Anda di halaman 1dari 11

ARTIKEL KEMISKINAN KOTA

Jakarta (antara news.com) Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Maret 2010, ada 31,02 juta
penduduk miskin di Indonesia, atau 13,33 persen dari total penduduk Indonesia.

Angka ini turun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebanyak 32,53 juta.

Bagian terbesar penduduk miskin hidup di desa. Mereka ini lalu menoleh perkotaan untuk
mengatasi kemiskinan mereka. Maka arus urbanisasi pun mengencang.

Namun karena banyak dari mereka tak cukup terdidik dan tak cukup keahlian, kehadiran mereka
di kota malah memindahkan kemiskinan dari desa ke kota atau mempertinggi angka kemiskinan
kota.

Keadaan itu terjadi pula di Jakarta. Malah, persaingan hidup yang sengit dan lahan yang kian
menyempit, memaksa jutaan orang miskin kota tinggal di daerah-daerah tak layak ditempati,
sampai-sampai ada yang harus menempati sudut-sudut yang selain membahayakan dan merusak
tata kota, tapi juga bukan haknya.

Mereka ini termasuk yang tinggal di wilayah bantaran rel kereta api milik PT Kereta Api
Indonesia (KAI). Diataranya yang terdapat di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, tepatnya
depan kampus STIA LAN, Jakarta.

Di sini, bangunan-bangunan semi permanen menyesaki lahan pinggir rel. Bangunan-bangunan


ini ditinggali ratusan kepala keluarga yang hanya satu meter dari bibir rel.

Mereka sudah tidak mempedulikan keselamatan diri mereka. Namun, karena sudah biasa, dan
pastinya karena dipaksa oleh tuntutan hidup, mereka menjalani juga kehidupan penuh risiko itu.

Kebanyakan dari mereka adalah kaum pendatang yang berurbanisasi dari wilayah-wilayah
seperti Indramayu, Cirebon, Madura, dan banyak tempat lainnya.

Setiap keluarga menyesaki ruangan seukuran 3x3 meter persegi yang disusun dari potongan-
potongan kayu. Di ruang sesempit ini rata-rata ada tiga orang di dalamnya.

Mereka rata-rata berdagang, tukang bangunan, supir taksi, sopir bajay, tukang ojek, tukang cuci
pakaiaan, pembantu rumah tangga, dan profesi informal lainnya.

Jangan anggap mereka gratis menempati gubuk-gubuk itu, sebaliknya mereka harus membayar
sewa kepada penghuni awal lahan milik PT KAI tersebut.

"Jangan salah lho, kami ngontrak untuk bisa tinggal di rel ini," kata Ujang Supriatna (29).
Bayarannya, kata penjual gorengan keliling ini, adalah Rp200 ribu sebulan, dengan fasilitas
aliran listrik dan tempat MCK. Ujang mengaku sudah tiga tahun tinggal di situ. Tentu saja dia
tinggal bersama keluarganya.

Mereka sadar

Sulit membayangkan bisa hidup di tempat sesumpek itu. Tapi, mereka bahkan ada yang sudah
berpuluh tahun tinggal di situ. "Saya tinggal di sini sejak tahun 1985," kata Oom komariyah (47).

Ibu rumah tangga beranak tiga itu mengungkapkan kehidupan seperti ini sudah ada sejak dia dan
suaminya hijrah dari Tasikmalayua ke Jakarta 25 tahun silam untuk mengadu nasib.

Demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Oom membuka warung di sisi rel yang berjarak
hanya satu meter dari jalur kereta api, sementara suaminya menjadi tukang bangunan.

Mereka benar-benar sudah terbiasa hidup di kesumpekan, sampai-sampai harus menyimpan


properti mereka di luar gubuk. Mereka yang memiliki sepeda motor atau gerobak, terpaksa
memarkir asetnya itu di ruang di antara dua rel kereta api.

"Ya mau gimana lagi, orang lahannya sempit," kata Kosim Rohimat (33).

Kosim berprofesi sebagai pedagang mie ayam dan kadang nyambi menjadi tukang bangunan,
sedangkan sang istrinya bekerja sebagai tukang cuci di rumah susun tak jauh dari tempat mereka
tinggal.

Bukan hanya kalangan dewasa yang terbiasa di kesumpekan, anak-anak mereka pun terbiasa
bermain di wilayah yang tak menyisakan sejengkal pun tanah untuk tempat bermain anak itu.

Meski menganggap gubuk-gubuk itu istananya, tapi mereka sadar telah menempati lahan yang
bukan haknya, sehingga kalau ditertibkan mereka akan menerimanya.

"Kita sih terima aja ditertibkan karena memang ini bukan tanah saya," kata Oom.

Yang Oom dan warga bantaran rel lainnya minta adalah mengkomunikasikannya dulu kepada
mereka, jangan asal bongkar dan gusur.

"Ditertibkan sih boleh boleh saja, yang penting diberitahukan kepada semua warga di sini," kata
Usep.

Warga asal Garut ini ingin ada musyawarah terlebih dahulu sebelum ditertibkan, termasuk
membincangkan kompensasi untuk mereka.
Warga seperti Oom mengharapkan kompensasi itu diantaranya pinjaman usaha dan biaya
pemulangan mereka ke kampung. "Saya sih terima kasih kalau nanti ada bantuan, moga-moga
bisa lancarin usaha saya," kata Oom.

Selama ini hanya keterpaksaan yang membuat mereka tinggal di bantaran rel. Mereka
melakukannya dmei mencoba bertahan hidup di Jakarta, apalagi mereka sudah beranak pinak.

Pemerintah sendiri dalam waktu dekat akan menertibkan wilayah bantaran rel, mulai kawasan
dekat flyover Slipi sampai kawasan Pintu Air Pejompongan. Jadi termasuk area di mana Oom,
Ujang, Kosim dan ratusan keluarga lainnya tinggal.

Penertiban kawasan itu diberlakukan kepada wilayah di dua sisi bantaran rel, yaitu sisi wilayah
Petamburan sejauh 1 meter dari rel dan sisi Pejompongan sejauh 5 meter dari rel.

Kiprah Kementerian Sosial

Sebelum penertiban dilaksanakan, ada baiknya mendengar dulu keluhan warga itu yang
umumnya berharap mendapatkan kompensasi berupa bantuan modal. Tentu saja sebagai warga
negara, mereka berhak difasilitasi negara.

Selama ini mereka mengandalkan pinjaman dari para rentenir karena mana mau bank
menyalurkan kredit kepada warga miskin seperti mereka. Mereka menyebut para rentenir
dengan "bank keliling".

"Modal usaha sangat penting bagi kami," kata Usep.

Pemerintah sendiri, diantaranya Kementerian Sosial, tak berdiam diri menjawab aspirasi warga
miskin ini.

Kementerian Sosial sendiri, bersama PT. KAI, menyatakan kesiapannya membantu penduduk
miskin yang rumah sumpek mereka itu akan segera ditertibkan. Kementerian akan
memberdayakan masyarakat miskin kota, termasuk yang ada di bantaran rel kereta api.

Humas Kementrian Sosial Tati Nurhayati menyatakan, pihaknya siap mendampingi masyarakat
yang menempati lahan milik PT. KAI.

Melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan,


Kementeriam Sosial juga siap membantu pemulangan mereka ke kampung asalnya.

"Nantinya mereka akan dipulangkan ke kampung halaman masing masing," kata Tati.

Khusus anak-anak yang tinggal di kawasan miskin itu, pemerintah menyediakan pelayanan
khusus untuk anak balita, anak terlantar dan jalanan, anak yang berhadapan dengan hukum, anak
cacat dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Skema perlindungannya dimaktub dalam Program Kesejahteraan Sosial Anak(PKSA).


Sejak 2009 hingga 2010, Kementerian Sosial sudah mengalokasikan Rp194 miliar untuk
program PKSA dan ini sudah menjangkau 148.890 anak yang memiliki masalah sosial, termasuk
4.884 anak jalanan.

Sementara untuk merespons keluhan seperti disampaikan warga bantaran rel, Kementerian Sosial
memiliki progam khusus Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Dalam skema ini, kelompok warga miskin bisa mendapat bantuan Rp20 juta. Dengan dana ini
warga miskin mesti bisa mengembangkan usahanya sendiri.

Di Palu, Sulawesi Tengah, program KUBE mencatat sukses. Warga miskin yang mendapat
bantuan skema ini berhasil mengembangkan usaha batu bata, sementara di Kabupaten Bangli,
Bali, program serupa sukses mendorong usaha ternak sapi di sana.

Dengan keberhasilan seperti itu, program serupa bisa pula membantu mengeluarkan Oom dan
banyak lagi warga miskin di bantaran rel atau warga miskin perkotaan lainnya, keluar dari jerat
kemiskinan.

Perekonomian Indonesia tentang kemiskinan memang sedang dibicarakan banyak


masyarakat, Indonesia memang mayoritasnya kebanyakan kemiskinannya dibandingkan
kejayaannya. Banyak sekali pengangguran dilingkungan masyarakat.
Di Indonesia saat ini tidak banyaknya ketersediaan lapangan kerja yang mencangkup dengan
banyaknya masyarakat, bayangkan saja sekarang sarjana-sarjana lulusan tinggi kebanyakan
pengangguran bahkan sekalinya mereka kerja mereka hanya jadi tukang sapu jalanan saja,
mereka tidak dapat mengantisipsikan keadaan dan perjuangannya selama ini, hasilnya menjadi
nol besar.
Akibat banyaknya pengangguran masyarakat mencari segala kebutuhan ekonominya yang tak
halal, yang haram dihalalkan yaitu membunuh, merampok, dan berbuat kejahatan untuk mencari
nafkah.
Nah sekarang bagaimana agar pengangguran didunia ini berkurang dan kemiskinan pun tak
melebihi melainkan mengurangi mungkin denganStrategi ke depan yaitu: Berkaitan dengan
penerapan otonomi daerah sejak tahun 2001, data dan informasi kemiskinan yang ada sekarang
perlu dicermati lebih lanjut, terutama terhadap manfaatnya untuk perencanaan lokal.
Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu dimensi saja
(pendekatan ekonomi), tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan menyeluruh (sistemik)
terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara lokal.
Data dan informasi kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran sangat diperlukan untuk
memastikan keberhasilan pelaksanaan serta pencapaian tujuan atau sasaran dari kebijakan dan
program penanggulangan kemiskinan, baik di tingkat nasional, tingkat kabupaten/kota, maupun
di tingkat komunitas.
Masalah utama yang muncul sehubungan dengan data mikro sekarang ini adalah, selain data
tersebut belum tentu relevan untuk kondisi daerah atau komunitas, data tersebut juga hanya dapat
digunakan sebagai indikator dampak dan belum mencakup indikator-indikator yang dapat
menjelaskan akar penyebab kemiskinan di suatu daerah atau komunitas.
Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan adanya indikator-indikator yang realistis yang
dapat diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan dan program yang perlu dilaksanakan untuk
penanggulangan kemiskinan. Indikator tersebut harus sensitif terhadap fenomena-fenomena
kemiskinan atau kesejahteraan individu, keluarga, unit-unit sosial yang lebih besar, dan wilayah.
Kajian secara ilmiah terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan kemiskinan, seperti
faktor penyebab proses terjadinya kemiskinan atau pemiskinan dan indikator-indikator dalam
pemahaman gejala kemiskinan serta akibat-akibat dari kemiskinan itu sendiri, perlu dilakukan.
Oleh karena itu, pemerintah kabupaten/kota dengan dibantu para peneliti perlu mengembangkan
sendiri sistem pemantauan kemiskinan di daerahnya, khususnya dalam era otonomi daerah
sekarang. Para peneliti tersebut tidak hanya dibatasi pada disiplin ilmu ekonomi, tetapi juga
disiplin ilmu sosiologi, ilmu antropologi, dan lainnya.
dari artikel diatas , masihkah kalian tidak peduli dengan kemiskinan di Indonesia? atau bahkan
didunia ?
mari teguhkan hati kita untuk rakyat miskin di dunia .

Oscar Lewis, seorang antropolog, mengungkapkan bahwa masalah kemiskinan bukanlah


masalah ekonomi, bukan pula masalah ketergantungan antar negara atau masalah pertentangan
kelas. Memang hal-hal tadi dapat dan merupakan penyebab kemiskinan itu sendiri tetapi menurut
Lewis, kemiskinan itu sendiri adalah budaya atau sebuah cara hidup. Dengan demikian karena
kebudayaan adalah sesuatu yang diperoleh dengan belajar dan sifatnya selalu diturunkan kepada
generasi selanjutnya maka kemiskinan menjadi lestari di dalam masyarakat yang berkebudayaan
kemiskinan karena pola-pola sosialisasi, yang sebagian besar berlaku dalam kehidupan keluarga.
(Kisah Lima Keluarga, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1988

Kota-kota besar di Indonesia pada saat ini memang menjanjikan kesempatan


dan kesejahteraan yang luas dan memperoleh kesempatan maju di kota-kota besar
terutama di Indonesia. Memang menurut sensus BPS bahwa kemiskinan di Indonesia
sudah menurun tajam dari 27 % dalam sensus 1980 menjadi hanya sekitar 15% saja
pada sensus 1990, tetapi yang banyak terlupakan adalah bahwa dari angka rata-rata
itu, kemiskinan di kota-kota besar masih tinggi persentasinya. Kemiskinan ini sendiri
dikota-kota besar khususnya di Indonesia salah satu penyebabnya adalah urbanisasi,
dimana para urbanis yang tidak memiliki pendidikan yang cukup, lebih-lebih
pendidikan di desa cenderung rendah kualitasnya yang akibatnya para urbanis ini
akhirnya jatuh miskin dikota-kota karena mereka tidak mampu bersaing dan menjadi
pengganggur. Hal ini terlihat dari rata-rata laju pertumbuhan konsumsi rumah
tangga perbulan dari 40% penduduk berpendapatan terendah hanya sebesar 3,8 %
per tahun dalam kurun waktu yang sama adalah 4, 8% per tahun (Sumber : Tjuk K
dan Suparti A. 1997), artinya pembangunan di Indonesia masih menghadapi
tantangan yang masih cukup besar dari kemiskinan dan disparatis sosial.
Kemiskinan dan ketimpangan, hanya sebagian saja dari beban yang cenderung
bertambah berat terus, yang ditanggung oleh lingkungan dari unsur kependudukan.
Sehingga banyak para ahli memandang bahwa masalah kemiskinan dan kesenjangan
sebagai bom waktu, yang sewaktu-waktu dapat berkembang menjadi ledakan sosial,
yang pada akhirnya dapat mengancam peri-kehidupan manusia
terutama didaerah perkotaan. Disini terlihat adanya suatu kemiskinan pada kota-
kota besar di Indonesia juga mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk yang
meningkat pesat yang berarti akan ada pertambahan perubahan lingkungan, yang
mungkin harus dipikul dengan biaya yang tinggi yang tidak saja oleh daerah yang
bersangkutan, melainkan juga oleh lingkungan yang lebih luas. Adanya pertambahan
penduduk, berarti pula semakin banyak perumahan yang diperlukan. Dimana ini
dapat berarti semakin terdesaknya lingkungan alami, termasuk tanah pertanian.
Selain perubahan penggunaan tanah, pembangunan perumahan pun akan berakibat
kepada semakin besarnya eksploitasi sumber daya alam yang digunakan untuk
bahan bangunan. Sehingga masalah perumahan dan pemukiman di Indonesia,
sebagaimana yang terjadi dinegara-negara yang sedang berkembang lainnya didunia,
mencerminkan salah satu dampak dari proses pembangunan umumnya. Melihat
penjelasan diatas, laju pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang cukup pesat di
kota-kota besar telah menimbulkan akibat yang selalu memprihatinkan terhadap
meningkatnya kebutuhan akan perumahan dan pemukiman. Pertumbuhan
penduduk yang pesat tersebut saat ini belum diimbangi dengan penyediaan
perumahan yang memadai. Sejak Pelita II hanya sekitar 15 % dari jumlah rumah
yang dibutuhkan dapat disediakan sektor formal (BUMN dan Swasta) dalam suatu
lingkungan yang direncanakan dan teratur, serta memiliki sarana dan prasarana
yang diperlukan, sedangkan yang 85% disediakan melalui sektor informal. Akibatnya
banyak terjadi pemukiman yang tidak teratur tanpa sarana dan prasarana yang jelas.
Kemiskinan di daerah perkotaan menyebabkan kelompok masyarakat yang
berpenghasilan terendah nasibnya lebih buruk karena mereka bahkan tidak mampu
untuk menempati rumah-rumah kumuh seperti yang telah dijelaskan diatas dimana
dikarenakan tingginya harga tanah dan bahan bangunan
menyebabkan suatu keterpaksaan membangun gubuk-gubuk liar diatas tanah-tanah
kosong yang tidak diawasi oleh pemilik atau penguasanya. Banyak diantara mereka
menggunakan lahan-lahan kosong yang sengaja digunakan untuk bantaran banjir,
jalur kereta api dan lokasi-lokasi lain terutama yang dekat dengan tempat kerja
mereka. Dilihat dari penjelasan diatas proses-proses pembangunan oleh sektor-sektor
informal tersebut menghasilkan banyak lingkungan perumahan kumuh (slums) yaitu
lingkungan perumahan yang padat dan tidak memiliki prasarana dan sarana
lingkungan yang memenuhi syarat teknis ataupun kesehatan. Dengan melihat
seluruh deskripsi diatas, maka peningkatan kebutuhan perumahan serta
perkembangan permukiman kumuh dan liar akibat adanya kemiskinan kota akan
semakin meningkat pesat. Memang bila ditinjau dari sisi tersebut terdapat suatu nilai
pesimis untuk dapat menyediakan sarana permukiman dengan kondisi kemiskinan
dan indikator ekonomi yang menurun dengan tajam pada saat ini. Oleh karena itu
dalam waktu dekat ini apa yang diusahakan dan dilakukan oleh pemerintah setahap
demi setahap dapat membatasi lajunya pertumbuhan. Selain itu selain kebijaksanaan
pemerintah yang mencegah laju pertumbuhan secara alami dan dikarenakan
urbanisasi, tetapi juga berperan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia atau
penduduk kota sebagai mahkluk sosial terutama dari segi perekonomian dan
pembangunan perumahan serta permukiman.
G. KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH

Salah satu kebijaksanaan pemerintah terutama didaerah perkotaan yang ada adalah
kebijaksanaan pengelola kota atau wilayah perkotaan yang terutama untuk
menangani masalah dan kinerja masing-masing kota, dimana telah dikeluarkan
pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa Pembangunan
nasional Bangsa Indonesia pada hakekatnya adalah Pembangunan Manusia
Seutuhnya, yang terdapat dalam tujuan pembangunan nasional dimana pernyataan
itu mempunyai ciri-ciri adalah : pertama, memiliki keselarasan hubungan manusia
dengan tuhannya. Kedua, keselarasan hubungan manusia dengan masyarakat.
Ketiga, pada lingkungan yang dibangun kita harus memperhatikan hubungan
manusia dengan alamnya. Kesemua ciri-ciri tersebut mengartikan manusia sebagai
insan sosial merupakan faktor utama didalamnya adalah pembangunan yang
menitikberatkan untuk kebutuhan dasar manusia, salah-satunya mengenai
perumahan. Adapun untuk pemenuhan aspek perumahan dan permukiman yang
merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang berpenghasilan terendah pada
kota-kota di Indonesia dikarenakan kemiskinan yang terjadi pada kota-kota di
Indonesia saat ini yang meningkat dengan pesat. Upaya pemenuhan kebutuhan
umunya mereka penuhi sendiri. Akan tetapi peran sektor masyarakat terutama kaum
yang berpenghasilan terendah sebagai penyedia akan mulai digantikan oleh sektor
formal. Oleh sebab itu membiarkan pembangunan permukiman ke tangan
masyarakat secara spontan dan individual, seperti yang telah banyak terjadi dikota-
kota besar di Indonesia (contoh : bantaran banjir, jalur kereta api dan lokasi-lokasi
lain), juga bukan tindakan yang bijaksana. Namun pengalaman pun memperlihatkan
bahwa sektor publik apalagi swasta, tidak dapat diandalkan untuk memenuhi
kebutuhan perumahan masyarakat yang berpenghasilan terendah, yang jumlahnya
lebih besar dari masyarakat yang berpenghasilan tinggi.
Berlatar belakang konsep manusia sebagai subjek pembangunan, maka muncullah
pendekatan pembangunan perumahan yang bertumpu pada kelompok masyarakat,
yang bahkan sudah dituangkan kedalam bentuk Keputusan Menteri Perumahan
Rakyat, pada tahun 1994. Dengan pendekatan ini, maka anggota
masyarakat yang mempunyai kepentingan bersama secara spasial dan atau pekerjaan
atau kepentingan bersama lainnya, yang membutuhkan perumahan, diorganisasikan
agar mampu bertindak menjadi pengembang permukiman bagi kebutuhan
kelompoknya. Dalam pelaksanaan pembangunan fisiknya, kelompok ini dapat
berlaku sebagai pengembang lain, yaitu menggunakan kredit, tenaga kontraktor dan
lain sebagainya dengan keputusan akhir berada ditangan sendiri. Pelaksanaan
konsep ini umumnya memadu dengan tujuan-tujuan pemberdayaan, terutama jika
kelompok tersebut adalah kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah atau
tidak mampu. Dalam SK Menteri tahun 1994 itu, disebutkan perlunya ada peran
Konsultan Pembangunan, yang akan mendampingi kelompok tersebut melalui proses
pembelajaran pembangunannya. Pendekatan ini menjanjikan terbentuknya
permukiman yang terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan kelompok yang
bersangkutan, komunitas hunian yang lebih padu dan siap untuk mengelola
permukimannya. Kedalam organisasi ini informasi mengenai keberlanjutan tentang
permukiman dapat disebarluaskan, akan tetapi proses pengorganisasiannya mungkin
memerlukan waktu yang cukup lama, untuk menjadi organisasi yang mendapat
kepercayaan dari pemegang sumber daya, seperti misalnya perbankan dan
pemerintahan kota, sehingga dapat membangun. Selain hal-hal yang telah dijelaskan
diatas tentang kebijaksanaan pemerintah tentang perumahan dan permukiman
diperkotaan, ada pun kebijaksanaan pemerintah dalam hal pembangunan
perumahan dikota-kota besar di Indonesiaditujukan untuk memenuhi kebutuhan
pokok warga kota, dengan sasaran strategis pada umumnya yaitu dengan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara membuat permukiman baru
yang ideal yang dileksanakan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat secara
terpadu dan terencana
Melihat arti strategis masalah permukiman bagi kesejahteraan kota yang saat ini
banyak mengalami dilema kemiskinan kota, maka pemerintah dengan terencana dan
melaksanakan program-program penyehatan lingkungan permukiman dengan sebaik-
baiknya antara lain dengan program-program perbaikan kampung, pengelolaan
lingkungan (sampah, kebersihan, keindahan danb ketertiban), pembangunan rumah
susun, pembangunan perumahan untuk masyarakat golongan tidak mampu dan lain
sebagainya. Agar tujuan pemerataan dan pengentasan kemiskinan serta pemenuhan
kebutuhan yang terjadi pada perkotaan dapat terlaksana maka prioritas ditujukan
bagi masyarakat berpenghasilan rendah, antara lain penyediaan Rumah Sangat
Sederhana, Rumah Susun dan lain-lain yang kesemuanya diharapkan dapat
memperbaiki struktur sosial masyarakat yang terlihat pada kemiskinan kota dapat
diredam dengan baik. Khusus untuk lingkungan permukiman kumuh akibat dari
masyarakat yang berpenghasilan rendah dipusat kota, pemerintah telah melakukan
program antara lain adalah ;
1. Program perbaikan kampung dengan memperbaiki kondisi kesehatan lingkungan
serta sarana dan prasarana.

2. Program uji coba peremajaan lingkungan kumuh dan perumahan kumuh yang ada
serta menggantinya dengan rumah susun yang memenuhi syaraat.

Dalam peremajaan lingkungan, pada prinsipnya adalah bahwa penduduk lama tetap diusahakan agar
dapat ditampung kembali dalam rumah yang dibangun dilokasi yang sama atau berdekatan agar kondisi
perumahan menjadi lebih baik, mereka tidak akan kehilangan segi-segi posistif dari lokasi yang lama
yang telah dirasakan sebelumnya.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi jumlah penduduk
didaerah-daerah yang padat adalah Program Transmigrasi. Artikel Bulettin TERAS Dampak
Kemiskinan KotaTerhadap Perumahan Dan Pemukiman Di Kota Besar Indonesia, 2009 18
Transmigrasi di Indonesia mengalami berbagai tahap perkembangan, yaitu semasa jaman penjajahan
yang pada waktu itu disebut dengan kolonialisasi, jaman kemerdekaan dan program transmigrasi yang
dilakukan secara terprogram sejak PELITA I. (sumber ; Siswono Yudohusodo, Ir. Rumah Untuk seluruh
rakyat. 1991). Selain penyebaran penduduk, kegiatan transmigrasi diharapkan dapat menunjang
pencapaian Trilogi Pembangunan melalui penyebaran tenaga kerja yang terampil, penyebaran usaha,
peningkatan mutu kehidupan penduduk yang terlibat dalam pembangunan transmigrasi. Ada beberapa
bentuk transmigrasi yang dikenal selama ini, yaitu berupa : transmigrasi umum, transmigrasi keluarga,
transmigrasi atas biaya sendiri, transmigrasi spontan dan transmigrasi lokal. Dimasa-masa mendatang
akan lebih ditingkatkan pelaksanaan transmigrasi swakarsa. (Siswono Yudohusodo, Ir. Rumah Untuk
seluruh rakyat. 1991). Dari beberapa indikasi yang ada dan didasarkan kepada angka-angka statistik,
kondisi perumahan di Indonesia berdasarkan aspek kependudukan yang sedang marak saat ini, pada
umumnya dapat dikatakan membaik, sehingga usaha-usaha yang mengarah kepada perumahan dan
lingkungan pemukiman didaerah perkotaan yang layak, sehat, teratur dan berkelanjutan bagi seluruh
rakyat, khususnya didaerah perkotaan dapat tercapai secara bertahap. Untuk mencapai hal itu, memang
membutuhkan waktu, keuletan serta kesabaran dan keberhasilan kita sekalian, pemerintah, organisasi-
organisasi kemasyarakatan, usaha-usaha swasta, BUMN dan koperasi serta masyarakat luas dalam
meningkatkan kemampuan, keswakarsaan dan keswadayaan masyarakat agar perumahan dan
lingkungan pemukiman baik didesa maupun di perkotaan pada umumnya dapat tercapai dan
berkesinambungan untuk masa yang akan datang