Anda di halaman 1dari 9

c.

Laserasi (Luka robek)

Merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul, yang


menyebabkan kulit teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit
terlampaui, maka akan terjadi robekan pada kulit. Luka ini mempunyai ciri
bentuk luka yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding tidak rata, tampak
jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak beraturan,
sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka. 2

Lukarobek (laceration) adalah jenis kekerasan benda tumpul yang


merusak atau merobek kulit (epidermis & dermis) dan jaringan dibawahnya
(lemak,folikel rambut, kelenjar keringat & kelenjar sebasea). Luka robek
mempunyai tepi yang tidak teratur,terdapat jembatan-jembatan jaringan
yang menghubungkan kedua tepi luka, akar rambut tampak hancur atau
tercabut bila kekerasannya di daerah yang berambut,disekitar luka robek
(8)
sering tampak adanya luka lecet atau luka memar.

Luka laserasi pada kulit kepala umumnya menyebabkan pemisahan total


dari kontinuitas jaringan yang dikelilingi jaringan yang mengalami luka
memar. Luka robekan bisa bersifat parsial maupun komplet, tergantung dari
lapisan kulit kepala yang terlibat. Trauma yang sangat hebat terjadi ketika
avulsi melibatkan sebagian besar kulit kepala. Perdarahan luka laserasi
(8)
biasanya bersifat difus.

Pada beberapa kasus, robeknya kulit atau membran mukosa dan jaringan
dibawahnya tidak sempurna dan terdapat jembatan jaringan.Jembatan
jaringan tepi luka yang ireguler, kasar dan luka lecet membedakan laserasi
dengan luka oleh benda tajam (8)
Gambar 15. Luka robek dengan terdapatnya jembatan jaringan

Tepi dari laserasi dapat menunjukkan arah terjadinya kekerasan. Tepi yang
paling rusak dan tepi laserasi yang landai menunjukkan arah awal kekerasan.
Sisi laserasi yang terdapat memar juga menunjukkan arah awal kekerasan. (8)

Bentuk dari laserasi dapat menggambarkan bahan dari benda penyebab


kekerasan tersebut. Karena daya kekenyalan jaringan regangan jaringan yang
berlebihan terjadi sebelum robeknya jaringan terjadi. Sehingga pukulan yang
terjadi karena palu tidak harus berbentuk permukaan palu atau laserasi yang
berbentuk semisirkuler. Sering terjadi sobekan dari ujung laserasi yang
sudutnya berbeda dengan laserasi itu sendiri yang disebut dengan "swallow
tails". Beberapa benda dapat menghasilkan pola laserasi yang mirip. (8)

Seiring waktu, terjadi perubahan terhadap gambaran laserasi tersebut,


perubahan tersebut tampak pada lecet dan memarnya. Perubahan awal yaitu
pembekuan dari darah, yang berada pada dasar laserasi dan penyebarannya ke
sekitar kulit atau membran mukosa. Bekuan darah yang bercamput dengan
bekuan dari cairan jaringan bergabung membentuk skar atau krusta. Jaringan
parut pertama kali tumbuh pada dasar laserasi, yang secara bertahap mengisi
saluran luka. Kemudian, epitel mulai tumbuh ke bawah di atas jaringan skar
dan penyembuhan selesai. Skar tersebut tidak mengandung apendises
meliputi kelenjar keringat, rambut dan struktur lain. (4,8)
Perkiraan kejadian saat kejadian pada luka laserasi sulit ditentukan tidak
seperti lecet atau memar. Pembagiannya adalah sangat segera, beberapa hari,
dan lebih dari beberapa hari. Laserasi yang terjadi setelah mati dapat
dibedakan dengan yang terjadi saat korban hidup yaitu tidak adanya
perdarahan. (4,8)

Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil tanpa


adanya robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila perdarahan
terjadi terus menerus. Laserasi yang multipel yang mengenai jaringan kutis
dan sub kutis dapat menyebabkan perdarahan hebat. Adanya diskontiniuitas
kulit atau membran mukosa dapat menyebabkan kuman yang berasal dari
permukaan luka maupun dari sekitar kulit yang luka masuk ke dalam
jaringan. Port d'entree tersebut tetap ada sampai dengan terjadinya
penyembuhan luka yang sempurna. (4,8)

Bila luka terjadi dekat persendian maka akan terasa nyeri, khususnya pada
saat sendi tersebut di gerakkan ke arah laserasi tersebut sehingga dapat
menyebabkan disfungsi dari sndi tersebut. Benturan yang terjadi pada
jaringan bawah kulit yang memiliki jaringan lemak dapat menyebabkan
emboli lemak pada paru atau sirkulasi sistemik.Laserasi juga dapat terjadi
pada organ akibat dari tekanan yang kuat dari suatu pikulan seperti pada
jantung, aorta, hati dan limfa.Hal yang harus diwaspadai dari laserasi organ
yaitu robekan yang komplit yang dapat terjadi dalam jangka waktu lama
(4,8)
setelah trauma yang dapat menyebabkan perdarahan hebat

1. ASPEK MEDIKOLEGAL

Dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal luka


kelalaian atau karena yang disengaja. Luka yang terjadi in disebut kejahatan
terhadap tubuh atas Misdrijven Tengen Het Lijf. Kejahatan terhadap jiwa ini
diperinci menjadi dua yaitu kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan
sengaja) dan kejahatan culpose (yang dilakukan karena kelalaian atau
kejahatan)1

Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam Bab XX,
pasal-pasal 351 s.d. 358. Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian
diatur dalam pasal 359, 360, dan 361 KUHP. Dalam pasal-pasal tersebut
djumpai kata-kata, mati, menjadi sakit sementara atau tidak dapat
menjalankan pekerjaan sementara, yang tidak disebabkan secara langsung
oleh terdakwa, akan tetapi karena salahnya diartikan sebagai kurang hati-hati,
lalai, lupa dan amat kurang perhatian1

Pasal 361 KUHP menambah hukumannya sepertiga lagi jika


kejahatan ini dilakukan dalam suatu jabatan atau pekerjaan. Pasal ini dapat
dikenakan pada dokter, bidan, apoteker, supir, masinis kerata api dan lain-
lain. 1

Dalam pasal-pasal tersebut tercantum istilah penganiayaan dan


merampas dengan sengaja jiwa orang lain, suatu istilah hokum semata-mata
dan tidak dikenal dalam istilah medis. 1

Yang dikatakan luka berat pada tubuh pada pasal 90 KUHP, adalah
penyakit atau luka yang tidak bisa diharapkan akan sembuh lagi dengan
sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut, terus menerus tidak
cakap lagi melakukan jabatan atau pekerjaan tidak lagi memakai salah satu
panca indera, kudung (romping), lumpuh, berubah pikiran (akal) lebih dari
empat minggu lamanya, menggunakan atau membunuh anak dari kandungan
ibu. 1

Di dalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita


luka akibat kekerasan, pada hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat
memberikan kejelasan dari permasalahan sebagai berikut:

a. Jenis luka apakah yang terjadi?


b. Jenis kekerasan/senjata apakah yang menyebabkan luka?

c. Bagaimanakah kualifikasi luka itu?

Pengertian kualifikasi luka disini semata-mata pengertian Ilmu


Kedokteran Forensik, yang hanya baru dipahami setelah mempelajari pasal-
pasal dalm Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang
bersangkutan dengan Bab XX (Tentang Penganiayaan), terutama pasal 351
dan pasal 352; dan Bab IX (Tentang Arti Beberapa Istilah Yang Dipakai
Dalam Kitab Undang-Undang), yaitu pasal 90. (9,10)

Dari pasal-pasal tersebut dapat dibedakan empat jenis tindak pidana,


yaitu:

1. Penganiayaan ringan

2. Penganiayaan

3. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat

4. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian

Oleh karena istilah penganiayaan merupakan istilah hukum, yaitu


dengan sengaja melukai atau menimbulkan perasaan nyeri pada seseorang,
maka di dalam Visum et Repertum yang dibuat dokter tidak boleh
mencantumkan istilah penganiayaan, oleh karena dengan sengaja atau tidak
itu merupakan urusan hakim. Demikian pula dengan menimbulkan perasaan
nyeri sukar sekali untuk dapat dipastikan secara objektif, maka kewajiban
dokter di dalam membuat Visum etRepertum hanyalah menentukan secara
objektif adanya luka, dan bila ada luka, dokter harus menentukan derajatnya.

Penganiayaan ringan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan


penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencaharian, di dalam Ilmu Kedokteran Forensik pengertiannya menjadi:
luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaan jabatan atau pencaharian. Luka ini dinamakan luka derajat
pertama.

Bila sebagai akibat penganiayaan seseorang itu mendapat luka atau


menimbulkan penyakit atau halangan di dalam melakukan pekerjaan jabatan
atau pencaharian, akan tetapi hanya untuk sementara waktu saja, maka luka
ini dinamakan luka derajat kedua.

Apabila penganiayaan tersebut mengakibatkan luka berat seperti yang


dimaksud dalam pasal 90 KUHP, luka tersebut dinamakan luka derajat
ketiga.

Suatu hal yang penting harus diingat di dalam menentukan ada


tidaknya luka akibat kekerasan adalah adanya kenyataan bahwa tidak
selamanya kekerasan itu akan meninggalkan bekas/luka. Dengan demikian
pada kasus perlukaan akan tetapi di dalam pemeriksaan tidak ditemukan luka,
maka di dalam penulisan kesimpulan Visum et Repertum yang dibuat,
haruslah ditulis tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, dan jangan
dinyatakan secara pasti bahwa pada pemeriksaan tidak ada kekerasan.

Kualifikasi luka pada KUHP

Pengertian kualifikasi luka disini semata-mata pengertian


IlmuKedokteran Forensik sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana(KUHP) Bab XX pasal 351 dan 352 sertaBab IX pasal 90. (9,10)

Pasal 351(9,10)
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahundelapan bulan ataupidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah


diancamdengan pidana penjara paling lama lima tahun.

(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling


lamatujuh tahun.

(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.

(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352(9,10)

(1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan
yangtidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaanjabatan atau pencarian, diancam, sebagaipenganiayaan ringan,
dengan pidanapenjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling
banyak empat ribulima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi
orang yangmelakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya,
atau menjadibawahannya.

(2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 90(9,10)

Luka berat berarti :

(1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan
sembuhsama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut
(2) Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan
ataupekerjaan pencarian;

(3) Kehilangan salah satu pancaindera;

(4) Mendapat cacat berat(verminking)

(5) Menderita sakit lumpuh;

(6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;

(7) Gugur atau matinyakandungan seorang perempuan.


DAFTAR PUSTAKA

1. Satya AC. Aspek Medikolegal Luka pada Forensik Klinik. Majalah


Kedokteran Nusantara: 2006; 39(4).

2. Maathai, Abigail Ann. Gambaran Karakteristik Trauma Abdomen di Rumah


Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Tahun 2011-2014. USU Institutional
Repository. 2016

8. Dolinak D, et al. Blunt Force Injury. Forensic Pathology, Principles and


practice. London: Elsevier Academic Press ; 2005. p 125-126

9. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab IX pasal 90 serta Bab


XXpasal 351 dan 352.

10. Idries AM. Luka dan Kekerasan. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik 1st ed.
Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. P 86-95.

11.