Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH AUKSIN DAN GIBERELIN TERHADAP

PEMANJANGAN KOLEOPTIL KACANG HIJAU

Oleh :
Danny Arditya R. B1J013026
Nur Fadilah B1J013073
Dandi puspita B1J014005
Eliya Agustin B1J014021
Syifa Mubarrak B1J014052
Rombongan : I
Kelompok : 5
Asisten : Novi Wahyu Prihandini

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI ZAT PENGATUR TUMBUH


TUMBUHAN

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Lakitan (2001), sampai sekarang ada lima kelompok hormon yang
paling dikenal. Kelima kelompok yang sudah dikenal itu meliputi auksin, giberelin,
sitokinin, asam absisat, dan etilen. Ketika semakin banyak hormon yang dapat
dicirikan dan efek serta konsentrasi endogennya dikaji dua hal menjadi jelas. Setiap
hormon mempengaruhi respon pada banyak bagian tumbuhan. Kedua, respon itu
bergantung pada spesies, bagian tumbuhan, fase perkembangan, konsentrasi hormon,
interaksi antar hormon yang diketahui, dan berbagai faktor lingkungan.
Praktikum kali ini membahas dua pengaruh ZPT yaitu auksin dan giberelin
pada perpanjangan koleoptil. Pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi
tumbuhan salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu hormon atau zat pengatur
tumbuh. Salah satu contoh zat pengatur tumbuh yang paling berperan pada
pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan yaitu auksin. Auksin banyak terdapat
pada ujung koleoptil. Auksin berperan dalam mendorong pemanjangan batang dan
pucuk, merangsang pertumbuhan akar adventif pada batang, dan memacu dominansi
tunas apikal (tunas diujung batang). Zat pengatur tumbuh auksin dihasilkan pada
bagian koleoptil (titik tumbuh), jika terkena cahaya matahari auksin menjadi tidak
aktif. Kondisi fisiologis ini mengakibatkan bagian yang tidak terkena cahaya
matahari akan tumbuh lebih cepat dari bagian yang terkena cahaya matahari.
Akibatnya, tumbuhan akan memmbengkok ke arah cahaya matahri. Auksin yang
diedarkan ke seluruh bagian tumbuhan mempengaruhi pemanjangan, pembelahan,
dan siferensiasi sel tumbuhan (Agrica, 2009).
Jenis hormon yang mempunyai kemiripan sifat dengan auksin ini merupakan
zat pengatur tumbuh yang dapat ditemukan pada hampir semua siklus hidup
tumbuhan. Giberelin sering disebut dengan GA (gibberellic acid) atau asam
giberelat. Pemberian giberelin di bawah tajuk tumbuhan dapat meningkatkan laju
fotosintesis. Daun tumbuhan berkembang secara signifikan karena hormon ini
memacu pertumbuhan daun, terjadi peningkatan pembelahan sel dan pertumbuhan
sel yang mengarah pada perkembangan daun. Selain itu juga memacu pemanjangan
batang tumbuhan (Harjadi, 2009).
B. Tujuan

Tujuan praktikum acara Pengaruh Auksin dan Giberelin terhadap Pemanjangan


Koleoptil Kacang Hijau yaitu mengetahui pengaruh auksin dan giberelin terhadap
pemanjangan dan pembesaran koleoptil kacang hijau.
II. TELAAH PUSTAKA

Zat pengatur tumbuh merupakan senyawa organik bukan nutrisi yang dalam
konsentrasi yang rendah dapat mendorong, menghambat atau secara kualitatif
mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Salah satu zat pengatur tumbuh
yang sering digunakan adalah giberelin yang banyak berperan dalam mempengaruhi
berbagai proses fisiologi tanaman. Giberelin berperan dalam pembentangan dan
pembelahan sel, pemecahan dormansi biji sehingga biji dapat berkecambah,
mobilisasi endosperm cadangan selama pertumbuhan awal embrio, pemecahan
dormansi tunas, pertumbuhan dan perpanjangan batang, perkembangan bunga dan
buah, pada tumbuhan roset mampu memperpanjang internodus sehingga tumbuh
memanjang. Giberelin eksogen yang umum digunakan dan tersedia di pasaran
adalah GA3 (giberelin-3), yang dikenal juga dengan nama asam giberelat (Asra,
2014).
Giberelin pertama kali ditemukan di Jepang oleh Eiichi Kurosawa pada tahun
1926, pada saat ia mempelajari penyakit pada padi. Senyawa giberelin dihasilkan
oleh jamur Gibberella fujikuroi yang telah menyerang padi dan itu mengakibatkan
padi mengalami pertumbuhan cepat, batangnya tinggi dan berwarna pucat. Giberelin
ditemukan pada bagian tumbuahn, misalnya pucuk batang, ujung akar, bunga, buah
dan terutama pada biji. Peranan giberelin adalah merangsang pemanjangan batang
dan perkecambahan, merangsang pertumbuhan tunas, mempercepat munculnya
bunga, merangsang pertumbuhan buah secara partenokarpi (tanpa fertilisasi).
Giberelin dapat menyebabkan tumbuhan kerdil tumbuh menjadi tumbuhan raksasa,
umumnya tinggi tumbuhan mencapai 3 5 kali tinggi yang normal (Heddy, 1996).
Auksin atau dikenal juga dengan IAA atau Asam Indolasetat (sebagai auksin
utama pada tanaman), dibiosintesis dari asam amino prekursor triptopan, dengan
hasil perantara sejumlah substansi yang secara alami mirip auksin (analog) tetapi
mempunyai aktifitas lebih kecil dari IAA seperti IAN atau Indolaseto nitril, TpyA
atau Asam Indolpiruvat dan IAAld atau Indolasetatdehid. Proses biosintesis auxin
dibantu oleh enzim IAA-oksidase (Rismunandar, 1988). Auksin telah lama dikenal
sebagai hormon penting untuk hampir setiap aspek pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Pemahaman biosintesis auksin juga akan mengungkapkan situs produksi
auksin pada tanaman, sehingga memungkinkan kita untuk mengetahui sumber auksin
dan untuk lebih memahami transportasi polar auksin. Pengetahuan biosintesis auksin
akan memberi pemahaman tentang mekanisme molekuler dimana auksin mengontrol
berbagai proses perkembangan (Zhao, 2014).
Asam Idole Acetic Acid (IAA) merupakan larutan auksin endogen atau auksin
yang terdapat pada tanaman. Larutan ini berperan dalam berbagai aspek
perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Fungsi dari larutan ini yaitu mendorong
pembelahan sel, penyebaran IAA yang tidak sama pada tanaman akan
mengakibatkan pembesaran sel yang tidak merata dan terjadi pembengkokan dari
koleoptil atau organ tanaman (geotropisme dan fototropisme). IAA pada konsentrasi
tinggi dapat menghambat pembesaran sel-sel akar, selain itu juga dapat
mengendalikan absisi daun dan dapat menghambat pertumbuhan tunas lateral.
Konsentrasi suatu auksin di dalam tanaman, mempengaruhi pertumbuhan suatu
tanaman, semakin tinggi konsentrasi suatu auksin di dalam tanaman maka akan
semakin mempercepat pertumbuhan tanaman tersebut. Hal-hal yang mempengaruhi
konsentrasi IAA di dalam tanaman yaitu sintesis auksin, pemecahan auksin, dan
inaktifnya IAA sebagai akibat proses pemecahan molekul (Indradewa, 2009).
Menurut Solomon et al. (1996) koleoptil adalah selaput yang menyelubungi
jaringan ujung pangkal daun pertama pada embrio rumput rumputan. Selaput ini
akan melindungi jaringn ujung tadi ketika keluar menembus tanah. Koleoptil adalah
daun khusus yang muncul dari buku pertama yang melindungi epikotil pada biji yang
sedang berkecambah sampai muncul ke permukaan tanah (Campbell et al., 2000).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum acara Pengaruh Auksin dan Giberelin
terhadap Pemanjangan Koleoptil Kacang Hijau yaitu cawan petri, scalpel, pinset,
LAF, beaker glass, kertas millimeter block, dan kertas saring.
Bahan yang digunakan dalam praktikum acara Pengaruh Auksin dan Giberelin
terhadap Pemanjangan Koleoptil Kacang Hijau yaitu kecambah kacang hijau (Vigna
radiata), EtOH 70%, HgCl 0,2%, aquades, media MS dengan IAA (konsentrasi 0;
2,5; 5; 7,5; 10 mM) dan GA (konsentrasi 0; 2,5; 5; 7,5; 10 mM).

B. Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum Pengaruh Auksin dan Giberelin


terhadap Pemanjangan Koleoptil Kacang Hijau yaitu:
1. Kecambah dipotong bagian bakal daun dan bakal akarnya.
2. Kecambah dimasukkan ke dalam EtOH 70% dan digoyang-goyangkan selama 1
x 2 menit.
3. Kecambah yang sudah disterilisasi EtOH 70% selanjutnya dimasukkan ke dalam
HgCl 0,2% dan digoyang-goyangkan selama 2 x 2,5 menit.
4. Selanjutnya dimasukkan ke dalam SDW dan digoyang-goyangkan selama 3 x 30
detik.
5. Kecambah yang diblotting dan diinokulasikan di cawan petri.
6. Diinkubasi selama satu minggu di rak gelap dan diamati setiap tiga hari sekali.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Table 4.1. Hasil Pengamatan Panjang dan Diameter Koleoptil Kacang Hijau
Rombongan I
Parameter Hari-0 Hari-3 Hari-6
Kelompok yang ZPT (cm) (cm) (cm)
diamati 1 2 3 1 2 3 1 2 3
I0 1,2 1,3 1,3 1,3 1,3 1,3 1,3 1,3 1,4
Panjang
G2,5 1 1,1 1,4 1,2 1,4 1,4 1,3 1,4 1,4
1
I0 0,2 0,2 0,2 0,2 0,3 0,3 0,2 0,2 0,3
Diameter
G2,5 0,2 0,2 0,25 0,2 0,25 0,3 0,25 0,3 0,3
I5 0,8 0,9 1,2 0,9 0,9 1,4 1,2 1,2 1,6
Panjang
G5 1,2 1,1 1,2 1,2 1,3 1,2 1,6 1,4 1,5
2
I5 0,3 0,3 0,3 0,4 0,3 0,3 0,4 0,3 0,3
Diameter
G5 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,4
Panjang I0 1,3 1,1 1 1,3 1,1 1 1,4 1,2 1,1
G2,5 1,2 1,2 1,1 1,2 1,2 1,1 1,3 1,4 1,2
3
Diameter I0 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,2 0,2 0,2
G2,5 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,2 0,2 0,2
I7,5 1,3 1 1 1,3 1,1 1,2 1,3 1,1 1,3
Panjang
G7,5 1,2 1 1,3 1,3 1 1,3 1,3 1 1,3
4
I7,5 0,3 0,2 0,2 0,3 0,2 0,2 0,31 0,2 0,21
Diameter
G7,5 0,2 0,2 0,2 0,2 0,3 0,2 0,21 0,3 0,2
I7,5 1 1,2 1 1 1,2 1,1 1 1,2 1,1
Panjang
G10 0,9 0,8 1 1 1 1 1 1 1
5
I7,5 0,2 0,2 0,2 0,2 0,3 0,3 0,2 0,3 0,3
Diameter
G10 0,2 0,2 0,3 0,2 0,2 0,3 0,2 0,2 0,3

Gambar 4.1. Kecambah Gambar 4.2. Kecambah


Kacang Hijau (Vigna radiata) Kacang Hijau (Vigna radiata)
hari ke-3 ZPT GA 10 mM hari ke-3 ZPT IAA 7,5 mM
Gambar 4.3. Kecambah Gambar 4.4. Kecambah
Kacang Hijau (Vigna radiata) Kacang Hijau (Vigna radiata)
hari ke-6 ZPT GA 10 mM hari ke-6 ZPT IAA 7,5 mM

B. Pembahasan

Menurut Salisbury et al. (1995) kerja hormon auksin dalam sel yaitu pertama
auksin berikatan dengan suatu reseptor. Sinyal ini dilanjutan ke second messengers
dalam sel yang memicu berbagai tanggapan. Pompa proton diaktifkan, dan pelepasan
ion H+ melonggarkan dinding sel sehingga sel bisa membesar atau memanjang.
Perangkat golgi dirangsang untuk melepaskan kantung yang mengandung bahan
untuk menjaga ketebalan dinding sel. Jalur transduksi sinyal juga mengaktifkan DNA
untuk membentuk protein (transkripsi & translasi). Protein yang terbentuk diperlukan
untuk memelihara pertumbuhan sel.
Cara kerja hormon Auksin adalah menginisiasi pemanjangan sel dan juga
memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa
ion H+ ke dinding sel. Ion H + mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan
beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel
tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis. Selanjutnya
auksin menyebar luas dalam seluruh tubuh tanaman, penyebarluasannya dengan arah
dari atas ke bawah hingga titik tumbuh akar, melalui jaringan pembuluh tapis atau
jaringan parenkim (Fahn, 1982).
Giberelin adalah zat tumbuh yang sifatnya sama atau menyerupai hormon
auksin, tetapi fungsi giberelin sedikit berbeda dengan auksin. Fungsi giberelin adalah
membantu pembentukan tunas atau embrio. Jika embrio terkena air, embrio menjadi
aktif dan melepaskan hormon giberelin (GA). Hormon ini memacu aleuron untuk
membuat (mensintesis) dan mengeluarkan enzim. Enzim yang dikeluarkan antara
lain enzim -amilase, maltase, dan enzim pemecah protein. Menghambat
perkecambahan dan pembentukan biji. Hal ini terjadi apabila giberelin diberikan
pada bunga maka buah yang terbentuk menjadi buah tanpa biji dan sangat nyata
mempengaruhi pemanjangan dan pembelahan sel. Hal itu dapat dibuktikan pada
tumbuhan kerdil, jika diberi giberelin akan tumbuh normal, jika pada tumbuhan
normal diberi giberelin akan tumbuh lebih cepat (Handayani, 2004).
Giberelin mempunyai peranan dalam mendukung perpanjangan sel, aktivitas
cambium, dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesis protein (Abidin,
1982). Kebanyakan tanaman memberikan respon terhadap pemberian GA3 dengan
pertambahan panjang batang. Pengaruh GA3 terutama di dalam perpanjangan ruas
tanaman yang disebabkan oleh jumlah sel-sel pada ruas-ruas tersebut bertambah
besar. Peran giberelin dalam pemanjangan batang merupakan hasil dari tiga proses.
Proses pertama adalah pembelahan di daerah ujung batang. Pembelahan sel
diakibatkan oleh stimulus giberelin terhadap sel yang berada pada fase G1 agar
segera memasuki fase S dan memperpendek fase S. Proses kedua adalah giberelin
memacu pertumbuhan sel dengan cara meningkatkan hidrolilis amilum, fruktan dan
sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa sehingga dapat digunakan untuk respirasi yang
menghasilkan energi. Energi tersebut kemudian akan digunakan untuk pembentukan
dinding sel dan komponen-komponen sel lain sehingga proses pembentukan sel
dapat berlangsung dengan cepat. Giberelin juga menurunkan potensial air sehingga
air dapat masuk ke dalam sel dengan lebih cepat dan terjadi pembentangan sel.
Proses ketiga adalah giberelin meningkatkan plastisitas dinding sel (Salisbury et al.,
1995).
Berdasarkan hasil praktikum acara pengaruh auksin dan giberelin terhadap
pemanjangan koleoptil kacang hijau bahwa IAA dan BAP mempengaruhi
pertambahan panjang dan diameter koleoptil. Terlihat pada pengamatan hari ke-3,
koleoptil dari semua kelompok mengalami pertambahan panjang dan diameter.
Sedangkan pada pengamatan hari ke-6, rata-rata setiap kelompok mengalami
pertambahan panjang dan diameter tetapi tidak terlalu signifikan. Menurut Esau
(1977) perpanjangan koleoptil jika cahaya dari samping menyinari koleoptil, maka
koleoptil akan membengkok ke arah datangnya cahaya. Jika ujung koleoptil ditutup
dengan aluminium foil, maka tidak terjadi pembengkokan (koleoptil tumbuh lurus ke
atas). Namun demikian, jika ujung koleoptil dibiarkan terbuka dan bagian tepat di
bawah ujung ditutupi, maka koleoptil akan membengkok ke arah datangnya cahaya.
Charles Darwin menyimpulkan bahwa ujung koleoptil adalah jaringan yang berperan
untuk merespons cahaya dan memproduksi sinyal yang ditranslokasikan menuju ke
bagian bawah koleoptil dimana terjadi tanggapan fisiologis (terjadi pembengkokan).
Kemudian memotong ujung koleoptil dan memaparkan sisa koleoptil ke arah cahaya
untuk melihat apakah terjadi respon, ternyata tidak terjadi pembengkokan koleoptil.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan Hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:


1. Auksin dan giberelin atau dalam praktikum ini menggunakan IAA dan BAP
mempengaruhi pertambahan panjang dan diameter koleoptil, kedua zat pengatur
tumbuh ini juga mempengaruhi pertumbuhan koleoptil dengan memunculkan
akar.

B. Saran
Sebaiknya saat pengamatan ada asisten yang mendampingi, sehingga dapat
membantu pengamatan agar hasilnya tepat.

DAFTAR REFERENSI

Abidin, Z. 1990. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuhan.


Bandung: Angkasa.

Agrica, H. 2009. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Asra, R. 2014. Pengaruh Hormon Giberelin (GA3) Terhadap Daya Kecambah dan
Vigoritas Calopogonium caeruleum. Biospecies. 7(1), pp. 29-33.

Campbell, N. A., J. B. Reece, & L. G. Mitchell. 2000. Biology 6th Ed. Jakarta:
Erlangga.

Esau, K. 1977. Anatomy of Seed Plants 2nd Ed. New York: John Wiley and Sons.

Fahn, A. 1982. Plant Anatomy 3rd Ed. New York: Pergamon Press.
Handayani, Rd. Selvy. 2004. Respon Pertumbuhan Bibit Duku (Lansium domesticum
Corr.) dengan penyemprotan Giberelin, Sitokinin, dan Triakontanol. Bogor:
Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Harjadi, S. S. 2009. Zat Pengatur Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Heddy, S. 1996. Hormon Tumbuhan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Indradewa. 2009. Fisiologi Tumbuhan Dasar. Bandung: ITB Press.

Lakitan, B. 2001. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rismunandar. 1988. Rempah-Rempah Komoditi Ekspor Indonesia. Bandung: Sinar.

Salisbury, Frank B., & Cleon W. R. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Solomon, E. P., L. R. Ber, D. W. Martin, & C. Villee. 1996. Biology 4th Ed. London:
Saunders College Pub.

Zhao, Y. 2014. Auxin Biosynthesis. American Society of Plant Biologists. 1(1), pp. 1-
14.