Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red
cell mast) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam
jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Anemia
bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri, tetapi merupakan gejala berbagai macam
penyakit dasar.
Pada dasarnya anemia disebabkan oleh karena adanya gangguan pembentukan eritrosit
oleh sumsum tulang, kehilangan darah keluar tubuh (perdarahan), dan proses
penghancuran eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisis).
Anemia sendiri diklasifikasikan menurut gambaran mikroskopiknya menjadi 3, yaitu:
1. Anemia hipokromik mikrositer
Gambaran eritrosit pucat dan kecil.
MCV < 80 fl dan MCH < 27 pg. Jenis dari anemia ini adalah anemia defisiensi
besi, anemia akibat penyakit kronik, anemia sideroblastik, dan thalasemia beta.
2. Anemia normokromik normositer
Gambaran eritrosit normal
MCV 80-95 fl dan MCH 27-31 pg. Jenis dari anemia ini adalah anemia pasca
perdarahan akut, AIHA, anemia mikroangipoati, anemia aplastik, dan anemia
pada leukimia akut.
3. Anemia makrositik
Gambaran eritrosit membesar.
MCV > 95 fl. Jenis dari anemia ini adalah anemia defisiensi asam folat, anemia
defisiensi vitamin B12, dan anemia pada penyakit hipotiroidism.
Gejala umum anemia adalah gejala yang timbul pada setiap kasus anemia, apapun
penyebabnya, apabila kadar hemoglobin turun di bawah nilai tertentu. Gejala umum
anemia ini timbul karena anoksia organ dan mekanisme kompenasi tubuh terhadap
berkurangnya daya angkut oksigen. Gejala umum anemia menjadi jelas apabila kadar
hemoglobin telah turun di bawah 7 g/dL. Berat ringannya gejala umum anemia
tergantung pada derajat penurunan hB, kecepatan penurunan hB, usia, dan adanya
kelainan jantung atau paru sebelumnya.

1.2 Batasan Masalah


Refrat ini membahas mengenai anemia defisiensi besi.

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui cara mendiagnosis anemia defisiensi besi
serta memberikan terapi yang sesuai.
1.4 Metode Penulisan

Referat ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang merujuk kepada
berbagai literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya
pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah.
Jika simpanan zat besi dalam tubuh seseorang sudah sangat rendah berarti orang tersebut
mendekati anemia walaupun belum ditemukan gejala-gejala fisiologis. Simpanan zat besi
yang sangat rendah lambat laun tidak akan cukup untuk membentuk sel-sel darah merah
di dalam sumsum tulang sehingga kadar hemoglobin terus menurun di bawah batas
normal, keadaan inilah yang disebut anemia gizi besi.
Menurut Evatt, anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh berkurangnya
cadangan besi tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya saturasi transferin,
berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum tulang. Secara morfologis
keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan
kuantitatif pada sintesis hemoglobin.
Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia. Wanita usia subur sering mengalami
anemia, karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi
sewaktu hamil (Masrizal, 2007).

2.2 Epidemiologi
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan jenis anemia yang paling sering dijumpai baik
di klinik maupun di masyarakat. Jenis anemia ini sangat sering dijumpai di negara
berkembang. Dari berbagai data yang dikumpulkan sampai saat ini, didapatkan gambaran
prevalensi anemia defisiensi besi seperti tertera pada tabel berikut:

Prevalensi Anemia Defisiensi Besi di Dunia


Afrika Amerika Latin Indonesia

Laki dewasa 6% 3% 16-50%


Wanita tak hamil 20% 17-21% 25-48%
Wanita hamil 60% 39-46% 46-92%
Martoatmojo dkk memperkirakan ADB pada laki-laki 16-50% dan 25-84% pada
perempuan tidak hamil. Pada pensiunan pegawai negeri di Bali didapatkan prevalensi
anemia 36% dengan 61% disebabkan oleh karena defisiensi besi. Sedangkan pada
penduduk suatu desa di Bali didapatkan angka prevalensi ADB sebesar 27%.
Perempuan hamil merupakan segmen penduduk yang paling rentan pada ADB. Di Indi,
Amerika Latin, dan Filipina prevalensi ADB pada perempuan hamil berkisar antara 35-
99%. Sedangkan di Bali, pada suatu pengunjung puskesmas didapatkan prevalensi
anemia sebesar 50% dengan 75% anemia disebabkan oleh defisiensi besi. Survei di 42
desa di Bali yang melibatkan 1684 perempuan hamil mendapatkan prevalensi ADB
sebesar 46%, sebagian besar memiliki derajat anemia ringan. Faktor risiko yang dijumpai
adalah tingkat pendidikan dan kepatuhan meminum pil besi.
Di Amerika Serikat, berdasarkan survei gizi (NHANES III) tahun 1988 sampai tahun
1994, defisiensi besi dijumpai kurang dari 1% pada laki dewasa yang berumur kurang
dari 50 tahun, 2-4% pada laki dewasa yang berumur lebih dari 50 tahun, 9-11% pada
perempuan masa reproduksi dan 5-7% pada perempuan pascamenopause.
Dampak dari anemia defisiensi besi ini sangat luas, antara lain terjadi perubahan epitel,
gangguan pertumbuhan jika terjadi pada anak- anak, kurangnya konsentrasi pada anak
yang mengakibatkan prestasi disekolahnya menurun, penurunan kemampuan kerja bagi
para pekerja sehingga produktivitasnya menurun (Kartamihardja, ....)

2.3 Etiologi
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan besi, gangguan
absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun.
1. Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun, yang dapat berasal dari:
a. Saluran cerna: akibat dari tukak peptik, kanker lambung, kanker kolon,
divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang;
b. Saluran genitalia wanita: menorrhagia, atau metrorhagia;
c. Saluran kemih: hematuria;
d. Saluran napas: hemoptoe.
2. Faktor nutrisi: akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, atau kualitas
besi (bioavaibiltas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin
C, dan rendah daging).
3. Kebutuhan besi meningkat: seperti pada prematuritas, anak dalam masa
pertumbuhan dan kehamilan.
4. Gangguan absorpsi besi: gastrektomi, tropical sprue atau kolitis kronik
Pada orang dewasa, anemia defisiensi yang dijumpai di klinik hampir identik dengan
perdarahan menahun. Faktor nutrisi atau peningkat kebutuhan besi jarang sebagai
penyebab utama. Penyebab perdarahan paling sering pada laki-laki ialah perdarahan
gastrointestinal, di negara tropik paling sering karena infeksi cacing tambang. Sementara
itu, pada wanita paling sering karena metrorhagia.
2.4 Metabolisme Besi
Besi terdapat dalam berbagai jaringan dalam tubuh, berupa:
1. Senyawa besi fungsional, yaitu besi yang membentuk senyawa yang berfungsi
dalam tubuh;
2. Besi cadangan, senyawa besi yang dipersiapkan bila masukan besi kurang;
3. Besi transpor, besi yang berikatan dengan protein tertentu dalam fungsinya untuk
mengangkut besi dari satu kompartemen ke kompartemen lainnya
Besi dalam tubuh tidak oernah terdapat dalam bentuk logam bebas, tetapi selalu berikatan
dengan protein tertentu. Besi bebas akan merusak jaringan, mempunyai sifat, seperti
radikal bebas.
Tubuh mendapatkan masukan besi yang berasal dari makanan dalam usus. Untuk
memasukkan besi dari usus ke dalam tubuh diperlukan proses absorpsi. Absorpsi besi
paling banyak terjadi pada duodenum dan jejunum proksimal disebabkan oleh struktur
epitel usus yang memungkinkan untuk itu. Proses absropsi besi dibagi menjadi 3 fase,
yaitu:
1. Fase luminal: besi dalam makanan diolah dalam lambung kemudian siap diserap
di duodenum. Besi dalam makanan terdapat dalam 2 bentuk sebagai berikut:
a. Besi heme: terdapat dalam daging dan ikan, proporsi absorpsinya tinggi,
tidak dihambat oleh bahan penghambat sehingga mempunyai bioavaibilitas
tinggi.
b. Besi nonheme: berasal dari sumber tumbuh-tumbuhan, proporsi absorpsinya
rendah, dipengaruhi oleh bahan pemacu atau penghambat sehingga
bioavaibilitasnya rendah.
Tergolong sebagai bahan pemacu absorpsi besi adalah meant factors dan
vitamin C, sedangkan yang tergolong sebagai bahan penghambat ialah tanat,
phytat, dan serat,
Dalam lambung karena pengaruh asam lambung, besi akan dilepaskan dari
ikatannya dengan senyawa lain. Kemudian terjadi reduksi dari besi bentuk feri ke
fero yang siap untuk diserap.
2. Fase mukosal: proses penyerapan dalam mukosa usus yang merupakan suatu
proses aktif. Penyerapan besi terjadi terutama melalui mukosa duodenum dan
jejunum proksimal. Dikenal adanya mucosal block, suatu mekanisme yang dapat
mengatur penyerapan besi melalui mukosa usus.
3. Fase korporal: meliputi proses transportasi besi dalam sirkulasi, utilisasi besi oleh
sel-sel yang memerlukan, serta penyimpanan besi dalam tubuh. Besi yang telah
diserap akan memasuki peredaran darah dan diikat oleh apotransferin mejadi
transferin.
Banyaknya absorpsi besi tergantung pada banyaknya jumlah besi dalam makanan, jenis
besi dalam makanan: heme atau nonheme, adanya bahan penghambat atau pemacu
absorpsi dalam makanan, jumlah cadangan besi dalam tubuh, dan kecepatan eritropoesis..
Besi yang diserap oleh usus setiap hari berkisar antara 1-2 m, ekskresi besi terjadi dalam
jumlah yang sama melalui eksfoliasi epitel. Besi dari usus dalam bentuk transferin akan
bergabung dengan besi yang dimobilisasi dari makrofag dalam SST sebesar 22 mg
umtuk dapat memenuhi kebutuhan eritropoesis sebanyak 24 mg per hari. Eritrosit yang
terbentuk secara efektif yang akan beredar melalui sirkulasi memerlukan besi 17 mg,
sedangkan besi sebesar 7 mg akan dikembalikan ke makrofag karena terjadinya
eritropoesis inefektif. Besi yang terdapat pada eritrosit yang beredar, setelah mengalami
proses penuaan akan dikembalikan pada makrofag sumsum tulang sebesar 17 mg
sehingga dapat dilihat suatu lingkaran tertutup yang efisien.

2.5 Patogenesis
Seperti yang disebutkan sebelumnya, salah satu penyebab terbesar anemia defisiensi besi
adalah perdarahan menahun. Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi
sehingga cadangan besi makin menurun. Jika cadangan besi menurun, keadaan ini disebut
iron depleted state atau negative iron balance. Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar
feritin serum, peningkatan absorpsi besi dalam usus, serta pengecatan besi dalam sumsum
tulang negatif.
Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka cadangan besi menjadi kosong sama sekali,
penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada
bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini disebut sebagai iron
deficient eritropoesis. Pada fase ini, kelainan pertama yang dijumpai adalah peningkatan
kadar free protophorphyrin dalam eritrosit. Saturasi transferin menurun dan total iron
binding capacity (TIBC) meningkat.
Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggu sehingga kadar
hemoglobin mulai menurun, akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositer, disebut
sebagai iron deficiency anemia.

2.6 Gejala ADB


Gejala anemia defisiensi besi dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar, yaitu, gejala
anemia umum, gejala khas akibat anemia defisiensi besi, dan gejala penyakit dasar.
Gejala umum anemia
Gejala umum anemia dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila kadar hB turun di
bawah 7-8 g/dL. Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-
kunang, serta telinga mendenging. Pada anemia defisiensi besi karena penurunan kadar
hemoglobin yang terjadi secara perlahan-lahan seringkali sindroma anemia tidak terlalu
menyolok dibandingkan dengan anemia lain yang penurun kadar hemoglobinnya terjadi
lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh mekanisme kompensasi tubuh yang dapat berjalan
dengan baik. Pada pemeriksaan fisik dijumpai pasien yang pucat, terutama pada
konjungtiva dan jaringan di bawah kuku.
Gejala khas Anemia Defisiensi Besi
Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi, tetapi tidak dijumpai pada anemia jenis
lain adalah:
1. Koilonychia: kuku sendok, kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan
menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok
2. atrofi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil
lidah menghilang
3. stomatitis angularis: adanya peradangan pada sudut mulut sehingga tampak
sebagai bercak berwarna pucat keputihan
4. disfagia: nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring
5. atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhlordia
6. pica: keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim

Gejala penyakit dasar


Pada anemia defisiensi besi dapat dijumpai gejala-gejala penyakit yang menjadi penyebab
anemia defisiensi besi tersebut. Sebagai contoh, pada anemia akibat penyakit cacing
tambang dijumpai dispepsia, parotis membengkak, dan kulit telapak tangan berwarna
kuning seperti jerami. Pada anemia karena perdarahan kronik akibat kanker kolon
dijumpai gejala gangguan kebiasaan buang air besar.

2.7 Pemeriksaan laboratorium


1. Kadar hB dan indeks eritrosit menurun: didapatkan anemia hipokromik mikrositer
dengan penurunan kadar hB mulai dari ringan sampai berat. MCV dan MCH menurun.
MCV <70 fl hanya didapatkan pada anemia defisiensi besi dan thalasemia mayor. MCHC
akan turun pada anemia yang sudah berlangsung lama. RDW (red cell distribution width)
meningkat yang menandakan adanya anisositosis. Indeks eritrosit sudah dapat mengalami
perubahan sebelum kadar hemoglobin menurun. Kadar hemoglobin sering turun sangat
rendah, tanpa menimbulkan gejala anemia yang mencolok karena anemia timbul
perlahan-lahan.
Apusan darah menunjukkan anemia hipokromik mikrositer, anisositosis, poikilositosis,
anulosit, sel pensil, kadang-kadang sel target. Leukosit dan trombosit normal.
Granulositpenia pada anemia yang berlangsung lama. Pada ADB karena cacing tambang
dijumapi eosinofilia. Trombositosis dapat dijumpai pada ADB dengan episode
perdarahan akut.
2. Kadar besi serum menurun < 50 mg/dl, total iron binding capacity (TIBC) meningkat
>350mg/dl (TIBC menunjukkan tingkat kejenuhan apotransferin terhadap besi), dan
saturasi transferin < 15%. Besi seru menunjukkan variasi diurnal yang sangat besar,
dengan kadar puncak pada jam 8-10 pagi.
3. Kadar serum feritin < 20 pg/dl . Jika terdapat inflamasi maka feritin serum sampai
dengan 60 pg/dl masih dapat menunjukkan adanya anemia defisiensi besi.
4. Protoporfirin meningkat; apabila sintesis heme terganggu maka protoporfirin akan
menumpuk dalam eritrosit. Nilai normal < 30 mg/dl. Untuk defisiensi besi protoporfirin
bebas adalah > 100 mg/dl.
5. Kadar reseptor transferin dalam serum meningkat: kadar normal dengan pemeriksaan
imunologi adalah 4-9pg/l
6. Sumsung tulang menunjukkan hiperplasia normoblastik ringan sampai sedang dengan
normoblas kecil-kecil; dalam keadaan normal 40-60% normoblas mengandung granula
feritin dalam sitoplasmanya, disebut sebagai sideroblas. Pada defisiensi besi maka
sideroblas negatif.

2.8 Diagnosis
Diagnosis anemia defisiensi besi ditegakkan dengan:
1. Anamnesis
Anamnesis untuk mencari faktor predisposisi dan etiologi, antara lain: bayi berat
lahir rendah (BBLR), bayi kurang bulan, bayi yang baru lahir dari ibu anemia,
bayi yang mendapat susu sapi sebelum usia 1 tahun, danlainlain sebagainya.
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya gejalapucat menahun tanpa
disertai adanya organomegali, seperti hepatomegaly dan splenomegaly.
Ditemukan adanya stomatitis angularis dan atrofi papil lidah.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah rutin seperti Hb, PCV
(Packed Cell Volume), leukosit, trombosit ditambah pemeriksaan indeks eritrosit,
retikulosit, saturasi morfologi darah tepi dan pemeriksaan status besi (Fe serum,
TIBC, transferrin, Free Erythrocyte Protoporphyrin(FEP), ferritin). Pada ADB
nilai indeks eritrosit MCV, MCH akan menurun, MCHC akan menurun pada
keadan berat, dan RDW akan meningkat. Gambaran morfologi darah tepi
ditemukan keadaan hipokrom, mikrositik, anisositik hipokrom biasanya terjadi
pada ADB, infeksi kronis dan thalassemia.

Kriteria diagnosis ADB menurut WHO.1


(1). Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia.
(2). Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata <31% (N32-35)
(3).Kadar Fe serum <5g/dl (N:80-180g/dl).
(4). Saturasi transferrin <15% (N: 20-50%).

Dasar diagnosis ADB menurut Cook dan Monsen:


(1).Anemia hipokrom mikrositik
(2).Saturasi transferrin <16%
(3).Nilai FEP 100g/dl eritrosit
(4).Kadar ferritin serum <12g/dl.
KASIH TABEL NILAI NORMAL HB

2.9 Pencegahan dan Pengobatan Anemia Defisiensi Besi


Upaya yang dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan anemia adalah:
a. Suplementasi tablet Fe
b. Fortifikasi makanan dengan besi
c. Mengubah kebiasaan pola makanan dengan menambahkan konsumsi pangan yang
memudahkan absorbsi besi seperti menambahkan vitamin C.
d.. Penurunan kehilangan besi dengan pemberantasan cacing. Dalam upaya mencegah dan
menanggulangi anemia adalah dengan mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah terbukti
dari berbagai penelitian bahwa suplementasi, zat besi dapat meningkatkan kada
Hemoglobin.
e.. Pengobatan Anemia Defisiensi Besi Sejak tahun 1997 pemerintah telah merintis
langkah baru dalam mencegah dan menanggulangi anemia, salah satu pilihannya adalah
mengkonsumsi tablet tambah darah. Telah terbukti dari berbagai peneltian bahwa
suplemen zat besi dapat meningkatkan hemoglobin.

Dapat dilakukan antara lain dengan cara:


a. Meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan Mengkonsumsi pangan hewani dalam
jumlah cukup. Namun karena harganya cukup tinggi sehingga masyarakat sulit
menjangkaunya. Untuk itu diperlukan alternatif yang lain untuk mencegah anemia gizi
besi. Memakan beraneka ragam makanan yang memiliki zat gizi saling melengkapi
termasuk vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C.
Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat meningkatkan
penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-buahan segar dan sayuran sumber
vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50 - 80 % vitamin C akan rusak.Mengurangi
konsumsi makanan yang bisa menghambat penyerapan zat besi seperti : fitat, fosfat,
tannin.
b. Suplementasi zat besi Pemberian suplemen besi menguntungkan karena dapat
memperbaiki status hemoglobin dalam waktu yang relatif singkat. Di Indonesia pil besi
yang umum digunakan dalam suplementasi zat besi adalah frrous sulfat. Persentase dan
jumlah zat besi di dalam tablet Fe bisa dilihat pada tabel dibawah ini

Efek samping dari pemberian besi feroral adalah mual, ketidaknyamanan epigastrium,
kejang perut, konstipasi dan diare. Efek ini tergantung dosis yang diberikan dan dapat
diatasi dengan mengurangi dosis dan meminum tablet segera setelah makan atau
bersamaan dengan makanan.
a. Fortifikasi zat besi Fortifikasi adalah penambahan suatu jenis zat gizi ke dalam bahan
pangan untuk meningkatkan kualitas pangan . Kesulitan untuk fortifikasi zat besi adalah
sifat zat besi yang reaktif dan cenderung mengubah penampilanm bahan yang di
fortifikasi. Sebaliknya fortifikasi zat besi tidak mengubah rasa, warna, penampakan dan
daya simpan bahan pangan. Selain itu pangan yang difortifikasi adalah yang banyak
dikonsumsi masyarakat seperti tepung gandum untuk pembuatan roti.
b. Penanggulangan penyakit infeksi dan parasit Penyakt infeksi dan parasit merupakan
salah satu penyebab anemia gizi besi. Dengan menanggulangi penyakit infeksi dan
memberantas parasit diharapkan bisa meningkatkan status besi tubuh.

2.9. Pemantauan terapi


Terapi:
a. Periksa kadar hemoglobin setiap 2 minggu
b. Kepatuhan orang tua dalam memberikan obat
c. Gejala sampingan pemberian zat besi yang bisa berupa gejala gangguan gastrointestinal
misalnya konstipasi, diare, rasa terbakar diulu hati, nyeri abdomen dan mual. Gejala lain
dapat berupa pewarnaan gigi yang bersifat sementara.
Tumbuh Kembang:
a. Penimbangan berat badan setiap bulan
b. Perubahan tingkah laku
c. Daya konsentrasi dan kemampuan belajar pada anak usia sekolah dengan konsultasi ke
ahli psikologi
d. Aktifitas motorik

Dalam pengobatan dengan perparat besi, deorang pasien dinyatakan memberikan respon
baik bila retikulosit naik pada minggu pertama, mencapai puncak pada hari ke-10 dan
normal lagi setelah hari ke-14, diikuti kenaikan Hb 0,15g/hari atau 2 g/dL setelah 3-4
minggu. Hemoglobin menjadi normal setelah 4-10 minggu.
Jika respon terhadap terapi tidak baik, maka perlu dipikirkan:
1. Pasien tidak patuh sehingga obat tidak diminum
2. Dosis besi kurang
3. Masih ada perdarahan cukup banyak
4. Ada penyakit lain seperti misalnya penyakit kronik, peradangan menahun atau
pada saat yang sama ada defisiensi asam folat
5. Diagnosis defisiensi besi salah
6. Jika dijumpai keadaan di atas, lakukan evaluasi kembali dan ambil tindakan yang
tepat
BAB III
KESIMPULAN

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah. Diagnosis anemia dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan gejala gejala-gejala anemia pada
umumnya seperti badan lemah, lesu, meta berkunang-berkunang, telinga mendenging,
ditemukannya riwayat perdarahan, dan kebiasaan diit yang buruk. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan konjungtiva anemis, atrofi papil lidah, stomatitis angularis, dan koilonychia.
Pemeriksaan laboratorium didapat nilai Hb dan Ht yang kurang dari normal.
Pemeriksaan penunjang dapat membantu kita untuk membedakan jenis anemia.
Gambaran darah tepi pada anemia defisiensi besi menunjukkan mikrositik hipokrom.

Terapi anemia defisiensi besi sebaiknya dilakukan secepat mungkin untuk menghindari
hal-hal yang tidak diinginkan. Terapi bisa dimulai walaupun masih belum menemukan
faktor penyebab dari anemia defisiensi besi itu sendiri. Terapi yang diberikan berupa
pemberian suplementasi besi oral. Selain diberikan pengobatan medikamentosa,
pengobatan juga harus dibarengi dengan kebiasaan diit yang bagus dari pasien. Transfusi
darah jarang diberikan pada pasien ini kecuali ada indikasi tertentu.