Anda di halaman 1dari 153

TESIS

EKSEKUSI OBYEK JAMINAN KENDARAAN BERMOTOR


DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN NON BANK YANG
TIDAK DIDAFTARKAN JAMINAN FIDUSIA

GEDE RAY ARDIAN MACHINI YASA

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2014

i
EKSEKUSI OBYEK JAMINAN KENDARAAN BERMOTOR
DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN NON BANK YANG TIDAK
DIDAFTARKAN JAMINAN FIDUSIA

Tesis ini dibuat untuk memperoleh Gelar Magister

Pada Program Magister Program Studi Kenotariatan Program Pascasarjana

Universitas Udayana

GEDE RAY ARDIAN MACHINI YASA

NIM. 1092461035

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2014

1
3

Lembar Pengesahan

TESIS INI TELAH DISETUJUI

PADA TANGGAL 1 OKTOBER 2013

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,MH Dr. Putu Tuni Cakabawa L, SH.,M.Hum

NIP : 196502211990031005 NIP : 19580321 198602 1 001

Mengetahui,

Ketua Program Magister Kenotariatan Direktur Program Pascasarjana

Program Pascasarjana Universitas Udayana

Universitas Udayana

Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,MH. Prof.Dr.dr.A.A.Raka Sudewi,Sp.S (K)

NIP : 19650221 199003 1 005 NIP : 19590215 198510 2 001


4

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Gede Ray Ardian Machini Yasa

NIM : 1092461035

Program Studi : Kenotariatan

Judul Tesis : Eksekusi Obyek Jaminan kendaraan bermotor Dalam Perjanjian

Pembiayaan Non bank yang tidak didaftarkan Jaminan Fidusia Di

Kota Denpasar.

Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah Tesis ini bebas plagiat.

Apabila dikemudian hari terbukti plagiat dalam karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima

sanksi sesuai peraturan Mendiknas RI No. 17 Tahun 2010 dan Peraturan Perundang-undangan

yang berlaku.

Denpasar, 1 Oktober 2013

Yang membuat pernyataan

(Gede Ray Ardian Machini Yasa)


5

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang

Maha Esa, atas berkat Asung Kerta Wara Nugraha-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan hukum (tesis) dengan judul: EKSEKUSI OBYEK JAMINAN KENDARAAN

BERMOTOR DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN NON BANK YANG TIDAK

DIDAFTARKAN JAMINAN FIDUSIA DI KOTA DENPASAR. Penulisan tesis ini

bertujuan untuk melengkapi tugas akhir sebagai syarat memperoleh gelar Magister pada

Program Magister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penulisan tesis ini tidak lepas dari bantuan

serta dukungan, baik materiil maupun moril yang diberikan oleh berbagai pihak. Oleh karena

itu, dalam kesempatan ini dengan rendah hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

setulus-tulusnya kepada Bapak Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH., MH., Pembimbing I dan

Bapak Dr. Putu Tuni Cakabawa L., S.H., M.Hum., Pembimbing II yang telah membimbing

penulis dengan sepenuh hati disela-sela kesibukannya, memberikan nasehat serta memberikan

kepercayaan bagi penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya juga penulis sampaikan kepada

Bapak Prof. Dr. dr. Ketut Suastika SpPD KEMD, Rektor Universitas Udayana

Denpasar, Ibu Direktur Prof.Dr.dr.A.A. Raka Sudewi, Sp.S (K), sebagai Direktur

Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar, serta Bapak Prof. Dr. I Gusti

Ngurah Wairocana, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar,

atas segala fasilitas dan dorongan yang diberikan kepada penulis selama mengikuti studi

di Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana. Demikian juga kepada Bapak

Prof. Dr. I Made Arya Utama, S.H., M.H., dalam kedudukannya sebagai Ketua Program

Magister Kenotariatan Universitas Udayana Denpasar, Bapak I Made Tjatrayasa,


6

S.H.,M.H., Sekretaris Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana Denpasar,

penulis menyampaikan terima kasih banyak atas dukungannya.

Penulis juga menyampaikan terima kasih banyak kepada Bapak Dr. I Wayan

Wiryawan, SH.,MH., Dr. Ni Nyoman Sukeni, SH.,M.Si, dan Bapak Dr. I Gede

Yusa,SH.,MH., berturut-turut sebagai Anggota Penguji atas segala saran dan

masukannya untuk kesempurnaan tesisi ini. Demikian juga kepada segenap Bapak dan

Ibu Dosen Fakultas Hukum maupun Program Magister Kenotariatan Universitas

Udayana Denpasar yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis sehingga

dapat dijadikan bekal dalam penulisan tesis ini. Terima kasih juga disampaikan kepada

seluruh rekan-rekan mahasiswa angkatan I mandiri Program Magister Kenotariatan

Universitas Udayana Denpasar, yang penuh rasa persaudaraan dan kekeluargaan telah

memberikan semangat dalam penyusunan tesis ini.

Akhirnya secara khusus, penulis menghaturkan sembah dan sujud kepada

Ayahanda I Ketut Rochineng, SH.,MH dan Ibunda Ni Made Sri Ardiani. S.Pd yang

telah bersusah payah melahirkan, membesarkan dengan penuh pengorbanan, kesabaran,

ketulusan, dan kasih sayang, serta memberikan doa restu, sehingga penulis dapat

melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan di Magister Kenotariatan Universitas

Udayana Denpasar. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada Istri tercinta Rai Irma Santini, SH yang selalu mendampingi, dan memberikan

cinta kasihnya, serta dorongan baik secara materiil dan rohani sehingga penulis terpacu

untuk dapat menyelesaikan tesis ini. Tidak lupa penulis juga sampaikan ucapan terima

kasih tidak terhingga kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu,

atas bantuan, doa, serta partisipasinya yang diberikan hingga tesis ini dapat diselesaikan

dengan baik.
7

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih sangat jauh dari sempurna, maka dari

itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat diharapkan dalam

penyempurnaan tesis ini. Penulis memohon maaf apabila dalam penulisan tesis ini

masih dijumpai adanya kesalahan. Semoga diantara kekurangannya, tesis ini dapat

bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Denpasar, 1 Oktober 2013

Penulis
8

ABSTRAK

EKSEKUSI OBYEK JAMINAN KENDARAAN BERMOTOR DALAM PERJANJIAN


PEMBIAYAAN NON BANK YANG TIDAK DIDAFTARKAN JAMINAN FIDUSIA

Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia telah
memberikan aturan mengenai pelaksanaan eksekusi atas objek Jaminan Fidusia, namun
faktanya di lapangan pelaksanaan eksekusi yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan non bank
dijumpai tidak mematuhi aturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, penelitian
yang dilakukan terhadap lembaga pembiayaan non bank di Kota Denpasar ini dimaksudkan
untuk mengetahui dan menganalisis latar belakang pihak kreditur melakukan eksekusi terhadap
barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak didaftarkan jaminan fidusia dan akibat hukum
pelaksanaan eksekusi terhadap barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak didaftarkan
Jaminan Fidusia.

Penelitian ini dikualifikasikan sebagai penelitian hukum empiris yang mengkaji


kesenjangan antara ketentuan Pasal 29 ayat (1) UU No. 42 Tahun 1999 dengan pelaksanaannya
di lapangan. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui penelitian lapangan yaitu
dengan cara melakukan wawancara langsung ke beberapa responden dan informan yang terkait.
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui penelitian kepustakaan terhadap bahan
hukum primer, sekunder, dan tertier sesuai permasalahan yang akan dibahas. Data yang telah
terkumpulkan selanjutnya dianalisis secara kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa klausula didalam perjanjian pembiayaan


konsumen menyatakan bahwa apabila pembeli lalai (wanprestasi) dalam membayar angsuran,
maka kendaraan bermotor tersebut diambil kembali oleh penjual dan dijual dengan harga
pasaran. Hal ini merupakan alasan hukum bagi pihak kreditur untuk melakukan eksekusi secara
langsung dengan kekuasaannya sendiri tanpa putusan pengadilan sebagaimana yang selama ini
dilakukan Lembaga Pembiayaan Non Bank terhadap debitur yang cidera janji di Kota Denpasar.
Mengenai akibat hukum pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia yang tidak didaftarkan dalam hal
debitur melakukan wanprestasi maka secara normatif kreditur tidak sah menggunakan parate
executie (eksekusi langsung), dan proses eksekusinya harus dilakukan dengan cara mengajukan
gugatan perdata ke Pengadilan Negeri melalui proses Hukum Acara Perdata hingga turunnya
putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

Kata-kata Kunci : Eksekusi, Perjanjian, Lembaga Pembiayaan, Jaminan Fidusia.


9

ABSTRACT

THE EXECUTION OF OBJECT OF MOTOR VEHICLE WARRANTY ON NON BANK


FINANCING AGREEMENT THAT IS FIDUCIARY GUARANTEE UNREGISTERED

The article 29 paragraph (1) of the Act Number 42, Year 1999 on Fiduciary Guarantee
has provided rules on the execution of the object Fiduciary, but in factually the execution by
non-bank financial institutions found not abide by the rules applicable legislation. Therefore, the
research conducted in the non-bank financial institutions in the city of Denpasar is intended to
study and analyze the background of the creditor to execute against the collateral of motor
vehicles that are not registered fiduciary and the legal consequent of execution against the motor
vehicles that is Fiduciary guarantee unregistered.

This study was qualified into empirical legal research that examines the gap between
the provisions of Article 29 paragraph (1) of Act Number 42 of Year 1999 with implementation
in the field. The primary data in this study was obtained through field research by direct
interviews to some respondents and informants. Secondary data in this study was obtained
through the study literature on primary, secondary, and tertiary legal materials appropriate
issues to be discussed. The data have been accumulate in this research further be analyzed by
qualitative analysis.

The results of the research showed that some of the clauses in consumer financing
agreement states that if the buyer negligent (default) in installments, the motor vehicle was
taken back by the seller and sold at market price. This is a legal reason for the creditor to
execute directly with its own powers without a court decision has been made as a Non-Bank
Financial Institution against debtors who default in Denpasar City. Regarding the legal
repercussions execution Fiduciary Guarantee was not registered in terms of the debtor in default
the lender normative unauthorized use parate executie (direct execution), and the execution
must be carried out by way of filing a civil action by the District Court Civil Procedure until the
fall of the judge decision who has permanent legal force.

Keywords: Execution, Agreements, Financing Institution, Fiduciary Guarantee.


10

RINGKASAN

Judul penelitian ini adalah Eksekusi Obyek Jaminan Kendaraan Bermotor Dalam
Perjanjian Pembiayaan Non Bank Yang Tidak Didaftarkan Jaminan Fidusia. Pada bab I
sebagai bab pendahuluan diuraikan mengenai latar belakang yang melandasi lahirnya penelitian
terhadap permasalahan dalam tesis ini. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan yang yang
diteliti dalam tesis ini meliputi 2 (dua) hal yakni yang melatarbelakangi pihak kreditur
melakukan eksekusi terhadap barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak didaftarkan
jaminan fidusia dalam perjanjian pembiayaan non bank dan akibat hukum pelaksanaan eksekusi
terhadap barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak didaftarkan jaminan fidusia dalam
perjanjian pembiayaan non bank. Disamping latar belakang dan rumusan masalah, pada bab I
juga diuraikan mengenai tujuan dan manfaat penelitian, landasan teoritis yang akan dipakai
mengkaji sesuai permasalahan yang dibahas, metode penelitian yang digunakan dalam
penulisan tesis ini, sumber-sumber bahan hukum yang menunjang pembahasan permasalahan,
teknik pengumpulan bahan hukum serta teknik pengolahan dan analisa bahan hukum.

Bab II tentang tinjaun umum terkait dengan perjanjian dan jaminan fidusia, yang
merupakan pengembangan dan kajian teoritis pada bab I. Pembahasan pada bab ini dibedakan
dalam 5 (lima) sub bab, yakni tinjauan umum perjanjian, tinjauan umum tentang jaminan
fidusia, tinjauan umum tentang pembiayaan konsumen, tinjauan umum tentang eksekusi,
tinjauan umum perjanjian kredit

Bab III tentang pembahasan rumusan masalah I, dikemukakan hasil-hasil penelitian


yang diperoleh sesuai dengan permasalahan yang dibahas dan dianalisa berdasarkan kajian
teoritis, empiris, untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang ada. Oleh karena itu,
dalam sub bahasan bab ini dibedakan ada 3 (tiga) pembahasan yakni, dasar hukum yang
dijadikan pedoman oleh kreditur dalam eksekusi terhadap barang jaminan, faktor yang menjadi
sebab terjadinya eksekusi oleh kreditur terhadap barang jaminan dan pelaksanaan eksekusi oleh
kreditur terhadap barang jaminan.

Bab IV sebagai bab tentang pembahasan rumusan masalah II dikemukakan hasil-hasil


penelitian yang diperoleh sesuai dengan permasalahan yang dibahas dan dianalisa berdasarkan
kajian teoritis, empiris, untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang ada. Oleh karena
itu, dalam sub bahasan bab ini dibedakan ada 3 (tiga) pembahasan yakni, kewenangan kantor
wilayah Hukum dan HAM dalam mengawasi mensertifikatkan barang jaminan fidusia, legalitas
eksekusi barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak disertifikatkan dikaji dari UU No.42
Tahun 1999 tentang jaminan fidusia dan perlindungan hukum terhadap debitur atas eksekusi
barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak disertifikatkan oleh kreditur.

Bab V sebagai penutup ini dikemukakan kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil
pembahasan yang dilakukan pada bab III dan bab IV. Adapun kesimpulan atas kedua
permasalahan yang dibahas yakni, beberapa klausula didalam perjanjian pembiayaan konsumen
dijadikan alasan hukum yang sah bagi pihak kreditur untuk melakukan eksekusi secara langsung
dengan kekuasaannya sendiri tanpa putusan pengadilan sebagaimana yang selama ini dilakukan
lembaga pembiayaan terhadap debitur yang cidera janji. Sedangkan menurut UUJF diterangkan
11

bahwa yang dapat melakukan eksekusi langsung hanyalah bentuk perjanjian yang mempunyai
kekuatan eksekutiroal.Dalam hal ini perjanjian pembiayaan tersebut harus dibuat dengan akta
otentik dan di daftarkan.Dan akibat hukum pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia yang tidak
didaftarkan dalam hal debitur melakukan wanprestasi kreditur tidak bisa menggunakan parate
executie (eksekusi langsung), tetapi proses eksekusinya tetap harus dilakukan dengan cara
mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri melalui proses hukum acara perdata hingga
turunnya putusan hakim. Untuk eksekusi yang menggunakan titel eksekutorial berdasarkan
sertifikat jaminan fidusia pelaksanaan penjualan benda jaminan tunduk dan patuh pada Hukum
Acara Perdata sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 224 H.I.R/258 RBG, yang prosedur
pelaksanaanya memerlukan waktu yang lama.

Selain kesimpulan juga dalam bab ini dikemukakan beberapa saran yang terkait
beberapa kelemahan yang dijumpai dari penelitian ini yakni, dalam perjanjian
pembiayaan konsumen hendaknya pelaksanaan eksekusi dilakukan melalui Peraturan
Perundang-Undangan yang berlaku di Indonesia, dengan mengajukan gugatan ke
pengadilan hingga turunnya putusan hakim. Eksekusi yang dilakukan oleh lembaga
pembiayaan dapat dikatakan perbuatan melawan hukum karena motor tersebut sebagian
adalah milik konsumen dan sebagian milik kreditur. Untuk kepastian hukum serta untuk
memposisikan lembaga pembiayaan pada posisi yang lebih menguntungkan, maka
disarankan kepada lembaga pembiayaan dalam melakukan perjanjian pembiayaan
konsumen dibuat dengan akta otentik (akta notaris) serta mendaftarkan jaminan fidusia
pada Kantor Fidusia, sebagaimana telah ditentukan oleh Undang-Undang No. 42 Tahun
1999 Tentang Fidusia.
12

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL . i

HALAMAN PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN .. iii

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT iv

UCAPAN TERIMA KASIH..... v

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT .. ix

RINGKASAN .. x

DAFTAR ISI . xii

BAB I PENDAHULUA N ............................................................................ 1

1.1 Latar belakang masalah ............................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 9

1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 9

1.3.1 Tujuan Umum ................................................................... 9

1.3.2 Tujuan Khusus .................................................................. 9

1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................... 10

1.4.1 Manfaat Teoritis ................................................................ 10


13

1.4.2 Manfaat Praktis ................................................................. 10

1.5 Landasan Teoritis dan Definisi Operasional ........................... 11

1.5.1 Landasan Teoritis ........................................................ 11

a. Teori Negara Hukum .............................................. 11


b. Teori Kepastian Hukum ......................................... 14
c. Teori Perlindungan Hukum .................................... 17
d. Teori Penegakan Hukum ......................................... 18
e. Konsep Akta Notaris ...................................... 20
f. Konsep Jaminan Fidusia ......................................... 21

1.5.2 Batasan Operasional .................................................... 25

1.6 Hipotesis ............................................................................. 26

1.7 Metode Penelitian ................................................................. 26

1.7.1 Jenis Penelitian ............................................................ 26

1.7.2 Jenis Pendekatan ......................................................... 27

1.7.3 Lokasi Penelitian ......................................................... 28

1.7.4 Sumber Data ................................................................ 29

1.7.5 Teknik Pengumpulan Data ........................................... 30

1.7.6 Teknik Pengolahan dan Analisis Data........................... 31

BAB II TINJAUAN TENTANG PERJANJIAN DAN

JAMINAN FIDUSIA ................................................................. 32

2.1 Tinjauan Perjanjian ............................................................... 32


14

2.1.1 Pengertian dan Dasar Hukum Perjanjian ....................... 32

2.1.2 Unsur-unsur Perjanjian ................................................ 35

2.1.3 Syarat Sahnya Perjanjian .............................................. 40

2.1.4 Asas-asas Perjanjian .................................................... 43

2.2. Tinjauan Tentang Jaminan Fidusia ........................................ 47

2.2.1 Sejarah dan Pengertian Jaminan Fidusia ....................... 47

2.2.2 Ciri-ciri Lembaga Fidusia ............................................ 53

2.2.3 Objek dan Subjek Jaminan Fidusia ............................... 55

2.2.4 Proses Terjadinya Jaminan Fidusia ............................... 58

2.2.5 Hapusnya Jaminan Fidusia ........................................... 62

2.3 Tinjauan Tentang Pembiayaan Konsumen.............................. 64

2.3.1 Pengertian Pembiayaan Konsumen ............................... 64

2.3.2 Pentingnya Jaminan Dalam Perjanjian Pembiayaan

Konsumen ................................................................... 67

BAB III EKSEKUSI TERHADAP BARANG JAMINAN FIDUSIA

YANG TIDAK TERDAFTARKAN OLEH LEMBAGA

PEMBIAYAAN NON BANK .......................................................... 69

3.1 Eksekusi Barang Jaminan ...................................................... 69

3.2 Dasar Hukum yang Melandasi Kreditur Melakukan

Eksekusi Terhadap Barang Jaminan....................................... 76


15

3.3 Faktor-Faktor Yang Menjadi Sebab Terjadinya Eksekusi

Oleh Kreditur Terhadap Barang Jaminan ............................... 90

3.4 Pelaksanaan Eksekusi Oleh Kreditur Terhadap Barang

Jaminan ................................................................................ 99

BAB IV AKIBAT HUKUM PELAKSANAAN EKSEKUSI BARANG

JAMINAN YANG TIDAK DIDAFTARKAN JAMINAN

FIDUSIA OLEH PIHAK KREDITUR ............................................ 110

4.1 Kewenangan Kantor Wilayah Hukum dan HAM

Dalam Mengawasi Kewajiban Kreditur Mensertipikatkan

Barang Jaminan Fidusia ........................................................ 110

4.2 Legalitas Eksekusi Barang Jaminan Kendaraan Bermotor

Roda Dua Yang Tidak Didaftarkan Dikaji Dari

Undang-Undang Jaminan Fidusia .......................................... 116

4.3 Perlindungan Hukum Terhadap Debitur Atas Eksekusi

Barang Jaminan Kendaraan Bermotor Yang Tidak

Didaftarkan oleh Kreditur ..................................................... 120

BAB V PENUTUP ......................................................................................... 132

5.1 Kesimpulan ................................................................................. 132

5.2 Saran........................................................................................... 133

DAFTAR PUSTAKA
16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan di bidang ekonomi dan perdagangan telah mempengaruhi

berkembangnya aneka jenis perjanjian dalam masyarakat. Salah satunya adalah

perjanjian pinjam-meminjam melalui lembaga pembiayaan dengan perjanjian standar.

Perjanjian standar adalah perjanjian yang hampir seluruh klausul-klausulnya

distandarisasi oleh pembuatnya dan kemudian diberikan ke pihak lain, dan pihak lain itu

pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau meminta perubahan
1
isinya. Dengan kata lain, isi perjanjian standar ditetapkan secara sepihak dan dicetak

dalam bentuk formulir tertentu yang digunakan berulang-ulang untuk perjanjian sejenis.

Perjanjian pinjam meminjam ini tentunya menimbulkan hubungan utang piutang.

Suatu utang piutang merupakan suatu perbuatan yang tidak asing lagi bagi

kehidupan di masyarakat. Utang piutang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang

ekonominya lemah, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang yang ekonominya relatif

mampu. Suatu utang diberikan pada dasarnya atas integritas atau kepribadian debitur,

yakni kepribadian yang menimbulkan rasa kepercayaan dalam diri kreditur, bahwa

debitur akan memenuhi kewajiban pelunasannya dengan baik. Akan tetapi belum

menjadi jaminan bahwa nanti pada saat jatuh tempo, pihak debitur dengan niat baik

akan mengembalikan pinjaman. 2

1
Sidharta, 2000, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo Jakarta,
hal 119.
2
J. Satrio, 1991, Hukum Jaminan, Hak-hak Kebendaan, Bandung, Citra Aditya
Bakti, hal. 97.
17

Kondisi di atas menyebabkan dalam kegiatan transaksi pinjam meminjam uang,

agar lebih memberikan jaminan atas pengembalian utang yang telah diberikan oleh

kreditur maka diikutkan dengan perjanjian tambahan. Perjanjian tambahan dimaksudkan

untuk memberikan rasa aman bagi kreditur dan pihak debitur memiliki dorongan untuk

melaksanakan kewajibannya dengan baik. Salah satu bentuk perjanjian tambahan yang

dimaksudkan adalah perjanjian jaminan yang sejalan dengan teori Schuld dan Haftung

yang memberikan gambaran bahwa pada prinsipnya kalau ada yang berbuat hutang

maka harus ada yang dijaminkan. Adanya jaminan akan dapat memberikan kenyamanan

kepada kreditur termasuk juga lembaga pembiayaan sebagai penyandang dana terhadap

dana yang dipinjamkan kepada debitur, meskipun hal ini tidak dapat dijamin

sepenuhnya bahwa debitur pasti tidak akan wanprestasi.

Keberadaan lembaga pembiayaan di Indonesia saat ini perkembangannya cukup

signifikan, salah satunya yang hendak dibahas dalam penelitian tesis ini yaitu mengenai

lembaga pembiayaan melalui perjanjian kredit untuk kendaraan bermotor. Perjanjian ini

merupakan bagian dari perjanjian pembiayaan untuk pembiayaan konsumen. Adapun

yang dimaksud dengan pembiayaan konsumen adalah kegiatan pembiayaan untuk

pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem angsuran atau kredit

dengan tujuan untuk membantu perorangan ataupun perusahaan dalam pemenuhan

kebutuhan dan permodalan mereka khususnya untuk pembelian kendaraan bermotor.

Dalam transaksi pembiayaan konsumen, ada tiga pihak yang terlibat. Pertama,

adalah pihak Lembaga Pembiayaan Konsumen (Pemberi dana Pembiayaan atau

Kreditur). Kedua, pihak konsumen (Penerima dana pembiayaan atau debitur), dan

ketiga pihak supplier (Penjual atau Penyedia Barang). Adapun hubungan yang terjadi

antara pihak kreditur dengan pihak debitur adalah suatu hubungan kontraktual dalam hal
18

pembiayaan konsumen. Pada sistem pembiayaan konsumen ini pihak Lembaga

Pembiayaan Konsumen memberikan pembiayaan berupa pinjaman dana untuk

pembelian suatu barang. Pihak konsumen selanjutnya akan menerima fasilitas dana

untuk pembelian barang tertentu dan membayar hutangnya secara berkala atau angsuran

kepada Lembaga Pembiayaan Konsumen. Pihak penjual atau supplier menyediakan

barang yang dibayar lunas oleh Lembaga Pembiayaan Konsumen. 3

Dalam hal pemberian fasilitas pembiayaan bagi debitur, maka lembaga

pembiayaan juga membutuhkan adanya suatu jaminan dari pihak debitur. Hal ini

dimaksudkan agar tercipta suatu keyakinan dan keamanan bagi pihak kreditur atas

kredit yang diberikannya mendapat jaminan pelunasan dari pihak debitur. Keberadaan

lembaga dimaksud menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia diatur dalam

UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 1999 Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

3889), selanjutnya disebut UUJF. Lembaga Jaminan Fidusia memungkinkan kepada

para konsumen untuk menguasai benda yang dijaminkan untuk melakukan kegiatan

usaha yang dibiayai dari pinjaman dengan menggunakan Jaminan Fidusia.

Dalam kaitannya dengan pemberian jaminan bagi pihak kreditur, tindakan yang

dilakukan lembaga pembiayaan adalah dengan melakukan eksekusi benda jaminan.

Dengan kata lain, apabila konsumen (debitur) melalaikan kewajibannya atau cidera janji

yang berupa lalainya konsumen memenuhi kewajibannya pada saat pelunasan utangnya

sudah waktunya untuk ditagih, maka dalam peristiwa seperti itu, kreditur dapat

melaksanakan eksekusi atas benda Jaminan Fidusia. Mengenai eksekusi Jaminan

3
Muhammad Chidir, 1993, Pengertian-pengertian Elementer Hukum Perjanjian
Perdata, Bandung, Mandar Maju, hal. 166.
19

Fidusia diatur dalam Pasal 29 ayat (1) UUJF yang menyebutkan apabila debitur atau

konsumen cidera janji, eksekusi terhadap Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia

dapat dilakukan dengan cara:

1. Pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat

(2) oleh Lembaga pembiayaan;

2. Penjualan Benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia atas kekuasaan

lembaga pembiayaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil

pelunasan piutangnya dari hasil penjualan;

3. Penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi

dan lembaga pembiayaan jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga

tertinggi yang menguntungkan para pihak.

UUJF telah memberikan aturan mengenai pelaksanaan eksekusi atas objek

Jaminan Fidusia, namun faktanya di lapangan pelaksanaan eksekusi yang dilakukan

oleh lembaga pembiayaan tidak mematuhi aturan perundang-undangan yang berlaku.

Tidak jarang pelaksanaan eksekusi yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan terjadi

penyimpangan dan perbuatan-perbuatan melawan hukum. Lembaga pembiayaan juga

dapat ditemukan tidak melakukan kontrak pembiayaan dengan debitur dihadapan

notaris, sehingga perjanjian tersebut hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai

perjanjian dibawah tangan karena tidak ada akta notaris sebagai kekuatan hukum atas

perjanjian tersebut.

Menurut ketentuan yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata menyatakan

bahwa salah satu syarat sahnya suatu perjanjian harus memenuhi syarat objektif yaitu

suatu hal tertentu dan objek yang halal. Apabila kemudian syarat objektif tersebut tidak

terpenuhi, maka perjanjian yang dibuat batal demi hukum. Perjanjian itu dianggap tidak
20

ada, dan tidak ada hak untuk pihak manapun melakukan penuntutan pemenuhan

perjanjian tersebut di mata hukum.

Selain pelanggaran dengan dibuatnya perjanjian pembiayaan secara dibawah

tangan, lembaga pembiayaan juga dapat dijumpai tidak mendaftarkan Jaminan Fidusia

yang diberikan kepada kantor pendaftaran Jaminan Fidusia untuk kemudian

mendapatkan sertifikat Jaminan Fidusia. Sementara itu, dalam UUJF dan PP No. 86

Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Fidusia dan Biaya Pendaftaran Fidusia

disebutkan salah satu syarat pendaftaran Fidusia adalah adanya salinan Akta Notaris

yang disebutkan di atas. Dengan demikian perjanjian yang dibuat dibuat dibawah tangan

tanpa akta notaris maka tidak dapat dibuatkan sertifikat fidusia. Pelanggaran yang

dilakukan oleh lembaga pembiayaan ini tentu berdampak pada perlindungan hukum dan

kekuatan hukum dari perjanjian Jaminan Fidusia yang dilakukan oleh lembaga

pembiayaan dengan pihak debitur selaku konsumen.

Akibat dari Jaminan Fidusia yang tidak dibuatkan sertifikat fidusianya maka

objek Jaminan Fidusia tersebut tidak mempunyai hak eksekusi langsung. Pada saat

terjadi wanprestasi atau kemacetan dari konsumen, maka pihak lembaga pembiayaan

tidak dapat melakukan eksekusi terhadap objek jaminan tersebut. Lembaga pembiayaan

justru melakukan eksekusi secara sepihak tanpa melalui instansi pemerintahan terkait

dan berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku. Padahal perbuatan mereka

tersebut dapat dikategorikan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) sebagaimana

disebutkan dalam Pasal 1365 KUHPerdata, dan konsumen pun dapat melakukan

gugatan ganti rugi dengan mendasarkan pada dasar hukum tersebut.

Dalam hal terjadi eksekusi atas objek Jaminan Fidusia maka, lembaga

pembiayaan melakukan eksekusi secara sepihak. Pada awalnya mungkin yang


21

diturunkan adalah karyawan lembaga pembiayaan tersebut, dimana rata-rata

berpendidikan di atas SLTA, maupun Sarjana, sehingga masih memiliki sopan santun

dalam menagih konsumen yang terlambat hingga konsumen melakukan pembayaran.

Akan lain lagi jika konsumen tetap tidak memiliki kemampuan membayar, maka

lembaga pembiayaan biasanya menugaskan debt collector untuk menagih konsumen

agar membayar. Dalam proses ini biasanya debt collector sudah tidak lagi menagih

pembayaran hutang, tetapi berusaha mengambil kendaraan yang dibeli oleh konsumen.

Hal ini mengingat mereka bukan karyawan lembaga pembiayaan, tetapi tenaga lepas

yang dibayar apabila berhasil menarik kendaraan milik konsumen. Kalaupun konsumen

dapat membayar biasanya lembaga pembiayaan mengenakan biaya tambahan guna

membayar debt collector. Dalam melakukan kegiatannya debt collector tadi sering

ataupun sudah bertindak seperti preman agar konsumen membayar ataupun

menyerahkan kendaraannya. Bahkan debt collector, untuk memuluskan jalannya

eksekusi ataupun penagihan seringkali membawa pengawalan, baik oknum polisi, TNI,

ataupun preman yang lebih senior.

Apabila eksekusi yang dilakukan dengan cara kekerasan tersebut tidak berhasil,

lembaga pembiayaan akan menyewa lawyer/advokat kemudian melaporkan kasus

tersebut kepada Polisi dengan tuduhan Pasal 372 jo. 378 KUHP tentang Penipuan dan

Penggelapan atau Pasal 35 dan 36 UUJF. Cara ini dilakukan dengan harapan agar Polisi

dapat menyita kendaraan tersebut, kemudian dipinjam pakai oleh lembaga pembiayaan,

sehingga kendaraan kembali kepada lembaga pembiayaan untuk dijual dan

mengembalikan dan/atau melunasi hutang konsumen. Kondisi seperti di atas sempat

dimuat dalam laporan Media Bali Post pada hari Kamis tanggal 30 Mei 2013 dengan

mengutip pendapat Direktur Lembaga Perlindungan Konsumen Bali I Putu Armaya

yang menyatakan bahwa jumlah pengaduan terkait pelayanan lembaga pembiayaan di


22

Bali belakangan ini sangat tinggi. Salah satu konsumen dikemukakan mengadukan

buruknya pelayanan lembaga pembiayaan karena hanya terlambat membayar cicilan

selama tiga bulan kendaraan langsung ditarik.4 Kasus seperti ini tentunya menunjukkan

bahwa lembaga pembiayaan melakukan pelanggaran dalam kaitannya dengan

pemberian kredit dengan menggunakan Jaminan Fidusia dan pelaksanaan eksekusinya

pun cenderung tidak memberikan perlindungan hukum dan kepastian hukum bagi pihak

konsumen. Dengan demikian lembaga jaminan perlu mendapat perhatian serius

sehubungan dengan pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia dalam praktik kehidupan

masyarakat dalam rangka pembangunan hukum Indonesia, khususnya dibidang kredit.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka aktual dan

menarik untuk diangkat sebagai tesis dengan judul Eksekusi Barang Jaminan

Kendaraan Bermotor Dalam Perjanjian Pembiayaan Non Bank Yang Tidak Didaftarkan

Jaminan Fidusia. Penelitian ini juga belum pernah dilakukan sebagaimana dapat

ditunjukkan dari hasil penelusuran kepustakaan yang dilakukan berkaitan dengan

Jaminan Fidusia, yaitu :

a. Tesis dari I Wayan Sridana Putra, NIM 0720112223, Alumni Program

Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang

Tahun 2011 dengan judul tesis adalah Penyelesaian Sengketa Nonlitigasi

Dalam Terjadiinya Wanprestasi Pihak Debitor Pada Pengikatan Jaminan

Fidusia. Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan tesis

ini yaitu:

1. apa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya wanprestasi dari pihak

debitor dalam pengikatan Jaminan Fidusia?

4
Harian Bali Post, 2013, Lembaga Pembiayaan di Bali Banyak Melanggar
Hukum, hal. 3.
23

2. bagaimana perlindungan hukum terhadap kreditur akibat terjadinya

wanprestasi oleh pihak debitor dalam pengikatan Jaminan Fidusia?

3. mengapa para pihak memilih penyelesaian sengketa di luar

pengadilan/nonlitigasi dalam hal terjadi wanprestasi pihak debitor dalam

pengikatan Jaminan Fidusia?

b. Tesis dari I Gusti Agung Surya Tamrin, NIM 1092461039, Alumni Program

Magister Kenotariatan Universitas Udayana, Denpasar, Tahun 2012 dengan

judul tesis Tanggung Jawa Debitur Atas Berpindah Tangannya Benda

Jaminan Yang Diikat Secara Fidusia Dalam Perjanjian Kredit Bank.

Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan tesis ini, yaitu:

1. Bagaimanakah tanggung jawab debitor berkaitan dengan

berpindahtangannya objek Jaminan Fidusia?

2. Upaya-upaya hukum apakah yang dilakukan oleh kreditur atas

berpindahtangannya benda jaminan debitor dalam perjanjian kredit

bank?

Berdasarkan penelusuran beberapa tesis dengan judul dan pokok permasalahan

seperti yang dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa penelitian yang sama dengan judul

Eksekusi Barang Jaminan Kendaraan Bermotor Dalam Perjanjian Pembiayaan Non

Bank Yang Tidak Didaftarkan Jaminan Fidusia belum ada yang membahasnya. Oleh

karena itu, penelitian tesis ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah orisinalitas

atau keasliannya.
24

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan di atas maka dapatlah ditarik

rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa yang melandasi pihak kreditur melakukan eksekusi terhadap barang jaminan

kendaraan bermotor yang tidak didaftarkan Jaminan Fidusia dalam perjanjian

pembiayaan non bank ?

2. Bagaimanakah akibat hukum pelaksanaan eksekusi terhadap barang jaminan

kendaraan bermotor yang tidak didaftarkan Jaminan Fidusia dalam perjanjian

pembiayaan non bank ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada pokok permasalahan yang diteliti, maka tujuan yang ingin

dicapai dari penelitian ini dapat dibedakan atas tujuan yang bersifat umum dan tujuan

yang bersifat khusus. Adapun kedua tujuan yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

1.3.1 Tujuan Umum

Mengenai tujuan umum dari penelitan ini yaitu untuk pengembangan ilmu

hukum terkait paradigma Science as a process (ilmu sebagai proses). Dengan paradigma

ini, ilmu hukum tidak akan mandek dalam penggalian atas kebenaran, khususnya terkait

dengan materi Eksekusi Barang Jaminan Kendaraan Bermotor Dalam Perjanjian

Pembiayaan Non Bank Yang Tidak Didaftarkan Jaminan Fidusia.

1.3.2 Tujuan Khusus

Sesuai permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, maka adapun tujuan

khusus yang ingin dicapai adalah:


25

a. Untuk mengetahui, mengkaji, dan menganalisis latar belakang pihak kreditur

melakukan eksekusi terhadap barang jaminan kendaraan bermotor roda dua yang

tidak didaftarkan Jaminan Fidusia;

b. Untuk mengetahui, mengkaji, dan menganalisis akibat hukum terhadap

pelaksanaan eksekusi barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak

didaftarkan Jaminan Fidusia oleh kreditur.

1. 4 Manfaat Penelitian

Mengenai manfaat dari penelitian ini dapat diklasifikasikan atas manfaat teoritis

dan manfaat praktis sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan

pemikiran bagi pengembangan Ilmu Hukum, khususnya pada bidang Hukum Perdata,

Hukum Perjanjian, dan Hukum Jaminan Fidusia terkait eksekusi barang jaminan

kendaraan bermotor dalam perjanjian pembiayaan non bank yang tidak didaftarkan

Jaminan Fidusia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan

kajian tentang pelaksanaan eksekusi barang jaminan kendaraan bermotor dalam

perjanjian pembiayaan non bank yang tidak didaftarkan Jaminan Fidusia.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan informasi

kepada Pemerintah, notaris, maupun masyarakat terkait pelaksanaan eksekusi barang

Jaminan Fidusia pada perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor roda dua, yakni :

a. Bagi Pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi

mengenai pelaksanaan eksekusi barang jaminan kendaraan bermotor dengan

perjanjian pembiayaan non bank yang tidak didaftarkan Jaminan Fidusia;


26

b. Bagi notaris, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

terkait substansi dari Akta notaris atas barang Jaminan Fidusia pada perjanjian

pembiayaan kendaraan bermotor roda dua;

c. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

dan pengetahuan terkait persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembuatan

Akta fidusia dalam perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor roda dua

beserta perlindungan hukum dalam hal terjadi eksekusi terhadap barang

Jaminan Fidusia.

1.5. Landasan Teoritis dan Definisi Operasional

1.5.1. Landasan Teoritis

Landasan teoritis akan memuat teori, konsep, serta asas-asas yang digunakan

menganalisis permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini. Adapun landasan teoritis

yang dimaksudkan berhubungan dengan eksekusi barang Jaminan Fidusia pada

perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor, yaitu teori negara hukum, teori kepastian

hukum, serta beberapa konsep, seperti konsep perlindungan hukum, konsep akta,

konsep Jaminan Fidusia.

a. Teori Negara Hukum

Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik adalah negara yang diperintah

dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. 5 Pada dasarnya ada tiga unsur dari

pemerintahan yang berkonstitusi. Pertama, pemerintahan dilaksanakan untuk

kepentingan umum. Kedua, pemerintahan dilaksanakan menurut hukum yang

berdasarkan pada ketentuan-ketentuan hukum serta bukan hukum yang dibuat secara

sewenang-wenang yang menyampingkan konstitusi. Ketiga, pemerintahan berkonstitusi

berarti pemerintahan yang dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan-

5
HR. Ridwan, 2011, Hukum Administrasi Negara, Rajawali Pers, Jakarta, hal. 2.
27

paksaan. Sementara itu menurut O. Notohamidjojo, negara hukum diartikan dengan

negara dimana pemerintah dan semua pejabat-pejabat hukum mulai dari Presiden,

hakim, jaksa, anggota-anggota legislatif, semuanya dalam menjalankan tugasnya di

dalam dan di luar jam kantornya taat kepada hukum. 6 Taat kepada hukum berarti

menjunjung tinggi hukum dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan. Sejalan

dengan itu, Sudargo Gautama mengemukakan negara hukum ialah negara yang seluruh

aksinya didasarkan dan diatur oleh Undang-Undang yang telah ditetapkan semula

dengan bantuan dari badan pemberi suara rakyat.7 Selanjutnya Bagir Manan

mengemukakan mengenai unsur-unsur terpenting dalam negara hukum, yakni:

1. Ada UUD sebagai peraturan tertulis yang mengatur hubungan antara


pemerintah dan warganya.
2. Ada pembagian kekuasaan (machtenscheiding) yang secara khusus menjamin
suatu kekuasaan kehakiman yang merdeka.
3. Ada pemencaran kekuasaan negara atau pemerintah (spreiding van de
staatsmacht).
4. Ada jaminan terhadap hak-hak asasi manusia.
5. Ada jaminan persamaan kedudukan dimuka hukum dan jaminan perlindungan
hukum.
6. Ada asas legalitas, pelaksanaan kekuasaan pemerintah harus didasarkan atas
hukum (undang-undang). 8

Sejalan dengan pendapat di atas, Sri Soemantri Martosoewignjo

mengkemukakan unsur-unsur negara hukum Indonesia, yaitu:

1. Adanya pengakuan terhadap jaminan hak-hak asasi manusia dan warga negara;

2. Adanya pembagian kekuasaan;

6
O. Notohamidjojo, 1970, Makna Negara Hukum, Badan Penerbit Kristen,
Jakarta, hal. 36.
7
Sudargo Gautama, 1973, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni,
Bandung, hal. 13.
8
Bagir Manan, 1994, Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Menurut UUD 1945,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hal. 35
28

3. Bahwa dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, pemerintah harus selalu

berdasarkan atas hukum yang berlaku, baik yang tertulis maupun yang tidak

tertulis;

4. Adanya kekuasaan kehakiman yang dalam menjalankan kekuasaannya

merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah, sedang khusus

untuk Mahkamah Agung harus juga merdeka dari pengaruh-pengaruh lainnya. 9

Philipus M Hadjon dalam kaitan di atas secara lebih tegas memberikan ciri negara

hukum Pancasila sebagai berikut:

a. Keserasian hubungan antara pemerintah dan rakyat berdasarkan asas

kerukunan;

b. Hubungan fungsional yang proporsional antara kekuasaan-kekuasaan negara;

c. Prinsip penyelesaian sengketa secara musyawarah dan peradilan merupakan

sarana terakhir;

d. Keseimbangan antara hak dan kewajiban.10

Uraian di atas menunjukkan unsur dari rechtsstaat memiliki kesamaan dengan

unsur negara hukum Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Berdasarkan Dari uraian di

atas dapat disimak bahwa adanya unsur asas legalitas dalam unsur rechtsstaat

mengamanatkan agar setiap tindakan pemerintah harus berdasar atas hukum. Dengan

kata lain, dalam unsur negara hukum Pancasila, asas legalitas menjadi hal yang penting

dalam penyelenggaraan tindakan pemerintahan termasuk yang dilakukan oleh pejabat

Notaris agar tidak melanggar HAM dan/atau seseorang atau sekelompok orang tidak

mendapat perlindungan hukum. Pemikiran ini sejalan dengan yang dikemukakan K.C.

9
Ibid., hal. 277.
10
Philipus M Hadjon,1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Di Indonesia. PT.
Bina Ilmu, Surabaya, hal. 90
29

Wheare yakni first of all it is used to describe the whole system of government of a

country, the collection of rule are partly legal, in the sense that courts of law will

recognized as law but which are not less effective in regulating the government than the

rules of law strictly so called. 11 Pernyataan tersebut juga menunjukkan bahwa sistem

pemerintahan dari suatu negara adalah merupakan himpunan peraturan yang mendasari

serta mengatur pemerintahan dalam menyelenggarakan tugas-tugasnya. Dengan kata

lain, Notaris yang mendapat kewenangan untuk membantu sebagian tugas-tugas

pemerintahan dalam menata hubungan hukum antar para pihak juga berkewajiban

tunduk pada hukum yang berlaku.

b. Teori Kepastian Hukum

Mengenai pengertian hukum menurut E. Utrecht sebagaimana dikutip Yulies

Tiena Masriani mengemukakan bahwa hukum adalah himpunan petunjuk hidup yang

mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya ditaati oleh anggota

masyarakat yang bersangkutan, oleh karena pelanggaran terhadap petunjuk hidup itu

dapat menimbulkan tindakan dari pemerintah masyarakat itu.12 Selanjutnya dikutip

pendapatnya Immanuel Kant yang mengartikan hukum sebagai keseluruhan syarat-

syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri

dengan kehendak bebas dari orang lain, menuruti peraturan hukum tentang

kemerdekaan.13 Dari pendapat para sarjana yang dikutip tersebut dapat disimak bahwa

hukum pada hakikatnya merupakan aturan atau norma yang mengatur tingkah laku

11
K.C Wheare, 1975, Modern Constitutions, Oxford University Press, London,
p. 1.
12
Yulies Tiena Masriani, 2008, Pengantar Hukum Indonesia, Sinar Grafika,
Jakarta, hal. 6-7.
13
Ibid.
30

masyarakat dalam pergaulan hidup yang disertai sanksi hukum atas pelanggaran norma

bersangkutan.

Mengenai tujuan hukum, menurut Apeldoorn adalah mengatur pergaulan hidup

secara damai.14 Dalam hubungan dengan tujuan hukum, maka terdapat beberapa teori

yang dikembangkan, yaitu:

1. Teori Etis, berpendapat bahwa tujuan hukum semata-mata untuk mewujudkan

keadilan. Mengenai keadilan, Aristoteles mengajarkan dua macam keadilan,

yaitu keadilan distributif dan keadilan komutatif. Keadilan distributif ialah

keadilan yang memberikan kepada tiap orang jatah menurut jasanya. Keadilan

komutatif adalah keadilan yang memberikan jatah kepada setiap orang sama

banyaknya tanpa harus mengingat jasa-jasa peseorangan.

2. Teori Utilitas, menurut Bentham bahwa hukum bertujuan untuk mewujudkan

apa yang berfaedah atau yang sesuai dengan daya guna (efektif). Adagiumnya

yang terkenal adalah The greatest happiness for the greatest number artinya,

kebahagiaan yang terbesar untuk jumlah yang terbanyak. Ajaran Bentham

disebut juga sebagai eudaemonisme atau utilitarisme.

3. Teori Pengayoman yang mengemukakan tujuan hukum adalah untuk

mengayomi manusia, baik secara aktif maupun secara pasif. Secara aktif

dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan

yang manusiawi dalam proses yang berlangsung secara wajar. Sedangkan yang

dimaksud secara pasif adalah mengupayakan pencegahan atas tindakan yang

14
L. J. Van Apeldoorn, 2000, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita,
Jakarta, hal. 10.
31

sewenang-wenang dan penyalahgunaan hak. Usaha mewujudkan pengayoman

tersebut termasuk di dalamnya adalah:

a. Mewujudkan ketertiban dan keteraturan;

b. Mewujudkan kedamaian sejati;

c. Mewujudkan keadilan;

d. Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. 15

Sementara itu, mengenai daya ikat hukum dalam masyarakat, berdasarkan pendapat

Gustav Radbruch yang mengembangkan Geldingstheorie mengemukakan bahwa

berlakunya hukum secara sempurna harus memenuhi tiga nilai dasar. Ketiga hal dasar

yang dimaksudkan, meliputi :

1. Juridical doctrine, nilai kepastian hukum, dimana kekuatan mengikatnya

didasarkan pada aturan hukum yang lebih tinggi.

2. Sociological doctrine, nilai sosiologis, artinya aturan hukum mengikat karena

diakui dan diterima dalam masyarakat (teori pengakuan) atau dapat

dipaksakan sekalipun masyarakat menolaknya (teori paksaan).

3. Philosophical doctrine, nilai filosofis, artinya aturan hukum mengikat karena

sesuai dengan cita hukum, keadilan sebagai nilai positif yang tertinggi. 16

Dengan demikian, agar hukum dapat berlaku dengan sempurna, maka perlu memenuhi

tiga nilai dasar tersebut.

Berdasarkan teori-teori tujuan hukum di atas maka dapat diketahui bahwa tujuan

dari hukum yaitu untuk memberikan kepastian, keadilan terutama dalam pemberian

15
Dudu Duswara Machmudin, 2003, Pengantar Ilmu Hukum, Sebuah Sketsa,
Refika Aditama, Bandung, hal. 24-28.
16
I Dewa Gede Atmadja, 1993, Manfaat Filsafat Hukum dalam Studi Ilmu
Hukum, dalam Kerta Patrika, No. 62-63 Tahun XIX Maret-Juni, Fakultas Hukum
Universitas Udayana, Denpasar, hal. 68.
32

kredit dengan Jaminan Fidusia. Lembaga pembiayaan dalam kaitan itu seharusnya

membuat perjanjian fidusia dengan akta notariil dan mendaftarkan Jaminan Fidusia

pada kantor pendaftaran fidusia agar diperoleh sertifikat Jaminan Fidusia yang

memberikan kekuatan eksekutorial dalam hal terjadinya wanprestasi pihak debitur.

c. Konsep Perlindungan hukum

Dalam konteks Ilmu Hukum, konsep perlindungan hukum sering dimaknai

sebagai suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum

untuk memberikan rasa aman, baik fisik maupun mental, kepada korban dan sanksi dari

ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun yang diberikan pada

proses litigasi dan/atau non litigasi. Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan

yang diberikan terhadap subyek hukum dalam bentuk perangkat hukum baik yang

bersifat preventif maupun yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun tidak

tertulis. Dengan kata lain, pada setiap hubungan hukum tentu menimbulkan hak dan

kewajiban, selain itu masing-masing anggota masyarakat tentu mempunyai hubungan

kepentingan yang berbeda-beda dan saling berhadapan atau berlawanan, dan untuk

mengurangi ketegangan dan konflik maka dibutuhkan adanya hukum yang mengatur

dan melindungi kepentingan tersebut yang dinamakan perlindungan hukum. Dengan

demikian, setiap produk hukum termasuk perjanjian berkewajiban memberikan rasa

nyaman kepada semua pihak yang terkait dengan produk hukum bersangkutan.

Setiap perjanjian atau kontrak idealnya harus memberikan keuntungan bagi

masing-masing pihak. Namun, nyatanya tidak selalu demikian, kadang-kadang ada

pihak yang dirugikan. 17 Terkait hal itu, maka perlu adanya perlindungan hukum sebagai

17
Jehani Libertus, 2007, Pedoman Praktis Menyusun Surat Perjanjian.
Dilengkapi Contoh-Contoh : Perjanjian Jual Beli, Perjanjian Sewa Menyewa, Perjanjian
Pinjam Pakai, Perjanjian Pinjam Meminjam, Perjanjian Kerja, Perjanjian Franchise,
Surat Kuasa, Jakarta : Visimedia. hal. 1
33

antisipasinya. Perlindungan hukum merupakan suatu usaha memberikan hak-hak

kepada pihak yang dilindungi sesuai dengan kewajiban yang telah dilakukan. Jika

dikaitkan dengan dunia perbankan, wujud perlindungan bagi pihak bank maupun

debitur tertuang dalam bentuk perjanjian kredit. Dalam perjanjian yang dibuat antara

bank dengan debitur, pada substansinya akan berisi hak dan kewajiban masing-masing

para pihak. Terhadap isi perjanjian tersebut, para pihak harus menjalankan atau mentaati

dengan sebaik-baiknya.

d. Konsep Penegakan Hukum

Penegakan hukum dalam bahasa Inggris disebut dengan Law Enforcement.

Dalam Blacks Law Dictionary, Law Enforcement diartikan sebagai The act of putting

something such as a law into effect; the execution of law the arriying out of a mandate

or command18 yakni suatu tindakan untuk mengakhiri pelanggaran atau tindakan

menerapkan hukum melalui suatu mandat atau perintah. Dalam hal ini, hukum

dipandang sebagai kenyataan sosial, hukum sebagai alat pengendali sosial atau yang

dikenal dengan istilah Tool of Sosial Engineering.

Penegakkan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide tentang

keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Proses

perwujudan itulah yang merupakan hakikat dari penegakan hukum. 19 Penegakan hukum

harus memperhatikan kemanfaatan atau kegunaan bagi masyarakat. Sebab hukum justru

dibuat untuk kepentingan masyarakat (manusia). Oleh karena itu pelaksanaan dam

penegakan hukum harus memberi manfaat bagi masyarakat. Penegakan hukum

merupakan proses sosial, yang bukan merupakan proses tertutup, melainkan proses yang

melibatkan lingkungannya. Oleh karena itu, penegakan hukum akan bertukar aksi

18
Henry Campbell Black, 1990, Blacks Law Dictionary, Edisi VI, St. Paul
Minesota, West Publishing, p. 2145
19
Satjipto Rahardjo, 1983, Masalah Penegakan Hukum, Sinar Baru, hal. 15.
34

dengan lingkungannya, yang dapat disebut sebagai pertukaran aksi dengan unsur

manusia, sosial, budaya, politik dan sebagainya. Menurut Soerjono Soekanto faktor-

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penegakan hukum, yaitu :

1. Faktor hukumnya sendiri

2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun

menerapkan hukum.

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau

diterapkan.

5. Faktor kebudayaan, yakni hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada

karsa manusia di dalam pergaulan hidup. 20

Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dengan erat, oleh karena merupakan

esensi dari penegakan hukum, serta juga merupakan tolok ukur efektivitas penegakan

hukum. Oleh karena itu, hakikat penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan

hubungan nilai-nilai yang terjabar di dalam kaidah-kaidah dengan sikap tindak manusia

sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara dan

mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.

Sementara itu, Lawrence M. Friedman terkait dengan sistem hukum menyatakan

bahwa :a legal system in actual is a complex in wich structure, substance and culture

interact.21 Dengan demikian, ketiga unsur hukum yang terdiri dari 3 komponen yaitu

Substansi hukum (legal substance), struktur hukum (legal structure) dan budaya hukum

(legal culture) menjadi sangat penting diperhatikan dalam kaitan dengan penegakan

20
Soerjono Soekanto, 2008, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan
Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 8
21
Lawrence M. Friedman, 1975, The Legal System, A Social Science
Perspective, Rusell Sage Foundation, New York, p.4
35

suatu bidang hukum. Terkait dengan struktur hukum, maka dalam pembentukan suatu

produk hukum agar memperhatikan asas-asas pembentukan peraturan perundang-

undangan sebagaimana dikemukakan oleh Fuller secara negatif sebagai berikut :

a. Failure to establish rules at all, leading to absolute uncertainty .


b. Failure to make rules public to those required to observe them.
c. Improper use of retroactive lawmaking.
d. Failure to make comprehensible rules.
e. Making rules which contradict each other.
f. Making rules which impose requirements with which compliance is impossible.
g. Changing rules so frequently that the required conduct becomes wholly unclear.
h. Discontinuity between the stated content of rules and their administration in
practice.22

Kedelapan larangan di atas terkait dengan persoalan kepastian hukum sampai

pada konsistensi dalam penormaan diharapkan untuk diperhatikan dalam penyusunan

suatu produk hukum agar produk hukum bersangkutan dapat ditegakkan.

e. Konsep Akta Notaris

Akta pada dasarnya adalah suatu tulisan yang ditandatangani dan dibuat untuk

dipergunakan sebagai alat bukti. Akta Notaris berisi uraian atau keterangan, pernyataan

para pihak yang berisi uraian atau keterangan, pernyataan para pihak yang diberikan

atau diceritakan di hadapan notaris. Sementara itu, akta otentik adalah suatu akta yang

dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang undang dihadapan pejabat umum

yang berwenang untuk itu.

Akta otentik haruslah dibuat dalam bentuk tertentu dalam artian memenuhi

ketentuan undang undang. Akta yang dibuat oleh notaris merupakan salah satu bukti

hak atas tanah untuk kelengkapan di Kantor Pertanahan. Oleh karen itu, akta yang

dibuat notaris sangat penting artinya dalam proses pendaftaran tanah. Sejalan dengan

22
Hilaire McCoubrey dan Nigel D. White, 1996, Textbook On Jurisprudence
(Second Edition), Blackstone Press Limited, Inggris, hal. 89-90
36

uraian di atas, pengertian akta otentik juga diatur pada Pasal 1868 KUHPerdata. Pada

ketentuan tersebut dikemukakan Suatu Akta Otentik ialah suatu akta yang didalam

bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang dibuat oleh atau dihadapan pejabat-

pejabat umum yang berkuasa untuk itu di tempat dimana aktanya dibuatnya. Akta

otentik sebagai alat pembuktian maka termasuk dalam hukum pembuktian yang diatur

dalam buku IV KUHPerdata (Burgelijk Wetboek). Alat bukti sebagaimana yang

diciptakan oleh akta otentik dan syarat-syarat yang terkandung didalamnya diatur pada

Pasal 1870 KUHPerdata. Pasal 1870 KUHPerdata menentukan bahwa suatu akta

otentik memberikan diantara para pihak beserta ahli warisnya atau orang-orang yang

mendapatkan hak dari mereka, suatu bukti yang ssempurna tentang apa yang dimuat

didalamnya. Akta otentik dalam hal ini merupakan akta yang dibuat oleh dan

dihadapan pejabat umum, menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan oleh undang-

undang. Oleh karena itu, akta notaris menjadi salah satu sumber utama dalam rangka

pemeliharaan data pendaftaran tanah. Berdasarkan hal tersebut dapat disimak bahwa

sesuai dengan jabatan notaris sebagai pejabat umum, maka akta yang dibuatnya diberi

kedudukan sebagai akta otentik yang berfungsi untuk memberikan kepastian hukum

terkait perbuatan hukum yang terjadi berkenaan dengan perjanjian fidusia.

f. Konsep Jaminan Fidusia

Pada prinsipnya, sistem hukum jaminan terdiri dari jaminan kebendaan

(zakelijkezekerheids) dan jaminan perorangan (persoonlijkerheids). Jaminan kebendaan

termasuk Jaminan Fidusia mempunyai ciri-ciri kebendaan dalam arti memberikan hak

mendahulu di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat serta mengakui

benda-benda yang bersangkutan. Konsep fidusia, menurut asal katanya berasal dari

bahasa Romawi fides yang berarti kepercayaan. Fidusia merupakan istilah yang sudah
37

lama dikenal dalam bahasa Indonesia. Dalam terminologi Belanda istilah ini sering

disebut secara lengkap yaitu Fidusiare Eigendom Overdracht (F.E.O. ) yaitu suatu

penyerahan hak milik secara kepercayaan. Sedangkan dalam istilah bahasa Inggris

disebut Fidusiary Transfer of Ownership. Dengan demikian, fidusia sering diartikan

sebagai pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan

ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan

pemilik benda.

Karakter kebendaan pada Jaminan Fidusia dapat dilihat dalam Pasal 1 angka 2,

Pasal 20, Pasal 27 UUJF. Karakter kebendaan yang dimiliki Jaminan Fidusia ini,

kreditur atau lembaga pembiayaan merupakan kreditur yang preferen dan memiliki sifat

zaaksgevolg. Jaminan fidusia dapat dipastikan memiliki identitas sebagai lembaga

jaminan yang kuat dan akan digemari oleh para pemakainya.

Pemberian Jaminan Fidusia selalu berupa penyediaan bagian dari harta kekayaan

si konsumen untuk pemenuhan kewajibannya. Konsumen dalam hal ini telah

melepaskan hak kepemilikannya secara yuridis untuk sementara waktu. Debitur yang

memberikan suatu barang sebagai jaminan kredit berarti melepaskan sebagian

kekuasaan atas barang tersebut. Kekuasaan yang dimaksud bukanlah melepaskan

kekuasaan benda secara ekonomis melainkan secara yuridis. Hal ini sesuai dengan teori

yang dikemukakan bahwa benda jaminan masih dapat dipergunakan oleh si konsumen

untuk melanjutkan usaha bisnisnya. Dengan demikian, dapat disimak bahwa dalam

perjanjian Jaminan Fidusia, konstruksi yang terjadi adalah pemberi Jaminan Fidusia

bertindak sebagai pemilik manfaat, sedangkan penerima Jaminan Fidusia bertindak

sebagai pemilik yuridis.


38

Perkataan fidusia sendiri berasal dari kata fidusiare yang berarti bersifat

kepercayaan, yang dapat diduga merupakan singkatan dari istilah yang dulu ada kalanya

juga dipakai yaitu fidusiaire eigendoms overdracht. Lembaga ini disebut dengan

bermacam-macam nama. Zaman Romawi menyebutnya fidusia cum creditore. Asser

Van Oven menyebutnya zekerheids-eigendom (Hak milik sebagai jaminan) Blom

menyebutnya bezitloos zekerheidsrecht (Hak jaminan tanpa penguasaan). Kahrel

memberi nama Verruimd Pandbegrip (pengertian gadai yang diperluas), A.

Veehoven menyebutkaneigendomsoverdracht tot zekerheid (penyerahan hak milik

sebagai jaminan) sebagai singkatan dapat dipergunakan istilah fidusia saja. 23

Pasal 1 ayat (1) UUJF menetapkan pengertian fidusia adalah pengalihan hak

kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang

hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.

Selanjutnya dalam Pasal 1 ayat (2) UUJF disebutkan bahwa Jaminan Fidusia adalah hak

jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan

benda yang tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak

tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996

Tentang Hak Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan konsumen, sebagai

agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan

kepada lembaga pembiayaan terhadap kreditur lainnya.

Penyerahan hak milik secara fidusia sebagai jaminan adalah lembaga jaminan

bentuk baru atas benda bergerak, disamping hak gadai. 24 Jaminan Fidusia yaitu

pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan

23
Mariam Darus Badrulzaman, 1991, Bab-bab Tentang Creditverband Gadai dan
Fidusia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 89
24
Ibid
39

bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan

pemilik benda. 25

Perkataan fidusiair yang berarti "secara kepercayaan" ditujukan kepada

kepercayaan yang diberikan secara bertimbal-balik oleh satu pihak kepada yang lain,

bahwa apa yang keluar ditampakan sebagai pemindahan milik, sebenarnya (kedalam,

intern) hanya suatu jaminan saja untuk suatu utang.26 Dalam kaitan ini, fidusia

merupakan pengalihan hak milik sebagai jaminan yang pada dasarnya hanya berlaku

untuk benda bergerak.

Fidusia dalam bahasa latin berarti kepercayaan. 27 Sebagai istilah hukum, maka

fidusia adalah barang yang oleh debitur dipercayakan kepada kreditur sebagai jaminan

utang. Dengan kata lain, fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak dan tidak

bergerak tertentu, yang melekat atau mengikuti kreditur, dengan ketentuan :

a. Kreditur memindahkan hak milik atas benda jaminan itu atas dasar

kepercayaan.

b. Bendanya sendiri tetap dalam kekuasaan dan dalam tangan debitur sehingga

tetap dapat digerakkannya untuk bekerja sehari-hari. Sifat penyerahan itu

adalah penyerahan dengan melanjutkan penguasaannya atau secara constitutum

possessorium. Dalam hal tersebut, kreditur menjadi pemilik benda jaminan,

maka kedudukannya lebih lewat daripada pemegang" gadai atas benda

bergerak. Namun, setelah debitur membayar lunas kreditnya, maka hak debitur

itu kembali ke debitur lagi.

25
J. Satrio, 2002, Hukum Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, hal. 157
26
R. Subekti, 1991, Loc. Cit.
27
R. Subekti, R. Tjitrosoedibio, 1994, Kamus Hukum, Pradnya Paramita,
Jakarta, hal. 42
40

c. Perjanjian accessoir yang akan hapus jika perjanjian pokoknya hapus.

Perjanjian pokoknya : peminjaman uang. 28

Sesuai dengan arti kata fidusia yakni kepercayaan, maka hubungan (hukum)

antara debitur (konsumen) dan kreditur (lembaga pembiayaan) merupakan hubungan

hukum yang berdasarkan kepercayaan. Konsumen percaya bahwa lembaga pembiayaan

mau mengembalikan hak milik barang yang telah diserahkan, setelah dilunasi utangnya.

Sebaliknya lembaga pembiayaan percaya bahwa konsumen tidak akan

menyalahgunakan barang jaminan yang berada dalam kekuasaannya.29

1.5.2. Batasan Operasional

Berkenaan dengan judul penelitian Eksekusi Terhadap Barang Jaminan Kendaraan

Bermotor Yang Tidak Didaftarkan Jaminan Fidusia Dalam Perjanjian Pembiayaan Non

Bank, adapun beberapa batasan operasional yang dipergunakan adalah :

1. Eksekusi adalah pelaksanaan suatu ketentuan hukum dalam hal suatu pihak

dapat dibuktikan tidak melaksanakan suatu kewajiban (wanprestasi) yang

wujudnya antara lain dapat berupa tindakan untuk menyerahkan suatu barang,

melakukan sesuatu, menghentikan sesuatu atau membayar sejumlah uang;

2. Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan

dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut

tetap dalam penguasaan pemilik benda.

3. Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud

maupun yang tidak berwujud dan benda yang tidak bergerak khususnya

bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan yang tetap berada dalam

28
Thomas Soebroto, 1995, Tanya Jawab Hukum Jaminan Hipotik, Fidusia,
Penanggungan dan Lain-lain, .Dahara Prize, Semarang, hal. 123
29
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2000, Seri Hukum Bisnis "Jaminan
Fidusia" PT. Raja Grapindo Persada, Jakarta, hal. 113
41

penguasaan konsumen, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang

memberikan kedudukan yang diutamakan kepada lembaga pembiayaan

terhadap kreditur lainnya.

4. lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan

untuk suatu usaha tertentu atau individu dalam bentuk penyediaan dana, baik

dalam bentuk dana tunai atau uang dapat dan/atau dalam bentuk barang modal.

1.6. Hipotesis

Berdasarkan kajian teoritis atas permasalahan tersebut di atas maka dapat

diberikan jawaban sementara sebagai berikut:

1. Bahwa yang melandasi kreditur melakukan eksekusi barang jaminan kendaraan

bermotor dalam perjanjian pembiayaan konsumen adalah karena debitur tidak

mampu memenuhi prestasinya (wanprestasi) sebagaimana disepakati dalam

perjanjian yang dibuat para pihak.

2. Bahwa akibat hukum pelaksanaan eksekusi oleh kreditur terhadap barang

jaminan kendaraan bermotor yang tidak didaftarkan Jaminan Fidusia adalah

tidak memiliki hak eksekutorial.

1.7. Metode Penelitian

1.7.1. Jenis Penelitian

Soerjono Soekanto, seperti yang dikutip oleh Bambang Sunggono berpendapat

bahwa penelitian hukum pada hakikatnya dapat dibagi dalam 2 (dua) klasifikasi, sebagai

berikut:

1. Penelitian Hukum Normatif, yang terdiri dari:

a. Penelitian terhadap asas-asas hukum;

b. Penelitian terhadap sistematika hukum;


42

c. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum;

d. Penelitian sejarah hukum; dan

e. Penelitian perbandingan hukum.

2. Penelitian Hukum Sosiologis atau empiris, yang terdiri dari:

a. Penelitian terhadap identifikasi;

b. Penelitian terhadap efektivitas hukum. 30

Berdasarkan klasifikasi tersebut di atas, maka jenis penelitian dalam penulisan

tesis ini dikualifikasikan kedalam jenis penelitian hukum empiris, yaitu penelitian

hukum yang objek kajiannya meliputi ketentuan dan mengenai pemberlakuan atau

implementasi ketentuan hukum normatif (kodifikasi, Undang-Undang atau kontrak)

secara in action/in abstracto pada setiap peristiwa hukum yang terjadi dalam

masyarakat (in concreto).31 Sehubungan dengan itu, maka penelitian ini yang akan

mengkaji kesenjangan antara ketentuan Pasal 29 ayat (1) UU No. 42 Tahun 1999

dengan pelaksanaannya di lapangan sehingga dapat dikualifikasikan sebagai penelitian

hukum empiris. Adapun kesenjangan tersebut akan berimplikasi terhadap pelaksanaan

eksekusi terhadap barang Jaminan Fidusia terkait perjanjian pembiayaan kendaraan

bermotor.

1.7.2. Jenis Pendekatan

Pendekatan dalam penelitian hukum dimaksudkan sebagai dasar sudut pandang

dan kerangka berpikir seorang peneliti untuk melakukan analisis. Dalam penelitian

hukum empiris terdapat beberapa pendekatan yaitu :

30
Bambang Sunggono, 1997, Metodologi Penelitian Hukum, PT RajaGrafindo
Persada, Jakarta, hal. 42-43.
31
Abdulkadir Muhamad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya
Bakti, Bandung, hal. 134
43

a. Pendekatan kualitatif, adalah suatu cara pendekatan terhadap hasil penelitian

yang menghasilkan data deskriptif analitis, yaitu data yang dinyatakan oleh

responden secara tertulis atau lisan serta juga tingkah laku yang nyata, yang

diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Oleh karena itu peneliti harus

dapat menentukan data mana atau bahan hukum mana yang memiliki kualitas

sebagai data atau bahan hukum yang diharapkan atau diperlukan dan data atau

bahan hukum mana yang tidak relevan dan tidak ada hubungannya dengan

penelitian. Oleh karena itu dalam analisis dengan pendekatan kualitatif ini yang

dipentingkan adalah kualitas data, artinya peneliti melakukan analisis terhadap

data-data atau bahan-bahan hukum yang berkualitas saja. Peneliti yang

menggunakan metode analisis kualitatif tidak semata-mata bertujuan

mengungkapkan kebenaran saja, tetapi juga memahami kebenaran tersebut.

b. Pendekatan kuantitatif, adalah cara pendekatan terhadap data hasil penelitian

berdasarkan jumlah data yang terkumpul. Analisis dengan pendekatan kuantitatif

ini akan sangat diperlukan apabila peneliti akan mencari korelasi dari dua

variabel atau lebih. 32

Dalam penulisan karya ilmiah ini, agar mendapatkan hasil yang ilmiah, serta dapat

dipertahankan secara ilmiah, maka masalah dalam penelitian ini akan dibahas

menggunakan jenis pendekatan kualitatif.

1.7.3. Lokasi Penelitian

Mengenai lokasi yang dipilih untuk mendapatkan data primer adalah pada

lembaga pembiayaan yang berkantor di Denpasar. Lokasi penelitian ini dipilih dengan

32
Fajar, Mukti dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum
Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogjakarta, hal. 192
44

menggunakan teknik purposive/jugmental sampling, yaitu sampel yang dipilih

berdasarkan pertimbangan atau penelitian subyektif dari peneliti, 33 karena lokasi

tersebut telah memenuhi karakteristik yang representatif untuk mendapatkan gambaran

mengenai masalah yang akan diteliti. Jadi, dalam hal ini peneliti menentukan sendiri

responden dan informan mana yang dianggap dapat mewakili populasi.

1.7.4. Sumber Data

Dalam penelitian pada umumnya dibedakan antara data yang diperoleh secara

langsung dari masyarakat yang dinamakan data primer (data dasar) dan diperoleh dari

bahan-bahan pustaka dinamakan data sekunder.34 Adapun data yang dipergunakan

dalam penelitian ini diperoleh dari 2 (dua) sumber, yaitu:

1. Data primer

Untuk mendapat data primer dilakukan penelitian lapangan (Field

Research), yaitu dengan cara melakukan penelitian secara langsung ke

lapangan yang berasal dari para informan, yaitu para pegawai PT. FIF Group,

konsumen, dan pegawai Kementrian Hukum dan HAM wilayah Provinsi Bali.

2. Data sekunder

Untuk mendapatkan data sekunder dilakukan penelitian kepustakaan

(Library Research), yaitu pengumpulan berbagai data yang diperoleh dari

menelaah literatur, majalah di bidang hukum guna menemukan teori yang

relevan dengan permasalahan yang akan dibahas. Mengenai data sekunder ini

berdasarkan kekuatan mengikat dari isinya dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

33
Burhan Ashshofa, op. cit, hal. 91
34
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2001, Penelitian Hukum Normatif, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 12
45

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan yang isinya mengikat, karena

dikeluarkan oleh pemerintah, seperti berbagai peraturan perundang-

undangan yang terdiri dari:

1) KUHPerdata

2) UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

3) UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia

4) PP No. 8 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia

dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia

5) Keppres No. 61 Tahun 1998 tenang Kedudukan, Tugas, Susunan

Oganisasi dan Tata Kerja Departemen

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang isinya membahas bahan

primer, seperti buku, majalah, artikel di bidang Hukum Perdata, Hukum

Perjanjian, serta Hukum Jaminan;

c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan-bahan yang bersifat menunjang bahan

primer dan sekunder. Bahan hukum tertier dalam penulisan tesis ini adalah

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Black Law Dictionnary.

1.7.5 Teknik pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini untuk

mendapatkan data primer adalah melalui wawancara. Wawancara adalah proses

interaksi dan komunikasi serta cara untuk memperoleh informasi dengan bertanya

langsung pada yang diwawancarai.35 Wawancara ini dilakukan dengan pelaku bisnis

dan konsumen yang terkait. Disamping itu agar tercapai proses tanya jawab yang

35
Ronny Hanitijo, 1988, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia
Indonesia, Jakarta, hal. 57.
46

terbuka dari responden, maka tanya jawab tersebut dikembangkan disekitar pokok

permasalahan sehingga relevan dengan permasalahan yang dibahas.

Sementara itu, untuk mendapatkan data sekunder sebagai pendukung data primer

maka bahan hukum dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan sistem

kartu (card system).36 Dalam pengumpulan bahan hukum tersebut, kartu-kartu disusun

berdasarkan topik, bukan berdasarkan nama pengarang. Hal ini dilakukan agar

memudahkan dalam hal penguraian, menganalisa dan membuat kesimpulan dari

konsep-konsep yang ada.

1.7.6 Teknik pengolahan dan analisis data

Setelah semua data terkumpul, baik data lapangan maupun data kepustakaan

diklasifikasikan secara kualitatif sesuai dengan permasalahan. Data tersebut dianalisa

dengan teori-teori yang relevan. Kemudian ditarik kesimpulan untuk menjawab

masalah. Akhirnya data tersebut disajikan secara deskriptif analisis.

36
Winarno Surakhmad, 1972, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode &
Teknik, Tarsito, Bandung, hal. 257.
47

BAB II

TINJAUAN TENTANG PERJANJIAN


DAN JAMINAN FIDUSIA

2.1 Tinjauan Perjanjian

2.1.1 Pengertian dan Dasar Hukum Perjanjian

Perjanjian dipandang sebagai hubungan hukum antar dua pihak yang berjanji

atau dianggap berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal atau tidak melakukan sesuatu

hal dengan memberikan kesempatan pada pihak lain menuntut pelaksanaan janji itu.37

Dalam praktek, istilah kontrak atau perjanjian terkadang dipahami secara rancu dan

pelaku bisnis mencampuradukkan istilah itu seolah-olah pengertian yang berbeda 38.

Dasar hukum mengenai perjanjian di Indonesia diatur dalam Buku III KUHPerdata

tentang Perikatan. Didalam KUHPerdata sendiri menggunakan istilah overeenskomst

dan contract untuk pengertian yang sama, hal ini terlihat pada Buku III title kedua

tentang perikatan-perikatan yang lahir dari kontrak atau perjanjian. Pengertian

perjanjian dapat dijumpai pada Pasal 1313 KUHPerdata yang menyatakan bahwa

Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikat

dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

Pengertian perjanjian pada Pasal 1313 KUHPerdata tersebut menurut para

sarjana dipandang kurang lengkap karena banyak mengandung kelemahan-kelemahan

dan terlalu luas pengertiannya, karena istilah perbuatan yang dipakai dapat mencakup

juga perbuatan melawan hukum dan perwalian sukarela, padahal yang dimaksud adalah

37
Wirjono Prodjodikoro, 1986, Asas-Asas Hukum Perjanjian, Bale Bandung,
Bandung, hal. 19.
38
Agus Yudha Hernoko, 2010, Hukum Perjanjian (Asas Proporsionalitas dan
Kontrak Komersial), Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hal. 13.

32
48

perbuatan melawan hukum.39 Hal ini senada dengan pendapat Abdulkadir Muhammad

yang berpendapat bahwa Rumusan pengertian perjanjian dalam Pasal 1313

KUHPerdata masih ada beberapa kelemahan yang perlu dikoreksi. Kelemahan-

kelemahan yang dimaksudkan, antara lain meliputi:

a. Hanya menyangkut sepihak saja

Hal tersebut dapat diketahui dari rumusan kata kerja mengikatkan diri, sifatnya

hanya datang dari satu pihak saja, tidak dari kedua belah pihak. Seharusnya rumusan

itu ialah saling mengikatkan diri, jadi ada konsensus antara dua pihak. Kata

perbuatan mencakup juga tanpa konsensus.

b. Dalam pengertian suatu perbuatan termasuk juga tindakan penyelenggaraan

kepentingan (zaakwarneming) dan tindakan melawan hukum (onrectitmatighedaad)

tidak mengandung suatu konsesnsus. Perbuatan yang dimaksud di atas adalah

perbuatan yang timbul dari penjanjian saja, seharusnya dipakai istilah persetujuan.

c. Pengertian penjanjian terlalu luas, karena mencakup juga pelangsungan perkawinan,

janji kawin, yang diatur dalam lapangan Hukum Keluarga. Padahal yang dimaksud

adalah hubungan antara debitur dengan kreditur dalam lapangan harta kekayaan

saja. Perjanjian yang dikehendaki Buku III KUHPerdata sebenarnya hanyalah

meliputi perjanjian yang bersifat kebendaan, bukan bersifat kepribadian (personal).

d. Tanpa menyebut tujuan.40

Dalam rumusan pasal itu tidak disebutkan tujuan mengadakan perjanjian,

sehingga pihak-pihak mengikatkan diri itu tidak jelas untuk apa.41

39
R. Setiawan, 1979, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bina Cipta, Bandung,
hal. 49.
40
Abdulkadir Muhammad, Op. cit., hal. 134.
41
Abdulkadir Muhammad, Loc. cit.
49

Untuk melengkapi kekurangan mengenai pengertian perjanjian yang termuat

dalam Pasal 1313 KUHPerdata, beberapa sarjana memberikan pendapatnya. Salah satu

sarjana yang memberikan pendapat mengenai perjanjian dikemukakan oleh Rutten

seperti dikutip Purwahid Patrik. Rutten menyatakan bahwa perjanjian adalah perbuatan

yang terjadi sesuai dengan formalitas-formalitas dan peraturan hukum yang ada

tergantung dari persesuaian kehendak dua atau lebih orang-orang yang ditujukan untuk

timbulnya akibat hukum dari kepentingan salah satu pihak atas beban lain atau demi

kepentingan masing-masing pihak secara timbal balik.42 Sementara itu, Wirjono

Prodjodikoro berpendapat Perjanjian adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta

benda antar dua pihak dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk

melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedangkan pihak lain

berhak menuntut pelaksanaan janji itu.43 Pendapat lain mengenai perjanjian juga

dikemukakan oleh Subekti yang menyatakan bahwa Suatu perjanjan adalah suatu

peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling

berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. 44 Selanjutnya Abdulkadir Muhammad

memberikan pendapatnya mengenai pengertian perjanjian sebagai suatu persetujuan

dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu

hal dalam lapangan harta kekayaan. 45

Berdasarkan beberapa definisi mengenai perjanjian yang telah diuraikan tersebut

di atas terliht bahwa terdapat hubungan antara para pihak yang terikat dalam perjanjian.

42
Purwahid Patrik, 1998, Azas Itikad Baik dan Kepatutan Dalam Perjanjian, FH
UNDIP, Semarang, 1982, hal. 1-3.
43
R. Wiryono Prodjodikoro, 2004, Asas-asas Hukum Perjanjian, Mandar Maju,
Bandung, hal. 4.
44
R. Subekti, Hukum Perjanjian, 1985, PT. Intermasa, Jakarta, hal. 1.
45
Abdulkadir Muhammad, 1992, Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, hal 78.
50

Pihak yang satu setuju dan pihak yang lainnya juga setuju untuk melaksanakan sesuatu,

kendati pelaksanaan itu datang dari satu pihak, misalnya dalam perjanjian pemberian

hadiah atau hibah. Dengan perbuatan memberi hadiah itu, pihak yang diberi hadiah

setuju untuk menerimanya, jadi ada konsensus yang saling mengikat. Dengan demikian

terbangun hubungan timbal balik yang terjadi dalam suatu perjanjian.

2.1.2 Unsur-unsur Perjanjian

Berdasarkan beberapa pendapat para sarjana yang telah diuraikan di atas maka

dapat diketahui bahwa dalam suatu perjanjian termuat unsur-unsur sebagai berikut:

a. Ada pihak-pihak sedikitnya 2 (dua) orang sebagai subyek;

b. Ada persetujuan antara pihak-pihak itu (konsensus);

c. Ada tujuan yang akan dicapai;

d. Ada prestasi yang akan dilaksanakan;

e. Ada bentuk tertentu lisan atau tulisan;

f. Ada syarat-syarat tertentu sebagai isi perjanjian.

Herlien Budiono dalam kaitan di atas mengemukakan bahwa untuk dapat

mengetahui lebih dalam mengenai suatu perjanjian atau bukan perjanjian, sangatlah

diperlukan mengetahui unsur-unsur dari suatu perjanjian tersebut. Unsur-unsur yang

dimaksudkan adalah sebagai berikut :

a. Kata Sepakat dari dua pihak atau lebih;

Unsur atau ciri pertama dari perjanjian adalah adanya kata sepakat, yaitu pernyataan

kehendak beberapa orang. Artinya, perjanjian hanya dapat timbul dengan kerjasama

dari dua orang atau lebih atau perjanjian dibangun oleh perbuatan beberapa orang.

Karenanya, perjanjian digolongkan sebagai perbuatan hukum berganda. Unsur Pihak

disini adalah subyek perjanjian dimana sedikitnya dua orang atau badan hukum dan
51

harus mempunyai wewenang melakukan perbuatan hukum sesuai yang ditetapkan

oleh undang-undang. Perjanjian harus dibedakan dengan perbuatan hukum sepihak.

Perbuatan hukum sepihak adalah pernyataan kehendak dari cukup satu orang saja

dan pernyataan ini menimbulkan akibat hukum. Tindakan hukum sepihak mencakup

perbuatan-perbuatan seperti penerimaan suatu warisan, membuat wasiat, pengakuan

anak diluar kawin.

b. Kata sepakat yang tercapai harus bergantung kepada para pihak;

Kata sepakat tercapai pihak satu menyetujui apa yang ditawarkan oleh pihak

lainnya. Kehendak para pihak tersebut tidaklah menimbulkan akibat hukum apabila

kehendak tersebut tidak dinyatakan. Perjanjian terjadi apabila para pihak saling

menyatakan kehendaknya dan adanya kesepakatan diantara para pihak.

c. Keinginan atau tujuan para pihak untuk timbulnya akibat hukum;

Tidak semua janji dalam kehidupan sehari-hari membawa akibat hukum. Walaupun

janji yang dibuat seseorang dapat memunculkan suatu kewajiban sosial atau

kesusilaan, akan tetapi hal itu muncul bukanlah sebagai akibat hukum. Ada

kemungkinan para pihak tidak sadar bahwa janji yang dibuatnya berakibat hukum.

Kesemuanya tergantung pada keadaan dan kebiasaan didalam masyarakat. Faktor

itulah yang perlu dipertimbangkan terkait suatu pernyataan kehendak yang muncul

sebagai janji yang akan memunculkan akibat hukum atau sekedar kewajiban sosial

dan kemasyarakatan semata.

d. Akibat hukum untuk kepentingan pihak yang satu dan atas beban yang lain atau

timbal balik;

Suatu keinginan para pihak tidak selalu memunculkan akibat hukum. Untuk

terbentuknya suatu perjanjian maka diperlukan adanya unsur akibat hukum tersebut
52

untuk kepentingan pihak yang satu atas beban pihak yang lain. Mengenai akibat

hukum suatu perjanjian hanya mengikat para pihak dan tidak dapat mengikat pihak

ketiga, lagi pula tidak dapat membawa kerugian bagi pihak ketiga.

e. Dibuat dengan mengindahkan ketentuan perundang-undangan

Format perjanjian pada umumnya bebas ditentukan oleh para pihak. Namun

demikian undang-undang menetapkan bahwa beberapa perjanjian diharuskan dalam

format tertentu. Penetapan oleh undang-undang mengenai bentuk perjanjian yang

diwajibkan mengakibatkan bahwa akta menjadi syarat mutlak untuk terjadinya

perbuatan hukum tersebut.46

Mengenai beberapa contoh perjanjian yang damanatkan oleh undang-undang

untuk dibuat dengan akta adalah :

1. Hibah (ketentuan Pasal 1682 dan 1687 KUHPerdata).

2. Pemisahan dan pembagian warisan dalam hal tertentu (Pasal 1071 jo. Pasal

1072 dan 1074 KUHPerdata).

3. Perjanjian kawin (Pasal 29 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1

Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Pasal 147 ayat (1) KUHPerdata).

4. Pendirian Perseoran Terbatas (Pasal 7 butir (1) Undang-Undang No 40 Tahun

2007 tentang Perseroan Terbatas).

5. Jaminan Fidusia (Pasal 5 butir (1) Undang-Undang Nomor 42 tahun 1999

tentang Jaminan Fidusia).

6. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (Pasal 15 ayat (1) Undang-

Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta

Bangunan yang Berkaitan dengan Tanah).

46
Herlien Budiono, 2009, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di
Bidang Kenotariaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 9.
53

7. Pendirian yayasan bukan merpakan perjanjian, namun dalam Pasal 9 Undang-

Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan mensyaratkan bahwa yayasan

harus didirikan dengan akta notaris, namun SKMHT seperti yang disebutkn di

atas selain dibuat dengan akta Notaris juga dapat dibuat dengan akta Pejabat

Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Pada umumnya perjanjian tidak terikat pada suatu bentuk tertentu, dapat dibuat

secara lisan dan secara tertulis. Dalam hal dibuat secara tertulis, maka perjanjian ini

bersiftat sebagai alat pembuktian apabila terjadi perselisihan. Menurut Mariam Darus

Badrulzaman untuk beberapa perjanjian, undang-undang telah menentukan dengan

bentuk tertentu, apabila bentuk tersebut tidak dipenuhi maka perjanjian itu menjadi

tidak sah.47 Dengan demikian bentuk tertulis suatu perjanjian tidak hanya semata-mata

merupakan alat pembuktian saja, tetapi juga merupakan syarat adanya perjanjian.

Selain unsur-unsur perjanjian sebagaimana dinyatakan oleh Herlien Budiono,

pendapat lain mengenai unsur-unsur perjanjian juga dikemukakan oleh J. Satrio yang

menyatakan suatu perjanjian apabila diamati dan diuraikan unsur-unsur yang ada

didalamnya, maka dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a. Unsur Esentialia

Hal ini berkaitan dengan unsur perjanjian yang selalu harus ada atau unsur mutlak,

dimana tanpa adanya unsur tersebut perjanjian tidak mungkin ada. Contohnya,

Sebab yang halal merupakan esensialia untuk adanya perjanjian. Dalam perjanjian

jual beli harga barang yang disepakati kedua belah pihak harus ada. Pada perjanjian

yang riil, syarat penyerahan objek perjanjian merupakan essensialia, sama seperti

47
Marial Darus Badrulzaman, 1994, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung,
hal. 137.
54

bentuk tertentu merupakan essensialia dari perjanjian formal. Sama halnya dengan

perjanjian sewa menyewa, unsur-unsur perjanjian tersebut adalah :

1. Memberikan kenikmatan dari sesuatu barang;

2. Jangka waktu sewa;

3. Pembayaran uang sewa;

4. Bentuk tertulis.

Sedangkan unsur essensial dalam seuatu perjanjian sewa menyewa pada daasarnya

meliputi 4 hal, yakni:

1. Sepakat dari para pihak;

2. Objek Sewa;

3. Jangka Waktu;

4. Uang sewa;

b. Unsur Naturalia

Unsur Naturalia adalah bagian perjanjian yang berdasar sifatnya dianggap ada tanpa

perlu diperjanjiakan secara khusus oleh para pihak. Bagian dari perjanjian ini

bersifat mengatur termuat didalam ketentuan peraturan perundang-undangan untuk

masing-masing perjanjian bernama. Disini unsur tersebut oleh undang-undang diatur

dengan hukum yang mengatur/menambah (regelend/aanvullend recht). Contohnya :

kewajiban penjual untuk menanggung biaya penyerahan dan untuk menjamin

(vriwaren) yang dapat disimpangi atas kesepakatan kedua belah pihak. Ketentuan

yang bersifat mengatur yang merupakan unsur Naturalia dalam perjanjian sewa

menyewa adalah
55

1. Jika barang yang disewakan musnah sebagaian, penyewa dapat memilih

meminta pengurangan harga sewa atau pembatalan. Namun, untuk kedua hal

tersebut tidak berhak menuntut ganti rugi.

2. Penyewa dilarang mengubah bentuk bangunan rumah tanpa izin tertulis pemilik.

3. Penyewa tidak berhak mengoperkan hak sewa/memindahkan hak penghunian

atau mengulangsewakan/menyewakan kembali tanpa izin dari pemilik.

4. Perjanjian sewa-menyewa tidak berakhir dengan meninggalnya atau

dibubarkannya salah satu pihak.

5. Perjanjian sewa-menyewa tidak putus dengan dijualnya objek sewa, kecuali

telah diperjanjikan sebelumnya. Jika ada perjanjian demikian, penyewa berhak

menuntu ganti rugi apabila tidak diperjanjikan dengan tegas.

c. Unsur Accidentalia

Unsur ini berkaitan dengan unsur perjanjian yang ditambahkan para pihak karena

tidak diatur dalam undang-undang. Didalam suatu perjanjian jual beli, benda-benda

pelengkap tertentu dapat dikecualikan, seperti dalam jual beli rumah para pihak

dapat sepakat untuk tidak meliputi pintu pagar besi yang ada di halaman rumah.48

2.1.3 Syarat sahnya Perjanjian

Mengenai syarat sahnya perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang

menyatakan bahwa diperlukan 4 (empat) syarat, yaitu :

a. Sepakat mereka yang mengikat dirinya.

Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri adalah asas yang esensial dari

Hukum Perjanjian. Asas ini dinamakan juga asas konsensualisme yang menentukan

48
J. Satrio, 1992, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta (selanjutnya
disebut J. Satrio I), hal. 57.
56

adanya perjanjian. Asas konsensualisme yang terdapat dalam Pasal 1320

KUHPerdata mengandung arti kemauan para pihak untuk saling mengikatkan diri.

Kemauan ini membangkitkan kepercayaan bahwa perjanjian itu dipenuhi. Dengan

kata sepakat dimaksudkan bahwa kedua subjek yang mengadakan perjanjian itu

harus bersepakat, setuju atau seia sekata mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian

yang diadakan itu. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu, juga dikehendaki

oleh pihak yang lain. Mereka menghendaki sesuatu yang sama secara timbal balik.49

Seperti yang dinyatakan dalam Pasal 1321 KUHPerdata yaitu tiada sepakat yang

sah apabila sepakat itu diberikan karena khilaf atau diperolehnya dengan paksaan

atau penipuan. Sepakat yang dmaksud adalah sepakat yang harus diberikan secara

bebas tanpa paksaan pihak mana pun kepada para pihak.

b. Kecakapan.

Kecakapan diperlukan untuk membuat suatu perjanjian. Seseorang dianggap

tidak cakap apabila ia pada umumnya berdasarkan ketentuan undang-undang tidak

mampu membuat sendiri persetujuan-persetujuan dengan akibat-akibat hukum yang

sempurna. Dengan demikian, adapun yang dimaksud tidak cakap adalah orang-

orang yang ditentukan hukum, yaitu anak-anak, orang dewasa yang ditempatkan

dibawah pengawasan (curatele), dan orang yang sedang sakit jiwa.

c. Suatu hal tertentu

Setap perjanjian harus jelas apa yang menjadi objek perjanjian. Jika yang

menjadi objek adalah barang, maka harus jelas apa jenisnya, jumlahnya, harganya.

Setidak-tidaknya dan keterangan objek yang diperjanjikan harus dapat ditetapkan

49
R. Subekti, Op. cit., hal. 20.
57

apa yang menjadi hak dan kewajibannya masing-masing. 50Hal ini ditegaskan dalam

Pasal 1332 sampai dengan Pasal 1333 ayat (1) KUHPerdata menyatakan bahwa

suatu perjanjian harus mempunyai pokok berupa suatu barang yang sekurang-

kurangnya ditentukan jenisnya. Pasal 1333 ayat (2) mengatakan bahwa jumlah

barang itu tidak perlu pasti, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau

dihitung. Dari ketentuan pasal tersebut di atas selanjutnya dapat disimak bahwa

yang diperjanjikan dalam perjanjian itu harus jelas dan dapat ditentukan dikemudian

hari, jadi tidak boleh samar-samar. Hal ini penting untuk memberikan jaminan atau

kepastian kepada pihak-pihak dan mencegah timbulnya perjanjian kredit yang fiktif.

d. Suatu sebab yang halal

Sebab adalah sesuatu yang menjadi tujuan perjanjian. Didalam Pasal 1335

KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah

dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan.

Selanjutnya pada Pasal 1336 KUHPerdata dinyatakan Jika tidak dinyatakan semua

sebab, tetapi memang ada sebab yang tidak dilarang, atau jika ada sebab lain yang

tidak dilarang selain dari yang dinyatakan itu, persetujuan itu adalah sah.

Penjanjian itu dibuat harus didasarkan oleh sebab yang tidak dilarang oleh undang-

undang, baik mengenali hak yang melekat pada objek perjanjian maupun tentang

perjanjian itu sendiri. 51

Suatu sebab yang halal mengenai hal yang melekat pada objeknya, misalnya

tidak boleh membuat perjanjian jual beli dari hasil curian, sebab pihak penjual

50
C. S. T. Kansil, 1992, Pokok-pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia,
Sinar Grafika, Jakarta, hal. 194.
51
R. Subekti dan R. Tjipto Sudiro, 2001, KUHPerdata, Padnya Paramita,
Jakarta, hal. 339.
58

sebenarnya tidak memiliki hak terhadap barang yang dijualnya tersebut, sedangkan

sebab yang halal yang berhubungan dengan perjanjian itu adalah sesuatu yang

menyebutkan orang yang membuat perjanjian, sebab disini artinya dilihat dari isi

perjanjian itu sendiri, menggambarkan apa yang akan dicapai oleh para pihak,

misalnya perjanjian perjudian atau perjanjian untuk membunuh seseorang.

Perjanjian ini tidak halal karena dilarang oleh undang-undang.

Menurut ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1335 sampai dengan Pasal

1337 KUHPerdata memberi ketentuan tentang sebab yang halal yaitu sebab yang

dapat dilaksanakan secara nyata dan tidak bertentangan dengan undang-undang,

ketertiban umum, dan kesusilaan. Sebab yang halal adalah salah satu syarat sahnya

perjanjian yang merupakan tujuan bersama dari para pihak yang mengikatkan diri

pada penjanjian dan tujuan tersebut harus halal dan diperbolehkan karena jika

dilarang atau bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan

maka perjanjian tersebut batal demi hukum.

Kedua syarat yang pertama dikualifikasikan sebagai syarat-syarat subyektif,

karena kedua syarat tersebut mengenai orang-orangnya atau subyeknya yang

mengadakan perjanjian. Sedangkan kedua syarat berikutnya dikualifikasi sebagai

syarat obyektif, karena mengenai obyek dari perjanjian itu sendiri atau obyek dari

perbuatan hukum yang dilakukan itu.

2.1.4 Asas-asas Perjanjian

Asas-asas hukum dapat saja timbul dari pandangan akan kepantasan dalam

pergaulan sosial yang kemudian diadopsi oleh pembuat undang-undang sehingga

menjadi aturan hukum. Akan tetapi, tidak semua asas hukum dapat dituangkan
59

menjadi aturan hukum. Meskipun demikian, asas ini tdak boleh diabaikan begitu

saja, melainkan harus tetap dirujuk. Pentingnya peran asas hukum sebagai sumber

hukum. Satu dan lain alasannya adalah bahwa asas-asas hukum memainkan peran

penting dalam keseluruhan proses penafsiran hukum. Sebagian besar dari peraturan

hukum mengenai perjanjian bermuara dan mempunyai dasar pada asas- asas hukum.

Mengenai fungsi asas-asas hukum ialah untuk sejauh mungkin untuk

mewujudnyatakan standard nilai (wardenmaatstaven) atau tolok ukur yang

tersembunyi didalam atau melandasi norma-norma, baik yang tercakup didalam

hukum positip maupun praktik hukum. Asas hukum dapat juga menjadi dasar dari

beberapa ketentuan hukum, sekumpulan peraturan bahkan melandasi stelsel atau

suatu sistem hukum. Dengan hukum positif, asas-asas hukum dengan norma hukum

memiliki keterakitan erat dalam artian bahwa aturan-aturan hukum harus dimengerti

beranjak dari latar berlakang asas-asas hukum yang selaras dengan atau terkait pada

hukum positif52.

Menurut Peter Mahmud Marzuki, aturan-aturan hukum yang menguasai kontrak

sebenarnya penjelmaan dari dasar-dasar filosofis yang terdapat pada asas-asas hukum

secara umum53. Asas-asas hukum tersebut dikembangkan dalam kebudayaan yuridis

dari Eropa Barat dikuasai oleh kitab Undang-undang atau Corpus Iuris Civil yang

diundangkan antara tahun 529 dan 534, maupun dalam hukum Inggris yang didasarkan

pada kebiasaan dari putusan hakim dan merupakan dasar dikembangkannya hukum. 54

Asas-asas hukum ini bersifat sangat umum dan menjadi landasan berfikir, yaitu dasar

52
Herlin Boediono, Op cit, hal. 28
53
Peter Mahmud Marzuki, 2003, Batas-batas Kebebasan Berkontrak, Yuridika,
Surabaya, hal. 196
54
C.AE Uniken Venema Zwalve, 2000, Common Law & Civil Law, W.E.J
Tjeenk Willink, Deventer, p. 25.
60

ideologis aturan-aturan hukum. Apabila berbicara tentang hukum, maka yang pertama

terpikirkan adalah ketentuan perundang-undangan, yakni aturan-aturan yang ditetapkan

oleh pembuat undang-undang dalam bentuk perundang-undangn, baik asas-asas hukum

maupun aturan-aturan hukum mempunyai cirri serupa. Kedua hal tersebut memberikan

pedoman bagi manusia dalam bersikap dan sebab itu dapat dipergunakan sebagai

ukuran dalam menilai perbuatan manusia.

Asas-asas hukum merupakan dasar yang bersifat fundamental dan dikenal

didalam hukum kontrak yang klasik adalah asas konsensualisme, asas kekuatan

mengikat, asas kebebasan berkontrak, dan asas keseimbangan. Mengenai pengertian

dari masing-masing asas tersebut di atas adalah sebagai berikut:

1. Asas Konsesualisme

Pasal 1338 KUHPerdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara

sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Istilah secara

sah bermakna bahwa dalam pembuatan perjanjian yang sah adalah mengikat,

karena didalam asas ini terkandung kehendap para pihak untuk saling mengikatkan

diri dan menimbulkan kepercayaan diantara para pihak terhadap pemenuhan

perjanjian.

2. Asas Kekuatan Mengikat

Para pihak harus memenuhi apa yang telah mereka sepakati didalam perjanjian

yang telah mereka buat. Dengan kata lain, asas ini melandasi pernyataan bahwa

suatu perjanjian akan mengakibatkan suatu kewajiban hukum sehingga para pihak

terikat untuk melaksanakan kesepakatan kontraktual. Perjanjian dibuat oleh para

pihak dan mereka juga yang menentukan ruang lingkup serta cara pelaksanaan

perjanjian tersebut. Perjanjian yang dibuat secara sah memunculkan akibat hukum
61

dan berlaku bagi pihak seolah-olah undang-undang. Keterikatan suatu perjanjian

terkandung didalam janji yang dilakukan oleh para pihak sendiri.

3. Asas Kebebasan Berkontrak

Asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang menduduki posisi sentral dalam

hukum kontrak, meskipun asas ini tidak dituangkan menjadi aturan namun

mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam hubungan kontraktual para pihak.

Para pihak menurut kehendak bebasnya masing-masing dapat membuat perjanjian

dan setiap orang bebas mengikatkan dirinya dengan siapa pun yang dikehendaki.

Pihak-pihak juga bebas menentukan cakupan isi serta persyaratan dari suatu

perjanjian dengan ketentuan bahwa perjanjian tersebut tidak bertentangan, baik

dengan peraturan perundang-undangan yang bersifat memaksa, ketertiban umum,

maupun kesusilaan. Dengan kata lain, KUHPerdata pada hakikatnya menganut asas

terbuka dalam pembuatan perjanjian.

4. Asas Keseimbangan

Asas keseimbangan adalah suatu asas yang dimaksudkan untuk menyelaraskan

pranata-pranata hukum dan asas-asas pokok hukum perjanjian yang dikenal dalam

KUHPerdata yang mendasarkan pemikiran dan latar belakang invidualisme pada

satu pihak dan cara pikir bangsa Indonesia di pihak lain. Asas keseimbangan perlu

ditambahkan sebagai asas dalam Hukum Perjanjian Indonesia mengingat kenyatan

bahwa KUHPerdata disusun dengan mendasarkan pada tata nilai dan filsafat hukum

barat.
62

2.2. Tinjauan Tentang Jaminan Fidusia

2.2.1. Sejarah dan Pengertian Jaminan Fidusia

a. Sejarah Jaminan Fidusia

Fidusia yang merupakan suatu hubungan hukum berdasarkan kepercayaan sudah

dikenal sejak zaman Romawi, akan tetapi perkembangan hukum belum sampai pada

hukum jaminan sehingga praktek pada masa itu masih menggunakan konstruksi hukum

yang ada, yaitu pengalihan hak milik dari debitur kepada kreditur atau fiducia cum

creditore55. Dengan fiducia cum creditore, kreditur diberi kewenangan yang lebih besar,

sebagai pemilik dari yang diserahkan sebagai jaminan. Debitur percaya bahwa kreditur

tidak akan menyalah gunakan wewenang yang diberikannya itu, akan tetapi debitur

akan hanya mempunyai kekuatan moral bukan kekuatan hukum, sehingga apabila

kreditur tidak mau mngembalikan hak milik atas barang yang diserahkan sebagai

jaminan, debitur tidak dapat berbuat apa-apa.

Sejarah perkembangan Jaminan Fidusia ini berawal pada abad ke-19. Pada

waktu itu terjadilah masa krisis dalam bidang usaha pertanian sebagai akibat dari

serangan hama, sehingga para pengusaha pertanian membutuhkan bantuan modal yang

diharapkan datang dari pihak bank. Bank pada masa itu hanya mau memberikan kredit

dengan jaminan gadai alat-alat pertanian. Jaminan tersebut sulit dipenuhi oleh para

pengusaha karena pengusaha sendiri membuthkan alat-alat tersebut. Keadaan yang

seperti inilah menimbulkan adanya jaminan baru yang disebut oogstsverband (ikatan

panen), dimana hasil panen dijadikan jaminan sebagai jaminan tambahan. Untuk

mengatasi krisis dalam bidang pertanian, yang dialami juga oleh negeri Belanda, orang

mencari jalan keluar yang lain. Karena kekurangan dari oogstsverband sebagai

pengalaman yang tidak menguntungkan yang dialami di Indonesia, maka perluasan hak

55
Rachmadi Usman, Op cit, hal. 154
63

gadai melalui campur tangan pembuat undang-undang tidak diterima, termasuk

pendaftaran benda jaminan gadai. Dengan demikian muncul suatu keadaan, dimana

disatu pihak ada kebutuhan untuk dikembangkannya gadai tanpa menguasai benda

jaminan, tetapi di pihak lain tidak dikehendaki adanya ketentuan baru tentang

pendaftaran benda gadai. Jalan keluarnya ditemukan sendiri didalam praktek, yaitu

melalui lembaga yang sekarang kita kenal dengan pernyerahan hak milik secara

kepercayaan (fiduciare eigendomsoverdracht) atau dikenal dengan lembaga fidusia.56

Menurut ketentuan Pasal 1152 ayat (2) KUHPerdata terkait gadai, mensyaratkan

bahwa kekuasaan atas benda yang digadaikan tidak boleh berada pada pemberi gadai

(azas inbezitstelling). Hal ini tentunya merupakan hambatan yang berat bagi gadai atas

benda-benda bergerak berwujud, karena pemberi gadai tidak dapat menggunakan

benda-benda tersebut untuk keperluannya. 57 Hambatan tersebut kemudian diatasi

dengan mempergunakan lembaga fidusia yang diakui oleh Yurisprudensi Belanda tahun

1929 dan diikuti oleh Arrest Hooggerechtshof di Indonesia tahun 1932, bahwa pada

hakekatnya dalam hal Jaminan Fidusia memang terjadi pengalihan hak kepemilikan atas

suatu benda berdasarkan kepercayaan antara Konsumen dan Lembaga pembiayaan.

Pengalihan hak kepemilikan dimaksud semata-mata sebagai jaminan bagi pelunasan

utang bukan untuk seterusnya dimiliki oleh Lembaga pembiayaan.

Mengenai perkembangan fidusia di Indonesia melalui berbagai yurisprudensi,

karena Didalam KUHPerdata tidak mengatur mengenai fidusia, hal ini dikarenakan

Belanda didalam meresepsi dari Hukum Romawi yang tidak mengatur mengenai

fidusia. Keberadaan fidusia di Indonesia diakui oleh yurisprudensi berdasarkan

keputusan Hooggerechtsh of (HGH) tanggal 18 Agustus 1932. Keberadaan Jaminan

56
Rachmadi Usman, Op. cit., hal. 155
57
Purwahid dan Kashadi, 2008, Hukum Jaminana Fidusia, Fakultas Hukum
Universitas Diponegoro, Semarang, hal. 34-35.
64

Fidusia itu didasarkan atas kasus peminjaman uang oleh Pedro Clignett dari Bataafsche

Petroleum Maatschappij (BPM). Lahirnya Arrest Hooggerechtshof tersebut dipengaruhi

oleh kebutuhan yang mendesak dari pengusaha-pengusaha kecil, pengecer, pedagang

menengah, pedagang grosir yang memerlukan fasilitas kredit untuk usahanya.

Perkembangan perundang-undangan fidusia sangat lambat, karena undang-undang yang

mengatur tentang Jaminan Fidusia baru diundangkan pada tahun 1999, berkenaan

dengan bergulirnya era reformasi. 58

Dengan semakin banyaknya kebutuhan akan pemberian kredit di masyarakat

dengan menggunakan sistem Jaminan Fidusia, maka untuk lebih memberikan kepastian

hukum bagi para pihak, Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan suatu peraturan

perundang-undangan yang mengatur secara khusus mengenai Jaminan Fidusia. Undang-

undang yang dimaksud yaitu Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan

Fidusia.

b. Pengertian Jaminan Fidusia

Fidusia atau lengkapnya Fiduciaire Eigendomsoverdracht sering disebut

sebagai Jaminan Hak Milik Secara Kepercayaan, merupakan suatu bentuk jaminan atas

benda-benda bergerak disamping gadai di mana dasar hukumnya yurisprudensi. Pada

fidusia, berbeda dari gadai, yang diserahkan sebagai jaminan kepada kreditur adalah hak

milik sedang barangnya tetap dikuasai oleh debitur, sehingga yang terjadi adalah

penyerahan secara constitutum possessorium. Menurut ketentuan Pasal 1 butir 1 UUJF,

menyatakan bahwa: Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar

kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan

58
Salim H. S. , 2004, Perkembangan Hukum Jaminan Indonesia, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, hal. 60.
65

tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Berdasarkan perumusan pengertian

fidusia tersebut di atas dapat diketahui unsur-unsur dari suatu Jaminan Fidusia, yaitu:

1. Pengalihan hak kepemilikan suatu benda;

2. Dilakukan atas dasar kepercayaan;

3. Kebendaanya tetap dalam penguasaan pemilik benda.

Dengan demikian, dalam fidusia telah terjadi penyerahan dan pemindahan dalam

kepemilikan atas suatu benda yang diajukan atas dasar fiduciaryatau kepercayaan

dengan syarat bahwa benda yang hak kepemilikannya tersebut diserahkan dan

dipindahkan kepada lembaga pembiayaan tetap dalam penguasaan pemilik benda

(konsumen). Dalam hal ini yang diserahkan dan dipindahkan itu dari pemilinya kepada

kreditur (lembaga pembiayaan) adalah hak kepemilikan atas suatu benda yang dijadikan

sebagai jaminan, sehingga hak kepemilikan secara yuridis atas benda yang dijaminkan

beralih kepada kreditur (lembaga pembiayaan), sementara hak kepemilikan secara

ekonomis atas benda yang dijaminkan tersebut masih tetap berada dalam penguasaan

pemiliknya. Dalam hal inilah kepercayaan sangat diperlukan dalam hal lembaga

pembiayaan percaya bahwa walaupun barang jaminan berada dalam penguasaan debitur

namun elunasan atas utang yang telah diberikan oleh kreditur tetap terjamin.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa kepercayaan merupakan syarat

utama di dalam lalu lintas perkreditan. Seorang nasabah memperoleh kredit karena

adanya kepercayaan dari bank. Dalam fidusia, benda jaminan tidak diserahkan secara

nyata oleh debitur kepada kreditur, yang diserahkan hanyalah hak milik secara

kepercayaan. Benda jaminan masih tetap dikuasai oleh debitur dan debitur masih tetap

dapat mempergunakan untuk keperluan sehari-hari. Pemberian kredit dengan Jaminan

Fidusia dituangkan dalam bentuk perjanjian secara tertulis. Biasanya dalam memberikan
66

pinjaman uang, kreditur mencantumkan dalam perjanjian itu bahwa debitur harus

menyerahkan barang-barang tertentu sebagai jaminan pelunasan utangnya. 59

Dalam Blacks Law Dictionary memberi pengertian mengenai Fiduciary

Contract, yaitu:an agreement by which a person delivers a thing to another on the

condition that he will restore to him.60 Lebih lanjut mengenai Fiduciary Relation,

Blacks Law Dictionary memberi definisi sebagai berikut:A relation substisting

between two persons in regard to a business, contract, or a piece of property, or in

regard to the general business or estate or of one of them, of such a character that each

must repose trust and confidence in the other and must exercise a corresponding degree

of fairness and good faith.61 Dari pengertian yang diungkapkan tersebut dapat

diketahui bahwa suatu hubungan yang hidup diantara dua orang berkaitan dengan

bisnis, kontrak, atau properti, pada dasarnya masing-masing harus meletakkan

kepercayaan dan keyakinan satu dengan lainnya.

Lebih lanjut berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 2 UUJF menyatakan

pengertian Jaminan Fidusia sebagai berikut :

Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda brgerak baik yang berwujud
maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan
yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap
berada dalam penguasaan Konsumen, sebagai agunan bagi pelunasan utang
tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada lembaga
pembiayaan terhadap kreditur Iainnya.

59
Oey Hoey Tiong, 1984, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan,
Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 21.
60
Henry Campbell Black, 1990, Blacks Law Dictionary, Sixth Edition, West
Publishing Co. , St. Paul, Minn, p. 625
61
Ibid., p. 626
67

Berdasarkan permusan ketentuan dalam Pasal 1 angka 2 UUJF sebagaimana

diuraikan di atas maka unsur-unsur dari Jaminan Fidusia, dapat diidentifikasi meliputi:

1. Sebagai lembaga hak jaminan kebendaan dan hak yang diutamakan;

2. Kebendaan bergerak sebagai objeknya;

3. Kebendaan tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dibebani dengan

hak tanggungan juga menjadi objek Jaminan Fidusia;

4. Kebendaan menjadi objek Jaminan Fidusia tersebut dimaksudkan sebagai

agunan;

5. Untuk pelunasan suatu utang tertentu;

6. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepeda lembaga pembiayaan

terhadap kreditur lainnya.

Bentuk perjanjian fidusia tidak terikat oleh bentuk tertentu. Untuk kredit dalam jumlah

besar dan dengan tanggungan barang-barang yang berharga, maka biasanya perjanjian

fidusia dituangkan dalam bentuk akta notaris. Sedangkan untuk perjanjian kredit dalam

jumlah yang kecil, biasanya dituangkan dalam bentuk formulir tertentu, yang memuat

rumusan perjanjian fidusia, dikaitkan atau merupakan perjanjian tambahan dari

perjanjian membuka kredit yang berstatus sebagai perjanjian pokok. Karena sifatnya

yang accessoir, maka perjanjian pemberian Jaminan Fidusia merupakan perjanjian

bersyarat, dengan syarat pembatalan sesuai dengan yang diatur dalam Pasal 1253 jo

Pasal 1265 KUHPerdata. Konsekuensinya, pemberian Jaminan Fidusia itu dengan

sendirinya berakhir atau hapus apabila perjanjian pokoknya hapus, antara lain yang

terjadi karena adanya pelunasan.62

62
J. Satrio, 2002, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, Citra
Aditya Bakti, Bandung (selanjutnya disebut J. Satrio II), hal. 197.
68

2.2.2. Ciri-ciri Lembaga Fidusia

Seperti halnya hak tanggungan, lembaga Jaminan Fidusia yang kuat mempunyai

ciri-ciri sebagai berikut :

a. Fidusia memberikan kedudukan yang diutamakan (Droit de Preference).

Sifat droit de preference atau diterjemahkan sebagai hak mendahului atau

diutamakan. Droit de preference ini dapat dilihat dari perumusan Pasal 27 dan

Pasal 28 UUJF. Ketentuan Pasal 27 UUJF menyatakan :

(1) lembaga pembiayaan memiliki hak yang didahulukan terhada kreditur lainnya.

(2) Hak yang didahulukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah hak

lembaga pembiayaan untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil

eksekusi benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia.

(3) Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena adanya

kepailitan dan/atau likuidasi konsumen.

Lembaga pembiayaan dapat memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditur

Iainnya. Hak yang didahulukan dihitung sejak tanggal pendaftaran benda yang

menjadi objek Jaminan Fidusia pada kantor pendaftaran fidusia. Hak yang

didahulukan yang dimaksud adalah hak lembaga pembiayaan untuk mengambil

pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek Jaminan

Fidusia. Hak yang didahulukan dari penenima fidusia tidak hapus karena adanya

kepailitan dan likuidasi konsumen. Ketentuan dalam hal ini berhubungan dengan

ketentuan bahwa Jaminan Fidusia merupakan agunan atas kebendaan bagi pelunasan

utang. Disamping itu, ketentuan dalam undang-undang tentang kepailitan

menentukan bahwa benda yang menjadi obyek jaminan fidusa berada diluar
69

kepailitan dan atau likuidasi.63Apabila atas benda yang sama menjadi objek Jaminan

Fidusia Iebih dari 1 (satu) penjanjian Jaminan Fidusia, maka hak yang didahulukan

ini diberikan kepada pihak yang lebih dahulu mendaftarkannya pada kantor

pendaftaran fidusia.

b. Selalu mengikuti obyek yang dijaminkan di tangan siapa pun objek itu berada (droit

de suite) hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 20 UUJF.

Menurut ketentuan Pasal 20 UUJF menyatakan bahwa Jaminan Fidusia tetap

mengikuti benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dalam tangan siapapun benda

tersebut berada, kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi objek

Jaminan Fidusia. Jaminan fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi obyek

Jaminan Fidusia dalam tangan siapapun benda itu benda itu berada, kecuali

pengalihan atas benda persediaan yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.64 Ketentuan

ini merupakan pengakuan atau prinsip droit de suite yang telah merupakan bagian

dari peraturan perundang-undangan Indonesia dalam kaitannya dengan hak mutlak

atas kebendaan (inrem). Dengan adanya sifat droit pada Jaminan Fidusia, maka hak

kreditur tetap mengikuti bendanya kepada siapapun dia berpindah, termasuk

terhadap pihak ketiga pemberi jaminan.

c. Memenuhi asas spesialitas dan publisitas sehingga mengikat pihak ketiga dan

memberikan jaminan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Hal ini sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 6 dan Pasal 11 UUJF.

Akta Jaminan Fidusia yang dibuat Notaris sekurang-kurangnya memuat hal-hal

sebagai berikut:

63
Ibid, hal. 36-37.
64
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2007, Jaminan Fidusia, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta hal. 133.
70

1) Identitas pihak pemberi dan lembaga pembiayaan;

2) Data perjanjian pokok yang dijamin dengan fidusia;

3) Uraian mengenai benda yang menjadi obyek fidusia;

4) Nilai penjaminan;

5) Nilai benda yang menjadi objek fidusia;

Selanjutnya benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia wajib didaftarkan di

Kantor Pendaftaran Fidusia. Hal ini merupakan terobosan penting yang melahirkan

fidusia dapat memenuhi asas publisitas (semakin terpublikasi jaminan hutang, akan

semakin baik, sehingga kreditur atau khalayak ramai dapat mengetahui atau punya

akses untuk mengetahui informasi-informasi penting di sekitar jaminan hutang

tersebut).

d. Mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya (Pasal 29 UUJF)

Dalam hal debitur atau konsumen cidera janji, konsumen wajib menyerahkan obyek

Jaminan Fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi. Eksekusi dapat dilaksanakan

dengan cara pelaksanaan titel eksekutorial oleh kreditur atau lembaga pembiayaan,

artinya langsung melaksanakan eksekusi melalui lembaga parate eksekusi atau

penjualan obyek Jaminan Fidusia atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum

serta mengambil pelunasan dan hasil penjualan. Dalam hal akan dilakukan

penjualan dibawah tangan, maka harus dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi

dan lembaga pembiayaan.

2.2.3. Objek dan Subjek Jaminan Fidusia

a. Obyek Jaminan Fidusia

Sebelum diaturnya Jaminan Fidusia dalam UUJF, maka yang menjadi obyek

Jaminan Fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan

(inventory), benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan bermotor. Setelah
71

berlakunya UUJF, maka obyek Jaminan Fidusia diberikan pengertian yang luas.

Berdasarkan undang-undang ini, obyek Jaminan Fidusia dibagi 2 macam, yaitu : benda

bergerak, baik yang berwujud maupun tidak berwujud; dan benda tidak bergerak,

khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan. Menurut ketentuan

yang tercantum dalam Pasal 1 angka 4 UUJF memberikan batasan yang dimaksud

dengan benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia bahwa benda adalah segala sesuatu

yang dapat dimiliki dan dialihkan, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, yang

terdaftar maupun yang tidak terdaftar, yang bergerak maupun yang tidak bergerak yang

tidak dapat dibebani hak tanggungan atau hipotek. Berdasarkan rumusan objek

Jaminan Fidusia tersebut, maka dapat diketahui bahwa objek Jaminan Fidusia dapat

berupa:

1. Benda bergerak berwujud, contohnya:

a. Kendaraan bermotor seperti, mobil, sepeda motor, bus, truck dan lain-lain.

b. Mesin-mesin pabrik yang tidak melekat pada tanah atau bangunan pabrik.

c. Alat-alat inventaris kantor.

d. Perhiasan

e. Persediaan barang atau inventory, stock barang, stok barang dagangan dengan

daftar mutasi barang.

f. Kapal laut berukuran dibawah 20 m.

g. Perkakas rumah tangga seperti mebel, radio, televisi, almari es, mesin jahit.

h. Alat-alat pertanian seperti traktor pembajak sawah, mesin penyedot air dan

lain-lain.
72

2. Benda bergerak tidak berwujud, contohnya:

a. Wesel

b. Sertifikat deposito

c. Konosemen

d. Deposito berjangka

e. Saham

f. obligasi

g. Piutang yang diperoleh pada saat jaminan diberikan atau yang diperoleh

kemudian.

3. Hasil dari benda yang menjadi objek jaminan baik benda bergerak berwujud atau

benda bergerak tidak berwujud atau hasil dari benda tidak bergerak yang tidak

dapat dibebani Hak Tanggungan.

4. Klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia

diasuransikan.

5. Benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak

tanggungan yaitu hak milik satuan rumah susun di atas tanah hak pakai atas

negara (UU No. 16 Tahun 1985) dan bangunan rumah yang dibangun di atas

tanah orang lain sesuai ketentuan Pasal 15 UU No. 5 Tahun 1992 tentang

Perumahan dan Pemukiman yang saat ini telah diganti dengan UU No. 1 Tahun

2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

6. Benda-benda termasuk piutang yang telah ada pada saat jaminan diberikan

maupun piutang yang diperoleh kemudian hari.

b. Subjek Jaminan Fidusia

Menurut ketentuan dalam Pasal 1 angka 5 UUJF yang menjadi konsumen, dapat

orang perseorangan atau korporasi pemilik benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia.
73

Sedangkan menurut Pasal 1 angka 6 UUJF menyatakan bahwa lembaga pembiayaan

dapat orang perorangan atau korporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya

dijamin dengan Jaminan Fidusia. Didalam UUJF tidak terdapat pengaturan yang khusus

dengan syarat Lembaga pembiayaan, berarti perseorangan atau korporasi yang bertindak

sebagai lembaga pembiayaan ini dapat warga Negara Indonesia atau pihak asing, baik

yang berkedudukan didalam maupun di luar negeri, sepanjang dipergunakan untuk

kepentingan pembangunan di wilayah Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa subjek Jaminan Fidusia adalah

mereka yang dapat mengikatkan diri dalam perjanjian Jaminan Fidusia, yang terdiri dari

atas pihak Konsumen sebagai pemberi fidusia dan Lembaga pembiayaan. Dengan

demikian, konsumen adalah orang perseorangan atau korporasi pemilik benda yang

menjadi obyek Jaminan Fidusia, sedangkan lembaga pembiayaan adalah orang

perseorangan atau korporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin

dengan Jaminan Fidusia. 65 Kedudukan kreditur (Lembaga pembiayaan) itu sebagai

pemegang jaminan, sedang kewenangan sebagai pemilik yang dipunyainya ialah

kewenangan yang masih berhubungan dengan jaminan itu sendiri. Oleh karena itu,

dikatakan pula kewenangannya sebagai pemilik yang terbatas.

2.2.4 Proses Terjadinya Jaminan Fidusia

Mengenai proses terjadinya suatu Jaminan Fidusia pada dasarnya dilaksanakan

melalui dua tahap, yaitu:

1. Tahap Pembebanan Jaminan Fidusia

Pembebanan benda dengan Jaminan Fidusia dibuat dengan akta notaris dalam

bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan Fidusia. Dengan demikian, akta notaris

65
Purwahid Patrik dan Kashadi, Op. cit, hal. 39.
74

di sini merupakan syarat materil untuk berlakunya ketentuan-ketentuan UUJF atas

perjanjian penjaminan Fidusia, disamping juga sebagai alat bukti. Perlu diketahui,

bahwa suatu perjanjian pada umumnya tidak lahir pada saat penuangannya dalam suatu

akta, tetapi sudah ada sebelumnya, yaitu sudah ada sejak adanya kesepakatan antara

para pihak yang memenuhi syarat Pasal 1320 KUHPerdata dan penuangannya dalam

akta hanya dimaksudkan untuk mendapatkan alat bukti saja. Akta notarill merupakan

salah satu wujud akta otentik sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1868 dan Pasal 1870

KUHPerdata yang memberikan kekuatan pembuktian yang sempurna terhadap para

pihak dan ahli waris atau orang yang memdapatkan hak dari padanya. Alasan Undang-

undang menetapkan akta Jaminan Fidusia dengan Akta Notaris adalah :

a. Akta Notaris adalah akta otentik sehingga memiliki kekuatan pembuktian

sempurna;

b. Objek Jaminan Fidusia pada umumnya adalah benda bergerak;

c. Undang-undang melarang adanya fidusia ulang;

Sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 UUJF menyatakan bahwa akta Jaminan

Fidusia sekurang-kurangnya memuat mengenai:

a. Identitas pihak pemberi dan lembaga pembiayaan, identitas tersebut meliputi

nama lengkap, agama, tempat tinggal atau kedudukan dan tanggal lahir, jenis

kelamin, status perkawinan, dan pekerjaan.

b. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia, yaitu mengenai macam perjanjian,

dan utang yang dijamin dengan fidusia.

c. Uraian mengenai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.

Uraian mengenai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia cukup dilakukan

dengan mengidentifikasi benda tersebut, dan dijeIaskan mengenai surat bukti

kepemilikannya. Dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusa


75

merupakan benda dalam persediaan (inventory) yang selalu berubah-ubah dan

tidak tetap, seperti stok bahan baku, barang jadi, maka akta Jaminan Fidusia

dicantumkan uraian mengenai jenis, merek, kualitas dan benda tersebut.

d. Nilai penjaminan

e. NiIai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.

2. Tahap Pendaftaran Jaminan Fidusia

Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia wajib didaftarkan termasuk benda

yang dibebani dengan Jaminan Fidusia berada di luar wilayah Republik Indonesia.

Pendaftaran benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia dilaksanakan di tempat

kedudukan konsumen dan dilakukan pada kantor Pendaftaran Fidusia yang merupakan

bagian dalam lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Tujuan

pendaftaran fidusia tersebut adalah untuk melahirkan Jaminan Fidusia bagi lembaga

pembiayaan, memberikan kepastian kepada kreditur lain mengenai benda yang telah

dibebani Jaminan Fidusia, dan memberikan hak yang didahulukan terhadap kreditur dan

untuk memenuhi asas publisitas karena kantor pendaftaran terbuka untuk umum. 66

Permohonan pendaftaran dilakukan oleh lembaga pembiayaan, kuasa atau

wakilnya dengan melampirkan dokumen pernyataan pendaftaran Jaminan Fidusia, yang

meliputi:

a. Identitas pihak dan lembaga pembiayaan;

b. Tanggal, nomor akta Jaminan Fidusia, nama dan tempat kedudukan notaris yang

membuat akta Jaminan Fidusia;

c. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia;

66
Purwahid Patrik dan Kashadi, Op. cit., hal. 41.
76

d. Uraian mengenai benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia;

e. Nilai penjaminan, dan

f. Nilai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia. 67

Kantor Pendaftaran Fidusia selanjutnya mencatat jaminan dalam Buku Daftar

Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran

guna melakukan pengecekan data setelah dilakukan pendaftaran, maka kantor

Pendaftaran fidusia menerbitkan Sertifikat Jaminan Fidusia kepada lembaga

pembiayaan pada tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran Jaminan Fidusia.

Ketentuan ini dimaksudkan agar Kantor Pendaftaran Fidusia tidak melakukan penilaian

terhadap kebenaran yang dicantumkan dalam pernyataan pendaftaran Jaminan Fidusia,

akan tetapi hanya melakukan pengecekan data yang dimuat dalam pernyataan

pendaftaran fidusia. Tanggal pencatatan Jaminan Fidusia dalam buku Daftar Fidusia ini

dianggap sebagai Iahirnya Jaminan Fidusia. Dengan demikian pendaftaran Jaminan

Fidusia dalam Buku Daftar Fidusia, merupakan perbuatan konstitutif yang melahirkan

Jaminan Fidusia.

Penegasan Iebih lanjut dapat di lihat dalam ketentuan Pasal 28 UUJF yang

menyatakan apabila atas benda yang sama menjadi obyek jaminan lebih dan 1 (satu)

perjanjian Jaminan Fidusia, maka kreditur yang lebih dahulu mendaftarkannya adalah

lembaga pembiayaan. Hal ini penting diperhatikan oleh kreditur yang menjadi pihak

dalam perjanjian Jaminan Fidusia, karena hanya lembaga pembiayaan, kuasa atau

wakilnya yang boleh melakukan pendaftaran jaminan fidusia. Sebagai bukti bagi

kreditur bahwa ia merupakan penerima Jaminan Fidusia adalah Sertifikat Jaminan

Fidusia yang diterbitkan Kantor Pendaftaran Fidusia pada tanggal yang sama dengan

tanggal penerimaan permohonan pendaftaran.

67
Purwahid Patrik dan Kashadi, Op. cit., hal. 42.
77

Sertifikat Jaminan Fidusia ini sebenarnya merupakan salinan dari Buku Daftar

Fidusia yang memuat catatan tentang hal-hal yang sama dengan data dan keterangan

yang ada pada saat pernyataan pendaftaran. Dalam Sertifikat Jaminan Fidusia

dicantumkan kata-kata : DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN

YANG MAHA ESA, sehingga Sertifikat Jaminan Fidusia mempuyai kekuatan

eksekutorial yang bernilai sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai

kekuatan hukum tetap. Dengan berkekuatan hukum tetap, maka putusan tersebut

langsung dapat dilaksanakan tanpa melalui proses pengadilan dan bersifat final serta

mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut. 68

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diketahui bahwa pendaftaran objek

Jaminan Fidusia pada kantor pendaftaran Jaminan Fidusia memberikan kedudukan yang

kuat bagi pihak kreditur selaku penerima fidusia. Pendaftaran objek Jaminan Fidusia

agar kemudian mendapatkan sertifikat Jaminan Fidusia tentunya menjadi penting karena

objek Jaminan Fidusia masih berada dalam penguasaan debitur. Oleh karena itu,

pendaftaran Jaminan Fidusia menjadi sangat penting dan strategis guna memberikan

perlindungan hukum bagi para pihak yang terikat didalamnya.

2. 2. 5 Hapusnya Jaminan Fidusia

Hapusnya jaminan fidusia secara hukum disebabkan oleh hal-hal tertentu.

Bertalian dengan itu, ketentuan dalam Pasal 25 ayat (1) Undang-undang Jaminan

Fidusia menyatakan bahwa Jaminan Fidusia hapus karena hal-hal sebagai berikut:

a. Hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia;

b. Pelepasan hak atas Jaminan Fidusia oleh Lembaga pembiayaan; atau

c. Musnahnya benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia.


68
Purwahid Patrik dan Kashadi, Op. cit., hal. 43.
78

Sesuai dengan sifat accessoir dari Jaminan Fidusia, maka keberadaan dari

Jaminan Fidusia sangat tergantung pada adanya piutang yang dijamin pelunasannya.

Sebagaimana suatu perjanjian accessoir maka suatu Jaminan Fidusia akan hapus demi

hukum apabila utangnya pada perjanjian pokok yang menjadi sumber Iahirnya

perjanjian penjaminan Fidusia telah dilunasi. Dengan demikian, Jaminan Fidusia akan

hapus karena beberapa alasan, yakni:

a. Hapusnya utang yang dijamin dengan fidusia

Sesuai dengan sifat ikutan dari Jaminan Fidusia, maka adanya Jaminan Fidusia

tercantum pada adanya piutang yang dijamin pelunasannya. Apabila piutang

tersebut habis karena hapusnya utang, maka dengan sendirinya Jaminan Fidusia

yang bersangkutan hapus, dan hapusnya utang ini dapat dibuktikan dengan bukti

pelunasan atau bukti hapusnya hutang yang berupa keterangan yang dibuat oleh

kreditur. Adapun mengenai utang yang pelunasannya dijamin dengan Jaminan

Fidusia dapat berupa :

1) Utang yang telah ada;

2) Utang yang akan timbul dikemudian hari yang telah diperjanjikan dalam jumlah

tertentu. Utang yang akan timbul dikemudian hari yang dikenal dengan istilah

kontijen, misalnya utang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh

kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank.

3) Utang yang pada eksekusinya dapat ditentukan jumlahnya berdasarkan

perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban memenuhi prestasi. Utang

dimaksud adalah utang bunga atas pinjaman pokok dan biaya lainnya yang

jumlahnya dapat ditentukan dikemudian. 69

69
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op, cit., hal. 156-157.
79

b. Pelepasan hak atas Jaminan Fidusia oleh lembaga pembiayaan

Hapusnya fidusia karena pelepasan hak atas Jaminan Fidusia oleh lembaga

pembiayaan adalah wajar, mengingat pihak lembaga pembiayaan sebagai pihak

yang memiliki hak atas fidusia tersebut bebas untuk mempertahankan atau

melepaskan haknya.

c. Musnahnya benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia

Musnahnya benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia tidak akan menghapus

klaim asuransi, kecuali diperjanjikan lain. Jadi apabila benda yang menjadi obyek

Jaminan Fidusia musnah dan benda tersebut diasuransikan, maka klaim asuransi

akan mengganti Jaminan Fidusia.

2.3.Tinjauan Tentang Pembiayaan Konsumen

2.3.1 Pengertian Pembiayaan Konsumen

Pranata hukum Pembiayaan Konsumen dipakai sebagai terjemahan dan istilah

Consumer Finance Institution. Pembiayaan konsumen ini tidak lain dan sejenis kredit

konsumsi (Cunsumer Credit). Namun demikian, kredit konsumsi diberikan oleh bank

sedangkan pembiayaan konsumen dilakukan oleh lembaga pembiayaan. Pembiayaan

konsumen merupakan salah satu model pembiayaan yang dilakukan oleh Lembaga

pembiayaan, di samping kegiatan lembaga pembiayaan, factoring, kartu kredit dan

sebagainya. Target pasar dan pembiayaan konsumen ini sudah jelas, yaitu para

konsumen dan bukan kepada pihak produsennya.

Menurut Abdurrahman, pengertian kredit konsumsi sebenarnya secara substansif

dikemukakan sama saja dengan pembiayaan konsumen. Pendapat beliau dapat disimak
80

dalam bukunya yang berjudul Ensiklopedi Ekonomi Keuangan Perdagangan sebagai

berikut : 70

Kredit yang diberikan kepada konsumen-konsumen guna pembelian barang


konsumsi dan jasa-jasa seperti yang dibedakan dari pinjaman-pinjaman yang
digunakan untuk tujuan-tujuan produktif atau dagang. Kredit yang demikian itu
dapat mengandung resiko yang Iebih besar dari pada kredit dagang biasa maka
dari itu, biasanya kredit itu diberikan dengan tingkat bunga yang lebih tinggi.

Keputusan Menkeu No. 1251/KMK. 013/1988 selanjutnya memberikan

pengertian terkait pembiayaan konsumen sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dalam

bentuk penyediaan dana bagi konsumen untuk pembelian barang yang pembayarannya

diIakukan secara angsuran atau berkala oleh konsumen. Berdasarkan beberapa

pengertian di atas dapat disimak mengenai unsur-unsur yang terkandung dalam

pengertian pembiayaan konsumen, antara lain :

a. Subjek hukumnya adalah pihak-pihak yang terkait dalam hubungan hukum

pembiayaan konsumen, yaitu Lembaga Pembiayaan Konsumen (kreditur), dan

penyedia barang;

b. Objeknya adalah barang bergerak keperluan konsumen yang akan dipakai

untuk keperluan hidup atau keperluan rumah tangga, misalnya televise, kulkas,

mesin cuci, alat-alat dapur, perabot rumah tangga, kendaraan.

c. Perjanjian, yaitu perbuatan persetujuan pembiayaan yang diadakan antara

Lembaga Pembiayaan Konsumen serta jual beli antara dealer dan konsumen.

Perjanjian ini didukung oleh dokumen-dokumen.

70
A. Abdurrahman, 1999, Ensiklopedi Ekonomi Keuangan Perdagangan,
Pradnya Paramita, Jakarta, hal. 242.
81

d. Hubungan hak dan kewajiban, yaitu Lembaga Pembiayaan Konsumen wajib

membiayai harga pembelian barang yang diperlukan konsumen dan

membayarnya secara tunai kepada dealer. Konsumen wajib membayar secara

anggsuran kepada Lembaga Pembiayaan Konsumen, dan dealer wajib

menyerahkan barang kepada konsumen.

e. Jaminan, yaitu terdiri atas jaminan utama, jaminan pokok, dan jaminan

tambahan. Jaminan Utama berupa kepercayaan terhadap konsumen (debitur)

bahwa konsumen dapat dipercaya untuk membayar angsurannya sampai

selesai.

Berdasarkan unsur-unsur sebagaimana diuraikan di atas, dapat diidentifikasi

karakteristik dari pembiayaan konsumen serta perbedaannya dengan kegiatan sewa guna

usaha, khususnya dalam bentuk financial lease.

Mengenai karakteristik dari pembiayaan konsumen dapat diidentifiasi adalah

sebagai berikut:

a. Sasaran pembiayaan jelas, yaitu konsumen yang membutuhkan barang-barang

konsumsi.

b. Objek pembiayaan berupa barang-barang untuk kebutuhan atau konsumsi

konsumen.

c. Besarnya pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Pembiayaan Konsumen

kepada masing-masing konsumen relative kecil, sehingga resiko pembiayaan relatif

lebih aman karena pembiayaan tersebar pada banyak konsumen.


82

d. Pembayaran kembali oleh konsumen kepada Lembaga Pembiayaan Konsumen

dilakukan secara berkala/angsuran. 71

2.3.2 Pentingnya Jaminan Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen

Mengingat bahwa perjanjian pembiayaan konsumen merupakan perjanjian kredit

yang memerlukan sejumlah uang dan kemungkinan terjadinya kelalaian oleh pihak

konsumen yang tidak memiliki itikad baik dlam menjalankan perjanjian tersebut, untuk

menjamin kelancaran dan ketertiban pembayaran angsuran serta mencegah timbulnya

kerugian bagi lembaga pembiayaan, maka perlu adanya jaminan. Jaminan yang

diberikan dalam transaksi pembiayaan konsumen ini pada prinsipnya serupa dengan

jaminan terhadap perjanjian kredit bank pada umumnya, khususnya kredit konsumsi.

Jaminan dalam perjanjian pembiayaan dibagi dalam tiga kelompok yaitu :

a. Jaminan Utama

Sebagai suatu kredit, maka jaminan pokoknya adalah kepercayaan dari kreditur

kepada konsumen bahwa pihak konsumen dapat dipercaya dan sanggup membayar

hutang-hutangnya. Disini prinsip pemberian kredit berlaku, yaitu : Prinsip 5C

(Collateral, Capacity, Character, Capital dan Condition of Economy).

b. Jaminan Pokok

Sebagai jaminan pokok terhadap transaksi pembiayaan konsumen adalah barang

yang dibeli dengan dana tersebut. Biasanya jaminan tersebut dibuat dalam bentuk

Fiduciary Tranfery of Ownership (Fidusia). Karena adanya fidusia tersebut, maka

71
Sunaryo, 2009, Hukum Lembaga Pembiayaan, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 97
83

biasanya seluruh dokumen yang berkenaan dengan kepemilikan barang yang

bersangkutan akan dipegang oleh pihak pemberi biaya hingga kredit lunas.

c. Jaminan Tambahan

Disamping itu sering juga diminta jaminan tambahan terhadap transaksi pembiayaan

konsumen ini, biasanya jaminan tambahan tersebut berupa pengakuan hutang

(promissory notes), kuasa menjual barang dan (cessie) dan asuransi, juga jaminan

berupa persetujuan suami/istri untuk konsumen pribadi dan persetujuan

komisaris/RUPS untuk konsumen perusahaan, sesuai ketentuan anggaran dasarnya.


84

BAB III

EKSEKUSI TERHADAP BARANG JAMINAN FIDUSIA YANG TIDAK


TERDAFTARKAN OLEH LEMBAGA PEMBIAYAAN NON BANK

3.1. Eksekusi Barang Jaminan

Eksekusi berasal dari bahasa Belanda disebut Executie atau Uitvoering, dalam

kamus hukum diartikan sebagai Pelaksanaan Putusan Pengadilan. Menurut R. Subekti,

Eksekusi adalah upaya dari pihak yang dimenangkan dalam putusan guna

mendapatkan yang menjadi haknya dengan bantuan kekuatan hukum, memaksa pihak

yang dikalahkan untuk melaksanakan putusan. 72 Lebih lanjut dikemukakannya bahwa

pengertian Eksekusi atau pelaksanaan putusan, mengandung arti, bahwa pihak yang

dikalahkan tidak mau melaksanakan putusan tersebut secara sukarela, sehingga putusan

itu harus dipaksakan padanya dengan bantuan dengan kekuatan hukum. Dengan

kekuatan hukum ini dimaksudkan pada polisi, kalau perlu polisi militer (Angkatan

bersenjata). 73

Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata menyatakan, bahwa

Eksekusi adalah Tindakan paksaan oleh Pengadilan terhadap pihak yang kalah dan tidak

mau melaksanakan putusan dengan sukarela.74 Sedangkan Sudikno Mertokusumo,

menyatakan pelaksanaan putusan / Eksekusi ialah realisasi dari kewajiban pihak yang

bersangkutan untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut. 75

72
Subekti,1989, Hukum Acara Perdata, PT. Bina Cipta, Bandung, hal. 128.
73
Ibid, hal. 130.
74
Renowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, 1997, Hukum Acara
Perdata Dalam Teori dan Praktek, PT. Mandar Maju, Bandung, hal. 10.
75
Sudikno Mertokusumo, 1989, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty,
Yogyakarta, hal. 206.
69
85

Masih sejalan dengan pendapat tersebut di atas M Yahya Harahap menyatakan

bahwa :

Eksekusi adalah sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan


kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara merupakan aturan dan tata cara
lanjutan dari proses pemeriksaan perkara. Oleh karena itu, Eksekusi tiada lain
dari pada tindakan yang berkesinambungan dari seluruh proses Hukum Acara
Perdata. Eksekusi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan
pelaksanaan tata tertib beracara yang terkandung dalam HIR/Rbg. 76

Selanjutnya ketentuan yang tercantum dalam Pasal 29 UUJF memberikan pengertian

mengenai Eksekusi adalah sebagai pelaksanaan titel eksekutorial oleh lembaga

pembiayaan, berarti eksekusi langsung dapat dilaksanakan tanpa melalui pengadilan dan

bersifat final serta mengikat para pihak untuk melaksanakan putusan tersebut. Bertitik

tolak pada ketentuan Bab kesepuluh bagian V HIR dan title keempat Rbg, pengertian

Eksekusi sama dengan pengertian menjalankan putusan pengadilan. Melaksanakan isi

putusan pengadilan yakni melaksanakan secara paksa putusan pengadilan dengan

bantuan kekuatan umum bila pihak yang kalah (pihak tereksekusi/pihak tergugat) tidak

mau menjalankan secara sukarela. 77

Menurut R. Soepomo, hukum eksekusi adalah hukum yang mengatur cara dan

syarat yang dipakai oleh alat-alat Negara guna membantu pihak-pihak yang

berkepentingan untuk menjalankan keputusan Hakim apabila pihak yang kalah tidak

bersedia memenuhi bunyi putusan dalam waktu yang teah ditentukan. 78 Pendapat lain

mengenai Hukum Eksekusi juga dikemukakan oleh Sri Soedewi Masjchoen Sofwan,

yang menyatakan hukum eksekusi adalah Hukum yang mengatur tentang pelaksanaan

76
M. Yahya Harahap, 1991, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang
Perdata, PT. Gramedia, Jakarta, hal. 1.
77
Ibid, hal. 5.
78
R. Soepomo, 1989, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, 1989, PT.
Pradnya Paramita, Jakarta, hal. 119.
86

hak-hak kreditur dalam perutangan yang tertuju terhadap harta kekayaan debitur,

manakala perutangan itu tidak dipenuhi secara sukarela oleh debitur.79

Hukum Eksekusi ini sebenarnya tidak diperlukan apabila yang dikalahkan

dengan sukarela mentaati bunyi putusan. Namun demikian, dalam kenyataan tidak

semua pihak mentaati bunyi putusan dengan sepenuhnya. OIeh karena itu diperlukan

suatu aturan bila putusan itu tidak ditaati beserta tata cara pelaksanaannya.80

Apabila dilihat pengertian eksekusi menurut para sarjana di atas, tampak bahwa

konsep eksekusi terbatas pada eksekusi oleh Pengadilan (putusan hakim), padahal yang

juga dapat dieksekusi menurut Hukum Acara Perdata yang berlaku yakni HIR dan Rbg,

yang juga dapat dieksekusi juga termasuk terhadap salinan/grosse Akta yang memuat

irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang maha Esa dan mengatur

adanya kewajiban untuk membayar sejumlah uang. Hal ini sejalan dengan pendapat

Bachtiar Sibarani yang mengemukakan mengenai pengertian eksekusi bahwa Eksekusi

adalah pelaksanaan secara paksa putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan

hukum tetap/pelaksanaan secara paksa dokumen perjanjian yang dipersamakan dengan

putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.81 Pendapat mengenai

pengertian eksekusi yang Iebih luas juga dikemukakan oleh Mochammad Djais, yang

menyatakan Eksekusi adalah upaya kreditur mereaIisasi hak secara paksa karena

debitur tidak mau secara sukarela memenuhi kewajibannya. Dengan demikian eksekusi

merupakan bagian dari proses penyelesaian sengketa hukum. Menurut pandangan

79
Sri Soedewi, Op. Cit. , hal. 31.
80
Aten Affandi, Wahyu Affandi, 1983, Tentang Melaksanakan Putusan Hakim
Perdata, Alumni, Bandung, hal. 32.
81
Bachtiar Sibarani, 2001, Haircut atau Pareta Eksekusi, Jurnal Hukum Bisnis,
hal. 6.
87

hukum Eksekusi obyek Eksekusi tidak hanya putusan hakim dan Grosse Akta.82

Dengan demikian dapat disimak bahwa pengertian eksekusi dalam perkara perdata

adalah upaya pihak kreditur untuk merealisasikan hak-haknya secara paksa dalam hal

pihak debitur tidak secara sukarela memenuhi kewajibannya yang tidak hanya putusan

hakim, tetapi pelaksanaan Grosse Akta serta pelaksanaan putusan dari institusi yang

berwenang atau bahkan kreditur secara langsung.

Mengenai jenis-jenis eksekusi dapat dilihat dari beberapa pendapat para sarjana.

Menurut Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata eksekusi dapat dibedakan

menjadi beberapa bagian, adapun pembagian jenis eksekusi meliputi :

a. Eksekusi Pasal 196 HIR, yaitu eksekusi pembayaran sejumlah uang.

b. Eksekusi yang diatur dalam Pasal 225 HIR, yaitu menghukum seorang

melakukan sesuatu perbuatan.

c. Eksekusi RiiI yang dalam praktek banyak dilakukan tetapi tidak diatur dalam

HIR. 83

Apabila dilihat berdasarkan obyeknya, eksekusi tersebut dapat dibedakan

menjadi 6 (enam) jenis, yakni :

a. Eksekusi Putusan Hakim

b. Eksekusi Benda Jaminan

c. Eksekusi Grosse Akta

d. Eksekusi terhadap sesuatu yang mengganggu hak dan kewajiban.

e. Eksekusi Surat Pernyataan bersama.

f. Eksekusi Surat Paksa.

82
Mochammad Djais, 2000, Hukum Eksekusi Sebagai Wacana Baru Dibidang
Hukum, disampaikan dalam rangka Dies Natalis ke-43, Fakultas Hukum, Undip, hal. 7.
83
Retnowulan, Op. cit. , hal. 130.
88

Selanjutnya berdasarkan prosedur eksekusi, maka jenis eksekusi dapat dibedakan

menjadi :

a. Eksekusi Putusan Hakim yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar

sejumlah uang.

b. Eksekusi Riil, dibedakan menjadi :

1) Eksekusi Riil terhadap putusan hakim untuk mengosongkan suatu benda tetap

dan menyerahkan kepada yang berhak.

2) Eksekusi Riil terhadap obyek Ielang.

3) Eksekusi RiiI berdasarkan Undang-undang, diatur dalam Pasal 666

KUHPerdata.

4) Eksekusi Riil berdasarkan perjanjian (perjanjian dengan kuasa dan perjanjian

dengan penegasan terhadap piutang sebagai jaminan dan benda miliknya

sendiri).

c. Eksekusi putusan yang menghukum orang untuk melakukan perbuatan, mengingat

dalam perkara perdata tidak boleh dilakukan siksaan badan, maka eksekusi ini

berkaitan dengan perbuatan yang harus dilakukan dan dapat dinilai dengan sejumlah

uang.

d. Eksekusi dengan pertolongan hakim, yaitu eksekusi atas Grosse Akta.

e. Parate eksekusi atau eksekusi langsung.

f. Eksekusi dengan penjualan dibawah tangan, yang dimaksud disini adalah eksekusi

dilakukan dengan penjualan dibawah tangan sebagaimana telah diperjanjikan

sebelumnya.

g. Penjualan di pasar atau bursa. Dalam hal obyek jaminan gadai atau fidusia adalah

barang perdagangan atau efek yang dapat diperdagangkan atau dijual di pasar atau

bursa, maka jika debitur wanprestasi pihak kreditur pemegang gadai fidusia dapat
89

menjual obyek jaminan gadai atau fidusia di pasar bursa Pasal 1155 (2)

KUHPerdata, Pasal 31 UUJF.

h. Eksekusi berdasarkan ijin hakim. Dalam hal debitur wanprestasi, pemegang gadai

dapat mengajukan permohonan kepada hakim untuk menentukan cara penjualan

obyek gadai atau menentukan suatu jumlah uang tertentu sebagai harga barang yang

harus dibayar oleh penerima gadai kepada pemberi gadai, selanjutnya obyek gadai

pemberi gadai, selanjutnya obyek gadai menjadi milik penerima gadai Pasal 1156

KUHPerdata.

Sudikno Mertokusumo juga mengemukakan pembagian jenis-jenis eksekusi

sebagai berikut:

a. Eksekusi Putusan yang menghukum untuk membayar sejumlah uang, diatur

dalam Pasal 196 HR/Pasal 208 Rbg.

b. Eksekusi Putusan yang menghukum orang untuk melakukan atau tidak

melakukan suatu perbuatan diatur dalam Pasal 225 HIR/Pasal 259 Rbg.

c. Eksekusi Rill, yaltu pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan

pengosongan benda tetap, diatur dalam Pasal 1033 RV, HIR hanya mengenal

Eksekusi Riil dalam penjualan lelang, diatur dalam Pasal 200 HIR/Pasal Rbg. 84

Dalam hal eksekusi dilaksanakan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri, maka

eksekusi bersangkutan baru dapat dilaksanakan jika putusan tersebut telah mempunyai

kekuatan hukum yang tetap. Dalam hal ini, baik penggugat maupun tergugat telah

menerima putusan yang dijatuhkan dan tidak lagi melakukan upaya hukum yang

tersedia.

84
Sudikno Mertokusumo, Op. cit. , hal. 210.
90

Dalam pemberian kredit dengan Jaminan Fidusia terkadang tidak selalu sesuai

dengan apa yang diperjanjikan sebelumnya. Salah satu ciri Jaminan Fidusia adalah

mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya, apabila pemberi fidusia (debitor)

cidera janji. Walaupun secara umum ketentuan mengenai eksekusi telah diatur dalam

Hukum Acara Perdata yang berlaku, namun dipandang perlu juga untuk memasukkan

secara khusus ketentuan mengenai eksekusi dalam UUJF terkait dengan ketentuan

mengenai lembaga parate eksekusi.85 Apabila dikemudian hari debitur wanprestasi,

maka menurut keketentuan Pasal 29 UUJF dapat dilakukan eksekusi atas objek Jaminan

Fidusia dengan cara sebagai berikut :

a. Pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 (2) oleh

Lembaga pembiayaan;

b. Penjualan benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaan lembaga

pembiayaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan

piutangnya dari hasil penjualan;

c. Penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi

dan lembaga pembiayaan jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga

tertinggi yang menguntungkan para pihak.

Dalam rangka pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia, debitur wajib

menyerahkan benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia. Apabila debitur tidak

menyerahkan jamian fidusia tersebut pada waktu eksekusi dilaksanakan, kreditur berhak

mengambil benda yang menjadi obyek jamian fidusia tersebut dan kalau perlu meminta

bantuan pihak yang berwenang. Dalam hal benda yang menjadi obyek jamian fidusia

terdiri atas benda perdagangan atau efek yang dapat diperjualbelikan di pasar bursa

85
Rachmadi Usman, Op. cit., hsl. 229
91

efek, atau penjualannya dapat dilakukan di tempat-tempat tersebut sesuai dengan

peraturan yang berlaku.

Setiap janji untuk melaksanakan eksekusi terhadap obyek Jaminan Fidusia

dengan cara bertentangan dengan ketentuan tersebut di atas batal demi hukum serta

setiap janji memberikan kewenangan kepada konsumen untuk memiliki benda yang

menjadi obyek Jaminan Fidusia apabila debitur cidera janji adalah batal dem hukum.

Dalam hal hasil eksekusi melebihi nilai seluruh sisa seluruh utang debitur, kreditur

wajib mengembalikan kelebihan tersebut kepada debitur, namun apabila hasil eksekusi

tidak mencukupi untuk pelunasan utang, debitur tetap bertanggung jawab atas utang

yang belum dibayar.

3.2. Dasar Hukum yang Melandasi Kreditur Melakukan Eksekusi Terhadap


Barang Jaminan

Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan pembiayaan

pengadaan barang untuk kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran

berkala. lembaga pembiayaan ini sesuai dengan Keppres No. 61 Tahun 1998 harus

berbentuk badan hukum, yaitu Perseroan Terbatas atau Koperasi. Dalam transaksi

pembiayaan konsumen, Lembaga Pembiayaan Konsumen berkedudukan sebagai

kreditur, yaitu pihak pemberi biaya kepada konsumen. Pembiayaan konsumen

merupakan lembaga pembiayaan yang kegiatannya berupa penyediaan dana oleh

Lembaga Pembiayaan Konsumen kepada konsumen untuk pembelian suatu barang dari

dealer, yang pembayarannya dilakukan secara berkala (angsuran) oleh konsumen.

Dengan demikian, dalam transaksi pembiayaan konsumen, ada tiga pihak yang terlibat

dalam hubungan hukum pembiayaan konsumen, yaitu Lembaga Pembiayaan

Konsumen, konsumen, dan dealer.


92

Adapun yang dimaksud dengan Konsumen adalah pembeli barang yang dananya

dibiayai oleh Lembaga Pembiayaan Konsumen. Menurut ketentuan yang tercantum

dalam Keppres No. 61 Tahun 1988 tidak ditentukan tentang status konsumen. Dengan

demikian, konsumen tersebut dapat berstatus perseorangan dapat juga berstatus badan

usaha. Dalam transaksi pembiayaan konsumen, konsumen ini berkedudukan sebagai

debitur, yaitu pihak penerima biaya dan Lembaga Pembiayaan Konsumen.

Selain konsumen dalam suatu lembaga pembiayaan dikenal istilah dealer.

Adapun yang dimaksud dengan Dealer adalah penjual, yaitu perusahaan atau pihak-

pihak yang menjual atau menyediakan barang-barang yang dibutuhkan konsumen dalam

rangka pembiayaan konsumen. Barang-barang yang dijual atau disediakan oleh dealer

merupakan barang-barang konsumsi, seperti kendaraan bermotor, barang-barang

elektronik, komputer, kebutuhan rumah tangga, dan sebagainya. Pembayaran atas harga

barang-barang yang dibutuhkan konsumen tersebut dilakukan oleh lembaga pembiayaan

kepada dealer. Selanjutnya, hubungan antara pihak-pihak dalam pembiayaan konsumen

tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Perjanjian jual beli perjanjian bersyarat

KONSUMEN DEALER LEMBAGA PEMBIAYAAN

Perjanjian pembiayaan konsumen


93

a. Hubungan antara lembaga pembiayaan dan Konsumen

Perjanjian pembiayaan konsumen merupakan perjanjian yang melandasi

terjadinya hubungan antara lembaga pembiayaan dan konsumen. Berdasarkan atas

dasar perjanjian yang sudah mereka tanda tangani, secara yuridis para pihak terkait

akan hak dan kewajiban masing-masing. Konsekuensi yuridis selanjutnya adalah

perjnajian tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik (in good faith) dan tidak

dapat dibatalkan secara sepihak (unilateral unavoidable). Adapun kewajiban

lembaga pembiayaan adalah menyediakan dana (kredit) berupa sejumlah uang yang

dibayarkan secara tunai kepada dealer untuk melunasi sisa pembelian motor.

Adapun kewajiban dari konsumen adalah membayar kembali secara berkala

(angsuran) sampai lunas kepada lembaga pembiayaan. Jadi hubungan antara

lembaga pembiayaan dengan konsumen, sejenis dengan perjanjian kredit pada

umumnya. Dengan demikian ketentuan-ketentuan tentang perjanjian kredit dalam

KUHPerdata berlaku sepanjang tidak ditentukan lain.

Hak dari lembaga pembiayaan adalah menerima pembayaran kembali dana

(kredit) secara berkala (angsuran) sampai lunas dari konsumen. Sedangkan hak

konsumen adalah menerima pembiayaan dalam bentuk dana (kredit) sejumlah uang

yang dibayarkan secara tunai kepada dealer untuk pembelian barang yang

dibutuhkan konsumen.

b. Hubungan antara lembaga pembiayaan dan Dealer

Dalam hubungan yang terjadi antara lembaga pembiayaan dan dealer tidak

ada hubungan kontraktual. Antara lembaga pembiayaan dan dealer tidak ada

hubungan hukum yang khusus, kecuali hanya lembaga pembiayaan sebagai pihak
94

ketiga yang disyaratkan. Maksud persyaratan tersebut adalah pembayaran atas

barang-barang yang dibeli dari dealer akan dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu

lembaga pembiayaan.

c. Hubungan antara Konsumen dan dealer.

Untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan, maka konsumen akan datang

atau menghubungi dealer sebagai penjual atau penyedia barang. Dengan demikian,

dalam transaksi pembiayaan konsumen ada 2 (dua) hubungan kontraktual, yaitu :

1. Penjanjian pembiayaan konsumen antara lembaga pembiayaan dan

konsumen;

2. Perjanjian jual beli antara dealer dan konsumen

Uraian tentang perjanjian pembiayaan antara lembaga pembiayaan dan

konsumen sudah dibahas di atas. Adapun hubungan antara konsumen dan dealer

terjadi karena adanya perjanjian jual beli, dalam hal ini perjanjian jual beli bersyarat.

Dalam hal perjanjian jual beli bersyarat bahwa pembayaran atas harga barang akan

dilakukan oleh pihak ketiga, yaitu lembaga pembiayaan. Dengan demikian, apabila

karena alasan apapun pihak ketiga, dalam hal ini lembaga pembiayaan melakukan

wanprestasi, yaitu tidak melakukan pembayaran secara tunai kepada dealer, maka

jual beli antara dealer dan konsumen akan dibatalkan (voidable). Karena hubungan

antara dealer dan konsumen terjadi atas dasar perbuatan jual beli, maka semua

ketentuan tentang jual beli berlaku dalam pembiayaan konsumen sepanjang relevan

dan/atau tidak ditentukan lain. Ketentuan-ketentuan dimaksud misalnya tentang

ketentuan kewajiban menanggung dari pihak dealer bahwa barang tidak ada cacat

tersembunyi, dan kewajiban layanan purnajual (after sale service).


95

Menurut Hukum Perdata yang berlaku di Indonesia tersirat bahwa ketentuan

Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata menganut asas kebebasan berkontrak yang

menyatakan bahwa semua kontrak (perjanjian) yang dibuat secara sah berlaku sebagai

undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Adapun yag menjadi sumber dari

kebebasan berkontrak adalah kebebasan individu sehingga yang merupakan titik

tolaknya adalah kepentingan individu. Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami

bahwa kebebasan individu memberikan kepadanya kebebasan untuk berkontrak namun

kontrak yang dibuatnya tersebut juga tidak boleh bertentangan dengan peraturan

perundnag-undangan, norma kesopanan dan ketertiban umum.

Berlakunya asas konsensualisme menurut hukum perjanjian Indonesia

memantapkan adanya asas kebebasan berkontrak. Tanpa adanya kata sepakat dari salah

satu pihak yang membuat perjanjian, maka perjanjian yang dibuat dapat dibatalkan.

Orang tidak dapat dipaksakan kehendaknya untuk sepakat atas suatu perjanjian. Sepakat

yang diberikan dengan paksa adalah Contradictio interminis. Apabila dalam suatu

perjanjian kemudian terjadi paksaan, menunjukkan tidak adanya sepakat. Maka yang

mungkin dilakukan oleh pihak lain adalah untuk memberikan pilihan kepadanya, yaitu

untuk setuju mengikatkan diri pada perjanjian yang dimaksud, atau menolak

mengikatkan diri pada perjanjian dengan akibat transaksi yang diinginkan tidak

terlaksana (take it or leave it).

Berdasarkan hukum perjanjian Indonesia seseorang bebas untuk membuat

perjanjian dengan pihakmanapun yang dikehendakinya. Undang-undang hanya

mengatur orang-orang tertentu yang tidak cakap untuk membuat perjanjian, pengaturan

mengenai hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1330 KUHPerdata. Berdasarkan ketentuan
96

yang tercantum dalam pasal ini dapat disimak bahwa setiap orang bebas untuk memilih

pihak yang ia inginkan untuk membuat perianjian, asalkan pihak tersebut bukan pihak

yang tidak cakap. Kemudian lebih lanjut dalam Pasal 1331 KUHPerdata, menyatakan

bahwa andaikata seseorang membuat perjianjian dengan pihak yang dianggap tidak

cakap menurut Pasal 1330 KUH Perdata tersebut, maka perjanjian itu tetap sah selama

tidak dituntut pembatalannya oleh pihak yang cakap.

KUHPerdata tidak mengatur mengenai larangan kepada seseorang untuk

membuat perjanjian dalam bentuk tertentu yang dikehendakinya begitupula dalam

ketentuan perundang-undangan lainnya. Ketentuan yang ada adalah bahwa untuk

perjanjian tertentu harus dibuat dalam bentuk tertentu misalnya perjanjian kuasa

memasang hipotik harus dibuat dengan akta notaris atau perjanjian jual beli tanah harus

dibuat dengan PPAT. Dengan demikian dapat disimak bahwa sepanjang ketentuan

perundang-undangan tidak menentukan bahwa suatu perjanjian harus dibuat dalam

bentuk tertentu, maka para pihak bebas untuk memilih bentuk perjanjian yang

dikehendaki, yaitu secara lisan atau tertulis atau perjanjian dibuat dengan akta dibawah

tangan atau akta otentik.

Asas kebebasan berkontrak yang dimaksud dalam KUHPerdata bukannya bebas

mutlak. Ada beberapa pembatasan yang diberikan KUH Perdata terhadap asas ini yang

membuat asas ini merupakan asas tidak tak terbatas. Pasal 1320 ayat (1) menentukan

bahwa perjanjian atau, kontrak tidak sah apabila dibuat tanpa adanya konsensus atau

sepakat dari para pihak yang membuatnya. Ketentuan tersebut mengandung pengertian

bahwa kebebasan suatu pihak untuk menentukan isi perjanjian dibatasi oleh sepakat
97

pihak lainnya. Dengan kata lain asas kebebasan berkontrak dibatasi oleh kesepakatan

para pihak.

Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1320 ayat (2) KUHPerdata

dapat diketahui bahwa kebebasan orang untuk membuat perjanjian dibatasi oleh

kecakapannya untuk membuat perjanjian. Bagi seseorang yang menurut ketentuan

undang-undang tidak cakap untuk membuat perjanjian sama sekali tidak mempunyai

kebebasan, untuk membuat perjanjian. Menurut ketentuan Pasal 1330 KUHPerdata,

orang yang belum dewasa dan orang yang diletakkan di bawah pengampuan tidak

mempunyai kecakapan untuk membuat perjanjian. Pasal 108 KUHPerdata dan 110

KUHPerdata menentukan bahwa istri (wanita yang telah bersuami) tidak terwenang

untuk melakukan perbuatan hukum tanpa bantuan atau izin suaminya. Namun

berdasarkan fatwa Mahkamah Agung, melalui Surat Edaran Mahkamah Agung No.

3/1963 tanggal 5 September 1963, dinyatakan bahwa Pasal 108 dan 110 tersebut pada

saat ini sudah tidak berlaku.

Pasal 1320 ayat (3) KUHPerdata menyatakan suatu hal tertentu merupakan

pokok perjanjian sehingga dapat diketahui bahwa obyek perjanjian haruslah dapat

ditentukan, merupakan prestasi yang harus dipenuhi dalam suatu perjanjian. Prestasi itu

harus tertentu atau sekurang-kurangnya dapat ditentukan. Apa yang diperjanjikan harus

cukup jelas ditentukan jenisnya, jumlahnya boleh tidak disebutkan asal dapat dihitung

atau ditetapkan. Syarat bahwa prestasi harus atau dapat ditentukan, gunanya ialah untuk

menetapkan hak dan kewajiban kedua belah pihak jika timbul perselisihan dalam

pelaksanaan perjanjian bersangkutan. Jika prestasi kabur atau dirasakan kurang jelas
98

yang menyebabkan perjanjian itu tidak dapat dilaksanakan, maka dianggap tidak ada

obyek perjanjian dan akibat hukum perjanjian itu batal demi hukum .

Menurut ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1320 KUHPerdata jo. Pasal

1337 KUHPerdata menyatakan bahwa para pihak tidak bebas untuk membuat perjanjian

yang menyangkut klausa yang dilarang oleh undang-undang. Menurut undang-undang

causa atau sebab itu halal apabila tidak dilarang oleh undang-undang dan tidak

bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan. Akibat hukum perjanjian yang

berisi sebab yang tidak halal ialah perjanjian itu batal demi hukum. Mengenai obyek

perjanjian diatur lebih lanjut dalam Pasal 1332 yang menyebutkan bahwa hanya barang-

barang yang dapat diperdagangkan saja yang dapat menjadi pokok suatu perjanjian.

Dengan demikian maka menurut pasal tersebut hanya barang-barang yang mempunyai

nilai ekonomis yang dapat dijadikan obyek suatu perjanjian.

Mengenai pembatasan terhadap asas kebebasan berkontrak juga dapat disimak

dalam ketentuan yang tercantum Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata yang menyatakan

bahwa suatu perjanjian hanya dilaksanakan dengan itikad baik. Oleh karena itu para

pihak tidak dapat menentukan sekehendak hatinya klausul-klausul yang terdapat dalam

perjanjiian tetapi harus didasarkan dan dilaksanakan dengan itikad baik. Perjanjian yang

didasarkan pada itikad buruk misalnya penipuan mempunyai akibat hukum perjanjian

tersebut dapat dibatalkan.

Mengenai isi perjanjian pada dasarnya adalah ketentuan-ketentuan dan syarat-

syarat yang telah diperjanjikan oleh pihak-pihak. Menurut Pasal 1347 KUHPerdata,

elemen-elemen dari suatu perjanjian meliputi :


99

a. isi perjanjian itu sendiri,

b. kepatutan,

c. kebiasaan,

d. Undang-Undang.

Berdasarkan Pasal 1243 KUHPerdata jo. Pasal 1763 KUHperdata, adapun

faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya cidera janji atau juga dikenal dengan

istilah wanprestasi oleh seorang debitur adalah sebagai berikut :

1. Telah lalai dalam memenuhi suatu perjanjian;

2. Tidak menyerahkan atau membayar dalam jangka waktu yang ditentukan;

3. Tidak berbuat sesuai yang telah diperjanjikan dalam tenggat waktu yang

ditentukan;

4. Tidak mengembalikan pinjaman sesuai dengan jumlah pinjaman dalam waktu

yang ditentukan.

Eksekusi atas barang jaminan dalam hal terjadinya wanprestasi tehadap

pembayaran angsuran oleh konsumen dilakukan oleh lembaga pembiayaan sebagai

pemberi fasilitas. Lembaga pembiayaan mengambil kembali barang jaminan pada

dasarnya sesuai dengan klausul perjanjian yang sudah disepakati tentang Hak dan

Kewajiban atas Barang Jaminan. Menurut Bapak I Wayan Sutedja, selaku Remedial

Section Head pada PT. FIF Group Cabang Denpasar, menyatakan bahwa apabila

pembeli lalai atau melakukan wanprestasi dalam hal pembayaran angsuran, maka

kendaraan bermotor tersebut diambil kembali oleh penjual dan dijual dengan harga

pasaran. Hasil penjualan tersebut akan digunakan untuk melunasi angsuran-angsuran,

denda-denda yang belum dibayar oleh pembeli, maupun biaya-biaya yang dikeluarkan
100

penjual untuk pengambilan kembali kendaraan tersebut. Apabila dari hasil penjualan

masih ada kekurangan, maka pembeli wajib melunasi sisanya, sebaliknya apabila ada

kelebihan maka kelebihan tersebut akan diserahkan kepada pembeli. (berdasarkan hasil

wawancara pada pada hari Selasa tanggal 17 Maret 2013). Dengan demikian, pembeli

menanggung sepenuhnya resiko dalam perjanjian pembiayaan konsumen kendaraan

bermotor sebagaimana ditentukan dalam perjanjian pembiayaan. Bahkan dalam klausula

perjanjian disebutkan bahwa apabila terjadi sesuatu pada barang kendaraan bermotor

baik seluruh ataupun sebagian yang menyebabkan musnahnya barang karena sebab

apapun, termasuk pada keadaan memaksa (overmacht) sekalipun, pembeli wajib

membayar kerugian kepada penjual sejumlah harga yang disesuaikan dengan nilai

barang kendaraan bermotor tersebut.

Akta perjanjian pembiayaan konsumen dalam praktek berbentuk perjanjian baku

(standard contract), dengan judul Surat Perjanjian Pembiayaan konsumen. Lembaga

Pembiayaan Konsumen tersebut menyodorkan bentuk perjanjian yang berbentuk

formulir dengan klausul-klausul yang sudah ada. Akta perjanjian itu dapat langsung

mengikat para pihak apabila konsumen setuju mengenai klausul-klausul dari akta

perjanjian melalui pembubuhan tanda tangani kedua belah pihak. Hal ini diperkuat

dengan penjelasan dari Ibu Made Arwati selaku konsumen PT. FIF Group yang

menyatakan bahwa sebagai bukti dari terjadinya pengikatan perjanjian pembiayaan

beliau hanya diberikan surat perjanjian pembiayan konsumen oleh PT. FIF Group.

(berdasarkan hasil wawancara pada hari Senin tanggal 24 April 2013)

Dalam suatu akta perjanjian diterangkan hubungan yang dikehendaki para pihak

antara lembaga pembiayaan sebagai pihak pertama atau pelaku usaha atau penjual,
101

dengan konsumen atau disebut pembeli atau pihak kedua selanjutnya disebut pembeli.

Kemudian dalam akta tersebut dinyatakan bahwa penjual telah menyerahkan kepada

pembeli, sebagaimana pembeli telah menerima dari penjual atas dasar perjanjian

pembiayaan konsumen. Syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang lazim dipergunakan

oleh pihak kreditur terhadap debitur agar debitur menyerahkan barang Jaminan Fidusia

sebagaimana isi dari Perjanjian Pembiayaan Konsumen PT. FIF antara lain :

a. Barang tersebut tetap dipegang oleh debitur, tetapi debitur tidak lagi sebagai

pemilik melainkan sebagai peminjam atau pemakai saja dari kreditur.

b. Debitur mengetahui dan menyetujui bahwa faktur atau BPKB akan

dikeluarkan atas nama debitur, akan tetapi selama hutang debitur kepada

kreditur belum dibayar lunas, maka surat-surat bukti kepemilikan kendaraan

bermotor tersebut akan ditahan dan disimpan kreditur dan untuk

dipergunakan dimana dan bilamana perlu debitur dengan cara dan alasan

apapun juga tidak berhak untuk meminta atau meminjam BPKB dan faktur

tersebut di atas selama seluruh hutang debitur kepada kreditur belum dibayar

lunas.

c. Debitur dilarang untuk meminjamkan, menyewakan, mengalihkan,

menjaminkan atau menyerahkan penguasaan atau penggunaan atas barang

tersebut kepada pihak ketiga dengan jalan apapun juga.

d. Debitur wajib memelihara dan mengurus barang tersebut sebaik-baiknya dan

melakukan segera pemeliharaan dan perbaikan atas biaya sendiri dan bila

ada bagian dari kendaraan yang diganti atau ditambah, maka itu termasuk

dalam penyerahan secara fidusia kepada kreditur.


102

e. Kreditur atau kuasanya berhak untuk sewaktu-waktu jika dianggap perlu

memasuki tempat-tempat dimana barang tersebut disimpan atau terdapat,

atau diduga oleh kreditur berada di tempat tertentu untuk memeriksa

keadaanya serta melihat kondisinya. Kreditur berhak pula mendapat

pengembalian biaya dari debitur agar barang tersebut dalam keadaan baik

dan terpelihara.

f. Segala pajak dan beban lainnya yang sekarang telah dan atau kemudian hari

akan dikenakan terhadap barang wajib dipikul dan dibayar seluruhnya oleh

debitur. Debitur harus mengasuransikan barang tersebut bahaya/kecelakaan

dengan premi yang dibayar oleh debitur. Apabila debitur lalai

mengasuransikan barang tersebut maka segala resiko terhadap kecelakaan

dan kehilangan sepenuhnya ditanggung oleh debitur. Pelanggaran terhadap

ketentuan ini tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan atau

menunda kewajiban pembayaran angsuran debitur kepada kreditur.

g. Apabila tidak melunasi hutangnya, atau tidak memenuhi kewajibannya

kepada atau terhadap kreditur, maka kreditur berhak dan dengan diberikuasa

dengan hak substitusi oleh debitur untuk menjual secara dibawah tangan atau

dengan perantara pihak lain siapapun adanya barang tersebut di atas,

demikian dengan harga pasar dengan layak dan syarat-syarat serta ketentuan

yang dianggap baik oleh kreditur.

h. Setelah barang ditarik atau diambil oleh kreditur, debitur melepaskan haknya

untuk membayar jumlah angsuran yang telah lewat waktu jatuh tempo

tersebut dan kreditur berhak penuh melaksanakan penjualan atau barang


103

yang diambil tersebut. Untuk menghadap kepada siapapun dan dimanapun,

memberikan dan meminta keterangan membuat atau menyuruh pembuat akta

atau perjanjian. Perjanjian yang dimaksudkan antara lain: akta jual-beli, atau

risalah lelangnya, menandatangani tanda penerimanya, menyerahkan barang

tersebut kepada yang berhak menerimanya dan selanjutnya melakukan

tindakan tanpa ada yang dikecualikan guna tercapainya penjualan tersebut di

atas. Kreditur selanjutnya berkewajiban setelah uang hasil penjualan

dibayarkan ke semua ongkos pajak lainnya, untuk mempergunakan sisa uang

hasil penjualan itu melunasi semua hutang dan dendanya dan memenuhi

semua kewajiban debitur, kepada atau terhadap kreditur. Oleh karena itu,

dalam hal uang hasil penjualan masih kurang, maka debitur tetap

berkewajiban wajib membayar sisa hutang tersebut kepada kreditur tersebut

dalam waktu 2 minggu setelah pemberitahuan kreditur kepada debitur.

i. Kreditur pada waktu menggunakan haknya berdasarkan perjanjian ini dan

atau surat perjanjian lainnya yang dibuat oleh kreditur, berhak untuk

menentukan sendiri seluruh jumlah penagihannya terhadap debitur. Tagihan

yang dimaksudkan baik berupa pokok hutang atau sisa pokok hutang, denda,

biaya pelelangan atau penjualan, honorarium pengacara atau kuasa untuk

menagih serta biaya-biaya atau jumlah uang lainnya yang wajib ditanggung

atau dibayar oleh debitur. Debitur dengan ini melepaskan semua haknya

untuk mengajukan keberadaan atau tuntutan hasil penjualan barang dan

potongannya serta jumlah hutangnya atau sisa hutang bunga dan biaya-biaya
104

lain, denda, ongkos yang bersangkutan dengan pengambilan kembali dan

penjualan barang sebagaimana yang diuraikan di atas.

j. Dengan tidak mengurangi kewajiban debitur untuk membayarkan, maka

dalam hal ini terlambat diserahkannya barang tersebut dari debitur atau pihak

lain yang menguasai barang tersebut dan atau berhak pula dengan

pertolongan alat-alat negara yang berwenang mengambil atau menyita

barang-barang tersebut untuk keperluan eksekusi atau penjualan satu dan

lainnya atas biaya dan resiko segalanya berada di debitur.

k. Semua piutang kreditur terhadap debitur berdasarkan perjanjian ini atau

perjanjian lainnya antara debitur dengan kreditur dapat dialihkan oleh

kreditur pada pihak lain, siapapun adanya dan debitur dengan ini

memberikan persetujuan di muka atau pengalihan tersebut, tanpa diperlukan

pemberitahuan resmi atau dalam bentuk apapun juga.

l. Semua kuasa tersebut di dalam akta ini bersifat tetap dan tidak dapat ditarik

kembali, selama debitur masih mempunyai hutang kepada kreditur atau

belum memenuhi semua kewajibannya terhadap kreditur.

m. Debitur wajib memberitahukan secara tertulis kepada kreditur mengenai

alamat yang akan digunakan untuk surat-menyurat sehubungan

denganperjanjian ini, dan alamat baru setiap kali debitur pindah alamat.

n. Apabila timbul perselisihan sebagai akibat dari perjanjian, pertama-tamaakan

diselesaikan secara musyawarah antar kedua belah pihak, tetapi apabila tidak

tercapai penyelesaian dalam musyawarah, kedua belah pihak sepakat agar

sengketa yang timbul diselesaikan di Pengadilan Negeri.


105

Berdasakan klausul-klausul sebagaimana tersebut di atas maka dapat diketahui

bahwa kreditur melakukan eksekusi secara langsung dengan kekuasaannya sendiri tanpa

putusan pengadilan sebagaimana yang selama ini dilakukan terhadap debitur yang

cidera janji. Sementara itu, menurut Undang-Undang Jaminan Fidusia bahwa yang

dapat melakukan eksekusi secara langsung hanyalah bentuk perjanjian yang mempunyai

kekuatan eksekutorial. Kekuatan eksekutorial ini didapatkan dari Sertifikat Jaminan

Fidusia.

Dapat diketahui dalam hal klausula sebagaimana tersebut di atas menjelaskan

risiko yang terjadi dalam perjanjian ini dibebankan pada Pembeli sepenuhnya. Hal ini

diasumsikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1460 KUH Perdata, bahwa risiko terhadap

penjualan barang yang sudah ditentukanditanggung pembeli, meskipun penyerahannya

belum dilakukan dan penjual berhak menuntut harganya. Sehubungan dengan itu bahwa

ada kecenderungan pihak kreditur melakukan tindakan sepihak kepada debitur yang

cidera janji khususnya dalam melaksanakan eksekusi. Hal ini tentunya merugikan pihak

konsumen karena posisinya berada di pihak yang lemah. Berdasarkan asas kebebasan

berkontrak, kedua belah pihak dapat menetapkan kehendaknya masing-masing sehingga

tercapai persesuaian kehendak atau kesepakatan antara kedua belah pihak. Kesepakatan

kedua belah pihak tersebut mencerminkan asas konsesualisme perjanjian. Dengan

demikian isi dari perjanjian pembiayaan konsumen tidak hanya ditetapkan oleh para

pihak berdasarkan kesepakatan atau asas konsensualisme, tetapi juga berdasarkan asas

keadilan, kepatutan dan itikad baik.

3.3. Faktor Faktor Yang Menjadi Sebab Terjadinya Eksekusi Oleh Kreditur
Terhadap Barang Jaminan

Menurut ketentuan yang tercantum dalam UUJF maka dapat diketahui bahwa

Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun
106

yang tidak berwujud dan benda bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak

Tanggungan yang tetap berada dalam penguasaan debitur, sebagai agunan bagi

pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada

lembaga pembiayaan terhadap kreditur lainnya. Adapun yang dapat dijadikan obyek

Jaminan Fidusia adalah sebagai berikut :

a. Benda bergerak yang berwujud seperti benda dagangan, inventory (benda

dalam persediaan), peralatan mesin, kendaraan bermotor dll

b. Benda bergerak yang tidak berwujud termasuk saham, piutang;

c. Benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan, misalnya

bangunan milik debitur yang berdiri di atas tanah milik orang lain atau tanah

hak pakai dari pihak lain.

Menurut ketentuan yang tercantum dalam Pasal 11 ayat (1) UUJF menyatakan

bahwa Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia wajib didaftarkan. Selanjutnya

Pasal 14 ayat (3) UUJF menyatakan bahwa Jaminan Fidusia lahir pada tanggal yang

sama dengan tanggal dicatatnya jaminan Fidusia dalam Buku Daftar Fidusia.

Berdasarkan kedua aturan yang telah ditetapkan dalam UUJF maka dapat diketahui

bahwa pendaftaran Jaminan Fidusia merupakan hal yang penting bagi pemegang

Jaminan Fidusia. Hal ini disebabkan apabila dikemudian hari terjadi wanprestasi atau

permasalahan maka dengan didaftarkannya Jaminan Fidusia ini maka eksekusi atas

barang Jaminan Fidusia dapat dengan mudah dilaksanakan. Namun pada kenyataannya

banyak terjadi tidak didaftarkannya Jaminan Fidusia ini oleh para pihak, terutama sekali

pihak kreditur sebagai pihak yang berkepentingan.


107

Menurut Bapak I Wayan Sutedja, selaku Remedial Section Head pada PT. FIF

Group, menyatakan bahwa salah satu faktor penyebab tidak dilaksanakannya aturan

pembebanan dan pendaftaran Jaminan Fidusia ini sebagaimana diatur dalam Undang-

Undang Jaminan Fidusia adalah faktor biaya dan tempat pendaftaran fidusia. Menurut

beliau, untuk mentaati ketentuan sebagaimana yang tercantum dalam UUJF diperlukan

biaya yang tidak sedikit, oleh karena itu biasanya pihak lembaga pembiayaan hanya

mencantumkan saja dalam perjanjian secara fidusia. Dalam hal ini pihak kreditur tidak

menjalankan proses sebagaimana yang ditetapkan oleh UUJF namun hanya dibuat

dibawah tangan saja. Kemudian beliau juga menyatakan bahwa faktor lain penyebab

pendaftaran fidusia belum sepenuhnya dapat dilaksanakan juga karena kantor

pendaftaran tersebut belum dapat dijalankan secara utuh, dan kantor pendaftaran hanya

berada di tingkat propinsi serta minimnya sarana dan prasarana. (berdasarkan hasil

wawancara pada hari Selasa tanggal 17 Maret 2013)

Dilakukannya pendaftaran atas objek Jaminan Fidusia ke Kantor Pendaftaran

Fidusia, maka kedudukan kreditur akan menjadi kuat. Hak yang dimiliki pihak kreditur

dalam hal itu merupakan hak kebendaan yang dapat dipertahankan terhadap siapapun.
86
Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam UUJF, maka pendaftaran fidusia itu

merupakan suatu keharusan. Dengan kata lain, kedudukan kreditur sebagai pemegang

Jaminan Fidusia baru sah bila Jaminan Fidusia yang dipergunakan untuk menjamin

kredit yang disalurkannya sudah didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia.

86
Betty Dina Lambok, 2008, Akibat Hukum Persetujuan Tertulis dari Penerima
Fidusia kepada Pemberi Fidusia untuk Menyewakan Objek Jaminan Fidusiakepada
Pihak Ketiga, Jurnal Hukum ProJustitia, Bandung, hal. 26
108

Dalam hal pemberian kredit kepada konsumen memiliki peluang terjadinya

risiko,hal ini dapat dikarenakan konsumen melakukan wanprestasi, perubahan undang-

undang, krisis moneter, dan bencana alam. Risiko terbesar yang terjadi dalam

pemberian pembiayaan khususnya dengan Jaminan Fidusia adalah tidak terbayarnya

angsuran atau wanprestasi yang dilakukan oleh konsumen atau cidera janji. Untuk

meminimalisir risiko tersebut, maka jaminan dapat dijadikan sebagai kepastian

pelunasan hutang pembiayaan dikemudian hari, karena seberapa pun kecil peluang

untuk muncul pemberian pembiayaan akan selalu dihadapkan dengan resiko terjadinya

cidera janji (wanprestasi).

Pada waktu terjadinya kesepakatan dan ditandatanganinya perjanjian

pembiayaan konsumen dengan Jaminan Fidusia antara pihak Lembaga Pembiayaan

Konsumen dengan debitur, maka masing-masing pihak tanpa terkecuali wajib untuk

menjalankan dan mematuhi isi dari perjanjian pembiayaan yang telah disepakati yang

mana dalam perjanjian tersebut mengenai hak dan kewajiban debitur dan kreditur

sebagaimana tercantum pada syarat-syarat perjanjian pembiayaan. Syarat-syarat

perjanjian pembiayaan ini merupakan satu kesatuan dan atau merupakan bagian yang

tidak terpisahkan dengan perjanjian pembiayaan.

Para pihak baik lembaga pembiayaan selaku kreditur dan juga konsumen selaku

debitur sama-sama memiliki hak dan kewajiban dalam suatu perjanjian. Adapun yang

menjadi hak dari pada kreditur dalam suatu perjanjian yaitu:

a. Kreditur berhak menuntut pemenuhan perjanjian di luar pengadilan.

b. Jika debitur tidak mau membayar, kreditur dapat menggugat di pengadilan.


109

c. Jika ada keputusan pengadilan, kreditur memaksa debitur untuk melaksanakan

keputusan tersebut.

Sedangkan yang menjadi kewajiban dari pihak debitur dalam suatu perjanjian adalah

sebagai berikut:

a. Kewajiban memenuhi prestasi. Jika ia berhutang, maka ia berkewajiban untuk

mengembalikan uang tersebut Kewajiban debitur untuk memenuhi prestasi ini

disebut "schuld".

b. Debitur wajib bertanggungjawab terhadap gugatan.

c. Debitur berkewajiban membiarkan barang-barang miliknya untuk dilelang/

pelaksanaan putusan pengadilan. Kewajiban debitur yang demikian ini

dinamakan "haftung"

Secara umum eksekusi merupakan pelaksanaan atau keputusan pengadilan atau

akta, maka pengambilan pelunasan kewajiban krediturmelalui hasil penjualan benda-

benda tertentu milik debitor. Sedangkan yang dimaksud perjanjian fidusia adalah

perjanjian utang piutang kreditur kepada debitor yang melibatkan penjaminan. Jaminan

tersebut kedudukannya masih dalam penguasaan pemilik jaminan. Eksekusi obyek

Jaminan Fidusia dalam perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor dilakukan karena

terjadi wanprestasi yang disebabkan ketidakmampuan debitur melakukan kewajibannya

dan sebagai cara penyelesaian terakhir karena upaya penyelamatan tidak berhasil.

Adapun penyebab debitur tidak dapat melaksanakan prestasinya dapat disebabkan

karena 5 hal antara lain:


110

a. Adanya unsur kesengajaan, yakni konsumen sengaja untuk tidak melakukan

kewajibannya sesuai yang diperjanjikan. Sehingga tidak adanya unsur kemauan

untuk membayar utang pembiayaannya (character).

b. Adanya unsur tidak sengaja, yakni konsumen mau membayar tapi tidak mampu

karena adanya keadaan atau hal-hal tertentu (Capacity).

c. Adanya unsur tidak sengaja, yakni konsumen mau membayar tapi tidak mampu

karena modal yang tidak mencukupi (Capital).

d. Konsumen mau membayar tapi menganggap barang yang dijaminkan setara

dengan apa yang diperolehnya (Collateral).

e. Adanya unsur untuk membayar namun kondisi ekonomiyang tidak mencukupi

(condition of economy). 87

Selanjutnya untuk dapat menyatakan seorang debitur telah melakukan

perbuatan wanprestasi ada beberapa syarat yaitu:

1. Syarat meteriil, yaitu adanya kesengajaan berupa:

a. Kesengajaan, adalah suatu hal yang dilakukan seseorang dengan di kehendaki

dan diketahui serta disadari oleh pelaku sehingga menimbulkan kerugian pada

pihak lain,

b. Kelalaian, adalah suatu hal yang dilakukan dimanaseseorang yang wajib

berprestasi seharusnya tabu ataupatut menduga bahwa dengan perbuatan atau

sikap yang diambil olehnya akan menimbulkan kerugian.

87
Arie S. Hutagalung, 1997, Serba Aneka Masalah Tanah Dalam Kegiatan
Ekonomi, cet,1, Jakarta, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Jakarta, hal 241-242.
111

2. Syarat formil, yaitu adanya peringatan atau somasi

Hal kelalaian atau wanprestasi pada pihak debitur harus dinyatakan dahulu

secara resmi, yaitu dengan memperingatkan debitur, bahwa kreditur menghendaki

pembayaran seketika atau dalam jangka waktu yang pendek. Biasanya peringatan

itu dilakukan oleh seorang juru sita dari Pengadilan, yang membuat proses verbal

tentang pekerjaan itu, atau juga cukup dengan surat tercatat atau surat kawat,

asalkan jangan sampai dengan mudah dipungkiri si debitur. Somasi adalah teguran

keras secara tertulis dari kreditur berupa akta kepada debitur, supaya debitur

melakukan prestasi dengan mencantumkan tanggal terakhir debitur harus

berprestasi dan disertai dengan sanksi atau denda atau hukuman yang akan

dijatuhkan atau diterapkan, apabila debitur wanprestasi atau lalai.

Menurut Bapak I Wayan Sutedja, selaku Remedial Section Head pada PT. FIF

Group Cabang Denpasar, menyatakan bahwa apabila debitur melakukan wanprestasi

dalam suatu perjanjian yang telah disepakati, maka pemenuhan kewajiban debitur untuk

membayar utang atau kewajibannya dapat dipaksa melalui jalan eksekusi terhadap

barang jaminan. (berdasarkan hasil wawancara pada pada hari Selasa tanggal 17 Maret

2013). Dengan terjadinya wanprestasi oleh debitur, maka debitur dapat dikenakan

sanksi sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Adapun sanksi yang dapat dikenakan

apabila debitur wanprestasi oleh pihak lembaga pembiayaan non bank di Kota

Denpasar, yaitu:

a. Pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan perjanjian;

b. Peralihan resiko;

c. Membayar ganti atas kerugian yang diderita oleh kreditur atau;


112

d. Membayar biaya perkara, apabila sampai diperkarakan di depan hakim.

KUHPerdata dalam kaitan ini memberikan batasan mengenai apa saja yang

boleh dituntut untuk ganti rugi. Sejalan dengan hal itu, ketentuan Pasal 1247

KUHPerdata menyatakan bahwa Si berutang hanya diwajibkan mengganti biaya rugi

dan bunga yang nyata telah atau sedianya harus dapat diduga sewaktu perjanjian

dilahirkan, kecuali jika hal tidak dipenuhinya perjanjian itu disebabkan karena sesuatu

tipu daya yang dilakukan olehnya. Lebih lanjut ketentuan Pasal 1248 KUHPerdata

terkait dengan ganti rugi menyatakan bahwa Bahkan jika hal tidak dipenuhinya

perjanjian itu disebabkan karena tipu daya si berutang, penggantian biaya, rugi dan

bunga, sekedar mengenai kerugian yang diderita oleh si berpiutang dan keuntungan

yang terhilang baginya, hanyalah terdiri atas apa yang merupakan akibat langsung dari

tak dipenuhinya perjanjian.

Sehubungan dengan pembatalan perjanjian yang disebabkan karena kelalaian

debitur dapat dijumpai pada Pasal 1266 KUHPerdata. Ketentuan tersebut mengaturnya

sebagai berikut :

Syarat batal dianggap selamanya dicantumkan dalam perjanjian-perjanjian yang


timbal balik, manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal
demikian perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan
kepada hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal
mengenai tidak dipenuhinya kewajiban itu dinyatakan dalam perjanjian. Jika
syarat batal tidak dinyatakan dalam perjanjian, hakim leluasa menurut keadaan
atas permintaan si tergugat, untuk memberikan suatu jangka waktu guna
kesempatan memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana tidak boleh lebih dari
satu bulan

Penentuan saat terjadinya wanprestasi seringkali tidak diperjanjikan dengan tepat,

kapan debitur diwajibkan melakukan prestasi yang telah diperjanjikan. Mengenai saat

terjadinya wanprestasi diatur dalam Pasal 1238 KUHPerdata, yang menyatakan bahwa
113

si berhutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan akta sejenis itu

telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa

si berhutang akan di anggap lalai dengan lewatnya waktu yang dihentikan.

Wanprestasi mempunyai akibat yang sangat penting, maka harus ditetapkan

terlebih dahulu apakah debitur telah melakukan wanprestasi dan apabila hal tersebut

disangkalnya harus dibuktikan dimuka hakim. Berdasarkan ketentuan Pasal 1238

KUHPerdata tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat tiga cara untuk menentukan

bahwa debitur wanprestasi, yaitu:

1. Dengan surat perintah

2. Dengan akta sejenis

3. Dengan isi perjanjian yang menetapkan lalai dengan lewatnya batas waktu

dalam perjanjian

Apabila debitur telah melakukan wanprestasi maka akan menimbulkan akibat hukum

bagi para pihak dalam perjanjian tersebut. Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1267

KUHPerdata menyatakan bahwa pihak terhadap siapa perikatan tidak dipenuhi, dapat

memilih apakah ia, jika hal itu masih dilakukan, akan memaksa pihak yang lain untuk

memenuhi perjanjian, ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian, disertai

penggantian biaya kerugian dan bunga. Menurut Pasal 1267 KUHPerdata tersebut,

wanprestasi mengakibatkan kreditur dapat menuntut kepada debitur berupa:

1. Pemenuhan prestasi

2. Pemutusan prestasi

3. Ganti rugi
114

4. Pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi

5. Pemutusan perjanjian disertai ganti rugi

Perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok kemudian melahirkan perjanjian

turunan yang bersifat accessoir yaitu perjanjian Jaminan Fidusia dari lembaga

pembiayaan (Kreditur) kepada Konsumen (Debitur) demi melindungi dan memberikan

kepastian bagi Kreditur bahwa hutang atau kredit yang diberikan kepada Debitur akan

terbayar jika terjadi Debitur cidera janji, yaitu dengan eksekusi objek benda Jaminan

Fidusia. Jaminan Fidusia sendiri merupakan suatu jaminan atas benda bergerak yang

penguasaannya masih dalam penguasaan Debitur meskipun telah terjadi pengalihan

kepemilikan. Oleh karena itu pentingnya untuk mendaftarkan objek Jaminan Fidusia

tentunya untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi para pihak yang

terikat didalamnya.

3.4. Pelaksanaan Eksekusi Oleh Kreditur Terhadap Barang Jaminan

Salah satu ciri dari jaminan hutang kebendaan adalah manakala hak tanggungan

tersebut dapat dieksekusi secara cepat dengan proses yang sederhana, efisien dan

mengandung kepastian hukum. Misalnya, ketentuan eksekusi fidusia di Amerika Serikat

yang membolehkan pihak kreditur mengambil sendiri barang obyek Jaminan Fidusia

asal dapat menghindari perkelahian atau percekcokan (breaking the peace). Barang

tersebut boleh dijual dimuka umum, atau dijual dibawah tangan, asalkan dilakukan

dengan beritikad baik dengan cara yang commercially reasonable. 88

88
Munir Fuady, 2003, Jaminan Fidusia cetakan kedua revisi, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung, hal. 57.
115

Mengenai eksekusi, M. Yahya Harahap mengemukakan pengertiannya dalam

bukunya Ruang Lingkup permasalahan Eksekusi Bidang Perdata. Beliau memberikan

pengertian sebagai berikut : Eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh

pengadilan kepada pihak yang kalah dalam suatu perkara, merupakan aturan dan tata

lanjutan dalam proses pemeriksaan perkara. Oleh karena itu eksekusi tiada

berkesinambungan dari seluruh proses Hukum Acara Perdata.89

Sehubungan dengan penerapan asas perjanjian pacta sun servanda yang

menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh pihak-pihak yang bersepakat akan

menjadi undang-undang bagi keduanya, tetap berlaku dan menjadi asas utama dalam

hukum perjanjian. Tetapi terhadap perjanjian yang memberikan penjaminan Fidusia

dibawah tangan tidak dapat dilakukan eksekusi. Proses eksekusi harus dilakukan dengan

cara mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri melalui proses hukum acara

yang normal hingga turunnya putusan pengadilan. Inilah pilihan yang prosedural hukum

formil agar dapat menjaga keadilan dan penegakan terhadap hukum materiil yang

dikandungnya.

Selama ini sebelum keluarnya UUJF, tidak ada kejelasan mengenai bagaimana

caranya mengeksekusi objek Jaminan Fidusia. Oleh karena tidak ada ketentuan yang

mengaturnya, banyak yang menafsirkan eksekusi objek Jaminan Fidusia dengan

memakai prosedur gugatan biasa (lewat pengadilan dengan prosedur biasa) yang

panjang, mahal dan melelahkan.90 Selanjutnya dengan lahirnya UUJF, hal ini semakin

mempermudah dan memberi kepastian bagi kreditur dalam pelaksanakan eksekusi.

89
M. Yahya Harahap, 1998, Ruang lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang
Perdata,PT. Gramedia, Jakarta, hal. 1.
90
Rachmadi Usman, 2008, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, Jakarta
hal. 229.
116

Salah satu ciri Jaminan Fidusia yang kuat itu mudah dan pasti dalam pelaksanaan

eksekusinya, jika debitur (konsumen) cedera janji. 91 Eksekusi Jaminan Fidusia sering

sekali terjadi di dalam praktek dan memberikan dampak negatif berupa bantahan,

ataupun perlawanan. Pelaksanaan eksekusi jaminan Fidusia dengan tujuan untuk

menyelenggarakan eksekusi secara aman, tertib, lancar, dan dapat

dipertanggungjawabkan untuk melindungi keselamatan penerima Jaminan Fidusia,

pemberi Jaminan Fidusia, dan/atau masyarakat dari perbuatan yang dapat menimbulkan

kerugian harta benda dan/atau keselamatan jiwa.

Pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia kemudian diatur dalam UUJF. Salah satu

cara eksekusi terhadap benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia yang di daftarkan

dapat dilakukan dengan cara pelaksanaan titel eksekutorial. Sertifikat Jaminan Fidusia

mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap, sehingga ketika debitur cidera janji, kreditur dengan

menggunakan sertifikat Jaminan Fidusia tersebut langsung dapat melaksanakan

eksekusi tanpa melalui pengadilan dan bersifat final serta mengikat, para pihak untuk

melaksanakan putusan tersebut. Untuk melaksanakan eksekusi atas Jaminan Fidusia

dimaksud harus memenuhi persyaratan tertentu, yaitu:

1. ada permintaan dari pemohon;

2. objek tersebut memiliki akta Jaminan Fidusia;

3. objek Jaminan Fidusia terdaftar pada kantor pendaftaran fidusia;

4. objek Jaminan Fidusia memiliki setifikat Jaminan Fidusia;

5. jaminan Fidusia berada di wilayah negara Indonesia.

91
Ibid.
117

Meskipun UUJF tidak menyebutkan eksekusi lewat gugatan ke pengadilan,

tetapi tentunya pihak kreditur dapat menempuh prosedur eksekusi lewat gugatan ke

pengadilan. Sebab, keberadaan UUJF dengan model-model eksekusi khusus tidak untuk

meniadakan hukum acara yang umum. Tidak ada indikasi sedikit pun dalam UUJF yang

bertujuan meniadakan ketentuan hukum acara umum tentang eksekusi umum lewat

gugatan ke pengadilan negeri yang berwenang.

Lembaga Pembiayaan Konsumen tersebut dalam melakukan perjanjian

penjaminan benda bergerak telah memenuhi prinsip dari Jaminan Fidusia. Namun

demikian, tidak semuanya memenuhi standar yuridis untuk disebut sebagai Jaminan

Fidusia, karena di dalam ketantuan Pasal 37 ayat (3) UUJF mengatur jika dalam waktu

sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini tidak dilakukan penyesuaian, maka

perjanjian Jaminan Fidusia tersebut bukan merupakan hak agunan atas kebendaan

sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. Berdasarkan ketentuan dalam pasal

ini berarti dapat diketahui bahwa apabila bentuk perjanjian tidak sesuai dengan UUJF,

maka perjanjian jaminan tersebut bukan merupakan jaminan atas benda bergerak.

UUJF telah memberikan aturan sebagaimana tersebut di atas, akan tetapi yang

terjadi pada praktek Lembaga Pembiayaan Konsumen Non Bank di Kota Denpasar

dijumpai bahwa dalam melakukan perjanjian mencantumkan kata-kata dijaminkan

secara fidusia. Namun demikian, perjanjiannya dibuat dalam bentuk akta dibawah

tangan dan tidak di daftarkan pada kantor pendaftaran fidusia sebagaimana yang

dilakukan oleh lembaga pembiayaan dalam melakukan perjanjian pembiayaan

konsumen dengan penyerahan hak milik secara fidusia. Dalam perjanjiannya secara

tegas diatur bahwa kedua belah pihak setuju untuk membuat perjanjian pembiayaan

konsumen dengan penyerahan hak milik secara fidusia.


118

Perjanjian Jaminan Fidusia merupakan perjanjian yang bersifat accessoir atau

perjanjian tambahan/perjanjian ikutan, untuk itu perjanjian pokoknya tetap sah

meskipun perjanjian jaminannya pembebanan bendanya tidak menggunakan akta

otentik dan tidak didaftarkan, tetapi untuk tindakan eksekutorialnya tidak dapat

dilaksanakan dengan lembaga parate executie (eksekusi langsung), karena seperti yang

dicantumkan dalam Pasal 15 ayat (2) UUJF, yang menyatakan bahwa Sertifikat

Jaminan Fidusia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai kekuatan

eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan

hukum tetap. Lebih lanjut Pasal 15 ayat (3) UUJF menyatakan bahwa Apabila debitur

cidera janji, lembaga pembiayaan mempunyai hak menjual Benda yang menjadi objek

Jaminan Fidusia atas kekuasaannya sendiri. Berdasarkan uraian pasal di atas dapat

dilihat bahwa hanya yang memiliki Sertifikat Jaminan Fidusia yang dibuat dengan akta

otentik dan didaftarkan saja mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan

putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Oleh karena itu, bagi

perjanjian dengan jaminan fidusia yang tidak didaftarkan ketika debitur wanprestasi

atau cidera janji tidak dapat menggunakan lembaga parate executie (eksekusi langsung),

tetapi proses eksekusinya tetap harus dilakukan dengan cara mengajukan gugatan

perdata ke Pengadilan Negeri melalui proses Hukum Acara Perdata hingga turunnya

putusan hakim.

Menurut Sudikno Mertokusumo bahwa putusan yang telah mempunyai kekuatan

hukum tetap adalah putusan yang menurut ketentuan undang-undang tidak ada

kesempatan lagi untuk menggunakan upaya hukum biasa untuk melawan putusan
119

tersebut.92 Sebaliknya, putusan yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap adalah

putusan yang menurut ketentuan undang-undang masih terbuka kesempatan untuk

menggunakan upaya hukum untuk melawan putusan tersebut misalnya verzet, banding

dan kasasi. Pada dasarnya suatu putusan hakim yang sudah mempunyai kekuatan

hukum tetap yang dapat dijalankan. Pengecualiannya yaitu apabila suatu putusan

dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu sesuai dengan Pasal

180 HIR perlu juga dikemukakan, bahwa tidak semua putusan yang sudah mempunyai

kekuatan tetap harus dijalankan. Dalam hal ini yang perlu dilaksanakan hanyalah

putusan-putusan yang bersifat condemnatoir, yaitu putusan yang mengandung perintah

kepada suatu pihak untuk melaksanakan suatu perbuatan.

Bapak I Wayan Sutedja selaku Remedial Section Head pada PT. FIF Group

Cabang Denpasar mengemukakan bahwa, apabila debitur wanprestasi maka terjadilah

penyitaan, proses penyitaan itu sendiri dimulai dengan adanya surat perintah sita.

Seorang debitur dikatakan wanprestasi hingga harus terjadi proses penyitaan atas barang

jaminan menurut pendapat beliau disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

a. berdasarkan catatan pembayaran yang buruk yang dapat dilihat dari catatan

pembayaran hutang perbulannya yang disetor oleh debitur;

b. usaha debitur yang berbeda dari data yang ada;

c. obyek jaminan yang digadaikan untuk keperluan lain sehingga ada unsur

penggelapan barang jaminan ataupun obyek jaminan berada di tangan pihak

ketiga tanpa sepengetahuan kreditur untuk mengambil tindakan cepat yaitu

penarikan obyek jaminan dari penguasaan debitur.

92
Sudikno Mertokusumo, 1993, Hukum Acara Perdata, Liberty, Yogyakarta,
hal. 2
120

Lebih lanjut beliau juga menyatakan bahwa ada beberapa tugas prosedur yang

dilakukan departemen collection lembaga pembiayaan dalam upaya melakukan

penagihan antara lain:

1. Desk Call

Desk call mempunyai tugas mengingatkan konsumen atas kewajiban angsuran.

Biasanya kegiatan ini mulai dilakukan 3 hari sebelum jatuh tempo dan 3 hari setelah

jatuh tempo angsuran konsumen. Jika upaya yang dilakukan desk call tidak

berhasil, maka selanjutnya penanganan dilimpahkan ke field collector baget 1 atau

kolektor lancar.

2. Kolektor baget 1.

Tugas dari kolektor baget 1 yaitu menindaklanjuti upaya yang telah dilakukan oleh

Desk call sampai waktu keterlambatan konsumen mencapai 30 hari. Kolektor baget 1

melakukan kunjungan ke konsumen untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya

keterlambatan angsuran konsumen, kemudian menyerahkan Surat peringatan ke 1

yang dilanjutkan dengan surat peringatan ke 2 apabila Surat peringatan 1 tidak

ditanggapi oleh konsumen, melakukan negoisasi menyangkut pembayaran angsuran,

dan menerima pembayaran angsuran konsumen. Untuk konsumen-konsumen yang

belum berhasil ditangani oleh kolektor lancar, selanjutnya dilimpahkan ke field

collector baget 2.

3. Kolektor baget 2.

Tugas kolektor baget 2 adalah menangani konsumen dengan waktu keterlambatan 30

(tiga puluh) hari sampai dengan 60(enam puluh) hari. Penanganan yang dilakukan

kolektor baget 2 lebih intensif lagi karena tingkat kesulitan yang ada dalam baget 2
121

lebih tinggi. Kolektor baget 2 melakukan penagihan ke konsumen dengan

menindaklanjuti penanganan yang telah dilakukan oleh kolektor baget 1,

menyerahkan surat peringatan ke 3, melakukan negoisasi dan menerima angsuran

konsumen. Konsumen-konsumen gagal bayar yang tidak dapat ditangani oleh

kolektor baget 2 selanjutnya dilimpahkan ke kolektor tarik atau remedial.

4. Kolektor tarik/remedial.

Adapun yang menjadi tugas dari kolektor tarik atau remedial adalah menindaklanjuti

penanganan yang dilakukan oleh kolektor baget 2. penanganan ini lebih menekankan

pada penarikan unit tapi tidak menutup kemungkinan menerima angsuran jika

konsumen ternyata dapat melakukan pembayaran angsuran. Untuk konsumen-

konsumen gagal bayar yang tidak dapat diselesaikan oleh kolektor internal,

selanjutnya kebijakan yang diambil oleh pihak lembaga pembiayaan adalah

menyerahkan penangannya ke pihak ke tiga yaitu Debt collector atau pihak external.

(berdasakan hasil wawancara pada pada hari Selasa tanggal 17 Maret 2013).

Debt Collector/external adalah pihak luar yang dimintai bantuan oleh pihak

lembaga pembiayaan yang diberi kuasa bekerja atas nama lembaga pembiayaan dengan

didahului oleh kesepakatan yang dibuat antar mereka, kemudian diberi surat tugas untuk

melakukan penanganan konsumen-konsumen bermasalah. Tugas yang diberikan pada

Debt collector hanya untuk penarikan unit bukan menarik atau menerima angsuran.

Permasalahan bad account yang biasanya dilimpahkan ke debt collector antara lain :

1. Konsumen susah ditemukan;

2. Kendaraan telah berpindah tangan ke pihak lain;


122

3. Kendaraan hilang/tidak diketahui keberadaannya;

4. Kendaraan berada di luar pulau.

Pada prakteknya pihak lembaga pembiayaan non bank di Kota Denpasar dalam

melakukan penagihan atas angsuran yang macet bekerjasama dengan pihak ketiga yaitu

debt collector external untuk melakukan eksekusi barang jaminan kredit yang

bermasalah yang tidak dapat ditangani collector regular. Debt collector external

bukanlah berstatus sebagai karyawan lembaga pembiayaan, tetapi pihak diluar

perusahaan yang diberi kuasa untuk bekerja atas nama lembaga pembiayaan untuk

menangani konsumen yang mengalami gagal bayar atau kredit macet. Kebijakan untuk

melibatkan pihak ketiga dalam menangani konsumen-konsumen gagal bayar dilakukan

lembaga pembiayaan setelah prosedur dan upaya yang dilakukan pihak kolektor reguler

dalam kurun waktu tertentu tidak menunjukkan hasil. Ketidakberhasilan ini dapat

dikarenakan faktor kurang kerasnya usaha yang dilakukan kolektor reguler, dapat juga

karena tingkat kesulitan yang tinggi dari permasalah yang ada pada konsmumen-

konsumen gagal bayar tersebut, sehingga lembaga pembiayaan tidak mau mengambil

resiko mulurnya penyelesaian kredit bermasalah tersebut.

Menurut pendapat Bapak I Nengah Sugina selaku debt collector external PT. FIF

Group menyatakan bahwa sebagai pihak yang diberi tugas oleh lembaga pembiayaan

berdasarkan kesepakatan, tentunya ada imbalan yang akan diterima oleh debt collector

atas penyelesaian tugas yang dikuasakan kepadanya. Negoisasi besar kecilnya imbalan

atau fee yang akan diterima oleh debt collector externalbiasanya tergantung dari tingkat

kesulitan dan resiko yang dihadapi. Imbalan atau disebut succes fee baru diberikan oleh

lembaga pembiayaan setelah debt collector external berhasil melaksanakan tugasnya.

Lebih lanjut beliau berpendapat bahwa sebagai pihak luar yang diberi tugas oleh
123

lembaga pembiayaan, motif utama pekerjaannya adalah mendapatkan uang atas jasa

yang diberikan. Rasa tanggung jawab mereka hanya sebatas pada pekerjaan yang

diberikan, sehingga cara kerja mereka pun terlepas dari prosedur yang ditetapkan oleh

lembaga pembiayaan. beliau bekerja dengan caranya sendiri sesuai dengan pola yang

biasa mereka lakukan, dengan satu tujuan selesaikan tugas kemudian dapat uang.

(berdasarkan hasil wawancara pada hari kamis 20 Mei 2013)

Apabila pihak debitur yang menguasai obyek Jaminan Fidusia akan ditarik tidak

ada ditempat, maka diperlukan saksi pada saat akan dilakukannya penarikan. Hal

tersebut diperlukan untuk menjaga agar tidak terjadi kecurigaan juru sita memasuki

pekarangan dan rumah secara paksa. Adapun yang bertandatangan dalam berita acara

penarikan yaitu penerima dan pemberi jaminan atau pihak berwenang jika turut hadir

dalam proses penyitaan obyek jaminan.

Dalam pelaksanaan eksekusi terkadang pihak debt collector rentan menimbulkan

tindakan-tindakan premanisme. Tindakan premanisme yang sering dilakukan oleh para

debt collector untuk menarik kendaraan tersebut antara lain :

1. Melakukan Intimidasi.

Pertama kali yang dilakukan oleh debt collector dalam menjalankan tugasnya

biasanya mendatangi konsumen. Tujuannya adalah untuk meminta pertanggung

jawaban konsumen untuk menyelesaikan kewajibannya, selain itu juga untuk

mencari tahu kronologi dan informasi keberadaan kendaraan. Disini biasanya debt

collector melakukan intimidasi, ancaman dan meminta paksa sejumlah uang ke pada

konsumen.

2. Perampasan kendaraan.

Debt collector juga meminta secara paksa kendaraan dari tangan konsumen dan

dapatnya tindakan ini disertai dengan kekerasan, ancaman dan perbuatan yang tidak
124

menyenangkan, sehingga konsumen dengan terpaksa membiarkan kendaraan itu

dibawa oleh pihak debt collector.

Dengan banyaknya terjadi tindakan pemanisme oleh para debt collector maka sebaiknya

pihak lembaga pembiayaan lebih hati-hati lagi dalam mengambil kebijakan untuk

menyerahkan permasalahan kredit macet yang dimilikinya kepada debt collector selaku

pihak ketida. Hal ini berpengaruh pada nama baik dan kredibilitas dari lembaga

pembiayaan itu sendiri agar tidak hilang, hanya demi mengejar keuntungan semata

tanpa memperdulikan etika dan hak-hak konsumen.


125

BAB IV

AKIBAT HUKUM PELAKSANAAN EKSEKUSI BARANG JAMINAN YANG


TIDAK DIDAFTARKAN JAMINAN FIDUSIA
OLEH PIHAK KREDITUR

4.1 Kewenangan Kantor Wilayah Hukum dan HAM Dalam Mengawasi


Kewajiban Kreditur Mensertipikatkan Barang Jaminan Fidusia

Jaminan fidusia telah dikenal dan digunakan di Indonesia sejak jaman

penjajahan Belanda sebagai bentuk jaminan yang lahir dari yurisprudensi, yang berasal

dari jaman Romawi. Bentuk jaminan ini biasanya digunakan secara luas dalam transaksi

pinjam meminjam, hal ini sebagai akibat bentuk jaminan ini dianggap lebih sederhana

dan mudah, walaupun tanpa disadari adanya kekurangan dalam kepastian hukum. Pada

saat pertama kali diberlakukan tidak ada keharusan untuk mendaftarkan Jaminan

Fidusia pada Kantor Pendaftaran Fidusia, hal ini tentunya memberi kemudahan bagi

para pihak yang mengunakannya, terutama pihak lembaga pembiayaan. Keadaan seperti

itu justru tidak memberikan perlindungan hukum bagi pihak kreditur karena akan dapat

dimanfaatkan oleh pihak konsumen yang tidak memiliki iktikad baik dalam

melaksanakan perjanjian. Konsumen dapat menjaminkan lagi benda yang telah dibebani

dengan fidusia kepada pihak lain tanpa diketahui oleh lembaga pembiayaan yang

pertama. Hal ini terjadi karena belum ada ketentuan yang mengatur tentang pendaftaran

Jaminan Fidusia.

Dengan tidak ada pengaturan mengenai pendaftaran Jaminan Fidusia tersebut

dianggap sebagai kekurangan dan kelemahan dari pranata lembaga Jaminan Fidusia,

sebab dapat menimbulkan ketidakpastian hukum karena tidak memenuhi asas publisitas

sehingga sangat susah untuk dikontrol. Oleh sebab itu, pemerintah membentuk suatu

aturan yang dikenal dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia. Dalam ketentuan yang

110
126

tercantum pada Undang-undang Jaminan Fidusia mengatur mengenai pendaftaran

Jaminan Fidusia guna memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang

berkepentingan. Selain memberikan kepastian hukum juga dapat memberikan hak untuk

didahulukan (preferent) atas pelunasan piutangnya kepada lembaga pembiayaan.

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan di atas maka dapat diketahui bahwa maksud dan

tujuan dari sistem pendaftaran Jaminan Fidusia yaitu untuk :

1. memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan

terutama terhadap kreditur lain mengenai benda yang telah dibebani jJaminan

Fidusia;

2. melahirkan ikatan Jaminan Fidusia bagi kreditur;

3. memberikan hak yang didahulukan (preferent) kepada kreditur (lembaga

pembiayaan) terhadap kreditur lain, berhubung konsumen tetap menguasai

benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia berdasarkan kepercayaan;

4. memenuhi asas publisitas.

Pendaftaran suatu benda ataupun suatu ikatan jaminan yang dimaksudkan untuk

melindungi hak pemilikan benda atau pemegang jaminan yang bersangkutan terhadap

pihak ketiga yang mengoper benda jaminan, agar pihak ketiga tidak dapat

mengemukakan haknya atas benda yang terdaftar atas dasar itikad baik. Pendaftaran

ikatan Jaminan Fidusia baru tampak manfaatnya, kalau benda Jaminan Fidusia

merupakan benda terdaftar. Kewajiban untuk mendaftarkan benda yang dijaminkan

secara fidusia dicantumkan dalam ketentuan Pasal 11 ayat (1) UUJF yang menyatakan

bahwa Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia wajib didaftarkan. Kemudian

dalam penjelasan Pasal 11 UUJF dinyatakan bahwa pendaftaran benda yang dibebani

dengan Jaminan fidusia dilaksanakan ditempat kedudukan Konsumen. Pendaftarannya


127

mencakup benda, baik yang berada di dalam maupun diluar wilayah Negara Republik

Indonesia untuk memenuhi asas publisitas, sekaligus merupakan jaminan kepastian

terhadap kreditur lainnya mengenai benda yang telah dibebani Jaminan Fidusia.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa benda yang dibebani Jaminan

Fidusia tidak hanya benda yang berada di wilayah Republik Indonesia saja, termasuk

juga benda yang berada di luar wilayah Indonesia.

Ketentuan mengenai tempat pendaftaran Jaminan Fidusia diatur didalam Pasal

12 ayat (1) UUJF yang menyatakan bahwa pendaftaran Jaminan Fidusia dilakukan pada

kantor pendaftaran fidusia. Selanjutnya dialam Pasal 12 ayat (2) UUJF menyatakan

untuk pertama kali, kantor pendaftaran fidusia didirikan di Jakarta dengan wilayah kerja

mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Selanjutnya Pasal 12 ayat (3) UUJF

menyatakan bahwa kantor pendaftaran Jaminan Fidusia sebagaiman dimaksud dalam

ayat (2) berada dalam lingkup tugas Departemen Kehakiman yang saat ini telah diganti

dengan nomenklatur Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Mengenai kedudukan kantor pendaftaran fidusia, ketentuan Pasal 12 ayat (3)

menegaskan bahwa kantor pendaftaran fidusia berada dalam lingkup tugas Kantor

Wilayah Hukum dan HAM. Penjelasan atas Pasal 12 Undnag-undang Jaminan Fidusia

ini antara lain juga menegaskan bahwa kantor pendaftaran fidusia merupakan bagian

lingkungan Kementria Hukum dan Hak Asai Manusia bukan isntitusi yang mandri atau

unit pelaksana teknis, melainkan salah satu unit pelaksana teknis. Dengan demikian

dapat disimak bahwa tempat pendaftaran Jaminan Fidusia itu dilakukan di Kantor

Pendaftaran Fidusia. Pada kantor inilah akan dilakukan pendaftaran Jaminan Fidusia

berserta dengan surat pernyataan pendaftaran Jaminan Fidusia dan kelengkapan lainnya

dalam suatu register atau buku pendaftaran fidusia. Kantor pendaftaran fidusia tersebut
128

berfungsi untuk menerima, memeriksa, dan mencatat pendaftaran Jaminan Fidusia

dalam buku pendaftaran fidusia, dan selanjutnya akan menerbitkan sertipikat Jaminan

Fidusia.

Menurut ketentuan yang tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 139 tahun

2000 tentang Pembentukan Kantor Pendaftaran Fidusia di setiap Ibu kota Provinsi di

Wilayah Negara Republik Indonesia bahwa Kantor Pendaftaran Fidusia berada di kantor

wilayah Kementerian Hukum dan HAM. Dengan sendirinya wilayah kerja kantor

pendaftaran fidusia dimaksud meliputi wilayah kerja kantor Kementerian Hukum dan

HAM yang bersangkutan.

Mengenai pendaftaran Jaminan Fidusia tentunya menjadi wewenang dari

Departemen Hukum dan HAM diwilayah yang bersangkutan. Adapun yang dimaksud

wewenang sendiri kalau dilihat dari arti kata dalam bahasa Inggris berarti authority dan

dalam bahasa Belanda berarti bevoegdheid. Menurut Philipus M. Hadjon, wewenang

(bevoegdheid) dideskripsikan sebagai kekuasaan hukum (rechtsmacht).93 Jadi dalam

konsep hukum publik, wewenang berkaitan dengan kekuasaan. Adapun unsur-unsur

kewenangan adalah :

1. Pengaruh ialah penggunaan wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan

prilaku subyek hukum.

2. Dasar Hukum ialah bahwa wewenang itu selalu dapat ditunjukkan dasar

hukumnya

93
Philipus M. Hadjon, 1997, Tentang Wewenang, Yuridika No. 5 & 6 Tahun
XII, hal. 1
129

3. Konformitas hukum ialah mengandung makna adanya standar wewenang,

yaitu standar umum untuk semua jenis wewenang dan standar khusu untuk

jenis wewenang tertentu.94

Kewenangan sendiri membatasi agar penyelenggaraan Negara dalam

pemerintahan dapat dibatasi kewenangannya sehingga menghindari adanya tindakan

kesewenang-wenangan. Ada beberapa macam wewenang diantaranya:

1. Atribusi adalah pemberian kewenangan pemerintahan oleh pembuat

undang-undang kepada organ pemerintahan tersebut. Artinya kewenangan

itu bersifat melekat terhadap pejabat yang dituju atas jabatan yang

diembannya.

2. Delegasi adalah pelimpahan kewenangan pemerintahan dari organ

pemerintahan yang satu kepada organ pemerintahan lainnya. Atau dengan

kata lain terjadi pelimpahan kewenangan. Jadi tanggung jawab/ tanggung

gugat berada pada penerima delegasi/ delegataris.

3. Mandat terjadi jika organ pemerintahan mengizinkan kewenangannya

dijalankan oleh organ lain atas namanya. Pada mandat tidak terjadi

peralihan tanggung jawab, melainkan tanggung jawab tetap melekat pada si

pemberi mandat.

Menyimak konsep wewenang seperti di atas, maka kewenangan pendaftaran oleh

Kanwil Kementeriaan Hukum dan HAM di Provinsi Bali dapat dikualifikasikan

dilakukan atas dasar kewenangan mandat karena tanggung jawab pendaftaran berada

pada Kementeriaan Hukum dan HAM.

94
Ibid., hal. 2.
130

Dalam kaitannya dengan pendaftaran Jaminan Fidusia saat ini, Kementerian

Hukum dan HAM telah membentuk sistem pendaftaran fidusia secara online. Sejalan

dengan itu, pada tahun 2012 Menteri Keuangan mengeluarkan peraturan Nomor 130/

PMK. 010/ tahun 2012 yang mewajibkan Lembaga Pembiayaan Konsumen kendaraan

bermotor dengan Jaminan Fidusia untuk mendaftarkan jaminan tersebut. Dengan adanya

ketentuan ini diharapkan tidak ada lagi lembaga pembiayaan yang tidak mendaftarkan

Jaminan Fidusia. Menurut Bapak Drs. I Gusti Kompiang Adnyana, MM selaku Kepala

Kantor Wilayah Hukum dan HAM Provinsi Bali, bahwa kewenangan Kementerian

Hukum dan HAM didalam mengawasi pensertipikatan jamian fidusia adalah terkait

dengan kewajiban kreditur mensertipikatkan Jaminan Fidusia melalui kewenangan

atribusi yang diberikan oleh negara berdasarkan Pasal 12 UUJF. Sebagian kewenangan

tersebut terkait teknis pelaksanaan dan pengawasan pendaftarannya dimandatkan oleh

Menteri Hukum dan HAM kepada Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM

Provinsi, termasuk juga yang ada di Provinsi Bali. Lebih lanjut beliau berpendapat

bahwa, Kementerian Hukum dan HAM untuk mengatasi cara pendaftaran sebelumnya

dilakukan secara manual dan memakan waktu sangat lama maka dibuatlah sistem

fiidusia online.

Kementerian Hukum dan HAM menjamin keabsahan sertifikat fidusia yang

diterbitkan melalui cara online. Keabsahan sertifikat itu ditunjukkan dengan adanya

tanda tangan elektronik dari masing-masing Kepala Kantor Wilayah dan juga dibubuhi

stempel. Sebagai pihak yang mengeluarkan izin sertifikat sudah tegas menyatakan

bahwa sertifikat tersebut sah. Jika ke depannya ada persoalan, Kantor Wilayah Hukum

dan HAM siap mempertanggungjawabkan sertifikat yang telah diterbitkannya.

(berdasarkan hasil wawancara pada hari selasa tanggal 17 Mei 2013)


131

4.2 Legalitas Eksekusi Barang Jaminan Kendaraan Bermotor Roda Dua Yang
Tidak Didaftarkan Dikaji Dari Undang Undang Jaminan Fidusia

Setiap perjanjian Jaminan Fidusia yang diadakan oleh Lembaga Jaminan Fidusia

(termasuk juga Lembaga Jaminan Fidusia Non Bank), tunduk pada ketentuan yang

diatur dalam UUJF. Perjanjian fidusia merupakan perjanjian accessoir yang berarti

bahwa lahir dan hapusnya perjanjian Jaminan Fidusia bergantung pada perjanjian

pokoknya (perjanjian utang piutang atau perjanjian pembiayaan). Pasal 4 UUJF

menyatakan bahwa: Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian

pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi.

Kemudian pada Pasal 11 ayat (1) UUJF menyatakan bahwa Jaminan Fidusia wajib

didaftaran. Hal ini juga diatur dalam Pasal 1 ayat (1) jo. Pasal 2 Peraturan Menteri

Keuangan No. 130/PMK. 010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi lembaga

pembiayaan yang Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kendaraan Bermotor

Dengan Pembebanan Jaminan Fidusia, bahwa lembaga pembiayaan wajib mendaftarkan

Jaminan Fidusia pada Kantor Pendaftaran Fidusia paling lama 30 (tiga puluh) hari

kalender terhitung sejak tanggal perjanjian pembiayaan konsumen.

Pembebanan jaminan Fidusia dilakukan dengan menggunakan instrument yang

disebutdengan akta Jaminan Fidusia, adapun akta ini harus memenuhi syarat-syarat

berupa Akta Notaris dan didaftarkan pada Pejabat yang berwenang. Dengan pendaftaran

ini, diharapkan agar pihak debitur, terutama debitur yang tidak memiliki itikad baik

tidak dapatlagi membohongi kreditur atau calon kreditur dengan memfidusiakan lagi

atau bahkan menjual barang Obyek Jaminan Fidusia tanpa sepengetahuan kreditur.
132

Dalam konsideran UUJF merumuskan bahwa keberadaan undang-undang ini

diharapkan memberikan kepastian hukum dan memberikan perlindungan hukum bagi

yang berkepentingan dan jaminan tersebut perlu didaftarkan di Kantor Pendaftaran

Jaminan Fidusia. Adapun pengaturan mengenai terjadinya eksekusi dalam UUJF dapat

dijumpai pada Pasal 29 ayat (1) UUJF. Ketentuan tersebut menyatakan bahwa dalam hal

debitur atau Konsumen cidera janji, maka dapat dilakukan eksekusi terhadap Benda

yang menjadi objek Jaminan Fidusia. Mengenai cara-cara yang dapat diterapkan dalam

melakukan eksekusi menurut Pasal 29 ayat (1) UUJF adalah melalui :

a. pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2)


oleh Lembaga pembiayaan.
b. penjualan Benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia atas kekuasaan
lembaga pembiayaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil
pelunasan piutangnya dari hasil penjualan;
c. penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi
dan lembaga pembiayaan jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga
tertinggi yang menguntungkan para pihak.

Ketiga cara eksekusi Jaminan Fidusia tersebut di atas masing-masing memiliki

perbedaan dalam prosedur pelaksanaannya. Berbeda dengan penjualan dibawah tangan

pelaksanaanya harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain adanya kesepakatan

antara konsumen (debitur) dan lembaga pembiayaan (kreditur). Alasanya untuk

memperoleh nilai penjualan yang lebih baik untuk memperoleh harga tertinggi. 95

Perjanjian fidusia dibuat dengan akta otentik. Akta otentik adalah akta yang

dibuat oleh atau di depan pejabat yang ditunjuk oleh undang-undang dan memiliki

kekuatan pembuktian sempurna. Untuk akta yang dilakukan dibawah tangan biasanya

harus diotentikan ulang oleh para pihak jika hendak dijadikan alat bukti sah, misalnya

95
Netty SR Naiborhu, 2006, Pelaksanaan Eksekusi Jaminan Berdasarkan Parate
Eksekusi oleh Kreditur, Jurnal wawasan Hukum, hal. 164.
133

di pengadilan. Fidusia yang dilakukan dibawah tangan tidak dapat dijerat dengan UU

UUJF, karena tidak sah atau legalnya perjanjian Jaminan Fidusia yang dibuat.

Berdasarkan uraian sebagaimana disebutkan dalam pasal di atas maka dapat diketahui

bahwa perjanjian fidusia yang tidak di buatkan akta notaris dan tidak didaftarkan di

kantor pendaftaran fidusia bukanlah akta otentik yang memiliki nilai pembuktian

sempurna. Sedangkan di dalam UUJF dan PP No. 86 Tahun 2000 tentang Tata cara

Pendaftaran Fidusia dan Biaya Pendaftaran Fidusia disebutkan salah satu syarat

pendaftaran Fidusia adalah adanya salinan Akta Notaris. lembaga pembiayaan dalam

memberikan Jaminan Fidusia hanya dibuatkan secara dibawah tangan sehingga tidak

ada akta notaris dan berakibat pula bahwa jaminan tersebut tidak dapat didaftarkan.

Sehingga dapat disimak bahwa lembaga pembiayaan telah dengan sengaja melanggar

UU No. 42 Tahun 1999 Jo. PP No. 86 Tahun 2000.

Dalam hal debitur melakukan wanprestasi, apabila perjanjian tersebut hanya

dibuatkan dibawah tangan tanpa didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia, maka

kreditur tidak dapat menggunakan parate executie (eksekusi langsung). Proses

eksekusinya harus dilakukan dengan cara mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan

Negeri melalui proses Hukum Acara Perdata hingga turunnya putusan hakim yang telah

mempunyai kekuatan hukum tetap. Untuk eksekusi yang menggunakan titel

eksekutorial berdasarkan sertifikat Jaminan Fidusia, maka pelaksanaan penjualan benda

jaminan tunduk dan patuh pada Hukum Acara Perdata sebagaimana yang ditentukan

dalam Pasal 224 HIR jo. Pasal 258 RBg.

Fakta yang terjadi dilapangan dalam hal eksekusi dilakukan oleh lembaga

pembiayaan terhadap barang jaminan, dilakukan malalui bantuan pihak debt collector
134

dengan berdasarkan pada surat kuasa resmi dari kantor lembaga pembiayaan untuk

mengeksekusi suatu barang jaminan. Secara normatif, hal ini adalah tindakan yang tidak

sah menurut UUJF. Dalam hal ini kreditur dapat dilaporkan juga karena sebagian dari

barang tersebut menjadi milik berdua, baik kreditur dan debitur. Oleh karena itu,

dibutuhkan putusan hakim melalui proses Pengadilan Negeri setempat untuk

mengadilinya sesuai porsi masing-masing pemilik barang. Jika hal ini ditempuh maka

akan terjadi proses hukum yang panjang, melelahkan dan menghabiskan biaya yang

tidak sedikit. Akibatnya, margin yang hendak dicapai perusahaan tidak terealisir bahkan

mungkin merugi, termasuk rugi waktu dan pemikiran.

Dalam konsepsi Hukum Pidana, eksekusi objek fidusia di bawah tangan

termasuk dalam tindak pidana Pasal 368 KUHPidana terkait melakukan tindakan

pemaksaan dan ancaman perampasan. Adapun ketentuan Pasal 368 KUHPidana

menyebutkan:

Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian
adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang
maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana
penjara paling lama sembilan bulan.

Ketentuan tersebut menunjukkan dalam menyelesaikan sesuatu permasalahan dilarang

menggunakan cara-cara kekerasan atau ancaman kekerasan yang berkualifiaksi

pemerasan,

Lebih lanjut dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan No. 130/2012 dikatakan

bahwa lembaga pembiayaan dilarang melakukan penarikan benda Jaminan Fidusia

berupa kendaraan bermotor apabila Kantor Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan


135

sertifikat Jaminan Fidusia dan menyerahkannya kepada lembaga pembiayaan. Jika

lembaga pembiayaan tersebut tidak mendaftarkan perjanjian Jaminan Fidusia, maka

lembaga pembiayaan tersebut tidak dilindungi hak-haknya oleh UUJF. Hal ini

menunjukkan lembaga pembiayaan tersebut tidak memiliki hak untuk didahulukan

daripada kreditur lain untuk mendapatkan pelunasan utang debitur dari benda yang

dijadikan Jaminan Fidusia tersebut.

4.3 Perlindungan Hukum Terhadap Debitur Atas Eksekusi Barang Jaminan


Kendaraan Bermotor Yang Tidak Didaftarkan Oleh Kreditur

Sengketa antar manusia muncul pada hakikatnya diakibatkan oleh adanya

perbedaan kepentingan. Masing-masing manusia dapat melakukan hal yang sama,

tetapi tujuannya dapat berbeda-beda. Sejak jaman dahulu manusia mempunyai tujuan

untuk melakukan kerja sama sekaligus semangat persaingan di antara mereka. Dalam

semangat persaingan inilah sebuah kelompok akan berhadapan dengan kelompok

lainnya guna mengejar tujuan masing-masing. Berbagai cara ditempuh orang guna

menyelesaikan sengketa diantara mereka. Sesuai dengan situasi dan kondisi setempat,

beragam alternatif digunakan orang guna meredam ketegangan diantara para pihak, baik

alternatif tersebut menggunakan cara kekerasan atau tidak.

Terkait dengan Lembaga Pembiayaan, dalam menjalankan usahanya sering

ditemukan lebih memilih menggunakan jasa para debt collector, karena lebih gampang

eksekusinya. Dengan demikian, meskipun menggunakan jasa para debt collector

berisiko tinggi namun tetap ditempuh oleh Lembaga Pembiayaan. Bagi masyarakat

peminjam (debitur) yang awam tentang hukum, mau tidak mau akan ketakutan karena

mereka juga merasa bersalah akibat gagal membayar hutangnya. Namun demikian, bagi
136

masyarakat yang mengerti hukum, tindakan semena-mena yang dilakukan pihak

Lembaga Pembiayaan melalui debt collector-nya tidak jarang dilaporkan ke aparat

penegak hukum. Perbuatan debt collectordidalilkan sebagai perbuatan yang melanggar

hukum karena dianggap sepihak dan dapat menimbulkan kesewenang-wenangan dari

kreditur.

Pelaksanaan Eksekusi yang dilakukan oleh Lembaga Pembiayaan Non Bank di

Kota Denpasar dikemukakan didasarkan atas dasar alasan sesuai dengan klausula-

klausula dalam perjanjian yang telah ditandatangani oleh konsumen. Padahal isi

perjanjian tersebut bertentangan dengan kepentingan konsumen sesuai dengan Undang-

Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara

Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia

No. 3821), terutama Pasal 18 tentang klausula baku. Selain itu, karena perjanjian

tersebut berisi tentang jaminan kebendaan secara fidusia, isi perjanjian dan segala akibat

hukumnya tidak boleh bertentangan UUJF.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen terdapat beberapa asas yang

dikembangkan dalam membangun hubungan harmonis antara konsumen dengan pelaku

usaha. Asas yang dimaksudkan dijumpai pada Pasal 2 Undang-Undang Perlindungan

Konsumen yaitu:

1. Asas manfaat

Asas ini mengandung makna bahwa penerapan Undang-Undang Perlindungan

Konsumen harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada kedua

pihak, baik konsumen maupun pelaku usaha. Oleh karena itu, terkait

hubungan antara konsumen dengan pelaku usaha tidak ada satu pihak yang
137

kedudukannya lebih tinggi dibanding pihak lainnya. Kedua belah pihak harus

memperoleh hak-haknya.

2. Asas keadilan

Asas inimengatur mengenai hak dan kewajiban konsumen serta pelaku usaha.

Diharapkan melalui asas ini konsumen dan pelaku usaha dapat memperoleh

haknya dan menunaikan kewajibannya secara seimbang.

3. Asas keseimbangan

Melalui penerapan asas ini, diharapkan kepentingan konsumen, pelaku usaha

serta pemerintah dapat terwujud secara seimbang, tidak ada pihak yang lebih

dilindungi.

4. Asas keamanan dan keselamatan konsumen

Diharapkan penerapan Undang-Undang Perlindungan Konsumen akan

memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan konsumen dalam

penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang

dikonsumsi atau digunakan.

5. Asas kepastian hukum

Dimaksudkan agar baik konsumen dan pelaku usaha mentaati hukum dan

memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta

negara menjamin kepastian hukum

Sementara itu mengenai tujuan dari pembentukan Undang-Undang Perlindungan

Konsumen dapat dijumpai pada Pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Ketentuan tersebut menyatakan mengenai tujuan perlindungan konsumen adalah

sebagai berikut:
138

1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk

melindungi diri.

2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya

dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa

3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan

menuntut hak-haknya sebagai konsumen

4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur

kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan

informasi

5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan

konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam

berusaha

6. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan

usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan,

dan keselamatan konsumen

Mengenai hak dan kewajiban konsumen diatur dalam Undang-Undang

Perlindungan Konsumen. Dalam ketentuan Pasal 4 menyatakanmengenai hak daripada

konsumen yaitu :

1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi

barang atau jasa.

2. Hak untuk memilih barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan

kondisi serta jaminan yang dijanjikan.


139

3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan

jaminan barang atau jasa.

4. Hak untuk didengar pendapat atau keluhan atas barang atau jasa.

5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian

sengketa konsumen secara patut.

6. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.

7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujr serta tidak

diskriminatif.

8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi atau penggantian apabila

barang atau jasa yang diterima tidak sesuat dengan perjanjian atau

sebagaimana mestinya.

Selanjutnya mengenai kewajiban dari konsumen diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang

Perlindungan Konsumen yang menyatakan bahwa kewajiban konsumen adalah :

1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau

pemanfaatan barang atau jasa demi keamanan dan keselamatan.

2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang atau jasa.

3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yng disepakati.

4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen

secara patut.

Perjanjian pembiayaan yang merupakan perjanjian baku apabila kemudian

didalamnya terdapat hal-hal yang secara tidak langsung merugikan pihak konsumen

maka hal ini tentunya melanggar ketentuan yang tercantum dalam Pasal 18 Undang-

Undang Perlindungan Konsumen dan perjanjian dengan mencantumkan klausula baku


140

tersebut dinyatakan batal demi hukum. Akibat pelanggaran terhadap pencamtuman

Klausula baku tersebut, Lembaga Pembiayaan dapat dikenakan pidana penjara paling

lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2. 000. 000. 000,00 (dua miliar

rupiah). Sanksi ini termuat dalam Pasal 62 Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Indonesia memiliki Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (selanjutnya

disebut BPSK) yang didirikan tingkat Kabupaten/kota untuk menyelesaikan sengketa

konsumen. Dalam Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyatakan

bahwa konsumen dapat mengajukan gugatan pada pelaku usaha melalui badan

penyelesaian sengketa konsumen atau ke badan peradilan. Dengan demikian, sebagai

bentuk perlindungan dari negara, konsumen diberi kebebasan sesuai dengan

kemampuan untuk menyelesaikan sengketanya dengan pelaku usaha melalui jalur

pengadilan maupun diluar pengadilan melalui BPSK. Dengan kata lain, BPSK bertugas

utama menyelesaikan persengketaan konsumen di luar lembaga pengadilan umum.

BPSK beranggotakan unsur perwakilan aparatur pemerintah, konsumen, dan

pelaku usaha atau produsen yang diangkat atau diberhentikan oleh Menteri. Didalam

menangani dan mengatur permasalahan sengketa konsumen, maka BPSK memiliki

kewenangan untuk melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan dan keterangan dari

para pihak yang bersengketa, melihat atau meminta tanda bayar, tagihan atau kuitansi,

hasil test lab atau bukti-bukti lain. Mengenai keputusan Badan Penyelesaian Sengketa

Konsumen (BPSK) bersifat mengikat dan merupakan penyelesaian akhir bagi para

pihak.

Dibentuknya BPSK sangat membantu konsumen terutama dalam hal prosedur

beracara yang mudah, cepat, tanpa biaya karena segala biaya yang timbul sudah
141

dibebankan kepada APBD masing-masing Kabupaten/Kota sesuai dengan amanat

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Prosedur

penyelesaiannya pun tidak rumit harus menggunakan dalil-dalil hukum yang kaku.

Konsumen pengadu dapat mengajukan gugatan tertulis maupun tidak tertulis tentang

terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen. Jadi, penyelesaian sengketa

konsumen melalui BPSK tidak perlu persetujuan kedua belah pihak untuk memilih

BPSK sebagai forum penyelesaian sengketa.

Mengenai tugas BPSK didalam menangani dan mengatur permasalahan sengketa

konsumen antara lain :

1. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen dengan cara

melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi

2. memberikan konsultasi perlindungan konsumen; melakukan pengawasan

terhadap pencantuman klausula baku

3. melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan

dalam Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

4. menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis dari konsumen

tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen

5. melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;

memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap

perlindungan konsumen

6. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang

dianggap mengetahui pelanggaran terhadap Undang-undang No. 8 tahun 1999

tentang Perlindungan Konsumen;


142

7. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi

ahli, atau setiap orang atau pihak yang tidak bersedia memenuhi panggilan

badan penyelesaian sengketa konsumen;

8. mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain

guna penyelidikan dan / atau pemeriksaan; memutuskan dan menetapkan ada

atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen;

9. memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran

terhadap perlindungan konsumen; menjatuhkan sanksi administratif kepada

pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-undang ini.

Dengan demikian, setiap konsumen yang dirugikan akibat menggunakan barang/jasa

yang tidak memenuhi aspek kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan keselamatan

konsumen dapat menuntut ganti rugi kepada pelaku usaha melalui BPSK. Pengaduan

dilakukan dengan mengisi formulir yang disediakan BPSK dengan menyebut nama dan

alamat pengadu (konsumen), pelaku usaha dan melampirkan barang/jasa yang diadukan,

bukti perolehan (bon, faktur, kwitansi, dll), keterangan tempat dan waktu diperolehnya

barang/jasa tersebut.

Tata cara penyelesaian sengketa penyelesaian sengketa di BPSK dapat dilakukan

dengan 3 cara, hal ini tergantung pilihan dan kesepakatan para pihak yang bersengketa

yaitu dengan cara:

a. konsiliasi

Konsiliasi berupaya mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh kedua belah

pihak untuk menyelesaikan permasalahan, supaya kedua belah pihak dapat

melewati perselisihan tersebut. Karena proses konsiliasi memperbolehkan kedua


143

belah pihak yang berselisih untuk membicarakan masalah mereka, maka ini

memungkinkan bagi salah satu pihak untuk mendapatkan pengertian yang lebih

baik atas pihak yang lain. Hal ini akan dapat membantu menghilangkan salah

pengertian yang dikarenakan prasangka atau informasi yang tidak benar untuk

mencapai perubahan sikap yang nyata. Semua informasi yang didapatkan dalam

proses konsiliasi akan dijaga kerahasiaannya dan tidak akan dibuat sebagai bagian

dari proses peradilan. Konsiliasi membantu para pihak yang berbeda untuk

merundingkan penyelesaian dengan cara:

a. mengidentifikasi permasalahan dan memahami fakta dan keadaan

b. mendiskusikan masalah

c. memahami kebutuhan para pihak

d. mencapai kesepakatan yang dapat diterima satu sama lain

Pertemuan konsiliasi berupaya membawa pihak yang berkepentingan untuk bersama

sama mencari jalan keluar untuk menyelesaikan perselisihan. Pertemuan konsiliasi

adalah pertemuan suka rela. Jika pihak yang bersangkutan mencapai perdamaian,

maka perjanjian perdamaian yang ditandatangani oleh pihak yang bersangkutan

merupakan kontrak yang mengikat secara hukum. Perdamaian dalam pertemuan

konsiliasi dapat berupa permintaan maaf, perubahan kebijaksanaan dan kebiasaan,

memeriksa kembali prosedur kerja, memperkerjakan kembali, ganti rugi uang, dsb.

b. Mediasi

Mediasi merupakan suatu proses damai dimana para pihak yang bersengketa

menyerahkan penyelesaiannya kepada seorang mediator (seseorang yang mengatur

pertemuan antara 2 pihak atau lebih yang bersengketa) untuk mencapai hasil akhir
144

yang adil, tanpa biaya besar besar tetapi tetap efektif dan diterima sepenuhnya oleh

kedua belah pihak yang bersengketa. Dalam hal ini, pihak ketiga (mediator)

berperan sebagai pendamping dan penasihat. Dengan demikian, mediasi adalah

upaya penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yang netral, yang tidak

memiliki kewenangan mengambil keputusan yang membantu pihak-pihak yang

bersengketa mencapai penyelesaian (solusi) yang diterima oleh kedua belah pihak.

Mediasi disebut emergent mediation apabila mediatornya merupakan anggota dari

sistem sosial pihak-pihak yang bertikai, memiliki hubungan lama dengan pihak-

pihak yang bertikai, berkepentingan dengan hasil perundingan, atau ingin

memberikan kesan yang baik misalnya sebagai teman yang solider. Dengan tahapan

mediasi antara lain:

a. Para pihak yang bersengketa mendaftarkan kasusnya ke PMN

b. Para pihak bersama-sama menunjuk mediator yang sesuai dengan sifat

perkaranya

c. Mediator yang ditunjuk mengadakan pertemuan dengan seluruh pihak

membahas peran mediator, prosedur dan biaya

Sebagai salah satu mekanisme menyelesaikan sengketa, mediasi digunakan di

banyak masyarakat dan diterapkan kepada berbagai kasus konflik.

c. arbitrase.

Arbitrase adalah sebuah proses di mana kedua belah pihak setuju untuk

menggunakan penengah independen (orang yang tidak memihak) yang memberikan

keputusan yang mengikat dalam hal ini. Orang membuat klaim (penggugat) harus

memilih antara pergi ke pengadilan arbitrase danbiasanya tidak mungkin untuk


145

mengambil klaim ke pengadilan setelah telah melalui arbitrase. Penyelesaian

sengketa melalui arbitrase dinilai menguntungkan karena beberapa alasan sebagai

berikut:

a. Kecepatan dalam proses

b. Pemeriksaan ahli di bidangnya

c. Sifat konfidensialitas

Dalam hal para pihak kemudian memilih konsiliasi atau mediasi, maka BPSK hanya

bertindak sebagai fasilitator mempertemukan para pihak, mendamaikan secara aktif,

memberikan saran dan anjuran dan menerangkan hak dan kewajiban konsumen dan

pelaku usaha serta perbuatan dan tanggung jawab pelaku usaha. Bentuk dan besarnya

ganti rugi ditentukan oleh para pihak yang bersengketa bukan oleh BPSK, namun BPSK

wajib memberikan masukan yang seimbang kepada para pihak yang bersengketa.

Bilamana tercapai kesepakatan/perdamaian antar pihak maka hal itu dituangkan dalam

surat perjanjian perdamaian yang ditandatangani kedua pihak yang berperkara,

selanjutnya surat perjanjian perdamaian tersebut dikuatkan oleh Majelis BPSK dalam

bentuk Surat Putusan BPSK.

Para pihak jika memilih penyelesaian sengketa dengan cara arbitrase, maka

konsumen memilih arbiter dari salah satu unsur konsumen yang ada di BPSK. Demikian

juga pelaku usaha dapat menempuh dengan cara yang sama. Arbiter dari konsumen dan

arbiter dari pelaku usaha memilih arbiter ketiga dari unsur pemerintah yang akan

menjadi Ketua Majelis. Adapun yang menentukan bentuk dan besarnya ganti rugi

adalah majelis BPSK bukan para pihak, karena para pihak telah menyerahkan
146

sepenuhnya penyelesaian sengketa konsumen kepada Majelis BPSK, sehingga

penyelesaian sengketa konsumen dibuat dalam bentuk Putusan BPSK

Hal ini tentu saja menjadi catatan lembaga pembiayaan untuk merevisi klausul

baku dalam perjanjian untuk menyesuaikan dengan peraturan hukum yang berlaku.

Perlu diketahui bahwa antara Undang-Undang Perlindungan Konsumen dengan

Undang-Undang Jaminan Fidusia adalah saling mengisi. Masing-masing merupakan lex

specialis derogat legi generalis. Namun, perlu diketahui Undang-Undang Jaminan

Fidusia dibentuk setelah Undang-Undang Perlindungan Konsumen sehingga tidak ada

alasan pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Fidusia melampaui aturan yang ada dalam

Undang-Undang Perlindungan Konsumen.


147

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Bertitik tolak dari permasalahan dan proses analisis terhadap data yang diperoleh

dari penelitian lapangan dan kepustakaan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai

berikut:

1. Pihak kreditur melakukan eksekusi barang jaminan kendaraan bermotor yang tidak

didaftarkan jaminan fidusia didasarkan padan klausula didalam perjanjian

pembiayaan konsumen menyatakan bahwa apabila pembeli lalai (wanprestasi)

dalam membayar angsuran, maka kendaraan bermotor tersebut diambil kembali

oleh penjual dan dijual dengan harga pasaran. Hal ini merupakan alasan hukum

yang sah bagi pihak kreditur untuk melakukan eksekusi secara langsung dengan

kekuasaannya sendiri tanpa putusan pengadilan sebagaimana yang selama ini

dilakukan Lembaga Pembiayaan Non Bank terhadap debitur yang cidera janji di

Kota Denpasar. Sedangkan menurut UUJF diterangkan bahwa eksekusi dapat

dilaksanakan jika barang jaminan telah disertifikatkan agar mempunyai kekuatan

eksekutiroal melalui pembuatan akta notaris tentang Jaminan Fidusia dan

didaftarkan pada Kementerian Hukum dan HAM.

2. Akibat hukum pelaksanaan eksekusi jamnian fidusia yang tidak didaftarkan dalam

hal debitur melakukan wanprestasi maka secara normatif kreditur tidak sah

menggunakan parate executie (eksekusi langsung), dan proses eksekusinya harus

dilakukan dengan cara mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri melalui

132
148

proses Hukum Acara Perdata hingga turunnya putusan hakim yang mempunyai

kekuatan hukum tetap. Eksekusi yang menggunakan titel eksekutorial berdasarkan

sertifikat Jaminan Fidusia, maka pelaksanaan penjualan benda jaminan tunduk dan

patuh pada Hukum Acara Perdata sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 224

H. I. R/258 RBG, yang prosedur pelaksanaanya memerlukan waktu yang lama.

5.2 Saran-saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka

penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Dengan banyaknya terjadi tindakan pemanisme oleh para debt collector maka

sebaiknya pihak lembaga pembiayaan lebih hati-hati lagi dalam mengambil

kebijakan untuk menyerahkan permasalahan kredit macet yang dimilikinya kepada

debt collector selaku pihak ketiga. Hal ini berpengaruh pada nama baik dan

kredibilitas dari lembaga pembiayaan itu sendiri agar tidak hilang, hanya demi

mengejar keuntungan semata tanpa memperdulikan etika dan hak-hak konsumen.

2. Pemerintah agar mengefektifkan penerapan Peraturan Menteri Keuangan PMK.130

tahun 2012 terkait sanksi hukum bagi lembaga pembiayaan yang tidak

mendaftarkan jaminan fidusia. Hal tersebut dimaksudkan agar memberikan

kepastian hukum serta untuk memposisikan lembaga pembiayaan pada posisi yang

lebih menguntungkan dan memperoleh hak eksekutorial (parate eksekusi) langsung

sehingga memiliki dasar hukum yang jelas dalam melakukan eksekusi terhadap

objek yang dijadikan Jaminan Fidusia apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

dikemudian hari.
149

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku:

Abdurrahman, A. 1999, Ensiklopedi Ekonomi Keuangan Perdagangan, Jakarta,


Pradnya Paramita.

Affandi, Aten dan Wahyu Affandi, 1983, Tentang Melaksanakan Putusan Hakim
Perdata, Alumni, Bandung.

Apeldoorn, L. J. Van, 2000, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta.

Ashshofa, Burhan, 2001, Metode Penelitian Hukum, Cet.III, Rineka Cipta, Jakarta.

Badrulzaman, Mariam Darus, 1991, Bab-bab Tentang Creditverband Gadai dan Fidusia,
Bandung, PT. Citra Aditya Bakti.

----------,, 1991, Perjanjian Kredit Bank, Citra Aditya Bakti, Bandung.

----------, 1994, Aneka Hukum Kredit, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Budiono, Herlien, 2009, Ajaran Umum Hukum Perjanjian dan Penerapannya di Bidang
Kenotariaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Campbell, Black Henry, 1990, Blacks Law Dictionary, Edisi VI, St. Paul Minesota,
West Publishing

Chidir, Muhammad, 1993, Pengertian-pengertian Elementer Hukum Perjanjian Perdata,


Mandar Maju, Bandung

Friedman, Lawrence M., 1975, The Legal System, A Social Science Perspective, Rusell
Sage Foundation, New York.

Gautama, Sudargo, 1973, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung.

Hanitijo, Ronny, 1988, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia,
Jakarta.

Harahap, M. Yahya, 2005, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata


Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta.

Hartono, C.F.G. Sunaryati, 1994, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-
20, Alumni, Bandung.

134
150

Hasan, Djuhaendah, 1996, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah Dan Benda Lain
Yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsep Penerapan Asas Pemisahan
Horisontal, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Hernoko, Agus Yudha, 2010, Hukum Perjanjian (Asas Proporsionalitas dam Kontrak
Komersial), Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Hutagalung, Arie S., 1997, Serba Aneka Masalah Tanah Dalam Kegiatan Ekonomi,
cetakan 1, Jakarta, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia,.

Kansil, C.S.T., 1992, Pokok-pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia, Jakarta,


Sinar Grafika.

Libertus, Jehani, 2007, Pedoman Praktis Menyusun Surat Perjanjian. Dilengkapi


Contoh-Contoh : Perjanjian Jual Beli, Perjanjian Sewa Menyewa, Perjanjian
Pinjam Pakai, Perjanjian Pinjam Meminjam, Perjanjian Kerja, Perjanjian
Franchise, Surat Kuasa, Visimedia, Jakarta.

Machmudin, Dudu Duswara, 2003, Pengantar Ilmu Hukum, sebuah Sketsa, Refika
Aditama, Bandung.

Manan; Bagir, 1994, Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Menurut UUD 1945, Pustaka
Sinar Harapan, Jakarta.

Marzuki, Peter Mahmud, 2003, Batas-batas Kebebasan Berkontrak, Yuridika.

----------, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Hilaire McCoubrey dan Nigel D. White, 1996, Textbook On Jurisprudence (Second


Edition), Blackstone Press Limited.

Mertokusumo, Sudikno 1993, Hukum Acara Perdata, Liberty, Yogyakarta

----------, 1989, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta.

Muhammad, Abdulkadir, 1992,Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Notohamidjojo, O.,1970, Makna Negara Hukum, Badan Penerbit Kristen, Jakarta.

Patrik, Purwahid, 1998, Hukum Perdata II, Jilid I, Sinar Grafika, Jakarta

Prodjodikoro, R. Wiryono, 2004, Asas-asas Hukum Perjanjian, Mandar Maju,


Bandung.

Purwahid dan Kashadi, 2008, Hukum Jaminana Fidusia, Fakultas Hukum Universitas
Diponegoro, Semarang.
151

Rahardjo, Satjipto, 1983, Masalah Penegakan Hukum, Sinar Baru, Bandung

Ridwan, HR, 2011, Hukum Administrasi Negara. Rajawali Pers, Jakarta

Salim H.S., 2004, Perkembangan Hukum Jaminan Indonesia, Raja Grafindo Persada,
Jakarta.

Satrio,J., 1991, Hukum Jaminan, Hak-hak Kebendaan, Bandung, Citra Aditya Bakti,
Bandung.

-------, 1992, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa. Jakarta,

--------, 2002, Hukum Jaminan Hak. Jaminan Kebendaan Fidusia, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung.

Setiawan, R., 1979, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Bandung, Bina Cipta.

Sidharta, 2000, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo, Jakarta,.

Soebroto, Thomas, 1995, Tanya Jawab Hukum Jaminan Hipotik,Fidusia, Penanggungan


dan Lain-lain, Dahara Prize, Semarang

Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, 1985, Penelitian Hukum Normatif, Suatu
Tinjauan Singkat, CV. Rajawali, Jakarta.

Soepomo, R., 1989, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, 1989, PT. Pradnya
Paramita, Jakarta.

Subagyo, P. Joko,, 1999, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Cet. III, Rineka
Cipta, Jakarta.

Subekti dan R. Tjitrosoedibio, 1994, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta.

Subekti, 1982, Jaminan-jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia,


Alumni,Bandung

---------, 1989, Hukum Acara Perdata, PT. Bina Cipta, Bandung.

---------, 1991, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta.

Sunaryo, 2009, Hukum Lembaga Pembiayaan, Sinar Grafika, Jakarta.

Sunggono, Bambang, 1997, Metodologi Penelitian Hukum, PT RajaGrafindo Persada,


Jakarta.

Surakhmad, Winarno, 1972, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode & Teknik,
Tarsito, Bandung.
152

Sutantio, Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata, 1997, Hukum Acara Perdata


Dalam Teori dan Praktek, PT. Mandar Maju, Bandung.

Tiong, Oey Hoey, 1984, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan, Ghalia
Indonesia, Jakarta.

Usman, Rachmadi, 2008, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, Jakarta.

Wheare, K.C., 1975, Modern Constitutions, Oxford University Press, London.

Widjaja, Gunawan dan Ahmad Yani, 2000, Seri Hukum Bisnis Jaminan Fidusia, PT.
Raja Grapindo Persada, Jakarta.

----------, 2007,Jaminan Fidusia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Zwalve, C.AE Uniken Venema, 2000, Common Law & Civil Law, W.E.J Tjeenk
Willink, Deventer.

Karya Ilmiah/Makalah:

Atmadja, I Dewa Gede, 1993, Manfaat Filsafat Hukum dalam Studi Ilmu Hukum, dalam
Kerta Patrika, No. 62-63 Tahun XIX Maret-Juni, Fakultas Hukum Universitas
Udayana, Denpasar

Djais, Mochammad, 2000, Hukum Eksekusi Sebagai Wacana Baru Dibidang Hukum,
disampaikan dalam rangka Dies Natalis ke-43, Fakultas Hukum, Undip.

Hadjon, Philipus M., 1997, Tentang Wewenang, Yuridika No. 5 & 6 Tahun XII.

Lambok, Betty Dina, 2008, Akibat Hukum Persetujuan Tertulis dari PenerimaFidusia
kepada Pemberi Fidusia untuk Menyewakan Objek Jaminan Fidusia kepada
Pihak Ketiga, Jurnal Hukum ProJustitia,.

Naiborhu, Netty SR, 2006, Pelaksanaan Eksekusi Jaminan Berdasarkan Parate Eksekusi
oleh Kreditur, Jurnal wawasan Hukum, Vol. 14.

Sibarani, Bachtiar, 2001, Haircut atau Pareta Eksekusi, Jurnal Hukum Bisnis.

Peraturan Perundang-Undangan:

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana


153

Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 1999 No. 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821)

Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3889)

Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Fidusia

Keputusan Presiden No. 61 Tahun 1998 tentang Kedudukan, Tugas, Susunan


Organisasi dan Tata Kerja Departamen