Anda di halaman 1dari 29

TUGAS PENGENDALIAN VEKTOR

PENGENDALIAN VEKTOR VERTEBRATA

Koordinator:

Oleh :

Ani Mulyani
NURFITRIA HARIYANI 16/403322/PKU/16140

Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat


Peminatan Kesehatan Lingkungan
Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2016

1
A. PENDAHULUAN
Berbagai masalah kesehatan pada manusia semakin kompleks seperti penyakit-penyakit yang
ditularkan oleh hewan. Penularan penyakit ke manusia dapat terjadi karena adanya peran vektor
penyakit atau peran hewan (tikus, kelelawar) sebagai reservoir suatu penyakit. Menurut (WHO
2014) vektor merupakan makhluk hidup yang berperan sebagai pembawa, penular, dan penyebar
penyebab penyakit dari host ke penjamu yang rentan. Vektor penyakit dapat menularkan
penyaebab penyakit antara manusia atau hewan ke manuasia. Vektor penyakit biasanya berupa
serangga atau binatang penganggu seperti tikus. Vektor dapat digolongkan menjadi vektor
mekanik dan vektor biologik. Vektor mekanik yaitu makhluk hidup yang menyebarkan penyakit
pada penjamu rentan tanpa mengalami perubahan siklum perkembangan pada agen penyakit,
sedangkan vektor biologik merupakan makhluk hidup yang membawa agent penyakit yang mana
agent penyakit mengalami perubahan siklus perkembangbiakan dari tahap-ketahap yang lebih
lanjut. Penyebaran penyakit melalu vektor dapat melalui kotoran, gigitan, dan cairan tubuh yang
telah mengandung agent penyakit baik secara langsung ataupun secara tidak langsung melalui
kontaminasi makanan (Wijayanti 2008; WHO 2014).
Salah satu hewan yang dapat berperan sebagai vektor adalah hewan vertebrata. Vertebrata
adalah kelompok hewan bertulang belakang yang memiliki ciri-ciri: Memiliki 2 pasang pelengkap
(kaki,sirip, atau sayap), memiliki sistem peredaran darah tertutup, memiliki jenis kelamin tunggal,
dan memiliki struktur organ yang lebih kompleks dibandingkan dengan hewan avertebrata. Hewan
vertebrata dibagai ke dalam 5 klasifikasi kelompok yaitu pieces, amphibi, reptil, aves, dan
mamalia (Leeson & Tom 2010).
Pieces atau ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling besar dan hidup di air. Spesies
ikan dapat ditemukan di daerah perairan hangat maupun di subfreezing Samudra Arktik dan dapat
menyesuaikan diri untuk berenang diair tawar dangkal maupun dilautan yang memiliki air asin.
Ikan bernapas melalui insang, badan ditutupi oleh sisik, dan memiliki alat gerap berupa sirip. Ikan
dapat dikalsifikasikan ke dalam 3 kelompok yaitu kelompok bertulang (ikan mas), tanpa rahang
(lamprey), dan kelompok tulang rawan (hiu) (Leeson & Tom 2010).
Amphibi merupakan hewan yang dapat hidup di dua tempat yaitu darat dan air. Amphibi
merupakan hewan ectotherms yaitu hewan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan, sebagai contoh di musim dingin amphibi akan menguburkan diri di dalam lumpur atau
dengan menggunakan daun-daunan hingga suhu hangat kembali. Periode ini merupakan periode
tidak aktif dari amphibi atau disebut dengan hibernasi. Salah satu contoh dari amphibi adalah
katak. Katak dewasa memiliki kaki belakang yang kuat yang berfungsi untuk berenang dan
melompat. Tubuh katak ditutupi kulit yang selalu basah dan tidak bersisik. Katak bernapas
menggunakan paru-paru sebagai proses pertukaram oksigen dan CO2, akan tetapi katak juga
menggunakan kulit sebagai proses pertukaram oksigen dan CO2 (Leeson & Tom 2010).

2
Reptil juga merupakan hewan yang ectothermic. Reptil memiliki ciri-ciri kulit kering dan
bersisik, merupakan hewan melata , bernapas dengan paru-paru. Reptil merupakan hewan yang
tidak bergantung pada air, sehingga habitat seluruh hidup hewan ini berada didarat. Contoh dari
hewan reptil adalah buaya dan ular (Leeson & Tom 2010).
Aves atau sering disebut burung merupakan hewan yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh bulu,
memiliki sepasang sayap, memiliki paru. Burung juga merupakan hewan ectothermic yang
bereproduksi dengan bertelur. Sayap aves berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk terbang,
hampir sebagian aves dapat terbang, namun ada aves yang tidak bisa terbang tetapi mampu
berenang dengan baik seperti pinguin. Aves juga memiliki anggota gerak berupa sepasang kaki
yang berfungsi untuk bertengger, berjalan, dan berenang. Contoh aves adalah burung unta, burung
kasuari (Leeson & Tom 2010).
Mamalia merupakan hewan endotermik dan merupakan hewan menyusui yang memiliki
kelenjar susu. Biasanya kulit mamalia ditutupi oleh rambut untuk melindungi tubuh dari suhu
panas dan dingin, beberapa mamalia seperti beruang ditutupi oleh bulu-bulu yang tebal hampir
diseluruh tubuh. Mamalia bernapas menggunakan paru-paru dan memiliki sepasang kaki yang
biasanya berfungsi untuk lari, berenang, mendaki, dan melompat. Contoh dari hewan mamalia
adalah tikus dan kelelawar (Leeson & Tom 2010).
Hewan-hewan yang termaksud dalam klasifikasi kelas vertebrata dapat berperan sebagai
vektor seperti kelas pieces dan kelas mamalia yaitu tikus dan kelelawar. Selain sebagai vektor
penyakit, tikus dan kelelawar merupakan salah satu reservoir suatu penyakit seperti pes dan nipah.
Reservoir merupakan suatu tempat (inang) berkembangbiaknya suatu agent penyakit secara alami
dan berkesinambungan pada manusia atau hewan vertebrata. Hewan reservoir menunjukkan gejala
klinik atau gejala penyakit bersifat ringan atau penyebab kematian (Wijayanti 2008). Selain hewan
atau manusia sebagai tempat berkembangbiaknya agent, zat organik seperti tinja dan makanan
dapat berperan sebagai reservoir penyakit.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui hewan vetebarata yang berperan
sebagi vektor dan reservoir, mengetahui penyakit dan penularan yang disebabkan oleh hewan
vetebarata yang berperan sebagai vektor dan reservoir, serta kondisi lingkungan yang sesuai bagi
vektor sehingga dapat dilakukan pencegahan dan pengendalian keberadaan vetebarata yang
berperan sebagi vektor dan reservoir.
B. PEMBAHASAN
1. Tikus
Tikus merupakan salah satu hewan avertebrata kelas mamalia dan merupakan hewan
mengerat (Rodensia). Hewan ini lebih sering dikenal sebagai hama pertanian, perusak barang,
dan hewan penganggu (Departemen Kesehatan RI 2008). Besselsen (2004) menggolongkan
tikus dalam taksonomi sebagai berikut :
Kingdom : Animalia

3
Filum : Chordata
Sub-filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Sub-kelas : Theria
Ordo : Rodensia
Sub-ordo : Scuirognathi
Famili : Muridae
Sub Famili : Murinae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus Norvegicus

Rodentia merupakan ordo yang paling besar jika dibandingkan dengan mamalia
lainnya. Ordo rodentia memiliki 2.000 spesies atau 40% dari 5.000 spesies untuk seluruh
kelas Mammalia. Dan hanya 160 spesies tikus yang ada di Indonesia. Dari 160 spesies tikus
hanya 9 spesies yang berperan sebagai vektor atau hama tanaman dan pemukiman (Sholichah
2007).
a. Spesies tikus sebagai vektor atau hama tanaman dan pemukiman
Tikus memiliki 9 spesies yang berberan sebagai vektor penyakit dan atau hama
tanamana dan pemukiman sebagai berikut : Bandicota indica (wirok besar), Bandicota
bengalensis (wirok kecil), Rattus norvegicus (tikus riul), Rattus rattus diardii (tikus
rumah), Rattus tiomanicus (tikus pohon), Rattus argentiventer (tikus sawah), Rattus
exulant (tikus ladang), Mus musculus (mencit rumah), Mus caroli (mencit ladang). Dari 9
spesies diatas Rattus norvegicus (tikus riul), Rattus rattus diardii (tikus rumah), dan Mus
musculus (mencit rumah) yang paling banyak penyebarannya di dunia (Sholichah 2007).
Tabel 1. Ciri morfologi dari Rattus norvegicus, Rattus rattus diardii, dan Mus
musculus
Rattus norvegicus Rattus rattus diardii Mus musculus

Berat 160-500 gram 80-300 gram 10-21 gram


Kepala dan Hidung tumpul, dan Hidung runcing, Hidung runcing,
Badan badan besar, pendek. badan kecil. badan kecil, panjang
Panjang Memiliki panjang 6-10 cm
kepala+badan 150- 16-21 cm.
250 mm
Ekor Lebih pendek dari Lebih panjang dari Memiliki panjang
kepala+badan, kepala+badan, yang hampir sama
panjang 160-210 mm, memiliki panjang atau sedikit lebih
warna bagian atas ekor 19-25 cm. panjang dari
lebih tua dan bagian Berwarna tua merata kepala+badan, tidak
bawah lebih muda. dan tidak berambut. memiliki rambut,
dan memiliki
panjang 7-11 cm.
Telinga Relatif kecil, dan Besar, tegak, tipis, Memiliki telinga
sebagian tertutup dan tidak yang tegak dan
bulu. berambut.panjang besar. Panjang
telinga 25-28 mm telinga berkisar 15
mm.
Bulu Bagian punggung Berwarna abu-abu Bagian perut abu-

4
abu-abu kecoklatan, kecoklatan sampai abu kecoklatan,
pada bagian perut kehitaman dibagian punggung memiliki
berwarna keabuan. punggung. warna keabuan-
abuan.
Habitat Disaluran air, got, Gudang makanan, Rumah, lemari,
daerah pemukiman pemukiman penyimpanan
dan pasar manusia, langit- barang.
langit rumah, lubang
pohon, dan tanaman
menjalar.
Kebiasaaan Menggali lubang, Pandai memanjat, Pemanjat, menggali
berenang, menyelam, dan mengerat. lobang, dan
mengerat. menggigit.
(Sholichah 2007; Departemen Kesehatan RI 2008)
b. Siklus hidup tikus

Gambar 1. Siklus hidup tikus


Tikus akan kawin ketika masa birahi (estrus). Tikus mengalami periode kehamilan 21
hari setelah kawin. Tikus mampu melahirkan anak 4-12 ekor perkelahir. Populasi tikus
sangat banyak dan dapat meningkat dengan cepat karena 48 jam setelah melahirkan tikus
dapat kembali kawin, dan setelah 5-9 minggu anak-anak tikus akan memasuki usia dewasa
dan sudah dapat kawin (Departemen Kesehatan RI 2008).
c. Habitat dan lingkungan yang disukai tikus
Lingkungan atau habitat tikus akan berbeda setiap spesies tikus. Tikus memiliki
habitat atau lingkungan sesuai dengan spesiesnya, seperti tikus sawah, maka habitat
keberadaan tikus di sawah, tikus rumah maka keberadaan habitat tikus ada di rumah. Tikus
sawah merupakan hama tanaman padi yang memiliki habitat disawa seperti seperi saluran
irigasi air, semak belukar, dan petakan sawah. Sedangkan tikus rumah memiliki habitat di
langit-langit rumah (Ramadhani & Yunianto 2010; Dewi 2010). Selain itu, habitat tikus
juga berada di pasar. Penelitian yang dilakukan oleh (Ernawati & Priyanto 2013)
menunjukkan bahwa sebagian besar tikus yang ditemukan di pasar adalah Rattus Tanezumi

5
yang ditemukan di berbagai los sembako. Los sembako merupakan sumber pakan bagi
tikus.
Secara umum, tikus menyukai lingkungan yang kotor, tersedianya pakan yang
melimpah, menyukai tempat-tempat yang tersembunyi. Penelitian yang dilakukan oleh
(Ramadhani & Yunianto 2010) menunjukkan karakteristik lingkungan pemukiman yang
menunjukkan kebeadaan tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus berada pada
kondisi rumah yang tidak memiliki dinding dapur yang permanen, tidak memiliki langit-
langit rumah, tempat sampah yang terbuka, dan kondisi rumah yang kotor. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh (Ratnawati 2014) juga menunjukkan bahwa jarak rumah dengan
sawah, dan keberadaan sampah berhubungan dengan keberadaan tikus.
d. Kerugian akibat tikus
Tikus merupakan hewan yang harus dikendalikan dan dicegah keberadaannya,
karena tikus mampu berperan sebagai vektor dan menyebabkan beberapa kerugian yang
ditimbulkan karena keberadaan tikus. Adapun kerugian yang ditimbulkan oleh tikus
(Suparjo 2010):
a) Tikus merusak bahan makanan karena tikus memakan bahan makanan 7% dari berat
tubuhnya. Selain itu kerusakan bahan makanan disebabkan oleh kontaminasi feses,
urin, dan bulu tikus. Kontaminasi tersebut dapat menyebabkan menurunya kualitas
bahan makanan dan menjadi sumber penularan penyakit.
b) Kebiasaan tikus yang suka mengerat menyebabkan kerusakan pada bangunan fisik
rumah maupun barang-barang yang ada didalam rumah. Hal ini dikarenakan
pertumbuhan gigi seri tikus yang terus menerus mengalami perpanjangan sepanjang
0,30,4 mm/hari, sehingga perlu dikurangi dengan cara mengerat.
c) Tikus juga bertanggung jawab terhadap beberapa penularan penyakit yang ditularkan
baik secara langsung (rate bite fever), maupun secara tidak langsung melalui kotoran
tikus (laptospirosis).
d) Tikus juga dapat berperan sebaga carrier penyakit seperti: penyakit pes yang ditularkan
oleh vektor yang hidup sebagai ektoparasit pada tikus (pinjal dan berbagai jenis kutu).
e. Penyakit karena tikus
Seperti yang telah dijelaskan di atas, tikus merupakan salah satu hewan verteberata
yang dapat berperan sebagai vektor dan resorvoir penyakit. Adapun beberapa penyakit
yang disebabkan oleh tikus baik sebagai vektor maupun reservoir penyakit.
a) Leptosirosis
Leptosiprosis merupakan penyakit zoonosis yang menginfeksi manusia dan
hewan. Leptospira juga merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
leptospira. Hewan pengerat seperti tikus merupakan reservoir utama penular penyait
leptosirosis (WHO 2009). Leptospirosis dapat terjadi pada manusia melalui penularan

6
baik secara langsung maupun tidak langsung. Urin tikus yang mengandung agent
penyakit, air atau tanah yang tercemar urin tertular, dan jaringan atau cairan tubuh
dari hewan tertular merupakan sumber penularan penyakit ini. Masuknya bakteri ke
tubuh manusia dapat melalui kuku, kulit yang lecet, selaput lendir mulut, hidung,
mata, darah, cairan ketuban, jaringan tanah, vegetasi dan air yang terkontamisi dengan
urin terinfeksi (Soeharsono 2002).
Penelitian yang dilakukan oleh (Ratnawati 2014; Ramadhani & Yunianto 2010)
mengenaik faktor resiko terjadinya leptosiposis menunjukkan hasil bahwa faktor
resiko yang berperan terhadap penularan leptosiporis adalah keadaan lingkungan yang
kotor, keberadaan sampah berhubungan dengan keberadaan tikus yang menjadi
sumber penularan penyakit leptospirosis. Penelitian yang dilakukan oleh (Nurbeti et
al. 2016) mengenai kasus leptospirosis diperbatasan kabupaten Bantul menunjukkan
hasil bahwa penyakit leptospirosis paling banyak terjadi di daerah yang memiliki
aliran air sungai, dekat dengan sawah, dan memiliki curah hujan yang sedang.
Kejadian leptospirosis dapat dinilai dengan menggunakan segitiga epidemiologi
yang terdiri dari host, agent, dan environment untuk menentukan faktor resiko
leptospirosis (Bustan 2008):
Host merupakan makhluk hidup seperti manusia atau hewan yang berfungsi
sebagai tempat tejadinya proses berkembangnya penyakit. Faktor resiko
berdasarkan host dapat berupa pekerjaan, umur, hygien sanitasi, sosio ekonomi,
dan riwat terjadinya luka.
Agent merupakan makhluk hidup atau mikrobia yang menyebabkan terjadinya
penyakit. Penyakit leptosiprosis ini desebabkan oleh agent penyakit dari genus
leptospira.
Environment atau lingkungan yang menjadi faktor resiko dari kejadian
leptospirosis adalah kondisi selokan, keberadaan sampah, keberadaan tikus,
kelembaban, curah hujan, PH tanah dan air, dan tatanan rumah.
Pencegahan terkait penyakit ini dapat dilakukan dengan mengetahui faktor-faktor
resiko apa saja yang menyebabkan terjadinya penyakit leptospirosis terutama
kaitannya dengan lingkungan. Sanitasi lingkungan dan sanitasi diri (APD) ketika
berkaitan langsung dengan faktor resiko seperti bekerja disawah, meminimalisir
keberadaan tikus baik di rumah ataupun di sawah merupakan beberapa cara yang
dapat dilakukan dalam rangka melakukan pencegahan leptospirosis. Selian itu
peningkatan pengetahuan berhubungan dengan pencegahan leptospirosis. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh (Kusumastuti 2011) menunjukkan hasil bahwa
peningkatan pengetahuan berhubungan dengan pencegahan leptospirosis.

7
b) Pes
Pes atau plague merupakan salah satu penyakit zoonosi yang ditularkan kepada
manusia melalui vektor yang hidup sebagai ektoparasit ditubuh tikus. Vektor penular
penyakitnya: pinjal (kutu) Xenopsylla cheopis, Pullex iritans Penyakit ini merupakan
penyakit menular yang dapat menyebabkan terjadinya wabah. Penyakit pes
disebabkan oleh agent bakteri Yersinia pestis (Pasteurella pestis). Yersinia pestis
(Pasteurella pestis). Merupakan bakteri gram negatif, tidak bergerak dan tidak
membentuk spora (Sudarto 2007)
Penyakit pes memiliki masa inkubasi 26 hari (tipe bubo) dan 172 hari (tipe
paru). Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang telah terinfeksi,
gigitan tikus yang terinfeksi. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui
droplet yang mengandung agent penyakit. Selain itu transmisi penyakit dapat terjadi
melalui kontak langsung dengan binatang terinfeksi maupun kontak fisik dengan
penderita (Corwin & Elizabeth 2009).
Faktor resiko terjadinya pes dapat dinilai melalu segitiga epidemiologi yang
terdiri dari host, agent, dan environment (Sudarto 2007).
Agent merupakan sumber penyakit yang dapat berupa mikrobia atau makhlup
hidup lainnya. Agent pada penyakit pes adalah Yersinia pesti yang dibawa oleh
vektor yag hidup sebagai ektoparasit ditubuh tikus atau hewan pengerat lainnya
Host adalah manusia sebagai tempat berkembangbiaknya agent penyakit. Faktor
resiko terkait dengan host adalah sosio ekonomi yang rendah, gizi kurang,
pengetahuan, dan personal hygienyang buruk.
Environment atau kingkungan yang kurang baik seperti keberadaan sampah,
rumah kotor, rumah yang memiliki sarang tikus merupakan faktor resiko dari
penyakit pes.
Pencegahan pes dapat dilakukan dengan mengetahui faktor resiko seperti
pengetahuan, sanitasi yang buruk, sehingga dapat dilakukan berbagai pencegahan
terkait pes. Menempatkan kandang diluar rumah, sanitasi lingkungan merupakan
beberapa pengendalian pes. Selain itu dapat dilakukan berbagai penyuluhan mengenai
pes, higien pribadi, dan cara penularan penyakit dapat membantu dalam mencegah
terjadinya KLB pes. Penelitian yang dilakukan oleh (Zamzami 2014) menunjukkan
bahwa peningkatan pengetahuan melalui pendidikan kesehatan berhubungan dengan
pencehahan penyakit pes.
c) Salmonellosis
Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella
sp. Penularan terjadi melalui gigitan tikus ataupun makanan yang tercemar oleh tinja

8
hewan maupun manusia. Tikus, lalat, dan kecoak merupakan sumber penular penyakit
salmonellosis bagi manusia dan ternak (Departemen Kesehatan RI 2008).
Faktor resiko terjadinya pes dapat dinilai melalu segitiga epidemiologi yang
terdiri dari host, agent, dan environment (Isikhnas n.d.).
Host yang rentan adalah semua spesies, derajat kerentanan tergantung pada umur
dan kondisi tubuh.
Agent penyakit ini adalah bakteri salmonella.
Environment atau lingkungan yang kurang baik.
Pencegaha penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan
lingkungan peternakan, alat pengangkutan hewan, dan tempat pemasaran produk
ternak. Selain itu dapat juga dilakukan dengan melakukan vaksinasi terhadap hewan,
mencegah masuknya ternak carrier, pemberantasan vektor pembawa seperti tikus atau
serangga, dan ternak diberikan pakan yang bersih.
f. Tanda-tanda keberadaan tikus
Pengendalian tikus merupakan hal yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya
berbagai akibat yang disebabkan oleh tikus. Dalam melakukan pengendalian tikus
diperlukan tanda-tanda keberadaan tikus dalam hal melakukan tindakan pengendalian
tikus. Berikut tanda-tanda keberadaan tikus yang dapat digunakan sebagai acuan
pengendalian tikus (Departemen Kesehatan RI 2008):
a) Feses atau kotoran tikus
Feses atau kotoran tikus dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies tikus.
Tikus riul memiliki bentuk feses bergelondong, dan memiliki ujung tumpul. Ukran
feses tikus riul cukup besar yaitu berukuran panjang 19 mm dengan lebar 7 mm,
berjumlah 40-50 droppings/ tikus/ hari dan biasanya bergerombol dalam kelompok
kecil. Berbeda dengan feses tikus rumah yang memiliki ukuran lebih kecil yaitu 13
mm, berbentuk seperti sosis dan feses tidak menggerombol tapi agak berpencar.
Feses juga menunjukkan keberadaan atau aktivitas tikus. Feses yang basah
menunjukkan bahwa tikus masih berada dilokasi feses berada, feses tikus juga banyak
ditemui pada titik dimana aktivitas tikus masih tinggi, sehingga ketika ingin
melakukan pengendalian dapat dilakukan di titik dimana feses berapa.
b) Noda dan bau urine
Noda atau bau tikus dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan tikus
dilokasi urin. Tikus mengeluarkan bau yang khas berupa urin, hal ini dapat digunakan
untuk mengetahui jika tikus tersebut sudah lama menghuni suatu tempat. Urin tikus
banyak ditemui pada titik aktivitas tikus sehingga pengendalian tikus dapat dilakukan
dengan mencium urin tikus untuk mengetahui jalur-jalur aktivitas tikus.

9
c) Kerusakan hasil keratan
Hasil keratan tikus dapat digunakan untuk mengindentifikasi spesies tikus yang
menyerang. Tikus riul memiliki hasil keratan selebar 3,5-4 mm,sedangkan mencit
hanya selebar 1-2 mm.
d) Tanda/noda olesan dan runway
Tikus merupakan hewan mengerat yang memiliki perilaku selalu berjalan pada
jalur yang sama (runway), sehingga di jalur yang dilewati oleh tikus akan tampak
bekas sentuhan badan tikus dengan tempok atau benda-benda yang dilaluinya berupa
bercak kotor. Tikus juga dapat menimbulkan jejak kaki dan jejek ekor di dinding atau
lain atau yang berdebu sehingga dapat diketaui keberadaan tikus untuk dilakukan
pengendalian yang efektif.

g. Pengendalian dan pencegahan keberadaan tikus


Menanggulangi kerugian-kerugian akibat tikus dapat dilakukan dengan berbagai
pengendalian dan pencegahan keberadaan tikus. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) pengendalian merupakan suatu proses mengendalikan sesuatu agar keberadaanya
dapat menurun. Sedangkan pencegahan merupakan proses atau cara mencegah agar
keberadaan tikus tidak ada (Pusat Bahasa Depatermen Pendidikan Nasional n.d.).
Pencegahan keberadaan tikus baik tikus sawah maupun tikus rumah dapat dilakukan
dengan cara sanitasi. Sanitasi merupakan cari pengendalian tikus dengan cara menjaga
atau mengelola sanitasi lingkungan rumah atau seperti pengelolaan sampah sebagai
makanan tikus dan memangkas rumput yang panjang. Hal ini bertujuan untuk menciptakan
lingkungan yang tidak menarik atau sesuai bagi perkembangbiakan tikus sehingga tikus
tidak akan bersarang di lingkungan rumah atau sawah. Pencegahan keberadaan tikus juga
berhubungan dengan perilaku masyarakat yang menjaga sanitasi lingkungan. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh (Fadzilah V.Q.N et al. 2014) mengenai hubungan
perilaku masyarakat dengan keberadaan tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perilaku membersihkan lingkungan rumah, membersihkan dapur, dan merapikan atau
menata barang dapat mencegah keberadaan tikus dirumah. Pencegahan tikus sawah juga
dapat dilakukan dengan cara membersihkan rumput atau gulma pada habitat utam tikus
yaitu area tanggul, irigasi, jalan sawah dan parit.
Pengendalian tikus akan berbeda pada setiap spesies, sehingga dalam melakukan
pengendalian tikus harus mengetahui tikus jenis apa yang akan dikendalikan atau dicegah.
Spesies tikus sawah akan berbeda cara pengendalian dan pencegahan tikus rumah.
Pengendalian tikus sawah akan efektif jika dilakukan secara biologi atau menggunakan
predator alami tikus, sedangkan pengendalian tikus rumah dapat dilakukan dengan

10
menggunakan perangkap ataupun umpan tikus. Pencegahan tikus dapat dilakukan dengan
menjaga sanitasi rumah ataupun sawah dapat dilakukan pada setiap spesies tikus .
a) Pengendalian tikus sawah
Pengendalian tikus sawah dapat dilakukan dengan berbagai cara:
Pengendalian tikus sawah dapat dilakukan secara biologi yaitu dengan
menggunakan musuh alami tikus. Penelitian yang dilakukan oleh (Paiman &
Kusberyunadi 2015) mengenai konservasi burung hantu sebagai pembasi alami
tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konservasi burung hantu dapat
mengurangi atau mengontrol keberadaan tikus di sawah.
Pengendalian lain dapat dilakukan dengan menggunakan umpan beracun ataupun
umpan yang digunakan sebagai perangkap. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
(Posmaningsing et al. 2014) mengenai efektivitas pemanfaatan umbi gadung pada
umpan sebagai rontentisida alami. Penelitian ini dilakukan dengan cari memberikan
umpan umbi gadung sebagai rodentisida nabati. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa umpan umbi gadung efektif dalam membunuh tikus. Pengendalian
menggunakan umpan juga harus diperhatikan terkait dengan umpan yang di sukai
oleh tikus sebagai perangkap. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Priyambodo &
Nazzaretta 2013) menunjukkan bahwa tikus menyukai biji-bijian atau beras
dibandingkan dengan jagung atau padi. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh
(Dedi et al. n.d.) mengatakan bahwa umpan yang disukai oleh tikus adalah ikan teri
(19,54%), mie instan 13,69 %, kelapa sangrai 12,38 %, jagung 11,73 %, rebon 11,08
%, kelapa bakar 9,12 %, ubi kayu dan gabah 7,82 % serta beras 6,84 %.
Pengasapan atau fumigasi pada lubang atau sarang tikus merupakan salah satu cara
pengendalian tikus di sawah.
Selain cara-cara diatas, pengendalian tikus di sawah dapat dilakukan dengan
menggunakan perangkap tikus. Penelitian yang dilakukan oleh (Mutiarani 2009)
mengenai pengujian perangkap tikus pada tikus sawah menunjukkan hasil bahwa
perangkat yang dipasang diarea sawah dapat menangkap tikus yang ada.
b) Pengendalian tikus rumah
Pengendalian tikus rumah dapat dilakukan sebagai berikut :
Mekanik: Pengendalian mekanik dilakukan dengan cara mematikan atau
memindahkan tikus secara tidak langsung dengan menggunakan tangan telanjang
ataupun alat bantu. Salah satu pengendalian tikus secara mekanis dapat dilakukan
dengan menggunakan perangkat. Perangkap tikuspun memiliki berbagai macam
jenis yaitu snap trap (perangkap mati), live trap (perangkap hidup), sticky trap
(perangkap berperekat), dan umpan tikus. Penelitian yang dilakukan oleh (Irawati et

11
al. 2015) mengenai efektivitas penggunaan perangkap tikus terhadap keberhasilan
menangkap tikus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lem tikus/ sticky trap lebih
efektif menangkap tikus dibandingkan dengan perangkap lainnya, akan tetapi
perangkap lainnya seperti snap trap (perangkap mati), live trap dapat digunakan
sebagai upaya dalam menangkap tikus. Penelitian lain yang dilakukan oleh
(Darmawansyah 2008) mengenai penggunaan perangkap dalam pengendalian tikus
rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkap tikus secara efektif dapat
digunakan sebagai pengendalian tikus rumah. Keberhasilan dalam penggunaan
perangkat tikus tergantung pada umpan yang diletakan diluar perangkap sebagai
penarik tikus. Umpan yang dapat digunakan sebagai penarik adalah ikan teri, kelapa
sangrai, jagung, kelapa bakar, dan ubi kayu. Hal tersebut sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh oleh (Dedi et al. n.d.) mengenai umpan umpan yang disukai
oleh tikus sehingga dapat menarik kedatangan tikus
Kimiawi: Pengendalian kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan
kimia atau fumigasi. Fumigasi merupakan cara yang digunakan untuk meracuni
tikus beserta ektoparasitnya dengan menggunakan gas beracun (fumigan). Fumigasi
tikus dapat menggunakan bahan kimia metil bromida karena memiliki kemampuan
penetrasi yang baik, waktu fumigasi yang diperlukan singkat, efektif membunuh
hama tikus, mudah diaplikasikan, dan dapat digunakan berbagai jenis komoditas.
Pengendalian tikus secara fumigasi dengan metil bromida tidak dianjurkan karena
fumigan bersifat biosida yang sangat berbahaya tidak hanya tikus dan ektoparasitnya
melaikan spesies lain yang ada dilingkungan fumigasi. Namun jika pengendalian
kimia secara fumigasi harus dilakukan maka fumigan harus dilakukan oleh
fumigator yang terlatih agar terjamin keektivitasan dan keamanan fumigasi
(Departemen Pertanian 2006).
Fisik: Pengendalian tikus secara fisik bertujuan untuk mengubah faktor lingkungan
fisik menjadi tidak sesuai dengan batas toleransi tikus atau menjadi tidak sesuai atau
disenangi oleh tikus. Pengendalian tikus secara fisik dapat dilakukan dengan
menggunakan sinar ultraviolet, fungsi dari sinar ini adalah menyebabkan tikus
menjadi stress yang akan berdampak pada sistem hormonalnya. Penggunaan sinar
ultraviolet ini diperuntukan sebagai repelen. Selain penggunaan sinar ultraviolet
sebagai repelen, ada beberapa bagian dari tanaman yang dapat digunakan sebagai
pengusir tikus seperti sirsak, mengkudu, dan bintaro. Penelitian yang dilakukan oleh
(Amelia 2015) mengenai efektivitas penggunaan sirsak, mengkudu, dan bintaro
sebagai pengusir tikus, hasil penelitian menunjukkan bahwa ke-3 bagaian tanaman
tersebut memiliki 64,32% tingkat repelensi atau pengusiran tikus. Hasil penelitian

12
lain yang dilakukan oleh (Ramadhani 2016) menunjukkan hal yang sama bahwa
mengkudu dapat digunakan sebagai pengusir tikus.
2. Kelelawar
Kelelawar merupakan satu satunya anggota kelas mamalia yang memiliki
kemampuan untuk terbang. Terdapat lebih dari 200 genus kelelawar yang telah dikenal, atau
sekitar 20% dari semua genus kelelawar di dunia. Kelelawar juga memiliki daerah
penyebaran yang bersifat kosmopolit, karena ditemukan hampir di semua wilayah di muka
bumi kecuali di daerah kutub dan pulau-pulau terisolasi. Indonesia merupakan salah satu
negara yang memiliki keanekaragaman spesies kelelawar yang cukup tinggi. Jumlah spesies
keleawar di Indonesia diperkirakan mencapai 230 spesies atau 21% dari spesies kelelawar di
dunia, yang sudah diketahui terdiri dari 77 spesies anggota subordo Megachiroptera (family
Pteropididae) atau kelelawar besar/megabats dan 153 spesies anggota subordo
Microchiroptera atau kelelawar kecil/microbats. Sekitar 20% Megachiroptera dan lebih dari
50% Microchiroptera memiliki tempat bertengger di gua (Sari et al. 2014). Kelelawar
memiliki taksonomi sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Class : Mammalia
Ordo : Chiroptera
Sub Ordo : Megachiroptera dan Microchiroptera
Famili : Pteropodidae, Megadermatidae, Nycteridae, Vespertilionidae,
Rhinolophidae, Hipposideridae, Emballonuridae, Rhinopomatidae,
dan Mollosidae

Megabats tidak bergelantung pada lokasi yang bergema, memiliki tubuh dan mata yang
besar, makanan utamanya adalah buah, dan persebarannya terbatas pada wilayah tropis.
Sebaliknya, mikrobats bergelanantung pada lokasi yang bergema untuk mencari makan dan
berburu (maneuvering) , memiliki tubuh dan mata yang kecil, makanan utamanya adalah
serangga, dan tersebar hampir diseluruh dunia. 42 spesies kelelawar ditemukan di Amerika,
dan semuanya adalah mikrobats. Terdiri dari 3 famili yang berbeda dan 23 spesies khusus di
wilayah California (CPHC 2002).

13
a) Morfologi

Gambar 2. Struktur Tubuh Kelelawar

Kelelawar, seperti halnya manusia dan mamalia lainnya, adalah hewan berdarah
panas (warm-blooded) dan memiliki bulu atau rambut. Hewan ini melahirkan, memberi
makan dengan menyusui melalui kelenjar susu. Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang
dapat terbang dan sayapnya menjadi cirri khas yang bervariasi, lebih dari 900 spesies
sehingga mudah dikenali.
Kelelawar merupakan salah satu anggota mamalia yang termasuk ke dalam ordo
Chiroptera yang berarti mempunyai sayap tangan, karena kaki depannya bermodifikasi
sebagai sayap yang berbeda dengan sayap burung. Sayap kelelawar dibentuk oleh
perpanjangan jari kedua sampai kelima yang ditutupi oleh selaput terbang atau patagium,
sedangkan jari pertama bebas dan berukuran relatif normal. Antara kaki depan dan kaki
belakang, patagium ini membentuk selaput lateral, sedangkan antara kaki belakang dan ekor
membentuk interfemoral. Kelelawar memiliki sepasang sayap yang fleksibel dan menyatu
dengan kedua pasang kakinya. Sayap yang dimiliki kelelawar sangat lentur, seperti kulit
kelelawar itu sendiri dan membentang diantara tulang- tulang jari kakinya sampai ke bagian
lengannya. Cakar Pada bagian ibu jari dari kaki-kaki kelelawar terdapat berfungsi untuk
mendaki di bebatuan gua dan bergelantungan di pohon.
Kebanyakan microchiroptera adalah insektivora dan hanya sebagian kecil yang
omnivora, karnivora, piscivora, frugivora, nectarivora atau sanguivora. Kelelawar pemakan
serangga yang paling kecil mempunyai bobot 2 gram dan paling besar 196 gram dengan
lengan bawah sayap 22-115 cm. Microchiroptera umumnya menggunakan ekolokasi sebagai
alat pengendalian gerakannya di tempat yang gelap dan menentukan posisi serangga yang
akan dimangsanya.
Sedangkan Megachiroptera umumnya adalah herbivora (pemakan buah, daun, nektar
dan serbuk sari), berukuran tubuh relatif besar dengan bobot badan 10 gram untuk ukuran
kecil dan ukuran terbesar dapat mencapai 1500 gram, memiliki telinga luar yang sederhana
tanpa tragus, jari kedua kaki depan bercakar dan mata berkembang relatif baik. Kelelawar
juga dikenal sebagai pembawa beban yang sangat handal, jenis Lasiurus borealis mampu

14
membawa empat ekor bayinya yang memiliki total bobot 23,4 gram atau 181% dari bobot
tubuhnya. Kelelawar lain hanya mampu membawa bayinya dengan bobot berkisar 9,3-73,3%
dari bobot tubuhnya.
Pada waktu terbang kelelawar membutuhkan oksigen yang jauh lebih banyak
dibandingkan ketika tidak terbang (27 ml vs. 7 ml oksigen/1 gram bobot tubuh), dan denyut
jantung berdetak lebih kencang (822 kali vs. 522 kali /menit). Untuk mendukung kebutuhan
tersebut, jantung kelelawar berukuran relatif lebih besar dibandingkan kelompok lain (0,9%
vs. 0,5% bobot tubuh). Kebutuhan energi yang tinggi saat terbang mengharuskan kelelawar
makan dalam jumlah yang banyak (Yuliadi et al. 2014).
b) Perilaku bertengger/bergelantung
Kelelawar aktif dan makan pada malam hari. Sepanjang hari/siang hari, kelelawar
bergelantung pada tempat yang gelap, pada tempat yang terlindung/teduh seperti gua,
terowongan tambang, celah batu, lubang pohon, dibawah kulit kayu pohon yang longgar,
pohon, bangunan, bawah jembatan, dan tempat yang terlindungi. Beberapa spesies
bergelantung sendiri, sementara yang lain membentuk koloni yang berbeda dari
puluhan/beberapa hingga berjuta individu. Waktu bergelantung dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis, yaitu bergelantung saat siang dan malam hari, saat hibernasi, saat musim
panas, ketika perawatan/penjagaan , ketika memberi makan, ketika diam/hinggap atau
istirahat.
Kebiasaan bergelantung kelelawar adalah sebuah bentuk adaptasi yang
menggambarkan hubungan sosial, diet, perilaku terbang, resiko predasi dan reproduksi setiap
spesies. Kelelawar hidup pada berbagai tipe habitat dan memilih alternatif tempat
bergelantung. Jenis-jenis kelelawar tertentu seperti kalong, codot dan beberapa jenis dari sub
ordo Megachiroptera memilih tempat bergelantung untuk tidur pada pohon-pohon besar,
sedangkan beberapa jenis kelelawar dari sub ordo Microchiroptera lebih memilih tempat
berlindung pada gua, lubang-lubang batang pohon, celah bambu, pohon mati, jalinan rotan
hingga langit-langit rumah pada pemukiman penduduk. Beberapa jenis hidup secara
berkoloni, berkelompok kecil, berpasangan, dan bahkan hidup secara soliter.
c) Navigasi (lokasi yang bergema/echolocation dan kebiasaan makan)
Kelelawar merupakan hewan aktif malam hari (nocturnal) dimulai dari matahari
terbenam hingga pagi hari sebelum matahari terbit atau dikenal dengan istilah hewan
crepuscular. Perilaku ini merupakan adaptasi dari bentuk sayap berupa selaput kulit tipis dan
sangat rentan terkena sinar matahari, karena lebih banyak panas diserap daripada dikeluarkan.
Selain itu, kelelawar juga mengalami adaptasi khusus berupa indera yang sangat mendukung
aktivitas mereka di malam hari, sehingga dapat mengurangi persaingan dengan hewan
beraktivitas pada siang hari (diurnal) misalnya burung. Untuk menemukan mangsa dan untuk
geraknya sampai lingkungannya, sebagian besar kelelawar memiliki kemampuan ekolokasi.

15
Kelelawar memancarkan suara radio dengan frekuensi tinggi dan melihat informasi tentang
objek di depannya dari pemantulan gema/gaung. Beberapa karakteristik bentuk/struktur
kelelawar, termasuk bermacam bentuk dan ukuran telinga dan kadang-kadang berwajah aneh,
terkait dengan echolocation.
Untuk mendapatkan makanannya, kelelawar pemakan serangga menggunakan telinga
(echolocation) untuk memandu arah geraknya, yaitu dengan cara kelelawar mengeluarkan
suara dari mulut atau lubang hidung dengan frekuensi getaran gelombang suara yang sangat
tinggi (ultrasonik) rata-rata 50 kilohertz di luar ambang batas pendengaran manusia yang
hanya 2-18 kilohertz (Suyanto, 2001).
Secara garis besar echolocation dibedakan menjadi tiga jenis yaitu; Constant
Frequency (CF), Quasiconstan Frequency (QCF), dan Frequency Modulated (FM). Constant
Frequency dapat mendeteksi serangga pakan kelelawar dari kepakan sayap serangga tersebut.
Perbedaan dari tiga jenis echolocation ini yaitu, lebar gelombang, struktur harmoni, durasi,
dan tingkatan tekanan suara. Perbedaan tersebut menyebabkan gerakan sinyal pada kelelawar
dapat menghasilkan echolocation. Kelelawar subordo Microchiroptera yang bersarang di gua
(Hipposideros commersoni, Miniopterus manavi dan Myotis goudoti) memakan serangga ordo
Isoptera, Hymenoptera, Coleoptera, Lepidoptera, Orthoptera, Hemiptera, dan Homoptera.
Anggota ordo serangga tersebut tercatat sebagai serangga hama tanaman (Wijayanti, 2011).
Beberapa spesies kelelawar berkembangbiak pada musim semi sementara yang lain
berkembangbiak saat musim gugur dan menunda pembuahan/kehamilan hingga/sampai
musim semi. Pada kasus lain, kelahiran bertepatan dengan kemunculan serangga di musim
semi (CPHC 2002).
d) Hibernasi dan migrasi
Karena sebagian besar kelelawar di beberapa Negara, khususnya kawasan Amerika
hanya memakan serangga, mereka aktif khususnya selama bulan-bulan panas ketika populasi
serangga lebih berlimpah dan aktif. Pada musim dingin, kelelawar bermigrasi dari selatan ke
tempat yang beriklim lebih hangat atau hibernasi pada lokasi yang terlindung. Tidak diketahui
pola migrasi dan distribusi musim pada beberapa kelelawar. Di California, beberapa pola
migrasi mungkin terbatas pada perubahan elevasi (CPHC 2002).
e) Ekologi dan nilai ekonomi
Makanan kelelawar megachiroptera cenderung mencolok, mengelompok, dan
umumnya berlimpah serta mudah dipanen. Microchiroptera pemakan serangga aktif malam
hari seperti nyamuk, kumbang-kumbangan, ngengat dan sebagainya. Suyanto (2001),
menyatakan bahwa satu ekor kelelawar dapat makan serangga hingga setengah bobot
tubuhnya atau setara dengan 600 ekor serangga berukuran sebesar nyamuk dalam waktu satu
jam.

16
Di daerah khatulistiwa makanan tersedia sepanjang tahun, sedangkan di daerah sub
tropis makanan mungkin langka selama berbulan-bulan. Beberapa spesies kelelawar bisa
bertengger/bergelantung tunggal dekat dengan makanan mereka, sedangkan yang lain
mungkin bertengger dikoloni besar sehingga mereka harus terbang jarak jauh untuk mencari
makan. Kelelawar juga sangat penting sebagai penyerbuk dan penyebar biji di hutan tropis
seluruh dunia. Buah-buahan besar, seperti mangga, dimakan kelelawar tanpa dipetik, tapi
buah-buahan lebih kecil dapat dibawa dari pohon induknya sebelum dimakan dan benih
dikeluarkan melalui mulut atau anus. Jarak benih terpencar tergantung pada ukuran kelelawar.
Cynopterus brachyotis dengan berat badan kurang lebih 30 gr dapat membawa buah hingga
75 gr, dan terbang sampai 200. Di sisi lain, Pteropus vampyrus (800 gr) dapat membawa buah
lebih dari 200 gr (van der Pijl, 1957; Marshall dan Mc William, 1982). Pteropus vampyrus
dapat melakukan perjalanan sekitar 50 km setiap malam untuk mencari makan sehingga
penyebaran jarak jauh mungkin terjadi. Banyak buah-buahan dimakan oleh kelelawar juga
disukai oleh hewan lain, sehingga terjadi kompetisi intraspesifik (Yuliadi et al. 2014).
Kelelawar memiliki peran penting sebagai konsumen utama terhadap serangga
malam, sebagai pollinator tanaman,dan membantu penyebaran biji buah untuk ratusan
bahkan ribuan jenis tumbuhan. Kelelawar mengkonsumsi serangga dalam jumlah besar setiap
malam. Kelelawar dapat mengkonsumsi 1000 ekor nyamuk per jam. Beberapa tanaman
pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi, di negara tertentu, menggantungkan hidupnya
dengan kelelawar,seperti, pisang, alpukat,kurma, buah ara,mangga,kacang mete, dan agave
(tequilla). Kelelawar membantu 95% hutan tropis mengalami pertumbuhan kembali
(regrowth) melalui penyebaran biji buah. (CPHC 2002).
f) Kelelawar sebagai reservoir beberapa penyakit
Kelelawar menyimpan lebih banyak virus daripada hewan pengerat dan mampu
menyebarkan penyakit ke wilayah geografis yang lebih luas karena kemampuan terbang, pola
migrasi dan pola roosting. Selain itu, beberapa jenis kelelawar, seperti kelelawar coklat
(brown bat), menyukai bertengger di ruang loteng tempat tinggal manusia, sehingga
memudahkan kontak dengan manusia. Sementara hewan pengerat, lebih terbatas pada lokasi
geografis mereka dan mencari tempat tinggal musiman di liang bawah tanah , rumah, dan
bangunan lainnya.
Banyak informasi telah dikumpulkan tentang peran kelelawar dalam pemeliharaan
dan penyebaran virus dari spesies Microchiroptera (kelelawar pemakan serangga), dan hanya
ada sedikit informasi yang tersedia untuk anggota subordo Megachiroptera (flying fox dan
fruit bats) (Mackenzie , Field dan Guyatt, 2003). Kelelawar merupakan inang
keanekaragaman virus patogenik penyakit zoonosis di seluruh dunia. Meski tampak tidak
patogen terhadap kelelawar, beberapa virus sangat mempengaruhi mamalia lain termasuk
manusia (Yuliadi et al. 2014).

17
Bat-borne virus adalah virus yang reservoir utamanya adalah kelelawar. Jenis virus
tersebut termasuk coronavirus, hantavirus, lyssavirus, virus lassa, virus Ebola dan virus
Marburg.
1) Penularan
Bat-borne virus ditularkan melalui gigitan kelelawar dan ditransfer via air liur, serta
aerosolisasi air liur, kotoran, dan / atau urine. Seperti virus rabies, bat-borne virus yang
baru muncul (emerging) dapat ditularkan ke manusia secara langsung oleh kelelawar,
termasuk virus Ebola, SARS, dan sindrom pernapasan timur tengah coronavirus. Virus
yang tidak dikenali dan tidak mendapatkan penanganan, memiliki interval antara transmisi
virus rabies sampai penyakit yang bermanifestasi pada korban, memiliki variasi waktu dari
jam ke tahun. Sebagian besar korban tidak mengetahui apakah mereka telah digigit
kelelawar atau terkena sekresi kelelawar. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya
kesadaran akan adanya kelelawar di tempat yang sama, seperti saat tidur, tidak merasakan
gigitan jika mengetahui keberadaan kelelawar, dan / atau terpapar saliva kelelawar, air
kencing, dan / atau kotoran hewan di tempat tertutup. Biasanya paparan ini terjadi di dalam
gua dan bagian-bagian rumah seperti loteng, ruang bawah tanah, lumbung dan gudang.
Kelelawar yang menyerang rumah dan ruang kerja manusia biasanya akan menyerang
dengan cara menggigit dan buang air kecil pada korban untuk menandai lokasi korban.
2) Kerentanan kelelawar terhadap infeksi virus
Dipercaya bahwa kebiasaan bergelantung, siklus reproduksi, migrasi, dan hibernasi
kelelawar merupakan faktor kerentanan alami kelelawar terhadap virus. Selain itu, kelelawar
diketahui memiliki infeksi virus persisten pada tingkat yang lebih tinggi daripada mamalia
lainnya. Hal ini diyakini karena adanya waktu paruh antibodi yang lebih pendek. Kelelawar
juga terbukti lebih rentan terhadap infeksi ulang dengan virus yang sama, sedangkan
mamalia lain, terutama manusia, sangat tergantung pada tingkat imunitas.
Banyaknya virus yang ada telah terisolasi atau terdeteksi pada kelelawar, namun
sebagian besar dari virus ini belum terbukti ditransmisi dari kelelawar ke makhluk hidup
lain, baik pada hewan atau yang dapat menyebabkan penyakit manusia. Transmisi virus dari
kelelawar yang menyebabkan penyakit sangat patogen telah dibuktikan. Untuk virus rabies
dan lyssaviruses, Nipah dan Virus Hendra, dan SARS-CoV. Virus ini dapat menginfeksi
kelelawar melalui arthropoda, namun tidak jelas apakah kelelawar adalah reservoir yang
penting untuk virus ini. Jelas, banyak penelitian tambahan diperlukan untuk
mendokumentasikan peran kelelawar dari berbagai spesies di alam (Calisher et al. 2006).
Beberapa penyakit yang ditularkan oleh kelelawar, antara lain :
Rabies
Rabies adalah infeksi virus pada sistem saraf pusat yang hampir selalu berakibat fatal,
yang disebabkan oleh virus dari famili Rhabdovirus dan genus Lyssavirus. Berdasarkan

18
patogenesisnya, virus rabies ini menjalar dan merambat dari susunan saraf perifer
(tempat luka gigitan) menuju CNS dengan kecepatan 3 mm/jam. Virus rabies berada
dalam saliva hewan penderita beberapa hari sebelum menunjukkan gejala-gejala klinis
dengan variasi antara 1-13 hari (Sari et al. 2014)
Kelelawar pada umumnya tidak agresif, dan hanya akan menggigit sebagai bentuk
pertahanan dirinya. Tidak ada laporan yang menyatakan bahwa kelelawar menularkan
rabies melalui udara, kotoran, atau urin. Manusia jarang mendapat serangan atau gigitan
kelelawar kecuali saat menangani atau memegang kelelawar. Kelelawar rentan terhadap
rabies, namun hanya sebagian kecil dari populasi yang terinfeksi. Kelelawar jarang
menjadi agresif saat terinfeksi, tapi umumnya lumpuh dan mati dalam beberapa hari
setelah onset. Kelelawar yang terinfeksi rabies memiliki ciri-ciri antara lain ditemukan di
tanah, aktif di siang hari, ditemukan di tempat yang tidak lazim (seperti kolam renang,
tertangkap anjing atau kucing), atau tidak dapat terbang, cenderung menjadi seperti
anjing gila. Orang yang digigit kelelawar atau yang mengalami kontak dengan air liur
kelelawar, harus mencuci daerah yang terkena kontak secara menyeluruh dengan sabun
dan air, serta perlu segera mendapat perawatan medis. Bila memungkinkan, kelelawar
harus ditangkap dan dibawa ke laboratorium untuk pengujian rabies. Meskipun
kebanyakan orang menyadari kapan tergigit kelelawar, tetapi bekas gigitan kecilnya tidak
selalu terlihat.
Saat ini, rabies merupakan salah satu penyakit re-emerging di beberapa negara, hal
ini ada hubungannya dengan meningkatnya kontak antara manusia maupun hewan
domestik dengan hewan reservoir. Di beberapa negara kelelawar berperan sebagai
reservoir untuk lyssavirus. Kelelawar yang sudah terbukti menularkan 16 penyakit rabies
di Amerika Latin adalah Desmodus rotundus (Johnson et al, 2014). Adaptasi varian virus
rabies pada kelelawar terjadi dan lebih cepat pada genus berkoloni (Eptesicus dan
Myotis) dibandingkan kelelawar genus soliter (Lasionycteris, Pipistrellus, dan Lasiuris).
Meskipun kelelawar tidak memiliki ciri khusus di antara mamalia sebagai pembawa
rabies, kelelawar diketahui membawa dan menularkan penyakit ini. Misalnya, kelelawar
adalah sumber paling umum untuk penularan rabies di Amerika Serikat yang
menghasilkan satu sampai dua infeksi per tahun di negara tersebut (Yuliadi et al. 2014).

Histoplasmosis
Histoplasmosis merupakan infeksi jamur Histoplasma capsulatum, yang paling sering
bermanifestasi sebagai penyakit pernapasan seperti flu. Jika infeksi ini menular atau
berputar, gejalanya bisa parah dan terkadang menimbulkan kefatalan. Histoplasmosis
dapat terjadi karena menghirup debu yang beterbangan di derah yang terdapat tumpukan
kotoran kelelawar atau burung (khususnya merpati). Bangunan, loteng, gua, dan area

19
tertutup lainnya, dimana kelelawar berkumpul dapat menimbulkan resiko tertentu. Orang
yang bekerja di area ini harus selalu menggunakan respirator yang mampu menyaring
partikel berdiameter 2 mikron. Penyakit ini banyak dijumpai di Amerika (CPHC 2002).
Nipah Virus (NiV)
Virus ini termasuk dalam famili Paramixoviridae dan genus Henipavirus, virus ini
tergolong sangat patogen bagi ternak babi dan manusia. Penyakit ini pertama kali muncul
di Malaysia pada tahun 1998, menyebabkan wabah respirasi pada babi, yang kemudian
menyerang manusia dengan mortalitas tinggi. Kelelawar dari genus Pteropus merupakan
reservoir alami dari Nipah virus (symptomless carriers) dan diidentifikasi sebagai
penyebab outbreak penyakit nipah pada babi dan manusia. Kelelawar yang terinfeksi
akan menularkan virus Nipah melalui eskresi dan sekresinya, seperti air liur, urine, dan
air mani (CDC).
Penularan nipah juga dapat terjadi dari manusia ke manusia seperti yang terjadi
selama wabah di Faridpur, Bangladesh tahun 2004 (Gurley ES, 2007). Di Indonesia
kasus Nipah pada manusia dan babi belum pernah dilaporkan secara klinis. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa serum kelelawar (Pteropus vampyrus) di daerah Sumatra
Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki antibodi terhadap Nipah virus.
Prevalensi tertinggi ditemukan di daerah Jawa Tengah yaitu sebesar 33%, menyusul
Sumatra Utara (30,6%), Jawa Timur (19%) dan Jawa Barat (18%) (Yuliadi et al. 2014).
Hendra Virus (HeV)
Virus ini termasuk dalam famili Paramixoviridae dan genus Henipavirus, virus ini
memiliki hubungan kekerabatan dengan virus Nipah. HeV pertama kali ditemukan di
kota Brisbane, Australia 1994, yaitu menyebabkan penyakit respiratori akut pada kuda.
Survei yang dilakukan pada hewan liar, menunjukkan bahwa kelelawar pemakan buah
dari genus Pteropus merupakan reservoir alami bagi Hendra virus. Manusia bisa tertular
penyakit ini karena kontak dengan kuda yang terinfeksi Hendra virus. Penyebaran
Hendra virus hingga saat ini masih terbatas pada daerah Australia dan Papua Nugini.
Kasus Hendra virus di Indonesia secara klinis belum pernah dilaporkan. (Yuliadi et al.
2014).
HeV (sebelumnya dikenal sebagai morbillivirus kuda betina) pertama kali dikenali di
Australia pada tahun 1994, ketika penyakit ini menyebabkan penyakit pernafasan dan
neurologis berat pada kuda dan manusia. Banyak penyelidikan dilakukan untuk mencari
reservoir alami dari virus patogenik baru ini. Pada pemeriksaan awal 2411 kuda untuk
antibodi spesifik HiV menunjukkan hasil negatif. Dan serosurvey yang lebih luas dari
5264 sera dari 46 spesies hewan, termasuk hewan peliharaan dan hewan liar, tidak
menunjukkan bukti adanya infeksi. Investigasi epidemiologi ditujukan pada kelelawar
buah sebagai calon reservoir alami, dan serosurvey dari 224 sampel serum kelelawar

20
buah menunjukkan bahwa 20 antibodi mengandung spesifik HeV. Tiga isolat virus
diperoleh dari jaringan urin dan paru-paru dari dua dari 460 kelelawar buah, dan uji
serologis dan 200 nukleotida pada gen matriks menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut
identik dengan HeV. Isolasi HiV, bersama dengan bukti sero-logis dan epidemiologis
menunjukkan bahwa kelelawar buah adalah reservoir alami HeV di Australia (Han et al.
2015)
Japanese encephalitis (JE)
Japanese encephalitis adalah penyakit viral yang penularannya melalui vektor dan
menyebabkan penyakit encephalitis pada manusia, dan juga dapat menyerang ternak.
Virus JE dapat menginfeksi ternak dan manusia, terbukti dengan adanya laporan
terdeteksinya antibodi terhadap virus JE pada beberapa spesies ternak seperti kerbau,
sapi, kambing, domba babi, kuda, kera, burung liar (Sendow et al, 1995). Kelelawar yang
terdeteksi memiliki antibodi terhadap virus JE, diantaranya adalah genus Hipposideros,
Rhinolophus, Myotis dan Rousettus. Serum kelalawar yang terdeteksi positif
mengandung antibodi terhadap virus JE memakai uji netralisasi di daerah Kalimantan
Barat adalah genus Cynopterus. (Yuliadi et al. 2014)
Coronavirus
Wabah sindrom pernafasan akut (SARS) 2009, dan wabah sindrom pernafasan Timur
Tengah tahun 2012 ditengarai berasal dari kelelawar. Coronavirus adalah virus RNA
berintensitas positif, single-stranded dengan empat jenis, yaitu alphacoronaviruses,
betacoronavirus, gammacoronavirus, dan deltacoronaviruses. Dari keempat virus ini,
jenis alphacoroanvirus dan betacoronavirus adalah virus yang ditularkan oleh
kelelawar.
Hantavirus
Biasanya ditemukan pada tikus, tetapi virus ini juga ditemukan pada dua spesies
kelelawar. Virus Mouyassu (MOUV) diisolasi dari kelelawar jenis Banana pipestrelle
yang ditangkap di dekat desa Mouyassu di Pantai Gading, Afrika Barat. Virus Magboi
diisolasi dari kelelawar berwajah berpelindung bulu yang ditemukan di dekat Sungai
Magboi di Sierra Leone pada tahun 2011. Virus tersebut adalah, single-stranded,
negatif, virus RNA dari famili Bunyaviridae.
Filovirus
Virus ini berperan pada infeksi hemoragik yang fatal pada manusia dan monyet, yaitu
Marburgvirus (MARV) dan Ebolaviruses (EBOV).
Parasit

21
Seperti hewan mamalia lainnya, kelelawar mungkin memiliki ectoparasit seperti
kutu,pinjal, tungau, dan parasit lainnya. Kasus yang terjadi pada umumnya menunjukkan
parasit tersebut spesifik dan hanya terbatas pada spesies kelelawar tertentu.

g) Tindakan pencegahan ketika kelelawar memasuki rumah


Kelelawar adalah hewan yang tersembunyi oleh alam dan akan berusaha
menghindari kontak dengan manusia. Jika ditemukan bergelantungan di siang hari, kelelawar
akan menjadi lamban (tertidur) atau melakukan hibernasi. Kelelawar yang sedang mengalami
masa ini, memiliki suhu tubuh dan metabolisme yang jauh lebih rendah.
Kelelawar yang tiba-tiba muncul di dalam rumah atau bangunan lainnya biasanya masuk
melalui pintu yang terbuka atau jendela. Jalur yang lain, seperti cerobong asap yang tidak
dijaga, jendela atau pintu kaca yang longgar, atau ventilasi udara yang tidak ditutup.
Selembar kain yang beukuran atau ini mesh dapat diletakkan di atas cerobong asap
atau ventilasi udara untuk menutupi akses masuknya kelelawar. Lubang yang lebih dari
dari 1 inchi harus ditutup atau disegel, terutama yang mengarah ke loteng atau dinding
luar. Lubang kecil dan celah dapat ditutup menggunakan silicon caulking, lubang yang
agak lebar ditutup menggunakan penutup busa (foam sealent), atau bahkan selotip.
Tidak seperti tikus, kelelawar tidak mengunyah lubang atau kabel listrik. Sebagian besar
kelelawar yang hidup di loteng rumah atau dinding dapat menimbulkan gangguan yang
berasal dari bau kotorannya dan kebisingan.
Waktu yang paling baik untuk mengusir kelelawar dari dalam rumah atau suatu bangunan
adalah ketika kelelawar telah bermigrasi atau mengubah lokasi bergelantungnya (saat
musim gugur atau musim dingin).
Repelan (repellents) atau penolak yang tidak berbahaya, seperti alat ultrasound tidak
pernah terbukti efektif untuk mengusir kelelawar, terlepas darikepekaan pendengaran
kelelawar. Naphtalene (bola ngengat) juga telah terbukti tidak efektif dan berpotensi toksik
atau beracun bagi manusia, meskipun digunakan sebagai repelan di masa lalu.
h) Tindakan pencegahan dan keamanan
Kelelawar akan menggigit sebagai bentuk pertahanan diri, tetapi jarang menyerang
manusia tanpa adanya provokasi atau gangguan.
Jika menangani atau memegang kelelawar, harus menggunakan sarung tangan (gloves)
yang tebal, bungkus kelelawar dengan handuk tebal, atau masukkan kelelawar dalam
jaring atau wadah lainnya. Jika tergigit atau sedang menangani kelelawar yang sakit atau
mati dengan menggunakan tangan kosong/tanpa sarung tangan, cuci tangan menggunakan
sabun dan air, kemudian segera lakukan pemeriksaan.
Jangan melepaskan kelelawar begitu saja.perlu dilakukan pengujian atau tes rabies.

22
Merupakan hal yang illegal dan berbahaya ketika menjadikan kelelawar sebagai hewan
peliharaan.
Menggunakan respirator atau masker ketika bekerja di area yang terdapat kotoran
kelelawar.
Orang yang sering kontak dengan kelelawar atau binatang berpotensi rabies lainnya, harus
mempertimbangkan untuk mendapat vaksin.
Racun dan bahan kimia adalah barang illegal dan tidak efektif mengusir kelelawar dan
berpotensi berbahaya bagi manusia.
3. Ikan
Ikan merupakan protein hewani yang kaya dengan kandungan gizi. Menurut (UU RI
No 45 2009) ikan merupakan organisme yang hidup diperairan. Produk olahan ikan
merupakan tempat yang sangat disukai oleh mikrobia sehingga rentan terhadap berbagai
penyakit yang dibawa oleh mikroba patogen penyakit. Penelitian yang dilakukan oleh (Antwi-
agyei & Maalekuu 2014) mengenai bakteri yang ada pada ikan di pasar. Hasil penelitian
menunjukkan pada ikan terdapat beberapa bakteri patogen penyakit seperti sthapylococcus
aerus, Pseudomonas, Salmonella, E.coli, dan Baccillus.
Sanitasi lingkungan yang kurang baik, personal hygien pengelola ikan merupakan
faktor utama keberadaan patogen penyakit pada ikan. Penelitian yang dilakukan oleh
(Wulandari 2014) mengenai praktek higien dengan keberadaan bakteri pada ikan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kebersihaan alat-alat produksi, kebersihan tempat produksi,
kebersihan pengelola ikan (mencuci tangan), lamanya ikan di area pengasapan berperan
dalam peningkatan jumlah mikrobia pada ikan.
Tidak banyak penelitian yang mengemukakan bahwa ikan adalah salah satu vektor
ataupun reservoir penyakit. Hal ini mungkin karena biasanya ikan hanya akan menularkan
penyakit ketika dikonsumsi (terkait dengan food-borne disease). Tetapi, peran ikan dalam
menularkan penyakit biasanya hanya sebagai host ataupun sebagai host intermediate (Halpern
& Izhaki 2017).
Beberapa bakteri yang ditemukan pada ikan, antara lain :
a) Clostridium botulinum tersebar luas di tanah, sedimen di air, dan pada ikan. Menyebabkan
penyakit botulisme pada manusia, yang merupakan penyakit serius tetapi relatif jarang
terjadi. Berupa keracunan yang disebabkan oleh toksin yang terbentuk dalam makanan.
Gejalanya mual dan muntah yang diikuti oleh sejumlah gejala neurologis: gangguan
penglihatan (kabur atau penglihatan ganda), kehilangan fungsi normal mulut dan
tenggorokan, kelemahan atau kelumpuhan total, kegagalan pernapasan yang biasanya
merupakan penyebab kematian. Toksin botulinum tidak tahan panas, berarti dengan cara

23
memasak yang biasa di rumah tangga dapat menghancurkan toksin yang terbentuk. Risiko
keracunan terjadi pada makanan yang tidak dimasak sempurna sebelum dikonsumsi.
b) Vibrio sp. tersebar di laut dan membutuhkan Na+ untuk pertumbuhannya. Terdiri dari
sejumlah spesies yang patogen bagi manusia. Penyakit yang ditimbulkan gastro-enteritik
yang bervariasi, dari diare ringan sampai diare berair yang berlebihan (parah). Kebanyakan
vibrio menghasilkan enterotoksin yang kuat. Selain racun kolera, racun lainnya yang
diproduksi oleh V. cholera adalah hemolisin yang mirip dengan tetrodotoxin dan yang lain
menyerupai shiga-toksin. Bahan mentah (sebelum atau yang tidak dimasak), atau kerang
yang telah dimasak tetapi terkontaminasi silang, merupakan pembawa utama V. cholerae.
Untuk V. parahaemolyticus paling sering dikaitkan dengan kontaminasi silang atau
kesalahan waktu/suhu dalam mengolah seafood. Untuk vibrio yang lain, konsumsi kerang
mentah, terutama tiram, adalah penyebab utama infeksi. Vibrio mudah dihancurkan oleh
panas. Jadi dengan cara memasak yang tepat dapat menghilangkan sebagian besar vibrio.
c) Aeromonas sp. terdapat di mana-mana di lingkungan air tawar, juga dapat diisolasi dari air
laut dan payau. Dalam beberapa tahun terakhir Aeromonas sp. terutama A. hydrophila telah
menjadi perhatian karena dimungkinkan sebagai agen penyakit pada manusia yaitu diare
akibat bawaan makanan. Spesies Aeromonas menghasilkan berbagai macam racun seperti
enterotoksin sitotoksik, hemolysin dan sejenis tetrodotoxin. Namun, peran racun ini dalam
menyebabkan penyakit pada manusia belum diketahui.
d) Plesiomonas sp. tersebar luas di alam, tetapi sebagian besar terkait dengan air, baik di air
tawar maupun air laut. Transmisi ke hewan dan usus ikan adalah umum, dan ada
kemungkinan bahwa ikan dan kerang adalah penampung utama Plesiomonas shigelloides.
Plesiomonas sp. dapat menyebabkan gastroenteritis dengan gejala yang bervariasi dari yang
ringan dan berlangsung singkat sampai ke diare berat (menyerupai shigella atau cholera).
e) Listeria sp. sering terdapat pada seafood atau makanan laut, seperti L. monocytogenes pada
salmon asap yang didinginkan (+4C). Listeriosis adalah infeksi dengan usus sebagai titik
masuk. Masa inkubasi bervariasi dari satu hari sampai beberapa minggu. Strain virulen
mampu menggandakan diri menyebabkan septicemia diikuti oleh infeksi organ lain seperti
sistem saraf pusat, jantung, mata dan dapat menyerang janin ibu hamil. Pada orang dewasa
yang sehat, listeriosis biasanya tidak pernah berkembang, namun mempunyai risiko tertentu
dan dapat mematikan bagi janin, wanita hamil, dan orang dengan kekebalan rendah. Cara
pengolahan untuk mencegah Listericidal terutama adalah dengan perlakuan panas.
f) Bakteri Patogen Tidak Asli (Akibat Kontaminasi), yaitu bakteri yang tidak asli terdapat pada
ikan adalah bakteri yang adanya pada ikan dan produk ikan disebabkan oleh kontaminasi
dalam proses pengolahan. Jenisnya antara lain Salmonella sp, Shigellasp, Escherichia
coli, dan Staphylococcus aureus.

24
Salmonella sp. distribusinya di seluruh dunia, terutama dalam usus manusia dan hewan
serta lingkungan yang tercemar kotoran manusia atau hewan. Gejala utama salmonellosis
adalah diare tidak berdarah, sakit perut, demam, mual, muntah yang umumnya muncul
12-36 jam setelah konsumsi. Namun, gejala dapat bervariasi dari tanpa gejala sampai
seperti tifus parah. Penyakit ini juga dapat berlanjut menjadi komplikasi yang lebih
serius. Kontaminasi salmonella pada kerang yang tumbuh di perairan tercemar telah
menjadi masalah di banyak bagian dunia. Udang tropis hasil budidaya juga sering
mengandung salmonella sebagai akibat dari rendahnya standar kebersihan, dan
penggunaan kotoran unggas sebagai pupuk/pakan. Kebanyakan udang dimasak sebelum
dikonsumsi, oleh karena itu produk ini risikonya minimal, kecuali bila terjadi
kontaminasi silang di tempat pengolahan.
Shigella sp. adalah host khusus yang beradaptasi pada manusia dan primata tingkat
tinggi, dan kehadirannya di lingkungan dikaitkan dengan kontaminasi tinja. Shigella
merupakan penyebab shigellosis yang merupakan infeksi usus. Gejalanya bervariasi dari
tanpa gejala atau diare ringan untuk disentri, ditandai dengan tinja berdarah, sekresi
lendir, dehidrasi, demam tinggi, dan kram perut yang parah. Masa inkubasi 1-7 hari dan
gejala dapat bertahan selama 10-14 hari atau lebih. Kematian pada orang dewasa jarang
terjadi, tetapi pada anak-anak dapat menjadi fatal. Sebagian besar kasus shigellosis
disebabkan penularan langsung dari orang ke orang melalui rute oral-faecal dan air,
terutama di lingkungan dengan standar kebersihan rendah. Namun makanan, termasuk
seafood (cocktail udang, salad tuna), juga dapat menjadi penyebab shigellosis karena
kontaminasi pada bahan mentah, atau pada olahan yang terinfeksi dan tidak disadari
akibat kebersihan pribadi yang buruk.
Escherichia coli adalah organisme aerobik yang umumnya terdapat pada usus manusia
dan hewan berdarah panas. Strain E. coli yang berada saluran pencernaan sebenarnya
tidak berbahaya dan berperan penting dalam menjaga fisiologi usus. Namun, diketahui
setidaknya ada 4 jenis strain patogen. Strain E. coli patogen menyebabkan penyakit pada
usus yang tingkat keparahannya bervariasi dari sangat ringan sampai parah, dan mungkin
mengancam jiwa tergantung pada sejumlah faktor seperti jenis strain patogen, kerentanan
korban, dan tingkat paparan. Tidak ada indikasi bahwa seafood merupakan sumber
penting dari infeksi E. coli. Kebanyakan infeksi berkaitan dengan kontaminasi air atau
penanganan di bawah kondisi yang tidak higienis.
Staphylococcus aureus dapat ditemukan di mana-mana, di air, udara, debu, susu, limbah,
lantai, permukaan, semua yang bersentuhan dengan manusia, dan mampu bertahan
dengan sangat baik di lingkungan. Namun, reservoir dan habitatnya utamanya adalah di
hidung, tenggorokan dan kulit hewan/manusia. Penyakit yang disebabkan oleh S. aureus

25
adalah keracunan. Gejala umum muncul dalam waktu 2-4 jam dari konsumsi makanan
yang terkontaminasi berupa mual, muntah, dan kadang-kadang diare. Gejala biasanya
bertahan selama tidak lebih dari 24 jam, tetapi dalam kasus yang parah, dehidrasi dapat
menyebabkan syok dan kolap. Seafood dapat terkontaminasi Staphylococcus karena
terinfeksi tenaga pengolah yang menangani ataupun dari lingkungan. Lebih sering
kontaminasi adalah dari individu dengan infeksi pada tangan, batuk, atau sakit
tenggorokan. Staphylococci adalah pesaing yang lemah dan tidak tumbuh dengan baik
bersama mikroorganisme lainnya. Dengan demikian kehadiran staphylococci dalam
bahan mentah, yang merupakan kontaminasi alami adalah kecil kemungkinannya.
Sebaliknya pertumbuhan dan produksi toksin yang cepat dapat terjadi pada seafood
(udang) yang telah dimasak bila kemudian terkontaminasi kembali oleh S. aureus pada
kondisi waktu/suhu memungkinkan untuk pertumbuhannya. S. aureus menghasilkan
sejumlah enterotoksin ketika tumbuh dalam makanan. Racun ini sangat tahan terhadap
enzim proteolitik dan panas. Tidak ada kejadian dilaporkan dari makanan yang telah
melalui prosedur pengalengan normal, tapi pemanasan yang diterapkan dalam
pasteurisasi dan cara memasak di rumah tangga biasa tidak cukup untuk menghancurkan
toksin. Kondisi sanitasi yang baik dan pengendalian suhu diperlukan untuk menghindari
kontaminasi, pertumbuhan, dan produksi toksin, khususnya pada seafood yang telah
dimasak.

Bahan makanan dalam hal ini adalah ikan harus terbebas dari mikroba. Ikan yang
tercemar oleh berbagai mikroba dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti diare,
demam thypoid, mual muntah, hepatitis, dan lain-lain. Selain itu ikan yang sudah tercemar
mikroba dapat mengurangi kandungan gizi pada ikan, sehingga diperlukan pencegahan dan
pengendalian agar ikan tidak tercemar mikroba atau mengurangi tingkat cemaran mikroba.
Hal yang dapat dilakukan adalah (BPOM RI 2012):
a. Simpan produk ikan yang belum diolah dalam lemari es pada suhu 5C. Hal ini dilakukan
untuk menekan jumlah bakteri atau untuk membunuh bakteri yang tidak tahan pada suhu
dingin.
b. Menyimpan bahan olahan ikan dilemari es tidak lebih dari 3 hari karena ikan mulai
mengalami pembusukan
c. Mencuci tangan ketika mengolah ikan, hal ini bertujuan untuk mengurangi kontaminasi
ikan dari tangan pengolah.
d. Selain mencuci tangan, peralatan masak juga harus dicuci dengan baik menggunakan air
panas untuk membunuh sisa bakteri pengolahan ikan.

26
e. Memasak daging ikan dengan suhu yang tinggi minima 72 C , hal ini bertujuan untuk
membunuh bakteri yang tidak tahan suhu tinggi. Selain itu memasak daging ikan sampai
masak hingga warna daging ikan berubah.
f. Bersihkan dapur atau permukaan yang kontak dengan ikan menggunakan air panas secara
teratur.
g. Cuci peralatan segera mungkin setelah digunakan dan biarkan perlatan kering dengan
undara untuk menghindari kontaminasi bakteri melalui lap atau tangan.

h. KESIMPULAN
Hewan vertebrata yang berperan sebagai vektor dan reservoir adalah tikus, kelawar, dan ikan.
Tikus menyebabkan beberapa penyakit seperti leptospirosis yang ditularkan melalui kotoran tikus,
pes yang ditularkan melalui vektor yang hidup sebagai ektoparasit pada tikus dapat melaui gigitan
pinjal, dan Salmonellosis yang ditularkan melalui gigitas tikus. Tikus merupakan vektor yang
menyukai lingkungan yang kotor, memiliki ketersediaan pakan yang cukup (keberadaan sampah),
tempat yang tertutup, sehingga dalam pengendalian tikus perlu memperhatikan tempat-tempat
yang disukai tikus dan tanda-tanda keberadaan tikus.
Ikan merupakan salah satu hewan vertebrata dari kelas pieces yang menjadi tempat ideal
pertumbuhan patogen penyakit. Kebersihan lingkungan dan personal higiene dapat meningkatkan
keberadaan bakteri pada ikan. Peningkatan bakteri ini dapat menimbulkan dampak seperti diare,
demam thypoid, dan hepatitis jika mengkonsumsi ikan yang diolah secara tidak benar, sehingga
dalam melakukan pencegahan dan pengendalian bakteri pada ikan harus memperhatikan
kebersihan dan personal higiene dari tempat dan pengelola ikan. Akan tetapi pada ikan belum
banyak penelitian yang membuktikan bahwa ikan adalah vektor atau reservoir penyakit. Ikan
hanya berfungsi sebagai host dalam transmisi penyakit
Kelelawar merupakan hewan verteberata dari kelas mamalia yang menyebabkan beberapa
penyakit rabies, nipah virus, hendra virus, dan lainnya. Penularan dapat disebabkan melalui
gigitan kelelawar dan biasanya hidup ditempat yang gelap.

27
DAFTAR PUSTAKA

Amelia, T., 2015. Pengujian Repelensi dari Empat Jenis Tanaman Terhadap Tikus Rumah,
Antwi-agyei, P. & Maalekuu, B.K., 2014. Determination of microbial contamination in meat and fish
products sold in the Kumasi metropolis ( A Case Study of Kumasi central market and the
Bantama market ). , 2(3), pp.3846.
BPOM RI, 2012. Berbagai jenis bahaya serta cara pengendaliannya,
Bustan, M.., 2008. Tanya Jawab Epidemiologi, Makasar: Putra Assad Print.
Calisher, C.H. et al., 2006. Bats: Important Reservoir Hosts of Emerging Viruses. Clinical
Microbiology Reviews, 19(3), pp.531545.
Corwin & Elizabeth, 2009. Buku Saku Patofisiologis, Jakarta: EGC.
CPHC, 2002. Vertebrates of Public Health Importance in California. California Public Health Center.
Darmawansyah, A., 2008. Rancang bangun perangkap untuk pengendalian tikus rumah (,
Dedi, Sabrino & Hendrati, I., Uji Preferensi Beberapa Jenis Bahan Untuk Dijadikan Umpan Tikus
Sawah.
Departemen Kesehatan RI, 2008. Pedoman Pengendalian Tikus, Jakarta: Departemen Kesehatan RI,
Direktorat Jenderan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Departemen Pertanian, 2006. Manual Fumigasi Metil Bromida M a nu a l P edo ma n P ela ksa naa n
F umiga si Denga n,
Dewi, D.I., 2010. Serba Serbi Vektor TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer, Robinson & Kloss
1916) Serba Serbi Parasit. , 6(1), pp.2223.
Ernawati, D. & Priyanto, D., 2013. Pola sebaran spesies tikus habitat pasar berdasarkan jenis
komoditas di pasar kota banjarnegara pattern of rat distribution in market habitat based on
commodity in banjarnegara city market. , 9(2), pp.5862.
Fadzilah V.Q.N, Astuti, D. & Werdani, K.., 2014. Hubungan Perilaku Masyarakat Tentang
Kebersihan Lingkungan Dengan Keberadaan Tikus Di Desa Lencoh Kecamatan Selo Kabupaten
Boyolali,
Halpern, M. & Izhaki, I., 2017. Fish as Hosts of Vibrio cholerae. Frontiers in Microbiology,
8(February), pp.17.
Han, H. et al., 2015. Bats as reservoirs of severe emerging infectious diseases. Virus Research, 205,
pp.16.
Irawati, J., Fibriana, A. & Wahyono, B., 2015. Unnes Journal of Public Health 2014. , 2(3), pp.6775.
Isikhnas, Penyakit_SALMONELLOSIS.pdf,
Kusumastuti, D., 2011. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan tentang Leptospirosis Terhadap Perilaku
Pencegahan Leptospirosis pada Petani di Dusun Mergan Moyudan Sleman Yogyakarta,
Leeson, P. & Tom, 2010. Vertebrate Animals.
Mutiarani, H., 2009. PERANCANGAN DAN PENGUJIAN PERANGKAP, PENGUJIAN JENIS
RODENTISIDA DALAM PENGENDALIAN TIKUS POHON (Rattus tiomanicus Mill.), TIKUS
RUMAH (Rattus rattus diardii Linn.), DAN TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer Rob. & Klo.)
DI LABORATORIUM,
Nurbeti, M., Kusnanto, H. & Nugroho, W.., 2016. Kasus-kasus leptospirosis di perbatasan kabupaten
bantul, sleman, dan kulon progo: analisis spasial. , 10(1), pp.114.
Paiman & Kusberyunadi, M., 2015. Upaya Konservasi Burung Hantij (Tyto Atba) Untuk
Mengendalikan Hama Tikus Sawah Di Desa Banyurejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta.
Posmaningsing, D.A.., Purna, N. & Sali, W., 2014. Efektivitas Pemanfaatan Umbi Gadung (Dioscorea
Hispida Dennust) Pada Umpan Sebagai Rodentisida Nabati Dalam Pengendalian Tikus. Skala
Husada, 11, pp.7985.
Priyambodo, S. & Nazzaretta, R., 2013. erensi dan Efikasi Rodentisida Brodifakum . Agrovigor,
6(2), pp.145153.
Pusat Bahasa Depatermen Pendidikan Nasional, KAMUS BAHASA INDONESIA, Jakarta: Menteri
Pendidikan Nasional RI.
Ramadhani, S.., 2016. Uji Rodentisida, Perangkap, dan Repelen, Serta Persepsi Masyarakat terhadap
Tikus Pemukiman di Cibinong, Bogor,
Ramadhani, T. & Yunianto, B., 2010. Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Pemukiman di

28
Daerah Endemis Leptospirosis di Kota Semarang. Aspirator, 2(2), pp.6676.
Ratnawati, R., 2014. Faktor resiko kejadian leptospirosis di wilayah kerja puskesmas ngrayun
kabupaten ponorogo. , pp.6573.
Sari, K.M. et al., 2014. Studi Anatomi Otak Codot ( Rousettus sp ) Sebagai Satwa Liar Reservoir
Alami Penyakit Rabies. jurnal Sain Veteriner, 32(2), pp.153161.
Sholichah, Z., 2007. Mengenal Jenis Tikus. Balaba, 5(2), pp.1819.
Soeharsono, 2002. Zoonosis "Penyakit Menular dari Hewan Ke Manusia 1st ed., YOGYAKARTA:
Kanisius.
Sudarto, 2007. Buku Kedokteran Tropis, Surabaya: Airlangga Press.
Suparjo, 2010. Kerusakan Bahan Pakan Selama Penyimpanan. , pp.111.
UU RI No 45, 2009. UU RI No 45 Tahun 2009,
WHO, 2014. A global brief on vector-borne diseases. , pp.156.
WHO, 2009. Leptospirosis, Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21497651.
Wijayanti, T., 2008. Vektor dan reservoir. , (2).
Wulandari, B., 2014. Hubungan Antara Praktek Higien dengan Keberadaan Bakteri pada Ikan Asap di
Sentra Pengasapan Ikan Bandarharjo Kota Semarang. Unnes Journal of Public Health, 3(2),
pp.110.
Yuliadi, B., Sari, T.F. & Handayani, F.D., 2014. KELELAWAR SULAWESI Jenis dan Peranannya,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Zamzami, M., 2014. Pencegahan Penyakit PES Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Siswa SDN
1 Selo Boyolali.

29