Anda di halaman 1dari 8

Menyadur pendapat Penman dan Cohen (2003), diungkapkan

bahwa laba tahun berjalan memiliki kualitas yang baik jika laba tersebut

menjadi indikator yang baik untuk laba masa mendatang, atau

berhubungan secara kuat dengan arus kas operasi di masa mendatang

(future operating cash flow). Dengan demikian diharapkan pihak

manajemen perusahaan mengelola dengan baik kebijakan akuntansinya

agar laba yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi sehingga aktivitas

perusahaan dapat berlangsung terus menerus atau berkesinambungan

(sustainable)

Manajer sebagai pihak internal perusahaan lebih banyak memiliki

informasi mengenai kondisi perusahaan dibandingkan pihak eksternal. Hal

ini yang menyebabkan adanya tindakan manajemen perusahaan untuk

melaporkan laba yang tidak menggambarkan kondisi perusahaan yang

sebenarnya (manajemen laba) untuk kepentingan pribadi, misalnya untuk

mendapatkan bonus. Jika hal ini terjadi maka akan mengakibatkan

rendahya kualitas laba. Rendahnya kualitas laba akan membuat

kesalahan pengambilan keputusan bagi para pemakainya seperti investor

dan kreditor.

Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang

kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Laba

dapat dikatakan berkualitas tinggi jika laba yang dilaporkan tersebut dapat

digunakan oleh pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan

2
yang terbaik dan memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan yaitu

relevan dan reliabilitas.


Kualitas laba akan diukur dengan menggunakan earnings response

coefficient (ERC). Rendahnya earnings response coefficients

menunjukkan bahwa laba kurang informatif atau dengan kata lain kurang

berkualitas bagi investor untuk membuat keputusan ekonomi. Jika suatu

pengumuman mengandung informasi, maka pasar akan bereaksi pada

waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi tersebut

ditunjukkan dengan perubahan harga sekuritas yang bersangkutan dan

akan berdampak pada return yang diterima oleh investor. Kualitas laba

yang diproksikan oleh earnings response coefficients akan dijelaskan oleh

beberapa faktor diantaranya investment opportunity set, likuiditas dan

mekanisme good corporate governance.


Alasan penulis memilih ketiga variabel diatas karena penelitian ini

melihat dari sudut pandang investor rasional (risk averse) yang

mempunyai perspektif jangka panjang. Investor yang rasional biasanya

sangat mempertimbangkan risiko dalam berinvestasi terkait dalam hal

kualitas laba suatu perusahaan. Untuk itu investor cenderung akan

melihat perusahaan yang memiliki prospek untuk tumbuh yang cukup

tinggi, likuid dan perusahaan yang menerapkan mekanisme good

corporate governance.
Investment opportunity set (IOS) merupakan keputusan investasi

dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki dan pilihan investasi dimasa

yang akan datang (Kallapur dan Trombley, 2001 dalam Ahcmad 2006).

Investment opportunity set akan diukur dengan menggunakan market to

3
book value of asset ratio. Perusahaan dengan tingkat investment

opportunity set tinggi akan memiliki kemampuan menghasilkan laba yang

lebih tinggi. Sehingga pasar akan memberi respon yang lebih besar

terhadap perusahaan yang mempunyai kesempatan bertumbuh

(investment opportunity set). Tingginya respon pasar terhadap laba

mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki kualitas laba yang baik

(Mulyani et al, 2007).


Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan

dalam membayar utang jangka pendeknya yang jatuh tempo. Likuiditas

akan diukur dengan menggunakan current ratio. Current ratio merupakan

indikator terbaik sampai sejauhmana klaim dari kreditur jangka pendek

telah ditutup oleh aktiva-aktiva yang diharapkan dapat diubah menjadi kas

dengan cukup cepat (Brigham & Houston, 2006). Perusahaan dengan

likuiditas tinggi akan memiliki risiko yang relatif kecil sehingga kreditur

merasa yakin dalam memberikan pinjaman kepada perusahaan dan

investor akan tertarik untuk menginvestasikan dananya ke perusahaan

tersebut karena investor yakin bahwa perusahaan mampu bertahan (tidak

dilikuidasi). Dengan demikian pada saat laba dipublikasikan pasar akan

merespon positif laba tersebut. Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi

laba akan tercermin dari tingginya earnings response coefficients.

Tingginya earnings response coefficients mengindikasikan bahwa laba

suatu perusahaan berkualitas. Itu artinya semakin tinggi current ratio

suatu perusahaan maka semakin berkualitas labanya (Jang et al, 2007).

4
Pandangan teori keagenan di mana terdapat pemisahan antara

pihak agent dan principal yang mengakibatkan munculnya potensi konflik

dapat mempengaruhi kualitas laba yang dilaporkan. Pihak manajemen

yang mempunyai kepentingan tertentu akan cenderung menyusun laporan

laba yang sesuai dengan tujuannya dan bukan demi untuk kepentingan

principal. Dalam kondisi seperti ini diperlukan suatu mekanisme

pengendalian yang dapat menyelaraskan perbedaan kepentingan antara

kedua belah pihak.


Good Corporate Governance merupakan alat yang dapat

menyelaraskan kepentingan yang berbeda antara principal dan agent

sehingga dapat memberi nilai tambah bagi para stakeholder dan

shareholders. Good Corporate Governance mencakup berbagai aspek

seperti keberadaan komite audit, kepemilikan manajerial, kepemilikan

institusional dan proporsi komisaris independen. Aspek-aspek ini

kemudian akan menyelaraskan perbedaan kepentingan antara manajer

dan pemilik sehingga manajer akan mengelola perusahaan dengan

sebaik-baiknya dan menghasilkan laporan keuangan yang lebih baik.

Selain itu, peran monitoring dari struktur kepemilikan dalam penyusunan

laporan keuangan dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih

berkualitas. Laba yang berkualitas dapat membantu pihak internal dan

eksternal dalam mengambil keputusan yang tepat.


Penelitian yang dilakukan oleh Yenny Wulansari (2013)

menyebutkan bahwa Investment Opportunity Set tidak mempunyai

5
pengaruh signifikan terhadap kualitas laba. Sedangkan likuiditas

mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laba.


Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini mengambil judul

Pengaruh Investment Oppurtunity Set, Likuiditas, dan Good

Corporate Governance Terhadap Kualitas Laba Pada Perusahaan

Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode

2010-2014.

B. Identifikasi Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis

mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:


1. Investment Oppurtunity Set dapat mempengaruhi kualitas laba

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


2. Likuiditas dapat mempengaruhi kualitas laba perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


3. Komisaris Independen dapat mempengaruhi kualitas laba

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


4. Kepemilikan Manajerial dapat mempengaruhi kualitas laba

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


5. Investment Oppurtunity Set, likuiditas, komisaris independen,

dan kepemilikan manajerial secara bersama-sama dapat

mempengaruhi kualitas laba perusahaan manufaktur yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis membatasi masalah yang akan diteliti

agar pembahasan masalah yang akan diteliti lebih terarah pada tujuan

penelitian, yaitu:
1. Variabel independen yang akan diteliti dalam penelitian ini

adalah Investment Oppurtunity Set, likuiditas, komisaris


6
independen, dan kepemilikan manajerial pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


2. Variabel dependen yang akan diteliti adalah kualitas laba pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


3. Obyek yang akan diteliti adalah perusahaan manufaktur yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014.

D. Perumusan Masalah
1. Apakah terdapat pengaruh Investment Oppurtunity Set terhadap

kualitas laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia?
2. Apakah terdapat pengaruh likuiditas terhadap kualitas laba

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?


3. Apakah terdapat pengaruh komisaris independen terhadap

kualitas laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia?
4. Apakah terdapat pengaruh kepemilikan manajerial terhadap

kualitas laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia?
5. Apakah terdapat pengaruh Investment Oppurtunity Set,

likuiditas, komisaris independen dan kepemilikan manajerial

secara bersama-sama terhadap kualitas laba perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

E. Tujuan Penelitian
1. Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh signifikan

Investment Oppurtunity Set terhadap kualitas laba perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

7
2. Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh signifikan

likuiditas terhadap kualitas laba perusahaan manufaktur yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


3. Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh signifikan

komisaris independen terhadap kualitas laba perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


4. Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh signifikan

kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


5. Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh signifikan

Investment Oppurtunity Set, likuiditas, komisaris independen,

dan kepemilikan manajerial secara bersama-sama terhadap

kualitas laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia.

F. Manfaat Penelitian
1. Aspek Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah

pengetahuan dan informasi bagi peneliti mengenai Investment

Oppurtunity Set, likuiditas, Good Corporate Governance, serta

kualitas laba. Manfaat bagi pembaca adalah sebagai bahan

masukan bagi pihak-pihak yang ingin memperoleh gambaran dan

informasi mengenai Investment Oppurtunity Set, likuiditas, Good

Corporate Governance, dan kualitas laba. Di samping itu, penelitian

ini diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi pengembangan

ilmu ekonomi sebagai sumber bacaan atau referensi yang dapat

memberikan informasi teoritis dan empiris kepada pihak-pihak yang

8
akan memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan

ini, serta menambah sumber pustaka yang telah ada.

2. Aspek Praktis
a. Bagi Investor dan Kreditor
Dengan adanya penelitian ini, dapat digunakan sebagai

salah satu bahan pertimbangan bagi para investor dalam

mengambil keputusan berinvestasi yang tepat sehingga dapat

menguntungkan bagi pihak investor. Bagi para kreditor dalam

memberikan pinjaman dana. Serta peningkatan kepercayaan

investor dan kreditor untuk menanamkan modalnya.


b. Bagi Manajemen Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak

manajemen perusahaan yang dapat digunakan sebagai masukan

atau dasar untuk meningkatkan kinerja perusahaan yang dapat

dilihat dari rasio keuangan yang baik menunjukkan prospek bagus

bagi perusahaan di masa yang akan datang, yang dapat menarik

investor untuk menanamkan modal di perusahaan sehingga dapat

menambah modal untuk usaha pengembangan perusahaan dan

sebagai bahan dalam pengambilan keputusan.