Anda di halaman 1dari 10

2.2.

2 PEMERIKSAAN HISTOLOGI
Pemeriksaan histopatologi dilakukan melalui pemeriksaan terhadap
perubahan-perubahan abnormal pada tingkat jaringan. Histopatologi dapat
dilakukan dengan mengambil sampel jaringan (misalnya seperti dalam
penentuan kanker payudara) atau dengan mengamati jaringan setelah
kematian terjadi Pemeriksaan histopatologi bertujuan untuk memeriksa
penyakit berdasarkan pada reaksi perubahan jaringan. Pemeriksaan ini
hendaknya disertai dengan pengetahuan tentang gambaran histologi
normal jaringan sehingga dapat dilakukan perbandingan antara kondisi
jaringan normal terhadap jaringan sampel (abnormal). Dengan
membandingkan kondisi jaringan tersebut maka dapat diketahui apakah
suatu penyakit yang diduga benar-benar menyerang atau tidak.
Histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan
secara detail menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang
dipotong tipis, salah satu dari cabang-cabang biologi.Teknik pemeriksaaan
histopatologi berguna untuk mendeteksi adanya komponen patogen yang
bersifat infektif melalui pengamatan secara mikroanatomi. Histopatologi
sangat penting dalam kaitan dengan diagnosis penyakit karena salah satu
pertimbangan dalam penegakan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan
terhadap jaringan yang diduga terganggu.Histologi dapat juga disebut
sebagai ilmu anatomi mikroskopis. Pemeriksaan Histologi biasanya
dikeluarkan hasilnya dalam 15-20 hari.

Prosedur Kerja:
a. Administrasi Penerimaan
Pasien atau keluarga pasien menyerahkan blanko dari rujukan
dokter
Bagian administrator mencocokan blanko dengan identitas pasien
Administrator memberi kode nomor blanko. Contoh : PA171210
untuk sampel dari RSUD Ulin Banjarmasin.
Mencatat data pasien
Mencantumkan tarif biaya dan bukti pembayaran
Administrator menyerahkan blanko kepada pihak laboratorium
Pihak laboratorium merujuk pasien ke dokter untuk melakukan
pengambilan sampel
b. Persetujuan Pengambilan Tindakan (Sign The Consent)
Memberitahu kepada pasien dan keluarga pasien bahwa akan
dilakukan tindakan untuk pengambilan sampel
Pasien atau keluarga pasien menandatangani surat persetujuan
pengambilan tindakan.
c. Dilakukan operasi untuk mangambil jaringan yang diduga mengalami
kelainan oleh dokter bedah. Lalu jaringan yang diambil dikirim ke
laboratorium.
d. Jaringan difiksasi dengan formalin buffer 10% agar tidak terjadi
perubahan atau terjadi maserasi.
e. Jaringan didiskripsikan seperti yang terlihat (misalnya: jaringan
mamae. Lihat bentuk, ukuran, berkulit dasar apa, berlemak atau tidak,
berputing atau tidak, ada tumor atau tidak, ada kelenjar getah bening
atau tidak, dll).
f. Potong jaringan yang berisi massa tumor, kelenjar getah bening,
potong jaringan yang dicurigai (beda warna, beda bentuk).
g. Diskripsikan lagi apa yang dipotong, misalnya massa tumornya berapa,
berapa kaset yang dibuat, dll.
h. Masukkan jaringan kedalam kaset dan beri kode nomor sesuai dengan
blanko dan sisa sampel dimasukkan kewadah dan diberi tanggal
pemeriksaan.
i. Sampel siap untuk dilakukan processing.
Processing Jaringan
1. Memfiksasi dengan buffer formalin 10% pH netral selama 2 jam
(Fiksasi bertujuan agar struktur dan unsur Jaringan stabil, tidak
mengalami perubahan).
2. Fiksasi dengan buffer formalin 10% pH netral selama 1,5 jam
(proses dehidrasi artinya penarikan air dari jaringan dengan H2O2,
Untuk memudahkan proses infiltrasi parafin ke dalam jaringan
menggunakan alkohol dari konsentrasi rendah-tinggi).
3. Alkohol 70% selama 1,5 jam.
4. Alkohol 80% selama 1,5 jam.
5. Alkohol 96% selama 1,5 jam.
6. Alkohol 100% (etanol) selama 1 jam.
7. Alkohol 100% (etanol) selama 1 jam.
8. Alkohol 100% (etanol) selama 1 jam.
(proses cleaning artinya menghilangkan zat yang dipakai saat proses
dehidrasi atau menghilangkan alcohol dan paraffin).
9. Xylol selama 1,5 jam.
10. Xylol selama 1,5 jam.
(proses impregnating artinya mengisi kekosongan akibat proses
cleaning).
11. Parafin selama 2 jam.
12. Parafin selama 2 jam.

Embedding
Embeding adalah proses memasukkan jaringan kedalam paraffin
cair untuk dibuat blok yang padat. Embeding adalah proses tempat
meletakkan pemblokkan sehingga jaringan bersatu dengan media padat
dalam satu blok.
Tahap-tahap embedding
1. Setelah prosesing selesai, kaset akan diblok.
2. Memasukkan jaringan dengan posisi terbalik pada cetakan besi.
3. Mengisi dengan parafin cair sampai penuh.
4. Meletakkan parafin pada alas pendingin lalu tutup dengan kaset.
5. Meletakkan pada pendingin sampai blok membeku.

Pemotongan Secara Mikrotom

1. Meletakkan blok pada mikrotom.


2. Memotong perlahan sampai terpotong jaringan.
3. Memotong perlahan dengan ketebalan 2 -5 mikron.
4. Mengapungkan potongan tipis tersebut diatas waterbath dengan
suhu kurang dari 60C (dibawah titik didih parafin).
5. Menempelkan pada objek glass.
6. Meletakkan sediaan secara miring agar air berkurang.
7. Menulis kode nomor sesuai dengan blok pada objek glass.
Pewarnaan
1. Deparafinasi (untuk menghilangkan parafin).
Panaskan di hotplate diatas suhu 60 C (diatas titik didih parafin).
Xylol1 2 menit
Xylol2 2 menit

2. Rehidrasi (untuk melarutkan xylol).


Alkohol 100% 2 menit
Alkohol 96% 2 menit
Alkohol 80% 2 menit
Alkohol 70% 2 menit
3. Diwarnai dengan pewarnaan hemaktosilin (disaring dulu) 5 menit,
cuci dengan air.
4. Dehidrasi (untuk menarik air).
Alkohol 70% 2 celup
Alkohol 80% 2 celup
Alkohol 96% 2 celup
Alkohol 100% 2 celup
5. Diwarnai dengan pewarnaan eosin 2 menit.
6. Rehidrasi
Alkohol 100% 2 menit
Alkohol 96% 2 menit
Alkohol 80% 2 menit
Alkohol 70% 2 menit
Pewarnaan dapat dilakukan secara otomatis dengan menggunakan
mesin yang bernama Thermo.
Mounting
Menetesi entelan secukupnya.
Menutup dengan cover glass (sesuai dengan panjang dan
lebarnya sediaan)

Finishing
Memberi label pada sediaan sesuai dengan nomor blanko.

Diagnostik Dokter
Dokter mengamati/memeriksa sediaan secara mikroskopis dan
menelaah apakah ada kelainan pada tumor pasien. Dokter menyerahkan
hasil ke bagian administrasi untuk mengetikkan dan menyerahkan hasil
kepada pasien.

Administrasi Hasil
Hasil pengamatan yang telah diserahkan dokter segera diketik
untuk dikeluarkan hasil. Tidak lupa administrator meminta tanda tangan
kepada dokter yang telah melakukan pemeriksaan. Bagian administrasi
menyerahkan hasil kepada pasien atau keluarga pasien dan hasil disalin
untuk diarsipkan.
2.2.3 POTONG BEKU / FROZEN SECTION
A. Pendahuluan
Metode pemeriksaan frozen section yang dilakukan di laboratorium
saat ini berdasar pada uraian Dr. Louis B. Wilson pada tahun 1905.
Wilson mengembangkan teknik ini pertama sekali atas permintaan Dr.
William Mayo, seorang ahli bedah dan salah satu pendiri Mayo
Klinik. Sebelumnya pernah dilaporankan oleh Dr. Thomas Cullen
pada Rumah Sakit Johns Hopkins di Baltimore yang menggunakan
metode frozen section tetapi hanya memakai formalin sebagai media
fiksasi. Seorang ahli patologi Dr. William Welch, juga pada Rumah
Sakit Johns Hopkins, mengadakan percobaan dengan prosedur
Cullen's tetapi tidak memiliki makna klinis. Oleh karena itu, Dr. Louis
B. Wilson dianggap sebagai pelopor Metode Frozen Section.
Frozen section merupakan metode pengelolaan jaringan dengan
tidak memakai proses dehidrasi, clearing dan embedding. Frozen
section merupakan teknik pemeriksaan histologi, tetapi kemudian
digunakan untuk melihat substansi jaringan dan untuk mendiagnosa
penyakit pada biopsi jaringan pada kasus-kasus darurat. Prosedur
standar dapat menimbulkan efek yang mengganggu dalam melihat
unsur-unsur jaringan yang diperiksa (Banccroft & Cook 1994).
Peningkatan teknik frozen section belakangan ini menghasilkan
perkembangan yang cepat pada bidang histokimia dan
imunohistokimia.
B. Definisi
Proses pemeriksaan histopatologi yang mana pasien diperiksa
dalam keadaan narkosit/tidak sadar (pada bagian tumornya) dan
jaringan dikirim ke laboratorium PA dalam keadaan tanpa
fiksasi/segar dan dalam waktu diagnostik 10 15 menit untuk
mengetahui jinak atau tidaknya tumor tersebut.
C. Metode Frozen Section
Untuk menghasilkan hasil yang baik, ketebalan pemotongan pada
cryostat merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi. Jaringan harus
dalam keadaan baik. Kualitas terbaik pada teknik cryostat section
dihasilkan dari jaringan tanpa fiksasi, dengan membekukan segera oleh
salah satu teknik di bawah ini. Kondisi di dalam cryostat harus optimal,
meliputi:
Temperatur blok harus tepat sebelum jaringan dipotong
Kerja microtome harus baik
Penyesuaian anti-roll plate harus tepat
Jaringan yang akan dibekukan harus dalam keadaan segar dan
secepat mungkin dibekukan. Apabila pembekuannya lambat dapat
menyebabkan distorsi dan akan terbentuk artefak kristal es pada jaringan.
Metode frozen section pada umumnya menggunakan:
Nitrogen cair (-190C)
Isopentane yg didinginkan dengan nitrogen cair (-150C)
Karbondioksida cardice (-70C)
Gas karbondioksi (-70C)
Aerosol spray (-50C)

Penggunaan gas cair dalam keadaan normal sudah dibatasi pada


teknik histokimia. Kelompok gas yang banyak digunakan adalah nitrogen
cair. Keuntungannya yaitu dapat membekukan dengan cepat dan lebih
dapat diterima penggunaannya oleh banyak pihak. Sedangkan
kerugiannya adalah pada jaringan lunak dapat menyebabkan
terbentuknya kristal es yang cepat dan luas pada jaringan.
D. Ketebalan Jaringan
Ketebalan jaringan yang dianjurkan untuk teknik frozen section
adalah 6 (enam) mikron. Pada ketebalan ini zat warna akan diserap
dengan baik dan sediaan akan mudah untuk dibaca sehingga ahli
patologi akan dapat mengumpulkan banyak informasi. Pemotongan yang
lebih tipis akan menyebabkan pewarnaan yang pucat karena zat warna
kurang terserap dan akan banyak bagian yang tidak dapat dibaca.
Meskipun demikian ketebalan enam mikron akan lebih banyak
membutuhkan waktu untuk pengeringan artefak. Tetapi akan
mengurangi lubang pada inti sel yang berasal dari artefak kristal es.
Ketebalan harus diperhatikan secara visual. Berikut ini akan ditunjukkan
gambaran Lung Adenocarcinoma dan Uterine Sarcoma dengan ketebalan
pemotongan 6 micron dan 3 micron.
Biasanya ketebalan yang dikehendaki tidak dapat langsung
diperoleh, akan tetapi harus dilakukan berulang-ulang sampai diperoleh
ketebalan yang dikehendaki.
Perubahan temperatur pada blok yang telah diambil akan
menyebabkan perubahan suhu menjadi lebih hangat dan jaringan akan
mengembang. Oleh karena itu jaringan dipotong sedikit lebih tipis dari
yang diperlukan sehingga ketika mengembang akan didapat ketebalan
jaringan yang diinginkan.
E. Prosedur Kerja
1. Sampel yang dikirim dari kamar operasi dalam keadaan segar.
2. Kemudian di data administrasinya.
3. Kemudian dilakukan pemotongan jaringan.
4. Dideskripsikan jaringan apa yang dilihat sebelum dan sesudah
dipotong.
5. Pada potongan jaringan dikeruk dalam slide, lalu di tarik/ dibuat
hapusan deimprint.
6. Diwarnai dengan pewarnaan diff Kwik.
7. Pada jaringannya, dimasukkan ke dalam mesin potong beku
selama 4 menit. Alatnya cryostat.
8. Dipotong dengan ketebalan 3 5 mikron.
9. Dibuat slide, diwarnai dengan hematoksilin eosin.
10. Langsung konfirmasi/telop dokternya memberitahu apa jaringan
tersebut ganas/ jinak.
Sumber :
http://analismuslim.blogspot.co.id/2012/01/teknik-histologi.html
http://labpatologianatomi.blogspot.co.id/2013/01/histopatologi.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Dokter_spesialis_patologi_anatomi
http://drdigambiro.blogspot.co.id/2015/06/imprint-dan-frozen-section.html