Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH TEORI RADIOLOGI II

Dosen Pengampu: Agus Komarudin., ST., MT

Disusun Oleh :

Disusun Oleh:

IMAM SETIAWAN P2.31.38.1.14.042


IRFAN SANDI SAPUTRO P2.31.38.1.14.046
JEFIZAL PUTRA P2.31.38.1.14.049

Kelas: C1

JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES
JAKARTA II
2O17

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat, hidayah dan karunia-
Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul PESAWAT C-
ARM, yang mana makalah ini kami susun yang bertujuan untuk memenuhi tugas dari Bapak
Agus Komarudin, ST. M.T dalam menempuh pendidikan di Politeknik Kesehatan Jakarta II
jurusan Teknik Elektromedik.

Adapun penyusunan tugas ini sebagai materi serta bukti bahwa adanya mata kuliah Teori
Radiologi Lanjut III. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyajian data dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran, yang
membangun dari semua pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini, berguna
dan dapat menambah pengetahuan para pembaca.

Demikianlah makalah ini disusun apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dan banyak
dapat kekurangan, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Jakarta, 25 Mei 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................. 3
A. Latar Belakang ........................................................................................................................ 3
B. Rumusan Masalah .................................................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................. 4


A. Pengertian C-Arm ................................................................................................................. 4
B. Bagian dan fungsi komponen pada C-Arm ........................................................................ 5

C. Digital Imaging And Communications In Medicine (DICOM) .................................... 22

D. Perbedaan Pesawat C-arm Stationary dengan Pesawat Mobile C-arm ........................ 30

BAB III PENUTUP ......................................................................................................................... 37


A. Kesimpulan ........................................................................................................................... 37
B. Saran ....................................................................................................................................... 37

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 38

BAB I
3
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Fluoroskopi adalah cara pemeriksaan yang menggunakan sifat tembus sinar rotngen dan
suatu tabir yang bersifat luminisensibila terkena sinar tersebut. Fluoroskopi terutama
diperlukan untuk menyelidiki fungsi serta pergerakan suatu organ atau sistem tubuh seperti
dinamika alat peredaran darah, misalnya jantung, dan pembuluh darah besar, serta pernafasan
berupa pergerakan diafragma dan aerasi paru-paru. (Sjahriar Rasad, 1998).

Fluoroskopi dapat memberikan diagnosa aktif selama jalannya pemeriksaan. Oleh karena
itu pemeriksaan fluoroskopi secara primer dilakukan oleh Dokter Radiologi. Peran Radiografer
sebagai mitra selama pemeriksaan, termasuk di dalam pengambilan gambar radiografi setelah
pemeriksaan fluoroskopi usai. Pemeriksaan fluoroskopi umumnya digunakan untuk
mengevaluasi dan mengobservasi fungsi fisiologis tubuh yang bergerak, seperti proses
menelan, jalannya barium didalam traktus digestivus, penyuntikan zat kontras pada sistem
biliari, dan lain-lain. (Richard R.C, dan Arlene M. 1992;553).

B. Rumusan masalah

Adapun alat fluoroskopi modern sekarang ini terdiri dari tube sinar-X fluoroskopi dan
penerima gambar (Image Receptor) yang berada pada alat C-Arm (Alat yang berbentuk seperti
huruf C) agar tetap pada posisi yang tegak lurus walupun keduanya bergerak atau berotasi.Ada
dua jenis desain tube sinar-X fluoroskopi, yaitu yang berada dibawah meja pemeriksaan dan
yang berada diatas meja pemeriksaan tepatnya diatas tubuh pasien. Namun kebanyakan
pesawat fluoroskopi menggunakan desain under table unit (tube yang berada di bawah meja
pemeriksaan).

Tube sinar-X fluoroskopi sangat mirip desainnya dengan tube diagnostik konvensional
kecuali bahwa tube sinar-X fluoroskopi dirancang untuk dapat mengeluarkan sinar-X lebih
lama daripada tube diagnostik konvensional dengan mA yang jauh lebih kecil. Dimana tipe
tube diagnostik konvensional memiliki range mA antara 50-1200 mA sedangkan range mA
pada tube sinar-X fluoroskopi antara 0,5-5,0 mA.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian C-ARM

Merupakan salah satu alat radiologi yang digunakan untuk mengetahui citra organ dalam
atau obyek dari pasien yang akan dilihat langsung dengan metode fluoroscopy dengan bantuan
layar monitor. Berfungsi untuk menunjang proses pelayanan medis pada penanganan penyakit
organ dalam, tulang, dan tindakan operasi.

C-Arm dapat digunakan sebagai penunjang medis untuk bedah ortopedi, bedah
laparoskopi, dan bedah syaraf. Dengan menggunakan alat tersebut, letak citra organ atau obyek
dari pasien yang berada di dalam tubuh dengan mudah dapat dideteksi, bahkan dapat dilihat
langsung secara real time.

5
B. Bagian dan fungsi komponen pada C-Arm

X-Ray Generator
a) Control Table
b) Single Tank
c) X-ray Tube
X-Ray Apparatus
1. Menggunakan Image Intensifier
a) Image Intesifier
b) Camera Pick Up Tube
c) Collimator
d) TV Monitor
e) ADR ( Automatic Dose Rate Control )
f) Patient table

6
2. Menggunakan Flat Panel Detector

a) Flat Panel Detector (FPD)


b) Collimator
c) TV Monitor
d) ADR ( Automatic Dose Rate Control
e) Patient table

X-Ray Generator

X-Ray generator adalah alat atau pesawat atau disebut pesawat rontgen, berfungsi untuk
membangkitkan sinar-x. X-Ray generator tersebut terdiri dari bagian-bagian yaitu control table,
HTT tank dan x-ray tube. Semua bagian-bagian itu dibuat untuk memenuhi persyaratan
terbangkitnya sinar-x dan untuk mengendalikan atau mengatur sinar-x sesuai kebutuhan untuk
membuat penyinaran.

a) Control Table

Control table adalah suatu bagian dari pesawat rontgen yang mana didalam control table
tersebut terdapat pengaturan pengaturan untuk mengatur sinar-x yang akan dibangkitkan.

Control, Display and Indicator : Mobile view station berfungsi untuk mengontrol semua
fungsi yang digunakan untuk mengatur data pasien, penyinaran dan hasil gambar. Pada bagian ini
terdapat keyboard dan beberapa tombol Steering : Merupakan komponen yang digunakan untuk
mengendalikan mobile view station saat digerakan ke ruangan
7
b) Single Tank

Single Tank adalah Jenis dari HTT Tank, yang mana merupakan bagian dari pesawat
rontgen yang posisi tempat atau letaknya berada di dalam satu chasing atau satu tempat didalam
control table / control unit, yang berfungsi untuk membangkitkan tegangan tinggi yang bisa
menghasilkan sinar X.

c) X-Ray Tube

X-Ray tube adalah alat yang digunakan sebagai sumber pembangkit sinar-x. X-Ray tube
mendapat tegangan tinggi pada anode, sedangkan katode dari tegangan filamen dari HTT. Ada 2
buat X-Ray tube, yaitu :

Overtable tube, yang letaknya diatas dipasang pada tiang X-Ray tube.
Undertable tube, letaknya dibawah meja pasien yang fungsinya untuk fluoroscopy dan
photo seri menggunakan explorator.

Terdapat Two different types:

Stationary Anode: focus: 0.6, power output: 1,4 kW


Rotating Anode: dual focus: 0.3 / 0.5 power output: 10/20 kW for different applications

8
X-RAY APPARATUS

a) Image Intesifier

Image Intensifier adalah suatu alat yang digunakan untuk merubah Sinar-X menjadi Cahaya
Tampak dimana berkas-berkas cahaya tersebut diproses sedemikian rupa menjadi Berkas Cahaya
yang lebih tajam ( berkualitas baik ). Image Intensifier dilengkapi dengan beberapa komponen,
yaitu input phosper ( input screen ), photo cathode, tiga buah metal yang merupakan 3 elektroda
( electron optic ) berbentuk ring dan output phosper ( output screen ). Yang perlu kita ketahui
adalah penguatan ketajaman gambar pada output phosphor ( output screen ) adalah sebanyak 1000
kali dari cahaya masukannya.

Bagian Bagian Image Intensifier :

Gambar 2. 1 Komponen Yang Berada Pada Image Intensifier

9
Input Screen

Gambar 2. 2 Input Screen

Pada pemotretan pesawat rontgen dengan menggunakan tabung image intensifier, diameter
bidang input screen lebih besar dibandingkan dengan diameter objek yang diselidiki, seperti pada
gambar 1.7 ( Input Screen ).

Bila kita menemukan spesifikasi pada Image Intensifier seperti Type RBW 25/15, dengan
perbandingan input screen dengan output screen = 13, 3 : 1 lalu diameter bidang output screennya
adalah 18, 8 mm ( 1, 88 cm ), maka ini berarti suatu tabung image intensifier dapat mengubah
gambar input screen dengan ukuran 25 cm menjadi 15 cm atau sebaliknya. Lalu dari spesifikasi
tersebut juga kita dapat mengetahui bahwa diameter input screen adalah 13, 3 x 18, 8 = 250 mm
atau sebesar 25 cm. Dengan demikian perbandingan diameter input screen sangat tepat menurut
perbandingan antara bidang input screen dan bidang output screen.

Input screen ini merupakan suatu yang terbuat dari bahan fluorescent / crystals iodide ( CsI
) yang mempunyai sifat memendarkan cahaya apabila terkena radiasi sinar-X. sehingga input
screen berfungsi sebagai pengubah sinar x menjadi cahaya tampak.

Besar bayangan objek ( s1 ) yang dihasilkan pada input screen sesuai rumus {s1 = s ( d1/d
)}. Sedangkan untuk besarnya magnifikasi ( M ) bayangan adalah {M = ( s1/s )}.

10
Disamping itu pula besarnya ukuran bayangan objek yang di peroleh pada tabung image
intensifier tergantung dari :
Penyimpangan radiasi
Jarak antara objek dengan input screen tabung image intensifier
Ukuran objek asalnya harus lebih kecil dari ukuran bidang input screen tabung image
intensifier.
Photo Cathode ( Foto Katoda )

Photo Cathode adalah suatu penyusun Image Intensifier yang berfungsi untuk merubah
cahaya tampak menjadi elektron

Electron Optic

Gambar 2. 3 Electron Optic

Electron optic terbagi menjadi 3 bagian, yang pertama adalah electron optic 1, electron optic
2, lalu electron optic 3. Masing masing dari electron optic ini memiliki fungsi yang berbeda beda.
Fungsi dari masing masing electron optic tersebut antara lain adalah :

Electron Optic 1 = Mempercepat Electron


Electron Optic 2 = Memfokuskan Electron
Electron Optic 3 = Memayarkan Electron agar sesuai dgn Ouput Screen

Yang dimaksudkan dengan memfokuskan electron ialah mengkonsentrasikan bidang cahaya yang

11
lebar dan redup menjadi satu titik kecil tajam dan cerah. Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan
memanfaatkan medan listrik atau medan magnet.

Bila kita analogikan terhadap cara kerja tabung gambar televisi yang memanfaatkan medan
listrik untuk memfokuskan electron, maka cara kerjanya adalah sebagai berikut :

Gambar 2. 4 Cara Kerja Pemfokusan Electron

Dua elektroda yang berbentuk cincin mempunyai potensial positif terhadap katoda, tetapi
potensial di F2 lebih tinggi daripada potensial F1. Oleh karena adanya perbedaan potensial antara
F2 dan F1 maka diantara kedua cincin itupun terdapat medan listrik yang garis-garis gayanya
melengkung diantara keduanya. Satu electron yang keluar dari katoda akan memasuki medan
listrik itu, kemudian oleh medan listrik electron tersebut diarahkan ke bawah terhadap poros
horizontal. Elektron itupun melanjutkan lajunya dengan arah condong ke bawah sampai bertemu
dengan medan listrik yang membelokkannya kembali ke atas. Disini electron tertarik sedikit ke
atas, tetapi gaya yang menarik ke atas ini tidak akan membawa electron menuju ke atas ( tidak
meninggalkan sama sekali poros horizontal ), sebab laju electron sudah semakin kuat oleh tarikan
anoda, jadi pengaruh dari bagian medan listrik yang kedua ini tidak akan besar. Dengan demikian
elektronpun melaju terus menuju anoda searah dengan poros horizontal. Elektron-elektron lain
akan mendapat perlakuan yang sama sehingga pada akhirnya elektron-elektron akan bertemu pada
satu titik. Dengan cara inilah pemfokusan electron dapat terjadi.

Titik dimana elektron-elektron bertemu ditentukan oleh kecepatan electron dan kuat medan
listrik diantara F1 dan F2. Adapun tentang kecepatan electron ditentukan oleh perbedaan tegangan
yang ada diantara anoda dan katoda. Tegangan ini sudah dibuat stabil dan ditetapkan sangat tinggi
oleh karena itu tegangan antara F1 dan F2 harus variabel guna memperoleh pekerjaan pemfokusan
yang diharapkan. Susunan elektroda-elektroda F1 dan F2 dinamai lensa elektrostatik ( electron

12
optic ) karena elektroda-elektroda itu memfokuskan berkas electron seperti halnya lensa optic
memfokuskan berkas cahaya.

Output Screen

Gambar 2.5 Output Screen / Ouput Phospor

Output screen merupakan bagian akhir yang berada pada image intensifier, dengan begitu
fungsi daripada Output Screen ini adalah merubah electron yang sudah di fokuskan dan di
payarkan sesuai ukuran ouput screen mennjadi cahaya tampak. Bahan yang membuat outputscreen
bisa merubah electron menjadi cahaya tampak salah satunya adalah Zinc Cadmium Sulfide.

13
b) Camera Pick Up Tube

Filament pada katoda mendapatkan tegangan sehingga terjadi thermionic emission (


pelepasan electron dari inti atomnya ) yang menyebabkan awan electron berkumpul di katoda,
seperti dalam tabung Sinar-X. Tegangan pemanas adalah 6, 3 v pada 95 mA.
Kisi G1 di sebelah katoda berfungsi untuk mengontrol muatan electron yang telah tercipta
oleh filament. Kisi G1 memiliki tegangan sebesar 30 Volt dengan acuan terhadap katoda yang
ditanahkan. Tegangan bias ini mengontrol kerapatan electron, atau jumlah arus berkas. Tegangan
bias G1 disetting oleh pengatur berkas. Setelah electron di control, maka elektron - elektron dari
katoda ditarik ke sasaran oleh kisi pemercepat positif G2 yang memiliki tegangan 300V.
Keduanya, G1 dan G2 merupakan silinder - silinder logam kecil yang terdiri dari sebuah celah (
aperture ) dimana berkas electron dapat melewatinya.
Setelah dipercepat oleh G2, elektron elektron akan di fokuskan oleh kisi G3 yang memiliki
tegangan 260 Volt. Berikutnya adalah kisi G4 yang berdekatan dengan plat sasaran. Potensial G4
adalah 400 v berkenaan terhadap katoda
Sehingga dari kedua bagian camera yang telah dijelaskan diatas ( Face Plate, Sodium Anti
Mony ( Outside Zenc ) Dan Pick Up Tube ) dapat kita ketahui bahwa cara kerja secara keseluruhan
dari camera ini adalah :

14
a) Didalam tabung camera terjadi proses pemayaran / scanning :
1. Mula-mula filament mendapat pemanasan sehingga terjadi thermionic emission.
Elektron-elektron yang dihasilkan akan ditarik ke bidang sasaran bagian dalam face
plate yang dilengkapi bahan peka cahaya terbuat dari trisulfida antimoni.
2. Sebelum sampai sasaran, elektron-elektron dikontrol oleh G1, dipercepat G2 dan
difocuskan oleh G3 menjadi berkas titik yang disebut electron gun.
3. Elektron gun ini akan menyapu seluruh permukaan bidang sasaran yang digerakkan
oleh rangkaian horizontal deflection dan rangkaian vertical deflection.
4. Pada sekeliling bidang sasaran dilengkapi dengan kisi G4 yang merupakan piringan
mata jala halus dengan potensial 400 volt terhadap filamen katodanya.
5. Tetapi karena sasaran diberi tegangan rendah ( 50 volt ) maka saat electron gun akan
mendarat ke bidang sasaran terjadi pengereman sehingga akan mengurangi terjadinya
radiasi hambur ( secondary electron yang menyebabkan noise ) dan mendarat dengan
sudut yang tegak lurus pada semua titik permukaan.

b) Trisulfida antimoni yang sifatnya peka cahaya ini merupakan lapisan foto konduktif.
Tahanannya akan berkurang sesuai dengan pertambahan cahaya yang diterima dari image
intensifier. Saat melaksanakan ekspose tentu hasil cahaya yang keluar dari image intensifier
tidak merata ( karena ada perbedaan nomer atom pada tubuh ) jadi ada cahaya yang sangat
tajam atau cahaya yang lemah, saat cahaya yang intensitasnya berbeda itu terkena bahan
trisulfida antimony maka akan ada bagian yang sangat konduktif dan ada pula yang tidak. Saat
itu pula terjadi scanning oleh electron gun ( sudah dijelaskan di point a ), dengan kata lain
cahaya yang datang akan dirubah menjadi sinyal listrik / sinyal video.
c) Cahaya yang telah dirubah menjadi sinyal listrik ini akan diteruskan ke control unit / central
tv untuk diolah ( di perkuat ) menjadi sinyal video dan diproses untuk di jadikan sinyal gambar
pada TV Monitor.

15
c) Collimator
Collimator adalah suatu x-ray apparatus dari pesawat rontgen c-arm yang berfungsi
untuk menentukan luas area penyinaran sinar x.

d) TV Monitor
TV Monitor atau yang biasa disebut Television Monitor adalah suatu peralatan dari
CCTV yang berfungsi untuk merubah sinyal listrik / sinyal video ( dari kamera )
menjadi sinyal gambar ( menampilkan gambar ). Sehingga dengan adanya monitor
operator dapat melihat bagian tubuh yang sedang dilakukan proses fluoroscopy.

e) ADR ( Automatic Dose Rate Control )


Rangkaian ADR merupakan suatu rangkaian yang berfungsi untuk mengubah dosis
radiasi Sinar-X kepada pasien secara otomatis. Pengubahan dosis ini dikerjakan
dengan mengatur kV dengan motor pada kV Selector.
Pada saat kita akan melaksanakan fluoroscopy dan photo seri, maka diawal
pengoperasian alat dilakukan pengaturan besarnya kV dan mAS yang diperlukan.

f) Patient table
Patient table merupakan x-ray apparatus yang digunakan untuk menematkan pasien,
pada patient table ini sangat flexible, posisi pasien disesuaikan dengan kebutuhan
pada saat pemeriksaan dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamana untuk
pasien maupun dokter.

16
g) Flat panel detector

Berkas Sinar-X yang diproduksi oleh X-Ray Tube mengenaik objek tubuh manusia, beberapa
berkas keluar menembus organ manusia lalu masuk ke Scintillation Layer, Scintillation Layer
ini terbuat dari bahan Cesium-Iodide ( CsI ). Disini berkas Sinar-X diserap oleh Scintillation
Layer ( berbentuk Kristal ) sehingga menghasilkan kilatan-kilatan cahaya tampak, jumlah kilatan
cahaya tersebut tergantung dari energi yang diserap oleh Scintillation Layer.
Kuantitas cahaya tampak tersebut dilanjutkan masuk ke photodiodes ( dioda cahaya ), sehingga
terjadi pengkonversian dari cahaya tampak menjadi arus listrik. Arus listrik ini berkisar 0
sampai dengan 0, 2 micro ampere. Arus inilah yang kemudian diukur dan diproses pada
sistem elektronika aquisisi data. Sambungan antara scintillation layer dan dioda cahaya
merupakan sambungan khusus yang di diesign khusus agar tidak ada cahaya yang keluar dan
tidak ada cahaya dari diluar yang masuk sehingga bisa berubah menjadi arus listrik. Dioda
cahaya ini sendiri disolder di atas PCB ya n g langsung menuju sistem aquisisi data,
keseluruhan matrik detector ini diletakkan dalam ruangan yang tahan cahaya. Alat ini mampu
mempertahankan efesiensi sampai 90 %.
Dioda cahaya memiliki dua kategori umur berdasarkan material penyusun kristal, yaitu
crystalline dan keramik buatan. Keduanya sangat sensitive terhadap keadaan temperatur dan
tekanan udara. Siemens telah memproduksi kristal sendiri dan telah dipatenkan yaitu UFC ( Ultra

17
Fast Ceramic ). Secara fungsi Flat Panel Detektor ( FPD ) sarna dengan Image Intensifier hanya
perbedaan di teknologi pcmbuatannya lebih sederhana

I. Bagian Bagian Flat Panel Detector

Gbr. Arsitektur Bagian Dalam Flat Panel Detektor

Menurut fungsinya Flat Panel Detektor terdiri dari tiga bagian yaitu :

a. Input Screen ( Scintilator )

Berfungsi untuk merubah Sinar-X menjadi kilatan kilatan cahaya tampak. Scintillator ini
terbuat dari Cesium Iodide ( Csl ). Bagian ini fungsinya sama saja seperti Image Intensifier,
yang membedakan adalah teknologi dan bentuknya yang datar seperti plat berukuran 20x20
Cm. Bagian ini hanya terdiri dari dua lapisan yaitu :

1) Carrier yang berfungsi untuk mengarahkan Sinar-X ke layar pendar ( Flourosent screen ).
Bahan mi merupakan lapisan alumunium dengan ketebalan 0.4 mm, bentuknya seperti cermin
sehingga bisa memantulkan cahaya seperti reflektor.

2) Flourosent Screen vang berfungsi untuk menyerap Sinar-X lalu merubahnya menjadi
kilatan-kilatan cahaya ( Scintilation ) namun cahaya ini sangat lemah. Bahan ini terbuat dari
cecium idode ( Csl ).

18
b. Detektor / Pixel Matrix / Photodiode Matrix

Gbr. Arsitektur Bagian Dalam Flat Panel Detektor

1) Layout Detektor Matrix / Pixel Matrix / Photodiode Matrix

Bagian ini merupakan barisan dioda cahaya ( photo diode ) yang disusun berurutan berbentuk
matrik ( pixel ), dioda cahaya ini berfungsi sebagai pendeteksi dan penerima kilatan-kilatan
cahaya yang dihasilkan dari kristal scintillation lalu diubah menjadi besaran listrik. Photo dioda
ini dirangkai langsung dengan Thin Film Transistor dan disolder pada PCB secara rapat.

Gbr. Rangkaian Photodiode

19
Gbr. Letak Photodiode dengan TFT Switch

Flat Panel Detektor yang memiliki ukuran 20 x 20 cm terdapat 1080 x 1080 pixel. Setiap
pixelnya berukuran 184 jim ( mikrometer ). Disetiap pixel terdapat photo dioda sebagai
detektor, kapasitor sebagai penyimpan muatan dan Thin Film Transistor sebagai switching.
Dari rangkaian ini akan menghasilkan besaran listrik yang sangat lemah sehingga diperlukan
penguatan.

2) Prinsip Kerja Rangkaian Detektor Matrik

Karena pada Flat Panel detektor terdiri dari 1080 x 1080 pixel yang berarti memiliki 1.166.400
pixel ( 1, 166-1 Mega Pixel ), maka diperlukan 1.166.400 jalur data. Rangkaian ini dilengkapi
dengan Multiplexer ( Mapik ) dimana 1 Mapik ini bisa mewakili 120 pixel, sehingga untuk
pengiriman data tadi dibuat secara serial melalui jalur serat optik. Gambar di bawah im
merupakan pengganti 120 pixel multiplexer ke suatu ADC.

20
Gbr. Rangkaian photodiode matrix

Saat Kristal Scintilation mengeluarkan kilatan cahaya, maka cahaya tersebut akan mengenai
potodioda. Photodioda akan mengkonversikan cahaya tersebut menjadi arus listrik yang sangat
lemah kisaran 0, 2 A, arus listrik tersebut akan mengisi capasitor. Setelah kapasitor bermuatan
listrik, maka thin film transistor ( sebagai switching ) akan aktif dan meneruskan arus listrik,
sehingga arus akan mengalir ke rangkaian operasi amplifier ( sebagai penguat ). Dan output
operasi amplifier mengeluarkan listrik atau sinyal analog yang berbetuk tegangan dalam satuan
volt.

Tegangan analog akan diterima oleh rangkaian multiplexer dan di dim secara berurutan
kemudian dikuatkan kembali dengan rangkaian gain, setelah itu dikonversikan menjadi sinyal-
sinyal digital oleh rangkaian ADC ( Analog to Digital Converter ), data-data digital ini akan
ditransfer melalui jalur serat optik ke rangkaian acquisition sub system.

c. Read Out Board

Berfungsi untuk memperkuat besaran listrik yang dihasilkan detektor matrik ( photodiode
matrix ) lalu merubahnya menjadi pulsa-pulsa digital lalu ditransfer sebagai data ke komputer.
Rangkaian read out merupakan kesatuan pada rangkaian layout detektor yang terdiri dari tiga
bagian yaitu :

1) Rangkaian penguat ( Integrator ), untuk menguatkan besaran listrik yang dihasilkan dari
detektor .

21
2) Rangkaian Multiplexer untuk memilih input masukan dari integrator mewakili 120 pixel
yang akan diterusakan kebagian keluaran.

3) Rangkain Gain untuk menguatkan kembali tegangan.

4) Rangkaian conversi dari analog ke digital ADC ( Analog Digital Converter ).

5) Sambungan serat optik ( Optical Fiber Channel ) yang disebut dengan gigalink, untuk
transfer data ke DIPP ( Digital Image Pre Prossesing ) yang berada pada bagian RTC ( Real
Time Control ).

Gbr. Rangkaian read out

Prinsip Kerja Read Out

Sinyal listrik yang dihasilkan oleh detektor matrik akan masuk ke input rangkaian Integrator
untuk dikuatkan oleh Op-Amp, kemudian setiap 120 pixel akan melewati rangkaian
multiplexer yang merupakan rangkaian elektronika dimana bisa memilih masukan untuk
diteruskan kebagian pengeluaran. Pemilihan input mana yang akan dipilh akan ditentukan oleh
sinyal yang ada di bagian kontrol pada rangkaian tersebut. Dari keluaran multiplexer akan
dikuatkan kembali oleh rangkaian gain, kemudian akan dirubah menjadi data digital oleh
rangkaian ADC. Sinyal-sinyal inilah yang akan ditransfer lewat saluran serat optic.

22
3. Digital Imaging And Communications In Medicine (DICOM)

PENGERTIAN

Digital Imaging and Communications in Medicine (DICOM) adalah standar teknologi informasi
global pertukaran data digital yang digunakan oleh Rumah Sakit di dunia (ISO 12052). Struktur
saat ini dibangun sejak tahun 1993, didesain untuk memastikan interoperabilitas sistem yang
digunakan untuk menghasilkan, menyimpan, menampilkan, dan mengirimkan informasi dalam
pencitraan medis. Standar ini banyak diimplementasikan pada gambar citra radiologi.
(Association 2011).

Menurut Yogianto (Yogianto 2011), DICOM adalah standar industri untuk radiologis transferral
dari gambar dan informasi medis lainnya antara komputer, sehingga dapat memberi kemudahan
untuk pengarsipan citra medis.

Menurut Huang (Huang 2010) Format data DICOM terdiri dari dua jenis, yaitu Model of Real
World dan format file DICOM. DICOM Model of the Real World digunakan untuk
mendefinisikan struktur data hirarki yang berasal dari pasien, studi, seri, dan citra serta
waveform (gelombang). Format file DICOM menjelaskan cara enkapsulasi file DICOM yang
sudah siap untuk layanan DICOM SOP. Bertujuan agar pengguna sebuah file yang tersimpan
tidak dapat mengganti keadaan data dengan cara yang tidak layak, hanya metode dalam file
tersebut yang diberi izin untuk mengakses keadaannya.

Pertukaran Pesan

DICOM menggunakan standar komunikasi jaringan yang ada berdasarkan International


Standards Organization Open Systems Interconnection (ISO-OSI) untuk transmisi informasi
pencitraan. Ketika terjadi komunikasi antara dua perangkat, biasa disebut kedua perangkat
tersebut berada dalam asosiasi menggunakan DICOM. Setelah menggunakan pola sistem
terbuka Interconnection of International Standar Organization, DICOM memungkinkan
komunikasi digital antara peralatan diagnostik dan terapeutik dan sistem dari berbagai produsen.
Dengan standar internasional ini, para vendor dan para praktisi medis akan lebih mudah dalam
melakukan pertukaran informasi medis tanpa mengalami kendala bahasa.

Security Profiles

23
DICOM Security Mechanisms adalah upaya DICOM dalam menjaga keamanan komunikasi data
digital. Terdapat pengaturan pengaksesan dan pengaturan hak dalam perlindungan data oleh
software aplikasi menggunakan password, tanda tangan digital, maupun finger print (biometric).
Pabrik CT dan MRI seperti GE Medical System dan Siemens sudah melengkapi alat dengan
aspek keamanan standar DICOM. Ada suatu mekanisme pemeriksaan dan pencatatan untuk
mencatat siapa saja yang bisa mengakses data. The Electronic Signature adalah upaya
pengamanan data yang bisa diakses oleh banyak pihak melalui internet namun tidak bisa
dimanipulasi atau diubah karena sudah diatur menggunakan kode algoritma tertentu.(Schtze et
al. 2004)

Sistem Pengarsipan dan Penyimpanan Data

PACS ( Picture archieving of communication system)

Picture Archieving and Communication System (PACS) merupakan salah satu unsur Radiologi
Information System. Keberadaan PACS sangat membantu di Radiologi terutama dalam hal
pengarsipan data, baik data gambar maupun laporan hasil pembacaan data digital pasien. PACS
memiliki tiga subsistem dari sistem gambar digital (pencitraan) medis (Kao et al. 2010): 1)
menerima citra, 2) mengarsipkan citra, dan 3) menampilkan citra. Tiga subsistem ini melalui
suatu standar antar muka yang dihubungkan melalui jaringan komputer. Peran DICOM adalah
menampilkan citra yang sudah memiliki format yang seragam sehingga memberi kemudahan
dalam komunikasi antarmuka.

24
Ada beberapa komponen yang mendukung PACS, antara lain:

1. Data dan Gateway Akuisisi Citra

Komputer yang memakai gateway akuisisi memiliki tiga tugas pokok, yaitu membutuhkan data
citra dari peralatan radiologi, kemudian merubah data yang berasal dari peralatan radiologi yang
merupakan standar manufaktur menjadi standar PACS (header format, byte ordering, matrix
sizes) yang masih berhubungan dengan format data DICOM, serta mengirimkan image study ke
pengontrol atau tampilan stasiun kerja PACS.

2. Pengontrol dan arsip PACS

Proses pemeriksaan citra yang berhubungan dengan informasi pasien dari komputer gateway
akuisisi, beserta segala informasi yang berasal dari HIS dan RIS dalam sebuah rumah sakit
dikirim ke pengontrol PACS. Pengontrol PACS sendiri berupa komputer server atau komputer
yang spesifikasinya tinggi.

3. Tampilan Stasiun Kerja

Fasilitas sebuah stasiun kerja termasuk komunikasi koneksi jaringan, basis data local, tampilan,
resource management, dan processing software.

4. Aplikasi Server

Server aplikasi terhubung dengan server pengontrol dan arsip PACS. Melalui aplikasi tersebut,
data di dalam PACS dapat difilter sesuai dengan kebutuhan untuk aplikasi yang berbeda, sebagai
contoh untuk Web-Based image viewing.

5. Sistem Jaringan

Fungsi dasar dari sebuah jaringan komputer adalah mempermudah jalur akses dari user satu ke
user lain, dalam hal ini radiologis dan dokter, pada satu lokasi ke lokasi yang lain untuk
memperoleh suatu informasi dan citra medis. Protokol jaringan yang digunakan harus standar,
seperti TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol) dan protokol komunikasi
DICOM.

RIS (Radiology Information System)

25
RIS dirancang untuk mendukung baik operasi administratif dan klinis dari departemen radiologi.
Tugas utama dari sistem meliputi :

Proses pasien dan arsip folder film

Monitor status pasien, pemeriksaan, dan sumber daya pemeriksaan.

Jadwal pemeriksaan

Membuat, membentuk, dan menyimpan laporan diagnostik dengan tanda tangan digital.

Pelacakan folder film.

Mengurus informasi penagihan yang tepat waktu.

Melakukan analisis profil dan statistik.

Keberhasilan PACS membutuhkan keberadaan RIS untuk memberi umpan informasi pada PACS
tentang informasi pasien dan pemeriksaan, serta untuk dapat melacak keseluruhan siklus hidup
pemeriksaan pasien, dari awal pemesanan sampai hasil akhir.

Alur Kerja PACS

1. Pasien terdaftar dalam basis data HIS dari sebuah rumah sakit. Bagian Radiology memeriksa
data yang telah ada di RIS.

2. Data keluaran dari RIS dikirim ke PACS broker/interface.

3. PACS broker memberikan catatan kepada server mengenai jadwal pemeriksaan pasien.

4. Historical PACS exams dari seorang pasien yang pemeriksaannya telah terjadwal diambil dari
server arsip dan dikirim ke stasiun kerja milik radiologis untuk proses pembacaan.

5. Pasien menuju peralatan modaliti untuk diambil datanya dari PACS broker/interface engine
untuk membuat DICOM worklist.

6. Teknisi mengambil citra medis dan mengirim PACS exam beserta demographic data dari
seorang pasien ke stasiun kerja.

26
7. Teknisi mepersiapkan PACS exam dan mengirimkannya kepada stasiun kerja yang berfungsi
untuk proses pembacaan data milik radiologis.

8. Setelah exam PACS sampai pada stasiun kerja radiologist reading, secara otomatis langsung
dikirim ke server arsip. Basis data sever arsip diupdate oleh hasil pemeriksaan PACS yang telah
disiapkan.

9. Server arsip secara otomatis mendistribusikan PACS exam untuk diperiksa pada stasiun kerja
di salah satu ruangan di rumah sakit dimana pasien tersebut berada untuk menerima laporan
HIS/RIS HL7.

10. Petugas radiologi yang telah melaporkan hasil analisanya memberi accession number pada
dictation system. Radiologis keluar dari PACS exam dengan melakukan beberapa perubahan.
Basis data arsip di-update dengan perubahan dan penandaan tertentu pada PACS exam seiring
dengan perubahan status.

11. Pengambilan perintah Transcriptionist dan jenis laporan yang berhubungan dengan exam
accession number dilakukan tanpa melalui RIS.

12. Hasil dari RIS berupa HL7 message dari data hasil laporan yang berasal dari data RIS
sebelumnya yang telah di-update.

13. Radiologist meminta kepada PACS broker/IE (Interface Engine) untuk laporan hasil
pemeriksaan PACS sebelumnya pada stasiun kerja utnuk dibaca kembali.

14. Petugas pemeriksa memberikan laporan dari PACS exams untuk diperlihatkan di stasiun
kerja.

Standar Komunikasi PACS

Munculnya standar industri kesehatan dengan Health Level 7 (HL7), dan Digital Imaging and
Communications in Medicine (DICOM), semakin memudahkan untuk mengintegrasikan semua
perbedaan antara citra medis dan data teks dalam suatu sistem. HL7 adalah standar untuk format

27
data medis yang berbentuk teks. DICOM di dalamnya termasuk format data medis dan
komunikasi protokol. DICOM digunakan pada PACS untuk citra medis dan format data,
sekaligus sebagai standar komunikasi pada PACS. IHE (Integrating the Healthcare Enterprise)
merupakan salah satu inisiatif di bidang kesehatan yang profesional dan bidang industri untuk
meningkatkan cara sistem komputer untuk berbagi informasi di bidang kesehatan. IHE bekerja
berdasarkan standar HL7 dan DICOM agar dapat berkomunikasi dalam sistem kesehatan
(Healthcare System).

Standar DICOM

Standar DICOM adalah landasan keberhasilan implementasi PACS pada radiologi. Dengan
penggunaan format protokol komunikasi DICOM, data citra yang diperoleh dari berbagai alat
yang berbeda dapat dikomunikasikan dengan segera satu sama lain. DICOM memungkinkan
integrasi scanner, server, workstation, printer, jaringan, dan perangkat keras dari beberapa
produsen dalam sistem pengarsipan gambar dan komunikasi (PACS).

DICOM tidak hanya menstandarkan gambar yang sudah digital namun juga data pasien yang
ditulis pada lembaran kertas. Setelah penginstalan PACS dengan teknologi DICOM, kertas
rekam medis pasien didigitalisasi dengan simply running melalui scanner. Setelah itu proses
yang dilakukan sama dengan proses transfer gambar digital, yaitu enkripsi untuk keamanan data
serta kompresi jika ukuran file perlu dikecilkan. Setelah pengecekan informasi dan konsistensi
gambar citra, baru dilakukan transfer format DICOM. Gambar digital dan informasi pasien yang
dihasilkan dapat disimpan dalam PACS dan ditransfer ke komputer lain yang membutuhkan.
Alur pertukaran format data pasien menjadi format DICOM ditunjukkan oleh figure 1 berikut
ini:

28
Figure 1. Flow Chart of Paper Based and DICOM Medical Records (Kao et al. 2010)

Sistem Transfer dan Komunikasi Data

Standar DICOM mencakup protokol untuk format data dan komunikasi dalam jaringan. Protokol
komunikasi menggunakan protokol TCP/IP untuk berkomunikasi antara sistem. File DICOM
dapat dipertukarkan antara dua entitas yang mampu menerima citra medis dan data pasien dalam
format DICOM.(Wulandari 2010).

Setelah proses penyimpanan gambar digital standar DICOM, tenaga medis dapat mengakses data
ini melalui internet (server DICOM) dengan aman dan berkelanjutan melalui rangkaian proses
pada figure 2 berikut ini:

29
Figure 2. Diagram Sistem Manajemen Data Elektronik DICOM (Kao et al. 2010)

30
4. Perbedaan Pesawat C-arm Stationary dengan Pesawat Mobile C-arm

Stationary c-arm Mobile arm


Membutuhkan ruangan yang besar Tidak membutuhkan ruangan khusus
Lebih tahan lama Lebih mudah rusak atau mudah
mengalami kerusakan
Mempunyai ukuran lebih besar Mempunyai ukuran lebih kecil
Menggunakan tegangan yang lebih Menggunakan tegangan yang lebih
besar ( 380 v- 480 v) yang berasal dari kecil dari stationary c-arm ( 100 v- 240
Generator v) yang berasal dari PLN
X-ray tube lebih besar ukurannya, X-ray tube lebih kecil ukurannya,
sehingga memiliki kemampuan lebih sehingga kemampuannya dalam system
efektif dalam system pendinginan pendinginan tabung terbatas
tabung
Menggunakan higher x-ray beam Menggunakan lower x-ray beam
filtration ( filtrasi sinar x) , filtration ( filtrasi sinar x) ,
kemampuan filtrasinya bisa berubah- kemampuan filtrasinya tetap
ubah
Ukurannya lebih tebal ( 10 mm Ukurannya lebih tipis ( 3.4 mm 5mm
equivalent) equivalent)
98 % dosis yang diserap pasien , 2 x 99 % dosis yang diserap pasien, 0.5 x
photon dibandingkan mobile photon dibandingkan stationary

31
Standar Operasional Menyalakan dan Mematikan C-ARM TYPE BV Endura

Menyalakan BV Endura :
Hubungkan pesawat X-Ray dengan sumber tegangan listrik.
Nyalakan unit dengan menekan tombol
Putar switch system lock pada C-Arm stand conector ke posisi 1
Tunggu beberapa saat sampai proses booting pesawat selesai.
Masukan data-data pasien.
Posisikan pesawat dan pasien sesuai dengan objek yang akan di foto.
Pilih mode X-ray yang diinginkan, fluoroscopy atau radiography dengan menekan
X mode soft-key.

Mode Fluoroscopy :
Lakukan pemotretan fluoroscopy dengan menekan tombol footswitch atau handswitch.

Tekan tombol untuk melakukan fluoroscopy low dose atau tombol


untuk melakukan fluoroscopy High Definition. Baik pada foot switch dan handswitch.
Hasil pemotretan dapat dilihat pada monitor TV.

Mode Radiography :
Untuk melakukan pemotretan radiography, tekan tombol X-mode soft key dan pilih
Radiogr.
Atur nilai kV dan mAs dengan menggunakan soft-keys

Tekan tombol pada handswitch untuk melakukan pemotretan radiography.


Hasil pemotretan radiography dapat dilihat pada film setelah di proses.

Untuk mematikan alat :

Tekan tombol pada unit C-Arm


Tunggu beberapa saat sampai proses shutting down computer selesai (layar monitor
mati).
Cabut kabel power unit C-Arm pada steker dinding.

32
Tombol Emergency :
Bila ada sesuatu yang berbahaya yang disebabkan oleh unit C-Arm atau kondisi yang
berbahaya, tekan

33
Pra-Instalasi dan Intalasi C-ARM Philips BV Endura
Dikarenakan pesawat X-Ray C-Arm BV Endura ini adalah peralatan mobile, maka tidak perlu
dilakukan pra-instalasi ruangan khusus. Ruangan operasi atau aplikasi dibangun secara normal
tanpa memerlukan ducting dibawah lantai ataupun perlu memperhatikan kerapatan beton dibawah
lantai. Semua perkabelan saat dilakukan operasional berada diatas lantai. Hanya satu hal yang
diperhatikan pada poin ini yaitu saat pembuatan gedung telah disesuaikan bahwa ketebalan
dindingnya dibuat sesuai standar minimal penempatan pesawat X-Ray.

Spesifikasi Generator / Panel Control

34
SPESIFIKASI PESAWAT C-ARM
a Merek : Philips

b Tipe : BV Endura / 9896


00194231

c Serial Number : 000 544

d Tipe Generator : Frekuensi Tinggi

e Alarm Expose : Audio dan Visual

4 Spesifikasi Tabung X-Ray

a Merek : Philips

b Tipe : 989 000061831

c Serial Number : 10300 345

d Rating Max : 110 kV dan 4 mA

5 Spesifikasi Image Intensifier

a Model / Tipe : 4522 163 33003

b Nomer Seri : A 0892

6 Tahun : 2010
Pengadaan
7 Tahun : 2010
Pemasangan
8 Nama Agen : PT. Berca Niaga Medika

9 Kondisi : Baik

10 Beban Kerja Alat : 8 Pasien / Hari

35
SPESIFIKASI DETAIL TABUNG X-RAY

36
Tingkat Radiasi dengan Mengetahui Posis X-ray Tube

Gambar Hasil Pencitraan Pesawat C-ARM

37
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
C-Arm (alat yang berbentuk seperti huruf C) merupakan salah satu alat radiologi yang biasa
digunakan untuk operasi. C-Arm merupakan alat radiologi yang menghasilkan sinar-X dengan
cara fluoroskopi dengan pancaran radiasi yang kecil. Jadi fluoroscopi disini sebagai metode
pemeriksaan dari C-Arm. C-Arm dapat digunakan sebagai tindakan medis untuk bedah ortopedi,
bedah laparoskopi, dan bedah syaraf. Dengan c-arm, letak benda atau obyek pemeriksaan yang
berada di dalam tubuh dengan mudah dapat dideteksi, bahkan dapat dilihat secara lansung.

B. Saran
Fluoroskopi memiliki risiko yang kebanyakan disebabkan oleh radiasi. Inilah alasan mengapa
tindakan ini tidak disarankan bagi wanita hamil, karena fluoroskopi memiliki efek radiasi yang
dapat membahayakan janin. Sebagai peraturan, tindakan pencitraan ini hanya boleh dilakukan
apabila manfaat yang diharapkan melebihi kemungkinan risikonya. Sebisa mungkin, ahli medis
akan menggunakan radiasi dalam dosis rendah untuk mengurangi risiko. Namun, dosis radiasi
akan bergantung pada kondisi pasien. Dalam kasus di mana fluoroskopi digunakan untuk
membantu tindakan yang membutuhkan waktu yang lama (misalnya dalam tindakan intervensi
yang membutuhkan pemasangan cincin), dosis radiasi akan disesuaikan, sehingga ada
kemungkinan pasien akan mendapatkan radiasi dalam dosis yang tinggi.

38
DAFTAR PUSTAKA

file://SAHABAT%20RADIOGRAFER_%20Kuliah%20DIV%20PACS.html

What_is_a_mobile_c_arm.pdf

ITS-Undergraduate-12769-paper.pdf

Bahan Ajar Radiologi Lanjut Dr.Ir Hj Rusmini B AIM MM

PPT .Siremobile compact L

PPT. Basis C-Arm Print

ITS-Undergraduate-12769-Presentation

PPT.MM5CDealerTraining

PPT.SIREMOBOLCompactLDealerTraining

Standar_DICOM

PPT. ArcardisVaricDealerTraining

39