Anda di halaman 1dari 25

PENYELENGGARAAN KEGIATAN PENDIDIKAN KARAKTER

A. Perancangan
Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap penyusunan rancangan antara lain:
* Menentukankarakter individual, kelompok, kelas, lembaga.
* Menentukan sub tim pengendali pelasksanaan pendikar

1. Mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan di sekolah yang dapat merealisasikan pendidikan


karakter, yaitu nilai-nilai/perilaku yang perlu dikuasai, dan direalisasikan peserta didik
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, program pendidikan karakter peserta didik
direalisasikan dalam tiga kelompok kegiatan, yaitu (a) terpadu dengan pembelajaran pada
mata pelajaran; (b) terpadu dengan manajemen sekolah; dan (c) terpadu melalui kegiatan
pembinaan kesiswaan.
2. Mengembangkan materi pendidikan karakter untuk setiap jenis kegiatan di sekolah
3. Mengembangkan rancangan pelaksanaan setiap kegiatan di sekolah (tujuan, materi,
fasilitas, jadwal, pengajar/fasilitator, pendekatan pelaksanaan, evaluasi)
4. Menyiapkan fasilitas pendukung pelaksanaan program pendidikan karakter di sekolah

B. Implementasi
1. Pembentukan karakter yang terpadu dengan pembelajaran pada semua mata
pelajaran (intrakuler)

Berbagai hal yang terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma, iman dan ketaqwaan, dll)
diimplementasikan dalam pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang terkait,
seperti Agama, PKn, IPS, IPA, Penjas Orkes, dan lainnya

2. Pembentukan Karakter yang terpadu dengan manajemen sekolah.

Berbagai hal yang terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma, iman dan ketaqwaan, dll)
diimplementasikan dalam aktivitas manajemen sekolah, seperti pengelolaan: siswa,
regulasi/peraturan sekolah, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, keuangan,
perpustakaan, pembelajaran, penilaian, dan informasi, serta pengelolaan lainnya.

3. Pembentukan karakter yang terpadu dengan Kegiatan pembinaan kesiswaan


(ekstrakurikuler)
Beberapa kegiatan pembinaan kesiswaan yang memuat pembentukan karakter antara
lain:
a. Olah raga
b. Keagamaa (baca tulis Al Quran, kajian hadis, ibadah dll
c. Seni Budaya (menari, menyanyi, melukis, teater),
d. KIR,
e. Kepramukaan,
f. Latihan Dasar Kepemimpinan Peserta didik (LDKS),
g. Palang Merah Remaja (PMR),
h. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA),
i. Pameran, Lokakarya,
j. Kesehatan, dan lain-lainnya.
C. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan Evaluasi bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kualitas
program pembinaan pendidikan karakter sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan,
tujuan monitoring dan evaluasi pembentukan karakter adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengamatan dan pembimbingan secara langsung keterlaksanaan program
pendidikan karakter di sekolah.
2. Memperoleh gambaran mutu pendidikan karakter di sekolah secara umum.
3. Melihat kendala-kendala yang terjadi
4. Mengumpulkan dan menganalisis data yang ditemukan di lapangan untuk menyusun
rekomendasi terkait perbaikan pelaksanaan program pendidikan karakter ke depan
5. Mengetahui tingkat keberhasilan implementasi program pembinaan pendidikan karakter
di sekolah.

D. Tindak Lanjut

Hasil monitoring dan evaluasi dari implementasi program pembinaan pendidikan


karakter digunakan sebagai acuan untuk menyempurnakan program, mencakup
penyempurnaan rancangan, mekanisme pelaksanaan, dukungan fasilitas, sumber daya
manusia, dan manajemen sekolah yang terkait dengan implementasi program.

KEGIATAN PENGEMBANGAN SEKOLAH SEHAT, AMAN,


RAMAH ANAK DAN MENYENANGKAN
A. Persiapan
Melakukan konsultasi dengan siswa untuk memetakan pemenuhan hak-hak, kebutuhan
siswa, dan menyusun rekomendasi;
Kepala sekolah, komite sekolah, orang tua/wali, dan siswa berkomitmen untuk
mengembangkan sekolah sehat, aman ramah anak, dan menyenangkan. Komitmen ini
bentuk kebijakan sekolah sehat, aman, ramah anak, dan menyenangkan;
Kepala sekolah bersama komite sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan, serta siswa
membentuk Tim Pengembangan sekolah sehat, aman, ramah anak, dan menyenangkan;
Tim ini bertugas untuk mengoordinasikan berbagai upaya pengembangan menuju sekolah
sekolah sehat, aman, ramah anak, dan menyenangkan; meliputi sosialisasi pentingnya
sekolah sehat, aman, ramah anak, dan menyenangkan; menyusun dan melaksanakan
rencana; memantau proses pengembangan; dan evaluasi;
Tim Pengembangan mengidentifikasi potensi, kapasitas, kerentanan, dan ancaman di
sekolah untuk mengembangkan sekolah sehat, aman, ramah anak, dan menyenangkan

B. Perencanaan
Tim Pengembangan menyusun rencana aksi tahunan untuk mewujudkan sekolah sehat,
aman, ramah anak, dan menyenangkan yang terintegrasi dalam kebijakan, program, dan
kegiatan yang sudah ada, seperti Usaha Kesehatan Sekolah, Sekolah Adiwiyata, Sekolah
Aman Bencana, Rute Aman Selamat Sekolah, dan lainnya sebagai komponen penting dalam
perencanaan pengembangan sekolah sehat, aman, ramah anak, dan menyenangkan.
C. Pelaksanaan
Tim Pengembangan melaksanakan rencana aksi tahunan dengan mengoptimalkan semua
sumber daya pemerintah, masyarakat, serta dunia industri dan usaha.

D. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.


Tim Pengembangan melaksanakan pemantauan dan evaluasi atas rencana aksi gerakan
sekolah sehat, aman, ramah anak, dan menyenangkan, selanjutnya melakukan pelaporan
hasil evaluasi dalam rapat kerja yang dihadiri tim pengembangkan dan warga sekolah
lainnya.
RINCIAN KEGIATAN UNTUK MENCAPAI SEKOLAH SEHAT

Untuk menuju sekolah sehat perlu dilakukan kegiatan dalam bentuk


pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan
sekolah sehat.

Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat diberikan melalui:
a. Kegiatan Kurikuler
Kegiatan kurikuler adalah pelaksanaan pendidikan pada jam pelajaran,
sesuai kurikulum yang berlaku untuk setiap jenjang pendidikan dan
dapat diintegrasikan ke semua mata pelajaran khususnya Pendidikan
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.
Pelaksanaan pendidikan kesehatan dilakukan melalui peningkatan
pengetahuan, keterampilan, penanaman kebiasaan hidup sehat, terutama
melalui pemahaman konsep yang berkaitan dengan prinsip hidup sehat,
mencakup:
Memahami pola makanan sehat;
Memahami perlunya keseimbangan gizi;

Memahami berbagai penyakit menular seksual;


Mengenal bahaya seks bebas;
Memahami berbagai penyakit menular yang bersumber dari
lingkungan yang tidak sehat;
Mengenal bahaya merokok bagi kesehatan;
Mengenal bahaya minuman keras;
Mengenal bahaya penyalahgunaan narkoba;
Mengenal cara menolak ajakan menggunakan narkoba;
Mengenal cara menolak perlakuan pelecehan seksual.

b. Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa
(termasuk kegiatan pada waktu libur) yang dilakukan di sekolah ataupun di
luar sekolah dengan tujuan antara lain untuk memperluas pengetahuan
dan keterampilan siswa serta melengkapi upaya pembinaan kesiswaan.
Organisasi kesiswaan, seperti OSIS mempunyai peranan yang besar dalam
pelaksanaan program Sekolah Sehat yang dilakukan secara ekstrakurikuler.
Dalam pelaksanaan program Sekolah Sehat, OSIS dapat mengamati adanya
masalah yang berkaitan dengan kesehatan, melaporkannya kepada guru
pembina OSIS, agar bersama-sama mencari cara penanggulangannya
antara lain berupa kegiatan berdasarkan konsep 7K (keamanan,
kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kerindangan,
keselamatan).
Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dilakukan terkait dengan
pendidikan kesehatan antara lain:
Wisata siswa;
Kemah (Persami);
Ceramah, diskusi, simulasi, dan bermain peran;
Lomba-lomba;
Bimbingan hidup sehat;
Apotek hidup;
Kebun sekolah;
Kerja bakti;
Majalah dinding, buletin, majalah;
Piket sekolah.

2) Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan adalah upaya peningkatan (promotif), pencegahan
(preventif), pengobatan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif) yang
dilakukan kepada siswa dan lingkungannya. Adapun tujuan dari pelayanan
kesehatan adalah :
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan
hidup sehat dalam rangka membentuk perilaku hidup sehat.
Meningkatkan daya tahan tubuh siswa terhadap penyakit dan
mencegah terjadinya penyakit, kelainan, dan cacat.
Menghentikan proses penyakit dan pencegahan komplikasi akibat
penyakit, kelainan, pengembalian fungsi dan peningkatan kemam-
puan siswa yang cedera/cacat agar dapat berfungsi secara optimal.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan terkait pelayanan kesehatan


sekolah, antara lain meliputi:
Peningkatan kesehatan (promotif) dilaksanakan melalui kegiatan
penyuluhan kesehatan dan latihan keterampilan.
Pencegahan (preventif) dilaksanakan melalui kegiatan peningkatan
daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan mata rantai penularan penya-
kit dan kegiatan penghentian proses penyakit pada tahap dini
sebelum timbul penyakit.
Penyembuhan dan pemulihan (kuratif dan rehabilitatif) dilakukan
melalui kegiatan mencegah komplikasi dan kecacatan akibat proses
penyakit atau untuk meningkatkan kemampuan siswa yang
cedera/cacat agar dapat berfungsi optimal.

Untuk memaksimalkan kegiatan pelayanan kesehatan diperlukan


pendekatan dan metode yang tepat, strategis, efektif, dan efisien. Untuk
pendekatan pelayanan kesehatan dapat dikelompokan menjadi tiga
pendekatan, yakni:
Pendekatan yang ditujukan untuk menyelesaikan atau mengurangi
masalah perorangan, antara lain pencarian, pemeriksaan, dan
pengobatan penderita.
Pendekatan yang ditujukan untuk menyelesaikan atau mengurangi
masalah lingkungan di sekolah, khususnya masalah lingkungan yang
tidak mendukung tercapainya derajat kesehatan optimal.
Pendekatan yang ditujukan untuk membentuk perilaku hidup sehat
masyarakat sekolah.

Sedangkan, untuk metode pelayanan kesehatan, setidaknya ada 5 (lima)


metode yang dapat digunakan, yakni:
Penataran/pelatihan
Bimbingan kesehatan dan bimbingan khusus (konseling)

Penyuluhan kesehatan
Pemeriksaan langsung
Pengamatan (observasi).

Pelaksanaan pelayanan kesehatan dapat dilakukan di dua tempat, yaitu


sekolah dan puskesmas. Pemilihan kedua tempat ini, selain representatif
juga mudah dijangkau oleh siapa saja dan di daerah manapun ia berada.
Untuk daerah-daerah yang belum memiliki Puskesmas, tempat pelayanan
kesehatan dapat dilakukan secara maksimal di sekolah ataupun balai-balai
pertemuan warga dengan memperhatikan faktor tenaga dan lingkungan.

Pada prinsipinya petugas pelayanan kesehatan haruslah dilakukan oleh


orang yang ahli (profesional) yang memiliki pengetahuan dan letigimasi
hukum atas profesinya, seperti dokter, tenaga medis lainnya. Hanya saja
untuk upaya pencegahan (preventif), petugas kesehatan di sekolah dapat
dilakukan oleh warga sekolah, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
Guru ataupun tenaga kependidikan, bahkan siswa yang telah
memperoleh pendidikan tambahan melalui bimbingan/penataran
dari petugas Puskesmas.
Warga sekitar sekolah yang memiliki pengetahuan dan keahlian
tentang ilmu kesehatan. Keberadaan petugas kesehatan dari warga
sekitar sekolah terutama diperuntukan untuk sekolah-sekolah di
daerah-daerah terpencil, terisolasi, terdepan, dan terbelakang. Hanya
saja, jadwal penugasannya diserahkan kepada kesepakatan kedua
belah pihak, bahkan mungkin keberadaan petugas tersebut di sekolah
hanya ketika dia dibutuhkan.
Petugas Puskesmas itu sendiri, yang mana dilaksanakan sesuai
dengan waktu yang telah direncanakan secara terpadu (antara kepala
sekolah, guru yang ditugaskan, dan petugas puskesmas).

Sementara itu, untuk pelayanan kesehatan yang dilakukan di Puskesmas


dikhususkan bagi siswa yang dirujuk dari sekolah akibat sekolah tidak
mampu menangani kasus siswa tersebut. Lantas, apakah syarat siswa yang
dirujuk? Sekurang-kurangnya ada dua syarat, yakni:
Siswa sakit yang tidak dapat mengikuti pelajaran, dan bila masih
memungkinkan segera disuruh pulang dengan membawa surat
pengantar dan buku/kartu rujukan agar dibawa orang tuanya ke
Puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang ditunjuk.
Siswa cedera/sakit yang tidak memungkinkan disuruh pulang dan
segera membutuhkan pertolongan secepatnya, agar dibawa ke
Puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang terdekat untuk
mendapatkan pengobatan. Setelah itu agar segera diberitahukan
kepada orang tuanya untuk datang ke Puskesmas ataupun sarana
pelayanan kesehatan tersebut.

Untuk memudahkan pelayanan kesehatan siswa yang dirujuk, sebaiknya


pihak sekolah dan Puskesmas ataupun sarana pelayanan kesehatan lainnya
melakukan kerjasama, terutama terkait dengan kesepakatan pembiayaan
siswa ataupun warga sekolah yang dirujuk di Puskesmas atau sarana
pelayanan kesehatan lainnya. Sekolah sebaiknya mengupayakan dana
Sekolah Sehat untuk pembiayaan yang diperlukan agar masalah
pembiayaan tidak menghambat pelayanan pengobatan yang diberikan.
Setelah itu, setiap siswa (warga sekolah) harus memiliki buku/kartu
rujukan sesuai tingkat pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, fungsi Puskesmas ataupun sarana pelayanan kesehatan


lainnya terkait program Sekolah Sehat adalah melaksanakan kegiatan
pembinaan kesehatan, yang meliputi:
Memberikan pencegahan terhadap sesuatu penyakit dengan
immuniasi dan lainnya yang dianggap perlu;
Merencanakan pelaksanaan kegiatan dengan pihak yang
berhubungan dengan peserta siswa (kepala sekolah, guru, orang
tua/komite sekolah siswa dan lain-lain);
Memberikan bimbingan teknis medik kepada kepala sekolah, guru,
tenaga kependidikan, alumnus UKS, siswa dalam melaksanakan
Usaha Kesehatan Sekolah;
Memberikan penyuluhan tentang kesehatan pada umumnya dan
Sekolah Sehat pada khususnya kepada kepala sekolah, guru, dan
pihak lain dalam rangka meningkatkan peran serta dalam
pelaksanaan Sekolah Sehat;
Memberikan pelatihan/penataran kepada guru Sekolah Sehat dan
kader Sekolah Sehat (Dokter Kecil dan Kader Kesehatan Remaja);
Melakukan penjaringan dan pemeriksaan berkala serta perujukan
terhadap kasus-kasus tertentu yang memerlukannya;
Memberikan pembinaan dan pelaksanaan konseling;
Menginformasikan kepada kepala sekolah tentang derajat kesehatan
dan tingkat kesegaran jasmani siswa dan cara peningkatannya;
Menginformasikan secara teratur kepada Tim Pembina Sekolah Sehat
setempat meliputi segala kegiatan pembinaan kesehatan dan
permasalahan yang dialami.

3) Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat


Lingkungan Sekolah Sehat adalah suatu kondisi lingkungan sekolah yang
dapat mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal serta
membentuk perilaku hidup sehat dan terhidar dari pengaruh negatif. Oleh
karena itu, pembinaan lingkungan sekolah sehat adalah usaha untuk
menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang dapat mendukung proses
pendidikan sehingga mencapai hasil yang optimal baik dari segi
pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Pembinaan lingkungan sekolah
sehat dilaksanakan melalui kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler.
Mengingat waktu yang tersedia terbatas pada kegiatan kurikuler, maka
kegiatan pembinaan lingkungan sekolah sehat lebih banyak diharapkan
melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler yang dapat
menunjang pembinaan lingkungan sekolah sehat antara lain:
Lomba Sekolah Sehat, lomba kebersihan antar kelas;
Menggambar/melukis;

Mengarang;
Menyanyi;
Kerja bakti;
Pembinaan kebersihan lingkungan, mencakup pemberantasan
sumber penularan penyakit dan lain-lain.

Lingkungan sekolah sendiri dapat dibedakan menjadi dua yakni


lingkungan fisik dan lingkungan nonfisik. Pertama, lingkungan fisik adalah
lingkungan yang dapat dilihat secara kasat mata yang meliputi: ruang
kelas, ruang sekolah sehat, ruang laboratorium, kantin sekolah, sarana
olahraga, ruang kepala sekolah/guru, pencahayaan, ventilasi, WC, kamar
mandi, kebisingan, kepadatan, sarana air bersih dan sanitasi, halaman,
jarak papan tulis, vektor penyakit, meja, kursi, sarana ibadah, dan
sebagainya. Lingkungan fisik ini dapat dikatakan sehat, jika lingkungan
tersebut selalu rapi, bersih, dan higenis. Kedua, lingkungan non fisik
adalah lingkungan/suasana yang tidak bisa dilihat oleh mata namun
dirasakan dampaknya. Lingkungan non fisik yang memenuhi standar
sehat, meliputi: perilaku membuang sampah pada tempatnya, perilaku
mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih mengalir, perilaku
memilih makanan jajanan yang sehat, perilaku tidak merokok, pembinaan
masyarakat sekitar sekolah, bebas jentik nyamuk dan sebagainya.
Untuk mempermudah pelaksanaan pembinaan lingkungan sekolah sehat
sebaiknya dilakukan kegiatan identifikasi masalah, perencanaan,
intervensi, pemantauan, dan evaluasi serta pelaporan.

Pertama, identifikasi faktor risiko lingkungan sekolah. Identifikasi faktor


risiko lingkungan dilakukan dengan cara pengamatan dengan
menggunakan instrumen pengamatan dan bila perlu dilakukan
pengukuran lapangan dan laboratorium.
Sedangkan, analisa faktor risiko lingkungan dilakukan dengan cara
membandingkan hasil pengamatan dengan standar yang telah ditentukan.
Penentuan prioritas masalah berdasarkan perkiraan potensi besarnya
bahaya atau gangguan yang ditimbulkan, tingkat keparahan dan
pertimbangan lain yang diperlukan sebagai dasar melakukan intervensi.
Kedua, perencanaan. Dalam perencanaan sudah dimasukan rencana
pemantauan dan evaluasi serta indikator keberhasilan. Perencanaan
masing-masing kegiatan/upaya harus sudah terinci volume kegiatan,
besarnya biaya, sumber biaya, waktu pelaksanaan, pelaksana dan
penanggungjawab. Agar rencana kegiatan atau upaya mengatasi masalah
atau menurunkan risiko menjadi tanggungjawab bersama, maka dalam
menyusun perencanaan hendaknya melibatkan masyarakat sekolah (siswa,
guru, kepala sekolah, orang tua/komite sekolah, penjaja makanan di kantin
sekolah, instansi terkait, Tim Pembina Sekolah Sehat Kecamatan).
Ketiga, intervensi. Intervensi terhadap faktor risiko lingkungan dan
perilaku pada prinsipnya meliputi tiga kegiatan yaitu penyuluhan,
perbaikan sarana dan pengendalian.

a) Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan bisa dilakukan oleh pihak sekolah sendiri atau dari
pihak luar yang diperlukan.

b) Perbaikan sarana
Bila dari hasil identifikasi dan penilaian faktor risiko lingkungan
ditemukan kondisi yang tidak sesuai dengan standar teknis maka segera
dilakukan perbaikan.

c) Pengendalian
Untuk menjaga dan meningkatkan kondisi kesehatan lingkungan di
sekolah, upaya pengendalian faktor risiko disesuaikan dengan kondisi yang
ada, antara lain sebagai berikut;
c.1) Pemeliharaan ruang dan bangunan, meliputi:
Atap dan talang dibersihkan secara berkala sekali dalam sebulan dari
kotoran/sampah yang dapat menimbulkan genangan air;
Pembersihan ruang sekolah dan halaman minimal sekali dalam
sehari;
Pembersihan ruang sekolah harus menggunakan kain pel basah
untuk menghilangkan debu atau menggunakan alat penghisap debu;
Membersihkan lantai dengan menggunakan larutan desinfektan;
Lantai harus disapu terlebih dahulu sebelum di pel;
Dinding yang kotor atau yang catnya sudah pudar harus dicat ulang;
Bila ditemukan kerusakan pada tangga segera diperbaiki.

c.2) Pencahayaan dan kesilauan, meliputi:


Pencahayaan ruang sekolah harus mempunyai intensitas yang cukup
sesuai dengan fungsi ruang;
Pencahayaan ruang sekolah harus dilengkapi dengan penerangan
buatan;
Untuk menghindari kesilauan maka harus disesuaikan tata letak
papan tulis dan posisi bangku siswa;
Gunakan papan tulis yang menyerap cahaya.

c.3) Ventilasi, meliputi:


Penempatan ventilasi ruang sekolah harus menggunakan sistem
silang agar udara segar dapat menjangkau setiap sudut ruangan;
Pada ruang yang menggunakan AC (air conditioner) harus disediakan
jendela yang bisa dibuka dan ditutup;
Agar terjadi penyegaran pada ruang ber-AC, jendela harus dibuka
terlebih dahulu minimal satu jam sebelum ruangan tersebut diman-
faatkan;
Filter AC harus dicuci minimal 3 bulan sekali.

c.4) Kepadatan ruang kelas


Kepadatan ruang kelas dengan perbandingan minimal setiap siswa
mendapat tempat seluas 2 m2. Rotasi tempat duduk perlu dilakukan secara
berkala untuk menjaga keseimbangan otot mata.

c.5) Jarak papan tulis, meliputi:


Jarak papan tulis dengan siswa paling depan minimal 2,5 m;
Jarak papan tulis dengan siswa paling belakang maksimal 9 m;

Petugas menghapus papan tulis sebaiknya menggunakan masker.

c.6) Sarana cuci tangan, meliputi:


Tersedia air bersih yang mengalir dan sabun;
Tersedia saluran pembuangan air bekas cuci tangan;

Bila menggunakan tempat penampungan air bersih maka harus


dibersihkan minimal seminggu sekali.

c.7) Kebisingan
Untuk menghindari kebisingan agar tercapai ketenangan dalam
proses belajar, maka dapat dilakukan dengan cara:
Penghijauan dengan pohon berdaun lebat dan lebar;

Pembuatan pagar tembok yang tinggi.

C.8) Air bersih, meliputi:


Sarana air bersih harus jauh dari sumber pencemaran (tangki septic,
tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, dan lain-
lain);
Bila terjadi keretakan pada dinding sumur atau lantai sumur agar segera
diperbaiki;Tempat penampungan air harus dibersihkan/dikuras secara
berkala.

c.9) Toilet, meliputi:


Toilet harus selalu dalam keadaan bersih dan tidak berbau;
Bak air harus dibersihkan minimal sekali dalam seminggu, dan bila
tidak digunankan dalam waktu lama (libur panjang) maka bak air
harus dikosongkan agar tidak menjadi tempat perindukan nyamuk;
Menggunakan desinfektan untuk membersihkan lantai, closet serta
urinoir;
Tersedia sarana cuci tangan dan sabun untuk cuci tangan.

c.10) Sampah, meliputi:


Tersedia tempat sampah di setiap ruangan;
Pengumpulan sampah dari seluruh ruang dilakukan setiap hari dan
dibuang ke tempat pembuangan sampah sementara;
Pembuangan sampah dari tempat pembuangan sampah sementara ke
tempat pembuangan sampah akhir dilakukan maksimal 3 hari sekali.

c.11) Sarana pembuangan air limbah


Membersihkan saluran pembuangan limbah terbuka minimal seminggu
sekali agar tidak terjadi perindukan nyamuk dan tidak menimbulkan bau.

c.12) Vektor (pembawa penyakit), meliputi:


Agar lingkungan sekolah bebas dari nyamuk demam berdarah maka harus
dilakukan kegiatan;
Kerja bakti rutin sekali dalam seminggu dalam rangka pemberan-
tasan sarang nyamuk;
Menguras bak penampungan air secara rutin minimal seminggu
sekali dan bila libur panjang dikosongkan;
Bila ada kolam ikan, dirawat agar tidak ada jentik nyamuk;
Pengamatan terhadap jentik nyamuk di setiap penampungan air atau
wadah yang berpontensi adanya jentik nyamuk. Hasil pengamatan
dicatat untuk menghitung kontainer indeks.

c.13) Kantin/warung sekolah, meliputi:


Makanan jajanan harus dibungkus dan atau tertutup sehingga
terlindung dari lalat, binatang lain dan debu;
Makanan tidak kadaluarsa; Tempat penyimpanan makanan dalam
keadaan bersih, terlindung dari debu, terhindar dari bahan
berbahaya, serangga dan hewan lainnya; Tempat pengolahan atau
penyiapan makan harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan
sesuai ketentuan yang berlaku;
Peralatan yang digunakan untuk mengolah, menyajikan dan
peralatan makan harus bersih dan disimpan pada tempat yang bebas
dari pencemaran;
Peralatan digunakan sesuai dengan peruntukannya; Dilarang mengg-
unakan kembali peralatan yang dirancang untuk sekali pakai;
Penyaji makanan harus selalu menjaga kebersihan, mencuci tangan
sebelum memasak dan setelah dari toilet;
Bila tidak tersedia kantin di sekolah maka harus dilakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap penjaja makanan disekitar sekolah. Pembinaan dan
pengawasan meliputi jenis makanan/minuman yang dijual, penyajian,
kemasan, bahan tambahan (pengawet, pewarna, penyedap rasa).

c.14) Halaman Sekolah, meliputi:


Melakukan penghijauan;
Melakukan kebersihan halaman sekolah secara berkala seminggu
sekali;
Menghilangkan genangan air di halaman dengan menutup/mengurug
atau mengalirkan ke saluran umum;
Melakukan pengaturan dan pemeliharaan tanaman;
Memasang pagar keliling yang kuat dan kokoh tetapi tetap
memperhatikan aspek keamanan dan keindahan;
Mengurangi dampak pencemaran air limbah dan dampak limpasan
air hujan (drainase) pada masyarakat;
Sekolah bekerja sama dengan masyarakat dan Pemda menerapkan
daur ulang air limbah;
Melakukan konservasi air tanah dan permukaan dengan melibatkan
masyarakat setempat;
Melakukan perlindungan lingkungan didukung masyarakat setempat.

c.16) Meja dan kursi siswa


Desain meja dan kursi harus memperhatikan aspek ergonomis, permukaan
meja/bangku memiliki kemiringan ke arah pengguna sebesar 15% atau
sudut 10o.

c.17) Perilaku, meliputi:


Mendorong siswa untuk berperilaku hidup bersih dan sehat dengan
memberikan kateladanan, misalnya tidak merokok atau tidak
merokok di lingkungan sekolah;
Membiasakan membuang sampah pada tempatnya;

Membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah


buang air besar, sebelum menyentuh makanan, setelah bermain atau
setelah beraktivitas lainnya;
Membiasakan memilih makanan jajanan yang sehat.

4) Pelaksana pembinaan sekolah sehat


Untuk melaksanakan program pembinaan sekolah sehat dibutuhkan peran
serta warga sekolah dan masyarakat, yang berfungsi sebagai tim pelaksana
pembinaan sekolah sehat. Adapun tugas tim pelaksana pembinaan sekolah
sehat, meliputi:

a) Kepala sekolah
Kepala sekolah selaku Ketua Tim Pelaksana Sekolah Sehat di sekolah
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pembinaan lingkungan sekolah
sehat di sekolah masing-masing. Dalam melaksanakan pembinaan, kepala
sekolah dibantu oleh guru, pegawai sekolah, siswa, orang tua siswa (Komite
Sekolah) dan lain-lain.

b) Guru (Tenaga pendidik)


Dalam melaksanakan pembinaan lingkungan sekolah sehat, guru
mempunyai peranan penting antara lain dengan cara memberikan:
Pengetahuan praktis tentang pembinaan lingkungan sekolah sehat.
Bimbingan, contoh dan teladan, dorongan serta melakukan pengamatan
dan pengawasan kepada siswa agar mau dan terampil menerapkan segala
yang telah diberikan kegiatan sehari-hari baik di sekolah, di rumah
maupun di masyarakat.

c) Siswa
Siswa diharapkan ikut berperan serta secara aktif dalam:
Menjaga serta mengawasi kebersihan lingkungan sekolah masing-masing,
misalnya dengan ikut mengawasi kawan-kawannya yang membuang
sampah sembarangan, membersihkan ruangan atau halaman dan
sebagainya;
Piket kelas, yang bertugas menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan,
keindahan dan kekeluargaan kelasnya masing-masing;
Menjaga/memelihara lingkungan sehat di lingkunngan keluarga dan
masyarakat, misalnya dengan menyampaikan pesan tentang manfaat
lingkungan yang sehat kepada anggota keluarga yang lain, ikut kerja bakti
membersihkan lingkungan dan sebagainya.

d) Pegawai sekolah (Tenaga kependidikan)


Pegawai sekolah yang merupakan warga sekolah perlu ikut melaksanakan
dan mengawasi serta memelihara lingkungan sekolah sehat terutama pada
penyediaan fasilitas sarana prasarana.

e) Komite sekolah
Komite sekolah sebagai wadah organisasi orang tua siswa diharapkan
mampu berperan serta secara aktif dalam melaksanakan pembinaan
lingkungan sekolah sehat, terutama dalam penyediaan dana dan fasilitas
yang menunjang kegiatan.

f) Masyarakat
Masyarakat di sekitar sekolah diharapkan berperan serta untuk
melaksanakan pembinaan terutama dalam memelihara dan menjaga
lingkungan sekolah sehat.

5) Program dan Kegiatan Implementasi Sekolah Sehat.


Sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar harus
menjadi Helth Promoting School artinya Sekolah yang dapat
meningkatkan derajat kesehatan bagi semua warga sekolahnya. Derajat
kesehatan dimaksud adalah:
Sekolah memiliki lingkungan kehidupan sekolah yang tercerminkan
hidup sehat;
Mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal;

Terjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang kondusif;


Tercipta kondisi yang mendukung tercapainya kemampuan siswa
untuk berperilaku hidup sehat;

Untuk mewujudkan sekolah yang bersih, hijau, indah dan rindang serta
kondisi siswa sehat, bugar senantiasa berprilaku bersih dan sehat perlu
didukung dan diimplemtasikan oleh semua pemangku kepentingan dalam
suatu program kegiatan yang terstruktur, terencana, dan menjadi kultur
sekolah. Salah satu upaya mewujudkan sekolah sehat adalah
mengembangkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) secara terpadu
dan berkesinambungan melalui program dan kegiatan yang dituangkan
dalam RKS dan RKAS sehingga menjadi acuan bagi semua pihak dalam
melaksanakan kegiatannya.

Komponen Sekolah Sehat meliputi: pendidikan kesehatan; pelayanan


kesehatan, dan lingkungan sekolah sehat. Komponen-komponen tersebut
perlu dituangkan dalam suatu program-program dan berbagai kegiatan
serta strateginya. Program dan kegiatan tersebut harus bersifat:
Mengacu kepada pencapaian Standar Kompetensi Lulusan siswa;
Sesuai dengan kebutuhan individu setiap siswa

Operasional, terukur, rasional dan berkesinambungan;


Memberdayakan semua pemangku kepentingan.
Mendukung proses pembelajaran yang bermutu;
Mempertimbangkan kemampuan dan kondisi sekolah.

C. Kegiatan untuk Mencapai Sekolah Aman


Untuk menuju sekolah aman perlu dilakukan program dan langkah-
langkah strategis terkait pembudayaan sekolah aman, baik secara mental
(rohani) maupun fisik (jasmani).

Untuk langkah aman terkait mental (rohani), sekolah dapat melakukan


berbagai langkah, meliputi:

1) Langkah Sekolah Aman dari penindasasn (bullying)


Tindakan penindasan saat ini lebih popular dengan istilah bullying.
Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk
menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain, baik secara psikis
maupun fisik.
Langkah-langkah untuk melindungi siswa dari perbuatan bullying adalah
sebagai berikut :

a) Mencari bantuan sekolah


Dengan meningkatnya jumlah kekerasan di sekolah baru-baru ini, sangat
penting bagi kita untuk menanggapi kekhawatiran anak dengan serius.
Selidikilah apakah tindakan bullying yang diterima masih dalam batas
wajar, atau kita harus membahasnya dengan guru.
Bicara pada pelaku bullying
Di balik tindakan berani mereka, para penindas pada dasarnya
pengecut. Mereka bertindak jahat dan menjatuhkan orang lain untuk
menutupi ketidak-amanan mereka sendiri dan kurangnya rasa percaya diri.
Bullying mudah dijinakkan ketika kekuasaan dan kontrol diambil.

b) Berdayakan siswa
Berdiskusi dengan siswa untuk mengatasi tindakan bullying yang tidak
terlalu parah. Misalnya, siswa diajak tidak mengabaikan ejekan atau
gangguan non fisik. Contoh lainnya adalah bersahabat dengan semua orang
lain sehingga ketika si penindas mulai beraksi, siswa memiliki teman-
teman yang membantu atau membelanya.

c) Menceritakan pengalaman kepada siswa.


Guru dapat menceritakan pengalamannya kepada siswa tentang
bullying. Hal Ini akan membantu siswa untuk keluar dari masalahnya
karena dia tidak sendirian dalam situasi seperti itu.

d) Bentuk persahabatan di luar sekolah.


Upayakan siswa terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kursus,
kegiatan keagamaan, pramuka, dan lainnya di mana mereka bisa mencip-
takan kelompok sosial lain dan belajar keterampilan baru. Ini akan
membiasakan siswa untuk bersosialisasi dan lebih dapat menghadapi
situasi yang tidak menyenangkan.

e) Memberi perhatian dan memantau keadaan siswa dan si penindas.


Jika keadaan tidak membaik, hubungi pihak berwenang yang relevan dan
dapatkan penyelesaian terhadap masalahnya.

Untuk melindungi anak dari perbuatan bullying di lingkungan sekolah


perlu adanya optimalisasi peran guru bimbingan konseling dan koordinasi
antara guru mata pelajaran, wali kelas dan semua warga sekolah.

2) Langkah Sekolah Aman dari Tindak Kriminal:


Optimalisasi peranan guru, sebagai pendidik, pengajar, dan
pembimbing;
Optimalisasi Pelaksanaan Bimbingan Konseling;

Optimalisasi Pendidikan Agama;


Peningkatan kualitas hubungan orang tua dengan anak.

3) Langkah Sekolah Aman dari Asap Rokok


Membuat aturan larangan merokok di lingkungan sekolah (Zero
Smoke Environment), karena asap rokok dapat merusak kesehatan
lingkungan. Dengan alasan asap rokok yang menempel di baju, sofa,
karpet, ataupun benda-benda lain yang ada di lingkungan sekitar
akan meninggalkan residu racun yang tidak baik apabila dihirup.
Melakukan penolakan terhadap iklan, promosi dan kerjasama yang
dilakukan oleh perusahaan rokok dalam bentuk apapun, untuk
keperluan penyelenggaraan pendidikan. Dengan demikian, rokok
menjadi tidak lazim lagi berada di lingkungan sekolah (Denormalisasi
Rokok). Kegiatan CSR dari perusahaan rokok sesungguhnya
merupakan bentuk strategi untuk memperluas jaringan bisnis
perusahaan rokok tersebut.
Memberlakukan larangan adanya billboard, reklame, pampflet dan
bentuk-bentuk iklan lainnya dari perusahaan rokok beredar atau
dipasang di lingkungan sekolah;
Membuat larangan menjual rokok di kantin, toko, koperasi atau
bentuk penjualan lain di lingkungan sekolah;
Memasang tanda Bebas Asap Rokok / daerah Bebas Asap Rokok di
lingkungan sekolah;

4) Langkah Sekolah agar Bebas dari Pornografi dan Pornoaksi, meliputi:


Mengadakan sosialisasi tentang Undang-Undang Pornografi;
Mengadakan razia tas siswa, HP (cek isi) dan buku/majalah baik
secara rutin maupun spontanitas;
Menyeleksi buku-buku pelajaran dan buku referensi lainnya;
Mengoptimalkan kegiatan pembiasaan seperti ceramah keagamaan;
Menggunakan pakaian seragam sekolah sesuai dengan aturan yang
ditetapkan.

5) Langkah sekolah agar aman dari tindakan pelecehan seksualitas,


meliputi:
Melakukan sosialisasi pendidikan seks yang layak dan tepat bagi
siswa;
Memasang CCTV di beberapa titik yang dianggap rawan;

Mengoptimalisasikan pendidikan agama dan karakter;


Mengoptimalkan peran dan sistem pengawasan warga sekolah dalam
menjalankan fungsinya;
Menyiapkan toilet tersendiri bagi laki-laki dan perempuan;

6) Langkah sekolah agar aman dari praktik-praktik vandalisme (coret-coret


yang tidak pada tempat selayaknya) dan kekerasan visual (terhindar dari
penempelan gambar-gambar yang tidak edukatif di lingkungan sekolah,
meliputi:
Memberi ruang ekspresi pada siswa di tempat-tempat yang sesuai;
Mengoptimalisasikan pendidikan agama dan karakter;

Mengoptimalkan peran dan sistem pengawasan warga sekolah dalam


menjalankan fungsinya;
Bekerja sama dengan warga di sekitar sekolah agar terhindar dari
visual-visual yang tidak mendidik baik itu dari iklan, lukisan, poster;
Optimalisasi peran orang tua dalam memiliki tayangan edukatif bagi
siswa pada acara-acara televisi.
Optimalisasi peran organisasi-organisasi keguruan, seperti PGRI,
MGMP, dan lain-lain dan organisasi kesiswaan seperti OSIS,
Pramuka, Jurnalistik, PMR, dan lain-lain.
7) Langkah sekolah aman dari bencana
Bencana datang kapan saja. Tak seorang pun yang mampu memprediksi
kapan waktu yang tepat bencana itu terjadi. Tsunami, Gunung meletus,
longsor, kebakaran hutan, kebakaran gedung, gempa bumi, banjir, dan
bencana alam lainnya datang seketika dan mampu meluluhlantakkan alam,
rumah, ladang, sawah, kebun, ternak, gedung-gedung, bahkan menghi-
langkan nyawa manusia. Untuk itu, manusia termasuk warga sekolah harus
terus waspada karena bencana dapat diprediksi dengan ilmu pengetahuan
dan tanda-tanda alam lainnya.
Tindakan sekolah untuk melakukan tanggap terhadap bencana merupakan
suatu keharusan sebagai upaya membangun kesiapsiagaan sekolah
terhadap bencana dalam rangka menggugah kesadaran seluruh unsur-
unsur dalam bidang pendidikan baik individu maupun kolektif di sekolah
dan lingkungan sekolah, baik itu sebelum, saat maupun setelah bencana
terjadi. Adapun tujuan dari tindakan tanggap bencana adalah :
Membangun budaya siaga dan budaya aman disekolah dengan
mengembangkan jejaring bersama para pemangku kepentingan di
bidang penanganan bencana;
Meningkatkan kapasitas institusi sekolah dan individu dalam
mewujudkan tempat belajar yang lebih aman bagi siswa, guru,
anggota komunitas sekolah serta komunitas di sekeliling sekolah;
Menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan kebencanaan
ke masyarakat luas melalui jalur pendidikan sekolah.

Setidaknya ada 12 indikator Sekolah Tanggap Bencana yang dipaparkan


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), indikator tersebut
adalah :
Indikator untuk parameter pengetahuan dan keterampilan;
Pengetahuan mengenai jenis bahaya, sumber bahaya, besaran
bahaya dan dampak bahaya serta tanda-tanda bahaya yang ada di
lingkungan sekolah;
Akses bagi seluruh komponen sekolah untuk meningkatkan kapasitas
pengetahuan, pemahaman dan keterampilan kesiagaan (materi
acuan, ikut serta dalam pelatihan, musyawarah guru, pertemuan
desa, jambore siswa, dan sebagainya.).
Pengetahuan sejarah bencana yang pernah terjadi di lingkungan
sekolah atau daerahnya;
Pengetahuan mengenai kerentanan dan kapasitas yang dimiliki di
sekolah dan lingkungan sekitarnya;
Pengetahuan tentang upaya yang bisa dilakukan untuk
meminimalkan risiko bencana di sekolah;
Keterampilan seluruh komponen sekolah dalam menjalankan
rencana tanggap darurat;
Adanya kegiatan simulasi regular;
Sosialisasi dan pelatihan kesiagaan kepada warga sekolah dan
pemangku kepentingan sekolah. Adanya kebijakan, kesepakatan,
peraturan sekolah yang mendukung upaya kesiagaan di sekolah;
Membimbing warga sekolah menyelamatkan diri apabila terjadi
kebakaran atau
bencana lain.
Membimbing warga sekolah menggunakan peralatan apabila terjadi
bencana.
Mengambil langkah-langkah keselamatan untuk menghindari
kecelakan bencana.

Dengan demikian, sekolah tanggap bencana juga harus memiliki indikator


untuk parameter kebijakan, indikator untuk parameter rencana tanggap
darurat, dan indikator untuk Parameter Mobilisasi Sumberdaya. Terkait
dengan indikator untuk parameter kebijakan, sekolah harus memiliki
kebijakan, kesepakatan, peraturan sekolah yang mendukung upaya
kesiagaan di sekolah. Sedangkan, indikator untuk Parameter Rencana
Tanggap Darurat, meliputi:
Adanya dokumen penilaian risiko bencana yang disusun bersama
secara partisipatif dengan warga sekolah dan pemangku kepentingan
sekolah;
Adanya protokol komunikasi dan koordinasi;

Adanya Prosedur Tetap Kesiagaan Sekolah yang disepakati dan


dilaksanakan oleh seluruh komponen sekolah;
Kesepakatan dan ketersediaan lokasi evakuasi/shelter terdekat
dengan sekolah, serta disosialisasikan kepada seluruh komponen
sekolah dan orang tua siswa, masyarakat sekitar dan pemerintah
daerah;
Dokumen penting sekolah digandakan dan tersimpan baik, agar tetap
ada, meskipun sekolah terkena bencana;
Catatan informasi penting yang mudah digunakan seluruh komponen
sekolah, seperti pertolongan darurat terdekat, Puskesmas/rumah
sakit terdekat, dan aparat terkait;
Adanya peta evakuasi sekolah, dengan tanda dan rambu yang
terpasang, yang mudah dipahami oleh seluruh komponen sekolah;
Akses terhadap informasi bahaya, baik dari tanda alam, informasi
dari lingkungan, dan dari pihak berwenang (pemerintah daerah dan
BMKG);

Sementara itu, indikator untuk Parameter Mobilisasi Sumberdaya,


meliputi:
Adanya Satuan Tanggap bencana sekolah termasuk perwakilan siswa.
Adanya perlengkapan dasar dan suplai kebutuhan dasar pasca
bencana yang dapat segera dipenuhi, dan diakses oleh komunitas
sekolah, seperti alat pertolongan pertama serta evakuasi, obat-
obatan, terpal, tenda dan sumber air bersih.
Pemantauan dan evaluasi partisipatif mengenai kesiagaan sekolah
secara rutin (menguji atau melatih kesiagaan sekolah secara berkala).
Adanya kerjasama dengan pihak-pihak terkait penyelenggaraan
penanggulangan bencana, baik setempat (desa/kelurahan dan
kecamatan) maupun dengan BPBD/Lembaga pemerintah yang
bertanggung jawab terhadap koordinasi dan penyelenggaraan
penanggulangan bencana di kota/kabupaten.

Dengan begitu, jika terjadi bencana, sekolah yang telah memiliki indikator-
indikator di atas dapat segera melakukan langkah-langkah penyelamatan
bencana. Ada beberapa tindakan yang harus diperhatikan dalam
penyelamatan bila terjadi bencana, yakni:
a) Penyelamatan saat terjadi gempa bumi, meliputi:
Bersikap tenang dan jangan panik agar dapat melakukan tindakan
penyelamatan diri dengan baik;
Segera keluar ruang jika berada di dalam ruang. Carilah tempat yang
agak lapang agar tidak tertimpa pohon atau bangunan yang mungkin
runtuh;
Saat berada di dalam gedung bertingkat atau bangunan yang tinggi,
kemungkinan untuk keluar sangat sulit dan membutuhkan waktu
yang lama, tindakan yang harus diambil adalah berlindung di bawah
meja atau tempat yang dapat menahan diri dari reruntuhan atau
jatuhnya bendabenda;
Saat berada di jalan raya, kurangilah kecepatan kendaraan atau
berhentilah di pinggir jalan, namun usahakan tempat pemberhentian
jauh dari pohon, papan reklame, atau bangunan yang ada di sekitar
jalan;
Saat berada di pusat keramaian, hindarkan diri dari berdesak-
desakan untuk keluar pintu. Lebih baik cari tempat berlindung yang
aman dari reruntuhan atau jatuhnya benda benda.

b) Penyelamatan saat terjadi tsunami, meliputi:


Apabila terjadi gempa, kemudian air laut surut secara tiba-tiba,
segeralah lari menjauh dari pantai dan cari tempat yang lebih tinggi
karena kemungkinkan tsunami akan terjadi;
Jika gempa terjadi pada malam hari dengan kekuatan yang besar dan
kemungkinan aliran listrik dan saluran telekomunikasi akan terputus,
maka, jika hal itu terjadi dalam keadaan darurat segeralah mencari
bangunan bertingkat dan naik ke atas;
Pemerintah memasang alat pemantau dini tsunami di pantai. Jika
terjadi gempa dan disertai dengan tsunami, alat itu akan
membunyikan suara sirine. Saat terdengar suara sirine segeralah
menjauh dari pantai dan mencari tempat yang tinggi.

c) Penyelamatan saat terjadi banjir, meliputi:


Saat banjir sudah memasuki ruang, lebih baik mengungsi ke tempat
yang lebih aman.
Perhatikan kebersihan tempat, makanan, dan minuman. Saat terjadi
banjir mudah sekali kuman penyakit tersebar dan berjangkit;
Waspada terhadap lingkungan sekitar agar terhindar dari halhal
yang tidak diinginkan. Misal tersengat listrik.

d) Penyelamatan saat terjadi kebakaran hutan, meliputi:


Usahakan tidak terlalu banyak keluar rumah/ruang belajar untuk
menghindari asap;
Jika keluar rumah, gunakanlah masker untuk mengurangi pengaruh
buruk asap terhadap pernapasan kita.

Saat bencana terjadi pasti menimbulkan korban luka-luka maupun


meninggal dunia. Korban yang mengalami luka-luka harus segera
dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan kesehatan.Bagi
korban yang selamat dievakuasi ke tempat yang aman, sedangkan korban
yang meninggal dunia, dievakuasi dan dimakamkan. Evakuasi dilakukan
oleh masyarakat sekitar yang tidak terkena bencana, sukarelawan, PMI, tim
SAR atau dari TNI.

a. Pemberian Bantuan yang dibutuhkan


Korban bencana sangat membutuhkan bantuan. Bantuan yang sangat
dibutuhkan, antara lain berupa makanan, minuman, pakaian, selimut,
tenda-tenda, atau alatalat sekolah. Bantuan tersebut bisa berasal dari
pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat sekitar, masyarakat
yang berasal dari daerah lain, lembaga swadaya masyarakat, lembaga sosial
atau dari negara lain. Bantuan dapat berupa barang-barang maupun
bantuan kejiwaan atau mental untuk dapat menghadapi bencana tersebut
dengan sabar dan tegar agar dapat kembali menata hidupnya. Bantuan
tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara, misalnya:

Secara langsung diberikan kepada korban;


Melalui lembaga sosial;
Melalui lembaga-lembaga lain yang membuka posko bantuan,
misalnya stasiun televisi;

b. Pemberian Bantuan Pemulihan Kondisi Pasca bencana.


Bencana alam membuat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat
menjadi kacau. Apalagi jika rumah penduduk maupun bangunan-
bangunan lainnya mengalami kerusakan yang cukup parah, pasar, kantor,
atau sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan dapat menganggu
aktivitas ekonomi dan kegiatan belajar-mengajar. Agar kondisi kembali
pulih, pemerintah dan masyarakat bersama-sama berusaha untuk memberi
bantuan yang diperlukan untuk pemulihan tersebut.

D. Kegiatan untuk Mencapai Sekolah Ramah Anak


Prinsip Sekolah Ramah Anak adalah menjadikan peserta didik (siswa)
sebagai subjek utama dalam proses pendidikan di sekolah. Semua konsep
dan desain sekolah baik bersifat fisik maupun non fisik telah dirancang
untuk memenuhi hak-hak anak sebagai pribadi yang harus didik dengan
perasaan dan budi pekerti yang baik.
1. Penataan Fisik Sekolah
Keadaan fisik sekolah berpengaruh besar terhadap perkembangan siswa.
Sekolah yang ideal harus memiliki infrastruktur dan sarana yang memadai,
sebagai syarat standar pelayanan minimal, seperti:
Letak sekolah yang baik tidak terlalu dekat dengan jalan raya, karena di
samping bising, polusi udara juga berbahaya bagi siswa. Kalaupun terpaksa
dibangun dekat dengan jalan raya usahakan untuk memiliki gerbang atau
pagar tembok/pagar hidup sebagai peredam, serta sistem keamanan yang
memadai.

a) Penataan ruang belajar.


Ruang belajar harus dibuat senyaman mungkin. Usahakan siswa belajar di
sekolah tidak hanya duduk tenang di bangku, mendengarkan penjelasan
guru, lalu mengerjakan tugas. Usahakan siswa senang dan minat siswa
tertarik untuk belajar dengan cara membiarkan mereka belajar atau
mengerjakan segala sesuatu di lantai atau di tempat lainnya.Hal ini dapat
mengurangi kejenuhan dan mengendurkan otot-otot yang tegang.
Mengingat kemampuan konsentrasi anak terbatas, yaitu kira-kira 1 menit
x usianya, maka siswa jangan dipancang pada satu tempat saja.

b) Penataan ruang bermain


Hal lain yang tak kalah penting adalah ruang bermain baik indoor maupun
outdoor tetap memperhatikan keleluasaan siswa, mudah bergerak atau
berpindah, tidak berjubal (berdesakan). Mainan atau bahan ajar
disimpan/diletakkan di tempat yang dapat dijangkau siswa. Untuk area
bermain outdoor sebaiknya lebih memperhatikan keselamatan. Sebaiknya
halaman tempat bermain tidak dibuat keras atau lebih baik ditanami untuk
menghindari benturan yang fatal.

c) Penataan kantin sehat


Ditata sedemikian rupa sehingga tempat makan terasa nyaman, bersih dan
makanan yang disajikan higienis.

2. Penataan Psikis Sekolah

Dalam kegiatan penataan psikis sekolah, perlu dilakukan partisipasi siswa


dalam:

a) Menyusun rencana aksi tahunan terhadap kegiatan yang sudah ada,


seperti Usaha Kesehatan Sekolah, Sekolah Adiwiyata, Sekolah Aman
Bencana, Rute Aman Selamat Sekolah, dan lainnya sebagai komponen
penting dalam perencanaan pengembangan Sekolah Ramah.

b) Kebijakan dan tata tertib

Peraturan tata tertib disusun dengan melibatkan siswa, perwakilan


orang tua di luar pengurus komite sekolah dan komite sekolah,
ditandatangani bersama.
Memastikan ragam aktivitas siswa secara individu maupun kelompok
dalam menggiatkan gerakan siswa bersatu mewujudkan sekolah
ramah terintegrasi ke dalam rencana anggaran dan kegiatan sekolah.
3. Pembelajaran

Proses pembelajaran dilakukan secara inklusif dan non


diskriminatif.
Suasana belajar dan proses pembelajaran mengembangkan
keragaman karakter dan potensi siswa.
Suasana belajar, proses pembelajaran dan penilaian, dilaksanakan
tanpa diskriminasi.
Proses pembelajaran dilaksanakan dengan cara menyenangkan,
penuh kasih sayang dan bebas dari perlakuan diskriminasi terhadap
siswabaik di dalam maupun diluar kelas.
Pengembangan minat dan bakat siswa melalui kegiatan
esktrakurikuler dilaksanakan secara individu maupun kelompok.
Siswa terlibat dalam kegiatan bermain.
Terdapat materi pembelajaran yang bermuatan Konvensi Hak Anak
(KHA) dan prinsip KHA
Materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap HAM
Materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap tradisi dan
budaya bangsa.
Materi pembelajaran memuat penghormatan kepada sesama siswa
baik perempuan dan laki-laki termasuk siswa yang memerlukan
perlindungan khusus.
Pembelajaran menerapkan Sekolah Adiwiyata.
Penilaian dan evaluasi pembelajaran dilaksanakan berbasis proses
dan mengedepankan penilaian otentik.
Penerapan ragam model penilaian dan evaluasi perkembangan
belajar siswa yang mengukur kemampuan siswa tanpa
membandingkan satu dengan yang lain.

4. Pengaduan

Tersedia pojok curhat untuk siswa di ruang konseling sahabat


siswa.
Formulir pengaduan mudah diakses oleh siswa.
Melaksanakan mekanisme perlindungan terhadap siswa yang
melakukan pengaduan.

5. Penanaman nilai-nilai karakter dan seni budaya

Menjamin, melindungi, dan memenuhi hak siswa untuk beragama.


Siswa dibiasakan salam dan berjabatan tangan ketika ketemu guru
dan teman.
Pembiasaan menghargai kelemahan dan kekurangan orang lain.
Pembiasaan membuang sampah ke tempat sampah.
Mengembangkan budaya baca dan menulis.
Mengembangkan budaya gotong royong.
Pembiasaan bersikap jujur.
Menggunakan bahasa daerah minimal satu hari dalam satu minggu.
Memberi akses kepada siswa untuk mendapatkan informasi dan
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mengenai nilai-
nilai dan budaya.
Mengajak menghormati hak dan kewajiban orang lain sebagai
upaya untuk membina siswa menjalankan hak dan kewajibannya
dengan cara yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya.
Membentuk komunitas pembelajar yang berkomitmen terhadap
budaya aman dan sehat.
Sadar terhadap risiko bencana alam, bencana sosial, kekerasan dan
ancaman lainnya terhadap siswa.
Memenuhi standar pelayanan minimal pendidikan di daerah
bencana.
Materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap HAM.
Materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap tradisi dan
budaya bangsa.
Materi pembelajaran memuat penghormatan kepada sesama siswa
baik perempuan dan laki-laki termasuk siswa yang memerlukan
perlindungan khusus disabilitas.
Menjamin ketersediaan informasi bagi semua pihak dan memastikan
komunikasi dan dialog.
Memastikan kurikulum, materi pendidikan, dan buku pelajaran
memberikan gambaran yang adil, akurat, informatif mengenai
masyarakat dan budaya pribumi.
Tersedia waktu untuk siswa yang memungkinkan siswa beristirahat
dan bergembira/bersenang hati, tersedia.
Mengaktifkan sanggar budaya.

6. Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang terlatih sesuai Konvensi Hak


Anak

a) Sikap guru terhadap siswa


Secara kasat mata profil guru dapat dilihat dari cara mereka berhadapan
dengan siswa. Guru sebagai orang tua dan sahabat siswa harus dapat
menunjukkan perilaku adil terhadap semua siswa tanpa memandang status
sosial maupun keadaan fisik, baik siswa normal maupun berkebutuhan
khusus serta menghormati hak-hak siswa. Kasih sayang diberikan kepada
semua siswa, serta menerapkan norma-norma agama dan budaya yang
berlaku.
b) Metode Pembelajaran
Indikator seorang siswa cocok terhadap sekolah pilihannya adalah, sejauh
mana siswa merasa aman dan nyaman berada di sekolah itu. Oleh karena
itu proses belajar mengajar harus dikemas sedemikian rupa sehingga anak
merasa enjoy dalam mengikuti pelajaran, tanpa ada rasa cemas dan takut.
Selain itu metode pembelajaran mendorong siswa menjadi lebih kreatif.
Sekolah Ramah Anak lebih menekankan segala kegiatan berpusat pada
anak. Guru berperan sebagai sahabat bagi siswa yang bersedia membantu
segala hambatan dan kesulitan yang dihadapinya. Di samping itu guru juga
berperan sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa, bukan sematamata
orang yang memegang otoritas penuh dalam kelas. Guru harus
menenggunakan metode belajar inovatif dan variatif didukung media
pembelajaran yang membantu daya serap dan memotivasi siswa belajar
berpartisipasi dan kooperatif guna mengembangkan kompetensi belajar
learning by doing.

c) Program keselamatan dari rumah ke sekolah atau sebaliknya.

Pelatihan keselamatan berjalan dan bersepeda


Peta rute aman selamat ke dan dari sekolah
Pendidik dan tenaga kependidikan terlatih
Rambu lalu lintas tersedia
Zona selamat sekolah tersedia
Bus sekolah tersedia (jika memungkinkan)

d) Program keselamatan di sekolah

Mengenal pasti jenis bencana yang sering melanda di lingkungan


sekolah.
Menanamkan kesedaran kepada warga sekolah apabila terjadi
sesuatu atau melihat kejadian yang kurang baik di sekolah harus
lapor ke guru piket atau ke satpam.
Memberikan arahan tentang peraturan-peraturan selama berada di
lingkungan sekolah.
Memasang CCTV di setiap sudut sekolah.

e) Peran serta orang tua, masyarakat, dan dunia usaha/dunia industri di


sekolah.

Partisipasi orang tua siswa, lembaga masyarakat dan perusahaan


dalam menerapkan sekolah ramah anak.
Memberdayakan peran kelembagaan dan komunitas satuan
pendidikan dalam upaya mewujudkan sekolah ramah anak.
Melakukan MoU dengan dunia usaha/industri untuk berkontribusi
melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social
Responsibility di bidang pendidikan.
Pertemuan rutin antara orang tua dengan guru untuk
membicarakaan perkembangan siswa.
Mengajak keluarga bergabung dalam komunitasyang mendukung
siswa dalam mempelajari, memantau, dan menyebarluaskan
penerapan sekolah sehat, aman dan ramah.

E. Kegiatan untuk Mencapai Sekolah Menyenangkan


Prinsip sekolah menyenangkan adalah rasa betah di sekolah. Rasa betah ini
tidak hanya dialami oleh siswa tetapi juga seluruh warga sekolah. Mengapa
demikian? Karena antara sesama warga sekolah telah terjalin ikatan
emosional yang saling membutuhkan satu sama lainnya.

Sekolah menyenangkan juga merupakan klimaks dari perpaduan sekolah


sehat, aman, dan ramah anak. Artinya, ketika kegiatan-kegiatan sekolah
sehat, aman, dan ramah anak telah terlaksana dengan baik, maka secara
otomatis sekolah menjadi menyenangkan. Untuk membuat sekolah tetap
menyenangkan, beberapa kegiatan yang didapat dilakukan, seperti:
Memetakkan kebutuhan siswa dan warga sekolah lainnya;
Memetakkan jenis kecerdasan siswa, sehingga mempermudah guru
dalam memahami perkembangan siswa;
Merancang lingkungan sekolah yang indah, hijau, bersih sebagai
ruang publik siswa;
Merancang metode dan kurikulum pembelajaran yang tidak
membosankan, variatif, dialogis; dan inspiratif, dilengkapi game,
gambar, video, dan media pembejaran lainnya;
Merancang program kerja kegiatan ekstrakulikuler yang didasarkan
pada kebutuhan siswa;
Merancang kerjasama yang baik dan menguntungkan dengan
masyarakat ataupun lembaga-lembaga luar sekolah yang didasarkan
pada kebutuhan sekolah dan perbaikan mutu sekolah;
Merancang bentuk-bentuk pelatihan guru dan tenaga kependidikan
yang terfokus pada upaya membentuk sekolah yang menyenangkan;
Merancang desain ruang kelas yang variatif, tidak membosankan, dan
disukai siswa dan warga sekolah;
Mengajak partisiapasi masyarakat sekitar sekolah untuk bersama-
sama mengoptimalkan peran sekolah sebagai tempat menyenangkan
dalam mendidik anak;
Mengoptimalkan kegiatan sekolah sehat;
Mengoptimalkan kegiatan sekolah aman;
Mengoptimalkan kegiatan sekolah ramah anak;