Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka meningkatkan sistem usaha pembangunan masyarakat
supaya lebih produktif dan efisien, diperlukan teknologi. Pengenalan
teknologi yang telah berkembang di dalam masyarakat adalah teknologi yang
telah dikembangkan secara tradisional, atau yang dikenal dengan "teknologi
tepat guna" atau teknologi sederhana dan proses pengenalannya banyak
ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian pokok masyarakat
tertentu.
Pertumbuhan dan perkembangan teknologi, ditentukan oleh kondisi dan
tingkat isolasi dan keterbukaan masyarakat serta tingkat pertumbuhan
kehidupan sosial ekonomi masyarakat tersebut. Untuk memperkenalkan
teknologi tepat guna perlu disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu kebutuhan
yang berorientasi kepada keadaan lingkungan geografis atau propesi
kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Teknologi yang demikian itu
merupakan barang baru bagi masyarakat dan perlu dimanfaatkan dan diketahui
oleh masyarakat tentang nilai dan kegunaannya. Teknologi tersebut
merupakan faktor ekstern dan diperkenalkan dengan maksud agar
masyarakatyang bersangkutan dapat merubah kebiasaan tradisional dalam
proses pembangunan atau peningkatan kesejahteraan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja lingkup dari obat pada ibu hamil ?
2. Apa saja lingkup dari vaksin pada ibu hamil ?
3. Apa saja lingkup dari imunisasi pada ibu hamil ?
4. Bagaimana perkembangan obat dan vaksin pada ibu hamil sesuai evidence
based?

1
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami mengenai obat pada ibu hamil.
2. Mahasiswa mampu memahami mengenai vaksin pada ibu hamil.
3. Mahasiswa mampu memahami mengenai imunisasi pada ibu hamil.
4. Mahasiswa mampu memahami mengenai perkembangan obat dan vaksin
dalam kehamilan sesuai evidence based baik nasional maupun
internasional.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Obat pada Ibu Hamil
Definisi Obat
Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk
manusia. (UU no.36 th.2009).
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi
(Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).

Manfaat Obat
1. Untuk pencegahan penyakit.
2. Menyembuhkan penyakit.
3. Memulihkan (rehabilitasi ) kesehatan.
4. Peningkatan kesehatan.
5. Mengurangi rasa sakit.
6. Penetapan diagnosa.

Farmakodinamika Obat Selama Kehamilan


a. Mekanisme kerja obat ibu hamil.
Efek obat pada jaringan reproduksi, uterus dan kelenjar susu, pada
kehamilan kadang dipengaruhi oleh hormon-hormon sesuai dengan fase
kehamilan. Efek obat pada jaringan tidak berubah bermakna karena
kehamilan tidak berubah, walau terjadi perubahan misalnya curah
jantung, aliran darah ke ginjal. Perubahan tersebut kadang
menyebabkan wanita hamil membutuhkan obat yang tidak dibutuhkan
pada saat tidak hamil. Contohnya glikosida jantung dan diuretik yang
dibutuhkan pada kehamilan karena peningkatan beban jantung pada
kehamilan. Atau insulin yang dibutuhkan untuk mengontrol glukosa
darah pada diabetes yang diinduksi oleh kehamilan ( Anonim, 2006).

3
b. Mekanisme kerja obat pada janin.
Beberapa penelitian untuk mengetahui kerja obat di janin
berkembang dengan pesat, yang berkaitan dengan pemberian obat pada
wanita hamil yang ditujukan untuk pengobatan janin walaupun
mekanismenya masih belum diketahui jelas. Contohnya kortikosteroid
diberikan untuk merangsang matangnya paru janin bila ada prediksi
kelahiran prematur. Contoh lain adalah fenobarbital yang dapat
menginduksi enzim hati untuk metabolisme bilirubin sehingga
insidensjaundice ( bayi kuning) akann berkurang. Selain itu
fenobarbital juga dapat menurunkan risiko perdarahan intrakranial bayi
kurang umur. Anti aritmia juga diberikan pada ibu hamil untuk
mengobati janinnya yang menderita aritmia jantung ( Anonim, 2006).
c. Kerja obat teratogenik.
Penggunaan obat pada saat perkembangan janin dapat
mempengaruhi struktur janin pada saat terpapar. Thalidomid adalah
contoh obat yang besar pengaruhnya pada perkembangan anggota
badan (tangan, kaki) segera sesudah terjadi pemaparan. Pemaparan ini
akan berefek pada saat waktu kritis pertumbuhan anggota badan yaitu
selama minggu ke empat sampai minggu ke tujuh kehamilan.
Mekanisme berbagai obat yang menghasilkan efek teratogenik belum
diketahui dan mungkin disebabkan oleh multi factor, sebagai berikut
( Anonim, 2006) :
1. Obat dapat bekerja langsung pada jaringan ibu dan juga secara tidak
langsung mempengaruhi jaringan janin.
2. Obat mungkin juga menganggu aliran oksigen atau nutrisi lewat
plasenta sehingga mempengaruhi jaringan janin.
3. Obat juga dapat bekerja langsung pada proses perkembangan
jaringan janin, misalnya vitamin A (retinol) yang memperlihatkan
perubahan pada jaringan normal. Dervat vitamin A (isotretinoin,
etretinat) adalah teratogenik yang potensial.

4
4. Kekurangan substansi yang esensial diperlukan juga akan berperan
pada abnormalitas. Misalnya pemberian asam folat selama
kehamilan dapat menurunkan insiden kerusakan pada selubung
saraf , yang menyebabkan timbulnya spina bifida.
Paparan berulang zat teratogenik dapat menimbulkan efek
kumulatif. Misalnya konsumsi alkohol yang tinggi dan kronik pada
kehamilan, terutama pada kehamilan trimester pertama dan kedua akan
menimbulkan fetal alcohol syndrome yang berpengaruh pada sistem
saraf pusat, pertumbuhan dan perkembangan muka ( Anonim, 2006).
Sumber : Anonim, 2006, Pedoman Pelayanan Farmasi Untuk Ibu Hamil Dan Menyusui, Direktorat
Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan
Departemen Kesehatan RI.

Pengaruh Obat Pada Janin


Pengaruh buruk obat terhadap janin dapat bersifat toksik, teratogenik
maupun letal, tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan paga saat
minum obat. Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum selama masa
kehamilan menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik atau bio-kimiawi
dari janin yang dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul beberapa
saat setelah kelahiran. Pengaruh obat bersifat teratogenik jika
menyebabkan terjadinya malformasi anatomik pada petumbuhan organ
janin. Pengaruh teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis subletal.
Sedangkan pengaruh obat yang bersifa letal, adalah yang mengakibatkan
kematian janin dalam kandungan ( Anonim, 2008).
Secara umum pengaruh buruk obat pada janin dapat beragam, sesuai
dengan fase-fase berikut ( Anonim, 2008):
1. Fase implantasi, yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu.
Pada fase ini obat dapat memberi pengaruh buruk atau mungkin tidak
sama sekali. Jika terjadi pengaruh buruk biasanya menyebabkan
kematian embrio atau berakhirnya kehamilan (abortus).

5
2. Fase embional atau organogenesis, yaitu pada umur kehamilan antara 4-
8 minggu. Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk
terjadinya malformasi anatomik (pengaruh teratogenik). Berbagai
pengaruh buruk yang mungkin terjadi pada fase ini antara lain :
a) Gangguan fungsional atau metabolik yang permanen yang biasanya
baru muncul kemudian, jadi tidak timbul secara langsung pada saat
kehamilan. Misalnya pemakaian hormon dietilstilbestrol pada
trimester pertama kehamilan terbukti berkaitan dengan terjadinya
adenokarsinoma vagina pada anak perempuan di kemudian hari
(pada saat mereka sudah dewasa).
b) pengaruh letal, berupa kematian janin atau terjadinya abortus.
c) pengaruh sub-letal, yang biasanya dalam bentuk malformasi
anatomis pertumbuhan organ, seperti misalnya fokolemia karena
talidomid.
3. Fase fetal, yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Dalam fase
ini terjadi maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin. Pengaruh
buruk senyawa asing terhadap janin pada fase ini tidak berupa
malformasi anatomik lagi. tetapi mungkin dapat berupa gangguan
pertumbuhan, baik terhadap fungsi-fungsi fisiologik atau biokimiawi
organ-organ. Demikian pula pengaruh obat yang dialami ibu dapat pula
dialami janin, meskipun mungkin dalam derajat yang berbeda. Sebagai
contoh adalah terjadinya depresi pernafasan neonatus karena selama
masa akhir kehamilan, ibu mengkonsumsi obat-obat seperti analgetika-
narkotik; atau terjadinya efek samping pada sistem ekstrapiramidal
setelah pemakaian fenotiazin.
Dalam upaya mencegah terjadinya yang tidak diharapkan dari obat-
obat yang diberikan selama kehamilan, maka oleh U.S. Food and Drug
Administration (FDA-USA) maupun Australia Drug Evaluation
Commitee, obat-obat dikategorikan sebagai berikut ( Anonim, 2008):
1) Kategori A:
Yang termasuk dalam kategori ini adalah obat-obat yang telah
banyak digunakan oleh wanita hamil tanpa disertai kenaikan

6
frekuensi malformasi janin atau pengaruh buruk lainnya. Obat-obat
yang termasuk dalam kategori A antara lain adalah parasetamol,
penisilin, eritromisin, glikosida jantung, isoniazid serta bahan-bahan
hemopoetik seperti besi dan asam folat.
2) Kategori B:
Obat kategori B meliputi obat-obat yang pengalaman
pemakainya pada wanita hamil masih terbatas, tetapi tidak terbukti
meningkatkan frekuensi malformasi atau pengaruh buruk lainnya
pada janin. Mengingat terbatasnya pengalaman pemakaian pada
wanita hamil, maka obat-obat kategori B dibagi lagi berdasarkan
temuan-temuan pada studi toksikologi pada hewan, yaitu :
B1: Dari penelitian pada hewan tidak terbukti meningkatnya
kejadian kerusakan janin (fetal damage). Contoh obat-obat yang
termasuk pada kelompok ini misalnya simetidin, dipiridamol, dan
spektinomisin.
B2: Data dari penilitian pada hewan belum memadai, tetapi ada
petunjuk tidak meningkatnya kejadian kerusakan janin, tikarsilin,
amfoterisin, dopamin, asetilkistein, dan alkaloid belladona adalah
obat-obat yang masuk dalam kategori ini.
B3: Penelitian pada hewan menunjukkan peningkatan kejadian
kerusakan janin, tetapi belum tentu bermakna pada manusia. Sebagai
contoh adalah karbamazepin, pirimetamin, griseofulvin, trimetoprim,
dan mebendazol.
3) Kategori C:
Merupakan obat-obat yang dapat memberi pengaruh buruk pada
janin tanpa disertai malformasi anatomic semata-mata karena efek
farmakologiknya. Umumnya bersifat reversibel (membaik kembali).
Sebagai contoh adalah analgetika-narkotik, fenotiazin, rifampisin,
aspirin, antiinflamasi non-steroid dan diuretika.
4) Kategori D

7
Obat-obat yang terbukti menyebabkan meningkatnya kejadian
malformasi janin pada manusia atau menyebabkan kerusakan janin
yang bersifat ireversibel (tidak dapat membaik kembali). Obat-obat
dalam kategori ini juga mempunyai efek farmakologik yang
merugikan terhadap janin. Misalnya: androgen, fenitoin, pirimidon,
fenobarbiton, kinin, klonazepam, valproat, steroid anabolik, dan
antikoagulansia.
5) Kategori X
Obat-obat yang masuk dalam kategori ini adalah yang telah
terbukti mempunyai risiko tinggi terjadinya pengaruh buruk yang
menetap (irreversibel) pada janin jika diminum pada masa
kehamilan. Obat dalam kategori ini merupakan kontraindikasi
mutlak selama kehamilan. Sebagai contoh adalah isotretionin dan
dietilstilbestrol.

Pemakaian Beberapa Obat Analgetika, Antiinflamasi dan Antibiotik


Selama Kehamilan
1. Analgetika
Keluhan nyeri selama masa kehamilan umum dijumpai. Hal ini
berkaitan dengan masalah fisiologis dari si ibu, karena adanya tarikan
otot-otot dan sendi karena kehamilan, maupun sebab-sebab yang lain.
Untuk nyeri yang tidak berkaitan dengan proses radang, pemberian obat
pengurang nyeri biasanya dilakukan dalam jangka waktu relative
pendek. Untuk nyeri yang berkaitan dengan proses radang, umumnya
diperlukan pengobatan dalam jangka waktu tertentu. Penilaian yang
seksama terhadap penyebab nyeri perlu dilakukan agar dapat ditentukan
pilihan jenis obat yang paling tepat.
a. Analgetika-narkotika
Semua analgetika-narkotika dapat melintasi plasenta dan dari
berbagai penelitian pada hewan uji, secara konsisten obat ini
menunjukkan adanya akumulasi pada jaringan otak janin. Terdapat

8
bukti meningkatkan kejadian permaturitas, retardasi pertumbuhan
intrauteri, fetal distress dan kematian perinatal pada bayi-bayi yang
dilahirkan oleh ibu yang sering mengkonsumsi analgetika-narkotik.
Keadaan withdrawl pada bayi-bayi yang baru lahir tersebut biasanya
manifes dalam bentuk tremor, iritabilitas, kejang, muntah, diare dan
takhipnoe.
Metadon, jika diberikan pada kehamilan memberi gejala
withdrawal yang munculnya lebih lambat dan sifatnya lebih lama
dibanding heroin. Beratnya withdrawal karena metadon nampaknya
berkaitan dengan meningkatnya dosis pemeliharaan pada ibu sampai
di atas 20 mg/hari
Petidin, dianggap paling aman untuk pemakaian selam proses
persalinan. Tetapi kenyataannya bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu
yang mendapat petidin selama proses kelahiran menunjukkan skala
neuropsikologik yang lebih rendah disbanding bayi-bayi yang ibunya
tidak mendapat obat ini, atau yang mendapat anestesi lokal. Dengan
alasan ini maka pemakaian petidin pada persalinan hanya dibenarkan
apabila anestesi epidural memang tidak memungkinkan.
b. Analgetika-antipiretik
Parasetamol, merupakan analgetika-antipiretik yang relatif paling
aman jika diberikan selama kehamilan. Meskipun kemungkinan
terjadinya efek samping hepatotoksisitas tetap ada, tetapi umumnya
terjadi pada dosis yang jauh lebih besar dari yang dianjurkan.
Antalgin, dikenal secara luas sebagai pengurang rasa nyeri derajat
ringan. Salah satu efek samping yang dikhawatirkan pada
penggunaan antalgin ini adalah terjadinya agranulositosis. Meskipun
angka kejadiannya relatif sangat jarang, tetapi pemakaian selama
kehamilan sebaiknya dihindari.
2. Anti-Inflamasi
Dengan dasar mekanisme kerjanya yaitu menghambat sintesis
prostaglandin, efek samping obat-obat antiinflamasi non-steroid

9
kemungkinan lebih sering terjadi pada trimester akhir kehamilan. Dengan
terhambatnya sintesis prostaglandin, pada janin akan terjadi penutupan
duktus arteriosus Botalli yang terlalu dini, sehingga bayi yang dilahirkan
akan menderita hipertensi pulmonal. Efek samping yang lain adalah
berupa tertunda dan memanjangnya proses persalinan jika obat ini
diberikan pada trimester terakhir.
Sejauh ini tidak terdapat bukti bahwa antiiflamasi non-steroid
mempunyai efek teratogenik pada janin dalam bentuk malformasi
anatomik. Namun demikian, pemberian obat-obat tersebut selama
kehamilan hendaknya atas indikasi yang ketat disertai beberapa
pertimbangan pemilihan jenis obat. Pertimbangan ini misalnya dengan
memilih obat yangmempunyai waktu paruh paling singkat, dengan risiko
efek samping yang paling ringan.
Tabel data obat-obat analgesic beserta keamanannya pada kehamilan:

Obat Kategori
Paracetamol B
Amitriptiline D
Mexiletine B
Aspirin/ NSAIDs D
Clonidine B
Codein C/ jangka panjang D
Clonazepam C
Carbamazepin C
Flecainide C
Valproate D
Gabapentin C
Ergotamine X
Sumatriptan C
Baclofen
Sumber : Anonim, 2008, Farmakoterapi Pada Kehamilan, Bagian Farmakologi Klinik Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
3. Antibiotik
Antibiotika banyak digunakan secara luas pada kehamilan. Karena adanya
efek samping yang potensial bagi ibu maupun janinnya, penggunaan

10
antibiotika seharusnya digunakan jika terdapat indikasi yang jelas. Prinsip
utama pengobatan wanita hamil dengan penyakit adalah dengan memikirkan
pengobatan apakah yang tepat jika wanita tersebut tidak dalam keadaan
hamil. Biasanya terdapat berbagai macam pilihan, dan untuk alasan inilah
prinsip yang kedua adalah mengevaluasi keamanan obat bagi ibu dan
janinnya.
Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas infeksi
mikroba pada manusia. Sedang antibiotika adalah senyawa kimia yang
dihasilkan oleh mikroorganisme (khususnya dihasilkan oleh fungi) atau
dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau menghambat
perkembangan bakteri dan organisme lain. Infeksi merupakan penyebab
utama kematian prematur pada bayi. Meskipun terapi profilaksis antibiotik
belum terbukti bermanfaat, pemberian obat-obat antibiotik kepada ibu hamil
dengan ketuban pecah dini dapat memperlambat kelahiran dan menurunkan
insidens infeksi.
Kehamilan akan mempengaruhi pemilihan antibiotik. Umumnya penisilin
dan sefalosporin dianggap sebagai preparat pilihan pertama pada kehamilan,
karena pemberian sebagian besar antibiotik lainnya berkaitan dengan
peningkatan risiko malformasi pada janin. Bagi beberapa obat antibiotik,
seperti eritromisin, risiko tersebut rendah dan kadang-kadang setiap risiko
pada janin harus dipertimbangkan terhadap keseriusan infeksi pada ibu.
Beberapa jenis antibiotika dapat menyebabkan kelainan pada janin. Hal ini
terjadi karena antibiotika yang diberikan kepada wanita hamil dapat
mempengaruhi janin yang dikandungnya melalui plasenta. Antibiotika yang
demikian itu disebut teratogen.
Definisi teratogen adalah suatu obat atau zat yang menyebabkan
pertumbuhan janin yang abnormal. Kata teratogen berasal dari bahasa
Yunani teras, yang berarti monster, dan genesis yang berarti asal. Jadi
teratogenesis didefinisikan sebagai asal terjadinya monster atau proses
gangguan proses pertumbuhan yang menghasilkan monster. Pada manusia,
periode terjadinya teratogenesis adalah mulai hari ke 17 sampai hari ke 54
post konsepsi.

11
Besarnya reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh antibiotika
dipengaruhi oleh :
- Besarnya dosis yang diberikan,
- Lama dan saat pemberian
- Sifat genetik ibu dan janin
- Jenis antibiotic
- Trimester kehamilan
Durasi penggunaan obat merupakan faktor penting untuk diingat.
Penggunaan antibiotik dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan
kecacatan pada janin dan dalam kasus yang lebih buruk bisa menyebabkan
keguguran. Selain itu, perhatikan trimester kehamilan Anda. Pasalnya,
beberapa jenis antibiotik lebih aman digunakan pada trimester tertentu.
Untuk keadaan hamil, apalagi masih dalam trimester ketiga, pemberian
antibiotik bisa sangat membahayakan janin, karena hampir semua antibiotik
memberikan efek samping mual, muntah, pusing dan gangguan sistem
pencernaan. Efek-efek samping yang ditimbulkan juga akan menekan
kehamilan. Bahkan ada antibiotik yang bisa menembus sampai ke sistem
kelenjar / cairan, seperti liur, kelenjar getah bening, cairan otak dan ASI.
Jika pada masa menyusui minum antibiotik, maka obat akan merembes
di ASI dan bayi akan minum ASI bercampur obat.

Namun bukan berarti ibu hamil dan menyusui tidak boleh minum obat
antibiotik, harus hati-hati dan perhatikan petunjuk dokter tentang cara
pemakaiannya. Seorang dokter pasti lebih tahu bagaimana sebaiknya
meminum antibiotik untuk ibu hamil atau menyusui.
Ibu hamil sebaiknya menghindari antibiotik yang diresepkan untuk
mengatasi tuberculosis, infeksi saluran pernafasan dan jerawat. Pasalnya,
obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi tuberculosis bisa
menyebabkan ketulian pada anak. Selain itu, beberapa jenis antibiotik
tersebut bisa menghitamkan gigi bayi.
Penisilin merupakan obat-obatan yang paling umum digunakan selama
kehamilan. Antibiotik ini dipasarkan dengan beberapa nama seperti
cephradine, cefalexin, cefuroxime, cefaclor, dan lain-lain. Obat yang umum

12
digunakan ini mengandung cloxacillin, amxycillin, dan methicillin. Obat-
obatan ini dinyatakan aman selama kehamilan.
Berikut beberapa contoh antibiotik yang dinyatakan aman digunakan
selama kehamilan:
*Amoxicillin
*Ampicillin
*Clindamycin
*Erythromycin
*Penicillin
Adapun beberapa golongan antibiotic yang memerlukan perhatian khusus
bagi ibu hamil adalah :
1.) Golongan Aminoglikosida (biasanya dalam turunan garam sulfate-nya),
seperti amikacin sulfate, tobramycin sulfate, dibekacin sulfate, gentamycin
sulfate, kanamycin sulfate, dan netilmicin sulfate.
2.) Golongan Sefalosporin, seperti : cefuroxime acetyl, cefotiam diHCl,
cefotaxime Na, cefoperazone Na, ceftriaxone Na, cefazolin Na, cefaclor dan
turunan garam monohydrate-nya, cephadrine, dan ceftizoxime Na.
3.)Golongan Chloramfenicol, seperti : chloramfenicol, dan thiamfenicol.

4.)Golongan Makrolid, seperti : clarithomycin, roxirhromycin,


erythromycin, spiramycin, dan azithromycin.
5.) Golongan Penicillin, seperti : amoxicillin, turunan tridydrate dan turunan
garam Na-nya.
6.) Golongan Kuinolon, seperti : ciprofloxacin dan turunan garam HCl-nya,
ofloxacin, sparfloxacin dan norfloxacin.
7.) Golongan Tetracyclin, seperti : doxycycline, tetracyclin dan turunan
HCl-nya (tidak boleh untuk wanita hamil), dan oxytetracylin (tidak boleh
untuk wanita hamil).
Sumber : Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. 2007. Departemen Farmakologi Dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Penggunaan Obat dalam Kehamilan.


A. Calk (Kalsium)

13
1) Latar Belakang Pengkonsumsian Suplemen Kalsium dalam
Kehamilan
Kesehatan ibu dan bayi baru lahir masih memiliki beban
penyakit yang masih tinggi. Pada tahun 2010, 3,1 juta bayi
meninggal di pertama 28 hari hidup, sebagian besar karena berat
badan lahir rendah, infeksi berat, asfiksia dan kelahiran prematur.
Setiap tahun, 15 juta bayi lahir prematur, dari 1,1 juta meninggal
pada periode neonatal atau pada masa bayi. Selain itu, banyak dari
mereka yang bertahan hidup namun memiliki cacat seumur hidup
seperti ketidakmampuan belajar dan / atau masalah visual dan
pendengaran.
Sekitar 287.000 perempuan meninggal selama kehamilan dan
persalinan pada tahun 2010, sebagian besar karena komplikasi yang
terjadi pada kesehatan ibu. Seperti Hipertensi dalam kehamilan,
hipertensi kronis dan hipertensi gestasional, pre-eklampsia dan
eklampsia. Komplikasi ini mempersulit sekitar 2-8% dari seluruh
kehamilan dan telah dikaitkan dengan prematur dan berat badan lahir
rendah dan kematian ibu. Pre-eklampsia dapat terdiagnosa ketika
hipertensi gestasional (tekanan darah ibu 140 / 90 mmHg untuk
pertama kalinya di paruh kedua kehamilan) disertai dengan
proteinuria >300 mg dalam waktu 24 jam. Patogenesis preeklamsia
belum sepenuhnya dijelaskan, namun, hal itu berkaitan dengan
gangguan pada plasentasi pada awal kehamilan, diikuti oleh
peradangan umum dan kerusakan endotel progresif. Pre-eklampsia
dapat diklasifikasikan sebagai ringan atau berat. Dalam parah pre-
eklampsia, tekanan darah 160 / 110 mmHg dan ada proteinuria 2 g
/ 24 jam, dengan atau tanpa ibu substansial kerusakan organ.
Kerusakan akhir organ seperti hasil dari pre-eklampsia dapat hadir
dengan hemolisis, peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit
yang rendah, konstelasi gejala yang dikenal sebagai sindrom HELLP.

14
Ini adalah langka kondisi yang terjadi pada 10-20% kasus dengan
berat pre-eklampsia.
Kalsium adalah mineral yang paling berlimpah di dalam tubuh
dan sangat penting untuk banyak proses yang beragam, termasuk
pembentukan tulang, kontraksi otot, dan enzim dan fungsi hormon.
Sebagian besar kalsium tubuh ditemukan dalam tulang dan gigi;
sekitar 1% hadir dalam intraseluler, membran sel dan cairan
ekstrasel.
Penyerapan kalsium meningkat selama kehamilan dan tidak
ada asupan tambahan yang diperlukan. Sebuah diet asupan 1200
mg / hari kalsium untuk wanita hamil dianjurkan oleh WHO dan
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa
(FAO). Jika ibu hamil tidak mengonsumsi suplemen kalsium ini
dapat menyebabkan dampak pada ibu dan janin, termasuk
osteopenia, tremor, parestesia, kram otot, tetanus, pertumbuhan janin
tertunda, rendah berat lahir dan kekurangan mineralisasi pada janin.
Konsentrasi serum kalsium dipertahankan dalam batas yang
kecil dalam tubuh dan dengan demikian memiliki penggunaan yang
terbatas untuk penilaian kalsium status gizi baik pada individu dan
tingkat populasi. Asupan Kalsium bisa menjadi indikator yang
berguna sebagai status pada tingkat populasi. Sumber makanan
utama dari nutrisi ini adalah susu, produk susu, tofu kalsium-set dan
makanan yang diperkaya; beberapa makanan lokal seperti kapur-
diperlakukan makan jagung juga memiliki kalsium berlimpah. Tidak
ada informasi mengenai kecukupan asupan kalsium di seluruh dunia.
Namun, beberapa studi di tingkat regional dan nasional menyarankan
bahwa asupan kalsium yang rendah pada tingkat populasi sering
terjadi.
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa suplementasi
kalsium selama kehamilan memiliki efek menguntungkan untuk
mengurangi risiko kehamilan yang diinduksi hipertensi. Hasil uji

15
coba mengevaluasi dampak dari suplementasi pada kepadatan
mineral tulang ibu, mineralisasi janin, dan kelahiran prematur,
Namun, kurang meyakinkan. Konsumsi berlebihan kalsium mungkin
meningkatkan risiko batu kemih dan infeksi saluran kemih, dan
mengurangi penyerapan mikronutrien penting lainnya.
Dalam suplemen, kalsium hadir dalam bentuk karbonat, sitrat,
laktat atau glukonat, dan secara umum semua bentuk ini memiliki
bioavailabilitas yang baik. Setidaknya satu garam kalsium untuk
pemberian oral (dalam berbagai dosis) termasuk dalam daftar obat
esensial nasional sebagian besar, kalsium karbonat yang paling
umum. Kalsium karbonat memiliki kandungan terbanyak unsur
kalsium (40%), mungkin memiliki rasio efektivitas dalam
kehamilan, tapi ini perlu dikonfirmasi dalam analisis masa depan.
2) Cara Pengonsumsian Suplemen Kalsium menurut WHO
Dalam masyarakat pengonsumsian asupan kalsium rendah,
sehingga suplemen kalsium sebagai bagian dari perawatan antenatal
dianjurkan untuk pencegahan preeklampsia untuk wanita hamil,
khususnya di antara mereka yang lebih tinggi risiko hipertensi.

Tabel ini mengulas tentang saran cara untuk suplemen kalsium pada ibu hamil

Dosis 1,5-2,0 g elemental* kalsium / hari

Frekuensi dan Setiap hari, dengan total dosis harian dibagi menjadi tiga
Jumlah pemberian dosis (sebaiknya diambil pada waktu makan)

Wajtu Pemberian Dari usia kehamilan 20 minggu sampai akhir kehamilan.

Kelompok sasaran Semua wanita hamil, terutama yang tinggi risiko kehamilan
dengan hipertensi

1 gram elemental kalsium sama dengan 2,5 gram kalsium


karbonat atau 4 gram kalsium sitrat. Pada saat kunjungan antenatal
bidan memberikan tablet kalsium ini sesuai dengan dosis yang sudah
ada.

16
(Sumber : WHO. 2013. Guideline : Calcium Supplementation in Pregnant Women. Geneva,
World Health Organization.)
Ada dua pedoman WHO baru-baru ini yang menilai
penggunaan suplemen kalsium pada wanita hamil:
1. WHO merekomendasikan untuk pencegahan dan pengobatan pre-
eklampsia dan eklampsia, diterbitkan pada tahun 2011.
2. Suplementasi kalsium pada wanita hamil, dikembangkan pada
tahun 2012.
Dalam kedua pedoman, WHO membuat rekomendasi kuat
untuk suplementasi untuk ibu hamil dengan 1,5 gram sampai 2,0
gram kalsium elemental per hari di daerah di mana asupan kalsium
rendah dan untuk perempuan berisiko tinggi gangguan hipertensi
selama kehamilan.
(Sumber : Dr.De-Regil Luz Maria, dkk. Calsium Supplementation in Pregnant Women.
Switzerland. Department of Nutrition For Health and Development (WHO))

3) Implikasi Untuk Pengkonsumsian Suplemen Masa Depan


Diskusi dengan anggota Gizi Bimbingan Advisory Group dan
pemangku kepentingan menyoroti bahwa bukti masih memiliki
keterbatasan yang tersedia di beberapa daerah, sehingga akan
melakukan penelitian lebih lanjut tentang suplemen kalsium pada
wanita hamil, khususnya, dalam bidang berikut :
1. Mekanisme biologis yang mendasari hubungan antara kalsium
suplementasi, pre-eklampsia dan HELLP (hemolisis, peningkatan
hati enzim, jumlah trombosit rendah) sindrom;
2. Dosis minimal dan dimulainya suplemen bekerja optimal untuk
mencapai efek positif pada pre-eklampsia dan hasil kehamilan
lainnya seperti kelahiran prematur;
3. Efek suplementasi kalsium pada hasil ibu dan bayi di hubungkan
dengan nutrisi lain (misalnya vitamin D) atau sebagai bagian dari
suplemen dengan beberapa vitamin dan mineral;
4. Efek dari suplementasi kalsium kehamilan di kalangan remaja;

17
5. Efek jangka panjang dari suplemen kalsium selama kehamilan
pada ibu dan bayi kesehatan;
6. Manfaat tambahan dari suplemen kalsium pada ibu hamil yang
sudah menerima pengobatan antihipertensi;
7. Penelitian operasional mekanisme penyampaian menilai,
kepatuhan, penerimaan dan biaya penyediaan terpisah terhadap
beberapa mikronutrien. Program suplementasi kalsium perlu
pemantauan yang hati-hati dan evaluasi untuk menilai
keberhasilan dan kegagalan mereka dalam hal integrasi ke paket
perawatan antenatal secara keseluruhan.
(Sumber : WHO. 2013. Guideline : Calcium Supplementation in Pregnant Women. Geneva,
World Health Organization.)

B. Asam Folat (Vitamin B9)


1) Sejarah Penggunaan Asam Folat
Penelitian awal yang dilakukan Lucy Wills pada tahun 1931
menyatakan bahwa asam folat sebagai nutrisi penting untuk mencegah
anemia selama kehamilan. Lucy wills menunjukkan bahwa anemia
dapat dicegah dengan brewers yeast. Asam Folat ditemukan sebagai zat
penting pada brewers yeast pasda akhir tahun 1930 an dan diekstraksi
dari daun bayam pada tahun 1941. Sedangkan asam folat sintetik
pertama dibuat oleh yellapragada Subbarao pada tahun 1941.Neural
tube defect merupakan cacat lahir yang paling umum dan sangat serius.
Kelainan ini mengenai sumsum tulang (spina bifida) dan otak
(anensephalus). Di Amerika Serikat, Neural Defect terjadi pada 3000
kehamilan setiap tahunnya dan indsidensinya menurun sekitar 50%
pada kurun waktu 1970 dan 1989.
Sumber: Badan POM. Naturakos. Vol III/no 7. POM; 2008. (accesed 9 september
2015).
2) Manfaat Asam Folat (Vitamin B9)

18
Adapun peranan utama asam folat di dalam tubuh yaitu :
a) Mencegah anemia
Defisiensi asam folat akan menyebabkan sel-sel darah merah
yang dihasilkan menjadi lebih sedikit jumlahnya, namun memiliki
ukuran yang lebih besar daripada normal. Kondisi semacam ini
disebut sebagai anemia megaloblastik atau anemia makrositik, yaitu
suatu kondisi yang sama persis seperti anemia yang terjadi akibat
defisiensi vitamin B12. Keadaan anemia dapat menyebabkan fungsi
sel darah merah menjadi menurun. Suplay oksigen yang harus
diberikan kepada sel-sel tubuh yang lain menjadi berkurang.
Keadaan rendah oksigen dapat menyebankan gejala-gejala kelelahan,
lemah dan lesu, nafas pendek dan terengah-engah.

b) Mencegah penyakit NTD (Neural Tube Defects)


Asupan folat yang cukup pada saat kehamilan sangat penting
untuk sintesis DNA dan RNA. Neural tube defects adalah penyakit
cacat lahir yang terjadi pada susunan saraf pusat. NTD terjadi
apabila selongsong saraf tidak dapat membungkus dengan sempurna
selama janin dalam kandungan. Penutupan selongsong saraf pada
janin umumnya terjadi pada awal kehamilan. NTD yang terjadi dapat
dibagi menjadi dua jenis yaitu spina bifida dan anencephaly. Spina
bifida lebih umum terjadi daripada anencephaly. Spina bifida adalah
ungkapan bahasa latin yang berarti sumsum terbuka. Secara medis
istilah ini mengacu pada cacat lahir, yaitu sumsum tulang belakang
tidak terbungkus selongsong pelindung dan kelit secara sempurna.
Anencephaly adalah penghambatan perkembangan otak, tulang
tengkorak, dan sumsum tulang belakang. Penghambatan
pertumbuhan dapat menyebabkan kecacatan dan abnormalitas
susunan saraf pusat. Pada kasus yang sangat parah otak dan
tengkorak bahkan tidak terbentuk. Kecacatan dapat terjadi pada hari

19
ke-21 hingga ke-27 setelah terjadi pembuahan sel telur oleh sperma.
Pada saat tersebut umumnya seorang wanita belum menyadari
kehamilannya. Oleh karena itu kasus NTD dapat mencapai angka
yang amat tinggi dan terkadang tindakan pengobatan sudah sangat
terlambat untuk dilakukan.
3) Penggunaan Suplemen Asam Folat
Penggunaan terapi asam folat dalam klinik terbatas pada
pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin. Penggunaan asam folat
secara efektif tergantung pada keakuratan diagnosis dan pemahaman
mengenai mekanisme terjadinya penyakit. Prinsip-prinsip umum yang
perlu diperhatikan, pemberian asam folat profilaksis harus dengan
indikasi yang jelas, pada setiap pasien dengan defisiensi asam folat,
harus dicari penyebabnya dengan teliti, sebaiknya merupakan terapi
yang spesifik, dan folat tidak dapat memperbaiki kelainan neurologis,
yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12. Folat tersedia sebagai
asam folat dalam bentuk tablet dan dalam bentuk injeksi asam folat.
Selain itu terdapat pula dalam berbagai sediaan multivitamin dan
mineral. Suplemen asam folat diindikasi untuk anemia megaloblastik
dan makrositik akibat defisiensi folat, suplemen makanan untuk
mencegah neural tube defects. Secara unlabled digunakan sebagai
kofaktor terapi toksisitas metanol (alternatif untuk leucovorin).
Katagori (dewasa) Dosis
Anemia 0,4 mg / hari ( oral, I.M, I.V, S.C)
Tt Ibu hamil dan menyusui 0,8 mg / hari
RDA : dinyatakan setara dengan folat diet 400 mcg / hari
Suplemen asam folat juga digunakan untuk terapi pencegahan neural
tube defects.
Katagori Dosis
Wanita usia subur 4 mcg / hari (oral)
Wanita yang berisiko
tinggi atau dengan riwayat

20
keluarga Neural tube defects 4 mg / hari (oral)
Suplemen asam folat juga digunakan untuk pasien pediatric (anak-
anak).
Katagori (Pediatric) Dosis
Bayi 0,1 mg / hari
Anak-anak kurang dari 4 tahun Hingga 0,3 mg / hari
Anak-anak lebih dari 4 tahun Lihat dosis dewasa
1-3 tahun 150 mcg / hari
4-8 tahun 200 mcg / hari
9-13 tahun 300 mcg / hari
14 tahun Lihat dosis dewasa
Kebutuhan asam folat pada masa kehamilan dan menyusui
meningkat, kekurangan asam folat dapat menyebabkan kerusakan janin.
Asam folat kompatible dengan susu/ASI. Reaksi yang tidak diinginkan
dari pemberian asam folat yaitu reaksi alergi, bronkospasme, memerah
(sedikit), malaise (umum), pruritus, ruam.
Suplemen asam folat dapat mengalami interaksi Obat yaitu pada :
a) Fenobarbital: Asam folat dapat menurunkan konsentrasi serum
fenobarbital. Perlu dilakukan monitoring terapi.
b) Phenytoin: Asam folat dapat menurunkan konsentrasi serum
Fenitoin. Perlu dilakukan monitoringterapi.
c) Primidone: Asam folat dapat menurunkan konsentrasi serum
primidone. Selain itu, asam folat dapat menurunkan konsentrasi
metabolit aktif primidone (misalnya, fenobarbital). Perlu dilakukan
monitoring terapi.
d) Raltitrexed: Asam folat dapat mengurangi efek terapi Raltitrexed.
Hindari kombinasi obat.
Peran farmasis sangat dibutuhkan dalam hal ini misalnya dengan
menghindari peresepan obat yang dapat mengalami interaksi dengan
suplement asam folat, membutuhkan kemampuan menggali informasi
dari pasien terkait produk herbal yang mungkin juga digunakan oleh

21
pasien, melakukanmonitoring terapi dan respon yang merugikan yang
dilakukan secara teratur sepanjang terapi, menjelaskan penggunaan
suplemen dengan tepat, kemungkinan efek samping kepada pasien, dan
segera melaporkan apabila terjadi gejala yang merugikan / tidak
diinginkan.
Pasien juga perlu diedukasi agar tidak menggunakan obat lain
selama terapi kecuali disetujui oleh resep. Keracunan dapat terjadi dari
dosis tinggi. Farmasis juga perlu memberikan / merekomendasikan
terapi non farmakologi seperti meningkatan konsumsi makanan tinggi
asam folat (misalnya, kacang kering, kacang-kacangan, sereal, sayuran,
buah-buahan). Penggunaan alkohol yang berlebihan meningkatkan
kebutuhan asam folat. Dapat mengubah urin lebih intens kuning.
Melaporkan ruam kulit. Pencegahan pada kehamilan dengan
menginformasikan resep jika pasien sedang hamil. Suplemen asam folat
tersedia dalam bentuk injeksi folat natrium 5 mg / mL (10 mL)
mengandung alkohol benzil, edetate dinatrium. Selain itu juga dalam
bentuk tablet 0,4 mg, 0,8 mg, 1 mg.
Mekanisme aksi asam folat yaitu diperlukan untuk pembentukan
sejumlah koenzim dalam sistem metabolik, terutama untuk purin dan
sintesis pirimidin, diperlukan untuk sintesis nukleoprotein dan
pemeliharaan eritropoiesis, merangsang produksi WBC dan platelet
pada anemia akibat defisiensi folat. Asam folat meningkatkan
penghapusan asam format, metabolit toksik metanol (penggunaan
berlabel). Onset kerja: Efek Puncak: Oral: 0,5-1 jam, asam folat diserap
tubuh pada bagian proksimal dari usus kecil.
C. Vitamin C
1) Sejarah
Penyakit scurvy telah dikenal sejak abad ke-15 yaitu penyakit yang
banyak diderita oleh pelaut yang berlayar selama berbulan-bulan serta
bertahan dengan makanan yang dikeringkan dan biskuit. Penyakit ini
menyebabkan pucat, rasa lelah berkepanjangan diikuti oleh perdarahan

22
gusi, perdarahan di bawah kulit, edema, tukak, dan pada akhirnya
kematian.
Tahun 1750, Lind seorang dokter dari skotlandia menemukan bahwa
scurvy dapat dicegah dan diobati dengan memakan jeruk.
Tahun 1795. Admiral Inggris, menetapkan bahwa jeruk segar sebuah
per hari harus diberikan pada para pelaut yang berlayar dari Angkatan
Laut Inggris.
Tahun 1865. Kamar Dagang Inggris, memberlakukan wajib untuk
mengkonsumsi jeruk segar bagi pelaut dari kapal dagang.
Tahun 1932, Szent-Gyorgyi dan C. Glenn King berhasil mengisolasi
zat antiskorbut dari jaringan adrenal, jeruk, dan kol yang dinamakan
vitamin C. Albert Szent-Gyrgyi menerima penghargaan Nobel dalam
Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1937 untuk penemuan ini. Zat ini
kemudian berhasil disintesis pada tahun 1933 oleh Haworth dan Hirst
sebagai asam askorbat.
Tahun 1536, Jacques Cartier dari Quebec City, Kanada. Menemukan
cara untuk menyembuhkan sariawan dengan teh yang dibuat dari daun-
daunan dan belakangan diketahui daun-daunan tersebut kaya akan
vitamin C.
Tahun 1911. Teori tentang vitamin, dipublikasikan oleh ahli biokimia
Polandia tentang 4 senyawa dalam makanan alami yang bermanfaat
untuk mencegah beri-beri, ricket, pellagra, dan skorbut.
Tahun 1918. E.V.Mc.Collum, seorang warga Amerika memulai
pembauran sistem penamaan vitamin, yakni komponen A yang larut
dalam lemak.
Vitamin C untuk ibu hamil ternyata merupakan zat yang sangat
dibutuhkan. Seperti yang Anda ketahui, vitamin C merupakan vitamin
yang berperan penting dalam kesehatan. Begitu pula bagi ibu hamil, ada
banyak manfaat vitamin C bagi ibu yang sedang hamil, baik untuk sang
ibu ataupun untuk sang janin.

23
Pada masa kehamilan, hal tersebut merupakan hal yang sangat
membahagiakan. Pada awal kehamilan biasanya ibu hamil muda sering
mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C.
Ternyata kebiasaan ini memberikan dampak positif bagi kesehatan ibu
hamil.
2) Manfaat vitamin C pada ibu hamil
Pada usia trimester pertama kehamilan biasanya ditandai dengan
rasa mual atau bawaannya ingin makan yang asam-asam entah rujak
atau buah-buahan (jeruk, mangga, stroberi, jambu biji, dan lain-lain)
dan buah tersebut diketahuhi banyak mengandung Vitamin C.
Kebiasaan ini memberikan dampak positif mengingat pentingnya
peranan Vitamin C bagi kesehatan tubuh apalagi bagi ibu hamil.
Berikut ini beberapa manfaat Vitamin C bagi kehamilan yang perlu
Anda ketahui, diantaranya:
a) Meningkatkan fungsi paru-paru pada janin (terutama bagi ibu
hamil yang merupakan perokok). Bagi ibu hamil yang merokok,
dengan mengkonsumsi vitamin C yang cukup maka dapat
membantu dalam menjaga kesehatan paru-paru sang janin.
b) Membantu dalam proses penyerapan zat besi. Dengan begitu
kebutuhan zat besi yang cukup penting bagi ibu hamil dapat
terpenuhi dengan baik.
c) Sebagai sumber nutrisi mikro bagi janin dan sang ibu. Saat hamil,
ibu harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan vitamin.
d) Menjaga kebugaran serta kesehatan tubuh. Jika kekurangan
vitamin C maka sang ibu akan merasa lemas. Hal ini juga
berpengaruh terhadap kesehatan sang janin. Jika ibu sehat, maka
janin juga akan sehat
e) Melawan infeksi, membuang racun yang berbahaya untuk ibu dan
juga bayi serta membantu menjaga kekuatan plasenta.
Pada dasarnya vitamin C sangat baik bagi tubuh sehingga jika
terjadi kekurangan akan berdampak pada lemahnya daya imun,
sariawan, lemah, letih dan lesu, serta mudah terserang penyakit.

24
Mengkonsumsinya juga harus sesuai panduan dimana untuk pria
dewasa sekitar 95 mg/hari dan wanita dewasa 75mg/hari, berarti untuk
anak-anak dan ibu hamil tidak melebihi batas dosis tersebut.
Sumber: http://www.terapiozon.com/2015/06/manfaat-vitamin-c-bagi-ibu-hamil.html
3) Pengaruh Pemberian Suplemen Besi Dan Vitamin C Terhadap Daya
Tahan Aerob Dan Kadar Hemoglobin
a. Pemberian suplemen besi mampu meningkatkan kadar hemoglobin
secara signifikan.
b. Pemberian suplemen besi dengan vitamin C secara bersamaan
mampu memperbaiki penyerapan dari besi, dan menyebabkan
peningkatan kadar hemoglobin lebih tinggi dibandingkan tanpa
vitamin C.
c. Pemberian suplemen yang paling baik adalah besi dan vitamin C
yang diberikan secara bersamaan.
d. Pemberian suplemen besi mampu meningkatkan daya tahan aerob.
e. Vitamin C mampu meningkatkan penyerapan besi, sehingga besi
dalam darah meningkat yang akan meningkatkan sintesis
hemoglobin, oksigen yang terangkut menjadi lebih besar yang
akhirnya meningkatkan daya tahan aerob.
f. Hemoglobin mampu menjelaskan kenaikan daya tahan aerob sebesar
21%, adanya hubungan yang kuat antara hemoglobin dan daya tahan
aerob.

Perkembangan Pemberian Kalsium, Vitamin C dan Zat Besi pada Ibu


Hamil menurut Jurnal/Evidence Based Internasional maupun
Nasional
1. Vitamin C dan Zat Besi
Sampai saat ini masalah anemia pada kehamilan merupakan salah
satu masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial
ekonomi masyarakat dan pengaruhnya sangat besar terhadap kualitas
sumber daya manusia.Oleh karena itulah anemia memerlukan perhatian
serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan..
Menurut Word Health Organization (2008), prevalensi kejadian anemia

25
di dunia antara tahun 1993 sampai 2005 sebanyak 24.8 persen daritotal
penduduk dunia (hampir 2 milyar penduduk dunia). Laporan hasil Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 menunjukkan bahwa prevalensi
anemia ibu hamil pada tahun 2007 di DKI Jakarta sebesar (59.1%) atau
15 persen melebihi rata-rata prevalensi nasional (11.9%). Pemerintah
melakukan program penanggulangan anemia pada ibu hamil yaitu
dengan memberikan 90 tablet Fe kepada ibu hamil selama periode
kehamilanya dengan tujuan menurunkan angka anemia ibu hamil.
Tablet Fe memberikan dampak yang baik untuk membantu memenuhi
kebutuhan zat besi saat hamil, yaitu meningkat lebih tinggi
dibandingkan saat tidak hamil.
Yang masih menjadi masalah saat ini yaitu meskipun Pemerintah
sudah melakukan program pemberian tablet Fe pada ibu hamil, pada
kenyataannya masih banyak ibu hamil yang menderita anemia. Hal ini
salah satunya dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang cara
konsumsi tablet Fe yang benar dan juga masalah pendistribusiannya
yang kurang merata. sehingga data tentang anemia pada ibu hamil saat
ini juga masih tinggi. Sebenarnya apabila ibu hamil mengerti cara
konsumsi tablet Fe yang benar kemungkinan masalah anemia dapat
teratasi dan juga untuk masalah pendistribusiannya bila dilakukan
secara merata tentu juga akan mengurangi masalah anemia pada ibu
hamil.
Berdasarkan hasil survey, di India penggunaan tablet zat besi
memberikan efek positif pada ibu hamil yang mengonsumsi. Hal ini
sebagai upaya pencegahan anemia pada ibu hamil. Sehingga di India
setiap ibu hamil wajib mengonsumsi tablet Fe yang dikonsumsi
bersama dengan vit.C. hal ini bertujuan agar para ibu hamil tidak
menderita anemia.
Untuk cara pencegahan anemia pada ibu hamil kedua Negara
tersebut sama-sama menggunakan tablet zat besi (Fe) dan vit.c. Namun
yang membedakan yaitu cara pendistribusian dan konsumsi Fe. Di

26
Indonesia masih ada pendistribusian yang tidak merata terutama di
daerah-daerah terpencil yang jauh dengan pelayanan kesehatan,
sehingga masih ada ibu hamil yang belum mengonsumsi zat besi.
Sedangkan di India untuk pendistribusiannya sudah sangat baik, ini
didapatkan dari hasil survey tingkat anemia ibu hamil yang sangat
rendah.
Di negara Hebei, Cina, mengkonsumsi zat besi dapat meningkatkan
gerak motorik pada bayi.
Menurut John Wiley & Sons sesuai evidence based yang ada di luar
negeri mengkonsumsi suplemen vitamin C selama kehamilan tidak
membantu untuk mencegah masalah dalam kehamilan termasuk lahir
mati, kematian bayi, kelahiran prematur, pre-eklampsia atau bayi berat
lahir rendah. Selain itu apabila mengkonsumsi vitamin C saja dapat
mengurangi kejadian KPD sedangakan apabila dikombinasikan vitamin
E maka biasanya terjadi KPD. Keefektifan dalam mengkonsumsi
vitamin C sering diberikan pada trimester awal.
2. Kalsium
Menurut Fahimeh Jamshidi and Roya Kelishadi di negara lain,
apabila ibu hamil mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium,
dapat menurunkan hipertensi dalam kehamilan. Baik di negara lain
maupun indonesia, mengkonsumsi kalsium juga dapat mengurangi
caries gigi pada ibu hamil.

2.2 Vaksin pada Ibu Hamil


Definisi Vaksin
Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih
hidup tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah,
berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein
rekombinan yang apabila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan
kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu.

27
Sumber : Hadianti, dianti nur. 2014. Buku Ajar Imunisasi. Jakarta : Pusat Pendidikan an
Pelatihan Tenaga Kesehatan.
Penggunaan Vaksin dalam Kehamilan.
A. Vaksin Hepatitis
Erna Nemdy menyadari bahwa vaksin pertama yang tersedia
untuk HBV, yang dipasarkan pada tahun 1982, adalah vaksin yang
dimurnikan dan diinaktifkan, mengandung virus HBV yang dimatikan
secara kimiawi. Virus diperoleh dari darah pembawa virus tetap hidup
tetapi tidak dapat berkembang biak dalam pejamu yang diinokulasikan.
Baik vaksin diinaktifkan maupun yang dilemahkan memiliki potensi
bahaya karena dapat terkontaminasi oleh HBV hidup.
Vaksin subunit yang modern, pertama kali dipasarkan pada tahun
1987, dibuat oleh teknik DNA rekombinan. Karena vaksin ini hanya
menga ndung protein permukaan atau antigen virus yang merangsang
respons sistem imun, tidak terdapat risiko terinfeksi HBV.
(Sumber : Marks, Dawn B. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar : Sebuah
Pendekatan Klinis. Jakarta : EGC.)
Hepatitis A
Di Negara-negara maju, efek hepatitis A pada kehamilan tidak
dramatis. Kita telah lama menjalankan kebijakan merawat-inap semua
wanita hamil dengan hepatitis sampai mereka mampu makan dan
minum, dan fungsi hati membeik, atau minimal tidak terus memburuk.
Tetapi berupa diet seimbang dan pengurangan aktivitas. Wanita dengan
penyakit yang tidak terlalu parah dapat ditangani secara rawat-jalan.
Tidak terdapat bukti bahwa virushepatitis A bersifat teratogenik,
dan risiko penularan ke janin dapat diabaikan. Risiko persalinan
prematur tampaknya sedikit meningkat pada kehamilan dengan penyulit
hepatitis A.
Wanita hamil yang baru berkontak erat atau hubungan kelamin
dengan pengidap hepatitis A harus diberikan profilaksis dengan 1 ml
immunoglobulin dalam 2 minggu pajanan.
Hepatitis B

28
Baik prevalensi maupun perjalanan klinis infeksi hepatitis B pada
ibu, termasuk hepatitis fulminan, tidak dipengaruhi oleh kehamilan.
terapi bersifat suportif, dan seperti pada hepatitis A, risiko persalinan
premature meningkat.
Mencegah Penularan pada Neonatus
Pada infeksi akut hepatitis B di trimester pertama, 10 persen janin
terinfeksi, dan pada trimester ketiga angka ini menjadi 80 sampai 90
persen. Pada infeksi maternal yang kronik, penularan perinatal melalui
ingesti bahan yang terinfeksi sewaktu persalinan atau terpajan setelah
lahir (menyusui). Hampir 85 persen bayi yang terinfeksi menjadi
pembawa kronik. Penularan vertical (ibu ke janin) berkaitan erat dengan
status antigen e hepatitis B (HBeAg) ibu.
CDC serta American College of Obstetricians and Gynecologists
(1998) menganjurkan skrining serologis hepatitis B untuk semua pasien
pranatal. Skrining selektif hanya akan mengidentifikasi 30 sampai 50
persen wanita seropositif. Untuk wanita berisio tinggi yang memiliki
antigen negative, dapat diberikan vaksin selama kehamilan. Bagi wanita
yang memiliki hasil uji positif, anak harus diberi globulin imun
hepatitis B dan vaksin rekombinan.
Hepatitis C
Hasil akhir perinatal tidak terganggu pada wanita positif anti-
HCV dibandingkan dengan kelompokkontrol yang seronegatif. Akan
tetapi, yang terpenting, infeksi hepatitis C dituolarkan secara vertical ke
janin-bayi, dengan angka yang bervariasi dari 3 sampai 6 persen.
Seperti pada penularan antara orang dewasa (horizontal), antibody tidak
bersifat protektif. Saat ini belum ada metode untuk mencegah penularan
saat persalinan. Oleh karena itu, CDC tidak menganjurkan skrining
pada wanita hamil; namun, neonatus dari ibu yang diketahui positif
anti-HCV harus diperiksa dan ditindak lanjuti. Wanita dengan anti-HCV
positif harus diberikan penyuluhan kesehatan dan diidentifikasi untuk
tindak-lanjut jangka panjang.

29
Hepatitis D
Penularan neonatus pernah dilaporkan, tetapi vaksinasi hepatitis B
biasanya mencegah hepatitis delta.
Hepatitis G
Penyakit ini tidak meningkatkan keparahan infeksi kronik,
konstribusinya dalam penyakit hati akut dan kroni masih harus
diperjelas. Penularan kepada bayi pernah dilaporkan.
Hepatitis Kronik
Kehamilan jarang terjadi jika penyakit sudah parah karena
umumnya terjadi anovulasi. Akan tetapi, sebagian besar wanita muda
tidak memperlihatkan gejala atau hanya mengalami penyakit hati
ringan. Bagi wanita seropositif asimtomatik, kehamilan biasanya tidak
menimbulkan masalah. Akan tetapi, pada hepatitis aktif kronik
simtomatik, interaksi dengan kehamilan akan bergantung terutama pada
intensitas penyakit dan ada tidaknya hipertensi portal. Beberapa wanita
yang kami tangani tidak mengalami masalah, tetapi karena prognosis
jangka panjang mereka buruk, mereka harus diberi penjelasan mengenai
abortus dan sterilisasi.
(Sumber : Levono, Kenneth J, dkk. 2009. Obstetri Williams Panduan Ringkas. Jakarta :
EGC)

3.1 Imunisasi pada Ibu Hamil


Definisi Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak
diimunisasi, berartidiberikankekebalan terhadap suatu penyakit tertentu.
Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit tetapi belum tentu kebal
terhadap penyakit yang lain.
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan
kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila
suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya
mengalami sakit ringan.

30
Sumber : Hadianti, dianti nur. 2014. Buku Ajar Imunisasi. Jakarta : Pusat Pendidikan an
Pelatihan Tenaga Kesehatan.

Tabel. Anjuran imunisasi selama kehamilan


Kolera Dilakukan hanya untuk memenuhi peraturan perjalanan
internasional.
Hepatitis A Memberi kekebalan pada ibu hamil setelah terpapar.
Hepatitis B Bayi baru lahir harus mendapat globulin hiperimun segera
setelah lahir, diikuti oleh vaksinasi.
Influenza Memberi kekebalan kepada ibu hamil menurut kriteria yang
dianjuran oleh populasi umum.
Campak Secara teori, tidak boleh diberikan selama kehamilan.
Pooled-immune globulin untuk profilaksis setelah terpapar.
Parotitis Secara teori, tidak boleh diberikan selama kehamilan
Plague Hanya diberikan jika mempunyai risiko terinfeksi yang
besar.
Poliomielitis Tidak dianjurkan secara rutin tetapi harus diberikan di
daerah epidemi atau jika berpergian ke daerah epidemi.
Rabies Sama seerti wanita tidak hamil.
Rubella Merupakan kontraindikasi (meskipun teratogenisitas dapat
diabaikan pada pemantauan ibu yang mendapat vaksin
secara tidak sengaja).
Tetanus dan difteri Berikan toksoid jika belum mendapat rangkaian vaksinasi
primer atau tidak mendapat booster dalam 10 tahun.
Profilaksis setelah terpapar pada orang yang tidak mendapat
vaksin dengan tetanus immunoglobulin ditambah toksoid.
Tifoid Dianjurkan jika berpergian ke daerah endemis.
Varisela Berikan immunoglobulin Varicella-zoster untuk yang
terpapar.
Merupakan indikasi untuk beyi yang baru lahir dari ibu yang
terkena varisela alam 4 hari sebelum atau 2 hari setelah
melahirkan.
Demam kuning Tundalah perjalanan jika mungkin tetapi berikan imunisasi
sebelum berpergian ke daerah risiko tinggi.
Sumber: Benson, Ralph, Martin. Pernol. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Jakarta :
EGC.

31
1. Imunisasi Tetanus Toksoid
Pemberian imunisasi tetanus toksoid artinya pemberian kekebalan
terhadap penyakit tetanus kepada ibu hamil dan bayi yang dikandungnya.
Sumber: Mandriati. 2011. Asuhan Kebidanan Antenatal.Jakarta : EGC.
Tujuan pemberian imunisasi ini yaitu untuk memberikan kekebalan
pada ibu dan mencegah tetanus neonatorum pada bayi yang akan
dilahirkan.
Sumber: Kusmiyati, Yuni. 2010. Penuntun Pratikum Asuhan Kehamilan. Yogyakarta : Tim
Kreatif Penerbit Fitramaya.
Vaksin tetanus toksoid dibuat dari toksin (racun) yang dihasilkan
oleh bakteri C. tetani yang sudah dilemahkan sehingga tidak
membahayakan lagi. Vaksin tetanus toksoid akan rusak apabila dibekukan
atau terkena panas. Penyimpanan vaksin ini 2-80C, kemasannya 2 cc dalam
satu vial. Dosis pemberian setiap kali pemberian 0,5 cc.
Waktu pemberiannya selama kehamilan diberikan 2 kali dalam dosis
yang sama. Pemberian pertama sebaiknya pada kehamilan trimester I
supaya pemberian yang kedua jaraknya tidak terlalu dekat sehingga
pemberian antibody optimal. Pemberian yang kedua dengan jarak waktu
minimal 4 minggu dari pemberian pertama, dengan catatan paling lambat 2
minggu sebelum melahirkan.
Cara pemberian dengan disuntikkan intramuscular atau subkutan
dalam pada muskulus deltoideus. Efek sampingnya meliputi nyeri atau
kemerahan dan bengkak selama 1-2 hari pada tempat penyuntikan yang
sembuh tanpa pengobatan.
Sumber: Mandriati. 2011. Asuhan Kebidanan Antenatal.Jakarta : EGC.
Tabel. Jadwal pemberian imunisasi TT pada ibu hamil
Interval Persentase
Imunisasi Durasi perlindungan
(selang waktu minimal) perlindungan
Selama kunjungan
TT 1 - -
antenatal pertama

32
TT 2 4 minggu setelah TT 1 3 tahun 80
TT 3 6 bulan setelah TT 2 5 tahun 95
TT 4 1 tahun setelah TT 3 10 tahun 99
25 tahun/seumur
TT 5 1 tahun setelah TT 4 99
hidup

Keterangan : artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut


melahirka maka bayi yang dilahirkan akan terlindung dari tetanus
neonatorum.
Sumber:
Kusmiyati, Yuni. 2010. Penuntun Pratikum Asuhan Kehamilan. Yogyakarta : Tim Kreatif
Penerbit Fitramaya.
Indrayani. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan.Jakarta : Trans Info Media. Hal : 10
Jarak Pemberian Imunisasi TT
Jarak pemberian (interval) imunisasi TT 1 dengan TT 2 minimal 4 minggu
(Saifuddin dkk, 2001; Depkes RI, 2000).
(Sumber : Kusmiyati. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya.)
Lia. 2010. Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) Pada Ibu Hamil.
Manfaat Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid :
1. Melindungi bayi terhadap penyakit tetanus neonatorum (Yulaikhah,
2008: 59). Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi
pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh
clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan
menyerang sistim saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001).
2. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes
RI, 2000) Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah
satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi
tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004).
3. Memberi kekebalan terhadap penyakit tetanus terhadap ibu dan janin
yang dikandungnya, sehingga pada saat melahirkan ibu dan bayi
terhindar dari penyakit tetanus (Mandriawati, 2007: 141).
4. Antitoksin yang yang melewati plasenta ke janin pasca imunisasi aktif
pada ibu dapat mencegah kejadian tetanus neonatorum. Efektifitas dua

33
dosis TT selama hamil dalam mencegah tetanus neonatorum berkisar
antara 80-100% (Wahab, 2002: 57)
Jumlah Dan Dosis Pemberian Imunisasi TT Untuk Ibu Hamil

1. Pasien dianggap mempunyai kekebalan jika telah mendapat 2 dosis


terakhir dengan interval 4 minggu, dan jarak waktu sekurangnya 4
minggu antara dosis terakhir dengan saat terminasi kehamilan. Pasien
yang telah mendapat vaksinasi lengkap (5 suntikan) lebih dari 10 tahun
sebelum kehamilan sekarang perlu diberi booster, berupa tetanus
toksoid 0,5 ml IM
2. Jika pasien belum pernah imunisasi, berikan serum anti tetanus 1500
unit IM. dan suntikan booster tetanus toksoid (TT) 0,5 ml IM.
Diberikan 4 minggu kemudian.(Saifuddin.dkk, 2004: M-45)
Umur Kehamilan Mendapat Imunisasi TT

1. Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk


mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2005).
2. TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di
berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan
(Depkes RI, 2000).
Efek Samping Imunisasi TT

1. Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan


pembengkakan pada tempat suntikan. Efek samping tersebut
berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak perlukan
tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000).
2. TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita
hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan
imunisasi TT. Pada ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT tidak
didapatkan perbedaan resiko cacat bawaan ataupun abortus dengan
mereka yang tidak mendapatkan imunisasi (Saifuddin dkk, 2006: 389)

Perkembangan Imunisasi Tetanus Toksoid

34
Menurut Level and Clark diungkapkan bahwa ada lima level yang
bisa mempengaruhi kesehatan masyarakat secara umum yaitu promosi
kesehatan, penegakan diagnosis, pencegahan terhadap kecacatan,
pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Pelaksanaan imunisasi Tetanus
toxoid (TT) pada ibu hamil merupakan salah satu dari bagian tingkatan itu
yaitu usaha untuk pencegah terjadinya komplikasi dan pemeliharaan
kesehatan ibu hamil (Depkes, RI, 1992).
Berdasarkan SKN tahun 1992 dijelaskan bahwa salah satu upaya
peningkatan kesehatan masyarakat adalah dengan melalui usaha
pencegahan penyakit menular dan penyakit infeksi pada bayi, anak dan
balita. Dengan menggunakan indikator AKB untuk menentukan tinggi
rendahnya derajat kesehatan, maka AKB di Indonesia sampai saat ini
menduduki peringkat tertinggi dibandingkan dengan negara-negara
ASEAN lainnya terkecuali Laos, Vietnam, dan Kamboja. Dengan upaya
program-program dari pemerintah diharapkan terjadi penurunan AKB
secara bermakna.Salah satu bentuk programnya yaitu melalui kegiatan
imunisasi baik itu pada bayi maupun pada ibu hamil (Depkes, 1995).
Secara bertahap dikembangkan program imunisasi untuk mencegah
penyakit menular yang terutama penyerang bayi dan anak.Pada tahun 1973
vaksinasi BCG secara menyeluruh merupakan bagian dari program
imunisasi.Berturut-turut menyusul penambahan jenis antigen dalam
program imunisasi yaitu tetanus toksoid (TT) untuk ibu hamil pada tahun
1974, dan DPT untuk bayi pada tahun 1976 (Sumarmo dan Matondang
Siahaan, 1990).
Pemberian imunisasi pada ibu hamil selama kehamilan adalah 2 (dua)
kali yaitu TT1 dan TT2. Cakupan TT1 ibu hamil pada tahun 1998 adalah
79,74% dengan kisaran antara 44,97% (di propinsi Irian Jaya) dan 99,81%
(di propinsi DI Yogyakarta) sedangkan cakupan TT2 adalah 73,42%
dengan kisaran antara 33,82% (di propinsi Irian Jaya) dan 94,91% (di
propinsi Kalimantan Tengah). Sedangkan kalau dilihat dropoutnya adalah
7,93% dengan kisaran antara 0% (di propinsi Kalimantan Tengah) dan

35
24,78% (di propinsi Irian Jaya). Bila dilihat hasil SDKI 1994, yang data
cakupannya diperoleh melalui wawancara dengan ibu, maka cakupan
imunisasi TT-2 dari pelaporan rutin jauh lebih tinggi. Dari hasil survei
tersebut pada tahun 1994 terdapat pencapaian imunisasi TT-2 hanya
sebesar 48,8% (Depkes, 1995).
Hasil studi Morbiditas dan Mortalitas Maternal di 5 Propinsi
dihasilkan hal-hal sebagai berikut : untuk pulau Jawa ibu-ibu yang
melakukan pemeriksaan kehamilan baik untuk kehamilan yang sedang
dialami maupun kehamilan terakhir pada 5 tahun terakhir adalah 82,29%
dan 78,51% sedangkan untuk diluar pulau Jawa (NTT, Maluku dan Irja)
65,91% dan 62,12%. Tetapi jika dilihat kualitasnya baik dilihat dari
frekwensi yang 1-1-2 (sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester
kedua dan dua kali pada trimester ketiga) maupun T5 (timbang berat badan
dan tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan tinggi fundus,
pemberian imunisasi TT dan pemberian tablet besi) didapatkan hasil untuk
frekwensi dibawah 50% sedang untuk T5 dibawah 50% (Depkes, 1995).
Bila dibandingkan dari tahun 1996 sampai dengan tahun 1998 baik
TT1 maupun TT2 terlihat adanya fluktuasi meskipun tidak cukup besar
tetapi bila dilihat persen drop outnya terlihat adanya sedikit kenaikan.
Sementara dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 didapatkan
penurunan angka pencapaian TT-1 dan TT-2. Untuk tahun 2000
pencapaian TT-1 sebanyak 17.890 dan TT-2 sebanyak 16.975, mengalami
penurunan jika dibandingkan pada cakupan tahun 2000 yang mana hanya
sebanyak 15.830 dan cakupan TT-2 sebanyak 15.972. Hal ini sejalan
dengan meningkatnya jumlah kematian pada ibu melahirkan yang
mencapai 18.000/tahun ibu yang meninggal akibat komplikasi kehamilan
dan melahirkan (BPS Jakarta, 2004).
Sementara dari Sulawesi Selatan realisasi cakupan imunisasi TT-2
pada ibu hamil tahun 1998-1999 sebesar 62,4% dari target 87,9%.
Realisasi tersebut berfluktuasi cukup rendah jika dibandingkan angka
target.Kota Makassar termasuk salah satu daerah di Sulawesi Selatan

36
dengan cakupan imunisasi TT yang rendah selain dari Kabupaten Gowa
dan Kabupaten Takalar (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, 2000).
Perkembangan Imunisasi TT menurut Evidence Based
Vaksin tetanus efektif untuk pencegahan tetanus sebagai penyakit
yang berbahaya. Kebanyakan kematian yang disebabkan oleh tetanus
neonatorum adalah pada Negara - negara yang persalinannya di fasilitas
kesehatan dan imunisasi TT-nya rendah, seperti India dan Nigeria.
Tetanus Neonatorum adalah penyakit akut dengan cirri tidak memiliki
kemampuan untuk menghisap, diikuti kaku kuduk dan kejang otot.
Penyakit ini disebabkan oleh clostridium tetani yang masuk melalui tali
pusat. Kebanyakan (90%) kasus dari tetanus neonatorum berkembang
selama 3-14 hari pertama dari kelahiran terutama 6-8 hari, angka
kematian karena kasus ini sangat tinggi. Jika tanpa pengobatan medis
100% meninggal, dengan perawatan 10-60% dari tetanus neonatorum
meninggal tergantung ketersediaannya fasilitas untuk perawatan intensif.
Tepatnya mencegah lebih efektif dari pada mengobati. Hanya satu
penelitian Randomized Controlled Trial (RCT) dan kohort study yang
teridentifikasi dengan meta analisis. Imunisasi TT pada wanita hamil
diperkirakan 94% dapat menurunkan kematian yang disebabkan tetanus
neonatorum (tingkat kepercayaan 95%).
Tetanus Toksoid rutin direkomendasikan bagi wanita hamil, belum
ada bukti nyata yang menyatakan bahwa vaksin TT teratogenik.
Pemberiannya pada trimester kedua dalam kehamilan. Wanita hamil yang
tidak mendapatkan vaksin TT dalam waktu 10 tahun terakhir sebaiknya
di booster. Wanita hamil yang tidak diimunisasi atau tidak lengkap
sebaiknya melengkapi imunisasi dasar.
Tidak ada perbedaan antara kebijakan imunisasi TT di Indonesia dan
di Negara lainnya. Karena baik di Negara Indonesia yang menganut
peraturan pemerintah yang sesuai dengan yang tertulis pada Kemenkes dan
WHO tentang imunisasi wajib maupun di Negara lainnya yang menganut
Expanded programme on immunization (EPI) immunization schedules in

37
the WHO Western Pacific Region, 1995. Memiliki kebijakan yang sama
tentang pentingnya imunisasi TT untuk masa antenatal care atau masa
kehamilan. Kebijakan ini muncul karena dari hasil penelitian, virus tetanus
toxoid ini termasuk dalam penyakit yang berbahaya dan menyebabkan
kematian terutama pada saat proses persalinan. Virus tetanus toxoid
dianggap salah satu dari permasalahan yang menyebabkan peningkatan
AKI dan AKB.
2. Influenza
Sebuah penelitian terhadap 340 ibu hamil di Bangladesh yang
mendapatkan suntikan vaksin flu menunjukkan ibu-ibu tersebut memiliki
bayi yang lebih tahan terhadap influenza. Hanya d itemukan tiga kasus
flu ketika usia bayi mereka masih di bawah enam bulan. Padahal tidak
pernah terbukti sebelumnya bahwa imunisasi terhadap ibu hamil
memberikan keuntungan besar kepada bayinya. Di Amerika, hanya 14%
ibu hamil yang menjalani imunisasi ini. Angka ini terpaut tidak jauh
dibandingkan di negara miskin dimana akses kesehatan terbatas. Di
banyak daerah, program ini telah banyak diberikan kepada ibu hamil
termasuk suntikan antitetanus. Mereka seharusnya menambahkan vaksin
influenza, ujar Mark Steinhoff, Profesor Pediatrik dari Johns Hopkins
Universitiy, di Baltimore.
Hasil ini mendukung rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO)
bahwa ibu hamil seharusnya mendapatkan imunisasi influenza untuk
melindungi dirinya dan calon anaknya. Infeksi ini meningkat risikonya
pada ibu hamil dan bayi yang kurang gizi. Menurut sebuah laporan dalam
jurnal medis di Inggris tahun 2005, rata-rata kematian akibat flu masih
tinggi untuk bayi usia di bawah enam bulan. Sedangkan di Indonesia,
penyakit influenza sering dianggap biasa. Padahal bisa mengganggu
kesehatan ibu dan janin.
Pemberian imunisasi influenza diberikan pada trimester kedua atau
ketiga kehamilan. Setelahnya, ibu mungkin mengalami demam ringan,
bengkak, dan kemerahan di daerah bekas suntikan. Lakukan imunisasi saat

38
tubuh benar-benar dalam keadaan sehat. Setelah melakukan imunisasi,
lakukan cukup istirahat, makan makanan bergizi, dan jangan dekati orang
yang sedang terkena influenza karena akan mudah tertular. Sempatkanlah
memeriksakan diri ke dokter jika ibu mengidap flu untuk memastikan flu
tersebut tidak membahayakan.
3. Hepatitis B
Umumnya seseorang tidak langsung menyadari bahwa dirinya
terinfeksi virus hepatitis B. Bahayanya, janin bisa ikut tertular ketika
menjalani proses kelahiran. Karenanya, imunisasi hepatitis B sangat perlu
bagi ibu hamil. Bayi baru lahir pun diwajibkan segera mendapat imunisasi
Hepatitis B. Vaksin Hepatitis B terbuat dari bahan rekombinan yaitu vaksin
yang dibuat dengan bahan rekayasa genetika sehingga menyerupai virus
Hepatitis B. Vaksin ini aman diberikan kepada ibu hamil. Waktu
pemberian imunisasi ini adalah pada kehamilan bulan pertama, kedua, dan
keenam.
Ibu hamil akan diperiksa kadar HbsAg dan Anti-Hbs-nya (reaksi
antigen-antibodi). Jika hasil Anti-HbsAg-nya positif, ibu tak perlu
imunisasi lagi karena sudah mempunyai zat antobodi/kekebalan hepatitis
B. Biasanya setelah imunisasi, timbul demam ringan dan nyeri pada bekas
suntikan. Bila tidak ada infeksi dan belum mempunyai antibodi, maka
vaksin hepatitis B dapat diberikan kepada ibu hamil.
4. Meningococcal
Vaksin pencegah meningitis atau radang selaput otak ini terbuat dari
bakteri meningococcal yang sudah mati/tidak aktif sehingga aman untuk
ibu hamil. Apabila ibu hamil menderita meningitis, maka kumannya pun
dapat menjalar ke otak janin.
Pada ibu hamil, imunisasi ini sebaiknya diberikan setelah trimester
pertama untuk menghindari risiko umum yang terjadi pada kehamilan
trimester pertama seperti keguguran. Sebaiknya, lakukan imunisasi ini saat
tubuh benar-benar sehat meski pada beberapa orang hanya akan muncul
demam ringan.

39
Kontra Indikasi
o Terdapat beberapa jenis imunisasi yang harus dihindari alias tidak
disarankan untuk diberikan pada ibu hamil, yakni imunisasi yang
mengandung virus hidup. Secara teoritis, virus hidup memang tidak
boleh diberikan, karena dikhawatirkan virus tersebut akan masuk ke
janin melalui plasenta.
o Selain MMR dan Varicella,imunisasi lain yang tidak boleh diberikan
pada ibuhamil adalah HPV (Human Papilloma Virus), serta BCG
(Bacillus Calmette-Gurin). Meski belum ada penelitian yang
menunjukkan adanya efek negatif bagi ibu ataupun janin, pemberian
imunisasi HPV sangat tidak disarankan bagi ibu hamil. Imunisasi ini
baru diluncurkan, serta masih dalam tahap dikaji dan diamati.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

40
Kehamilan merupakan hal yang paling ditunggu oleh seorang wanita.
Dalam hamil, wanita membutuhkan obat seperti kalsium, zat besi, asam folat,
vitamin c, dll untuk mencegah terjadinya anemia selama kehamilan. Dalam
hal ini, ibu hamil harus efektif dan rutin dalam mengkonsumsinya dan patuh
terhadap anjuran yang diberikan oleh tenaga kesehatan terlatih. Namun
menurut evidence based, indonesia masih tergolong tinggi dalam hal AKI dan
AKB karena pendistribusian obat di daerah terpencil masih minim, berbeda
sekali yang ada diluar negri. Bahkan diluar negri, pengkonsumsian obat
tersebut diberikan di awal trimester kehamilan, namun disana AKI AKB
sudah mulai menurun.
Selain obat, ibu hamil juga perlu diberikan vaksin/imunisasi TT agar
mencegah tetanus neonaturum pada saat kelahiran. Penyakit itu masih
menjadi prioritas yang menyebabkan kematian maternal. Menurut evidence
based, tidak ada perbedaan di Indonesia maupun di luar negri dalam
imunisasi TT. Semua menganut perintah dari WHO bahwa ibu hamil wajib
mendapatkan imunisasi TT.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran membangun agar
dalam penulisan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi para penulis dan pembacanya.

LATIHAN SOAL

1. Mengapa glikosida jantung dan diuretik yang dibutuhkan pada kehamilan ?

41
a. mengontrol glukosa darah pada diabetes yang diinduksi oleh kehamilan
b. mengontrol kerja ginjal untuk proses pengeluaran urin
c. adanya peningkatan beban jantung pada kehamilan
d. merangsang matangnya paru janin bila ada prediksi kelahiran prematur
e. menginduksi enzim hati untuk metabolisme bilirubin sehingga
insidensjaundice ( bayi kuning) akann berkurang
2. Pengaruh obat pada janin dapat bersifat toksik, yaitu ...
a. jika obat yang diminum selama masa kehamilan menyebabkan
terjadinya gangguan fisiologik atau bio-kimiawi dari janin yang
dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul beberapa saat setelah
kelahiran
b. jika menyebabkan terjadinya malformasi anatomik pada petumbuhan organ
janin.
c. mengakibatkan kematian janin dalam kandungan
d. jika obat yang diminum selama masa kehamilan menyebabkan terjadinya
gangguan fisiologik atau kimiawi dari janin yang dikandung, dan biasanya
gejalanya baru muncul 1 minggu setelah kelahiran
e. mengakibatkan janin mengalami IUFD atau cacat saat lahir
3. Obat-obat yang termasuk dalam kategori A antara lain adalah
a. Parasetamol
b. Penisilin
c. Simetidin
d. A dan B
e. B dan C
4. Sifat Obat yang termasuk dalam kategori C adalah
a. Irreversibel
b. Singkat
c. Tetap
d. Bertahan lama
e. Reversibel
5. Imunisasi yang termasuk dianjurkan selama kehamilan adalah ...
a. Kolera
b. Hepatitis A
c. Influenza
d. TT
e. Benar semua
6. Vaksin TT terbuat dari ...
a. toksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri A. tetani yang sudah dilemahkan
b. toksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri B. tetani yang sudah dilemahkan
c. toksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri C. tetani yang sudah
dilemahkan.
d. toksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri C. tetani yang sudah diaktifkan.

42
e. toksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri A. tetani yang sudah diatktifkan.
7. Suhu untuk penyimpanan vaksin TT yang tepat adalah..
a. -2 50C
b. >80C
c. <20C
d. 2-80C
e. 00C
8. Efek dari Imunisasi TT adalah ...
a. Demam 2-3 hari
b. Bengkak dan gatal pada area suntikan
c. Nyeri atau kemerahan dan bengkak selama 1-2 hari
d. Mual dan Muntah beberapa hari
e. Terdapat ruam-ruam kemerahan
9. Apa yang termasuk efek samping dari obat anti-inflamasi apabila dberikan
trimester akhir kehamilan ...
a. menghambat sintesis prostaglandin
b. akan terjadi penutupan duktus arteriosus Botalli yang terlalu lama
c. tertunda dan memanjangnya proses persalinan
d. mempercepat kontraksi uterus
e. memberantas infeksi mikroba
10. Besarnya reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh antibiotika
dipengaruhi oleh :
a. Lama dan saat pemberian
b. Sifat genetik ibu dan janin
c. Jenis antibiotic
d. Benar Semua
e. Salah Semua

43
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006, Pedoman Pelayanan Farmasi Untuk Ibu Hamil Dan Menyusui,
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI.

Anonim, 2008, Farmakoterapi Pada Kehamilan, Bagian Farmakologi Klinik


Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Hadianti, dianti nur. 2014. Buku Ajar Imunisasi. Jakarta : Pusat Pendidikan an
Pelatihan Tenaga Kesehatan.

Farmakologi dan Terapi, Edisi 5. 2007. Departemen Farmakologi Dan


Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

http://www.terapiozon.com/2015/06/manfaat-vitamin-c-bagi-ibu-hamil.html

Levono, Kenneth J, dkk. 2009. Obstetri Williams Panduan Ringkas. Jakarta :


EGC)

Benson, Ralph, Martin. Pernol. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi.
Jakarta : EGC.

44
Mandriati. 2011. Asuhan Kebidanan Antenatal.Jakarta : EGC.

Kusmiyati, Yuni. 2010. Penuntun Pratikum Asuhan Kehamilan. Yogyakarta : Tim


Kreatif Penerbit Fitramaya.

45