Anda di halaman 1dari 23

INFEKSI SALURAN KEMIH

1. Definisi
- Infeksi saluran kemih merupakan suatu keadaan adanya infeksi berupa pertumbuhan dan
perkembangbiakkan bakteri dalam saluran kemih, yang meliputi infeksi di parenkim ginjal,
ureter, kandung kemih, uretra atau prostat dengan jumlah bakteriuria yang bermakna.

Beberapa istilah yang sering digunakan dalam klinis mengenai ISK :


ISK uncomplicated (sederhana), yaitu ISK pada pasien tanpa disertai kelainan anatomi
maupun kelainan struktur saluran kemih.
ISK complicated (rumit), yaitu ISK yang terjadi pada pasien yang menderita kelainan
anatomis/ struktur saluran kemih, atau adanya penyakit sistemik.Kelainan ini akan
menyulitkan pemberantasan kuman oleh antibiotika
First infection (infeksi pertama kali) atau isolated infection, yaitu ISK yangbaru
pertama kali diderita atau infeksi yang didapat setelah sekurang-kurangnya6 bulan
bebas dari ISK.
Infeksi berulang, yaitu timbulnya kembali bakteriuria setelah sebelumnya dapatdibasmi
dengan pemberian antibiotika pada infeksi yang pertama.
Asymtomatic significant bacteriuria (ASB), yaitu bakteriuria yang bermakna tanpa
disertai gejala.

2. Prevalensi
- lebih banyak dijumpai pada wanita kemungkinan karena uretra wanita lebih pendek
sehingga mikroorganisme dari luar lebih mudah mencapai kandung kemih dan juga letaknya
dekat dengan daerah perianal dan vagina.
- Pada usia dewasa kasus ISK ini lebih sering timbul pada wanita dewasa muda (usia subur),
salah satu kemungkinan adalah karena proses dari kehamilan (obsetri history)
- Tetapi pada usia tua, insidens ISK cenderung meningkat pada orang laki-laki,
kemungkinannya adalah akibat penggunaan instrumen, misal: urethral catheter.

3. etiologi
a. Bakteri
b. Virus
virus seperti virus polyoma, sitomegalovirus, dan andreno virus juga dapat menyebabkan
infeksi ginjal.(bisa karena setelah transplantasi organ)

c. Jamur
Candida sp terutama pada pasien-pasien yang menggunakan kateter urin, pasien DM,
atau pasien yang mendapat pengobatan antibiotik berspektrum luas. Jenis Candida yang
paling sering ditemukan adalah Candida albican dan Candida tropicalis.
4. Faktor resiko
Jenis kelamin dan aktivitas seksual
Kehamilan : penurunan kekuatan ureter, penurunan peristaltik ureter, dan inkompetensi
sementara katup vesikoureteral yang terjadi selama hamil.
Sumbatan : tumor, striktura, batu atau hipertrofi prostat yang menyebabkan hidronefrosis
dan peningkatan infeksi saluran kemih yang sangat tinggi.
Disfungsi neurogenik kandung kemih : penggunaan kateter untuk drainase kandung
kemih dan didukung oleh status urin dalam kandung kemih untuk jangka waktu yang
lama.
Refluks vesikoureteral : Keadaan ini didefinisikan sebagai refluks urin dari kandung
kemih ke ureter dan kadang sampai pelvis renal. Gangguan antomis pertemuan
vesikoureteral menyebabkan refluks bakteri dan karena itu terjadilah infeksi saluran
kemih.
Faktor virulensi bakteri
Faktor genetic : kerentanan terhadap infeksi urinarius. Jumlah dan tipe reseptor pada sel
uroepitel tempat bakteri pada menempel dan dapat ditentukan, setidaknya sebagian,
secara genetik.
Diabetes : masalah dengan sistem pertahanan alami tubuh lebih mungkin terserang
infeksi saluran kemih.
5. klasifikasi,
berdasarkan :
1. Anatomi
- Infeksi saluran kemih bawah, presentasi klinis tergantung dari gender
a. Perempuan
Sistitis : presentasi klinik infeksi kandung kemih disertai bakteriuria
bermakna.
Sindrom uretra akut (SUA) : presentasi klinis sintisis tanpa ditemukan
mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistisis abakterialis.
b. Laki-laki
sistitis, protatitis, epididimitis dan uretritis.
- Infeksi saluran kemih atas, melibatkan ginjal dan dikenal dengan pielonefritis.
Pielonefritis dibagi menjadi 2 :
a. Pielonefritis akut (PNA) : proses inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan
infeksi bakteri.
b. Pielonefritis kronis (PNK) : akibat lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau
infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan refluks vesikoureter dengan
atau tanpa bakteriurea kronik sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim
ginjal yang ditandai Pielonefritis kronis yang spesifik.
2. Klinis
Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi :
1. Infeksi saluran kemih sederhana (uncomplicated) : pada perempuan yang tidak
hamil dan tidak di sertai dengan kelainan anatomi maupun kelainan dari
struktur saluran kemih. Merupakan penyakit ringan (self limited disease) dan tidak
menyebabkan akibat lanjut jangka lama.
2. Infeksi saluran kemih berkomplikasi (complicated) : suatu infeksi saluran
kemih yang terjadi pada anak-anak, laki-laki, atau ibu hamil yang di sertai kelainan
anatomik atau struktur saluran kemih ataupun penyakit sistemik.
Klasifikasi diagnosis Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria yang dimodifikasikan dari
panduan EAU (European Association of Urology) dan IDSA (Infectious Disease Society of America)
terbagi kepada :
1. ISK non komplikata akut pada wanita
2. Pielonefritis non komplikata akut
3. ISK komplikata
4. Bakteriuri asimtomatik
5. ISK rekurens
6. Uretritis
7. Urosepsis.

6. Patogenesis,

Saluran kemih harus dilihat sebagai satu unit anatomi tunggal berupa saluran yang
berkelanjutan mulai dari uretra sampai ginjal. Pada sebagian besar infeksi, bakteri dapat mencapai
kandung kemih melalui uretra. Kemudian dapat diikuti oleh naiknya bakteri dari kandung kemih
yang merupakan jalur umum kebanyakan infeksi parenkim renal.
Dua jalur utama terjadinya ISK :
a. Hematogen : kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah,
karena menderita suatu penyakit kronis, atau pada pasien yang mendapatkan pengobatan
imunosupresif. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat adanya fokus infeksi di
tempat lain, misalnya infeksi S.aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran
hematogen dari fokus infeksi di tulang, kulit, endotel, atau tempat lain. M. Tuberculosis,
Salmonella, pseudomonas, Candida, dan Proteus sp termasuk jenis bakteri/jamur yang
dapat menyebar secara hematogen.
Dapat mengakibatkan infeksi ginjal yang berat, misal infeksi Staphylococcus dapat
menimbulkan abses pada ginjal.
b. Infeksi ascending (yang sering terjadi)
Infeksi secara ascending(naik) dapat terjadi melalui 4 tahapan yaitu :
- Kolonisasi mikroorganisme pada uretra dan daerah introitus vagina
- Masuknya mikroorganisme ke dalam buli-buli
- Multiplikasi dan penempelan mikroorganisme dalam kandung kemih
- Naiknya mikroorganisme dari kandung kemih ke ginjal

Gambar 3. Infeksi secara ascending


Terjadinya infeksi saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan antara
mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih
sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host
yang menurun atau karena virulensi agent yang meningkat.
Faktor host
Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
- Pertahanan lokal dari host
- Peranan sistem kekebalan tubuh yan terdiri dari imunitas selular dan humoral.

Tabel 3. Pertahanan lokal terhadap infeksi


Pertahanan lokal sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash
out urin, yaitu aliran urin yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urin.
Gangguan dari sistem ini akan mengakibatkan kuman mudah sekali untuk bereplikasi dan
menempel pada urotelium. Agar aliran urin adekuat dan mampu manjamin mekanisme wash
outadalah jika :
- Jumlah urin cukup
- Tidak ada hambatan di dalam saluran kemih
Keadaan lain yang dapat mempengaruhi aliran urin dan menghalangi mekanisme wash out
adalah adanya :
- Stagnansi atau stasis urin (miski yang tidak teratur atau sering menahan kencing,
obstruksi saluran kemih, adanya kantong-kantong pada saluran kemih yang tidak dapat
mengalir dengan baik misalnya pada divertikula, dan adanya dilatasi atau refluks sistem
urinaria.
- Didapatkannya benda asing di dalam saluran kemih yang dipakai sebagai tempat
persembunyian kuman.
Faktor agent (mikroorganisme)
Bakteri dilengkapi dengan pili atau fimbriae yang terdapat di permukaannya. Pili
berfungsi untuk menempel pada urotelium melalui reseptor yang ada di permukaan urotelium.
Ditinjau dari jenis pilinya terdapat dua jenis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu
:
o Tipe pili 1 : banyak menimbulkan infeksi pada sititis
o Tipe pili 2 : yang sering menimbulkan infeksi berat pielonefritis akut.
Selain itu beberapa bakteri mempunyai sifat dapat membentuk antigen, menghasilkan
toksin (hemolisin), dan menghasilkan enzim urease yang dapat merubah suasana urin menjadi
basa.

7. gejala klinis,
Bakteri menyebabkan respon inflamasi saluran kemih, namun gejala klinisnya
bervariasi. Faktor yang berpengaruh pada terjadinya gejala dan tanda klinis infeksi saluran
kemih tergantung pada intensitas interaksi reaksi inflamasi antara pejamu dengan parasit,
umur, lokasi infeksi, yang dapat bersifat asimptomatik hingga peradangan akut berat pada
parenkim ginjal.
Pielonefritis akut : inflamasi di ginjal dengan respon inflamasi secara umum
misalnya demam, C-reaktif protein, leukositosis.
Sistitis akut : reaksi inflamasi yang terbatas pada saluran kemih bawah, biasanya
disuria (nyeri waktu berkemih), peningkatan frekuensi berkemih, dan rasa desakan
ingin berkemih.
Asimptomatik bakteriuria : inflamasi lokal saluran kemih tetapi tidak cukup
memadai untuk timbul gejala klinis.
Pada bayi : gejalanya tidak spesifik, kadang timbul demam, malas minum, rasa tidak
nyaman di perut, kurang nafsu makan, muntah, dan bau popok yang amat
menyengat..
Pada anak : disuria, urgensi dan kencing yang frekuen, sakit pinggang.
Sistitis (pada perempuan) : kencing yang sering, namun dalam volume kecil.
Demam yang disertai dengan adanya darah dalam urine pada kasus yang parah.
Gejala infeksi pada lansia dapat berupa gejala samar setiap lansia yang mengeluh
gejala abdomen seperti mual atau muntah harus dikaji apakah menderita infeksi
saluran kemih bila muncul demam atau bisa tidak. Terkadang hanya peningkatan
agitasi atau konfusi yang terjadi , yang mengharuskan para perawat lansia
meningkatkan kewaspadaan khusus terhadap berulangnya dan kepastian infeksi
saluran kemih pada lansia. Infeksi asimtomatik pada lansia juga sangat sering terjadi,
tidak dijumpai manfaat mengobati pasien lansia yang menderita infeksi asimtomatik.

8. Diagnose
Pemeriksaan Laboratorium

Urinalisis
a. Leukosuria : Dinyatakan positif bila terdapat > 5 leukosit/lapang pandang
besar (LPB) sedimen air kemih. Namun adanya leukosuria tidak selalu
menyatakan adanya ISK karena dapat pula dijumpai pada inflamasi tanpa
infeksi. Apabila didapat leukosituri yang bermakna, perlu dilanjutkan
dengan pemeriksaan kultur.
Hematuria : 5-10 eritrosit/LPB sedimen urin.
Bakteriologis
a. Mikroskopis ; positif bila dijumpai 1 bakteri /lapangan pandang minyak
emersi.
b. Biakan bakteri
Kriteria untuk mendiagnosis bakteriuria signifikan terdapat pada:
Kriteria diagnostik untuk bakteriuria signifikan
102CFU coliforms/mL atau 105 CFU noncoliforms/mL pada wanita
simptomatik
103 CFU bakteri/mL pada pria simptomatik
105CFU bakteri/mL pada individu asimptomatik dalam 2 consecutive
spesimen
Adanya pertumbuhan bakteri pada suprapubik katerisasi pada pasien
simptomatik
102 CFU bakteri/mL pada pasien yang dikateter

Tes kimiawi
Yang paling sering dipakai ialah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian
besar mikroba kecuali enterokoki, mereduksi nitrat bila dijumpai. lebih dari 100.000 -
1.000.000 bakteri. Konversi ini dapat dijumpai dengan perubahan warna pada uji tarik.
Sensitivitas 90,7% dan spesifisitas 99,1% untuk mendeteksi Gram-negatif. Hasil palsu
terjadi bila pasien sebelumnya diet rendah nitrat, diuresis banyak, infeksi oleh
enterokoki dan asinetobakter.
Tes Plat-Celup (Dip-slide)

Gambar 4. Plat Celup


Lempeng plastik bertangkai dimana kedua sisi permukaannya dilapisi perbenihan
padat khusus dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan digenangi urin. Setelah itu
lempeng dimasukkan kembali ke dalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu
dilakukan pengeraman semalaman pada suhu 37 C. Penentuan jumlah kuman/ml dilakukan
dengan membandingkan pola pertumbuhan pada lempeng perbenihan dengan serangkaian
gambar yang memperlihatkan keadaan kepadatan koloni yang sesuai dengan jumlah kuman
antara 1000 dan 10.000.000 dalam tiap ml urin yang diperiksa. Cara ini mudah dilakukan,
murah dan cukup akurat. Tetapi jenis kuman dan kepekaannya tidak dapat diketahui.
Pemeriksaan penunjang lainnya
Pemeriksaan penunjang lain dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan
anatomis yang merupakan faktor predisposisi infeksi saluran kemih. Pemeriksaan ini dapat
berupa :
1. FPA :untuk mengetahui adanya batu radioopak pd saluran kemihatau adanya
distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akut.
2. PIV :mengungkap adanya pielonefritis akut dan adanya obstruksi saluran kemih.
3. SISTOURETROGRAFI :untuk mengungkap adanya refluksvesikoureter, bulibuli
neurogenik.
4. USG :untuk mengungkap adanya hidronefrosis, absesperirenal terutama pada
pasien gagal ginjal.
5. CT scan : Pemeriksaan ini lebih sensitif dalam mendeteksi penyebab ISKdaripada
USG, tetapi biaya relatif mahal.
1. SULFAMETOKSAZOL DAN TRIMETOPRIM
Mekanisme kerja obat
Sulfametoksazol menghambat sintesis asam dihidrofolat bakteri berkompetisi
dengan asam para aminobenzoat. Trimetoprim menghambat produksi asam
tetrahidrofolat dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase.
Data farmakokinetik
Trimetropim-sulfametoksazol diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral.
Sekitar 44% trimetoprim dan 70% sulfametoksazol terikat dengan protein.
Waktu paruh dengan pemberian oral, trimetoprim adalah 8-11 jam dan
sulfametoksazol adalah 10-12 jam. Trimetoprim dimetabolisme menjadi bentuk
yang lebih kecil dan sulfametoksazol mengalami biotransformasi menjadi senyawa
tidak aktif.
Nama Obat
TRIMETOPRIM SULFAMETOKSAZOL
Indikasi : Nokardiosis, toksoplasmosis, eksaserbasi akut bronkitis
kronis, infeksi saluran kemih bila ada bukti sensistivitas
bakteriologis dan ada alasan yang kuat untuk memilih
obat ini dibandingkan obat tunggal.
Kontraindikasi : Gagal ginjal dan gangguan fungsi hati yang berat, porfiria
Peringatan : Gangguan fungsi hati dan ginjal; minum air cukup
banyak. Hindarkan penggunaan pada gangguan darah
(kecuali dibawah pengawasan spesialis); pada
penggunaan jangka panjang perlu dilakukan hitung jenis
sel darah. Bila timbul ruam atau gangguan darah, obat
harus segera dihentikan. Hati-hati pada asma, defisiensi
G6PD, wanita hamil atau menyusui. Hindari penggunaan
pada bayi di bawah 6 minggu (kecuali untuk pengobatan
atau profilaksis pneumocystis carinii).
Efeksamping : mual, muntah, ruam (termasuk sindrom stevens-johnson,
nekrolisis epidermal toksik, fotosensitivitas) hentikan obat
dengan segera. Gangguan darah neutropenia,
trombositpenia, agranulositosis dan purpura hentikan obat
dengan segera. Reaksi alergi, diare, stomatitis, glositis,
anoreksia, artralgia, mialgia. Kerusakan hati seperti
ikterus dan nekrosis hati; pankreatitis, kolitis terkait
antibiotik, eosinofilia, batuk, nafas singkat, infiltrat paru,
meningitis aseptik, sakit kepala, depresi, konvulsi, ataksia,
tinitus. Anemia megaloblastik karena trimetoprim,
gangguan elektrolit, kristaluria, gangguan ginjal termasuk
interstisialis.
Mekanisme kerja : Sulfametoxazol menghambat sintesis asam folat dan
pertumbuhan bakteri dengan menghambat susunan asam
dihidrofolat dari asam para-aminobenzen; Trimethoprime
menghambat terjadinya reduktasi asam dihidrofolat
menjadi tetrahidrofolat yang secara tidak langsung
mengakibatkan penghambatan enzim pada siklus
pembentukan asam folat
Sediaan beredar : Aditrim (Aditama Raya Farmindo), Bactoprim
(Combiphar), Bctricid (Soho), Bactrim (roche),
Bactrizol (Corsa), Imactrim (Bima Mitra Farma),
Citoprim (Ciubros), Coprim (Coronet Crown), Cotrim
(Pyridam), Decatrim (Harsen).

2. PENISILIN
MK : bakterisid (menghambat sintesis dinding sel)
AMOKSISILIN : indikasi ISK
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap penisilin.
Peringatan : Riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, leukimia
limfositik kronik, dan AIDS.
ES : Mual, diare, ruam, kolitis.
AMOKSISILIN-ASAM KLAVULANAT
Digunakan untuk mencegah resistensi bakteri
AMPISILIN
TIKARSILIN
Indikasi : Infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonasdan Proteus
spp.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap penislin.
Peringatan : Riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal.
Efek samping : Reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi,
angioudem, leukopenia, trombositopenia, syok anafilaktik
pada pasien yang alergi, diare pada pemberia n per oral.
PIPERASILIN

3. SEFALOSPORIN
Nama Obat
SEFAKLOR : gram + & -
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap sefalosporin, porfiria.
Peringatan : Alergi terhadap penisilin, gangguan fungsi ginjal,
kehamilan dan menyusui (tetapi boleh digunakan),
positif palsu untuk glukosa urin (pada pengujian untuk
megurangi jumlah obat), positif palsu pada uji Coombs.
SEFADROKSIL, SEFIKSIM, SEFALEKSIN(lihat sefaklor)
4. TETRASIKLIN
MK : bakteriostatik (menghambat sintesis protein dg berikatan dgribosomal subunit
30S- menghambat ikatan aminoasil-tRNA ke sisi A pada kompleks ribosomal.)
Nama obat
TETRASIKLIN
Indikasi : Eksaserbasi bronkitis kronis, bruselosis, klamidia,
mikoplasma dan riketsia, efusi pleura karena keganasan
atau sirosis, akne vulgaris.
Kontraindikasi : Tidak boleh diberikan pada anak-anak usia 12 tahun,
ibu hamil dan menyusui. Tetrasiklin tidak boleh
diberikan pada pasien gangguan fungsi ginjal karena
dapat menyebabkan eksaserbasi penyakit ginjal.
Efek samping : Mual, muntah, diare, eritema,sakit kepala dan gangguan
pengelihatan dapat merupakan petunjuk peningkatan
tekanan intrakaranial, hepatotoksisitas, pankreatitis dan
kolitis.
DOKSISIKLIN
Peringatan : Gangguan fungsi hati (hindari pemberian secara
intravena), fotosensitivitas.
5. FLUOROKUINOLON
MK : menghambat DNA gyrase
Nama Obat dan Sinonim
SIPROFLOKSASIN : gram + gram -
Peringatan : harus digunakan secara hati-hati pada pasien dengan
riwayat epilepsi, pasien gangguan fungsi hati dan ginjal,
wanita hamil dan ibu menyusui, anak-anak (hasil penlitian
pada hewan menunjukan adanya artropati pada sendi
penunjang berat badan), menimbulkan konvulsi pada
pasien dengan atau tanpa riwayat kejang dan pada
penggunaan bersama AIDS.
Efek samping : Anoreksia, depresi, gelisah, halusinasi, bingung,
gangguan penglihatan, pengecapan, pendengaran,
peningkatan tekanan intrakranial, kerusakan tendon
(terutama pada orang tua dan penggunaan bersama
kortikosteroid), gangguan mental, neurologis, reaksi
hipersensitivitas.
Mekanisme kerja : Menghambat DNA-girase pada organisme yang sensitif;
menghambat relaksasi superkoloid DNA dan memicu
kerusakan untai gandai DNA.
GATIFLOKSASIN
NORFLOKSASIN

Interaksi : Lihat interaksi Antimikroba (kuinolon).


Efek samping : Anoreksia, depresi, gelisah, halusinasi, bingung,
gangguan penglihatan, pengecapan, pendengaran,
peningkatan tekanan intrakarnial, gangguan mental,
neurologis, reaksi hipersensitivitas.
OFLOKSASIN
Peringatan : Lihat siprofloksasin, hati-hati pada riwayat kelainan
psikiartik, diabetes, difisiensi G6PD. Hindari pada pasien
dengan riwayat epilepsi, pada anak-anak dan remaja.
Interaksi : Lihat interaksi Antimikroba
Efek samping : Radang dan ruptur tendon, aritema multifome, vaskulitis
angiodem ansietas tremor parestesi neuropati reaksi
psikotik geranulisitosis pansitopenia mempengaruhi gula
darah.
LEVOFLOKSASIN
6. NITROFURANTOIN :merusak dinding sel dan menggangu metabolisme bakteri.
Nama Obat dan Sinonim
NITROFURANTOIN
Kontraindikasi : Gangguan fungsi ginjal; anak dibawah 3 bulan, defisiensi
G6PD, termasuk wanita hamil dan menyusui, porfilia.
Peringatan : Anemia, diabetes melitus; ketidak seimbangan elektrolit,
defisiensi folat dan vitamin B, penyakit baru, gangguan
fungsi hati, pengobatan lama harus diikuti dengan
pemantauan fungsi hati dan paru, rentan terhadap neoritis
prifer, positif palsu pada uji glukosa urin, urin berwarna
kuning / coklat.
Interaksi : Lihat interaksi Antimikroba (Nitrofurantion)
Efek samping : Anoreksia, mual, muntah, diare, reaksi paru akut dan
kronik (mungkin), neuropati perifer, reaksi alergi mulai
dari gatal sampai ke angiodem, ikterus kolestatik,
hepatitis, dermatitis, pankreatitis artralgia, kelaiann darah,
hipertensi, intrakranial.
7. AMINOGLIKOSIDA (PARENTERAL): bakterisid (menghambat sintesis protein
subunit ribosomal 30S)
Nama Obat dan Sinonim
TOBRAMISIN
Kontraindikasi : Kehamilan, miastenia gravis.
Peringatan : Gangguan fungsi ginjal, bayi dan usia lanjut (sesuaikan
dosis, awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan
periksa kadar plasma).
Interaksi : Lihat interaksi Antimikroba (Aminoglikosida)
Efek samping : Gangguan vestibuler dan pendengaran nefrotoksisitas,
hipomagnesia pda pemberian jangka panjang, kolitis
karena antibiotik.
AMIKASIN : gram yg resisten trhdp gentamisin
NETILMISIN
8. KARBAPENEM : sintesis dinding sel
Nama Obat dan Sinonim
MEROPENEM :gram + gram -
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap meropenem.
Peringatan : Hipersensitivitas terhadap penisilin, sefalosporin dan
antibiotik betalaktam lainnya, gangguan fungsi hati,
fungsi ginjal, wanita hamil atau menyusui.
Efek samping : Mual, muntah, diare, nyeri perut, gangguan uji fungsi hati,
trombositopenia, sakit kepala, parestesia, reaksi lokal.
AZTREONAM gram -
Kontraindikasi : Alergi terhadap aztreonam, wanita hamil atau menyusui.
Peringatan : Alergi terhadap antibiotik betalaktam, gangguan fungsi
hati, pada gangguan fungsi ginjal dosis perlu disesuaikan.
IMIPENEM
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap imipenem atau silastatin,
menyusui.
Peringatan : Hipersensitivitas terhadap betalaktam, gangguan fungsi
ginjal, gangguan ssp (misalnya epilepsi, kehamilan).
Efek samping : Mual, muntah, diare, gangguan pengecapan, gangguan
darah, ujikoms positif, reaksi alergi, konvulsi, bingung,
gangguan fungsi mental, peningkatan enzim hati dan
bilirubin, peningkatan ureum dan kreatinin serum, merah
kemerahan diurin, reaksi lokal berupa nyeri, kemerahan

1. Antiseptik saluran kemih


Antiseptik saluran kemih biasanya mengandung bahan aktif seperti methenamine,
methylene blue, nitrofurantoin, dan pipemidic acid.
2. Obat saluran kemih golongan lain
Obat yang termasuk golongan ini yaitu phenazopyridine, potassium citrate, terpene
mixtures dan flavoxate. Kebanyakan digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengatasi
infeksi saluran kemih.
3. Suplemen
Vitamin C
Dikutip dari buku Clinical Pharmacy and Therapeutic, pendekatan terapi pada
pasien infeksi saluran kemih diklasifikasikan menjadi terapi eradikasi, profilaksis, suppresif,
dan preventif.
Terapi Eradikasi
Tujuan dari terapi eradikasi adalah mensterilkan saluran kemih. Pendekatan ini digunakan
ketika koloni bakteri terdapat di setiap bagian saluran kemih.
Obat yang dipilih harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing pasien. Dalam hal
ini, seperti status imunologi, umur, riwayat alergi, fungsi ginjal dan hati, riwayat penyakit
infeksi saluran kemih, dan aktivitas seksual dapat mempengaruhi pemilihan antimikroba.
Pada wanita hamil, pemilihan antimikroba harus berdasarkan kemungkinan efek teratogenik
dan toksisitas neonatal; contohnya tetrasiklin dan diskolorasi gigi. Sensitifitas dari mikroba
juga harus dipertimbangkan. Maka, perbedaan relatif dari obat sendiri seperti kinetika, biaya,
dan toksisitas berpengaruh dalam mempertimbangkan pemilihan obat.
Obat-obat yang tersedia untuk pengobatan saluran kemih dapat dibagi menjadi 2
kelompok : a) obat untuk pengobatan infeksi saluran kemih akut, tidak komplikasi, pada
pasien rawat jalan dan b) obat untuk pengobatan infeksi saluran kemih serius dan/atau
komplikasi.
7. Infeksi saluran kemih akut, tidak komplikasi
Terapi singkat tidak diindikasikan untuk pengobatan infeksi saluran kemih pada wanita
hamil, anak-anak, wanita tua, penderita diabetes, wanita dengan infeksi berulang, dan pada
laki-laki. Banyak obat yang menunjukkan efektifitas dalam pengobatan infeksi saluran kemih
dengan 7-10 hari pengobatan. Dimana obat yang paling banyak digunakan adalah
nitrofurantoin dan TMP/SMZ.

Pielonefritis
Terapi dan pengobatan 10-14 hari. Biasanya digunakan beberapa regimen termasuk
TMP/SMZ, amoksisilin, dan sefalosporin generasi pertama.
Pasien akut pielonefritis harus dibawa ke rumah sakit untuk rawat inap dan dengan
segera memulai terapi antimikroba parenteral empirik sampai hasil kultur urin dan tes
sensitivitas diketahui. Terapi empirik biasanya terdiri dari kombinasi ampisilin dan
aminoglikosida atau terapi tunggal dengan penisilin spektrum luas atau sefalosporin generasi
ketiga. Setelah hasil pemeriksaan kultur urin dan sensitivitas diketahui, terapi diganti pada
regimen terapi oral ketika pasien sudah tidak demam selama 48 jam, dan dilanjutkan selama
minimal 2 minggu.
8. Infeksi saluran kemih komplikasi
Infeksi saluran kemih komplikasi memberikan tantangan yang lebih besar karena sering
a) disebabkan organisme multiresisten, b) sulit untuk dibasmi, c) prekursor pada kondisi
kronis dan kerusakan ginjal.
Pada prostatitis bakteria akut, penetrai obat ke dalam jaringan dan cairan prostatik lebih
tinggi sebagai akibat dari inflamasi. Pasien biasanya dirawat jalan dan diterapi dengan
antibiotik parenteral. Setelah pasien tidak demam selama 48 jam, pengobatan diganti dengan
terapi oral. Trimetoprim, doksisiklin, karbenisilin, dan siprofloksasin mencapai konsentrasi
tinggi di prostat. Doksisiklin mungkin tidak selalu dapat menangani gram negatif, dan
karbenisilin dan siprofloksasin dapat digunakan untuk mikroorganisme resisten. Oleh karena
itu, trimetoprim, dengan cakupan yang bagus pada gram negatif, merupakan obat pilihan
pasien prostatitis. Biasanya digunakan kombinasi dengan sulfametoksazol yang mana tidak
berpenetrasi dengan baik bi kelenjar prostat, dengan dosis double strength dua kali satu
tablet. Pasien ini membutuhkan terapi jangka panjang 4-6 minggu, diikuti terapi suppresif
jangka panjang, pengobatan jika kambuh, atau koreksi pembedahan.
Infeksi nosokomial berkontribusi secara signifikan dalam morbiditas dan mortalitas
pada pasien rawat jalan. Infeksi nosokomial pada saluran kemih berhubungan dengan
penggunaan kateter.Pada pasien yang mengidap infeksi saluran kemih ketika menggunakan
kateter, tidak dibutuhkan terapi antibiotik, pada beberapa kasus urin bersih secara spontan
setelah kateter dilepas. Pada pasien dengan urosepsis, terapi dimulai dengan terapi empirik
setelah kultur urin dan darah sudah diketahui. Obat yang biasa digunakan pada infeksi saluran
kemih nosokomial adalah kombinasi regimen aminoglikosida (gentamisin) danampisilin.
Alternatif lain termasuk regimen sefalosporin generasi ketiga dan penisilin spektrum luas.
Jika disebabkan oleh bakteri gram negatif, dilakukan pengobatan monoterapi dengan
gentamisin. Terapi antibiotik dapat disesuaikan setelah data hasil kultus dan sensitivitas
diketahui. Obat-obat baru yang dapat digunakan diantaranya aztreonam, imipenem, dan
kuinolon parenteral, digunakan pada pasien dengan infeksi oleh mikroorganisme
multiresisten.
Tindak lanjut urin setelah terapi eradikasi pada infeksi saluran urin dengan komplikasi
perlu dideteksi dan diobati bakteri yang tidak mati dan kemungkinan suprainfeksi.
Terapi Profilaksis
Terapi profilaksis digunakan untuk mencegah infeksi pada pasien yang tidak mempunyai
komplikasi dan infeksi saluran kemih berulang. Karena berulang, pengobatan profilaksis
harus terus dilakukan dalam dosis rendah untuk menekan efek samping.
Wanita yang mengalami infeksi saluran kemih 3 atau lebih dalam setahun umumnya
diperlukan terapi profilaksis. Lebih efektif dalam segi biaya untuk menggunakan terapi
profilaksis, ketika dibandingkan antara biaya pengobatan dengan kunjungan dokter,
urinalisis, pengobatan dan waktu.
Beberapa antiinfeksi yang efektif sebagai agen profilaksis : trimetoprim-sulfametoksazol,
nitrofurantoin, metenamin, dan lainnya. Dosis dan regimen untuk nitrofurantoin atau
trimetoprim-sulfametoksazol sebagai agen profilaksis lebih rendah dari untuk terapi eradikasi
Sekarang, kebanyakan pasien diterapi profilaksis selama 6 bulan, kemudian dihentikan.
Jika infeksi terulang kembali pasien kembali diterapi dengan terapi eradikasi kemudian
dengan terapi profilaksis.
Karena hubungan seksual pada saat infeksi saluran kemih dan kekhawatiran terhadap
profilaksis jangka panjang, beberapa penelitian sekarang sudah menilai efektivitas terapi
setelah berhubungan badan. Hasil yang bagus dicapai oleh beberapa obat, seperti
trimetoprim-sulfametoksazol, nitrofurantoin, sefaleksin, asam nalidiksat, dan sinoksasin.
Pendekatan lain, meskipun bukan benar-benar profilaksis adalah pengobatan sendiri.
Pasien diajarkan untuk memulai dosis tunggal atau terapi jangka pendek dengan antimikroba
pilihan pada tanda pertama dari infeksi saluran kemih yang akan datang.
Terapi Supressif
Terapi supressif jangka panjang terutama digunakan untuk menurunkan frekuensi infeksi
saluran kemih berulang dan infeksi akut yang dapat menjadi kronik. Bentuk terapi ini
diindikasikan untuk pasien dengan mikroba penyebab infeksi susah diterapi secara eradikasi.
Contohnya laki-laki dengan prostatitis kronik bakteria, pasien dengan batu di saluran kemih
atau kelainan lain pada saluran kemih atau penggunaan kateter.
Pada pasien dengan batu di saluran kemih, tujuan terapi supressif adalah memelihara
kesterilan urin. Antimikroba yang dapat digunakan pada terapi supressif mirip dengan yang
digunakan pada regimen profilaksis. Trimetoprim-sulfametoksazol 80/4000 mg,
nitrofurantoin 50 atau 100 mg atau trimetoprim, semua dosis satu kali sehari. Metenamin
dapat juga digunakan untuk terapi jangka panjang, karena kurangnya toksisitas dan resistensi.
Sebelum memulai terapi supressif, percobaan diperlukan untuk membersihkan urin dari
infeksi aktif.
Terapi Preventif
Tindakan preventif diusahakan untuk meminimalkan perkembangan infeksi saluran kemih.
Tindakan ini diarahkan pada populasi pasien dengan resiko infeksi tertentu. Termasuk ke
dalam grup ini adalah pasien yang menggunakan kateter, manipulasi urinasi atau diabetes.
The Centers of Disease Control (CDC) mengembangkan rekomendasi pada penggunaan
kateter.
1. Kateter digunakan hanya ketika diindikasikan dan pada waktu sesingkat mungkin.
2. Penggunaan kateter dilakukan secara aseptis.
3. Pemeriksaan bakteriologis sangat dibutuhkan.
4. Jika pasien dengan penggunaan kateter 2 minggu atau kurang, penggantian kateter secara
rutin tidak diperlukan.
5. Pasien dengan penggunaan kateter tidak boleh satu ruangan dan pada kasur yang
berdekatan dengan pasien lain, untuk menghindari penularan infeksi.
6. Penggunaan antibiotik sistemik dapat menghambat perkembangan bakteri tapi tidak
mencegah perkembangan bakteri.
Sekarang, The U.S. Preventive Task Force mengadopsi panduan terapi baru untuk melihat
asimtomatik bakteriuria dengan menggunakan dipstik urinalisis. Dipstik urinalisis ini dapat
sesuai pula pada wanita diatas 60 tahun atau penderita diabetes.
Pemeliharaan pasien dengan keadaan hidrasi yang baik adalah dengan tindakan
pencegahan sederhana dan bermanfaat untuk menghambat atau meminimalkan resiko
pielonefritis. Dehidrasi dan hipertonisitas urin pada ginjal menghambat mobilisasi leukosit
dan aktivitas fagositosis.
1.1. Panduan Terapi
Panduan terapi berdasarkan letak infeksi
1. Infeksi saluran kemih bawah
Prinsip terapi infeksi saluran kemih bawah meliputi intake cairan yang banyak,
antibiotika yang kuat, dan kalau perlu terapi asimptomatik untuk alkalinisasi urin.
Reinfeksi berulang (frequent re-infection)
Disertai faktor predisposisi. Terapi antimikroba yang intensif diikuti koreksi
faktor resiko.
Tanpa faktor predisposisi
- Asupan cairan banyak
- Cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba takaran
tunggal (misal trimetroprim 200mg)
- Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan.
Infeksi klamidia memberikan hasil yang baik dengan tetrasiklin. Infeksi disebabkan
MO anaerobic diperlukan antimikroba yang serasi, misal golongan kuinolon.
2. Infeksi saluran kemih atas
Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk
memelihara status hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam.
Indikasi rawat inap pielonefritis akut adalah seperti berikut:
- Kegagalan mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap antibiotika
oral.
- Pasien sakit berat atau debilitasi.
- Terapi antibiotika oral selama rawat jalan mengalami kegagalan.
- Diperlukan invesstigasi lanjutan.
- Faktor predisposisi untuk ISK tipe berkomplikasi.
- Komorbiditas seperti kehamilan, diabetes mellitus, usia lanjut.
The Infection Disease of America menganjurkan satu dari tiga alternatif terapi
antibiotik IV sebagai terapi awal selama 48-72 jam sebelum diketahui MO sebagai
penyebabnya yaitu fluorokuinolon, aminoglikosida dengan atau tanpa ampisilin dan
sefalosporin dengan spectrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida.
Antibiotika merupakan terapi utama pada infeksi saluran urin. Hasil uji kultur dan
tes sensitivitas sangat membantu dalam pemilihan antibiotika yang tepat. Efektivitas
terapi antibiotika pada infeksi saluran urin dapat dilihat dari penurunan angka lekosit
urin disamping hasil pembiakan bakteri dari urin setelah terapi dan perbaikan status
klinis pasien. Idealnya antibiotika yang dipilih untuk pengobatan infeksi saluran urin
harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut : dapat diabsorpsi dengan baik, ditoleransi
oleh pasien, dapat mencapai kadar yang tinggi dalam urin, serta memiliki spektrum
terbatas untuk mikroba yang diketahui atau dicurigai. Pemilihan antibiotika harus
disesuaikan dengan pola resistensi lokal, disamping juga memperhatikan riwayat
antibiotika yang digunakan pasien.

Panduan terapi berdasarkan gender


Gambar 7. Panduan Terapi Infeksi Saluran Kemih Pada Wanita
Gambar 8. Panduan Terapi Infeksi Saluran Kemih Pada Laki-laki

1.2. Terapi pada Kondisi Khusus


1.2.1. Terapi Infeksi Saluran Kemih Pada Anak-anak
American Academy of Pediatrics (AAP) mempublikasikan panduan mengenai
penatalaksaan infeksi saluran kemih pada bayi dan anak usia 2-24 bulan dengan
demam.
Antibiotik oral yang diberikan menurut AAP antara lain :

Selain itu, antibiotik parenteral yang diberikan menurut AAP antara lain :

1.2.2. Terapi Infeksi Saluran Kemih Pada Ibu Hamil


Terapi :
1. Amoksisilin-clavulanat 7 hari
2. Sefalosporin 7 hari
3. Trimetoprim-sulfametoksazol
Keterangan : Hindari Trimetoprim-sulfametoksazol pada trimester ke-3