Anda di halaman 1dari 6

Efek Pemberian Ekstrak Etanol Akar Rumput Belulang (Eleusine

indica l. Gaertn) Terhadap Penurunan Jumlah Bakteri pada Mencit


(Mus musculus) yang Diinokulasi Salmonella typhi
Idhul Ade Rikit Fitra*
Sahidin**
Abdul Karim***

*Program Pendidikan Dokter UHO


** Bagian Kimia Bahan Alam Prodi Farmasi F. MIPA UHO
*** Bagian Patologi Klinik FK UHO

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek dari pemberian ekstrak etanol akar rumput
belulang (E. indica L. Gaertn) terhadap penurunan jumlah bakteri pada hepar mencit (Mus musculus)
yang diinokulasi S. typhi.Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan
the post-test only control group design. Dua puluh ekor mencit dibagi menjadi 4 kelompok, satu
kelompok kontrol dan tiga kelompok uji. Kelompok I tidak diberi ekstrak etanol akar rumput belulang
sebagai K. Kelompok II diberi ekstrak etanol akar rumput belulang dengan dosis 10 mg/ekor sebagai
Uji I. Kelompok III diberi ekstrak etanol akar rumput belulang dengan dosis 20 mg/ekor sebagai Uji II.
Kelompok IV diberi ekstrak etanol akar rumput belulang dengan dosis 40 mg/ekor sebagai Uji III.
Semua kelompok diberi pakan standar pada hari ke-1 sampai hari ke-7. Pada hari ke-8 mencit
diinokulasi S. typhi 1 x 10 6, setelah 2 jam mencit diberi ekstrak etanol akar rumput belulang pada
kelompok uji dan Aquadest pada kelompok kontrol. Setelah 24 jam mencit didekapitasi dan diambil
heparnya untuk menghitung jumlah koloni bakteri pada jaringan hepar. Rerata jumlah bakteri pada
pengenceran ke-2 didapatkan kelompok K = 26.78, kelompok Uji I = 28.28, kelompok Uji II = 24.74,
dan kelompok Uji III = 7.98. Uji Mann-Whitney U didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok K
dengan Uji III p=0.008, Uji I dengan Uji III p=0.007, dan Uji II dengan Uji III
p=0.009(p=<0,05).Ekstrak etanol akar rumput belulang dapat menurunkan jumlah koloni bakteri pada
mencit yang diinokulasi S. typhi pada tiap-tiap dosis.
Kata Kunci : Akar rumput belulang, Koloni bakteri, Hepar, Salmonella typhi

PENDAHULUAN kasus demam tifoid di seluruh dunia


Demam tifoid merupakan suatu dengan insidensi 600.000 kasus
penyakit infeksi sistemik yang kematian tiap tahun dan 70% kematian
disebabkan oleh Salmonella typhi yang terjadi di Asia. Prevalensi di Asia jauh
masih dijumpai secara luas di berbagai lebih banyak sekitar 900/1000
negara berkembang yang terutama penduduk pertahun. Indonesia
terletak di daerah tropis dan subtropis. merupakan negara endemik tifoid.
Penyakit ini juga merupakan masalah Diperkirakan terdapat 800 penderita
kesehatan masyarakat yang penting per 100.000 penduduk setiap tahun
karena penyebarannya berkaitan erat yang ditemukan sepanjang tahun.
dengan urbanisasi, kepadatan Penyakit ini tersebar di seluruh
penduduk, kesehatan lingkungan, wilayah dengan insiden yang tidak
sumber air dan sanitasi yang buruk berbeda jauh antar daerah (Widoyono,
serta standar kebersihan pada industri 2011).
pengolahan makanan yang masih Hasil penelitian melaporkan
rendah (Cleary TG, 2000). bahwa telah terjadinya multidrug
Data World Health resistance pada S. typhi di beberapa
Organization (WHO) tahun 2003 negara tropis. Pemakaian antibiotik
memperkirakan terdapat sekitar 17 juta yang tidak rasional dan adanya

1
perubahan intrinsik di dalam mikroba Ekstrak diperoleh melalui
merupakan penyebab multidrug metode maserasi. Sebanyak 800 mg
resistance ini. Golongan antibiotik ekstrak akar rumput ditimbang dan
tersebut adalah kloramfenikol, selanjutnya dilarutkan dalam 10 ml
ampisilin, amoksilin, dan aquades, yaitu 800 mg dalam 10 ml =
kotrimoksazol (Hadinegoro,1999). 80 mg dalam 1 ml, sehingga apabila
Indonesia sejak dulu hingga diambil 0,5 ml (volume maksimum
sekarang memiliki banyak sumber penyuntikan pada mencit secara
daya alam yang dimanfaat sebagai obat intraperitonial) larutan ekstrak di
tradisional salah satunya adalah akar dalamnya terkandung 40 mg ekstrak
rumput yang digunakan sebagai obat akar rumput untuk dosis uji III (40
demam, diare, rambut rontok dan mg/0,5 ml/ ekor). Selanjutnya,
sebagai antibiotik (Habibah, 2010). ditimbang 400 mg dilarutkan dalam 10
Rumput belulang suku ml, 400 mg dalam 10 ml = 40 mg
Graminae, tumbuh liar sebagai gulma dalam 1 ml, sehingga apabila diambil
dan digunakan sebagai obat. Dari 0,5 ml larutan ekstrak di dalamnya
penelitian sebelumnya diketahui bahwa terkandung 20 mg ekstrak untuk dosis
akar rumput belulang mengandung uji II (20 mg/0,5 ml/ekor). Kemudian,
senyawa golongan saponin, tanin, ditimbang 200 mg ekstrak dilarutkan
alkaloida dan golongan sterol atau dalam 10 ml, 200 mg dalam 10 ml =
terpen (Smecda, 2007). Dari Uji daya 20 mg dalam 1 ml, sehingga apabila di
antibakteri dilakukan menggunakan ambil 0,5 ml larutan ekstrak di
ekstrak etanol yang diperoleh dengan dalamnya terkandung 10 mg ekstrak
cara perkolasi dan ekstrak air yang untuk dosis uji I (20 mg/0,5 ml/ekor).
diperoleh dengan cara infundasi. untuk memperoleh suspensi
Ternyata ekstrak etanol dapat McFarland 0,5, Sebanyak 0,5 ml
menghambat pertumbuhan bakteri S. larutan barium klorida 0,048 M (BaCl2
typhi dengan MIC (Minimum 2H2O 1,175 %) dicampurkan dengan
Inhibitory Concentration) pada 9,5 ml larutan asam sulfat 0,18 M
konsentrasi 37,5% dan Sarcina lutea (H2SO4 1%) dalam labu takar dan
dengan MIC pada konsentrasi 12,5% dihomogenkan. Suspensi ini digunakan
(Widyiawaruyanti, 1987). sebagai larutan standar pembanding
Karena laporan penelitian kekeruhan suspensi bakteri uji.
tentang uji klinis secara invivo ekstrak Bakteri yang akan diuji
etanol akar rumput belulang terhadap disuspensikan dengan cara
hewan ataupun manusia belum menumbuhkan bakteri dalam media
ditemukan, maka peneliti tertarik untuk cair yaitu NaCl fisiologis 0,9%.
mempelajari bagaimana efek Kekeruhan bakteri diukur hingga
pemberian ekstrak etanol akar rumput sesuai dengan standar McFarland 0,5
belulang terhadap penurunan jumlah menggunakan spektronik 20D pada
bakteri pada mencit yang diinokulasi S. 625 nm sehingga didapatkan jumlah
thypi. bakteri sebanyak 150 x 106/ml. Untuk
mendapatkan jumlah bakteri 1 x 106
METODE dalam 0,5 ml (volume maksimum
Sampel pada penelitian adalah penyuntikan pada mencit secara
mencit jantan umur 8-12 minggu intraperitonial), pipet sebanyak 2 ml
dengan berat badan 20-40 gr dan sehat suspensi bakteri yang telah dibuat
yang ditandai dengan gerakan yang sesuai standar McFarland kemudian
aktif. Total jumlah sampel yang masukkan dalam labu takar.
gunakan adalah 20 ekor. Selanjutnya tambahkan NaCl 0,9%

2
Tabel 1. Hasil uji statistik perbandingan antara Kelompok Kontrol, Uji I, Uji II dan
Uji III
Pengenceran Pengenceran
pengenceran I
Kelompok II III
meanSD P meanSD P meanSD P
2 1
Kontrol 2.70 x 10 6.71 x 10 26.786.60 2.050.87
2 1
Uji I 2.88 x 10 2.64 x 10 28.283.85 2.300.41
0.850 0.004 0.381
Uji II 3.00 x 1020.00 24.745.30 1.440.28
Uji III 3.71x 1022.55 x 102 7.984.45 2.041.37
(Sumber: Data primer penelitian tahun 2013)

Tabel 2. Hasil uji statistik Mann-Whitney U


P Kontrol Uji I Uji II Uji III
Kontrol - 0.521 0.245 0.008
Uji I 0.521 - 0.067 0.007
Uji II 0.245 0.067 - 0.009
Uji III 0.008 0.007 0.009 -
(Sumber: Data primer penelitian tahun 2013)

sebanyak 98 ml sampai batas tera. pertumbuhan koloni S. thypi diamati.


Sehingga setiap pengambilan 0,5 ml Jika terdapat mencit yang mati sewaktu
larutan bakteri didalamnya terkandung penelitian, maka dilakukan uji Negatif
1 x 106. dimana sampel yang hilang diganti
Mencit jantan diadaptasikan yang baru dan mendapat perlakuan
dengan cara dikandangkan, diberi yang sama. Jumlah S. typhi per gram
pakan standar dan minum selama tujuh jaringan pada masing-masing media
hari. Pada Hari ke delapan dilakukan dihitung dengan rumus sebagai berikut
pengujian. Mula-mula mencit di (Murtini, 2006) dan data yang
injeksikan S. typhi sebanyak 105 sel per diperoleh dianalisis dengan program
ml per ekor secara intraperitoneal komputer SPSS16.00 for Windows.
untuk kelompok Kontrol, Uji I, Uji II Jumlah Cfu x Pengenceran x 10
dan Uji III (Besung, 2011), pada (diinokulasikan hanya 0,1 ml per plate)
Cfu/ gr =
penelitian ini suspensi S.thypi dibuat Berat jaringan
sebanyak 106 sesuai standar Mc
Farland 0,5. Setelah dua jam mencit HASIL DAN PEMBAHASAN
diberi ekstrak dengan menggunakan Normalitas data diuji dengan
disposibel 1 ml pada rongga Shapiro-Wilk dan didapatkan data
intraperitonial dengan dosis bertingkat terdistribusi tidak normal (p<0,05)
dan dibiarkan selama 24 jam untuk sehingga dilakukan analisis dengan uji
kelompok kontrol Uji I, Uji II dan Uji Kruskal Wallis, dan dilanjutkan uji
III. Dalam waktu 24 jam diamati suhu Mann whitney U untuk
tubuh dan tanda-tanda lain yang membandingkan jumlah S.typhi antar
ditunjukkan oleh mencit. Setelah 24 kelompok. Berdasarkan hasil uji
jam, mencit dimatikan dengan Kruskal Wallis (Tabel 1) hanya pada
menggunakan eter atau klorofom untuk pengenceran II (tabung III) yang
pengambilan hepar melalui memiliki nilai 0,004 (P=<0,05) yang
pembedahan dengan scalpel Hepar terbukti signifikan memiliki perbedaan
mencit selanjutnya dihaluskan jumlah bakteri tiap kelompok.
menggunakan mortar, kemudian Sehingga hanya pengenceran II
dikultur pada Nutrient Agar (NA) dan (tabung III) yang dilanjutkan ke uji

3
post hoc yaitu Mann Whitney U yang Hasil penelitian diperoleh
disajikan pada tabel 2. jumlah rata-rata S. typhi pada
Hasil uji Mann-Whitney dari pengenceran II (tabung III), kelompok
keempat kelompok didapatkan hasil kontrol = 26.78, kelompok uji I =
yang bermakna. Kelompok kontrol dan 28.28, kelompok uji II = 24.74, dan
kelompok uji III (0.008); kelompok uji kelompok uji III = 7.98. Hal ini
I dan kelompok uji III (0.007); menunjukkan bahwa pemberian
kelompok uji II dan kelompok uji III ekstrak dengan dosis bertingkat dapat
(0.009). Sedangkan hasil yang tidak menurunkan jumlah S. typhi pada
bermakna didapatkan pada kelompok hepar mencit. Namun, jumlah rata-rata
kontrol dan uji I (0.521); kelompok S. typhi pada kelompok uji I lebih
kontrol dan uji II (0.245); kelompok uji tinggi dibandingkan kelompok kontrol,
I dan uji II (0.067). Jadi ekstrak etanol ini dikarenakan jumlah dosis uji I tidak
akar rumput belulang dengan dosis 40 dapat menurunkan jumlah bakteri S.
mg pada uji III dapat menurunkan typhi. Menurut Widyiawaruyanti
jumlah S.typhi secara bermakna (1978) ekstrak etanol akar rumput
dibandingkan ekstrak etanol akar belulang sensitif terhadap S. typhi pada
rumput belulang dengan dosis 10 mg dosis 11,4 mg, sehingga dosis pada uji
pada uji I dan ekstrak etanol akar I (10 mg) tidak dapat menurunkan
rumput belulang dengan dosis 20 mg jumlah S. typhi.
pada uji II. Hasil uji statistik diperoleh
perbedaan bermakna jumlah S. typhi
per jaringan organ pada pengenceran II
(tabung III) tiap kelompok mencit,
kelompok kontrol, uji I dan uji II lebih
tinggi jumlah bakteri dibandingkan
dengan kelompok uji III. Hal ini
disebabkan oleh kandungan senyawa
akar rumput belulang yaitu saponin,
tannin, alkaloid, polifenol, sterol dan
terpen yang memiliki daya antibakteri.
Ekstrak etanol akar rumput
belulang mengandung senyawa
saponin, alkaloid, sterol dan terpenoid
yang fungsinya dapat menghambat
pertumbuhan S. typhi dengan cara
Gambar 1. Grafik box plot hitung merusak membran sitoplasma yang
jumlah koloni bakteri menyebabkan bocornya metabolit yang
menginaktifkan sistem enzim S. typhi.
Pada box plot (Gambar 1)
Menurut Jaya (2010) Kerusakan pada
nampakperubahan jumlah bakteri yang
membran sitoplasma dapat mencegah
signifikan hanya pada pengenceran ke
masuknya bahan-bahan makanan atau
II (tabung III). Rata-rata jumlah S.
nutrisi yang diperlukan bakteri untuk
typhi yang tertinggi pada kelompok
menghasilkan energi akibatnya bakteri
mencit uji I dan pada kelompok
akan mengalami hambatan
kontrol, diikuti kelompok uji II,
pertumbuhan dan bahkan kematian.
sedangkan pada kelompok uji III
Ekstrak etanol akar rumput
mengalami penurunan jumlah
belulang juga mengandung senyawa
dibandingkan dengan kelompok yang
tanin yang mempunyai daya
lain.
antibakteri tinggi. Tanin dapat

4
menghambat sintesis protein dari S. saat pengenceran. Selain itu, jumlah S.
typhi, menghambat sintesis dinding sel typhi yang seharusnya diinjeksikan
S. typhi, menghambat metabolisme sel adalah 1 x 105 (Isselbacher,1999).
S. typhi, dan menghambat sintesis tetapi suspensi yang tersedia adalah 1 x
asam nukleat dari S. typhi. Kandungan 106. Adapula faktor lain, yaitu daya
lain ekstrak etanol akar rumput tahan tubuh alamiah masing-masing
belulang adalah polifenol yang mencit terhadap infeksi S. thypi serta
fungsinya sebagai antioksidan yang adanya dosis ektrak etanol akar rumput
dapat memperbaiki sel yang rusak belulang yang digunakan belum cukup
akibat infeksi dari S. typhi. kuat untuk dapat menurunkan atau
Hal ini membuktikan bahwa menghilangkan jumlah koloni bakteri
pemberian ekstrak etanol akar rumput pada hepar mencit yang diinokulasi S.
belulang dapat menurunkan jumlah thypi .
bakteri pada hepar mencit (M.
musculus) yang di inokulasi S. typhi. SIMPULAN
Dengan demikian dapat dikatakan Dari penelitian ini didapatkan
bahwa ekstrak etanol akar rumput bahwa ekstrak etanol akar rumput
belulang memiliki kemampuan sebagai belulang dapat memberi pengaruh
antibakteri terhadap S. typhi. terhadap penurunan jumlah koloni
Pada penanganan demam tifoid bakteri mencit yang diinokulasi S.
salah satu pilihan antibiotik yang typhi. Secara statistik terdapat
digunakan adalah kloramfenikol dosis perbedaan yang bermakna dalam hal
500 mg. Jika antibiotik ini dikonversi penurunan jumlah koloni S. typhi
dari dosis manusia ke mencit, maka antara kelompok pada pengenceran II
didapatkan dosis yang dibutuhan untuk (tabung III) yang diberi ekstrak etanol
menghilangkan S. typhi pada jaringan akar rumput belulang dosis bertingkat
hepar adalah 65 mg. Sehingga, dosis 10 mg, 20 mg dan 40 mg dengan
ekstrak etanol akar rumput belulang kelompok kontrol yang tidak diberi
masih dapat ditingkatkan dibanding ekstrak. Dalam penelitian ini, dosis
dosis pada penilitian penelitian ini, ekstrak etanol akar rumput belulang
sehingga didapatkan dosis yang baik yang dapat menurunkan jumlah S.
untuk menghilangkan jumlah S. typhi thypi pada mencit yang diinokulasi
pada jaringan hepar mencit. S.typhi adalah dosis 20 mg dan 40 mg.
Namun demikian, secara Namun, dosis yang paling bermakna
statistik pada pengenceran I (tabung II) menurunkan jumlah bakteri adalah
dan Pengenceran III (tabung IV) tidak dosis 40 mg pada kelompok uji III.
terdapat perbedaan yang bermakna Diperlukan penelitian lebih
dalam penurunan jumlah bakteri antara lanjut tentang pengaruh pemberian
kelompok kontrol dan kelompok uji ekstrak etanol akar rumput belulang
yang diberi ekstrak etanol akar rumput sebagai antibakteri dengan dosis yang
belulang dosis bertingkat. Hal ini lebih tinggi, sehingga dapat
mungkin karena adanya faktor lain menentukan dosis optimum dalam
seperti kontaminasi saat kultur di menurunkan dan menghilangkan
tambah lagi adanya jumlah koloni yang jumlah bakteri pada hepar mencit yang
tidak terdistribusi secara normal diinfeksi S. typhi. Selain itu, Perlu pula
sehingga hasil statistik menunjukkan membandingkan ekstrak etanol akar
perbedaan yang tidak bermakna. rumput belulang dengan antibiotik
Faktor lain berupa kontaminan standar untuk mengetahui mana yang
yang mungkin terjadi pada saat paling efektif dalam menurunkan
menggunakan pipet ke tiap-tiap tabung jumlah S. typhi.

5
DAFTAR PUSTAKA Pengembangan Farmasi Badan
Cleary, T. G. 2003.Salmonella species Penelitian dan Pengembangan
in longess, Pickerling LK, Praber Kesehatan Departemen
CG. Principles and Practice of Kesehatan RI. Jakarta.
Pediatric Infectious Disease
Churchill Livingstone, edisi 1.
New York.
Habibah, 2010. Tanaman Obat. Tugas
Individu. Makalah .Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Hadinegoro., Rezeki, S. 1999. Cermin
Dunia Kedokteran, Masalah
Multi Drug Resistance pada
Demam Tifoid Anak. Pt. Kalbe
Farma. Jakarta.
Isselbacher,K.J., Braunwald, Wilson,
Martin, Fauci, Kasper. 1999.
Jaya, a.m. 2010. Isolasi Dan Uji
Efektivitas Antibakteri Senyawa
Saponin Dari Akar Putri Malu
(Mimosa Pudica). Skripsi
Jurusan Kimia Fakultas Sains
dan Teknologi UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang.
Murtini, s. 2006. Pengaruh Pemberian
Ekstrak Daun Salam (Syzygium
polyanthum) dengan Dosis 540
mg Terhadap Hitung Jumlah
Koloni Kuman Salmonella
typhimurium pada Hepar Mencit
Balb/c yang diinfeksi Salmonella
typhimurium. Karya Tulis Ilmiah
FK Universitas Diponegoro
Semarang.
Smecda. 2007. Eleusine Indica (l.)
Gaertn. Diambil dari:
<http://www.smecda.com/ttg_pa
ngan_kesehatan2/artikel/ttg_tana
man_obat/depkes/buku4/4-
034.pdf>. Diakses pada 12 juni,
2012.
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis,
Epidemologi, Penularan,
Pencegahan, dan
Pemberantasannya, Edisi II
Erlangga, Jakarta
Widyiawaruyanti, a. 1987. Uji
Antibakteri Ekstrak Akar Rumput
Belulang (Eleusine indica
gaertn). Pusat Penelitian dan