Anda di halaman 1dari 30

Contoh Pengambilan Keputusan

Contoh-contoh Pengambilan Keputusan

Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu
keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan
harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya
dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan
yang sangat menyimpang dari rencana semula. [1] dan Pengambilan keputusan adalah
suatu pendekatan yang sistematis tehadap hakikat alternative yang dihadapi dan
mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling
tepat.[2]
Strategi Pengambilan Keputusan menurut Irving dibagi atas 6 macam:
a. Optimasi dan Resiko Sub-optimasi:
Menjelaskan mengenai strategi optimasi sebagai suatu tujuan untuk memilih tindakan
yang memberikan hasil paling tinggi. Strategi semacam ini memerlukan nilai, dalam
terminologi manfaat dan biaya dari masing-masing alternatif yang dipilih sebagai
pembanding. Untuk mengambil suatu keputusan dengan strategi optimasi dibutuhkan
waktu dan uang yang besar untuk mengumpulkan dan menguji semua informasi yang
sangat banyak. pendekatan ini masih kerapkali dianggap sebagai pendekatan yang
cukup ideal.
b. Kepuasan (Satisficing):
Hipotesis yang paling mempengaruhi para administrator dalam pengambilan
keputusan telah dirumuskan oleh Herbert Simon (1976). Para pengambil keputusan,
menurut Simon,cenderung memilih kepuasan, daripada memaksimalkan; ia melihatnya
suatu tindakan cukup baik telah memenuhi suatu keputusan yang diperlukan. Simon
berargumentasi bahwa strategi pendekatan kepuasan telah sesuai dengan sifat
keterbatasan manusia dalam memproses informasi. Aturan main yang Sampaikan
permasalahan anda kepada ahlinya dan kerjakan saja apa yang mereka katakan-
karena hal tersebut cukup baik. Maka konsumen akan merasa puas terhadap apa yang
anda lakukan.
c. Kepuasan berpura-pura (Quasi-satisficing):
Beberapa orang menggunakan aturan moral sebagai satu-satunya aturan apabila
mereka harus mengambil keputusan untuk menolong seseorang dalam
kesulitan/masalah. Schwartz (1970) menyebut pendekatan ini sebagai pengambilan
keputusan moral. Sekali seseorang memutuskan bahwa seseorang membutuhkan
pertolongan dan melihat ada suatu cara untuk dapat menolongnya, ia biasanya
langsung mengambil tindakan tanpa terlebih dahulu melihat bahwa ada cara lain untuk
dapat menolongnya. sangat jelas bahwa pilihan yang didasarkan pada strategi quasi-
kepuasan sangat berhubungan dengan aturan pengambilan keputusan yang
sederhana, yang dapat menghasilkan tindakan yang diinginkan atau tidak diinginkan
masyarakat.
d. Eliminasi dengan Aspek:
Pendekatan eliminasi digunakan untuk proses yang optimis dan cepatdalm memilih
sejumlah alternatif yang tersedia. Pengambil keputusan melakukannya secara
eksekusi, dimulai dari persyaratan yang paling penting hingga persyaratan paling kecil.
Semua alternatif yang tidak memenuhi persyaratan ini dihilangkan, dan proses eliminasi
dilanjutkan hingga tersisa hanya satu pilihan alternatif.
e. Incrementalism and Muddling Through:
Baybrooke dan Lindblom (1963) menganggap strategi incremental muddling-through
sebagai suatu tipe proses pengambilan keputusan dari kelompok perkumpulan
pluralistic. strategi incremental muddling through adalah teknik yang diharapkan oleh
orang yang malas atau lambat berpikir. Tetapi Braybrooke dan Lindblom melihat hal
tersebut sebagai metoda dengan mana badan pengambil keputusan sosial, bertindak
sebagai koalisi dari kelompok yang tertarik dapat secara efektif membuat keputusan
secara kumulatif dan akhirnya menjadikan suatu keputusan kompromi yang dapat
dikerjakan (workable compromise). Lindblom dan asosiasinya beragumentasi bahwa
keputusan incremental sebagian besar didasarkan pada kriteria konsensus, daripada
didasarkan pada nilai nyata yang diakibatkan oleh isu-isu, bisa pula mengabaikan
kejahatan sosial tidak demokratis, atau pengambilan keputusan terpusat.
f. Mixed Scanning :
Strategi Mixed Scanning terdiri atas dua komponen, yaitu:
(1) beberapa ciri dari strategi optimasi dikombinasikan dengan strategi eliminasi aspek
digunakan sebagai dasar kebijakan keputusan dan merupakan arah kebijakan dasar
(2) proses secara incremental (didasarkan atas bentuk sederhana dari strategi
kepuasan) diikuti dengan keputusan minor setelah arah kebijakan dasar ditentukan.
Etzione menggunakan istilah scanning berdasarkan referensi penelitian,
pengumpulan, prosesing, evaluasi, dan pembobotan informasi dalam proses
pembuatan pilihan.
Ketika ia mengumpulkan informasi, seberapa detil ia (pengambil keputusan) akan
memerlukan, dan seberapa komplit ia harus mengenali langkah-langkah alternatif.
Uraian Etzioni tentang strategi mixed scanning meliputi sejumlah aturan untuk
mengalokasikan sumber daya untuk scanning jika seorang pengambil kebijakan
menghadapi krisis yang membuat ia merealisasikan bahwa kebijakan yang dibuat
sebelumnya harus direview dan diubah.
Tipe pengmbilan keputusan
1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur :
keputusan yang berulang ulang dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan
terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pd manjemen tkt bawah. Pengambilan
keputusan terprogram akan berlangsung dengan efektif apabila empat criteria dasar
dipenuhi :
Tersedia waktu dan dana yang memadai untuk pengumpulan dan analisis data.
Tersedia data yang bersifat kuantitatif.
Kondisi lingkungan yang relatif stabil, yang didalamnya tidak dapat tekanan yang kuat
untuk secara cepat melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu terhadap kondisi
yang selalu berubah.
Tersedia tenaga trampil untuk merumuskan permasalahan secara tepat, termasuk
tuntutan operasional yang harus dipenuhi.
2. Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur
keputusan yg sebagian dpt diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian
tdk terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan
serta analisis yang terperinci.
3. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur
keputusan yg tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi
di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk
mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan
luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting didalam pengambilan
keputusan tdk terstruktur
JENIS JENIS KONFLIK
Terdapat berbagai macam jenis konflik, tergantung pada dasar yang digunakan untuk
membuat klasifikasi. Ada yang membagi konflik atas dasar fungsinya, ada pembagian
atas dasar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, dan sebagainya.
a. Konflik Dilihat dari Fungsi
Berdasarkan fungsinya, Robbins (1996:430) membagi konflik menjadi dua macam,
yaitu: konflik fungsional (Functional Conflict) dan konflik disfungsional (Dysfunctional
Conflict). Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan
kelompok, dan memperbaiki kinerja kelompok. Sedangkan konflik disfungsional adalah
konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok.

Menurut Robbins, batas yang menentukan apakah suatu konflik fungsional atau
disfungsional sering tidak tegas (kabur). Suatu konflik mungkin fungsional bagi suatu
kelompok, tetapi tidak fungsional bagi kelompok yang lain. Begitu pula, konflik dapat
fungsional pada waktu tertentu, tetapi tidak fungsional di waktu yang lain. Kriteria yang
membedakan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional adalah dampak konflik
tersebut terhadap kinerja kelompok, bukan pada kinerja individu. Jika konflik tersebut
dapat meningkatkan kinerja kelompok, walaupun kurang memuaskan bagi individu,
maka konflik tersebutdikatakan fungsional. Demikian sebaliknya, jika konflik tersebut
hanya memuaskan individu saja, tetapi menurunkan kinerja kelompok maka konflik
tersebut disfungsional.

b. Konflik Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya


Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman (1989:393)
membagi konflik menjadi enam macam, yaitu:
1) Konflik dalam diri individu (conflict within the individual). Konflik ini terjadi jika seseorang
harus memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang
melebihi batas kemampuannya.
2) Konflik antar-individu (conflict among individuals). Terjadi karena perbedaan kepribadian
(personality differences) antara individu yang satu dengan individu yang lain.
3) Konflik antara individu dan kelompok (conflict among individuals and groups). Terjadi jika
individu gagal menyesuaikan diri dengan norma - norma kelompok tempat ia bekerja.
4) Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict among groups in the same
organization). Konflik ini terjadi karena masing - masing kelompok memiliki tujuan yang
berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.
5) Konflik antar organisasi (conflict among organizations). Konflik ini terjadi jika tindakan
yang dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya.
Misalnya, dalam perebutan sumberdaya yang sama.
6) Konflik antar individu dalam organisasi yang berbeda (conflict among individuals in
different organizations). Konflik ini terjadi sebagai akibat sikap atau perilaku dari
anggota suatu organisasi yang berdampak negatif bagi anggota organisasi yang lain.
Misalnya, seorang manajer public relations yang menyatakan keberatan atas
pemberitaan yang dilansir seorang jurnalis.

c. Konflik Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi


Winardi (1992:174) membagi konflik menjadi empat macam, dilihat dari posisi
seseorang dalam struktur organisasi. Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan yang memiliki kedudukan yang
tidak sama dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
2) Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjandi antara mereka yang memiliki kedudukan
yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya, konflik antar karyawan, atau
antar departemen yang setingkat.
3) Konflik garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini yang biasanya
memegang posisi komando, dengan pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai
penasehat dalam organisasi.
4) Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu
peran yang saling bertentangan. Di samping klasifikasi tersebut di atas, ada juga
klasifikasi lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn, et al. (1982), yang
membagi konflik atas: substantive conflict, emotional conflict, constructive conflict, dan
destructive conflict.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA KONFLIK


Menurut Robbins (1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatar -
belakanginya (antecedent conditions). Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai
sumber terjadinya konflik, terdiri dari tiga ketegori, yaitu: komunikasi, struktur, dan
variabel pribadi.

Komunikasi. Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang menimbulkan kesalah
- pahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Suatu hasil
penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak
cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap
komunikasi dan menjadi kondisi anteseden untuk terciptanya konflik.
Struktur. Istilah struktur dalam konteks ini digunakan dalam artian yang mencakup:
ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok,
kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan
kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara
kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok dan derajat spesialisasi
merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik. Makin besar kelompok, dan
makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya
konflik.

Variabel Pribadi. Sumber konflik lainnya yang potensial adalah faktor pribadi, yang
meliputi: sistem nilai yang dimiliki tiap-tiap individu, karakteristik kepribadian yang
menyebabkan individu memiliki keunikan (idiosyncrasies) dan berbeda dengan individu
yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu, misalnya, individu
yang sangat otoriter, dogmatik, dan menghargai rendah orang lain, merupakan sumber
konflik yang potensial. Jika salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan
para karyawan menyadari akan hal tersebut, maka muncullah persepsi bahwa di dalam
kelompok terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang dipersepsikan
(perceived conflict). Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka
merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik berubah
menjadi konflik yang dirasakan (felt conflict). Selanjutnya, konflik yang telah disadari
dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah menjadi konflik yang nyata, jika pihak-
pihak yang terlibat mewujudkannya dalam bentuk perilaku. Misalnya, serangan secara
verbal, ancaman terhadap pihak lain, serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan
sebagainya.
Pendahuluan

A.Kata pengantar

Manusia di dalam menjalani kehidupannya tidak akan pernah lepas dari pengambilan
keputusan, manusia adalah makhluk pengambil keputusan. Pengambilan keputusan
begitu dekat dengan kehidupan manusia. Pengambilan keputusan terjadi setiap saat
sepanjang hidup manusia. Kehidupan manusia adalah kehidupan yang selalu diisi oleh
peristiwa pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan prasyarat
penentu tindakan. Pengambilan keputusan yang tidak tepat akan menimbulkan banyak
masalah atau mungkin saja berupa penyesalan yang tidak kunjung padam. Oleh sebab
itu ketika kita menyadari bahwa pengambilan keputusan adalah salah satu bagian
penting dari episode kehidupan yang selanjutnya maka kita dituntut untuk
memperhatikan berbagai faktor atau hal hal yang akan muncul ketika suatu keputusan
kita ambil.

Memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari atau masa yang akan datang
namun itu bukanlah alasan untuk menunda atau bahkan tidak membuat suatu
keputusan. Keputusan kita ambil dalam keterbatasan kita sebagai manusia dengan
mempertimbangkan semua faktor alternatif solusi sebaik mungkin dengan
menggunakan alat pertimbangan yang tepat. Pendekatan terhadap penyelesaian
masalah yang benar membantu kita dalam meraih keputusan yang memiliki
konsekuensi baik (berhasil menyelesaikan masalah). Hampir setiap saat seorang
pemimpin dihadapkan pada pengambilan keputusan. Setiap keputusan yang diambil
akan mempengaruhi kehidupan saat ini maupun kehidupan yang akan datang.

Dalam setiap kebijakan yang akan diambil atau yang akan dipilih maka seorang
pemimpin harus terlebih dahulu memutuskan tentang apa yang harus dikerjakan dan
adakah pilihan alternatif yang tersedia, berikutnya dari setiap alternatif tersebut
dipertimbangkan pula kelebihan dan kekurangan atau dampak yang akan ditimbulkan
dari setiap alternatif tersebut. Pengambilan keputusan merupakan ilmu dan seni yang
harus dicari, dipelajari, dimiliki dan dikembangkan secara mendalam oleh setiap orang.
Pengambilan keputusan disebut sebagai seni karena kegiatan tersebut selalu
dihadapkan pada sejumlah peristiwa yang memiliki karakteristik keunikan tersendiri.

Keputusan yang diambil dalam kasus pemilihan lampu LED sebagai salah 1 alternatif
dalam menciptakan keindahan kota serta mengurangi krisis listrik yang terjadi di
indonesia. Dalam pengambilan keputusan, lampu led dipilih sebagai lampu penerangan
jalan untuk mengurang pemakaian listrik di indonesia memerlukan pendekatan dan
pengambilan keputusan yang berbeda-beda. Pengambilan keputusan merupakan ilmu
karena aktivitas tersebut memiliki sejumlah cara, metode atau pendekatan tertentu yang
bersifat sistematis, teratur dan terarah. Pendekatan atau langkah-langkah pengambilan
keputusan dikatakan sistematis apabila setiap tahapan atau langkah yang akan diambil
dapat dilihat dengan jelas dalam menjawab suatu masalah. Ilmu pengambilan
keputusan didasarkan atas penerapan gaya pemikiran yang dianut oleh seseorang dan
persepsinya atas lingkungan dan masalah. Ketidakpastian dan peluang terjadinya
peristiwa yang tidak diinginkan mendorong kita untuk mencari, mengumpulkan dan
mengolah informasi menjadi data yang dapat dipakai sebagai panduan dalam
menentukan keputusan. Dengan demikian informasi merupakan kata kunci yang
mendorong manusia, manajer dalam melakukan tindakan dan menetapkan keputusan
guna mencapai tujuan. Informasi menjadi bahan baku yang harus diolah lebih lanjut
melalui serangkaian teknik, metode, alat ukur. Hasil pengolahan tersebut dipakai
sebagai masukan bagi pengambilan keputusan.
Di indonesia para kepala daerah tidak terlalu memikirkan hal kecil, namun hal kecil
tersebut yang akan menimbulkan masaah baru yang lebih besar. Di indonesia krisis
listrik sering terjadi tak hayal pemerintah berutang ke luar nergi atau menghabiskan
pengeluaran negara untuk subsidi listrik. Lampu salah satu penyebab pemborosan
listrik sehingga PT PLN membuat program pembagian lampu LED kepada
masyarakat dan serta beberapa kali program pematian lampu secara bergilir. Semua
program yang dilakukan PT PLN semeta meta hanya untuk mengurangi pemakaian dan
penghematan lisrik oleh masyarakat.

B. Pembahasan
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu
keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan
harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya
dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan
yang sangat menyimpang dari rencana semula. [1] dan Pengambilan keputusan adalah
suatu pendekatan yang sistematis tehadap hakikat alternative yang dihadapi dan
mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling
tepat.[2]

Strategi Pengambilan Keputusan menurut Irving dibagi atas 6 macam:


a. Optimasi dan Resiko Sub-optimasi:
Menjelaskan mengenai strategi optimasi sebagai suatu tujuan untuk memilih tindakan
yang memberikan hasil paling tinggi. Strategi semacam ini memerlukan nilai, dalam
terminologi manfaat dan biaya dari masing-masing alternatif yang dipilih sebagai
pembanding. Untuk mengambil suatu keputusan dengan strategi optimasi dibutuhkan
waktu dan uang yang besar untuk mengumpulkan dan menguji semua informasi yang
sangat banyak. pendekatan ini masih kerapkali dianggap sebagai pendekatan yang
cukup ideal.
b. Kepuasan (Satisficing):
Hipotesis yang paling mempengaruhi para administrator dalam pengambilan
keputusan telah dirumuskan oleh Herbert Simon (1976). Para pengambil keputusan,
menurut Simon,cenderung memilih kepuasan, daripada memaksimalkan; ia melihatnya
suatu tindakan cukup baik telah memenuhi suatu keputusan yang diperlukan. Simon
berargumentasi bahwa strategi pendekatan kepuasan telah sesuai dengan sifat
keterbatasan manusia dalam memproses informasi. Aturan main yang Sampaikan
permasalahan anda kepada ahlinya dan kerjakan saja apa yang mereka katakan-
karena hal tersebut cukup baik. Maka konsumen akan merasa puas terhadap apa yang
anda lakukan.
c. Kepuasan berpura-pura (Quasi-satisficing):
Beberapa orang menggunakan aturan moral sebagai satu-satunya aturan apabila
mereka harus mengambil keputusan untuk menolong seseorang dalam
kesulitan/masalah. Schwartz (1970) menyebut pendekatan ini sebagai pengambilan
keputusan moral. Sekali seseorang memutuskan bahwa seseorang membutuhkan
pertolongan dan melihat ada suatu cara untuk dapat menolongnya, ia biasanya
langsung mengambil tindakan tanpa terlebih dahulu melihat bahwa ada cara lain untuk
dapat menolongnya. sangat jelas bahwa pilihan yang didasarkan pada strategi quasi-
kepuasan sangat berhubungan dengan aturan pengambilan keputusan yang
sederhana, yang dapat menghasilkan tindakan yang diinginkan atau tidak diinginkan
masyarakat.
d. Eliminasi dengan Aspek:
Pendekatan eliminasi digunakan untuk proses yang optimis dan cepatdalm memilih
sejumlah alternatif yang tersedia. Pengambil keputusan melakukannya secara
eksekusi, dimulai dari persyaratan yang paling penting hingga persyaratan paling kecil.
Semua alternatif yang tidak memenuhi persyaratan ini dihilangkan, dan proses eliminasi
dilanjutkan hingga tersisa hanya satu pilihan alternatif.
e. Incrementalism and Muddling Through:
Baybrooke dan Lindblom (1963) menganggap strategi incremental muddling-through
sebagai suatu tipe proses pengambilan keputusan dari kelompok perkumpulan
pluralistic. strategi incremental muddling through adalah teknik yang diharapkan oleh
orang yang malas atau lambat berpikir. Tetapi Braybrooke dan Lindblom melihat hal
tersebut sebagai metoda dengan mana badan pengambil keputusan sosial, bertindak
sebagai koalisi dari kelompok yang tertarik dapat secara efektif membuat keputusan
secara kumulatif dan akhirnya menjadikan suatu keputusan kompromi yang dapat
dikerjakan (workable compromise). Lindblom dan asosiasinya beragumentasi bahwa
keputusan incremental sebagian besar didasarkan pada kriteria konsensus, daripada
didasarkan pada nilai nyata yang diakibatkan oleh isu-isu, bisa pula mengabaikan
kejahatan sosial tidak demokratis, atau pengambilan keputusan terpusat.

f. Mixed Scanning :
Strategi Mixed Scanning terdiri atas dua komponen, yaitu:
(1) beberapa ciri dari strategi optimasi dikombinasikan dengan strategi eliminasi aspek
digunakan sebagai dasar kebijakan keputusan dan merupakan arah kebijakan dasar
(2) proses secara incremental (didasarkan atas bentuk sederhana dari strategi
kepuasan) diikuti dengan keputusan minor setelah arah kebijakan dasar ditentukan.
Etzione menggunakan istilah scanning berdasarkan referensi penelitian,
pengumpulan, prosesing, evaluasi, dan pembobotan informasi dalam proses
pembuatan pilihan.

Ketika ia mengumpulkan informasi, seberapa detil ia (pengambil keputusan) akan


memerlukan, dan seberapa komplit ia harus mengenali langkah-langkah alternatif.
Uraian Etzioni tentang strategi mixed scanning meliputi sejumlah aturan untuk
mengalokasikan sumber daya untuk scanning jika seorang pengambil kebijakan
menghadapi krisis yang membuat ia merealisasikan bahwa kebijakan yang dibuat
sebelumnya harus direview dan diubah.

Tipe pengmbilan keputusan


1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur :
keputusan yang berulang ulang dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan
terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pd manjemen tkt bawah. Pengambilan
keputusan terprogram akan berlangsung dengan efektif apabila empat criteria dasar
dipenuhi :
Tersedia waktu dan dana yang memadai untuk pengumpulan dan analisis data.
Tersedia data yang bersifat kuantitatif.
Kondisi lingkungan yang relatif stabil, yang didalamnya tidak dapat tekanan yang kuat
untuk secara cepat melakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu terhadap kondisi
yang selalu berubah.
Tersedia tenaga trampil untuk merumuskan permasalahan secara tepat, termasuk
tuntutan operasional yang harus dipenuhi.

2. Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur


keputusan yg sebagian dpt diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian
tdk terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan
serta analisis yang terperinci.
3. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur
keputusan yg tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi
di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk
mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan
luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting didalam pengambilan
keputusan tdk terstruktur.

Kategori Keputusan (Nutt, 1989) :


1. Keputusan Representasi, pengambilan keputusan menghadapi informasi yang cukup
banyak dan mengetahui dengan tepat bagaimana memanipulasikan data tersebut.
Keputusan ini banyak menggunakan model-model matematik seperti operation
research, cost-benefit analysis dan simulasi.
2. Keputusan Empiris, suatu keputusan yang sedikit informasi tetapi memiliki cara yang
jelas untuk memproses informasi pada saat informasi itu diperoleh.
3. Keputusan Informasi, suatu situasi yang banyak informasi tetapi meliputi kontroversi
tentang bagaimana memproses informasi tersebut.
4. Keputusan Eksplorasi, suatu situasi yang sedikit informasi dan tidak ada kata sepakat
tentang cara yang hendak dianut untuk memulai mencari informasi.

Sistem informasi menyediakan 3 macam tipe informasi :


1. Informasi pengumpulan data (Scorekeeping information) : informasi yang berupa
akumulasi atau pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan.
2. Informasi Pengarahan perhatian (attention directing information) : membantu
manajemen memusatkan perhatian pada masalah-masalah yg menyimpang,
ketidakberesan.
3. Informasi Pemecahan masalah (Problem Solving information) : informasi untuk
membantu para manajer atas mengambil keputusan memecahkan permasalahan yang
dihadapinya.

KARAKTERISTIK INFORMASI
1. Kepadatan Informasi
2. Luas Informasi
3. Frekuensi informasi
4. Waktu Informasi
5. Akses Informasi
6. Sumber Informasi

TAHAPAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN Simon (1960) :


Intelligence : Pengumpulan informasi untuk mengidentifikasikan
permasalahan.
Design : Tahap perancangan solusi dalam bentuk alternatif2 pemecahan
masalah.
Choice : Tahap memilih dari solusi dari alternatif2 yang disediakan.
Implementation : Tahap melaksanakan keputusan dan melaporkan hasilnya
Model pengambilan keputusan :
Model Brinckloe (1977) Keputusan menggunakan pendekatan
1. Fakta, secara sistematis akan mengumpulkan semua fakta mengenai masalah dan
hasilnya ialah kemungkinan keputusan akan lahir dengan sendirinya;
2. Pengalaman, seseorang yang sudah memiliki pengalaman tentu lebih matang dalam
membuat keputusan daripada seorang yang sama sekali belum mempunyai
pengalaman apa-apa namun perlu diperhatikan bahwa peristiwa-peristiwa yang lampau
tidak akan pernah sama dengan pada saat ini;
3. Intuisi, tidak jarang keputusan yang diambil berdasarkan intuisi dikarenakan kurang
mengadakan analisis yang terkendali maka perhatian hanya ditujukan pada beberapa
fakta;
4. Logika, pengambilan keputusan yang berdasar logika ialah suatu studi yang rasional
terhadap semua unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan;
5. Analisis Sistem, kecanggihan dari komputer telah merangsang banyak orang untuk
mengambil keputusan secara kuantitatif.
Teknik-teknik Pengambilan Keputusan. (Siagian, S.P. (25-26;1993).
1. Brainstorming
Jika sekelompok orang mengadakan diskusi dimana setiap orang yang terlibat
diharapkan turut serta memberikan pandangannya. Pada akhir diskusi berbagai
pandangan yang dikemukakan dirangkum, sehingga kelompok mencapai suatu
kesepakatan tentang cara-cara yang hendak ditempuh dalam mengatasi situasi
problematic yang dihadapi. Yang harus diperhatikan adalah :
Gagasan yang aneh dan tidak masuk akal sekalipun dicatat secara teliti.
Mengemukakan sebanyak mungkin pendapat dan gagasan
Tidak melakukan penilaian atas sesuatu pendapat atau gagasan yang dilontarkan
Para peserta diharapkan dapat memberikan sanggahan pendapat atau gagasan yang
telah dikemukakan oleh orang lain.
Semua pendapat atau gagasan yang dikemukakan kemudian dibahas hingga kelompok
tiba pada suatu sintesis pendapat yang kemudian dituangkan dalam bentuk keputusan.
2.Synetics
Seorang diantara anggota kelompok peserta bertindak selaku pimpinan diskusi. iantara
para peserta ada seorang ahli dalam teori ilmiah pengambilan putusan.semua masalah
dilontarkan dan didiskusikan Selanjutnya pimpinan diskusi memilih hasil-hasil
pemikiran tertentu yang dipandang bermanfaat dalam pemecahan masalah. Dan
tenaga ahli menilai apakah rangkuman keputusan itu layak atau tidak menurut teori
3. Consensus thinking
Orang-orang yang terlibat dalam pemecahan masalah harus setuju dengan hakikat,
batasan dan dampak suatu situasi problematik yang dihadapi, sepakat pula tentang
teknik dan model yang hendak digunakan untuk mengatasinya. Teknik ini efektif bila
beberapa orang memiliki pengetahuan yang sejenis tentang permasalahan yang
dihadapi dan tentang teknik pemecahan yang seyogyanya digunakan. Orang-orang
diharapkan mengikuti suatu prosedur yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Delphi
Umumnya digunakan untuk mengambil keputusan meramal masa depan yang
diperhitungkan akan dihadapi organisasi, apakah suatu peristiwa dapat atau mungkin
terjadi atau tidak.. Teknik ini sangat sesuai untuk kelompok pengambil keputusan yang
tidak berada di satu tempat.
5. Fish bowling
Sekelompok pengambil keputusan duduk pada suatu lingkaran, dan di tengah lingkaran
ditaruh sebuah kursi. Seseorang duduk di kursi tersebut hanya dialah yang boleh bicara
untuk mengemukakan pendapat ide dan gagasan tentang suatu permasalahan. Para
anggota lain mengajukan pertanyaan, pandangan dan pendapat.
6. Didactic interaction
Digunakan untuk suatu situasi yang memerlukan jawaban ya atau tidak. Dibentuk
dua kelompok, dengan satu kelompok mengemukakan pendapat yang bermuara pada
jawaban ya dan kelompok lainnya pada jawaban tidak. Semua ide yang
dikemukakan baik pro maupun kontra dicatat dengan teliti.
7. Collective bargaining
Dua pihak yang mempunyai pandangan berbeda bahkan bertolak belakang atas suatu
masalah duduk di satu meja dengan saling menghadap.
Model Proses Pengambilan Keputusan dengan Contoh Kasus
Posted on October 12, 2012 by noviananuryan

Pengambilan keputusan (decision making) merupakan salah satu proses manajemen yang penting
bagi setiap organisasi.

Manajemen lainya dilatar belakangi oleh adanya keputusan yang dibuat oleh manajer puncak,
yang kemudian secara hirarkis dibuat oleh lini-lini manajemen ditingkat staf-staf yang
dibutuhkan.

Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai suatu proses penilaian dan pemilihan dari
berbagai alternatif sesuai dengan kepentingankepentingan tertentu dengan menetapkan suatu
pilihan yang dianggap paling menguntungkan.

Mengindentifikasi masalah utama yang mempengaruhi tujuan, menyusun, menganalisis, dan


memilih berbagai alternatif tersebut dan mengambil keputusan yang dianggap paling baik.

MACAM MACAM KEPUTUSAN MANAJEMEN

Oleh Herbert Simon secara umum membedakan antara dua jenis keputusan, yaitu:

1. Keputusan yang terprogram (programmed decision)


2. Keputusan yang tidak terprogram (non-programmed decision).

1. Keputusan yang terprogram (programmed decision)

Keputusan yang terprogram adalah keputusan yang terstruktur atau yang muncul berulang
ulang,

Misalnya dalam memutuskan jumlah bahan baik yang harus tersedia digudang, tidak bisa
terlepas dari proses perhitungan yang biasa digunakan.

2.Keputusan yang tidak terprogram (non-progrmmed decision)

Keputusan yang tidak terprogram apabila keputusan baru pertama kali muncul dan tidak tersusun
(unstructured).

Keputusan semacam itu memerlukan penanganan khusus, untuk memecahkan masalah, karena
belum ada pedoman khusus dalam menangani masalah tersebut.

Macam-macam keputusan dalam manajemen

B. KEPUTUSAN DAN JENJANG MANAJEMEN

Secara umum tingkatan manajemen dalam organisasi itu ada 3, yaitu:


1. Manajemen puncak (top manager),
2. Manajer menengah (middle manager), dan
3. Manajer rendah (lower manager).

Untuk keputusan yang tidak terprogram, biasanya lebih banyak diambil oleh manajer pada
tingkat tinggi (top manager).

HUBUNGAN MACAM KEPUTUSAN DAN TINGKATAN MANAJEMEN.

C. TAHAP-TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Sebagai dalam proses pengambilan keputusan, model tersebut memuat tiga tahap pokok, yaitu
sebagai berikut :

Riset, yaitu mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukan keputusan.

Perancangan, yaitu mendaftar, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan yang


mungkin.

Pemilihan, yaitu menetapkan arah tindakan tertentu dari totalitas yang ada.

James L. Gibson, dkk.

Mengemukakan proses pengambilan keputusan seluruhnya terdiri atas enam tahapan.

Apabila ditetapkan kebijakan untuk menangani masalah yang identik, maka manajer tidak
dituntut untuk mengembangkan dan mengevaluasi setiap munculnya masalah.

Tahap 1.

Indetifikasi dan definisi masalah

Tahap ini meliputi kegiatan pengambilan informasi, proses informasi, dan pertimbangan yang
mendalam.

Organisasi dapat diukur dengan perbedaan antara tingkat hasil yang diharapkan pada perumusan
tujuan dan sasaran dengan hasil yang dicapai sesungguhnya.

Beberapa indikator lain yang dapat membantu dalam melihat permasalahan organisasi adalah
sebagai berikut ;

a. Penyimpangan kinerja

Indikator ini muncul apabila terjadi sebua perubahan secara tiba tiba pada beberapa pola
kinerja yang telah ditetapkan.
Contohnya, meningkatnya perputarn karyawan, tingkat absensi yang meningkat, penurunan
tingkat penjualan, pengeluaran yang semakin meningkat, dan banyaknya produk yan rusak.

b. Kritikan orang lain

Berbagai tindakan orang diluar organisasi bisa menjadi pentujuk adanya masalah.

Pelanggan mungkin tidak puas dengan sebuah produk yang dikomsumsi, pemerintah
memberikan tindakan hukum, dan serikat buruh yang mungkin memberikan keluhannya.

c. Lingkungan

Lingkungan dapat memberi informasi masalah melalui berbagai cara.

Contoh jika pesaing sukses dalam meluncurkan produk baru yang menjadi pesaing produk
organisasi, maka timbul suatu masalah.

Tipe Tipe Masalah

a. Masalah terstruktur dan tidak terstruktur

Masalahmasalah terstruktur merupakan masalah pada umumnya, terus terang dan jelas dalam
hal informasi yang membutuhkan untuk menyelesaikanya.

Sebagai contoh, masalahmasalah pribadi biasanya terjadi ketika pembuatan keputusan


kenaikan gaji dan promosi permintaan liburan, tugas-tugas kepanitian, dan sebagainya.

Masalah tidak terstruktur (unstructured problems) merupakan masalah yang membingungkan


dan memiliki informasi yang terbatas dalam situasi yang baru atau tidak terduga.

Contohnya, perusahaan dihadapi pada problem dimana unit bisnisnya terpaksa dijual karena
hilangnya pelanggan.

b. Masalah menghadapi krisis

Suatu masalah krisis merupakan masalah yang tidak terduga dan dapat menghancurkan jika tidak
tertangani dengan cepat dan tepat.

Para manajer menghadapi persoalan krisis multi dimensi dan mereka mengantisipasi krisis
krisis itu dengan berbagai cara, misalnya dengan membentuk sistem informasi krisis.

Tahap-tahap 2.

Mengembangkan alternatif pemecahan.


Pengembangan alternatif merupakan proses pencarian dimana lingkungan intern dan ekstern
yang relavan dari organisasi diperiksa untuk memberikan informasi yang dapat dikembangkan
menjadi alternatif yang mungkin.

Namun demikian, manajer harus ingat akan beberapa keterbatasan dalam setiap alternatif,
misalnya keterbatasan dalam masalah hukum, etika, peraturan yang ada.

Tahap 3.

Evaluasi alternatif pemecahan

Pada situasi yang lain, manajemen lebih sering menghadapi situasi dengan kepastian yang tinggi.
Dalam hal ini tidak mudah memperkirakan konsekuesin dari keputusan.

Situasi resiko dengan tidak pasti berada diantara dari ekstern tersebut.

Oleh karena itu hubungan antara alternatif keluaran didasarkan pada tiga kondisi tersebut adalah
:

1. Kodisi kepastian.
2. Kondisi berisiko
3. Kondisi ketidakpastian

Tahap 4.

Memilih alternatif

Tahap ke empat merupakan tindakan terpenting yaitu memilih alternatif terbaik diantara
alternatif alternatif yang telah dinilai dan di evaluasi.

Tujuan pemilihan alternaif adalah memecahka masalah agar dapat mencapai tujuan dan sasaran
yang telah ditentukan sebelumnya.

Walaupun manajer sebagai pengambil keputusan memilih alternatif dengan harapan mencapai
sasaran, tetapi memilih tersebut seharus tidak dipandang sebagai suatu aktifitas yang mandiri.

Tahap 5.

Implementasi keputusan

Implementasi mencakup pencapaian keputusan itu kepada orangorang yang terkait dan
mendapatkan komitmen mereka pada keputusan tersebut.

Oleh karena itu pekerjaan manajer tidak hanya terbatas pada keterampilan memilih pemecahan
yang baik, akan tetapi meliputi juga pengetahuan dan keterampilan yang perlu untuk
melaksanakan pemecahan masalah tersebut menjadi perilaku dalam organisasi.
Tahap 6.

Evaluasi dan pengendalian

Tahap terakhir adalah monitor dan evaluasi. Tahap ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa
pelaksanaan keputusan yang diambil mengenai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai.

Jika ternyata tujuan tidak tercapai, manajer dapat melakukan respon dengan cepat.

D. GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Gaya Manajer dalam pengambilan keputusan akan banyak diwarnai oleh beberapa hal seperti
latar belakang pengetahuan, perilak pengalaman, dan sejenisnya. Cara-cara manajer dala
mendekati masalah tersebut antara lain :

Pertama, penghindar masalah. Seorang penghindari masalah mengabaikan informasi yang


menunujukkan kesebuah masalah. Para penghindari masalah ini tidak aktif dan tidak ingin
menghadapi masalah.

Kedua, penyelesian masalah. Seorang penyelesaian masalah mencoba menyelesaikan


masalah-masalah apabila masalah-masalah itu muncul. Mereka bersikap reaktif menghadapi
masalah-masalah yang timbul.

Ketiga, Pencarian masalah. Seorang pencari masalah secara aktif mencari masalah-masalah
guna diselesaikan atau mencari peluang-peluang baru untuk dikejar.

E. MODEL PENGAMBILAN KEPTUSAN

Teori manajemen mengenal perbedaan antara dua model utama dalam pembuatan keputuan.
Kedua model tersebut adalah model klasik dan model perilaku.

1. Model Keputusan Klasik

Model keputusan klasik (classical dicision) berpandangan bahwa manager bertindak dalam
kepastian. Pendekatan klasik ini merupakan model yang Sangat rasional utuk pembuatan
keputusan manajerial.

2. Model keputusan Administratif

Menurut Herbrt Simon, manager dalam pengambilan keputusan menghadapi tiga kondisi :

(a) Informasi tidak sempurna dan tidak lengkap,

(b) Rasionalitas yang terbatas (bounded rasionality),

(c) Cepat puas (satisfice).


Heuristik Penilaian

Adalah pengambilan keputusan yang disederhanakan dikarenakan kondisi dan situasi.

Tiga macam heuristik dipakai orang dalam mengambil keputusan yaitu:

1. Ketersedian (availability heuristik),


2. Perwakilan (representativeness ), dan
3. Penyesuaian dan anchoring (anchoring and adjusment hueristik).

Ketersediaan ( Availabity heuristik)

Terjadi ketika orang menggunakan informasi yang telah tersedia sebagai basis penilaian situasi
atau peristiwa yang sedang berlangsung.

Misalnya untuk tidak menanam modal ke dalam suatu produk baru berdasarkan hasil penjualan
saat ini.

Representtativeness heuristik

Terjadi bila orang menilai kemiripan sesuatu berdasarkan stereotip seperangkat peristiwa yang
sama.

Biasa pontesialnya adalah stereotip representatif dapat terjebak kedalam pendiskriminasian


factorfaktor unik yang relavan terhadap keputusan tersebut.

Anchoring and adjusment heuristik

Meliputi pembuatan keputusan berdasarkan penyesuaian terhadap nilai atau titik tolak yang telah
ada.

Contohnya, nilai pasar seseorang secara subtansi mungkin lebih tinggi dari pada upah yang
diterima.

F. PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU

Dalam keputusan individual, manager membuat pilihan tindakan yang disukai. Beberapa faktor
perilaku hanya mempunyai aspekaspek tertentu dari proses pengambilan keputusan.

Faktor tersebut adalah :

Kepribadian nilai,

Kencendrungan akan resiko, dan

Kemungkinan ketidakcocokkan.
Keperibadian

Satu penelitian telah berusaha pengaruh dari beberapa variable terpilih teradap proses
pengambilan kepriadian, tetapi memasukan juga rangkaian variable lain yaitu :

Variabel kepribadian.

Hal ini mencakup sikap, kepercayaan individu.

Variabel situasional.

Menyinggung situasi ekstern, yang dapat diamati, yang dihadapi oleh orang orang itu sendiri.

Variabel interaksional.

Hal ini menyinggung keadaan pada saat itu dari orang-orang sebagai akibat dari interaksi situasi
tertentu dengan ciri-ciri khas kepribadian orang.

Nilai

Nilai itu diperoleh pada waktu orang masih muda sekali dan merupakan bagian dasar dari pikiran
seseorang. Pengaruh itu dapat dilihat dari setiap proses pengambilan keputusan manajemen
sebagai berikut ;

1. Dalam menetapkan sasaran, pertimbangan nilai perlu sekali mengenai pemilihan kesepatan dan
penentuan prioritas.

1. Dalam mengembangkan alterntif, orang perlu mempertimbankan nilai berbagai macam


kemungkinan.
2. Apabila memilih alternatif, nilai dari orang yang mengambil kputusan memperngaruhi alternatif
manakah yang akan dipilih.
3. Apabila melaksanakan keputusan, pertimbangan nilai sangat perlu dalam memilih cara
pelaksanaanya.
4. Dalam fase evaluasi dan pengendalian, pertimbangan nilai tidak dapat dihindari apabila
mengambil tindakan.

Kecenderungan Akan Resiko

Seseorang pengambil keputusan yang agak segan mengambil resiko akan menetapkan sasaran
yang bebeda, mengavaluasi alternatif secara berbeda juga. Orang tersebut akan berusaha
menetapkan pilihan dimana resiko atau ketidakpastian sangat rendah, atau diana kepastian akan
hasilnya sangat tinggi.

Kemungkinan ketidak Cocokan


Apabila terjadi ketidak cocokan, maka tentu saja ketidak cocokan ini dapat dikurangi dengan
mengakui bahwa telah terjadi kesalahan. Orang tesebut lebih memungkinkan menggunakan satu
atau beberapa metode berikut ini untuk mengurangi ketidak cocokan mereka :

1. Mencari informasi yang mendukung kebijaksanaan dari keputusa mereka.


2. Secara selektif memahami (mengubah) informasi dengan suatu cara yang dapat mendukung
keputusan mereka.
3. Merubah siap mereka, sehingga mereka memiliki pandangan yang baik terhadap alternatif yang
telah ditetapkan sebelumnya.
4. Mengelakan pentingnya segi segi postif dan mempertinggi unsur unsur positif dari
keputusanya.

G. PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK

Dalam mengunakan kelompok, manajer harus memperhatikan keuntungan dan kerugian dari
kelompok tersebut.

Keuntungan :

1. Informasi dan pengetahuan lebih banyak.


2. Lebih banyak alternatif yang dapat dihasilkan.
3. Penerimaan penilaian hasil akhir akan lebih besar.
4. Komunikasi yang lebih baik akan muncul.

Kerugian :

1. Membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar karena waktu yang hilang
banyak.
2. Menimbulkan kompromi
3. Satu atau beberapa orang barang kali akan mendominasi kelompok.
4. Tekanan kelompok akan muncul dan membatasi kreativitas individual.

CONTOH KASUS : MASALAH GROSIR

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi grosir adalah bagaimana menentukan tingkat
persediaan (stock) barang agar permintaan konsumen terpenuhi dan biaya gudang (tempat
penyimpanan barang) tersebut tidak terlalu mahal. Hal ini selalu menjadi tujuan karena
ketidakmampuan memberikan solusi yang optimal akan menghasilkan dua jenis kerugian dalam
usaha grosir. Sebagai contoh khusus, diambil masalah grosir buah yang menjual buah
strawbarry. Buah ini mempunyai masa (waktu) jual yang terbatas, dalam arti jika tidak terjual
pada hari pengiriman, maka tidak akan laku dijual pada hari berikutnya. Jika diandaikan harga
pengambilan satu keranjang strawberry adalah $20, dan grosir akan menjualnya dengan harga
$50 satu keranjang. Berapa keranjangkah persediaan yang perlu diambil setiap hari oleh grosir
agar mendapat resiko kerugian minimum, atau agar mendapat keuntungan maximum? Hal ini
dapat diselesaikan dengan konsep peluang jika informasi tentang jumlah data penjualan
beberapa hari yang lalu ada dicatat. Untuk membahas kasus ini selanjutnya diandaikan data
penjualan selama 100 hari yang lalu tercatat sebagai berikut:

Tabel 1. Data Penjualan

Jumlah Strawbary terjual Jumlah Hari (Dalam Satuan Keranjang) Penjualan

10 15

11 20

12 40

13 25

Jumlah 100

ANALISIS KEPUTUSAN

Analisis keputusan yang dimaksud disini adalah suatu rangkaian proses dalam membahas
permasalahan yang dikemukakan di atas. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan
konsep jenis kerugian yang ditimbulkan, pemakaian konsep peluang, dan perhitungan ekspektasi
kerugian.

Pendefinisian Jenis Kerugian

Bila dalam membahas permasalahan di atas kita fokuskan terhadap minimisasi kerugian maka
perlu didefinisikan dua jenis kerugian yang akan ditimbulkan dalam kasus tersebut. Jenis
kerugian yang pertama dikenal dengan obsolescence looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh
persediaan yang terlalu banyak sehingga harus dibuang pada hari berikutnya, (jenis ini hampir
sama dengan biaya gudang akibat terlalu lama penyimpanan). Misalnya dari kasus tersebut di
atas, jika jumlah strawberry yang disediakan oleh grosir adalah 12 keranjang namun permintaan
pada hari itu hanya 10 keranjang, maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $40 (yaitu dari
harga pembelian 2 keranjang strawberry yang tidak terjual). Jenis kerugian yang kedua adalah
opportunity looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh kurangnya persediaan sehingga ada
pembeli yang tidak terlayani.

Dengan kata lain, kerugian ini timbul akibat keuntungan yang seharusnya diperoleh tetapi tidak
jadi diperoleh karena kekurangan stock. Misalnya dari kasus di atas, jika jumlah strawberry yang
disediakan oleh grosir adalah 10 keranjang sedangkan permintaan pada hari itu mencapai 12
keranjang, maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $60 (yaitu keuntungan yang tidak
diterima dari hasil penjualan 2 keranjang strawberry bila stock ada).

Tabel.2 Tabel Kerugian Bersyarat


Kemungkinan Persediaan yang Dilakukan(X)
Kemungkinan Jumlah Yang diminta (X)
10 11 12 13

10 $0 $20 $40 $60

11 30 0 20 40

12 60 30 0 20

13 90 60 30 0

Adopsi Konsep Peluang

Konsep peluang yang sudah didefinisikan sebelumnya dapat diadopsi untuk data persoalan
tersebut di atas. Jika tujuan grosir adalah untuk menentukan persediaan jumlah strawberry dalam
satuan keranjang pada hari tersebut, dimisalkan dengan X, maka berdasarkan data di atas X
adalah peubah acak diskrit yang dapat mengambil nilai 1O, 11, 12, dan 13. Dan distribusi
Peluang X (jumlah keranjang strawberry) dapat dinyatakan sebagai berikut:

Tabel 3. Distribusi Peluang X

Jumlah Strawbary terjual Dalam Satuan Keranjang Jumlah Hari Penjualan Frekwensi Relatif (fr)

(X) (f) P(X=x)


10 15 0.15

11 20 0.20

12 40 0.40

13 25 0.25

Jumlah 100 1.00

Perhitungan Ekspektasi Kerugian

Mengingat tujuan utama dari analisis ini adalah untuk menentukan jumlah stock strawberry agar
resiko (kerugian) minimum, maka analisis dilakukan dengan memperhitungkan ekspektasi
kerugian. Analisis perhitungan ekspektasi ini akan disajikan dalam tabel, dengan
memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi, dimulai dari tabel ekspektasi kerugian
bila persediaan 10 keranjang sampai dengan tabel ekspaktasi kerugian bila persediaan 13
keranjang.
Tabel 4. Ekspektasi kerugian dari Persediaan 10 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)

10 $0 0.15 $0.00

11 30 0.20 6.00

12 60 0.40 24.00

13 90 0.25 22.50

Jumlah 1.00 $52.50

Kolom kerugian bersyarat pada Tabel 4 di alas diambil, dari tabel 2 untuk kasus persediaan 10
keranjang. Kolom ke empat dari Tabel 4 menyatakan bahwa jika 10 keranjang disediakan setiap
hari selama masa yang panjang (long period), maka kerugian secara rata-rata (ekspektasi
kerugian) adalah $52.50. Tentu tidak ada jaminan bahwa jika besok diambil persediaan 10
keranjang maka sudah pasti akan rugi %52.50. Dengan cara yang sama tabel 5, 6, dan 7 dapat
dibentuk dan diinterpretasikan.

Tabel 5. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 11 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)

10 $20 0.15 $3.00

11 0 0.20 0.00

12 30 0.40 12.00

13 60 0.25 15.00

Jumlah 1.00 $30.00

Hasil analisis ekspektasi kerugian yang disajikan dalam tabel 4 sampai dengan 7 dapat
digunakan untuk mengambit keputusan. Dapat dilihat bahwa minimum kerugian yang terjadi
adalah $17.50. Hal ini terjadi pada tingkat persediaan 12 keranjang Strawberry. Ini berarti grosir
lebih baik menyediakan 12 keranjang setiap harinya, untuk kasus tersebut di atas.

Seandainya untuk membahas permasalahan di atas dilakukan anatisis dengan


mempertimbangkan keuntungan yang maksimum, maka hasilnya tidak akan berbeda yaitu
dengan jumlah persediaan 12 keranjang perharinya.
Tabel 6. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 12 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)

10 $40 0.15 $6.00

11 20 0.20 4.00

12 0 0.40 0.00

13 30 0.25 7.50

Jumlah 1.00 $17.50

Tabel 7. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 13 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)

10 $60 0.15 $9.00

11 40 0.20 8.00

12 20 0.40 8.00

13 0 0.25 0.00

Jumlah 1.00 $52.50

KESIMPULAN DARI KASUS DI ATAS

Pemakaian Teori Peluang untuk membahas persoalan ketidakpastian dapat dilakukan bilamana
dimiliki suatu informasi yang dapat dimodifikasi menjadi frekwensi relatif. Contoh kasus
masalah grosir buah tetah menunjukkan bagaimana penggunaan konsep teori peluang dan
ekspektasi digunakan untuk mengambii keputusan. Dan perhitungan dapat diperoleh bahwa nilai
minimum kerugian adalah $17.50, dengan jumlah persediaan perharinya 12 keranjang.
1. Definisi Pengambilan Keputusan
Keputusan : adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal ini berkaitan
dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan dan mengenai
unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan
hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat penting. Jiwa kepemimpinan
seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan mengambil keputusan
yang tepat. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang berbobot dan dapat diterima bawahan.
Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap
manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang
mendasarkan diri pada relasi sesama.
Ada beberapa definisi tentang pengambilan keputusan. Dalam hal ini arti pengambilan keputusan
sama dengan pembuatan keputusan.Definisi pengambilan keputusan adalah : pemilihan
alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara
alternatif-alternatif yang dimungkinkan.
Dan keputusan di dalam manajemen dibagi 2 :

1. Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yg berulang-ulang dan rutin,


sehingga dapt diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pd manjemen
tingkat bawah. Contoh keputusan pemesanan barang.

2. Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yg tidak terjadi berulang-ulang


dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk
pengambilan keputusan tdk terstruktur tdk mudah untuk didapatkan dan tdk mudah tersedia dan
biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yg sangat penting
didalam pengambilan keputusan tdk terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan
lain merupakan contoh keputusan tidak terprogram.

2. Dasar Pengambilan Keputusan


a.Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi yaitu : Pengambilan keputusan yang
berdasarkan perasaan hati yang seringkali bersifat subyektif. Pengambilan keputusan yang
berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat, untuk masalah-masalah yang dampaknya
terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan
kepuasan sepihak dan bersifat perasaan.

Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini memberikan keuntungan, yaitu :


a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan

b. Pengambilan Keputusan Rasional : yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan


pertimbangan rasional berfikir dan lebih bersifat objektif. Keputusan yang bersifat rasional
berkaitan dengan daya guna pikir. Masalahmasalah yang dihadapi merupakan masalah yang
memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional
lebih bersifat objektif dan dapat diukur.
c. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman : yaitu Pengambilan keputusan yang
berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh sehingga dapat digunakan untuk
memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya.
Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis di
kemudian hari.

d. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta : yaitu Pengambilan keputusan yang dibuat


berdasarkan data empiris dan fakta nyata sehingga dapat memberikan keputusan yang valid
sehingga tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi. Istilah fakta
perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan
secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data.
Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan
dasar pengambilan keputusan.

e. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang : yaitu pengambilan keputusan yang


berdasarkan atas wewenang/kedudukan yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi pemimpin.
Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk
mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi
yang efektif dan efisien.

3. Jenis-Jenis Keputusan

Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang
diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut, bagian mana organisasi harus dapat melibatkan
dalam mengambil keputusan dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.
Secara garis besar jenis keputusan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Keputusan Rutin
Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah
dikembangkan untuk mengendalikannya.

b. Keputusan tidak Rutin


Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat
rutin.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan

1. Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada
kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya
memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.

2. Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.

3. Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan
berbagai konsekuensinya.

4. Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan
menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.

5. Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya
dapat mempengaruhi tindakan individual.

6. Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil
yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono (2009) menjelaskan faktor-faktor yang
berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan
pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan.

Implikasi Manajerial dalam Pengambilan Keputusan :


Proses Pengambilan Keputusan dalam partisipatif dalam organisasi sekolah Manajerial yang
baik. Rendahnya kemapuan kepala sekolah akan berpengaruh terhadap perolehan dukungan dari
masyarakat khususnya dukungan dalam mengambilan keputusan yang dikeluarkan sekolah
terkait dengan kebijakan dan rencana program pengembangan sekolah.

7. KONDISI YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN


Selain ketersediaan informasi yang sangat erat dengan hasil keputusan, juga hal hal lain yang
mempengaruhi kondisi tersebut dan perlu diperhatikan, Yaitu :

1. Kondisi kepastian: Kondisi kepastian merupakan kondisi dimana pengambil keputusan


mempunyai informasi yang lengkap mengenai masalah yang dihadapi, alternatip pemecahan
masalah dan hasil yang mungkin diperoleh, sehingga pengambil keputusan dalam kondisi yang
pasti, jika dirinya dapat mengontrol dan mengantisipasi sepenuhnya terhadap kejadian yang akan
timbul.
2. Risiko : Risiko merupakan kondisi yang dapat diindentifikasi, didefinisikan, diprediksi
kemungkinan terjadinya dan kemungkinan hasil dari setiap alternatif yang diambil, biasanya
kondisi yang demikian itu timbul jika pengambil keputusan dalam keadaan keterbatasan
informasi yang berkaitan dengan keputusan yang akan ditetapkanya, sebaliknya , suatu risiko
tidak akan terjadi jika pengambil keputusan dapat merumuskan suatu kemungkinan secara
obyektif.
3. Kondisi ketidak pastian: Merupakan kondisi dimana pengambil keputusan tidak memiliki
informasi yang diperlukan dalam pengambil keputusan. Dalam hal yang demikian , pengambil
keputusan juga tak mampu untuk menetapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebagai
hasil dari pemilihan alternatif yang diambilnya. Karena keputusan yang diambil bersifat
spekulatif, dan sering kali mengandalkan intuisi yang semata sebagai pedomanya.

8. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN


Kata proses pada dasarnya berkaitan dengan urutan langkah yang mengarah pada hasil tertentu,
sehingga didalam proses pengambilan keputusan tidak akan terlepas dari :

1. intelligence ( penyelidikan ) :yaitu pencarian kondisi yang memerlukan keputusan


2. design ( rancangan ) :Yaitu dengan pengembangan dan analisis terhadap berbagai
kemungkinan tindakan, dan,
3. choice ( pemilihan ) :yang berkenaan dengan pemilihan tindakan yang sesungguhnya.

9. GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN.


Perilaku seseorang akan mendekati dalam melaksanakan pengambilan keputusan. Gaya
kepemimpinan dan gaya hidup adalah dua diantara contoh gaya yang mempengaruhi didalam
mengambil keputusan. Seperti halnya gaya ( perilaku ) kepemimpinan yang ditampilkan oleh
seseorang didalam melakukan pengambilan keputusanpun bermacam macam. Menurut Carl
Jung ( 1923 ) seorang psikolog telah mengindentifikasikan empat fungsi dalam kaitanya dengan
pengambilan keputusan, Yaitu :

1. sensing ( pengideraan ): berkaitan dengan tendensi untuk mencari fakta, bersifat realistis, dan
melihat sesuatu dalam perspektif yang obyektif. Karenanya fungsi ini menempatkan nilai yang
tinggi pada fakta yang dapat divertivikasi oleh penggunaan pancaindera , menyukai rutinitas dan
presisi.
2. intuiting ( intuisi ) :Yaitu berkaitan dengan tendensi untuk mencoba menyingkap
kemungkinan kemungkinan baru guna mengubah cara menangani sesuatu. Menyukai situasi
yang baru dan unik , tidak menyukai hal hal yang bersifat rutin, detail dan presisi.
3. thinking ( pemikiran): adalah tendensi untuk mencari hubungan sebab akibat yang sistematik
untuk dianalisis secara utuh, dan membedakan dengan tegas antara yang benar dan yang salah,
dan pemikiranya bertumpu pada proses kognitif.
4. feeling ( perasaan ): yaitu tendensi untuk mempertimbangkan bagaimana perasaan diri sendiri
dan orang lain sebagai akibat dari keputusan keputusan yang dibuat, dalam hal ini ada
perbedaan perbedaan antara yang baik dan buruk, bernilai dan tak bernilai.dan ia
menggantungkan diri pada proses afektif

10. PENGAMBILAN KEPUTUSAN SECARA KELOMPOK


Proses pengambilan keputusan kelompok adalah salah satu corak proses pengambilan keputusan
dalam organisasi. Ciri dari prosesnya ditandai dengan keterlibatan dan partisipasi orang banyak.
Sering kali keputusan semacam ini dianggap ideal dan dipergunakan secara luas dalam
organisasi . Namun, apakah hal ini berarti bahwa keputusan kelompok selalu lebih disukai dari
pada keputusan oleh individu sendiri ? pertanyaan ini tergantung dari berbagai faktor, yaitu
keunggulan dan kekurangan dari keputusan kelompok tersebut, yakni :

Keunggulan keputusan kelompok


Keputusan individual dan kelompok ini masing masing memiliki kekuatan sendiri sendiri,
karenanya masing masing juga tidak selalu ideal untuk semua situasi. Namun beberapa
keunggulan keputusan kelompok dibandingkan dengan keputusan individual adalah sebagai
berikut :

1. Informasi dan pengetahuan lebih lengkap. Dalam menghimpun sumber daya dari sejumlah
individu , berarti lebih banyak masukan yang dipakai dalam proses pembuatan keputusan.
2. Keragaman pandangan lebih banyak. Selain masukan yang banyak, kelompok dapat
membawa serta heterogenitas mereka kedalam proses keputusan. Hal ini membuka peluang bagi
lebih banyak pendekatan dan alternatip yang akan menjadi pertimbangan.
3. Penerimaan keputusan lebih besar. Banyak solusi yang ternyata gagal setelah keputusan
diambil, karena orang orang tidak dapat menerima hasil keputusan tersebut. Akan tetapi , bila
orang yang akan dikenai oleh keputusan itu dan orang tersebut dapat ambil bagian dalam proses
pembuatanya, maka mereka lebih cenderung untuk menerimanya, dan bahkan akan mendorong
orang lain untuk menerimanya.
4. Legitimasi keputusan lebih kuat. Masyarakat kita menghargai metode metode yang
demokratis. Proses pengambilan keputusan kelompok yang konsisten dengan sikap demokratis
dipandang lebih memiliki keabsahan dari pada keputusan yang dibuat oleh seorang individu.
Kekurangan keputusan kelompok
Disamping keunggulan keunggulanya. Sudah barang tentu keputusan kelompok juga
mengandung kelemahan. Beberapa kekurangan keputusan kelompok antara lain :

1. Memakan waktu.Untuk membentuk suatu kelompok sudah jelas membutuhkan waktu


tersendiri. Proses interaksi yang terjadi begitu kelompok terbentuk juga sering sekali tidak
efisien. Akhirnya kelompok membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai kesepakatan
terhadap sebuah solusi dari pada yang dapat dilakukan seorang individu. Hal ini tentu saja
membatasi kemampuan manajemen untuk bertindak cepat pada saat diperlukan.
2. Tekanan untuk sependapat. Keinginan anggota kelompok untuk diterima dan
dipertimbangkan sebagai aset bagi kelompok akan mengakibatkan adanya penekanan pada pihak
yang berbeda pendapat, dan mendorong persesuaian diantara sejumlah pandangan. Keadaan
seperti ini juga mmendorong terjadinya pemikiran kelompok ( groupthink ) akan dimana tekanan
kelompok mengarah pada menurunya efisiensi mental, minimnya uji realitas, dan kurangnya
pertimbangan moral.
3. Dominasi oleh minoritas. Boleh jadi didominasi oleh satu atau beberapa anggota Jika koalisi
dominasi ini juga terdiri anggota yang berkemampuan rendah dan menengah, maka efektifitas
kelompok secara keseluruhan akan mengalami gangguan.
4. Tanggung jawab yang kabur. Anggota kelompok sama berbagi ( share ) tanggung jawab,
tetapi tak jelas siapa yang bertanggung jawab, sedangkan pada keputusan kelompok tanggung
jawab dari setiap anggota diabaikan.

11. TEKNIK TEKNIK KEPUTUSAN DALAM KELOMPOK


Bentuk yang paling lazim ( tradisional ) dalam proses pengambilan keputusan kelompok terjadi
dalam interaksi tatap muka. Dalam hal ini, teknik teknik brainstorming ( sumbang saran ),
nominal group ( kelompok nominal ), dan delphi telah dianggap sebagai cara yang baik untuk
meminimalkan berbagai masalah yang timbul didalam interaksi kelompok tradisional itu.

1. Brainstorming
Teknik brainstorming adalah salah satu bentuk teknik kelompok. Pada pokoknya teknik ini untuk
menggali dan mendapatkan gagasan gagasan dari anggota kelompok. Karena, teknik
brainstorming lebih berfokus pada penggalian gagasan daripada evaluasi gagasan. Semakin
banyak gagasan yang digali, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan solusi kreatif atas
sesuatu masalah yang dihadapi. Namun demikian teknik ini mengandung beberapa kelemahan ,
Yaitu : a..Hanya dapat diterapkan pada masalah masalah yang sederhana b. Sangat memakan
waktu dan biaya, c. Hanya menghasilkan ide ide yang dangkal.

2. Nominal group technique


Berbeda dengan brainstorming, nominal group technique (NGT) berkenaan dengan penggalian
dan evaluasi gagasan sekaligus. Pada mulanya gagasan gagasan digali secara nominal ( tanpa
interaksi ) guna menghindari hambatan dan permufakatan. Selanjutnya, pada waktu evaluasi atas
gagasan, interaksi dan diskusi dimungkinkan, namun dalam situasi yang terstruktur agar setiap
gagasan mendapatkan perhatian yang proporsional.

3. Delphi Technique
Teknik dekphi sedikit berbeda dengan NGT, dalam mana prosesnya semata mata tergantung
pada kelompok nominal( para pakar ) sebagai partisipan yang kesemuanya tidak melakukan
interaksi tatap muka. Jadi, dengan teknik ini sangat mungkin kita dapatkan sejumlah pakar tanpa
harus mengumpulkan mereka pada disatu tempat pada waktu yang sama. Perlu ditekankan disini
bahwa para pakar tersebut tidaklah membuat keputusan akhir, tetapi lebih sebagai penyaji
informasi bagi pengambil keputusan dalam organisasi. Inti dari teknik ini pada penggunaan
serangkaian kuisioner yang dikirimkan kepada responden untuk mendapatkan masukan.
Selanjutnya dari jawaban yang mereka masukan diolah lagi oleh pihak pengambil keputusan
untuk merumuskan rangkuman rangkuman yang kemudian akan digunakan sebagai bahan
pengambilan keputusan. Sesungguhnya teknik ini kelihatanya ilmiah dan secara teoritis dapat
memanfaatkan pikiran para ahli yang bermutu tinggi, akan tetapi teknik delphi juga mengandung
kelemahan, seperti : a. memakan waktu lama, dan b. Perlu ketrampilan bahasa yang tinggi untuk
menyusun kuisioner yang baik dan sesuai dengan masalah yang diangkat.

Contoh pengambilan keputusan dalam organisasi :


DPR yang masih ragu dalam pengambilan keputusan menaikkan tarif listrik 10%. Ini di
karenakan bentroknya pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah yang ingin tarif di naikkan, dan
masyarakatnyanya yang tidak setuju. Mungkin bagi pemerintah memaksa ingin menaikkan tarif 10%
hanya hal biasa saja, tetapi bagi masyarakat apalagi yang tidak mampu ini adalah hal yg berat. Akibatnya
pihak DPR pun belum mengambil keputusan apapun untuk menaikkan atau tidak