Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Fotografi merupakan bagian dari seni sebagai salah satu hasil karya cipta

manusia. Sejarah fotografi telah melalui sebuah perjalanan yang cukup panjang.

Prinsip kerja yang diungkapkan oleh ilmuwan Arab bernama Al Hazen sekitar

pada abad ke-10, kemudian dikembangkan oleh ahli fisika dan matematika dari

Belanda bernama Reinerus Gemma-Frisius pada tahun 15541. Dunia fotografi

berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, seperti

yang terjadi pada awal abad milenium, era digital telah masuk ke dalam dunia

fotografi.

Bagi masyarakat Indonesia, dunia fotografi bukanlah hal yang baru.

Fotografi dapat dipastikan sudah menjadi bagian yang cukup penting dalam

kehidupan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat sekarang adalah

masyarakat yang gemar memotret atau dipotret, dengan menggunakan kamera

ataupun telepon genggam yang dilengkapi dengan fasilitas kamera. Melihat gejala

tersebut, maka dapat diketahui bahwa apresiasi dan minat masyarakat terhadap

dunia fotografi pada dasarnya sangat tinggi, bahkan dapat dinyatakan bahwa

fotografi sudah menjadi sebuah kebutuhan, berdampingan dengan kebutuhan

hidup yang lain.

Masyarakat saat ini lebih menyukai bentuk visual (dalam bentuk foto atau

video) sebagai sarana komunikasi daripada sederetan kata-kata berbentuk tulisan.

1
Giwanda, Griand, Belajar Fotografi ( Jakarta : Puspa Swara, 2001 ) hal. 3-4

1
Sarana visual lebih mudah untuk dipahami dan dicerna maksud serta tujuannya

karena deskripsi tentang sesuatu hal dapat tergambarkan secara jelas. Alat

transportasi dan komunikasi, makanan, minuman, rumah dan perabotannya,

gedung, busana, produk kecantikan dan lain sebagainya, bahkan sampai dengan

gambaran visual tentang seseorang atau kenangan terhadap sesuatu hal, dapat

terkomunikasi dengan baik dan jelas.

Terdapat tiga hal yang menjadi bagian dari dunia fotografi, yaitu bisnis

fotografi, pelaku fotografi dan hubungannya dengan dunia luar atau masyarakat.

1. Bisnis Fotografi

Merupakan salah satu bidang bisnis yang menjanjikan dan dapat

dikembangkan karena dunia fotografi berkaitan dengan peralatan

berteknologi tinggi yang terus mengalami perkembangan sejalan dengan

kemajuan teknologi. Perkembangan yang terjadi tidak akan pernah

berhenti, sama halnya dengan perkembangan teknologi yang terjadi pada

dunia informatika (komputer). Bisnis fotografi meliputi toko fotografi

dengan kegiatan jual-beli peralatan beserta segala asesorisnya, rental

peralatan sampai dengan studio fotografi, reparasi peralatan fotografi,

pemotretan outdoor atau indoor, editing foto, cuci-cetak dan lain-lain.

Sebagai salah satu contoh bisnis fotografi yaitu penjualan kamera

seperti disebutkan dalam media KOMPAS Rabu 21 September 2005 pada

liputan khusus Teknologi Informasi. Disebutkan bahwa diperkirakan

sebanyak 60 juta unit kamera digital membanjiri dunia pada tahun 2004.

Bisa dibayangkan jumlah kamera yang terjual pada tahun ini yang

2
diperkirakan bisa menembus angka 130 juta unit kamera. Jumlah kamera

yang disebutkan merupakan jumlah keseluruhan jenis kamera digital, baik

point and shoot digital camera, prosumer maupun DSLR dari berbagai

merek terkenal.

2. Pelaku Fotografi

Adalah orang-orang yang berkecimpung pada dunia fotografi.

Pelaku fotografi terbagi menjadi tiga kelompok yaitu pelaku bisnis

fotografi (sebagai produsen produk fotografi atau pelayan konsumen

terhadap kebutuhan fotografi), penggemar (fotografi dijadikan sebagai

hobby) dan pekerja fotografi (menjadikan fotografi sebagai profesi atau

sarana untuk mencari nafkah).

Pelaku bisnis fotografi sebagai produsen produk adalah pelaku

yang menciptakan berbagai produk fotografi yang kemudian digunakan

oleh masyarakat untuk melakukan pemotretan, seperti misalnya kamera,

lensa, filter, lampu flash dan berbagai produk serta pernak-pernik

fotografi. Produk yang dihasilkan dibungkus dengan berbagai label atau

merek yang sudah tidak asing lagi, seperti Nikon, Canon, Nikkor, Tamron,

Kodak, Pentax, Fuji, Konica, Minolta, Hasselblad, Leica dan lain

sebagainya. Sedangkan pelaku bisnis fotografi sebagai pelayan konsumen

terhadap kebutuhan fotografi adalah pelaku bisnis yang menyediakan

berbagai keperluan dan kebutuhan masyarakat terhadap fotografi, seperti

kebutuhan jual beli produk, sewa atau rental produk, proses cetak foto

3
(digital atau analog), jasa pemotretan dan sebagainya, dengan mendirikan

sebuah toko atau studio pada lokasi-lokasi strategis sebuah kota.

Bagi penggemar (hobby), fotografi menjadi salah satu sarana untuk

mencurahkan perasaan, ide, kritikan dan sebagai salah satu jalan

penghilang rasa bosan, dengan menciptakan sebuah karya secara bebas

tanpa ada tekanan atau paksaan. Adanya penggemar fotografi, maka

muncul komunitas yang mewadahi dengan berbagai macam variasi

komunitas, seperti komunitas yang terbentuk berdasarkan peralatan yang

digunakan, instansi atau lembaga tempat komunitas bernaung, tingkat

kemampuan penguasaan teknik fotografi dan lain sebagainya.

Fotografi juga menjadi sebuah profesi yang dapat digeluti atau

sebagai sarana untuk mencari nafkah, yaitu dapat sebagai wartawan

(meliput berita dengan menampilkan karya foto yang akan dimuat pada

media masa) atau sebagai fotografer profesional (model, busana, produk,

wedding, arsitektur, landscape atau panorama) yang kemudian karyanya

akan dijual dalam pameran, via internet atau media masa yang

membutuhkan.

3. Hubungan fotografi dengan dunia luar atau masyarakat

Jalinan hubungan antara fotografi dengan masyarakat adalah

fotografi dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi atau jembatan

informasi dan juga menjadi salah satu bidang pendidikan yang dapat

diraih.

4
Komunikasi atau informasi yang disampaikan pada masyarakat

dapat terwujud dalam sebuah pameran atas karya-karya yang dihasilkan

oleh para fotografer, pameran produk fotografi dan foto-foto yang

terpampang pada media masa, baik itu koran, majalah, baliho, poster dan

lain sebagainya.

Pendidikan fotografi dapat diwujudkan dalam sebuah pendidikan

formal pada sebuah universitas, akademi atau sekolah khusus fotografi,

maupun informal seperti kursus, les, seminar, diskusi dan lain-lain, sebagai

jembatan infomasi tentang berbagai ilmu yang terkandung dalam dunia

fotografi.

Dengan melihat ketiga hal di atas, fotografi menjadi sebuah hal yang

menarik. Satu bagian dengan bagian yang lain saling berkaitan, menciptakan

sebuah satu kesatuan dunia tersendiri. Kota Yogyakarta, sebagai kota yang juga

dikenal sebagai kota budaya yang melahirkan banyak fotografer-fotografer

handal, berpotensi untuk didirikan sebuah fasilitas khusus yang akan mewadahi

berbagai hal yang berhubungan dengan fotografi, yaitu dengan menciptakan

sebuah Galeri Fotografi.

Galeri Fotografi direncanakan merupakan sebuah galeri dengan konsep

one stop photography fasilities (mempersatukan tiga fasilitas fotografi atau lebih

ke dalam satu bangunan). Fasilitas yang ada di dalamnya merupakan sarana yang

akan mefasilitasi sebanyak mungkin kegiatan yang berhubungan dengan fotografi,

mulai dari bermacam kegiatan bisnis fotografi, kegiatan pelaku (atau komunitas)

5
fotografi dan hubungan dunia fotografi dengan masyarakat (sebagai sarana

jembatan komunikasi dan informasi).

Fasilitas maupun pelayanan yang diberikan akan meningkatkan kreatifitas

fotografer, pengetahuan tentang dunia fotografi dan meningkatkan apresiasi

masyarakat terhadap dunia fotografi. Sebagai contoh, kelengkapan peralatan dan

perlengkapan yang diperjual-belikan atau disewakan, pameran fotografi yang

sering diselenggarakan sebagai sarana komunikasi dan informasi atau sekedar

ajang pameran hasil karya fotografi, sarana dan prasarana diskusi bagi komunitas

fotografi, atau dengan tersedianya fasilitas studio fotografi beserta peralatan dan

perlengkapan yang sangat memadai yang akan memberikan visi baru serta

kebebasan berkreasi bagi fotografer sekaligus memberikan kebebasan berekspresi

bagi model atau orang yang berlaku sebagai obyek foto.

Arsitektur bangunan Galeri Fotografi direncanakan merupakan sebuah

desain arsitektur modern, canggih, sebagai analogi ataupun simbol perwujudan

dari perkembangan teknologi modern pada dunia fotografi, seperti contohnya

yang terjadi pada teknologi kamera. Bangunan modern dan canggih yang

dimaksud adalah pemakaian material modern, seperti baja, beton atau bidang

transparan berupa kaca, yang dikonfigurasikan secara bebas sehingga

menghasilkan sebuah kompleksitas bentuk desain yang jujur dan dinamis.

Pemahaman tentang studio foto juga merupakan bagian dari desain yang

direncanakan sehingga dengan pemahaman tersebut maka ruang-ruang yang

dibentuk, eksterior ataupun interior, menciptakan nuansa yang fotografis sehingga

memungkinkan untuk difungsikan atau digunakan sebagai arena pemotretan.

6
1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana merancang Galeri Fotografi di Yogyakarta sebagai one stop

photography facilities dengan analogi atau simbolisasi kemajuan teknologi

fotografi dan pemahaman tentang studio fotografi pada desain dan ekspresi

bangunan sehingga akan meningkatkan apresiasi masyarakat dan kreatifitas

fotografer.

1.3. Tujuan

Merancang Galeri Fotografi di Yogyakarta sebagai one stop photography

facilities dengan analogi atau simbolisasi kemajuan teknologi fotografi dan

pemahaman tentang studio fotografi pada desain dan ekspresi bangunan sehingga

akan meningkatkan apresiasi masyarakat dan kreatifitas fotografer.

1.4. Sasaran

Merancang Galeri Fotografi di Yogyakarta sebagai one stop photography

facilities dengan analogi atau simbolisasi kemajuan teknologi fotografi dan

pemahaman tentang studio fotografi pada desain dan ekspresi bangunan sehingga

akan meningkatkan apresiasi masyarakat dan kreatifitas fotografer, dengan

melakukan :

1. Studi tentang fotografi, pengertian dan penjelasannya

2. Studi tentang aktifitas dunia fotografi

3. Studi tentang perkembangan teknologi fotografi

4. Studi tentang studio fotografi

5. Studi tentang galeri atau museum

6. Studi tentang Yogyakarta

7
1.5. Lingkup Permasalahan

1. Fotografi berbagai jenis yang dibatasi pada fotografi abstrak, still-life,

produk, eksperimenspecial effect, portrait, model-fashion-wedding

2. Kegiatan fotografi dibatasi pada kegiatan bisnis fotografi, kegiatan pelaku

(komunitas) fotografi dan komunikasi informasi publik

3. Perkembangan teknologi fotografi yang dibatasi pada kemajuan teknologi

fotografi konvensional menjadi teknologi fotografi digital

4. Studio foto yang dibatasi pada studio outdoor, studio indoor dan mix

lighting studio dengan spesifikasi studio foto untuk human-model-fashion,

otomotif dan product photography

5. Galeri atau museum dibatasi pada ide-ide yang berkaitan dengan display

6. Yogyakarta dibatasi pada hal yang berhubungan dengan pemilihan site

untuk galeri tersebut

1.6. Metode Pengumpulan Data

1. Mencari Data

Wawancara

Ditujukan pada praktisi fotografi, fotografer profesional, pemilik

studio foto, pemilik bursa kamera, pengelola Galeri Foto

Jurnalistik ANTARA dan PrimaImaging Digital Photography &

Lighting Equipment Center di Jakarta

Studi Pustaka / Literatur

Mempelajari buku-buku tentang dunia fotografi, desain ruang dan

bangunan

8
Observasi dan Studi Banding

Pengamatan langsung pada Galeri Foto Jurnalistik ANTARA,

Jakarta dan PrimaImaging Digital Photography & Lighting

Equipment Center, Jakarta, tentang kebutuhan ruang, hubungan

ruang dan fasilitas, peralatan serta perlengkapan yang tersedia

2. Metode Analisa Data

Kuantitatif

Potensi / minat masyarakat pada dunia fotografi

Aktifitas fotografi yang diadakan di Yogyakarta

Fotografer aktif yang ada di Yogyakarta

Kualitatif

Kondisi bangunan fasilitas fotografi di Jakarta

Kualitas fotografer Yogyakarta

3. Metoda Perancangan

Membentuk ruang dan desain arsitektural dengan menerapkan

simbolisasi kemajuan teknologi fotografi

1.7. Sistematika Penulisan

Bab 1 PENDAHULUAN

Mengungkapkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sasaran,

lingkup, metode dan sistematika penulisan

Bab 2 TINJAUAN DUNIA FOTOGRAFI DAN PERKEMBANGANNYA

Mengungkapkan pengertian fotografi beserta perkembangannya, fasilitas-

fasilitas pendukungnya dan potensi masyarakat pada dunia fotografi

9
Bab 3 TINJAUAN BANGUNAN GALERI FOTOGRAFI

Mengungkapkan tinjauan bangunan Galeri Fotografi, aktifitas yang akan

diwadahi

Bab 4 ANALISIS KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

GALERI FOTOGRAFI

Mengungkapkan proses untuk menemukan ide-ide konsep perencanaan

dan perancangan melalui metode-metode tertentu yang diaplikasikan pada

lokasi atau site tertentu

Bab 5 KONSEP PERANCANAAN DAN PERANCANGAN

Mengungkapkan konsep-konsep yang akan ditransformasikan dalam

rancangan fisik arsitektural

10