Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN MINI PROJECT

Hubungan Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian Infeksi


Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi
di Puskesmas Remu Kota Sorong

Disusun oleh:
dr. Norman Max
dr. Raja Marudut Simatupang
dr. Frans Tua Rumahorbo
dr. Rafika Maharani
dr. Anggreiny Tumimomor

Pendamping:
dr. Yohannie Irma Hosio

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP


PUSKESMAS REMU
KOTA SORONG
2017

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas segala nikmat, karunia, dan rahmat yang
diberikan Tuhan Yang Maha Esa dalam menempuh Internship di Puskesmas Remu
Kota Sorong. Atas ridho-Nya pula, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas
penulisan Mini Project dengan judul Hubungan Pemberian ASI Eksklusif
terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di
Puskesmas Remu untuk memenuhi salah satu syarat program Internship di
Puskesmas Remu, Kota Sorong, Papua Barat.
Terima kasih kami ucapkan kepada :
1. H. M. Noor Islam, SE, SKM, MM selaku Kepala Puskesmas Remu
Kota Sorong .
2. Dr. Dewi Ayu Rinjani sebagai dokter pendamping Puskesmas Remu
Kota Sorong .
3. Rekan-rekan paramedis yang telah membantu pengerjaan mini project.
4. Kedua orang tua dengan segala curahan kasih sayang, restu, dan
dukungan kepada penulis.
5. Rekan rekan dokter Internship.
6. Para ibu yang mau menjadi responden mini project ini.
Demikian, agar Mini Project ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya.

Penulis

2
ABSTRAK

Hubungan Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian Infeksi Saluran


Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di Puskesmas Remu Kota Sorong

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernapasan


yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari yang
menyerang saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah. Bayi sering
mengalami ISPA karena dipengaruhi oleh imunitas yang belum sempurna.
Pemberian ASI eksklusif berperan penting dalam menunjang sistem kekebalan
bagi bayi sehingga mampu memberikan pencegahan terhadap berbagai macam
penyakit.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian


ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi. Penelitian ini bersifat analitik
dengan desiain cross sectional. Populasi penelitian adalah bayi yang dibawa
ibunya berkunjung ke Puskesmas Remu Kota Sorong , . Sampel penelitian
berjumlah 50 bayi yang diambil dengan cara consecutive sampling. Data tentang
pemberian ASI eksklusif dan kejadian ISPA diperoleh dengan wawancara. Data
dioleh dengan uji statistik Chi square.

Hasil penelitian menunjukkan 42% bayi diberikan ASI eksklusif dan 58%
bayi tidak diberikan ASI. Didapatkan kejadian ISPA pada bayi di Puskesmas
Remu Kota Sorong , sebesar 90% (30% mengalami ISPA sebanyak 2 kali dalam
setahun dan 60% mengalami ISPA 2 kali dalam setahun) sedangkan yang tidak
mengalami ISPA sebesar 10%. Berdasarkan analisis uji Chi square diapatkan nilai
p=0,008 yang menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI
eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi.

Kata kunci: infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), ASI eksklusif, bayi.

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..........................................................................................................1
KATA PENGANTAR.........................................................................................................2
ABSTRAK..........................................................................................................................3
DAFTAR ISI.......................................................................................................................4

1. PENDAHULUAN........................................................................................................6
1.1. Latar Belakang.......................................................................................................6
1.2.Pernyataan Masalah................................................................................................8
1.3.Tujuan.....................................................................................................................8
1.4.Manfaat...................................................................................................................8

2. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................9
A. ISPA.........................................................................................................................9
2.1.Definisi...................................................................................................................9
2.2.Epidemiologi...........................................................................................................9
2.3.Etiologi.................................................................................................................10
2.4.Klasifikasi.............................................................................................................10
2.5.Faktor Risiko.........................................................................................................11
2.6.Manifestasi Klinis.................................................................................................14
2.7.Diagnosis..............................................................................................................15
2.8.Penatalaksanaan....................................................................................................15
2.9.Pencegahan...........................................................................................................17
B. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif................................................................................17

3. METODE....................................................................................................................21
3.1. Desain Penelitian.................................................................................................21
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian............................................................................21
3.3. Populasi dan sampel...........................................................................................21
3.4 Metode Pengumpulan Data.................................................................................21
3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data...............................................................22

4
4. HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................................23
4.1.Puskesmas.............................................................................................................23
4.2.Deskripsi Karakteristik Sampel............................................................................28
4.3.Pembahasan..........................................................................................................29

5. KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................................31


5.1.Kesimpulan...........................................................................................................31
Saran.....................................................................................................................31

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

5
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernapasan


yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari. ISPA
merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan bagian atas
dan bagian bawah. ISPA dapat menimbulkan gejala ringan (batuk, pilek), gejala
sedang (sesak, mengi) bahkan sampai gejala berat (sianosis, pernapasan cuping
hidung).1

Pada umumnya anak-anak lebih sering mengalami ISPA baik di negara


berkembang maupun di negara maju. Kejadian ISPA lebih sering terjadi di negara
yang sedang berkembang. Insidensi kejadian ISPA bila dikelompokkan menurut
kelompok umur balita diperkirakan sebesar 0,29 episode per anak/tahun di negara
berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat 156 juta episode baru di dunia per tahun dimana 151
juta episode (96,7%) terjadi di negara berkembang. Kasus terbanyak terjadi di
India (43 juta), China (21 juta), dan Pakistan (10 juta). Di Bangladesh, Indonesia
dan Nigeria masing-masing sekitar 6 juta episode.1, 2

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan


utama di Indonesia. Prevalensi ISPA di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 25,0%,
tidak jauh berbeda dengan prevalensi pada tahun 2007 sebesar 25,5%. Prevalensi
ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun sebesar 25,8%, diikuti
kelompok umur kurang dari 1 tahun sebesar 22,0%. ISPA mengakibatkan sekitar
20-30% kematian pada balita.1,3

Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif mempunyai peranan penting
untuk menunjang pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan pemenuhan nutrisi
pada bayi. ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan

6
tanpa diberikan makanan tambahan apapun. Setelah itu, baru kemudian bayi harus
diberi makanan pendamping yang bergizi dan tetap menyusu sampai bayi berusia
dua tahun atau lebih. Menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif, baik
bagi ibu maupun bayinya. Bagi ibu, memberikan ASI tidak hanya bermanfaat
untuk menjalin kasih sayang , tetapi juga dapat mengurangi perdarahan setelah
melahirkan, mempercepat pemuihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, hingga
mengurangi risiko terkena kanker payudara. ASI sendiri mengandung banyak
faktor kekebalan yang bermanfaat terhadap pencegahan dari berbagai macam
penyakit.4

Pemberian ASI eksklusif di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya.


Terdapat beberapa permasalahan seperti faktor sosia budaya, rendahnya kesadaran
akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum
sepenuhnya mendukung program Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI),
gencarnya promisi susu formula, dan ibu yang bekerja. Selain itu, rendahnya
pengetahuan ibu tentang manfaat pemberian ASI eksklusif juga menjadi salah satu
faktor penyebab permasalahan di atas. 5,6

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu faktor risiko terjadinya


ISPA pada bayi. Bayi berusia 0-11 bulan yang tidak optimal memperoleh ASI
eksklusif mempunyai risiko 5 kali lebih besar meninggal karena ISPA
dibandingkan dengan bayi yang memperoleh ASI eksklusif.7 Di negara-negara
berkembang, bayi yang mendapat ASI eksklusif mempunyai angka kesakitan dan
kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan yang diberikan susu formula. 8
ASI juga terbukti memberikan efek protektif 39,8% terhadap ISPA pada bayi
berusia 0- bulan.9 Risiko untuk terjadi ISPA pada bayi yang diberikan ASI tidak
eksklusif sebesar 4,59 kali lebih besar daripada bayi yang diberikan ASI secara
eksklusif.10

ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana


kesehatan. Sebanyak 40-60% kunjungan pasien untuk berobat ke Puskesmas dan
15-30% kunjungan pasien berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap di rumah
sakit karena menderita ISPA.11 Di Puskesmas Remu Kota Sorong, jumlah pasien

7
yang berobat karena ISPA pada tahun 2016 sebanyak 5923 orang. Hal ini
menempatkan ISPA sebagai urutan pertama dalam daftar 10 penyakit terbanyak
yang diobati di Puskesmas pada tahun 2015.12 Saat ini belum terdapat penelitian
mengenai faktor apa saja yang menyebabkan tingginya kasus ISPA di Puskesmas
Remu Kota Sorong.

1.2 Pernyataan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, terdapat rumusan


masalah yaitu apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI
eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap
kejadian ISPA pada bayi di Puskesmas Remu Kota Sorong .
1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui distribusi frekuensi kejadian ISPA pada bayi di


Puskesmas Remu Kota Sorong tahun 2016.

b. Mengetahui distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif pada bayi


di Puskesmas Remu Kota Sorong tahun 2016.

c. Menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian


ISPA pada bayi di Puskesmas Remu Kota Sorong tahun 2016.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Penulis
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis
lebih mendalam tentang hubungan faktor risiko ISPA terhadap kejadian
ISPA khususnya pemberian ASI eksklusif.

1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas


Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan
pertimbangan bagi perumusan program baru di Puskesmas Remu Kota

8
Sorong yang bisa meningkatkan angka frekuensi pemberian ASI eksklusif
pada bayi, sehingga dapat menurunkan angka kejadian ISPA.
1.4.2 Manfaat bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya bagi ibu-ibu
tentang ISPA dan manfaat pemberian ASI eksklusif pada bayi, dan
menambah pengetahuan masyarakat tentang hubungan pemberian ASI
eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi.

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


2.1. Definisi
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan suatu penyakit
infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai
dari hidung sampai alveoli termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga
tengah, dan pleura yang berlangsung selama 14 hari.13 Menurut WHO, Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah,
biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit mulai dari
penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan,
tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. 14

2.2 Epidemiologi

ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia, baik di


negara maju maupun di negara berkembang. ISPA banyak terjadi di negara
berkembang dan sering menyerang anak-anak terutama bayi dan balita. 9 Di
Bangladesh, ISPA merupakan penyakit infeksi yang menyebabkan kematina
sebesar dua per tiga dari total kematian anak berusia di bawah satu tahun. 15
Insidens kejadian ISPA menurut kelompok umur balita diperkirakan 0,29
episode per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun
di negara maju. Di Indonesia, angka kejadian ISPA pada tahun 2013 sebesar
25,0%. Lima provinsi dengan prevalensi ISPA tertinggi yaitu Nusa Tenggara
Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%)
dan Jawa Timur (28,3%). ISPA paling banyak diderita oleh kelompok usia 1-4
tahun (25,8%). Tidak ada perbedaan angka kejadian ISPA pada laki-laki
maupun perempuan. Penyakit ini lebih banyak dialami pada kelompok
penduduk dengan ekonomi menengah ke bawah.1

10
2.3 Etiologi
ISPA merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus.
Etiologi ISPA meliputi lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia.
Bakteri penyebab ISPA terbanyak dari genus Streptococcus, Staphylococcus,
Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella, dan Corinebacterium. Virus
penyebab ISPA antara lain dari golongan Myxovirus, Adenovirus,
Coronavirus, Picornavirus, dan lain-lain. Kebanyakan ISPA disebabkan oleh
virus. 1,16

2.4. Klasifikasi
Berasarkan lokasi anatomi terkena infeksi, ISPA dibagi menjadi:

a. ISPA bagian atas

Yang termasuk ISPA bagian atas adalah nasofaringitis atau


common cold, faringitis akut, rhinitis akut, dan sinusitis akut.13

b. ISPA bagian bawah

Yang termasuk ISPA bagian bawah adalah bronkitis akut,


bronkiolitis, dan pneumonia.13

Menurut Kemenkes RI dalam Pedoman Pengendalian ISPA, ISPA


diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

a. ISPA Pneumonia, merupakan ISPA yang sampai mengenai jaringan


paru-paru (alveoli).11

b. ISPA bukan pneumonia, merupakan penyakit yang dikenal


masyarakat dengan istilah batuk dan pilek (common cold).11

Berdasarkan kelompok umur, ISPA diklasifikasikan lagi menjadi:

1. Kelompok umur 2 bulan di bawah 5 tahun

11
- Pneumonia berat, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar
bernapas disertai adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam (chest indrawing).

- Pneumonia, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar


bernapas disertasi napas cepat sesuai golongan umur, yaitu bila
umur 2 bulan hingga <1 tahun sebanyak 50 kali atau
lebih/menit; dan bila umur 1 hingga <5 tahun 40 kali atau
lebih/menit.

- Bukan pneumonia, apabila hanya terdapat gejala batuk dan/atau


sukar bernapas.

2. Kelompok umur kurang dari 2 bulan

- Pneumonia berat, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar


bernapas disertai napas cepat >60 kali per menit, atau adanya
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing).

- Bukan pneumonia, apabila hanya teradpat gejala batuk dan/atau


sukar bernapas.

2.5. Faktor Risiko


1. Mikroorganisme penyebab
Penyebab tersering ISPA adalah virus, karena sifatnya yang mudah
menular sehingga angka kejadian ISPA di masyarakat menjadi tinggi.
Tetapi, ISPA yang disebabkan virus tidak memerlukan tatalaksana khusus
karena bersifat self-limiting.
2. Faktor host (pejamu)
a. Usia
ISPA lebih sering terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun. Anak berusia
kurang dari 2 tahun mempunyai risiko terkena ISPA lebih besra
daripada anak yang lebih tua karena pada usia kurang dari 2 tahun anak
tersebut belum memiliki imunitas yang sempurna dan lumen saluran

12
napas yang relatif sempit.17
b. Jenis kelamin
Suatu studi menyebutkan laki-laki lebih banyak mengalami ISPA
daripada perempuan.18 Tetapi dalam Riskesdas disebutkan tidak terdapat
perbedaan angka kejadian ISPA pada laki-laki maupun perempuan. 1
Terdapat sedikit perbedaan anatomi saluran napas antara anak laki-laki
maupun perempuan, namun hal ini tidak mempengaruhi kejadian
ISPA.17
c. Berat lahir
ISPA cenderung terjadi pada balita dengan riwayat berat badan lahir
rendah (BBLR) dibandingkan dengan balita tanpa riwayat BBLR. 22
Bayi BBLR memiliki sistem pertahanan tubuh yang belum sempurna
yang mengakibatkan bayi BBLR memiliki daya tahan tubuh yang
rendah. Selain itu, bayi BBLR juga memiliki pusat pengaturan
pernapasan yang belum sempurna, surfaktan paru yang masih kurang
jumlahnya, otot-otot pernapasan dan tulang iga yang masih lemah. Bayi
BBLR juga mudah mengalami infeksi paru dan gagal napas.19
d. Status gizi
Status gizi menggambarkan baik atau buruknya konsumsi zat gizi
seseorang. Zat gizi diperlukan untuk pembentukan sistem kekebalan
tubuh seperti antibodi. Semakin baik status gizi seseorang, maka
semakin baik sistem kekebalan tubuhnya. Infeksi saluran pernapasan
akut yang disebabkan virus sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan
tubuh. Bila sistem kekebalan tubuh baik, maka seseorang akan kebal
terhadap serangan virus. Selain itu, kesembuhan dari penyakit akibat
serangan virus juga akan lebih cepat. Anak dengan malnutrisi juga lebih
sering mengalami ISPA dibandingkan dengan anak dengan gizi yang
baik.17
e. Status Imunisasi
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap cenderung
lebih sering mengalami ISPA. Kebanyakan kasus ISPA pada anak

13
terjadi akibat komplikasi dari campak yang merupakan faktor risiko
yang dapat dicegah dengan imunisasi. Namun, kemampuan tubuh untuk
menangkal suatu penyit masih dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
lain seperti faktor genetik dan kualitas vaksin.18
f. Pendidikan
Kurangnya pengetahuan di masyarakat akan gejala dan upaya
penanggulangan ISPA dan bagaimana pencegahan agar tidak mudah
terserang penyakit ISPA menyebabkan masih banyak kasus ISPA yang
dapat ke sarana pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan berat.20
g. Pemberian ASI eksklusif
Pemberian ASI secara eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan merupakan
langkah yang efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan gizi dan
memberikan perlindungan bagi bayi dari serangan infeksi khususnya
ISPA.21 ASI mengandung banyak faktor kekebalan dan bermanfaat
terhadap pencegahan ISPA terutama sejak pemberian ASI di awal
kehidupan bayi hingga bayi berusia 6 bulan, salah satunya adalah
imunoglobulin. Imunoglobulin yang banyak ditemukan pada saluran
cerna dan saluran napas adalah imunoglobulin A (IgA). 21 Selama
minggu pertama kehidupan (4-6 hari) payudara ibu akan menghasilkan
kolostrum, yaitu ASI awal yang banyak mengandung zat-zat kekebalan
tubuh (imunoglobulin, komplemen, lisozim, laktoferin, dan sel-sel
leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari serangan
infeksi.21
Bayi yang diberi ASI eksklusif cenderung tidak pernah mengalami ISPA
sedangkan bayi yang mendapatkan ASI non-eksklusif cenderung lebih
sering mengalami ISPA.21 Risiko anak yang diberi ASI tidak secara
eksklusif lebih besar dibandingkan dengan anak yang diberi ASI secara
eksklusif.21 Kematian akibat penyakit saluran pernapasan 2-6 kali lebih
banyak pada bayi yang diberi susu formula dibandingkan dengan bayi
yang mendapat ASI.21

14
3. Faktor lingkungan
Keadaan fisik sekita rmanusia berpengaruh terhadap kesehatan manusia,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada beberapa faktor dari
lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan, meliputi udara,
kelembapan, air, dan pencemaran udara. ISPA termasuk air-borne disease
yang merupakan penyakit yang penularannya melalui udara yang tercemar
dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan.22 Karena itu,
secara epidemiologi, udara mempunyai peranan yang besar pada transmisi
penyakit infeksi saluran pernapasan. Selain itu, faktor dari lingkungan
yang meningkatkan risiko terjadinya kejadian ISPA adalah asap yang
dihasilkan pabrik, asap kendaraan bermotor, asap dari perokok, asap dari
bahan bakar yang digunakan untuk memasak, kurangnya ventilasi di
rumah, suhu ruangan rumah di bawah 18C atau di atas 30C, kepadatan
hunian rumah, penggunaan antinyamuk, dan partikel debu di sekitar
tempat tinggal.22

2.6. Manifestasi Klinis


Gejala ISPA dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Gejala ISPA Ringan
Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala berikut:
a. Batuk
b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
seperti pada waktu berbicara atau menangis
c. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
d. Demam, dengan suhu badan lebih dari 37C
2. Gejala ISPA Sedang
Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika ditemukan
gejala ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:
a. Pernapasan cepat sesuai umur yaitu pada kelompok umur <2 bulan
dengan frekuensi napas 60 kali per menit atau lebih, pada kelompok

15
umur 2 - <12 bulan dengan frekuensi napas 50 kali per menit atau
lebih, dan pada kelompok umur 12 bulan - <5 tahun dengan frekuensi
napas 40 kali per menit atau lebih.
b. Suhu badan lebih dari 39C
c. Tenggorokan berwarna merah
d. Telinga sakit atau mengeluarkan cairan dari lubang telinga
e. Pernapasan berbunyi seperti mengorok / mendengkur
3. Gejala ISPA Berat
4. Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA berat jika ditemukan
gejala ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:
a. Bibir atau kulit membiru
b. Kesadaran anak menurun
c. Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
d. Sela iga tertarik ke dalam saat bernapas
e. Nadi lebih cepat dari 160 kali per menit atau tidak teraba
f. Pernapasan cuping hidung 22

2.7. Diagnosis
Diagnosis etiologi ISPA pada bayi/balita cukup sulit ditegkkan karena
pengambilan dahak sulit dilakukan. Prosedur pemeriksaan imunologi pun
belum bisa memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan penyebab
ISPA. Pemeriksaan darah dan pembiakan spesimen fungsi atau aspirasi paru
bisa dilakukan untuk diagnosis penyebab ISPA. Cara ini cukup efektif untuk
menentukan etiologi ISPA. Namun cara ini dianggap prosedur yang
berbahaya dan bertentangan dengan etika. Dengan pertimbangan ini,
diagnosis etiologi penyebab ISPA di Indonesia didasarkan pada hasil
penelitian asing (melalui publikasi WHO) bahwa Streptococcus pneumoniae
dan Haemophylus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada
penelitian etiologi di negara berkembang, sedangkan di negar amaju
seringkali disebabkan oleh virus. Diagnosis ISPA ditegakkan berdasarkan
gejala yang timbul pada bayi/balita seperti yang telah dijelaskan pada uraian

16
manifestasi klinis di atas.22

2.8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ISPA dikembangkan melalui suatu Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS). Melalui MTBS ini msemua penderita ISPA
langsung ditangani di unit yang menemukan. Namun, bila kondisi bayi/balita
sudah berada dalam pneumonia berat, sedangkan peralatan tidak mencukupi
maka penderita langsung dirujuk ke unit dengan fasilitas yang lebih lengkap.
Pengobatan ISPA dilaksanakan berdasarkan klasifikasi ISPA sebagaimana
diuraikan secara ringkas pada bagan berikut.

Gambar 1. Tatalaksana ISPA pada bayi kurang dari 2 bulan

17
Gambar 2. Tatalaksana ISPA pada bayi/balita usia 2 bulan - <5 tahun

Antibiotika yang dapat digunakan adalah kotrimoksazol atau


amoksisilin selama 3 hari, dan dapat juga diberikan penurun panas seperti
parasetamol. Setelah mendapat antibiotika, penderita ditindaklanjuti pada
kunjungan ulang setiap dua hari di fasilitas pelayanan kesehatan. Bila pasien
menderita pneumonia berat, pasien harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan
yang lebih lengkap.11

2.9. Pencegahan
1. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana melalui kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-
hal yang dapat meningkatkan faktor risiko ISPA. Penyuluhan dapat
berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI eksklusif, penyuluhan
imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan

18
kesehatan lingkungan rumah, atau penyuluhan bahaya rokok.
2. Imunisasi lengkap
3. Usaha di bidang gizi dengan tujuan mengurangi malnutrisi.
4. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi BBLR.
5. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani
masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.22

B. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

ASI eksklusif merupakan pemberian ASI pada 6 bulan pertama


kelahiran tanpa disertai pemberian makanan atau minuman apapun. 3 Setelah
bayi berusia 6 bulan, barulah bayi mulai diperkenalkan dengan makanan
pendamping atau makanan padat secara benar dan tepat, sedangkan ASI
tetap diberikan kepada bayi sampai berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2
tahun.
Bayi sehat umumnya tidak memerlukan makanan tambahan apapun
sampai berusia 6 bulan kecuali terdapat keadaan-keadaan khusus yang
membuat bayi perlu diberi makanan tambahan sebelum berusia 6 bulan.
Misalnya terjadi peningkatan berat badan bayi yang tidak sesuai standar atau
terdapat tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa pemberian ASI
eksklusif tidak berjalan dengan baik. Namun, sebelum diberikan makanan
tambahan, ibu sebaiknya memperbaiki terlebih dahulu cara pemberian ASI
kepada bayi. Apabila setelah 1-2 minggu usaha tersebut telah dilakukan
tetapi belum terjadi peningkatan berat badan, barulah ibu dapat memikirkan
untuk memberikan makanan tambahan bagi bayi berusia di atas 4 bulan
namun belum mencapai 6 bulan.4
ASI merupakan suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa
dan garam-garam organik yang disekresikan oleh kelenjar mammae. 4
Berdasarkan stadium laktasinya, komposisi ASI dapat dibagi sebagai
berikut:

19
a. Kolostrum
Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh
kelenjar mammae, mengandung tissue debris dan residual material yang
terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar mammae. Kolostrum
mulai disekresikan dari hari ke-1 sampai hari ke-4 setelah melahirkan.
Kolostrum bersifat viscous dengan warna kekuning-kuningan, lebih
kuning daripada ASI matur. Kolostrum juga merupakan pencahar yang
ideal untuk membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir dan
mempersiapkan saluran pencernaan bayi terhadap makanan yang akan
datang.4
Kolostrum mengandung lebih banyak protein serta antibodi
(untuk memberikan perlindungan pada bayi sampai umur 6 bulan)
daripada ASI matur, kadar karbohidrat dan lemak yang lebih rendah
daripada ASI matur. Mineral, terutama natrium, kalium dan klorida lebih
tinggi daripada ASI matur. Total energi yang lebih rendah daripada ASI
matur, yaitu hanya 58 Kal / 100 mL. Vitamin yang larut dalam lemak
lebih tinggi dan vitamin yang larut dalam air lebih rendah daripada ASI
matur. ASI yang mengandung kolostrum akan menggumpal jika
dipanaskan serta pH lebih alkalis daripada ASI matur. Kolostrum
mengandung tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis protein dalam usus
bayi menjadi kurang sempurna agar kadar antibodi lebih banyak pada
bayi. Volumenya berkisar 150-300 mL / 24 jam.4
b. ASI masa peralihan
ASI ini merupakan peralihan dari kolostrum sampai menjadi
ASI matur yang disekresikan dari hari ke-4 sampai hari ke-10 pada masa
laktasi. Kadar protein makin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan
lemak makin tinggi. Volume ASI pada masa peralihan semakin
meningkat.4
c. ASI matur
ASI matur merupakan ASI yang disekresikan pada hari ke-10
dan seterusnya. Komposisinya relatif konstan. Ibu yang sehat dengan

20
produksi ASI cukup dapat memberikan ASI sebagai satu-satunya
makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai usia 6 bulan.
ASI matur berwarna putih kekuning-kuningan karena mengandung
garam Ca-caseinat, riboflavin, dan karoten. ASI matur tidak
menggumpal jika dipanaskan dan mengandung antimikrobial lain,
seperti:
- Antibodi terhadap bakteri dan virus

- Sel (fagosit, granulosit, makrofag, dan limfosit T)

- Enzim (lisozim, laktoperoksidase, lipase, katalase, fosfatase, amilase,


fosfodiesterase, alkalinfosfatase)

- Protein (laktoferin, B12 binding protein)

- Resistance factor terhadap stafilokokus

- Komplemen

- Interferron producing cell

- Sifat biokimia yang khas, kapasitas buffer yang rendah dan adanya
faktor bifidus.4

d. Hormon-hormon
Laktoferin merupakan suatu iron binding protein yang bersifat
bakteriostatik kuat terhadap Escherichia coli serta Candida Albicans.
Lactobacillus bifidus merupakan koloni kuman yang memetabolisir
laktosa menjadi asam laktat yang menyebabkan rendahnya pH sehingga
pertumbuhan kuman patogen akan terhambat. Imunoglobulin
memberikan mekanisme pertahanan yang efektif terhadap bakteri dan
virus (terutama IgA) dan bila bergabung dengan komplemen dan
lisozim merupakan suatu antibakterial yang langsung terhadap
Escherichia coli. Faktor lisozim dan komplemen ini adalah suatu
antibakterial nonspesifik yang mengatur pertumbuhan flora di usus.4

21
ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan yang akan
melindungi bayi dari serangan virus, bakteri, parasit, dan jamur. Kolostrum
mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari ASI matur. Zat kekebalan
tersebut akan melindungi bayi dari penyakit diare. ASI juga akan menurunkan
kemungkinan bayi terkena penyakit infeksi telinga, batuk, pilek, dan penyakit
alergi. Bayi yang diberi ASI secara eksklusif akan lebih sehat dan jarang sakit
dibandingkan bayi yang tidak mendapat ASI secara eksklusif.4

22
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Desain penelitian


Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik untuk
mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA
pada bayi. Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional.
3.2. Tempat dan waktu penelitian
Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Remu Kota Sorong.
Waktu penelitian adalah bulan Juli - Agustus 2017.
3.3. Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang dibawa
oleh ibunya yang datang berobat ke Puskesmas Remu Kota Sorong.
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non-probability
sampling jenis consecutive sampling. Semua subjek yang datang secara
berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan sebagai sampel
penelitian sampai subjek yang diperlukan terpenuhi
Kriteria inklusi subjek penelitian adalah:
a. Bayi berusia 0-12 bulan datang ke Puskesmas Remu Kota Sorongbaik
yang didiagnosis ISPA maupun bukan ISPA.
b. Ibu yang membawa bayi tersebut bersedia menjadi responden.
Kriteria eksklusi subjek penelitian ini adalah:
a. Ibu tidak mengisi kuesioner secara lengkap.
b. Bayi yang bukan dibawa oleh ibunya.

3.4. Metode Pengumpulan Data


Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data
primer yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian dengan cara
wawancara. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah
dengan pembagian kuesioner.

23
3.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data
3.5.1. Pengolahan Data
Semua data dikumpulkan, dicatat, dan dikelompokkan lalu
dimasukkan ke komputer dan selanjutnya diolah dengan menggunakan
program SPSS.
3.5.2. Analisis Data
a. Analisis Univariat
Data yang diperolah dari hasil pengumpulan data disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi, yaitu tabel distribusi frekuensi
ISPA dan tabel distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif.
b. Analisis Bivariat
Untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan
variabel dependen disajikan dalam bentuk tabel, lalu dianalisis
dengan uji statistik Chi-square. Pengambilan keputusan statistik
dilakukan dengan membandingkan nilai P value dengan nilai
0,05. Bila nilai P value < nilai 0,05 maka terdapat hubungan
bermakna (signifikan) antara variabel independen dan dependen,
sedangkan bila nilai P value > nilai 0,05 maka tidak terdapat
hubungan bermakna (signifikan) antara variabel independen dan
variabel dependen.

24
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
4.1.1 Gambaran Umum Puskesmas
1. Keadaan Geogarafi
a. Luas Wilayah dan Letak
Wilayah Puskesmas Remu Kota Sorong Kecamatan Timur mempunyai
luas 47 Km Wialayah ini berbatasan dengan :
- Sebelah Utara : Wilayah Puskesmas Astambul
- Sebelah Selatan : Wilayah Puskesmas Pesayangan
- Sebelah Barat : Wilayah Puskesmas Sungai Rangas
- Sebelah Timur : Wilayah Puskesmas Kota
b. Desa-desa wilayah kerja Puskesmas Remu Kota Sorong
Wilayah Kecamatan Timur terdiri dari 20 Desa, dan semua desa
tersebut menjadi wilayah kerja Puskesmas Remu Kota Sorongyang
merupakan wujud dari OTDA / Otonomi Daerah ( pembagian wilayah
PERDA kab.Banjar No. 13 tahun 2003 ).

Data Umum Dan Struktur Organisasi


1. Daftar penduduk tahun 2015
JUMLAH PENDUDUK
NO NAMA DESA
LAKI LAKI PEREMPUAN

1 Sei. Kitano 563 519

2 Remu Kota Sorong 693 678

Remu Kota
3 624 595
Sorongulu

4 Akar baru 561 517

5 Akar bagantung 447 378

6 Melayu ilir 570 528

7 Melayu tengah 750 748

8 Melayu Ulu 1051 1118

9 Mekar 687 671

10 Pematang Baru 565 519

25
11 Keramat 594 556

12 Keramat baru 502 443

13 Pekauman dalam 424 346

14 Pekauman 1035 1094

15 Pekauman ulu 997 1046

16 Antasan senor 1019 1073

17 Antasan senor ilir 1652 1847

18 Tambak anyar ilir 871 894

19 Tambak anyar 746 747

20 Tambak anyar ulu 1022 1078

Jumlah 15374 15395


Total 30.769 jiwa

2. Data Pendidikan

NO JENIS SEKOLAH JUMLAH KETERANGAN

1 TK 7 buah

2 SDN 17 buah

3 SLTP 2 Buah

4 Madrasah Ibtidaiyah 3 buah

5 Madrasah Tsanawiyah 5 buah

6 Madrasah Aliyah 4 buah

7 Ponpes 2 buah

JUMLAH

26
3. Data Sosial Ekonomi dan Budaya
Mata pencarian penduduk pada umumnya adalah bertani, sebagian
pedagang dan kerajinan tangan ( pengrajin ).
Peduduk di Wilayah Puskesmas Remu Kota Sorong99,9 % beragama
Islam dengan sarana ibadah yang ada sebagai berikut :
- Jumlah Musolla / Langgar : 37 buah
- Jumlah Mesjid : 8 buah
4. Data tenaga dan sarana
a. Tenaga / Karyawan
- Kepala Puskesmas : 1 orang
- Dokter Umum : 3 orang
- Dokter Gigi : 1 orang
- Tata Usaha : 1 orang
- Sanitarian : 3 orang
- Perawat Gigi : 2 orang
- Petugas Gizi : 1 orang
- Asisten Apoteker : 2 orang
- Pekarya Kesehatan : 4 orang
- Penyuluh Kesehatan : 1 orang
- Perawat Kesehatan : 5 orang
- Petugas Laboratorium : 1 orang
- Bidan Desa : 21 orang
- Bidan Puskesmas : 3 orang
- Kontrak Sewaktu : 3 orang
- Honorer : 2 orang
- TKS : 7 orang
Jumlah : 62 orang

5. Sarana Kesehatan
Di Wilayah Puskesmas Remu Kota Sorongsarana Kesehatan yang ada
adalah sebagai berikut :
Sarana Bangunan
- Puskesmas Induk Remu Kota Sorong
- Puskesmas Pembantu Melayu
- Puskesmas Pembantu Pekauman Dalam
- Puskesmas Pembantu Pekauman
- Puskesmas Pembantu Tambak Anyar
- 31 Posyandu Balita, 10 Posyandu Lansia

Sarana Transportasi Ket.


- Mobil Puskesmas Keliling : 1 buah Baik
- Roda 2 Suzuki A.100 : 1 buah Rusak
- Roda 2 Yamaha : 1 buah Baik
- Roda 2 Suzuki Shogun 125 : 1 buah Baik

27
7. Deskripsi Karakteristik Sampel

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)


Jenis Kelamin Bayi
Laki-laki 22 44%
Perempuan 28 56%
Usia (bulan)
06 27 54%
7 12 23 46%
Pemberian ASI Eksklusif
Ya 21 42%
Tidak 29 58%
Menderita ISPA
Ya 32 64%
Tidak 18 36%
Frekuensi ISPA
Tidak Pernah 5 10%
< 2 kali 15 30%
2 kali 30 60%
Total 50 100%

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden

Dari tabel tersebut diketahui bahwa jumlah responden pada penelitian ini
sebanyak 50 orang. Kebanyakan responden berjenis kelamin perempuan
sebanya 28 orang (56%), dan kebanyakan responden berusia 0-6 bulan.
Sebagian besar responden tidak diberikan ASI eksklusif, yaitu sebanyak 29
orang (58%), sedangkan yang diberikan ASI eksklusif berjumlah 21 orang
(42%). Responden yang menderita ISPA didapatkan sebanyak 32 orang
(64%), dan kebanyakan menderita ISPA lebih dari 2 kali yaitu sebanyak 30
orang (60%) dari responden.

8. Distribusi Kejadian ISPA berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif


Pada penelitian ini dapat diketahui besar kejadian ISPA
berdasarkan pemberian ASI eksklusif kepada bayi. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.

28
ASI Menderita ISPA Total
Eksklusif Ya Tidak
N % N % n %
Ya 9 42,8 12 57,2 21 100
Tidak 23 79,3 6 20,7 29 100
Tabel 2. Distribusi Kejadian ISPA berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif

Dari tabel tersebut didapatkan bayi yang tidak diberikan ASI


eksklusif lebih banyak menderita ISPA dibandingkan bayi yang diberikan ASI
eksklusif.

9. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian ISPA


Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan
antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi berusia 0-
12 bulan. Data hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Kejadian ISPA P
Ya Tidak
n % n %
ASI Ya 9 42,8 12 57,2 0,008
Eksklusif Tidak 23 79,3 6 20,7
Total 32 100 18 100
Tabel 3. Hubungan antara Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian ISPA

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa secara keseluruhan terdapat


32 orang bayi yang menderita ISPA dan 18 orang bayi yang tidak menderita
ISPA. Dari 32 bayi yang menderita ISPA, hanya 9 bayi yang diberikan ASI
eksklusif, sedangkan 23 bayi sisanya tidak diberikan ASI eksklusif. Setelah
dilakukan uji hipotesis dengan metode Chi Square dengan derajat tingkat
kemaknaan 0,05 (=5%), diperoleh nilai p sebesar 0,008 (p<0,05). Dengan
demikian terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif
dengan kejadian ISPA pada bayi di Puskesmas Remu Kota Sorong , .

4.4 Pembahasan

29
Jumlah responden pada penelitian ini ada 50 orang. Mayoritas
responden tidak diberikan ASI eksklusif, yaitu sebanyak 29 bayi (58%), dan
79,3% (23bayi) yang tidak diberikan ASI eksklusif tersebut menderita ISPA.
Hal yang sama terjadi pada penelitian Noorhidayah pada tahun 2013 dengan
responden berjumlah 188 bayi, sebanyak 65,4% di antaranya tidak diberikan
ASI eksklusif dan 64,4% dari bayi tersebut pernah menderita ISPA. 23 Begitu
juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Okto pada tahun 2010 dengan
responden 157 bayi, sebanyak 7,4% dari bayi tersebut tidak diberikan ASI
eksklusif dan 79,6% pernah menderita ISPA.3 Dengan demikian, pemberian
ASI eksklusif pada bayi lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak diberi
ASI eksklusif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi alasan ibu tidak
memberikan ASI eksklusif (diberikan susu formula sebagai pengganti ASI),
antara lain sedikitnya produksi ASI atau ASI tidak ada keluar sama sekali dari
payudara ibu, ibu sibuk bekerja, ibu memiliki kegiatan sosial lain, kurangnya
pengetahuan ibu, faktor makanan, psikologis, dan perawatan payudara oleh
ibu.6
Penelitian ini juga menunjukkan terdapat 60% bayi yang menderita
ISPA hingga lebih dari 2 kali dalam 1 tahun, dan hanya 10% bayi saja yang
tidak pernah mengalami ISPA. Dengan demikian angka kejadian ISPA pada
bayi di wilaya Puskesmas Remu Kota Sorongcukup tinggi. Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Karolina dan kawan-kawan di
Denpasar pada tahun 2011 yang mendapatkan prevalensi ISPA pada bayi
sebesar 54,7%.24 Penyebab tingginya kejadian ISPA dipengaruhi oleh banyak
faktor, yaitu pemberian ASI eksklusif, usia anak di bawah 5 tahun, tidak
diberikannya imunisasi, berat badan lahir rendah, malnutrisi, kurangnya
pendidikan orangtua, rendahnya status sosioekonomi, dan lingkungan yang
kurang memadai.25
Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada bayi
diuji dengan uji statistik Chi square didapatkan nilai p=0,008 yang berarti
terdapat hubungan yang bemakna antara pemberian ASI eksklusif dengan
kejadian ISPA pada bayi. Hasil ini didukung oleh penelitian lainnya, seperti
penelitian pada bayi yang dilakukan Okto pada tahun 2010 juga mendapati

30
adanya hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA (p=0,011).
Demikian pula penelitian pada bayi di RS Sanglah, Denpasar (p=0,001).3
Telah diketahui sebelumnya bahwa ASI mengandung komponen-
komponen bioaktif yang dapat mencegah bayi mengalami ISPA. Beberapa
komponen-komponen tersebut adalah komponen-komponen imun sepert
imunoglobulin A (IgA) dan interferon yang mampu memberikan
perlindungan kepada bayi dari serangan infeksi.8 IgA dapat mengaktifkan
sistem komplemen melalui jalur alternatif dan bersama-sama dengan
makrofag memfagositosis berbagai kuman yang masuk. Selain itu Bronchus
Associated Lymphocyte Tissue (BALT) yang dikandung Asi merupakan
antibodi alami di saluran pernapasan.8
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara
pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada bayi. Penanganan
penurunan prevalensi ISPA tentu tidak hanya dengan upaya kuratif tetapi
perlu ditingkatkan upaya promotif dan preventif termasuk di dalamnya upaya
peningkatan pemberian ASI eksklusif kepada bayi sampai usia 6 bulan.

BAB V

31
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV, maka dapat
ditarik beberapa simpulan sebagai berikut :

1. Ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian


ISPA pada bayi (p<0,05).
2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi di Puskesmas Remu Kota
Sorong , sebesar 42%, sedangkan yang tidak diberi ASI eksklusif
sebesar 5%.
3. Kejadian ISPA pada bayi di Puskesmas Remu Kota Sorong , sebesar
90% (30% mengalami ISPA sebanyak 2 kali dalam setahun dan 60%
mengalami ISPA 2 kali dalam setahun) sedangkan yang tidak
mengalami ISPA sebesar 10%.

5.2 Saran
1. Perlu dilakukan pembuatan leaflet mengenai pentingnya pemberian ASI
eksklusif dan hubungannya dengan ISPA pada bayi untuk menambah
wawasan masyarakat sekitar Puskesmas Remu Kota Sorong , .
2. Perlu dilakukan pembinaan peran serta masyarakat dan kerja sama dengan
kader-kader PKK dan posyandu untuk lebih memotivasi ibu menyusui
dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.
3. Perlu digalakkan lagi tentang perilaku hidup bersih sehat (PHBS) melalui
penyuluhan mengenai pencegahan ISPA dan faktor-faktor risiko kejadian
ISPA.

DAFTAR PUSTAKA

32
1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan
RI. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2013.
2. World Health Organization (WHO). Penanganan ISPA pada Anak di
Rumah Sakit Kecil Negara Berkembang. Alih Bahasa: C. Anton Widjaja.
Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC, 2003.
3. Harahap, Okto M F. Riwayat ASI Eksklusif pada Balita ISPA di Puskesmas
Sering. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
4. Roesli, Utami. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Tubulus Agriwidya, 2001.
5. Fuadi, Mirzal. Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Pasca Melahirkan
terhadap Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif di RSUP H. Adam Malik
Medan Tahun 2010. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
6. Kristiyansari, W. ASI, Menyusui, dan SADARI. Yogyakarta: Nuha Medika,
2009.
7. Elfia, Yunita. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dan ASI Non Eksklusif
dengan Kejadian ISPA pada bayi Usia 0-6 Bulan di Puskesmas Ngesrep
Semarang. Undergradute Theses from JTPTUNIMUS. Diambil pada
tanggal 10 Januari 2016 dari http://digilib.unimus.ac.id.
8. Ariefuddin, Y., Priyantini, S. dan Desanti, O.L. Hubungan Pemberian ASI
Eksklusif terhadap Kejadian INFeksi Saluran Pernapasan Akut pada Bayi
0-12 Bulan. Semarang: Universitas Islam Sultan Agung, 2010.
9. Widarini dan Sumasari. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan
Kejadian ISPA pada Bayi. Jurnal Ilmu Gizi (JIG), 1(1): 28-41, 2010.
10. Rustam, Musfardi. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian
ISPA pada Bayi usia 6-12 Bulan di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Jakarta: FKM UI, 2010.
11. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Lingkungan. Pedoman
Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI, 2012.
12. Puskesmas Remu Kota Sorong . Laporan Tahunan Puskesmas. 2015
13. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC, 2003.
14. Muttaqin. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta: EGC, 2008.

33
15. Mirshahi, Seema et al. Prevalence of Exclusive Breastfeeding in
Bangladesh and Its Association with Diarrhoea and Acute Respiratory
Infection. J Health Popul Nutr, 25(2): 105-294, 2007.
16. Erlien. Penyakit Saluran Pernapasan. Jakarta: Sunda Kelapa Pustaka,
2008.
17. Elyana, Mei dan Chandra, Ayu. Hubungan Frekuensi ISPA dengan Status
Gizi Balita. Journal of Nutrition and Health, 1(1), 2014.
18. Layuk, R., Noer, N., Wahiduddin. Faktor yang Berhubungan dengan
Kejadian ISPA pada Balita di Lembang Batu Sura. 2013. Diambil pada
tanggal 10 Januari 2016 dari
http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/4279.
19. Ibrahim, Hartati. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA
pada Anak Balita di Wilayah Puskesmas Botumoito Kabupaten Boalemo
Tahun 2010. Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin,
2011.
20. Dharmage et al. Risk Factors of Acute Lower Respiratory Tract Infections
in Children Under Five Years of Age. Southeast Asian Journal of Trop Med
Public Health, 27(1): 107-110, 2009.
21. Gani, A. Strategi Penurunan Insiden Pneumonia pada anak Balita di
Kecamatan Banyuasin dan Betung Kabupaten Banyuasin Sumatera
Selatan. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2004.
22. Gulo, R.R., Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Kelurahan Ilir Gunung Sitoli
Kabupaten Nias Tahun 2008. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
23. Noorhidayah, Widya S. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan
Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Pekauman Banjarmasin.
Socioscience, 6(1): 45-50, 2014.
24. Tallo, Karolina T et al. The Effect of Exclusive Breastfeeding on Reducing
Acute Respiratory Infections in Low Birth Weight Infants. Paediatr
Indones, 52(4): 229-232, 2012.
25. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta. Bedah ASI.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2008.

34
35
LAMPIRAN

36
KUESIONER PENELITIAN

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN


INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BAYI
DI PUSKESMAS REMU KOTA SORONG

Nomor Responden :

Tanggal Pengambilan Data :

Petunjuk pengisian kuesioner.

1. Sebelum menjawab pertanyaan, bacalah terlebih dahulu pertanyaan yang


diteliti.

2. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memilih salah satu jawaban yang
dianggap benar dengan memberikan tanda ().

3. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kuesioner mohon dilakukan


dengan memberikan jawaban yang sejujurnya.

4. Mohon diteliti ulang, agar tidak ada pernyataan yang terlewatkan untuk
dijawab.

5. Mohon jawaban diisi sendiri sesuai dengan apa yang diketahui tanpa ada unsur
paksaan maupun rekayasa, demi tercapainya hasil yang diharapkan.

6. Data yang dikumpulkan semata-mata untuk keperluan ilmiah yang saya jamin
kerahasiaannya.

A. Data Ibu

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
Agama :
Pendidikan terakhir :
Alamat :

Nomor HP :

37
B. Data Bayi
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Alasan Dibawa ke Puskesmas:

C. Kuesioner penelitian
a. Pemberian ASI Eksklusif

Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tidak
1 Jika bayi berusia di atas 6 bulan :
a. Apakah ibu memberikan ASI pada bayi sampai berusia
6 bulan?
b. Selain ASI, apakah ibu memberikan makanan
tambahan atau susu formula sampai berusia 6 bulan?
2 Jika bayi berusia di bawah 6 bulan / berusia 6 bulan :
a. Apakah ibu memberikan ASI kepada bayi?
b. Selain ASI, apakah ibu memberikan makanan
tambahan atau susu formula?

Keterangan:
- Bayi diberikan ASI secara eksklusif, apabila pertanyaan nomor 1a atau 2a
dijawab Ya dan pertanyaan nomor 1b atau 2b dijawab Tidak.
- Bayi tidak diberikan ASI secara eksklusif, apabila pertanyaan nomor 1b atau
2b dijawab Ya.

b. Kejadian ISPA

Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tidak
1 Apakah bayi ibu pernah sakit batuk dan atau pilek?
2 Apakah kejadian sakit batuk/pilek pada bayi ibu disertai
demam?
3 Apakah kejadian batuk/pilek tersebut berlangsung lebih
dari 14 hari?
4 Apakah bayi ibu mengalami kejadian sakit batuk/pilek
lebih dari 2x dalam kurun waktu satu tahun terakhir?

Keterangan:
Kejadian ISPA ditentukan oleh pertanyaan nomor 1 dan 3.

38
- Bayi menderita ISPA apabila pertanyaan nomr 1 dijawab Ya dan nomor 3
dijawab Tidak.
- Bayi tidak menderita ISPA apabila pertanyaan nomor 1 dijawab Tidak.

39
LEMBAR PENJELASAN

Assalamualaikum. Wr. Wb.


Salam sejahtera.

Kami dokter internsip Puskesmas Remu Sorong yang sedang melakukan


penelitian berjudul Hubungan Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di Puskesmas Remu
Kota Sorong .
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi yang
sering terjadi pada anak terutama bayi dan balita. Adapun gejala dari penyakit ini
adalah seperti batuk dan pilek (gejala ringan), sesak napas dan wheezing/bunyi
napas tambahan (gejala sedang), serta sianosis/kebiruan pada tubuh dan
pernapasan cuping hidung (gejala berat). ISPA yang ringan jika tidak segera
ditangani akan menjadi berat dan bahkan sampai menyebabkan kematian. Banyak
faktor yang mempengaruhi timbulnya ISPA pada bayi, salah satunya pemberian
ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan pemberian
ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah
memberikan informasi tambahan di bidang kesehatan tentang hubungan
pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA, serta dapat memberikan data
untuk penelitian selanjutnya yang lebih mendalam.
Oleh karena itu kami meminta kesediaan Ibu untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini dengan sukarela dan tanpa paksaan. Kami akan melakukan
wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan seputar pemberian ASI
eksklusi dan ISPA pada bayi Ibu pada lembaran kuesioner untuk diisi. Kami
mengharapkan Ibu menjawab semua pertanyaan dengan kejadian sebenar-
benarnya yang dialami. Identitas pribadi Ibu sebagai partisipan akan dirahasiakan
dan informasi yang diberikan hanya akan digunakan untuk penelitian ini. Untuk
penelitian ini, Ibu tidak akan dikenakan biaya apapun. Setelah memahami
berbagai hal yang menyangkut penelitian ini diharapkan Ibu bersedia mengisi
lembar persetujuan yang telah kami siapkan. Bila terdapat hal yang kurang
dimengerti, Ibu dapat langsung menanyakan kepada kami sebagai peneliti.

40
Demikian informasi ini saya sampaikan. Atas bantuan dan kesedian Ibu
menjadi partisipan dalam penelitian ini, saya sampaikan terima kasih.

, Januari 2016

41
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)
(INFORMED CONSENT)

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama :

Usia :

Alamat :

setelah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian tentang Hubungan


Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) pada Bayi di Puskesmas Remu Kota Sorong , dengan ini menyatakan
BERSEDIA/TIDAK BERSEDIA* untuk ikut serta berpartisipasi dengan menjadi
objek penelitian.

*) coret yang tidak perlu

Sorong, 2017

Peneliti, Yang Membuat Pernyataan,

Tim Dokter Internsip PKM Remu ..................................................

42