Anda di halaman 1dari 16

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 30 Mei 2017 telah dipresentasikan portofolio oleh:
Nama peserta : dr. Fatia Ayu Ramadhana
Dengan judul/topik : Hipoglikemia pada DM Tipe II dengan Gagal Ginjal Kronik dalam Hemodialisa
Nama pendamping : dr. Afifah Is, Sp.PD
Nama wahana : RSUD Budhi Asih

No Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 dr. Mustika Tri Handayani
2 dr. Indah Pratiwi
3 dr. Septiana Iriyanty
4 dr. Ririk Riyanti
5 dr. Rina Mardiana
6 dr. Desi Khoirunnisa Malikhah

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

dr. Afifah Is, Sp.PD

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 1


BORANG PORTOFOLIO
Nama Peserta : dr. Fatia Ayu Ramadhana
Nama Wahana : RSUD Budhi Asih
Topik : Hipoglikemia pada DM Tipe II dengan Gagal Ginjal Kronik dalam Hemodialisa
Tanggal (Kasus) : 6 April 2017
Nama Pasien : Tn. MP No RM : 01065586
Tanggal Presentasi : Nama Pendamping : dr. Afifah Is, Sp.PD
Tempat Presentasi : RSUD Budhi Asih
Obyektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : Laki-laki, usia 84 tahun, badan lemas sejak 3 jam yang lalu, hipoglikemia pada DM tipe II dengan gagal ginjal
kronik dalam hemodialisa
Tujuan : Menatalaksana hipoglikemia pada DM tipe II, menatalaksana gagal ginjal kronik dalam hemodialisa
Bahan Bahasan Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara Membahas Diskusi Presentasi dan Diskusi Email Pos
Data Pasien Nama : Tn. MP No RM : 01065586
Telp :- Terdaftar Sejak : 6 April 2017
Data Utama untuk Bahan Diskusi
1. Gambaran Klinis : Pasien datang dengan keluhan utama badan lemas sejak 3 jam yang lalu. Pasien juga merasa gemetar
dan berkeringat dingin. Pasien menyangkal adanya penurunan kesadaran, mual, muntah, BAB cair,

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 2


demam, dan sesak.
2. Riwayat Pengobatan : Obat-obatan rutin yang diminum pasien amlodipin 1x10 mg, glimepirid 2x1, asam folat 3x1, vit B12
3x1, dan CaCO3 3x1. Pasien rutin hemodialisa 2 kali seminggu.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit : Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal. Riwayat alergi obat disangkal. Pasien mengaku adanya
riwayat hipertensi, DM, dan penyakit ginjal. Riwayat penyakit jantung dan penyakit paru disangkal.
4. Riwayat Keluarga : Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan serupa.
5. Riwayat Pekerjaan : Pasien merupakan pensiunan PNS.
6. Riwayat Pribadi : Pasien memiliki riwayat merokok 1-2 bungkus per hari sejak usia muda namun sudah berhenti 5 tahun
yang lalu. Pasien menyangkal riwayat mengkonsumsi alkohol.
7. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis, E4V5M6
Nadi : 74 kali per menit, reguler, kuat angkat, isi cukup
TD : 140/70 mmHg
Suhu : 36.8 C per aksilla
Respirasi : 21 kali per menit, reguler
Saturasi : 98%
Kepala : normocephal, rambut putih uban, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : cekung (-/-), konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor 3 mm/3 mm, refleks cahaya
langsung (+/+), refleks cahaya tidak langsung (+/+)
Telinga : normotia, sekret (-/-)
Hidung : deviasi septum (-), sekret (-), epistaksis (-)
Mulut : mukosa bibir lembab, sianosis (-), mukosa lidah kering (-), gusi berdarah (-)

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 3


Tenggorok : faring hiperemis (-), tonsil T1-T1 tenang
Leher : deviasi trakea (-), pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-), JVP 5+2 cmH2O
Thoraks : normochest
Paru
Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris saat statis dan dinamis, retraksi dinding dada (-)
Palpasi : fremitus taktil simetris
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : VBS (+/+), rhonkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : kesan batas jantung tidak melebar
Auskultasi : S1-S2 normal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : datar, distensi (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : supel, turgor baik, nyeri tekan epigastrium (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
Perkusi : timpani di seluruh lapang abdomen
Pinggang : nyeri ketok CVA (-/-), ballottement ginjal (-/-)
Urogenital : tidak diperiksa
Ekstremitas : akral hangat, CRT <2 detik, edema (-/-), sianosis (-/-)
Pemeriksaan Laboratorium
Hemoglobin : 10.5 g/dL Natrium : 140 mmol/L

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 4


Hematokrit : 32 % Kalium : 5.4 mmol/L
Leukosit : 8.6 ribu/L Klorida : 109 mmol/L
Trombosit : 174 ribu/L Ureum : 99 mg/dL
Eritrosit : 3.5 juta/L Kreatinin : 3.63 mg/dL
GDS : 48 mg/dL
Daftar Pustaka
1. Anonymous. 2013. Hypoglycemia (Low Blood Sugar). California: Lucile Packard Childrens Hospital. available at
{http://www.lpch.org/DiseaseHealthInfo/HealthLibrary/diabetes/hypo.html} diakses 7 Oktober 2013 pukul 19:00
2. Carrol, Robert G. 2007. Elseviers Integrated Physiology. Philadelphia: Mosby Elsevier.
3. Cryer, Philip E. 2011. Hypoglicemia During Therapy of Diabetes. Tersedia di
<http://diabetesmanager.pbworks.com/w/page/17680209/Hypoglycemia%20During%20Therapy%20of%20Diabetes%20> diakses pada
Kamis 3 Oktober 2013 21.22.
4. Hamdy, O. 2013. Hypoglycemia. US: Harvard Medical Schoolavailable at {http://emedicine.medscape.com/article/122122-
overview#aw2aab6b2b6} diakses 7 Oktober 2013 pukul 18:52
5. Longo, Dan L, et al. 2011. Harrisons Principles of Internal Medicine 18th Edition. New York; McGraw-Hill Medical Publishing
Divison.
6. Manucci et al,. 2006. Incidence and prognostic significance of hypoglycemia in hospitalized non-diabetic elderly patients. USA: NCBI
available at {http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17167310} diakses 7 Oktober 2013 pukul 18:40
7. Nelms, Marcia, Kathryn P. Sucher., dan Sara Long. 2007. Nutrition Therapy and Pathophysiology. Belmont: Thomson Learning Inc.
8. Silbernagl, Stefan, dan Florian Lang. 2010. Color Atlas of Pathophysiology 2nd Ed. New York: Thieme.Soemadji, DjokoWahono. 2009.
BukuAjarIlmuPenyakitDalam. Edisi V. Jakarta: Interna Publishing.
9. Sutanegara, Dwi. 2000. The epidemiology and management of diabetes mellitus in Indonesia. Available at
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S016882270000173X

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 5


Hasil Pembelajaran
1. Diagnosis kasus hipoglikemia
2. Manajemen kasus hipoglikemia

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 6


RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. Subjektif
Pasien seorang laki-laki berusia 84 tahun datang ke IGD RSUD Budhi Asih dengan keluhan utama badan lemas sejak 3 jam yang lalu.
Pasien juga merasa gemetar dan berkeringat dingin. Pasien menyangkal adanya penurunan kesadaran, mual, muntah, BAB cair, demam,
dan sesak. Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal. Riwayat alergi obat disangkal. Pasien mengaku adanya riwayat hipertensi,
DM, dan penyakit ginjal. Riwayat penyakit jantung dan penyakit paru disangkal. Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan
serupa. Pasien memiliki riwayat merokok 1-2 bungkus per hari sejak usia muda namun sudah berhenti 5 tahun yang lalu. Pasien
menyangkal riwayat mengkonsumsi alkohol. Obat-obatan rutin yang diminum pasien amlodipin 1x10 mg, glimepirid 2x1, asam folat 3x1,
vit B12 3x1, dan CaCO3 3x1. Pasien rutin hemodialisa 2 kali seminggu.

2. Objektif
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang dengan kesadaran compos mentis (E4V5M6). Tanda-tanda vital pasien
berupa tekanan darah 140/70 mmHg; nadi 79 kali per menit, reguler, kuat angkat, isi cukup; respirasi 21 kali per menit, reguler; suhu 36.8
C per aksilla, dan saturasi O2 98%. Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia
(Hb 10.5 mg/dL), hipoglikemia (GDS 48 mg/dL), dan peningkatan fungsi ginjal (ureum 99 mg/dL, kreatinin 3.63 mg/dL).

3. Assesment
Hipoglikemia pada DM tipe II
Gagal ginjal kronik dalam hemodialisa

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 7


HIPOGLIKEMIA

Definisi
Hipoglikemia adalah keadaan yang menunjukkan kadar glukosa darah di bawah normal. Pada umumnya kadar glukosa puasa pada orang
normal jarang melampaui 126 mg/dl, jika diatas itu tergolong tidak normal. Biasanya pada penderita hipoglikemia terjadi kadar glukosa
yangrendah yaitu kurang dari 50 mg/dl(2,8 mmol/L) atau bahkan kurang dari 40 mg/dl (2,2 mmol/L). Kadar glukosa darah keseluruhan
(whole blood) lebih rendah 10% dibandingkan dengan kadar glukosa plasma dikarenakan eritrosit memiliki kadar glukosa yang relatif
rendah. Hipoglikemia pada pasien diabetes mellitus tipe 1 (DMT 1) dan diabetes mellitus tipe 2 (DMT 2) merupakan faktor penghambat
utama dalam mencapai sasaran kendali glukosa darah normal atau mendekati normal. Pengendalian glukosa darah yang baik dan lengkap
didasarkan pada kondisi bebas dari hipoglikemia. Risiko hipoglikemia timbul akibat mekanisme dalam tubuh yang tidak sempurna
dimana kadar insulin pada malam hari meningkat secara tidak proporsional dan kemampuan fisiologis tubuh gagal melindungi batas
penurunan glukosa darah yang aman. (Soemadji, 2009).
Epidemiologi
Hipoglikemia biasanya ditemukan pada pasien diabetes melitus. Sekitar 90% dari semua pasien yang menerima insulin mengalami
episode hipoglikemia. Kejadian hipoglikemia sangat bervariasi, namun pada umumnya penderita diabetes mellitus tipe 1 memiliki rata-
rata episode hipoglikemia simtomatik per minggu dan per tahun. Diperkirakan 2-4% dari mortalitas akibat diabetes melitus dikaitkan
dengan hipoglikemia (Shafiee, 2012).
Frekuensi hipoglikemia lebih rendah pada orang dengan diabetes mellitus tipe 2 dibandingkan tipe 1. Studi di Inggris menunjukkan
bahwa pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 risiko hipoglikemia berat rendah dalam beberapa tahun pertama (7%) dan meningkat
menjadi 25% dalam perjalanan diabetes. Namun prevalensi diabetes mellitus tipe 2 adalah sekitar dua puluh kali lipat lebih tinggi dari
diabetes mellitus tipe 1 dan banyak pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 akhirnya memerlukan pengobatan insulin, sehingga sebagian
besar episode hipoglikemia terjadi pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 (Shafiee, 2012).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 8


Studi yang dilakukan terhadap penduduk yang tinggal di daerah pedesaan Jawa Timur dan Bali menunjukkan tingkat prevalensi
hipoglikemia sebesar 1,5% pada tahun 1982 dan meningkat menjadi 5,7% pada tahun 1995. Saat ini Indonesia memiliki estimasi
prevalensi hipoglikemia sebesar 1,2-2,3% (Sutanegara, 2000).
Etiologi
Hipoglikemia biasanya dibagi menjadi hipoglikemia pasa-makan (reaktif), hipoglikemia puasa, dan hipoglikemia pada pasien rawat inap.
Hipoglikemia pasca-makan dapat disebabkan oleh hiperinsulinisme pencernaan, intoleransi fruktosa herediter, galaktosemia, sensitivitas
leusin, dan idiopatik. Pada hipoglikemia puasa penyebab utamanya adalah kurangnya produksi glukosa atau karena penggunaan glukosa
yang berlebihan, sedangkan pada hipoglikemia pasien rawat inap paling lazim disebabkan oleh penggunaan obat (Longo, 2011).
Hipoglikemia pasca-makan dapat disebabkan oleh hiperinsulinisme pencernaan. Pasien yang menjalani gastrektomi, gastrojejunostomi,
piloroplasti atau vagotomi dapat mengalami hipoglikemia pasca-makan. Hal ini disebabkan karena pengosongan lambung yang cepat
dengan penyerapan singkat glukosa turun lebih cepat dibanding insulin. Ketidakseimbangan insulin-glukosa yang terjadi menyebabkan
hipoglikemia. Intoleransi fruktosa herediter yang dipicu pemasukan fruktosa dan galaktosa juga dapat menyebabkan hipoglikemia pada
anak-anak. Hipoglikemia pasca-makan karena sebab idiopatik dapat dibagi menjadi hipoglikemia sejati dan pseudohipoglikemia. Pada
hipoglikemia sejati, gejala adrenergik muncul sesudah makan dan disertai dengan glukosa plasma rendah pada saat gejala muncul spontan
dalam kehidupan sehari-hari. Gejala tersebut berkurang dengan pemasukan karbohidrat yang meningkatkan glukosa plasma.
Pseudohipoglikemia adalah keadaan yang mengarah ke hipoglikemia 2 sampai 5 jam setelah makan, tetapi tidak memiliki konsentrasi
glukosa plasma rendah ketika muncul gejala secara spontan dalam kehidupan sehari-hari (Longo, 2011).
Hipoglikemia puasa dapat disebabkan oleh kurangnya produksi atau penggunaan glukosa, defek enzim, defisiensi substrat, penyakit hati
kongenital, ataupun obat-obatan. Defisiensi hormon penyebab hipoglikemia puasa karena kurangnya glukosa dapat terjadi pada
hipohipofisisme, insufisiensi adrenal, defisiensi katekolamin, dan defisiensi glukagon. Adapun defek enzim yang menyebabkan
hipoglikemia puasa karena kurangnya glukosa adalah defek enzim Glucose-6-fosfatase, fosforilase hati, piruvat karboksilase,
fosfoenolpiruvat karboksikinase, fructose-1,6-difosfatase, dan glikogen sintetase. Defisiensi substrat penyebab hipoglikemia puasa adalah
kurangnya produksi glukosa yang terjadi pada kasus hipoglikemia ketotik pada bayi, malnutrisi berat, penyusutan otot, dan kehamilan

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 9


lanjut. Penyakit hati kongenital yang menyebabkan hipoglikemia puasa karena kurangnya produksi glukosa dapat berupa kongesti hati,
hepatitis berat, sirosis, uremia, dan hipotermia. Penggunaan obat seperti alkohol, propranolol, dan salisilat juga dapat menyebabkan
hipoglikemia puasa akibat produksi glukosa yang berkurang. Pada hipoglikemia puasa akibat penggunaan glukosa berlebihan dapat
disebabkan oleh hiperinsulinisme atau pada kadar insulin memadai tetapi terdapat kelainan lain di luar pankreas. Hiperinsulinisme
disebabkan karena adanya insulinoma, insulin eksogen, sulfonilurea, penyakit imun dengan insulin atau antibodi reseptor insulin, dan
mengkonsumsi obat-obatan seperti kuinin pada malaria falciparum, disopiramid, dan pentamidin serta dapat disebabkan oleh syok
endotoksik. Pada kasus kadar insulin memadai tetapi terjadi hipoglikemia adalah akibat pemakaian glukosa berlebih, dapat disebabkan
oleh tumor ekstrapankreas, defisiensi karnitin sistemik, defisiensi enzim oksidasi lemak, defisiensi 3-hidroksi-3-metilglutaril-CoA liase,
dan kakeksia dengan penipisan lemak (Longo, 2011).
Pasien rawat inap yang mengalami hipoglikemia paling lazim disebabkan oleh pengunaan obat-obatan yang diberikan. Tiga obat yang
paling sering menyebabkan hipoglikemia pada pasien rawat inap adalah insulin, sulfonylurea, dan alkohol. Diperkirakan 60% kasus
ketiga obat ini terlibat dalam diagnosis hipoglikemia (Longo, 2011).
Patofisiologi
Hipoglikemia dapat terjadi ketika kadar insulin dalam tubuh berlebihan. Terkadang kondisi berlebih ini merupakan sebuah kondisi yang
terjadi setelah melakukan terapi diabetes mellitus. Selain itu, hipoglikemia juga dapat disebabkan antibodi pengikat insulin, yang dapat
mengakibatkan tertundanya pelepasan insulin dari tubuh. Selain itu, hipoglikemia dapat terjadi karena malproduksi insulin dari pankreas
ketika terdapat tumor pankreas. Setelah hipoglikemia terjadi, efek yang paling banyak terjadi adalah naiknya nafsu makan dan stimulasi
masif dari saraf simpatik yang menyebabkan takikardi, berkeringat, dan tremor (Silbernagl dan Lang, 2010).
Ketika terjadi hipoglikemia tubuh sebenarnya akan terjadi mekanisme homeostasis dengan menstimulasi lepasnya hormon glukagon yang
berfungsi untuk menghambat penyerapan, penyimpanan, dan peningkatan glukosa yang ada di dalam darah. Glukagon akan membuat
glukosa tersedia bagi tubuh dan dapat meningkatkan proses glikogen dan glukoneogenesis. Akan tetapi, glukagon tidak memengaruhi
penyerapan dan metabolisme glukosa di dalam sel (Carrol, 2007).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 10


Selain itu, mekanisme tubuh untuk mengompensasi adalah dengan meningkatkan epinefrin, sehingga prekursor glukoneogenik dapat
dimobilisasi dari sel otot dan sel lemak untuk produksi glukosa tambahan. Tubuh melakukan pertahanan terhadap turunnya glukosa darah
dengan menaikkan asupan karbohidrat secara besar-besaran. Mekanisme pertahanan ini akan menimbukan gejala neurogenik seperti
palpitasi, termor, adrenergik, kolinergik, dan berkeringat. Ketika hipoglikemia menjadi semakin parah maka mungkin juga dapat terjadi
kebingungan, kejang, dan hilang kesadaran (Cryer, 2011).
Hipoglikemia berat didefinisikan sebagai hipoglikemia yang tidak dapat di tangani oleh mekanisme homeostasis tubuh. Pada kondisi ini
orang yang terkena hipoglikemia berat dapat kehilangan kesadaran atau merasa kebingungan. Walaupun penderita hipoglikemia berat
akan terlihat sadar, tapi penderita akan terlihat lethargik (kelelahan) dan emosional. Hal ini disebabkan karena glukagon tidak dapat
mengompensasi adanya insulin yang berlebihan. Sehingga terkadang ketika seseorang mengalami hipoglikemia berat dibutuhkan
penyuntikkan glukagon. Penyuntikkan glukagon ini dapat diberikan dengan orang terdekat yang dilatih atau tenaga medis terlatih (Nelms
et al, 2007).
Diagnosis
Menurut Departement on Health and Human Service, secara harfiah hipoglikemia berarti kadar glukosa dalam darah menurun dari kadar
normal. Walaupun kadar glukosa plasma pada puasa jarang melampaui 99mg/dl (5,5 mmol/L) tetapi kadar <108mg/dl (6 mmol/L) masih
dianggap normal. Kadar glukosa plasma kira-kira 10% lebih tinggi dibandingkan dengan kadar glukosa darah keseluruhan karena eritrosit
mengandung kadar glukosa yang relatif rendah. Kadar glukosa arteri lebih tinggi dibandingkan dengan vena sedangkan kadar glukosa
kapiler berada diantara kadar glukosa arteri dan vena (Soemandji, 2009).
Diagnosis hipoglikemia dapat ditegakan bila kadar glukosa <50mg/dl (2,8 mmol/L) atau bahkan <40mg/dl (2,2 mmol/L). Walaupun
demikian berbagai studi fisiologis menunjukan bahwa gangguan fungsi otak sudah dapat terjadi pada kadar glukosa darah 55 mg/dl (3
mmol/L). Lebih lanjut diketahui bahwa kadar glukosa darah 55mg/dl (3 mmol/L) yang terjadi berulang kali dapat merusak mekanisme
proteksi endogen terhadap hipoglikemia yang lebih berat (Soemandji, 2009).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 11


Respon regulasi non pankreas terhadap hipoglikemia dimulai pada kadar glukosa darah 63-65mg/dl (3,5-3,6mmol/L). Oleh sebab itu,
dalam konteks terapi diabetes, diagnosis hipoglikemia ditegakkan bila kadar glukosa plasma kurang dari sama dengan 63 mg/dl (3,5
mmol/L) (Soemandji, 2009).
Terapi
1. Non Medika Mentosa
Tanda dan gejala hipoglikemia bervariasi dari satu orang dengan orang lain. Orang dengan hipoglikemia pada diabetes mellitus harus
mengenal tanda-tanda dan gejala serta menggambarkannya kepada teman-teman dan keluarga sehingga mereka dapat membantu jika
diperlukan. Staf di sekolah juga harus diberitahu bagaimana mengenali tanda dan gejala hipoglikemia pada anak dan bagaimana cara
mengobatinya. Orang yang mengalami hipoglikemia beberapa kali dalam seminggu harus menghubungi pusat pelayanan kesehatan untuk
mengatur perubahan dalam rencana pengobatan, pengurangan obat atau pemberian obat yang berbeda, jadwal baru untuk insulin atau
obat-obatan, makan yang berbeda, atau rencana kegiatan fisik yang baru apabila diperlukan (Fonseca, 2008).
Ketika orang berpikir glukosa darah mereka terlalu rendah, mereka harus memeriksa kadar glukosa darah pada sampel darah
menggunakan alat ukur. Jika kadar glukosa di bawah 70 mg/dl, makanan yang tepat yang harus dikonsumsi untuk menaikkan glukosa
darah adalah:
a. Glukosa gel 1 porsi yang jumlah sama dengan 15 gram karbohidrat.
b. 1/2 gelas atau 4 ons jus buah.
c. 1/2 gelas atau 4 ons minuman ringan biasa.
d. 1 cangkir atau 8 ons susu.
e. 5 atau 6 buah permen.
f. 1 sendok makan gula atau madu.
Langkah berikutnya adalah memeriksa kembali glukosa darah dalam 15 menit untuk memastikan kadar glukosa telah meningkat menjadi
70 mg/dl atau lebih . Jika masih terlalu rendah, diberikan makanan serupa. Langkah-langkah ini harus diulang sampai kadar glukosa darah
adalah 70 mg/dl atau lebih (Fonseca, 2008).

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 12


Menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (2006) pedoman tatalaksana hipoglikemiaa adalah sebagai berikut:
a. Glukosa diarahkan pada kadar glukosa puasa yaitu 120 mg/dl.
b. Bila diperlukan pemberian glukosa cepat (Intravena) bisa diberikan satu flakon (25 cc) dextrosa 40% (10 gr dextrosa) untuk
meningkatkan kadar glukosa kurang lebih 25-50 mg/dL.
Manajemen hipoglikemia menurut Soemadji (2009) tergantung pada derajat hipoglikemia, yaitu :
a. Hipoglikemia ringan
1. Diberikan 150-200 ml teh manis atau jus buah atau 6-10 butir permen atau 2-3 sendok teh sirup atau madu.
2. Bila tidak membaik dalam 15 menit, ulangi pemberian.
3. Tidak dianjurkan untuk memberikan makanan tinggi kalori seperti coklat, kue, ice cream, cake dan lain-lain.
b. Hipoglikemia berat
1. Tergantung pada tingkat kesadaran pasien.
2. Bila pasien dalam keadaan tidak sadar, jangan memberi makanan atau minuman karena bisa berpotensi terjadi aspirasi.
2. Medika Mentosa
Adapun terapi medika mentosa hipoglikemia yang dapat diberikan adalah:
a. Glukosa Oral.
b. Glukosa Intravena.
c. Glukagon (SC/IM).
d. Thiamine 100 mg (SC/IM) pada pasien alkoholisme.
e. Monitoring
Kadar Glukosa (mg/dL) Terapi Hipoglikemia
< 30 mg/dl Injeksi IV dextrose 40 % (25 cc) bolus 3 flakon
30-60 mg/dl Injeksi IV dextrosa 40 % (25 cc) bolus 2 flakon
60-100 mg/dl Injeksi IV dextrosa 40 % (25 cc) bolus 1 flakon

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 13


Follow up :
1. Periksa kadar gula darah 30 menit setelah injeksi.
2. Setelah 30 menit pemberian bolus 3 atau 2 atau 1 flakon dapat diberikan 1 flakon lagi sampai 2-3 kali untuk mencapai kadar
glukosa darah 120 mg/dl.

Pencegahan
Rencana perawatan diabetes dirancang untuk sesuai dengan dosis dan waktu pengobatan dengan waktu makan dan kegiatan seseorang
yang seperti biasa. Inkompatibilitas dapat menyebabkan hipoglikemia. Misalnya, meningkatkan dosis insulin atau obat lain yang, tapi
kemudian melewatkan penggunaan insulin dapat menyebabkan hipoglikemia (Fonseca, 2008). Untuk membantu mencegah hipoglikemia,
orang dengan diabetes harus selalu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Obat-obatan untuk diabetes
Penyedia layanan kesehatan dapat menjelaskan obat-obat yang digunakan untuk terapi diabetes yang dapat menyebabkan hipoglikemia
dan menjelaskan bagaimana dan kapan harus mengkonsumsi obat tersebut (Fonseca, 2008).
Orang-orang yang mengkonsumsi obat untuk diabetes harus bertanya kepada dokter atau tenaga kesehatan profesional kesehatan
mengenai
1. Apakah obat yang dikonsumsi dapat menyebabkan hipoglikemia.
2. Kapan mereka harus mengkonsumsi obat diabetes terebut.
3. Berapa jumlah obat yang harus mereka konsumsi.
4. Mereka harus tetap mengkonsumsi obat ketika mereka sakit.
5. Mereka harus menyesuaikan obat sebelum melakukan aktivitas.Fisik
6. Mereka harus menyesuaikan obat jika melewatkan waktu makan (Fonseca, 2008).
b. Pola makan

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 14


Seorang ahli diet dapat membantu merancang rancangan menu makan yang sesuai preferensi pribadi dan gaya hidup. Rencana makan ini
penting bagi pengelolaan hipoglikemi. Orang-orang hipoglikemi harus makan secara teratur, cukup makanan setiap kali makan, dan
mencoba untuk tidak melewatkan waktu makan atau makanan ringan. Beberapa makanan ringan dapat lebih efektif daripada makanan
lain dalam mencegah hipoglikemia pada malam hari. Ahli diet dapat membuat rekomendasi untuk makanan ringan (Fonseca, 2008).
c. Aktivitas sehari-hari
Untuk membantu mencegah hipoglikemia yang disebabkan oleh aktivitas fisik, penyedia layanan kesehatan mungkin menyarankan:
1. Memeriksa glukosa darah sebelum olahraga atau aktivitas fisik lainnya dan konsumsi camilan jika kadar gula darah di bawah 100
miligram perdesiliter (mg/dL).
2. Menyesuaikan obat sebelum aktivitas fisik.
3. Pemeriksaan glukosa darah secara teratur dengan interval selama waktu beraktivitas fisik dan konsumsi makanan ringan sesuai
kebutuhan.
4. Memeriksa glukosa darah secara berkala setelah aktivitas fisik(Fonseca, 2008).
d. Konsumsi alkohol
Minum-minuman beralkohol, terutama pada saat perut kosong, dapat menyebabkan hipoglikemia, bahkan satu atau dua hari kemudian.
Alkohol dapat sangat berbahaya bagi orang yang memakai insulin atau obat yang meningkatkan produksi insulin (Fonseca, 2008).
e. Rencana pengelolaan diabetes
Manajemen diabetes intensif untuk menjaga glukosa darah agar mendekati kisaran normal dapat mencegah komplikasi jangka panjang
yang bisa meningkatkan risiko hipoglikemia. Mereka yang berencana melakukan kontrol ketat harus berbicara dengan penyedia layanan
kesehatan mengenai cara-cara yanga dapat dilakukan untuk mencegah hipoglikemia dan cara terbaik untuk mengobatinya (Fonseca,
2008).
Prognosis

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 15


Prognosis hipoglikemia dinilai dari penyebab, nilai glukosa darah, dan waktu onset. Apabila bersifat simtomatik dan segera diobati
memiliki prognosis baik (dubia et bonam) dibandingkan dengan asimtomatik tanpa segera diberikan oral glucose (dubia et malam)
(Hamdy, 2013).
Hipoglikemia pada bukan penderita diabetes tidak memiliki prognosis yang relevan dapat bersifat baik maupun buruk untuk jangka
panjang (Manucci et al., 2006). Apabila pasien dianjurkan pengambilan pankreas maka memiliki prognosis tergantung skill medis dan
kondisi indivual (Anonymous, 2013).

4. Plan
Inj D40% 50 cc bolus IV
IVFD D10% 500 cc/6 jam selanjutnya D5% 500 cc/8 jam
Pemeriksaan GDS tiap jam
Amlodipin 1 x 10 mg PO
Asam folat 3 x 1 tab PO
B12 3 x 1 tab PO
CaCO3 3 x 1 tab PO

BUKU LOG DAN KUMPULAN BORANG PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA| 16