Anda di halaman 1dari 7

NAMA : MARCONI SITOMPUL

NIM : 120903115
JURUSAN : ILMU ADMINISTRASI NEGARA
MATA KULIAH : EKONOMI POLITIK

CRITICAL REVIEW

Kajian Teori Ekonomi Politik Kelembagaan

Seperti halnya dengan ilmu ekonomi politik murni, ilmu ekonomi politik kelembagaan
(institutional political economic) juga berangkat dari falsafah ekonomi dasar: kelangkaan dan
pilihan. Adanya kelangkaan sumber daya di satu dan keinginan manusia yang tidak terbatas
di pihak lain memaksa pelaku-pelaku ekonomi melakukan pilihan. Dalam analisis ekonomi
murni, semua masalah ekonomi diselesaikan oleh pasar. Upaya untuk mengatasi masalah-
masalah ekonomi dan untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi akan menimbulkan trade-off di
antara berbagai alternatif yang ada. Ini berarti bahwa yang timbul kemudian tidak hanya
kompetisi, namun juga konflik. Sebab, apapun pilihan yang diambil pasti ada yang
diuntungkan dan dirugikan.

Dalam kenyataan, apa dan bagaimana pilihan yang diambil, tidak bisa hanya diselesaikan
oleh mekanisme pasar, sebab terkait dengan lembaga-lembaga dan sistem politik yang dianut.
Sistem politik menentukan hubungan antara mereka yang memiliki kekuatan politik dengan
yang kurang atau tidak memiliki kekuatan, dan menentukan hubungan antara penguasa
dengan masyarakat. Lebih jauh dari itu, sistem politik tidak hanya membentuk hubungan
kekuasaan dalam masyarakat, tetapi juga menentukan nilai-nilai dan norma-norma yang
sedikit banyak akan menentukan apa dan bagaimana berbagai kegiatan ekonomi harus
dilakukan dalam masyarakat. Disinilah, kelembagaan sebagai aransemen berdasarkan
konsensus atau pola tingkah laku dan norma yang disepekati bersama atau sebagai konvensi
berperan, dimana kelembagaan sebagai aturan dan pemberian hak dengan tegas memberi
naungan dan sanksi terhadap individu-individu atau kelompok-kelompok dalam menentukan
pilihannya.

Ekonomi politik kelembagaan dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pemecahan masalah-
masalah ekonomi maupun politik. Pandangan ini didasakan pada kenyataan bahwa sebagian
besar persoalan ekonomi maupun politik itu sendiri, yaitu dalam kelembagaan yang mengatur
proses kerja suatu perekonomian maupun proses-proses politik.

Studi tentang kelembagaan menempati posisi penting dalam ilmu ekonomi politik karena
fungsinya sebagai mesin sosial yang sangat mendasar. Dikatakan demikian, sebab dalam
konteks ekonomi politik, institusi merupakan tulang punggung dari sistem ekonomi politik.
Kelemahan dan kekuatan ekonomi dan politik suatu masyarakat dapat dilihat langsung dari
kelemahan institusi ekonomi dan politik yang mendasarinya. Oleh karena itu, kita perlu
mengembangkan ekonomi politik kelembagaan, sebab baik buruknya sistem ekonomi dana
politik sangat tergantung pada kelembagaan yang membingkainya (Rachbini, 2001).
Pendukung aliran kelembagaan sangat banyak. Dari sekian banyak pendukung tersebut yang
di anggap sebagai Bapak Ekonomi Politik Kelembagaan adalah Thorstein Veblen.

Menurut Veblen, teori-teori Klasik dan Neoklasik sama-sama memiliki bias, terlalu
menyederhanakan fenomena-fenomena ekonomi, dan mengabaikan peran aspek nonekonomi
seperti kelembagaan dan lingkungan. Padahal pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar
terhadap perilaku ekonomi masyarakat, sebab struktur politik dan sosial yang tidak
mendukung dapat memblokir dan menimbulkan distorsi proses ekonomi. Adapun perilaku
masyarakat bisa berubah, disesuaikan dengan lingkungan dan keadaan. Bagi Veblen,
keadaan dan lingkungan inilah yang disebut sebagai institusi.

Jika diperhatikan, definisi yang digunakan oleh Veblen diatas agak berbeda dengan definisi
kelembagaan yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Institusi yang
dimaksudkan Veblen tidak dalam pengertian fisik, tetapi lebih berkaitan pada nilai, norma,
kebiasaan, budaya, yang biasanya sudah melekat dan mendarah daging dalam masyarakat.
Institusi menurut Veblen dicerminkan oleh keadaan dan lingkungan. Karena kelembagaan
sudah menjadi kebiasan yang mendarah daging, maka ia relatif mudah diprediksi, lebih
stabil, dan dapat diaplikasikan pada situasi berulang.

Kebijakan Ekonomi Politik Kelembagaan di Indonesia


NAMA : MARCONI SITOMPUL
NIM : 120903115
JURUSAN/STAMBUK : ILMU ADMINISTRASI NEGARA / 2012
MATA KULIAH : EKONOMI POLITIK

TUGAS 1
CRITICAL REVIEW

EKONOMI POLITIK NEOLIBERALISME DAN GLOBALISASI

1. Ekonomi Politik Neoliberalisme


Di dalam ekonomi politik Neoliberalisme terdapat misi khusus yaitu mengurangi
campur tangan pemerintah atau negara dalam ekonomi untuk di ganti dengan pasar.
Artinya, sesuai paham neoliberalisme, pasar dijadikan sebagai satu-satunya cara atau
sistem untuk mengatur perekonomian dan sekaligus satu-satunya tolak ukur untuk
menilai keberhasilan semua kebijakan pemerintah. Sebagai implikasinya, dalam
ajaran Neoliberalisme, masyarakat dan negara hanyalah instrumen yang diperlukan
untuk menjamin terjadinya proses akumulasi oleh anggota-anggota partikelir (swasta)
dalam masyarakat. Dengan demikian, sesuai ajaran Neoliberalisme yang antinegara
ini, maka peran negara harus surut, digantikan oleh individu-individu swasta. Pada
intinya, mereka menginginkan pemerintah disingkirkan dari segala urusan ekonomi
dan menyerahkan urusan tersebut pada pasar.

Tokoh-tokoh yang masuk dalam kelompok Neoliberalisme yang sangat mengagung-


agungkan pasar ini cukup banyak. Di antaranya, yang paling terkenal adalah F.A.
Hayek, Milton Friedman, Gary S. Becker, dan George Stigler. Dari beberapa tokoh
tersebut, F.A. Hayek (1900-1992) dapat dikatakan sebagai motor aliran
Neoliberalisme. Hayek dapat dikatakan sebagai tokoh kedua setelah Adam Smith
yang sangat mendukung paham individualisme dan liberalisme. Dalam bukunya yang
sangat terkenal The Road to Serfdom (1944), Hayek menyatakan, Dengan
membiarkan jutaan individu melakukan reaksi terhadap harga pasar yang terbentuk
secara bebas, akan terjadi optimalisasi alokasi modal, kreativitas manusia dan tenaga
kerja dengan cara yang tak mungkin ditiru oleh perencanaan terpusat, sehebat apapun
perencanaan itu.
Menurut Hayek, pemberian kewenangan yang lebih luas pada individu untuk
mengejar kepentingan masing-masing tidak berbahaya bagi masyarakat secara umum.
Hal yang serupa juga dilontarkan oleh Adam Smith, ia mengatakan bahwa kebebasan
yang diberikan pada tiap individu akan memberikan dampak positif bagi masyarakat:
Walau tiap individu melakukan reaksi secara sendiri-sendiri, hasilnya justru akan
melahirkan sebuah keseimbangan yang membahagiakan semua pihak.

Tokoh Neoliberalisme lain yang tidak kalah tersohornya dibandingkan dengan F.A.
Hayek adalah Milton Friedman. Bagi Friedman, insentif individu adalah sebagai
pedoman dan motor terbaik untuk menggerakkan perekonomian. Dalam Capitalism
and Freedom (1962), Friedman mengatakan: Ada satu, hanya satu, tanggung jawab
sosial perusahaan atau bisnis, yaitu menggunakan seluruh sumber daya yang dimiliki
untuk mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya! Dan juga Friedman menambahkan
adanya perbedaan yang mendasar antara kubu Liberal Klasik dan Neoliberal. Dalam
Liberalisme Klasik, pemilikan swasta masih dianggap sebagai memiliki tugas sosial
untuk menyejahterakan masyarakat. Sedangkan dalam Neoliberalisme, pemilikan
swasta menjadi sesuatu yang absolut, tanpa peran sosial apapun kecuali untuk
akumulasi laba privat.

Landasan utama aliran Neoliberalisme ialah bahwa hubungan antarpribadi dan sosial
harus dipahami sesuai konsep dan tolak ukur ekonomi. Sebab, demikian pakar-pakar
Neoliberal mengemukakan argumentasinya, manusia memang sudah ditakdirkan
sebagai makhluk yang serakah (Homo Economicus). Ontologi atau Kodrat Manusia
sebagai homo economicus berimplikasi pada epistomologi (cara pandang) bahwa
manusia adalah makhluk yang serakah. Dengan cara pandang seperti itu, pada
gilirannya semua persoalan manusia hanya bisa dipahami, didekati, dan dicarikan
solusinya, dengan konsep ekonomi pula, yaitu konsep pasar. Kelompok Neoliberal
percaya bahwa pasarlah yang harus dijadikan sebagai prinsip dasar dalam masyarakat
dan negara. Bahkan lebih jauh dari itu, pasar harus dijadikan sebagai benchmark atau
tolak ukur keberhasilan berbagai kebijakan pemerintah.

Di sinilah, perbedaan yang mendasar antara kubu Liberal Klasik dengan Neoliberal.
Kalau Liberal Klasik mengharapkan agar pasar dijadikan sebagai satu-satunya cara
untuk mengatur jalannya perekonomian, sedangkan kubu Neoliberal mendesak pasar
dijadikan sebagai satu-satunya cara untuk mengatur perekonomian dan sekaligus
dijadikan satu-satunya tolak ukur untuk menilai kegagalan atau keberhasilan semua
kebijakan pemerintah.

2. Ekonomi Politik Globalisasi


Dalam bahasa sehari-hari, globalisasi adalah istilah yang digunakan untuk
menjelaskan pengurangan atau peniadaan sekat-sekat bagi kelancaran arus barang,
uang, dan SDM. Dalam arti yang lebih luas, globalisasi adalah pengintegrasian
internasional individu-individu dengan jaringan-jaringan-jaringan informasi serta
institusi ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi secara cepat dan mendalam pada
takaran yang belum pernah dialami selama sejarah dunia sebelumnya. Menurut Sri
Edi Swasono (2003) membagi tiga kelompok pandangan tentang globalisasi tersebut
sebagai berikut: (1) kelompok pengagum dan pemuja, (2) kelompok yang kritis dan
objektif, dan (3) kelompok yang menolak.

Kelompok pertama, yaitu mereka yang menjadi pengagum dan pemuja, melihat
globalisasi semata-mata dari segi positif-imperatifnya. Bagi mereka, globalisasi
adalah tuntutan sejarah yang tidak terelakkan, yaitu suatu realitas yang harus di
terima. Karena disini globalisasi bukan merupakan pilihan, terhadap globalisasi ini
mereka bersikap: tidak ada yang bisa kami lakukan mengenai hal itu. Kelompok ini
di dukung oleh akademisi yang berorientasi pada fundamentalisme (Smithian) yang
mendukung paham liberalisme dan kapitalisme serta memandang globalisasi sebagai
kemajuan dan peluang.

Kelompok kedua, yang lebih kritis dan objektif melihat kebaikan dan keburukan
globalisasi secara objektif, dan secara kritis mengungkapkan globalisasi sebagai
fenomena yang mengecewakan. Mereka melihat globalisasi penuh dengan janji-janji,
tetapi isinya kosong. Pandangan kelompok ini diwakili oleh Stiglitz dengan bukunya
yang sangat terkenal Globalization and Its Discontent, yang memandang bahwa
globalisasi memiliki potensi yang amat besar, namun mereka juga sangsi apakah janji-
janji globalisasi tersebut akan terwujud. Singkatnya, kelompok ini berusaha
memperbaiki dan mengkritisi, bukan menentang.

Kelompok ketiga, adalah mereka yang menolak globalisasi. Dalam pandangan


kelompok ini, globalisasi tidak ubahnya sebagai imperialisme gaya baru, yang melalui
proyek-proyek politik imperialis-kapitalis global, dengan pemerintahan globalnya,
secara terang-terangan melakukan rampokisasi dengan dalih menegakkan
pasarisasi di negara-negara sedang berkembang. Mereka menolak globalisasi sebab
sistem ini dilandaskan pada insting homo homini lupus yang predatoris. Untuk
memperbaiki posisi negara-negara berkembang, mereka menganjurkan kebijakan-
kebijakan yang lebih berfokus ke dalam (inward-looking) dan menanamkan semangat
nasionalisme. Mereka menolak ketidaksetaraan global dan mempertahankan keunikan
nasional. Mereka menolak dominasi atau subordinasi ekonomi, dan mengutamakan
eksistensi damai antarbangsa serta memperjuangkan internasionalisme kesetaraan
yang baru.

Terlepas dari perbedaan sudut pandang, sebagaimana dijelaskan diatas, menurut


Spillane (2003), globalisasi digerakkan oleh dua faktor, yaitu: pertama, pergeseran
dari pembangunan yang dipimpin oleh pemerintah ke pembangunan yang dipimpin
oleh pasar, dan kedua, kemajuan di bidang teknologi yang memudahkan koordinasi
produksi dan pemasaran pada tingkat global. Dari kedua faktor tersebut, yang lebih
berperan dalam mempercepat proses globalisasi adalah kemajuan dalam teknologi,
terutama teknologi informasi, produksi, dan transportasi. Kemajuan di bidang
teknologi informasi memungkinkan koordinasi tingkat global terhadap jaringan-
jaringan ekonomis di antara pemasok, manufaktur, perusahaan-perusahaan
multinasional, dan konsumen. Dengan kemajuan terknologi di berbagai bidang
tersebut, menyebabkan semakin mudah dan murahnya aliran barang, jasa, modal,
pengetahuan, dam SDM dari suatu negara ke negara lain dan semakin terintegrasinya
negara-negara dan penduduk dunia.

Dampak positif yang dijanjikan oleh globalisasi sangat banyak. Selain memperlancar
arus transportasi dan informasi; memberikan akses dan alih pengetahuan;
memperpanjang usia harapan hidup; dan melayani masyarakat dengan lebih baik, juga
dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi; meningkatkan ekspor; membuat harga
barang lebih murah; meningkatkan standar hidup; mengurangi/menghapuskan
kemiskinan; mengurangi eksploitasi terhadap tenaga kerja wanita dan anak-anak.

Namun keadaan justru sebaliknya, pada kenyataannya dikatakan bahwa dampak


globalisasi hanya sebuah janji belaka. Misalnya dikatakan bahwa globalisasi akan
membantu negara berkembang meningkatkan ekspor dan menyediakan barang-barang
dan jasa dengan harga lebih murah. Hal itu juga merupakan sebuah janji kosong,
sebab dalam perekonomian global, negara-negara berkembang justru menghadapi
bentuk kompetisi baru dari negara-negara maju yang lebih mampu menghasilkan
berbagai produk dengan harga lebih murah, sedangkan negara-negara berkembang
sulit menembus pasar negara-negara maju yang dengan berbagai cara menghambat
masuknya produk-produk negara-negara berkembang. Kasus yang lain dikatakan
bahwa globalisasi dapat meningkatkan standar hidup dan mengurangi kemiskinan.
Namun dalam kenyataannya, yang makin tinggi standar hidupnya ialah mereka yang
mendapatkan akses, sedangkan sebagian besar kelompok marjinal semakin terjepit.
Begitu juga dikatakan bahwa globalisasi akan membantu tiap negara mengurangi
eksploitasi terhadap kerja wanita dan anak-anak. Kenyataan menunjukan bahwa telah
terjadi feminisasi tenaga kerja yakni semakin banyaknya pekerja wanita dalam
sektor industri dengan upah rendah. Dengan demikian, sebagaimana yang
disampaikan oleh Priyono (2003), masalah globalisasi bukan terletak pada menolak
atau menerima, melainkan bagaimana membuat berbagai sosok kekuasaan yang
terlibat dalam proses globalisasi bertanggung jawab.
TUGAS 2
CRITICAL REVIEW

BAGAIMANA POLITIK MEMPENGARUHI EKONOMI ?

Konsep tentang politik banyak sekali, hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya definisi
yang diberikan para pakar tentang politik. Ada yang mengartikan sebagai: siapa
mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana (Laswell, 1936); perjuangan untuk mendapatkan
kekuasaan (Morgenthau, 1960); seni dan ilmu tentang pemerintahan (Schattschneider,
1960); pola-pola kekuasaan, aturan, dan kewenangan (Dahl, 1959); ilmu tentang negara
(Easton, 1981); Konsiliasi dari pihak-pihak yang bertentangan melalui kebijakan publik
(Crick, 1964). Dari berbagai definisi tersebut, tampak bahwa politik terkait dengan banyak
hal. Ada yang mengaitkan politik dengan kekuasaan dan otoritas, bisa juga dikaitkan dengan
kehidupan publik, pemerintah, negara, konflik, serta resolusi konflik. Walau politik memiliki
banyak arti, dari berbagai definisi tersebut, yang potensial untuk dikaitkan dengan ekonomi
adalah pemaknaan politik sebagai pemerintah, politik sebagai kehidupan publik dan politik
sebagai otoritas untuk mengalokasikan sumber-sumber dan nilai-nilai (Caporaso, 1993).

Jika politik diartikan sebagai pemerintah, politik adalah mesin politik formal negara secara
keseluruhan (mencakup institusi-institusi, aturan-aturan, hukum, kebijakan, dan aktor-aktor
kunci). Jadi politik di sini mencakup semua aktivitas, proses, dan struktur pemerintahan. Jika
politik diartikan sebagai publik, politik merujuk pada peristiwa-peristiwa yang melibatkan
banyak orang. Cara terbaik untuk memahami politik sebagai publik ialah dengan
membedakan antara privat dengan publik. Pakar ekonomi neoklasik membedakan private
dengan publik berdasarkan transmisi sistem harga. Jika bisa diselesaikan melalui pasar
(mekanisme harga) maka suatu barang digolongkan sebagai barang privat. Tetapi jika tidak
bisa diselesaikan melalui mekanisme harga dan secara politis harus melibatkan peran
pemerintah maka barang atau jasa tersebut digolongkan ke dalam barang publik.

Jika politik diartikan sebagai otoritas pengalokasian, arti politik dan ekonomi menjadi mirip,
sebab keduanya dimaksudkan sebagai metode alokasi. Proses ekonomi dan politik merupakan
cara alternatif dalam mengalokasikan sumber-sumber daya yang langka. Artinya, politik di
sini tidak merujuk pada struktur formal pemerintah, melainkan sebagai suatu cara tertentu
dalam pengambilan keputusan tentang produksi dan pendistribusian sumber-sumber. Berbeda
dengan alokasi ekonomi yang lebih menekankan pada pertukaran secara sukarela, sistem
alokasi politik lebih mengandalkan otoritas. Kita tahu bahwa perekenomian tidak bisa hanya
diserahkan pada produsen dan konsumen yang berinteraksi satu sama lain melalui mekanisme
pasar. Di sini diperlukan adanya campur tangan pemerintah (politik) jika mekanisme pasar
tidak bekerja dengan sempurna. Selain itu, campur tangan pemerintah diperlukan untuk
mengatasi eksternalitas dan untuk pengadaan barang-barang publik.

Menurut Mohtar Masoed (1991), dalam pemaknaan politik sebagai otoritas, hubungan antara
ekonomi dan politik diterjemahkan ke dalam isu tentang hubungan antara kekayaan dan
kekuasaan. Ekonomi terkait dengan penciptaan dan pendistribusian kekayaan, sedangkan
politik terkait dengan penciptaan dan pendistribusian kekuasaan. Dengan demikian bagi ahli
ekonomi politik, kegiatan ekonomi seperti kegiatan-kegiatan lain dalam masyarakat, tidak
terlepas dari konteks politik. Tegasnya, sistem politik tidak hanya membentuk power
relationship dalam masyarakat, tetapi juga menentukan nilai-nilai serta norma-norma yang
sedikit banyak akan menentukan apa dan bagaimanan berbagai kegiatan ekonomi
dilaksanakan dalam masyarakat.

Anda mungkin juga menyukai