Anda di halaman 1dari 40

BAB I

DEFINISI

A. Keselamatan / Safety
Bebas dari bahaya atau risiko (hazard).
Hazard / bahaya adalah suatu Keadaan, Perubahan atau Tindakan
yang dapat meningkatkan risiko pada pasien.
1. Keadaan Adalah setiap faktor yang berhubungan atau mempengaruhi suatu
Peristiwa Keselamatan Pasien / Patient safety event , Agent atau Per-
sonal.
2. Agen adalah substansi, obyek atau sistem yang menyebabkan perubahan.

B. Keselamatan Pasien/Patient Safety


Pasien bebas dari harm / cedera yang tidak seharusnya terjadi atau bebas dari
harmyang potensial akan terjadi (penyakit, cedera fisik / sosial/ psikologis, cacat,
kematian dll), terkait dengan pelayanan kesehatan.

C. Keselamatan Pasien RS/Hospital Patient Safety


Suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini
termasuk: asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya risiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya diambil.

D. Harm /Cedera
Dampak yang terjadi akibat gangguan struktur atau penurunan fungsi tubuh dapat
berupa fisik, sosial dan psikologis. Yang termasuk Harm adalah: Penyakit,
Cedera, Penderitaan, Cacad, dan Kematian.
1. Penyakit / Disease
Disfungsi fisik atau psikis
2. Cedera / Injury
Kerusakan jaringan yang diakibatkan agent/keadaan
3. Penderitaan / Suffering
4. Pengalaman / gejala yang tidak menyenangkan termasuk nyeri, malaise, mual,
muntah, depresi, agitasi, dan ketakutan.
5. Cacat / Disability
Segala bentuk kerusakan struktur atau fungsi tubuh, keterbatasan aktifitas dan
atau restriksi dalam pergaulan sosial yang berhubungan dengan harm yang
terjadi sebelumnya atau saat ini.

E. Insiden Keselamatan Pasien (IKP)/Patient safety inciden


Setiap kejadian atau situasi yang dapat mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan harm / cedera yang tidak seharusnya terjadi.

1
F. Kejadian tidak diharapkan (KTD)/Adverseevent
Suatu Insiden yang mengakibatkan harm/cedera pada pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien. Cedera dapat
diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis yang tidak dapat
dicegah.

G. Kejadian nyaris cedera (KNC) /Nearmiss


Suatu Insiden yang tidak menyebabkan cedera pada pasien akibat melaksanakan
suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil (omission), dapat terjadi karena keberuntungan (mis.pasien terima
suatu obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat), karena pencegahan
(suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui
dan membatalkannya sebelum obat diberikan), atau peringanan (suatu obat
dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan anti
dotumnya.

H. Kondisi Potensial Cedera (KPC)


Adalah kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum
terjadi insiden.

I. Kejadian Tidak Cedera (KTC)


Adalah insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak timbul cedera.

J. Kejadian sentinel / sentinel event


Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius.
1. Kematian yg tdk terduga dan tidak terkait dengan parjalanan alamiah
penyakitnya atau kondisi yg mendasari penyakitnya.
2. Kehilangan fungsi utama (mayor) secara permanen yg tdk terkait dg perjalanan
alamiah penyakit pasien atau kondisi yg mendasari penyakitnya.
3. Salah lokasi,salah prosedur, salah pasien operasi.
4. Penculikan bayi/bayi yg di pulangkan bersama orang yg bukan orang tuanya.
5. Bunuh diri di rumah sakit.

K. Laporan insiden RS (Internal)


Pelaporan secara tertulis setiap kejadiannya ris cedera (KNC) atau kejadian tidak
diharapkan (KTD) yang menimpa pasien atau kejadian lain yang menimpa
keluarga pengunjung, maupun karyawan yang terjadi di rumah sakit.

L. Laporan insiden keselamatan pasien KKP-RS (Eksternal)


Pelaporan secara anonym dan tertulis ke KKP-RS setiap kejadian tidak diharapkan
(KTD) atau kejadian nyaris cedera (KNC) yang terjadi pada pasien, telah dilakukan
analisa penyebab, rekomendasi dan solusinya.
M. Faktor Kontributor
Adalah keadaan, tindakan, atau faktor yang mempengaruhi dan berperan dalam
mengembangkan dan atau meningkatkan risiko suatu kejadian (misalnya
pembagian tugas yang tidak sesuai kebutuhan).
2
Contoh:
1. Faktor kontributor diluar organisasi (eksternal).
2. Faktor kontributor dalam organisasi (internal) misalnya : Tidak adanya prosedur.
3. Faktor kontributor yang berhubungan dengan petugas (kognitif atau perilaku
petugas yang kurang, lemahnya supervisi, kurangnya team-work atau
komunikasi).
4. Faktor kontributor yang berhubungan dengan keadaan pasien.

N. Analisis akar masalah/Root cause analysis (RCA)


Adalah suatu proses berulang yang sistematik dimana faktor-faktor yang
berkontribusi dalam suatu insiden diidentifikasi dengan merekonstruksi kronologis
kejadian menggunakan pertanyaan kenapa yang diulang hingga menemukan
akar penyebabnya dan penjelasannya. Pertanyaan kenapa harus ditanyakan
hingga tim investigator mendapatkan fakta, bukan hasil spekulasi.

3
BAB II
RUANG LINGKUP

Panduan ini diterapkan kepada semua petugas kesehatan yang bekerja di


RSUD CARUBAN.
Pelaksana panduan ini adalah semua tenaga kesehatan (medis, perawat,
farmasi, bidan, penunjang medis dan tenaga kesehatan lainnya), staf di ruang rawat,
staf administrasi, dan staf pendukung yang bekerja di rumah sakit.
A. PRINSIP
1. Setiap ada kejadian / insiden, wajib di lakukan pertolongan lebih dahulu
terhadap insiden tersebut.
2. Setiap ada insiden keselamatan pasien, wajib di lakukan pencatatan dan di
laporkan ke atasan langsung dan ke KPRS
3. Kejadian itu meliputi kejadian tidak di harapkan (KTD), kejadian nyaris cidera
(KNC), kejadian tidak cidera (KTC), kejadian potensial cidera (KPC), dan
kejadian sentinel.

B. KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB


1. Seluruh staf Rumah Sakit
a. Memahami dan menerapkan prosedur pencatatan dan pelaporan insiden
keselamatan pasien.
b. Memastikan suatu kejadian segera di tangani dan di lakukan pencatatan dan
pelaporan yang benar.
c. Membuat pelaporan ke atasan langsung.
2. Kepala Instalasi / Kepala Ruang
a. Memastikan seluruh staf di Instansinya memahami prosedur pencatatan dan
pelaporan dan menerapkannya.
b. Melakukan grading resiko dan melakukan investigasi terhadap suatu
kejadian.
c. Melaporkan kronologi insiden/hasil investigasi ke KP-RS.
3. Direktur
a. Memantau dan memastikan panduan pencatatan dan pelaporan insiden
keselamatan pasien dikelola dengan baik oleh staf dan kepala Instalasi /
kepala ruangan.
b. Menjaga standarisasi dalam menerapkan panduan ipencatatan dan pelaporan
insiden keselamatan pasien.

4
BAB III
TATALAKSANA PELAPORAN INSIDEN

Mengacu kepada standar keselamatan pasien, maka RSUD CARUBAN harus


merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD,
dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja mutu serta keselamatan
pasien.
A. Tujuh Langkah Keselamatan Pasien
Proses perancangan tersebut harus mengacu pada visi,misi, dan tujuan RSUD
CARUBAN,kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini,
praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien
sesuai dengan Tujuh Langkah Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Berkaitan hal tersebut diatas maka perlu ada kejelasan perihal tujuh langkah
keselamatan pasien rumah sakit tersebut.
Uraian Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah
sebagai berikut:
1. BANGUN KESADARAN AKAN NILAI KESELAMATAN PASIEN
Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.
Langkah penerapan:
1. Tingkat Rumah Sakit :
RSUD CARUBAN telah memiliki kebijakan yang menjabarkan apa yang
harus dilakukan staf segera setelah terjadi insiden, bagaimana langkah-langkah
pengumpulan fakta harus dilakukan dan dukungan apa yang harus diberikan
kepada staf, pasien dan keluarga
a. RSUD CARUBAN telah memiliki kebijakan dan prosedur yang menjabarkan
peran dan akuntabilitas individual bilamana ada insiden.
b. RSUD CARUBAN telah berupaya menumbuhkan budaya pelaporan dan
belajar dari insiden yang terjadi di rumah sakit.
c. Lakukan asesmen dengan menggunakan survei penilaian keselamatan
pasien.
2. Tingkat Unit Kerja/Tim :
a. Pastikan semua rekan sekerja merasa mampu untuk berbicara mengenai
kepedulian mereka dan berani melaporkan bilamana ada insiden
b. Demonstrasikan kepada seluruh personil ukuran-ukuran yang dipakai di
RSUD CARUBAN untuk memastikan semua laporan dibuat secara terbuka
dan terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan tindakan/solusi yang
tepat

2. PIMPIN DAN DUKUNG STAF RUMAH SAKIT


Bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang Keselamatan
Pasien di seluruh jajaran RSUD CARUBAN.
Langkah penerapan :
1. Tingkat Rumah Sakit :
a. Direksi bertanggung jawab atas keselamatan pasien
b. Telah dibentuk Panitia Mutu dan Keselamatan Pasien yang ditugaskan untuk
menjadi penggerak dalam gerakan keselamatan pasien
5
c. Prioritaskan Keselamatan Pasien dalam agenda rapat jajaran Direksi maupun
rapat-rapat manajemen rumah sakit
d. Keselamatan Pasien menjadi materi dalam semua program orientasi dan
pelatihan di RSUD CARUBAN dan dilaksanakan evaluasi dengan pre dan post
test.
2. Tingkat Unit Kerja/Tim :
a. Semua pimpinan unit kerja wajib memimpin gerakan Keselamatan Pasien
b. Selalu jelaskan kepada seluruh personil relevansi dan pentingnya serta
manfaat bagi mereka dengan menjalankan gerakan Keselamatan Pasien
c. Tumbuhkan sikap kesatria yang menghargai pelaporan insiden

3. INTEGRASIKAN AKTIVITAS PENGELOLAAN RISIKO


Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi
dan asesmen hal yang potensial bermasalah.
Langkah penerapan:
1. Tingkat Rumah Sakit :
a. Telaah kembali input dan proses yang ada dalam manajemen risiko klinis
dan non klinis, serta pastikan hal tersebut mencakup dan terintegrasi dengan
Keselamatan Pasien dan staf.
b. Kembangkan indikator-indikator kinerja mutu dan Insiden Keselamatan
Pasien (IKP) bagi sistem pengelolaan risiko yang dapat dimonitor oleh
Direktur RSUD CARUBAN.
c. Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem
pelaporan insiden dan asesmen risiko untuk dapat secara proaktif
meningkatkan kepedulian terhadap pasien.
2. Tingkat Unit Kerja/Tim:
a. Dalam setiap rapat koordinasi selalu laksanakan diskusi tentang hal-hal yang
berkaitan dengan Keselamatan Pasien guna memberikan umpan balik kepada
Manajer terkait.
b. Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien dalam proses asesmen
risiko rumah sakit.
c. Lakukan proses asesmen risiko secara teratur, untuk menentukan
akseptabilitas setiap risiko, dan ambilah langkah-langkah yang tepat untuk
memperkecil risiko tersebut
d. Pastikan penilaian risiko tersebut disampaikan sebagai masukan ke proses
asesmen dan pencatatan risiko Rumah Sakit.

4. KEMBANGKAN SISTEM PELAPORAN


Pastikan staf anda agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian/insiden,
serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada Komite Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (KKPRS).
Langkah penerapan :
1. Tingkat Rumah Sakit
Sistem pelaporan insiden ke dalam maupun ke luar rumah sakit mengacu pada
Pedoman Keselamatan Pasien RSUD CARUBAN.

6
2. Tingkat Unit Kerja/Tim
Berikan semangat kepada seluruh personil untuk secara aktif melaporkan setiap
insiden yang terjadi dan insiden yang telah dicegah tetapi tetap terjadi juga,
karena mengandung bahan pelajaran yang penting.

5. LIBATKAN DAN BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN


Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien.
Langkah penerapan :
1. Tingkat Rumah Sakit :
a. RSUD CARUBAN memiliki kebijakan dan pedoman yang jelas tentang cara-
cara komunikasi terbuka selama proses asuhan tentang insiden dengan para
pasien dan keluarganya.
b. Seluruh staf RSUD CARUBAN terkait harus mampu memastikan bahwa
pasien dan keluarga mendapat informasi yang benar dan jelas bilamana
terjadi insiden.
c. Seluruh jajaran manajerial harus mampu memberi dukungan, pelatihan dan
dorongan semangat kepada staf agar selalu terbuka kepada pasien dan
keluarganya.
2. Tingkat Unit Kerja/Tim :
a. Pastikan seluruh personil menghargai dan mendukung keterlibatan pasien
dan keluarganya bila telah terjadi insiden.
b. Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga bilamana terjadi
insiden, dan segera berikan kepada mereka informasi yang jelas dan benar
secara tepat.
c. Pastikan, segera setelah kejadian, tim menunjukkan empati kepada pasien
dan keluarganya.

6. BELAJAR DAN BERBAGI PENGALAMAN TENTANG KESELAMATAN PASIEN


Seluruh staf harus mampu untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar
bagaimana dan mengapa KTD itu timbul.
Langkah penerapan:
1. Tingkat Rumah Sakit:
a. Pastikan staf yang tekait telah terlatih untuk melakukan kajian insiden secara
tepat, yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab
b. Kembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan jelas kriteria pelaksanaan
Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis/RCA) yang mencakup insiden
yang terjadi dan minimum satu kali per tahun melakukan melakukan Failure
Modes and Effects Analysis (FMEA) untuk proses risiko tinggi.
2. Tingkat Unit Kerja/Tim:
a. Diskusikan dalam jajaran unit/tim pengalaman dari hasil analisis insiden.
b. Identifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena dampak di masa
depan dan bagilah pengalaman tersebut secara lebih luas.

7. CEGAH CEDERA MELALUI IMPLEMENTASI SISTEM KESELAMATAN


PASIEN
Gunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan
perubahan pada sistem pelayanan.
7
Langkah Penerapan:
1. Tingkat Rumah Sakit
a. Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem
pelaporan, asesmen risiko, kajian insiden, dan audit serta analisis, untuk
menentukan solusi.
b. Solusi tersebut dapat mencakup penjabaran ulang sistem (inputr dan
proses), penyesuaian pelatihan staf dan/atau kegiatan klinis, termasuk
penggunaan instrumen yang menjamin keselamatan pasien.
c. Lakukan asesmen risiko untuk setiap perubahan yang direncanakan.
d. Sosialisasikan solusi yang dikembangkan oleh KKPRS-PERSI.
e. Beri umpan balik kepada staf tentang setiap tindakan yang diambil atas
insiden yang dilaporkan.
2. Tingkat Unit Kerja/Tim :
a. Libatkan seluruh personil dalam mengembangkan berbagai cara untuk
membuat asuhan pasien menjadi lebih baik dan lebih aman.
b. Telaah kembali perubahan-perubahan yang telah dibuat dan pastikan
pelaksanaannya.
c. Pastikan seluruh personil menerima umpan balik atas setiap tindak lanjut
tentang insiden yang dilaporkan.
Tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit merupakan panduan yang
komprehensif untuk menuju keselamatan pasien, sehingga tujuh langkah
tersebut secara menyeluruh harus dilaksanakan oleh setiap rumah sakit. Dalam
pelaksanaan, tujuh langkah tersebut tidak harus berurutan dan tidak harus
serentak. Dapat dipilih langkah-langkah yang paling strategis dan paling mudah
dilaksanakan. Bila langkah-langkah ini berhasil maka kembangkan langkah-
langkah yang belum dilaksanakan.
Bila tujuh langkah ini telah dilaksanakan dengan baik maka dapat
menambah penggunaan metoda-metoda lainnya.

B. Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien


Banyak metode yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko, salah satu
caranya adalah dengan mengembangkan sistem pelaporan dan sistem analisis.
Dapat dipastikan bahwa sistem pelaporan akan mengajak semua orang dalam
organisasi untuk peduli akan bahaya / potensi bahaya yang dapat terjadi
kepada pasien. Pelaporan juga penting digunakan untuk memonitor upaya
pencegahan terjadinya error sehingga diharapkan dapat mendorong
dilakukannya investigasi selanjutnya.
Beberapa pertanyaan yang mungkin ada:
a. Kenapa harus lapor?
Laporan ini penting karena pelaporanakan menjadi awal proses
pembelajaran untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.
b. Bagaimana memulainya?
Dibuat suatu sistem pelaporan insiden di rumah sakit meliputi kebijakan, alur
pelaporan, formulir pelaporan dan prosedur pelaporan yang harus
disosialisasikan pada seluruh karyawan.
c. Apa yang harus dilaporkan?
Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi,potensial terjadi
8
ataupun yang nyaris terjadi.
d. Siapa yang membuat laporan insiden?
- Siapa saja atau semua staff RS yang pertama menemukan kejadian.
- Siapa saja atau semua staff RS yang terlibat dalam kejadian.
e. Masalah yang dihadapi dalam Laporan Insiden
- Laporan dipersepsikan sebagai pekerjaan perawat
- Laporan sering disembunyikan/underreport, karena takut disalahkan.
- Laporan sering terlambat.
- Bentuk laporan miskin data karena adanya budaya blame culture.
f. Bagaimana cara membuat Laporan Insiden (Incident report)
Karyawan diberikan pelatihan mengenai sistem pelaporan insiden mulai dari
maksud, tujuan dan manfaat laporan, alur pelaporan, bagaimana cara
mengisi formulir laporan insiden, kapan harus melaporkan, pengertian-
pengertian yang digunakan dalam sistem pelaporan dan cara menganalisa
laporan.
g. Alur Pelaporan Insiden ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(Internal)
1) Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD) dirumah sakit, wajib segera
ditindaklanjuti (dicegah / ditangani) untuk mengurangi dampak / akibat
yang tidak diharapkan.
2) Setelah ditindaklanjuti, segera buat laporan insidennya dengan mengisi
formulir laporan insiden pada akhir jam kerja/shift kepada Atasan
langsung. (paling lambat 2x24 jam) jangan menunda laporan.
3) Setelah selesai mengisi laporan, segera serahkan kepada atasan langsung
pelapor. (atasan langsung disepakati sesuai keputusan Manajemen:
Super-visor/Kepala Bagian/Instalasi/Departemen/Unit, Ketua Komite
Medis/Ketua K.SMF, Kepala ruangan).
4) Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading risiko
terhadap insiden yang dilaporkan.
5) Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang akan
dilakukan sebagai berikut:
- Grade biru : Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu
maksimal 1minggu.
- Grade hijau : Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu
maksimal 2 minggu.
- Grade kuning : Investigasi komprehensif/analisisa akar masalah/RCA
oleh Sub Komite KP di RS, waktu maksimal 45 hari.
- Grade merah : Investigasi komprehensif/analisis akar masalah/RCA
oleh Tim KP diRS, waktu maksimal 45 hari.
6) Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi
Tim KP di RS akan menganalisa kembali hasil Investigasi dan Laporan
insiden untuk menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan
(RCA) dengan melakukan regrading.
7) Untuk grade Kuning/Merah, Sub Komite KP di RS akan melakukan Analisis
akar masalah/Root Cause Analysis (RCA).
8) Setelah melakukan RCA, Sub.Komite KP di RS akan membuat laporan
dan Rekomendasi untuk perbaikan serta Pembelajaran berupa:
9
Petunjuk/Safetyalert untuk mencegah kejadian yang sama terulang
kembali.
9) Hasil RCA, rekomendasi dan rencana tindak lanjut dilaporkan kepada
Direktur.
10) Rekomendasi untuk Perbaikan dan Pembelajaran diberikan umpan balik
kepada unit kerja terkait.
11) Unit Kerja membuat analisa dan trend kejadian disatuan kerjanya
masing- masing, satu bulan sekali untuk kemudian di laporkan ke komite
keselamatan pasien.
12) Monitoring dan Evaluasi Perbaikan oleh sub.Komite Keselamatan Pasien
di RS untuk di lakukan pelaporan kepada direktur 3 bulan sekali (Alur:
Lihat Lampiran 4)
h. Alur Pelaporan Insiden Ke KKP-RS-Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (Eksternal)
1) Laporan hasil investigasi sederhana/analisis akar masalah/RCA yang
terjadi pada pasien dilaporkan oleh Komite KP di RS (internal) /Pimpinan
RS ke KKPRS dengan mengisi Formulir Laporan Insiden Keselamatan
Pasien.
2) Laporan dikirim ke KKPRS lewat POS atau KURIR ke alamat lewat
http://www.inapat-safety.or.id

C. Analisis Matriks Grading Resiko


Penilaian matriks risiko adalah suatu metode analisa kualitatif untuk menentukan
derajat risiko suatu insiden berdasarkan Dampak dan Probabilitasnya.
1. Dampak (Consequences)
Penilaian dampak/akibat suatu insiden adalah seberapa berakibat yang dialami
pasien mulai dari tidak ada cedera sampai meninggal (tabel 1).
2. Probabilitas/Frekuensi/Like lihood penilaian tingkat Probabilitas/
frekuensi risiko adalah seberapa insiden tersebut sering terjadi ( table 2)

Tabel 1 Penilaian dampak klinis/konsekwensi/severity


LEVEL DESKRIPSI CONTOH DESKRIPSI
1 Tidak Signifikan Tidak ada cedera
2 Minor Cedera ringan
Dapat diatasi dengan pertolongan pertama,
3 Moderat Cedera sedang
Berkurangnya fungsi motorik / sensorik / psikologis
atau intelektual secara reversibel dan tidak
berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya
Setiap kasus yang memperpanjang perawatan
4 Mayor Cedera luas / berat
Kehilangan fungsi utama permanent (motorik,
sensorik, psikologis, intelektual) / irreversibel, tidak
berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya
5 Katastropik Kematian yang tidak berhubungan dengan
perjalanan penyakit yang mendasarinya
10
Tabel 2 Penilaian probilitas frekwensi
LEVEL FREKUENSI KEJADIAN AKTUAL
1 Sangat Jarang Dapat terjadi dalam lebih dari 5 tahun
2 Jarang Dapat terjadi dalam 2 5 tahun
3 Mungkin Dapat terjadi tiap 1 2 tahun
4 Sering Dapat terjadi beberapa kali dalam setahun
5 Sangat Sering Terjadi dalam minggu / bulan

Setelah nilai Dampak dan Probabilitas diketahui, dimasukkan dalamTabel Matriks


Grading Risiko untuk menghitung skor risiko dan mencari warna bands risiko.

a. SKOR RISIKO

SKOR RISIKO = Dampak x Probability

Cara menghitung skor risiko. Untuk menentukan skor risiko


digunakan matriks grading. Risiko (tabel 3) :
- Tetapkan frekuensi pada kolom kiri
- Tetapkan dampak pada baris kearah kanan,
- Tetapkan warna bandsnya, berdasarkan pertemuan antara frekuensi dan
dampak.

b. BANDS RISIKO
Bands risiko adalah derajat risiko yang digambarkan dalam empat warna yaitu:
Biru, Hijau, Kuning dan Merah. Warna bands akan menentukan Investigasi
yang akan dilakukan: (tabel 3)
- Bands BIRU dan HIJAU : Investigasi sederhana
- Bands KUNING dan MERAH : Investigasi Komprehensif / RCA

Warna bands : hasil pertemuan antara nilai dampak


yang diurut kebawah dan nilai
probabilitas yang diurut kesamping
kanan.

11
Tabel 3 Matriks grading resiko
DAMPAK
PROBABILITS Tdk Minor Moderat Mayor Katastropik
signifikan
(1) (2) (3) (4) (5)
Sangat sering terjadi
(Tiap minggu /bulan) Moderat Moderat Tinggi Ekstrim Ekstrim
( 5)
Sering terjadi
(beberapa kali /thn) Moderat Moderat Tinggi Ekstrim Ekstrim
(4)
Mungkin terjadi(1-<2
thn/kali) Rendah Moderat Tinggi Ekstrim Ekstrim
(3)
Jarang terjadi(>2-<5
thn /kali) Rendah Rendah Moderat Tinggi Ekstrim
(2)
Sangat jarang terjadi
(>5 thn/kali) Rendah Rendah Moderat Tinggi Ekstrim
(1)

Tabel 4 Tindakan, sesuai tingkat dan bands resiko

LEVEL / BANDS TINDAKAN


Ekstrim (sanngat tinggi) Risiko ekstrim, dilakukan RCA paling lama 45 hari
membutuhkan tindakan segera, perhatian sampai ke
Direktur,
High (tinggi) Risiko tinggi, dilakukan RCA paling lama 45 hari Kaji
dengan detil & perlu tindakan segera serta
membutuhkan perhatian top manajemen,
Moderatd (sedang) Risiko sedang, dilakukan investigasi sederhana paling
lama 2 minggu. Manajer / Pimpinan Klinis sebaiknya
menilai dampak terhadap biaya dan kelola risiko
Low (rendah) Risiko rendah, dilakukan investigasi sederhana paling
lama 1 minggu diselesaikan dengan prosedur rutin

12
BAB IV
DOKUMENTASI

Sistem Keselamatan pasien di Rumah Sakit yang adequat sangat diperlukan


dalam membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk: asesmen risiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Sistem asuhan pelayanan pasien yang di titik beratkan kepada asuhan pasien
yang aman, merupakan awal proses menuju mutu pelayanan yang baik.Diharapkan
panduan Keselamatan Pasien ini dapat menjadi acuan bagi rumah sakit untuk
melaksanakan sistem asuhan yang aman dirumah sakitnya. Dengan meningkatnya
jumlah laporan insiden akan tergambarkan budaya dan motivasi untuk meningkatkan
keselamatan pasien dan mutu pelayanan kepada pasien. Hasil analisis insiden akan
menjadi pembelajaran untuk mencegah kejadian yang sama dikemudian hari.
Dokumentasi dan pengumpulan data terkait dengan laporan insiden keselamatan
pasien adalah sebagai berikut:
1. Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD) dirumah sakit, wajib segera ditindaklanjuti
(dicegah / ditangani) untuk mengurangi dampak / akibat yang tidak diharapkan
2. Unit mengisi formulir pelaporan insiden keselamatan pasien jika terjadi insiden di
ruangan/unit.
3. Melaporkan kejadian insiden keselamatan pasien jika terjadi insiden di unit sesuai
dengan alur pelaporan insiden keselamatan pasien
4. Dan unit akan menganalisis kejadian insiden tersebut dengan melihat tabel analisis
matriks grading resiko.
5. Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisis yang akan diambil.

13
Lampiran 1
FORM PELAPORAN INSIDEN
RAHASIA, TIDAK BOLEH DIFOTOCOPY, DILAPORKAN MAXIMAL 2 x 24 JAM

14
15
Lampiran 2
Form Data RS
SILAHKAN ISI KODE RUMAH SAKIT
UNTUK MELAPORKAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN KE KKPS PERSI
Kode Rumah Sakit : ___________________
Bagi Rumah Sakit yang belum mengetahui Kode rumah sakit, silahkan isi
Formulir Data RS dibawah ini, yang dapat diakses lewat :
http://www.inapatsafety-persi.or.id

E-Mail Rumah Sakit : ___________________________________________


Nama Rumah Sakit : ___________________________________________
Alamat : ___________________________________________
Kabupaten/Kota : ___________________________________________
Propinsi : ___________________________________________
Contact Person : ___________________________________________
Telepon : ___________________________________________
HP : ___________________________________________
Kode dikirim lewat : SMS E-Mail

16
Lampiran 3

Formulir Laporan insiden keselamatan pasien ke KKP-RS


RAHASIA

KOMITE KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT


LAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
KKP-RS
(Patient Safety Incident Report)

Laporan ini hanya dibuat jika timbul kejadian yang menyangkut pasien. Laporan
bersifat anonim, tidak mencantumkan nama, hanya diperlukan rincian kejadian,
analisa penyebab dan rekomendasi.
Untuk mengisi laporan ini sebaiknya dibaca Pedoman Pelaporan Insiden
Keselamatan Pasien (IKP) , bila ada kerancuan persepsi, isilah sesuai dengan
pemahaman yang ada.
Isilah semua data pada Laporan Insiden Keselamatan Pasien dengan lengkap.
Jangan dikosongkan agar data dapat dianalisa.
Segera kirimkan laporan ini langsung ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(KKP-RS).

KODE RS : ................................. (lewat : http://www.inapat-safety.or.id / pos /


kurir)
I. DATA RUMAH SAKIT:
Kepemilikan Rumah Sakit :
Pemerintah Pusat
Pemerintah Daerah (Provinsi / Kab / Kota)
TNI /POLRI
Swasta
BUMN / BUMD
Jenis RS :
RS Umum
RS Khusus
RSIA
RS Paru
RS Mata
RS Orthopedi
RSJantung
RS Jiwa
RS Kusta
RS Khusus lainnya
........................................................................................
Kelas RS
A
17
B
C
D
Untuk RS Swasta menyesuaikan mis RS Pratama setara dengan RS kelas D, RS
Madya setara dengan RS Kelas C dst.
Kapasitas tempat tidur : .......................................................................tempat
tidur
Propinsi (lokasi RS) : .......................................................................................
Tanggal Laporan Insiden di kirim ke KKP-RS : .................................................
II. DATA PASIEN
Umur * : 0-1 bulan > 1 bulan 1 tahun
> 1 tahun 5 tahun > 5 tahun 15 tahun
> 15 tahun 30 tahun > 30 tahun 65 tahun
> 65 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki Perempuan
Penanggung biaya pasien :
Pribadi Asuransi Swasta
ASKES Pemerintah Perusahaan*
JAMKESMAS JAMKESDA
Tanggal Masuk RS : ........................................................ Jam ....................
III.RINCIAN KEJADIAN
1. Tanggal dan Waktu Insiden
Tanggal : ................................................................................ Jam ............
2. Insiden :....................................................................................................
3. Kronologis Insiden
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
4. Jenis Insiden* :
Kejadian Nyaris Cedera / KNC (Near miss)
Kejadian Tidak cedera / KTC (No Harm)
Kejadian Tidak diharapkan / KTD (Adverse Event) / Kejadian Sentinel
(Sentinel Event)
5. Orang Pertama Yang Melaporkan Insiden*
Karyawan : Dokter / Perawat / Petugas lainnya
Pasien
Keluarga / Pendamping pasien
Pengunjung
Lain-lain
....................................................................................................(sebutka
n)
6. Insiden terjadi pada* :
Pasien
Lain-lain
.................................................................................(sebutkan)
18
Mis : karyawan / Pengunjung / Pendamping / Keluarga pasien, lapor ke K3
RS.
7. Insiden menyangkut pasien :
Pasien rawat inap
Pasien rawat jalan
Pasien UGD
Lain-lain
....................................................................................(sebutkan)
8. Tempat Insiden
Lokasi kejadian
............................................................................(sebutkan)
(Tempat pasien berada)
9. Insiden terjadi pada pasien : (sesuai kasus penyakit / spesialisasi)
Penyakit Dalam dan Subspesialisasinya
Anak dan Subspesialisasinya
Bedah dan Subspesialisasinya
Obstetri Gynekologi dan Subspesialisasinya
THT dan Subspesialisasinya
Mata dan Subspesialisasinya
Saraf dan Subspesialisasinya
Anastesi dan Subspesialisasinya
Kulit & Kelamin dan Subspesialisasinya
Jantung dan Subspesialisasinya
Paru dan Subspesialisasinya
Jiwa dan Subspesialisasinya
Lain-lain
......................................................................................(sebutkan)
10.Unit / Departemen terkait yang menyebabkan insiden
Unit kerja penyebab ........................................................................
(sebutkan)
11. Akibat Insiden Terhadap Pasien* :
Kematian
Cedera Irreversibel / Cedera Berat
Cedera Reversibel / Cedera Sedang
Cedera Ringan
Tidak ada cedera
12. Tindakan yang dilakukan segera setelah kejadian, dan hasilnya :
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
13. Tindakan dilakukan oleh* :
Tim : terdiri dari : ...................................................................................
Dokter
Perawat
Petugas lainnya ......................................................................................
19
14. Apakah kejadian yang sama pernah terjadi di Unit Kerja lain?*
Ya Tidak
Apabila ya, isi bagian dibawah ini.
Kapan ? dan Langkah / tindakan apa yang telah diambil pada Unit kerja
tersebut untuk mencegah terulangnya kejadian yang sama?
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
IV.TIPE INSIDEN
Insiden : ............................................................................................
Tipe Insiden : ............................................................................................
Subtipe Insiden : ............................................................................................
V. ANALISA PENYEBAB INSIDEN
Dalam pengisian penyebab langsung atau akar penyebab masalah
dapat
menggunakan Faktor kontributor (bisa pilih lebih dari 1)
a. Faktor Eksternal / di luar RS
b. Faktor Organisasi dan Manajemen
c. Faktor Lingkungan kerja
d. Faktor Tim
e. Faktor Petugas / StafFaktor Tugas
g. Faktor Pasien
h. Faktor Komunikasi
1. Penyebab langsung (Direct / Proximate/ Immediate Cause)
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
2. Akar penyebab masalah (underlying root cause)
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................

3. Rekomendasi / Solusi

No. Akar Masalah Rekomendasi/Solusi

NB. * : pilih satu jawaban, kecuali bila berpendapat lain.


Saran : baca Panduan Pelaporan Insiden Keselaman Pasien
20
Lampiran 3. Petunjuk Pengisian formular laporan IKP (Internal dan
Eksternal)
I. KODE RS
Kode RS bersifat unik dan confidential. Setiap RS akan diberikan kode
khusus untuk dapat mengakses dan rriengirimkan laporan insiden ke KKP-RS
PERSI. Cara mendapatkan Kode RS :
Rumah Sakit harus mengisi terlebih dahulu form data RS (lampiran 3)
yang dapat diakses lewat http://www.inapat-safety.or.id
Kode RS akan dikirimkan lewat SMS atau email oleh KKPRS PERSI.

II. DATA RS (Form Laporan JKP Eksternal)


1. Kepemilikan RS
Dipilih salah satu sesuai Kepemilikan RS : (Jelas)
2. Tipe RS
Dipilih salah satu sesuai Tipe RS : Umum atau Khusus, Bila Khusus pilih
lagi : mis. RSIA, RS khusus THT, RS khusus Ortopedi
3. Kelas RS
Dipilih salah satu sesuai kelas RS.Untuk RS Swasta menyesuaikan mis.
RS Pratama setara dengan RS kelas D, RS Madya setara dengan RS
Kelas C dst.
4. Kapasitas tempat tidur
Diisi jumlah tempat tidur dengan box bayi
5. Propinsi (lekasi RS)
Diisi nama propinsi dimana lokasi RS berada.
6. Tanggal Laporan dikirim ke KKP-RS
Diisi tanggal saat laporan dikirim via pos / kuri: / e-report ke KKP-RS

III. DATA PASIEN


1. Data Pasien: Nama, No. MR dan No. Ruangan, Hanya diisi di Form
Laporan Internal
2. Nama Pasien : (bisa diisi initial mis : Tn AR, atau NY SY)
3. No MR : (Jelas)
4. Ruangan : diisi nama ruangan dan nomor kamar mis. Ruangan Melati
kamar 301
5. Data Pasien : Umur, Jenis Kelamin Penanggung Biaya, Tgl masuk RS dan
jam diisi di Form laporan internal dan eksternal (lihat lampiran Form

21
Laporan IKP)
6. Umur : Pilih salah satu (jelas)
7. Jenis Kelamin : Pilih salah satu (jelas)
8. Penanggung biaya Pasien : Pilih salah satu (jelas)
9. Tanggal masuk RS dan Jam : Pilih salah satu (jelas)

IV. RINCIAN KEJADIAN


1. Tanggal dan waktu insiden
Diisi tanggal dan waktu saat insiden (KTD / KNC) terjadi.
Buat prosedur pelaporan agar tanggal dan waktu insiden tidak lupa :
insiden harus dilaporkan paling lambat 2x24 jam atau pada akhir jam
kerja / shift.
2. Insiden
Diisi insiden misalnya : Pasien jatuh, salah identifikasi pasien, salah
pemberian obat, salah dosis obat, salah bagian yang dioperasi, dll.
3. Kronologis insiden
Diisi ringkasan insiden mulai saat sebelum kejadian sampai
terjadinya insiden.
Kronologis harus sesuai kejadian yang sebenarnya, bukan pendapat
/asumsi pelapor.
4. Jenis insiden
Pilih salah satu insiden keselamatan pasien (IKP): KTD/KNC
5. Orang pertama yang melaporkan insiden
Pilih salah satu pelapor yang paling pertama melaporkan terjadinya
insiden
Mis: Petugas/keluarga pasien, dll
6. Kejadian terjadi pada
Jika insiden terjadi pada pasien : iaporkan kepada ILKP-RS
Jika insiden terjadi pada karyawan/keluarga pasien/pengunjung,
dilaporkan internal, ke tim MRS.
7. Insiden menyangkut pasien :
Pilih salah satu: rawat inap/pasien rawat jalan/pasien UGD
8. Tempat / Lokasi
Tempat pasien berada, mis: ruang rawat inap, ruang rawat jalan;
UGD
9. Insiden sesuai kasus penyakit / spesialisasi

22
Pasien dirawat oleh spesialisasi? (pilih salah satu)
Biia kasus penyakit/spesialisasi lebih dari satu, pilih salah satu yang
menyebabkan insiden
~ Misalnya : pasien gastritis kronis dirawat oleh internis,
dikonsulkan ke bedah dengan susp. Appendicitis. Saat
appendictomy terjadi insiden, tertinggal kassa maka penanggung
jawab kasus adalah bedah.
Bila dirawat oleh dokter umum: isi lain-lain : umum
10. Unit /departemen yang menyebabkan insiden
Adalah unitldepartemen yang menjadi penyebab teijadinya insiden.
Contoh 1: Pasien DHF ke UGD, diperiksa laboratorium, ternyata
hasilnya salah Interpretasi.
Insiden : salah hasil lab pada pasien DI-IF
Jenis Insiden : KNC ( tidak terjadi cidera)
Tempat/lokasi : UGD
Spesialisasi : Kasus penyakit dalam
Unit penyebab : laboratorium
Contoh 2 : Pasien anak berobat ke poliklinik diberikan resep,
ternyata kesalahan pemberian obat oleh petugas farmasi. Hali ini
diketahui setelah pasien pulang, Ibu pasien kembali ke Farmasi
untuk menyanyakan obat tersebut.
Interpretasi.
Insiden : salah pemberian obat untuk pasien anak
Jenis Insiden : KNC (tidak terjadi cedera)
Tempat/lokasi : Farmasi Spesialisasi : kasus anak
Unit penyebab : farmasi
Contoh 3 : Pasien THT akan dioperasi telinga kiri ternyata yang
dioperasi tel_inga kanan. Hal ini terjadi karena tidak dilakukan
pengecekan ulang bagian yang akan dioperasi oleh petugas kamar
operasi.
Interpretasi.
Insiden: salah bagian yang dioperasi telinga kiri seharusnya
kanan
Jenis Insiden : KTD (terjadi cedera)
Tempat/lokasi : Kamar Operasi
Spesialisasi : kasus THT

23
Unit penyebab : Instalasi bedah
11. Akibat insiden
Pilih salah satu : (Lihat tabel matrik grading resiko)
Kematian: jelas
Cedera irreveisible/ cedera berat : Kehilangan fungsi motorik,
sensorik atatz psikologis secara permanen. Misalnya : Lumpuh,
cacad.
Cedera irreversible/ cedera sedang : Kehilangan fungsi motorik,
sensorik atau psikologis tidak permanen. Misalnya : luka robek.
Cedera ringan : Cedera /luka yang dapat diatasi dengan
pertolongan pertama tanpa harus dirawat misalnya luka lecet.
Tidak ada cedera, tidak ada luka
12. Tindakan yang dilakukan segera setelah insiden
Ceritakan penanganan/tindakan yang saat itu dilakukan agar insiden
yang sama tidak terulang lagi
13. Tindakan dilakukan oleh :
Pilih salah satu :
Bila dilakukan oleh tim : sebutkan timnya terdiri dari siapa saja.
Misalnya : dokter, perawat.
Bila dilakukan petugas lain : sebutkan missal : analisis, asisten
apoteker, radiografer, bidan.
14. Apakah insiden yang sama terjadi di unit kerja lain?
Jika ya, lanjutkan dengan mengisi pertanyaan dibawahnya :
Waktu kejadian : isi dalam bulan/tahun
Tindakan yang telah dilakukan pada unti kerja tersebut untuk
mencegah terjadinya kejadian yang sama. Jelaskan.
V. TIPE INSIDEN
Untuk mengisi tipe insiden, harus melakukan analisis dan investigasi
terlebuh dahulu. Insiden terdiri dari: tipe insiden dan sub tipe insiden yang
dapat dilihat pada tabel dibawah ini (tabel 5)
Tabel 5
Tipe Insiden

No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden


1 Administrasi a. Proses i. Serah terima
klinik ii. Perjanjian

24
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
iii. Daftar tunggu/antrian
iv. Rnjukan/konsultasi
v. Admisi
vi. Keluar/pulang dari ranap/RS
vii. Pndah perawatan (transfer of care)
viii. Identifikasi pasien
ix. Consent
x. Pembagian tugas
xi. Respons terhadap kegawatdaruratan
b. Masalah i. Tidak performance ketika dibutuhkan/
indikasi
ii. Tidak lengkap/inadekuat
iii. Tidak tersedia
iv. Salah pasien
v. Salah proses/pelayanan
2 Proses/prosedur a. Proses i. Skrening/pencegahan/medical chek up
klinis ii. Diagnosis/assesmen
iii. Prosedur/pengobatan/intervensi
iv. General care/manajemen
v. Tes/investigasi
vi. Specimen/hasil
vii. Belum dipulangkan
(detention/restraint)
b. Masalah i. Tidak performance ketika dibutuhkan /
indikasi
ii. Tidak lengkap/inadekuat
iii. Tidak tersedi
iv. Salah pasien
v. Salah proses/pengobatan/prosedur
vi. Salah bagian tubuh/sisi
3 Dokumentasi a. Dokumen i. Order/permintaan
yang ii. Chart/rekam
terkait iii. medic/asessmen/konultasi
iv. Ceklist

25
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
v. Form/sertifikat
Instruksi/informasi/kebijakan/SOP/
vi. guideline
vii. Label/stiker/identifikasi bands/kartu
viii. Surat/email/rekaman komunikasi
Laporan/hasil/images
b. Masalah i. Dokumen hilang/tidak tersedia
ii. Terlambat mengakses dokumen
iii. Salah dokumen/salah orang
iv. Tidak jelas / membingungkan /
illegible /informasi / dokumen tidak
lengkap
4 Infeksi a. Tipe i. Bakteri
nosokomial organisme ii. Virus
(Hospital iii. Jamur
assosiated iv. Parasit
Infections) v. Protozoa
vi. Ricketsia
vii. Prion (partikel protein yang infeksius)
viii. Ordanisme tidak teridentifikasi
b. Tipe/ i. Bloodstream
bagian ii. Bagian yang dioperasi
infesi iii. Abses
iv. Pneumonia
v. Canul IV
vi. Protesis infeksi
vii. Drain/tube urin
viii. Jaringan lunak
5 Medikasi/ cairan a. Medikasi/ i. Daftar medikasi
infus cairan ii. Daftar cairan infuse
infuse
yang
terkait
b. Proses i. Presapan

26
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
peng ii. Persiapan/dispensing
gunaan iii. Pemaketan
medikasi/ iv. Pengantaran
cairan v. Pemberian
infuse vi. Supplyipesan
vii. Penyimpanan
viii. Monittoring
ix. Salah dosis/kekuatan/frekuensi
x. Salah formulasi/presentasi
xi. Salah rute pemberian
xii. Salah jumlah/kualitas
xiii. Salah dispensing labeuinstruksi
xiv. Kontraiiidikasi
xv. Salah penyimpanan
xvi. Omitted medicine or dose
xvii. Obat kadaluarsa
xviii. Adverse drug reaction (reaksi efek,
Samping obat)
6 Tranfusi a. Tranfusi i. Produk selular
darah/ produk darah/ ii. Factor pembekuan (clothing)
darah produk iii. Albumin/plasama protein
darah iv. Immunoglobulin
terkait
b. Proses i. Tes pre tranfusi
tranfusi ii. Peresapan
darah/ iii. Persiapan/dispensing
produk iv. Pengantaran
darah v. Pemberian
terkait vi. Penyimapanan
vii. Monitoring
viii. Presentasi/pemaketan
ix. Supply/pesan

c. Masalah i. Salah pasien

27
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
ii. Salah darah/prod'ak darah
iii. Salah dosis/frekuensi
iv. Salah jumlah
v. Salah label dispensing/ instruksi
vi. Kontraindikasi
vii. Salah penyimpanan
viii. Obat atau dosis yang diabaikan
ix. Darah kadaluarsa
x. Efeksamping (adverse effect)
7 Nutrisi a. Nutrisi i. Diet umum
yang ii. Diet khusus
terkait
b. Proses i. Peresepan/permintaan
nutrisi ii. Persiapan/manufaktur/proses
iii. memasak
iv. Supply/order
v. Presentation
vi. Dispensing/alokasi
vii. Pengantaran
viii. Pemberian
Penyimpanan
c. Masalah i. Salah pasien
ii. Salah diet
iii. Salah jumlah
iv. Saiah frekuensi
v. Salah konsistensi
vi. Salah penyimpanan
8 Oksigen/gas a. Oksigen/ Daftar oksigen/ gas terkait
gas terkait
b. Proses i. Label silinder/warna kode/indek PIN
peng ii. Peresepan
gunaan iii. Pemberian
oksigen/ iv. Pengantaran
gas v. Supply/order

28
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
vi. Penyimpanan
c. Masalah i. Salah pasien
ii. Salah gas
iii. Salah rate/flow/konsentrasi
iv. Salah mode pengantaran
v. Kontraindikasi
vi. Salah penyimpanan
vii. Gagal pemberian
viii. Kontaminasi
9 Alat medis/alat a. Tipe alat Daftar medis/alat kesehatan
kesehatan medis/alat (equipment property)
(equipment kesehatan
property) (equip-
ment
property)
b. Masalah i. Presentation/pemaketar. tidak baik
ii. Ketidaktersediaan
iii. Inappropriate for task
iv. Tidak bersih/tidak steril
v. Kegagalan/malfungsi
vi. Dislogemen/miskoneksi/removal
vii. User error
10 Perilaku a. Perilaku i. Tidak kooperatif
pasien ii. Tidak pantas/sikap bermusuhan/kasar
iii. Beresiko/sembrono/berbahaya
iv. Masalah dengan penggunaan subtansi/
abuse
v. Mengganggu (harassment)
vi. Diskriminasitif/berprasangka
vii. Berkeliaran, melarikan diri
viii. Sengaja mencederai diri, bunuh diri
b. Aggression i. Agresi verbal
/assault ii. Kekerasan fisik
iii. Kekerasan seksual

29
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
iv. Kekerasan terhadap mayat i
v. Ancaman nyawa
11 Jatuh a. Tipe jatuh i. Tersandung
ii. Slip
iii. Kollaps
iv. Hilang keseimbangan
b. Keter- i. Velbed
libatan ii. Tempat tidur
saat jatuh iii. Kursi
iv. Stretcher
v. Toilet
vi. Peralatan terapi
vii. Tangga
viii. Dibawaldibantu oleh orang lain
12 Kecelakaan a. Benturan i. Kontak dengan benda/binatang
tumpul ii. Kontak dengan orang
iii. Hancur, remuk _
iv. Gesekan kasar -
b. Serangan i. Cakaran, sayatan
tajam / ii. Tusukan
tusukan iii. Gigitan, sengatan
iv. Serangan tajam lainnya
c. Kejadian i. Benturan akibat ledakan bom
mekanik ii. Kontak dengan mesin
lain
d. Peristiwa
mekanik
lain
e. Mekanisme i. Panas yang berlebihan
panas ii. Dingin yang berlebihan
f. Ancaman i. Ancaman mekanik pemafasan
pada ii. Tenggelam atau hampir tenggelam
perna- iii. Pembatasan oksigen-kekurangan
fasan tempat

30
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
iv. Confinement to oxygen-deficient place
g. Paparan i. Keracunan bahan kimia atau substansi
Bahan lain
kimia atau ii. Bahan kimia korosif
substansi
lainnya
h. Mekanisme i. Paparan listrik / radiasi
spesifik ii. Paparan suara / getaran
lain iii. Paparan tekanan udara
menyebab iv. Paparan karena gravitasi rendah
kan cedera
i. Paparan i. Daftar struktur
karena ii. Daftar bangunan
dampak iii. Daftar furniture
cuaca,
bencana
alam
13 Infrastruktur / a. Keter- i. Inadekuat
bangunan / libatan ii. Damaged/fauth/worn
benda lain yang struktur /
terpasang tetap bangunan
b. Masalah
14 Resource/ a. Beban
manajemen kerja mana
organisasi jemen
yang
berkebihan
b. Keter-
sediaan /
keade-
kuatan
tempat
tidur /
pelayanan

31
No Tipe Insiden Sub Tipe Insiden
c. Sumber
daya
manusia
d. Keter-
sediaan
keade-
kuatan staf
e. Organi-
sasi/tim
f. Protocol /
kebijakan /
SOP /
guideline
g. Keter-
sediaan /
adequacy
15 laboratorium/pat a. Pengam-
ologi bilan / pick
up
b. Transport
c. Sorting
d. Data entry
e. Processing
f. Verifikasi /
validasi
g. Hasil

Contoh :
Insiden : salah pemberian obat (IM menjadi IV)
Tipe insiden : medikasi
Sub tine insiden : proses pemberian medikasi salah pemberian
Masalah : salah rute pemberian
Insiden : pasien jatuh dari tempat tidur
Tipe insiden : jatuh
Sub tipe insiden : tipe jatuh/slip/terpeleset
32
Keterlibatan saat jatuh : toilet
Insiden : tertukar hasil pemeriksaan laboratorium
Tipe insiden : laboratorium
Sub tipe insiden : hasil

VI. Analisa Penyebab Insiden dan Rekomendasi


Penyebab insiden dapat diketahui setelah melakukan investigasi dan
analisa baik investigasi sederhana (simple investigation) maupun
investigasi komprehensif (root cause analysis).
Penyebab insiden terbagi dua yaitu:
1. Penyebab langsung (immediate/direct cause)
Penyebab yang langsung berhubungan dengan insiden/dampak
terhadap pasien
2. Akar masalah (root cause)
Penyebab yang melatar belakagi penyebab langsung (underlying cause)
Faktor kontributor adalah faktor yang melatarbelakangi insiden.
Penyebab insiden dapat digolongkan berdasarkan penggolongan faktor
kontributor seperti terlihat pada tabel dibawah ini. Faktor kontributor
dapat dipilih lebih dari satu.

VII. Faktor Kontributor, Komponen dan Sub Komponen


1. Faktor Kontributor Eksternal/Diluar RS

Komponen
a. Regulator dan Ekonomi
b. Peraturan dan kebijakan depkes
c. Peraturan nasional
d. Hubungan dengan organisasi lain

2. Faktor Kontributor Organisasi dan Manajemen

Komponen Sub Komponen


Organisasi dan manajemen a. Struktur organisasi
b. Pengawasan
c. Jenjang pengambilan keputusan
Kebijakan, standart dan a. Tujuan dan misi
tujuan b. Penyusunan fungsi manajemen

33
Komponen Sub Komponen
c. Kontak service
d. Sumber keuangan
e. Pelayanan informasi
f. Kebijakan diklat
g. Prosedur dan kebijakan
h. Fasilitas dan perlengkapan
i. Manajemen resiko
j. Manajemen K3
k. Quality improvement
Administrasi Sistem administrasi
Budaya keselamatan a. Attitude kerja
b Dukungan manajemen oleh seluruh
staf
SDM a.~ Ketersediaan
b. Tingkat pendidikan dan
keterampilan staf yang berbeda
c. Beban kerja optimal
Diklat Manajemen training, pelatihan/
refreshing

3. Faktor Lingkungan Kerja

Komponen Sub Komponen


Desain dan bangunan a. Manajemen pemeliharaan
b. Penilaian ergonomic
c. Fungsionalitas
Lingkungan a. House keeping
b. Pengawasan lingkungan fisik
c. Perpindahan pasien antar ruangan
Peralatan/ sarana/ prasarana a. Mal fungsi alat
b Ketidaktersediaan
c. Manajemen pemeliharaan
d. Fungsionalitas
e. Desain penggunaan dan
maintenance peralatan

34
4. Faktor Kontributor : Tim

Komponen Sub Komponen


Supervisi dan konsultasi a. Adanya kemauan staff junior
berkomunikasi
b. Cepat tanggap
Konsistensi a. Kesamaan tugas antar profesi
b. Kesamaan tugas antar staf yang
setingkat
Kepemimpinan & tanggung a. Kepemimpinan efektif
jawab b. Job diskripsi jelas
Respon terhadap insiden Dukungan peers setelah insiden

5. Faktor Kontributor : Petugas

Komponen Sub Komponen


Kompetensi a. Verifikasi, kualifikasi
b. Verifikasi pengetahuan dan
keterampilan
Stressor fisik dan mental a. Motivasi
b. Stressor mental : efek beban kerja
beban mental
c. Stressor fisik : efek beban kerja =
gangguan fisik

6. Faktor Kontributor : Tugas

Komponen Sub Komponen


Ketersediaan SOP a. Prosedur peninjauan dan revisi
SOP
b. Ketersediaan SOP
c. Kuaiitas informasi
d. Prosedur investigasi
Ketersediaan dan akurasi a. Tes tidak dilakukan
hasil tes b. Ketidaksesuaian antara interpretasi
hasil tes
Faktor penunjang dalam a. Ketersediaan, penggunaan,

35
Komponen Sub Komponen
validasi alat medis reliabilitas
b. Kalibrasi
Desain tugas Penyelesaian tugas tepat waktu
dan sesuai SOP

7. Faktor Kontributor : Pasien

Komponen Sub Komponen


Kondisi Penyakit yang komplek, berat,
multi komplikasi
Personal a. Kepribadian
b. Bahasa
c. Kondisi social
d. Keluarga
Pengobatan Mengetahui resiko yang
berhubungan dengan pengobatan
Riwayat a. Riwayat medis
b. Riwayat kepribadian
c. Riwayat emosi
Hubungan staf dan pasien Hubungan yang balk

8. Faktor Kontributor : Komunikasi

Komponen Sub Komponen


Komunikasi verbal a. Komunikasi antar staf junior
dengan senior
b. Komunikasi antar profesi
c. Komunikasi antar staf dengan
pasien
d. Komunikasi antar unit departemen
Komunikasi tertulis Ketidak lengkapan informasi

Contoh :
Pasien mengalami luka bakar saat dilakukan fisioterapi. Petugas
fisioterapi adalah petugas yang baru bekerja di RS X. hasil investigasi
ditemukan:

36
1. Penyebab langsung (direct/ proximate/ immediate cause)
Peralatan/sarana/prasarana : intensitas berlebihan pada alat
tranducer
Petugas : fisioterapis kurang memahami penggunaan alat
2. Akar penyebab masalah (underlying --> root cause)
Peralatan/sarana/prasarana : manajemen pemeiiharaan/
maintenance alat tidak ada
Manajemen (diklat) : tidak pernah diberikan training dan
orientasi
3. Rekomendasi/ Solusi
Bisa dibagi atas :
Jangka pendek
Jangka menengah
Jangka panjang

37
Lampiran 5
Alur pelaporan Insiden Keselamatan pasien

Unit Atasan langsung Sub.Komite KPRS Direktur KKP PERSI


Instalasi unit

Insiden Laporan
(KTD / KNC) kejadian (2x24)

Atasan
Langsung

Grading

Tangani
Segera
Biru Merah
Hijau Kuning

Investigasi
sederhana

Laporan kejadian
Rekomendasi
hasil investigasi

Analisa
Regreadin
gggg

RCA

Feed back Pembelajaran / Laporan Laporan


Rekomendasi
ke Unit

38
Lampiran 6
DAFTAR INSIDEN KESELAMATAN PASIEN

NO JENIS INSIDEN KETERANGAN

1 Insiden kesalahan transportasi pasien KTC/KTD


2 Insiden kesalahan identifikasi pasien KNC/KTD
3 Kesalahan jenis operasi KNC/KTD
4 Kesalahan posisi KTD
5 Tertinggalnya kain kasa KTD
6 Tertinggalnya instrumen KTD
7 Operasi tanpa dokter anaestesi KTD
8 Operasi dengan kekurangan darah KTD
9 Perluasan operasi KNC/KTD
10 Ketidak cocokan antara diagnose pra dan post opersi KTD
11 Komplikasi anaestesi karena overdosis KTD
12 Insiden pasien jatuh KTD
13 Insiden infus blong KTD
14 Insiden trauma elektrik KNC/KTD
15 Insiden kesalahan cara pemberian obat KTD
16 Insiden trauma karena pemberian obat KNC/KTD
17 Insiden kesalahan dosis obat KNC/KTD
18 Insiden kesalahan pencampuran obat KNC/KTD
19 Kesalahan sampling laborat KNC/KTD
20 Kesalahan identifikasi saat melakukan pengambilan KNC/KTD
sample untuk pemeriksaan
21 Insiden ketidaktepatan pengambilan sample KTD
22 Insiden kesalahan saat persiapan pemeriksaan KTD
penunjang
23 Insiden kesalahan persiapan operasi KTD
24 Insiden luka bakar akibat alat penunjang KTD
25 Insiden kesalahan posisi pemeriksaan KNC/KTD
26 Insiden salah identifikasi saat pemeriksaan penunjang KNC/KTD
27 Insiden reaksi obat kontras KTD
28 Isiden kesalahan jenis diit KTC
29 Insiden sediaan diit khusus KTD
30 Insiden tercemarnya makanan KTC/KTD
31 Insiden kesalahan penyediaan sample KTD

39
32 Insiden kesalahan menginput hasil KNC/KTD
33 Insiden kesalahan pengoperasian alat KNC/KTD
34 Insiden kesalahan pencampuran reagen KTC/KTD
35 Insiden kesalahan menyampaikan hasil KNC/KTD
36 Insiden kesalahan pengambilan sample KTC/KNC/KTD
37 Insiden kesalahan pembacaan resep KNC/KTD
38 Insiden kesalahan penyerahan obat kepada pasien KTC/KNC/KTD
39 Insiden kesalahan kelebihan/kekurangan obat pada KTC/KNC/KTD
pasien
40 Kesalahan dosis obat KNC/KTD
41 Obat highalert tanpa label keterangan KPC
42 Tulisan tangan yg tidak terbaca pada penulisan resep KPC
43 Persediaan obat emergensi yg tdk lengkap KPC
44 Jumlah tenaga yg tdk sebanding dengan beban kerja KPC

45 Lantai licin KPC


46 Tempat sampah tanpa label KPC
47 Alat medis tanpa keterangan pemeliharaan KPC
48 Jarum suntik yg tdk di buang pada sefety box KPC
49 Pre operasi tidak dilakukan site marking KPC
50 Tidak melakukan time out KPC
51 Tidak dilakukan pengkajian awal dan ulang resiko jatuh KPC
52 Pinggiran/alat pengaman TT yg tdk terpasang dengan KPC
benar / rusak
53 Kursi roda tanpa rem KPC
54 Identitas pasien yg tdk lengkap / salah data KPC
55 DC syock yg tdk siap pakai KPC
56 Luka karena restrain KTD
57 Persediaan oksigen habis KPC
58 Roda TT rusak KPC

40