Anda di halaman 1dari 13

RANGKUMAN TBC

2.1 Definisi Penyakit


Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
Tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru,
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Paru-paru


Paru-paru merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut, dan terletak dalam
rongga thorax. Setiap paru mempunyai apeks (bagian atas paru) dan dasar. Pembuluh darah
paru, bronkus, saraf dan pembuluh limfe memasuki tiap paru pada bagian hilus.

2.3 Etiologi/ faktor resiko


Kemungkinan untuk terinfeksi TB, tergantung pada :
1. Kepadatan droplet nuclei yang infeksius per volume udara
2. Lamanya kontak dengan droplet nuklei tersebut
3. Kedekatan dengan penderita TB
Resiko terinfeksi TB sebagian besar adalah faktor resiko external, terutama adalah
faktor lingkungan seperti rumah tak sehat, pemukiman padat & kumuh. Sedangkan resiko
menjadi sakit TB, sebagian besar adalah faktor internal dalam tubuh penderita sendiri yg
disebabkan oleh terganggunya sistem kekebalan dalam tubuh penderita seperti kurang gizi,
infeksi HIV/AIDS, pengobatan dengan immunosupresan dan lain sebagainya.

2.4 Klasifikasi
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu definisi
kasus yang meliputi empat hal, yaitu :
1. Lokasi atau organ tubuh yang sakit: paru atau ekstra paru.
2. Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis): BTA positif atau BTA
negatif.
3. Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat.
4. Riwayat pengobatan TB sebelumnya: baru atau sudah pernah diobati.
Ada beberapa klasifikasi TB yaitu menurut Depkes (2007) yaitu:
a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
1) Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru.
tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2) Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura,
selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian,
kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
TB ekstra paru ringan
Misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali
tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
TB ekstra paru berat
Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa
duplex, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin.
b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada TB Paru:
1) Tuberkulosis paru BTA positif.
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan
gambaran tuberkulosis.
1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik
TB paru BTA negatif harus meliputi:
Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
c. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit.
1) TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto toraks
memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses far
advanced), dan atau keadaan umum pasien buruk.
2) TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis,
pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih
dan alat kelamin.
d. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, dibagi menjadi beberapa tipe
pasien, yaitu:
1) Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan
OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis
kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3) Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA
positif.
4) Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.
6) Kasus lain:
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini
termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif
setelah selesai pengobatan ulangan
2.5 Patogenesis
Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran pencernaan,
dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui udara (airbone),
yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal
dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama bagi jenis
bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB
tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah,
sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh
lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin
menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan
oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Secara klinis, TB dapat terjadi melalui infeksi primer dan paska primer. Infeksi primer
terjadi saat seseorang terkena kuman TB untuk pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi
melalui saluran pernafasan, di dalam alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini
disebabkan oleh kuman TB yang berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru.
Waktu terjadinya infeksi hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6 minggu.
Infeksi paska primer terjadi setelah beberapa bulan atau tahun setelah infeksi primer.
Ciri khas TB paska primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau
efusi pleura.
2.6 Gejala Klinis
Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk dan berdahak
terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, batuk darah atau pernah batuk darah. Adapun
gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan nyeri dada, badan
lemah, nafsu makan dan berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat
malam, walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Pada anak-anak gejala TB terbagi 2, yakni gejala umum dan gejala khusus.
1. Gejala umum, meliputi :
Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas dan tidak naik
dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik.
Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau infeksi
saluran nafas akut) dapat disertai dengan keringat malam.
Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paling sering di daerah leher,
ketiak dan lipatan paha.
Gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lebih dari 30 hari (setelah disingkirkan
sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan nyeri dada.
Gejala dari saluran cerna, misalnya diare berulang yang tidak sembuh dengan
pengobatan diare, benjolan (massa) di abdomen, dan tanda-tanda cairan dalam
abdomen.
2. Gejala Khusus, sesuai dengan bagian tubuh yang diserang, misalnya :
TB kulit atau skrofuloderma
TB tulang dan sendi, meliputi :
- Tulang punggung (spondilitis) : gibbus
- Tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul
- Tulang lutut: pincang dan atau bengkak
TB otak dan saraf
Meningitis dengan gejala kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun.
Gejala mata
- Conjunctivitis phlyctenularis
- Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)
Seorang anak juga patut dicurigai menderita TB apabila:
1. Mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TB BTA positif.
2. Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikkan BCG (dalam 3-7 hari).

2.7 Diagnosa
Diagnosis TB paru pada orang dewasa yakni dengan pemeriksaan sputum atau dahak
secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya 2 dari 3
spesimen SPS BTA hasilnya positif. Apabila hanya 1 spesimen yang positif maka perlu
dilanjutkan dengan rontgen dada atau pemeriksaan SPS diulang.
Pada stadium dini penyakit tuberkulosis biasanya tidak tampak adanya tanda atau gejala
yang khas. Tuberkulosis dapat didiagnosis hanya dengan tes tuberkulin, pemeriksaan
radiografik, dan pemeriksaan bakteriologik.
a. Tes Kulit Tuberkulin
b. Pemeriksaan Radiografik
c. Pemeriksaan Bakteriologik
d. Pemeriksaan Penunjang

2.8 Komplikasi
1. Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
3. Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat
pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: kolaps spontan karena
kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Sumber lain mengatakan beberapa komplikasi yang sering ditemukan pada pasien TBC
atau TB antara lain :
1. Kerusakan tulang dan sendi
2. Kerusakan otak
3. Kerusakan hati dan ginjal
4. Kerusakan jantung
5. Gangguan mata
6. Resistensi Kuman
Komplikasi TB Paru
1. Batuk Darah (Haemoptoe)
Pada dasarnya proses TB Paru adalah proses nekrotis, dan jaringan yang mengalami
nekrotis terdapat pada pembuluh darah. Jumlah darah yang dibatukan keluar bervariasi
mulai dari sangat sedikit sampai banyak sekali, tergantung pada pembuluh darah yang
terkena.
2. Hematogen
Penyebaran hematogen terjadi bilamana proses nekrotis mengenai pembuluh darah.
Bahan-bahan nekrotis yang penuh basil-basil TB akan tertumpah dalam aliran darah.
Basil-basil ini kemudian akan bersarang di organ-organ tubuh lainnya. Ada dua organ
tubuh yang memang secara alamiah tidak dapat diserang TB, yaitu otot sekelet dan
ototjantung.
3. TB Larings
Karena tiap kali dahak yang mengandung basil TB dikeluarkan melalui larings, maka
basil yang tersangkut di larings akan menimbulkan proses TB di larings.
4. Pneumotoraks
Apabila proses nekrotis dekat dengan pleura maka pleura akan bocor. Sehingga terjadilah
penumathorules (pecahnya dinding kavitas yang berdekatan dengan pleura).
5. Abses Paru
Infeksi sekunder dapat pula mengenai jaringan nekrotisi tulang, sehingga terjadi abses
paru.

2.9 Terapi
2.9.1 Terapi Non Farmaka
Adapun terapi non farmakologi bagi pasien TB meliputi :
1. Sering berjemur dibawah sinar matahari pagi (pukul 6-8 pagi).
2. Memperbanyak istirahat (bedrest).
3. Diet sehat, dianjurkan mengkonsumsi banyak lemak dan vitamin A untuk membentuk
jaringan lemak baru dan meningkatkan sistem imun.
4. Menjaga sanitasi/kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal.
5. Menjaga sirkulasi udara di dalam rumah agar selalu berganti dengan udara yang baru.
6. Berolahraga, seperti jalan santai di pagi hari.
7. Pembedahan juga mungkin diperlukan untuk menghilangkan jaringan paru-paru yang
hancur, spaceoccupying lesi yang terinfeksi (tuberkuloma). Pemberian vaksin pada
pasien TB diantaranya BCG dan M. Vaccae. Namun, vaksin ini memiliki kemampuan
yang terbatas, dan tidak dapat mencegah infeksi oleh M. tuberculosis. BCG dapat
mencegah bentuk-bentuk ekstrim dari TB pada bayi, sedangkan M. vaccae tidak
direkomendasikan.
2.9.2 Terapi Farmaka

Tahap Intensif
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.
Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama.
Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant) sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan.
Obat Anti Tubercolosis (OAT)
1). 1st

a. Isoniazid (INH)
b. Rifampisin (RIF)
c. Pirazinamid (PZA)
d. Etambutol (EMB)
e. Steptomisin (SM)

Obat OAT Efek Samping KI MK Indikasi


Isoniazid gangguan system saraf Penyakit hati, Merusak dinding TBC paru, TBC
periver, gangguan saluran gangguan fungsi sel dengan ekstrapulmonar,
cerna, alergi, leukopenia dan ginjal menghambat kemoprofilaksis
kerusakan hati, dan sintesa asam anak
poineuritis. nikolik

Rifampisin gangguan saluran cerna, Kelainan hati, menghambat tuberculosis


ikterus, hepatitis, gagal sintesa RNA jangka pendek (
ginjal, demam, bakteri dengan INH)
hipersensitivitas, air kencing mengikat RNA
berwarna merah polimerasi
sehingga
memblok
transkripsi RNA
Sterptomisin Ototoksisitas, gagal ginjal, Hipersensitiv Untuk mengobati
hipersensitivitas terhadap TBC dan infeksi
aminoglikosida yang disebabkan
lain bakteri tertentu

Obat OAT Efek Samping KI MK Indikasi

Pirazinamid Gangguan saluran cerna, Gangguan hati dihidrolisis oleh Tuberkulosis dalam
kerusakan hati dan ikterus, enzyme kombinasi obat lain
peningkatan asam urat, pirazinamidase
hematopoiesis, fotosensibilisasi, menjadi asam
demam, anemia, hipoglikemia, pirazonoat yang
aktif sebagai
tuberkulostatik
yang menjadikan
suasana asam dan
konsentrasi obat
meningkat
(tuberkulosid)
Etambutol Neuritis optic (buta warna Anak dibawah usia menekan Tuberculosis dalam
merah atau hijau) dan gangguan 6 th menyebabkan multiplikasi kombinasi
penglihatan, hipersensititivas, neuritis optic mikrobakteria
asam urat dengan cara
mengganggu
sintesa RNA
2). 2nd

a. Protionamida
b. Asam p-aminosalisilat
c. Kanamisin
d. Sikloserin

Obat OAT Efek Samping KI MK Indikasi

Protionamida gangguan penglihatan mata, Merusak dinding sel dengan gangguan system saraf periver,
asam urat, reaksi anafilaktik, menghambat sintesa asam ganguan saluran cerna, alergi,
anemia plastic, dan demam, nikolik leukopenia dan kerusakan hati, dan
pusih, mudah lelah, alergi. poineuritis.

Para Amino Salisilat gangguan saluran cerna, reaksi mirip dengan


alergi, hepatotoksis, natrium
berlrbihan sulfonamide yaitu
mengusir asam p-
aminobenzoat
secarakompotitip.

Kanamisin ototoksisitas, nefrotoksisik, Gangguan fungsi ginjal, menghambat sintesis antituberkulosis sekunder
vestibular, ginjal. wanita hamil dan
menyusui, hipersensitivitas protein bakteri

Panduan Terapi
H = Isoniazid
R = Rifampisin
Z = Pirazinamid
E = Etambutol
S = Streptomisin

Kategori I
Kasus Baru , BTA positif
Kasus baru, BTA negative, Rontgen positif, sakit berat
Kasus baru dengan kerusakan berat pada TB ekstraparu
2RHZE/4H3R3
Kategori II
Penderita kambuh
Penderita gagal
Penderita dengan pengobatan setelah lalai
2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Kategori III
Kasus baru, BTA negatif, rontgen positif, sakit ringan
TB ekstra Paru ringan
2HRZ/4H3R3
Kategori IV
Kasus TB kronik (BTA positif, setelah pengobatan Ulang)
INH Seumur Hidup

Tabel 2. Paduan pengobatan standar yang direkomendasikan oleh WHO dan IUATLD
(International Union Against Tuberculosis and Lung Disease):

Kategori 1 2HRZE/4H3R3

2HRZE/4HR

2HRZE/6HE

Kategori 2 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

2HRZES/HRZE/5HRE

Kategori 3 2HRZ/4H3R3

2HRZ/4HR

2HRZ/6HE

1.10 Terapi Pada Kondisi Khusus


1. Wanita hamil
Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada wanita hamil tidak berbeda
dengan pengobatan TB pada umumnya.
Semua jenis OAT aman untuk wanita hamil, kecuali streptomisin karena dapat
menembus barier plasenta dan dapat menyebabkan permanent ototoxic terhadap janin
dengan akibat terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada
janin tersebut. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya
sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan
dilahirkannya terhindar dari kemungkinan penularan TB.
2. Ibu menyusui dan bayinya
Pada prinsipnya paduan pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda
dengan pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui.
Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara
adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan
kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat
terus menyusu. Pengobatan pencegahan dengan INH dapat diberikan kepada bayi
tersebut sesuai dengan berat badannya selama 6 bulan. BCG diberikan setelah
pengobatan pencegahan.
3. Wanita penderita TB pengguna kontrasepsi.
Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB,
susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang wanita
penderita TB seyogyanya mengggunakan kontrasepsi nonhormonal, atau kontrasepsi
yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg).
4. Penderita TB dengan infeksi HIV/AIDS
Prosedur pengobatan TB pada penderita dengan infeksi HIV/AIDS adalah sama
seperti penderita TB lainnya. Obat TB pada penderita HIV/AIDS sama efektifnya.
5. Penderita TB dengan hepatitis akut
Pemberian OAT pada penderita TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik,
ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan dimana
pengobatan TB sangat diperlukan dapat diberikan SE selama 3 bulan sampai
hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan RH selama 6 bulan, bila hepatitisnya
tidak menyembuh seharus dilanjutkan sampai 12 bulan.
6. Penderita TB dengan penyakit hati kronik
Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati
sebelum pengobatan TB. Jika SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT harus
dihentikan. Pirazinamid (Z) tidak boleh digunakan. Paduan obat yang dapat dianjurkan
adalah 2RHES/6RH atau 2HES/10HE atau 9RE.
7. Penderita TB dengan gangguan ginjal
Isoniazid, Rifampisin dan Pirazinamid dapat diberikan dengan dosis normal
pada penderita-penderita dengan gangguan ginjal. Hindari penggunaan Streptomisin
dan Etambutol kecuali dapat dilakukan pengawasan fungsi ginjal dan dengan dosis
diturunkan atau interval pemberian yang lebih jarang. Paduan OAT yang paling aman
untuk penderita dengan gangguan ginjal adalah 2RHZ/6HR.
8. Penderita TB dengan Diabetes Melitus
Diabetesnya harus dikontrol. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan Rifampisin
akan mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosisnya
perlu ditingkatkan. Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena mempunyai
komplikasi terhadap mata.
9. Penderita-penderita TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid
Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa
penderita seperti :
TB meningitis
TB milier dengan atau tanpa gejala-gejala meningitis
TB Pleuritis eksudativa
TB Perikarditis konstriktiva.
Prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari, kemudian diturunkan
secara bertahap 5-10 mg . Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan
kemajuan pengobatan.