Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN

PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)

DI PT. TOA GALVA INDUSTRIES


BIDANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
PENANGGULANGAN KEBAKARAN, LISTRIK DAN
KONSTRUKSI BANGUNAN

PELATIHAN CALON AHLI K3 UMUM


ANGKATAN KE 1

KELOMPOK 2

Andi Rafika Dwi Rachma Nataluddin


Ardhi Wibowo
Fatimah Husin
Marlina Rachma Suci
Merlina Restiana Dewi
Muhammad Rafiq Daulay
Radna Tariastuti
Stevanus Budy
Yoshua S. K. Buaton

PENYELENGGARA
PT DUTA SELARAS SOLUSINDO
Jakarta, 3-15 Oktober 2016
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................................ i
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Maksud dan Tujuan .................................................................... 1
1.3 Ruang Lingkup ........................................................................... 2
1.4 Dasar Hukum .............................................................................. 2
1.4.1 Dasar Hukum K3 di Bidang Listrik dan Lift ..................... 2
1.4.2 Dasar Hukum K3 di Bidang Penganggulangan
Kebakaran .......................................................................... 3
BAB 2 KONDISI PERUSAHAAN .................................................................. 5
2.1 Gambaran Umum Tempat Kerja ................................................ 5
2.2 Temuan-Temuan di Lapangan .................................................... 5
2.2.1 K3 Penanggulangan Kebakaran ........................................ 6
2.2.2 K3 Listrik .......................................................................... 7
BAB 3 ANALISIS TEMUAN ........................................................................ 10
3.1 Temuan Positif K3 Penanggulangan Kebakaran ...................... 10
3.2 Temuan Negatif K3 Penanggulangan Kebakaran ..................... 19
3.3 Temuan Positif K3 Listrik ........................................................ 22
3.4 Temuan Negatif K3 Listrik ....................................................... 22
BAB 4 PENUTUP .......................................................................................... 26
4.1 KESIMPULAN......................................................................... 26
4.2 SARAN ..................................................................................... 26

i
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laporan Kunjungan Praktek Kerja Lapangan ini merupakan salah satu


persyaratan untuk mendapatkan sertifikat AK3 Umum yang diadakan oleh PT.
Duta Selaras Solusindo bekerja sama dengan Kementrian Tenaga Kerja.
Dilatar belakangi oleh hal tersebut, maka pada tanggal 13 Oktober 2016, kami
melakukan Kunjungan Praktek Kerja Lapangan di PT. TOA Galva Industries.
Praktek Kerja Lapangan dilakukan dengan mengambil topik terkait K3
Penanggulangan Kebakaran, K3 Listrik, dan Konstruksi bangunan untuk
melihat temuan-temuan baik positif dan negatif dilapangan. Dalam bidang K3
Penanggulangan Kebakaran, K3 Listrik, dan Konstruksi bangunan memiliki
sumber-sumber bahaya seperti bahaya biologi, bahaya fisika, bahaya kimia,
bahaya psikologis, dan bahaya ergonomi. Sumber-sumber bahaya tersebut
dapat dikendalikan agar tidak menimbulkan kecelakaan kerja maupun penyakit
akibat kerja.
Hasil dari dilakukannya checklist ini bertujuan sebagai pembelajaran
bagi kami khususnya kelompok 2 dan upaya perbaikan atau bahan masukan
bagi PT. TOA Galva Industries.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan penulisan laporan ini adalah :


1. Untuk mempraktikan teori yang telah diterima selama kegiatan
pembinaan.
2. Untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman mengenai aplikasi K3
di lapangan khususnya di bidang Listrik, Penanggulangan Kebakaran,
dan Konstruksi Bangunan
3. Sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi peserta Calon Ahli
K3 Umum.
4. Calon peserta Ahli K3 umum dapat mengidentifikasi, menganalisa dan
memberikan saran atau rekomendasi.

1
1.3 Ruang Lingkup

Ruang Lingkup Kerja Praktek Lapangan ini adalah :


1. Pelaksanaan K3 di Bidang Penanggulangan Kebakaran
2. Pelaksanaan K3 di Bidang Listrik
3. Pelaksanaan K3 di Bidang Konstruksi Bangunan

1.4 Dasar Hukum

1.4.1 Dasar Hukum K3 di Bidang Listrik dan Lift


a. UUD 1945
b. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja
c. UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
d. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.
Per.02/MEN/1989 tentang Pengawasn Instalasi
Penyalur Petir
e. Permenaker No. Per.03/MEN/1999 tentang Syarat-
syarat K3 pada Lift Penumpang dan Barang
f. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 12 Tahun
2015 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Listrik di tempat kerja
g. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan
Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan No:
Kep.407/BW/1999 tentang Persyaratan,
Penunjukan, Hak dan Kewajiban Teknisi Lift
h. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan
Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan No:
Kep.311/BW/2002 tentang Sertifikat Kompetensi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Teknisi Listrik
i. Standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI-04-
0225-2000 mengenai Persyaratan Umum Instalasi
Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja
j. PERMEN No.12 Tahun 2015 Tentang Keselamatan
Dan Kesehatan kerja listrik di tempat kerja.

2
1.4.2 Dasar Hukum K3 di Bidang Penganggulangan
Kebakaran
a. UUD 1945
b. UU No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
c. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
d. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
RI No. Per.04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat
Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api
Ringan
e. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.
Per.02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm
Kebakaran Automatik
f. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.
Per.02/MEN/1989 tentang Pengawasn Instalasi
Penyalur Petir
g. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
RI No.: Kep.75/MEN/2002 tentang Pemberlakuan
Standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI-04-
0225-2000 mengenai Persyaratan Umum Instalasi
Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja
h. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.
Kep.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan
Kebakaran di Tempat Kerja
i. Instruksi Menteri Tenaga Kerja No.
Ins.11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3
Penanggulangan Kebakaran
j. SNI 03-6570-2001 Tentang instalasi pompa yang
dipasang tetap untuk proteksi kebakaran.

1.4.3 Dasar Hukum K3 di Konstruksi Bangunan


a. UUD 1945
b. UU No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
c. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
d. UU No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi
e. UU No. 28 Tahun2002 Tentang Bangunan Gedung
f. Permenaker No. 01 Tahun 1980 Tentang K3
Kontsruksi Bangunan
g. SKB Menaker dan Mentri PU Kep.
174/104/1986 dan No. 104/KPTS/1986 tentang
K3 pada Kegiatan Konstruksi

3
h. KepdirjenBinawasNo.Kep.20/BW/2004tentang
Kompetensi personil K3 Konstruksi Bangunan
i. Kep.74/PPK/XXI/2013 Lisensi K3 Bidang
Supervisi Perancah.

4
BAB 2

KONDISI PERUSAHAAN

2.1 Gambaran Umum Tempat Kerja

PT. TOA Galva Industries adalah produsen peralatan public addres


sound system, yang terdiri dari: speaker, amplifier, mikrophone dan
megaphone. PT. TOA Galva Industries berdiri pada tanggal 1 Juni 1976.
Pendiri PT. TOA Galva Industries adalah Bapak Uripto Widjaja. Beralamat
di Jl. Raya Jakarta Bogor KM.34-35 Desa Sukamaju Baru, Tapos, Depok
Indonesia, 16958 dengan luas: 2,6 Ha dan memiliki total tenaga kerja
sebanyak 800, dengan 60% laki-laki dan 40% perempuan. PT. TOA Galva
Industries memiliki visi yaitu The Healthy Company (Perusahaan yang Sehat)
dengan misi QCDS (Q = Quality C= Cost D= Delivery S= Service). PT. TOA
Galva Industries memiliki sarana dan fasilitas berupa poliklinik dan dokter
perusahaan, lapangan olahraga, masjid Al-Muhsinin, rungan kebaktian,
Ruang Terbuka Hijau, Mess Karyawan.
Untuk mengawasi kualitas produk PT. TOA Galva Industries
memberakukan ISO 9001:2008 tentang manajemen baku mutu. PT. TOA
Galva Industries juga konsisten dengan pelestarian lingkungan, hal tersebut
terbukti dengan adanya ISO 14001:2004 tentang manajemen lingkungan.
Kebijakan mutu perusahaan yaitu dengan tingkat kepuasan total para
pelanggan yang menggunakan seluruh produk TOA. Kebijakan lingkungan
dengan mengendalikan pencemaran lingkungan, mengelola limbah B3,
mematuhi peraturan perundang-undangan, serta perbaikan
berkesinambungan untuk sistem managemen lingkungan. Adapun standar
keamanan produk yaitu dengan adanya RoHS dan REACH untuk keamanan
produk ekspor ke Cina, UL (Underwriters Laboratories) untuk keamanan
produk ekspor ke Amerika, Japan Fire Equipment Inspection Institute untuk
keamanan produk ekspor ke Jepang, CE EN untuk keamanan produk ekspor
ke Eropa.
Dalam kegiatannya, PT. TOA Galva Industries melakukan berbagai
macam proses kerja yang tidak luput dari resiko. Proses tersebut antarar lain
proses Spinning, proses Metaling, proses Painting, proses Plastic Injection,
proses Dipping Solder, proses Speaker unit, proses Assembling speaker dan
Megaphone proses Assembling Ampliefer dan Microphone, proses quality
control, dan hingga proses transporting/ pengiriman.

5
Bermacam-macam peralatan digunakan dalam kegiatan atau proses
kerja di PT. TOA Galva Industries diantaranya adalah pemakaian bahan
berbahay seperti cat pada proses pengecatan, menggunakan 80% peralatan
produksi dengan tenaga listrik yang mempunya potensi kebakaran akibat arus
pendek, maintenance yang tidak sesuai prosedur, ataupun instruksi kerja yang
tidak dijalankan dengan baik. Selain itu peralatan-peralatan pendukung yang
memiliki potensi bahaya yang cukup signifikan diantaranya trafo, boiler,
genset, maupun pesawat angkat-angkut,

2.2 Temuan-Temuan di Lapangan

2.2.1 K3 Penanggulangan Kebakaran

2.2.1.1 Temuan Positif

1. Di setiap gedung dapat ditemukan peta jalur evakuasi


2. Memiliki material dinding gedung beton bertulang
TIPE B pada gedung assembling dan perkantoran
3. Telah tersedia pintu darurat di setiap gedung
4. Memiliki tim penanggulangan tanggap darurat
termasuk tim penganggulangan kebakaran di setiap
gedung dan diadakan simulasi kebakaran.
5. Di setiap gedung telah tersedia APAR
6. Jumlah Hydran sudah cukup
7. Dokumen dan Pemeriksaan Ruang Pompa
8. Adanya data ceklis pemeriksaan APAR
9. Terdapat SOP penganggulangan kebakaran dan
evakuasinya
10. Di setiap departemen telah terdapat penanggung jawab
pada bagian APAR
11. Sudah terdapat cara penggunaan APAR di ruangan.
12. Tersedia SOP penganggulangan kebakaran dan
evakuasinya
13. APAR ditempatkan di tempat yang mudah dijangkau
dan cara pengoperasiannya mudah dibaca dan
dilakukan pemeriksaan APAR secara rutin
14. Letak Hydran mudah terlihat dan dicapai.
15. Terdapat Smoke detector untuk pengedalian
kebakaraan

6
2.2.1.2 Temuan Negatif

1. Peta jalur evakuasi terlalu kecil


2. Memiliki material dinding TIPE C pada bagian
spinning yaitu dinding dengan bahan yang dapat
terbakar dan tidak dapat menahan secara struktural
terhadap kebakaran.
3. Tidak memiliki pressurized fan pada setiap gedung
khususnya pada tangga darurat dan jalur evakuasi
4. Tenaga kerja sudah mengikuti training
penanggulangan kebakaran namun belum memiliki
sertifikat
5. Belum mempunyai ahli K3 spesialis penanggulangan
kebakaran
6. Peta jalur evakuasi terlalu kecil
7. Belum tersedia Sprinkler, sebaiknya menggunakan
sprinkler Dry Pipe System.
8. Disalah satu Hydran, selangnya tidak tersusun dengan
rapi.

2.2.2 K3 Listrik

2.2.2.1 Temuan Positif

1. Untuk panel listik dan sumber listrik bertegangan


ditemukan tanda bahaya berupa poster peringatan
2. Terdapat 3 (tiga) buah sistem penyalur petir yang
bersifat aktif (elektro statis) dan setiap bangunan sudah
diproteksi dengan sistem penyalur petir sistem pasif
3. Hasil pengukuran sistem grounding dibawah 5 ohm
sudah sesuai standar
4. Terdapat box contol (kotak pantau) untuk pengecekan
sistema penyalur petir aktif
5. Sudah dilakukan pengujian instalasi petir setiap 1 (satu)
tahun sekali oleh PJK3 riksa uji yang bekerja sama
dengan Dinas Tenaga Kerja kota Depok

7
6. Sudah dibentuk tim maintenace listrik yang tersertifikasi
baik Ahli K3 Listrik dan Teknisi K3 Listrik,Sesuai
PERMEN No.12 Tahun 2015 pasal 7.
7. Ada pengesahan awal untuk izin listrik yang telah
disahkan oleh Dinas Tenaga Kerja kota Depok
8. Ada pengecekan instalasi listrik dari pihak asuransi
dalam periode setahun sekali saat perbaruan premi
sehingga ada fungsi pengawasan lebih
9. Pada pintu lift terdapat limit switch yang berfungsi untuk
memotong arus listrik pada saat pintu terbuka sehingga
lift tidak bisa digunakan untuk mencegah ada anggota
tubuh masuk saat lift beroperasi
10. Ada izin penggunaan lift yang telah disahkan oleh Dinas
Tenaga Kerja

2.2.2.2 Temuan Negatif


1. Belum ada jadwal rutin pengecekan instalasi listrik
yang dilakukan dari internal pabrik
2. Ditemukan beberapa instalasi kabel listrik yang masih
aktif namun kondisinya terbuka dan terurai sehingga
berpotensi bahaya tersetrum dan kebakaran
3. Ditemukan instalasi kabel listrik yang berada di saluran
air dan tidak dilindungi dengan pipa atau bahan
proteksi lainnya
4. Pada pesawat lift tidak ditemukan tanda kapasitas
maksimum beban sehingga dapat berpengaruh
terhadap daya motor listrik dan kekuatan kereta lift
5. Belum menerapkan LOTO (Locked Out and Tag Out)
untuk proses maintenance yang berfungsi untuk
proteksi kecelakaan kerja dari aspek human error
6. Kesadaran dari beberapa karyawana dan pengguna
pesawat lift untuk menutup pintu lift saat tidak
digunakan
7. Tidak ada tanda bahaya dan lampu tanda operasi saat
lift digunaka.

8
2.2.3 K3 Konstruksi Bangunan

2.2.2.1 Temuan Positif

1. Pekerjaan maintenance konstruksi dilakukan oleh


pihak lain (kontraktor) dan telah diawasi oleh
supervisor dari PT. TOA Galva Indsutries.

2.2.2.2 Temuan Negatif

1. Sudah ada perancah atau scaffolding namun tidak


standar, yaitu pagar pengaman tidak ada
2. Tidak menggunakan APD pada saat melakukan
pekerjaan maintenance konstruksi bangunan, seperti
kaca mata safety, sarung tangan, helm, sepatu safety,
dan body harness.
3. Kerapihan area kerja maintenance konstrusi tersebut
tidak terjaga yang ditandai dengan alat kerja yang
berserakan, dan tangga dan pipa yang disandarkan di
tiang perancah.
4. Tindakan tidak aman pekerja maintenance konstruksi
yang naik berdiri tidak pada scaffolding, namun pada
pagar tangga bangunan.

9
BAB 3 ANALISIS TEMUAN
3.1 Temuan Positif K3 Penanggulangan Kebakaran
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
1. Lebih meningkatkan kualitas Ins.11/M/BW/1997
Hydran dan pengawasan terhadap Di lampiran
Melakukan pemeriksaan dokumen teknis seperti
penunjuk Pemeriksaan Hydrant.. Petunjuk Teknis
gambar pemasangan,katalog dan
Pengawasan Sistem
pemeliharaan.
Proteksi Kebakaran
Memeriksa kembali apakah syarat-syarat yang Bab IV
diberikan telah dilaksanakan atau tidak.
Memeriksa panel kontrol apakah dalam keadaan
stand by.
Memeriksa ruang pompa dan mencatat data-data
teknik pompa,motor penggerak dan perlengkapan
yang ada,panel kontrol.
Memeriksa sistem persediaan air.
Memeriksa test kerja pompa dan tekanan pompa.
Memeriksa suplai daya listrik dan apakah ada daya
listrik darurat.
Pengujian operasioanl hydran.

10
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
2. APAR harus ditempatkan pada posisi yang mudah Pemasangan APAR lebih - PERMEN
dilihat dengan jelas,mudah dicapai, dan diambil serta diperhatikan posisnya. Dan tetap No.04/1980
dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan. dijaga perawatan APAR tersebut. Bab II Pemasangan
APAR dipasang dengan ketinggian dibawah 1,2 Pasal 4 dan pasal 8.
m.Karna jenis APAR ialah jenis CO2 dan Dry Lampiran 2
Chemical.
Lampiran 3
Jenis yang baik sekali untuk APAR di pabrik yang
bertegangan listrik diatas 1200 KvH adalah APAR
CO2 dan Dry Chemical.
Pemeriksaan APAR :
Pengisian dilakukan setiap 5 tahun sekali
Pemeriksaan nya dilakukan setiap sebulan sekali.
3. Megaphone adalah alaram yang digunakan saat Sebaiknya perusahaan - PERMENAKER
terjadinya kebakaran. Megaphone digunakan secara menggunakan alaram central atau No.02 tahun 1983
manual. Megaphone terdapat ditiap-tiap gedung. Otomatis, agar saat terjadi
kebakaran disalah satu gedung
,semua gedung mengetahui adanya
kebakaran.

11
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
4. [Sesuai dengan diskusi dengan Memiliki tim penanggulangan tanggap darurat Simulasi diadakan lebih rutin - Kepmenaker No.
pihak PT. TOA Galva termasuk tim penganggulangan kebakaran di setiap misalnya satu tahun sekali sehingga 186 Tahun 1999
Industries] gedung dan diadakan simulasi kebakaran. meningkatkan koordinasi antar tim pasal 2 ayat 2d, 2f;
dan kesiapan pekerja. dan pasal 5 a, b, dan
Tersedianya tim penanggulangan tanggap darurat
c
dan simulasi kebakaran akan membuat tim dan Lebih dispesifikasikan tugas dari
pekerja siap menghadapi keadaan masing-masing regu
darurat.Melakukan pelatihan setiap setahun sekali penanggulangan kebakaran.
dan diikuti oleh setiap per divisi.

5 Terdapat SOP penganggulangan kebakaran dan SOP tersebut diterapkan dan - Kepmenaker No.
evakuasinya dijalankan sebagaimana mestinya, 186 Tahun 1999
baik dalam keadaan darurat pasal 2 ayat 2 f
sebenarnya mapun pada saat gladi
atau simulasi

12
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
6. Di setiap departemen telah terdapat penanggung Sebaiknya penanggung jawab - Kepmen No 186
jawab pada bagian APAR diberikan pelatihan Tahun 1999 pasal 13
penanggulangan kebakaran secara ayat 1 dan 2
berkala untuk mendapatkan
sertifikat yang ditanda tangani oleh
menteri

7. Memiliki tim penanggulangan tanggap darurat dan Lebih meningkatkan koordinasi - Kepmenaker No.
bencana di perusahaan, termasuk tim antar tim. 186 Tahun 1999
penganggulangan kebakaran, setiap tim dibagi per Mengangkat seorang Ahli K3 pasal 2 ayat 2d, 2e,
2f; dan 3a, b, c ,
lantai dan bagian. Penanggulangan Kebakaran
serta d
Telah melakukan simulasi atau latihan
penanggulangan kebakaran secara berkala. Latihan
dilakukan setiap satu bulan sekali di setiap seksi atau
bagian secara bergantian mengggunakan APAR dan
satu tahun sekali secara massive menggunakan
APAR dan Hydrant.
Tersedianya tim penanggulangan tanggap darurat
dan simulasi yang rutin diadakan akan membuat tim
dan pekerja/pasien siap menghadapi keadaan
darurat, sehingga jika seandainya terjadi keadaan
darurat kebakaran, proses evakuasi dan
penanggulangan dapat dilakukan dengan efektif dan
efisien.

13
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
8.
Smoke detector bekerja saat terdeteksi asap disetiap Penggunaan Smoke detector sudah - PERMENAKER
ruangan, dan deteksi tersebut tersambung ke sesuai dengan PERMENAKER. No.02 Tahun 1983
Operator, dan Operator memberikan informasi Disarankan untuk menjaga smoke BAB I Pasal 1 huruf
keseluruh gedung untuk mengaktifkan Megaphone. detector agar fungsi nya tetap aktif. j

3.2 Temuan Negatif K3 Penanggulangan Kebakaran

No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum


1. Peta Jalur Evakuasi dan tanda assembly point Peta jalur evakuasi dan assembly point - UU
terlalu kecil diperbesar agar mudah terlihat oleh Keselamatan
pekerja atau tamu Kerja No.1 Thn
1970 Pasal 3 ayat
1b
- Kepmenak
er No. 186 Tahun
1999

14
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
2. [Sesuai dengan diskusi dengan Memiliki material dinding TIPE C yaitu bahan Dilakukan perbaikan bangunan, - Ins.
pihak PT. TOA Galva yang dapat terbakar dan tidak dapat menahan pengecekan berkala sehingga tidak Menaker
Industries] secara struktural terhadap kebakaran. Dinding tipe ditemukan kondisi bangunan yang rusak Inst.11/MEN/199
C tersebut berada pada gedung bagian spinning 7
- SNI 03-
1736-2000
3. Tidak memiliki pressurized fan pada setiap gedung Membuat pressurized fan sesuai dengan - Ins.
khususnya pada tangga darurat dan jalur evakuasi peraturan yang ditetapkan agar api tidak Menaker
mudah meluas ke bagian lain Inst.11/MEN/199
7

5. Selang pada hydrant tidak tersusun dengan rapi atau Seharusnya selang tersusun rapi, agar - Hydrant-
secara vertikal. saat terjadi kebakaran memudahkan SNI 03-1745-
untuk menarik selang hydrant dan selang 2000
tidak tergulung. - NFPA-14
(National Fire
Protection
Association),Stan
dar untuk instlasi
selang dan pipa.

15
3.3 Temuan Positif K3 Listrik

No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum


1 Untuk panel listik dan sumber listrik Untuk setiap panel listrik sudah ada, - Kepmen No. 75
bertegangan ditemukan tanda bahaya berupa perlu ditambahkan lagi untuk setiap Tahun 2002
poster peringatan mesin atau alat kerja listrik - PUIL 2000 & 2011
- UU No. 1 Tahun
1970 (pasal 14)

2 Terdapat 3 (tiga) buah sistem penyalur petir Dilakukan pengecekan rutin oleh - Permen No. 02
yang bersifat aktif (elektro statis) dan setiap internal perusahaan dan disarankan Tahun 1989 (pasal
bangunan sudah diproteksi dengan sistem perushaan juga harus memiliki alat 28, 35)
penyalur petir sistem pasif. Tinggi tiang ukur sendiri - PUIL 2000 & 2011
penyalur petir lebih dari 15 meter.

3 [Sesuai dengan diskusi dengan Hasil pengukuran sistem grounding dibawah 5 Untuk area kantor yang banyak - Permen No. 02
pihak PT. TOA Galva Industries] ohm sudah sesuai estndar instalasi listrik dan komputer serta Tahun 1989 (pasal
jaringan internet harus lebih 50)
diperhatikan - PUIL 2000 & 2011

16
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
4 Terdapat box contol (kotak pantau) untuk Area box control juga harus terus - Permen No. 02
pengecekan sistema penyalur petir aktif dilakukan pemantauan Tahun 1989 (pasal
28 34)
- PUIL 2000 & 2011

5 [Sesuai dengan diskusi dengan Sudah dilakukan pengujian instalasi petir Sebaiknya pengujian intslasi - Permen No. 02
pihak PT. TOA Galva Industries] setiap 1 (satu) tahun sekali oleh PJK3 riksa uji penyalur petir ini juga dilakukan Tahun 1989 (pasal
yang bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja oleh pihak internal pabrik dengan 50 54)
kota Depok waktu pengecekan 2 bulan sekali - PUIL 2000 & 2011
mengingat area kota Depok dengan
kategori petir tinggi
6 [Sesuai dengan diskusi dengan Sudah dibentuk tim maintenace listrik yang Melakukan koordinasi dengan - Kepmen No. 331
pihak PT. TOA Galva Industries] tersertifikasi baik Ahli K3 Listrik dan Teknisi bagian-bagian terkait dan membuat Tahun 2002
K3 Listrik jadwal dan personil untuk - Kepdir PPKI No.
pengecekan rutin 89 2012

7 [Sesuai dengan diskusi dengan Ada pengesahan awal untuk izin listrik yang Dilakukan review secara berkala - Kepmen No. 75
pihak PT. TOA Galva Industries] telah disahkan oleh Dinas Tenaga Kerja kota khususnya jika ada perubahan baik Tahun 2002
Depok penambahan maupun pengurangan - PUIL 2000 & 2011
instalasi listrik

17
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
8 Ada pengecekan instalasi listrik dari pihak Melakukan review internal - Kepmen No. 75
asuransi dalam periode setahun sekali saat terhadap hasil pengecakan dan Tahun 2002
perbaruan premi sehingga ada fungsi melakukan perbaikan untuk - Permen No. 04
pengawasan lebih temuan-temuan dari pihak auditor Tahun 1993
asuransi

9 Pada pintu lift terdapat limit switch yang Membuat jadwal pengecakan - Permen No. 03
berfungsi untuk memotong arus listrik pada terhadap fungsi kerja dari limit Tahun 1999
saat pintu terbuka sehingga lift tidak bisa switch - Permen No. 05
digunakan untuk mencegah ada anggota tubuh Tahun 1985
masuk saat lift beroperasi.Izin pemakaian lift
sesuai dengan ketentuan yang berlaku pasal 25:
ayat 1
pengurus yang membuat,
memasang,memakai, meminta
perubahan teknis dan atau administrasi
lift terlebnih dahulu harus mendapat
izin dari menteri atau pejabat.
Pearwatan pemasangan dilakuakan
oleh pihak ketiga dimana pihak ketiga
tersebut telah memiliki izin dan
sertifikasi sesuai dengan ketentuan.
Ayat 2
Pembuatan,pemsangan dan perubahan
sebagaimana dimaksud ayut 1 hanya

18
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
dapat dilakukan oleh PJK3 yang
memiliki surat kepetusan penunjukan
mentri dan teknisi yang telah memiliki
surat izin operasi.
10 [Sesuai dengan diskusi dengan Ada izin penggunaan lift yang telah disahkan Rutin melakukan pengecekan lift - Permen No.03
pihak PT. TOA Galva Industries] oleh Dinas Tenaga Kerja sesuai dengan syarat-syarat Tahun 1999
minimum keselamatan pesawat lift - Permen No. 05
Tahun 1985
- Permen No. 03
Tahun 1984

3.4 Temuan Negatif K3 Listrik

No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum


1 [Sesuai dengan diskusi dengan Belum ada jadwal rutin pengecekan instalasi Buat jadwal rutin pengecekan - Kepmen No. 75
pihak PT. TOA Galva Industries] listrik yang dilakukan dari internal pabrik instalasi listrik yang dilakukan Tahun 2002
internal pabrik - PUIL 2000 &
2011

19
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
2 Ditemukan beberapa instalasi kabel listrik Perbaikan instalasi kabel yang - Kepmen No. 75
yang masih aktif namun kondisinya terbuka terurai dengan memberikan tali Tahun 2002
dan terurai sehingga berpotensi bahaya ikat atau wadah lebih agar rapih - PUIL 2000 &
tersetrum dan kebakaran dan tidak terbuka 2011

3 Ditemukan instalasi kabel listrik yang berada Melakukan reinstalasi kabel, - Kepmen No. 75
di saluran air dan tidak dilindungi dengan pipa ditempat/ lokasi yang lebih aman. Tahun 2002
atau bahan proteksi lainnya Atau jika tidak merubah lokasi - PUIL 2000 &
instalasi dilakukan pemasangan 2011
proteksi kedap air seperti tabung
untuk instalasi kabel yang berada
dalam saluran air
4 Pada pesawat lift tidak ditemukan tanda Memberikan informasi kapasitas - Permen No. 03
kapasitas maksimum beban sehingga dapat beban maksimum lift ditempat Tahun 1984
berpengaruh terhadap daya motor listrik dan yang mudah terlihat. Memberikan - Permen No. 05
kekuatan kereta lift. Di lift tidak terdapat sistem alarm otomatis jika terjadi Tahun 1985
kapasitas angkut.Tidak terdapat panel kelebihan beban terhadap lift - Permen No.03
operasi,tidak terdapat penerangan yang Tahun 1999
memadai,tidak dilengkjapi dengan tanda
bahaya,tidak terdapat lampu penerangan yang
darurat.

5 Belum menerapkan LOTO (Locked Out and Menerapkan sistem LOTO - Permen No. 03
Tag Out) untuk proses maintenance yang (Locked Out and Tag Out) dan Tahun 1984

20
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
berfungsi untuk proteksi kecelakaan kerja dari melakukan sosialisasi terhadap - Kepmen No. 75
aspek human error karyawan yang bersangkutan dan Tahun 2002
memiliki wewenang terhadap - PUIL 2000 &
objek kerja. 2011
6 Kesadaran dari beberapa karyawan dan Melakukan sosialisasi terhadap - Permen No. 03
pengguna pesawat lift untuk menutup pintu lift operator lift, memasang poster Tahun 1984
saat tidak digunakan peringatan untuk menutup pintu, - Permen No. 05
dan untuk solusi jangka panjang Tahun 1985
melakukan proteksi dengan
memasang indikator atau alarm
pada saat pintu terbuka
7 Tidak ada tanda bahaya dan lampu tanda Melakukan instalasi lampu - Permen No. 03
operasi saat lift digunakan indikator tanda operasi lift ketika Tahun 1984
sedang digunakan - Permen No.03
Tahun 1999

21
3.5 Temuan Positif K3 Konstruksi

No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum


1. [Sesuai dengan diskusi dengan Pekerjaan maintenance konstruksi dilakukan Meningkat koordinasi dengan - Permen No. 03
pihak PT. TOA Galva Industries] oleh pihak lain (kontraktor) dan telah diawasi pihak kontraktor sehingga Tahun 1984
oleh supervisor dari PT. TOA Galva temuan-temuan negatif terkait - UU N0. 1 Tahun
Indsutries. pekerjaan maintenance konstruksi 1970 (Pasal 5 dan
ini lebih minim 9)

3.6 Temuan Negatif K3 Konstruksi

No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum


1. Sudah ada perancah atau Melengkapi perancah - PERMEN 01 tahun
scaffolding namun tidak standar, dengan pagar 1980 BAB III pasal 13
yaitu pagar pengaman tidak ada. pembatas untuk
mencegah pekerja
Perancah harus diberi lanatai
jatuh
papan yang kuat dan rapat.
Lantai perancah harus diberi
pagar pengaman, tingginya lebih
dari 2 meter.

22
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
2. Tidak menggunakan APD pada -Memastikan APD - KEP.74/PPK/XXI/2013
saat melakukan pekerjaan tersedia dan diberikan Lisensi K3 Bidang
maintenance konstruksi terhadap pekerja Supervisi Pearancah
bangunan, seperti kaca mata -Meningkatkan fungsi
safety, sarung tangan, helm, pengawasan di lokasi
sepatu safety, dan body harness. kerja
Scaffolder harus berasal dari -Dan menjalankan
personil pengawas pekerjaan fungsi punishment
konstruksi perancah. untuk pegawai yang
Wajib mengikuti pembinaan melanggar aturan
keselamatan dan kesehatan kerja penggunaan APD
bidang supervisis perancah untuk
mendapat lisensi.
Lisensi K3 bagi pengawas
perancah berlaku selama 3 tahun
dan harus diperpanjang.
3. Kerapihan area kerja maintenance Menerapkan prinsip - Permen No. 03 Tahun
konstrusi tersebut tidak terjaga kerja 5R (Ringkas, 1984
yang ditandai dengan alat kerja Rapi, Resik, Rawat, - Permen No. 01 Tahun
yang berserakan, dan tangga dan dan Rajin) pada 1980
pipa yang disandarkan di tiang kerjaan sekunder
perancah. seperti pada
maintenance
konstruksi bangunan

23
No. Foto Temuan Analisis Saran Dasar Hukum
4. Tindakan tidak aman pekerja Meningkatkan fungsi - Permen No. 03 Tahun
maintenance konstruksi yang naik pengawasan dari 1984
berdiri tidak pada scaffolding, koordinator pekerja - Permen No. 01 Tahun
namun pada pagar tangga maintenance 1980
bangunan. konstruksi dan
pengawasan dari PT.
TOA Galva Industries

24
25
BAB 4 PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
1. PT. TOA Galva Industries telah melaksanakan K3 di
bidang pencegahan dan penanggulangan kebakaran dengan
cukup baik, terlihat dengan adanya peta evakuasi,
penyediaan proteksi kebakaran pasif (sarana evakuasi yang
memadai; serta peta berserta petunjuk jalur evakuasi)
maupun aktif (penyediaan alat deteksi, dan APAR yang
sesuai, sprinkler serta hidran). Tetapi masih diperlukan
peningkatan kualitas dan kondisi, karena masih terdapat
APAR yang telah lewat masa berlakunya, serta terdapat alat
deteksi panas yang tidak berfungsi.
2. PT. TOA Galva Industries masih membutuhkan perbaikan
di bidang K3 Listrik dari segi housekeeping (terutama
perawatan dan kerapihan kabel) untuk mencegah adanya
kecelekaan yang terkait listrik di lingkungan perusahaan.
4.2 SARAN
1. Diperlukan pengawasan dan pemeriksaan APAR di
lingkungan perumahan dengan lebih teliti, agar tidak ada
lagi APAR yang tidak lewat masa berlakunya dan tidak ada
lagi kotak APAR yang terkunci tanpa ada martil untuk
memecahkannya. Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi
mengenai housekeeping yang baik agar tidak ada lagi
APAR yang diletakkan dengan tidak sesuai dengan
ketentuan, maupun barang-barang yang diletakkan di
sekitar APAR atau Hidran yang dapat mengganggu akses
terhadap APAR atau Hidran tersebut. Dengan
ditingkatkannya inspeksi dan housekeeping diharapkan
semua instalasi dapat digunakan untuk mencegah dan/atau
menanggulangi bahaya kebakaran.
2. Perlu adanya pengawasan untuk personil K3 di bidang
listrik, agar dapat memenuhi persyaratan perundangan
(seperti SIO teknisi listrik), dan adanya pembenahan di
perkabelan instalasi listrik untuk mencegah terjadinya
risiko korslet.

26