Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Puskesmas


4.1.1 Letak Geografis
Puskesmas Sindang Barang terletak di Jl. Sirnasari IV No. 3 Kelurahan
Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Posisi Kota Bogor berada
dekat dengan Jakarta, dan kondisi alamnya yang indah dengan udara yang relatif
sejuk menjadikan Kota Bogor menjadi penyangga ibu kota. Puskesmas Sindang
Barang sudah menjalankan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 pada
seluruh unit pelayanan, beserta proses-proses pendukungnya.

Wilayah kerja Puskesmas Sindang Barang meliputi 5 kelurahan:


1. Kelurahan Sindang Barang : 159.116 Ha
2. Kelurahan Bubulak : 157.085 Ha
3. Kelurahan Situ Gede : 232.470 Ha
4. Kelurahan Marga Jaya : 116.176 Ha
5. Kelurahan Balumbang Jaya : 114.959 Ha
Total wilayah : 779.806 Ha
Secara administratif wilayah kerja Puskesmas Sindang Barang termasuk
dalam wilayah Kecamatan Bogor Barat, dengan batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Desa Cikarawang, Kabupaten
Bogor
b. Sebelah timur berbatasan dengan wilayah Kelurahan Menteng, Kecamatan
Bogor Barat
c. Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Desa Ciomas Rahayu Kabupaten
Bogor
d. Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Desa Babakan Kabupaten Bogor

4.1.2 Data Penduduk


Data jumlah penduduk, RT, RW di wilayah kerja Puskesmas Sindang Barang
disajikan dalam tabel berikut:

Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah


No Kelurahan
RT RW KK Penduduk

1 Sindang Barang 47 9 4.421 14.351


2 Bubulak 49 13 4.599 13.482
3 Situ Gede 34 10 2.597 7.941
4 Marga Jaya 25 7 1.680 5.348
5 Balumbang Jaya 41 13 2.796 10.227
Jumlah 200 52 16093 51854

4.1.3 Ketenagakerjaan
Jumlah tenaga yang bertugas di Puskesmas Sindang Barang pada tahun 2014
berjumlah 32 orang, dengan status pegawai : 28 orang PNS dan 4 orang Sukwan.
No Jenis Jumlah Keterangan
1 Kepala Puskesmas
1 Dokter Umum 3 orang
2 Dokter Fungsional
2 Dokter Gigi 1 orang
3 Perawat 6 orang
4 Bidan 6 orang
5 Perawat Gigi 1 orang
6 Tenaga Pelaksana Gizi 2 orang
7 Petugas Kesling 2 orang
8 Promkes 2 orang
9 Laboratorium 1 orang
10 Asisten Apoteker 2 orang
11 Ka Tu 1 orang
12 Pendaftaran 2 orang
13 Petugas Obat 1 orang
14 Sukwan Petugas Kebersihan 3 orang
15 Sukwan BPJS 1 orang

4.1.4 Sarana dan Prasarana


Puskesmas Sindang Barang menyediakan dan memelihara infrastruktur yang
diperlukan memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat berupa :
1. Tanah dengan luas 1500 meter persegi
2. Gedung pelayanan (puskesmas) yang terdiri dari gedung rawat jalan, Gedung
PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar), Rumah Dinas
untuk karyawan dan Puskesmas Pembantu Balumbang Jaya
3. Ruang kerja yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung, antara lain
penerangan, tempat cuci tangan, meja kursi, perangkat komputer, saluran
telepon dan lain sebagainya.
4. Laboratorium sederhana Faskes TK 1
5. Alat-alat kesehatan dasar dan bahan habis pakai
6. Fasilitas ruang tunggu yang dilengkapi dengan kursi, tempat sampah, dan
toilet bagi para pasien maupun keluarga yang mengantar.
7. Peralatan ukur, antara lain: pengukur berat badan, pengukur temperatur,
pengukur tekanan darah, dan sebagainya.
8. Kendaraan roda 2 (motor) sebanyak 4 unit
9. Genset 1 unit
10. Rumah sakit di wilayah kerja yaitu RS Medika Dramaga

Kelurahan
No Jenis TTU Sindang Situ Balumbang Jumlah
Bubulak Margajaya
barang Gede Jaya
Puskesmas
1 1 1
Induk
2 Pustu 1 1
3 Apotik 1 1
4 BP 1 3 4
RB Swasta/
5 2 3 1 2 1 9
BPS
6 Dr Praktek 4 4 1 3 12
7 Optik 1 1
Jumlah 29

4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan


4.2.1 Jenis kelamin
Novitasari (2012) : menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara
jenis kelamin dengan angka kejadian gizi buruk dimana kejadian gizi buruk
lebih banyak terjadi pada anak perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan pada balita di Jakarta tahun 2008 yang
menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna jenis kelamin dengan
kejadian gizi buruk. Menurut penelitan sebelumnya jenis kelamin
perempuan paling banyak mengalami gizi buruk karena di dalam kehidupan
sehari-hari masih banyak keluarga yang memberikan porsi lebih banyak
kepada laki-laki daripada perempuan dan mengutamakan pemberian
makanan terlebih dahulu pada laki-laki setelah itu baru perempuan.
4.2.2 Berat badan lahir rendah
Novitasari (2012) : Data yang diperoleh dari penelitian memberi simpulan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara BBLR dengan kejadian
gizi buruk. Selain itu BBLR merupakan faktor risiko dari kejadian gizi
buruk. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya di Kelurahan
Pringgokusuman tahun 2012 menyatakan bahwa BBLR merupakan faktor
risiko kejadian gizi buruk.46 Penelitian lain yang dilakukan di Puskesmas
Basuki Rahmad tahun 2011 juga menyatakan bahwa terdapat hubungan
yang bermakna antara BBLR dengan kejadian gizi buruk. Penyebab
terbanyak dari BBLR ini adalah bayi yang lahir prematur atau dapat
disebabkan saat bayi mengalami hambatan saat di dalam
kandungan.Dampak BBLR ini adalah meningkatkan risiko angka
morbiditas (kesakitan) dan gangguan pertumbuhan fisik saat balita.37 Gizi
buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang. Pada BBLR zat antibodi
kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit. Penyakit ini
menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga asupan makanan yang
masuk ke dalam tubuh menjadi berkurang dan dapat menyebabkan gizi
buruk.
4.2.3 Riwayat ASI eksklusif
Novitasari (2012) : Penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan
yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian gizi buruk.
Selain itu diperoleh pula simpulan bahwa pemberian ASI eksklusif
merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk. Berdasarkan catatan medik,
ibu balita yang tidak memberikan ASI ekslusif dikarenakan ASI yang tidak
keluar dan anak yang sudah besar. Hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur tahun 2005.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pendeknya masa ASI eksklusif
merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk.11 ASI mempengaruhi
kejadian gizi buruk dikarenakan ASI mengandung zat antibodi sehingga
balita yang tidak diberikan ASI eksklusif akan rentan terhadap penyakit dan
akan berperan langsung terhadap status gizi balita.29 Menurut penelitian di
Kabupaten Takalar tahun 2010 juga memperoleh hasil bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian
gizi buruk.45
4.2.4 Riwayat imunisasi dasar
Novitasari (2012) : Terdapat hubungan yang bermakna antara kelengkapan
imunisasi dengan kejadian gizi buruk. Pemberian imunisasi yang tidak
lengkap merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya di Kabupaten Lombok Timur tahun 2005 bahwa
imunisasi yang tidak lengkap merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk.
Penelitian lain yang dilakukan di Kabupaten Deli Serdang tahun 2010 dan
di Kelurahan Babura tahun 2005 juga menyatakan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara imunisasi yang tidak lengkap dengan
kejadian gizi buruk.48,49 Ini dikarenakan apabila bayi atau balita tidak
diberikan imunisasi yang lengkap maka balita akan mudah terkena penyakit
dan tidak memiliki kekebalan yang baik terhadap penyakit. Bayi yang
terkena penyakit akan menyebabkan menurunnya nafsu makan dan asupan
makanan ke dalam tubuh balita menjadi berkurang.16
Saputra & Nurrizka (2012) : Hasil temuan menunjukkan bahwa anak yang
mendapatkan vitamin A dalam kegiatan Posyandu memiliki risiko gizi
buruk yang lebih rendah dibanding anak dengan tidak mendapatkan vitamin
A. Begitu juga, pemeriksaan kandungan oleh ibu disaat hamil. Ibu yang
tidak memeriksakan kandungan pada saat hamil memiliki risiko anak
menderita gizi buruk dengan probabilitas sebesar 1,756. Hal yang sama
terjadi dengan pemberian zar besi bagi ibu hamil, juga dapat mengantisipasi
anak untuk menderita gizi buruk.
4.2.5 Riwayat penyakit yang diderita
Novitasari (2012) : Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara penyakit penyerta dengan kejadian gizi
buruk. Selain itu diperoleh hasil pula bahwa penyakit penyerta merupakan
faktor risiko kejadian gizi buruk. Hal ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2007 bahwa
penyakit penyerta merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk.44 Penyakit
penyerta dapat menyebabkan gizi buruk dikarenakan terdapat hubungan
timbal balik antara kejadian penyakit dan gizi buruk. Balita yang menderita
gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan sehingga rentan terhadap
penyakit. Selain itu anak yang menderita sakit akan memperjelek keadaan
gizi melalui gangguan asupan makanan dan meningkatnya kehilangan zat-
zat gizi esensial. Penyakit penyerta yang paling banyak dialami oleh balita
kelompok gizi buruk menurut catatan medik di RSUP Dr. Kariadi adalah
diare kronik dan ISPA. Sekitar 10% diare kronik dan 10% ISPA diperoleh
dari catatan medik. Hal ini dapat terjadi gizi buruk pada balita yang
mengalami diare karena balita akan mengalami asupan makanan dan
banyak nutrisi yang terbuang serta kekurangan cairan. Selain itu, balita
dengan ISPA yaitu salah satu penyakit infeksi yang sering dialami oleh
balita, dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan sehingga asupan zat
gizi ke dalam tubuh anak menjadi berkurang
Tarigan (2003) : Dari hasil penelitian terlihat bahwa perubahan prevalensi
gizi kurang pada anak diare pada saat krisis cenderung meningkat dari 50%
menjadi 55,3%. KEP disebabkan oleh masukan (intake) energi dan protein
yang sangat kurang dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini kan lebih
cepat terjadi bila anak mengalami diare dan penyakit infeksi lainny.
Persediaan makanan yang terbatas dan seringnya anak menderita penyakit
infeksi merupakan dua faktor utama yang menyebabkan kurang gizi. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Utomo bahwa penyakit infeksi (diare dan saluran
pernafasan) mempunyai hubungan sinergis dengan keadaan gizi. Diantara
penyakit infeksi tersebut, diare merupakan penyebab utama gangguan
pertumbuhan anak balita. Pada kelompok umur 18-36 bulan, pngenalan
terhadap lingkungan semakin luas sehingga jika lingungan kurang sehat
anak akan lebih mudah terkena infeksi
4.2.6 Pengetahuan orang tua mengenai gizi buruk
Sofiyana & Noor (2013) : Penelitian yang dilakukan Heny menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan
pemberian makanan pada balita. Selain itu penelitian Apooh menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi
balita
Sofiyana & Noor (2013): Berdasarkan hasil penelitian Rasanen et al bahwa
konseling gizi dalam waktu relative singkat dapat meningkatkan
pengetahuan gizi seseorang.
Sofiyana & Noor (2013) : Hasil penelitian Podojoyo menyatakan bahwa
konseling gizi dapat memberikan perubahan konsep dan perilaku subjek.
Berdasarkan penelitian Pelto bahwa konseling gizi dapat memberikan
dampak positif pada perubahan perilaku. Selain itu hal ini sesuai teori
Health Belief Model yang menyatakan bahwa konseling dengan metode
bertatap muka dan berdiskusi secara langsung akan memberikan hasil
perubahan perilaku kea rah yang lebih baik
4.2.7 Pendidikan orang tua
Novitasari (2012) : Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur
tahun 2010 memperoleh hasil bahwa pendidikan ibu merupakan faktor
risiko kejadian gizi buruk.11 Hasil penelitian sebelumnya sesuai dengan
penelitian yang saya teliti yaitu pendidikan ibu mempunyai hubungan yang
bermakna dengan kejadian gizi buruk dan pendidikan ibu merupakan faktor
risiko dari kejadian gizi buruk. Selain itu penelitian yang dilakukan di
Kabupaten Magelang tahun 2003 dan penelitian di Surakarta tahun 2006
juga menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
pendidikan ibu dengan status gizi.30,43 Hal ini dikarenakan tingkat
pendidikan ibu berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan balita terutama
anak yang masih diasuh oleh ibunya.35 Kualitas pengasuhan balita yang
buruk dan rendahnya pendidikan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas
asupan makanan balita yang menyebabkan balita tersebut mengalami gizi
buruk.36
Saputra & Nurrizka (2012) : Hasil temuan menunjukkan bahwa rendahnya
tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan ibu berpengaruh secara
signifikan terhadap risiko balita menderita gizi buruk dan gizi kurang
(Gambar 2 dan 3). Pendidikan berpengaruh secara signifikan pada
pengetahuan masyarakat terhadap gizi dan kesehatan. Bila pengetahuan
rendah maka pola asuh orang tua terhadap anak menjadi kurang baik.
Selanjutnya implikasinya akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang
anak..
Saputra & Nurrizka (2012) : Sesuai dengan teori kesehatan dan gizi,
pendidikan mempengaruhi kualitas gizi anak. Ketika pendidikan kepala
rumah tangga rendah, maka pengetahuan mereka terhadap kesehatan dan
gizi menjadi rendah sehingga pola konsumsi gizi untuk anak menjadi tidak
baik. Kondisi ini ditemukan dalam kasus gizi di Sumatera Barat. Orang tua
dengan tingkat pendidikan rendah (SD/tidak tamat SD) memiliki risiko
yang besar terhadap kualitas gizi anak dimana probabilitas risiko gizi buruk
5,699 kali lebih besar dibandingkan dengan orang tua dengan pendidikan
yang lebih tinggi, yaitu SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Selanjutnya
semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua semakin kecil risiko anak
balita terkena gizi buruk.
Munthofiah (2008) dalam penelitian ini didapatkan bahwa pengetahuan ibu
tentang kesehatan dan cara pengasuhan anak mempunyai pengaruh yang
sangat signifikan terhadap status gizi balita. Ibu yang pengetahuannya baik
mempunyai kemungkinan 17 kali lebih besar untuk mempunyai anak balita
dengan status gizi baik bila dibandingkan dengan ibu yang mempunyai
pengetahuan buruk
Munthofiah (2008) : Hasil penelitian ini mendukung hipotesis bahwa status
gizi anak balita mempunyai hubungan yang secara statistik signifikan
dengan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Ikhwansyah di Kabupaten Banjar
Propinsi Kalimantan Selatan, dimana pengetahuan ibu, pekerjaan, asupan
makanan dan status imunisasi berhubungan secara bermakna dengan status
gizi anak balita. Penelitian lain di daerah Gunungpati Kabupaten Semarang
oleh Himawan (2006) juga menunjukkan bahwa pengetahuan dan pekerjaan
ibu berhubungan dengan status gizi balita. Sementara penelitian yang
dilakukan oleh Firdaus D (2003), di daerah Salatiga, dengan rancangan
penelitian panel observasional dengan survei dan pendekatan cross
sectional menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat
pengetahuan gizi ibu dengan konsumsi dan tingkat konsumsi fizi anak, dan
ada hubungan yang bermakna antara tingkat kecukupa gizi dengan status
gizi anak
4.2.8 Pekerjaan orang tua
Novitasari (2012) : Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
dilakukan di Nusa Tenggara Barat tahun 2010 dan di Kabupaten Lombok
Timur tahun 2005.10,11 Status sosial ekonomi merupakan faktor risiko
kejadian gizi buruk dikarenakan rendahnya status sosial ekonomi akan
berdampak pada daya beli makanan.Rendahnya kualitas dan kuantitas
makanan merupakan penyebab langsung dari gizi buruk pada balita.12
Status sosial ekonomi yang kurang sebenarnya dapat diatasi jika keluarga
tersebut mampu menggunakan sumber daya yang terbatas, seperti
kemampuan untuk memilih bahan yang murah tetapi bergizi dan distribusi
makanan yang merata dalam keluarga.
4.2.9 Jumlah anak dalam keluarga
Novitasari (2012) menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara
jumlah anak dalam keluarga dengan angka kejadian gizi buruk. Sesuai
dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya di kecamatan Polokarto
tahun 2008 dimana terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah anak
dalam keluarga dengan kejadian gizi buruk. Pangan yang tersedia pada
sebuah keluarga yang besar mungkin hanya cukup untuk keluarga yang
besarnya setengah dari keluarga tersebut. Hal ini mungkin karena semakin
banyaknya anggota keluarga maka alokasi distribusi makanan dalam
keluarga juga akan semakin sedikit.
Saputra & Nurrizka (2012) : Hasil temuan menunjukkan hal yang unik
bahwa semakin besar anggota rumah tangga semakin rendah risiko anak
balita menderita gizi buruk. Padahal bila dilihat dari beban tanggungan
keluarga sebenarnya semakin sedikit beban tanggungan semakin baik
asupan gizi anak. Kondisi terjadi akibat dari besarnya tingkat produktivitas
dari rumah tangga dengan jumlah anggota yang banyak. Ada indikasi anak
dilibatkan dalam membantu ekonomi rumah tangga sehingga total
pendapatan rumah tangga menjadi meningkat. Selanjutnya, peningkatan
pendapatan cenderung berpengaruh terhadap pola konsumsi terutama gizi
sehingga semakin banyak anggota rumah tangga risiko gizi buruk pada
balita semakin berkurang.

(Novitasari, 2012)
(Sofiyana & Noer, 2013)
(Saputra & Nurrizka, 2012)
(Tarigan, 2003)
(Munthofiah, 2008)

4.3 xxxx