Anda di halaman 1dari 5

1.4.

1 Perhitungan Daya Motor Penggerak Utama


Setelah harga dari tahanan kapal diperoleh, maka kita dapat
menentukan secara kasar draft) nilai untuk besarnya daya motor penggerak
utama yang diperlukan. Langkah langkah yang harus dilakukan ialah sebagai
berikut :
2.1 Menghitung Daya Efektif Kapal (Ehp)
Perhitungan daya efektif kapal (EHP) menurut buku TAHANAN DAN
PROPULSI KAPAL SV. AA HARVALD hal. 135
EHP = Rt dinas x Vs
= 175,046 x 5,6
= 980,257 kW
= 1314,546 HP
2.2 Menghitung Wake Friction (W)
Pada perencanaan ini digunakan tipe single screw propeller sehingga nilai w adalah :
W = 0.5 Cb 0.05
= 0,5 x 0,7 0,05
= 0,3
2.3 Menghitung Thrust Deduction Factor (T)
Nilai t dapat dicari dari nilai w yang telah diketahui yaitu:
t =kxw nilai k antara 0,7 0,9 diambil k = 0,7
= 0,7 x 0,3
= 0,21
2.4 Menghitung Speed Of Advance (Va)
Va = ( 1- w ) x Vs
= ( 1 - 0,3) x 5,6 m/s
= 3,92 m/s
2.5 Menghitung Efisiensi Propulsif
a. Efisiensi Relatif Rotatif (rr)
Harga rr untuk kapal dengan propeller tipe single screw berkisar 1.02-1.05. pada perencanaan
propeller dan tabung poros propeller ini diambil harga rr sebesar =1,05
b. Efisiensi Propulsi (p)
nilainya antara 40 -70 % dan diambil 70 %
c. Efisiensi Lambung (H)
(H) = ( 1- t ) / ( 1- w)
= ( 1 - 0,21 ) / ( 1 0,3 )
= 1,12
d. Coefisien Propulsif (Pc)
(Pc) = rr x p x H
= 1,05 x 70% x 1,12
= 0,8232
2.6 Menghitung Daya Pada Tabung Poros Buritan Baling-Baling (Dhp)
Daya pada tabung poros baling-baling dihitung dari perbandingan antara daya efektif dengan
koefisien propulsif, yaitu :
DHP = EHP / Pc
= 1314.546 / 0.8232
= 1596.873 HP
2.7 Menghitung Daya Pada Poros Baling-Baling (Shp)
Untuk kapal yang kamar mesinnya terletak di bagian belakang akan mengalami losses sebesar
2%,sedangkan pada kapal yang kamar mesinnya pada daerah midship kapal mengalami losses
sebesar3%. Pada perencanaan ini kamar mesin di bagian belakang sehingga mengalami losses atau
efisiensi transmisi porosnya (sb) sebesar = 0,98

Bagas Somporn/ME-IV LJ/0314130066 Page 1


SHP = DHP / sb
= 1596,873 / 0.98
= 1629.46 HP
2.8 Menghitung Daya Penggerak Utama Yang Diperlukan
a. BHPscr
Adanya pengaruh effisiensi roda sistem gigi transmisi (G), pada
tugas ini memakai sistem roda gigi reduksi tunggal atau single reduction
gears dengan loss 2% untuk arah maju shg G = 0,98
BHPscr = SHP / G
= 1629.46 / 0.98
= 1662,716 HP
b. BHPmcr
Daya keluaran pada kondisi maksimum dari motor induk, dimana besarnya daya BHPscr =
dari BHPmcr (kondisi maksimum). Diambil 0,9
BHPmcr = BHPscr/0.9
= 1662,716 / 0.9
= 1847,463 HP
= 1377,653 kW

1.4.2 Pemilihan Motor Induk


Untuk mesin induk, sesuai dengan daya yang diperoleh dari perhitungan tahanan, maka dipilih
Wartsila sebagai motor induk. Dengan spesifikasi sebagai berikut :
Maka => Engine type = 4R32D
=> BHP = 2010 HP
= 1480 KW
=> Bore = 320 mm
=> Stroke = 350 mm
=> Engine speed = 720 rpm

1.4.3 Pemilihan Diameter dan Putaran Propeler


1. Advance velocity
Menurut Harvald 6.2.7 hal 136, speed of advance dapat dihitung seperti berikut:
Va = ( 1 ) Vs Vs dalam knot
= ( 1 0.3 ) 11 = -0.05 + (0.5 x cb)
= 7,7 knot = -0.05 + (0.5 x 0.7)
= 0.3
2. Advance velocity
Syarat diameter propeller
0.6T D 0.7T
0.6 x 5.7 D 0.7 x 5.7
3.42 m D 3.99 m
3. Nilai Bp ( hal.206 Van Lammeren)
Bp = N x (SHP)0.5
(Va)2.5
= N x (1629.46)0.5
(7.7)2.5
= 0,245 N

Bagas Somporn/ME-IV LJ/0314130066 Page 2


Bp diagram SCREW SERIES B. 4.40
NO N 97% Bp p ho/d D (feet) D (m) Cavitation
1 300 291 31.189 0.678 0.85 254 14.8225 4.51789 YES
2 320 310 35.237 0.652 0.78 281 13.9371 4.24799 YES
3 340 329 39.284 0.629 0.74 298 12.7036 3.87208 NO
4 360 349 43.332 0.608 0.7 312 11.66 3.55396 NO
5 380 368 47.379 0.588 0.67 334 11.2612 3.43242 NO
6 400 388 51.427 0.571 0.64 341 10.2907 3.13660 NO
7 420 407 55.474 0.555 0.625 354 9.779 2.98063 NO
8 440 426 59.522 0.542 0.6 365 9.275 2.82702 NO
9 460 446 63.569 0.532 0.58 377 8.864 2.70174 NO

Bp diagram SCREW SERIES B. 4.55


NO N 97% Bp p ho/d D (feet) D (m) Cavitation
1 300 291 31.213 0.645 0.925 255 14.9187 4.54723 YES
2 320 310 34.732 0.617 0.85 276 13.552 4.13065 YES
3 340 329 38.482 0.592 0.79 291 12.2545 3.73519 NO
4 360 349 42.586 0.574 0.75 304 11.22 3.41985 NO
5 380 368 45.937 0.555 0.72 319 10.5393 3.21240 NO
6 400 388 50.724 0.538 0.68 338 10.1626 3.09756 NO
7 420 407 54.226 0.523 0.65 347 9.5095 2.89849 NO
8 440 426 59.149 0.512 0.63 361 9.135 2.74322 NO
9 460 446 62.995 0.5 0.61 371 8.672 2.68434 NO

Bp diagram SCREW SERIES B. 4.70


NO N 97% Bp p ho/d D (feet) D (m) Cavitation
1 300 291 31.569 0.65 0.945 231 13.5397 4.12692 YES
2 320 310 35.522 0.615 0.875 240 12.5153 3.81468 NO
3 340 329 39.474 0.59 0.845 249 10.6878 3.28574 NO
4 360 349 43.427 0.57 0.815 258 9.5608 2.91415 NO
5 380 368 47.379 0.56 0.8 262 8.6899 2.64871 NO
6 400 388 51.332 0.54 0.775 271 7.7962 2.37629 NO
7 420 407 55.284 0.525 0.75 280 7.3161 2.22996 NO
8 440 426 59.237 0.51 0.725 284 6.4399 1.96291 NO
9 460 446 63.189 0.495 0.715 288 6.0315 1.83843 NO

Bagas Somporn/ME-IV LJ/0314130066 Page 3


1.4.4 Perhitungan Kavitasi
Perhitungan kavitasi : B. 4.70, P/D = 0.85, Diameter = 3.814 m

Kavitasi pada propeller diprediksikan dengan menghitung kavitasi number


pada kecepatan VR, pada 0.7 radius propeller. Dari kavitasi number kemudian
dilakukan pembacaan mean thrust loading (Tc) pada diagram burril, dimana
persyaratan agar tidak terjadi kavitasi, hasil pembacaaan Tc pada diagram
burril harus lebih besar dari mean thrust loading hasil perhitungan.

Angka Kavitasi (Persamaan 61, Hal 181, Principles Naval Architecture)

+
. =

( +.)
atau dengan rumus pendekatan :

. + .
. =
+ . ()

Po = static pressure pada propeller = Patm + gh = 107467 N/m2


Patm = tekanan atmosphere = 101300 N/m2
Pv = tekanan uap jenuh air laut , pada suhu 15oC = 1646 N/m2
= 1021.5876 kg/m3
g = 9.8 m/s2

h = jarak sarat air dengan center line propeller = ( 2 )+0.2 = 2.107 m
gh = 6167.120087

Data Propeller:

Type: B.4.70
Diameter Propeller = 0,6 X T 0.5 m
AE/A0= 100 %
A0 =0.25 x x D2 = 11.419 m2
AE = 11.419 m2
P/D = 0.85
Rpm Propeller = 310 rpm
KT = 0.382105 KQ = 0.036176 = 0.42138
V = 11 knots = 5.65 m/s
Wake fraction (w) = 0.3
Speed of Advance (Va) = V x (1 - w) = 3.9612 m/s

Perhitungan Angka Kavitasi

. = 0.27413 (pers. 61) dibaca pada Burrils Diagram dihasilkan nilai Tc :


. = 0.32927 (rumus pendekatan)
point 5% cavitation = 0.14862

Bagas Somporn/ME-IV LJ/0314130066 Page 4


PERHITUNGAN MEAN THRUST LOADING
(Principles naval architecture, hal 181)
Dimana :
T = r x KT x n2 x D4 = 473.293 N
AP = projected Area dari propeller = 9.5385 m2
Kavitasi pada propeller diprediksikan dengan menghitung kavitasi number
pada kecepatan VR, pada 0.7 radius propeller. Dari kavitasi number kemudian
dilakukan pembacaan mean thrust loading (Tc) pada diagram burril, dimana
persyaratan agar tidak terjadi kavitasi, hasil pembacaaan Tc pada diagram burril harus lebih besar
dari mean thrust loading hasil perhitungan.
VR = resultan kecepatan maju + kecepatan tangensial daun propeller pada 0.7R
kecepatan tangensial = 29.1194
kecepatan maju = Va = 3.9612
VR2 = 882.641
c = 0.1247

c < c max
0.1247 < 0.1864
[ Tidak Kavitasi ]

Bagas Somporn/ME-IV LJ/0314130066 Page 5