Anda di halaman 1dari 6

ARTEFAK PADA CT SCAN

Secara umum, artefak adalah kesalahan dalam citra (adanya sesuatu dalam citra) yang tidak ada hubungannya

dengan objek yang diperiksa. Dalam CT Scan artefak didefinisikan sebagai pertentangan / perbedaan antara

rekonstruksi CT Number dalam citra dengan koefisien atenuasi yang sesungguhnya dari objek yang diperiksa.

(Seeram, 2001)

(1). Physic based artefacts

a) Beam hardening
Capping Artefak, apabila x-ray yang diterima oleh detektor lebih intens dari seharusnya.

Streak and dark bands, pada beberapa cross sectional heterogen, bayangan gelap atau garis dapat terlihat

antara dua organ yang memiliki kerapatan tinggi pada citra.

Meminimalkan Beam Hardening

Menggunakan filter, software pengoreksi kalibrasi dan pengoreksi beam hardening.


b) Partial Volume

Artefak yang disebabkan adanya 2 jaringan / materi yang berbeda CT Number dalam satu pixel.

c) Photon Starvation

Terjadi bila sinar x melintasi daerah yang memiliki densitas yang tinggi sehingga sinar x yang sampai ke

detektor tidak mencukupi.

Untuk meminimalkan artefak yang disebabkan Photon Starvation, dengan menggunakan filter adaptive dan mA

modulation.
d) Undersampling

Interval sampling yang terlalu kasar menjadikan terjadinya misregistrasi oleh komputer dalam memberikan

informasi yang berhubungan antara tepi yang halus dan objek kecil. Efek ini disebut aliasing.

(2). Patient-based artifacts

(a) Metallic material

Berupa streak artefak sebagai akibat dari densitas yang sangat tinggi yang tidak dapat ditangani oleh komputer.

Instruksikan untuk melepaskan benda benda logam. Dapat diatasi oleh software pengoreksi tapi menurunkan

detail citra pada area tersebut.


(b) Patient motion

Dapat menyebabkan shading artifact. Dapat diatasi oleh radiografer dengan memberikan instruksi yang jelas ke

pasien, immobilisasi dan waktu yang singkat.

(c) Dimensi objek melebihi luas lapangan pemindaian

Jika ada sebagian dari tubuh pasien berada diluar field of view (FOV), komputer akan mendapatkan informasi

yang tidak lengkap pada bagian tersebut dan dapat menghasilkan artifacts.

Scanner based artifacts

Artefak yang disebutkan fungsi CT Scan yang tidak sempurna. Berupa ring artifact yang diakibatkan error

reading pada detektor. Biasanya pada detektor yang miscallibrasi.

(3). Helical and multislice artifact

a) Helical artifact in the transverse plane

Secara umum, artefak pada CT Scan konvensional juga terlihat pada CT Scan helical. Selain itu, ada pula

artefak yang hanya terjadi pada CT Scan helical yang disebabkan oleh interpolasi helical dan proses

rekonstruksi. Artefak tersebut akibat dari perubahan struktur yang terlalu cepat pada sumbu z, misalnya pada

daerah verteks kepala dan bertambah buruk karena pitch yang tinggi. Jika pemindaian helical dilakukan pada

phantom berbentuk kerucut sepanjang z-axis dari CT Scan, hasil dari citra transaksial seharusnya circular.

Faktanya, bentuk phantomnya terdistorsi akibat fungsi pemberatan yang digunakan pada algoritma interpolasi

helical. Untuk meminimalkan helical artefak, langkah yang harus diambil adalah mengurangi efek dari variasi

sepanjang z axis. Artinya, jika memungkinkan pitch yang digunakan bernilai 1 dan tidak lebih tinggi dari 1.

Interpolasi helical 180 daripada 360 dan irisan yang diambil ketebalannya tipis. Kadang kadang, dianjurkan

untuk tetap menggunakan teknik pemindaian sequence dibanding teknik helical untuk mencegah terjadi artefak

helical, misalnya pada CT Scan kepala.


b) Multiplanar and 3D reconstruction

Peningkatan utama pada rekonstruksi multiplanar dan 3D telah ada sejak diperkenalkan CT Scan helical dan

bertambah lagi dengan CT Scan multislice.

1) Stair step artefacts

Stair step artefacts terlihat di sekitar tepi struktur pada rekonstruksi multiplanar dan 3D ketika kolimasi lebar dan

interval rekonstruksi non-overlapping digunakan. Stair step artifacts secara virtual hilang pada rekonstruksi

multiplanar dan 3D dengan irisan tipis CT Scan multislice terkini.

2) Zebra artefacts

Strip redup mungkin terlihat pada rekonstruksi multiplanar dan 3D pada helical, karena proses interpolasi helical

memberikan peningkatan derajat noise yang tidak homogeny sepanjang z-axis. Efek zebra menjadi lebih nyata

dari rotasi axis karena noise yang tidak homogen lebih buruk pada off axis.

3) Helical aretfacts in multislice scanning

Pada Ct Scan multislice lebih mudah terjadi distrosi citra transaksial akibat dari interpolaso helical daripada CT

Scan single slice. Namun dengan penggunaan z-filter untuk interpolasi helical dengan interpolasi dua titik,

khususnya ketika filter width yang digunakan lebih lebar dari detektor akuisisi.

Hubungan antara pitch dan kerusakan akibat helical artifacts lebih kompleks pada CT Scan multislice daripada

CT Scan single slice. Artefak terlihat lebih terkurangi ketika nilai pitch non integer, relative dengan lebar detektor

akuisisi digunakan. Hal ini karena densitas sampling z-axis maksimal untuk pitch non integer.

4) The Cone Beam Effect

The cone beam effect potensial menyebabkan artefak pada CT Scan multislice. Ketika tabung dan detektor

mengitari objek, data yang sama dikumpulkan oleh masing masing detektor diisikan ke volume diantara dua

cone, daripada bidang lurus yang ideal. Artefak lebih nyata pada baris detektor bagian luar daripada yang bagian

dalam, ketika data yang dikumpulkan lebih dekat dengan bidang.

Upaya pabrikan untuk mengurangi cone beam artefacts

Cone beam artefacts terlihat lebih buruk pada irisan tipis dan sudut cone lebar. Menjadikan CT Scan 16 slice

seharusnya lebih potensial terjadi artefak daripada CT Scan 4 slice. Namun begitu, pabrikan telah

menyelesaikan masalah dengan menerapkan variasi form rekonstruksi cone beam daripada teknik rekonstruksi

standar yang digunakan pada CT Scan 4 slice.