Anda di halaman 1dari 3

Proses Pembentukan Tanah

Proses pembentukan tanah dapat ditinjau dari beberapa segi berikut:

a. Berdasarkan Bahan Induk Asal Tanah


Batuan yang merupakan bahan induk asal tanah dapat dibedakan
menjadi empat, yaitu sebagai berikut;

1) Batuan Beku
Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah
jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras,
dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai
batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan
ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair
ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi.
Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian
besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.
Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses
berikut:
a. kenaikan temperatur
b. penurunan tekanan, atau perubahan komposisi.

2) Batuan Sedimen
Batuan endapan atau batuan sedimen adalah salah satu dari tiga
kelompok utama batuan (bersama dengan batuan beku dan batuan
metamorfosis) yang terbentuk melalui tiga cara utama:
a. pelapukan batuan lain (clastic);
b. pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik;
c. dan pengendapan (precipitation) dari larutan.
Jenis batuan umum seperti batu kapur, batu pasir, dan lempung,
termasuk dalam batuan endapan. Batuan endapan meliputi 75% dari
permukaan bumi. Batuan ini terdiri atas:
a. batuan endapan tua, merupakan endapan laut yang telah berumur
tua (berjuta-juta tahun). Contoh:
batu gamping (kapur) yang banyak mengandung karang laut.
Batu pasir mengandung pasir kuarsa (SiO2).
b. bahan endapan baru (belum menjadi batu).
Bahan ini diendapkan oleh air dan angin. Bahan yang diendapkan oleh air
terdapat di dataran aluvial atau dataran banjir, sedangkan yang di
endapkan oleh angin terdapat di pesisir pantai, wilayah gunung, dsb.

3) Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah salah satu kelompok utama batuan yang
merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe batuan yang
telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang disebut
metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk". Protolith yang dikenai
panas (lebih besar dari 150Celsius) dan tekanan ekstrim akan
mengalami perubahan fisika atau kimia yang besar. Protolith dapat
berupa batuan sedimen, batuan beku, atau batuan metamorf lain yang
lebih tua. Beberapa contoh batuan metamorf adalah gneis, batu sabak,
batu marmer, dan skist.
Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan
digolongkan berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan mineral
(fasies metamorf). Mereka terbentuk jauh dibawah permukaan bumi oleh
tegasan yang besar dari batuan diatasnya serta tekanan dan suhu tinggi.
Mereka juga terbentuk oleh intrusi batu lebur, disebut magma, ke dalam
batuan padat dan terbentuk terutama pada kontak antara magma dan
batuan yang bersuhu tinggi.

4) Bahan Induk Organis


Tanah-tanah organis atau lahan gambut terdapat di hutan rawa yang
selalu tergenang air.poses penghuncuran bahan organis berjalan lebih
lambat daripada proses penimbunan, sehingga terjadi akumulasi bahan-
bahan organis yang membentuk tanah organis atau lahan gambut.
Contohnya di Kalimantan, bagian timur Sumatra, dan bagian selatan
Papua.

c. Berdasarkan Pedogenesisnya
Berdasarkan proses pedogenesisnya, proses pembentukan tanah dinagi
menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Alih Rupa (tranformasi)


Proses ini berlangsung lama dan disebabkan oleh:
a. pelapukan
b. dekomposisi (perubahan) bahan organis
c. humifikasi (proses perubahan tanah oleh humus)
Semua proses tersebut berperan dalam pembentukan tanah yang berasal
dari bahan induk mineral dan organis. Proses ini berjalan secara
bertahap sehingga menimbulkan perbadaan horizon tanah yang nyata.
Contohnya adalah penimbunak humus di permukaan tanah dan
pewarnaan tanah akibat pelepasan besi di bawah permukaan tanah.

2) Alih Tempat (translokasi)


Proses ini berhubungan dengan pergantian dan pencampuran di dalam
tubuh tanah sehingga menghasilkan perkembangan profil tanah.
Penyebab utamanya adalah:
a. perkolasi (resapan air kedalam tanah).
b. erosi.
c. evapotranspirasi (gabungan penguapan air melalui tubuh air dan
tumbuh-tumbuhan).
d. stagnasi air (diamnya air pada pori-pori tanah atau celah-celah
tertentu dalam tanah).
e. Aktivitas manusia dan fauna tanah.
Translokasi menunjukan adanya perpindahan dengan jarak yang lebih
panjang (mm sampai m). Contoh: perpindahan mineral lempung; garam
alkali bersama air perkolasi; perpindahan senyawa humik dalam bentuk
senyawa terlarut; dan erosi tanah karena gerakan air di permukaan
tanah.

c. Berdasarkan Proses Pelapukan


Berdasarkan proses pelapukannya, proses pembentukan tanah dibagi
menjadi 3:
1. pelapukan fisis
Pelapukan fisis merupakan proses mekanik yang menyebabkan
batuan hancur menjadi partikel kecil tanpa ada perubahan
kimiawi. Proses ini terjadi karna adanya perubahan suhu yang
drastis, air hujan, akar pohon, dan aktivitas makhluk hidup.
Akibatnya batuan hancur dan berubah menjadi tanah. Contohnya
adalah tanah vulkanis dan tanah podsolik.
2. pelapukan kimia
Pelapukan kimia adalah proses perubahan komposisi kimiawi dan
mineral penyusun fragmen batuan. Contohnya adalah masuknya
air hujan yang mengandung unsur-unsur kimia ke dalam batu
kapur yang menyebabkan terbentuk celah-celah batu kapur.
3. pelapukan biologis
Pelapukan biologis adalah pelapukan yang disebabkan oleh
makhluk hidup. Penghancuran batuan disebabkan oleh akar
tanaman yang menembus batuan, serta hewan seperti rayap dan
cacing tanah. Akibatnya batuan berubah menjadi tanah.