Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional mempunyai perananpenting


terutama dalam mendukung kegiatan dalam bidang ekonomi, sosial danbudaya serta
lingkungan. Jalan dikembangkan melalui pendekatan pengembanganwilayah agar tercapai
keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah,membentuk dan memperkukuh
kesatuan nasional untuk memantapkan pertahanandan keamanan nasional, serta membentuk
struktur ruang dalam rangka mewujudkansasaran pembangunan nasional.Dalam mewujudkan
prasarana transportasi darat yang melalui jalan, harusterbentuk wujud jalan yang
menyebabkan pelaku perjalanan baik orang maupunbarang, selamat sampai di tujuan, dan
dalam mendukung kegiatan ekonomi, sosial,budaya dan lingkungan, perjalanan harus dapat
dilakukan secepat mungkin denganbiaya perjalanan yang adil sehingga dapat dijangkau oleh
semua lapisan masyarakat.Disamping itu, adalah hal yang ideal untuk pelaku perjalanan,
selain dapat dilakukan dengan selamat, cepat dan murah, juga nyaman, sehingga perjalanan
tidak melelahkan.Agar kita dapat mendesain sebuah jalan raya yang aman, nyaman dan
efisienmaka kita terlebih dahulu mengetahui bagaimana ketentuan yang harus
dilakukan.Salah satunya dengan mengetahui penampang melintang jalan raya (Cross
Section).Dengan demikian kita dapat mendesain sebuah jalan raya yang baik.
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat kami analisa diantaranya yaitu;


1. Apa yang di maksud dari Jalan Raya?
2. Apa Klasifikasi dari Jalan Raya?
3. Apa saja bangunan pelengkap jalan?

1.3 Tujuan
Tujuan dari Makalah ini adalah untuk berikan pengertian serta penjelasan tentang :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Jalan Raya?
2. Untuk mengetahui klasifikasi Jalan Raya?
3. Untuk mengetahui apa saja bangunan pelengkap Jalan Raya?

1.4 Manfaat
-Untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang konstruksi Jalan Raya di
bidang Teknik Sipil.
-Memberikan pengetahuan tentang fungsi dan sistem Jalan Raya di bidang Teknik
Sipil.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Jalan

Dalam perencanaan geometrik jalan raya harus memenuhi persyaratan desain, yaitu
terpenuhinya syarat kenyamanan, keamanan dan memiliki nilai ekonomis yang layak
sertaefesiensi yang optimal. Oleh karena itu perencana harus memahami yang
mendalamtentang berbagai landasan teoritis konseptual perencanaan geometrik jalan raya itu
sendiri.Jalan raya adalah suatu lajur tanah yang di sediakan khusus untuk
sarana/prasaranaperhubungan darat yang dibuat sedemikian rupa untuk melayani kelancaran
arus lalu lintas.Sarana prasarana perhubungan tersebut meliputi semua bagian jalan, termasuk
bangunanpelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi pelayanan arus lalu lintas,
guna untuk memindahkan orang dan barang dari suatu tempat ketempat lain. Kelancaran lalu
lintas di jalan raya sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan pelayanan yang dapat
diberikan oleh setiap bagian jalanraya tersebut, antara lain oleh lebar jalan dan jumlah jalur.
Semakin bertambah banyak jenis dan jumlah lalu lintas yang melewati suatu jalan raya, maka
lalu lintas menjadi semakin ramai. Keadaan seperti ini diartikan bahwa kepadatan lalu lintas
menjadi semakin tinggi dan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh bagian-bagian jalan
raya menjadi semakin rendah. Agar terdapat kesuaian antara kepadatan lalu lintas dengan
tingkat pelayanan jalan, maka ditetapkan klasifikasi dan spesifikasi suatu jalan raya.
Klasifikasi dan spesifikasi tersebut sangat berguna dan dapat memberikan kejelasan
mengenai tingkat kepadatan lalu lintas yang perlu dilayani oleh setiap bagian-bagian jalan.
Klasifikasi dan spesifikasi jalan raya dapat dibedakan menurut fungsi pelayanannya, menurut
kelas jalan, menurut keadaan topografi, penggolongan layanan administrasi dan menurut
jenis-jenis jalan raya.

2.1.1 Klasifikasi Jalan Menurut Fungsi

Meningkatnya kemacetan pada jalan perkotaan maupun jalan luar kota yang
diakibatkan bertambahnya kepemilikan kendaraan, terbatasnya sumberdaya untuk
pembangunan jalan raya, dan belum optimalnya pengoperasian fasilitas lalu lintas yang ada,
merupakan persoalan utama di banyak negara. Telah diakui bahwa usaha benar diperlukan
bagi penambahan kapasitas, dimana akan diperlukan metode efektif untuk perancangan dan
perencanaan agar didapat nilai terbaik bagi suatu pembiayaan dengan mempertimbangkan
biaya langsung maupun keselamatan dan dampak lingkungan.
Jaringan jalan raya merupakan prasarana transportasi darat yang memegang peranan yang
sangat penting dalam sektor perhubungan terutama untuk kesinambungan distribusi barang
dan jasa. Keberadaan jalan raya sangat diperlukan untuk menunjang laju pertumbuhan
ekonomi seiring dengan meningkatnya kebutuhan sarana transportasi yang dapat menjangkau
daerah-daerah terpencil yang merupakan sentra produksi pertanian.

2
1. Jalan Arteri
Jalan Arteri Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan antar kota jenjang kesatu yang
berdampingan atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua. (R.
Desutama. 2007)
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi oleh Jalan Arteri
Primer adalah :
1) Kecepatan rencana > 60 km/jam.
2) Lebar badan jalan > 8,0 m.
3) Kapasitas jalan lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.
4) Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan
dapat tercapai.
5) Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal.
6) Jalan primer tidak terputus walaupun memasuki kota.
Jalan Arteri Sekunder adalah ruas jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan
kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan
sekunder lainnya atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi oleh Jalan Arteri
Sekunder adalah :
1) Kecepatan rencana > 30 km/jam.
2) Lebar jalan > 8,0 m.
3) Kapasitas jalan lebih besar atau sama dari volume lalu lintas rata-rata.
4) Tidak boleh diganggu oleh lalu lintas lambat.

2. Jalan Kolektor
Jalan Kolektor Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan antar kota kedua dengan kota
jenjang kedua, atau kota jenjang kesatu dengan kota jenjang ketiga. (R. Desutama. 2007)
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi oleh Jalan Kolektor
Primer adalah :
1) Kecepatan rencana > 40 km/jam.
2) Lebar badan jalan > 7,0 m.
3) Kapasitas jalan lebih besar atau sama dengan volume lalu lintas rata-rata.
4) Jalan masuk dibatasi secara efisien sehingga kecepatan rencana dan kapasitas jalan
tidak terganggu.
5) Tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, lalu lintas lokal.
6) Jalan kolektor primer tidak terputus walaupun memasuki daerah kota.

3
Jalan Kolektor Sekunder adalah ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua
dengan kawasan sekunder lainnya atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan
kawasan sekunder ketiga.
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi oleh Jalan Kolektor
Sekunder adalah :
1) Kecepatan rencana > 20 km/jam.
2) Lebar jalan > 7,0 m.
3. Jalan Lokal
Jalan Lokal Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan
persil, kota jenjang kedua dengan persil, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga
lainnya, kota jenjang ketiga dengan kota jenjang di bawahnya. (R. Desutama, 2007)
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi oleh Jalan Lokal
Primer adalah :
1) Kecepatan rencana > 20 km/jam.
2) Lebar badan jalan > 6,0 m.
3) Jalan lokal primer tidak terputus walaupun memasuki desa
Jalan Lokal Sekunder adalah ruas jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu
dengan perumahan, atau kawasan sekunder kedua dengan perumahan, atau kawasan sekunder
ketiga dan seterusnya dengan perumahan.
Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi oleh Jalan Lokal
Sekunder adalah :
1) Kecepatan rencana > 10 km/jam.
2) Lebar jalan > 5,0 m.
4. Jalan Lingkungan
Jalan Lingkungan adalah merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
lingkungan dengan ciri-ciri seperti pada Tabel 2.1 sebagai berikut :
Tabel 1.1 Ciri-ciri Jalan Lingkungan

Jalan Ciri-ciri

1. Perjalanan jarak dekat


Lingkungan 2. Kecepatan rata-rata rendah

4
2.1.2 Klasifikasi berdasarkan Kelas Jalan

Untuk keperluan pengaturan pengguaan dan pemenuhan kebutuhan angkutan, jalan dibagi
dalam beberapa kelas yang didasarkan pada kebutuhan transportasi, pemilihan moda secara
tepat dengan mempertimbangkan keunggulan karakteristik masing-masing moda,
perkembangan teknologi kendaraan bermotor, muatan sumbu terberat kendaraan bermotor
serta konstruksi jalan. Pengelompokkan jalan menurut muatan sumbu yang disebut juga kelas
jalan, terdiri dari:

1. Jalan Kelas I, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak
melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari
10 ton, yang saat ini masih belum digunakan di Indonesia, namun sudah mulai
dikembangkan diberbagai negara maju seperti di Perancis telah mencapai muatan
sumbu terberat sebesar 13 ton;
2. Jalan Kelas II, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak
melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 10 ton, jalan
kelas ini merupakan jalan yang sesuai untuk angkutan peti kemas;
3. Jalan Kelas III A, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter,
ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang
diizinkan 8 ton;
4. Jalan Kelas III B, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor
termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang
tidak melebihi 12.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton;
5. Jalan Kelas III C, yaitu jalan lokal dan jalan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 milimeter,
ukuran panjang tidak melebihi 9.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang
diizinkan 8 ton.

2.1.3 Klasifikasi berdasarkan administrasi pemerintahan

Pengelompokan jalan dimaksudkan untuk mewujudkan kepastian hukum penyelenggaraan


jalan sesuai dengan kewenangan Pemerintah dan pemerintah daerah. Jalan umum menurut
statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota,
dan jalan desa.

1. Jalan nasional, merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta
jalan tol.
2. Jalan provinsi, merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota
kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
3. Jalan kabupaten, merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak
termasuk jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan,
antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat
kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah
kabupaten, dan jalan strategis kabupaten

5
4. Jalan kota, adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang
menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan
dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat
permukiman yang berada di dalam kota.
5. Jalan desa, merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau
antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

2.1.4 Klasifikasi menurut medan jalan

Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan


yang diukur tegak lurus garis kontur. Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus
mempertimbangkan keseragaman kondisi medan menurut rencana trase jalan dengan
mengabaikan perubahan-perubahan pada bagian kecil dari segmen rencana jalan tersebut.

Tabel. Klasifikasi Menurut Medan Jalan:

No Jenis Medan Notasi Kemiringan Medan (%)


1 Datar D <3
2 Berbukit B 3-25
3 Pegunungan G >25

2.3 Jalur Lalu Lintas


Jalur Lalu Lintas(Traveled Way)adalah bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu
lintas kendaraan (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 43 Tahun 1993), termasuk
pada simpang, bukaan median, taper (jalur untuk tanjakan - percepatan - perlambatan - belok)
Fisik berupa perkerasan, dibatasi oleh median, bahu, trotoar, pulau jalan atau separator.
Beberapa tipe jalan, diantaranya:

1.2/2 TB (2/2 UD) : 2 lajur, 2 jalur, tak terbagi


2.2/1 TB (2/1 UD) : 2 lajur, 1 jalur, tak terbagi
3.4/2 B (4/2 D) : 4 lajur, 2 jalur, terbagi
4.n/2 B (n/2 D) : n lajur, 2 jalur, terbagi

Adapun lebar jalur untuk jalan antara kota, yang ditentukan oleh jumlah dan lebar
lajur sesuai dengan volume arus lalu lintas harian rencana (VLHR), dikemukakan tabel di
bawah ini.
Lebar jalur minimum untuk ruas jalan antar kota adalah 4.5 meter dan untuk ruas jalan
perkotaan adalah 4,0 meter, yang maish memungkinkan 2 kendaraan kecil dapat saling
berpapasan. Namun bila yang saling berpapasan dua kendaraan besar atau salah satunya
kendaraan besar, maka dapat kendaraan-kendaraan tersebut dapat menggunakan bahu jalan.

6
Lebar lajur kendaraan ditentukan berdasarkan pertimbangan beberapa hal sebagai
berikut:

1.Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapatdiikuti oleh lintasan kendaraan lain
dengan tepat.

2.Lajur kendaraan tak mungkin tepat samadengan lebar kendaraan maksimum. Untuk
keamanan dan kenyamanan setiap pengemudi membutuhkan ruang gerak antar kendaraan
ratanya permukaan, gaya sentrifugal di tikungan dan gaya angin akibat kendaraan lain
menyiap.
Lajur(Lane)
adalah bagian jalur lalu lintas yang memanjang, dengan atau tanpa marka jalan, yang
memiliki lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor sedang berjalan, selain sepeda motor
(Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 43 Tahun 1993). Lebar lajur tergantung dari
kecepatan rencana dan kendaraan rencana, di samping fungsi dan kelas jalan
Jumlah lajur ditetapkan berdasar tingkat kinerja ruas jalan (v-c ratio, MKJI
1994)Untuk kelancaran sistem drainase permukaan jalan, maka lajur lalu lintas
padaalinyemen lurus harus diberi kemiringan melintang normal sebesar:
a.2 - 3 % untuk jalan dengan perkerasan aspal atau beton.
b.4 - 5 % untuk jalan dengan perkerasan kerikil

Dalam perencanaan lebar lajur didasarkan atas lebar kendaraan rencana ditambah
dengan kebebasan samping antar kendaraan. Kebebasan samping sangatditentukan oleh
keamanan dan kenyamanan yang diharapkan. Bina Margamenentukan lebar kendaraan
rencana untuk kendaraan kecil 2.10 meter dan 2.60meter untuk kendaraan rencana besar.

Pada jalan lokal yang kecepatan rendah Bina Marga menentukan lebar jalur lalulintas
minimal 4.50 meter (2 x 2.25 meter) cukup memadai untuk jalan 2 lajur 2 arah,dan idealnya
adalah 6 meter (2 x 3.00 meter). Untuk jalan arteri yang direncanakanuntuk kecepatan tinggi
dan volume tinggi lebar lajur kendaraan minimal 3.50 meter.

7
2.4 Bangunan Pelengkap Jalan

Bangunan pelengkap adalah bangunan-bangunan yang merupakan pendukung dari


jalan tersebut, antara lain jembatan, tempat perkir, gorong-gorong, tembok penahan, saluran
drainase, dll. Sedangkan perlengkapan jalan adalah perlengkapan-perlengkapan guna
menambah kenyamanan bagi pengguna jalan, misalnya rambu-rambu lalu lintas, pagar
pengaman, dll.
1. Jembatan

Jembatan merupakan satu struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau
rintangan seperti sungai, rel kereta api ataupun jalan raya. Ia dibangun untuk
membolehkan laluan pejalan kaki, pemandu kenderaan atau kereta api di atas halangan
itu.
Suatu jembatan biasanya dirancang sama untuk kereta api, untuk pemandu jalan
raya atau untuk pejalan kaki. Ada juga jambatan yang dibangun untuk pipa-pipa besar dan
saluran air yang bisa digunakan untuk membawa barang. Kadang-kadang, terdapat
batasan dalam penggunaan jembatan; contohnya, ada jembatan yang dikususkan
untuk jalan raya dan tidak boleh digunakan oleh pejalan kaki atau penunggang sepeda.
Ada juga jembatan yang dibangun untuk pejalan kaki (jembatan penyeberangan), dan
boleh digunakan untuk penunggang sepeda.
Perancangan dan bahan asas pembinaan jambatan bergantung kepada lokasi dan
juga jenis muatan yang akan ditanggungnya. Berikut adalah beberapa jenis jambatan yang
utama:
Jembatan batang kayu (log bridge)
Jembatan lengkung (arch bridge)
Jembatan alang (Beam bridge)
Jembatan kerangka (Truss bridge)
Jembatan gerbang tertekan (Compression arch bridge)
Jembatan gantung (Suspension bridge)
Jembatan kabel-penahan (Cable-stayed R bridge)
Jembatan penyangga (Cantilever bridge)

8
2. Jalur sepeda

Jalur sepeda adalah jalur yang khusus diperuntukkan untuk lalu lintas untuk
pengguna sepeda, dipisah dari lalu lintas kendaraan bermotor untuk meningkatkan
keselamatan lalu lintas pengguna sepeda. Penggunaan sepeda memang perlu diberi
fasilitas untuk meningkatkan keselamatan para pengguna sepeda dan bisa meningkatkan
kecepatan berlalu lintas bagi para pengguna sepeda. Di samping itu penggunaan sepeda
perlu didorong karena hemat energi dan tidak mengeluarkan polusi udara yang
signifikan.
Bentuk Jalur sepeda
Ada beberapa pendekatan desain jalur sepeda:
Jalur khusus sepeda, adalah jalur dimana lintas untuk sepeda dipisah secara phisik dari
jalur lalu lintas kendaraan bermotor dengan pagar pengaman ataupun ditempatkan
secara terpisah dari jalan raya.
Jalur sepeda sebagai bagian jalur lalu lintas yang hanya dipisah dengan marka jalan
atau warna jalan yang berbeda.

Dimensi
Lebar lajur sepeda sekurang-kurangnya 1 meter cukup untuk dilewati satu sepeda dengan
ruang bebas di kiri dan kanan sepeda yang cukup, dan jalur untuk lalu lintas dua arah
sekurang-kurangnya 2 meter.
Perkerasan jalur sepeda dapat berupa:
Perkerasan kaku dari beton
Perkerasan fleksibel

Aspek keselamatan yang paling rawan untuk jalur sepeda adalah :


dipersimpangan karena di sini terjadi konflik antara kendaraan yang berjalan dijalur
lalu lintas dengan sepeda yang berjalan jalur kendaraan bermotor.
pada ruas terutama pada akses jalan ke bangunan atau tempat parkir, karena akan
terjadi konflik
ataupun bila bercampur dengan lalu lintas lainnya, apalagi bila arus lalu lintas
kendaraan bermotornya berjalan pada kecepatan yang tinggi. Perbedaan kecepatan
yang tinggi merupakan peluang untuk terjadinya kecelakaan yang fatal.

9
3. Island ( pulau jalan/ pulau lalu lintas)

Bagian dari persimpangan yang ditinggikan dengan kereb, yang dibangun


sebagai pengarah arus lalu lintas serta merupakan tempat bagi pejalan kaki pada saat
menunggu kesempatan menyeberang jalan.

Pulau lalu lintas adalah bagian jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan,
dapat berupa marka jalan atau bagian jalan yang ditinggikan. Pulau lalu lintas berfungsi
untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas pada ruas jalan ataupundi persimpangan jalan
melalui pemisahan arus.

Termasuk dalam pengertian pulau adalah:

kanalisasi arus pada persimpangan untuk memisahkan arus lalu lintas dalam rangka
pengendalian konflik yang terjadi di persimpangan;
pulau pemisah jalan pada tempat penyeberangan pejalan kaki/pelican crossing;
median jalan;
bundaran lalu lintas;
marka chevron di persimpangan

Berbagai bentuk pulau lalu lintas digunakan untuk memperlambat arus lalu lintas
yang berjalan. Bentuk-bentuk pulau lalu lintas yang biasa digunakan untuk menghambat
kecepatan dapat berupa:
1. Pulau di median yang berfungsi untuk memberikan ruang ditengah jalan sehingga
pejalan kaki yang menyeberang dapat berhenti ditengah jalan sebelum melanjutkan
menyeberang bila situasi telah memungkinkan untuk menyeberang, seperti
ditunjukkan dalam gambar.
2. Pulau disisi kiri, kanan atau pada kedua sisi yang dimaksudkan untuk mempersempit
ruang lalu lintas kendaraan yang berfungsi untuk mengurangi kecepatan lalu lintas.
pulau seperti ini bisa di tempatkan di mulut persimpangan ataupun ditengah ruas
jalan.
3. Kombinasi dari butir 1 dan butir 2 selain pulau ditengah juga ditempatkan pulau di
pinggir sehingga keselamatan pejalan kaki yang menyeberang menjadi lebih tinggi
lagi.

10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jalan dibuat karena manusia perlu bergerak dan berpindah-pindah dari suatu tempat
ketempat lain untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Jejak jalan tersebut berfungsi
sebgai penuntun arah dan menjadikan jejak jalan semakin melebar dikarenakan sering
berpindah-pindahnya manusia pada waktu itu. Kemudian kurang lebih 5000 tahun yang lalu,
manusia hidup berkelompok, untuk keperluan tukar menukar barang pokok mereka mulai
menggunakan jalur jalan secara tetap yang berfungsi sebagai jalan prasarana sosial dan
ekonomi.Jalan merupakan sebuah sarana transportasi menuju sebuah tempat tujuan,sehingga
mempermudah dalam hal sosialisasi dan ekonomi. Dengan perkembangan penemuan-
penemuan dari para peneliti, sehingga di bangunlah jalan raya sampai sekarang, karena
strukturnya keras, kuat dan lebih halus.

3.2 Saran
Saran terhadap makalah ini adalah sekiranya dapat memberikan masukan dan kritik
demi kesempurnaan makalah ini agar dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat
tentang konstruksi Jalan Raya terutama di bidang teknik sipil

11