Anda di halaman 1dari 129

DOKUMEN PENAWARAN

ADMINISTRASI DAN TEKNIS

PENDEKATAN METODOLOGI
DAN
PROGRAM KERJA
E
BENTUK URAIAN PENDEKATAN
Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang telah dipelajari oleh konsultan perencana
permasalahan yang harus dicermati dalam proses pelaksanaan pekerjaan ini antara lain adalah
masalah sinkronisasi antara waktu kegiatan dengan tuntutan perencanaan yang dihasilkan.
Lingkup pekerjaan Perencanaan Pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah Kayen Tahap II
Kabupaten Pati adalah perencanaan Gedung Fasilitas Pelayanan Rumah Sakit yang terdiri dari :
1. Lantai 1 berfungsi sebagai Instalasi Gawat Darurat
2. Lantai 2 berfungsi sebagai Instalasi Rawat Jalan (Poliklinik)
3. Lantai 3 berfungsi sebagai Instalasi Peristi dan IRNA Kebidanan dan Kandungan
4. Lantai 4 dan 5 berfungsi sebagai Instalasi Rawat Inap
Selain tuntutan perencanaan arsitektur dan struktur sebagai bangunan gedung negara, rumah
sakit harus memenuhi kriteria-kriteria sesuai persyaratan yang diatur dalam pedoman-pedoman
teknis kementerian kesehatan. Secara umum persyaratan yang diminta dalam Kerangka acuan
kerja harus :
Memenuhi persyaratan Prasarana Yang Menunjang Faktor Keselamatan :
1. sistem proteksi petir
2. sistem proteksi kebakaran (hydrant/sprinkler)
3. sistem kelistrikan
4. sistem vacum medik dan gas medik
Memenuhi Persyaratan Prasarana penunjang Faktor Kesehatan Lingkungan :
1. Sistem ventilasi
2. Sistem pencahayaan
3. Sistem sanitasi
4. Sistem air bersih
5. Sistem pembuangan air hujan
6. Sistem pembuangan air kotor
7. Sistem pembuangan limbah padat dan cair

E-1
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Persyaratan Prasarana Yang Menunjang Faktor Kenyamanan :


1. Fasilitas Toilet Pasien, Pengunjung dan Petugas
2. Sistem pengkondisian udara
3. Kebisingan dan Getaran
4. Pengkodisian suhu ruang, pencahayaan dan sirkulasi udara (kelembaban).
Persyaratan Prasarana Yang Menunjang Faktor Kemudahan :
1. Kemudahan hubungan horizontal
2. Sarana evakuasi
3. Aksesibilitas

Dengan waktu yang disediakan dan tuntutan perencanaan yang diminta konsultan
perencana harus memiliki inovasi dan schedule yang ketat untuk menyelesaikan dokumen
Perencanaan Pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah Kayen Tahap II Kabupaten Pati.
Langkah pemecahan yang diusulkan oleh konsultan perencana untuk mengatasi beberapa
indikasi yang berpotensi masalah diatas antara lain :
- Memulai pradesain DED dengan mengacu pada master plan yang sudah ada dengan
menganalisis masa bangunan gedung yang kecil kemungkinan berubah. Dengan adanya
review masterplan khususnya perubahan bentuk masa dan luasan karena tuntutan
perkembangan pelayanan rumah sakit dapat di inventarisasi, misalnya bangunan-bangunan
service dan penunjang, gedung rawat inap.
- Pemberi tugas menyiapkan team penyusun dan perencana alat kesehatan yang akan selalu
memberikan informasi kepada team perencana terhadap kebutuhan ruang dan daya serta
alur sirkulasi ruangan pada denah tata ruang yang sedang disusun team arsitek dan ME.
Sehingga dengan demikian proses DED tidak terkendala dengan waktu penyelesaian
pekerjaan.
- Konsultan perencana akan melakukan review master plan dan DED secara pararel dan
mengatur keterlibatan personil yang baik dan tepat, waktu harus dischedule dengan ketat,
cermat dan efektif sehingga target penyelesaian pekerjaan tiap gedung bisa tepat waktu.

E-2
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

ALUR PIKIR PROSES PERENCANAAN

E-3
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

PENDEKATAN PERATURAN-PERATURAN TENTANG RUMAH


SAKIT DAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA
Sesuai tuntutan dalam Kerangka Acuan Kerja, selain Pedoman Teknis Sarana dan
Prasarana Rumah Sakit Type C, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia , Pusat Sarana,
Prasarana dan Peralatan Kesehatan Jakarta 2007, maka beberapa pedoman teknis yang lain
yang akan digunakan sebagai literatur adalah :
Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit, Ruang Gawat Darurat - Direktorat Bina
Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Tahun
2012
Pedoman Teknis Ruang Operasi Rumah Sakit, Kementerian Kesehatan - RI Direktorat
Jenderal Bina Upaya Kesehatan Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan
Sarana Kesehatan, 2 0 1 2
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit (ICU) Di Rumah
Sakit
Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif 24
Jam di Rumah Sakit, Direktorat Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI,
Tahun 2008
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 24 tahun 2016 Tentang
Persyaratan Teknis Bangunan dan Prasarana Rumah Sakit
Pedoman Teknis Prasarana Sistem Tata Udara Pada Bangunan Rumah Sakit -
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2012
Pedoman Pencahayaan Rumah Sakit Direktorat Jenderal Pelayanan Medik
Direktorat Instalasi Medik 1992
Pedoman Teknis Sistem Gas Medik Dan Vakum Medik Rumah Sakit Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2012
Pedoman Jaringan Instalasi Listrik Rumah Sakit - Departemen Kesehatan Republik
Indonesia 1995
Pedoman Penatalaksanaan Pengelolaan Limbah Padat Dan Limbah Cair Di Departemen
Kesehatan Republik Indonesia 2006
Pedoman teknik dasar untuk laboratorium kesehatan / WHO ; alih bahasa, Chairlan,
Estu Lesfari ; editor edisi bahasa Indonesia, Albertus Agung Mahode. - Ed. 2. - Jakarta
: EOC, 2011
Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Bangunan Instalasi Rawat Inap
(Umum) Departemen Kesehatan - RI Sekretariat Jenderal Pusat Sarana, Prasarana
dan Peralatan Kesehatan 2 0 0 6
Pedoman Instalasi Pusat Sterilisasi Central Sterile Supply Department CSSD Di Rumah
Sakit Departemen Kesehatan Republik Indonesia Jakarta 2009
SNI 03-1736-2000 : Tata Cara Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan
Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung;

E-4
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

SNI O3-6572-2001 : Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara
pada Bangunan Gedung;
SNI O3-1735-2000 : Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses Lingkungan
Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung;
SNI O3-1746-2000 : Tata Cara Perencanaan Dan Pemasangan Sarana Jalan Keluar
Untuk Penyelamatan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung;
SNI O3-6573-2001 ; Tata Cara Perancangan Sistem Transportasi Vertikal dalam
Gedung (lift);
SNI O3-6481-2000 : Sistem Plambing;
SNI O3-7065-2005 2 Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing;
SNI O3-1745-2000 : Tata Cara Pemasangan Sistem Hidran Untuk Pencegahan Bahaya
Kebakaran pada Bangunan Rumah Dan Gedung;
SNI 03-6759-2002 2 Tata Cara Perencanaan Teknis Konservasi Energi Pada Bangunan
Rumah dan Gedung;
SNI O3-3985-2000 : Tata Cara Perancanaan Pemasangan Dan Pengujian Sistem-
Deteksi Dan Alarm untuk Pencagahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan
Gedung;
SNI 03-6652-2002 : Tata Cara Perancanaan Proteksi Bangunan dan Peralatan terhadap
Sambaran Petir;
SNI O3-7015-2004 : Sistem proteksi petir pada bangunan;

E-5
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

PENDEKATAN STANDART RUANG DALAM RUMAH SAKIT


ANTROPOMETRI RUANG PASIEN
Jenis dan Ukuran Perabot
Reznikoff (1986) menetapkan fasilitas perabot standar pada ruang pasien meliputi
tempat tidur yang dapat dinaik-turunkan (hi-low bed), meja makan yang digunakan di atas
tempat tidur (over bed table), laci samping tempat tidur (drawer bedside), meja tinggi (over-
chair table), dan kursi geriatrik dengan sandaran punggung tinggi (high-backed geriatric
chair).

Gambar 1. Standar Jenis dan Ukuran Perabot

Tinggi tempat tidur untuk pasien yang ada di lapangan dalam keadaan diposisikan dalam
ketinggian 80 cm.
Selain itu laci samping ini juga digunakan sebagai tempat untuk menyisipkan meja makan
(over-bed table) yaitu disamping kiri yang dapat ditarik ke atas apabila hendak digunakan.
Ukuran ketinggian meja makan ini dapat disesuaikan dengan posisi tidur pasien. Dengan
demikian maka dari segi anthropometri tidak tidak ada masalah karena pada hakekatnya telah
dirancang sesuai standar dasarnya.

Panel-Panel Kontrol dan Peletakannya


Reznikoff (1986) menetapkan standar peletakan beberapa panel kontrol untuk ruang pasien.
Panel-panel tersebut meliputi katub gas atau oksigen, rumahan untuk panggilan perawat, jam
digital, tombol tanda alarm, stop kontak bawah, papan monitor dengan perlengkapan outlet,
lampu atas tempat tidur dan lampu tarik-ulur.

E-6
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Gambar 2. Standar Panel Kontrol dan Peletakannya

Area Pribadi Sekitar Tempat Tidur Perseorangan dalam Susunan Ganda


Panero dan Zelnik (1979) menetapkan lebar minimum area tempat tidur pasien 251,5 cm,
sehingga kedua sisi di samping tempat tidur pasien memiliki lebar masing-masing 76,2 cm.

Gambar 3. Gambar 4. Denah Ruang Pasien


Standar Spasial di Sekitar Tempat Tidur
Pasien

Jarak Ruang di Depan Pintu untuk Mengakomodasi Pemakai Kursi Roda


Panero dan Zelnik (1979) menetapkan luas area depan pintu 152,4 cm x 152,4 cm untuk
mengakomodasi pemakai kursi roda. Sebuah kursi roda juga dapat digunakan dalam area
121,9 cm x 121,9 cm, tetapi alokasi luasan ini terlalu sempit dan harus dipandang sebagai
ukuran yang paling minimal.

Jarak Lebar Pintu yang Mungkin untuk Dilalui Tempat Tidur Standar
Panero dan Zelnik (1979) menetapkan lebar pintu antara 116,8 121,9 cm adalah jarak
standar untuk dapat mengakomodasi tempat tidur pasien standar (121 cm x 99 cm).

E-7
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Gambar 5. Standar Lebar Pintu untuk Dilalui Tempat Tidur

ANTROPOMETRI TOILET PASIEN


Penggunaan Toilet Dengan Kursi Roda
Goldsmith (1984) memberikan ilustrasi beberapa cara menggunakan toilet untuk orang yang
memakai kursi roda yaitu frontal transfer, oblique transfer, lateral transfer, transfer through
back of chair dan attendant-assisted transfer. Masing-masing cara tersebut dapat dilakukan
dengan persyaratan jarak ruang masing-masing telah ditetapkan, yaitu antara 150 200 cm
ke depan atau 95 cm ke samping (dihitung dari posisi dudukan).

Gambar 6. Standar Penggunaan Toilet dengan Kursi Roda


Luas Toilet
Goldsmith (1984) memberikan beberapa alternatif luasan toilet berdasarkan peletakan pintu
beserta perabot utamanya yaitu dudukan dan wastafel, agar dapat mengakomodasi pemakai
kursi roda.

E-8
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Gambar 7. Denah Toilet Pasien Gambar 8. Standar Luas Toilet

Kloset
Goldsmith (1984) menetapkan jarak vertikal yang diperlukan antara ketinggian air dan bibir
dudukan harus tidak kurang dari 20 cm. Data lapangan menunjukkan bahwa ketinggian air
tersebut kurang lebih sama dengan ketentuan di atas. Dengan demikian maka orang yang
tidak dapat berjalan dapat membersihkan diri tanpa beranjak dari kloset. Selanjutnya
Goldsmith juga menetapkan jarak bibir kloset dari lantai setinggi 47,5 cm.

Wastafel
Goldsmith (1984) menerangkan bahwa wastafel harus disediakan tetapi tidak perlu untuk
dapat dijangkau langsung oleh orang yang sedang duduk di kloset. Wastafel sebaiknya
ditempatkan di pojok yang bukan merupakan jalan tempat orang keluar-masuk toilet

Gambar 9. Standar Spasial Wastafel

Goldsmith (1984) menetapkan lebar wastafel (dari depan ke belakang) minimal 50 cm atau
lebih, sedangkan panjangnya (dari sisi ke sisi) tidak begitu dipentingkan. Kran air sebaiknya
dipasang pada jarak tidak kurang dari 10 cm ke arah depan dan melampaui garis bibir
belakang, serta kurang lebih 10 cm di atas bibir wastafel untuk menyediakan ruang untuk cuci

E-9
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

tangan. Kran model pengungkit lebih dianjurkan untuk memudahkan orang yang hanya dapat
menggunakan satu tangan.
Untuk orang yang duduk di kursi roda ketinggian yang sesuai untuk bibir wastafel berkisar
antara 67 cm 82 cm. Sementara untuk orang yang dapat berdiri bibir wastafel dapat
dipasang hingga ketinggian 90 cm.

Cermin
Goldsmith (1984) menetapkan bahwa untuk orang normal berdiri, ujung atas cermin dinding
tidak boleh lebih rendah dari 180 cm di atas lantai, sementara ujung bawah tidak boleh lebih
tinggi dari 130 cm.

Gambar 10. Standar Peletakan Cermin

Pegangan Tangan
Menurut Goldsmith (1984) pegangan tangan yang berbentuk rel horisontal dapat dipasang
pada samping dudukan pada ketinggian sekitar 22,5 cm di atas bibir kloset. Panjang minimum
rel adalah 40 cm, dan akan lebih baik bila diperpanjang untuk membantu orang menarik diri
dari kursi roda.
Data lapangan menunjukkan bahwa pegangan tangan dipasang horisontal pada ketinggian 36
cm atas bibir kloset, dengan panjang 38 cm. Dengan demikian maka pemasangan pegangan
tangan terlalu tinggi dan ukurannya terlalu pendek.

ANTROPOMETRI RUANG PERAWAT


Jarak Terhadap Ruang Pasien
Malkin (1992) menyatakan bahwa waktu untuk berjalan dan kemampuan untuk menengok
pasien menjadi semakin penting untuk mengatasi keterbatasan tenaga perawat. Jika jarak
perjalanan pendek dan suplai mudah maka perawat dapat menggunakan waktu lebih banyak
untuk pasien. Jadi dapat ditegaskan bahwa jarak ruang perawat terhadap ruang pasien harus
sedekat mungkin sehingga memudahkan jangkauan.

Hubungan Dengan Ruang Pendukung


De Chiara dan Challender (1990) menyatakan bahwa rencana ruang perawat harus
menyertakan pula ruang-ruang yang mengakomodasi kereta penyimpanan linan, alat-alat dan
suplai lainnya yang dibawa dari unit suplai dan sterilisasi sentral. Jadi jarak ruang perawat

E-10
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

harus sedekat mungkin dengan ruang-ruang tersebut, dan bila ruang berada di lantai atas
maka lift untuk barang atau ramps harus diletakkan di luarnya.

Denah Area Kerja Perawat dan Jarak Ruang


Menurut Panero dan Zelnik (1979) lebar 91,4 cm adalah jarak ruang minimal yang
memungkinkan antara meja kerja dengan meja belakang. Ini akan memungkinkan akses ke
meja belakang bagi orang ke dua sementara perawat sedang menggunakan meja kerja.
Disamping itu juga membuat arsip-arsip mudah terjangkau oleh perawat yang memutar
kursinya ke belakang.

Gambar 11. Standar Jarak Area Kerja Gambar 12. Denah Ruang Perawat Gedung
Ruang Perawat

Tampak Samping Area Kerja Perawat dan Jarak dalam Ruang


Menurut Panero dan Zelnik (1979) ketinggian meja pelayanan harus nyaman untuk
pengunjung dan tidak menghalangi penglihatan perawat. Untuk itu ketinggian meja pelayanan
yang baik sekitar 106,7 109,2 cm dari lantai. Lebar alas kepala meja 38,1 45,7 cm, lebar
area meja untuk kerja perawat 53,3 54,6 cm dan tinggi meja kerja 76,2 serta tinggi alas
duduk kursi kerja 38,1 45,7 cm.

Gambar 13. Tampak Samping Area Kerja Ruang Perawat

E-11
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

ANTROPOMETRI KORIDOR
Menurut Woodson (1981), koridor harus cukup lebar sehingga orang tidak harus berjalan
berhati-hati agar tidak menabrak dinding, orang lain, atau perabot yang menempel pada
dinding atau dibawa dengan alat dorong. Minimal lebar corridor dengan manufer bed pasien
dan peralatan lainnya 240 cm dan lebar pintu ruang pasien minimal 120 cm.
REFERENSI
- Benjamin Lumenta. 1989. Hospital Citra, Peran dan Fungsi. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
- Departemen Kesehatan RI. 1992. Standar Pelayanan Rumah Sakit. Jakarta: Departmen
Kesehatan RI.
- De Chiara. J. dan J. Callender. 1990. Time-Saver Standards for Building Types. New
York: McGraw-Hill Publishing Company.
- Goldsmith. S.. 1984. Designing for The Disabled, London: Riba Publication Limited.
- Hardy. O.B. dan L.P. Lammers. 1986. Hospitals, The Planning and Design Process.
Maryland: Aspen Publishers.
- Malkin. J. 1992. Hospital Interior Architecture, Creating Healing Environments
for Special Patient Populations. New York: Van Nostrand Reinhold.
- Panero. J dan M. Zelnik. 1979. Human Dimension and Interior Space. New York:
Whitney Library of Design, The Architectural Press Ltd.
- Pheasant. S. 1987. Ergonomics, Standards and Guidelines for Designers.
London: British Standards Institution.
- Reznikoff. S.C. 1986. Interior Graphic and Design Standards. London: The
Architectural Press.
- Woodson. W.E. 1981. Human Factors Design Handbook. New York: McGraw-
Hill Book Company

E-12
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

KONSEP DASAR PERENCANAAN RUMAH SAKIT


PERSYARATAN UMUM BANGUNAN RUMAH SAKIT
Selain melaksanakan perencanaan Gedung Pelayanan Rumah Sakit sesuai tuntutan
dalam Kerangka Acuan Kerja, secara umum penyedia jasa harus memperhatikan
lingkungan disekitar rumah sakit secara umum. Hal ini akan mempengaruhi
pengambilan keputusan dalam perencanaan, sehingga Gedung Pelayanan Rumah
Sakit yang direncanakan dapat berfungsi dan selaras dengan lingkungannya. Beberapa
aspek yang menjadi dasar penyusunan perencanaan Gedung Fasilitas Pelayanan
Rumah Sakit antara lain :
LOKASI RUMAH SAKIT.
(1) Aksesibilitas untuk jalur transportasi dan komunikasi,
Lokasi harus mudah dijangkau oleh masyarakat atau dekat ke jalan raya dan
tersedia infrastruktur dan fasilitas dengan mudah, misalnya tersedia pedestrian,
Aksesibel untuk penyandang cacat
(2) Kontur Tanah
kontur tanah mempunyai pengaruh penting pada perencanaan struktur, dan
harus dipilih sebelum perencanaan awal dapat dimulai. Selain itu kontur tanah
juga berpengaruh terhadap perencanaan sistem drainase, kondisi jalan
terhadap tapak bangunan dan lain-lain.
(3) Fasilitas parkir.
Perancangan dan perencanaan prasarana parkir di RS sangat penting, karena
prasarana parkir dan jalan masuk kendaraan akan menyita banyak lahan.
Perhitungan kebutuhan lahan parkir pada RS idealnya adalah 1,5 s/d 2
kendaraan/tempat tidur (37,5m s/d 50m per tempat tidur) atau menyesuaikan
dengan kondisi sosial ekonomi daerah setempat. Tempat parkir harus
dilengkapi dengan rambu parkir.
(4) Tersedianya utilitas publik.
Rumah sakit membutuhkan air bersih, pembuangan air kotor/limbah, listrik, dan
jalur telepon. Pengembang harus membuat utilitas tersebut selalu tersedia.

PENGELOLAAN KESEHATAN LINGKUNGAN


Setiap RS harus dilengkapi dengan persyaratan pengendalian dampak lingkungan
antara lain :
o Studi Kelayakan Dampak Lingkungan yang ditimbulkan oleh RS terhadap
lingkungan disekitarnya, hendaknya dibuat dalam bentuk implementasi Upaya
Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL), yang
selanjutnya dilaporkan setiap 6 (enam) bulan (KepmenKLH/08/2006).

E-13
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

o Fasilitas pengelolaan limbah padat infeksius dan noninfeksius (sampah


domestik).
o Fasilitas pengolahan limbah cair (Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL); Sewage
Treatment Plan (STP); Hospital Waste Water Treatment Plant (HWWTP)). Untuk
limbah cair yang mengandung logam berat dan radioaktif disimpan dalam
kontainer khusus kemudian dikirim ke tempat pembuangan limbah khusus daerah
setempat yang telah mendapatkan izin dari pemerintah.
o Fasilitas Pengelolaan Limbah Cair ataupun Padat dari Instalasi Radiologi.
o Pengolahan Air Bersih (;Water Treatment Plant) yang menjamin keamanan
konsumsi air bersih rumah sakit, terutama pada daerah yang kesulitan dalam
menyediakan air bersih.

BEBAS DARI KEBISINGAN, ASAP, UAP DAN GANGGUAN LAIN.


o Pasien dan petugas membutuhkan udara bersih dan lingkungan yang tenang.
o Pemilihan lokasi sebaiknya bebas dari kebisingan yang tidak semestinya dan polusi
atmosfer yang datang dari berbagai sumber.

MASTER PLAN DAN PENGEMBANGANNYA.


Setiap rumah sakit harus menyusun master plan pengembangan kedepan. Hal ini
sebaiknya dipertimbangkan apabila ada rencana pembangunan bangunan baru.
Review master plan dilaksanakan setiap 5 tahun.

MASSA BANGUNAN
Intensitas antar Bangunan Gedung di RS harus memperhitungkan jarak antara massa
bangunan dalam RS dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini :
a. Keselamatan terhadap bahaya kebakaran;
b. Kesehatan termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan;
c. Kenyamanan;
d. Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan;

PERENCANAAN RS HARUS MENGIKUTI RENCANA TATA BANGUNAN &


LINGKUNGAN (RTBL), YAITU :
a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Ketentuan besarnya KDB mengikuti peraturan daerah setempat. Misalkan
Ketentuan KDB suatu daerah adalah maksimum 60% maka area yang dapat
didirikan bangunan adalah 60% dari luas total area/tanah.
b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)

E-14
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Ketentuan besarnya KLB mengikuti peraturan daerah setempat. KLB menentukan


luas total lantai bangunan yang boleh dibangun. Misalkan Ketentuan KLB suatu
daerah adalah maksimum 3 dengan KDB maksimum 60% maka luas total lantai
yang dapat dibangun adalah 3 kali luas total area area/tanah dengan luas lantai
dasar adalah 60%.
c. Koefisien Daerah Hijau (KDH)
Perbandingan antara luas area hijau dengan luas persil bangunan gedung negara,
sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang
bangunan gedung, harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan
1. daerah resapan air
2. ruang terbuka hijau kabupaten/kota
3. Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40%, harus
mempunyai KDH minimum sebesar 15%.
d. Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sepadan Pagar (GSP)
Ketentuan besarnya GSB dan GSP harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam
RTBL atau peraturan daerah setempat.
e. Memenuhi persyaratan Peraturan Daerah setempat (tata kota yang berlaku).
f. Pengembangan RS pola vertikal dan horizontal
Penentuan pola pembangunan RS baik secara vertikal maupun horisontal,
disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan RS (;health
needs), kebudayaan daerah setempat (cultures), kondisi alam daerah setempat
(climate), lahan yang tersedia (sites) dan kondisi keuangan manajemen RS
(budget).

ZONASI.
Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit adalah zonasi berdasarkan
tingkat risiko terjadinya penularan penyakit, zonasi berdasarkan privasi dan zonasi
berdasarkan pelayanan.
(1) Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri dari :
o area dengan risiko rendah, yaitu ruang kesekretariatan dan administrasi,
ruang komputer, ruang pertemuan, ruang arsip/rekam medis.
o area dengan risiko sedang, yaitu ruang rawat inap non-penyakit menular,
rawat jalan.
o area dengan risiko tinggi, yaitu ruang isolasi, ruang ICU/ICCU, laboratorium,
pemulasaraan jenazah dan ruang bedah mayat, ruang radiodiagnostik.
o area dengan risiko sangat tinggi, yaitu ruang bedah, IGD, ruang bersalin,
ruang patolgi.

E-15
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

(2) Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari :


o area publik, yaitu area yang mempunyai akses langsung dengan lingkungan
luar rumah sakit, misalkan poliklinik, IGD, apotek).
o area semi publik, yaitu area yang menerima tidak berhubungan langsung
dengan lingkungan luar rumah sakit, umumnya merupakan area yang
menerima beban kerja dari area publik, misalnya laboratorium, radiologi,
rehabilitasi medik.
o area privat, yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit, umumnya
area tertutup, misalnya seperti ICU/ICCU, instalasi bedah, instalasi
kebidanan dan penyakit kandungan, ruang rawat inap.
(3) Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari :
o Zona Pelayanan Medik dan Perawatan yang terdiri dari : Instalasi Rawat Jalan
(IRJ), Instalasi Gawat Darurat (IGD), Instalasi Rawat Inap (IRNA), Instalasi
Perawatan Intensif (ICU/ICCU/PICU/NICU), Instalasi Bedah, Instalasi
Rehabilitasi Medik (IRM), Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan
o Zona Penunjang dan Operasional yang terdiri dari : Instalasi Farmasi,
Instalasi Radiodiagnostik, Laboratorium, Instalasi Sterilisasi Pusat (;Central
Sterilization Supply Dept./CSSD), Dapur Utama, Laundri, Pemulasaraan
Jenazah, Instalasi Sanitasi, Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPS).
o Zona Penunjang Umum dan Administrasi yang terdiri dari : Bagian
Kesekretariatan dan Akuntansi, Bagian Rekam Medik, Bagian Logistik/
Gudang, Bagian Perencanaan dan Pengembangan (Renbang), Sistem
Pengawasan Internal (SPI), Bagian Pendidikan dan Penelitian (Diklit), Bagian
Sumber Daya Manusia (SDM), Bagian Pengadaan, Bagian Informasi dan
Teknologi (IT).

E-16
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

KEBUTUHAN LUAS LANTAI.


(1) Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit pendidikan disarankan + 110 m2
setiap tempat tidur.
(2) Sebagai contoh, rumah sakit pendidikan dengan kapasitas 500 tempat tidur,
kebutuhan luas lantainya adalah sebesar + 110 (m/tempat tidur) x 500 tempat
tidur = + 55.000 m2
(3) Kebutuhan luas lantai untuk rumah sakit umum (non pendidikan) saat ini
disarankan 80m2 sampai dengan 110 m2 setiap tempat tidur.
(4) Sebagai contoh, rumah sakit umum (non pendidikan) dengan kapasitas 300
tempat tidur kebutuhan luas lantainya adalah sebesar 80 (m2/tempat tidur) x
300 tempat tidur = + 24.000m,
(5) Tabel 3.1.4 menunjukkan bagian-bagian dari rumah sakit umum (non
pendidikan) dan ruangan yang dibutuhkannya

E-17
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E-18
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

PRINSIP UMUM PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT.


(1) Perlindungan terhadap pasien merupakan hal yang harus diprioritaskan. Terlalu
banyak lalu lintas akan menggangu pasien, mengurangi efisiensi pelayanan
pasien dan meninggikan risiko infeksi, khususnya untuk pasien bedah dimana
kondisi bersih sangat penting. Jaminan perlindungan terhadap infeksi merupakan
persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam kegiatan pelayanan terhadap
pasien.
(2) Merencanakan sependek mungkin jalur lalu lintas. Kondisi ini membantu menjaga
kebersihan (aseptic) dan mengamankan langkah setiap orang, perawat, pasien
dan petugas rumah sakit lainnya. Rumah sakit adalah tempat dimana sesuatunya
berjalan cepat. Jiwa pasien sering tergantung padanya. Waktu yang terbuang
akibat langkah yang tidak perlu membuang biaya disamping kelelahan orang
pada akhir hari kerja.
(3) Pemisahan aktivitas yang berbeda, pemisahan antara pekerjaan bersih dan
pekerjaan kotor, aktivitas tenang dan bising, perbedaan tipe pasien, (contoh
sakit serius dan rawat jalan) dan tipe berbeda dari lalu lintas di dalam dan di luar
bangunan.
(4) Mengontrol aktifitas petugas terhadap pasien serta aktifitas pengunjung RS yang
datang, agar aktifitas pasien dan petugas tidak terganggu. Tata letak Pos
perawat harus mempertimbangkan kemudahan bagi perawat untuk memonitor
dan membantu pasien yang sedang berlatih dikoridor pasien, dan pengunjung
masuk dan ke luar unit. Bayi harus dilindungi dari kemungkinan pencurian dan
dari kuman penyakit yang dibawa pengunjung dan petugas rumah sakit. Pasien
di ruang ICU harus dijaga terhadap infeksi. Begitu pula pada kamar bedah.

PRINSIP KHUSUS PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT


(1) Maksimum pencahayaan dan angin untuk semua bagian bangunan merupakan
faktor yang penting. Ini khususnya untuk rumah sakit yang tidak menggunakan
air conditioning.
(2) Jendela sebaiknya dilengkapi dengan kawat kasa untuk mencegah nyamuk dan
binatang terbang lainnya yang berada dimana-mana di sekitar rumah sakit.
(3) RS minimal mempunyai 3 akses/pintu masuk, terdiri dari pintu masuk utama,
pintu masuk ke Unit Gawat Darurat dan Pintu Masuk ke area layanan Servis.
(4) Pintu masuk untuk service sebaiknya berdekatan dengan dapur dan daerah
penyimpanan persediaan (gudang) yang menerima barang-barang dalam bentuk
curah, dan bila mungkin berdekatan dengan lif service. Bordes dan timbangan
tersedia di daerah itu. Sampah padat dan sampah lainnya dibuang dari tempat

E-19
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

ini, juga benda-benda yang tidak terpakai. Akses ke kamar mayat sebaiknya
diproteksi terhadap pandangan pasien dan pengunjung untuk alasan psikologis.
(5) Pintu masuk dan lobi disarankan dibuat cukup menarik, sehingga pasien dan
pengantar pasien mudah mengenali pintu masuk utama.
(6) Alur lalu lintas pasien dan petugas RS harus direncanakan seefisien mungkin.
(7) Koridor publik dipisah dengan koridor untuk pasien dan petugas medik,
dimaksudkan untuk mengurangi waktu kemacetan. Bahan-bahan, material dan
pembuangan sampah sebaiknya tidak memotong pergerakan orang. Rumah sakit
perlu dirancang agar petugas, pasien dan pengunjung mudah orientasinya jika
berada di dalam bangunan.
(8) Lebar koridor 2,40 m dengan tinggi langit-kangit minimal 2,40 m. Koridor
sebaiknya lurus. Apabila ramp digunakan, kemiringannya sebaiknya tidak
melebihi 1 : 10 ( membuat sudut maksimal 7)
(9) Alur pasien rawat jalan yang ingin ke laboratorium, radiologi, farmasi, terapi
khusus dan ke pelayanan medis lain, tidak melalui daerah pasien rawat inap.
(10) Alur pasien rawat inap jika ingin ke laboratorium, radiologi dan bagian lain, harus
mengikuti prosedur yang telah ditentukan.

Dasar dan Prinsip lain pada pembangunan gedung untuk hunian dan lingkungan
binaan antara lain :
1. kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan serta keserasian /keselarasan
bangunan gedung dengan lingkungannya;
2. hemat, tidak berlebihan, efektif dan efisien, serta sesuai dengan kebutuhan dan
ketentuan teknis yang disyaratkan;
3. terarah dan terkendali sesuai rencana, program/satuan kerja, serta fungsi setiap
kementerian/lembaga/instansi pemilik / pengguna bangunan gedung;
4. semaksimal mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan
memperhatikan kemampuan/potensi nasional.
Sebagaimana halnya dengan perencanaan arsitektur, jaringan mekanikal dan
elektrikal (selanjutnya disebut jaringan utilitas), khususnya untuk gedung bertingkat,
maka harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
Perlindungan terhadap kemungkinan terjadinya kontaminasi
Lingkungan yang aman dan sehat untuk seluruh penghuni dan pemakai dengan
penggunaan sistem AC, sistem air bersih dan sistem air kotor yang baik.
Aman dan mudah dalam pemeliharaan.
Bersesuaian dengan lingkungan sekitar
Standar ukuran dan skala

E-20
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Penggunaan energi secara efektif dan efisien


Biaya investasi dan pemeliharaan rendah
Tanggap terhadap perubahan dimasa mendatang
Stabil dan dapat diandalkan
Awas terhadap kecelakaan dan penyakit
Mempunyai back-up terhadap kegagalan sistem
Mempunyai sistem komunikasi akurat dan cepat
Menunjang terhadap perbaikan sistem pelayanan secara keseluruhan.
Aksesbilitas yang baik dan jelas khususnya untuk keselamatan dan penyelamatan

E-21
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

KONSEP DAN PROGRAM KEBUTUHAN RUANG RUMAH SAKIT


Kebutuhan Perencanaan Rumah sakit yang diminta oleh Pengguna adalah gedung fasilitas
pelayanan berupa gedung 5 lantai yang memiliki fungsi pada tiap-tiap lantai adalah :
1. Lantai 1 berfungsi sebagai Instalasi Gawat Darurat
2. Lantai 2 berfungsi sebagai Instalasi Rawat Jalan (Poliklinik)
3. Lantai 3 berfungsi sebagai Instalasi Peristi dan IRNA Kebidanan dan Kandungan
4. Lantai 4 dan 5 berfungsi sebagai Instalasi Rawat Inap
Tuntutan dan Program Ruang telah diuraikan dalam Kerangka Acuan Kerja, selanjutnya
beberapa konsep dasar terkait pedoman perencanaan akan diuraikan sebagai berikut :

INSTALASI GAWAT DARURAT (LANTAI 1)


Fungsi ruang gawat darurat adalah sebagai tempat untuk melayani pasien yang berada
dalam keadaan gawat darurat yang membutuhkan pertolongan secepatnya. Ruang
harus dapat memfasilitasi kegiatan triase, tindakan resusitasi, observasi, kegiatan
administratif, dan kegiatan yang menunjang pelayanannya.
Persyaratan teknis bangunan:
a. Ruang gawat darurat harus dapat diakses dengan mudah dari jalan raya.
b. Ruang gawat darurat terletak dilantai dasar dengan akses masuk yang mudah dicapai
dengan menggunakan ambulan.
c. Tanda-tanda/rambu-rambu menuju ruang gawat darurat harus mudah dilihat, sangat
jelas dan mudah dimengerti masyarakat umum.
d. Akses masuk ruang gawat darurat harus berbeda dengan akses masuk rawat jalan
dan akses ke area servis di rumah sakit.
e. Tata letak ruang dalam bangunan IGD tidak boleh memungkinkan terjadinya infeksi
silang (cross infection).
f. Ruang gawat darurat harus dilengkapi dengan ruang tunggu, toilet dan spoelhoek.
g. Ruang gawat darurat harus memiliki akses mudah ke radiologi, operasi, kebidanan,
laboratorium, farmasi.
h. Lebar pintu utama min. 120 cm, lebar pintu akses pasien
i. min. 90 cm.
j. Persyaratan khusus listrik pada tempat tidur resusitasi adalah 5 buah kotak kontak
per tt minimal dipasang pada ketinggian + 1.25 m dari permukaan lantai. Suplai listrik
pada tempat tidur resusitasi tidak boleh terputus.
k. Tersedia fasilitas pencucian tangan yang penempatannya tidak memungkinkan
terjadinya infeksi nosokomial.
l. Tata udara/pertukaran udara harus baik.
m.Tersedia APAR

E-22
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E-23
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

1. Tata Ruang.
a) Tata ruang akan mengikuti alur pelayanan dimulai dengan area Triase yang
sebaiknya disiapkan juga area tempat penyimpanan brankar (stretcher bay) dan kursi
roda (wheel chair).
b) Pasien yang darurat (emergency) atau perlu pertolongan segera akan ditangani di
ruang tindakan, dan pasien yang gawat darurat (urgent) atau ada ancaman kematian
akan di tangani di ruang resusitasi, sedangkan pasien yang tidak gawat tidak darurat
akan ditangani di false emergency atau poliklinik 24 jam.
c) Area publik khususnya ruang tunggu keluarga pasien, disarankan dilengkapi dengan
toilet dan kantin (caffee/snack bar).
d) Area dekontaminasi dikhususkan untuk pasien yang terkontaminasi bahan kimia,
terutama bagi IGD yang berada dekat dengan daerah industri. Area ini ditempatkan
di sisi depan/luar IGD atau terpisah dengan IGD.

E-24
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Kebutuhan Fasilitas Pada Ruang Gawat Darurat

E-25
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E-26
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

2. Komponen dan bahan bangunan.


Sebagai bagian dari Rumah Sakit, beberapa komponen bangunan yang ada di Ruang
Gawat Darurat memerlukan beberapa persyaratan, antara lain :
A. Komponen penutup lantai.
Komponen penutup lantai memiliki persyaratan sebagai berikut :
a) tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas
yang tinggi yang dapat menyimpan debu.
b) mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan.
c) penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.
d) pada daerah dengan kemiringan kurang dari 70, penutup lantai harus dari
lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi basah).
e) Hubungan/pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan bahan
yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai
(Hospital plint).
f) khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah yang
mudah terbakar, maka bahan penutup lantai harus dari bahan yang tahan api,
cairan kimia dan benturan.

B. Komponen dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :
a) dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur.

E-27
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

b) lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori)
sehingga dinding tidak menyimpan debu.
c) warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.
d) Hubungan/pertemuan antara dinding dengan dinding disarankan tidak siku, tetapi
melengkung untuk memudahkan pembersihan.

C. Komponen langit-langit.
Komponen langit-langit memiliki persyaratan sebagai berikut :
a) harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air,
tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, serta tidak berjamur.
b) memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga
tidak menyimpan debu.
c) berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.

D. Komponen Pintu dan Jendela.


Komponen pintu dan jendela memiliki persyaratan sebagai berikut :
a) Pintu dan Jendela harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur.
b) Pintu masuk dari area drop off ke ruang gawat darurat disarankan menggunakan
pintu swing dengan membuka ke arah dalam dan alat penutup pintu otomatis
(;automatic door closer).
c) Pintu ke luar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 120 cm atau dapat
dilalui brankar pasien, dan pintu-pintu yang tidak menjadi akses pasien tirah
baring memiliki lebar bukaan minimal 90 cm.
d) Di daerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau
perbedaan ketinggian lantai.
e) Apabila ada jendela, maka bentuk profil kusen seminimal mungkin, supaya tidak
menyimpan debu.

Ruang Paediatric IGD

E-28
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Ruang tindakan IGD

Ruang Resusitasi - IGD

E-29
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Kelengkapan R. Resusitasi :
A. Min. 5 stop kontak dari sumber yang berbeda (Instalasi elektrikal Kelompok 2 dengan
luminer dan perlengkapan listrik medik penunjang hidup yang memerlukan suplai daya
dalam 0,5 detik atau kurang)
B. Outlet O2, vakum, compress air.
C. Pengaman arus bocor
D. Lampu periksa

Ruang Observasi - IGD

Kelengkapan R. Observasi :
A. Min. 2 stop kontak dari sumber yang berbeda (Instalasi elektrikal Kelompok 1)
B. Outlet gas medis O2

E-30
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

INSTALASI RAWAT JALAN /POLIKLINIK (LANTAI 2)


PERSYARATAN RUANG RAWAT JALAN
Fungsi ruang rawat jalan adalah sebagai tempat untuk melakukan fungsi kegiatan pelayanan
konsultasi, pemeriksaan dan pengobatan (klinik), administrasi dan pendaftaran, serta
rekam medik.
Persyaratan teknis bangunan:
a. Ukuran ruangan klinik tergantung jenis pelayanan dan kapasitas pengguna serta pola
aktivitas.
b. Untuk klinik gigi, persyaratan ruang disesuaikan dengan aktivitas pelayanan, kapasitas
pengguna dan khusus ketentuan dimensi dan ketentuan penunjang peralatan pada Dental
Chair.
c. Pengaturan/pengelompokan klinik berdasarkan penyakit menular dan tidak menular.
d. Tiap-tiap klinik mempunyai ruang tunggu masing-masing
e. Disediakan toilet pasien dengan jumlah memadai dan minimal disediakan 1 toilet aksesibel
untuk pegguna kursi roda.
f. Pengaturan lokasi penempatan area klinik pasien infeksi.
g. Pengaturan aliran/flow/sirkulasi pasien infeksius dengan yang non infeksius terutama anak-
anak dan pasien kebidanan.
h. Posisi/Perletakkan Furnitur pada ruang-ruang pelayanan.
i. Persyaratan komponen bangunan.
j. Pengaturan ventilasi dan sistem tata udara, bukaan pintu dan jendela harus dapat menjamin
terjadinya aliran silang udara (perlu dipertimbangkan untuk ruangan dengan double loaded
corridor).
k. Pengaturan area pasien dan area petugas

Alur Kegiatan Ruang Rawat Jalan

E-31
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Pengaturan Sirkulasi yang baik untuk Pasien, Paramedik dan Sirkulasi Service

Natural Ventilation and furniture

Pengaturan bukaan penghawaan di ruang Rawat Jalan

E-32
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Pengaturan fasilitas di ruang Rawat Jalan

INSTALASI PERISTI DAN IRNA KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


(LANTAI 3)
Ruangan yang ada pada lantai 3 ini adalah :
a. Ruang Administrasi
b. Ruang Farmasi
c. Linen Bersih dan Kotor
d. Ruang Dokter dan Ruang Perawat / Nurse Station
e. Spoelhook
f. Ruang Bersalin

Persyaratan Khusus
1 Letak bangunan instalasi kebidanan dan penyakit kandungan harus mudah dicapai,
disarankan berdekatan dengan instalasi gawat darurat, ICU dan Instalasi Bedah Sentral,
apabila tidak memiliki ruang operasi atau ruang tindakan yang memadai.
2 Bangunan harus terletak pada daerah yang tenang/ tidak bising.
3 Ruang bayi dan ruang pemulihan ibu disarankan berdekatan untuk memudahkan ibu
melihat bayinya, tapi sebaiknya dilakukan dengan sistem rawat gabung.
4 Memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai dan tersedia pengatur kelembaban udara

E-33
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

untuk kenyamanan termal.


5 Memiliki sistem proteksi dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran.
6 Terdapat pintu evakuasi yang luas dengan fasilitas ramp apabilaletak instalasi
kebidanan dan penyakit kandungan tidak pada lantai dasar.
7 Harus disediakan pintu ke luar tersendiri untuk jenazah dan bahan kotor yang tidak
terlihat oleh pasien dan pengunjung

Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas

E-34
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Alur Kegiatan Instalasi Peristi dan IRNA Kebidanan dan Kandungan

E-35
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

INSTALASI RAWAT INAP (LANTAI 4 dan 5)


Fungsi ruang rawat inap adalah sebagai tempat untuk pasien yang memerlukan asuhan
medis dan asuhan keperawatan secara berkesinambungan dalam waktu tertentu. Ruang
rawat inap setidaknya terdiri dari ruangan perawatan pasien yang dilengkapi toilet, pos
jaga perawat, ruangan dokter, tempat penyimpanan linen bersih, dan spoelhoek.
Persyaratan teknis bangunan :
1. Lokasi bangunan rawat inap harus terletak pada area yang tenang, aman dan nyaman,
tetapi tetap memiliki kemudahan aksesibiltas dari sarana penunjang rawat inap.
2. Bangunan rawat inap tidak berdekatan dengan tempat-tempat pembuangan kotoran,
dan bising dari mesin/generator.
3. Tipe ruang rawat inap, terdiri dari VIP, Kelas 1, Kelas 2, Kelas 3.
4. Khusus untuk pasien-pasien tertentu harus dipisahkan (Ruang Isolasi) seperti :
a) Pasien yang menderita penyakit menular.
b) Pasien dengan pengobatan yang menimbulkan bau seperti penyakit tumor,
ganggrein, diabetes, dll
c) Pasien yang gaduh gelisah .
5. Sinar matahari pagi sedapat mungkin masuk ruangan.

a. Kebutuhan luas area perawatan pasien per tt termasuk sirkulasi min. 10 m2


b. Di dalam ruangan perawatan pasien jarak antar titik tengah tt + 2,4 m2.
c. Satu kamar rawat dapat diisi 4-6 TT
d. Pengelompokan blok ruang rawat inap berdasarkan:
1) Jenis Penyakit
2) Usia
3) Jenis Kelamin
e. Stasi perawat harus terletak di pusat blok yang dilayani agar perawat dapat
mengawasi pesiennya secara efektif.
f. Koridor dilengkapi pegangan rambat yang mudah dipegang dengan ketinggian
65 80 cm diatas permukaan lantai.
g. Lebar pintu ruangan perawatan min. 120 cm. Pintu dilengkapi kaca observasi.
h. Persyaratan listrik pada tiap-tiap tempat tidur pasien adalah berjumlah min. 2 buah
kotak kontak per tt, minimal dipasang pada ketinggian + 1.25 m dari permukaan
lantai.
i. Toilet pasien aksesibel, pintu toilet membuka keluar.
j. Pertukaran udara dalam ruangan harus baik.
k. Tersedia APAR
l. Tersedia fasilitas pencucian tangan yang memenuhi syarat.

E-36
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Alur Kegiatan Ruang Rawat Inap

Kebutuhan minimal luas ruangan pada bangunan rawat inap :


1 Ruang rawat inap :
VIP 18 m2/tempat tidur
Kelas I 12 m2/tempat tidur
Kelas II 10 m2/tempat tidur
Kelas III 8 m2/tempat tidur
2 Ruang Pos perawat 20 m2
3 Ruang Konsultasi. 12 m2
4 Ruang Tindakan. 24 m2
5 Ruang administrasi 9 m2
6 Ruang Dokter. 20 m2
7 Ruang perawat. 20 m2
8 Ruang ganti/Locker 9 m2
9 Ruang kepala rawat inap. 12 m2
10 Ruang linen bersih. 18 m2
11 Ruang linen kotor. 9 m2
12 Spoelhoek 9 m2
13 Kamar mandi/Toilet 25 m2

E-37
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

14 Pantri. 9 m2
15 Ruang Janitor/service 9 m2
16 Gudang bersih 18 m2
17 Gudang kotor 18 m2
Tiap tempat tidur rawat inap dilengkapi :
1. Minimal 2 kotak kontak
2. Nurse call
3. Medical gas (O2, Vaccum)
4. Lampu baca/lampu periksa

Contoh Ruang Rawat Inap VIP

E-38
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Contoh Ruang Rawat Inap Kelas II

E-39
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Contoh Ruang Isolasi (Khusus)

Contoh Rawat inap Kelas 1 : 2 Tempat Tidur

RUANG TINDAKAN
Kelengkapan ruang tindakan adalah:
a. Ruangan Transfer Pasien
b. Ruangan Ganti Petugas
c. Ruangan Persiapan
d. Scrub Station

E-40
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

e. Ruangan Tindakan
f. Ruangan Pemulihan
g. Tempat penyimpanan linen, instrumen dan bahan perbekalan steril, obat-obatan.
h. Spoelhoek
Persyaratan teknis bangunan:
a. Denah (layout) Ruang Tindakan diatur sedemikian sehingga tidak memungkinkan
terjadinya aliran silang antara barang bersih dan kotor dan lalu lintas orang yang
menyebabkan terjadi infeksi silang.
b. Luas yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembedahan minor 36 m2, dengan
ukuran ruangan panjang x lebar x tinggi adalah 6m x 6m x 3 m.
c. Persyaratan komponen bangunan mengikuti Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit :
Ruang Operasi
d. Persyaratan listrik Persyaratan gas medik mengikuti Pedoman Teknis
Instalasi Gas Medik dan Vakum Medik di RS
e. Persyaratan Tata Udara mengikuti Pedoman Teknis Prasarana Rumah Sakit : Sistem
Instalasi Tata Udara.

E-41
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

KONSEP SARANA DAN PRASARANA RUMAH SAKIT


1. Sistem Tata Udara
Sistem tata udara sangat penting karena bertujuan untuk mempercepat pemulihan,
mempertahankan kebugaran dan daya faal tubuh dan jiwa, serta pencegahan dan
pengendalian infeksi yang ditularkan melalui udara, menghilangkan kalor yang
berlebihan dan membantu mendapatkan kenyamanan termal. Agar dapat memenuhi
tujuan tersebut, maka sistem tata udara di Rumah Sakit Kelas Charus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
Sistem ventilasi di Rumah Sakit Kelas Charus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) Bangunan Rumah Sakit Kelas Charus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi
mekanik/buatan yang optimal apabila diperlukan.
b) Bangunan Rumah Sakit Kelas Charus mempunyai bukaan permanen, kisi-kisi pada
pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan
ventilasi alami. Bukaan minimal 15% dari luas total lantai.
c) Ventilasi harus dapat mengatur pertukaran udara (;air change) sehingga ruangan
tidak terasa panas, tidak terjadi kondensasi uap air atau lemak pada lantai,
dinding, atau langit-langit.
d) Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan jika ventilasi alami tidak dapat memenuhi
syarat.
e) Ruang pelayanan penyakit menular melalui udara harus mempunyai pertukaran udara
yang baik (minimal 12 ACH) dimana pembuangan udaranya dapat menggunakan
ventilasi mekanik, yang harus diarahkan ke luar ke tempat yang tidak membahayakan
pasien, pengunjung maupun petugas rumah sakit.

2. Sistem Kelistrikan.
Sistem kelistrikan dan penempatannya harus mudah dioperasikan, diamati, dipelihara,
tidak membahayakan, tidak mengganggu dan tidak merugikan lingkungan, bagian
bangunan dan instalasi lain, serta perancangan dan pelaksanaannya harus memenuhi
PUIL/SNI.0225 edisi terakhir tentang persyaratan umum instalasi listrik.
Sistem kelistrikan menjamin ketersediaan 24 jam untuk penyimpanan obat dan vaksin.
a) Sumber Daya Listrik
Sumber daya listrik dibagi 2:
(1) Sumber Daya Listrik Normal
Sumber daya listrik normal bangunan Rumah Sakit Kelas C diusahakan untuk
menggunakan tenaga listrik dari Perusahaan Listrik Negara atau lainnya.
(2) Sumber Daya Listrik Darurat
Sumber listrik siaga berupa Genset atau UPS.
b) Sistem Distribusi
Sistem distribusi terdiri dari:
(1) Panel-panel listrik.

E-42
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

(2) Instalasi pengkabelan.


(3) Instalasi kotak kontak dan sakelar.
c) Sistem Pembumian
Nilai pembumian (grounding) bangunan tidak boleh kurang impedansinya dari 0.5
ohm. Nilai pembumian (grounding) alat kesehatan tidak boleh kurang impedansinya
dari 0.1 ohm.
d) Proteksi Petir
Suatu instalasi proteksi petir dapat melindungi semua bagian dari bangunan Rumah
Sakit Kelas C, termasuk manusia yang ada di dalamnya, dan instalasi serta peralatan
lainnya terhadap bahaya sambaran petir.

3. Sistem pencahayaan.
a) Bangunan Rumah Sakit Kelas C harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau
pencahayaan buatan.
b) Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan.
Tabel-3.3.
Tingkat pencahayaan rata-rata yang direkomendasikan.

Fungsi ruangan Tingkat pencahayaan min. (lux)

Ruang administrasi 200


Laboratorium, Ruang Tindakan,
Ruang Gawat Darurat 300
Ruang pantry/dapur, Koridor 100

4. Sistem proteksi kebakaran.


Rumah Sakit Kelas C menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jenis ABC
untuk ruangan-ruangan dan CO2 untuk ruangan genset.

5. Sistem Komunikasi
Komunikasi telepon diperlukan untuk hubungan/ komunikasi keluar Rumah Sakit
Kelas C
6. Gas Medik
Sistem gas medic harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan tingkat
keselamatan bagi penggunanya.
Persyaratan Teknis:
a) Pengelolaan, penggunaan dan penyimpanan gas medis harus sesuai ketentuan
berlaku.

E-43
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

b) Tabung/silinder yang digunakan harus yang telah dibuat, diuji, dan dipelihara
sesuai spesifikasi dan ketentuan dari pihak berwenang.
c) Isi Tabung/silinder harus diidentifikasi dengan suatu label/cetakan yang
ditempelkan yang menyebutkan isi/pemberian warna pada Tabung/silinder sesuai
ketentuan yang berlaku.
d) Sebelum digunakan harus dipastikan isi Tabung/silinder dengan memperhatikan
warna tabung, keterangan isi Tabung/silinder yg diemboss pada badan tabung,
label.
e) Label tidak boleh dirusak, diubah atau dilepas, dan fiting penyambung tidak
boleh dimodifikasi.
f) Larangan penggunaan Tabung/silinder tanpa warna dan penandaan yang
disyaratkan.
g) Hanya Tabung/silinder gas medik dan perlengkapannya yang boleh disimpan dalam
ruangan penyimpanan gas medik.
h) Larangan menyimpan bahan mudah terbakar berdekatan dengan ruang
penyimpanan gas medik.
i) Tabung/silinder Oksigen pada saat digunakan dan dipasang di samping tempat
tidur pasien, harus menggunakan troli dan pengaman
j) Tutup pelindung katup harus dipasang erat pada tempatnya bila Tabung/silinder
sedang tidak digunakan.
k) Apabila diperlukan, disediakan ruangan khusus penyimpanan silinder gas medik.
Tabung/silinder dipasang/diikat erat dengan pengaman/rantai.

E-44
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

7. Sistem Sanitasi.
Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, harus dilengkapi dengan sistem air
bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan sampah, serta
penyaluran air hujan.
a) Sistem air bersih.
(1) Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan
sumber air bersih dan sistem distribusi pada lokasinya serta harus bebas dari
pencemaran fisik, kimia, dan biologis.
(2) Sumber air bersih dapat diperoleh langsung dari sumber air berlangganan
dan/atau sumber air lainnya dengan baku mutu fisik, kimia, dan biologis yang
memenuhi dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(3) Sistem penyediaan air bersih
(4) Sistem sambungan langsung
pipa distribusi dalam gedung disambung langsung dengan pipa utama
penyediaan air.
(5) Sistem tangki atap/ tanki grafitasi
Jika sistem sambungan langsung tidak dapat diterapkan karena terbatasnya
tekanan dalam pipa utama, air ditampung lebih dahulu dalam tangki bawah
(dipasang pada lantai terendah bangunan atau di bawah muka tanah), kemudian
dipompakan ke suatu tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau di
atas lantai tertinggi bangunan. Dari tangki ini didistribusikan ke seluruh
bangunan.
(6) Distribusi air keruangan ruangan menggunakan pemipaan dengan tekanan
positif.
b) Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah.
(1) Tersedia sistem pengolahan air limbah yang memenuhi persyaratan kesehatan.
(2) Saluran air limbah harus kedap air, bersih dari sampah dan dilengkapi penutup
dengan bak kontrol untuk menjaga kemiringan saluran minimal 1%.
(3) Di dalam sistem penyaluran/pembuangan air kotor dan/atau air limbah dari
ruang pantri/dapur disediakan perangkap lemak untuk memisahkan dan/atau
menyaring kotoran/lemak.
(4) Air limbah yang berasal dari laboratorium sebelum dialirkan ke Instalasi
Pengolahan Air Limbah harus diencerkan terlebih dahulu dengan rasio
perbandingan air bersih dan air limbah adalah 10:1.
(5) Limbah cair berkas pencucian film harus ditampung dan tidak boleh dibuang ke
lingkungan serta dikoordinasikan dengan dinas kesehatan.
c) Sistem pembuangan limbah padat medis dan non medis.
(1) Setiap Rumah Sakit Kelas C wajib melakukan pengelolaan limbah padat medis
dan non medis yang dihasilkan

E-45
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

(2) Dalam hal Rumah Sakit Kelas C tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan
limbah padat medis dan non medis, pengelolaannya dapat diserahkan kepada
pihak lain yang mempunyai ijin.
(3) Limbah padat medis harus dipisahkan dengan limbah padat non medis.
(4) Benda benda tajam dan jarum suntik harus di tampung dengan wadah khusus
yang terpisah dengan limbah padat lainnya. Wadah tersebut harus anti
bocor, anti tusuk dan tidak mudah dibuka sehingga orang yang tidak
berkepentingan tidak mudah untuk membukanya
(5) Setiap ruangan harus mempunyai tempat pembuangan limbah padat padat
sesuai dengan limbah padat yang dihasilkan.
(6) Sistem pembuangan limbah padat medis dan non medis harus direncanakan dan
dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya.
(7) Pertimbangan fasilitas penampungan yang terpisah dengan diwujudkan dalam
bentuk penyediaan tempat penampungan limbah padat medis non medis, yang
diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan, jumlah penghuni, dan volume
kotoran dan sampah.
(8) Penempatan pewadahan limbah padat medis dan non medis harus tidak
mengganggu kesehatan penghuni, masyarakat dan lingkungannya serta tidak
mengundang datangnya vektor/binatang penyebar penyakit.
(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan,
pengolahan, dan pembuangan limbah padat sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

8. Sistem Pengendalian Terhadap Kebisingan


a) Intensitas kebisingan equivalent (Leq) di luar bangunan Rumah Sakit Kelas C
tidak lebih dari 55 dBA, dan di dalam bangunan Rumah Sakit Kelas C tidak lebih
dari 45 dBA.
b) Pengendalian sumber kebisingan disesuaikan dengan sifat sumber.
c) Sumber suara genset dikendalikan dengan memasang peredam dan membuat
sekat yang memadai dan sumber suara dari lalu lintas dikurangi dengan cara
penanaman pohon dan membuat gundukan tanah yang memadai.
9. Sistem Transportasi Vertikal dalam Rumah Sakit Kelas C.
Setiap bangunan Rumah Sakit Kelas C yang bertingkat harus menyediakan sarana
hubungan vertikal antar lantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi
bangunan Rumah Sakit Kelas C tersebut berupa tersedianya tangga dan ram.

E-46
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

a) Tangga
1) Umum
Tangga merupakan fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang dengan
mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan tanjakan dengan
lebar yang memadai.
2) Persyaratan tangga
(a) Harus memiliki dimensi pijakan dan tanjakan yang berukuran seragam
Tinggi masing-masing pijakan/tanjakan adalah 1517 cm, lebar masing-
masing pijakan adalah 2830 cm.
(b) Lebar tangga minimal 120 cm untuk membawa usungan dalam keadaan
darurat, untuk mengevakuasi pasien dalam kasus terjadinya bencana.
(c) Tidak terdapat tanjakan yang berlubang yang dapat membahayakan
pengguna tangga.
(d) Harus dilengkapi dengan rel pegangan tangan (handrail).
(e) Rel pegangan tangan harus mudah dipegang dengan
ketinggian 65 cm-80 cm dari lantai, bebas dari elemen konstruksi yang
mengganggu, dan bagian ujungnya harus bulat atau dibelokkan dengan
baik ke arah lantai, dinding atau tiang.
(f) Rel pegangan tangan harus ditambah panjangnya pada bagian ujung-
ujungnya (puncak dan bagian bawah) sepanjang 30 cm.
(g) Untuk tangga yang terletak di luar bangunan, harus dirancang sehingga
tidak ada air hujan yang menggenang pada lantainya.

b) Ram
1) Umum
Ram adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan kemiringan tertentu,
sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga.
2) Persyaratan Ram.
(a) Kemiringan suatu ram di dalam bangunan tidak boleh melebihi 7o,
perhitungan kemiringan tersebut tidak termasuk awalan dan akhiran ram
(curb ramps/landing).

(b) Panjang mendatar dari satu ram (dengan kemiringan 7o) tidak boleh
lebih dari 9 m.
(c) Lebar minimum dari ram adalah 120 cm dengan tepi pengaman.
(d) Muka datar (bordes) pada awalan atau akhiran dari suatu ram harus
bebas dan datar sehingga memungkinkan sekurang-kurangnya untuk
memutar kursi roda dan stretcher, dengan ukuran minimum 180 cm.

E-47
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

10. Aksesibilitas Disabel dan Lansia.


Umum.
Setiap bangunan Rumah Sakit Kelas C, harus menyediakan fasilitas dan
aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi difabel dan lanjut usia
masuk dan keluar ke dan dari bangunan Rumah Sakit Kelas C serta beraktivitas
dalam bangunan Rumah Sakit Kelas C secara mudah, aman, nyaman dan mandiri.
Persyaratan Teknis.
1) Fasilitas dan aksesibilitas meliputi toilet, tempat parkir, telepon umum, jalur
pemandu, rambu dan marka, tangga, pintu, ram bagi disabel dan lanjut usia.
2) Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi, luas, dan
ketinggian bangunan Rumah Sakit Kelas C.

B. SUMBER DAYA MANUSIA


Penyelenggara Rumah Sakit Kelas C dapat melakukan kerja sama dengan rumah
sakit umum pusat maupun rumah sakit umum daerah untuk memenuhi kebutuhan
ketenagaan pelayanan kesehatan. Ketenagaan Rumah Sakit Kelas C paling sedikit
terdiri dari tenaga medis, keperawatan, penunjang kesehatan, dan tenaga non
kesehatan. Dokter atau dokter gigi yang bekerja di Rumah Sakit Kelas C diantaranya
harus menjadi Pimpinan Rumah Sakit Kelas C. Kebutuhan minimal ketenagaan baik
tenaga kesehatan maupun tenaga nonkesehatan dalam rangka penyelenggaraan
pelayanan di Rumah Sakit Kelas C sebagai berikut.
Persyaratan Minimal Ketenagaan
NO JENIS TENAGA JUMLAH TENAGA
1 Tenaga medis
Dokter/dokter dengan
Kewenangan Tambahan*
4
Dokter Gigi
1
3 Tenaga Keperawatan
Perawat 2:3
Bidan 2
4 Tenaga Kesehatan lain
Apoteker 1
Tenaga Teknis Kefarmasian 2
Radiografer* 1
Analis Kesehatan 1
Tenaga Gizi 1
5 Tenaga penunjang non kesehatan Sesuai kebutuhan
6 Administrasi dan Manajemen Sesuai kebutuhan

Keterangan:
* Apabila di rumah sakit tersebut mempekerjakan tenaga kesehatan dengan
kualifikasi lebih tinggi sesuai dengan kewenangan sebagaimana ditentukan

E-48
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

peraturan perundang-undangan yang berlaku, tenaga kesehatan tersebut pada


saat itu atau secara otomatis (yang tidak/belum sesuai dengan ketentuan) wajib
menyerahkan kepemimpinan klinisnya kepada tenaga kesehatan yang tertinggi
kewenangannya tanpa syarat. Jumlah sumber daya manusia harus disesuaikan
dengan kebutuhan pelayanan dan ketersediaan sarana dan prasarana.

E-49
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

C. PERALATAN
Peralatan medis dan non medis yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan
pelayanan Rumah Sakit Kelas Cuntuk minimal 10 (sepuluh) tempat tidur rawat inap
dan rawat jalan 2 (dua) spesialis dasar dari 4 (empat) spesialis dasar sesuai
kebutuhan, sebagaimana dimaksud pada tabel berikut:

Peralatan Medis dan Nonmedis

NO JENIS PERALATAN

A PELAYANAN GAWAT DARURAT


I Triage
1 Lampu Periksa (mobile)
2 Patient Stretcher
3 Stetoskop
4 Tensimeter
5 Diagnostik Set terdiri dari :
- Penlight
- Senter kepala (head lamp)
- Spatula lidah
- Reflex hammer
- Spekulum hidung
- Otoskop
- Ophtalmoskop
6 Kursi roda
II Resusitasi dan Tindakan
1 Meja Periksa
2 Lampu Tindakan (mobile)
3 Stetoskop dewasa
4 Stetoskop anak
5 Stetoskop Neonatus
6 Tensimeter Analog Standing
7 Tensimeter Analog table
8 Film Viewer
9 Termometer Digital
10 EKG
11 Nebulizer Dewasa
12 Nebulizer Anak
13 Portable Pulse Oximetri

E-50
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

14 Long Spine Board


15 Syringe Pump
16 Tiang infus
17 Suction Pump
18 Infustion Pump
19 Monitor Pasien
20 Resucitation Crash Cart (Troli Emergensi) terdiri dari :
- Defibrilator
- Nasopharyngeal tube
- Oropharyngeal tube
- Nasotracheal tube
- Orotracheal tube
- Laryngoscope set anak
- Laryngoscope set dewasa
- Bag valve Mask dewasa
- Bag valve Mask anak
- Kanul oksigen
- Chest tube
21 Minor Surgery Set
22 Tabung Oksigen + Regulator flowmeter + Troli
25 Tabung Oksigen Kecil + Regulator + Troli
26 Autoclave
27 Baki logam, SS
28 Tromol/Korentang (Dressing Drum)
29 Nierbeken, SS
30 Waskom antiseptik + tutup
31 Waskom Kassa + tutup
B. POLIKLINIK (RUANG RAWAT JALAN)
I Poliklinik OBSGYN
1 Tempat tidur periksa
2 Tempat tidur Ginekologi
3 USG + 2 Probe (Convage dan Vaginal) + Printer
4 Film Viewer
5 Timbangan dewasa + pengukur tinggi badan
6 Lampu Periksa (mobile)
7 Stetoskop
8 Stetoskop Laenec
9 Tensimeter Analog Standing
10 Tensimeter Analog Table

E-51
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

11 Examination lamp
12 Set Minor Surgery
13 Doppler
14 Cardiotocography
15 Gynecologycal Examination set
16 Pap Smear Kit
17 IUD kit
18 Implant kit
19 Forcep Biopsi
20 Autoclave
21 Nierbekhen
22 Sonde uterus
23 Tampon Tang
24 Tromol/Korentang (Dressing Drum)
25 Kursi Dorong
II Poliklinik Umum / Poliklinik Penyakit Dalam
1 Tempat tidur periksa
2 Timbangan dewasa + pengukur tinggi badan
3 Lampu Periksa (mobile)
4 Examination lamp
5 Diagnostik Set terdiri dari :
- Penlight
- Senter kepala (head lamp)
- Spatula lidah
- Reflex hammer
- Spekulum hidung
- Otoskop
- Ophtalmoskop
6 Stetoskop
7 Tensimeter Analog Standing
8 Tensimeter Analog Table
9 EKG
10 Film Viewer
11 Termometer
12 Defibrilator
13 Set Minor Surgery
14 Spirometri
15 Suction pump
16 Utility trolley

E-52
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

17 Tromol kasa
18 Tampon Tang
19 Bak instrument
20 Tromol/Korentang (Dressing Drum)
21 Kursi Roda
III Poliklinik Kesehatan Anak

1 Tempat tidur periksa


2 Stetoskop Anak
3 Stetoskop Neonatus
4 Tensimeter dengan manset untuk bayi dan anak
5 Examination lamp
6 Infant dan baby weighting scale
7 Termometer rectal
8 Termometer axial
9 Reflex Hammer
10 Tongue spatel (Stainless steel )
11 EKG
12 Nebulizer
13 Infant dan baby pediatric resusitation
14 Vena section set :
- Gunting lurus
- Gunting bengkok
- Hak 2 bh
- Klem lurus 2 bh
- Klem bengkok 2 bh
- Pinset anatomi 1 bh
- Pinset chirurgi 1 bh
- Pinset bengkok 2 bh
- Bisturi 1 buah
- Gagang bisturi 1 bh
- Needle holder (pemegang jarum jahit) 1 bh
- Kom stainless steel wadah 60 cc 1 bh
- Bak stainless steel wadah dengan tutup 1 bh
- Kom stainless steel wadah 60 cc 1 bh
- Bak stainless steel wadah dengan tutup 1 bh
15 Baby Suction pump
16 Oxygen set dan flow meter
17 Tromol/Korentang (Dressing Drum)
18 Refrigerator Medical Grade

E-53
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

IV Poliklinik Bedah
1 Tempat tidur periksa
2 Stetoskop
3 Examination lamp
4 Reflex hammer
5 Termometer
6 Film Viewer
7 Set Minor Surgery
8 Hecting set
9 Alat pembuka gips (manual dan elektrik)
10 Lokal Anestesi Set
11 Circumsisi set
12 Suction Pump
13 Autoclave
14 Nierbeken
V Klinik Gigi
A Dental Unit terdiri dari :
1 Kursi Gigi:
- Up Down Movement
- Reclining
- Head Rest
- Lampu Halogen Tanpa Bayangan
2 Cuspidor Unit:
- Spitton Bowl + Bowl Flush
- Water Cup Filler
- Saliva Ejector
- Transparent Water Tank (1000 cc)
3 Meja Instrumen
- Air Turbin Hand Piece 400.000 rpm
- Air Motor 20.000 rpm dengan Straight dan Contra Angle Hand

- Triple Syringe
4 Foot Controller untuk Hand Piece
5 Kompresor Oilless 1 PK
B Dental Instrument Set
1 Atraumatic Restorative Treatment (ART)
1.1. Enamel Access Cutter
1.2. Eksavator Berbentuk Sendok Ukuran Kecil (Spoon Excavator Small)

E-54
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN
1.3. Eksavator Berbentuk Sendok Ukuran Sedang (Spoon
Excavator Medium)
1.4. Eksavator Berbentuk Sendok Ukuran Besar (Spoon Excavator
Large)
1.5. Double Ended Applier and Carver
1.6. Spatula Plastik
1.7. Hatchet
1.8. Batu Asah
2 Bein Lurus Besar
3 Bein Lurus Kecil
Bor Intan (Diamond Bur Assorted) untuk Air Jet Hand Piece
4 (Kecepatan Tinggi) (round, inverted dan fissure)
Bor Intan Kontra Angle Hand Piece Conventional
5 (Kecepatan Rendah) (round, inverted dan fissure)
6 Polishing Bur
7 Ekskavator Berujung Dua (Besar)
8 Ekskavator Berujung Dua (Kecil)
9 Gunting Operasi Gusi (Wagner) (12 cm )
10 Handpiece Contra Angle
11 Handpiece Straight
12 Kaca Mulut Datar No.4 Tanpa Tangkai
13 Tangkai Untuk Kaca Mulut
14 Klem/Pemegang Jarum Jahit (Mathieu Standar)
15 Korentang, Penjepit Sponge (Foerster)
16 Light Curing
Mikromotor dengan Straight dan Contra Angle Hand Piece
17 (Low Speed Micro Motor portable)
18 Pelindung Jari
19 Pemegang Matriks (Matrix Holder)
20 Penahan Lidah
21 Pengungkit Akar Gigi Kanan Mesial (Cryer Distal)
22 Pengungkit Akar Gigi Kanan Mesial (Cryer Mesial)
23 Penumpat Plastis
24 Periodontal Probe
25 Penumpat Semen Berujung Dua
26 Pinset Gigi
27 Skeler Standar , Bentuk Cangkul Kiri (Type Chisel/Mesial)
Skeler Standar , Bentuk Cangkul Kanan (Type
28 Chisel/Mesial)

E-55
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN
29 Skeler Standar, Bentuk Tombak (Type Hook)
30 Skeler Standar, Black Kiri dan Kanan (Type Chisel/Mesial)
31 Skeler Standar, Black Kiri dan Kiri (Type Chisel/Mesial)
32 Skeler Ultrasonik
33 Sonde Lengkung
34 Sonde Lurus
35 Spatula Pengaduk Semen
36 Spatula Pengaduk Semen Ionomer
37 Set Tang Pencabutan Dewasa
37.1. Tang gigi anterior rahang atas dewasa
37.2. Tang gigi premolar rahang atas
37.3. Tang gigi molar kanan rahang atas
37.4. Tang gigi molar kiri rahang atas
37.5. Tang molar 3 rahang atas
37.6. Tang sisa akar gigi anterior rahang atas
37.7. Tang sisa akar gigi posterior rahang atas
37.8. Tang gigi anterior dan premolar rahang bawah
37.9. Tang gigi molar rahang bawah kanan/kiri
37.10. Tang gigi molar 3 rahang bawah
37.11. Tang sisa akar rahang bawah
38 Set Tang pencabutan anak
38.1. Tang gigi anterior rahang atas
38.2. Tang molar rahang atas
38.3. Tang molar susu rahang atas
38.4. Tang sisa akar rahang atas
38.5. Tang gigi anterior rahang bawah
38.6. Tang molar rahang bawah
38.7. Tang sisa akar rahang bawah
39 Skalpel, Mata Pisau Bedah (Besar)
40 Skalpel, Mata Pisau Bedah (Kecil)
41 Skalpel, Tangkai Pisau Operasi
42 Silinder Korentang Steril
43 Tempat Alkohol (Dappen Glas)
44 Toples Kapas Logam dengan Pegas dan Tutup (50 x 70 mm)

45 Toples Pembuangan Kapas (50 x 75 mm)


46 Baki Logam Tempat Alat Steril
47 Lempeng Kaca Pengaduk Semen

E-56
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

C RUANG TINDAKAN :
I Ruang persiapan (sebelum tindakan)
1 Bed Side Monitor
2 Tensimeter
3 Stethoscope
4 Suction Pump
5 Film Viewer
6 Saturasi Oksigen
II Kamar Bedah
1 Meja Operasi (gynecologi)
2 Meja Operasi
3 Lampu Operasi
4 Mesin Anestesi
5 Film Viewer
6 Monitor Pasien
7 EKG
8 Defibrilator
9 Ventilator
10 Oxygen Set (tabung oksigen+ Flow meter)
11 Electrosurgical unit
12 UV lamp for room sterilization
13 Vacum pump
14 Infusion pump
15 Suction pump
16 Syringe Pump
17 ETT, LMA, Nasotracheal, dewasa dan pediatric
18 Laringoscope set (dewasa dan pediatric)
19 Mayo table stand mobile
20 Sectio caesarian set
21 Laparatomy set
22 Histerectomy set
23 Histeroscopy set
24 Embriotomi set
25 Inkubator bayi
26 Micro Surgery set
27 Patient Strecher
28 Utility Troly
29 Ultrasonic cleaner
30 Ambubag

E-57
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

31 Ring aplikator set


32 Kocher
33 Chirurgical pinset
34 Gunting lurus
35 Jarum lumbal
36 Needle holder
37 Tromol kasa
38 Pean lurus
39 Spekulum cocor bebek
40 Hak langen beck
41 Speculum Shim
42 Aligator
43 Mini Laparotomy Set
44 Folding Endurance Tester
45 Fenster Klem
46 Bak bengkok
47 Standar Infus
48 Autoclave
III Recovery Room
1 Monitor Pasien
2 Patient Strecher
3 Defibrilator
4 Emergency trolley
5 Infusion pump
6 Suction pump
D RAWAT INAP
I Rawat Umum
1 Tempat Tidur dewasa
2 Tempat Tidur Anak
3 Termometer rectal
4 Termometer axial
5 Examination lamp
6 Stetoskop dewasa
7 Stetoskop bayi dan anak
8 Tensimeter anaroid with stand
9 Tensimeter dengan manset untuk bayi dan anak
10 Timbangan Bayi
11 Timbangan Dewasa
12 Doppler

E-58
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

13 Reflex Hammer
14 Film Viewer
15 Pen light
16 Defibrilator
17 EKG
18 Suction pump
19 Monitor Pasien
20 Infusion set
21 Infusion Pump
22 Oxygen Set + Flow meter
23 Recusitation Set
24 Minor surgery instrument set
25 Emergency set
26 Nebulyzer
27 Vena section set
28 Lumbal needle Punction
- Lumbal needle
- Kom stainless steel wadah 60 cc 1 bh
- Bak stainless steel wadah dengan tutup 1 bh
- Kom stainless steel wadah 60 cc 1 bh
- Bak stainless steel wadah dengan tutup 1 bh
- Duk Steril Bolong
29 Pulse Oxymetry
30 UV Lamp
31 Branchard
32 Anatomische pinset
33 Trokar
34 Glukometer
35 Chirurgical pinset
36 Transfusion set
37 Vena section set
38 Buli-buli panas
39 Gilyserine Spuit
40 Irigator
41 Korentang
42 Nierbekhen
43 Standar Infus
44 Sputum bak
45 Set Perawatan Luka

E-59
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

46 Emergency trolley
47 Oxygen set + Flowmeter
48 Syringe Pump
49 Matras Dekubitus
50 Pisfot dewasa
51 Bak instrument
52 Bak Catheter
53 Kursi Roda
II Ruang Bayi (gabung rawat inap)
1 Tempat tidur bayi
2 Stetoskop Bayi
3 Tensimeter dengan manset untuk bayi
4 Termometer rectal
5 Infant Incubator
6 Infant Warmer
7 Incubator Transpor
8 Vena section set
9 Baby Resusitasion Set
10 Baby Suction pump
11 Lumbal needle Punction
E RADIOLOGI
1 Mobile X-Ray Unit 100mA
2 Vertical Bucky Stand
3 Peralatan protektif radiasi terdiri dari :
4 - Lead apron , tebal 0.25 0,5 mm Pb,
- Sarung tangan, 0.25 -0.5 mm Pb
- Kaca mata Pb, 1 mm Pb
- Pelindung tiroid Pb, 1 mm Pb
- Pelindung gonad Pb, 0.25 -0.5 mm Pb
- Tabir mobile minimal 200 Mm (t}x100 cm
5 Perlengkapan proteksi radiasi terdiri dari :
- Survei meter
- Digital Pocket Dosimeter
- Film badge/TLD
6 Film viewer (doule film)
7 Cassette X-ray (Stand)
8 Film X-ray semua ukuran :
18 x 24 cm
24 x 30 cm

E-60
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

30 x 40 cm
35 x 35 cm
9 X-Ray Automatic Processing Film
10 Film marker
11 Film dryer
12 X - Ray Protection Screen with Lead Glass (untuk operator)
F RUANG LABORATORIUM
1 Mikroskop Binokuler
2 Waterbath
3 Sentrifus hematocrit
4 Mikrosentrifus
5 Fotometer / Spektrofotometer
6 Peralatan Laju Endap Darah (LED)
7 Hematologi Analyzer (Three Parts differential)
8 Urine analyzer
9 Reagensia
10 Rapid Test : Gula Darah, Kolesterol
11 Set pemeriksaan faeces
12 Mikropipet
13 Perlengkapan dan pengambilan Sample set
14 Peralatan Gelas
15 Medical Refrigerator
16 Rak Tabung Reaksi
17 Rak untuk pewarnaan
18 Sink Laboratorium
G INSTALASI FARMASI
1 Cawan + Mortir Obat
2 Timbangan gram dan miligram
3 Refrigerator Medical Grade
4 Meja peracikan obat (Work Table for Medicine)
H RUANG GIZI/PANTRY
1 Kitchen Set
2 Kulkas
3 Kompor Gas
4 Tabung Gas
5 Timbangan
6 Perlengkapan Masak Set
7 Perlengkapan Makan Set
8 Pantry Trolley

E-61
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

NO JENIS PERALATAN

9 Food model
I RUANG STERILISASI dan LOUNDRY
1 Autoclave
2 Washing Machine
3 Instrument Cabinet
4 Laundry Trolley, SS
5 Meja setrika + Setrika
6 Instrument Tray + tutup
J RUANG REKAM MEDIK
1 Filling Cabinet
2 Writing Desk
3 Chair
4 Komputer + Printer + UPS + Table
5 Lemari Arsip
K RUANG ADM/KANTOR
1 Filling Cabinet
2 Writing Desk
3 Chair
4 Komputer Desk Set
5 Lemari Arsip
HOSPITAL FURNITURE

NO JENIS PERALATAN

1 Lemari Instrumen
2 Lemari obat kaca
3 Lemari Steril
4 Penyekat ruangan
5 Meja obat
6 Meja Suntik Beroda
7 Food Troly
8 Instrument trolley
9 Meja laboratorium
10 Tempat Sampah (Tutup)
11 Lemari penyimpanan narkotika
12 Lemari penyimpanan psikotropika
13 Meja Tulis
14 Kursi
15 Waskom mandi

E-62
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

KONSEP ARSITEKTUR, SIPIL, MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL RUMAH SAKIT


Secara rinci persyaratan untuk gedung negara bertingkat yang berfungsi untuk fasilitas
pelayanan umum adalah sbb:
1. PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Persyaratan tata bangunan dan lingkungan bangunan gedung negara meliputi
ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan gedung
negara dari segi tata bangunan dan lingkungannya, meliputi persyaratan peruntukan
dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan
pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan/atau Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan (RTBL) Kabupaten / Kota atau Peraturan Daerah tentang Bangunan
Gedung Kabupaten/Kota yang bersangkutan, yaitu :
a. Peruntukan lokasi
Setiap bangunan gedung negara harus diselenggara-kan sesuai dengan
peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten/Kota dan/atau RTBL yang
bersangkutan.
b. Koefisien dasar bangunan (KDB)
Ketentuan besarnya koefisien dasar bangunan mengikuti ketentuan yang diatur
dalam peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung untuk lokasi yang
bersangkutan.
c. Koefisien lantai bangunan (KLB)
Ketentuan besarnya koefisien lantai bangunan mengikuti ketentuan yang diatur
dalam peraturan daerah setempat tentang bangunan gedung untuk lokasi yang
bersangkutan.
d. Ketinggian bangunan
Ketinggian bangunan gedung negara, sepanjang tidak bertentangan dengan
peraturan daerah setempat tentang ketinggian maksimum bangunan pada lokasi,
maksimum adalah 8 lantai. Untuk bangunan gedung negara yang akan dibangun
lebih dari 8 lantai, harus mendapat persetujuan dari:
1) Menteri Pekerjaan Umum atas usul Menteri/Ketua Lembaga, untuk bangunan
gedung negara yang pembiayaannya bersumber dari APBN dan /atau APBD;
2) Menteri Pekerjaan Umum atas usul Menteri Negara BUMN, untuk bangunan
gedung negara yang pembiayaannya bersumber dari anggaran BUMN.

E-63
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

e. Ketinggian langit-langit
Ketinggian langit-langit bangunan gedung kantor minimum adalah 2,80 meter
dihitung dari permukaan lantai. Untuk bangunan gedung olah-raga, ruang
pertemuan, dan bangunan lainnya dengan fungsi yang memerlukan ketinggian
langit-langit khusus, agar mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) yang
dipersyaratkan.
f. Jarak antar blok/massa bangunan
Sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat tentang
bangunan gedung, maka jarak antar blok/massa bangunan harus
mempertimbangkan hal-hal seperti:
1) Keselamatan terhadap bahaya kebakaran;
2) Kesehatan termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan;
3) Kenyamanan;
4) Keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan.
g. Koefisien daerah hijau (KDH)
Perbandingan antara luas area hijau dengan luas persil bangunan gedung
negara, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat
tentang bangunan gedung, harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan
1) daerah resapan air;
2) ruang terbuka hijau kabupaten/kota. Untuk bangunan gedung yang
mempunyai KDB kurang dari 40%, harus mempunyai KDH minimum sebesar
15%.

h. Garis sempadan bangunan


Ketentuan besarnya garis sempadan, baik garis sempadan bangunan maupun
garis sempadan pagar harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam RTBL,
peraturan daerah tentang bangunan gedung, atau peraturan daerah tentang
garis sempadan bangunan untuk lokasi yang bersangkutan.
i. Wujud arsitektur
Wujud arsitektur bangunan gedung negara harus memenuhi kriteria sebagai
berikut:
1) mencerminkan fungsi sebagai bangunan gedung negara;
2) seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya;
3) indah namun tidak berlebihan;

E-64
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

4) efisien dalam penggunaan sumber daya baik dalam pemanfaatan maupun


dalam pemeliharaannya;
5) mempertimbangkan nilai sosial budaya setempat dalam menerapkan
perkembangan arsitektur dan rekayasa; dan
6) mempertimbangkan kaidah pelestarian bangunan baik dari segi sejarah
maupun langgam arsitekturnya.
j. Kelengkapan Sarana dan Prasarana Bangunan
Bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan prasarana dan sarana
bangunan yang memadai, dengan biaya pembangunannya diperhitungkan
sebagai pekerjaan non-standar. Prasarana dan sarana bangunan yang harus ada
pada bangunan gedung negara, seperti:
1) Sarana parkir kendaraan;
2) Sarana untuk penyandang cacat dan lansia;
3) Sarana penyediaan air minum;
4) Sarana drainase, limbah, dan sampah;
5) Sarana ruang terbuka hijau;
6) Sarana hidran kebakaran halaman;
7) Sarana pencahayaan halaman;
8) Sarana jalan masuk dan keluar;
9) Penyediaan fasilitas ruang ibadah, ruang ganti, ruang bayi/ibu, toilet,
dan fasilitas komunikasi dan informasi.
k. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta Asuransi
1) Setiap pembangunan bangunan gedung negara harus memenuhi
persyaratan K3 sesuai yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Bersama
Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
Kep.174/MEN/1986 dan 104/KPTS/ 1986 tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja pada Tempat Satuan Kerja Konstruksi, dan atau
peraturan penggantinya;
2) Ketentuan asuransi pembangunan bangunan gedung negara sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

2. PERSYARATAN BAHAN BANGUNAN


Bahan bangunan untuk bangunan gedung negara harus memenuhi SNI yang
dipersyaratkan, diupayakan menggunakan bahan bangunan setempat/produksi

E-65
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

dalam negeri, termasuk bahan bangunan sebagai bagian dari komponen bangunan
sistem fabrikasi.
3. Perencanaan Bahan/ Material Bangunan
Rencana penggunaan bahan/ material bangunan dapat dilihat dalam 3 (tiga) kategori
tabel di bawah ini :
1. EXTERNAL FINISHING SCHEDULE
GRADE/LEGS BODY HEAD
Building Warm grey Stopsol supersilver Metal roof sheet (textured)
weather shield glass (vision) GRC soffite w/
paint finish Stopsol supersilver weathershield paint finish
Clear float glass grey reflective glass
Clear float (sprandel)
tempered glass Light grey
weathershield paint
finish
Hardscape Ceramic tiles 300
x 300 unpolished
finish
Concrete paved
block
Slate stone
retaining wall
claiding
2. GENERAL FINISHING SCHEDULE
ROOM FLOOR WALL CEILING
Public Area/ Lobby Granit Stone 600 x Drywall w / acrylic Gypsumboard
600 (paterned) emulsion paint Acoustic tile w / covelight
Hospital skirting
Corridor Homogenous Tile Drywall w / acrylic Gypsumboard
600 x 600 (paterned) emulsion paint Acoustic tile
Bumper guard
Rail guard
Hospital skirting
Administration & Homogenous 400 x Drywall w / acrylic Solid gypsum board w /
Office 400 emulsion paint covelight
Timber skirting
Staff Changing/ Ceramic Tiles 200 x Brick wall w/ ceramic Solid gypsum board
Public Toilet 200 (patterned) tiles 200 x 250 (border) w/covelight
Cleaner Ceramic Tiles 300 x Drywall w/ ceramic Acoustic Tile 600 x 1200
Room/Dirty Utility 300 & 200 x 200 tiles 200 x 250
Hospital skirting
Staff Resting Ceramic Tiles 300 x Drywall w / acrylic Solid gypsum board w/
300 emulsion paint covelight
Hospital Skirting Hospital skirting

Multi Purpose/
Homogenous 600 x Drywall w/acrylic Solid gypsum board w/
Meeting Room 600 emulsion paint covelight
Timber Skirting Timber Skirting
Door & window Aluminium silver
frame glosy anodize 18
mikron
Fire Stairs/ MEP Concrete w/ floor Brick wall w/ Dust Proof Exposed dust proof paint
Room/ Ramp Hardener Paint
3. MEDICAL ROOM FINISHING SCHEDULE
ROOM FLOOR WALL CEILING
R. Operasi, Chemical resistant Drywall w/ chemical Solid gypsum board w/
Intensive Care Vinyl Sheet resistant paint antistatic & chemical resistant
Room, Treatment paint

E-66
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Room, Isolation
Room
Ward Homogenous tile 400 Drywall w/ ceramic tiles Acoustic tile 600 x 1200
x 400 200 x 250
Hopital Skirting
Sterile Store/ Vinyl Sheet High Drywall w/ epoxy enamel Solid gypsum board w/ epoxy
Sterile Supply Impact Reistant paint enamel paint
Internal corridor/ Homogenous tile400 Drywall w/ acrylic Acoustic tile 600 x 1200
Nurse Station x 400 emulsion paint
Hospital Skirting
Bumper Guard
Rail Guard

4. Konsep Desain Pertamanan/ Landscape


Pengembangan taman lingkungan sekitar gedung ini harus direncanakan dan ditata
agar bangunan sebagai lingkungan binaan yang baru keberadaannya dapat menyatu
dengan lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu konsep hijau, teduh dan asri yang
diwujudkan oleh elemen tanaman yang aplikasikan.
Beberapa pertimbangan untuk taman dan lingkungan tersebut adalah sebagai berikut
:
Penataan lokasi taman yang memadai hendaknya disertai juga dengan
pengadaan pedestrian tempat pejalan kaki. Di beberapa tempat tertentu
dapat disediakan bangku tempat duduk.
Penggunaan elemen pohon sebagai peneduh lebih dominan dengan jenis
yang tidak tinggi sehingga tidak menghalangi kemegahan bangunan yang
lebih ditonjolkan.
Pada jalur-jalur pedestrian diikuti oleh tanaman jenis pengarah (tanaman
perdu/ hias atau tanaman jenis ramping/ cemara).
Menjaga keseimbangan antara perkerasan baik untuk pedestrian maupun
untuk jalan kendaraan yaitu dengan membagi untuk jalan dan pedestrian
dengan penutup material aspal atau paving blok dan grass blok untuk area
parkir, hal ini dimaksudkan untuk menjaga resapan air hujan dan
mengurangi masalah drainage.
Menghindarkan pagar batas bidang masif di lingkungan rumah sakit agar
ruang terbuka yang terbentuk saling menyambung sehingga tidak
menimbulkan kesan sempit dan padat. Andaikatapun antar batas bangunan
tertentu harus ada pagar pembatas bisa dilakukan dengan penanaman
pohon pengarah dan pelindung yang rapat saja.

E-67
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

5. Kelengkapan Sarana dan Prasarana Lingkungan Bangunan


Pada tahap Pengembangan Rencana ini sebagai bangunan gedung negara sudah
dilengkapi dengan prasarana dan sarana bangunan yang memadai, dengan biaya
pembangunannya diperhitungkan sebagai pekerjaan non-standar. Prasarana dan
sarana bangunan yang harus ada pada bangunan gedung negara, seperti :
Sarana parkir kendaraan;
Sarana untuk penyandang cacat;
Sarana penyediaan air bersih;
Sarana drainase, limbah dan sampah;
Sarana ruang terbuka hijau;
Sarana hydran kebakaran halaman;
Sarana penerangan halaman;
Sarana jalan masuk dan keluar.

6. PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN


Struktur bangunan gedung negara harus memenuhi persyaratan keselamatan
(safety) dan kelayanan (serviceability) serta SNI konstruksi bangunan gedung, yang
dibuktikan dengan analisis struktur sesuai ketentuan. Spesifikasi teknis struktur
bangunan gedung negara secara umum meliputi ketentuan-ketentuan:
a. Struktur pondasi
1) Struktur pondasi harus diperhitungkan mampu menjamin kinerja bangunan
sesuai fungsinya dan dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap berat
sendiri, beban hidup, dan gaya-gaya luar seperti tekanan angin dan gempa
termasuk stabilitas lereng apabila didirikan di lokasi yang berlereng. Untuk
daerah yang jenis tanahnya berpasir atau lereng dengan kemiringan di atas
15 jenis pondasinya disesuaikan dengan bentuk massa bangunan gedung
untuk menghindari terjadinya likuifaksi (liquifaction) pada saat terjadi
gempa;
2) Pondasi bangunan gedung negara disesuaikan dengan kondisi tanah/lahan,
beban yang dipikul, dan klasifikasi bangunannya. Untuk bangunan yang
dibangun di atas tanah/lahan yang kondisinya memerlukan penyelesaian
pondasi secara khusus, maka kekurangan biayanya dapat diajukan secara
khusus di luar biaya standar sebagai biaya pekerjaan pondasi non-standar;

E-68
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

3) Untuk pondasi bangunan bertingkat lebih dari 3 lantai atau pada lokasi
dengan kondisi khusus maka perhitungan pondasi harus didukung dengan
penyelidikan kondisi tanah/lahan secara teliti.

b. Struktur lantai
Bahan dan tegangan yang digunakan harus sesuai dengan ketentuan sebagai
berikut:
bahan-bahan dan tegangan serta lendutan maksimum yang digunakan
harus sesuai dengan ketentuan SNI yang dipersyaratkan.
lantai beton yang diletakkan langsung di atas tanah, harus diberi
lapisan pasir di bawahnya dengan tebal sekurang-kurangnya 5 cm, dan
lantai kerja dari beton tumbuk setebal 5 cm;
bagi pelat-pelat lantai beton bertulang yang mempunyai ketebalan
lebih dari 10 cm dan pada daerah balok ( bentang pelat) harus
digunakan tulangan rangkap, kecuali ditentukan lain berdasarkan hasil
perhitungan struktur;
bahan-bahan dan tegangan serta lendutan maksimum yang digunakan
harus sesuai dengan ketentuan SNI yang dipersyaratkan.
tebal pelat baja harus diperhitungkan, sehingga bila ada lendutan
masih dalam batas kenyamanan;
sambungan-sambungannya harus rapat betul dan bagian yang
tertutup harus dilapis dengan bahan pelapis untuk mencegah
timbulnya korosi;
bahan-bahan dan tegangan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan SNI yang dipersyaratkan.

c. Struktur Kolom
1) Struktur kolom praktis dan balok pasangan bata:
besi tulangan kolom praktis pasangan minimum 4 buah 8 mm
dengan jarak sengkang maksimum 20 cm;
adukan pasangan bata yang digunakan sekurangkurangnya harus
mempunyai kekuatan yang sama dengan adukan 1PC : 3 PS;
Mutu bahan dan kekuatan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan SNI yang dipersyaratkan.
2) Struktur kolom beton bertulang:

E-69
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

kolom beton bertulang yang dicor di tempat harus mempunyai


tebal minimum 15 cm diberi tulangan minimum 4 buah 12 mm
dengan jarak sengkang maksimum 15 cm;
selimut beton bertulang minimum setebal 2,5 cm;
Mutu bahan dan kekuatan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan SNI yang dipersyaratkan.
3) Struktur kolom baja:
kolom baja harus mempunyai kelangsingan () maksimum 150;
kolom baja yang dibuat dari profil tunggal maupun tersusun harus
mempunyai minimum 2 sumbu simetris;
sambungan antara kolom baja pada bangunan bertingkat tidak
boleh dilakukan pada tempat pertemuan antara balok dengan
kolom, dan harus mempunyai kekuatan minimum sama dengan
kolom;
sambungan kolom baja yang menggunakan las harus
menggunakan las listrik, sedangkan yang menggunakan baut
harus menggunakan baut mutu tinggi;
penggunaan profil baja tipis yang dibentuk dingin, harus
berdasarkan perhitungan-perhitungan yang memenuhi syarat
kekuatan, kekakuan, dan stabilitas yang cukup;
Mutu bahan dan kekuatan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan dalam SNI yang dipersyaratkan.
5) Struktur Dinding Geser
Dinding geser harus direncanakan untuk secara bersama-sama
dengan struktur secara keseluruhan agar mampu memikul beban
yang diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai
akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur
layanan struktur, baik beban muatan tetap maupun muatan beban
sementara yang timbul akibat gempa dan angin;
Dinding geser mempunyai ketebalan sesuai dengan ketentuan
dalam SNI.

E-70
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

d. Struktur Atap
1) Umum
konstruksi atap harus didasarkan atas perhitunganperhitungan
yang dilakukan secara keilmuan / keahlian teknis yang sesuai;
kemiringan atap harus disesuaikan dengan bahan penutup atap
yang akan digunakan, sehingga tidak akan mengakibatkan
kebocoran;
bidang atap harus merupakan bidang yang rata, kecuali
dikehendaki bentuk-bentuk khusus.
2) Struktur rangka atap kayu
ukuran kayu yang digunakan harus sesuai denganukuran yang
dinormalisir;
rangka atap kayu harus dilapis bahan anti rayap;
bahan-bahan dan tegangan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan SNI yang diper-syaratkan.
3) Struktur rangka atap beton bertulang Mutu bahan dan kekuatan yang
digunakan harus sesuai dengan ketentuan SNI yang dipersyaratkan.
4) Struktur rangka atap baja
sambungan yang digunakan pada rangka atap baja baik berupa
baut, paku keling, atau las listrik harus memenuhi ketentuan pada
Pedoman Perencanaan Bangunan Baja untuk Gedung;
rangka atap baja harus dilapis dengan pelapis anti korosi;
bahan-bahan dan tegangan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan SNI yang dipersyaratkan;
untuk bangunan sekolah tingkat dasar, sekolah tingkat
lanjutan/menengah, dan rumah negara yang telah ada komponen
fabrikasi, struktur rangka atapnya dapat menggunakan komponen
prefabrikasi yang telah ada.
Persyaratan struktur bangunan sebagaimana butir 3 huruf a s.d. d di
atas secara lebih rinci mengikuti ketentuan yang diatur dalam SNI yang
dipersyaratkan.

e. Struktur Beton Pracetak


1) Komponen beton pracetak untuk struktur bangunan gedung negara
dapat berupa komponen pelat, balok, kolom dan/atau panel dinding;

E-71
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

2) Perencanaan komponen struktur beton pracetak dan sambungannya


harus mempertimbangkan semua kondisi pembebanan dan
kekangan deformasi mulai dari saat pabrikasi awal, hingga selesainya
pelaksanaan struktur, termasuk pembongkaran cetakan,
penyimpanan, pengangkutan, dan pemasangan;
3) Gaya - gaya antar komponen-komponen struktur dapat
disalurkan menggunakan sambungan grouting, kunci geser,
sambungan mekanis, sambungan baja tulangan, pelapisan dengan
beton bertulang cor setempat, atau kombinasi;
4) Sistem struktur beton pracetak boleh digunakan bila dapat ditunjukan
dengan pengujian dan analisis bahwa sistem yang diusulkan akan
mempunyai kekuatan dan ketegaran yang minimal sama dengan
yang dimiliki oleh struktur beton monolit yang setara;
5) Komponen dan sistem lantai beton pracetak
Sistem lantai pracetak harus direncanakan agar mampu
menghubungkan komponen struktur hingga terbentuk sistem
penahan beban lateral (kondisi diafragma kaku). Sambungan
antara diafragma dan komponen-komponen struktur yang
ditopang lateral harus mempunyai kekuatan tarik nominal minimal
45 KN/m;
Komponen pelat lantai yang direncanakan komposit dengan beton
cor setempat harus memiliki tebal minimum 50 mm;
Komponen pelat lantai yang direncanakan tidak komposit dengan
beton cor setempat harus memiliki tebal minimum 65 mm;
6) Komponen kolom pracetak harus memiliki kuat tarik nominal tidak
kurang dari 1,5 luas penampang kotor (Ag dalam KN);
7) Komponen panel dinding pracetak harus mempunyai minimum dua
tulangan pengikat per panel dengan memiliki kuat tarik nominal tidak
kurang dari 45 KN per tulangan pengikat;
8) Bahan-bahan dan tegangan yang digunakan harus sesuai dengan
ketentuan SNI yang dipersyaratkan.

b. Peraturan yang Digunakan


Suatu perencanaan bangunan harus mengikuti peraturan peraturan yang
berlaku. Peraturan-peraturan untuk konstruksi beton yang dipakai adalah :

E-72
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Tata Cara Peraturan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, SK SNI


T-15-1991-03. Peraturan ini meliputi persyaratan-persyaratan umum
serta ketentuan-ketentuan teknis perencanaan dan pelaksanaan
struktur beton untuk bangunan gedung atau struktur bangunan lain
yang mempunyai kesamaan karakter dengan struktur bangunan.
Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia Untuk Gedung 1983.
Peraturan ini memuat syarat-syarat minimum untuk perencanaan
tahan gempa dari struktur-struktur gedung.
Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971. Peraturan ini masih
digunakan untuk mendukung peraturan yang baru dan mengisi hal-hal
yang tidak diatur dalam SK SNI T-15-1991-03.
Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983. Peraturan ini
berisi tentang segala ketentuan mengenai beban yang dikenakan pada
suatu struktur.
1) Pembebanan Bangunan
Secara umum beban-beban yang digunakan untuk perencanaan
struktur gedung ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu beban
gravitasi dan beban gempa.
a) Beban Gravitasi
Beban gravitasi terdiri dari beban mati dan beban hidup.
Beban mati yaitu semua berat dari semua bagian dari suatu
bangunan yang bersifat tetap, termasuk semua unsur
tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin serta
peralatan tetap yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari bangunan tersebut.
Beban gravitasi sesuai dengan Peraturan Pembebanan
Indonesia untuk Gedung dapat dilihat pada tabel berikut :
Beban Gravitasi menurut Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung
No Nama Beban Besar Beban
1 Beban Mati :
Beton bertulang 2.400 Kg/m3
Keramik 2.200 Kg/m3
Spesi 2.200 Kg/m3
Tembok 250 Kg/m2
Langit-langit + penggantung 18 Kg/m2
Ducting AC 40 Kg/m3
2 Beban Hidup :

E-73
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Bangunan kantor 400 Kg/m3


Bangunan rumah sakit 250 Kg/m

b) Beban Gempa
Beban gempa yaitu semua beban statis ekuivalen yang
bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan
pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu. Dalam hal ini
pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan
berdasarkan analisa dinamik, maka yang diartikan dengan
beban gempa di sini adalah gaya-gaya di dalam struktur
tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa
tersebut.

Sistem penahan beban lateral yang digunakan adalah portal


terbuka daktail. Portal terbuka ini terhadap beban gempa
rencana harus tetap dalam keadaan elastis, sedang terhadap
beban gempa besar (periode ulang 200 tahunan) mempunyai
pola keruntuhan yang aman. Pola keruntuhan ini didapatkan
dengan memberikan daktilitas yang cukup pada balok dengan
menggunakan konsep desain kapasitas atau konsep kolom
kuat balok lemah.
c) Desain Struktur
Struktur didesain menurut Tata Cara Perhitungan Struktur
Beton untuk Bangunan Gedung SK SNI T-15-1991-03.
Berdasarkan SK SNI T-15-1991-03, kombinasi beban dan
faktor beban adalah sebagai berikut :

Kombinasi dan faktor untuk kondisi beban tetap :


U = 1,2 DL + 1,6 LL
Dimana :
DL : Beban Mati
LL : Beban Hidup

Kombinasi dan faktor untuk kondisi beban sementara


akibat angin :

E-74
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

U = 0,75 (1,2 DL + 1,6 LL + WL)


U = 0,9 DL + 1,3 WL
Dimana :
WL : Beban Angin

Kombinasi dan faktor untuk kondisi beban sementara


akibat gempa :
U = 1,05 (DL + LR E)
U = 0,9 DL E
Dimana :
E : Beban Gempa
LR : Beban Hidup yang telah direduksi

Beban yang diambil dari kombinasi yang terbesar dari


ketiga kombinasi tersebut.

2) Mutu Material Bangunan


Mutu material yang digunakan untuk perencanaan
gedung bertingkat adalah sebagai berikut :
Beton
Mutu beton yang digunakan adalah :
Untuk Kolom dan Poer digunakan mutu beton K 300, fc
= 24,6 MPa
Untuk Pelat dan Balok digunakan mutu beton K 300,
fc = 24,6 Mpa
Baja Tulangan
Mutu baja yang digunakan adalah :
Untuk baja tulangan 12 mm digunakan baja U 24, fy
= 240 MPa
Untuk baja tulangan > 12 mm digunakan baja U 32,
fy = 320 Mpa

3) Modelisasi Struktur
Struktur utama merupakan struktur pemikul beban yang
diperlukan bagi ketahanan gedung jika mengalami

E-75
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

pembebanan yang disyaratkan. Beban yang diterima


struktur utama berupa beban gravitasi dan beban lateral.

Komponen utama dari struktur adalah balok induk dan


kolom yang fungsinya menyalurkan semua beban ke
struktur di bawahnya. Beban rencana ditentukan
berdasarkan peraturan pembebanan yang berlaku yaitu
Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung Tahun
1983 dan Peraturan Perencanaan Tahan Gempa
Indonesia untuk Gedung (1983).

Struktur utama yang terdiri dari balok dan kolom


dianggap tidak dipenuhi oleh tembok karena tembok tidak
dianggap tidak ikut memikul beban-beban yang bekerja
pada struktur gedung tersebut. Tembok nantinya
dimasukkan sebagai beban luar yang membebani masing-
masing balok yang memikulnya.

Sistem struktur dimodelkan sebagai portal terbuka (open


frame) dengan perletakan jepit pada dasar kolom. Lantai
dimodelkan sebagai rigid floor diafragma, sehingga gaya
lateral yang berasal dari beban gempa dapat disalurkan
ke komponen penahan struktur lateral.

Seluruh join dalam satu bidang lantai dianggap tidak


bergerak relatif satu terhadap yang lainnya, tetapi
displacement dari joint-joint tersebut tergantung pada
displacement dari master of joints. Lokasi dari master of
joints ini diletakkan pada pusat massa dari suatu lantai
bangunan.

Balok anak menggunakan sistem balok Grid dan analisa


gaya dalamnya dilakukan dengan SAP90. Hal ini
disebabkan dalam analisa tiga dimensi terutama pada
balok anak tepi terjadi torsi. Beban beban yang terjadi

E-76
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

pada balok anak adalah berat sendiri balok serta semua


beban merata pada pelat (termasuk berat sendiri pelat
dan beban hidup merata diatasnya). Distribusi bebannya
didasarkan pada cara Tributary Area yaitu beban pelat
dinyatakan dalam bentuk trapesium maupun segitiga.
Adapun tipe pembebanan tersebut adalah sebagai berikut
:
Beban Ekivalen Segitiga :
Qek = 1/3. Q. Lx
Beban Ekivalen Trapesium :
Qek = . Q. Lx. (1-1/3. (Lx/ Ly)2)
Dimana :
Q = Beban mati/ hidup pelat
Lx = Bentang terpendek dari dimensi pelat
Ly = Bentang terpanjang dari dimensi pelat

Perencanaan struktur tangga dapat dilakukan beberapa


alternatif, baik konstruksinya maupun peletakkannya.
Konstruksi tangga dapat direncanakan sebagai balok tipis
(frame) ataupun pelat (shell). Perbedaan dalam
menentukan asumsi konstruksi maupun perletakan akan
menentukan bentuk konstruksi atau cara penulangan
serta pengaruhnya terhadap struktur secara keseluruhan.
Namun demikian untuk baiknya analisa tangga
dimodelkan sebagai pelat (shell) dengan peletakan jepit-
rol dan dianalisa dengan SAP90.

Setelah permodelan struktur utama, maka dilakukan


analisa struktur terhadap beban yang bekerja baik beban
gravitasi maupun beban lateral. Analisa struktur yang
digunakan pada perencanaan ini memakai cara elastis
dengan metode elemen hingga dengan bantuan program
SAP90 versi 6.20.

E-77
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Sebelum melakukan analisa struktur, terlebih dahulu


harus dilakukan preliminary design dari konstruksi
struktur utama yaitu balok dan kolom serta harus
diketahui sifat dan mutu bahan untuk menentukan
kekakuan tiap elemen.

4) Analisa Struktur dengan SAP90


Input data struktur utama dibuat berdasarkan referensi
SAP 90, A Series of Computer Programs for Static and
Dynamic Finite Element Analysis of Structures, Users
Manual by Edward L. Wilson and Ashraf Habibullah, July
1989. Input tersebut terdiri dari :

Title Line
Berisi satu baris kalimat maksimal 70 karakter sebagai
identifikasi dari input data SAP90.

System
Blok data ini menjelaskan tentang kontrol informasi yang
berhubungan dengan struktur yang akan dianalisa.
L = menyatakan jumlah Load Condition
V = menyatakan jumlah Eigen Value, yaitu jumlah dari
mode shape yang akan dihitung pada analisa eigenvalue
dan kemudian dimasukkan ke analisa ragam spektrum
yang terdapat pada Peraturan Perencanaan Bangunan
Tahan Gempa Indonesia Tahun 1983 yang dinyatakan
bahwa untuk analisa ragam spektrum respon dari struktur
gedung dengan bentuk beraturan jumlah ragam yang
ditinjau tidak kurang dari 5, tetapi sebagai pedoman
jumlah ragam spektrum respons yang ditinjau tidak perlu
lebih dari tingkatnya.

Joint Data Block


Memuat informasi tentang letak koordinat titik-titik pada
struktur dalam sumbu global XYZ serta generasi joints

E-78
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

berupa Linear Generation (G) dan Frontal Generation (F).


Pendefinisian joints ini bertujuan untuk membuat
geometri dari struktur yang dianalisa.

Restrains
Memuat informasi mengenai derajat kebebasan atau
Degree of Fredoom (DoF) tiap-tiap joints apakah dilepas
(nilai = 0) atau dikekang (nilai = 1).
Perletakan jepit R=111111
Dependent joints R=110001
Master joints R=001110

Masses
Memuat informasi mengenai massa dan momen inersia
massa (MMI) dari tiap tiap lantai yang dinyatakan dalam
bentuk M = mx, my, mz, mrx, mry, mrz.
Momen inersia massa tiap lantai dapat dihitung dengan
rumus :
MMI = M/A (Ix + Iy)
Dimana :
Ix = 1/12. b. d
Iy = 1/12. d. b
M = Massa total dari lantai yang ditinjau
A = Luas lantai yang ditinjau
b = Lebar dalam arah y dari lantai yang ditinjau
d = Panjang dalam arah x dari lantai yang ditinjau

Langkah-langkah perhitungan untuk mendapatkan


massa, titik pusat massa dan massa momen inersia dari
tiap-tiap lantai adalah sebagai berikut :
Menghitung massa total dari tiap lantai yang meliputi
massa pelat, balok, kolom, beban tembok, beban hidup
dan beban beban lain yang berhubungan.

E-79
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Menghitung letak titik pusat massa dengan cara


mengambil suatu titik referensi kemudian baru dihitung
statis momen terhadap titik referensi tersebut.
Bagi statis momen tersebut dengan massa total dari lantai
tersebut, dari sini kita akan mendapatkan letak pusat
massa dari lantai tersebut.
Hitung momen inersia massa dari setiap elemen-elemen
lantai tersebut terhadap titik pusat massa dengan rumus
MMI di atas.

Frame Data Block


Memuat informasi mengenai data-data dari elemen-
elemen batang (frame) tiga dimensi pada struktur yang
dianalisa meliputi lokasi, properti dan beban yang bekerja
pada setiap elemen, yaitu meliputi :
NM = Number of Material, menyatakan jumlah
material yang dipergunakan dalam analisa
struktur.
NL = Number of Load Identification, menyatakan
jumlah beban yang ada pada struktur.
NSEC = Number of section, menyatakan jumlah output
dalam tiap elemen.
Z = -1, menyatakan berat sendiri elemen sudah
otomatis terhitung oleh SAP90.
Penulisan macam beban dibedakan antara beban mati,
beban hidup dan beban akibat gempa yang nantinya akan
dikombinasikan dalam blok data COMBO.

Loads Data Blocks


Memuat informasi mengenai beban-beban pada joints
yang berasal dari beban terpusat.

SPEC

E-80
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Memuat informasi mengenai data-data yang


berhubungan dengan analisa dinamis yang menggunakan
analisa response spectrum, yaitu :
A = Sudut eksitasi (derajat)
S = Faktor skala respon spektrum sebesar 9,81 m/det2
D = Damping ratio
Combo
Memuat informasi mengenai kombinasi pembebanan
yang digunakan pada analisa struktur utama, yang
didasarkan pada SK SNI T-15-1991-03 ayat 3.2.2.

5) Perhitungan Tulangan Balok


Persyaratan Perhitungan Balok Dengan Daktilitas
Terbatas.
Gaya tekan aksial terfaktor yang bekerja pada komponen
struktur tidak melebihi Ag.fc/10.
Bentang bersih komponen struktur tidak boleh kurang
dari empat kali tinggi efektinya, kecuali untuk balok
perangkai dinding geser.
Rasio lebar balok terhadap tinggi balok tidak boleh kurang
dari 0,26.
Lebar balok tidak boleh kurang dari 200 mm lebih dari
lebar komponen penumpu (diukur dari bidang tegak lurus
terhadap sumbu longitudinal dari komponen lentur)
ditambah jarak yang tidak melebihi tiga perempat dari
tinggi komponen lentur pada tiap sisi dari komponen
penutup.

Pada sembarang penampang suatu komponen struktur


lentur, jumlah jumlah tulangan atas maupun tulangan
bawahnya tidak boleh kurang dari (1,4.bw.d/fy) dan rasio
tulangan tidak boleh melampaui (7.bw.d/fy) dan paling
tidak harus disediakan dua batang tulangan menerus
pada kedua tulangan atas dan bawah.

E-81
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Kuat momen positif pada sisi muka joint tidak boleh


kurang dari kuat momen negatif yang disediakan pada
sisi muka joint tersebut. Pada sembarang penampang
komponen struktur tersebut, kuat momen positif maupun
kuat momen negatifnya tidak boleh kurang dari
seperempat kuat momen maksimum yang terdapat pada
kedua ujung joint.

Sambungan lewatan tulangan lentur hanya dibolehkan


bila sepanjang daerah sambungan lewatan tadi dipasang
tulangan sengkang penutup atau tulangan spiral. Jarak
maksimum tulangan transversal yang meliliti batang
tulangan disambung lewat tidak boleh melebihi d/2 atau
200 mm. Sambungan lewatan tidak boleh digunakan
dalam daerah joint dan dalam jarak setinggi komponen
struktur dari muka joint.

Sengkang tertutup harus dipasang dalam daerah


sepanjang tinggi komponen struktur pedukung ke arah
tengah bentang pada kedua ujung dari komponen
struktur lentur.

Sengkang tertutup yang pertama harus dipasang tidak


boleh lebih dari 50 mm diukur dari sisi muka komponen
struktur pendukung. Spasi maksimum sengkang tersebut
tidak boleh melebihi d/4, sepuluh kali diameter
longitudinal terkecil, 24 kali diameter batang sengkang,
300 mm dan 3.fy.As1/bw, dimana :
As1 = luas satu kaki tulangan transversal, mm2.
bw = lebar badan balok.
fy = kuat leleh tulangan longitudinal.
Di daerah yang tidak memerlukan sengkang tertutup,
sengkang harus dipasang dengan spasi tidak lebih dari
d/2 pada seluruh panjang komponen struktur tersebut.

E-82
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

6) Perhitungan Tulangan Kolom


Dalam perencanaan kolom sebagai komponen struktur
yang menerima beban lentur dan beban aksial tekan, SK
SNI T-15-1991-03 Pasal 3.14.4.1 mensyaratkan sebagai
berikut :
Dimensi penampang terpendek, diukur pada suatu garis
lurus yang melalui titik berat, tidak boleh kurang dari 250
mm.
Rasio dimensi penampang terpendek terhadap dimensi
yang tegak lurus padanya tidak boleh kurang dari 0,4
rasio tinggi antar kolom terhadap dimensi penampang
kolom yang terpendek tidak boleh lebih besar dari 26.
Rasio tulangan , tidak boleh kurang dari 0,01 dan tidak
boleh lebih dari 0,06 dan 0,08 pada daerah sambungan.
Sambungan lewatan hanya digunakan di luar daerah
ujung dan harus diproporsikan sebagai sambungan tarik.
Sambungan las dan sambungan mekanikal yang
memenuhi Pasal 3.6.14 butir 3 boleh digunakan untuk
menyambung tulangan pada sembarang tempat asal
pengaturan penyambungan batang tulangan longitudinal
pada satu penampang tidak lebih dari pengaturan
berselang dan jarak antar sambungan adalah 600 mm
atau lebih sepanjang sumbu longitudinal tulangan.

Pada seluruh tinggi kolom harus dipasang tulangan


transversal untuk untuk memikul beban geser.
Tulangan transversal boleh terdiri dari sengkang tertutup
tunggal atau majemuk atau menggunakan kait silang
tertutup dengan diameter dan spasi yang sama dengan
diameter atau spasi yang ditetapkan untuk sengkang
tertutup.
Tulangan transversal harus dipasang harus dipasang
dengan spasi tidak melebihi :
Setengah dimensi komponen struktur yang terkecil.

E-83
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Lebih kecil atau sama dengan sepuluh kali diameter


tulangan memanjang.
Lebih kecil atau sama dengan 200 mm.
Pada setiap joint dan pada kedua sisi setiap penampang
rangka harus dipasang tulangan transversal dengan
jumlah seperti yang ditentuka dalam butir 6 dan butir 7,
sepanjang lo dari muka yang ditinjau. Panjang lo tidak
boleh kurang dari tinggi komponen dimensi struktur
untuk, Nu,k < 0,30.Ag.fc
Satu setengah kali tinggi komponen dimensi struktur
untuk, Nu,k > 0,30.Ag.fc
Seperenam bentang bersih dari komponen struktur 600
mm.

Bila gaya tekan aksial terfaktor yang berhubungan


dengan pengaruh gempa yang bekerja pada komponen
struktur nilainya melampaui (Ag.fc/10), maka pada
seluruh tinggi kolom yang berada di bawah ketinggian
dimana terjadi penyelesaian komponen struktur kaku dan
yang memikiul reaksi dari komponen struktur kaku yang
terputus tadi, misalnya dinding, harus diberi tulangan
transversal menerus ke dalam dinding paling tidak
sedalam panjang penyaluran tulangan longitudinal kolom
yang tersebar pada titik pemutusan. Bila kolomnya
berakhir pada suatu pondasi telapak atau pondasi rakit
maka tulangan transversal yang memenuhi butir 6 dan
butir 7 harus menerus paling kuang 300 mm ke dalam
pondasi tersebut.

7) Perencanaan Pondasi Bangunan


Dalam perencanaan pondasi untuk suatu konstruksi dapat
digunakan beberapa macam tipe pondasi. Pemilihan tipe
pondasi ini didasarkan atas :
Fungsi bangunan atas yang akan dipikul oleh pondasi
tersebut;

E-84
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Besarnya beban dan beratnya bangunan atas;


Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan
didirikan;
Biaya dari pondasi yang dipilih.
Dari beberapa macam tipe pondasi yang dapat
dipergunakan salah satu diantarnya adalah pondasi tiang
pancang. Pemakaian tiang pancang dipergunakan untuk
suatu pondasi bangunan apabila tanah dasar di bawah
bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung
(bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat
bangunan dan bebannya, atau apabila tanah keras yang
mampu memikul berat bangunan letaknya sangat dalam.
Pondasi tiang pancang ini berfungsi untuk memindahkan
atau menyalurkan beban-beban dari konstruksi di atasnya
ke lapisan tanah yang lebih dalam.

Pemindahan beban tiang pancang dibagi 2 (dua), yakni :


Point Bearing Pile (End Bearing Pile)
Tiang ini meneruskan beban melalui tahanan ujung ke
lapisan tanah keras.
Friction Pile
Friction Pile pada tanah dengan butir-butir kasar
(coarse grained) dan mudah dilalui air (permeable
soil). Tiang ini meneruskan beban ke tanah melalui
geseran kulit (skin friction). Pada proses
pemancangan tiang dalam suatu grup dimana jarak
antar tiang berdekatan akan menyebabkan
berkurangnya pori-pori tanah dan memadatkan tanah
diantara tiang-tiang tersebut. Oleh karena itu disebut
Compaction Pile. Friction Pile pada tanah dengan
butiran yang sangat halus (very fine grained) dan sulit
dilalui air. Tiang ini mengandalkan skin friction, tetapi
pada saat pemancangan tiang dalam grup tidak
menyebabkan tanah sekitarnya menjadi padat.
Sehingga tiang ini disebut Floating Pile.

E-85
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Dengan penjelasan tersebut di atas, maka dapat dipilih


suatu alternatif pondasi yang sesuai dengan kondisi di
lapangan yang tentunya memenuhi kriteria dan sesuai
dengan soil test yang dilakukan pihak laboratorium di
lokasi tersebut.

4. PERSYARATAN UTILITAS BANGUNAN


Utilitas yang berada di dalam dan di luar bangunan gedung negara harus
memenuhi SNI yang dipersyaratkan. Spesifikasi teknis utilitas bangunan gedung
negara meliputi ketentuan ketentuan:

a. Air minum
1) Setiap pembangunan baru bangunan gedung negara harus dilengkapi
dengan prasarana air minum yang memenuhi standar kualitas, cukup
jumlahnya dan disediakan dari saluran air berlangganan kota (PDAM),
atau sumur, jumlah kebutuhan minimum 100 lt/orang/hari;
2) Setiap bangunan gedung negara, selain rumah negara (yang bukan
dalam bentuk rumah susun), harus menyediakan air minum untuk
keperluan pemadaman kebakaran dengan mengikuti ketentuan SNI
yang dipersyaratkan, reservoir minimum menyediakan air untuk
kebutuhan 45 menit operasi pemadaman api sesuai dengan kebutuhan
dan perhitungan;
3) Bahan pipa yang digunakan dan pemasangannya harus mengikuti
ketentuan teknis yang ditetapkan.

b. Pembuangan air kotor


1) Pada dasarnya pembuangan air kotor yang berasal dari dapur, kamar
mandi, dan tempat cuci, harus dibuang atau dialirkan ke saluran umum
kota;
2) Semua air kotor yang berasal dari dapur, kamar mandi, dan tempat cuci,
pembuangannya harus melalui pipa tertutup dan/atau terbuka sesuai
dengan persyaratan yang berlaku;
3) Dalam hal ketentuan dalam butir 1) tersebut tidak mungkin
dilaksanakan, karena belum terjangkau oleh saluran umum kota atau
sebab-sebab lain yang dapat diterima oleh instansi teknis yang

E-86
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

berwenang, maka pembuangan air kotor harus dilakukan melalui proses


pengolahan dan/atau peresapan;
4) Air kotor dari kakus harus dimasukkan ke dalam septictank yang
mengikuti standar yang berlaku.

c. Pembuangan limbah
1) Setiap bangunan gedung negara yang dalam pemanfaatannya
mengeluarkan limbah domestik cair atau padat harus dilengkapi dengan
tempat penampungan dan pengolahan limbah, sesuai dengan
ketentuan;
2) Tempat penampungan dan pengolahan limbah dibuat dari bahan kedap
air, dan memenuhi persyaratan teknis yang berlaku sehingga tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan;
3) Ketentuan lebih lanjut mengikuti SNI yang dipersyaratkan.

d. Pembuangan sampah
1) Setiap bangunan gedung negara harus menyediakan tempat sampah
dan penampungan sampah sementara yang besarnya disesuaikan
dengan volume sampah yang dikeluarkan setiap harinya, sesuai dengan
ketentuan, produk sampah minimum 3,0 lt/orang/hari;
2) Tempat penampungan sampah sementara harus dibuat dari bahan
kedap air, mempunyai tutup, dan dapat dijangkau secara mudah oleh
petugas pembuangan sampah dari Dinas Kebersihan setempat;
3) Gedung negara dengan fungsi tertentu (seperti: kampus, gedung
percetakan uang negara) harus dilengkapi incenerator sampah sendiri;
4) Ketentuan lebih lanjut mengikuti SNI yang dipersyaratkan.

e. Saluran air hujan


1) Pada dasarnya air hujan harus ditahan lebih lama di dalam tanah
sebelum dialirkan ke saluran umum kota, untuk keperluan penyediaan
dan pelestarian air tanah;
2) Air hujan dapat dialirkan ke sumur resapan melalui proses peresapan
atau cara lain dengan persetujuan instansi teknis yang terkait;

E-87
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

3) Ketentuan lebih lanjut mengikuti SNI yang dipersyaratkan.

f. Sarana pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran


Setiap bangunan gedung negara harus mempunyai fasilitas pencegahan dan
penanggulangan terhadap bahaya kebakaran, sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan dalam:
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Ketentuan Teknis
Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan dan
Lingkungan; dan
2) Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Daerah
tentang Penanggulangan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran; beserta
standar-standar teknis yang terkait.

g. Instalasi listrik
1) Pemasangan instalasi listrik harus aman dan atas dasar hasil
perhitungan yang sesuai dengan Peraturan Umum Instalasi Listrik;
2) Setiap bangunan gedung negara yang dipergunakan untuk kepentingan
umum, bangunan khusus, dan gedung kantor tingkat
Kementerian/Lembaga, harus memiliki pembangkit listrik darurat
sebagai cadangan, yang catudayanya dapat memenuhi kesinambungan
pelayanan, berupa genset darurat dengan minimum 40 % daya
terpasang;
3) Penggunaan pembangkit tenaga listrik darurat harus memenuhi syarat
keamanan terhadap gangguan dan tidak boleh menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan, knalpot diberi sillencer dan dinding rumah
genset diberi peredam bunyi.

h. Penerangan dan pencahayaan


1) Setiap bangunan gedung negara harus mempunyai pencahayaan alami
dan pencahayaan buatan yang cukup sesuai dengan fungsi ruang dalam
bangunan tersebut, sehingga kesehatan dan kenyamanan pengguna
bangunan dapat terjamin;
2) Ketentuan teknis dan besaran dari pencahayaan alami dan pencahayaan
buatan mengikuti standar dan pedoman teknis yang berlaku.

E-88
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

i. Penghawaan dan pengkondisian udara


1) Setiap bangunan gedung negara harus mempunyai sistem
penghawaan/ventilasi alami dan buatan yang cukup untuk menjamin
sirkulasi udara yang segar di dalam ruang dan bangunan;
2) Dalam hal tidak dimungkinkan menggunakan sistem penghawaan atau
ventilasi alami, dapat menggunakan sistem penghawaan buatan
dan/atau pengkondisian udara dengan mempertimbangkan prinsip-
prinsip konservasi energi;
3) Pemilihan jenis alat pengkondisian udara harus sesuai dengan fungsi
bangunan, dan perletakan instalasinya tidak mengganggu wujud
bangunan;
4) Ketentuan teknis sistem penghawaan/ventilasi alami dan buatan serta
pengkondisian udara yang lebih rinci harus mengikuti standar dan
pedoman teknis yang berlaku.

j. Sarana transportasi dalam bangunan gedung


1) Setiap bangunan gedung negara bertingkat harus dilengkapi dengan
sarana transportasi vertikal yang aman, nyaman, berupa tangga, ramp,
eskalator, dan/atau elevator (lif);
2) Penempatan, jumlah tangga dan ramp harus memperhatikan fungsi dan
luasan bangunan gedung, konstruksinya harus kuat/kokoh, dan sudut
kemiringannya tidak boleh melebihi 35, khusus untuk ramp aksesibilitas
kemiringannya tidak boleh melebihi 7;
3) Penggunaan eskalator dapat dipertimbangkan untuk pemenuhan
kebutuhan khusus dengan memperhatikan keselamatan pengguna dan
keamanan konstruksinya;
4) Penggunaan lif harus diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan,
jumlah pengguna, waktu tunggu, dan jumlah lantai bangunan;
5) Pemilihan jenis lif harus mempertimbangkan kemudahan bagi
penyandang cacat, lanjut usia dan kebutuhan khusus;
6) Salah satu ruang lif harus menggunakan selubung lif dengan dinding
tahan api yang dapat digunakan sebagai lif kebakaran;
7) Ketentuan teknis tangga, ramp, eskalator dan elevator (lif) yang lebih
rinci harus mengikuti standar dan pedoman teknis.

E-89
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

k. Sarana komunikasi
1) Pada prinsipnya, setiap bangunan gedung negara harus dilengkapi
dengan sarana komunikasi intern dan ekstern;
2) Penentuan jenis dan jumlah sarana komunikasi harus berdasarkan pada
fungsi bangunan dan kewajaran kebutuhan;
3) Ketentuan lebih rinci harus mengikuti standar dan pedoman teknis.

l. Sistem Penangkal/proteksi petir


1) Penentuan jenis dan jumlah sarana sistem penangkal/proteksi petir
untuk bangunan gedung negara harus berdasarkan perhitungan yang
mengacu pada lokasi bangunan, fungsi dan kewajaran kebutuhan;
2) Ketentuan teknis sistem penangkal/proteksi petir yang lebih rinci harus
mengikuti standar dan pedoman teknis.

m. Instalasi gas
1) Instalasi gas yang dimaksud meliputi:
a. instalasi gas pembakaran seperti gas kota dan gas elpiji;
b. instalasi gas medis, seperti gas oksigen (O2), gas dinitro oksida
(N2O), gas carbon dioksida (CO2) dan udara tekan medis.
2) Ketentuan teknis instalasi gas yang lebih rinci harus mengikuti standar
dan pedoman teknis.

n. Kebisingan dan getaran


1) Bangunan gedung negara harus memperhitungkan batas tingkat
kebisingan dan atau getaran sesuai dengan fungsinya, dengan
mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan sesuai diatur dalam
standar teknis yang dipersyaratkan;
2) Untuk bangunan gedung negara yang karena fungsinya mensyaratkan
baku tingkat kebisingan dan/atau getaran tertentu, agar mengacu pada
hasil analisis mengenai dampak lingkungan yang telah dilakukan atau
ditetapkan oleh ahli.

E-90
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

o. Aksesibilitas dan fasilitas bagi penyandang cacat dan yang


berkebutuhan khusus
1) Bangunan gedung negara yang berfungsi untuk pelayanan umum harus
dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan kemudahan bagi
penyandang cacat dan yang berkebutuhan khusus antara lain lansia, ibu
hamil dan menyusui, seperti rambu dan marka, parkir, ram, tangga, lif,
kamar mandi dan peturasan, wastafel, jalur pemandu, telepon, dan
ruang ibu dan anak;
2) Ketentuan lebih lanjut mengenai aksesibilitas bagi penyandang cacat
dan yang berkebutuhan khusus mengikuti ketentuan dalam Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman
Teknis Aksesibilitas dan Fasilitas pada Bangunan Gedung dan
Lingkungan.

5. PERSYARATAN SARANA PENYELAMATAN


Setiap bangunan gedung negara harus dilengkapi dengan sarana penyelamatan
dari bencana atau keadaan darurat, serta harus memenuhi persyaratan standar
sarana penyelamatan bangunan sesuai SNI yang dipersyaratkan. Spesifikasi
teknis sarana penyelamatan bangunan gedung negara meliputi ketentuan-
ketentuan:

a. Tangga Darurat
1) Setiap bangunan gedung negara yang bertingkat lebih dari 3 lantai, harus
mempunyai tangga darurat/penyelamatan minimal 2 buah dengan jarak
maksimum 45 m (bila menggunakan sprinkler jarak bisa 1,5 kali);
2) Tangga darurat/penyelamatan harus dilengkapi dengan pintu tahan api,
minimum 2 jam, dengan arah pembukaan ke tangga dan dapat menutup
secara otomatis dan dilengkapi fan untuk memberi tekanan positif. Pintu
harus dilengkapi dengan lampu dan petunjuk KELUAR atau EXIT yang
menyala saat listrik/PLN mati. Lampu exit dipasok dari bateri UPS terpusat;
3) Tangga darurat/penyelamatan yang terletak di dalam bangunan harus
dipisahkan dari ruang-ruang lain dengan pintu tahan api dan bebas asap,
pencapaian mudah, serta jarak pencapaian maksimum 45 m dan min 9 m;
4) Lebar tangga darurat/penyelamatan minimum adalah 1,20 m;

E-91
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

5) Tangga darurat/penyelamatan tidak boleh berben-tuk tangga melingkar


vertikal, exit pada lantai dasar langsung kearah luar;
6) Ketentuan lebih lanjut tentang tangga darurat /penyelamatan mengikuti
ketentuan-ketentuan yang diatur dalam standar teknis.

b. Pintu darurat
1) Setiap bangunan gedung negara yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus
dilengkapi dengan pintu darurat minimal 2 buah;
2) Lebar pintu darurat minimum 100 cm, membuka ke arah tangga
penyelamatan, kecuali pada lantai dasar membuka kearah luar (halaman);
3) Jarak pintu darurat maksimum dalam radius/jarak capai 25 meter dari
setiap titik posisi orang dalam satu blok bangunan gedung;
4) Ketentuan lebih lanjut tentang pintu darurat mengikuti ketentuan-
ketentuan yang diatur dalam standar yang dipersyaratkan.

c. Pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah EXIT


1) Setiap bangunan gedung negara untuk pelayanan dan kepentingan umum
seperti: kantor, pasar, rumah sakit, rumah negara bertingkat (rumah
susun), asrama, sekolah, dan tempat ibadah harus dilengkapi dengan
pencahayaan darurat dan tanda penunjuk arah KELUAR/EXIT yang
menyala saat keadaan darurat;
2) Tanda KELUAR/EXIT atau panah penunjuk arah harus ditempatkan pada
persimpangan koridor, jalan ke luar menuju ruang tangga darurat, balkon
atau teras, dan pintu menuju tangga darurat;
3) Ketentuan lebih lanjut tentang pencahayaan darurat dan tanda penunjuk
arah KELUAR/EXIT yang lebih rinci harus mengikuti standar dan pedoman
teknis.

d. Koridor/selasar
1) Lebar koridor bersih minimum 1,80 m;
2) Jarak setiap titik dalam koridor ke pintu darurat atau arah keluar yang
terdekat tidak boleh lebih dari 25 m;
3) Koridor harus dilengkapi dengan tanda-tanda penunjuk yang menunjukkan
arah ke pintu darurat atau arah keluar;

E-92
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

4) Panjang gang buntu maximum 15 m apabila dilengkapi dengan sprinkler


dan 9 m tanpa sprinkler.

e. Sistem Peringatan Bahaya


1) Setiap bangunan gedung negara untuk pelayanan dan kepentingan umum
seperti: kantor, pasar, rumah sakit, rumah negara bertingkat (rumah
susun), asrama, sekolah, dan tempat ibadah harus dilengkapi dengan
sistem komunikasi internal dan sistem peringatan bahaya;
2) Sistem peringatan bahaya dan komunikasi internal tersebut mengacu pada
ketentuan SNI yang dipersyaratkan.

f. Fasilitas Penyelamatan
Setiap lantai bangunan gedung negara harus diberi fasilitas penyelamatan
berupa meja yang cukup kuat, sarana evakuasi yang memadai sebagai fasilitas
perlindungan saat terjadi bencana mengacu pada ketentuan SNI yang
dipersyaratkan.

g. Standar-standar yang Digunakan :


Standar Plumbing Indonesia (SPI);
Standar Industri Indonesia (SII);
American Waste Water Society (AWWS);
British Standard (BS).

1) Dasar-Dasar Perencanaan
Jaringan drainase ini berupa saluran-saluran pembuangan sebagai berikut :
Padang rumput/ taman 0,05-0,10
Pedesaan 0,10-0,25
Permukiman 0,25-0,50
Daerah sedang 0,50-0,70
Daerah padat 0,70-0,90
Jalan aspal 0,25-0,60
Atap 0,70-0,95

E-93
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

2) Perhitungan Dimensi Saluran


Selanjutnya dimensi saluran dihitung berdasarkan hubungan sebagai berikut
:
A R 23 S 1
Q AV Q 2
b nh
n

Dimana :
A = luas basah saluran, m2
V = kecepatan aliran, m/detik
R = jari-jari hidrolis, m
S = kemiringan saluran, %
n = koefisien manning
b = lebar saluran, m
h = tinggi saluran, m

Sebelum dialirkan ke saluran-saluran, sebaiknya dibuatkan sumur-sumur


resapan sehingga air hujan dapat meresap terlebih dahulu ke dalam tanah,
baru limpasannya disalurkan.

3) Skesta Sistem
Sketsa sistem drainase seperti disajikan pada gambar berikut ini.
Sketsa Sistem Drainase

E-94
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

4) Jaringan Air Bersih


a) Standar-standar yang digunakan :
Standar Plumbing Indonesia (SPI);
Standar Industri Indonesia (SII);
American Water Association (AWA);
American Society for Testing Material (ASTM);
British Standard (BS);
Japan Industrial Standard (JIS).

b) Dasar-dasar perencanaan
Jaringan air bersih ini berupa jaringan pipa-pipa, dimana biasa
digunakan Galvanized Iron Pipe (GIP) atau Polivynil Chloride Pipe (PVC)
untuk menyalurkan air bersih dari sumbernya ke tempat-tempat yang
membutuhkan. Kebutuhan air bersih ini bervariasi, dan untuk kebutuhan
per orang perhari dari berbagai jenis hunian/ bangunan adalah sebagai
berikut :
Flat/ rumah tinggal 200 liter/ orang/ hari
Sekolah 75 liter/ orang/ hari
Industri 150 liter/ orang/ hari
Instansi/kantor 100 liter/ orang/ hari
Rumah sakit 300 liter/ orang/ hari (rata-rata
pasien dan karyawan rumah sakit)
Hotel 1500 liter/ orang/ hari
Dimensi pipa dihitung berdasarkan hubungan sebagai
berikut :
Q V A

Dimana Q = Debit aliran, m3/detik


A = Luas penampang pipa, m2
V = Kecepatan aliran, antara 1-3 m/detik

Hambatan akibat gesekan sepanjang pipa dihitung sebagai


berikut :

L V2
hf f
D 2g
Dimana hf = kerugian gesekan, m

E-95
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

f = faktor gesekan pipa


L = panjang pipa, m
D = diameter pipa, m
g = gravitasi, 9,81 m/detik2

Hambatan akibat katub dan fitting dihitung sebagai berikut


:

V2
hf K
2g
Dimana K = koefisien hambatan katub/ fitting
Jika sistem pemompaan digunakan, daya pompa dihitung
sebagai berikut :
Q H
P

Dimana P = daya pompa, Watt
= berat jenis air, 9810 N/m3

Q = debit aliran, m3/detik


H = head total, m

Sketsa Sistem Air Bersih


Sketsa sistem air bersih seperti disajikan pada gambar berikut.

E-96
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Sketsa Sistem Air Bersih

E-97
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

5) Jaringan air panas


a) Standar-standar yang digunakan
Standar Plumbing Indonesia (SPI)
Standar Industri Indonesia (SII)
American Water Association (AWA)
American Society for Testing Material (ASTM)
British Standard (BS)
Japan Industrial Standard (JIS)

b) Dasar-dasar perencanaan
Standar kebutuhan air panas untuk berbagai peralatan adalah sebagai
berikut : (liter/menit)

Wastafel Shower Sink


Flat/ rumah tinggal 0,3 5 1,35
Industri/ pabrik 0,8 15 1,35
Kantor 0,4 5 1,0
Rumah sakit 0,4 5 1,35
Hotel 0,5 5 2

c) Standar tersebut di atas dihitung berdasarkan hubungan


sebagai berikut :
t c Vc t h Vh
tm
Vc Vh
Dimana :
tm = temperatur campuran air, 0C
tc = temperatur air dingin, 0C
th = temperatur air panas, 0C
Vc = volume air dingin, liter
Vh = volume air panas, liter

Sedangkan dimensi dan hambatan gesekan pipa dihitung


dengan menggunakan persamaan-persamaan seperti pada
air bersih.

E-98
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

d) Jaringan air kotor/ air bekas/ air limbah


Dengan meningkatnya pembangunan, akan meningkat pula kapasitas
air limbah/ air kotor yang dihasilkan dengan perkiraan 80% dari
kebutuhan air bersih. Langkah-langkah yang direncanakan sampai
dengan akhir pembangunan adalah sebagai berikut :
Limbah cair sebagai salah satu produk limbah yang dihasilkan dari
kegiatan rumah sakit termasuk kategori limbah cair yang berbahaya,
beracun dan infeksius. Berkaitan dengan isu infeksi silang atau yang
lebih dikenal dengan infeksi nosokomial di lingkungan rumah sakit, maka
perlu dipertimbangkan suatu upaya pengelolaan tertentu dalam
mengatasi persoalan limbahnya. Salah satu cara adalah dengan
melakukan pengolahan (minimisasi) terhadap kandungan parameter
limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan sampai pada batas
yang disyaratkan oleh pemerintah.
Dalam SK Dirjen PPM & PLP No. 00.06.6.44 tentang Petunjuk Teknis
Tatacara Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit dijelaskan antara lain
sebagai berikut :
Kualitas limbah (efluen) rumah sakit yang akan dibuang ke
lingkungan harus memenuhi persyaratan Baku Mutu Efluen sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
Rumah sakit harus memiliki Unit Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) sendiri atau bersama-sama secara kolektif dengan bangunan
sekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis, apabila belum ada
atau tidak terjangkau sistem pengolahan limbah kota.
Konsep perancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) rumah
sakit didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan dan tujuan-tujuan
sebagai berikut :
Penyelesaian terhadap permasalahan limbah cair rumah sakit
diselesaikan dengan memperhatikan parameter isu utama limbah
cair di rumah sakit;
Mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia yang
bertindak sebagai pengelola limbah rumah sakit. Dengan demikian
IPAL akan dirancang untuk memberikan kemudahan bagi tenaga
pelaksananya (pihak IPSRS/ ISRS);

E-99
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Hasil olahan/ efluent dapat memenuhi persyaratan Baku Mutu


Lingkungan setempat/ daerah terutama sesuai untuk kualitas badan
air penerimanya.

Limbah cair rumah sakit adalah seluruh limbah cair (air buangan sisa
aktivitas dan tinja) yang berasal dari rumah sakit, kemungkinan besar
mengandung mikroorganisma patogen, bahan kimia beracun dan sisa
radioaktif.

Limbah cair rumah sakit pada dasarnya bersumber dari seluruh aktivitas
rumah sakit, terutama berasal dari :
Unit-unit perawatan (rawat inap dan rawat jalan serta gawat
darurat);
Instalasi penunjang medis antara lain kamar operasi, laboratorium,
instalasi radioterapi, dan kedokteran nuklir (jika ada);
Instalasi penunjang non medis antara lain laundry dan dapur.

Berdasarkan perbandingan kesamaan kualitas limbah cair dari berbagai


rumah sakit di Indonesia, dapat ditarik kesimpulan bahwa parameter
kualitas limbah cair terutama berupa : BOD, COD, NH3 bebas, NO2,
Lemak, SS dan pH.

Jenis limbah cair rumah sakit yang perlu mendapatkan perhatian khusus
adalah yang bersifat infeksius dan mengandung B3, misalnya yang
berasal dari instalasi bedah, unit perawatan penyakit menular,
laboratorium dan gawat darurat.

1) Standar-standar yang digunakan


Standar Plumbing Indonesia (SPI);
Standar Industri Indonesia (SII);
American Waste Water Association (AWWA);
American Society for Testing Material (ASTM);
British Standard (BS);
Japan Industrial Standard (JIS);
Peraturan/ perundang-undangan Lingkungan Hidup.

E-100
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

2) Dasar-dasar perencanaan
Definisi Air Kotor : Air limpasan septic tank yang berasal dari
buangan WC/ kamar mandi.
Definisi Air Bekas : Air buangan dari washtafel, tempat wudlu
atau tempat-tempat lain selain kamar mandi.
Definisi Air Limbah : Air buangan selain air kotor dan air bekas,
dimana pada rumah sakit dapat berupa
limbah cair infeksius (limbah klinis).

Pada dasarnya air kotor dan air bekas dapat disalurkan langsung ke
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

3) Sistem Limbah Padat


Standar-standar yang digunakan
Peraturan perundang-undangan lingkungan hidup;
Standar Industri Indonesia (SII).
Dasar-dasar perencanaan
Penanganan limbah padat pada rumah sakit dilakukan dengan
cara sebagai berikut :
Pemisahan limbah infeksius/ klinis dari limbah padat lainnya;
Penerapan Program Minimalisasi Limbah Rumah Sakit.

4) Sistem Gas Medis


Standar-standar yang digunakan
Standar Plumbing Indonesia (SPI);
Standar Industri Indonesia (SII);
American Society for Testing Material (ASTM);
National Fire Protection Association (NFPA).
Dasar-dasar perencanaan
Berbagai jenis gas medis yang diperlukan di rumah sakit antara
lain sebagai berikut :
Oksigen atau O2;
Nitrogen atau N2O;
Vacum air (udara vakum);
Compressed air (udara bertekanan).

E-101
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Jaringan perpipaan gas medis menggunakan pipa tempaga


(copper), dengan tekanan medium (maksimum 8 atmosfer).
Sistem gas medis dapat berupa sistem terpusat (central) dengan
jaringan perpipaan ataupun dengan sistem portabel setempat.

Sketsa sistem gas medis


Gambar berikut ini menyajikan sistem terpusat gas medis
dan sistem oksigen cair yang akhir-akhir ini sangat
populer digunakan karena sangat efisien penggunaannya.
Jika sistem ini cukup mahal, dapat diganti dengan sistem
terpusat menggunakan botol-botol portable.

Sistem Gas Medis

E-102
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Gambar : 8.19
SISTEM GAS MEDIS
LEGENDA :
N2O
1 EMERGENCY OXYGEN MANIFOLD 5 AIR COMPRESSOR SYSTEM 9 WALL MOUNTED OUTLETS
2 AIR MANIFOLD 6 EXHAUST PIPE 10 CELING MOUNTED OUTLETS A
3 NITROGEN MANIFOLD 7 POWER SUPPLY PANEL 11 EMERGENCY ALARM V
4 VACUUM PUMP SYSTEM 8 SHUT - OFF VALVE
02

HARD ICU
ROOM ROOM 9
NURSE ROOM 9

11
8

A
V
6 10 10 N2
N 2O
9 O2 9
O.T O.T
ROOM ROOM
8

7
O2
N2O
2 3 N2
1 7
5
4
PLANT ROOM
MANIFOLD
ROOM

Lihat Detil Gambar

5) Sistem Pengkondisian Udara (AC) dan Ventilasi


a) Standar-standar yang digunakan
ASTM (American Society for Testing and Material) dan ASME
(American Society of Mechanical Engineers) untuk material;
ARI (Air Conditioning and Refrigerating Institute) untuk
peralatan Air Conditioning;
SMACNA (Sheet Metal and Air Conditioning Contractors
National Association, Inc.) untuk pekerjaan saluran udara;

E-103
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

ASHRAE (American Society of Heating; Refregerating and Air


Conditioning Engineers).

b) Dasar-dasar perencanaan
Peralatan AC dan ventilasi termasuk jaringan instalasinya yang
besar peranannya dalam pelayanan kesehatan secara umum
terdiri dari :
AC dengan penyaringan udara efisiensi tinggi (Hepa Filter)
untuk ruang operasi dan dilengkapi dengan ventilasi untuk
kebutuhan full fresh air;
AC dengan Split System;
Ventilasi mekanis (exhaust fan) untuk ruangan-ruangan,
dapur, gudang obat dan sebagainya;
Ventilasi mekanis untuk toilet (exhaust fan).

Adapun syarat-syarat perencanaan yang harus dipenuhi adalah


sebagai berikut :
AC ruangan disesuaikan dengan penggunaan ruangan
bervariasi diantara 180C-240C;
Kuantitas ventilasi udara sebesar 15-30 cfm per orang;
Kelembaban relatif (RH) antara 50-55%.

c) Sistem dan peralatan AC


Sistem dan peralatan AC tersebut antara lain adalah air handling
unit/ fan coil unit :
Untuk Ruang Biasa
Sistem ini terdiri dari condenser dan fan coil. Udara dingin
dihembuskan dari fan coil melalui saluran udara (ducting)
yang sudah diisolasi dengan melalui diffuser atau linear grill;
Untuk Ruang Operasi adalah seperti sistem di atas dengan
tambahan tiga macam filter, yaitu :
Pre Filter : dipakai untuk menyaring udara sebelum
masuk ke dalam unit mesin;
Secondary filter : ditempatkan di mulut fan coil dengan
kerapatan saringan 70%;

E-104
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

HEPA filter : ditempatkan di atas plafond (ceiling) ruang


operasi, dengan perletakkan harus sedekat mungkin
dengan grill supply, kerapatan saringan 99.99%.

d) Sistem ventilasi udara mekanis


Area yang tidak dikoordinasikan dengan AC dilengkapi dengan
ventilasi mekanis yang memasukkan dan mengeluarkan udara,
diantaranya untuk :
Dapur, gudang obat;
Ruang mekanikal dan elektrikal;
Ruang genset;
Toilet.

Peralatan yang dipakai dalam sistem ini adalah inlet fan dan
exhaust fan pada area yang mementingkan kebersihan
diperlukan tekanan udara yang positif, sedangkan pada daerah
kotor dimana terdapat bakteri yang dapat berkembang biak atau
mencemari diperlukan tekanan udara yang negatif.

e) Prioritas
Mengingat besarnya biaya operasi dan pemeliharaan dari
penggunaan AC, tidak semua ruang dapat dilengkapi dengan
sarana ini. Beberapa ruang yang mendapat prioritas untuk
dilengkapi AC diantaranya adalah :
Ruang Radiologi;
Ruang Laboratorium;
Ruang Forensik;
Ruang Radio Diagnostik;
Ruang Radio Theraphy;
Ruang Radio Nuklir;
Ruang-ruang klinik;
Koridor;
Lobby, front office dan lain-lain.

E-105
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

6) Sistem Kelistrikan
a) Standar-standar yang digunakan
PUIL 1987 - Indonesia Standard
JIS - Japanese Standard
VDE/DIN - German Standard
NEMA - U S A Standard
BS - British Standard
NFC - French Standard
NCFA - National Code Fire Alarm Standard
NEC - National Electric Codes
NFPA - National Fire Protection Association

b) Dasar-dasar perencanaan
Kriteria penting yang harus dipenuhi didalam perencanaan sistem
kelistrikan rumah sakit diantaranya adalah kualitas dan kontinuitas
dalam penyediaan daya listriknya. Selain itu sistem kelistrikan
tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria
sebagai berikut :
Kendala Sistem
Tata cara pengoperasian pelayanan kesehatan di rumah sakit
menghendaki keandalan yang tinggi dalam penyediaan daya
listrik, aman dari kegagalan dan sesedikit mungkin gangguan
terhadap sistem secara keseluruhan.

Kemudahan dalam Operasional dan Pemeliharaan


Sistem kelistrikan harus direncanakan sesederhana mungkin
untuk memudahkan dalam operasi dan pemeliharaan.

Pengaturan Tegangan
Mengingat banyaknya peralatan medis dengan batas toleransi
tegangan tertentu, maka tegangan sumber listrik harus dapat
dipertahankan pada berbagai macam beban.

E-106
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Pemeliharaan
Sistem distribusi kelistrikan harus direncanakan dengan
berbagai kemudahan bagi pemeriksaan dan perbaikan jika
terjadi gangguan atau kerusakan.

Fleksibilitas
Sistem kelistrikan harus direncanakan dengan cukup fleksibel,
yang berarti tanggap terhadap kemungkinan terjadinya
penambahan dan perluasan bangunan serta peralatan. Harus
diperhatikan perubahan tegangan listrik, rating peralatan,
penambahan ruang peralatan baru bahkan kemungkinan
penambahan beban kelistrikan.

Biaya Investasi dan Operasional


Sistem kelistrikan harus direncanakan dengan menekan
serendah mungkin biaya investasi dan biaya
pengoperasiannya.

c) Sumber daya listrik


Klasifikasi Beban Listrik
Perencanaan sistem kelistrikan harus diawali dengan
memperhatikan besaran dan sifat-sifat beban yang dilayani,
termasuk kemungkinan pertumbuhan beban akibat perluasan
bangunan serta jenis peralatan yang ada.

7) Sistem Penunjang
Sistem Komputer
Sistem komputer berupa Local Area Network diperlukan guna
menunjang seluruh kegiatan informasi dan data rumah sakit. Sistem
ini berupa jaringan komputer personal (PC) sebagai user dengan satu
server sebagai bank data diharapkan dapat meningkatkan unjuk kerja
rumah sakit secara keseluruhan.

E-107
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

METODOLOGI KERJA
Metode Pelaksanaan
a. Rencana Kerja dan Metode Pelaksanaan Detail Engineering Design
Pada prinsipnya untuk menghemat waktu antara tahap-tahap kegiatan pelaksanaan
pekerjaan perencanaan bisa dilaksanakan secara simultan artinya kegiatan satu dengan
lainnya waktu pelaksanaan bisa saling overlapping. Namun begitu, hirarki tahap-tahap
pelaksanaan pekerjaan perencanaan tetap harus ditaati, ada tahap perencanaan yang
belum bisa dilaksanakan sebelum tahap sebelumnya dianggap fix sehingga nantinya
akan dihasilkan hasil perencanaan yang betul-betul sinkron antara perencanaan
arsitektur, struktur, ME dan lain-lainnya. Diagram metode pelaksanaan pekerjaan Detail
Engineering Design pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah dapat dilihat pada
gambar berikut.

E-108
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS
Diagram Metode Pelaksanaan
LEGALI TAHAP
TAHAP TAHAP PENYELE
MASTER TAHAP PRA- TAHAP PENYUSUNAN PENG SASI
SAIAN
PENGEMBANGA N E/R E/R E/R GANDA DOKU
PLAN RENCANA DETAIL DOKUMEN DOKU
RENCANA AN MEN MEN
LELANG LELANG LELANG

Program Gambar
Arsitektur &
Lansdscape Ruang Rencana
Sirkulasi Arsitektur Gambar
Bentuk Kerja
Zoning
Bahan
Gambar 3D
Lay out
Maket
Struktur

DOKUMEN LELANG

DOKUMEN LELANG

DOKUMEN LELANG
dll
Hasil Kajian Master Plan

EVALUASI / REVISI

EVALUASI / REVISI

EVALUASI / REVISI
Gambar
Kons. Beton Interior,
RKS
Mekanikal Kons. Atap Landscape
Elektrikal Kons.
Penahan
Tanah Gambar
Rencana
Struktur BoQ
Sanitasi /
Drainase Jaringan
Sanitasi Gambar
dan Rencana
Alat Drainase Elektrikal
Medis Mechanical &
dll Mekanikal
RAB
Sanitasi/
Furniture Drainase

Konsultasi Konsultasi FINAL


Konsultasi PENG
Pemberi Tugas & Pemberi Pemberi LEGA PEREN
GAN CANA
PTP Tugas & Tugas &
DAAN LISASI
PTP PTP AN

FEED BACK

E-109
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Secara teknis langkah-langkah yang dilakukan di dalam melaksanakan pekerjaan


pembangunan gedung Rumah sakit Umum Daerah adalah sebagai berikut :
1. Pekerjaan Persiapan
a. Tujuan
Sebagai langkah awal untuk mendapatkan data-data dan informasi lapangan,
membuat interpretasi secara garis besar terhadap KAK, menyusun program kerja
perencanaan, konsep perencanaan, sketsa gagasan dan konsultasi dengan
instansi terkait mengenai peraturan dan perijinan bangunan dan pengumpulan
data/ survei.
b. Metode Kerja
Kegiatan ini dilakukan dengan cara mencari informasi yang dibutuhkan yang
berkaitan dengan lokasi, luas, batas, prasarana-sarana yang ada, dengan antara
lain :
Melakukan konsultasi baik dengan User, Tim Teknis maupun dengan
Pemerintah Daerah setempat;
Melakukan penyelidikan tanah (soil investigation) dengan sondir dan boring
serta pengukuran langsung di lokasi perencanaan;
Menyusun program kerja perencanaan, konsep perencanaan, sketsa
gagasan, dan lain-lain.
Adapun data-data yang akan dikumpulkan meliputi :
a. Data Lahan :
1) Luasan;
2) Batas-batas;
3) Situasi dan kondisi site untuk rencana penempatan massa bangunan,
trances dan kontur tanah yang mencakup pekerjaan :
Pengukuran poligon utama;
Pengukuran poligon cabang;
Pengukuran sipat datar;
Pengukuran situasi detail.
4) Struktur tanah dengan melakukan sondir dan boring;
5) Kwalitas tanah, yang akan dipakai sebagai dasar dalam penggunaan
sistem pondasi pada sistem yang direncanakan, dengan melakukan uji
laboratorium / uji kwalitas tanah.
b. Data Penggunaan Bangunan :
Struktur organisasi;

E-110
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Jumlah personil;
Kegiatan utama, penunjang dan pelengkap;
Macam perlengkapan dan peralatan.

c. Data Kebutuhan Bangunan :


Organisasi dan persyaratan-persyaratan kebutuhan ruang, meliputi
Rumah sakit Umum Daerah dan user terkait lainnya maupun struktur
organisasi;
Letak dan elevasi bangunan sesuai kontur dan bangunan yang ada.

d. Data Kebutuhan Utilitas Bangunan


Pada tahap ini direncanakan separo dari keseluruhan rencana pembangunan
gedung rawat inap dan parkir Rumah sakit Umum Daerah harus selesai dan
bisa dioperasionalkan, untuk itu kelengkapan utilitas bangunan gedung
tersebut harus direncanakan sesuai kebutuhan utilitas yang memadai seperti
:
Instalasi dalam gedung, yaitu listrik (penerangan, daya), air (bersih,
limbah), penangkal petir dan instalasi gas medis;
Instalasi AC (diperhatikan penyiapan letak, dudukan, jaringan-
jaringan) dan penghawaan;
Instalasi air hujan;
Instalasi sistem penangkal bahaya kebakaran (hydrant system, fire
extinguisher, fire alarm);
Penempatan dinding, partisi, pintu, jendela, lantai dan plafon termasuk
bentuk arsitekturalnya;
Instalasi telepon dalam gedung termasuk nurse call;
Penyambungan instalasi dengan jaringan di luar gedung (air bersih,
listrik, telepon, hydrant);
Instalasi gas medis;
Lift dan elevator;
Dan lain-lain.
Disamping itu tenaga Arsitek mengadakan recheck dan evaluasi terhadap
dokumen Master Plan yang sudah ada untuk menjaga kemungkinan adanya
perubahan permintaan dari pihak pemakai.

E-111
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Berdasarkan pada sifat informasi dan data yang dibutuhkan tersebut, maka
metode yang digunakan adalah metode observasi, pengukuran di lapangan,
wawancara/ interview dengan pihak-pihak pengguna gedung, studi literatur
terhadap hasil studi yang sudah ada.

E-112
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

PROGRAM KERJA
Secara teknis, Perencanaan Pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah Kayen Tahap
II Kabupaten Pati sistematis penyusunannya merujuk pada Metodologi yang tercantum didepan.
Disamping itu program operasional penanganan pekerjaan Perencanaan dan Perancangan
harus sesuai dengan yang tercantum dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan secara singkat
dapat diuraikan dan dijelaskan melalui tahapan-tahapan dalam diagram sebagai berikut :
1. PROGRAM OPERASIONAL PENANGANAN PEKERJAAN
a. Program Kerja Dalam Perusahaan (Internal)
- Kegiatan mempelajari Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Penyiapan dan pembuatan kontrak perusahaan dengan pihak pemberi tugas,
pembuatan rencana waktu (time scedule) dan uraian detail perencanaan dan
penyusunan program perencanaan.
- Melakukan penyusunan struktur organisasi, termasuk didalamnya adalah
penyusunan man-power sesuai bidang keahlian dan ketrampilan sekaligus
pembagian tugasnya (Job-discription).
- Melakukan persiapan pendahuluan, antara lain wawancara dengan pihak
pemberi tugas atau yang berkaitan sebagai unsur pemakai.
- Survey, pengamatan dan pengukuran lapangan yang menghasilkan rekaman
data visual, teknik dan lainnya yang menyangkut data-data yang dibutuhkan
dalam perencanaan.
- Pembuatan sketsa pemikiran, sistem dan gambar dasar (melalui konsep dasar
perencanaan dan perancangan).
- Transformasi konsep dasar perencanaan dan perancangan ke dalam sketsa
desain dan gambar dasar perencanaan (denah, tampak dan potongan).
- Pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB), penyusunan Rencana Kerja dan
Syarat (RKS) serta perhitungan teknik konstruksi bangunan.
- Mengembangkan gambar perencanaan hingga menjadi gambar kerja dan
perhitungan konstruksi yang diperlukan.
- Asistensi, koordinasi dan review ulang gambar-gambar, RAB dan RKS

E-113
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E-114
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

- Penyiapan dan penggandaan semua hasil karya perencanaan sampai menjadi


dokumen tender, dan menyerahkan kepada pemberi tugas.
- Penyusunan Laporan-laporan hasil karya perencanaan sesuai yang disyaratkan
oleh KAK untuk diserahkan pada PPK
b. Program Kerja Diluar Perusahaan (Eksternal)
- Pengurusan dan penyelesaian dokumen administrasi, meliputi dokumen kontrak
perencanaan, Surat Perintah Kerja (SPK) dan surat-surat lainnya.
- Asistensi dan konsultasi kepada pemberi tugas, pemimpin pelaksana kegiatan
dan dinas bangunan terkait.
- Legalisasi dokumen hasil karya perencanaan dan berita acara penyerahan
dokumen tender.
- Persiapan dan membantu pelaksanaan pemberian penjelasan (aanwijzing) yang
diselenggarakan oleh panitia pengadaan barang dan jasa.

2. TAHAPAN KEGIATAN PERENCANAAN


Tahapan kegiatan perencanaan secara detail sebenarnya sudah tercantum pada
kerangka atau pola pemikiran yang terdapat pada Metodologi di depan. Namun secara
garis besar dan lebih sederhana tahapan kegiatan perencanaan yang akan dilakukan
dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. TAHAPAN KEGIATAN PERSIAPAN DAN SURVEY


Pengumpulan Data dan Kompilasi Data
Langkah pertama yang dilakukan oleh konsultan perencana setelah menerima
Surat Perintah Kerja (SPK) adalah melakukan telaah kembali terhadap Kerangka Acuan
Kerja (KAK), serta mulai mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam
perencanaan, baik data survey lapangan maupun data-data instansional (standar dan
referensi).
a. Data Lapangan
Seluruh data yang diperoleh dari hasil survey lapangan, sehubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan ini, antara lain :
- Bentuk dan dimensi lahan (site/tapak)
- Kontur tanah (topografi)
- Jenis tanah atau daya dukung tanah setempat terhadap bangunan yang
direncanakan
- Keadaan lingkungan sekitar site

E-115
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

- Sumber dan harga material alam/buatan serta tenaga kerja


- Sarana transportasi, dan lain-lain.
b. Data Instansional
Seluruh data yang diperoleh dari pemberi tugas, unsur pemakai dan dinas terkait
yang berkepentingan dengan pelaksanaan pekerjaan, antara lain :
- Struktur organisasi kerja dan program kerja obyek perencanaan.
- Jumlah personil dan pemakai bangunan (kepala, kepala bagian dan staf
lainnya).
- Kebutuhan dan daya tampung (kapasitas ruang) yang dibutuhkan.
- Data peralatan yang akan digunakan, dan lain-lain.
Semua data dari hasil pengumpulan data dan survey tersebut akan dipelajari dan
dikompilasikan serta dianalisis, untuk kemudian dijadikan sebagai dasar dalam
perencanaan dan perancangan yang nantinya akan diaplikasikan dalam bentuk konsep
dasar perencanaan dan perancangan.

2. TAHAPAN KEGIATAN PROSES PERENCANAAN


a. Ide Dalam Perencanaan dan Perancangan
Ide dalam perencanaan dan perancangan merupakan yang mendasari dari konsep
perencanaan, yang mengacu dari hasil pengkajian dan kompilasi data serta
pengkajian terhadap peraturan-peraturan yang berlaku. Dalam ide ini meliputi
beberapa disiplin ilmu yang dipakai, diantaranya adalah Arsitektur, Sipil / Konstruksi,
Lansekap, Interior, Mekanikal-Elektrikal dan Lingkungan.
b. Gambar Pra-rencana
Gambar Pra-rencana, adalah terjemahan atau visualisasi dari ide dan konsep
perencanaan dan perancangan yang telah digambarkan secara Arsitektural, yang
selanjutnya akan dikonsultasikan/diasistensikan kepad pemberi tugas, agar
memenuhi persyaratan dan ketentuan seperti yang telah ditetapkan.
Gambar ini meliputi :
- Gambar Site Plan dan Lay Out Plan
- Gambar Denah
- Gambar Tampak
- Dan Gambar Potongan

E-116
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

3. TAHAPAN KEGIATAN ASISTENSI/KOORDINASI


Pada tahap ini, konsultan perencana akan mengasistensi / mengkoordinasikan
dengan pihak pemberi tugas, pemimpin pelaksana kegiatan dan dinas terkait, untuk
menyamakan persepsi dan penampungan ide, masukan maupun saran-saran guna
penyempurnaan gambar dan desain yang diharapkan bersama. Pelaksanaannya
memerlukan proses dan waktu yang mungkin bisa lama, agar dapat mencapai hasil
desain gambar yang optimal bagi kedua belah pihak.

4. TAHAP PENGEMBANGAN, DETAIL DAN ENGINEERING


Hasil dari asistensi dan koordinasi tersebut diatas, merupakan penyempurnaan
dari gambar Pra-rencana, dan selanjutnya dikembangkan menjadi gambar konstruksi
dan detail sesuai dengan hasil perhitungan konstruksi yang dihasilkan sedemikian,
sehingga menjadi gambar yang lengkap sebagai gambar kerja yang siap dijadikan
dokumen tender pelaksanaan.
Gambar kerja tersebut, merupakan proses pematangan dari seluruh proses
perencanaan teknik, yang akan dijadikan sebagai pedoman dan pegangan dalam
pelaksanaan pembangunan fisik konstruksi maupun arsitektural di lapangan oleh
kontraktor pelaksana.
Hasil dari tahap ini berupa :
- Gambar kerja lengkap.
- Dokumen Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), meliputi syarat umum,
administrasi dan syarat teknik.
- Rencana Anggaran Biaya (RAB)
- Perhitungan struktur dan konstruksi bangunan.
1. TAHAP PENYERAHAN GAMBAR PERENCANAAN DAN PERSIAPAN
AANWIJZING.
Selanjutnya konsultan akan mencetak dan menggandakan semua gambar desain
perencanaannya yang telah menjadi dokumen tender dalam rangkap sesuai yang telah
ditentukan dalam dokumen kontrak.
Penyerahan dokumen tersebut disertai dengan Berita Acara penyerahan hasil karya
perencanaan, yang nantinya menjadi salah satu persyaratan pengambilan
termyn/angsuran pembayaran.
Pada saat diselenggarakan rapat penjelasan/aanwijzing kontraktor yang
diselenggarakan oleh panitia pengadaan barang dan jasa pemborongan, konsultan
perencana akan membantu memberikan penjelasan dalam bidang syarat-syarat teknik

E-117
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

dan penjelasan gambar kepada calon kontraktor yang diundang.

2. PENGAWASAN BERKALA ARSITEKTUR


Selama pekerjaan fisik konstruksi maupun arsitektural dilapangan dilakukan oleh
kontraktor pelaksana, konsultan perencana secara berkala atau setiap hari selama
proses pelaksanaan pekerjaan pembangunan, diwajibkan melakukan pengawasan.
Pelaksanaannya yang sebelumnya diatur oleh kedua belah pihak yaitu pihak pemberi
tugas dan pihak konsultan perencana, bisa dalam rapat koordinasi lapangan, secara
berkala atau setiap hari sesuai yang ditentukan, atau pada saat diundang oleh pemimpin
pelaksana kegiatan untuk inspeksi lapangan secara bersama-sama.
Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan ditemukan permasalahan,
konsultan perencana akan memberikan saran-saran atau keputusan penyelesaian
terhadap masalah yang timbul, dalam bentuk sketsa atau gambar revisi.
Pekerjaan konsultan perencana dinyatakan berakhir, apabila pekerjaan
pelaksanaan pembangunan fisik konstruksi maupun arsitektural telah selesai dan sudah
dilakukan penyerahan pertama oleh kontraktor pelaksana, dengan dibuatkan Berita
Acara oleh Pemimpin pelaksana kegiatan.

E-118
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Tabel Program Kerja


PERENCANAAN PENGEMBANGAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KAYEN TAHAP II
KABUPATEN PATI
cv. MATRA CIPTA

No Tahapan BULAN KE :
1 2 3 4
1. Persiapan
2. Pendataan
3. Identifikasi Permasalahan
4 Asisitensi
5 Laporan Pendahuluan
6 Penekanan Desain
7 Pra Desain
8 Asistensi
9 Pengembangan Desain
10 Laporan Antara
11 Asistensi
12 Penyusunan DED
13 Penyusunan RAB., RKS.
14 Laporan Akhir
15 Pelelangan

E-119
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

ORGANISASI DAN PERSONIL


STRUKTUR ORGANISASI
Organisasi merupakan saiah satu fungsi manajemen atau alat untuk mencapai tujuan. Agar
pekerjaan perencanaan ini dapat berjalan lancar, terarah, terkoordinasi maka perlu adanya
organisasi Kerja yang baik yang merupakan Team Work, Struktur organisasi pelaksana
pekerjaan perencanaan ini adalah sebagai berikut :

E-120
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E-121
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E-122
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E.3.2. KOORDINASI KERJA


Koordinasi kerja perencanaan dikategorikan dalam koordinasi eksternal dan koordinasi Internal,
dimana koordinasi eksternal adalah hubungan Konsultan dengan
pihak-pihak luar yang berkaitan dengan pekerjaan perencanaan konstruksi dan koordinasi
internal adalah koordinasi dalam perusahaan Konsultan sendiri dalam masalah kelancaran
kegiatan perencanaan,
a. Koordinasi Kerja Eksternal
Adalah koordinasi antara Konsultan Perencana dengan unsur-unsur yang terlibat dalam
proses pekenaan ini antara lain pihak Proyek/Pemerintah, unsur teknis, dan semua
permasalahan yang bersifat teknis maupun administratiff dapat segera diatasi, sehingga
tidak mengganggu jalannya pekerjaan Perencanaan. Hal ini disebabkan semua unsur-unsur
yang tersebut di atas masing-masing saling terkait satu sama lain,
b. Koordinasi Kerja Internal
Adalah koordinasi antara bagian-bagian dalam perusahaan yang menangani kegiatan
perencanaan, dimana semua bagian-bagian atau unsur-unsur perusahaan yang terlibat
mempunyai keterkaitan satu sama lain. Hal ini akan memudahkan dalam mencari jalan
keluarnya apabila terdapat permasalahan di lapangan yang sifatnya berupa teknis
pelaksanaan pekerjaan perencanaan tersebut.
E.3.3. STRATEGI PENGELOLAAN PEKERJAAN
Keberhasilan Team Work tergantung pada strategi manajemen yang dipakai dalam mengelola
pekerjaan ini, beberapa manajemen diaplikasikan antara lain :
a. Strategi manajemen komunikasi, dipakai strategi komunikasi terbuka terbatas artinya
segala permasalahan panting didiskusikan terlebih dahulu sebelum diambil kesepakatan
sebagai keputusan bersama
b. Strategi manajemen organisasi, dipakai sistem terpusat dalam perwakilan tiap subbidang
pekerjaan, artinya masing-masing bidang perlu adanya personil-personil ahli sesuai
bidangnya untuk menjadi leader sub bidang yang bertugas mengkoordinir subbidang
tersebut dan bertanggung jawab atas output yang dihasilkan kepada Team Leader kegiatan
c. Strategi manajemen keuangan, dipakai sistem terbuka terbatas, artinya administrasi dan
keuangan dapat dipantau dan diketahui setiap oleh anggota tertentu sesuai kewenangan
dan pencatatan penggunaan serta laporan penyelesaian semua administrasi maupun
keuangan bertanggung jawab kepada Penanggung Jawab Kegiatan dan Direktur
Perusahaan.
d.

E-123
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E.3.3. SISTEM PENGENDALIAN KEGIATAN


Konsultan Perencana dalam menjalankan tugas dari tahap awal sampai tahap penyerahan hasil
pekerjaan, melakukan beberapa langkah kegiatan yang memenuhi prosedur dan hubungan
Kerja dengan berbagai pihak, yang secara diagramatik bisa digambarkan sebagai berikut:
Pemroses
No. Kegiatan Hasil
KPA PPK PPTK User Kons
Tuntutan Desain dari
Persiapan Pemilik Proyek
Survey Lapangan
Hasil Investigasi
Lapangan dan Data
Survey Lapangan
Fisik Lapangan
Masukan dari User
Penyusunan Pra Persetujuan Pra
Rancangan Desain dari User
Penyusunan Gambar
Persetujuan tahap
Kerja, RKS, RAB dan
DED, RKS, RAB
BoQ
Penyiapan Dokumen Persetujuan dokumen
Pelelangan lelang
Penggandaan Penyerahan Dokumen
Dokumen Lelang Lelang
Pengawasan Berkala Laporan Akhir

= Terlibat langsung

= Terlibat tidak langsung

Dalam suatu proses dan prosedur pengelolaan dan pengendalian perencanaan proyek tersebut,
teriibat unsur-unsur :
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Pemakai/User
PPTK
Konsultan Perencana dan/atau Konsultan MK
Secara garis besar struktur pengelolaan dan pengendalian perencanaan proyek bisa

E-124
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

digambarkan sebagai berikut :

Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA)

KPA
Forum PPK
Konsultan Diskusi Pengelola Teknis
Perencana Presentasi Kegiatan
Lokakarya User
Instansi Terkait
Lainnya
BAHAN
DRAFT
REVISI

Konsultan MK
(Bila Ada)

= Konsultansi Koordinasi

= Komando

E-125
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA KEGIATAN

Pemberi Tugas
( Owner )

PPK USER

Team Teknis
PPTK

Konsultan
Perencana

E-126
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

E.3.1. PERSONIL
Keterlibatan tenaga ahli dan tenaga pendukung teknis di keseluruhan tahapan perencanaan
dapat dicermati sebagai berikut:
TAHAP KEGIATAN PERSONIL YANG TERLIBAT
Ketua Tim (Team Leader)
Ahli Arsitektur
Ahli Plumbing
Ahli Transportasi Dalam Gedung
Ahli Teknik Bangunan Gedung
Ahli Manajemen Adminitrasi Rumah
Sakit
PERSIAPAN Ahli Mekanikal
Ahli Elektrikal
Administrasi
Surveyor
Surveyor
Draftman CAD
Draftman CAD

Ketua Tim (Team Leader)


Ahli Arsitektur
Ahli Plumbing
Ahli Transportasi Dalam Gedung
Ahli Teknik Bangunan Gedung
Ahli Manajemen Adminitrasi Rumah
Sakit
PENDATAAN Ahli Mekanikal
Ahli Elektrikal
Administrasi
Surveyor
Surveyor
Draftman CAD
Draftman CAD

Ketua Tim (Team Leader)


Ahli Arsitektur
Ahli Plumbing
Ahli Transportasi Dalam Gedung
IDENTIFIKASI Ahli Teknik Bangunan Gedung
PERMASALAHAN/ANALISA DAN Ahli Manajemen Adminitrasi Rumah
Sakit
SINTESA Ahli Mekanikal
Ahli Elektrikal
Administrasi
Surveyor
Surveyor

E-127
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Draftman CAD
Draftman CAD

Ketua Tim (Team Leader)


Ahli Arsitektur
Ahli Plumbing
Ahli Transportasi Dalam Gedung
Ahli Teknik Bangunan Gedung
PERUMUSAN PENEKANAN Ahli Manajemen Adminitrasi Rumah
Sakit
DESAIN/KONSEP PERENCANAAN DAN Ahli Mekanikal
PERANCANGAN Ahli Elektrikal
Administrasi
Surveyor
Surveyor
Draftman CAD
Draftman CAD

Ketua Tim (Team Leader)


Ahli Arsitektur
Ahli Plumbing
Ahli Transportasi Dalam Gedung
Ahli Teknik Bangunan Gedung
Ahli Manajemen Adminitrasi Rumah
Sakit
PRA-DESAIN Ahli Mekanikal
Ahli Elektrikal
Administrasi
Surveyor
Surveyor
Draftman CAD
Draftman CAD

Ketua Tim (Team Leader)


Ahli Arsitektur
Ahli Plumbing
Ahli Transportasi Dalam Gedung
Ahli Teknik Bangunan Gedung
Ahli Manajemen Adminitrasi Rumah
Sakit
PENGEMBANGAN DESAIN Ahli Mekanikal
Ahli Elektrikal
Administrasi
Surveyor
Surveyor
Draftman CAD
Draftman CAD

E-128
DOKUMEN PENAWARAN
ADMINISTRASI DAN TEKNIS

Ketua Tim (Team Leader)


Ahli Arsitektur
Ahli Plumbing
Ahli Transportasi Dalam Gedung
Ahli Teknik Bangunan Gedung
Ahli Manajemen Adminitrasi Rumah
Sakit
PENYUSUNAN DOKUMEN BESTEK Ahli Mekanikal
Ahli Elektrikal
Administrasi
Surveyor
Surveyor
Draftman CAD
Draftman CAD

E-129