Anda di halaman 1dari 12

Barang bukti medis

Pada setiap kejahatan hamper selalu ada barang bukti yang tertinggal, yang
kalau diteliti dengan memanfaatkan berbagai macam ilmu forensic (forensic sciences)
maka tidak mustahil kejahatan tersebut akan dapat terungkap dan bahkan korban yang
sudah membusuk atau hangus serta pelakunya akan dapat dikenali. Oleh sebab itu
pada kasus-kasus tindak pidana yang dilakukan terhadap manusia perlu dicari
sebanyak mungkin barang bukti medic, baik yang berasal dari tubuh korban maupun
pelaku.

Barang bukti medik yang berasal dari tubuh korban akan lebuh banyak
memberikan informasi seputar proses terjadinya kejahatan, sedangkan barang bukti
medik dari tubuh pelaku seputar identitas yang bersangkutan.

DARAH

Darah merupakan bagian tubuh manusia yang dapat memberikan banyak


informasi penting bagi pengungkapan peristiwa pidana, baik yang ditemukan sebagai
bercak, diambil dari tubuh manusia yang masih hidup ataupun yang sudah mati.

A. BERCAK DARAH
Pada peristiwa pidan, bercak darah sering kali ditemukan pada :
Tubuh korban
Lantai di sekitar tubuh korban
Dinding
Alat-alat rumah tangga (almari atau meja)
Senjata tajam
Pakaian
Kendaraan bermotor (pada kecelakaan lalu lintas).

Hampir semua korban mati dengan luka-luka dapat ditemukan genangan


darah, kecuali tubuh korban sudah dipindahkan dari tempatnya semula. Sebagian dari
genangan itu terkumpul ketika korban masih hidup dan sebagian lagi sesudah mati.
Sudah barang tentu banyaknya genangan darah tidak dapat dikorelasikan
dengan besarnya luka. Luka kecil yang menyebabkan pecahnya varises mungkin
dapat menimbulkan genangan darah yang banyak, sebaliknya luka tususk pada dada
mungkin tidak menimbulkan genangan yang banyak karena darah terkumpul di
rongga dada.

Adanya bercak darah pada tubuh korban, dapat memberikan informasi


mengenai posisi korban ketika mendapatkan luka. Bercak yang ditemukan di kaki dan
dilantai pada korban tusukan di dada memberikan petunjuk bahwa korban dalam
keadaan berdiri ketika menerima tusukan.

Bentuk bercak darah juga dapat memberikan informasi tentang bagaimana


cara darah menempel pada objek, yaitu jatuh secara pasif, menyemprot dari arteri
yang terpotong atau karena senjata yang berlumuran darah dikibas-kibaskan oleh
pembunuhnya. Gambaran bercak yang menyerupai pin bowling atau tanda seru
memberikan petunjuk bahwa darah menyemprot dari arteri ke permukaan objek
secara miring, dimana ujung kecil dari pin bowling itu menunjuk kea rah mana darah
menyemprot.

Gambaran bercak besar yang salah satu sisinya bergerigi atau membentuk
jari-jari dengan ujung runcing (seperti gambar ubur-ubur) member informasi bahwa
korban diseret kelain tempat. Ujung jari-jari menunjuk ke arah korban diseret.

Letak ditemukannya bercak dapat memberi petunjuk dari mana darah berasal.
Bercak-bercak linear yang ditemukan di langit-langit kemungkinan berasal dari
senjata tajam yang dikibas-kibaskan oleh pelakunya. Bercak dilantai atau perabotan
rumah tangga kemungkinan besar berasal dari tubuh korban.

Pemeriksaan laboratories

Tidak semua bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu perlu dilakukan
pemeriksaan pemeriksaan guna menentukan /;

Bercak itu darah atau bukan


Darah manusia atau bukan
Jenis golongan darahnya

Langkah-langkah yang harus dilakukan pada pemeriksaan tersebut ialah :

1. Persiapan
Bercak darah yang menempel pada sesuatu objek (misalnya senjata, lantai
atau perabot rumah tangga) dikerok dan kemudian direndam pada larutan
garam fisiologi. Sedangkan yang menempel pada pakaian dapat langsung
dapat langsung direndam pada larutan tersebut
2. Tes penyaringan (Presumptive Test)
Ada banyak tes penyaringan yang dapat dilakukan untuk membedakan
apakah bercak itu berasal dari darah atau bukan. Tes yang banyak
dilakukan ialah leuko-malachite green test (Tes Benzidine) atau castle-
Meyer test (Tes Phnolphtalein). Hanya bercak yang memberikan tes
positif saja yang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
Tes-tes tersebut juga dapat dilakukan terhadap bercak yang kecil
dengan cara mengusap bercak tersebut dengan kertas filter dan kemudian
tes dikerjakan di kertas filter tersebut.
3. Tes menyakinkan (Confirmatory Test)
a. Tes serologik :
Tes precipitin dengan menggunakan anti-human globulin atau antisera
yang lain akan memberikan konfirmasi bahwa bercak yang diperiksa
itu benar-benar darah dan dapat membedakan darah manusia atau
binatang.
b. Tes kimiawi :
Ada banyak tes kimiawi yang dapat dilakukan untuk memastikan
bahwa yang diperiksa itu bercak darah, atas dasar pembentukan
Kristal-kristal hemoglobin yang dapat dilihat dengan mata telanjang
atau dengan mikroskop. Tes-tes tersebut antara lain tes Takayama dan
Teichmann.
c. Spektroskopik :
Larutan reduced haemoglobin akan memberikan spectrum warna yang
khas pada spektroskop. Tes ini dibuat lebih spesifik dengan
menambahkan berbagai reagensia untuk membentuk berbagai produk
dari haemoglobin, seperti misalnya methemoglobin yang akan
memberikan spectrum yang khas.
d. Mikroskopik :
Pada bercak-bercak darah yang telah kering biasanya sel-sel darah
merah atau sel-sel darah putih mengalami kerusakan. Kendati
demikian pada bercak-bercak yang masih baru sering masih dapat
diidentifikasi. Pada pemeriksaan tersebut dapat juga member informasi
tentang asal usul darah. Sel-sel darah burung mempunyai inti dan sel-
sel darah onta berbentuk oval.
4. Penentuan golongan darah
Banyak system yang dapat dipakai untuk menentukan golongan darah,
antara lain sistem ABO. Penentuan tesebut dapat dilakukan terhadap
bercak yang masih segar ataupun yang sudah kering. Bahkan tes golongan
darah dapat dilakukan pada bercak yang menempel pada serabut pakaian.
Dengan cara yang sama, penentuan golongan darah juga dapat
dilakukan terhadap cairan tubuh (misalnya air liur atau sperma) dari
orang-orang yang tergolong bertipe secretor. Menurut penyelidikan yang
pernah dilakukan, terdapat lebih kurang 70% dari populasi yang tergolong
bertipe sekretor.
Penentuan golongan darah ini sangat penting guna melihat apakah ada
kesesuaian antara golongan darah yang menempel pada senjata atau mobil
yang di duga menjadi penyebab kematian dengan golongan darah korban.

B. DARAH ORANG HIDUP


Pada penyelidikan perkara pidana kadang-kadang diperlukan pemeriksaan
darah dari orang yang masih hidup, yaitu :
Untuk membuktikan adanya alcohol dalam darah pelanggar lalu lintas
atau orang-orang yang diduga melakukan kejahatan.
Untuk membuktikan adanya morphin dalam darah dari orang-orang
yang diduga sebagai pemakaian zat tersebut. Perlu diketahui bahwa
pemakaian zat tersebut juga dapat diancam pidana.
Untuk membuktikan ada tidaknya hubungan paternitas pada kejahatan
dibidang immigrasi. Perlu diketahui bahwa dalam upaya memasuki
Negara tertentu sering dilakukan dengan cara-cara yang tidak syah,
misalnya dengan memalsukan keayahan
Untuk membuktikan adanya tindak pidana perzinahan yang
mengakibatkan lahirnya anak.

C. DARAH KORBAN MATI


Pemeriksaan darah dari korban mati perlu dilakukan guna menentukan :
Golongan darahnya untuk dicocokkan dengan golongan darah yang
menempel pada senjata atau mobil yang dicurigai sebagai penyebab
kematiannya.
Untuk menentukan sebab kematiannya, yaitu dengan memeriksa
adanya zat atau racun yang menyebabkan kematiannya.

Untuk menentukan golongan darah tidak perlu dipilih darah dari tempat-
tempat tertentu, tetapi untuk menentukan adanya alcohol perlu diambil dari
pembuluh darah vena perifer (kalau mungkin vena femoralis). Bila ada
kecurigaan keracunan zat-zat lain perlu diambil darah dari jantung dan dari
vena perifir secara terpisah. Dengan meneliti kadar obat-obatan dari berbagai
tempat akan dapat diperkirakan seberapa jauh tingkat keracunannya.

Kalau mungkin darah yang telah diambil ditempatkan di dalam


refrigerator dengan suhu sekitar 4 derajatcelcius. Penambahan sedikit sodium
fluorida akan mencegah proses enzymatic dari pembusukan. Semakin banyak
darah yang dapat diambil semakin baik, tetapi pemeriksaan berbagai zat
dengan tektik modern sekarang ini tidak memerlukan banyak darah.

SPERMA

Pemeriksaan sperma merupakan bagian yang sangat penting dalam


mengungkapkan kasus tindak pidana seksual sebab pemeriksaan tersebut tidak hanya
dapat membuat terang perkara tersebut, tetpi jug dapat menjelaskan identitas
pelakunya. Mengingat sperma terdiri atas sel spermatozoa dan plasma maka pertama-
tama yang perlu dibuktikan terhadap sesuatu obyek yang diduga sperma adalah
membuktikan secara medic kedua unsure tersebut. Jika benar sperma manusia maka
selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan DNA dengan memanfaatkan sel-sel yang
ditemukan.

A. PEMERIKSAAN SPERMATOZOA
Spesimen basah dapat diambil dari liang senggama dengan ose platina
atau pipet. Jika dengan cara ini tidak ada cairan yang terambil maka perlu
dilakukan penyemprotan dengan cairan fisiologis keadaan liang senggama
(fornix posterior), kemudian cairan tersebut diambil dan dipusingkan
(disentrifusir). Endapannya diteteskan diatas gelas obyek, ditutup dengan
deck-glass dan diperiksa dibawah mikroskop secara langsung atau dicat lebih
dulu dengan Methylen Blue atau Hematoxylin Eosin.
Spesimen kering diambil dari bercak bercak yang telah kering.
Sesudah bercak itu dikerok, ditetesi dengan cairan fisiologis atau asam acetat
glacial. Jika bercak menempel pada pakaian dan sulit dikerok maka bercak
yang masih menempel itu diletakkan diatas gelas obyek dan diatasnya ditetesi
cairan HCL 1% atau asam acetat glacial 0,3%. Sesudah itu dillihat dibawah
mikroskop secara langsung atau dilakukan pengecatan lebih dahulu.
Sebaiknya dilakukan tes skrining lebih dahulu dengan menggunakan
ultraviolet. Hanya bercak yang mengalami fluoresensi saja yang dilakukan
pemeriksaan seperti diatas.
B. PEMERIKSAAN PLASMA SPERMA
Jika pada pemeriksaan tidak ditemukan spermatozoa, tidak berarti
yang diperiksa bukan sperma. Mungkin pemerkosa menderita azoospermia
atau telah menjalani vasektomi sehingga spermatozoa tidak ditemukan. Oleh
sebab itu perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui adanya
unsur-unsur plasma: seperti misalnya acid phosphatase, spermine atau
choline.
1. Pemeriksaan acid phosphatase
Karena zat ini merupakan enzim yang mudah rusak maka pemeriksaan
tersebut harus dilakukan secepatnya. Pemeriksaan dapat dilakukan secara
kualitatif ataupun kunatitatif.
2. Pemeriksaan spermine (Barberic test)
Cairan sperma diletakkan diatas gelas obyek, ditetesi larutan asam jenuh,
ditutup deck glass dan dilihat dibawah mikroskop. Akan terbentuk Kristal-
kristal dari spermine nitrat yang bentuknya kecil-kecil seperti jarum dan
berwarna kuning.
3. Pemeriksaan choline (florens test)
Cairan sperma ditetesi larutan yang terdiri atas campuran 1,65 gram KJ,
2,54 J dan 30 ml aquadest. Dibawah mikroskop akan terlihat Kristal
choline jodida yang bentuknya seperti jarum atau belah ketupat dan
berwarna coklat.
RAMBUT
Rambut, baik rambut kepala atau kelamin, merupakan bagian tubuh manusia
yang dapat memberikan banyak informasi bagi kepentingan peradilan, antara lain
tentang :
Saat korban meninggal dunia
Sebab kematian
Jenis kejahatan
Identitas korban
Identitas pelaku
Benda/senjata yang digunakan
Informasi tersebut diatas diperoleh dengan meneliti sifat-sifat, gambaran
mikroskopik serta perubahan-perubahan yang terjadi akibat trauma atau racun
tertentu.
1. Saat meninggal dunia
Sifat-sifat dari rambut yang dapat dipakai untuk menentukan saat kematian
korban antara lain :
a. Tingkat pertumbuhannya, yaitu sekitar 0,4 mm per hari
Pertumbuhan tersebut akan berhenti jika orang meninggal dunia. Atas
dasar sifat tersebut maka saat kematian dapat diperhitungkan asalkan
diketahui kapan korban terakhir kali mencukur rambutnya.
Memang ada pendapat yang menyatakan bahwa rambut orang yang baru
saja meninggal dunia masih dapat tumbuh dan menjadi lebih panjang,
tetapi sebetulnya bertambah panjangnya rambut tersebut disebabkan oleh
menyusutnya kulit.
b. Lepasnya rambut akibat pembusukan. Jika kematian sudah berlangsung
48-72 jam maka rambut kepala akan muah lepas.
c. Perubahan warna
Perubahan warna rambut juga dapat dipakai untuk memperkirakan saat
kematian. Pada penguburan yang dangkal perubahan warna akan terjadi
sesudah 1-3 bulan, sedang pada penguburan yang dalam sesudah 6-12
bulan.
2. Sebab kematian
Informasi tentang sebab kematian juga dapat diperoleh melalui rambut
mengingat beberapa racun tertentu, terutama racun metalik, disimpan dibagian
tubuh tersebut.
3. Jenis kejahatan
Mengenai jenis kejahatan yang terjadi dapat diperkirakan dengan melihat
macam rambut yang ditemukan. Adanya rambut pubes pada tubuh korban
memberikan dugaan adanya tindak pidana perkosaan atau tindak pidana
seksual lainnya dan adanya rambut binatang pada tubuh manusia atau
sebaliknya juga dapat memberikan perkiraan adanya bestiality.
4. Identitas korban
Rambut memiliki sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan kimia
sehingga dapat dijadikan sarana identifikasi bagi mayat-mayat tak dikenal
yang sudah membusuk. Meskipun tak dapat memberikan identitas personal
tetap, dari rambut paling tidak dapat ditentukan umur, jenis kelamin, ras,
golongan darah dan sebagainya.
5. Identitas pelaku
Rambut juga dapat dipakai sebagai sarana identifikasi guna mengetahui
identitas pelakunya. Sebagaimana diketahui bahwa pada tindak pidana
perkosaan dan pembunuhan, sering ditemukan rambut pelaku tertinggal atau
berhasil dijambak oleh korban sehingga dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan identifikasi.
6. Benda/senjata yang digunakan
Kerusakan pada rambut kadang-kadang menunjukkan cirri-ciri tertentu.
Pukulan dikepaka dapat meninggalkan kerusakan kortikal pada rambut,
sedangkan tembakan senjata api dapat menyebabkan kebakaran pada rambut.
Rambut yang terbakar tersebut akan terlihat, hitam, rapuh, terpilin atau
menjadi keriting dan menimbulkan bau yang khas.
Keadaan pangkal rambut juga dapat dipakai sebagai petunjuk bagaimana
rambut itu lepas. Pada pangkal rambut yang lepas secara alami akan terlihat
atrofi, sedang pada rambut yang dicabut secara paksa akan mengalami
robekan pada sarung rambut dan pada bulbus terlihat tak teratur.
Ditemukannya rambut pada senjata juga dapat member petunjuk tentang
adanya kaitan antara senjata itu dengan kasus pembunuhan dan ditemukannya
rambut pada kendaraan bermotor juga dapat member petunjuk tentang
keterlibatan kendaraan tersebut dlam peristiwa tabrakan.
PEMERIKSAAN RAMBUT
jika ditemukan rambut yang diduga ada kaitannya dengan kejahatan
maka hendaknya rambut tersebut diperiksa dengan teliti untuk mengetahui:
Keasliannya
Rambut manusia atau rambut binatang
Identitas pemilik rambut
Informasi informasi lain yang ada kaitannya dengan kejahatan.
1. Keaslian rambut
Pemeriksaan keaslian rambut perlu dilakukan mengingat adanya berbagai
serat yang bentuk dan warnanya mirip rambut.
Rambut yang utuh biasanya terdiri atas akar, batang dan ujung. Akar rambut
terdiri atas jaringan ikat longgar sedangkan batang rambut terdiri atas
kutikula, kortek dan medulla. Serat yang bukan berasal dari rambut yang
mempunyai susunan seperti itu. Serat sintesis misalnya gambaran
mikroskopiknya terlihat homogeny.
2. Penentuan rambut manusia atau bukan
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa serat itu rambut maka langkah
selanjutnya adalah menentukan apakah rambut tersebut berasal dari manusia
atau hewan.
Ciri rambut manusia yaitu halus dan tipis, kutikula mempunyai sisik kecil dan
bergerigi, medula sempit atau kadang kadang tak ada, kortek tebal, indek
medulla kurang dari 0,3 dan pigmennya lebih kea rah perifer. Sedang cirri
rambut binatang ialah kasar dan tebal, kutikulla mempunyai sisik lebar dan
polihidral, medulla lebar, kortek tipis, index medulla lebih dari 0,5 dan
pigmennya di perifer maupun di sentral.
Dengan tes presipitasi akan dapat dibedakan dengan tepat antara rambut
manusia dan rambut binatang.
3. Identifikasi
Jika sudah dapat dipastikan rambut manusia maka pemeriksaan lanjutan perlu
dilakukan untuk menentukan siapa pemiliknya. Perlu diketahui bahwa rambut
mempunyai sifat tahan terhadap pembusukan dan bahan-bahan kimia
sehingga dapat dijadikan salah satu sarana identifikasi bagi mayat-mayat yang
sudah membusuk. Meskipun tak dapat memberikan identitas personal seperti
halnya sidik jari, tetapi dapat memberikan identitas umum antara lain:
a. Umur
Umur dari pemilik rambut dapat ditentukan dengan memeriksa rambut
tersebut. Rambut lanugo pada bayi yang baru lahir mempunyai sifat halus,
tidak berpigmen, tak bermedulla dengan pola sisik yang lebih seragam.
Perlu dikemukakan bahwa tumbuhnya rambut di berbagai bagian tubuh
berbeda-beda waktunya. Rambut pubis dan rambut ketiak misalnya,
tumbuh pada masa adolesen.
Selain itu warna dari rambut juga dapat dipakai sebagai petunjuk umur
dari pemiliknya. Pada orang-orang tua warna rambut akan berubah
menjadi putih.
b. Jenis kelamin
Melalui berbagai pemeriksaan yang teliti akan dapat ditentukan jenis
kelamin dari pemilik rambut. Rambut laki-laki pada umumnya lebih kaku,
lebih kasar dan lebih gelap. Sedang rambut wanita umumnya halus,
panjang dan meruncing kea rah ujung. Dari distribusinya juga dapat
ditentukan jenis kelaminnya. Rambut jenggot, rambut dada dan kumis
adalah khas rambut laki-laki. Penyebaran rambut pubes antara laki-laki
dan wanita juga menunjukan gambaran yang berbeda. Jika sel-sel akar
rambut kepala masih ada dapat dilakukan pemeriksaan sex chromatin.
c. Ras
Untuk menentukan jenis rasnya dapat dilihat dari warna, panjang, bentuk
dan susunan rambut. Rambut orang eropa misalnya berwarna pirang,
kecoklatan atau kemerahan dan pendek.
d. Golongan darah
Penentuan golongan darah sekarang ini sudah dapat dilakukan dengan
memeriksa sehelai rambut dari bagian tubuh yang manapun melalui sistim
ABO, PGM, EsD ataupun system GLO-I. ciri-ciri dari rambut juga dapat
membantu proses identifikasi, lebih-lebih jika ada rambut
pembandingnya. Warna, bentuk, minyak, cat atau struktur mikroskopik
dari rambut dapat dijadikan bahan pembanding bagi kepentingan
identifikasi.