Anda di halaman 1dari 117

PARIWISATA DAN PENGEMBANGAN WILAYAH

DI KAWASAN SELATAN PULAU LOMBOK

BAIQ YUNITA UTAMI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pariwisata dan


Pengembangan Wilayah di Kawasan Selatan Pulau Lombok adalah benar karya
saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, November 2016

Baiq Yunita Utami


NIM H152120171
RINGKASAN
BAIQ YUNITA UTAMI. Pariwisata dan Pengembangan Wilayah di Kawasan
Selatan Pulau Lombok. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI dan
JAENAL EFFENDI.

Kawasan Selatan Pulau Lombok merupakan salah satu daerah yang


memiliki banyak potensi pariwisata baik potensi alam dan budaya. Pemerintah
Daerah telah membuat strategi guna pengembangan wilayah, namun strategi ini
belum mampu memberi kemajuan yang signifikan dalam mengoptimalkan potensi
yang ada dengan belum dilibatkannya masyarakat lokal, sehingga untuk
mengoptimalkan potensi serta meningkatkan kunjungan wisatawan diperlukan
suatu strategi lain dalam upaya untuk mengembangkan sektor pariwisata.
Dibutuhkan suatu formulasi strategi yang diharapkan mampu mengoptimalkan
dan menjawab kebutuhan wisatawan serta dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat lokal, di samping tetap mempertahankan keberlangsungan
pembangunan pariwisata.
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi potensi wilayah untuk
pengembangan pariwisata; (2) menganalisis posisi daya tarik wisata dilihat dari
faktor internal dan eksternal; (3) merumuskan strategi pengembangan daya tarik
wisata dalam upaya peningkatan kunjungan wisatawan. Analisis data yang
digunakan mencakup Location Quotient Analysis (LQ), Shift-Share Analysis
(SSA), Scalogram, analisis faktor internaleksternal (IFASEFAS) dan SWOT
(Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Analisis LQ, SSA, Skalogram
digunakan untuk menjawab tujuan pertama, data yang digunakan adalah data
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah kunjungan wisatawan,
aksesibilitas, sarana dan prasarana penunjang pariwisata. Analisis IFASEFAS
menggunakan data persepsi stakeholders yang kemudian diolah untuk menjawab
tujuan kedua. Selanjutnya analisis SWOT digunakan untuk menjawab tujuan
terakhir, berdasarkan hasil IFASEFAS kemudian dikaitkan dengan hasil dari
seluruh analisis sebelumnya untuk mendapatkan arahan dan strategi
pengembangan pariwisata di lokasi penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Lombok Timur merupakan
wilayah yang berada pada sektor basis untuk komponen sektor pariwisata yang
terdiri dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran,
serta sektor jasa-jasa. Dengan demikian Kabupaten Lombok Timur (Kawasan
Jerowaru) bisa dijadikan sebagai penggerak bagi dua kabupaten lainnya, karena
ketersediaan sarana dan prasarana sehingga dapat dijadikan sebagai pusat
pelayanan untuk Daerah Tujuan Wisata (DTW) lainnya di masing-masing
kabupaten. Hasil analisis matriks IFAS menunjukkan kondisi internal DTW
berada pada posisi kuat yaitu dengan skor 0,322, sedangkan matriks EFAS
menunjukkan DTW berada pada posisi berpeluang dengan skor 1,691. Diketahui
posisi DTW Kawasan Selatan Pulau Lombok berdasarkan analisis SWOT berada
di kuadran 1 (Kuat-Berpeluang), sehingga perlu menerapkan strategi
pertumbuhan. Strategi pengembangan daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau
Lombok meliputi strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk.

Kata kunci: daya tarik wisata, Selatan Pulau Lombok, strategi pengembangan.
SUMMARY
BAIQ YUNITA UTAMI. Tourism and Regional Development in the Southern
Region of Lombok Island. Supervised by EKA INTAN KUMALA PUTRI dan
JAENAL EFFENDI.

Southern Lombok Island is one of the area that has a lot of tourism potency
both nature and culture. The local government has made strategy for southern area
development, but this strategy has not been able to give significant improvement
in optimizing existed potency and increasing the number of visitors so it is needed
to make another strategy for tourism development. This strategy is expected able
to optimize and fulfill the tourist needs and also increase the local community
income besides keeping the tourism development sustainability.
The goals of this study are (1) to identify tourism development potency in
Southern Lombok; (2) to analyze Southern Lombok island tourist attraction from
internal and external factors; (3) to state the strategy for tourist attraction
development in Southern Lombok Island in order to increase the number of
visitors. The data analysis used were descriptive analysis include Location
Quotient Analysis (LQ), Shift-Share Analysis (SSA), Scalogram, Internal-
External factor analysis (IFAS-EFAS), and SWOT (Strengths, Weaknesses,
Opportunities, Threats). The LQ, SSA, and Scalogram were used to solve the first
goals by using the Product Domestic Regional Bruto (PDRB) data, visitor
number, accessibility, tourism facilities and infrastucture. The result was area
hierarchy based on the completeness of facilities and infrastructure. To answer the
second goals, the IFAS-EFAS analysis was done by using stakeholder perception
data. The last, the SWOT analysis was used to answer the third goals, based on
the result of IFAS-EFAS analysis and the analysis before to get strategy tourism
development in study location.
The results of this study shows that East Lombok district lies in basic sector
for tourism component sector consist of processsing industry, trading, hotel
restaurants, and services sector. Therefore, this area especially Jerowaru area can
be a driving force for other two districts. Based on facilities and infrastructure
availability, East Lombok district can be a service centre of another tourism
destination area in each district. The result of IFAS matrix analysis shows tourism
destination area internal condition lies in Strength position with score 0,322 and
the EFAS matrix analysis lies in Opportunity position with score 1,691. Based on
SWOT analysis, the tourism destination area southern Lombok Island lies in
Quadrant 1 (Strength-Opportunity), so it is necessary to implement the growth
strategy. The strategy for tourist attraction development in southern Lombok
Island consist of market penetration strategy and product development.

Keywords: development strategy, Southern Lombok Island, tourist attraction.


Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
PARIWISATA DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
DI KAWASAN SELATAN PULAU LOMBOK

BAIQ YUNITA UTAMI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Wiwiek Rindayati, M.Si
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa taala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tesis yang
disusun ini berjudul Pariwisata dan Pengembangan Wilayah di Kawasan Selatan
Pulau Lombok.
Penyusunan tulisan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, untuk
itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, M.Si dan Bapak Dr. Jaenal Effendi, S.Ag
M.A selaku pembimbing atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama ini.
2. Ibu Dr. Ir. Wiwiek Rindayati, M.Si selaku penguji luar komisi yang
memberikan masukan bagi penyempurnaan tesis ini.
3. Bapak Dr. Ir. Bambang Juanda, M.S selaku penguji progam studi Ilmu
Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) atas masukannya
demi kesempurnaan penulisan tesis ini.
4. Bapak Drs. Faozal M.Si beserta staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi
NTB, yang telah membantu selama pengumpulan data.
5. Bapak Drs. H. Wahyudin, MM beserta staf Badan Pusat Statistik Provinsi
NTB, yang telah memberikan kemudahan untuk kelengkapan data yang
diperlukan selama proses penelitian.
6. Orangtua serta saudara-saudaraku tercinta yang telah memberikan doa dan
dukungan penuh hingga tesis ini bisa terselesaikan.
7. Rekan-rekan di IPB yang tak bisa disebutkan satu persatu yang telah sama-
sama berjuang untuk selalu saling menyemangati dalam penyelesaian tesis ini.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih terdapat kekurangan, untuk itu
saran dan masukan untuk tesis ini sangat penulis harapkan. Semoga karya ilmiah
ini bermanfaat.

Bogor, November 2016

Baiq Yunita Utami


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vii


DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN vii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 6
Manfaat Penelitian 6
Hipotesis Penelitian 6
Ruang Lingkup Penelitian 6
2 TINJAUAN PUSTAKA 7
Konsep Ekonomi dan Wisata 7
Perencanaan dan Pembangunan Wilayah Wisata 14
Strategi dan Pengembangan Daya Tarik Wisata 17
Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan 18
Studi Terdahulu 18
Kerangka Pemikiran 23
3 METODE 25
Lokasi dan Waktu Penelitian 25
Pemilihan Informan 25
Metode dan Teknik Pengumpulan Data 26
Jenis dan Sumber Data 26
Metode Analisis Data 27
Identifikasi Potensi Wilayah 28
Analisis Faktor Internal dan Eksternal (IFAS-EFAS) 30
Strategi Pengembangan Pariwisata 31
Definisi Operasional 34
4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 36
Kawasan Wisata Sekotong Kabupaten Lombok Barat 36
Kawasan Wisata Kuta Kabupaten Lombok Tengah 38
Kawasan Wisata Jerowaru Kabupaten Lombok Timur 40
5 HASIL DAN PEMBAHASAN 42
Analisis Sektor Basis 42
Hirarki Wilayah Berdasarkan Kelengkapan Sarana Prasarana 45
Analisis Faktor Internal 50
Analisis Faktor Eksternal 56
Strategi Pengembangan DTW Kawasan Selatan Pulau Lombok 62
Ikhtisar Hasil Penelitian 72
6 SIMPULAN DAN SARAN 74
Simpulan 74
Saran 74
DAFTAR PUSTAKA 76
LAMPIRAN 79
RIWAYAT HIDUP 101
DAFTAR TABEL

1. Matrik studi terdahulu 21


2. Matrik studi terdahulu (lanjutan) 22
3. Matriks metode analisis data 27
4. Nilai LQ aktivitas perekonomian per sektor tiap kabupaten di kawasan
selatan pulau Lombok tahun 2006 42
5. Nilai LQ aktivitas perekonomian per sektor tiap kabupaten di kawasan
selatan pulau Lombok tahun 2013 43
6. Nilai SSA aktivitas perekonomian per sektor tiap kabupaten di kawasan
selatan pulau Lombok tahun 2006-2013 45
7. Analisis hirarki pengembangan wilayah kawasan selatan pulau Lombok 46
8. Pengaruh sektor/lapangan usaha terhadap nilai PDRB 49
9. Pembobotan faktor internal kawasan selatan pulau Lombok 51
10. IFAS faktor kekuatan kawasan selatan pulau Lombok 54
11. IFAS faktor kelemahan kawasan selatan pulau Lombok 55
12. Pembobotan faktor eksternal kawasan selatan pulau Lombok 57
13. EFAS faktor peluang kawasan selatan pulau Lombok 59
14. EFAS faktor ancaman kawasan selatan pulau Lombok 61
15. Pengembangan DTW kawasan selatan pulau Lombok 65

DAFTAR GAMBAR

1. Persentase PDRB ADH berlaku menurut lapangan usaha Provinsi NTB


2013 2
2. Trend perkembangan kunjungan wisatawan ke NTB periode 2009-2013
(dalam satuan jiwa) 2
3. Sistem kepariwisataan 14
4. Diagram alir kerangka pemikiran 23
5. Wilayah penelitian 25
6. Analisis SWOT 32
7. Matrik SWOT 34
8. Analisis SWOT kawasan selatan pulau Lombok 63
9. Matrik SWOT kawasan selatan pulau Lombok 64

DAFTAR LAMPIRAN

1. Kuesioner penelitian 80
2. Rekapitulasi jawaban responden terhadap faktor IFAS dan EFAS 83
3. Perhitungan LQ 85
4. Perhitungan SSA 87
5. Perhitungan Skalogram 89
6. Foto Pantai Elaq-Elaq 94
7. Foto Pantai Mekaki 94
8. Foto Bangko-Bangko 94
9. Foto Gili Nanggu 95
10. Foto Gili Gede 95
11. Foto Balai Budidaya Laut Lombok 95
12. Foto Pantai Selong Belanak 96
13. Foto Pantai Mawun 96
14. Foto Pantai Seger 96
15. Foto Pantai Kuta 97
16. Foto Pantai Tanjung Aan 97
17. Foto Desa Sukarara 97
18. Foto Desa Sade 98
19. Foto Masjid Kuno Rambitan 98
20. Foto Pantai Kaliantan 98
21. Foto Pantai Surga 99
22. Foto Tanjung Bloam 99
23. Foto Tanjung Ringgit 99
24. Foto Gili Sunut 100
25. Foto Budidaya Laut di Kawasan Timur Gili Sunut 100
1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan ekonomi daerah dapat diwujudkan dengan melakukan


pengembangan sektor pariwisata. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor
andalan bagi pembangunan nasional karena mampu mendatangkan devisa negara
yang juga merupakan sumber pendapatan beberapa daerah. Potensi pariwisata
yang cukup besar di Indonesia dapat menjadi sumber kegiatan untuk
meningkatkan penerimaan daerah. Hal ini didukung oleh United Nation-World
Tourism Organization (UNWTO) yang menyatakan bahwa prospek pariwisata di
wilayah ASEAN termasuk Indonesia, ke depannya semakin cerah dengan
proyeksi pertumbuhan mencapai 10,30 persen pada 2030 (Kemenbudpar 2006).
Selama periode 2005 2012 pertumbuhan wisatawan per wilayah tertinggi adalah
ASEAN sebesar 8,30 persen atau di atas pertumbuhan pariwisata global sebesar
3,60 persen, sedangkan kontribusi ASEAN terhadap pariwisata global mencapai
7,50 persen atau sebesar 90,20 juta wisatawan (Disbudpar NTB 2013).
Sesuai dengan pernyataan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2006),
bahwa pariwisata telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat modern yang
menjadikan pariwisata memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap
perekonomian lokal maupun regional. Sektor pariwisata di Indonesia merupakan
penghasil devisa terbesar setelah sektor minyak dan gas bumi. Selain sebagai
penghasil devisa, kegiatan pariwisata secara potensial juga dapat mengatasi
kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan sektor usaha kecil
dan menengah (UKM). Sebagian besar sumberdaya alam di kawasan Timur
Indonesia merupakan kawasan pesisir alami yang potensial untuk wisata dan
belum dikembangkan secara optimal.
Keberadaan dari potensi pariwisata ini merupakan aset yang sangat berharga
dan salah satu komponen yang dapat dijadikan pendapatan daerah. Salah satunya
adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terletak di bagian timur
Indonesia dengan potensi pariwisatanya yang potensial untuk dikembangkan.
Seiring dengan hal tersebut, maka Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan
sektor pariwisata sebagai program unggulan dalam pembangunan ekonomi di
samping sektor-sektor lainnya. Pembangunan pariwisata NTB sejak hampir satu
dasawarsa terakhir ini dinilai telah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sangat
signifikan. Potensi dasar yang menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke NTB
yaitu wisata alam, budaya dan religi sekaligus menjadi salah satu daerah tujuan
wisata (DTW) yang potensial di tanah air (Disbudpar NTB 2013).
Pariwisata di NTB dibandingkan dengan pariwisata di Bali, yang menjadi
parameter pariwisata dunia yang mewakili Indonesia, masih jauh tertinggal. Jika
dilihat dari letak geografis Provinsi NTB memiliki peluang besar untuk
mengembangkan pariwisatanya dari Bali, dilihat dari letak daerahnya yang
menjadi akses pasar yang potensial untuk kunjungan wisata yang lokasinya
terletak di antara jalur pariwisata Bali-Komodo-Tana Toraja. Selain itu lokasi
Provinsi NTB yang berada pada jalur pelayaran internasional Selat Lombok
diharapkan akan memberikan peluang dan keuntungan, baik untuk pengembangan
2

pariwisata maupun untuk perdagangan internasional. Di samping itu sumber daya


alamnya juga memiliki pesona jauh lebih unggul dibandingkan dengan Bali.
Sektor pariwisata memberikan kontribusi terbesar untuk Provinsi NTB
berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari tahun 2009 2013.
Sektor-sektor yang terkait dengan aktivitas wisata terdiri dari industri pengolahan;
perdagangan, hotel, dan restoran; dan jasa-jasa (Rudita 2012). Sektor
perdagangan, hotel dan restoran berkontribusi sebesar Rp. 7.345.330 (14,77
persen), sektor industri pengolahan sebesar Rp. 1.785.358 (3,59 persen), dan
sektor jasa-jasa sebesar Rp. 5.704.872 (11,47 persen). Diikuti oleh sektor
pertambangan sebesar Rp. 13.198.718 (26,54 persen). Sedangkan peran sektor
gas, listrik dan air bersih masih relatif kecil yang merupakan penyumbang
terendah untuk PDRB NTB yaitu sebesar Rp. 231.438 (0,46 persen). Seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 1 berikut ini:

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi NTB 2014


Gambar 1 Persentase PDRB ADH berlaku menurut lapangan
usaha Provinsi NTB 2013
Wisatawan yang berkunjung ke Provinsi NTB dalam lima tahun terakhir
mengalami kenaikan yang signifikan. Dengan melihat data tersebut menunjukkan
bahwa ada potensi pariwisata yang dimiliki Provinsi NTB dengan ditandai oleh
kenaikan arus kunjungan wisatawan setiap tahunnya. Seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 2 berikut:

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB 2014


Gambar 2 Trend perkembangan kunjungan wisatawan ke NTB
periode 2009-2013 (dalam satuan jiwa)
3

Jumlah kunjungan wisata untuk wilayah Provinsi NTB menunjukkan bahwa


jumlah wisatawan yang berkunjung pada tahun 2009 hingga 2013 mengalami
peningkatan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara, dimana jumlah
kunjungan untuk wisatawan nusantara dari 386.845 jiwa menjadi 791.658 jiwa
atau peningkatan jumlah kunjungan sebesar 104,64%. Sedangkan untuk jumlah
wisatawan mancanegara dari 232.525 jiwa meningkat menjadi 565.944 jiwa atau
kenaikan persentase kunjungan sebesar 143,39%. Hal ini tentunya akan
memberikan peluang besar bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.
Peningkatan jumlah kunjungan ini telah mampu memberikan andil yang
besar dalam perekonomian terutama di dalam penerimaan devisa walaupun belum
terlalu signifikan sesuai apa yang diharapkan, hal ini disebabkan kondisi
perekonomian dunia yang belum stabil sehingga para wisatawan banyak yang
mengurungkan niatnya untuk berpergian. Hal-hal yang menyebabkan kenaikan
kunjungan wisatawan adalah karena keberhasilan promosi yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah dan para stakeholder yang diiringi dengan promosi besar-
besaran baik di dalam negeri maupun luar negeri. Secara bertahap Pemerintah
Daerah dan stakeholder pariwisata NTB telah melakukan penataan dan
penyediaan sarana dan prasarana yang semakin memadai. Selain itu juga mutu
pelayanan mulai ditingkatkan dengan cara memberikan pelatihan teknis mengenai
pengelolaan pariwisata, pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis),
penentuan tarif angkutan wisata, dan melalui event-event wisata yang terjadwal.
Tersedianya sarana pariwisata sangat menentukan jumlah dan lama tinggal
wisatawan dalam kawasan wisata. Begitu pula prasarana pariwisata sangat
menentukan besarnya pengeluaran dan pola penyebaran pengeluaran wisatawan
dalam kawasan wisata.
Potensi pariwisata merupakan aset yang sangat berharga dan salah satu
komponen yang dapat dijadikan pendapatan daerah. Salah satunya adalah Provinsi
Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terletak di bagian timur Indonesia dengan
potensi pariwisatanya yang potensial untuk dikembangkan. Seiring dengan hal
tersebut, maka Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan sektor pariwisata
sebagai program unggulan dalam pembangunan ekonomi disamping sektor-sektor
lainnya. Pembangunan pariwisata NTB sejak hampir satu dasawarsa terakhir
difokuskan di Pulau Lombok yang telah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang
sangat signifikan, terutama pada kawasan Senggigi di Kabupaten Lombok Barat,
Gili Indah (Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan) dan Senaru di Kabupaten
Lombok Utara.
Ghalib (2005) mengemukakan sasaran pembangunan ekonomi jangka
panjang adalah terjadinya perubahan struktur ekonomi wilayah. Hal inilah yang
tengah dihadapi oleh industri pariwisata di Pulau Lombok, dimana dalam
pengembangan sektor pariwisata ditemukan sumber daya manusia (SDM) yang
belum mampu menyokong pertumbuhan pariwisata seperti yang terjadi pada
kawasan selatan. Sumber mata pencaharian utama di kawasan selatan masih di
dominasi oleh sektor pertanian dan perikanan (nelayan), berbeda halnya dengan
kawasan utara (Senggigi, Gili Indah, dan Senaru) yang menempatkan pariwisata
sebagai sektor unggulan penggerak perekonomian. Jika dilihat dari potensi
sumberdaya alam, Kawasan Selatan Pulau Lombok (Sekotong, Kuta, dan
Jerowaru) juga memiliki daya tarik yang tidak kalah eksotis dengan keindahan di
kawasan utara, seperti pantainya yang memiliki jenis pasir beraneka ragam, dan
4

juga lautnya yang bisa dijadikan sebagai pusat pariwisata bahari (surfing,
snorkeling, diving, fishing, dan budidaya biota laut).
Peran warga lokal perlu ditingkatkan dalam pengembangan pariwisata
daerah melalui pendekatan, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat (Siswanto
dan Moeljadi 2015). Selain itu juga diperlukan manajemen yang efektif dalam
pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin akses wisatawan agar tetap
berjalan lancar dan pemberian kontrol penuh pada penduduk setempat dalam hal
pengelolaan wisatawan (Salim 2014). Umumnya masyarakat Kawasan Selatan
Pulau Lombok belum siap untuk menyambut wisatawan yang ingin berkunjung,
begitu juga dengan fasilitas sarana prasarana pendukung pariwisata yang masih
jauh tertinggal dibanding kawasan utara.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pengembangan pariwisata, untuk
dapat memberikan solusi dalam mengembangkan pariwisata ini tentunya perlu
diketahui faktor-faktor eksternal dan internal yang dapat mendukung atau
menghambat pengembangan pariwisata tersebut (Fadillah, Dewi dan Hardjanto
2012). Kawasan Selatan Pulau Lombok merupakan salah satu daerah yang
memiliki banyak potensi pariwisata baik potensi alam dan budaya. Pengembangan
pariwisata di kawasan ini masih bersifat tradisional, dimana konsep
pengembangan yang dilakukan tidak melihat pengaruh di masa yang akan datang
(Disbudpar Loteng 2013).
Upaya pengembangan DTW di Kawasan Selatan Pulau Lombok perlu
dilakukan dengan cara memanfaatkan potensi yang ada di kawasan tersebut dan
membenahi kekurangan-kekurangan yang ada, serta memanfaatkan berbagai
peluang dan mengatasi berbagai kelemahan. Manfaat dari pengembangan daya
tarik wisata adalah berkaitan erat dengan pembangunan perekonomian daerah
Provinsi NTB pada umumnya dan masyarakat Kawasan Selatan Pulau Lombok
pada khususnya, serta dapat meningkatkan lapangan pekerjaan. Terkait dengan hal
tersebut, yang mana Kawasan Selatan Pulau Lombok memiliki objek wisata yang
sangat potensial dan dapat memberi pengaruh terhadap pengembangan ekonomi
wilayah, namun masih ditemukannya berbagai macam kendala. Atas dasar inilah,
maka perlu dilakukan kajian kepariwisataan dalam hubungannya dengan
pengembangan ekonomi wilayah khususnya di Kawasan Selatan Pulau Lombok.

Perumusan Masalah

Pariwisata merupakan salah satu sektor andalan bagi pembangunan, karena


mampu mendatangkan devisa negara. Pariwisata pada era otonomi saat ini juga
memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pengembangan ekonomi
wilayah. Keberadaan Pulau Lombok di NTB sebagai pulau yang memiliki peluang
besar untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata tentu sangat berperan
penting terhadap pengembangan ekonomi wilayah. Akan tetapi perkembangan
kawasan pariwisata tidak terjadi secara merata, sehingga terjadi ketimpangan
antar wilayah. Sjafrizal (2012) menyatakan bahwa ketimpangan antar wilayah
merupakan aspek yang umum terjadi dalam kegiatan ekonomi suatu daerah.
Ketimpangan ini terjadi disebabkan adanya perbedaan kandungan sumber daya
alam dan perbedaan kondisi demografi yang terdapat pada masing-masing
wilayah. Adanya perbedaan ini menyebabkan kemampuan suatu daerah dalam
5

mendorong proses pembangunan juga menjadi berbeda. Oleh karena itu pada
setiap daerah biasanya terdapat wilayah maju (Developed Region) dan wilayah
terbelakang (Underdeveloped Region).
Dalam hal ini masih ditemukannya beberapa obyek wisata yang belum
mengalami perkembangan seperti halnya yang terjadi pada Kawasan Selatan
Pulau Lombok. Berdasarkan hasil survei awal yang telah dilakukan oleh peneliti,
bahwa kenyataan yang ada masih banyaknya kawasan wisata atau pesona alam
yang terdapat di Kawasan Selatan Pulau Lombok ini belum dikelola secara
maksimal baik itu dalam bentuk pesona pantai (bahari) maupun pesona lainnya.
Sementara itu Pemerintah Daerah telah membuat strategi guna pengembangan
pariwisata di Pulau Lombok terutama pada Kawasan Utara Pulau Lombok yang
merupakan kawasan developed region, tentu saja strategi ini belum mampu
memberi kemajuan yang signifikan dalam mengoptimalkan potensi yang ada pada
Kawasan Selatan Pulau Lombok, karena pembangunan pariwisata terpusat pada
kawasan utara. Belum meratanya pembangunan berdampak pada perekonomian
wilayah, selain itu masyarakat lokal belum sepenuhnya dilibatkan dalam proses
pembagunan potensi pariwisata di wilayah selatan.
Pemilihan Kawasan Selatan Pulau Lombok sebagai lokasi penelitian
didasarkan atas beberapa pertimbangan, dimana Kawasan Selatan Pulau Lombok
memiliki potensi-potensi daya tarik wisata yang beraneka ragam, sehingga perlu
diidentifikasi tentang keberadaan potensi daya tarik wisata tersebut. Terdapat
beberapa faktor yang menghambat pengembangan pariwisata Kawasan Selatan
Pulau Lombok, salah satunya adalah masih kurangnya peran pemerintah dalam
memajukan wilayah selatan, lemahnya pemahaman masyarakat lokal tentang
pariwisata, kualitas infrastruktur yang telah ada masih perlu ditingkatkan lagi
seperti perbaikan akses jalan menuju daerah wisata, sumberdaya listrik yang
tersedia belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat di Kawasan Selatan
Pulau Lombok, dan kurangnya infrastruktur teknologi informasi seperti internet
dan jaringan telepon di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Untuk mengoptimalkan
potensi yang ada serta meningkatkan kunjungan wisatawan, maka diperlukan
suatu rumusan strategi lain dalam upaya mengembangkan sektor pariwisata di
Kawasan Selatan Pulau Lombok, dimana strategi ini dijaring melalui data yang
dikumpulkan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB, BPS Provinsi
NTB, serta persepsi masyarakat lokal dan wisatawan. Strategi yang dirumuskan
ini diharapkan mampu mengoptimalkan dan menjawab kebutuhan wisatawan serta
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dalam keberlangsungan
pembangunan pariwisata.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang telah diuraikan pada paragraf
sebelumnya, terdapat banyak hal yang mempengaruhi pengembangan wilayah.
Maka dari dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana potensi wilayah Kawasan Selatan Pulau Lombok dalam rangka
pengembangan pariwisata?
2. Bagaimana posisi daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok
dilihat dari faktor internal (Kekuatan dan Kelemahan) dan faktor eksternal
(Peluang dan Ancaman)?
3. Bagaimana strategi pengembangan daya tarik wisata di Kawasan Selatan
Pulau Lombok dalam upaya peningkatan kunjungan wisatawan?
6

Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan utama penelitian ini


adalah untuk mengetahui pengembangan pariwisata terhadap ekonomi wilayah.
Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengidentifikasi potensi wilayah Kawasan Selatan Pulau Lombok untuk
pengembangan pariwisata.
2. Menganalisis posisi daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok
dilihat dari faktor internal dan eksternal, dalam rangka pengembangannya.
3. Merumuskan strategi pengembangan daya tarik wisata di Kawasan Selatan
Pulau Lombok dalam upaya peningkatan kunjungan wisatawan.

Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini sebagai berikut:


1. Bagi Pengelola Pariwisata: sebagai bahan masukan untuk pengembangan
produk wisata.
2. Bagi Pemerintah Daerah: sebagai masukan dalam pengambilan kebijakan
terkait perbaikan dan pengembangan pembangunan daerah yang
berkelanjutan.
3. Bagi Masyarakat: sebagai bahan kajian untuk pengembangan SDM
disekitar DTW dan juga penciptaan lapangan pekerjaan.
4. Bagi Peneliti: dapat menyumbangkan pemikiran bagi kepentingan
perencanaan dan pengelolaan kawasan wisata.

Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:


1. Kawasan Selatan Pulau Lombok sangat berpotensi untuk dikembangkan
menjadi daerah tujuan wisata.
2. Faktor internal dan eksternal daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau
Lombok berada dalam posisi kuat berpeluang.
3. Strategi pengembangan daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau
Lombok berdasarkan pada strategi pertumbuhan.

Ruang Lingkup Penelitian

Lingkup pembahasan penelitian ini dititikberatkan pada daerah tujuan


wisata dengan atraksi wisata bahari, wisata budaya, dan wisata kerajinan di
Kawasan Selatan Pulau Lombok yang tersebar pada tiga kabupaten (Lombok
Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur). Dalam penelitian ini responden
adalah pihak internal (pemerintah, pelaku pariwisata, masyarakat lokal,
akademisi) dan pihak eksternal yaitu wisatawan domestik dan mancanegara.
Berdasarkan persepsi pihak internal dan eksternal yang dijaring melalui kuesioner
akan menghasilkan suatu strategi yang digunakan dalam pengembangan Kawasan
Selatan Pulau Lombok.
7

2 TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Ekonomi dan Wisata

Aktivitas dalam perekonomian regional digolongkan dalam dua sektor


kegiatan yakni basis dan non basis. Kegiatan basis merupakan kegiatan yang
melakukan aktivitas yang berorientasi ekspor (barang dan jasa) ke luar batas
wilayah perekonomian yang bersangkutan. Semakin besar ekspor suatu wilayah
ke wilayah lain akan semakin maju pertumbuhan wilayah tersebut dan setiap
perubahan yang terjadi pada sektor basis akan menimbulkan efek ganda
(multiplier effect) dalam perekonomian regional. Kegiatan non basis adalah
kegiatan yang menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat
yang berada di dalam batas wilayah perekonomian yang bersangkutan
(Adisasmita 2005).
Teori basis ekonomi mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan
ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah
tersebut. Dalam pengertian ekonomi regional, ekspor adalah menjual produk/jasa
ke luar wilayah baik ke wilayah lain dalam negara itu maupun ke luar negeri. Pada
dasarnya kegiatan ekspor (kegiatan basis) adalah semua kegiatan baik penghasil
produk maupun penyedia jasa yang mendatangkan uang dari luar wilayah. Fungsi
permintaan lapangan kerja dan pendapatan di sektor basis bersifat exogenous yang
tidak bergantung pada permintaan lokal. Sedangkan sektor non basis untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi lokal yang sangat dipengaruhi oleh tingkat
pendapatan masyarakat setempat sehingga tidak dapat berkembang melebihi
pertumbuhan ekonomi wilayah artinya sektor ini bersifat endogenous (Tarigan
2007).
Beberapa metode yang digunakan untuk membedakan antara kegiatan basis
dan kegiatan non basis yaitu sebagai berikut (Tarigan 2007):
1. Metode Langsung: Metode ini dapat dilakukan dengan survei langsung
kepada pelaku usaha kemana mereka memasarkan barang yang diproduksi
dan darimana mereka membeli bahan-bahan kebutuhan untuk
menghasilkan produk tersebut, yang pada akhirnya dapat ditentukan
berapa persen produk yang dijual ke luar wilayah dan berapa persen yang
dipasarkan di dalam wilayah.
2. Metode Tidak Langsung: metode ini didasarkan pada kondisi di wilayah
tersebut (berdasarkan data sekunder). Seperti kegiatan pariwisata yang
mendatangkan uang dari luar wilayah.
3. Metode Campuran: penggabungan antara metode langsung dan tidak
langsung.
4. Metode Location Quotient: membandingkan porsi lapangan kerja/nilai
tambah untuk sektor tertentu di wilayah kita dibandingkan dengan porsi
lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor yang sama secara nasional.
Perubahan regional terdiri dari dua komponen, yaitu pergeseran
proporsional dan pergeseran diferensial. Pergeseran proporsional mengukur
pengaruh komposisi industri yang dilihat secara nasional bahwa beberapa sektor
mengalami pertumbuhan lebih cepat dibandingkan sektor lainnya. Suatu wilayah
yang memiliki sektor-sektor yang tingkat pertumbuhannya lamban akan
8

memperlihatkan pergeseran proporsional yang menurun. Sebaliknya suatu


wilayah yang mempunyai sektor-sektor yang tingkat pertumbuhannya tinggi akan
memperlihatkan pergeseran yang menaik. Sedangkan pergeseran diferensial
terjadi dari keadaan bahwa industri-industri tumbuh di beberapa wilayah lebih
cepat dari wilayah-wilayah lainnya. Wilayah yang mempunyai karakteristik
pergeseran yang meningkat adalah daerah-daerah yang memiliki keunggulan
lokasional yang memungkinkan pengembangan kegiatan-kegiatan tertentu lebih
baik dibandingkan daerah-daerah lain (Adisasmita 2005).
Dalam industri pariwisata, ada dua cara yang umumnya digunakan dalam
distribusi pariwisata yaitu distribusi langsung (direct) dan distribusi tak langsung
(indirect). Distribusi langsung dimaksudkan jika calon wisatawan langsung
memesan produk wisata seperti transportasi, penginapan, dan objek wisata yang
akan dikunjungi tanpa melibatkan perantara. Sedangkan distribusi tak langsung
dimaksudkan apabila untuk melakukan pemesanan produk wisata menggunakan
satu atau lebih perantara antara calon wisatawan dan supplier (Yoeti 2010).
Suatu perjalanan dapat disebut wisata (tourism) jika memenuhi kriteria
sebagai berikut (Yoeti 2010):
1. Perjalanan itu dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain. Perjalanan itu
dilakukan di luar kediaman tempat orang itu biasanya tinggal dan
melewati perbatasan;
2. Perjalanan itu dilakukan lebih dari 24 jam, atau paling sedikit sudah
menempuh perjalanan sejauh 100 mil dari perbatasan tempat orang itu
tinggal atau berdiam.
3. Tujuan perjalanan itu semata-mata untuk bersenang-senang tanpa mencari
nafkah atau menjabat suatu pekerjaan tetap di negara atau DTW yang
dikunjungi.
4. Uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya
tempat ia biasanya tinggal atau berdiam dan bukan diperoleh karena hasil
usaha selama perjalanan wisata yang dilakukannya.
Menurut WTO (1973), suatu perjalanan disebut pariwisata (tourism)
bilamana perjalanan itu menggunakan waktu senggang (leisure time) bertujuan
untuk:
1. Liburan (Holiday), kesehatan (Health), pendidikan (Study), menunaikan
ibadah (Religion) dan keperluan olahraga (Sport);
2. Kegiatan usaha (Business), mengunjungi keluarga (Family), ikut
berpartisipasi dalam kegiatan Meeting, Incentive, Convention dan
Exhibition (MICE).
Kriteria yang harus dipenuhi agar suatu kegiatan dapat disebut ekowisata
menurut Sekartjakrarini dan Legoh (2004) yaitu: (1) tujuan pemanfaatan
sumberdaya alam untuk perlindungan, (2) perlibatan masyarakat secara aktif, (3)
produk wisata yang mengandung unsur pembelajaran dan pendidikan lingkungan,
(4) dampak positif pada ekonomi lokal, dan (5) dampak minimal pada lingkungan.
Aktivitas wisata di samping memiliki dampak positif juga memiliki dampak
negatif. Dampak yang bersifat positif (khususnya pariwisata internasional)
menurut Inpres Nomor 9 Tahun 1969 sebagaimana dikemukakan dalam
Supriyatin (2006) yaitu:
1. Meningkatkan pendapatan devisa dan pendapatan negara.
9

2. Memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan budaya


bangsa.
3. Meningkatkan persaudaraan serta persahabatan nasional dan internasional.
Marpaung dan Bahar (2002) mengungkapkan bahwa pariwisata memiliki
dampak positif, yaitu mempengaruhi pendapatan atau penghasilan penduduk,
membuka lahan pekerjaan dan memacu bisnis kecil-kecilan. Namun, di samping
memiliki dampak positif, pariwisata juga memiliki dampak negatif, diantaranya
yaitu:
1. Terjadinya penurunan moral, sikap dan nilai-nilai dalam masyarakat
seperti meningkatnya kejahatan, munculnya perjudian dan prostitusi.
2. Terjadinya perusakan terhadap lingkungan dan konservasi, seperti
menurunnya nilai hutan lindung, nilai sejarah dan kebudayaan serta
menurunnya nilai daerah wisata.
Loomis dan Walsh (1997) mengungkapkan dampak ekonomi kegiatan
wisata terhadap kawasan sekitar dapat diidentifikasi melalui empat faktor, yaitu:
pendapatan yang diperoleh dari penjualan tiket dan pajak (sales and tax revenue),
peluang pekerjaan, dan penghasilan (income) yang diperoleh masyarakat yang
terlibat dalam kegiatan wisata.
Aliran uang dari pengeluaran wisatawan di kawasan wisata akan
memberikan dampak terhadap perekonomian lokal berupa dampak langsung
(direct effect), tidak langsung (indirect effect), dan lanjutan (induced effect)
(Vanhove 2005). Menurut Linberg (1998) ada tiga aspek ekonomi dalam
ekowisata yaitu: 1) bagi hasil dalam keuntungan dan biaya perawatan kawasan;
2) biaya masuk dan pemasukan lainnya untuk mendukung program perlindungan;
3) pembangunan ekonomi lokal melalui ekowisata.
Penghasilan yang diperoleh dari penjualan tiket dan pajak, ada lima jenis
biaya yang dapat dipungut dari wisatawan (Loomis dan Walsh 1997; Linberg
1998). Pertama, biaya masuk (entrance fee) ialah biaya yang dipungut saat
wisatawan memasuki kawasan. Kedua, admission fee yaitu biaya yang dipungut
saat wisatawan menggunakan fasilitas tertentu. Ketiga, use fee adalah biaya yang
dipungut saat wisatawan memasuki obyek wisata tertentu. Keempat, license and
permit fee yaitu biaya yang dikenakan pada wisatawan untuk melakukan kegiatan
tertentu seperti berburu atau memancing misalnya. Kelima, sales and concessions
fee adalah biaya yang dikenakan pada partner kerja seperti untuk jasa pemasaran,
penggunaan logo dan trademarks.

Jenis-jenis Wisata
Wisata berdasarkan jenis-jenisnya dapat dibagi ke dalam beberapa kategori
(Pendit 2002), yaitu:
1. Wisata Budaya, yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan
untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan
kunjungan ke tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat,
kebiasaan dan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, kebudayaan dan
seni mereka.
2. Wisata Kesehatan, yaitu perjalanan seseorang wisatawan dengan tujuan
untuk menukar keadaan dan lingkungan tempat sehari-hari di mana ia
tinggal demi kepentingan beristirahat baginya dalam arti jasmani dan
rohani.
10

3. Wisata Olahraga, yaitu wisatawan-wisatawan yang melakukan perjalanan


dengan tujuan berolahraga atau memang sengaja bermaksud mengambil
bagian aktif dalam pesta olahraga di suatu tempat atau negara.
4. Wisata Komersial, yaitu termasuk perjalanan untuk mengunjungi
pameran-pameran dan pekan raya yang bersifat komersial, seperti pameran
industri, pameran dagang dan sebagainya.
5. Wisata Industri, yaitu perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar
atau mahasiswa, atau orang-orang awam ke suatu kompleks atau daerah
perindustrian, dengan maksud dan tujuan untuk mengadakan peninjauan
atau penelitian.
6. Wisata Maritim atau Bahari, yaitu wisata yang banyak dikaitkan dengan
olahraga air, seperti danau pantai atau laut.
7. Wisata Cagar Alam, yaitu jenis wisata yang biasanya banyak
diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan
usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar
alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang
kelestariannya dilindungi oleh undang-undang.
8. Wisata Bulan Madu, yaitu suatu penyelenggaraan perjalanan bagi
pasangan-pasangan merpati, pengantin baru, yang sedang berbulan madu
dengan fasilitas-fasilitas khusus dan tersendiri demi kenikmatan
perjalanan.

Kawasan dan Obyek Wisata


Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya
(Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Lebih lanjut
dalam regulasi tersebut dijelaskan maksud daripada wilayah adalah ruang yang
merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
Adisasmita (2005) mencoba menjelaskan maksud dari kawasan wisata
dengan menelaah kedua komponen tersebut. Kawasan adalah bentangan
permukaan (alam) dengan batas-batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek fungsional. Kawasan memiliki fungsi tertentu (misalnya kawasan lindung,
kawasan budidaya, kawasan pesisir pantai, kawasan pariwisata, dan lain-lain).
Wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi kawasan wisata adalah bentangan
permukaan yang dikunjungi atau didatangi oleh orang banyak (wisatawan) karena
kawasan tersebut memiliki obyek wisata yang menarik.
Suwantoro (2004) menjelaskan bahwa obyek wisata terdiri dari keindahan
alam (natural amenities), iklim, pemandangan, flora dan fauna yang aneh
(uncommon vegetation and animals), hutan (the sylvan elements), dan sumber
kesehatan (health center) seperti sumber air panas belerang, dan lain-lain. Di
samping itu, obyek wisata yang diciptakan manusia seperti kesenian, festival,
pesta ritual, upacara perkawinan tradisional, khitanan dan lain-lain semuanya
disebut sebagai atraksi wisata (tourist attraction).
Daya tarik wisata yang juga disebut obyek wisata merupakan potensi yang
menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata.
Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata, dikelompokkan ke dalam obyek dan
daya tarik wisata alam, wisata budaya, dan wisata minat khusus. Dalam penentuan
obyek wisata berdasarkan pada kriteria-kriteria antara lain:
11

1. Adanya sumberdaya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman,


dan bersih.
2. Adanya aksesibilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya.
3. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka.
4. Adanya sarana dan prasarana penunjang untuk melayani para wisatawan
yang hadir.
5. Obyek wisata alam mempunyai daya tarik tinggi, karena keindahan alam
pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan, dan sebagainya.
6. Obyek wisata budaya mempunyai daya tarik karena memiliki nilai khusus
dalam bentuk atraksi kesenian, upacara adat, nilai luhur yang terkandung
dalam suatu obyek buah karya manusia pada masa yang lampau.

Pelaku Pariwisata
Pelaku pariwisata adalah setiap pihak yang berperan dan terlibat dalam
kegiatan pariwisata. Adapun yang menjadi pelaku pariwisata menurut Damanik et
al., (2006) adalah:
1. Wisatawan
Wisatawan memiliki beragam motif, minat, karakteristik sosial,
ekonomi, budaya, dan sebagainya. Dengan motif dan latar belakang yang
berbeda-beda itu menjadikan mereka pihak yang menciptakan permintaan
produk dan jasa wisata. Wisatawan adalah konsumen atau pengguna
produk dan layanan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan
mereka berdampak langsung pada kebutuhan wisata, yang dalam hal ini
permintaan wisata.
2. Industri Pariwisata
Industri pariwisata artinya semua usaha barang dan jasa bagi
pariwisata yang dikelompokkan ke dalam dua golongan utama yaitu:
a) Pelaku langsung, yaitu usaha-usaha wisata yang menawarkan jasa
secara langsung kepada wisatawan atau yang jasanya langsung
dibutuhkan oleh wisatawan. Termasuk dalam kategori ini adalah hotel,
restoran, biro perjalanan, pusat informasi wisata, atraksi hiburan, dan
lain-lain.
b) Pelaku tidak langsung, yaitu usaha yang mengkhususkan diri pada
produk-produk yang secara tidak langsung mendukung pariwisata,
misalnya usaha kerajinan tangan, penerbit buku atau lembar panduan
wisata, penjual roti, dan lain-lain.
3. Pendukung Jasa Wisata
Kelompok ini adalah usaha yang tidak secara khusus menawarkan
produk dan jasa wisata tetapi seringkali bergantung kepada wisatawan
sebagai pengguna jasa dan produk tersebut. Termasuk di dalamnya adalah
penyedia jasa fotografi, jasa kecantikan, olahraga, usaha bahan pangan,
penjualan bahan bakar minyak, dan sebagainya.
4. Pemerintah
Pemerintah mempunyai otoritas dalam pengaturan, penyediaan dan
peruntukkan berbagai infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan
pariwisata. Selain itu, pemerintah bertanggung jawab dalam menentukan
arah yang dituju perjalanan wisata. Kebijakan makro yang ditempuh
12

pemerintah merupakan panduan bagi stakeholder yang lain di dalam


memainkan peran masing-masing.
5. Masyarakat Lokal
Masyarakat lokal terutama penduduk asli yang bermukim di
kawasan wisata, menjadi salah satu peran kunci dalam pariwisata, karena
sesungguhnya merekalah yang akan menyediakan sebagian besar atraksi
sekaligus menentukan kualitas produk wisata. Pengelolaan lahan pertanian
secara tradisional, upacara adat, kerajinan tangan, kebersihan merupakan
beberapa contoh peran yang memberikan daya tarik bagi pariwisata.
6. Lembaga Swadaya Masyarakat
Banyak Lembaga Swadaya Masyarakat, baik lokal, regional,
maupun internasional yang melakukan kegiatan di kawasan wisata, bahkan
jauh sebelum pariwisata berkembang, organisasi non pemerintah ini sudah
melakukan aktivitasnya baik secara partikuler maupun bekerja sama
dengan masyarakat. Kadang-kadang fokus kegiatan mereka dapat menjadi
salah satu daya tarik wisata seperti proyek WWF untuk perlindungan
Orang Utan di Kawasan Bohorok Sumatera Utara atau di Tanjung Putting
Kalimantan Selatan. Kelompok pencinta lingkungan, Walhi, asosiasi-
asosiasi kekerabatan yang masih hidup di dalam komunitas lokal juga
merupakan pelaku tidak langsung dalam pengembangan pariwisata.
Mereka ini melakukan berbagai kegiatan yang terkait dengan konservasi
dan regulasi kepemilikan dan pengusahaan sumberdaya alam setempat.

Komponen-komponen Wisata
Analisis sistem pariwisata tidak terlepas dari segmen pasar pariwisata
karena segmen pasar pariwisata merupakan spesifikasi bentuk dari pariwisata
yang dapat berfungsi sebagai bentuk khusus pariwisata. Hal ini terkait dengan
output akhir yang diharapkan oleh wisatawan yaitu kepuasan akan obyek wisata
yang dihasilkan. Untuk mewujudkan sistem pariwisata yang diinginkan, maka
diperlukan beberapa komponen pariwisata. Menurut Inskeep (1994), di berbagai
macam literatur dimuat berbagai macam komponen wisata. Namun ada beberapa
komponen wisata yang selalu ada dan merupakan komponen dasar dari wisata.
Komponen-komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lain. Komponen-
komponen wisata tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Atraksi dan kegiatan-kegiatan wisata, yaitu berupa semua hal yang
berhubungan dengan lingkungan alami, kebudayaan, keunikan suatu
daerah dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan
wisata yang menarik wisatawan untuk mengunjungi sebuah obyek wisata.
2. Akomodasi, adalah berbagai macam hotel dan berbagai jenis fasilitas lain
yang berhubungan dengan pelayanan untuk para wisatawan yang berniat
untuk bermalam selama perjalanan wisata yang mereka lakukan.
3. Fasilitas dan pelayanan wisata, yang dimaksud adalah semua fasilitas yang
dibutuhkan dalam perencanaan kawasan wisata. Fasilitas tersebut
termasuk tour and travel operations (disebut juga pelayanan
penyambutan). Fasilitas tersebut misalnya, restoran dan berbagai jenis
tempat makan lainnya, toko-toko untuk menjual hasil kerajinan tangan,
cinderamata, toko-toko khusus, toko kelontong, bank, tempat penukaran
uang dan fasilitas pelayanan keuangan lainnya, kantor informasi wisata,
13

pelayanan pribadi (seperti salon kecantikan), fasilitas pelayanan kesehatan,


fasilitas keamanan umum (termasuk kantor Polisi dan Pemadam
Kebakaran), dan fasilitas perjalanan untuk masuk dan keluar (seperti
kantor Imigrasi dan Bea Cukai).
4. Fasilitas dan pelayanan transportasi. Meliputi transportasi akses dari dan
menuju kawasan wisata, transportasi internal yang menghubungkan atraksi
utama kawasan wisata dan kawasan pembangunan, termasuk semua jenis
fasilitas dan pelayanan yang berhubungan dengan transportasi darat, air,
dan udara.
5. Infrastruktur lain. Infrastruktur yang dimaksud adalah penyediaan air
bersih, listrik, drainase, saluran air kotor, telekomunikasi (seperti telepon,
telegram, telex, faksimili, dan radio).
6. Elemen kelembagaan. Kelembagaan yang dimaksud adalah kelembagaan
yang diperlukan untuk membangun dan mengelola kegiatan wisata,
termasuk perencanaan tenaga kerja dan program pendidikan dan pelatihan;
menyusun strategi marketing dan program promosi; menstrukturisasi
organisasi wisata sektor umum dan swasta; peraturan dan perundangan
yang berhubungan dengan wisata; menentukan kebijakan penanaman
modal bagi sektor publik dan swasta; mengendalikan program ekonomi,
lingkungan, dan sosial kebudayaan.

Permintaan dan Penawaran Pariwisata


Dari sisi ekonomi, pariwisata muncul dari empat unsur pokok yang saling
terkait erat atau menjalin hubungan dalam suatu sistem, yakni : (1) permintaan
atau kebutuhan, (2) penawaran atau pemenuhan kebutuhan, (3) pasar dan
kelembagaan yang berperan untuk memfasilitasi keduanya, dan (4) pelaku atau
aktor yang menggerakkan ketiga elemen tersebut (Damanik et al 2006).
Keterkaitan antar keempat unsur tersebut sebagai sistem pariwisata diuraikan
secara ringkas pada Gambar 3.
Aspek penawaran pariwisata menurut Spillane (1990) mencakup: (1) proses
produksi industri pariwisata merupakan penciptaan kesempatan kerja yang
bersifat langsung dan sangat menonjol sebagai contoh bidang perhotelan yang
termasuk industri jasa yang bersifat padat karya seperti biro perjalanan,
pramuwisata, pusat-pusat rekreasi dan kantor-kantor pariwisata pemerintah (pusat
dan daerah) yang memerlukan tenaga-tenaga yang terampil/ahli dalam bidangnya;
(2) pentingnya tenaga kerja dalam perkembangan pariwisata berpengaruh positif
pada perluasan kesempatan kerja yaitu mereka yang memiliki keterampilan teknis
dan manajerial; (3) pentingnya infrastruktur/prasarana tidak hanya dalam
penyediaan penginapan, makanan dan minumana, perencanaan perjalanan wisata,
agen perjalanan, industri kerajinan, pramuwisata, tenaga yang terampil namun
perlu diperhatikan prasarana ekonomi seperti jalan raya, jembatan, terminal,
pelabuhan, lapangan udara serta prasarana yang bersifat public utilities seperti
pembangkit tenaga listrik, ketersediaan air bersih, fasilitas olahraga dan rekreasi,
pos dan telekomunikasi, bank, money changer, perusahaan asuransi, periklanan,
percetakan dan banyak sektor perekonomian lainnya yang menunjang kegiatan
pariwisata; (4) pentingnya kredit merupakan faktor penentu dari pertumbuhan
pariwisata, karena tanpa adanya perangsang seperti itu tidak mungkin terjadi
investasi yang sedemikian besar.
14

KEBIJAKAN
PARIWISATA

P
P
E
E
R
N
M
A
I
W
N
A
T
R
A
A
A
N
PRODUK N

PASAR/PELAKU
PARIWISATA

Sumber : Steck et al 1999 (dalam Damanik et al 2006)


Gambar 3 Sistem kepariwisataan

Selanjutnya untuk aspek permintaan industri pariwisata mencakup: (1)


faktor sosio-ekonomis dan pariwisata yang meliputi Undang-undang sosial,
pendapatan yang meningkat, pendidikan dan perasaan ingin tahu, urbanisasi dan
kebutuhan untuk menghindari kebisingan kota, hasrat untuk meniru; (2) faktor
administrasi dan pariwisata bertujuan untuk melonggarkan ketatnya pengawasan
administrasi atas lalu lintas manusia serta untuk mendapatkan pengakuan hak bagi
setiap orang dalam mengadakan perjalanan wisata ke negara lain; (3) faktor teknis
dalam kemajuan dunia angkutan yang memungkinkan wisatawan dapat mencapai
setiap tempat yang ingin dikunjungi dengan waktu lebih cepat dan biaya lebih
rendah (Spillane 1990).

Perencanaan dan Pembangunan Wilayah Wisata

Perencanaan merupakan pengorganisasian masa depan untuk mencapai


tujuan tertentu (Inskeep, 1994). Menurut Paturusi (2008), suatu perencanaan
memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
1. Logis, yaitu bisa dimengerti dan sesuai dengan kenyataan yang berlaku.
2. Luwes, yaitu dapat mengikuti perkembangan.
3. Obyektif, yaitu didasarkan pada tujuan dan sasaran yang dilandasi
pertimbangan yang sistematis dan ilmiah.
Paturusi (2008) menambahkan bahwa orientasi perencanaan ada dua bentuk
yaitu, perencanaan berdasarkan pada kecenderungan yang ada (trend oriented
planning) yang merupakan suatu perencanaan untuk mencapai tujuan dan sasaran
di masa yang akan datang dilandasi oleh pertimbangan dan tata laku yang ada dan
15

berkembang saat ini, kemudian perencanaan berdasarkan pertimbangan target


(target oriented planning) adalah suatu perencanaan yang mana tujuan dan
sasaran yang ingin dicapai di masa yang akan datang merupakan merupakan
faktor penentu.
Menurut Yoeti (2010), komponen dasar pengembangan pariwisata di dalam
proses perencanaan adalah atraksi wisata dan aktivitasnya, fasilitas akomodasi dan
pelayanan, fasilitas wisatawan lainnya dan jasa, fasilitas dan pelayanan
transportasi, infrastruktur lainnya, serta elemen kelembagaan. Proses perencanaan
pariwisata dengan melihat lingkungan (fisik, ekonomi, sosial, politik) sebagai
suatu komponen yang saling terkait dan saling tergantung satu dengan lainnya
(Paturusi, 2008).
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, perencanaan pariwisata merupakan
suatu proses pembuatan keputusan yang berkaitan dengan masa depan suatu
daerah tujuan wisata atau atraksi wisata yang merupakan suatu proses dinamis
penentuan tujuan, yang secara sistematis mempertimbangkan berbagai alternatif
tindakan untuk mencapai tujuan, implementasi terhadap alternatif terpilih dan
evaluasi.
Selanjutnya istilah pembangunan dan pengembangan banyak digunakan
dalam hal yang sama, yaitu dalam bahasa inggris biasanya disenut dengan
development. Pembangunan selalu terjadi melalui proses yang tidak sinkron,
dimana kekuatan inovatif tumbuh dari atau diinjeksikannya ke dalam suatu sistem
masyarakat yang ada, selanjutnya pengaruh dari inovasi yang sukses dapat dilihat
dengan munculnya personalitas yang kreatif dan inovatif yang mampu
melaksanakan perubahan yang akseleratif (Adisasmita 2005). Menurut Todaro
(2004) pembangunan merupakan suatu proses yang multidimensional yang
mencakup beberapa perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap
masyarakat dan institusional-institusional nasional, di samping tetap mengejar
akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan serta
pengentasan kemiskinan. Sedangkan pengembangan adalah melakukan sesuatu
yang tidak dari nol melainkan melakukan sesuatu yang sebelumnya sudah ada
namun kualitas dan kuantitasnya saja yang ditingkatkan atau diperluas (Rustiadi et
al 2011).
Jadi pada hakikatnya pembangunan itu harus mencerminkan perubahan total
suatu masyarakat atas perubahan sistem sosial secara keseluruhan, tanpa
mengabaikan keragaman, kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun
kelompok sosial di dalamnya untuk bergerak maju menuju suatu kondisi
kehidupan yang serba lebih baik secara material maupun spiritual. Selanjutnya
perencanaan pembangunan dimaksudkan untuk membangun perekonomian secara
keseluruhan mencakup penerapan sistem pemilihan yang rasional terhadap
sejumlah bidang investasi dan kekuatan pembangunan lainnya yang layak
(Jhingan 2004).
Tahapan pembangunan merupakan tahapan siklus evolusi yang terjadi
dalam pembangunan pariwisata, sejak suatu daerah tujuan wisata baru ditemukan
(discovery), kemudian berkembang dan pada akhirnya terjadi penurunan (decline).
Menurut Butler (dalam Pitana 2005) ada tujuh fase pengembangan pariwisata atau
siklus hidup pariwisata (Destination Area Lifecycle) yang membawa implikasi
serta dampak yang berbeda, secara teoritis diantaranya:
16

1. Fase exploration (eksplorasi/penemuan), daerah pariwisata baru mulai


ditemukan, dan dikunjungi secara terbatas dan sporadis, khususnya bagi
wisatawan petualang. Pada tahap ini terjadi kontak yang tinggi antara
wisatawan dengan masyarakat lokal, karena wisatawan menggunakan
fasilitas lokal yang tersedia. Karena jumlah yang terbatas dan frekuensi
yang jarang, maka dampak sosial budaya ekonomi pada tahap ini masih
sangat kecil.
2. Fase involvement (keterlibatan), dengan meningkatnya jumlah kunjungan,
maka sebagian masyarakat lokal mulai menyediakan berbagai fasilitas
yang memang khusus diperuntukan bagi wisatawan. Kontak antara
wisatawan dengan masyarakat lokal masih tinggi, dan masyarakat mulai
mengubah pola-pola sosial yang ada untuk merespon perubahan ekonomi
yang terjadi. Disinilah mulainya suatu daerah menjadi suatu destinasi
wisata, yang ditandai oleh mulai adanya promosi.
3. Fase development (pembangunan), investasi dari luar mulai masuk, serta
mulai munculnya pasar wisata secara sistematis. Daerah semakin terbuka
secara fisik, dan promosi semakin intensif, fasilitas lokal sudah tesisih atau
digantikan oleh fasilitas yang benar-benar berstandar internasional, dan
atraksi buatan sudah mulai dikembangkan, menambahkan atraksi yang asli
alami. Berbagai barang dan jasa impor termasuk tenaga kerja asing, untuk
mendukung perkembangan pariwisata yang pesat.
4. Fase consolidation (konsolidasi), pariwisata sudah dominan dalam struktur
ekonomi daerah, dan dominasi ekonomi ini dipegang oleh jaringan
internasional atau major chains and franchises. Jumlah kunjungan
wisatawan masih naik, tetapi pada tingkat yang lebih rendah. Pemasaran
semakin gencar dan diperluas untuk mengisi fasilitas yang sudah
dibangun. Fasilitas lama sudah mulai ditinggalkan.
5. Fase stagnation (kestabilan), kapasitas berbagai faktor sudah terlampaui
(diatas daya dukung, carrying capasity), sehingga menimbulkan masalah
ekonomi, sosial dan lingkungan. Kalangan industri sudah mulai bekerja
keras untuk memenuhi kapasitas dari fasilitas yang dimiliki, khususnya
dengan mengharapkan repeater guest dan wisata konvensi/bisnis. Pada
fase ini, atraksi buatan sudah mendominasi atraksi asli alami (baik budaya
maupun alam), citra awal sudah mulai luntur, dan destinasi sudah tidak
lagi populer.
6. Fase decline (penurunan), wisatawan sudah mulai beralih ke destinasi
wisata baru atau pesaing, dan yang tinggal hanya sisa-sisa, khususnya
wisatawan yang hanya berakhir pekan. Banyak fasilitas pariwisata sudah
beralih atau dialihkan fungsinya untuk kegiatan non-pariwisata, sehingga
destinasi semakin tidak menarik bagi wisatawan. Partisipasi lokal mungkin
meningkat lagi, terkait dengan harga yang merosot turun dengan
melemahnya pasar. Destinasi bisa berkembang menjadi destinasi kelas
rendah atau secara total kehilangan jati diri sebagai destinasi wisata.
7. Fase rejuvenation (peremajaan), perubahan secara dramatis bisa terjadi
(sebagai hasil dari berbagai usaha dari berbagai pihak), menuju perbaikan
atau peremajaan. Peremajaan ini bisa terjadi karena inovasi dan
pengembangan produk baru, atau menggali atau memanfaatkan sumber
daya alam dan budaya yang sebelumnya.
17

Strategi dan Pengembangan Daya Tarik Wisata

Cooper et al (1995) dalam Darsana (2011) mengemukakan bahwa terdapat 4


(empat) komponen yang harus dimiliki oleh sebuah daya tarik wisata, yaitu: (1)
atraksi (attractions), seperti alam yang menarik, kebudayaan daerah yang
menawan dan seni pertunjukkan; (2) aksesibilitas (accessibilities) seperti
transportasi lokal dan adanya terminal; (3) amenitas atau fasilitas (amenities)
seperti tersedianya akomodasi, rumah makan, dan agen perjalanan; (4) ancillary
services yaitu organisasi kepariwisataan yang dibutuhkan untuk pelayanan
wisatawan seperti destination marketing management organization, conventional
and visitor bureau.
Dalam pengembangan pariwisata perlu memperhatikan aspek-aspek
tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Yoeti (2010), yaitu:
1. Wisatawan (Tourist), harus diketahui karakteristik dari wisatawan, dari
negara mana mereka datang, usia, hobi, dan pada musim apa mereka
melakukan perjalanan.
2. Transportasi, harus dilakukan penelitian bagaimana fasilitas transportasi
yang tersedia untuk membawa wisatawan ke daerah tujuan wisata yang
dituju.
3. Atraksi/obyek wisata, apakah memenuhi tiga syarat seperti: (a) apa yang
dapat dilihat (something to see); (b) apa yang dapat dilakukan (something
to do); (c) apa yang dapat dibeli (something to buy).
4. Fasilitas pelayanan, fasilitas apa saja yang tersedia di DTW tersebut,
bagaimana akomodasi perhotelan yang ada, restaurant, pelayanan umum
seperti bank/money changers, kantor pos, telepon/teleks yang ada di DTW
tersebut.
5. Informasi dan promosi, diperlukan publikasi atau promosi, kapan iklan
dipasang, kemana leaflets/ brosur disebarkan sehingga calon wisatawan
mengetahui tiap paket wisata dan wisatawan cepat mengambil keputusan
pariwisata di wilayahnya dan harus menjalankan kebijakan yang paling
menguntungkan bagi daerah dan wilayahnya, karena fungsi dan tugas dari
organisasi pariwisata pada umumnya: (a) berusaha memberikan kepuasan
kepada wisatawan kedaerahannya dengan segala fasilitas dan potensi yang
dimilikinya; (b) melakukan koordinasi di antara bermacam-macam usaha,
lembaga, instansi dan jawatan yang ada dan bertujuan untuk
mengembangkan industri pariwisata; (c) mengusahakan memasyarakatkan
pengertian pariwisata pada orang banyak, sehingga mereka mengetahui
untung dan ruginya bila pariwisata dikembangkan sebagai suatu industri;
(d) mengadakan program riset yang bertujuan untuk memperbaiki produk
wisata dan pengembangan produk-produk baru guna dapat menguasai
pasaran di waktu yang akan datang.
6. Merumuskan kebijakan tentang pengembangan kepariwisataan
berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan secara teratur dan
berencana. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan merupakan salah satu hal
utama dalam pengembangan pariwisata di suatu daerah. Berdasarkan
pengertian tersebut yang dimaksud dengan strategi pengembangan daya
tarik wisata dalam penelitian ini adalah usaha-usaha terencana yang
disusun secara sistematis yang dilakukan untuk mengembangkan potensi
18

yang ada dalam usaha meningkatkan dan memperbaiki daya tarik wisata
sehingga keberadaan daya tarik wisata itu lebih diminati oleh wisatawan.

Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

Sutainable tourism (wisata yang berkelanjutan) adalah suatu industri wisata


yang mempertimbangkan aspek-aspek penting dalam pengelolaan seluruh
sumberdaya yang ada guna mendukung wisata tersebut baik secara ekonomi,
sosial dan estetika yang dibutuhkan dalam memelihara keutuhan budaya, proses
penting ekologis, keragaman biologis dan dukungan dalam sistem kehidupan
(Inskeep 1994). Kondisi wisata yang baik mampu menciptakaan keadaan yang
diperlukan dalam kegiatan pengelolaan yang dikembangkan secara profesional.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1990 tentang pariwisata,
tujuan pembangunan pariwisata tidak lain adalah untuk menciptakan multiplier
effect, diantaranya adalah:
1. Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja.
2. Meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
3. Mendorong pendayagunaan produksi nasional.
Dalam upaya meningkatkan pembangunan di daerah-daerah tidak semata-
mata menekankan pada peranan kekuatan luar (external forces), tetapi lebih
mengutamakan pada peranan kekuatan dari dalam (internal forces), yang
dilakukan melalui upaya-upaya mendorong pengembangan inisiatif dan partisipasi
masyarakat yang kreatif dan produktif, peningkatan kualitas sumberdaya manusia,
pemanfaatan sumberdaya ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan untuk
menunjang penciptaan lapangan kerja bagi penduduk dan masyarakat setempat
yang dimaksudkan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi lokal (Adisasmita
2005). Di samping itu dalam pembangunan ekonomi lokal, masyarakat harus
memanfaatkan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya modal,
sumberdaya sosial, sumberdaya institusional (kelembagaan) dan sumberdaya fisik
yang dimiliki untuk menciptakan suatu sistem perekonomian yang mandiri (dalam
arti berkecukupan dan berkelanjutan).

Studi Terdahulu

Darsana (2011) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk mengidentifikasi


potensi daya tarik wisata kawasan barat Pulau Nusa Penida, kondisi lingkungan
internal dan eksternal serta merumuskan strategi dan program pengembangannya.
Metode analisis yang digunakan adalah analisis matriks IFAS dan EFAS serta
analisis matriks SWOT. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa potensi wisata
yang terdapat di kawasan barat Pulau Nusa Penida berada pada posisi
pertumbuhan, selanjutnya strategi umum yang diterapkan yaitu strategi penetrasi
pasar dan strategi pengembangan produk.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pengembangan pariwisata pesisir di
Aceh Besar. Untuk dapat memberikan solusi dalam mengembangkan wisata
pantai ini tentunya perlu diketahui faktor-faktor eksternal dan internal yang dapat
19

mendukung atau menghambat pengembangan pariwisata tersebut. Berdasarkan


analisis SWOT, dapat dirumuskan sepuluh strategi alternatif, dimana strategi
dukungan pemerintah meningkatkan pembangunan pesisir dan manajemen adalah
urutan prioritas pertama untuk meningkatkan pengembangan pariwisata pesisir di
Aceh Besar (Fadillah, Dewi dan Hardjanto 2012).
Strategi komunikasi proaktif dan strategi isolasi dengan strategi promosi
pemasaran yang efektif adalah strategi terbaik yang bisa dilaksanakan. Langkah-
langkah dasar dari pengembangan rencana pemasaran daerah tujuan wisata
Varazdin adalah dengan menentukan strategi dalam pengembangan pariwisata di
kota, hal ini didasarkan pada hasil penelitian dimana diketahui bahwa Varazdin
memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan (Oreski 2012).
Barkauskiene dan Snieska (2012) menyatakan bahwa ekowisata tidak hanya
memiliki banyak keuntungan dengan kemungkinan sukses yang sangat besar di
Lithuania, tetapi terdapat juga beberapa kelemahan yang menghambat
pengembangan ekowisata. Terdapat beberapa peluang yang menyediakan
pengembangan perspektif ekowisata di Lithuania dimana analisis SWOT
menunjukkan arah di mana ekowisata bisa berkembang pesat dan sukses bersaing
tidak hanya di Lithuania, tetapi juga di pasar pariwisata internasional.
Rencana strategis harus dikembangkan untuk merumuskan strategi
pembangunan, mengarahkan kegiatan masa depan, dan meningkatkan kinerjanya.
Analisis SWOT diadopsi dalam penelitian ini sebagai alat untuk menganalisis
industri hotel Cina, dan rekomendasi yang telah dibuat sesuai untuk meningkatkan
kinerja pada industri hotel dan pariwisata di Cina (Hung 2013).
Sayyed, Mansoori dan Jaybhaye (2013) menunjukkan bahwa daerah tujuan
wisata Tandooreh National Park telah mapan dengan berbagai wisata alam dan
budaya yang unik dari masyarakat setempat yang merupakan kekuatan, sementara
kurangnya sarana dan prasarana yang mendasar adalah kelemahan utama.
Selanjutnya ditemukan juga beberapa peluang utama yaitu pengembangan paket
ekowisata yang tepat dengan melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan
keputusan, sedangkan ketegangan, kegelisahan dan ketidakamanan di negara-
negara tetangga merupakan ancaman utama. Strategi yang diusulkan yaitu
melakukan perbaikan pada manajemen dan pengelolaan kawasan ekowisata.
Pengembangan obyek wisata pantai Namalatu di Nusaniwe Sub Distrik
Kota Ambon berada dalam Kuadran I (satu). Selanjutnya strategi yang paling
dominan untuk diterapkan adalah strategi SO (Kekuatan, Peluang) yang
merupakan strategi untuk mengembangkan kekuatan dalam mengelola peluang.
Strategi ini seperti menjaga dan memelihara kondisi alam lokasi objek wisata,
orisinalitas, dan ketersediaan sarana dan prasarana, serta menggunakan potensi
sumber daya alam dan fasilitas pendukung pariwisata dengan cara yang maksimal
(Sihasale, Hakim, Suharyanto dan Soemarno 2013).
Penelitian Salim (2014) menunjukkan bahwa sektor ekonomi negara
Tanzania memiliki sifat-sifat penting dalam pengembangan Zanzibar sebagai
daerah tujuan wisata utama di samudera Hindia. Diperlukan manajemen yang
efektif dalam pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin akses wisatawan
agar tetap berjalan lancar dan pemberian kontrol penuh pada penduduk setempat
dalam hal pengelolaan wisatawan. Strategi yang diperlukan untuk pengembangan
kawasan tersebut adalah dengan merumuskan kebijakan yang memadai terkait
sektor pariwisata.
20

Sebagai daerah tujuan wisata, Albania belum dieksploitasi sepenuhnya oleh


wisatawan yang datang berpetualang. Strategi yang diterapkan harus
mempertimbangkan untuk menarik segmen wisatawan lainnya yang memiliki
kekuatan tingkat pengeluaran yang lebih tinggi dari sebelumnya, sedangkan untuk
segmen saat ini yang sudah mengunjungi Albania agar lebih memperhitungkan
untuk mengembangkan pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth) atau
strategi pemasaran buzz sehingga wisatawan dapat menjadi promotor dari citra
positif negara ini (Vladi 2014).
Wong, Velasamy dan Arshad (2014) melakukan analisis komparatif terkait
daerah tujuan pariwisata medis seperti di Malaysia, Thailand, Singapura dan
India. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Malaysia dan Thailand memiliki
semua elemen terkait daerah tujuan pariwisata medis, sementara Thailand
memiliki keunggulan yang diakui baik secara internasional selama beberapa
decade terkait dengan semua elemen tersebut. India perlu mengembangkan
produk wisata yang lebih menarik, sedangkan Singapura perlu untuk lebih
meningkatkan penawaran pada kedua layanan, baik layanan kesehatan maupun
layanan pariwisata.
Siswanto dan Moeljadi (2015) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa
peran warga lokal perlu ditingkatkan dalam pengembangan ekowisata di Taman
Nasional Baluran melalui pendekatan, pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
Strategi alternatif yang dapat dilakukan seperti pengembangan infrastruktur dasar
dan fasilitas pendukung pariwisata, melakukan promosi dan penetrasi pasar
wisata, peningkatan keamanan, serta strategi pengembangan sumber daya manusia
dan kelembagaan ekowisata.
Selain ekowisata dan pariwisata bahari, pengembangan sektor perikanan
juga dapat berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, yang selanjutnya dapat
mengurangi angka pengangguran. Sektor perikanan merupakan sektor yang
memiliki potensi untuk dikembangkan, yang terlihat dari analisis sektor unggulan
dan analisis input output. Jumlah dan kapasitas pelabuhan, kapal perikanan dan
unit pengolahan perikanan berpengaruh nyata terhadap penyerapan tenaga kerja
dan perekonomian wilayah. Melalui analisis model ekonometrik, ILOR serta
kajian permasalahan, maka pengembangan sektor perikanan seperti yang terjadi
pada Provinsi Banten mampu menyerap tenaga kerja yang relatif besar, yang
tentunya akan berdampak pada pengurangan angka pengangguran (Idris 2014).
Analisis Skalogram dan analisis AWOT juga dapat digunakan untuk
mengetahui potensi suatu wilayah dan arah pengembangannya. Sebagaimana yang
dilakukan oleh Ulfah (2015), hasil analisis Skalogramnya menunjukkan bahwa
Kelurahan Pulau Untung Jawa dan Kelurahan Pulau Panggang pada Taman
Nasional Laut Kepulauan Seribu masuk ke dalam hirarki I, maka pengembangan
wisata bahari di Kepulauan Seribu sebaiknya diarahkan terutama pada objek
wisata di kelurahan yang masuk ke dalam hirarki I. Adapun strategi utama
berdasarkan hasil AWOT yaitu melalui upaya memperkuat koordinasi antar
sektor, pengambil kebijakan, dan masyarakat; zonasi harus ditetapkan secara
terintegrasi antara darat dan lautnya; membatasi jumlah wisatawan sesuai dengan
daya dukung dan daya tampung serta meningkatkan kualitas pelayanan, tidak
hanya mengikuti jumlah permintaan; dan membuat zonasi wisata yang didasarkan
atas jenis wisata.
21

Tabel 1 Matrik studi terdahulu

No Judul Penelitian Nama Hasil Penelitian Alat


Peneliti Analisis
1 Strategi Pengembangan Darsana Menerapkan strategi Analisis
Daya Tarik Wisata (2011) penetrasi pasar dan IFAS-
Kawasan Barat pengembangan EFAS
Pulau Nusa Penida produk dan
Kabupaten Klungkung SWOT
2 Analysis of Alternative Fadillah, Menerapkan strategi Analisis
Strategy in Coastal Dewi, dan dukungan IFAS-
Tourism Development in Hardjanto pemerintah dan EFAS
Aceh Besar, Indonesia (2012) manajemen adalah dan
after Tsunami Disaster prioritas pertama SWOT
3 Strategy Development by Oreski (2012) Varazdin memiliki Analisis
Using SWOT AHP potensi yang besar SWOT-
untuk dikembangkan AHP
4 Ecotourism as an Barkauskiene Ekowisata bisa Analisis
Integral Part of dan Snieska berkembang pesat IFAS-
Sustainable Tourism (2012) dan sukses bersaing EFAS
Development di pasar pariwisata dan
lokal dan SWOT
internasional
5 Understanding China's Hung (2013) Merumuskan strategi Analisis
Hotel Industry: A SWOT pembangunan yang IFAS-
Analysis mengarah ke masa EFAS
depan dan
SWOT
6 SWOT Analysis of Sayyed, Melakukan Analisis
Tandooreh National Mansoori, dan perbaikan pada IFAS-
Park (NE Iran) for Jaybhaye manajemen dan EFAS
Sustainable Ecotourism (2013) pengelolaan dan
kawasan ekowisata SWOT
7 The Strategy of Potential Sihasale, Menerapkan strategi Analisis
Tourism Development in Hakim, SO IFAS-
Namalatu Beach at Suharyanto, EFAS
Nusaniwe Sub District, dan Soemarno dan
Ambon City, Indonesia (2013) SWOT
8 Winning in the Tourism Salim (2014) Merumuskan Analisis
Marketing: The Case of kebijakan yang IFAS-
Zanzibar Tourism memadai terkait EFAS
Destination in Tanzania sektor pariwisata dan
SWOT
9 Tourism Development Vladi (2014) Merapkan strategi Analisis
Strategies, SWOT untuk menarik IFAS-
Analysis and segmen wisatawan EFAS
Improvement of dengan tingkat dan
Albanias Image pengeluaran tinggi SWOT
22

Tabel 2 Matrik studi terdahulu (lanjutan)

No Judul Penelitian Nama Hasil Penelitian Alat


Peneliti Analisis
10 Medical Tourism Wong, Malaysia dan Analisis
Destination SWOT Velasamy Thailand memiliki IFAS-
Analysis: A Case Study of dan Arshad semua elemen DTW EFAS
Malaysia, Thailand, (2014) medis, sementara dan
Singapore and India India dan Singapura SWOT
perlu meningkatkan
penawaran layanan
11 Eco-Tourism Development Siswanto peran warga lokal Analisis
Strategy Baluran National dan perlu ditingkatkan IFAS-
Park in the Regency of Moeljadi dalam EFAS
Situbondo, East Java, (2015) pengembangan dan
Indonesia ekowisata SWOT
12 Strategi Peningkatan Peran Idris (2014) Pengembangan LQ,
Sektor Perikanan terhadap sektor sangat SSA,
Perekonomian Wilayah berkontribusi dan
Provinsi Banten terhadap penyerapan ILOR
tenaga kerja
13 Arahan dan Strategi Ulfah Pengembangan Skalo-
Pengembangan Kawasan (2015) pariwisata sebaiknya gram
Wisata Bahari di diarahkan terutama dan
Kabupaten Administrasi pada objek wisata AWOT
Kepulauan Seribu yang masuk ke
dalam hirarki I

Keseluruhan literatur studi sebelumnya telah banyak dilakukan penelitian


terkait pariwisata. Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa pariwisata
memberikan kontribusi nyata kepada perekonomian suatu wilayah. Perlu disoroti
juga pada pengelolaan industri pariwisata dengan cara pengembangan pada
kawasan daerah tujuan wisata. Penelitian ini akan dilakukan pada satu kawasan
yang terdapat pada tiga kabupaten yang berpotensi dalam pengembangan wisata
dan diharapkan akan dapat menjadi salah satu tujuan wisata yang diminati para
pengunjungnya. Hasil analisisnya diharapkan dapat memberikan gambaran lebih
detail mengenai strategi yang relevan utnuk diaplikasikan dalam usaha
meningkatkan jumlah kunjungan wisata dan pengembangan wilayah di sekitar
daerah wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Perbedaan penelitian yang
dilakukan dengan penelitian terdahulu yaitu terletak pada alat analisis yang
digunakan, dimana dalam penelitian sekarang menggunakan alat analisis yang
lebih lengkap dan dengan cakupan makro ekonomi hingga mendetail pada aplikasi
strategi pengembangan wilayah. Hal tersebut menjadi alasan mengapa penelitian
ini perlu dilakukan.
23

Kerangka Pemikiran

Pulau Lombok merupakan salah satu kawasan pengembangan wisata yang


berada di NTB yang memberikan andil terbesar dalam penerimaan pendapatan
daerah dari sektor pariwisata. Saat ini semakin banyak produk wisata yang
ditawarkan yang menarik para wisatawan untuk berkunjung ke lokasi wisata
tersebut, seperti wisata bahari, wisata budaya, dan wisata kerajinan yang dapat
memanjakan para wisatawan untuk melihat keindahan alam bawah laut dengan
hamparan pasir putih serta air laut yang jernih, dan semakin banyaknya hotel dan
perdagangan yang berkembang di sekitar daerah wisata tersebut. Fokus penelitian
ini yaitu pada Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada kerangka pikir penelitian sebagai
berikut:
Pariwisata di Kawasan
Selatan Pulau Lombok

Dampak Positif Dampak Negatif

Tenaga Sumber Mata Ekonomi Perubahan Perubahan Eksternalitas


Kerja Pencaharian Wilayah Sosial Lingkungan
Budaya

Potensi Wilayah LQ, SSA & Skalogram

Faktor yang Memengaruhi Analisis Faktor


Pengembangan Kawasan Internal & Eksternal
Selatan Pulau Lombok (IFAS & EFAS)

Penentuan Posisi Bisnis


dan Perumusan Strategi Analisis SWOT &
Program Pengembangan Matrik SWOT
Daerah Tujuan Wisata

Gambar 4 : Diagram alir kerangka pemikiran

Strategi Pengembangan
Daerah Tujuan Wisata

Konsentrasi Penelitian
Gambar 4 Diagram alir kerangka pemikiran

Pembangunan kepariwisataan pada umumnya diarahkan sebagai sektor


andalan dan unggulan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan
pendapatan daerah, memberdayakan perekonomian masyarakat, memperluas
lapangan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat
24

dengan tetap memelihara kepribadian bangsa, nilai-nilai agama, serta kelestarian


fungsi dan mutu lingkungan hidup. Demikian pula kebijakan Pemerintah Provinsi
NTB dalam pengembangan daerah tujuan wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok,
diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam hal peningkatan jumlah
tenaga kerja yang berkompetensi di bidang kepariwisataan, membuka sumber
mata pencaharian dengan melatih keterampilan para tenaga kerja untuk terus
berinovasi pada bidang pariwisata, mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah
dalam meningkatkan pendapatan daerah, dengan tetap menjaga dampak negatif
yang akan ditimbulkan oleh pariwisata seperti perubahan sosial budaya
masyarakat karena wisatawan memiliki beragam motif, minat, karakteristik sosial,
budaya yang berbeda-beda dan menjadikan mereka pihak yang menciptakan
permintaan produk dan jasa wisata, perubahan lingkungan yang berdampak pada
kehidupan di sekitar daerah wisata, serta menjaga kelestarian alam yang menjadi
faktor penunjang permintaan wisata seperti menjaga kelangsungan biota laut
dengan tidak mencemarkan limbah baik dari industri maupun wisatawan.
Dalam penelitian lebih ditekankan kepada pengembangan sektor pariwisata
terhadap ekonomi wilayah dengan mengkaji kontribusi pariwisata terhadap
ekonomi wilayah menggunakan Location Quotient Analysis (LQ), Shift-Share
Analysis (SSA), dan Scalogram agar diketahui lokasi wisata unggulan yang
potensial untuk dikembangkan serta dapat meningkatkan ekonomi wilayah.
Selanjutnya mengkaji bentuk persepsi wisatawan domestik dan mancanegara
dengan indikator-indikator pengembangan pariwisata (analisis faktor internal
eksternal/IFASEFAS) sehingga dapat diketahui posisi bisnis industri pariwisata
dan dapat menciptakan strategi pengembangan yang sesuai dengan keadaan
Kawasan Selatan Pulau Lombok mengunakan SWOT (Strengths, Weaknesses,
Opportunities, Threats).
25

3 METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Bersifat deskriptif yaitu suatu


metode penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan/
melukiskan fenomena atau hubungan antar fenomena yang diteliti dengan
sistematis, faktual dan akurat (Nazir 2003).
Data yang diperoleh dalam penelitian ini kemudian diformulasikan melalui
pendekatan deskriptif dan kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk
menggambarkan dengan lebih baik sifat-sifat yang diketahui keberadaannya serta
relevan dengan variabel-variabel yang diteliti, terkait dengan tanggapan responden
tehadap pengembangan pariwisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok
berdasarkan kuesioner yang diberikan. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada
bulan Juli September 2015 dengan alasan bahwa pada periode tersebut
merupakan puncak kunjungan wisatawan datang berlibur ke Pulau Lombok.
Penelitian ini berlokasi di Kawasan Selatan Pulau Lombok yang berada dalam
wilayah administrasi tiga kabupaten yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, dan
Lombok Timur (Gambar 5). Penentuan lokasi penelitian terkait dengan tema
penelitian yaitu pengembangan wilayah, dimana kondisi sumberdaya manusia dan
juga infrastruktur pada Kawasan Selatan Pulau Lombok yang masih jauh
tertinggal jika dibandingkan dengan kawasan utara. Padahal jika dieksplorasi
lebih lanjut kawasan selatan memiliki cukup banyak objek pantai dan panorama
alam eksotis yang dapat dijadikan sebagai daerah tujuan wisata.

Sekotong
Kuta Jerowaru

Gambar 5 Wilayah penelitian

Pemilihan Informan

Pengambilan informan dilakukan dengan pertimbangan pada kebutuhan data


yang ingin diperoleh yang mengacu pada permasalahan yang digarap dalam
penelitian ini. Informan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) pihak
26

pemerintah (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB); (2) pelaku


pariwisata (Manajemen Hotel dan Agen Perjalanan Wisata); (3) masyarakat lokal
(tokoh masyarakat); (4) akademisi; (5) wisatawan (domestik dan mancanegara).
Jumlah masyarakat yang akan dijadikan informan dalam penelitian adalah
menggunakan pendekatan purposive sampling, adalah teknik penentuan sampel
yang dilakukan secara sengaja menunjuk orang-orang yang dianggap mampu
memberikan kebutuhan data yang diperlukan. Kriteria informan dalam penelitian
ini adalah orang yang terlibat langsung dengan dunia pariwisata dalam jangka
waktu yang cukup lama, memiliki pengetahuan mendalam terkait pariwisata pada
umumnya dan pariwisata di Pulau Lombok pada khususnya.

Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan beberapa metode yaitu:


1. Angket, yaitu penyebaran angket kepada stakeholder dan narasumber
menyangkut pemberian nomor urut tiap-tiap faktor untuk pembobotan dan
mengkaji faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang
dan ancaman). Namun sebelum penentuan skala prioritas tiap-tiap faktor,
terlebih dahulu kepada para expert stakeholder diberikan penjelasan
contoh pengisian.
2. Wawancara, yaitu mewawancarai para stakeholder yang mengetahui
potensi daya tarik pariwisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok dan para
pakar atau narasumber dengan menggunakan instrumen pedoman
wawancara (guide interview) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dari
hasil wawancara akan diperoleh data yang dibutuhkan sebagai bahan dasar
analisis eksternal dan internal organisasi teknis pelaksana daya tarik wisata
untuk merumuskan strategi pengembangan daya tarik wisata di Kawasan
Selatan Pulau Lombok.
3. Observasi, yaitu melakukan pengamatan atau peninjauan langsung ke
lapangan untuk melihat daya tarik wisata dalam upaya untuk
pembangunan pariwisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok.
4. Dokumen/kepustakaan, yaitu teknik memperoleh data dengan mempelajari
dokumen-dokumen yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.
Teknik yang diterapkan untuk menunjang metode tersebut, antara lain,
teknik perekam, pencatatan, simulasi.

Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.


Penelitian ini termasuk studi deskriptif, dimana dalam proses pelaksanaannya
dengan mengumpulkan data yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dari survey lapangan menyangkut obyek yang akan diteliti dan
disesuaikan dengan kebutuhan, dalam hal ini pencatatan dan pengamatan
langsung mengenai kondisi obyek wisata pada Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Data juga diperoleh dari wawancara terhadap 8 orang informan berupa 4 orang
wisatawan, pihak pemerintah (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB),
27

pelaku wisata, akademisi dan masyarakat lokal pada lokasi penelitian. Data
sekunder diperoleh dari beberapa instansi yang terkait dengan penelitian ini. Data
sekunder yang digunakan terbatas dari tahun 2006 sampai dengan 2013, hal ini
dikarenakan data sebelum tahun 2006 yang dimiliki beberapa instansi tidak
lengkap, sedangkan untuk data setelah tahun 2013 masih bersifat sementara. Data-
data tersebut berupa Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan
aksesibilitas yang diperoleh dari BPS Provinsi NTB, data jumlah kunjungan
wisatawan, data sarana dan prasarana penunjang pariwisata diantaranya: jumlah
hotel, restoran, agen perjalanan, jumlah objek wisata yang diperoleh dari Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB.

Metode Analisis Data

Teknik analisis yang akan digunakan dalam penyusunan Strategi


Pengembangan Kawasan Selatan Pulau Lombok berbasis persepsi wisatawan dan
masyarakat lokal yaitu dengan menelaah semua data-data yang diperoleh dari
berbagai sumber, baik dari hasil kuesioner, wawancara langsung, pengamatan di
lapangan, dokumen pribadi dan dokumen resmi.
Tabel 3 Matriks metode analisis data

Tujuan Penelitian Jenis Data Teknik Analisis


1. Mengidentifikasi Data sekunder yang diperoleh dari Analisa
potensi wilayah berbagai sumber terkait dengan deskriptif (LQ,
penelitian, berupa: data PDRB SSA &
Kabupaten/Kota, data jumlah sarana Skalogram)
prasarana pendukung pariwisata,
data jumlah kunjungan wisatawan.
2. Menganalisis Data primer diperoleh dari survey Analisa
faktor internal lapangan terkait obyek yang diteliti deskriptif
dan eksternal dan disesuaikan dengan kebutuhan. (Analisis IFAS
daya tarik wisata Data juga diperoleh dari wawancara & EFAS)
terhadap responden (wisatawan dan
masyarakat lokal pada lokasi
penelitian).
3. Merumuskan Data sekunder yang diperoleh dari Analisa
strategi berbagai sumber terkait dengan deskriptif
pengembangan penelitian, berupa: strategi (Analisis SWOT
daya tarik wisata pengembangan daerah tujuan wisata & Matrik
dari beberapa literatur, serta data SWOT)
kebijakan pemerintah terkait dengan
pariwisata, fasilitas infrastruktur
pariwisata dari instansi terkait.

Data-data yang ada diproses melalui pengelompokkan data, klasifikasi


menurut urutan permasalahan. Dilakukan perhitungan dengan analisis LQ, SSA,
dan Skalogram terhadap seluruh data sekunder yang diperoleh dari BPS Provinsi
NTB dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB. Selanjutnya mengklasifikasi-
kan faktor-faktor internal dan eksternal. Setelah itu melakukan penyusunan
28

strategi dengan menggunakan analisis SWOT. Semua elemen dalam SWOT akan
dijaring melalui jawaban responden terhadap pertanyaan yang diajukan. Analisis
SWOT digunakan untuk mengidentifikasi dan merumuskan suatu strategi. SWOT
didasarkan pada logika untuk memaksimalkan Kekuatan (Strength) dan Peluang
(Opportunitiess), namun secara bersamaan dapat meminimalkan Kelemahan
(Weakness) dan Ancaman (Treath). Pengertian-pengertian kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman dalam analisis SWOT adalah sebagai berikut:
1. Kekuatan (Strength) adalah sumberdaya, keterampilan atau keunggulan
lain relatif terhadap pesaing dan kekuatan dari pasar suatu perusahaan.
Kekuatan kawasan pariwisata adalah sumberdaya alam, pengelolaan dan
keunggulan relatif industri pariwisata dari pasar dan pesaing sejenis.
2. Kelemahan (Weakness) adalah keterbatasan atau kekurangan dalam
sumberdaya alam, keterampilan dan kemampuan yang secara serius
menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan. Kelemahan kawasan
pariwisata adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumberdaya alam,
keterampilan dan kemampuan pengelolaan industri pariwisata.
3. Peluang (Opportunity) adalah situasi atau kecenderungan utama yang
menguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Peluang kawasan
pariwisata adalah situasi atau kecenderungan utama yang menguntungkan
industri pariwisata dalam lingkungan suatu kawasan pariwisata.
4. Ancaman (Threats) adalah situasi atau kecenderungan utama yang tidak
menguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman kawasan
pariwisata adalah situasi atau kecenderungan utama yang tidak
menguntungkan industri pariwisata dalam lingkungan suatu kawasan
pariwisata.

Identifikasi Potensi Wilayah

Analisis Location Quotient (LQ)


Secara lebih operasional Location Quotient atau LQ didefinisikan sebagai
rasio persentase dari total aktifitas pada sub wilayah ke-i terhadap persentase
aktifitas total wilayah. Dalam bahasa matematis yang lebih umum, persamaan LQ
merupakan rasio peluang satu elemen data terhadap himpunan bagian (wilayah)
dengan peluang nilai satu variabel (kategori) terhadap populasi. Dalam penelitian
ini kontribusi sektor pariwisata terhadap ekonomi wilayah dihitung menggunakan
analisis LQ dengan menggunakan data PDRB (Pendapatan Domestik Regional
Bruto) masing-masing sektor, dimana hasil dari sektor pariwisata kemudian
dideskripsikan besaran perolehannya yang dapat diberikan untuk ekonomi
wilayah dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
LQ = Besarnya kuosien lokasi suatu sektor ekonomi
V1R = Jumlah PDRB suatu sektor kabupaten di Pulau Lombok
VR = Jumlah PDRB seluruh sektor kabupaten di Pulau Lombok
V1 = Jumlah PDRB suatu sektor di Pulau Lombok
V = Jumlah PDRB seluruh di Pulau Lombok
29

Kriteria penilaian dalam penentuan ukuran derajat basis dan non basis
adalah jika nilai LQ > 1 termasuk ke dalam sektor basis, artinya tingkat
spesialisasi kabupaten lebih tinggi dari tingkat provinsi. Jika nilai LQ = 1, artinya
tingkat spesialisasi kabupaten sama dengan tingkat provinsi. Jika nilai LQ < 1
termasuk ke dalam sektor non basis, artinya tingkat spesialisasinya lebih rendah
dari tingkat provinsi. Analisis LQ ini dilakukan dalam bentuk time-series/trend,
artinya untuk melihat dalam kurun waktu yang berbeda apakah terjadi kenaikan
atau penurunan.

Shift Share Analysis (SSA)


Secara matematik dapat diformulasikan sebagai berikut (Rustiadi et al
2011):

(a) (b) (c)

Keterangan:
SSA = komponen shift share
a = komponen share
b = komponen proportional shift
c = komponen diferential shift
X = nilai total produksi komoditas dalam total wilayah
Xi = nilai total jenis komoditas tertentu dalam total wilayah
Xij = nilai komoditas tertentu dalam unit wilayah tertentu
t1 = titik tahun terakhir
t0 = titik tahun awal

Intepretasi hasil analisis SSA sebagai berikut: Apabila nilai SSA > 0,
menunjukkan bahwa sektor/komoditi tersebut memiliki keunggulan kompetitif
dan pergeseran yang cepat. Apabila nilai SSA = 0, menunjukkan bahwa sektor/
komoditi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi sektor/komoditi basis.
Apabila nilai SSA < 0, menunjukkan bahwa sektor/komoditi tersebut tidak
memiliki keunggulan kompetitif dan pergeseran pertumbuhannya lamban.

Analisis Skalogram (Tingkat Perkembangan Wilayah)


Analisis tingkat perkembangan wilayah dilakukan dengan menggunakan
analisis hirarki perkembangan wilayah berdasarkan pada metode Skalogram, dari
analisis ini diperoleh hirarki untuk masing-masing wilayah (Rustiadi et al 2011).
Dalam metode ini, seluruh fasilitas umum yang dimiliki oleh setiap unit wilayah
disusun dalam satu tabel. Data fasilitas umum tersebut didapatkan dari BPS
Provinsi NTB tahun 2014 (parameter yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran
5). Selanjutnya Hakim dalam Tar (2010) menjelaskan tahap-tahap dalam
penyusunan Skalogram dilakukan sebagai berikut:
1. Menyusun fasilitas sesuai dengan penyebaran dan jumlah fasilitas di
dalam unit-unit wilayah.
2. Mengurutkan unit wilayah yang mempunyai ketersediaan fasilitas paling
lengkap hingga yang paling tidak lengkap.
30

3. Menjumlahkan seluruh fasilitas secara horizontal.


4. Menjumlahkan masing-masing unit fasilitas secara vertikal.
5. Mengurutkan wilayah yang mempunyai fasilitas terlengkap hingga yang
paling tidak lengkap.
Setelah diperoleh hasil dari penyusunan skalogram, kemudian dihitung nilai
rataan dan standar deviasi dari keseluruhan jumlah penduduk yang ada di seluruh
wilayah. Setelah itu adalah menetapkan hirarki berdasarkan pengelompokkan
wilayah berdasarkan ketersediaan fasilitas penunjang wisata. Wilayah Hirarki I
mengindikasikan bahwa wilayah tersebut memiliki tingkat perkembangan yang
baik dan secara matematis ditentukan dengan rumus :
Kij Rataan (Kij) + Stdev (Kij)
Wilayah Hirarki II memiliki tingkat perkembangan sedang, ditentukan dengan
rumus :
Rataan (Kij) < Kij < Rataan (Kij) + Stdev (Kij)
Wilayah Hirarki III memiliki tingkat perkembangan yang rendah, secara
matematis ditentukan dengan rumus :
Kij < Rataan (Kij)
Dimana Kij merupakan hasil perhitungan indeks terbobot (Panuju dan Rustiadi
2012).

Analisis Faktor Internal dan Eksternal (IFAS-EFAS)

Menentukan faktor-faktor internal eksternal mengikuti pendapat Rangkuti


(2009), untuk menentukan data-data yang dipaparkan maka perlu dilakukan
perencanaan strategis yaitu menganalisis lingkungan internal yaitu untuk melihat
kekuatan yang ada dan meminimalkan kelemahan serta lingkungan eksternal
untuk mengetahui berbagai kemungkinan peluang dan ancaman.
Analisis faktor strategi internal dan eksternal adalah pengolahan faktor-
faktor strategis pada lingkungan internal dan eksternal dengan memberikan
pembobotan dan rating pada setiap faktor strategis. Faktor strategis adalah faktor
dominan dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang memberikan
pengaruh terhadap kondisi dan situasi yang ada dan memberikan keuntungan bila
dilakukan tindakan positif. Menganalisis lingkungan internal (IFAS) untuk
mengetahui berbagai kemungkinan kekuatan dan kelemahan. Menganalisis
lingkungan eksternal (EFAS) untuk mengetahui berbagai kemungkinan peluang
dan ancaman.
Pembobotan pada lingkungan internal dan eksternal diberikan bobot dan
nilai (rating) berdasarkan pertimbangan profesional. Pembobotan pada lingkungan
internal tingkat kepentingannya didasarkan pada besarnya pengaruh faktor
strategis terhadap posisi strategisnya, sedangkan pada lingkungan eksternal
didasarkan pada kemungkinan memberikan dampak terhadap faktor strategisnya.
Jumlah bobot pada masing-masing lingkungan harus berjumlah 1 (satu), dengan
skala 1,00 (sangat penting) sampai dengan 0,00 (tidak penting).
Untuk nilai rating berdasarkan besarnya pengaruh faktor strategis terhadap
kondisi dirinya dengan ketentuan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan
1 (lemah). Parameter yang bersifat positif (kekuatan atau peluang) diberi nilai dari
1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata pesaing utama.
31

Sedangkan parameter yang bersifat negatif kebalikannya, jika kelemahan atau


ancaman besar (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya 1, sedangkan
jika nilai ancaman kecil/di bawah rata-rata pesaing-pesaingnya nilainya 4.
Selanjutnya tabel disusun dengan cara sebagai berikut:
1. Di dalam kolom 1 menentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman.
2. Memberi bobot masing-masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,00
(sangat penting) sampai dengan 0,00 (tidak penting). Cara pemberian
bobot, setelah informan memberi rating pada daftar pertanyaan selanjutnya
informan memberi nomor urut bobot dari yang tertinggi/berpengaruh
sampai yang terendah/tidak berpengaruh pada tiap pertanyaan sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya, untuk kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman. Total bobot internal = 1,00 dan total bobot eksternal = 1,00.
3. Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan
memberikan skala mulai dari 4 (sangat baik), 3 (di atas rata-rata), 2 (rata-
rata), sampai dengan 1 (di bawah rata-rata). Berdasarkan pengaruh faktor
tersebut terhadap kondisi kawasan yang bersangkutan.
4. Mengalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk
memperoleh masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dengan
4,00 (sangat baik) sampai dengan 1,00 (di bawah rata-rata).
5. Menggunakan kolom 5 untuk memberikan komentar mengapa faktor-
faktor tertentu dipilih dan bagaimana pembobotannya dihitung.
6. Menjumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), sehingga diperoleh total
skor pembobotan untuk perusahaan bersangkutan.

Strategi Pengembangan Pariwisata

Pemetaan posisi pariwisata bertujuan untuk mengetahui posisi pariwisata


dari suatu obyek wisata dalam kondisi perkembangannya saat ini. Pemetaan
didasarkan pada analogi sifat yang dimiliki dari faktor-faktor strategis. Kekuatan
memiliki sifat positif, kelemahan bersifat negatif, begitu juga dengan peluang
bersifat positif dan ancaman bersifat negatif. Diagram posisi perkembangan
pariwisata memberikan gambaran keadaan perkembangan pariwisata berdasarkan
kuadran-kuadran yang dihasilkan garis vektor SW dan garis vektor OT, setiap
kuadran memiliki rumusan strategi sebagai strategi utamanya (Gambar 6).
32

O
Kuadran II Stability Kuadran I Growth
Aggressive Stable
maintenance growth
strategy strategy

Selective Rapid
maintenance growth
strategy strategy
W S
Turn around Conglomerate
strategy strategy

Guerelle Concentric
strategy strategy
Kuadran III Survival Kuadran IV Diversifikasi

T
Sumber: Rangkuti 2009
Gambar 6 Analisis SWOT

Rumusan setiap kuadran yang secara khusus untuk pariwisata dan beberapa
pengertian yang melalui proses adopsi, adaptasi dari penggunaan analisis SWOT
untuk perusahaan sehingga diadaptasi suatu rumusan yaitu:

1. Kuadran I : Growth (Pertumbuhan)


Strategi pertumbuhan didesain untuk mencapai pertumbuhan, baik
dalam penjualan, aset, profit, atau kombinasi ketiganya. Pertumbuhan
dalam pariwisata adalah pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan
(frekuensi kunjungan dan asal daerah wisatawan), aset (obyek dan daya
tarik wisata, prasarana dan sarana pendukung), pendapatan (retribusi
masuk dan jumlah yang dibelanjakan). Pertumbuhan dalam pariwisata
terbagi dua yaitu:
a) Rapid growth strategy (strategi pertumbuhan cepat), adalah strategi
meningkatkan laju pertumbuhan kunjungan wisatawan dengan waktu
lebih cepat (tahun kedua lebih besar dari tahun pertama dan
selanjutnya), peningkatan kualitas yang menjadi faktor kekuatan untuk
memaksimalkan pemanfaatan semua peluang.
b) Stable growth strategy (strategi pertumbuhan stabil), adalah strategi
mempertahankan pertumbuhan yang ada (kenaikan yang stabil, jangan
sampai turun).
2. Kuadran II : Stability (Stabilitas)
Strategi stabilitas adalah strategi konsolidasi untuk mengurangi
kelemahan yang ada, dan mempertahankan pangsa pasar yang sudah
33

dicapai. Stabilitas diarahkan untuk mempertahankan suatu keadaan dengan


berupaya memanfaatkan peluang dan memperbaiki kelemahan. Strategi
stabilitas terbagi dua yaitu:
a) Aggressive maintenance strategy (strategi perbaikan agresif), adalah
strategi konsolidasi internal dengan mengadakan perbaikan-perbaikan
berbagai bidang. Perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk
memaksimalkan pemanfaatan peluang.
b) Selective maintenance strategy (strategi perbaikan pilihan), adalah
strategi konsolidasi internal dengan melakukan perbaikan pada sesuatu
yang menjadi kelemahan. Memaksimalkan perbaikan faktor-faktor
kelemahan untuk memanfaatkan peluang.
3. Kuadran III : Survival (Bertahan)
a) Turn around strategy (strategi memutar balik), adalah strategi yang
membalikkan kecenderungan-kecenderungan negatif sekarang yang
paling umum tertuju pada pengelolaan.
b) Guirelle strategy (strategi merubah fungsi), adalah strategi merubah
fungsi yang dimiliki dengan fungsi lain yang benar-benar berbeda.
4. Kuadran IV : Diversification (Diversifikasi)
Strategi penganekaragaman adalah strategi yang membuat
keanekaragaman terhadap obyek dan daya tarik wisata dan mendapatkan
dana investasi dari pihak luar. Strategi penganekaragaman menjadi:
a) Diversification concentric strategy (strategi diversifikasi konsentrik),
adalah diversifikasi obyek dan daya tarik wisata sehingga dapat
meminimalisir ancaman.
b) Diversification conglomerate strategy (strategi diversifikasi
konglomerat), adalah memasukkan investor untuk mendanai
diversifikasi yang mempertimbangkan laba.
Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor strategis sebagaimana telah
dijelaskan pada tabel IFAS dan EFAS mengenai faktor kekuatan, kelemahan,
peluang dan ancaman kawasan maka dapat ditentukan berbagai kemungkinan
alternatif strategi (SO, ST, WT, WO).
Strategi yang dirumuskan pada tingkat korporasi bersifat menyeluruh,
mencakup semua kegiatan organisasi termasuk beraneka bidang sifat bisnis yang
ditangani dan semua kegiatan yang bersifat fungsional, bahkan strategi interaksi
dengan lingkungan eksternal. Karena sasaran akhir analisis SWOT adalah
penentuan strategi dasar, maka dengan mencocokkan antara diagram SWOT dan
diagram Grand Strategy hasil analisis SWOT tersebut merupakan masukan bagi
teknik pemilihan strategi dasar tertentu.
Empat strategi dalam analisis SWOT dijelaskan sebagai berikut: pertama
Strategi SO, yaitu strategi dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut
dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Strategi ST, yaitu strategi dalam
menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman. Strategi WO, diterapkan
berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan
kelemahan yang ada. Strategi WT, didasarkan pada kegiatan yang bersifat
defensif dan meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
34

IFAS Strenght (S) Weaknesses (W)

EFAS Menentukan faktor Menentukan faktor


kekuatan internal kelemahan internal

Opportunities (O) Strategi SO Strategi WO

Menentukan faktor Menciptakan strategi Menciptakan strategi


peluang eksternal yang menggunakan yang meminimalkan
kekuatan untuk kelemahan untuk
memanfaatkan peluang memanfaatkan peluang

Treahts (T) Strategi ST Strategi WT

Menentukan faktor Menggunakan kekuatan Berusaha meminimalkan


ancaman eksternal yang dimiliki kelemahan yang ada
perusahaan untuk serta menghindari
mengatasi ancaman ancaman

Sumber: Rangkuti 2009


Gambar 7 Matrik SWOT

Matriks SWOT adalah matriks yang menginteraksikan faktor strategis


internal dan eksternal. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana
peluang dan ancaman (eksternal) yang dihadapi dapat disesuaikan dengan
kekuatan dan kelemahan (internal) yang dimiliki. Matriks SWOT menggambarkan
berbagai alternatif strategi yang dapat dilakukan didasarkan hasil analisis SWOT.
Hasil dari interaksi faktor strategis internal dan eksternal menghasilkan alternatif-
alternatif strategi. Alternatif strategi adalah hasil dari matriks analisis SWOT yang
menghasilkan berupa strategi SO, WO, ST, WT. Alternatif strategi yang
dihasilkan minimal empat strategi sebagai hasil dari analisis matriks SWOT.

Definisi Operasional

1. Daya Tarik/Attraksi (Attraction) adalah segala sesuatu di daerah tujuan


wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok yang memiliki keunikan,
keindahan, kemudahan dan nilai yang berwujud keanekaragaman
kekayaan alam maupun buatan manusia yang menarik dan mempunyai
nilai untuk dikunjungi dan dilihat oleh wisatawan. Indikatornya terdiri dari
keindahan alam, keanekaragaman flora dan fauna, kebersihan dan
kelestarian lingkungan.
2. Aksesibilitas (Accesibility) adalah tingkat kesulitan atau kemudahan
wisatawan terhadap suatu objek, pelayanan ataupun lingkungan di daerah
tujuan wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok. Indikatornya terdiri dari
terletak di tiga kabupaten, kedekatan dengan pelabuhan, kualitas jalan
menuju daya tarik, ketersediaan angkutan wisata.
3. Kenyamanan (Amenities) merupakan suatu keadaan telah terpenuhinya
kebutuhan dasar wisatawan yang bersifat individual akibat beberapa faktor
35

kondisi lingkungan di daerah tujuan wisata Kawasan Selatan Pulau


Lombok. Indikator yang digunakan seperti sarana pariwisata, tempat
parkir, toilet, warung dan pedagang kaki lima.
4. Ancillary Services adalah penyedia layanan kepada wisatawan terdiri dari
indikator pengelola daya tarik, kualitas pelayanan, promosi, Tourist
Information Centre, aturan (code of conduct).
5. Ekonomi terkait dengan kedudukan wisatawan dalam kelompok
masyarakat yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendidikan serta
pendapatan. Indikatornya yaitu kondisi ekonomi global dan kondisi
ekonomi nasional.
6. Sosial Budaya berkaitan dengan kultur masyarakat yang berupa persepsi/
pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan, dengan indikator peran serta
masyarakat dalam melestarikan budaya.
7. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup
keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta
flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan
kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana
menggunakan lingkungan fisik tersebut. Indikatornya terdiri dari global
warming dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian
lingkungan.
8. Politik dan Pemerintah adalah proses pembentukan dan pembagian
kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan
keputusan, khususnya dalam negara. Indikator yang digunakan seperti
kebijakan pemerintah dalam pengembangan pariwisata, kondisi politik
global, kondisi politik nasional, keamanan Kawasan Selatan Pulau
Lombok.
9. Kemajuan Teknologi adalah setiap inovasi yang diciptakan untuk
memberikan manfaat positif bagi kehidupan, indikatornya informasi dan
transportasi.
10. Daya Saing adalah tingkat produktivitas faktor keseluruhan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan daerah tujuan wisata lainnya. Indikatornya
adalah daya saing dengan daya tarik wisata sejenis.
36

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Provinsi NTB terletak antara 115o 46 119o 5 Bujur Timur dan 8o 10 9o


5 Lintang Selatan, dengan luas daratan 20.153,15 km2 yang membentang dari
barat ke timur. Satu per tiga dari luas tersebut adalah luas Pulau Lombok, dimana
terletak Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB. Terdapat lima kabupaten/kota di
Pulau Lombok yaitu Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah,
Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara dan Kota Mataram,
sedangkan tiga kabupaten pertama adalah daerah yang termasuk dalam Kawasan
Selatan Pulau Lombok yang merupakan lokasi penelitian.

Kawasan Wisata Sekotong Kabupaten Lombok Barat

Pantai Sekotong berada di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat,


Provinsi NTB. Kawasan ini memiliki banyak deretan pantai yang indah dan
menawan, bahkan ada beberapa pantai yang ternyata belum mempunyai nama.
Pantai Sekotong terletak dekat dengan Pelabuhan Lembar. Pantai ini berjarak
sekitar 60 km dari Kota Mataram. Untuk mencapai kawasan pantai Sekotong
dapat menggunakan angkutan umum yang berada di daerah tersebut. Kawasan
pantai Sekotong merupakan destinasi utama bagi wisata bahari dikarenakan
terdapat banyak lokasi yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan untuk wisata
surfing, snorkeling maupun diving baik oleh wisatawan asing maupun lokal. Di
kawasan ini juga sudah terdapat beberapa fasilitas akomodasi seperti hotel dan
penginapan dengan tarif yang sangat terjangkau, namun jumlahnya terbatas.
Berikut ini akan diuraikan tempat-tempat wisata, yaitu:
1. Pantai Elaq-Elaq
Terletak sekitar 10 menit dari pelabuhan Tawun mengikuti jalan ke
arah Desa Pelangan. Pantai yang bersih dan berpasir putih menjulur ke
lautan nampak seperti lidah jika dilihat dari ketinggian, oleh karena itulah
dinamakan Elaq yang berarti lidah dalam bahasa Sasak. Di ujung pantai
Elaq-Elaq terdapat pulau kecil yang bisa diseberangi dengan berjalan kaki
pada saat air laut surut. Di pantai Elaq-Elaq tidak ada penjual makanan
atau restoran, jika hendak berwisata ke objek ini hendaknya
mempersiapkan perbekalan dari rumah (Lampiran 6).
2. Pantai Mekaki
Terletak di Desa Pelangan dan merupakan pantai terbaik dangan
pemandangan yang sangat menakjubkan di wilayah Sekotong. Pantai
Mekaki langsung menghadap samudra India dengan hamparan pasir
berwarna putih bersih. Bagi peselancar yang sudah profesional bisa
memanfaatkan ombak di pantai ini. Jika hendak berwisata dan menginap
di pantai ini, maka wisatawan diharuskan untuk membawa tenda dan
perbekalan secukupnya, karena di kawasan ini tidak terdapat fasilitas
akomodasi seperti hotel dan restoran (Lampiran 7).
3. Bangko-Bangko
Nama Bangko-Bangko atau sering disebut Dessert Point sudah
lebih dahulu terkenal sampai ke penjuru dunia dari pada tempat-tempat
37

lainnya di wilayah Sekotong, terutama bagi para peselancar karena


memiliki ombak yang sangat cocok untuk olahraga selancar. Gulungan
ombaknya sangat panjang dan tinggi, sehingga direkomendasikan hanya
untuk peselancar professional (Lampiran 8).
4. Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Tangkong dan Gili Kedis
Terdapat gugusan pulau-pulau kecil yang tampak terlihat indah dan
menawan, pulau-pulau tersebut adalah Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili
Tangkong dan Gili Kedis. Untuk menjangkau kawasan ini bisa dengan
menyewa perahu yang tersedia di Pelabuhan Tawun. Jarak tempuh dari
Pelabuhan Tawun ke salah satu gili tersebut sekitar 20 menit dan dari gili
satu ke gili yang lainnya. Keindahan pantai dengan pasir putih berkilau
serta airnya yang jernih dan tenang. Di samping itu terumbu karang yang
beraneka warna masih terawat di gili-gili tersebut sebagai tempat ikan-ikan
hias bermain dan berkembang biak sehingga cocok untuk kegiatan
snorkeling (Lampiran 9).
5. Gili Asahan, Gili Rengit, Gili Gede, Gili Poh dan Gili Layar
Dari pantai Elaq-Elaq wisatawan dapat melihat sekelompok gili,
yaitu Gili Gede, Gili Rengit, Gili Asahan, Gili Layar dan Gili Poh. Gili
Gede adalah gili yang paling besar yang ada di wilayah Sekotong maupun
Lombok, untuk menjangkaunya dengan menyewa perahu melalui Desa
Tembowong atau Dusun Permula di Desa Pelangan, jaraknya sekitar 10
menit untuk mencapai ujung Gili Gede. Tempat snorkeling di Gili Gede
adalah ujung paling barat dekat dengan Hotel Madak Belo yang
berhadapan dengan Gili Asahan dan Gili Rengit. Gili Rengit dan Gili
Layar letaknya berdekatan, memiliki terumbu karang yang alami dan
berbagai warna dengan jenis ikan yang beraneka ragam. Gili Rengit dan
Gili Asahan sangat sepi dan tidak berpenduduk, hanya terdapat satu hotel
yang sedang dibangun di Gili Asahan. Berbeda halnya dengan Gili Gede
yang merupakan tempat bermukimnya warga yang berprofesi sebagai
nelayan. Gili Gede, Gili Rengit dan Gili Asahan sudah mulai dikunjungi
oleh wisatawan walaupun tidak seramai seperti Gili Trawangan, Gili Meno
dan Gili Air yang sudah terlebih dahulu populer. Sedangkan Gili Poh dan
Gili Layar belum begitu terkenal namun memiliki wisata bahari yang tidak
kalah saing dengan gili-gili lainnya (Lampiran 10).
6. Balai Budidaya Laut Lombok
Kawasan wisata pantai Sekotong merupakan salah satu potensi
wisata yang cukup menakjubkan di Pulau Lombok. Selain pantai dan
beberapa gili/pulau kecil serta perbukitan dengan pemandangan alamnya
yang indah, pada kawasan ini juga terdapat keindahan budidaya biota laut
yang ada di Balai Budidaya Laut Lombok di bawah Direktorat Jenderal
Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Beberapa biota
laut yang dibudidayakan diantaranya lobster, ikan kerapu, teripang kerang,
abalon, tiram mutiara dan lain-lain. Balai Budidaya Laut Lombok ini
terletak di dusun Gili Genting desa Sekotong Barat. Budidaya Laut
Lombok cocok untuk dijadikan sebagai daerah tujuan wisata edukasi,
sebab balai ini memiliki peranan dalam memberikan pengetahuan terkait
teknologi terapan budidaya laut yang produktif dan berdaya saing. Di balai
38

ini juga dilakukan pengembangan rekayasa teknologi budidaya ikan laut


berbasis agribisnis (Lampiran 11).

Kawasan Wisata Kuta Kabupaten Lombok Tengah

Lombok Tengah adalah salah satu kabupaten di Provinsi NTB yang telah
cukup lama menjadi daerah tujuan wisata. Berjarak hanya 30 km dari Kota
Mataram, pantai di Kabupaten Lombok Tengah merupakan tempat obyek-obyek
wisata penting di Pulau Lombok. Daya tarik utamanya yaitu keindahan pantai-
pantai berpasir putih, sebagian berbulir sangat khas seperti butiran merica, yang
menghadap langsung ke Samudra Hindia dengan ombak yang juga khas yang
telah menarik banyak peselancar dan penyelam, juga pecinta keindahan alam dari
seluruh dunia untuk datang berkunjung.
Berikut ini adalah daerah tujuan wisata di Kabupaten Lombok Tengah yang
dapat dikembangkan potensinya untuk dijadikan sebagai kawasan wisata:
1. Pantai Selong Belanak
Nama pantai ini diambil dari nama desa tempat pantai berada yakni
Desa Selong Belanak. Pantai ini cukup luas dan sangat landai. Luasnya
pantai ini membuatnya menjadi tempat yang asyik untuk berolahraga
seperti bermain sepak bola pantai ataupun bermain voli pantai. Pantai ini
dikelilingi oleh bukit-bukit yang membuat pemandangan semakin terlihat
indah. Terdapat bebatuan karang yang berlokasi di bagian timur pantai,
dimana wisatawan biasanya duduk bersantai di bebatuan tersebut untuk
menikmati indahnya pemandangan pantai (Lampiran 12).
2. Pantai Mawun
Pantai Mawun dikelilingi oleh bukit-bukit yang warnanya akan
berubah sesuai dengan musim berjalan. Pada musim penghujan warna
bukit akan tampak hijau, sedangkan pada musim kemarau warna bukit
tersebut akan berubah menjadi kecoklatan. Ciri khas pantai ini identik
dengan pasir putih yang sangat lembut seperti tepung. Di ujung sebelah
selatan pantai terdapat sebuah bukit yang cukup tinggi, pada lokasi ini
wisatawan bisa menyaksikan pemandangan biru lautan lepas. Pantai ini
tidak terlalu luas dan cukup dalam di bagian pinggirnya. Daerah ini cocok
digunakan untuk wisata bahari seperti permainan selancar (Lampiran 13).
3. Pantai Seger
Pantai ini cukup unik karena terdiri dari beberapa bagian, di dekat
pantai terdapat sebuah resort dan villa yang halaman belakangnya
menghadap langsung ke pantai Seger. Terdapat pula sebuah monumen
patung Putri Mandalika yang merupakan cerita legenda di Pulau Lombok.
Di kawasan pantai ini memiliki cukup banyak ikan di tepian pantai,
sehingga daerah ini bisa dikembangkan sebagai kawasan wisata
memancing (Lampiran 14).
4. Pantai Kuta
Pantai ini terdapat di desa Kuta Kecamatan Pujut Kabupaten
Lombok Tengah. Pantai Kuta di Lombok cukup ramai dikunjungi oleh
wisatawan baik lokal maupun asing. Di antara pantai-pantai yang ada di
Lombok Tengah, pantai Kuta merupakan yang paling ramai. Di sekitar
39

pantai sudah terdapat kios-kios yang menjual dan menyewakan peralatan


selam, snorkeling serta cindera mata. Kawasan pantai ini cukup luas
dengan pemandangan yang alami. Pada waktu-waktu tertentu gelombang
di pantai ini cukup tinggi, sehingga cocok digunakan untuk bermain
selancar. Di sekitar pantai ini juga sudah terdapat hotel serta penginapan
kelas bawah (Lampiran 15).
5. Pantai Tanjung Aan
Lokasi pantai Tanjung Aan hanya berjarak sekitar 3 km dari pantai
Kuta. Ombak di pantai ini cukup tenang dan nyaman untuk dipandang.
Terdapat sebuah undakan tanah mirip bukit yang biasanya digunakan oleh
pengunjung sebagai tempat untuk menikmati pemandangan laut. Pantai ini
juga dikenal dengan pantai merica karena memiliki pasir yang berukuran
seperti butian merica (Lampiran 16).
6. Desa Sukarara
Desa Sukarara adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan
Jonggat Lombok Tengah yang berjarak sekitar 25 km dari Kota Mataram.
Sukarara adalah sebuah desa yang terkenal dengan kerajinan tenun
tradisional atau songket. Tenun merupakan pekerjaan utama bagi
penduduk perempuan di desa ini. Para orang tua di desa ini sudah
mengajarkan atau mewariskan kerajinan tenunnya kepada anak
perempuannya sehingga kerajinan tenun masih tetap ada hingga sekarang.
Keunikan di desa ini yaitu, para kaum perempuannya diwajibkan untuk
bisa menenun, atau dalam bahasa Sasak disebut nyesek. Kemahiran dalam
menenun ini wajib karena dijadikan syarat pernikahan. Hasil tenunan khas
Sukarara adalah sarung songket yang biasanya digunakan pada saat
upacara adat (Lampiran 17).
7. Dusun Sade atau Sade Village
DTW ini berada di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut dan merupakan
Desa Tradisional Sasak (suku asli Pulau Lombok) atau sebuah
perkampungan suku Sasak asli yang masih mencoba mempertahankan dan
menjaga keaslian sisa-sisa kebudayaan Sasak lama. Masyarakat yang
tinggal di Dusun Sade adalah suku Sasak dengan sistem sosial dan
kehidupan keseharian mereka yang masih sangat kental dan memegang
teguh adat tradisi Sasak tempo dulu. Bahkan arsitektur rumah adat khas
Sasak juga masih bisa dilihat berdiri kokoh dan terawat dengan baik.
Bangunan tradisional Sasak yang bisa dijumpai di perkampungan Dusun
Sade terdiri dari dua jenis yang disebut dengan Bale Tani dan Bale
Lumbung. Rumah adat suku Sasak ini terbuat dari kayu dengan dinding
yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan daun rumbia atau daun
alang-alang kering, lantainya terbuat dari campuran tanah, getah pohon
dan abu jerami yang kemudian diolesi dengan kotoran kerbau. Dusun Sade
dihuni oleh 260 Kepala Keluarga atau sekitar 715 jiwa. Mata pencaharian
penduduk di Dusun Sade adalah bertani dan menenun (Lampiran 18).
8. Masjid Kuno Rambitan
Masjid Rambitan terletak di Desa Rambitan, Kecamatan Sengkol.
Masjid ini hanya mempunyai sebuah pintu di sebelah selatan. Pintu
tersebut dibuat sangat rendah sehingga bila hendak masuk harus
membungkuk, dan daun pintunya polos. Di bagian dalam masjid terdapat
40

empat buah tiang soko guru, mihrab, dan mimbar. Mimbar masjid ini
terbuat dari anyaman rotan dan bambu. Atapnya merupakan atap tumpang
bertingkat dua yang dibuat dari alang-alang dan ijuk. Di sebelah timur
ruangan masjid terdapat bedug besar dari kulit kerbau. Masjid Rambitan
dibangun pada abad XVI akhir atau awal abad XVII. Menurut Babad
Lombok, Islam masuk Lombok pada pertengahan abad XIV melalui
pelabuhan Lombok. Masjid ini dihubungkan dengan nama seorang tokoh
agama Islam di Rambitan yaitu Wali Nyatoq yang makamnya terletak 2
km di timur masjid (Lampiran 19).

Kawasan Wisata Jerowaru Kabupaten Lombok Timur

Kecamatan Jerowaru terletak di ujung selatan Kabupaten Lombok Timur


yang kaya dengan potensi pengembangan budidaya perikanan pantai. Kawasan ini
menyimpan sejuta pesona pariwisata yang eksotis. Kekurangan air bersih
merupakan masalah klasik yang telah lama dihadapi oleh warga di kawasan ini.
Selain itu penduduk yang tinggal di kawasan ini rata-rata hidup di bawah garis
kemiskinan.
Berikut ini akan diuraikan objek wisata yang dapat dikembangkan
potensinya untuk dijadikan daerah tujuan wisata, yaitu:
1. Pantai Kaliantan
Terletak di lokasi yang terpencil, meski jauh dari pemukiman warga
namun tempat ini bisa mendatangkan pengunjung setiap harinya karena
banyak wisatawan yang penasaran dengan keindahan pantai ini. Panjang
garis pantai ini mencapai sekitar 2 km, dengan pasir pantai yang sangat
putih. Pantai ini memiliki teluk kecil yang menambah keasriannya.
Kekurangan pantai ini terletak pada fasilitasnya seperti tidak tersedianya
warung makan, toilet, dan penginapan (Lampiran 20).
2. Pantai Surga
Pantai ini memiliki kesan seperti sedang berada di daerah padang
pasir. Meskipun panas, hawa yang didapat pun sejuk karena dekat dengan
tepian pesisir pantai. Pantai ini memang tropis, jadi bila wisatawan
menyukai daerah tropis, pantai surga bisa dijadikan sebagai salah satu
pilihan berlibur. Selain itu wisatawan juga dapat memancing dan
snorkeling (Lampiran 21).
3. Tanjung Bloam
Berbeda dengan pantai Kaliantan yang ombaknya selalu tenang,
pantai tanjung bloam justru memiliki ombak yang menghanyutkan. Pantai
ini memiliki keunikan berupa tempat habitat hewan langka penyu, oleh
sebab itu daerah ini dijadikan sebagai kawasan konservasi (penangkaran)
penyu. Selain itu juga terdapat tebing-tebing hijau yang asri. Tempat
wisata ini juga menyuguhkan wisata mancing bersama nelayan sekitar
(Lampiran 22).
4. Tanjung Ringgit
Pantai Tanjung Ringgit juga menyimpan keindahan yang terletak
pada objek-objek tua seperti Goa Jepang di dekat bibir tebing, meriam, dan
sumur penggembala. Tanjung Ringgit juga memiliki karakter yang sama
41

seperti pantai Kaliantan, dimana tempat ini tidak memiliki warung, toilet
dan penginapan. Cuaca di pantai ini sangat menyengat, namun hal tersebut
dapat disejukkan dengan pemandangan luasnya perbatasan Samudra
Hindia. Para wisatawan juga dapat menikmati snorkeling, karena banyak
terumbu karang yang masih hidup di pantai ini (Lampiran 23).
5. Gili Sunut
Selain pantai juga terdapat tempat wisata gili di Lombok Timur yang
memiliki keunikan sendiri yaitu Gili Sunut. Lokasi tempat wisata ini
berada di Dusun Temeak Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru
Lombok Timur. Tempat ini memiliki keunikan yang berbeda yaitu sebagai
tempat penangkaran mutiara, dan letaknya yang strategis karena diapit
oleh tiga pulau. Pantai di gili ini juga digunakan oleh wisatawan untuk
snorkeling dan memancing (Lampiran 24).
6. Budidaya Laut di Kawasan Timur Gili Sunut
Wilayah bagian selatan Kabupaten Lombok Timur, mengandung
potensi luar biasa untuk dapat mengangkat perekonomian masyarakat atau
mensejahterakan penduduk. Potensi besar yang dimiliki wilayah ini adalah
di sektor pariwisata, pertanian, dan budi daya laut (rumput laut, ikan
kerapu, lobster, dan mutiara). Di kawasan ini banyak terdapat budidaya
mutiara dan juga banyak terdapat keramba jaring apung yang memelihara
lobster, kerapu, baronang dan ikan karang lainnya (Lampiran 25).
42

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Sektor Basis

Struktur ekonomi suatu daerah sangat ditentukan oleh besarnya peranan


sektor-sektor perekonomian dalam memproduksi barang dan jasa. Struktur yang
terbentuk dari nilai tambah yang diciptakan oleh masing-masing sektor yang
menggambarkan ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi
dari masing-masing sektor. Dalam penelitian ini sektor-sektor perekonomian yang
termasuk pendukung pariwisata sebagaimana dikemukakan Rudita (2012) terdiri
dari tiga sektor, yaitu Industri Pengolahan; Perdagangan, Hotel dan Restoran; dan
Jasa-jasa.
Untuk sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang merupakan sektor
pendukung aksesibilitas tidak diikutsertakan dalam analisis lebih lanjut
dikarenakan untuk transportasi pariwisata di Pulau Lombok dominan dikelola
oleh biro jasa perjalanan wisata, dimana armadanya menggunakan kendaraan
pribadi, sehingga dalam pencatatan aktivitas perekonomiannya masuk ke dalam
sektor jasa-jasa. Berbeda halnya jika wisatawan menggunakan transportasi publik,
maka secara otomatis nilai aktivitas perekonomiannya menjadi tinggi dikarenakan
sektor transportasi mengalami pertumbuhan dengan adanya transportasi yang
murah. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan multiplier effect baru bagi
perekonomian masyarakat sekitar, dimana dengan adanya transportasi murah
dapat memperlancar arus barang dan jasa, sehingga akan semakin meningkatkan
kontribusi dari sektor tersebut. Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan,
wisatawan yang datang berkunjung ke Kawasan Selatan Pulau Lombok lebih
memilih menggunakan biro jasa perjalanan wisata karena terbatasnya transportasi
publik yang beroperasi di kawasan tersebut.
Tabel 4 Nilai LQ aktivitas perekonomian per sektor tiap kabupaten di kawasan
selatan pulau Lombok tahun 2006

No. Kabupaten/Kota (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Lombok Barat 0,94 0,89 0,60 1,44 1,07 1,12 1,38 0,90 0,91
2 Lombok Tengah 0,92 0,83 1,28 0,69 1,03 0,99 0,83 1,15 1,18
3 Lombok Timur 1,10 1,21 1,14 0,84 0,92 0,90 0,79 0,98 0,95
Keterangan: 1 Pertanian 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran
2 Pertambangan dan Penggalian 7 Pengangkutan dan Komunikasi
3 Industri Pengolahan 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 9 Jasa-jasa
5 Bangunan

Berdasarkan Tabel 4, hasil perhitungan LQ sektor perekonomian tahun 2006


memperlihatkan bahwa sebagian sektor-sektor perekonomian Kawasan Selatan
Pulau Lombok di masing-masing kabupaten memiliki nilai LQ>1 (basis).
Komponen pariwisata dalam penelitian ini tercakup dalam sektor industri
pengolahan, sektor perdagangan, hotel, restoran dan sektor jasa-jasa. Pada sektor
industri pengolahan, yang termasuk kedalam sektor basis wilayah adalah
Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur. Untuk sektor
perdagangan, hotel dan restoran, yang termasuk kedalam sektor basis yaitu
43

Kabupaten Lombok Barat. Pada sektor jasa-jasa yang termasuk kedalam sektor
basis yaitu Kabupaten Lombok Tengah.
Tabel 5 Nilai LQ aktivitas perekonomian per sektor tiap kabupaten di kawasan
selatan pulau Lombok tahun 2013

No. Kabupaten/Kota (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Lombok Barat 0,84 1,24 0,73 1,14 1,09 1,29 0,86 1,08 1,02
2 Lombok Tengah 0,98 0,70 0,84 1,05 0,96 0,73 1,73 0,93 0,92
3 Lombok Timur 1,14 1,07 1,36 0,84 0,96 1,02 0,46 1,00 1,06
Keterangan: 1 Pertanian 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran
2 Pertambangan dan Penggalian 7 Pengangkutan dan Komunikasi
3 Industri Pengolahan 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 9 Jasa-jasa
5 Bangunan

Hasil perhitungan LQ berdasarkan aktivitas sektor perekonomian tahun


2013 cukup berbeda dengan hasil perhitungan LQ tahun 2006. Berdasarkan Tabel
5 hasil perhitungan LQ sektor perekonomian tahun 2013 memperlihatkan bahwa
terdapat perbedaan pada masing-masing komponen pariwisata untuk wilayah
kabupaten di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Pada sektor industri pengolahan
yang termasuk kedalam basis wilayah yaitu Kabupaten Lombok Timur dengan
nilai 1,36. Untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran yang termasuk ke dalam
basis wilayah adalah Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur
masing-masing bernilai 1,29 dan 1,02. Sama halnya dengan sektor jasa-jasa
dimana yang termasuk kedalam basis wilayah yaitu Kabupaten Lombok Barat dan
Kabupaten Lombok Timur dengan nilai 1,02 dan 1,06.
Berdasarkan hasil analisis LQ masing-masing kabupaten di Kawasan
Selatan Pulau Lombok baik tahun 2006 maupun 2013, dapat diketahui bahwa
komponen pariwisata yang terdiri dari sektor industri pengolahan, sektor
perdagangan, hotel, restoran dan sektor jasa-jasa masih perlu dikembangkan agar
mampu bersaing secara komparatif khususnya dalam pengembangan wisata di
Kawasan Selatan Pulau Lombok. Jika dilihat dari ketiga komponen pariwisata,
yang paling banyak berkontribusi untuk pariwisata yaitu sektor perdagangan,
hotel, restoran dan sektor jasa-jasa. Sedangkan pada sektor industri pengolahan
pada wilayah di Kawasan Selatan Pulau Lombok termasuk kedalam sektor non
basis (LQ<1). Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar hasil-hasil dari
sektor perdagangan, hotel dan restoran di suatu wilayah cenderung tidak
dimanfaatkan dengan baik, sehingga cenderung menjadi aktivitas perekonomian
yang kurang memiliki nilai tambah terhadap pendapatan wilayah dan kurangnya
koordinasi dari seluruh komponen pariwisata. Industri pariwisata dapat bertahan
dan terus meningkat jika ketiga sektor penunjang pariwisata dapat berkoordinasi
dengan baik.
Perekonomian Kabupaten Lombok Timur sangat mendukung untuk
pengembangan sektor pariwisata, jika dilihat dari hasil LQ sektor industri
pengolahan, sektor perdagangan, hotel, restoran dan sektor jasa-jasa merupakan
sektor basis yang memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah, hal ini secara
tidak langsung memberi petunjuk bahwa sektor ini memiliki keunggulan
komparatif. Demikian juga halnya jika dilihat secara wilayah di Kawasan Selatan
Pulau Lombok, Kabupaten Lombok Timur memiliki sektor basis yang lebih besar
44

dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya. Nilai LQ sektor industri pengolahan


yang mencapai 1,36 merupakan nilai LQ terbesar dari sektor-sektor lainnya.
Sektor perdagangan, hotel, restoran mempunyai nilai LQ>1 didukung oleh dua
sektor lainnya yang juga mempunyai nilai LQ>1, yaitu sektor industri pengolahan
dan sektor jasa-jasa. Meskipun sektor basis merupakan sektor yang potensial
untuk dikembangkan dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Lombok Timur, akan tetapi peran sektor non basis tidak dapat diabaikan begitu
saja. Karena dengan adanya sektor basis akan dapat membantu pengembangan
sektor non basis menjadi sektor basis baru.
Sektor-sektor pendukung pariwisata tersebut merupakan sektor yang
potensial untuk dikembangkan terutama pada Kabupaten Lombok Timur karena
banyak memiliki potensi pariwisata namun belum dikembangkan secara optimal.
Dari hasil analisis LQ tersebut menunjukkan bahwa untuk sektor pengolahan di
Kabupaten Lombok Timur mampu untuk mengekspor produk olahan ke
kabupaten lain yang dapat memberikan kontribusi untuk perekonomian lokal
Kabupaten Lombok Timur.
Sektor selanjutnya yang memiliki prospek pengembangan di samping sektor
industri pengolahan yaitu sektor perdagangan, hotel, restoran yang juga
merupakan sektor basis dengan nilai LQ sebesar 1,02 pada tahun 2013.
Pengembangan sektor tersebut diharapkan dapat berperan dalam membangkitkan
ekonomi lokal Kabupaten Lombok Timur sekaligus untuk mencapai visi dan misi.
Pengembangan sektor basis dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru di sektor
itu sendiri dan sektor-sektor lainnya karena aktivitas ekonomi dari sektor basis
tersebut. Terciptanya aktivitas ekonomi baru ini akan semakin membuka peluang
untuk pengembangan ekonomi lokal Kabupaten Lombok Timur.
Jadi penerapan dalam mekanisme pembangunan ekonomi lokal adalah
dengan memberikan perhatian terhadap kegiatan basis ekonomi yang melibatkan
pengembangan faktor endogennya melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber daya alam lokal untuk membentuk lapangan pekerjaan baru yang
menstimulasi aktivitas perekonomian lokal. Setelah merumuskan strategi
pembangunan, Kabupaten Lombok Timur dalam mengimplementasikan strategi
pembangunan diharapkan lebih dapat mengembangkan sektor-sektor pendukung
pariwisata yang pada saat ini bukan merupakan sektor unggulan, sehingga
pelaksanaan pembangunan dapat dikatakan berjalan dengan adanya peningkatan
jumlah sektor yang menjadi unggulan perekonomian wilayah.
Untuk melihat keunggulan kompetitif suatu sektor di Kawasan Selatan
Pulau Lombok, dilakukan Analisis Shift Share (SSA) terhadap 9 sektor pada
masing-masing kabupaten, dengan menggunakan dua titik waktu yakni tahun
2006 dan tahun 2013. Tabel 6 memperlihatkan bahwa keseluruhan komponen
sektor pariwisata memiliki keunggulan kompetitif yang ditunjukkan dengan nilai
SSA>0, yang mana hasil nilai SSA untuk sektor industri pengolahan tertinggi
dimiliki oleh Kabupaten Lombok Timur, selanjutnya diikuti oleh Kabupaten
Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Tengah. Pada sektor perdagangan, hotel
dan restoran nilai SSA tertinggi dimiliki oleh Kabupaten Lombok Timur,
Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Tengah. Untuk sektor jasa-jasa
yang tertinggi berturut-turut dimiliki oleh Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten
Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Tengah. Jika dilihat dari nilai tertinggi
sampai terendah pada keseluruhan komponen pariwisata, Kabupaten Lombok
45

Tengah termasuk kedalam sektor yang memberikan sumbangan paling kecil


dibandingkan kabupaten lainnya yang berada di Pulau Lombok.
Tabel 6 Nilai SSA aktivitas perekonomian per sektor tiap kabupaten di kawasan
selatan pulau Lombok tahun 2006-2013

No. Kabupaten/Kota (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Lombok Barat 0,76 4,77 3,12 -0,15 2,43 1,75 1,65 3,10 2,37
2 Lombok Tengah 1,88 3,83 2,08 1,26 3,37 1,43 11,16 2,83 2,26
3 Lombok Timur 1,23 3,05 3,46 0,19 2,89 1,98 1,72 2,86 2,69
Keterangan: 1 Pertanian 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran
2 Pertambangan dan Penggalian 7 Pengangkutan dan Komunikasi
3 Industri Pengolahan 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 9 Jasa-jasa
5 Bangunan

Berdasarkan Tabel 6, hasil perhitungan nilai SSA komponen sektor


pariwisata yang terdiri dari industri pengolahan, perdagangan, hotel, restoran dan
jasa-jasa pada masing-masing kabupaten di Kawasan Selatan Pulau Lombok
memiliki nilai SSA>0, yang berarti menunjukan bahwa sektor tersebut memiliki
keunggulan kompetitif dan pergeseran yang cepat. Hal ini berarti komponen
sektor pariwisata memiliki keunggulan kompetitif namun tidak diimbangi dengan
pengembangan secara komparatif.
Untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran, seluruh kabupaten di
Kawasan Selatan Pulau Lombok memiliki nilai SSA>0, yang berarti menunjukkan
bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki keunggulan kompetitif
dan pergeseran yang cepat. Untuk hasil pengujian nilai SSA Kabupaten Lombok
Timur konsisten dengan pengujian nilai LQ-nya yang paling tinggi sebagai sektor
basis dan memberikan kontribusi perdagangan, hotel dan restoran tertinggi
terhadap Kawasan Selatan Pulau Lombok. Hal ini berarti sektor perdagangan,
hotel dan restoran di Kabupaten Lombok Timur memiliki keunggulan komparatif
yang ditunjang dengan keunggulan kompetitifnya, sehingga wilayah ini
berpotensi untuk dikembangkan daripada dua kabupaten lainnya. Jika
diperhatikan pada nilai SSA untuk sektor pendukung pariwisata seperti sektor
industri pengolahan dan sektor jasa-jasa, Kabupaten Lombok Timur memiliki
nilai SSA yang lebih besar jika dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya yang
berada di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Dari tiga sektor yang merupakan
pendukung pariwisata, maka Kabupaten Lombok Timur merupakan kabupaten
yang perkembangannya paling baik dibandingkan dengan dua kabupaten lainnya.

Hirarki Wilayah Berdasarkan Kelengkapan Sarana Prasarana

Pengembangan lokasi wisata biasanya dipengaruhi oleh ketersediaan sarana


dan prasarana pendukung wisata. Fasilitas wisata merupakan salah satu hal yang
perlu dipertimbangkan dalam pengembangan wisata, karena aktivitas wisata
memerlukan sarana dan prasarana pendukung. Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 18 tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona
Pemanfaatan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam disebutkan bahwa areal
yang diizinkan untuk pembangunan sarana dan prasarana di kawasan wisata
46

hendaknya tidak merubah bentang alam agar keaslian alam masih dapat
dipertahankan.
Perkembangan wilayah yang terkait dengan kelengkapan sarana dan
prasarana dapat dianalisis dengan metode skalogram. Metode ini bertujuan untuk
menentukan hirarki wilayah (Rustiadi et al 2011), yaitu berupa pengelompokkan
wilayah berdasarkan hirarki pusat-pusat kegiatan. Urutan pengelompokkan hirarki
didasarkan pada nilai Indeks Perkembangan Kabupaten (IPK) dari yang terbesar
ke yang terkecil. Indikator yang digunakan untuk menentukan IPK dapat dilihat
pada Lampiran 5. Pengelompokkan wilayah dari hasil analisis skalogram
dinamakan Hirarki, dimana wilayah Hirarki I mengindikasikan wilayah yang
memiliki tingkat perkembangan yang baik, sementara wilayah Hirarki II memiliki
tingkat perkembangan sedang, dan wilayah Hirarki III memiliki tingkat
perkembangan yang rendah. Hasil analisis perkembangan wilayah untuk daerah
penelitian disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Analisis hirarki pengembangan wilayah kawasan selatan pulau Lombok

Jumlah
No. Kabupaten/Kota IPK Hirarki
Wisatawan
1 Lombok Barat 3,46665 III 269.980
2 Lombok Tengah 3,58758 III 95.558
3 Lombok Timur 12,85344 I 10.463

Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa terdapat dua kabupaten yang


masing-masing masuk ke dalam Hirarki III. Kabupaten yang tergolong ke dalam
Hirarki I adalah Kabupaten Lombok Timur. Kabupaten Lombok Timur terdiri dari
enam lokasi yang dijadikan tujuan wisata, yaitu Pantai Kaliantan, Pantai Surga,
Tanjung Bloam, Tanjung Ringgit, Gili Sunut, dan kawasan laut sekitar Gili Sunut.
Kabupaten yang tergolong ke dalam Hirarki III adalah Kabupaten Lombok Barat
dan Kabupaten Lombok Tengah. Kabupaten Lombok Barat terdiri dari enam
lokasi tujuan wisata, yaitu Pantai Elaq-Elaq, Pantai Mekaki, Bangko-Bangko,
Kawasan Gili Nanggu (termasuk Gili Sudak, Gili Tangkong dan Gili Kedis),
Kawasan Gili Asahan (termasuk Gili Rengit, Gili Gede, Gili Poh dan Gili Layar),
dan Balai Budidaya Laut Lombok, sedangkan Kabupaten Lombok Tengah terdiri
dari delapan lokasi wisata, yaitu Pantai Selong Belanak, Pantai Mawun, Pantai
Seger, Pantai Kuta, Pantai Tanjung Aan, Desa Sukarara, Dusun Sade, dan Masjid
Kuno Rambitan. Kabupaten Lombok Timur merupakan kabupaten dengan
fasilitas sarana dan prasarana paling lengkap dibandingkan dengan kabupaten
lainnya. Berdasarkan hasil analisis tersebut juga dapat disimpulkan bahwa
Kabupaten Lombok Timur merupakan pusat pelayanan pendukung wisata bagi
kabupaten-kabupaten lainnya di masing-masing kawasan.
Hirarki wilayah berdasarkan ketersediaan sarana dan prasarana wisata
tersebut jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisatawan ke masing-
masing kabupaten terlihat ada suatu hubungan, yaitu bahwa jumlah wisatawan
terbanyak pada tahun 2013 pada masing-masing kabupaten adalah di kabupaten-
kabupaten yang berada para Hirarki III, kemudian selanjutnya di kabupaten pada
Hirarki I. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 7 dimana Kabupaten Lombok Timur
yang berada pada Hirarki I memiliki jumlah kunjungan wisata yang paling sedikit
jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Begitu pula pada Kabupaten
47

Lombok Barat dimana jumlah wisatawan terbanyak diperoleh kabupaten tersebut


berada pada Hirarki III.
Secara umum keberadaan dan kelengkapan sarana prasarana pembangunan
daerah tujuan wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok termasuk memadai, tetapi
akses masyarakat dan wisatawan terhadap sarana prasarana tersebut masih sangat
terbatas, terutama untuk wisatawan. Ini disebabkan karena sebagian besar sarana
prasarana masih terakumulasi di daerah-daerah perkotaan seperti: Kota Gerung
(Lombok Barat) dan Kota Praya (Lombok Tengah), sehingga daerah sentra
pariwisata yang umumnya berada di wilayah pesisir selatan pulau Lombok
cenderung mengalami kesulitan dalam memperoleh pelayanan dari fasilitas-
fasilitas tersebut, karena interaksinya yang sangat terbatas ke pusat-pusat
pelayanan. Hal ini kemudian berdampak pada interkonektivitas yang menjadi
pemicu terjadinya kesenjangan antar daerah perkotaan (bagian tengah sampai
utara kabupaten) dengan Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi di suatu wilayah juga
berkaitan dengan jumlah kunjungan wisatawan yang dilayaninya, yang
memanfaatkan sarana prasarana tersebut. Suatu daerah dengan jumlah kunjungan
wisatawan yang relatif besar membutuhkan fasilitas pelayanan yang relatif besar
dibandingkan dengan kabupaten yang mempunyai jumlah kunjungan wisatawan
lebih sedikit. Jadi alokasi sarana prasarana pembangunan pariwisata akan
berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan di wilayah yang
bersangkutan. Faktor jumlah kunjungan wisatawan ini juga menyebabkan
rendahnya tingkat ketersediaan sarana prasarana pembangunan pariwisata di
beberapa pusat pertumbuhan.
Kabupaten Lombok Barat yang seharusnya menempati urutan pertama
dalam hirarki pusat pertumbuhan dan pelayanan berdasarkan jumlah kunjungan
wisatawan yang dilayaninya, ternyata hanya menempati peringkat ketiga dalam
jumlah unit sarana yang dimilikinya. Namun demikian kabupaten ini mempunyai
jumlah jenis sarana prasarana yang tergolong lengkap, dan sarana prasarana
tersebut dibangun terpusat di kawasan Senggigi. Berbeda halnya dengan
Kecamatan Lombok Timur, walaupun menempati urutan ketiga dalam jumlah
kunjungan wisatawannya tetapi kabupaten ini menempati urutan pertama dalam
hirarki pembangunan daerah tujuan wisata dengan jumlah jenis sarana prasarana
relatif besar. Hal ini disebabkan karena kawasan selatan Kabupaten Lombok
Timur dikembangkan sebagai pusat pemasaran dan pertumbuhan utama daerah
tujuan wisata di wilayah Kabupaten Lombok Timur sehingga memungkinkan
daerah ini memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap dibandingkan dengan
kabupaten Lombok Barat dengan jumlah kunjungan wisatawan yang lebih besar.
Ternyata dari hasil analisis tersebut hirarki pusat-pusat pertumbuhan dan
pelayanan yang didasarkan pada ketersediaan fasilitas pelayanan sosial ekonomi
tidak tersusun atas dasar pertimbangan jumlah kunjungan wisatawan. Hal ini
menunjukkan distribusi sarana prasarana di suatu wilayah tidak hanya
memperhitungkan indikator jumlah kunjungan wisatawan, tetapi ada indikator lain
yang juga penting seperti topografi, luas wilayah, sistem transportasi dan
komunikasi. Kabupaten dengan peringkat sarana prasarana yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tingkat jumlah kunjungan wisatawannya, akan lebih mudah
dalam memenuhi kebutuhan atau permintaan masyarakat dan wisatawan akan
pelayanan dari sarana prasarana pembangunan daerah tujuan wisata tersebut,
48

dibandingkan dengan kabupaten yang jumlah kunjungan wisatawannya lebih


tinggi daripada peringkat sarana prasarana pembangunan daerah tujuan wisata
yang dimiliki.
Kabupaten yang mempunyai peringkat sarana prasarana pembangunan
daerah tujuan wisata yang lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah kunjungan
wisatawannya yaitu Kabupaten Lombok Timur. Namun kondisi ini tidak
menjadikan kabupaten tersebut mempunyai permintaan terhadap sarana prasarana
pelayanan akan seimbang dengan penawarannya. Hal ini juga dipengaruhi oleh
luas wilayah serta penyebaran sarana dan prasarana di Kawasan Selatan Pulau
Lombok. Selain menunjukkan hirarki pusat-pusat pengembangan di suatu wilayah
analisis skalogram juga memperlihatkan hirarki sarana prasarana pembangunan
daerah tujuan wisata yang terdapat dalam tata ruang wilayah pembangunan.
Hirarki ini menggambarkan jenis prasarana pembangunan yang tingkat
ketersediaannya tinggi, sedang atau rendah, sehingga dapat membantu dalam
perencanaan selanjutnya untuk alokasi sarana prasarana daerah tujuan wisata baru.
Temuan dalam penelitian ini sesuai dengan Nawacita, dimana proses
pembangunan harus dimulai dari daerah pinggiran. Dengan demikian Pemerintah
Daerah harus benar-benar memanfaatkan otonomi daerah dalam pemerataan
pembangunan di daerahnya. Pemerintah Daerah harus lebih kreatif lagi dalam
meningkatkan sumber-sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang baru, selain
itu DAU (Dana Alokasi Umum) harus lebih diprioritaskan pada kawasan tersebut,
sehingga kontribusi kawasan terhadap PDRB dapat meningkat signifikan.
Tujuan utama dari tempat wisata adalah untuk menyediakan kesenangan
baik secara fisik maupun mental bagi pengunjung (Sitorus 2004). Fasilitas
akomodasi dan penunjang wisata yang terletak di Kawasan Selatan Pulau Lombok
hendaknya dikonsentrasikan di daerah dengan kawasan terbesar, karena
pengembangan daerah tujuan wisata juga harus mempertimbangkan aspek
kelestarian alam. Bagaimanapun jika suatu daerah tujuan wisata dilengkapi
dengan beragam fasilitas, namun daya tarik utamanya tidak dijaga, maka usaha
wisata tersebut akan menurun. Hal ini sejalan dengan pendapat Jurado et al (2011)
yang menyebutkan bahwa pertumbuhan daerah tujuan wisata yang tinggi (dalam
hal penduduk, penginapan, infrastuktur, dan fasilitas lain) tidaklah selalu positif
bagi industri wisata, karena pertumbuhan yang melampaui batas daya dukung
dapat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan, sosial, dan ekonomi dari
daerah tujuan wisata.
Pengaruh sektor usaha terhadap nilai PDRB untuk daerah penelitian
disajikan pada Tabel 8.
49

Tabel 8 Pengaruh sektor/lapangan usaha terhadap nilai PDRB

Kontribusi
Nilai PDRB terhadap
No. Sektor/Lapangan Usaha
(juta rupiah) Nilai
PDRB (%)
1 Pertanian 7.844 25,506
2 Pertambangan dan Penggalian 1.631 5,306
3 Industri Pengolahan 2.045 6,651
4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 48 0,157
5 Konstruksi 3.464 11,264
6 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 4.865 15,820
7 Pengangkutan dan Komunikasi 4.076 13,254
8 Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1.836 5,972
9 Jasa-jasa 4.942 16,070
Jumlah 30.754 100,000

Perkembangan suatu wilayah juga dilihat salah satunya dari seberapa besar
kontribusi sektor-sektor yang ada di wilayah tersebut terhadap nilai PDRB secara
keseluruhan. Sektor pariwisata juga terkait erat dengan sub-sektor lain seperti
industri tanpa migas, perdagangan besar dan eceran, restoran, hotel, jasa hiburan,
dan rekreasi (Rudita 2012). Sektor pariwisata merupakan kegiatan yang tidak
dapat berdiri sendiri dan terkait dengan sektor-sektor lainnya. Perkembangan
sektor pariwisata dengan kata lain juga dapat diketahui dari perkembangan sektor-
sektor yang terkait dengannya. Data yang digunakan untuk menilai ini adalah data
PDRB yang didasarkan atas harga yang berlaku menurut sektor usaha tahun 2013.
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa sektor-sektor yang terkait dengan
aktivitas wisata yaitu industri pengolahan; perdagangan, hotel, dan restoran; dan
jasa-jasa (Rudita, 2012) berturut-turut memiliki kontribusi sebesar 6,651%;
15,820%; dan 16,070%, bahkan untuk sektor jasa-jasa memberikan kontribusi
terbesar kedua dari seluruh sektor yang ada. Dengan demikian kontribusi aktivitas
wisata terhadap nilai PDRB berjumlah 38,541%. Angka persentase ini
menunjukkan bahwa aktivitas wisata memiliki pengaruh yang cukup besar
terhadap nilai PDRB Kawasan Selatan Pulau Lombok. Untuk kontribusi terbesar
berikutnya setelah sektor pendukung pariwisata adalah sektor pertanian sebesar
21,309%. Kawasan utara merupakan kawasan pertanian reguler, dimana para
petani bisa melakukan panen sekitar tiga sampai dengan empat kali dalam
setahun, sedangkan wilayah selatan dalam sistem pertaniannya menerapkan sistem
tadah hujan akibat lahannya yang kering sehingga para petani di kawasan selatan
hanya mampu melakukan panen hanya sekali dalam waktu satu tahun. Kondisi
geografis inilah yang menyebabkan ketidak-merataan ekonomi dan ketimpangan
pembangunan, sehingga kontribusi sektor pertanian di kawasan selatan terhadap
nilai PDRB tergolong rendah. Dengan demikian Pemerintah Daerah harus
mengkaji kembali kebijakan pembangunannya, dimana untuk kawasan selatan
harus disesuaikan berdasarkan kondisi geografis dan sektor/lapangan usaha yang
termasuk dalam sektor basis di Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Dari data BPS Provinsi NTB (2014) diketahui, sektor industri pengolahan
terdiri dari subsektor pengolahan sayuran dan buah, hasil laut, dan makanan
50

tradisional. Sektor pengolahan didominasi oleh Kabupaten Lombok Timur,


dimana subsektor pengolahan sayuran dan buah terdapat di daerah Sembalun,
subsektor pengolahan hasil laut terdapat di daerah Tanjung Luar, dan subsektor
makanan tradisional terdapat di daerah Masbagik. Selanjutnya untuk sektor
perdagangan, hotel, dan restoran merupakan sektor yang berhubungan dengan
fasilitas atau akomodasi dalam menunjang aktivitas wisata di Pulau Lombok.
Adapun sektor jasa-jasa di dalamnya terdapat subsektor jasa pemerintah dan
swasta (sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi, perorangan, dan rumah
tangga).
Pengembangan daerah tujuan wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok
sebaiknya diarahkan terutama pada objek wisata di Kabupaten Lombok Timur
yang masuk ke dalam Hirarki I dari hasil analisis skalogram, yaitu Pantai
Kaliantan, Pantai Surga, Tanjung Bloam, Tanjung Ringgit, Gili Sunut, dan
kawasan laut sekitar Gili Sunut, namun perlakuan pengembangan sebaiknya
dilakukan dengan mempertimbangkan zonasi dari keenam lokasi tersebut.
Pengembangan wisata untuk Kabupaten Lombok Timur harus berbeda dengan
pengembangan wisata untuk Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah,
karena Kabupaten Lombok Timur termasuk ke dalam kawasan konservasi,
sehingga jenis wisata bahari yang dikembangkan di Kabupaten Lombok Timur
harus berupa ekowisata. Kondisi wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok yang
saat ini cenderung bersifat wisata masal, seharusnya memperhatikan kapasitas
maksimum jumlah wisatawan yang dapat ditampung oleh lokasi wisata, sehingga
untuk kepentingan ini diperlukan suatu kajian mengenai daya dukung dan daya
tampung lokasi-lokasi yang akan dijadikan sebagai DTW. Jumlah wisatawan yang
datang juga harus disesuaikan dengan kapasitas penginapan, dan kapasitas sarana
prasarana lainnya.

Analisis Faktor Internal

Mengacu pada pendapat Cooper et al., (1995) dalam Darsana (2011) tentang
unsur-unsur yang menetukan keberhasilan sebagai daerah tujuan wisata, maka
beberapa parameter yang dipergunakan dalam analisis faktor internal adalah daya
tarik wisata (attraction), aksesibilitas (accessibility), fasilitas/kenyamanan
(amenities), jasa pendukung yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta
(ancillary service). Masing-masing parameter terdiri dari beberapa indikator yang
akan dianalisis untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan lingkungan internal.
Untuk dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan Kawasan Selatan Pulau
Lombok, maka dilakukan pembobotan dan penilaian (rating) terhadap masing-
masing indikator. Langkah selanjutnya adalah mengalikan bobot dengan rating
sehingga memperoleh nilai total. Nilai total ini menunjukkan bagaimana Kawasan
Selatan Pulau Lombok bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya.

Pembobotan Analisis Faktor Internal


Analisis mengenai faktor internal dimulai dengan melakukan pembobotan
dan pemeringkatan terhadap faktor-faktor kekuatan dan kelemahan daya tarik
wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Pembobotan diisi oleh informan
dengan jumlah 2 orang yang merupakan orang dengan kompetensi pada bidang
51

pengembangan daerah tujuan wisata, yaitu dari pihak pemerintah (Dinas


Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat) dan pihak akademisi
setempat. Berdasarkan jawaban para informan, diperoleh jawaban yang sama
terkait dengan pemberian nomor urut bobot dari masing-masing indikator.
Pembobotan responden terhadap masing-masing indikator lingkungan
internal Kawasan Selatan Pulau Lombok dapat dilihat dalam Tabel 9.
Tabel 9 Pembobotan faktor internal kawasan selatan pulau
Lombok

Faktor Strategi Internal Bobot


1. Daya Tarik/Attraksi (Attraction)
a. Keindahan alam 0,068
b. Keanekaragaman flora dan fauna 0,060
c. Kebersihan dan kelestarian lingkungan 0,059
2. Aksesibilitas (Accesibility)
a. Terletak di tiga kabupaten 0,061
b. Kedekatan dengan pelabuhan 0,055
c. Kualitas jalan menuju daya tarik 0,063
d. Ketersediaan angkutan wisata 0,064
3. Kenyamanan (Amenities)
a. Sarana pariwisata 0,067
b. Tempat parkir 0,066
c. Toilet 0,065
d. Warung dan pedagang kaki lima 0,056
4. Ancillary Services
a. Pengelola daya tarik 0,062
b. Kualitas pelayanan 0,058
c. Promosi 0,070
d. Tourist Information Centre 0,069
e. Aturan (code of conduct) 0,057
Jumlah 1,000

Informan berpendapat bahwa yang memperoleh bobot tertinggi pertama dan


sangat penting adalah pada indikator promosi dengan bobot 0,070 dan indikator
tourist information center memperoleh bobot tertinggi kedua dan sangat penting
yaitu 0,069. Hal ini dianggap sangat penting mengingat bahwa daya tarik wisata
yang ada di Kawasan Selatan Pulau Lombok saat ini belum dikenal sehingga perlu
adanya promosi secara menyeluruh dan didukung indikator tourist information
center sebagai penunjuk informasi kepada wisatawan tentang keberadaan daya
tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Indikator keindahan alam dan sarana pariwisata memiliki urutan bobot yang
ketiga dan keempat, masing-masing mendapatkan bobot 0,068 dan 0,067.
Informan berpendapat bahwa indikator keindahan alam merupakan indikator
terpenting karena indikator ini dapat mencerminkan keindahan alam Kawasan
Selatan Pulau Lombok yang nantinya akan menjadi daya tarik wisata. Keindahan
alam di Kawasan Selatan Pulau Lombok sudah terbukti dengan adanya kunjungan
wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang banyak mengunjungi Kawasan
Selatan Pulau Lombok yang dikenal dengan keindahan alamnya (pemandangan
52

bawah laut, pantai serta bukit) yang masih alami. Indikator yang penting keempat
yaitu tersedianya sarana dan prasarana pariwisata. Menurut informan bahwa
tersedianya sarana pariwisata dapat memberikan kemudahan bagi para wisatawan
yang ingin berkunjung dalam waktu relatif lama sehingga wisatawan akan merasa
nyaman. Indikator kedekatan daya tarik wisata dengan pelabuhan memperoleh
bobot paling rendah yaitu 0,055 dan indikator ini dianggap cukup penting.
Informan berpendapat bahwa indikator daya tarik wisata dekat dengan pelabuhan
dapat memberi kemudahan bagi para pengunjung untuk mengakses dan
menikmati daya tarik wisata secara langsung. Berikut uraian dari bobot masing-
masing indikator faktor internal:
1. Daya Tarik (Attraction)
Daya tarik wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong
kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Parameter daya tarik
wisata terdiri dari indikator keindahan alam, keanekaragaman flora dan
fauna, kebersihan dan kelestarian lingjungan. Indikator kedua yang juga
mempunyai nilai sama yaitu keaneka ragaman flora dan fauna serta
indikator kebersihan dan kelestarian lingkungan mempunyai bobot
masing-masing 0,060 dan 0,059. Indikator keanekaragaman flora dan
fauna Kawasan Selatan Pulau Lombok juga dianggap penting sebab dapat
menjadi pendukung daya tarik wisata karena di Kawasan Selatan Pulau
Lombok juga terdapat beragam jenis flora dan fauna seperti adanya fauna
laut yang tergolong langka. Indikator kebersihan dan kelestarian
lingkungan di Kawasan Selatan Pulau Lombok juga dianggap penting
karena dengan terjaminnya kebersihan lingkungan akan memberikan rasa
nyaman kepada wisatawan, sehingga ada kemungkinan wisatawan akan
berkunjung kembali.
2. Aksesibilitas (Accessibility)
Aksesibilitas adalah semua yang dapat memberi kemudahan bagi
wisatawan untuk berkunjung ke Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Indikator yang dinilai adalah terletak di tiga Kabupaten (Lombok Barat,
Lombok Tengah, dan Lombok Timur), kedekatan daya tarik dengan
pelabuhan, kualitas jalan menuju daya tarik, ketersediaan angkutan wisata.
Indikator yang mempunyai bobot tinggi (ranking pertama) adalah
ketersediaan angkutan wisata dengan bobot 0,064. Sebagian besar
responden berpendapat bahwa indikator ini merupakan indikator
terpenting karena melihat keinginan para wisatawan yang mengujungi
Kawasan Selatan Pulau Lombok setiap tahunnya meningkat, maka
diperlukan angkutan wisata yang memadai sehingga akses wisatawan tidak
terhambat, hal ini harus didukung juga dengan kualitas jalan raya yang
merupakan indikator sangat penting berikutnya (0,063) karena indikator
ini berpengaruh terhadap kelancaran dan kenyamanan pengunjung menuju
kawasan daya tarik wisata tersebut.
3. Fasilitas/Kenyamanan (Amenities)
Fasilitas yang dimaksud adalah segala fasilitas dan sarana
pendukung yang memberikan kenyaman bagi wisatawan selama
berkunjung dan beraktifitas di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Fasilitas
yang tersedia pada suatu daya tarik dapat mempengaruhi kepuasan
wisatawan, lama tinggal, besarnya pengeluaran dan kedatangan berulang
53

(repeater guest). Beberapa fasilitas yang mempengaruhi kepuasan


wisatawan berkunjung ke Kawasan Selatan Pulau Lombok dapat
diidentifikasi dalam beberapa indikator antara lain, ketersediaan sarana
pariwisata, tempat parkir, toilet, warung dan pedagang kaki lima. Indikator
tempat parkir dan toilet merupakan indikator penting dengan nilai masing-
masing 0,066 dan 0,065. Sebagian besar responden berpendapat bahwa
tersedianya tempat parkir dan toilet dapat mempermudah wisatawan yang
berkunjung dengan kendaraan bermotor, kedua indikator ini sangat
diperlukan oleh wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Selatan Pulau
Lombok, serta indikator warung dan pedagang kaki lima memperoleh
bobot paling rendah yaitu 0,056.
4. Ancillary Services
Ancillary services yang dimaksud adalah jasa pendukung yang
disediakan oleh pemerintah maupun swasta termasuk di dalamnya kualitas
pelayanan yang diberikan. Indikator yang dinilai adalah pengelola daya
tarik, kualitas pelayanan, promosi, Tourist Information Center (TIC) dan
aturan. Kualitas pelayanan dan pengelola daya tarik wisata juga
merupakan indikator yang cukup penting dengan memperoleh bobot
masing-masing yaitu 0,070; 0,069; dan dikuti indikator aturan memperoleh
bobot 0,057. Sebagian responden berpendapat bahwa kualitas pelayanan
dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan, hal ini
nantinya sebagai awal keputusan dari wisatawan untuk melakukan
kunjungan kembali serta adannya aturan diharapkan dapat memberikan
iklim pariwisata yang baik.

Penilaian (Rating) Faktor Internal


Penilaian terhadap faktor internal Kawasan Selatan Pulau Lombok
dilakukan oleh 8 orang responden dengan menjawab pilihan dari empat alternatif
nilai, yaitu: sangat baik (nilai 4), baik (nilai 3), kurang baik (nilai 2), dan sangat
tidak baik (nilai 1). Analisis terhadap faktor internal dilampirkan dan hasil
penilaian responden terhadap faktor internal kekuatan kawasan ini ditunjukkan
pada Tabel 10 dan faktor internal kelemahan kawasan pada Tabel 11. Masing-
masing responden memberikan penilaian yang bervariasi, sehingga perhitungan
nilai didasarkan pada nilai rata-rata dari nilai keseluruhan yang diperoleh.
Besarnya nilai rata-rata masing-masing indikator menunjukkan kekuatan dan
kelemahan Kawasan Selatan Pulau Lombok. Faktor kekuatan berada pada rentang
2,51 sampai 4,00 dan faktor kelemahan berada pada rentang 1,00 sampai 2,50.
Sebagian besar responden berpendapat bahwa indikator yang memperoleh
nilai sangat baik pertama adalah keindahan alam dengan nilai 3,500. Menurut para
responden memeliki kekuatan yaitu keindahan alam Kawasan Selatan Pulau
Lombok seperti perbukitan, pantai dengan hamparan pasir putih, keindahan
terumbu karangnya dan air laut jernih yang saat ini sudah dikunjungi oleh
wisatawan. Penilain terhadap masing-masing indikator lingkungan internal
kekuatan Kawasan Selatan Pulau Lombok adalah sebagai berikut:
54

Tabel 10 IFAS faktor kekuatan kawasan selatan pulau Lombok

Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor


1. Daya Tarik/Attraksi (Attraction)
a. Keindahan alam 0,068 3,500 0,238
b. Keanekaragaman flora dan fauna 0,060 2,875 0,173
c. Kebersihan dan kelestarian lingkungan 0,059 2,750 0,162
2. Aksesibilitas (Accesibility)
a. Kedekatan dengan pelabuhan 0,055 2,750 0,151
b. Kualitas jalan menuju daya tarik 0,063 2,625 0,165
c. Ketersediaan angkutan wisata 0,064 3,000 0,192
3. Kenyamanan (Amenities)
Tempat parkir 0,066 2,625 0,173
4. Ancillary Services
Aturan (code of conduct) 0,057 3,125 0,178
Jumlah 0,492 1,433

1. Daya Tarik Wisata (Attraction)


Penilaian responden terhadap daya tarik Kawasan Selatan Pulau
Lombok menunjukkan bahwa ketiga indikator daya tarik merupakan
kekuatan dengan perolehan nilai sangat baik dan baik. Indikator
keanekaragaman flora dan fauna dengan nilai baik dengan nilai 2,875 yang
dianggap merupakan kekuatan dalam pengembangan pariwisata Kawasan
Selatan Pulau Lombok. Indikator keanekaragaman flora dan fauna seperti
berbagai jenis ikan Pari, Penyu, Kerbau Lokal, dan pembudidayaan biota
laut. Indikator yang terakhir adalah kebersihan dan kelestarian lingkungan
dimana masyarakat Kawasan Selatan Pulau Lombok sangat aktif dalam
menjaga kelestarian lingkungan.
2. Aksesibilitas (Accessibility)
Parameter aksesibilitas memiliki beberapa indikator yang dinilai
sangat baik dan baik. Indikator yang mempunyai nilai sangat baik pertama
yaitu ketersediaan angkutan wisata memperoleh nilai 3,000 dan kedekatan
daya tarik dengan pelabuhan dengan besar nilai 2,750 serta kualitas jalan
menuju daya tarik dengan nilai 2,625 dimana kedua indikator ini
memperoleh nilai baik Indikator sangat baik adalah ketersediaan angkutan
wisata yang memadai di Kawasan Selatan Pulau Lombok yaitu adanya
travel dan jasa penyewaan kendaran pribadi (rent car), selain itu pada
kawasan ini juga sudah tersedia angkutan transportasi laut seperti perahu
tradisional dan speed boat.
3. Fasilitas/Kenyamanan (Amenities)
Penilaian responden terhadap parameter fasilitas/kenyamanan
pariwisata menunjukkan bahwa indikator-indikator yang terdapat pada
parameter fasilitas atau kenyamanan yang termasuk kekuatan adalah
indikator tempat parkir, dengan perolehan nilai sebesar 2,625. Responden
berpendapat bahwa pada beberapa lokasi daerah tujuan wisata di Kawasan
Selatan Pulau Lombok sudah menyediakan lahan parkir, biasanya
memanfaatkan lahan-lahan kosong milik warga dan dikelola oleh pihak
masyarakat setempat.
55

4. Ancillary Services
Indikator yang menjadi kekuatan dalam pengembangan daya tarik
wisata yaitu aturan dengan besar nilai 3,125, sebagian besar responden
berpendapat bahwa aturan yang sangat baik akan memberikan jaminan
terhadap pengembangan pariwisata yang dalam hal ini pengembangannya
memperhatikan keberlanjutan dari aspek lingkungan, ekonomi dan sosial
budaya.
Indikator yang merupakan kelemahan dalam pengembangan pariwisata
adalah tourist information centre dengan nilai 1,875. Sebagian besar responden
berpendapat bahwa indikator tourist information center yang belum tersedia
karena belum bersinerginya pihak masyarakat, dan pihak pemerintah dalam
perencanaan pengembangan pariwisata Kawasan Selatan Pulau Lombok. Berikut
penilain terhadap masing-masing indikator lingkungan internal kelemahan:
Tabel 11 IFAS faktor kelemahan kawasan selatan pulau Lombok

Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor


1. Aksesibilitas (Accesibility)
Terletak di tiga kabupaten 0,061 2,250 0,137
2. Kenyamanan (Amenities)
a. Sarana pariwisata 0,067 2,125 0,142
b. Toilet 0,065 2,375 0,154
c. Warung dan pedagang kaki lima 0,056 2,250 0,126
3. Ancillary Services
a. Pengelola daya tarik 0,062 2,125 0,132
b. Kualitas pelayanan 0,058 2,125 0,123
c. Promosi 0,070 2,375 0,166
d. Tourist Information Centre 0,069 1,875 0,129
Jumlah 0,508 1,111

1. Aksesibilitas (Accessibility)
Indikator terletak di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, dan
Lombok Timur memperoleh nilai paling rendah yaitu 2,250 dimana
indikator ini merupakan kelemahan yang ada di Kawasan Selatan Pulau
Lombok mengingat akses menuju daya tarik wisata mengalami hambatan
karena belum tersedianya akses jalan yang layak. Kurang bersinerginya
pemerintah kabupaten merupakan kelemahan terbesar dalam proses
pengembangan daya tarik wisata pada Kawasan Selatan Pulau Lombok.

2. Fasilitas/Kenyamanan (Amenities)
Penilaian responden terhadap parameter fasilitas/kenyamanan
pariwisata menunjukkan bahwa indikator-indikator yang terdapat pada
parameter fasilitas atau kenyamanan hampir semuanya merupakan
kelemahan. Indikator toilet dan pedagang kaki lima masing-masing
memperoleh besar nilai yaitu 2,375 dan 2,250. Kemudian diikuti indikator
sarana pariwisata dengan nilai paling rendah yaitu 2,125. Ketiga indikator
ini merupakan kelemahan. Responden berpendapat bahwa masih susahnya
mencari toilet, tempat makan yang nyaman dan sarana pariwisata lainnya
56

yang mampu melengkapi keinginan wisatawan. Masih sangat kurangnya


sarana pariwisata, sarana yang dimaksud seperti akomodasi (tempat
penginapan) dan fasiltas penunjang pariwisata lainnya. Hal ini dibuktikan
tidak hanya dengan pendapat responden namun juga dengan observasi
secara langsung oleh peneliti di lapangan dimana sarana pariwisata masih
sangat minim sekali, bahkan pada beberapa tempat ditemukan tidak
terdapat fasilitas pariwisata sama sekali.
3. Ancillary Services
Indikator yang memperoleh nilai kurang baik dan merupakan
kelemahan yaitu, pengelola daya tarik dan kualitas pelayanan memperoleh
nilai 2,125, kemudian diikuti indikator promosi yang memperoleh nilai
2,375. Indikator promosi masih dianggap lemah hal ini disebabkan daya
tarik wisata yang ada di Kawasan Selatan Pulau Lombok belum diketahui
oleh para wisatawan. Sedangkan untuk indikator pengelola daya tarik dan
kualitas pelayanan menjadi faktor kelemahan akibat efek domino yang
ditimbulkan oleh tidak adanya sarana pariwisata, hal ini tentu saja
berdampak pada tidak adanya pengelolaan dan pelayanan pada daerah
tujuan wisata tersebut.
Analisis selanjutnya adalah menjumlahkan hasil perkalian dari bobot
dengan rating dari masing-masing parameter dan indikator yang ada dalam
matriks Internal Factor analysis summary (IFAS), dimana faktor kekuatan
bernilai positif dan faktor kelemahan bernilai negatif. Berdasarkan skor faktor
kekuatan (Tabel 10) dan skor faktor kelemahan (Tabel 11) menunjukkan bahwa
posisi faktor internal Kawasan Selatan Pulau Lombok secara umum berada pada
posisi kuat yaitu dengan nilai 0,322 (1,433 1,111). Beberapa indikator
menunjukkan masih terdapat kelemahan-kelemahan yang perlu diantisipasi untuk
meningkatkan kunjungan wisatawan dalam rangka pengembangan daerah tujuan
wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok.

Analisis Faktor Eksternal

Analisis faktor eksternal Kawasan Selatan Pulau Lombok diawali dengan


pembobotan faktor eksternal oleh responden dari pihak pemerintah dan akademisi.
Pembobotan dilakukan terhadap beberapa parameter eksternal yaitu ekonomi,
sosial budaya, lingkungan, pemerintah, kemajuan teknologi, pesaing dan
keamanan. Pembobotan faktor eksternal dilakukan dengan skala 0,00 (tidak
penting) sampai dengan 1,00 (sangat penting), dimana total seluruh bobot harus
sama dengan 1.
Pembobotan Faktor Eksternal
Berdasarkan pendapat informan dari pihak pemerintah dan pihak akademis
yang memiliki kompetensi pada bidang pengembangan wisata, diketahui bahwa
pembobotan terhadap lingkungan eksternal Kawasan Selatan Pulau Lombok yang
memperoleh bobot tertinggi adalah pada indikator informasi teknologi. Kemajuan
teknologi bidang informasi memperoleh bobot 0,090 dimana dari informasi
wisatawan dapat mengetahui tentang keadaan Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Informasi sangat penting bagi wisatawan seperti informasi keberadaan daya tarik
wisata. Kemajuan informasi seperti internet dan jaringan telepon dapat
57

mempermudah wisatawan untuk mengakses terlebih dahulu sebelum melakukan


kunjungan ke daerah tujuan wisata dan indikator ini dinilai sangat penting dalam
pemgembangan pariwisata Kawasan Selatan Pulau Lombok. Pembobotan
responden terhadap masing-masing indikator lingkungan eksternal Kawasan
Selatan Pulau Lombok dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 12 Pembobotan faktor eksternal kawasan selatan
pulau Lombok

Faktor Strategi Eksternal Bobot


1. Ekonomi
a. Kondisi ekonomi global 0,084
b. Kondisi ekonomi nasional 0,081
2. Sosial Budaya
Peran serta masyarakat dalam melestarikan 0,088
budaya
3. Lingkungan
a. Global warming 0,065
b. Kesadaran masyarakat dalam menjaga 0,086
kelestarian lingkungan
4. Politik dan Pemerintah
a. Kebijakan pemerintah dalam 0,085
pengembangan pariwisata
b. Kondisi politik global 0,080
c. Kondisi politik nasional 0,082
d. Keamanan kawasan selatan Pulau 0,089
Lombok
5. Kemajuan Teknologi
a. Informasi 0,090
b. Transportasi 0,087
6. Daya Saing
Daya saing dengan daya tarik wisata sejenis 0,083
Jumlah 1,000

Indikator keamanan Kawasan Selatan Pulau Lombok merupakan indikator


sangat penting kedua dengan bobot 0,089. Indikator ini dinilai penting mengingat
kondisi keamanan Kawasan Selatan Pulau Lombok merupakan salah satu alasan
wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata. Indikator global warming
memperoleh bobot paling rendah yaitu 0,065 dan sebab informan berpendapat
bahwa indikator ini kurang dianggap penting namun dengan adanya isu
pemanasan global diharapkan pemerintah dan masyarakat menjaga serta
memperhatikan lingkungannya agar tetap lestari sehingga dapat diwariskan
terhadap generasi mendatang. Hal yang perlu diwaspadai adalah perilaku investor
yang tidak ramah lingkungan dan cenderung memanfaatkan sumber daya alam
yang berlebihan untuk memperoleh keuntungan sehingga dapat merusak
lingkungan.
1. Ekonomi
Hasil pembobotan indikator ekonomi menunjukan bahwa kondisi
ekonomi global memiliki pengaruh penting pertama dengan bobot 0,084
58

dan kondisi ekonomi nasional memiliki pengaruh penting kedua dengan


bobot 0,081. Meskipun indikator ekonomi global juga memeliki pengaruh
yang penting terhadap jumlah kunjungan wisatawan asing, namunn
kondisi ekonomi nasional yang positif, tingkat kunjungan wisatawan
domestik juga mampu memberikan dampak yang baik khususnya dalam
bidang ekonomi terhadap daya tarik wisata yang dikunjungi.
2. Sosial Budaya
Pembobotan parameter sosial budaya peran serta masyarakat dalam
melestarikan budaya merupakan indikator penting dengan bobot 0,088.
Indikator peran serta masyarakat dalam melestarikan budaya menjadi
indikator penting pertama dikarenakan sebagus dan semenarik apapun
kebudayaan dari suatu daerah namun jika tidak dilestarikan dan dijaga
dengan baik maka segala keunikan dan kekhasan dari kebudayaan itu
sendiri perlahan-lahan akan pudar/hilang.
3. Lingkungan
Parameter lingkungan terdiri dari beberapa indikator antara lain
global warming dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian
lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kesadaran
masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan memperoleh bobot
tertinggi yaitu 0,086 dan dinilai penting. Responden berpendapat bahwa
salah satu yang menjadi daya tarik wisatawan dalam melakukan
kunjunggan ke Kawasan Selatan Pulau Lombok adalah lingkungan alam
yang masih alami, tenang dan nyaman.
4. Politik dan Pemerintah
Hasil pembobotan parameter politik dan pemerintah menunjukkan
bahwa indikator yang dinilai sebagai hal penting kedua yaitu kebijakan
pemerintah dalam pengembangan pariwisata dengan bobot 0,085.
Responden berpendapat bahwa pengembangan pariwisata di Kawasan
Selatan Pulau Lombok dalam hal penentuan kebijakan harus betul-betul
diperhatikan dan dinilai dari berbagai sudut pandang yang sesuai dengan
keadaan di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Indikator kondisi politik
nasional memperoleh bobot yaitu 0,082 dan kondisi politik global dengan
bobot 0,080 serta sebagai hal penting ketiga. Responden berpendapat
bahwa semakin kondusifnya politik nasional dan politik global mendorong
orang untuk berpergian karena para wisatawan membutuhkan rasa aman
dan nyaman dalam perjalanan menuju daerah tujuan wisata.
5. Kemajuan Teknologi
Indikator ketersediaan transportasi dengan bobot 0,087 akan banyak
mempengaruhi orang untuk melakukan perjalanan wisata sehingga
indikator ini dinilai penting dalam pengembangan daya tarik wisata.
Ketersediaan tarnsportasi dinilai penting karena transportasi bukan saja
sebagai faktor yang memberikan kenyamanan, juga faktor kecepatan yang
dapat menghemat waktu bagi wisatawan tanpa melupakan faktor
keselamatan penumpang.
6. Daya Saing
Pengembangan daya tarik wisata khusunya di Kawasan Selatan
Pulau Lombok perlu memiliki daya saing lebih dengan daya tarik wisata
sejenis, mengingat beberapa kabupaten yang ada di Provinsi NTB secara
59

umunya juga memiliki potensi dalam pengembangan daya tarik wisata.


Pembobotan indikator daya saing dengan daya tarik wisata sejenis dinilai
penting dengan bobot 0,083.

Penilaian (Rating) Faktor Eksternal


Penilaian terhadap eksternal, seperti halnya penilaian faktor internal,
dilakukan oleh responden yang sama dengan menjawab pilihan dari empat
alternatif nilai untuk masing-masing indikator yaitu sangat baik (nilai 4), baik
(nilai 3), kurang baik (nilai 2) dan tidak baik (nilai 1). Berdasarkan rata-rata dari
nilai yang diperoleh masing-masing indikator menghasilkan peluang dan ancaman
terhadap pengembangan daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Faktor peluang berada pada rentang 2,51 sampai 4,00 dan faktor ancaman berada
pada rentang 1,00 sampai 2,50.
Tabel 13 EFAS faktor peluang kawasan selatan pulau Lombok

Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor


1. Ekonomi
a. Kondisi ekonomi global 0,084 2,625 0,221
b. Kondisi ekonomi nasional 0,081 2,750 0,223
2. Sosial Budaya
Peran serta masyarakat dalam melestarikan 0,088 3,000 0,264
budaya
3. Politik dan Pemerintah
a. Kebijakan pemerintah dalam 0,085 2,625 0,223
pengembangan pariwisata
b. Kondisi politik global 0,080 2,875 0,230
c. Kondisi politik nasional 0,082 2,750 0,226
d. Keamanan kawasan selatan Pulau 0,089 3,500 0,312
Lombok
4. Kemajuan Teknologi
Transportasi 0,087 2,625 0,228
5. Daya Saing
Daya saing dengan daya tarik wisata 0,083 2,875 0,239
sejenis
Jumlah 0,759 2,164

Dari 8 responden sebagain besar berpendapat bahwa penilain terhadap


lingkungan eksternal Kawasan Selatan Pulau Lombok yang memperoleh nilai
tertinggi adalah keamanan Kawasan Selatan Pulau Lombok, indikator ini
merupakan peluang dengan nilai tertinggi yaitu 3,500. Hal ini menunjukkan
bahwa kondisi keamanan Kawasan Selatan Pulau Lombok secara umum hingga
saat ini masih baik dan terkendali karena didukung kerja sama yang baik antara
Polisi dan masyarakat setempat. Di samping itu juga peranan aturan adat (awig-
awig) memiliki andil yang besar dalam keamanan daerah tujuan wisata.
Wisatawan dalam melakukan kunjungan ke daerah tujuan wisata memerlukan rasa
aman dan nyaman sehingga dapat memperpanjang masa tinggal dan adanya
kunjungan berulang.
1. Ekonomi
60

Penilaian terhadap parameter ekonomi menunjukkan bahwa


indikator kondisi ekonomi nasional memperoleh besar nilai 2,750.
Responden berpendapat bahwa stabilnya perekonomian nasional dan
global secara tidak langsung mendorong wisatawan melakukan perjalanan
wisata ke berbagai daerah tujuan wisata. Hal ini didukung oleh perolehan/
pertumbuhan pendapatan, sehingga sangat positif bagi daerah tujuan
wisata seperti Kawasan Selatan Pulau Lombok.
2. Sosial Budaya
Penilaian responden terhadap parameter sosial budaya menunjukkan
bahwa indikator peran serta masyarakat dalam melestarikan budaya
mendapatkan bobot sebesar 3,000. Trend pariwisata akhir-akhir ini
menunjukkan adanya pergeseran minat wisatawan dari wisata
konvensional ke wisata alternatif dan salah satunya adalah wisata
pendidikan (edukasi) dan wisata spiritual. Berkembangnya wisata edukasi
dan wisata spiritual sejalan dengan meningkatnya keinginan orang untuk
mencari informasi langsung yang berasal dari sumbernya, serta ingin
melihat secara langsung baik itu proses budidaya untuk wisata edukasi
maupun melihat tempat bersejarah untuk wisata spiritual.
3. Politik dan Pemerintah
Penilaian terhadap parameter politik dan pemerintah menunjukkan
bahwa indikator kondisi politik global memperoleh nilai 2,875, indikator
kondisi politik nasional dengan nilai 2,750 dan indikator kebijakan
pemerintah dalam pengembangan pariwisata memperoleh nilai 2,625.
Ketiga indikator ini sebagai peluang dalam pengembangan daya tarik
wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Indikator kondisi politik global
dan kondisi politik nasional sama-sama memeliki peluang hal ini
disebabkan oleh kondisi politik yang kondusif. Hal ini dibuktikan dengan
suksesnya pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah secara
langsung pada daerah ini yang berjalan dengan lancar. Tentu saja peristiwa
ini mendapatkan insentif berupa kepercayaan dari dunia luar dan disertai
semakin membaiknya situasi dan kondisi keamanan di Kawasan Selatan
Pulau Lombok.
4. Kemajuan Teknologi
Indikator tranportasi daya tarik wisata memperoleh nilai 2,625 hal
ini terbukti dengan tersedianya angkutan tranportasi daerah yang memadai
serta akses ke Kawasan Selatan Pulau Lombok, hal ini menurut para
responden merupakan peluang pengembangan daya tarik wisata di
kawasan ini.
5. Daya Saing
Penilaian terhadap parameter daya saing menunjukkan bahwa satu-
satunya indikator yang ada yaitu persaingan dengan daya tarik wisata
sejenis merupakan peluang dengan nilai 2,875. Ini disebabkan karena
Kawasan Selatan Pulau Lombok memiliki daya tarik wisata yang khas dan
unik yang tidak ditemukan di daerah lainnya. Hal inilah yang menjadi
daya tarik bagi wisatawan yang memiliki rasa penasaran untuk
mengunjungi daerah ini dan merasakan keunikan dari daya tarik tersebut.
Selanjutnya terdapat indikator global warming yang merupakan ancaman
pertama dengan nilai 1,375. Adanya global warming menyebabkan mencairnya es
61

di kutub utara dan selatan, meningkatkan level permukaan laut, perubahan iklim/
cuaca yang semakin ekstrim, habisnya gletser sumber air bersih dunia, dan
terjadinya peningkatan gelombang panas yang signifikan. Penilaian responden
terhadap masing-masing indikator lingkungan eksternal ancaman Kawasan
Selatan Pulau Lombok adalah sebagai berikut:
Tabel 14 EFAS faktor ancaman kawasan selatan pulau Lombok

Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor


1. Lingkungan
a. Global warming 0,065 1,375 0,089
b. Kesadaran masyarakat dalam menjaga 0,086 2,375 0,204
kelestarian lingkungan
2. Kemajuan Teknologi
Informasi 0,090 2,000 0,180
Jumlah 0,241 0,474

1. Lingkungan
Hasil penilaian parameter lingkungan menunjukkan bahwa semua
indikator merupakan ancaman. Parameter kesadaran masyarakat dalam
menjaga kelestarian lingkungan merupakan ancaman pertama dengan nilai
2,375. Hal tersebut disebabkan tekanan hidup yang cukup berat dimana
kebanyakan masyarakat yang memiliki penghasilan perekonomian yang
sangat minim sehingga mereka berpendapat untuk menjaga kelestarian
lingkungan diserahkan kepada pihak pemerintah.
2. Kemajuan Teknologi
Indikator teknologi informasi memperoleh nilai 2,000 hal ini
disebabkan masih minimnya kemajuan teknologi informasi di Kawasan
Selatan Pulau Lombok, sehingga informasi yang didapat sangat lambat
seperti jaringan telepon dan tempat internet yang belum memadai.
Indikator ini menurut para reponden merupakan ancaman terhadap
pengembangan daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok.
Analisis terhadap faktor eksternal dapat dilihat pada lampiran 2 . Analisis
selanjutnya adalah memasukan bobot masing-masing indikator dari tiap-tiap
parameter pada lingkungan eksternal sesuai dengan pembobotan dan penilaian
responden. Skor analisis faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 13 dan 14.
Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah skor yang diperoleh dari
hasil penjumlahan antara skor penilaian faktor eksternal peluang dan ancaman
yaitu 1,691 (2,164 0,474). Hasil ini menunjukkan bahwa Kawasan Selatan Pulau
Lombok mempunyai peluang dalam pengembangannya sebagai daya tarik wisata
mengingat skor berada pada rentang nilai dengan kategori berpeluang.
Pengembangan daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok tidak terlepas
dari adanya potensi fisik dan non fisik yang dimiliki oleh kawasan ini. Potensi-
potensi yang ada di Kawasan Selatan Pulau Lombok berupa daya tarik wisata
alam, wisata bahari, wisata budaya, wisata religi dan spiritual yang tersebar di tiga
kabupaten yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Pada ketiga
kabupaten tersebut belum tersedianya fasilitas penunjang pariwisata seperti, hotel,
vila, dan restauran serta belum adanya badan pengelola pariwisata namun ada
kunjungan wisatawan yang relatif masih sedikit.
62

Strategi Pengembangan DTW Kawasan Selatan Pulau Lombok

Dalam membuat strategi pengembangan daerah tujuan wisata di Kawasan


Selatan Pulau Lombok, diawali dengan menguraikan faktor-faktor internal dan
eksternal. Faktor-faktor internal dianalisis dengan menggunakan matriks IFAS
dan faktor-faktor eksternal dianalisis dengan menggunakan matriks EFAS. Dari
penggabungan hasil kedua matriks (IFAS dan EFAS) diperolehlah strategi yang
bersifat umum (grand strategy). Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan
matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) untuk
merumuskan strategi alternatifnya. Matriks SWOT menghasilkan empat sel
kemungkinan strategi khusus pengembangan yang sesuai dengan potensi serta
kondisi internal dan eksternal yang dimiliki daya tarik wisata Kawasan Selatan
Pulau Lombok. Dari setiap strategi khusus yang dihasilkan dapat dijabarkan atau
diturunkan berbagai macam pengembangan daya tarik wisata di Kawasan Selatan
Pulau Lombok.
Berdasarkan hasil analisis terhadap faktor internal dan eksternal Kawasan
Selatan Pulau Lombok maka diperoleh total skor faktor internal Kawasan Selatan
Pulau Lombok 0,322 dan total skor faktor eksternal Kawasan Selatan Pulau
Lombok 1,691. Selanjutnya total skor yang diperoleh dimasukkan ke dalam
Matrik Internal Eksternal (IE) berupa diagram empat sel sehingga dapat
ditentukan strategi umum (Grand Strategy) pengembangan daya tarik wisata
Kawasan Selatan Pulau Lombok, seperti dalam Gambar 8.
Matrik Internal Eksternal (IE) menunjukkan bahwa pertemuan antara nilai
lingkungan internal dan lingkungan eksternal berada pada kuadran 1 yakni strategi
pertumbuhan. Strategi yang dapat diterapkan pada kuadran 1 adalah strategi
penetrasi pasar dan pengembangan produk wisata. Strategi penetrasi pasar adalah
strategi memperluas pasar (market share) suatu produk atau jasa melalui usaha-
usaha pemasaran yang lebih besar (Umar 2005). Dalam hal ini Pemerintah Daerah
harus membangun infrastruktur dan memanfaatkan agen-agen perjalanan wisata
untuk bekerjasama dalam pengembangan Kawasan Selatan Pulau Lombok untuk
menciptakan destinasi-destinasi wisata yang baru. Potensi-potensi yang dimiliki
Kawasan Selatan Pulau Lombok dapat dijadikan sebagai destinasi wisata baru,
dimana Pemerintah Daerah harus membangun infrastruktur yang belum tersedia
dan merevitalisasi sarana prasarana yang sudah ada. Untuk agen perjalanan wisata
dapat melakukan ekspansi pasar ke daerah-daerah lainnya baik dalam negeri
ataupun luar negeri untuk mempromosikan destinasi-destinasi wisata yang baru
diciptakan secara masiv.
63

O
Kuadran II Stability Kuadran I Growth
Aggressive Stable
maintenance growth
strategy strategy

1,691
Selective Rapid
maintenance growth
strategy strategy
0,322
W S
Turn around Conglomerate
strategy strategy

Guerelle Concentric
strategy strategy
Kuadran III Survival Kuadran IV Diversifikasi

T Kawasan Selatan Pulau Lombok


Gambar 27 Matrik internal-eksternal

Gambar 8 Analisis SWOT kawasan selatan pulau Lombok

Strategi ini penting dilakukan mengingat selama ini wisatawan yang


berkunjung ke Kawasan Selatan Pulau Lombok sebagian besar adalah wisatawan
mancanegara sehingga perlu dilakukan strategi promosi untuk meningkatkan
kunjungan wisatawan domestik dan juga mancanegara. Strategi pengembangan
produk Kawasan Selatan Pulau Lombok merupakan strategi yang bertujuan agar
perusahaan dapat meningkatkan penjualan dengan cara meningkatkan atau
memodifikasi produk-produk atau jasa-jasa yang telah ada sekarang. Jadi tujuan
strategi ini adalah untuk memperbaiki dan mengembangkan produk-produk yang
sudah ada (Umar 2005).
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik
perhatian, perolehan, pemakaian dan konsumsi dan yang mungkin memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Konsep produk tidak terbatas pada objek
fisik saja namun juga non fisik (jasa), dan sebagai tambahan juga terdapat produk
yang meliputi orang, tempat, organisasi, dan aktifitas.
Berdasarkan kedua pengertian tersebut di atas, maka strategi pengembangan
produk terkait dengan pengembangan daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau
Lombok adalah strategi dalam upaya meningkatkan potensi yang dimiliki yaitu
wisata alam, wisata bahari, wisata spiritual dan religi Kawasan Selatan Pulau
Lombok, baik fisik maupun non fisik dimana di dalamnya mencakup daya tarik,
aksesibilitas, fasilitas dan layanan pendukung lainnya.
64

Strategi Umum Pengembangan DTW Kawasan Selatan Pulau Lombok


Berdasarkan faktor internal dan eksternal pengembangan Kawasan Selatan
Pulau Lombok, maka melalui matrik SWOT akan ditemukan beberapa strategi
pengembangan yang dapat mendukung kelayakan daya tarik wisata di Kawasan
Selatan Pulau Lombok, seperti disajikan pada Gambar 9. Hasil analisis SWOT
yang disajikan, disusun beberapa alternatif pengembangan daya tarik wisata
Kawasan Selatan Pulau Lombok sebagai strategi khusus, yang merupakan opsi-
opsi pengembangan dari Grand Strategy. Beberapa alternatif pengembangan yang
disusun yaitu strategi pengembangan daya tarik wisata, strategi pengembangan
promosi, strategi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan strategi
pengembangan kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Faktor Internal Strengths/Kekuatan (S) Weaknesses/Kelemahan (W)


1. Keindahan alam 1. Terletak di tiga kabupaten
2. Keanekaragaman flora dan 2. Kurangnya sarana pariwisata
fauna dan kurang tersedianya lahan
3. Kebersihan dan kelestarian parker
lingkunngan 3. Masih minimnya fasilitas toilet
4. Kedekatan daya tarik dengan untuk umum
pelabuhan 4. Kurang tertatanya keberadaan
5. Kualitas jalan menuju daya warung dan pedagang kaki lima
Tarik 5. Belum adanya pengelolaan
6. Ketersediaan angkutn wisata daya tarik wisata
7. Tersedianya sarana pariwisata 6. Belum maksimalnya upaya
8. Aturan yang berlaku di promosi
masyarakat lokal (Awig-awig) 7. Rendahnya kualitas pelayanan
8. Belum tersedianya Tourist
Faktor Eksternal Information Center (TIC)
Opportunities/Peluang (O) Strategi (SO) Strategi (WO)
1. Kondisi ekonomi global Strategi yang menggunakan Strategi yang meminimalkan
2. Kondisi ekonomi nasional kekuatan dan memanfaatkan kelemahan untuk memanfaatkan
3. Peran serta masyarakat peluang peluang
melestarikan budaya
4. Kebijakan pemerintah Strategi pengembangan daya Strategi pengembangan promosi
mengembangkan wisata tarik wisata daya tarik wisata
5. Kondisi politik global
6. Kondisi politik nasional
7. Keamanan kawasan
selatan Pulau Lombok
8. Transportasi
9. Kemampuan daya saing
dengan daya tarik wisata
sejenis
Threats/Ancaman Strategi (ST) Strategi (WT)
1. Global Warming Strategi yang menggunakan Strategi yang meminimalkan
2. Kurangnya kesadaran kekuatan untuk mengatasi kelemahan dan menghindari
masyarakat dalam ancaman ancaman
melestarikan lingkungan
3. Rendahnya kemajuan Strategi pengembangan Strategi pengembangan
teknolgi informasi pariwisata berkelanjutan kelembagaan dan SDM

Setiap Gambar
strategi 9yang
Matrik SWOT kawasan
digunakan selatan pulau Lombok
dalam pengembangan daya tarik wisata
dapat diuraikan sebagai berikut:
65

1. Strategi SO (Strength Opportunity) merupakan strategi yang menggunakan


kekuatan untuk memanfaatkan peluang, menghasilkan strategi
pengembangan daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok.
2. Strategi ST (Strength Threat) merupakan strategi yang menggunakan
kekuatan untuk mengatasi berbagai ancaman, menghasilkan strategi
pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.
3. Strategi WO (Weakness Opportunity) merupakan strategi yang
meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang, menghasilkan
strategi pengembangan promosi.
4. Strategi WT (Weakness Threat) merupakan strategi yang meminimalkan
kelemahan dan menghindari ancaman menghasilkan strategi
pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Strategi Khusus Pengembangan DTW Kawasan Selatan Pulau Lombok


Strategi khusus dapat dijabarkan hasil rumusan dari setiap strategi yang
dapat dilihat pada Tabel 15 berikut ini:
Tabel 15 Pengembangan DTW kawasan selatan pulau Lombok

SOStrategi pengembangan 1. Penataan kawasan pariwisata dan


daya tarik wisata kawasan inventarisasi daya tarik wisata
selatan Pulau Lombok 2. Pengembangan sarana dan prasarana
3. Peningkatan keamanan dan
kenyamanan berwisata
ST Strategi pengembangan 1. Peningkatan kualitas lingkungan
pariwisata berkelanjutan 2. Peningkatan kualitas kehidupan sosial
budaya masyarakat lokal
3. Peningkatan perekonomian
masyarakat
WO Strategi pengembangan 1. Promosi
promosi 2. Pengadaan Tourist Information Center
WT Strategi pengembangan 1. Peningkatan sumber daya manusia
SDM 2. Pembentukan kelembagaan pengelola
daya tarik wisata

Strategi dapat dikatakan masih dalam bentuk langkah-langkah umum yang


sangat mengambang dan arahnya belum jelas. Oleh karena itu, sesuai dengan
hirarki perencanaan, maka perumusan strategi khusus perlu dilakukan diikuti oleh
suatu rencana konkrit, yang kelak jika tersedia anggaran dapat direalisasikan
menjadi aksi atau proyek.

Pengembangan dari Strategi SO (Strength Opportunity)


Dari strategi SO (strategi pengembangan daya tarik wisata) dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Penataan kawasan dan inventarisasi daya tarik wisata
Pengembangan produk wisata perlu memperhatikan aspek kekhasan,
keunikan, keaslian dan juga kualitasnya sehingga memicu motivasi dan
ketertarikan wisatawan untuk membeli produk wisata yang dikembangkan
tersebut. Pengembangan produk wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok
66

ini harus juga melihat pada permintaan wisatawan sebagai konsumen.


Berdasarkan hasil analisis terhadap faktor internal dan eksternal, analisis
SWOT, dan memperhatikan jawaban wisatawan terhadap kuisioner yang
diberikan, maka pengembangan strategi yang dihasilkan adalah:
a) Mengelompokkan potensi-potensi daya tarik wisata Kawasan Selatan
Pulau Lombok. Pengelompokkan potensi wisata akan memudahkan
wisatawan untuk menentukan pilihan aktivititas wisata yang
diinginkan. Dari segi pengelolaan pun pengelompokkan produk wisata
berdasarkan jenisnya memudahkan pengelola untuk mengelola dan
mengontrol aktivitas wisata. Potensi-potensi daya tarik wisata di
Kawasan Selatan Pulau Lombok dapat dikelompokkan menjadi dua
produk wisata, yaitu produk wisata alam dan produk wisata spiritual.
Produk wisata alam yang tersedia di pulau ini adalah keindahan pantai
dengan laut yang teduh, pemandangan bawah laut seperti diving dan
snorkeling, perbukitan. Keindahan pantai di Kawasan Selatan Pulau
Lombok dapat dijadikan tempat untuk melakukan aktivitas berjemur,
tracking di tepi pantai sambil menikmati suasana matahari terbenam
berenang, memancing. Pemandangan bawah laut dapat dinikmati
dengan melakukan aktivitas diving dan snorkeling. Kawasan Selatan
Pulau Lombok memiliki banyak diving spot (lokasi penyelaman) yang
menawarkan keindahan terumbu karang dan ikan-ikan karang yang
indah. Untuk produk wisata religi dan spiritual yang ada di Kawasan
Selatan Pulau Lombok adalah terdapatnya masjid tua, ini merupakan
ikon wisata religi dan spiritual di Kawasan Selatan Pulau Lombok
sehingga diharapkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB
menetapkan masjid ini sebagai tempat wisata relegi dan wisata
spiritual.
b) Membuat aktivitas wisata baru yang dapat dijadikan sebagai upaya
pelestarian alam (seperti aktivitas menanam pohon di hutan sambil
camping atau tracking dan menanam terumbu karang sambil diving)
dan pelestarian budaya (seperti membuat festival seni dan budaya).
c) Penetapan daya tarik wisata yang ada di Kawasan Selatan Pulau
Lombok oleh Pemerintah Provinsi NTB dan penataan lokasi wisata
berdasarkan produk wisata. Tujuannya adalah untuk memudahkan
pengelola dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas wisata di
lokasi tersebut.
d) Membuat produk wisata unggulan, yaitu produk wisata bahari dan
wisata spiritual menjadi ikon daya tarik wisata di Kawasan Selatan
Pulau Lombok.
2. Pengembangan Sarana dan Prasarana
Pengembangan sarana dan prasarana wisata di Kawasan Selatan
Pulau Lombok bertujuan untuk menyediakan berbagai sarana dan
prasarana untuk menunjang kegiatan berwisata di daerah ini, antara lain:
a) Pembuatan (pengadaan) fasilitas pengelolaan wisata, seperti: pusat
informasi wisata, pos-pos jaga untuk meningkatkan keamanan dan
kenyaman, pengadaan sarana pemantauan dan komunikasi.
67

b) Pembuatan bangunan peristirahatan (stop over) pada beberapa titik


pada jalur tracking. Bangunan peristirahatan (stop over) yang dibangun
harus mencirikan arsitektur lokal.
c) Pembangunan akomodasi (homestay) dan tempat makan.
Pembangunan akomodasi disatukan dengan rumah penduduk dan
menghindari pembangunan di daerah-daerah konservasi. Pemerintah
daerah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dapat pula
membangun sebuah tempat makan yang kepemilikannya oleh
pemerintah namun pengelolaannya (melalui pendampingan
pemerintah) diserahkan kepada masyarakat lokal.
d) Pengembangan jalan darat. Pengembangan jalan darat sangat
diperlukan untuk mengatasi keterbatasan jangkauan ke berbagai daya
tarik wisata di pulau ini mengingat sarana jalan yang ada hanya diaspal
biasa (lapisan penetrasi) dan diharapkan kedepannya agar jalan
tersebut diperlebar dan di Hot Mix dan pengembangan jalan darat
disesuaikan dengan geografi daerah dan tidak merusak keberadaan
tempat-tempat yang dianggap bersejarah.
e) Penyediaan tempat sampah ramah lingkungan. Tempat sampah yang
dimaksudkan adalah tempat sampah semi permanen yang ditempatkan
diberbagai tempat yang strategis dan dapat diangkat (dipindahkan)
untuk dikumpulkan pada satu TPS (tempat pembuangan sampah)
sementara. Sampah yang telah dikumpulkan dipilah mana yang dapat
digunakan kembali, didaur-ulang sendiri, dan yang tidak dapat didaur-
ulang sendiri. Pemisahan sampah ini bertujuan agar sampah yang tidak
dapat didaur ulang untuk dijual kepada penadah besi tua atau pembeli
plastik bekas. Sedangkan sampah organik yang dapat didaur-ulang,
diolah kembali oleh penduduk setempat menjadi kompos. Hal ini
penting untuk menjaga keberlanjutan dari faktor-faktor alam setempat
seperti air dan tanah di kawasan ini.
f) Pembangunan fasilitas MCK umum di tempat-tempat strategis.
Fasilitas MCK umum yang dibangun harus jauh dari sumber mata air
dan sumur penduduk lokal. Dibuatkan pula tempat penampungan
limbah dan air cucian atau mandi, agar limbah tersebut tidak terserap
tanah. Hal ini berkaitan dengan kualitas air tanah yang akan tercemar
apabila limbah tersebut terserap tanah.
g) Untuk kepentingan jangka panjang, yaitu untuk mengantisipasi
ancaman naiknya permukaan air laut, perlu direncanakan
pembangunan talud untuk melindungi keberadaan kawasan dari abrasi.
h) Menyediakan alat-alat pancing dan penyelaman yang dapat disewakan.
Hal ini penting karena tidak semua wisatawan yang berkunjung ke
Kawasan Selatan Pulau Lombok untuk menikmati wisata bahari
(memancing, diving dan snorkeling) membawa perlengkapan
memancing dan menyelam, sehingga dengan menyediakan dan
menyewakan perlengkapan memancing dan menyelam yang akan
digunakan oleh pengunjung yang datang, penduduk lokal dapat
memperoleh keuntungan dan terjadi pemberdayaan ekonomi
masyarakat.
68

3. Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Berwisata


Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman
kepada wisatawan atau pengunjung yang datang ke Kawasan Selatan
Pulau Lombok. Penjabaran strateginya adalah sebagai berikut:
a) Bekerjasama dengan pihak Kepolisian dalam menjaga keamanan.
b) Mengaktifkan kembali Siskamling (sistem keamanan lingkungan) yang
dimotori oleh penduduk setempat.
c) Bekerjasama dengan pihak terkait untuk membentuk petugas penjaga
pantai (life guard) yang bertugas untuk menjaga pesisir pantai dan juga
laut sekitar pulau.
d) Membuat papan yang berisi susunan tata tertib berwisata (mana yang
boleh dan tidak boleh dilakukan). Hal ini penting untuk menghindari
kemungkinan pertikaian antara penduduk lokal (host) dengan
wisatawan (guest). Pertikaian atau penolakan terhadap wisatawan
biasanya berawal dari perilaku wisatawan yang bertentangan dengan
etika yang berlaku di komunitas lokal. Pembuatan papan yang berisi
susunan tata tertib berwisata bertujuan meminimalkan perilaku negatif
dari wisatawan yang akan berdampak negatif terhadap kehidupan
masyarakat lokal.

Pengembangan dari Strategi ST (Strength Threat)


Dari strategi ST, maka strategi yang dapat dilakukan adalah strategi
pengembangan pariwisata berkelanjutan. Konsep pengembangan berkelanjutan
adalah proses pengembangan kepariwisataan yang tidak mengesampingkan
sumber daya yang dimiliki untuk pengembangan di masa yang akan datang.
Untuk itu pengembangan fasilitas penunjang pariwisata dilakukan dengan
memperhatikan tiga aspek penting yaitu keberlanjutan ekonomi, lingkungan dan
budaya sebagai sumber daya penting dalam pengembangan kepariwisataan.
Pengembangan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Peningkatan Kualitas Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat vital dalam
pengembangan pariwisata. Kerusakan lingkungan yang diakibatkan karena
pariwisata akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk dikembalikan
seperti sediakalanya. Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan
dalam mencegah timbulnya kerusakan atau memelihara kelestarian
lingkungan dengan adanya pariwisata yaitu:
a) Melakukan pengawasan pembuangan sampah di Kawasan Selatan
Pulau Lombok.Wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Selatan Pulau
Lombok tidak hanya memberikan keuntungan bagi daerah ini tetapi
dapat juga memberikan dampak negatif yaitu dengan membuang
sampah tidak pada tempatnya. Oleh sebab itu, upaya yang penting
dilakukan adalah pengawasan yang ketat akan sampah yang ada di
kawasan ini. Berbagai upaya telah dalam penanganan sampah
khususnya di Kawasan Selatan Pulau Lombok baik itu dilakukan oleh
pihak pemerintah maupun swasta, namun hal yang tidak kalah penting
yaitu membangun budaya masyarakat yang ramah lingkungan yang
dapat dilakukan melalui tindakan pengawasan, pembinaan dan
pengelolaan lingkungan hidup baik dari unsur pemerintah maupun
69

masyarakat. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain perlunya


tindakan pemerintah untuk mensosialisasikan Undang-undang tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) kepada masyarakat dan
industri, termasuk larangan dan sangsi bagi siapa saja yang jelas-jelas
melakukan perusakan lingkungan. Adanya tindakan tegas dari
pemerintah terhadap industri yang membuang limbahnya ke laut tanpa
proses pengelolaan yang memadai. Mengadakan berbagai penyuluhan
kepada masyarakat dalam upaya membangun dan meningkatkan
kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya ramah lingkungan.
Penyuluhan perlu dilakukan secara terus-menerus secara langsung
maupun tidak langsung melalui media masa baik cetak maupun
elektronik. Membangun sistem daur ulang sampah organik dan non
organik sehingga dapat mengurangi pencemaran.
b) Pemeliharaan dan reboisasi. Secara umum pemeliharaan diharapkan
dilakukan secara berkelanjutan dan efektif artinya menyediakan sarana
penunjang untuk menjaga kebersihan lingkungan seperti tempat
sampah organik dan non organik. Kerja bakti atau gotong royong dapat
dilakukan oleh masyarakat atau stakeholder lainnya merupakan sebuah
bentuk tanggung jawab masyarakat pada alam. Hal ini dapat digunakan
sebagai salah satu ajang edukasi pada daya tarik yang ada. Reboisasi
yang dimaksudkan adalah memberikan peremajaan dan penanaman
kembali pada lahan atau pohon yang telah mengalami kerusakan.
2. Peningkatan Kualitas Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat
Kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Kawasan Selatan Pulau
Lombok harus dapat semakin ditingkatkan. Dalam hal ini strategi yang
dapat dilaksanakan untuk mencapai hal tersebut adalah sebagai berikut:
a) Peningkatan budaya lokal menjadi salah satu daya tarik. Keberlanjutan
dan keberlangsungan budaya menjadi sebuah keharusan untuk tetap
pula menjaga keberlanjutan pariwisata. Budaya yang dimaksudkan
adalah selain tradisi dan adat adalah sikap dan tingkah laku masyarakat
Kawasan Selatan Pulau Lombok yang sangat ramah dalam menerima
kunjungan dari wisatawan manapun.
b) Penyesuaian aturan kehidupan adat istiadat masyarakat dengan
perkembangan waktu. Kehidupan sosial masyarakat Kawasan Selatan
Pulau Lombok diatur dalam awig-awig disetiap Desa Adat. Aturan ini
sudah semestinya disesuaikan dengan perkembangan jaman namun
tidak mengubah nilai dasar dari adat-istiadat tersebut. Dalam artian
kehidupan sosial yang diatur dalam adat-istiadat tersebut tidak lagi
mengatur secara ekstrem atau otoriter namun semakin fleksibel demi
perkembangan kehidupan sosial masyarakat Kawasan Selatan Pulau
Lombok pada umumnya.
3. Peningkatan Perekonomian Masyarakat
Peran serta masyarakat dapat dengan adanya manfaat yang diperoleh
dari pengembangan daya tarik wisata baik secara langsung maupun tidak
langsung melalui terbukanya kesempatan kerja dan usaha jasa wisata yang
pada akhirnya akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Manfaat yang dirasakan masyarakat terhadap pengembangan
kepariwisataan akan menggugah keterlibatan masyarakat sehingga mereka
70

mau ikut berperan di dalamnya, baik secara aktif maupun pasif.


Pengembangan daya tarik wisata diharapkan memberikan dampak positif
terhadap peningkatan perekonomian masyarakat setempat. Pemerintah dan
pengelola daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok harus dapat
memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai
usaha guna meningkatkan perekonomian masyarakat serta mendukung
pengembangan daya tarik wisata di kawasan ini. Beberapa hal kiranya
dapat dilakukan antara lain:
a) Pemerintah membantu memberikan kemudahan untuk mendapatkan
pinjaman modal usaha kepada masyarakat yang ingin membuka usaha.
Hal ini agar secara tidak langsung dapat merangsang minat masyarakat
untuk berwirausaha khususnya kepada masyarakat yang tidak memiliki
pekerjaan tetap.
b) Pemerintah dan para pelaku pariwisata bekerja sama untuk
memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai
usaha apa saja yang bisa dilakukan untuk menangkap peluang yang
ada, yaitu bisa dengan membuka usaha art shop, rumah-rumah makan
yang lebih profesional baik itu tempat.
c) Memberikan pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat agar mereka
dapat menjadi pemandu/guide bagi wisatawan yang datang dan
berbagai peluang lainnya yang perlu digali secara terus-menerus
namun tetap memperhatikan aspek keberlanjutan sumber daya.

Pengembangan dari Strategi WO (Weakness Opportunity)


Tujuan dari strategi pemasaran adalah untuk memasarkan produk-produk
wisata yang terdapat di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Strategi yang dihasilkan
adalah:
1. Promosi.
Promosi dilakukan dengan melihat tipe wisatawan dan minat
wisatawan yang akan menjadi terget pasar. Hal ini didasarkan atas jenis
pariwisata yang tersedia di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Promosi
dilakukan dengan upaya-upaya yaitu promosi kepada biro-biro perjalanan
wisata dan promosi melalui hotel-hotel serta promosi melalui Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Promosi
yang dilakukan pihak pemerintah dapat berupa pencetakan brosur, booklet
dan sejenisnya serta membuat calender of event yang tepat dan lengkap.
Memperkenalkan dan mempromosikan produk wisata di Kawasan Selatan
Pulau Lombok melalui event-event penting seperti Festival Bau Nyale
serta aktif mengikuti pameran pariwisata dan melakukan promosi melalui
media elektronik seperti internet, televisi, dan stasiun radio yang dapat
dijangkau di seluruh Indonesia, seperti RRI nasional, dan radio swasta
radio swasta serta menyiapkan bahan-bahan promosi, seperti iklan, brosur,
booklet.
2. Penyediaan Tourist Information Center (TIC)
Penyediaan Tourist Information Center (TIC) sebagai salah satu
solusi untuk membantu wisatawan dalam mencari segala informasi
kepariwisataan khususnya kepariwisataan Kawasan Selatan Pulau
Lombok. Selain memberikan pelayanan informasi kepada wisatawan dan
71

masyarakat, keberadaan dari TIC ini juga membantu para pengusaha


kepariwisataan dalam mempromosikan produk mereka dengan menaruh
brosur-brosur yang akan didistribusikan kepada wisatawan yang akan
berkunjung ke TIC.

Pengembangan dari Strategi WT (Weakness Threat)


Dari strategi WT, strategi yang dirumuskan yaitu Pengembangan
Kelembagaan dan Peningkatan SDM di Bidang Pariwisata. Tujuan dari strategi
pengembangan kelembagaan adalah untuk membentuk lembaga pengelola
pariwisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok. Strategi peningkatan SDM di
bidang pariwisata bertujuan untuk meningkatkan SDM masyarakat lokal di bidang
pariwisata dan menciptakan kondisi sadar wisata. Hal ini penting karena
keberlanjutan daya tarik wisata ditentukan oleh peran serta masyarakat lokal
dalam menjaga dan mengelola daya tarik wisata di tempat mereka. Dengan
demikian strategi yang dihasilkan meliputi:
1. Pembentukan kelembagaan pengelola pariwisata di Kawasan Selatan
Pulau Lombok. Pemerintah berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi
kebutuhan pengembangan pariwisata di kawasan ini. Pemerintah juga
berperan sebagai regulator yang membantu masyarakat untuk membuat
regulasi berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan daya tarik
wisata di kawasan ini.
2. Kelembagaan pariwisata yang telah dibentuk bekerja sama dengan pihak
terkait yang berkompeten untuk membuat beberapa peraturan mengenai
pengelolaan daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok, seperti:
a) Pengaturan retribusi harus jelas misalnya jumlah dana yang
dikumpulkan dari tamu dan speed boat dan kapal wisata.
b) Peraturan yang berisi kode etik bagi wisatawan, pengelola dan pelaku
usaha yang sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya dan tradisi
setempat.
c) Pengaturan tentang pemberian insentif yang diperoleh untuk keperluan
konservasi dan pemerataan pendapatan bagi seluruh masyarakat,
misalnya dana yang diperoleh baik dari dana retribusi dan sumbangan
lainnya harus dibagikan pada masyarakat dan pembuatan Morin Bay
yang berfungsi untuk mengikat jangkar speed boat agar tidak menaruh
jangkar di sembarang tempat, karena dapat menyebabkan ekosistem
terumbu karang rusak.
3. Pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM pariwisata
masyarakat di kawasan ini melalui pembinaan yang dilakukan oleh
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, swasta, dan lembaga swadaya
masyarakat. Pelatihan dan pendidikan yang dapat diberikan adalah:
a) Pendidikan dan pelatihan bahasa asing, seperti bahasa Jepang dan
Inggris.
b) Pendidikan dan pelatihan pemandu wisata umum dan pemandu wisata
khusus seperti pemandu diving.
c) Pendidikan dan pelatihan pengelolaan keuangan dan manajemen
pariwisata.
d) Pendidikan dan pelatihan pembuatan souvenir dan cinderamata.
e) Pendidikan dan pelatihan kuliner.
72

4. Melakukan penyuluhan kepariwisataan (sadar wisata) agar penduduk


masyarakat Kawasan Selatan Pulau Lombok mengerti dan dapat menerima
pengembangan pariwisata di pulau ini.
5. Meningkatkan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan dan
pelatihan pariwisata untuk mengembangkan SDM penduduk lokal di
bidang pariwisata.
6. Bekerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi lokal untuk melakukan
penelitian-penelitian terkait dengan pelestarian (konservasi alam) di
kawasan ini, seperti penelitian dan pengembangan terumbu karang.

Ikhtisar Hasil Penelitian

Kawasan Selatan Pulau Lombok telah menjadi daya tarik pariwisata pada
satu dekade terakhir. Gejala meningkatnya kunjungan wisatawan ini jika tidak
diiringi dengan pengelolaan yang baik maka dapat menjadi suatu ancaman bagi
kelestarian lingkungan di Pulau Lombok. Beberapa masalah kewilayahan yang
muncul di Pulau Lombok adalah belum terlihatnya pemerataan pembangunan
sarana prasarana penunjang kegiatan wisata yang dilakukan oleh banyak pihak,
baik oleh Pemerintah, Swasta, maupun masyarakat. Oleh karena itu perlu disusun
suatu strategi pengelolaan pariwisata yang mampu mengakomodasi kepentingan
berbagai pihak di atas dengan tetap menjaga keseimbangan dan pemerataan
pembangunan di Pulau Lombok.
Dengan memperhatikan sektor-sektor pendukung pariwisata seperti sektor
industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor jasa-jasa
berdasarkan hasil analisis Location Quotient (LQ) dapat diketahui bahwa
Kawasan Selatan Pulau Lombok masih perlu dikembangkan agar mampu bersaing
secara komparatif. Hasil analisis sektor basis terbaik diperoleh Kabupaten
Lombok Timur karena mengalami peningkatan pada tahun 2013, dan seluruh
sektor pendukung pariwisata berada pada sektor basis. Ini menandakan bahwa
sektor pendukung pariwisata di Kabupaten Lombok Timur dapat menarik sektor-
sektor lainnya untuk ikut berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih baik
lagi bagi PDRB kabupaten.
Berdasarkan hasil Shift-Share Analysis (SSA) dapat diketahui Kabupaten
Lombok Timur sebagai kawasan dengan keunggulan kompetitif dan pergeseran
yang cepat. Hal ini dibuktikan oleh perolehan skor SSA yang lebih besar dari satu
dan merupakan skor tertinggi jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya yang
berada pada Kawasan Selatan Pulau Lombok. Ini berarti bahwa Kabupaten
Lombok Timur lebih potensial untuk dikembangkan karena mampu menarik
sektor-sektor pendukung pariwisata yang berada pada dua kabupaten lainnya.
Dengan demikian penerimaan PDRB pada Kawasan Selatan Pulau Lombok dapat
ditingkatkan, sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan
perekonomian masyarakat di kawasan selatan.
Selanjutnya hasil analisis skalogram, dapat diketahui hirarki wilayah
berdasarkan kelengkapan sarana prasarana di Kawasan Selatan Pulau Lombok
untuk hirarki tertinggi ditempati oleh Kabupaten Lombok Timur. Indeks
Perkembangan Kabupaten (IPK) tertinggi diperoleh Kabupaten Lombok Timur
yang menandakan bahwa sarana prasarana yang telah disediakan oleh pemerintah
73

masih cukup memadai dan masih mampu untuk menampung jumlah kunjungan
wisatawan. Dengan demikian Kawasan Selatan Pulau Lombok yang lebih
potensial untuk dikembangkan yaitu terletak pada Kabupaten Lombok Timur,
tepatnya berada di kawasan Jerowaru.
Dilihat dari kondisi internal berupa faktor-faktor kekuatan dan kelemahan
dari daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok serta kondisi eksternal
berupa faktor-faktor peluang dan ancaman dari daya tarik wisata Kawasan Selatan
Pulau Lombok. Berdasarkan hasil analisis IFAS-EFAS maka dapat diketahui
posisi bisnis dari Kawasan Selatan Pulau Lombok yang potensial untuk
dikembangkan, dalam penelitian ini yang menjadi titik utama pusat
pengembangan pariwisata kawasan selatan diprioritaskan pada daerah Jerowaru,
merujuk pada hasil analisis LQ, SSA, dan Skalogram.
Langkah akhir disusun strategi umum dan strategi khusus yang relevan
berdasarkan keadaan terkini dari kawasan Jerowaru dengan merujuk pada matrik
SWOT. Dalam penelitian ini diketahui bahwa posisi pariwisata di Kawasan
Selatan Pulau Lombok berada di kuadran I yang berarti dalam posisi Kuat
Berpeluang, sehingga posisi kawasan Jerowaru sebagai sektor basis dapat
dioptimalkan agar dapat menarik kawasan Kuta dan Sekotong untuk ikut
berkembang. Dengan demikian akan terjadi pemerataan pembangunan pariwisata
di Pulau Lombok yang selama ini terpusat di kawasan utara. Strategi yang
dirancang untuk pengembangan kawasan Jerowaru meliputi penataan kawasan
pariwisata dan inventarisasi daya tarik wisata serta mengelompokkan potensi-
potensi daya tarik wisata di kawasan tersebut, pengembangan sarana dan
prasarana pariwisata, peningkatan keamanan dan kenyamanan berwisata,
peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan kualitas kehidupan sosial budaya
masyarakat lokal, peningkatan perekonomian masyarakat, promosi baik dengan
pihak pemerintah dan pelaku pariwisata, pengadaan Tourist Information Center,
membentuk lembaga pengelolaan daya tarik wisata, serta meningkatkan kualitas
SDM pariwisata.
74

6 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil penelitian pengembangan wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok


dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan analisis sektor basis bahwa sektor industri pengolahan
(sayuran, hasil laut, makanan tradisional), sektor perdagangan, hotel, dan
restoran, serta sektor jasa-jasa menjadi sektor basis di Kabupaten Lombok
Timur yang dipusatkan di wilayah Jerowaru. Dengan demikian kawasan
ini bisa dijadikan sebagai pusat pelayanan untuk daerah tujuan wisata
lainnya di masing-masing kabupaten dalam pengembangan pariwisata
Kawasan Selatan Pulau Lombok.
2. Hasil analisis matriks IFAS menunjukkan bahwa kondisi internal daya
tarik wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok berada pada posisi kuat yaitu
dengan skor 0,322, sedangkan EFAS menunjukkan posisi lingkungan
eksternal daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok berada pada
posisi berpeluang dengan skor 1,691.
3. Posisi DTW Kawasan Selatan Pulau Lombok berdasarkan analisis SWOT
berada pada kuadran satu (Kuat-Berpeluang), sehingga perlu menerapkan
strategi pertumbuhan (stable growth strategy). Strategi pengembangan
daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau Lombok terdiri atas strategi
umum dan strategi khusus. Strategi umum meliputi strategi penetrasi pasar
(mempromosikan secara masiv) dan pengembangan produk wisata
(membuka daerah tujuan wisata yang baru). Adapun strategi khusus
meliputi penataan kawasan pariwisata dan inventarisasi daya tarik wisata,
pengembangan sarana dan prasarana, serta peningkatan keamanan dan
kenyamanan berwisata.

Saran

Dari hasil pembahasan dan simpulan, maka disarankan beberapa hal berikut:
1. Untuk pihak Pemerintah Provinsi NTB, perlu melakukan perbaikan dan
pengembangan sarana dan prasarana pariwisata di Kawasan Selatan Pulau
Lombok. Perlunya penetapan daya tarik wisata yang ada di Kawasan
Selatan Pulau Lombok dan mengembangkan produk wisata tersebut.
Pengembangan yang dilakukan pemerintah sebaiknya dimulai dengan
perencanaan yang matang dan melalui kajian penelitian serta harus
memperhatikan keberlanjutan ekologis, sosial budaya dan ekonomi
masyarakat Kawasan Selatan Pulau Lombok. Pemerintah Provinsi NTB
perlu mempromosikan dan memperkenalkan potensi daya tarik wisata di
Kawasan Selatan Pulau Lombok kepada pasar wisatawan mancanegara.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerjasama dengan berbagai pihak
untuk membuat event-event seni dan budaya yang diselenggarakan secara
berkala dan terus-menerus, tujuannya adalah agar masyarakat Kawasan
Selatan Pulau Lombok tetap melestarikan seni dan budaya mereka.
Pemerintah memberikan peluang lebih besar lagi bagi masyarakat lokal
75

untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata di tempat


mereka, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, maupun
penerimaan manfaat dan keuntungan. Pengadaan Tourist Information
Center (TIC) di Kawasan Selatan Pulau Lombok.
2. Untuk masyarakat setempat, perlu menjaga dan memelihara sumber daya
alam dan budaya yang merupakan potensi atau modal utama yang dapat
menarik kedatangan wisatawan. Masyarakat bekerjasama dengan
pemerintah untuk menjaga keamanan dan kenyamanan Kawasan Selatan
Pulau Lombok serta tetap melestarikan aturan-aturan adat yang berkaitan
dengan pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam, mempertahankan
kebudayaan dan arsitektur lokal sebagai jati diri dan daya tarik wisata
tersendiri. Mengusulkan kepada pihak legislatif (DPRD) Provinsi NTB
untuk membuat peraturan daerah tentang penetapan, pengembangan dan
pengelolaan daya tarik wisata.
3. Untuk pihak akademisi dan penelitian lanjutan, penelitian ini masih
terbatas pada parameter produk wisata, maka disarankan untuk peneliti
berikutnya untuk meneliti atau menambah parameter lainnya, seperti
parameter pemasaran, parameter pengelolaan, parameter penataan tata
lahan dan parameter sumber daya manusia. Penelitian yang dilakukan
dengan menggunakan parameter tersebut akan melengkapi penelitian ini
dan membuat pengembangan daya tarik wisata Kawasan Selatan Pulau
Lombok lebih komprehensif.
4. Untuk pihak swasta (Hotel, Travel Agent, dan Pramuwisata) agar membuat
dan menjual paket wisata ke Kawasan Selatan Pulau Lombok, dengan
menawarkan potensi-potensi wisata seperti wisata alam, wisata relegi dan
spiritual, wisata budaya dan wisata bahari. Selain itu diharapkan agar
pihak terkait melakukan promosi kepada wisatawan tentang keberadaan
daya tarik wisata di Kawasan Selatan Pulau Lombok.
76

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita R. 2005. Dasar-dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta (ID) : Graha


Ilmu.
Anonim. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1990 Tentang
Kepariwisataan. Jakarta (ID).
Barkauskiene K, Snieska V. 2013. Ecotourism as an Integral Part of Sustainable
Tourism Development. Economics and Management: 18(3):449-456.
[BPS NTB] Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara
Barat Dalam Angka 2007. Mataram (ID): BPS Provinsi NTB.
Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara
Barat Dalam Angka 2014. Mataram (ID): BPS Provinsi NTB.
Cooper et al. 1995. Tourism Principles and Practice. England: Pearson Education
Limited Edinburg Gate Harlow Essex CM20JE.
Damanik J, Weber HF. 2006. Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi.
Yogyakarta (ID) : Puspar UGM dan Andi.
Darsana W. 2011. Strategi Pengembangan Daya Tarik Wisata Kawasan Barat
Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung. [Tesis]. Denpasar (ID) : Program
Pascasarjana Universitas Udayana.
[Disbudpar Loteng] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok
Tengah. 2013. Laporan Dinas. Praya (ID) : Disbudpar Kabupaten Loteng.
[Disbudpar NTB] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara
Barat. 2013. Statistik Kebudayaan dan Pariwisata. Mataram (ID) : Disbudpar
Provinsi NTB.
[Disbudpar NTB] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara
Barat. 2014. Analisa Pasar Wisatawan Nusa Tenggara Barat Tahun 2013.
Mataram (ID) : Disbudpar Provinsi NTB.
Fadillah A, Dewi GT, dan Hardjanto A. 2012. Analysis of Alternative Strategy in
Coastal Tourism Development in Aceh Besar, Indonesia after Tsunami
Disaster. International Journal of Social Science and Humanity, 2(3):206-212.
Ghalib R. 2005. Ekonomi Regional. Bandung (ID) : Pustaka Ramadhan.
Hung K. 2013. Understanding China's Hotel Industry: A SWOT Analysis. Journal
of China Tourism Research, 9(1):81-93.
Idris D. 2014. Strategi Peningkatan Peran Sektor Perikanan terhadap
Perekonomian Wilayah Provinsi Banten. [Tesis]. Bogor (ID) : Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Inskeep E. 1994. Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development
Approach. VNR Tourism and Comercial Recreation Series. New York : Van
Nostrad Reinhold.
Jhingan ML. 2004. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta (ID) : Raja
Grafindo Persada.
[Kemenbudpar] Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI. 2006. Upaya
Industri Pariwisata dalam Menghadapi Facing Uncertainty. Trisakti (ID) :
Internasional Centre For Service Studies.
Linberg. 1998. The Economic Impact of Ecotourism.
http://www.ecotourism.ee/oko/kreg.html.
77

Loomis JB, Walsh RG. 1997. Recreation Economic Decisions: Comparing


Benefits and Costs (2nd ed). State College, PA : Venture Publishing Inc.
Marpaung, Bahar. 2002. Pengantar Pariwisata. Bandung (ID) : Alfabeta.
Nazir M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta (ID) : Ghalia Indonesia.
Oreski D. 2012. Strategy Development by Using SWOT AHP. TEM Journal,
1(4):283-291.
Paturusi SA. 2008. Perencanaan Kawasan Pariwisata. Denpasar (ID) : Udayana
University Press.
Pendit N. 2002. Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta (ID) :
Pradnya Paramiata.
Rangkuti F. 2009. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta (ID) :
Gramedia Pustaka Utama.
Rudita IKP. 2012. Potensi Obyek Wisata dan Keterpaduannya dalam
Pengembangan Kawasan Agropolitan Payangan Kabupaten Gianyar Provinsi
Bali. [Tesis]. Bogor (ID) : Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Rustiadi E, Saefulhakim S, Panuju DR. 2011. Perencanaan dan Pengembangan
Wilayah. Jakarta (ID) : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Salim AM. 2014. Winning in the Tourism Marketing: The Case of Zanzibar
Tourism Destination in Tanzania. International Journal of Innovation and
Applied Studies, 9(3):1011-1020.
Sayyed MRG, Mansoori MS, Jaybhaye RG. 2013. SWOT Analysis of Tandooreh
National Park (NE Iran) for Sustainable Ecotourism. Proceedings of the
International Academy of Ecology and Environmental Sciences, 3(4):296-305.
Sjafrizal. 2012. Ekonomi Wilayah dan Perkotaan. Jakarta (ID) : Raja Grafindo
Persada.
Sekartjakrarini L. 2004. Rencana Strategis Nasional Ekowisata. Jakarta (ID) :
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.
Sihasale DA, Hakim L, Suharyanto A, Soemarno. 2013. The Strategy of Potential
Tourism Development in Namalatu Beach at Nusaniwe Sub District, Ambon
City, Indonesia. Research Inventy: International Journal of Engineering and
Science, 3(1):39-45.
Siswanto A, Moeljadi. 2015. Eco-Tourism Development Strategy Baluran
National Park in the Regency of Situbondo, East Java, Indonesia. International
Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE), 4(4):185-195.
Spillane JJ. 1990. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya. Yogyakarta
(ID): Kanisius.
Suwantoro G. 2004. Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta (ID) : Andi.
Tar H. 2010. Arahan Pengembangan Kawasan Minapolitan Mandeh Kabupaten
Pesisir Selatan Sumatera Barat. [Tesis]. Bogor (ID) : Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor.
Tarigan R. 2007. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Jakarta (ID) : Bumi
Aksara.
Todaro MP. 2004. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta (ID) :
Erlangga.
Ulfah WN. 2015. Arahan dan Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Bahari di
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. [Tesis]. Bogor (ID) : Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Umar H. 2005. Metode Riset Bisnis. Jakarta (ID) : Gramedia Pustaka Utama.
78

Vanhove N. 2005. The Economics of Tourism Destination. London : Elsevier


Butterworth Heinemann.
Vladi E. 2014. Tourism Development Strategies, SWOT Analysis and
Improvement of Albanias Image. European Journal of Sustainable
Development, 3(1):167-178.
Wong KM, Velasamy P, Arshad TNT. 2014. Medical Tourism Destination SWOT
Analysis: A Case Study of Malaysia, Thailand, Singapore and India. SHS Web
of Conferences 12.
Yoeti OA. 2010. Perencanaan Strategis Pemasaran Daerah Tujuan Wisata.
Jakarta (ID) : Pradnya Paramita.
79

LAMPIRAN
80

Lampiran 1. Kuesioner penelitian


Pemberian nomor urut bobot faktor SWOT
Dalam pemberian bobot untuk masing-masing faktor internal dan faktor
eksternal, terlebih dahulu menentukan nomor urut bobot sesuai dengan
karakteristik yang ada, maka dalam hal ini dibuat suatu skor yang diklasifikasikan
sebagai berikut:
1) Untuk faktor internal terdapat 16 sub faktor, dengan nilai bobot mulai dari
0,055 untuk bobot terendah sampai dengan 0,070 untuk bobot tertinggi.
2) Untuk faktor eksternal terdapat 12 sub faktor, dengan nilai bobot mulai dari
0,065 untuk bobot terendah sampai dengan 0,090 untuk bobot tertinggi.
Nomor Urut
No. Faktor Internal
Bobot
1 Keindahan alam
2 Keanekaragaman flora dan fauna
3 Kebersihan dan kelestarian lingkungan
4 Terletak di tiga kabupaten
5 Kedekatan dengan pelabuhan
6 Kualitas jalan menuju daya Tarik
7 Ketersediaan angkutan wisata
8 Sarana pariwisata
9 Tempat parker
10 Toilet
11 Warung dan pedagang kaki lima
12 Pengelola daya tarik
13 Kualitas pelayanan
14 Promosi
15 Tourist Information Centre
16 Aturan (code of conduct)
Nomor Urut
No. Faktor Eksternal
Bobot
1 Kondisi ekonomi global
2 Kondisi ekonomi nasional
3 Peran serta masyarakat dalam melestarikan budaya
4 Global warming
5 Kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan
6 Kebijakan pemerintah dalam pengembangan pariwisata
7 Kondisi politik global
8 Kondisi politik nasional
9 Keamanan Kawasan Selatan Pulau Lombok
10 Informasi
11 Transportasi
12 Daya saing dengan daya tarik wisata sejenis
81

Kuesioner penilaian responden (pemberian rating) terhadap faktor-faktor internal

No. Faktor Strategis Internal Rating Keterangan


1 Daya Tarik/Attraksi (Attraction)
a Keindahan alam 1 = Tidak Baik
b Keanekaragaman flora dan fauna 2 = Kurang Baik
c Kebersihan dan kelestarian lingkungan 3 = Baik
4 = Sangat Baik

2 Aksesibilitas (Accesibility)
a Terletak di tiga kabupaten 1 = Tidak Baik
b Kedekatan dengan pelabuhan 2 = Kurang Baik
c Kualitas jalan menuju daya tarik 3 = Baik
d Ketersediaan angkutan wisata 4 = Sangat Baik
3 Kenyamanan (Amenities)
a Sarana pariwisata 1 = Tidak Baik
b Tempat parkir 2 = Kurang Baik
c Toilet 3 = Baik
d Warung dan pedagang kaki lima 4 = Sangat Baik
4 Ancillary Services
a Pengelola daya tarik 1 = Tidak Baik
b Kualitas pelayanan 2 = Kurang Baik
c Promosi 3 = Baik
d Tourist Information Centre 4 = Sangat Baik
e Aturan (code of conduct)
82

Kuesioner penilaian responden (pemberian rating) terhadap faktor-faktor eksternal

No. Faktor Strategis Eksternal Rating Keterangan


1 Ekonomi
a Kondisi ekonomi global 1 = Tidak Baik
b Kondisi ekonomi nasional 2 = Kurang Baik
3 = Baik
4 = Sangat Baik
2 Sosial Budaya
a Peran serta masyarakat dalam melestarikan 1 = Tidak Baik
budaya 2 = Kurang Baik
3 = Baik
4 = Sangat Baik
3 Lingkungan
a Global warming 1 = Tidak Baik
b Kesadaran masyarakat dalam menjaga 2 = Kurang Baik
kelestarian lingkungan 3 = Baik
4 = Sangat Baik
4 Politik dan Pemerintah
a Kebijakan pemerintah dalam pengembangan 1 = Tidak Baik
pariwisata 2 = Kurang Baik
b Kondisi politik global 3 = Baik
c Kondisi politik nasional 4 = Sangat Baik
d Keamanan Kawasan Selatan Pulau Lombok
5 Kemajuan Teknologi
a Informasi 1 = Tidak Baik
b Transportasi 2 = Kurang Baik
3 = Baik
4 = Sangat Baik
6 Daya Saing
a Daya saing dengan daya tarik wisata sejenis 1 = Tidak Baik
2 = Kurang Baik
3 = Baik
4 = Sangat Baik

Diisi pada tanggal September 2015 oleh :


Nama : ________________________
ttd :
83

Lampiran 2. Rekapitulasi jawaban responden terhadap faktor IFAS dan EFAS

Rekapitulasi jawaban responden terhadap faktor IFAS


Responden 1 2 3 4 5 6 7 8
Total Rating Bobot Skor Keterangan
Indikator
Kekuatan
1 4 4 3 3 3 3 4 4 28 3,500 0,068 0,238 Kekuatan
2 3 2 2 3 3 3 3 4 23 2,875 0,060 0,173 Kekuatan
3 3 3 2 3 3 2 3 3 22 2,750 0,059 0,162 Kekuatan
5 3 3 2 3 3 2 3 3 22 2,750 0,055 0,151 Kekuatan
6 2 2 3 3 2 2 4 3 21 2,625 0,063 0,165 Kekuatan
7 4 4 3 3 2 3 3 2 24 3,000 0,064 0,192 Kekuatan
9 4 3 2 2 2 3 3 2 21 2,625 0,066 0,173 Kekuatan
16 3 3 2 3 4 3 3 4 25 3,125 0,057 0,178 Kekuatan
0,492 1,433
Kelemahan
4 2 2 3 1 2 3 3 2 18 2,250 0,061 0,137 Kelemahan
8 2 2 1 3 4 2 1 2 17 2,125 0,067 0,142 Kelemahan
10 3 2 2 3 2 3 3 1 19 2,375 0,065 0,154 Kelemahan
11 3 3 3 2 3 2 1 1 18 2,250 0,056 0,126 Kelemahan
12 2 2 3 2 2 3 2 1 17 2,125 0,062 0,132 Kelemahan
13 2 3 2 3 2 1 2 2 17 2,125 0,058 0,123 Kelemahan
14 2 2 2 3 3 1 3 3 19 2,375 0,070 0,166 Kelemahan
15 1 1 1 2 2 3 3 2 15 1,875 0,069 0,129 Kelemahan
0,508 1,111
1,000 0,322
84

Rekapitulasi jawaban responden terhadap faktor EFAS


Responden 1 2 3 4 5 6 7 8
Total Rating Bobot Skor Keterangan
Indikator
Peluang
1 3 3 3 2 2 2 2 4 21 2,625 0,084 0,221 Peluang
2 4 2 2 3 2 3 2 4 22 2,750 0,081 0,223 Peluang
3 4 3 3 4 3 2 2 3 24 3,000 0,088 0,264 Peluang
6 2 3 3 2 2 4 2 3 21 2,625 0,085 0,223 Peluang
7 4 4 2 2 2 3 3 3 23 2,875 0,080 0,230 Peluang
8 4 3 2 2 2 3 2 4 22 2,750 0,082 0,226 Peluang
9 4 3 3 4 3 4 4 3 28 3,500 0,089 0,312 Peluang
11 2 2 2 2 2 3 4 4 21 2,625 0,087 0,228 Peluang
12 4 3 3 4 2 2 2 3 23 2,875 0,083 0,239 Peluang
0,759 2,164

ANCAMAN
4 2 2 2 1 1 1 1 1 11 1,375 0,065 0,089 Ancaman
5 4 2 2 2 2 3 2 2 19 2,375 0,086 0,204 Ancaman
10 2 2 2 2 2 2 2 2 16 2,000 0,090 0,180 Ancaman
0,241 0,474
1,000 1,691
85

Lampiran 3. Perhitungan LQ

Tahun 2006

Keuangan,
Listrik, Gas, Perdagangan, Pengangkutan
Pertambangan Industri Persewaan
Kab/kota Pertanian dan Air Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa Jumlah
dan Penggalian Pengolahan dan Jasa
Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan

Lombok
1.096.908.220 102.727.160 105.396.410 18.899.400 320.496.330 666.018.890 388.015.220 141.225.320 435.862.670 3.275.549.620
Barat
Lombok
887.626.000 79.127.000 185.116.000 7.523.000 254.057.000 483.330.000 192.825.000 147.957.000 465.495.000 2.703.056.000
Tengah
Lombok
1.502.163.050 162.123.440 233.221.540 12.842.560 322.476.640 624.732.720 259.123.120 179.113.870 529.973.340 3.825.770.280
Timur
Jumlah 3.486.697.270 343.977.600 523.733.950 39.264.960 897.029.970 1.774.081.610 839.963.340 468.296.190 1.431.331.010 9.804.375.900

Tahun 2006

Keuangan,
Listrik, Gas, Perdagangan, Pengangkutan
Pertambangan Industri Persewaan
Kab/kota Pertanian dan Air Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa
dan Penggalian Pengolahan dan Jasa
Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan

Lombok
0,942 0,894 0,602 1,441 1,069 1,124 1,383 0,903 0,911
Barat
Lombok
0,923 0,834 1,282 0,695 1,027 0,988 0,833 1,146 1,180
Tengah
Lombok
1,104 1,208 1,141 0,838 0,921 0,902 0,791 0,980 0,949
Timur
86

Tahun 2013

Keuangan,
Listrik, Gas, Perdagangan, Pengangkutan
Pertambangan Industri Persewaan
Kab/kota Pertanian dan Air Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa Jumlah
dan Penggalian Pengolahan dan Jasa
Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan

Lombok
1.935.009.570 592.236.220 434.653.790 16.155.320 1.100.379.720 1.830.732.680 1.026.854.660 579.062.750 1.470.709.010 8.985.793.720
Barat
Lombok
2.552.439.500 382.520.200 570.935.400 17.002.900 1.110.264.000 1.175.324.500 2.345.333.900 566.868.100 1.516.262.700 10.236.951.200
Tengah
Lombok
3.356.841.000 656.952.000 1.039.964.000 15.278.000 1.253.402.000 1.859.344.000 704.093.000 690.809.000 1.955.162.000 11.531.845.000
Timur
Jumlah 7.844.290.070 1.631.708.420 2.045.553.190 48.436.220 3.464.045.720 4.865.401.180 4.076.281.560 1.836.739.850 4.942.133.710 30.754.589.920

Tahun 2013

Keuangan,
Listrik, Gas, Perdagangan, Pengangkutan
Pertambangan Industri Persewaan
Kab/kota Pertanian dan Air Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa
dan Penggalian Pengolahan dan Jasa
Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan

Lombok
0,844 1,242 0,727 1,142 1,087 1,288 0,862 1,079 1,019
Barat
Lombok
0,978 0,704 0,839 1,055 0,963 0,726 1,729 0,927 0,922
Tengah
Lombok
1,141 1,074 1,356 0,841 0,965 1,019 0,461 1,003 1,055
Timur
87

Lampiran 4. Perhitungan SSA

Tahun 2013
Keuangan,
Pertambangan Listrik, Perdagangan, Pengangkutan
Industri Persewaan dan
Kab/kota Pertanian dan Gas, dan Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa Jumlah
Pengolahan Jasa
Penggalian Air Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan
Lombok
1.935.009.570 592.236.220 434.653.790 16.155.320 1.100.379.720 1.830.732.680 1.026.854.660 579.062.750 1.470.709.010 8.985.793.720
Barat
Lombok
2.552.439.500 382.520.200 570.935.400 17.002.900 1.110.264.000 1.175.324.500 2.345.333.900 566.868.100 1.516.262.700 10.236.951.200
Tengah
Lombok
3.356.841.000 656.952.000 1.039.964.000 15.278.000 1.253.402.000 1.859.344.000 704.093.000 690.809.000 1.955.162.000 11.531.845.000
Timur
Jumlah 7.844.290.070 1.631.708.420 2.045.553.190 48.436.220 3.464.045.720 4.865.401.180 4.076.281.560 1.836.739.850 4.942.133.710 30.754.589.920

Tahun 2006
Keuangan,
Pertambangan Listrik, Perdagangan, Pengangkutan
Industri Persewaan dan
Kab/kota Pertanian dan Gas, dan Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa Jumlah
Pengolahan Jasa
Penggalian Air Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan
Lombok
1.096.908.220 102.727.160 105.396.410 18.899.400 320.496.330 666.018.890 388.015.220 141.225.320 435.862.670 3.275.549.620
Barat
Lombok
887.626.000 79.127.000 185.116.000 7.523.000 254.057.000 483.330.000 192.825.000 147.957.000 465.495.000 2.703.056.000
Tengah
Lombok
1.502.163.050 162.123.440 233.221.540 12.842.560 322.476.640 624.732.720 259.123.120 179.113.870 529.973.340 3.825.770.280
Timur
Jumlah 3.486.697.270 343.977.600 523.733.950 39.264.960 897.029.970 1.774.081.610 839.963.340 468.296.190 1.431.331.010 9.804.375.900
Rs 2,14
-0,89 1,61 0,77 -1,90 0,72 -0,39 1,72 0,79 0,32
88

Keuangan,
Pertambangan Listrik, Perdagangan, Pengangkutan
Industri Persewaan
Ds Kab/kota Pertanian dan Gas, dan Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa
Pengolahan dan Jasa
Penggalian Air Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan
Lombok Barat -0,486 1,021 0,218 -0,379 -0,428 0,006 -2,206 0,178 -0,079
Lombok Tengah 0,626 0,091 -0,822 1,027 0,508 -0,311 7,310 -0,091 -0,196
Lombok Timur -0,015 -0,691 0,553 -0,044 0,025 0,234 -2,136 -0,065 0,236

Keuangan,
Pertambangan Listrik, Perdagangan, Pengangkutan
Industri Persewaan
SSA Kab/kota Pertanian dan Gas, dan Bangunan Hotel dan dan Jasa-Jasa
Pengolahan dan Jasa
Penggalian Air Bersih Restoran Komunikasi
Perusahaan
Lombok Barat 0,764 4,765 3,124 -0,145 2,433 1,749 1,646 3,100 2,374
Lombok Tengah 1,876 3,834 2,084 1,260 3,370 1,432 11,163 2,831 2,257
Lombok Timur 1,235 3,052 3,459 0,190 2,887 1,976 1,717 2,857 2,689
89

Lampiran 5. Perhitungan Skalogram

Data 2013
Fasilitas Akomodasi Fasilitas Fasilitas Objek Wisata
Jumlah Pelabuhan Pelabuhan Transportasi
Kab/Kota Bandara
Wisatawan 1 2 Agen
Hotel Restoran WAP WPS WK
Perjalanan
Lombok Barat 269.980 17 10 60 86 113 50 14 7 3
Lombok Tengah 95.558 10 30 40 46 101 1 6 4 3
Lombok Timur 10.463 50 60 20 36 141 6 6 1 5
Jumlah 77 100 120 168 355 57 26 12 11
Jumlah wilayah total (f) 5 5 5 5 5 5 5 5 5
Jumlah yang memiliki fasilitas (n) 3 3 3 3 3 3 3 3 3
Maksimum 50 60 60 86 141 50 14 7 5
Std Dev 21,362 25,166 20,000 26,458 20,526 26,963 4,619 3,000 1,155
Bobot (n/f) 0,600 0,600 0,600 0,600 0,600 0,600 0,600 0,600 0,600
90

Invers Data 2013


Fasilitas Akomodasi Fasilitas Fasilitas Objek Wisata
Jumlah Pelabuhan Pelabuhan Transportasi
Kab/Kota Bandara
Wisatawan 1 2 Agen
Hotel Restoran WAP WPS WK
Perjalanan
Lombok Barat 269.980 0,05882 0,10000 0,01667 0,31854 0,41855 0,18520 0,05186 0,02593 0,01111
Lombok Tengah 95.558 0,10000 0,03333 0,02500 0,48138 1,05695 0,01046 0,06279 0,04186 0,03139
Lombok Timur 10.463 0,02000 0,01667 0,05000 3,44070 13,47606 0,57345 0,57345 0,09557 0,47787
Jumlah 0,17882 0,15000 0,09167 4,24062 14,95156 0,76911 0,68809 0,16336 0,52038
Jumlah wilayah total (f) 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000
Jumlah yang memiliki fasilitas (n) 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000
Maksimum 0,10000 0,10000 0,05000 3,44070 13,47606 0,57345 0,57345 0,09557 0,47787
Std Dev 0,04001 0,04410 0,01735 1,75746 7,36139 0,28816 0,29804 0,03649 0,26383
Bobot (n/f) 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000
91

Bobot
Fasilitas Akomodasi Fasilitas Fasilitas Objek Wisata
Jumlah Pelabuhan Pelabuhan Transportasi
Kab/Kota Bandara
Wisatawan 1 2 Agen
Hotel Restoran WAP WPS WK
Perjalanan
Lombok Barat 269.980 0,05882 0,10000 0,01667 0,53090 0,69758 0,30866 0,08643 0,04321 0,01852
Lombok Tengah 95.558 0,10000 0,03333 0,02500 0,80231 1,76158 0,01744 0,10465 0,06977 0,05232
Lombok Timur 10.463 0,02000 0,01667 0,05000 5,73449 22,46010 0,95575 0,95575 0,15929 0,79646
Jumlah 0,17882 0,15000 0,09167 7,06770 24,91926 1,28186 1,14682 0,27227 0,86730
Jumlah wilayah total (f) 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000 5,00000
Jumlah yang memiliki fasilitas (n) 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000 3,00000
Maksimum 0,10000 0,10000 0,05000 5,73449 22,46010 0,95575 0,95575 0,15929 0,79646
Std Dev 0,04001 0,04410 0,01735 2,92909 12,26898 0,48027 0,49673 0,06082 0,43971
Bobot (n/f) 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000 0,60000
92

Standarisasi
Fasilitas Akomodasi Fasilitas Fasilitas Objek Wisata
Jumlah Pelabuhan Pelabuhan Transportasi
Kab/Kota Bandara
Wisatawan 1 2 Agen
Hotel Restoran WAP WPS WK
Perjalanan
Lombok Barat 269.980 0,97045 1,88982 0,00000 0,00000 0,00000 0,60638 0,00000 0,00000 0,00000
Lombok Tengah 95.558 1,99971 0,37796 0,48038 0,09266 0,08672 0,00000 0,03668 0,43658 0,07688
Lombok Timur 10.463 0,00000 0,00000 1,92154 1,77652 1,77378 1,95371 1,75010 1,90857 1,76921
Jumlah 2,97016 2,26779 2,40192 1,86918 1,86051 2,56009 1,78679 2,34515 1,84609
Jumlah wilayah total (f) 5,00000 6,00000 7,00000 8,00000 9,00000 10,00000 11,00000 12,00000 13,00000
Jumlah yang memiliki fasilitas (n) 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000
Maksimum 1,99971 1,88982 1,92154 1,77652 1,77378 1,95371 1,75010 1,90857 1,76921
Std Dev 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000
Bobot (n/f) 0,40000 0,33333 0,28571 0,25000 0,22222 0,20000 0,18182 0,16667 0,15385
93

Skalogram
Jumlah
Fasilitas
Fasilitas Akomodasi Fasilitas Objek Wisata IPK Jenis Hirarki
Jumlah Pelabuhan Pelabuhan Transportasi
Kab/Kota Bandara Fasilitas
Wisatawan 1 2
Agen
Hotel Restoran WAP WPS WK
Perjalanan
Lombok Barat 269.980 0,97045 1,88982 0,00000 0,00000 0,00000 0,60638 0,00000 0,00000 0,00000 3,46665 3 Hirarki 3
Lombok Tengah 95.558 1,99971 0,37796 0,48038 0,09266 0,08672 0,00000 0,03668 0,43658 0,07688 3,58758 8 Hirarki 3
Lombok Timur 10.463 0,00000 0,00000 1,92154 1,77652 1,77378 1,95371 1,75010 1,90857 1,76921 12,85344 7 Hirarki 1
Jumlah 2,97016 2,26779 2,40192 1,86918 1,86051 2,56009 1,78679 2,34515 1,84609
Jumlah wilayah
total (f) 5,00000 6,00000 7,00000 8,00000 9,00000 10,00000 11,00000 12,00000 13,00000
Jumlah yang
memiliki fasilitas
(n) 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000 2,00000
Maksimum 1,99971 1,88982 1,92154 1,77652 1,77378 1,95371 1,75010 1,90857 1,76921
Std Dev 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000
Bobot (n/f) 0,40000 0,33333 0,28571 0,25000 0,22222 0,20000 0,18182 0,16667 0,15385
Stdev 5,38489
Rataan 6,63589
94

Lampiran 6 Foto Pantai Elaq-Elaq

Lampiran 7 Foto Pantai Mekaki

Lampiran 8 Foto Bangko-Bangko


95

Lampiran 9 Foto Gili Nanggu

Lampiran 10 Foto Gili Gede

Lampiran 11 Foto Balai Budidaya Laut Lombok


96

Lampiran 12 Foto Pantai Selong Belanak

Lampiran 13 Foto Pantai Mawun

Lampiran 14 Foto Pantai Seger


97

Lampiran 15 Foto Pantai Kuta

Lampiran 16 Foto Pantai Tanjung Aan

Lampiran 17 Foto Desa Sukarara


98

Lampiran 18 Foto Desa Sade

Lampiran 19 Foto Masjid Kuno Rambitan

Lampiran 20 Foto Pantai Kaliantan


99

Lampiran 21 Foto Pantai Surga

Lampiran 22 Foto Tanjung Bloam

Lampiran 23 Foto Tanjung Ringgit


100

Lampiran 24 Foto Gili Sunut

Lampiran 25 Foto Budidaya Laut di Kawasan Timur Gili Sunut


101

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Mataram pada tanggal 12 Juni 1990, sebagai anak


pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Drs. H. Lalu Hilyun dan Ibu
Hj. Baiq Mariati, A.Md. Pendidikan formal diawali di SDN 9 Mataram hingga
lulus tahun 2002, lalu di tahun yang sama diterima di SMPN 1 Mataram dan
menyelesaikan studi tahun 2005. Penulis melanjutkan studi di SMAN 7 Mataram
hingga tahun 2008, kemudian diterima di Universitas Mataram melalui jalur
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada Jurusan Sosial
Ekonomi Pertanian Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian dan lulus pada
tahun 2012. Pada tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan strata dua (S-2)
pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah, Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.