut. Pemantauan tindak lanjut dapat dilakukan dengan cara :

1. Menyurati atau teguran yang menanyakan tindak lanjut

36
2. Mendatangi langsung ke auditan

3. Melalui tim audit berikutnya jika ada repeat audit

4. Rapat pemutahiran data yang dihadiri oleh Pimpinan Auditor dan Pimpinan

auditan.

37
BAB 3

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Tindakan supervisi pimpinan dapat menumbuhkan motivasi kerja kepada para

auditor internal sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja atau kinerja yang

diharapkan. Dalam hubungannya dengan kinerja, para professional umumnya

mempunyai tingkat kompetensi yang tinggi terhadap pekerjaan mereka. Adanya

tindakan supervisi dan tumbuhnya motivasi kerja sangat menentukan prestasi kerja

(kinerja). Kinerja seringkali identik dengan kemampuan (ability) seorang auditor

bahkan berhubungan dengan komitmen terhadap profesi dan professionalisme

menjadi elemen motivasi dalam memberikan kontribusi terhadap kinerja

3.2 SARAN

Motivasi kerja yang benar oleh pimpinan dalam melakukan supervisi

menghasilkan prestasi kerja yang baik, serta diperlukan kompetensi dan sikap

profesionalisme dalam melakukan tindakan supervisi serta supervisor hendaknya

menciptakan kondisi kerja yang mendorong tercapainya kesuksesan/tujuan audit.

38
39
DAFTAR PUSTAKA

Arens, et al. 2008. Auditing and Assurance Service : An Integrated Approach. Edisi Dua

Belas, Erlangga, Jakarta.

Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), 1996. Standar Audit Aparat

Pengawasan Fungsional Pemerintah (SA-APFP).

Badan Pengawasan keuangan dan Pembangunan, Formulir Kendali Mutu (KM) KM.1

KM.12. 1990 untuk Mengendalikan dan Meningkatkan Mutu Pemeriksaan

BPKP, Jakarta,

Boiman, Pipin Kurnia dan Raja Adri Satriawan Surya, 2013. Analisis Pengaruh

Pelaksanaan Supervisi Terhadap Kepuasan Kerja Auditor Internal Inspektorat Se-

Provinsi Riau, Jurnal Ekonomi ; Volume 21.

Choo, Freddie and Kim B. Tan., 1997. A Study of The Relations Aming Disagreement

in Budgetary Performance Evaluation Style, Job Related-Tension, Job

Satisfaction and Performances, Behavioral Research in Accounting, Vol. 9

Camstock, Thomas W.,1994. Fundamental of Supervision, New York : Delmar Publisher

Inc

Institute of Internal Auditors (IIA), Auditor Expert Performance In Fraud Detection : A

Survey of Internal Auditor, USA

Luthans, Fred., 1995. Organizational Behavior, 8 Edition, USA MC Grow-Hill, inc

Pusdiklatwas BPKP, 2005. Modul Diklat JFA : Kode Etik dan Standar Audit Edisi

2005,Ciawi Bogor.

Pusdiklatwas BPKP, 2005. Modul Diklat JFA : Penyusunan Laporan Hasil Audit Edisi

2005, Ciawi Bogor.

Pusdiklatwas BPKP, Modul Diklat JFA : Auditing Edisi 2005,Ciawi Bogor,2005


Pusdiklatwas BPKP, 2005. Modul Diklat JFA : Teknik Penilaian SPM dan PKA Edisi

2005,Ciawi, Bogor.

Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan

Keuangan Negara.

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/220/M.PAN/7/2008

tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya

Pusat Bahasa, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pusaka

Patten, D.M., (1995), Supervisor Action and Job Satisfaction : An Analysis of

Differences Between Large and Small Public Accounting Firm, Accounting

Horizons (9 th volume, no 2) (June)

Rapina dan Hana Friska, 2011. Pengaruh Komitmen Organisasi dan Tindakan Supervisi

Terhadap Kepuasan Kerja Auditor Junior Survei pada Kantor Akuntan Publik

(KAP) di Kota Bandung. Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi Nomor 06 Tahun ke-2

September-Desember.

Standar Profesional Akuntan Publik per 31 Maret 2011.Penerbit Salemba Empat.

Pekanbaru.

Sihwahjoeni dan Gudono., (2000), Persepsi Akuntan Terhadap Kode Etik Akuntan,

Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 3 no.1, UGM

Siu, W., (1998), Machiavellianism and Retail Banking Executives in Hongkong,

Journal of Managerial Psychology, Vol.13 no.1/2, hlm. 28-37

Sawyer, 2008. Internal Auditing The Practice of Modern Internal Auditing, 4th edition,

Altamonte Springs, California: The Institute of Internal Auditor.

41
42