Anda di halaman 1dari 7

Kelebihan Kelemahan Model Belajar Kontekstual

Model belajar kontekstual merupakan salah satu model belajar yang umum dipakai di
Indonesia. model ini menekankan semua guru untuk mengsinkronkan seluruh materi
pelajaran yang diajarkan dengan kondisi atau keadaan nyata siswa. Jadi dapat diartikan
bahwa Pembelajaran Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk
menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Gambar penerapan model belajar
kontekstual pada anak-anak Dalam model belajar kontekstual setidaknya ada tiga hal penting
yang harus dipahami.

CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, CTL
mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan
situasi kehidupan nyata, Mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan.
Karakteristik Model belajar Kontekstual Didalam belajar dengan model kontekstual, ada lima
karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL, yaitu:
Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating
knowledge) Pembelajaran ntuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring
knowledge) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) Mempraktikan
pengetrahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) Melakukan refleksi (reflecting
knowledge) Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual yang harus dipahami Ada beberapa
langkah penting yang harus dipahami dalam menerapkan model belajar kontekstual, yaitu;
Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan
barunya. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic Mengembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya Menciptakan masyarakat belajar Menghadirkan model
sebagia contoh belajar Melakukan refleksi diakhir pertemuan. Melakukan penialain yang
sebenarnya dengan berbagai cara.

Ciri-ciri model pembelajaran konstektual Sedangkan ciri-ciri umum dalam pembelajaran


model kontekstual yaitu;
1. Pengalaman nyata
2. Kerjasama saling menunjang
3. Gembira belajar dengan bergairah
4. Menggunakan berbagai sumber
5. Siswa aktif dan kritis
6. Menyenangkan tidak membosankan
7. Sharing dengan teman
8. Guru kreatif Pembelajaran terintegrasi

Kelebihan Dan Kelemahan Model Belajar Kontekstual

Belajar model kontekstual selain memiliki beberapa kelebihan yang didapatkan, model
belajar ini juga memiliki beberapa kelemahan.

Kelebihan dari model pembelajaran kontekstual


1. Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi
yang dimiliki sisiwa sehingga siswa terlibat aktif dalam PBM.
2. Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu
isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
3. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
4. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
5. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
6. Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
7. Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.

Kelemahan model pembelajaran kontekstual

1. Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa
padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru
akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa
tadi tidak sama.
2. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM Dalam proses
pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki
kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian
menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
3. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus
tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran
ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang
dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu
teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
4. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan
kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
5. Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan
intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan
mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan
kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
6. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
7. Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya
sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan
berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-
pengetahuan baru di lapangan.

METODE PEMBELAJARAN KONSEPTUAL (CTL)

1. Pengertian

Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran
berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual
(Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Strategi CTL fokus pada
siswa sebagai pembelajar yang aktif, dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-
peluang belajar bagi mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka
untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks.

Terkait dengan CTL ini, para ahli menyebutnya dengan istilah yang berbeda-beda, seperti:
pendekatan pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran kontekstual, dan model
pembelajaran kontekstual. Apapun istilah yang digunakan para ahli tersebut, pada dasarnya
kontekstual berasal dari bahasa Inggris contextual yang berarti sesuatu yang berhubungan
dengan konteks. Oleh sebab itu pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran
yang mana guru menggunakan pengalaman siswa yang pernah dilihat atau dilakukan dalam
kehidupannya sebagai sumber belajar pendukung. Pembelajaran dapat mendorong siswa
membuat hubungan antara materi yang dipelajari, pengalaman yang dimiliki dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan
bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun
pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami
dalam kehidupannya. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi
yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada KTSP. Kehadiran kurikulum
berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan
terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual.

2. Karakteristik Metode pembelajaran CTL

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut.

a. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan


pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang
dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah.
b. Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang
bermakna.
c. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
d. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar
teman.
e. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja
sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam.
f. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama.
g. Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan.

Secara lebih sederhana karakteristik pembelajaran kontekstual dapat dinyatakan


menggunakan sepuluh kata kunci yaitu: kerja sama, saling menunjang, menyenangkan,
belajar dengan gairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif,
sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif.

3. Implementasi Pembelajaran Kontekstual di Kelas

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama. Kelas dikatakan menerapkan CTL jika
menerapkan ke tujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Secara garis besar langkah-
langkah penerapatan CTL dalam kelas sebagai berikut.

1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, menemukan sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan
barunya.
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik.

3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

4) Ciptakan masyaraka belajar (belajar dalam kelompok).

5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

4. Strategi Pembelajaran CTL

Beberapa strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara konstektual antara
lain:

a. Pembelajaran berbasis masalah


Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir
kritis untuk memecahkan.
b. Menggunakan konteks yang beragam
Dalam CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang
diperoleh siswa menjadi berkualitas.
c. Mempertimbangkan kebhinekaan siswa
Guru mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual dan social
seyogianya dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar saling menghormati
dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan interpersonal.
d. Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri
Pendidikan formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara
belajar untuk belajar mandiri dikemudian hari.
e. Belajar melalui kolaborasi
Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya
dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
f. Menggunakan penelitian autentik
Penilaian autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan
konstektual dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan
potensi yang dimilikinya.
g. Mengejar standar tinggi
Setiap seyogyanya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu kewaktu terus
ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking dengan melukan
study banding keberbagai sekolah dan luar negeri.

Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD) Penerapan strategi
pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:

a. Relating
Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman nyata, konteks merupakan
kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu peserta didik agar yang
dipelajarinya bermakna.
b. Experiencing
Belajar adalah kegiatan mengalami peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang
dipelajarinya dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha
menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.
c. Applying
Belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dengan
dalam konteks dan pemanfaatanya.
d. Cooperative
Belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan kelompok,
komunikasi interpersonal atau hubunngan intersubjektif.
e. Trasfering
Belajar menenkankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam
situasi atau konteks baru.

5. Keuntungan dan Kerugian Metode Pembelajaran CTL

Ada beberapa kelebihan dalam pembelajaran CTL, yaitu:


1. Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang
berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada
siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan
menghafalkan.
3. Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang
dipelajari.
4. Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada
guru.
5. Menumbuhkan kemampuan dalam bekerjasama dengan teman yang lain.
6. Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dari kegiatan pembelajaran.

Sedangkan kelemahan dalam pembelajaran CTL yaitu :


1. Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pebealajaran, tidak mendapatkan pengetahuan
dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya karena siswa tidak mengalami
sendiri.
2. Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik siswa karena
harus menyesuaikan dengan kelompolnya.
3. Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerjasama dengan yang lainnya,
karena siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihan siswa yang lain dalam
kelompoknya.

Anda mungkin juga menyukai