Anda di halaman 1dari 6

Radikal Bebas

- Para ahli biokimia menyebutkan baha radikal bebas merupakan salah satu bentuk
senyawa oksigen reaktif, yang secara umum diketahui sebagai senyawa yang memiliki
electron yang tidak berpasangan. 12
- Radikal bebas memiliki reaktivitas yang sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh sifatnya
yang segera menarik atau menyerang elektoron disekelilingnya. Senyawa radikal bebas
juga dapat mengubah suatu molekul menjadi suatu radika. 14
- Radikal bebas (free radical) adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu
atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya Adanya elektron yang tidak
berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan, dengan
cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada di sekitarnya. 15
- Karena reaktivitasnya sangat tinggi, maka akan mengakibatkan terbentuknya senyawa
radikal baru. Bila senyawa radikal baru ini bertemu dengan molekul lain, maka akan
terbentuk radikal baru lagi, dan seterusnya sehingga akan terjadi reaksi berantai (chain
reactions). Reaksi seperti ini akan berlanjut terus dan baru akan berhenti apabila
reaktivitasnya diredam (quenched) oleh senyawa yang bersifat antioksida. 15
- Reaktivitas radikal bebas merupakan upaya untuk mencari pasangan elektron. Sebagai
dampak kerja radikal bebas tersebut, akan terbentuk radikal bebas baru yang berasal
dari atom atau molekul yang elektronnya diambil untuk berpasangan dengan radikal
sebelumnya. Namun, bila dua senyawa radikal bertemu, elektron-elektron yang tidak
berpasangan dan kedua senyawa tersebut akan bergabung dan membentuk ikatan
kovalen yang stabil. Sebaliknya, bila senyawa radikal bebas bertemu dengan senyawa
bukan radikal bebas, akan terjadi 3 kemungkinan :
1. Radikal bebas akan memberikan elektron yang tidak berpasangan kepada senyawa
bukan radikal bebas.
2. Radikal bebas menerima elektron dari senyawa bukan radikal bebas.
3. Radikal bebas bergabung dengan senyawa bukan radikal bebas. 16
- Didalam tubuh terdapat 4 kelompok biomakromolekul yang menyusun sel, yaitu protein,
asam nukleat, lemak, dan polisakarida. Molekul-molekul tersebut secara individu
maupun bersama-sama mendukung fungsi biologis yang sangat mendasar. Bila terjadi
kerusakan pada salah satu atau beberapa dari molekul tersebut, pasti akan
menimbulkan efek yang sangat mengganggu organ lain. Target utama radikal bebas
adalah protein, asam lemak tak jenuh dan lipoprotein, serta unsur DNA termasuk
karbohidrat. Dari ketiga molekul target tersebut, yang paling rentan terhadap serangan
radikal bebas adalah asam lemak tak jenuh.(Winarsih16-17)
- Senyawa radikal bebas dalam tubuh dapat merusak asam lemak tak jenuh ganda pada
membran sel. Akibatnya, dinding sel menjadi rapuh. Senyawa oksigen reaktif ini juga
mampu merusak bagian dalam pembuluh darah sehingga meningkatkan pengendapan
kolesterol dan menimbulkan aterosklerosis. Senyawa radikal bebas ini juga berpotensi
merusak basa DNA sehingga merusak sistem info genetika dan berlanjut pada
pembentukan sel kanker. Jaringan lipid juga akan dirusak oleh senyawa radikal bebas
sehingga terbentuk peroksida yang memicu munculnya penyakit degeneratif
(Winarsi,2007, 17).
- Secara umum, tahapan reaksi pembentukan radikal bebas mirip dengan rancidity
oxidative, yaitu melalui 3 tahapan reaksi berikut, misalnya :
a. Tahap insiasi, yaitu awal pembentukan radikal bebas, misalnya :
Fe++ + H2O2 Fe+++ + OH- + OH*

R1-H + OH* R1* + H2O

b. Tahap propagasi,yaitu pemanjangan rantai radikal


R2-H + R1* R2* + R1-H
R3-H + R2* R3* + R2-H
c. Tahap terminasi, yaitu bereaksinya senyawa radikal dengan radikal lain atau dengan
penangkap radikal, sehingga potensi propagasinya rendah.
R1* + R1* R1-R1
R2* + R1* R2-R1
R2* + R2* R2-R2 dsT
(Winarsih, 18)
- Tanpa disadari, dalam tubuh kita terbentuk radikal bebas secara terus menerus, baik
melalui proses metabolisme sel normal, peradangan, kekurangan gizi, dan akibat
respons terhadap pengaruh dari luar tubuh, seperti polusi lingkungan, ultraviolet (UV),
asap rokok, dan lain-lain. 19
- Konsumsi antioksidan dalam tubuh memadai dilaporkan dapat menurunkan kejadian
penyakit degeneratif, seperti kardiovaskuler,kanker, aterosklerosis, osteoporosis dan
lain-lain. 20
- Reaktivitas radikal bebas dapat dihambat melalui 3 cara berikut:
Mencegah atau menghambat pembentukan radikal bebas baru
Menginaktivasi atau menangkap radikal dan memotong propagasi (pemutusan
rantai)
Memperbaiki (repair) kerusakan oleh radikal. 20
- Radikal bebas dapat terbentuk melalui dua cara yaitu secara endogen (sebagai respon
normal proses biokimia intrasel maupun ekstrasel), dan secara eksogen (misalnya dari
polusi, makanan, serta injeksi ataupun absorpsi melalui kulit). 26
Radikal bebas, yang sering disebut senyawa oksigen reaktif (SOR), juga dapat dibentuk
melalui jalur enzimatis ataupun metabolik. Misalnya pada proses cascade dari asam
arachidonat menjadi prostaglandin dan prostasiklindipacu oleh enzim lipoksigense dan
siklooksigenase menghasilkan komponen atau senyawa oksiden reaktif berupa epoksida
atau peroksida, serta oksidase (berbentuk monoamin oksidase atau aldehid oksidase),
selanjutnya akan membentuk radikal anion superoksida atau hidroperoksida. 27
Aktivitas makrofag dan netrofil merupakan bentuk mekanisme pertahanan tubuh
terhadap serangan infeksi mikroorganisme. Dalam hal ini enzim oksidase dan oksigenase
akan membentuk berbagai senyawa radikal bebas dan senyawa oksigen reaktif,
termasuk hipoklorid, yang akan menyerang dan menghancurkan virus dan bakteri.
Namun disisi lain terbentuknya senyawa tersebut sangat membahayakan karena juga
berpotensi menyerang tubuh. Jika hal ini tidak terkontrol, maka akan memicu
munculnya penyakit kronis seperti rheumatoid atritis. 28
- Radikal bebas dan senyawa oksigen reaktif menyebabkan terjadinya stress oksidatif yang
mengakibatkan berbagai penyakit. Meningkatnya kejadian penyakit kardiovaskuler,
aterosklerosis, diabetes melitus, dan kanker diyakini berkorelasi positif dengan tingginya
radikal bebas dan senyawa oksigen reaktif dalam tubuh.29
- Macam-macam Radikal
1. Radikal Ion Superoksida (O2)
Disebut juga anion superoksida. Diproduksi di beberapa tempat yang memiliki rantai
transpor elektron. Oksigen teraktivasi dapat terjadi dalam beberapa bagian sel,
termasuk mitokondira, kloroplas, mikrosom, glikosom, peroksisom, sitosol. Oleh
sebab itu tidak mengherankan jika ditemukan enzim superoksida dismutase dalam
subseluler tersebut. Ion superoksida yang terbentuk dalam bagian sel tersebut
merupakan bentuk senyawa oksigen yang sangat reaktif. Pembentukan radikal ion
superoksida ini melalui beberapa mekanisme seperti : reaksi samping dalam reaksi
yang melibatkan Fe++; Reaksi dalam mitokondria dan granulosit yang dikatalisis oleh
NADH/NADPH oksidase; Reaksi yang dikatalisis oleh xantin oksidase.
2. Radikal Peroksil (OOH)
Ion peroksida tidak terlalu reaktif bila dibandingkan dengan bentuk perubahannya
yang berupa radika peroksil
O2+ H+ OOH
Radikal ini sangat reaktif dan akan membentuk radikal baru melalui reaksi berikut
OOH + XH X + H2O2
Dari rekasi ini terlihat bahwa radikal peroksil lebih berbahaya daripada H2O2
3. Hidrogen Peroksida (H2O2)
Terbentuk karena aktivitas enzim-enzim oksidase yang mengkatalisis reaksi dalam
retikulum endoplasma dan peroksisom.
RH2 + O2 R + H2O2
Hidrogen peroksida merupakan senyawa oksidan yang sangat kuat dan dapat
mengoksidasi berbagai senyawa dalam sel seperti glutation. Tidak hanya bersifat
oksidator, melainkan juga dapat membentuk radikal bebas, bila bereaksi dengan
logam transisi seperti Fe++ dan Cu+
Fe++ + H2O2 Fe+++ + OH + OH
Atau
Cu+ + H2O2 Cu+++ + OH + OH
4. Radikal Hidroksi (OH)
Keberadaan senyawa H2O2 dapat berbhahya bila bersama-sama ion superoksida
karena akan membentuk radikal hidroksil
O2 + H2O2 O2 + OH+OH
5. Singlet Oksigen (1O2)
Merupakan bentuk oksigen yang memiliki rektivitas jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan oksigen bentuk ground state. Senyawa ini akan memterbentuk melalui
reaksi yangdikatalisis oleh enzim-enzim seperti berikut : Enzim monoksigenase yang
menggunakan sitokrom p450 dengan substrat peroksida; enzim prostaglandin
endoperoksida sintetase, yaitu suatu enzim yang bekerja dalam pembetukan
prostaglandin dari asam arachidonat; dan enzim mielproksidase, yang mengkatalisis
reaksi ion hipoklorit dengan H2O2.
32-36

ANTIOKSIDAN

- Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron atau reduktan. Senyawa ini memiliki
berat molekul kecil, tapi mampu menginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi, dengan
cara mencegah terbentuknya radikal. Antioksidan juga merupakan reaksi yang dapat
menghambat reaksi oksidasi, dengan cara mencegah terbentuknya radikal.antioksidan
juga merupakan reaksi yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan mengikat
radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Akibatnya kerusakan sel akan dihambat.
20
- Antioksidan dapat berupa enzim (misalnya superoksida dismutase atau SOD, katalase,
dan glutation peroksidase), vitamin (misal Vit ECA dan B-karoten), dan senyawa lain
(misalnya flavonoid, Albumin, bilirubin, seruplasmin, dan lain-lain. 20
- Antioksidan enzimatis merupakan sistem pertahanan utama terhadap kondisi stress
oksidatif. Enzim-enzim tersebut aktivitasnya tergantung pada logam. Aktivitas SOD
tergantung pada logam Fe Cu Zn Mn. Enzim katalase bergantung Fe. Enzim glutation
peroksidase bergantung Selenium. Antioksidan enzimatis bekerja dengan cara mencegah
terbentuknya senyawa radikal bebas baru. 21
a. Superoksida Dismutase (SOD) : melindungi sel-sel tubuh dan mencegah terjadinya
proses peradangan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Enzim ini terdapat dalam
semua organisme aerob, dan sebagian besar berada dalam tingkat subseluler.
Aktivitas enzim SOD memiliki peran penting dalam sistem pertahanan tubuh,
terutama terhadap aktivitas senyawa oksigen reaktif yang dapat menyebabkan stress
oksidatif. 87
b. Katalase : enzim yang mengandung heme, yang mengkatalisis dismutase hidrogen
peroksida (H2O2) menjadi air dan oksigen. 97
c. Glutation peroksidase (GSH-Px) : enzim antioksidan yang mengandung Selenium (Se)
pada sisi aktifnya. Kerja enzim ini mengubah molekul hidrogen peroksida dan
berbagai hidro serta lipid peroksida menjadi air. 100
- Antioksidan non-enzimatis yang dpat berupa senyawa nutrisi maupun non-nutrisi. Kedua
kelompok antioksidan non-enzimatis tersebut disebut juga antioksidan sekunder karena
diperoleh dari asupan bahan makanan, seperti vitamin CEA B-karoten. Glutation, asam
urat, bilirubin, albumin, dan flavonoid, juga temasuk dalam kelompok ini. Senyawa-
senyawa tersebut berfungsi menangkap senyawa oksidan serta mencegah terjadinya
reaksi berantai. 21. Isoflavon, flavon, antosianin, katekin, dan isokatekin. 122
Membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas.
122
Antioksidan non-enzimatis banyak ditemukan dalam sayuran maupun buah-buahan, biji-
bijian, serta kacang-kacangan. 22
Antioksidan non-enzimatis masih dibagi dalam 2 kelompok lagi, yaitu :
a. Antioksidan larut lemak, seperti tokoferol, karotenoid, flavonoid, quinon, dan
bilirubin
b. Antioksidan larut air, seperti asam askorbat, asam urat, protein pengikat logam, dan
protein pengikat heme. 78
Vitamin C : Antioksidan yang larut dalam air. Senyawa ini merupakan bagian
dari system pertahanan tubuh terhadap senyawa oksigen reaktif dalam
plasma dan sel. Sebagai antioksidan, vitamin c bekerja sebagai donor
elektorn, dengan cara memindahkan satu electron ke senyawa logam Cu.
Selain itu, vitamin C juga dapat menyumbangkan electron ke dalam reaksi
biokimia intraseluler dan ekstraseluler. Di luar sel, vitamin C mampu
menghilangkan senyawa oksigen reaktif, mencegah terjadinya LDL
teroksidasi, mentransfer elektorn ke dalam tokoferol teroksidasi,
mengabsorpsi logam dalam saluran pencernaan. 138
Sebagai antioksidan, askorbat akan bereaksi dengan radikalsuperoksida,
hydrogen peroksida, maupun radikal tokoferol membentuk asam
monodehidroaskorbat dan atau asam dehidroaskorbat. Bentuk tereduksinya
dapat berubah kembali menjadi asam askorbat oleh enzim
monodehidroaskorbat reduktase dan dehidroaskorbat reduktase.
O2+ 2H++ askorbat 2H2O2 + dehidroaskorbat
H2O2 + 2askorbat 2H2O + 2 monodehidroaskorbat. 146
Vitamin E : Vitamin ini secara alami memiliki 8 isomer yang dikelompokan
dalam 4 tokoferol (,,,) dan 4 tokotrienol (,,,)). Sebagai antioksidan,
tokoferol memindahkan atom hydrogen yang memiliki elekron tunggal
sehingga dapat menyingkirkan radikal bebas peroksil lebih cepat
dibandingkan reaksi radikal dengan protein membrane atau rantai samping
asam lemak. Radikal tokoferol yang tidak reaktif akan dieliminasi oleh asam
askorbat. 147-151
Karotenoid
i) -karoten
ii) Likopen
iii) Lutein, zeaxantin, dan Retinol
iv) Astaxanthin. 155-176
Flavonoid : sekelompok besar senyawa polifenol tanaman yang tersebar luas
dalam makanan dan dalam berbagai konsentrasi. 177
AsamLipoat : senyawa ini membantu enzim dalam pembentukan energy yang
berasal dari pemecahan gula. 191
Antioksidan Rempah-remah
- Secara biologis, pengertian antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal atau
meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh. Antioksidan bekerja dengan cara
mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang berisfat oksidan sehingga aktivitas
senyawa oksidan tersebut bisa dihambat. 77
- Tidak selamanya senyawa oksigen reaktif yang terdapat di dalam tubuh merugikan. Pada
kondisi-kondisi tertentu keberadaannya sangan dibutuhkan. Misalnya, untuk membunuh
bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Oleh sebab itu, keberadaannya harus dikendalikan
oleh sistem antioksidan dalam tubuh. 21
- Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu
antioksidan primer, sekunder, dan tersier.
a. Antioksidan primer (endogenus)
Meliputi enzim superoksida dismutase, katalase, glutation peroksidase. Dikatakan
primer karena dapat memberikan atom hydrogen secara cepat kepada senyawa
radikal, kemudian radikal antioksidan yang terbentuk berubah menjadi senyawa
yang lebih stabil. Dalam kata lain, antioksidan primer bekerja ddengan cara
mencegah pembetukan senyawa radikal bebas baru, atau mengubah radikal bebas
yang telah terbentuk menjadi molekul yang kurang reaktif.

SOD Katalase
O2 H2O2 H2O
GSH-Px

GSH GSSG

GR
NADPH NADP+

G6PD

Detoksifikasi ROS oleh enzim antioksidan primer. 101


b. Antioksidan sekunder (eksogenus)
Disebut juga antioksidan non-enzimatis. Merupakan pertahanan preventif.
Terbentuknya senyawa oksigen rekatif dihambat dengan cara pengkelatan metal,
atau dirusak pembentukannya. Kerja system antioksidan non-enzimatis yaitu dengan
cara memotong reaksi oksidasi berantai dari radikal bebas atau dengan cara
menangkapnya. Akibatnya radikal bebas tidak akan bereaksi dengan komponen
seluler. Antioksidan ini meliputi vitamin EC,-karoten, flavonoid, asam urat, bilirubin,
dan albumin. 79-81
Cara kerja antioksidan sekunder bervariasi, misal mencegah terbentuknya radikal,
menghilangkan radikal sebelum terjadi kerusakan, mereparasi kerusakan oksidatif,
mengeliminasi molekul yang rusak, meningkatkan aktivitas enzim fase II, maupun
mencegah terjadinya mutasi. 280
c. Antioksidan Tersier
Meliputi enzim DNA-repair dan metionin sulfoksida reduktase yang berfungsi dalam
perbaikan biomolekuler yang rusak akibat reaktivasi radikal bebas. 79-81

Dampak Reaktivitas radikal Bebas


Senyawa radikal bebas akan segera menyerang biomolekul yang ada disekelilingnya. Radikal
yang terdapat dalam endotel akan bereaksi dengan nitrit oksida menjadi peroksinitrit, yang
merupakan prooksdian rekatif dan menyebabkan kerusakan sel endotek. Kerusakan sel
endotel pembuluh darah di seluruh tubuh akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti
berikut :
Penurunan daya pengihatan yang berakhir kebutaan
Gangguan fungsi ginjal yang berakhir dengan gagal ginjal
Gangguan fungsi saraf
Penurunan daya tahan tubuh
Meningkatnya penyakit jantung koroner
Komplikasi pada penyakit Diabetes mellitus 264-266

Winarsi, Hery.,2007. Antioksidan alami dan radikal bebas. Yogyakarta : Kanisius Yogyakarta