Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tinggi rendahnya kematian ibu dan perinatal menjadi ukuran

kemampuan pelayanan obstetri suatu negara. Di Indonesia, pada tahun 2008

penyebab langsung kematian maternal terkait kehamilan dan persalinan

terutama yaitu perdarahan 28%. Sebab lain yaitu eklamsi 24%, infeksi 11%,

partus lama 5%, dan abortus 5%. Indonesia dengan Angka Kematian Ibu

(AKI) 390/100.000 persalinan hidup, menunjukkan bahwa kemampuan

pelayanan obstetri belum menyeluruh masyarakat dengan layanan yang

bermutu dan menyeluruh (Manuaba, 2007). Komplikasi obstetri sangat

berpengaruh terhadap Angka Kematian Ibu (AKI) diantaranya partus lama

(kala II lama). AKI adalah indikator keberhasilan pelayanan kesehatan,

khususnya pelayanan kebidanan. Sampai sekarang Angka Kematian Ibu di

Indonesia masih tinggi.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa Angka

Kematian Ibu di Indonesia masih tetap tinggi dikawasan ASEAN walaupun

sudah terjadi penurunan dari 270 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun

2006 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 dan turun

lagi menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2009. Dari angka

kematian tersebut terdapat 34-45 % diakibatkan oleh perdarahan, sekitar 16-

17% Insidens perdarahan pasca persalinan akibat dari retensio plasenta,

1
2

14,5%-24% akibat dari hipertensi, sekitar 10%-10,5% akibat dari infeksi dan

5%-6,5 % diakibatkan karena partus lama (kala II lama) (Depatemen

Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

Partus lama menjadi salah satu faktor yang menyebabkan angka

kematian ibu meningkat. Persalinan lama merupakan salah satu penyebab

langsung dari kematian ibu, berdasarkan data International NGO on

Indonesian Development (INFID) pada tahun 2013, angka kejadian

persalinan lama di Indonesia adalah sebesar 5% dari seluruh penyebab

kematian ibu (Konferensi INFID, 2013).

Dalam proses persalinan terjadi kontraksi uterus dan setiap kali

kontraksi dapat mengakibatkan perfusi plasenta terganggu karena tekanan

intrauteri meningkat diatas tekanan darah dengan intensitas 50 60 mmHg.

Pada akhir kala 1 atau kala II saat kontraksi berlangsung secara konsisten 90

detik, jumlah kontraksi adalah 3 4 kali tiap 10 menit atau terjadi tiap 2 3

menit sekali sehingga aliran darah ke janin dapat berkurang atau berhenti.

Stimulasi kontraksi uterus yang berlebihan atau kurang sempurna dan

lamanya persalinan kala II dengan teknik mengejan yang aktif berlangsung

lebih dari 1 jam pada ibu primipara maka dapat menyebabkan ibu kelelahan

dan gangguan pada sirkulasi utero plasenter (Ermi, 2014)

Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir.

Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif (Saifuddin 2010).

Proses persalinan terhadap lama kala II sangat dipengaruhi oleh beberapa

faktor antara lain faktor dari ibu yaitu Passage (Jalan lahir), Power berupa
3

His (kontraksi otot rahim dan faktor psikis dari ibu yaitu berupa dukungan

suami dan religiusitas. Sedangkan Faktor dari bayi yaitu, Passenger (janin

dan plasenta) dan faktor dari penolong. Bila mana dari faktor tersebut sehat

dan normal maka proses persalinan akan berlangsung normal (spontan)

(Mochtar R, 2002). Persalinan lama pada kala II, bila tidak ditangani dengan

cepat maka akan menyebabkan kelelahan yang berkepanjangan dan dehidrasi

sehingga akan berdampak terhadap kontraksi uterus pada kala pengeluaran

plasenta dan akhirnya menyebabkan gangguan pelepasan placenta. Bilamana

placenta tidak terlepas selama 30 menit setelah bayi lahir maka akan terjadi

retensio placenta, dan akhirnya menyebabkan terjadinya perdarahan post

partum (Depkes RI, 2010).

Faktor predisposisi yang utama adalah persalinan lama, yang

merupakan penyebab terbesar atonia uteri (Oxorn, 2013). Masyarakat

menganggap kasus persalinan kala II lama perlu diwaspadai. Dukungan sosial

dari suami dan keluarga secara tepat mempunyai peranan penting terhadap

kesehatan seorang ibu terutama dalam menghadapi proses persalinan

(Diponegoro & Hastuti, 2012). Proses persalinan yang lama atau macet dapat

disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain faktor kekuatan yang terdiri dari

kontraksi otot rahim dan tenaga mengejan yang dimiliki oleh ibu, faktor

janin, faktor jalan lahir, faktor psikis ibu terdiri dari tingkat kecemasan dan

rasa takut yang dialami dalam menghadapi persalinan, serta faktor reproduksi

yang terdiri dari usia, paritas dan jarak kelahiran (Reeder, 2011). Hasil

Penelitian Hutagalung (2011), tentang hubungan usia, paritas dengan


4

persalinan lama di Rumah Sakit Soewandi Surabaya menunjukkan bahwa

12,08% usia ibu bersalin < 20 tahun dan 4,17% usia ibu bersalin > 35 tahun.

Sedangkan kejadian persalinan lama adalah sebesar 7,08%.

Usia dan paritas merupakan faktor yang mendukung kuatnya

kontraksi pada ibu bersalin. Pada usia ibu bersalin yang terlalu tua dan terlalu

sering melahirkan, kekuatan kontraksi uterus mulai menurun sehingga akan

memungkinkan lama persalinan akan mengalami perpanjangan (Manuaba,

2010). Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Creasy di Amerika Serikat

pada tahun 2010 terhadap 3.675 ibu multipara didapatkan bahwa hampir 80%

ibu mengalami kelancaran persalinan berikutnya, sebaliknya 36% ibu

primipara mengalami penyulit persalinan sehingga persalinan berjalan lebih

lama. Hal ini dikarenakan oleh kesalahan mengejan ibu, posisi janin dalam

rahim dan ketidaksesuaian antara jalan lahir dengan ukuran kepala janin

(Creasy, 2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Barbara di

Indonesia pada tahun 2010 hampir 33,8% ibu mengalami persalinan lama

(Rendra, 2010).

Faktor yang pengaruh terjadinya persalinan lama yaitu hormonal

pengaruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh saraf,

nutrisi, faktor jalan lahir, kekuatan mengejan, posisi janin, psikis ibu dan

penolong merupakan faktor yang mengakibatkan partus lama (Ruth, 2007).

Paritas yang rendah atau primipara banyak mengalami persalinan yang lama

hal ini dipengaruhi kelainan his/kontraksi uterus, kelainan letak dan bentuk

janin, kelainan panggul. Persalinan yang berlangsung lama dapat


5

menyebabkan bayi asfiksia, kelelahan pada ibu, kecacatan pada janin,

kematian ibu dan bayi (Prawirohardjo, 2009). Selain itu persalinan yang lama

dapat menyebabkan komplikasi baik ibu maupun janin. Dalam proses

persalinan pemanjangan kala II merupakan faktor penyebab kematian pada

ibu bersalin (Ruth, 2007).

Persalinan kala II lama menimbulkan efek yang berbahaya terhadap

ibu maupun janin. Pada ibu dapat berakibat atonia uteri, laserasi, perdarahan,

infeksi, kelelahan ibu dan shock. Selain itu semakin lama persalinan, semakin

tinggi morbiditas dan mortalitas janin sehingga semakin sering terjadi

kejadian asfiksia, trauma cerebri yang disebabkan oleh penekanan pada

kepala janin, cedera akibat tindakan ekstraksi dan kematian (Oxorn, 2013).

Oxorn (2013) menyatakan bahwa efek dari partus lama adalah kegagalan

myometrium berkontraksi yang merupakan penyebab utama perdarahan

postpartum. Efek berbahaya yang ditimbulkan oleh partus lama adalah

mengakibatkan kelelahan rahim sehingga rahim cenderung berkontraksi

lemah (atonia uteri). Pada ibu dengan persalinan lama akan mengalami

keletihan, sehingga dia kurang mampu bertahan terhadap kehilangan darah

yang kemudian dapat berakhir dengan kematian (Oxorn, 2013).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Banyuasin

Kabupaten Purworejo pada Bulan Februari 2017, didapatkan selama tahun

2016 ada 256 persalinan, dan 45 (17,6%) persalinan umur ibu < 20 tahun dan

anak pertama atau primipara. Dari jumlah persalinan tersebut 85 (33,2%)

dirujuk dan dari yang dirujuk tersebut 25 (29,4%) orang berumur < 20 tahun.
6

Kejadian partus lama selama tahun 2016 adalah 21 persalinan, partus lama

kala I 14 (66,7%) persalinan, kala 2 adalah 9 (33,3%) orang, perdarahan 1

orang, dan pre eklamsi 1 orang. Selain itu juga terdapat kelahiran BBLR

sejumlah 2 orang dan bayi aspiksia 1 orang (Medical Record Puskesmas

Banyuasin, 2016).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut, maka peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh paritas dan umur ibu bersalin

terhadap lama persalinan di Puskesmas Banyuasin Kabupaten Purworejo.

B. Rumusan Masalah
Selama tahun 2016 di Puskesmas Banyuasin ada 256 persalinan, dan

45 (17,6%) persalinan umur ibu < 20 tahun dan anak pertama atau primipara.

Dari jumlah persalinan tersebut 85 (33,2%) dirujuk dan dari yang dirujuk

tersebut 25 (29,4%) orang berumur < 20 tahun. Kejadian partus lama selama

tahun adalah 21 persalinan, partus lama kala I 14 (66,7%) persalinan, kala 2

adalah 9 (33,3%) orang. Berdasarkan latar belakang tersebut maka petanyaan

yang muncul dalam penelitian ini adalah apakah ada Pengaruh paritas dan

umur ibu bersalin terhadap lama persalinan di Puskesmas Banyuasin

Kabupaten Purworejo?.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Mengetahui Pengaruh paritas dan umur ibu bersalin terhadap lama

persalinan di Puskesmas Banyuasin Kabupaten Purworejo.


7

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi gambaran paritas ibu bersalin di Puskesmas

Banyuasin Kabupaten Purworejo.

b. Mengidentifikasi gambaran umur ibu bersalin di Puskesmas

Banyuasin Kabupaten Purworejo.

c. Mengidentifikasi gambaran lama persalinan ibu bersalin di

Puskesmas Banyuasin Kabupaten Purworejo.

d. Mengidentifikasi pengaruh paritas terhadap lama persalinan di

Puskesmas Banyuasin Kabupaten Purworejo.

e. Mengidentifikasi pengaruh umur ibu bersalin terhadap lama

persalinan di Puskesmas Banyuasin Kabupaten Purworejo

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi ibu bersalin

Hasil penelitian diharapkan sebagai sumber informasi bagi ibu mengenai

keputusan untuk umur bersalin dan jumlah paritas.

2. Bagi Prodi Kebidanan

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna

untuk perkembangan ilmu kebidanan khususnya asuhan kebidanan

dalam hal untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan

lama persalinan.
8

b. Dengan penelitian ini didapatkan informasi ilmiah yang diharapkan

mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi masukan

bagi penyempurnaan penyelengggaraan kebidanan.

3. Bagi Puskesmas Banyuasin

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan

dan gambaran kepada bidan atau dokter tentang penyuluhan mengenai

umur dan paritas yang ideal untuk persalinan.

b. Hasil penelitian diharapkan dapat diberikan pelayanan kebidanan yang

lebih baik sehingga dapat menurunkan angka kematian maternal maupun

perinatal.

4. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini semoga bisa menjadi masukan untuk penelitian lebih

lanjut.

E. Ruang Lingkup

1. Lingkup Variabel

Variabel yang diteliti ada 3 variabel, yaitu variabel umur ibu dan Paritas

sebagai variabel bebas, dan lama persalinan sebagai variabel terikat.

2. Lingkup Responden

Responden dalam penelitian ini adalah ibu bersalin di Puskesma

Banyuasin sepanjang tahun 2015-2016

3. Lingkup Wilayah

Wilayah penelitian dilakukan di Puskesmas Banyuasin Kabupaten

Purworejo.
9

4. Lingkup Waktu

Penelitian akan dilakukan pada bulan Maret 2017

F. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengetahuan peneliti selama ini, belum ada penelitian

tentang Pengaruh Paritas dan umur ibu bersalin terhadap lama persalinan

di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuasin Kabupaten Purworejo. Ada

beberapa penelitian yang hampir sama, antara lain :

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Judul, Pengarang Rancangan


No Variabel Hasil
dan Tahun Penelitian
1 Hubungan usia ibu, Metode penelitiaan Variabel bebasTidak ada
paritas, dan berat yang digunakan paritas dan, berat hubungan antara
lahir terhadap Kala deskriptif analitik lahir dan usia ibu usia ibu dengan
II lama di Rumah dengan Variabel terikat: Kala II lama
Sakit Adji Darmo Crossectional. kala II lama Ada hubungan
Lebak Oleh Agus Populasi ibu bersalin antara paritas
Anang Fatoni dengan sampel 384 dengan Kala II
tahun 2011 ibu diambil dengan lama
tehnik purposive Ada hubungan
sampling antara berat lahir
dengan Kala II
lama
2 Perbedaan lama penelitian observasi, Variabel bebas: Ada perbedaan
persalinan antara dengan Primipara dan lama persalinan
primipara dengan rancangan penelitian Multipara antara ibu
multipara di RSUD corelational. Variabel terikat: primira pada
Dr. Moewardi Populasi dalam lama persalinan dengan
Surakarta oleh penelitian ini adalah multipara
Putri Larosa tahun 15 ibu yang
2008 melahirkan pertama
kali dan 15 ibu yang
melahirkan beberapa
kali dengan tehnik
consecutive
sampling
10

3 Hubungan umur penelitian observasi, Variabel bebas : Ada hubungan


dan paritas ibu dengan umur ibu dan antara umur ibu
bersalin dengan rancangan penelitian paritas dengan
kejadian persalinan crossectional. variabel terikat: persalinan sectio
sectio Caesaria di Populasi ibu kejadian caesaria dan ada
RSUD yang memiliki balita persalinan Sectio hubungan antara
Panembahan berjumlah 755 Caesarea paritas dengan
Senopati Bantul orang. Populasi kejadian
Yogyakarta oleh 2.503 ibu bersalin persalinan sectio
Anjar Tri Kusuma dan jumlah sampel caesaria
tahun 2013 90 ibu bersalin.
Dengan tehnik
purposive sampling

Perbedaan dengan penelitian ini adalah penelitian ini dengan judul

pengaruh umur ibu bersalin dan paritas terhadap lama persalinan, dengan

desain penelitian Crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu

bersalin di puskesmas Banyuasin selama tahun 2016 dan sampel diambil

dengan tehnik Purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi

Square.
11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Persalinan

1. Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan

melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan

(Kekuatan sendiri). Sedangkan persalinan kala II yaitu mulai

pembukaan lengkap (10 cm) sampai lahirnya bayi, proses tersebut

berlangsung 90 menit pada primigravida dan 30 menit pada

multigravida (Manuaba, 2008). Pada prinsipnya proses persalinan

merupakan hal yang fisiologis namun masih banyak persalinan yang

disertai dengan komplikasi atau penyulit.

Partus atau persalinan adalah proses mendorong janin dan

plasenta keluar dari uterus oleh his miometrium yang terkoordinasi

(Llewellyn-Jones, 2002). Berikut diuraikan beberapa istilah yang

berhubungan dengan persalinan. Persalinan yang terjadi secara normal

atau biasa disebut eutocia. Yang dianggap persalinan biasa atau eutocia

ialah bila kelahiran itu dengan:

a. Isi kandungan hanya satu anak, satu plasenta, dan air ketuban tidak

lebih dari 1,5 liter.


12

b. Umur anak dalam kandungan tidak kurang dari 37 minggu dan

tidak lebih dari 42 minggu.

c. Letak anak dalam kandungan normal, yaitu letak kepala di bawah.

d. Anak lahir dengan tenaga ibu sendiri, yaitu dari his dan tenaga

mengejan.

e. Jalan kelahiran yang dilalui anak ialah jalan kelahiran biasa yaitu:

uterus, rongga panggul, dan dasar panggul.

f. Waktu persalinan tidak lebih dari 24 jam.

g. Kelainan-kelainan tidak terdapat pada ibu maupun anak (Ibrahim,

1996).

Partus patologis atau partus abnormal ialah bila bayi dilahirkan

per vaginam dengan cunam, ekstraktor vakum, versi dan ekstraksi,

dekapitasi, embriotomi dan sebagainya (Wiknjosastro, 1999). Partus

imatur adalah persalinan saat kehamilan 20-28 minggu dengan berat

janin antara 500-1000 g. Persalinan prematur adalah persalinan saat

kehamilan 28-36 minggu dengan berat janin antara 1000-2500 g

(Mansjoer dkk, 2001).

2. Lama persalinan

Karena pada banyak kasus sukar ditetapkan secara tepat kapan

persalinan dimulai, maka tidak ada batasan yang disepakati tentang

permulaan persalinan. Menurut Midwifery (2004), yang membatasi

persalinan yaitu diawali dengan saat dimana pasien mengalami his

persalinan yang menuju ke arah kelahiran bayi dan berakhir dengan


13

kelahiran plasenta. Persalinan yang berlangsung lama dapat

menimbulkan komplikasikomplikasi baik terhadap ibu maupun

terhadap anak, dan akan meningkatkan angka kematian ibu dan anak

(Mochtar, 1995). Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih

dari 24 jam pada primi; dan lebih dari 18 jam pada multi. Sedangkan

menurut Harjono (Mochtar, 1995), partus lama atau partus kasep

merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung

terlalu lama sehingga timbul gejala-gejala: dehidrasi, infeksi, kelelahan

ibu, asfiksi dan kematian janin dalam kandungan. Sebab-sebab

terjadinya partus lama ini adalah multikomplek, dan tentu saja

bergantung pada pengawasan selagi hamil, pertolongan persalinan

yang baik dan penatalaksanaannya.

3. Mekanisme dan Tahap persalinan

Persalinan diawali dengan his persalinan, seperti ditunjukkan

oleh perubahan servikal progresif, dan berakhir dengan kelahiran

plasenta (Midwifery, 2004). Dalam minggu-minggu sebelum

persalinan mulai, his persalinan yang tidak menyakitkan, yang semakin

tinggi frekuensinya, terjadi pada stadium prodromal persalinan yang

dapat berlangsung selama 4 minggu. Selama masa tersebut, segmen

bawah mengembang untuk menerima kepala janin yang masuk ke

pintu atas panggul. Pengembangan segmen bawah ini mengurangi

tekanan terhadap abdomen bagian atas tetapi meningkatkan tekanan

pada panggul (Llewellyn-Jones, 2002).


14

Permulaan persalinan sulit ditentukan waktunya dengan tepat,

dan mungkin didahului beberapa tanda : (1) nyeri persalinan semu

menjadi teratur, atau his persalinan yang menyakitkan mengingatkan

pasien bahwa persalinan telah mulai. Persalinan semu ialah suatu

keadaan dimana terjadi kontraksi uterus yang terasa nyeri namun

kemajuan dilatasi serviks tidak terjadi; (2) keluar lendir bercampur

sedikit darah. Lendir berasal dari lendir kanalis servikalis karena

serviks mulai membuka/ mendatar. Sedangkan darah berasal dari

pembuluh-pembuluh kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis

yang pecah karena pergeseran ketika serviks membuka. Peralihan

menuju ke persalinan berlangsung secara bertahap. Seorang ibu

dikatakan dalam persalinan (in partu) apabila dilatasi serviks paling

kurang 2 cm dan telah timbul his persalinan, yaitu kontraksi yang

teratur, makin sering, makin lama, dan makin kuat serta mengeluarkan

lendir bercampur darah (bloody show) (Llewellyn-Jones, 2002;

Mansjoer dkk, 2001). Persalinan aktif dibagi menjadi empat kala yang

berbeda, yaitu: Kala satu, kala dua, kala tiga, dan kala empat. Berikut

diuraikan masing-masing dari kala persalinan tersebut.

Menurut chandranita (2010),tahapan pada proses persalinan ada 4

yaitu:

a. Kala I

Kala ini disebut stadium pendataran dan dilatasi serviks,

mulai ketika telah tercapai his persalinan dengan frekuensi,


15

intensitas, dan durasi yang cukup untuk menghasilkan pendataran

dan dilatasi serviks yang progresif. Pada kala ini, tenaga yang

efektif adalah his persalinan, yang selanjutnya akan menghasilkan

tekanan hidrostatik ke seluruh selaput ketuban terhadap seviks dan

segmen bawah rahim. Bila selaput ketuban sudah pecah, bagian

terbawah janin terpaksa langsung mendesak serviks dan segmen

bawah rahim. Sebagai akibat kegiatan daya dorong ini, terjadi dua

perubahan mendasar, yaitu pendataran dan dilatasi, pada serviks

yang sudah melunak. Kala satu selesai ketika serviks sudah

membuka lengkap (sekitar 10 cm) sehinggga memungkinkan

kepala janin lewat (Cunningham dkk, 2006).

Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara

pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Lama kala I untuk

primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida 8 jam.

Kala satu persalian terdiri dari dua fase yaitu fase laten dan fase

aktif.

1) Fase laten

Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan

dan pembukaan serviks secara bertahap, Berlangsung hingga

serviks membuka kurang dari 4 cm, Pada umumnya,

berlangsung hampir atau hingga 8 jam.

2) Fase aktif
16

Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara

bertahap (kontraksi diangap adekuat/memadai jika terjadi tiga

kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama

40 detik atau lebih),Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai

pembukaan lengkap 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata

rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1

sampai 2 cm (multipara), Terjadi penurunan bagian terbawah

janin

b. Kala II

Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap

(10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua disebut juga

kala pengeluaran bayi. Proses ini biasanya berlangsung selama 50

menit pada primigravida dan 30 menit pada multigravida tanda dan

gejala kala II seperti Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan

terjadinya kontraksi, Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan

pada rektum dan/atau vaginanya, perineum menonjol, vulva vagina

dan sfingter ani membuka, meningkatnya pengeluaran lendir

bercampur darah. Kala II ditentukan melalui periksa dalam yang

hasilnya adalah pembukaan serviks telah lengkap atau terlihatnya

bagian kepala bayi melalui introinvus vagina.

Kala ini disebut juga dengan stadium ekspulsi janin atau

kala pengeluaran, mulai ketika dilatasi serviks sudah lengkap, dan

berakhir ketika janin sudah lahir. Pada kala ini, janin didorong
17

keluar dengan kekuatan his dan kekuatan mengedan. Pada

primigravida, penurunan bagian terbawah janin terjadi secara khas

agak lambat tetapi mantap. Namun, pada multigravida, khususnya

yang paritasnya tinggi, penurunan berlangsung cepat (Cunningham

dkk, 2006).

c. Kala III

Setelah kala II, kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai

10 menit. Dengan lahirnya bayi, mulai berlangsung pelepasan

plasenta pada pelapisan Nitabusch, karena sifat retraksi otot rahim.

Lepasnya plasenta sudah adpat ddiperkirakan dengan

memperhatikan tanda-tanda: uterus menjadi bundar, uterus

terdorong ke atas karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim,

tali pusat bertambah panjang, terjadi perdarahan. Melairkan

plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara crede padan

fundus uteri. Stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta, mulai

segera setelah janin lahir, dan berakhir dengan lahirnya plasenta

dan selaput ketuban janin (Cunningham dkk, 2006). Biasanya

plasenta lepas dalam waktu 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir

dan keluar spontan atau dengan tekanan fundus uteri.

d. Kala IV

Kala IV (observasi). Kala IV dimaksudkan untuk melakukan

observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada

2 jam pertama. Observasi yang dilakukan meliputi tingkat


18

kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah,

nadi dan pernapasan, kontraksi uterus terjadinya perdarahan.

Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi

400 sampai 500 cc. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan

lamanya 1 jam. Dalam kala ini diamati apakah terjadi perdarahan

postpartum.

2. Faktor yang mempengaruhi proses persalinan

Faktor utama yang mempengaruhi proses persalinan diantaranya

yaitu power (kekuatan), passage (keadaan panggul) dan passanger

(keadaan janin). Ibu yang memiliki kekuatan fisik yang bagus akan

lebih mudah dalam proses persalinan, keadaan panggul yang besar

mampu melancarkan persalinan secara normal, selain itu kondisi janin

yang terdapat di dalam rahim juga mempengaruhi proses persalinan

(Manuaba, 2007)..

Partus lama sebagian besar disebabkan oleh fase laten yang

memanjang, fase aktif yang memanjang, dan his yang tidak adekuat

juga tenaga ibu (Septiana, 2015). Hasil penelitian ini sesuai dengan

yang di kemukakan Sumampauw bahwa his yang tidak normal dalam

kekuatan atau setiap persalinan, tidak dapat diatasi, sehingga

persalinan mengalami hambatan atau kemacetan (Sumampauw, 2006).

Partus lama yang terjadi disebabkan oleh persalinan palsu/belum in

partu, fase laten yang memanjang, fase aktif yang memanjang,

kontraksi adekuat, kontraksi tidak adekuat (Septiana, 2015).


19

Semakin tua umur seseorang, maka risiko persalinan kala I fase

aktif yang memanjang akan semakin meningkat, sehingga usia seorang

wanita harus menjadi salah satu pertimbangan dalam merencanakan

suatu kehamilan (Anggarani, 2013). Detiana (2010) menyatakan

bahwa usia yang tepat untuk hamil dan melahirkan adalah usia 2035

tahun karena kondisi fisik wanita dalam keadaan prima dan mengalami

puncak kesuburan. Hamil pada usia 2035 tahun memiliki beberapa

keuntungan di antaranya risiko abortus sangat kecil, risiko bayi lahir

cacat sangat rendah, serta wanita memiliki waktu yang cukup panjang

untuk mengasuh dan membesarkan anak. Pada usia lebih 35 tahun

kondisi fisik ibu hamil sudah mulai menurun sehingga kontraksi yang

dihasilkan oleh otot rahim tidak maksimal, sehingga akan

meningkatkan risiko persalinan lama.

Hasil penelitian Sadiah dan Melaniani (2014) menunjukkan

bahwa wanita yang bersalin pada usia > 35 tahun berisiko mengalami

persalinan kala I fase aktif yang memanjang sebesar 14,816 kali lebih

besar daripada wanita yang bersalin pada usia ideal. Hal yang sama

juga ditemukan oleh Fraser (2002), yang menunjukkan bahwa wanita

yang melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35

tahun memiliki risiko sebesar 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan

usia 2035 tahun. Prawirohardjo (2008), menyatakan bahwa usia

diatas 35 tahun akan lebih berisiko mengalami persalinan yang lama

yang lebih tinggi dibandingkan wanita yang berusia 2035 tahun


20

karena pada usia > 35 tahun mulai terjadi penurunan fungsi organ

reproduksi terutama endometrium, dengan demikian usia melahirkan

yang terlalu tua akan mengancam kesehatan dan jiwa ibu maupun janin

yang dikandungnya, baik selama kehamilan, persalinan maupun nifas.

Hasil penelitian Sadiah dan Melaniani (2014) menunjukkan

bahwa ibu bersalin dengan paritas multipara hampir sebagian

mengalami lama persalinan kala I fase aktif yang memanjang yaitu

sebesar 36,21%, artinya kejadian perpanjangan kala I fase aktif pada

paritas multipara masih cukup tinggi. Hasil analisis dengan regresi

logistik ganda paritas ibu bersalin memiliki nilai p sebesar 0,485

artinya tidak ada pengaruh paritas terhadap lama persalinan.

Prawirohardjo (2008), menyatakan bahwa paritas multipara secara

umum merupakan paritas yang paling aman bagi wanita untuk

melahirkan dan masih digolongkan dalam kehamilan dengan risiko

rendah, meskipun demikian, tetap ada faktor risiko yang menyebabkan

kemungkinan terjadinya komplikasi persalinan yang dapat

menyebabkan kematian atau kesakitan pada ibu dan bayi, misalnya

pada wanita multipara yang mengalami anemia atau memiliki riwayat

bedah sesar pada persalinan sebelumnya. Keadaan rahim seorang

wanita hamil akan mengalami pembesaran dan peregangan, sehingga

otot rahim tidak dapat kembali seperti sebelum hamil. Semakin sering

ibu hamil dan melahirkan, maka semakin dekat jarak kelahiran,


21

elastisitas uterus semakin terganggu, akibatnya uterus tidak dapat

berkontraksi secara sempurna (Prawirohardjo, 2008).

Perpanjangan kala I fase aktif juga sering dialami oleh wanita

dengan paritas primipara dan multipara karena keadaan servik yang

lebih kaku dibandingkan dengan grandemultipara (Bobak, 2004). Ness,

dkk (2005), melakukan penelitian pada 1000 grandemultipara

menunjukkan bahwa persalinan kala I fase laten mengalami durasi

yang lebih lama daripada wanita dengan paritas yang lebih rendah.

Berdasarkan teori yang ditulis oleh Gurewtisch (2002), menyatakan

bahwa pada seorang ibu dengan jarak kelahiran terlalu dekat memiliki

risiko sebesar 10,220 kali mengalami persalinan kala I fase aktif yang

memanjang dibandingkan wanita yang bersalin dengan jarak yang

ideal. Seorang ibu yang melahirkan dengan jarak kelahiran yang terlalu

jauh memiliki risiko sebesar 14,849 kali mengalami persalinan kala I

fase aktif yang memanjang. Wanita yang melahirkan dengan jarak

yang terlalu jauh, proses persalinannya menyerupai persalinan pada

primi tua, sehingga sering terjadi penyulit persalinan (Cunningham,

2006).

Manuaba (2010) menyatakan bahwa seorang wanita yang

melahirkan dengan jarak yang terlalu dekat atau terlalu jauh akan

memberikan dampak yang buruk terhadap kondisi kesehatan ibu dan

bayi. Pada persalinan dengan jarak yang terlalu dekat bentuk dan

fungsi organ reproduksi belum kembali dengan sempurna, sehingga


22

kekuatan kontraksi yang dihasilkan oleh rahim tidak maksimal,

akibatnya proses persalinan menjadi lama. Pada persalinan dengan

jarak yang terlalu jauh otot panggul dan otot uterus mengalami

kelemahan sehingga akan berpengaruh terhadap persalinan

selanjutnya. Oleh karena itu jarak kelahiran minimal agar organ

reproduksi dapat berfungsi kembali dengan baik adalah 24 bulan.

Hasil penelitian Sadiyah dan Melianiani (2014) wanita yang

bersalin dengan anemia sedang mempunyai risiko sebesar 12,723 kali

untuk terjadi persalinan kala I fase aktif yang memanjang

dibandingkan dengan wanita yang bersalin dengan kadar Hb yang

normal atau tidak anemia. Tarwoto (2007) dan Nugroho (2008), yang

menyatakan bahwa seorang wanita yang mengalami anemia dalam

kehamilan dapat mengalami proses persalinan kala I yang memanjang.

Perpanjangan kala I tersebut dapat terjadi karena kurangnya kadar Hb

dalam darah akan mengakibatkan oksigen yang ditransfer ke dalam

tubuh maupun otak menjadi berkurang. Sehingga aliran oksigen dalam

uterus juga berkurang, akhirnya kontraksi yang dihasilkan kurang

maksimal. Jika kontraksi uterus pada saat persalinan kurang maksimal,

maka pembukaan serviks cenderung lebih lama. Djallaludin, dkk

(2004), menyimpulkan bahwa ibu hamil yang menderita anemia

berpengaruh terhadap kejadian partus lama, sehingga penelitian

tersebut mendukung hasil penelitian yang telah dilakukan. Kejadian

anemia jarang menimbulkan kedaruratan akut selama kehamilan,


23

namun setiap masalah kegawatan dapat diperberat oleh anemia yang

diderita ibu. Seperti halnya pada proses persalinan, kondisi kala II

lama atau partus tak maju akan diperberat dengan adanya anemia

(Taber, 2006).

B. Umur Ibu

1. Pengertian umur

Usia adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau

diadakan) (Hoetomo, 2005). Sedangkan usia ibu hamil adalah usia ibu

yang iperoleh melalui pengisian kuesioner. Penyebab kematian

maternal dari faktor reproduksi diantaranya adalah maternal age/usia

ibu. Istilah usia diartikan dengan lamanya keberadaan seseorang

diukur dalam satuan waktu dipandang dari segi kronologik, individu

normal yang memperlihatkan derajat perkembangan anatomis dan

fisiologik sama (Dorland, 2010).

2. Batasan umur bersalin yang aman

Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk

kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada

wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2

sampai 5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang terjadi

pada usia 20 sampai 29 tahun. Penyebab kematian maternal dari faktor

reproduksi diantaranya adalah maternal age atau usia ibu. Dalam

kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan
24

persalinan adalah 20 tahun sampai dengan 30 tahun. Kematian

maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20

tahun ternyata 2 sampai 5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal

yang terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian maternal

meningkat kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun (Prawirohardjo,

2012).

3. Dampak bersalin usia < 20 tahun dan > 30 tahun

Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30 sampai

35 tahun (Sarwono, 2008). Usia seorang wanita pada saat hamil

sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang

dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, berisiko tinggi untuk

melahirkan. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik,

emosi, psikologi, sosial dan ekonomi (Ruswana, 2006).

Kehamilan di bawah usia 20 tahun dapat menimbulkan banyak

permasalahan karena bisa mempengaruhi organ tubuh seperti rahim,

bahkan bayi bisa prematur dan berat lahir kurang. Hal ini disebabkan

karena wanita yang hamil muda belum bisa memberikan suplai

makanan dengan baik dari tubuhnya ke janin di dalam rahimnya

(Marmi, 2012). Kehamilan di usia muda atau remaja (di bawah usia 20

tahun) akan mengakibatkan rasa takut terhadap kehamilan dan

persalinan, hal ini dikarenakan pada usia tersebut ibu mungkin belum

siap untuk mempunyai anak dan alat-alat reproduksi ibu belum siap

untuk hamil (Prawirohardjo, 2012).


25

Umur pada waktu hamil sangat berpengaruh pada kesiapan ibu

untuk menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu sehingga kualitas

sumber daya manusia makin meningkat dan kesiapan untuk

menyehatkan generasi penerus dapat terjamin. Begitu juga kehamilan

di usia tua (di atas 35 tahun) akan menimbulkan kecemasan terhadap

kehamilan dan persalinan serta alat-alat reproduksi ibu terlalu tua

untuk hamil (Prawirohardjo, 2012).

Penelitian Almeida et al (2015) menyatakan bahwa ibu dengan

usia yang tua (lebih dari 41 tahun) mempunyai pengaruh yang tinggi

terhadap keluaran perinatal. Untuk wanita hamil 41, peningkatan

risiko keluaran perinatal diidentifikasi untuk kelahiran prematur, untuk

posterm (kecuali untuk wanita primipara dengan sekolah 12 tahun),

dan untuk berat badan lahir rendah. Saat melakukan perbandingan

antara umur tua dengan muda, tingkat pendidikan yang lebih tinggi

memastikan risiko yang sama rendah pada Skor APGAR 1 menit

pertama (untuk ibu primipara dan kelahiran aterm), skor APGAR

rendah pada 5 menit (kelahiran aterm), makrosomia (untuk wanita

non-primipara), dan asfiksia (Almeida, 2015).

C. Paritas

Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang

dapat hidup (viable). Jenis paritas bagi ibu yang sudah partus antara lain

yaitu : a) Nullipara adalah wanita yang belum pernah melahirkan bayi


26

yang mampu hidup; b) Primipara adalah wanita yang pernah satu kali

melahirkan bayi yang telah mencapai tahap mampu hidup; c) Multipara

adalah wanita yang telah melahirkan dua janin viabel atau lebih; d)

Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan lima anak atau

lebih. Pada seorang grande multipara biasanya lebih banyak penyulit

dalam kehamilan dan persalinan (Prawiroharjo, 2012).

Paritas yang tinggi memungkinkan terjadinya penyulit kehamilan

dan persalinan yang dapat menyebabkan terganggunya transport O2 dari

ibu ke janin yang akan menyebabkan asfiksia yang dapat dinilai dari

APGAR Score menit pertama setelah lahir (Manuba, 2010). C

Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil. Primigravida

adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali. Para adalah seorang

wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). Primipara

adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama

kali (Mochtar, 1992). Multipara atau pleuripara adalah seorang wanita

yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali

(Wiknjosastro, 1999). Grandemultipara adalah wanita yang pernah

melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati (Mochtar, 1992).

D. Lama Persalinan

Fase laten yang melampaui waktu 20 jam pada primipara atau

waktu 14 jam pada multipara merupakan keadaan abnormal. Sebab-sebab

fase laten yang panjang mencakup (1) serviks belum matang pada awal
27

persalinan, memperpanjang fase laten, dan kebanyakan serviks akan

membuka secara normal begitu terjadi pendataran; (2) posisi janin

abnormal; (3) disproporsi cephalopelvik; (4) pemberian sedatif yang

berlebihan. Tulang panggul si ibu yang bermasalah bisa menyebabkan

persalinan menjadi agak susah, meskipun sang bayi tiada masalah dan

kontraksi juga bagus. Bisa jadi panggul terlalu sempit atau bentuknya

tidak sempurna seperti bengkok atau berbentuk segitiga juga menyebabkan

lama persalinan memanjang (Indiarti, 2008).

1. Fase Aktif yang Memanjang pada Primipara

Pada primigravida, fase aktif yang lebih panjang dari 12 jam

merupakan keadaan abnormal. Yang lebih penting daripada fase ini

adalah kecepatan dilatasi serviks. Laju yang kurang dari 1,2 cm per

jam membuktikan adanya abnormalitas. Pemanjangan fase aktif

menyertai: (1) malposisi janin; (2) disproporsi cephalopelvik; (3)

penggunaan sedatif dan analgesik berlebihan; (4) ketuban pecah

sebelum dimulainya persalinan.

2. Fase Aktif yang Memanjang pada Multipara

Fase aktif pada multipara yang berlangsung lebih dari 6 jam (rata-rata

2,5 jam) dan laju dilatasi serviks yang kurang dari 1,5 cm per jam

merupakan keadaan abnormal. Kelahiran normal yang terjadi di waktu

lampau tidak berarti bahwa kelahiran berikutnya pasti normal kembali.

Berikut ini ciri-ciri partus lama pada multipara:

a. Insidennya kurang dari 1 persen.


28

b. Mortalitas perinatalnya lebih tinggi dibandingkan pada

primigravida dengan partus lama.

c. Jumlah bayi besar bermakna.

d. Malpresentasi menimbulkan permasalahan.

e. Prolapsus funiculi merupakan komplikasi.

f. Perdarahan postpartum berbahaya.

g. Ruptura uteri terjadi pada grandemultipara.

h. Sebagian besar kelahirannya berlangsung spontan pervaginam.

i. Ekstraksi forceps-tengah lebih sering dilakukan.

j. Angka sectio caesaria tinggi, sekitar 25% .

E. Kerangka Teori

Umur ibu bersalin (< 20 tahun atau


> 30 tahun)
Pembukaan serviks
Paritas (multipara dan
Grandemutipara)

Kelainan letak janin


Kelainan-kelainan panggul
Kelainan his Lama Persalinan
Pimpinan persalinan yang salah
Janin besar atau kelainan
congenital
Perut pendulum,
Ketuban pecah dini
Disproporsi fetopelvik
Analgesi dan anasthesi berlebihan
-------- = Diteliti
= tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Teori (Sadiyah dan Melianiani, 2014; Cunningham,
2006, Manuaba, 2010)
29

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan desain penelitian, populasi dan sampel, teknik

pengambilan sampel, waktu dan tempat penelitian, etika penelitian, alat

pengumpul data, uji coba instrumen, prosedur pengumpulan data dan analisis

data dan analisis data.

A. Kerangka Konsep

Usia ibu
Lama Persalinan

Paritas

Variabel bebas Variabel Terikat


Gambar 3.1 Kerangka Konsep

B. Hipotesis penelitian

Hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang hubungan yang

diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris

(Notoatmodjo, 2010, hal 105). Hipotesis kerja (Ha) adalah suatu rumusan

hipotesis dengan tujuan untuk membuat ramalan tentang peristiwa yang terjadi

apabila suatu gejala muncul. Hipotesis nol (Ho) atau hipotesis statistik

biasanya dibuat untuk menyatakan suatu kesamaan atau tidak adanya suatu

perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok atau lebih mengenai suatu

hal yang dipermasalahkan (Notoatmodjo, 2010, hal 105). Hipotesis dalam

penelitian ini adalah:


30

Ha:
1. Ada hubungan antara umur ibu dengan lama persalinan di Puskesmas

Banyuasin Kabupaten Purworejo


2. Ada hubungan antara paritas dengan lama persalinan di Puskesmas

Banyuasin Kabupaten Purworejo

C. Desain penelitian

Jenis penelitian ini adalah Analitik Correlational dengan pendekatan

retropekstif. Merupakan rancangan penelitian dengan menggambarkan

masalah yang terjadi pada kasus tertentu berhubungan dengan distribusinya

(Hidayat, 2003). Desain penelitian menggunakan pendekatan case control,

yaitu penelitian dengan melakukan observasi atau pengukuran dua variabel

untuk mengetahui hubungan sebab akibat (Sastroasmoro dan Ismail, 2006).

Desain penelitian ini dipilih untuk menjelaskan hubungan antara variabel-

variabel baik bebas maupun terikat, dengan melihat hubungan antara umur ibu

dan paritas dalam variabel bebas dengan lama persalinan sebagai variabel

terikat.

D. Variabel penelitian

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran

yang dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu konsep

pengertian tertentu (Notoadmodjo, 2010: 103).

1. Variabel bebas: adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau

berubahnya variabel dependent (variabel terikat). Variabel independent


31

adalah variabel yang mempengaruhi (Sugiyono, 2007: hal 4). Variabel

dalam penelitian ini adalah variabel bebas : umur ibu dan paritas

2. Variabel terikat: merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi

akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2007: hal 4). Variabel

terikat dalam penelitian ini adalah lama persalinan

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran

Definisi operasional adalah menerangkan definisi variabel-variabel

yang akan diteliti serta skala ukur yang akan digunakan dan cara

pengumpulan datanya (Hariwijaya dan Triton, 2005). Definisi operasional

dari penelitian ini adalah:

Tabel 1. Definisi Operasional, Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran

Variabel Definisi Operasional Parameter dan Alat ukur Skala


Kategori pengukuran
Umur ibu Umur merupakan usia Umur ibu dikategorikan Kuesioner Nominal
ibu saat melahirkan menjadi: berisi 1
sesuai yang tercantum 1. persalinan berisiko tem
dalam status ibu. tinggi (< 20 tahun, atau > pertanyaan
35 tahun)
2. persalinan tidak
berisiko rendah (20 tahun
35 tahun)
Paritas Paritas merupakan Paritas ibu dikategorikan Kuesioner/ Ordinal
jumlah persalinan menjadi: bisa dilihat
bayi di atas 20 1. Primipara (jumlah di status
minggu yang persalinan 1) ibu
pernah dialami ibu 2. Multipara (jumlah bersalin
sebelum persalinan persalinan 25)
saat ini yang 3. Grandemultipara
tercantum dalam satus (jumlah persalinan >
ibu. 5)

Lama Waktu yang Diyatakan dalam jam Observasi Nominal


persalinan dibutuhkan untuk yang dikelompokkan pada
32

Variabel Definisi Operasional Parameter dan Alat ukur Skala


Kategori pengukuran
terjadinya dilatasi menjadi partograf
serviks yang dihitung 1. 6 jam yang ada
dari pembukaan 2. 6 jam pada status
empat (fase aktif) 3. ibu
hingga mencapai bersalin
pembukaan lengkap
(10 cm)

F. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007,

hal 61). Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik

tertentu yang akan diteliti (Bungin, 2008: hal 100). Populasi penelitian ini

adalah seluruh ibu bersalin di tahun 2016 di Wilayah Puskesmas Banyuasin

Kapupaten Purworejo yang berjumlah 256 ibu bersalin.

2. Sampel

Sampel adalah merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti;

dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap populasi, namun bukan populasi

itu sendiri. Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya

mewakili keseluruhan gejala yang diamati. (Sugiyono, 2007: hal 56).

a. Besar sampel

Untuk menentukan jumlah sampel pada penelitian ini adalah menggunakan

rumus Slovin (Nursalam, 2003: 96) :


33

N
b. n
1 N (d 2 )

Gambar 3.3. Rumus Perhitungan Sampel


Dimana :
N : Besar Populasi
n : Besar sampel
d : Penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan yaitu sebesar 5%
atau 0,05

Jumlah ibu yang memenuhi kriteria inklusi 256 ibu bersalin, maka :

256
n
1 256(0,0025)

256

1 0,64

= 156,1

Dibulatkan menjadi 156 sehingga jumlah sampel adalah 156 ibu

bersalin

Gambar 3.4. Perhitungan Jumlah Sampel

Jumlah sampel yang didapatkan berdasarkan perhitungan dengan

menggunakan rumus tersebut sebanyak 156 responden. Teknik

sampling merupakan suatu proses seleksi sampel yang digunakan

dalam penelitian ini dari populasi yang ada, sehingga jumlah sampel

akan mewakili keseluruhan populasi yang ada (Nursalam, 2003: 97).

c. Tehnik sampling
Sampel diambil dengan tehnik simpel random sampling.

G. Waktu dan Tempat Penelitian


34

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan April 2017 yang dimulai dari

kegiatan penyusunan proposal Februari sampai Maret 2017. Pengumpulan data

dan pengolahan data serta penulisan laporan penelitian akan dilakukan bulan Mei

2017. Penelitian akan dilakukan di Puskesmas Banyuasin, Kabupaten Purworejo

tahun 2017.

H. Teknik pengumpulan data

1. Jenis data
a. Data primer: data yang diperoleh dari sumber pertama baik dari individu

atau perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian

angket/kuesioner (Umar, 2007). Hasil pengumpulan data melalui pengisian

kuesioner tentang pemberian Umur ibu dan paritas dan lama persalinan dari

status pasien/ibu bersalin.

b. Data sekunder: Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih

lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer dan oleh pihak

lain misalnya dalam bentuk tabel atau diagram (Umar, 2007). Data sekunder

dalam penelitian ini adalah dari register buku KIA di Puskesmas tentang

jumlah persalinan di wilayah Puskesmas Banyuasin.

2. Cara pengumpulan data

Pengumpulan data akan dilakukan pada April 2017 di wilayah Puskesmas

Banyuasin Kabupaten Purworejo tahun 2017 dengan langkah-langkah sebagai

berikut

a. Peneliti akan mengajukan surat

permohonan ijin penelitian kepada Kepala Puskesmas Banyuasin.


35

b. Setelah peneliti mendapatkan surat

persetujuan dari Kepala Puskesmas selanjutnya akan dilakukan skreening

status ibu bersalin yang bersalin selama tahun 2016.

c. Pengisian Lembar observasi dilakukan

oleh peneliti dengan memeriksa status ibu bersalin tentang umur ibu, paritas

dan lama persalinan

d. Setelah semua lembar observasi yang telah

terisi, dilakukan pengolahan data secara manual dengan langkah-langkah

editing, coding, tabulating dan entry data, kemudian dilanjutkan dengan

melakukan analisa data menggunakan program komputer SPSS 17.0.

I. Instrumen Penelitian

Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner

untuk mengidentifikasi umur ibu dan paritas ibu serta lama persalinan yang

disusun sendiri oleh peneliti.

J. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

Uji Coba Instrumen tidak akan dilakukan karena hanya satu item

pernyataan masih-masing variabel.

K. Pengolahan dan Analisa data

a. Cara Pengolahan data


36

Pengolahan data pada penelitian ini akan dilaksanakan dengan

tahap-tahap sebagai berikut :

1) Editing

Editing dilakukan segera setelah peneliti menerima lembar

kuesioner yang telah diisi oleh responden, sehingga apabila terjadi

kesalahan data dapat segera diperbaiki. Jika terdapat jawaban atau

lembar kuesioner belum terisi atau terisi ganda maka kuesioner

tersebut dapat dibatalkan atau digugurkan (Faisal, 2008). Proses

editing dilakukan setelah kuesioner terkumpul..

2) Coding

Coding merupakan tahapan memberikan kode pada jawaban

responden, yaitu memberikan kode identitas responden untuk menjaga

kerahasiaan identitas responden dan mempermudah proses penelusuran

biodata responden jika diperlukan. Coding juga dilakukan dengan

menetapkan kode untuk scoring jawaban responden atau hasil

kuesioner yang telah dilakukan (Faisal, 2008). Coding data dilakukan

dengan memberi tanda pada masing-masing jawaban dengan kode

berupa angka.

Tabel 2. Kode-Kode terhadap Variabel yang diteliti/ diukur

No Variabel Skala pengukuran Kode kategori


Variabel Terikat (VT)
1. Umur ibu nominal Persalinan berisiko kode 2
Persalinan tidak risiko kode 1
2. Pritas Ordinal Grande multipara kode 3
Multipara kode 2
Primipara kode 1
37

Variabel Bebas (VB)


2. Lama Nominal 6 jam kode 1
persalinan 6 jam kode 2

3) Tabulasi

Tabulasi data dilakukan dengan memberikan skor (scoring)

terhadap item-item yang perlu diberi skor dan memberikan kode

terhadap item-item yang tidak diberikan skor, mengubah jenis data

sesuai dengan metode analisa data yang akan digunakan serta

memberikan kode dalam hubungan dengan pengolahan data jika akan

menggunakan Komputer (Arikunto, 2002). Kegiatan atau langkah

memasukkan data-data hasil penelitian ke dalam tabel-tabel sesuai

dengan kriteria. Proses tabulating ini dilakukan setelah coding data

selesai.

4) Entry data

Entry data adalah kegiatan atau langkah memasukkan data-data

hasil penelitian ke dalam program aplikasi statistik SPSS (Statistics

Package For Service Solution Versi 17.0) untuk pengujian statistik.

Entry data dilakukan bersamaan dengan proses pengolahan data

(Faisal, 2008).

b. Analisa data

Setelah data terkumpul, hasil pengumpulan data telah diolah

dengan analisa statistik dengan menggunakan analisa univariate untuk

mengetahui gambaran usia ibu, paritas dan lama persalinan. Analisa data
38

dianalisa dengan menggunakan uji distribusi frekuensi dan disajikan dalam

bentuk narasi dan tabel. Rumus uji distribusi frekuensi (Wasis, 2008):

f
...... %
skor total

Gambar 3 Rumus distribusi frekuensi

Keterangan:

% : prosentase frekuensi

F : Frekuensi

Skor total: total yang ditemukan seharunya

Uji bivariate dilakukan menghubungkan antara variabel bebas dengan variabel

terikat. Uji bivariate pada variabel umur ibu, paritas dan lama persalinan

dilakukan menggunakan uji Chi Square karena data pada variabel bebas

merupakan data kategorik (nominal) dan variabel terikat merupakan data

kategori dengan skala pengukuran ordinal

L. Etika Penelitian

Setelah laporan penelitian disetujui oleh kedua pembimbing dan telah

diujikan, Ketua Program Studi Kebidanan Program DIV Kebidanan alih

Jenjang Poltekes Semarang membuat surat permohonan kepada Kepala

Puskesmas Banyuasin yang selanjutnya mengeluarkan ijin untuk dapat

melanjutkan penelitian. Peneliti menentukan masalah etika penelitian kepada

calon responden diantaranya yaitu :


39

1. Informed consent (Lembar persetujuan)

Lembar persetujuan disampaikan kepada responden dan dijelaskan maksud

dan tujuan penelitian, setelah responden menyetujui untuk menjadi

responden, kemudian diminta untuk menandatangani lembar persetujuan

yang telah disiapkan. Jika di tengah-tengah pengisian kuesioner responden

ingin mengundurkan diri maka dipersilahkan untuk mengundurkan diri,

kuesioner yang telah terisi sebagian tidak diikutkan dalam pengolahan

data.

2. Anonymity (Tanpa nama)

Untuk menjamin kerahasiaan subyek penelitian, maka dalam lembar

persetujuan maupun lembar kuesioner nama dan identitas responden tidak

dicantumkan. Peneliti hanya mencantumkan tingkat pendidikan dan umur

serta lama dirawat dan menggunakan kode tertentu untuk masing-masing

responden yang berupa nomor urut responden pada waktu pengambilan

data dilakukan.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Informasi ataupun masalah-masalah lain yang telah diperoleh dari

responden disimpan dan dijamin kerahasiaannya, informasi yang diberikan

oleh responden tidak akan disebarluaskan atau diberikan kepada orang lain

tanpa seijin yang bersangkutan. Kuesioner yang telah selesai digunakan

akan dimusnahkan dengan cara dibakar.


40

LEMBAR KONSULTASI PROPOSAL SKRIPSI

Nama mahasiswa : ...............................................


NIM : .................................................
Nama Pembimbing :
1. .....................................................
2. ........................................................
Judul Proposal Skripsi:
Hubungan antara Usia Ibu dan paritas dengan Lama Persalinan di
Puskesmas Banyuasin Kabupaten Purworejo

Materi yang
No Hari/Tanggal Saran pembimbing Paraf
dikonsulkan
41

Materi yang
No Hari/Tanggal Saran pembimbing Paraf
dikonsulkan
42

Materi yang
No Hari/Tanggal Saran pembimbing Paraf
dikonsulkan
43

DAFTAR PUSTAKA

Diponegoro, A.M. & Hastuti, S.F.B. (2009). Pengaruh Dukungan Suami


Terhadap Lama Persalinan Kala II Pada Ibu Primipara. Journal
Humanitas Vol VI No 2 Agustus 2009. Diakses 23 Januari 2015 pukul
16.20 WIB.

Kementrian Kesehatan RI. (2013). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta:


Kementrian Keehatan Indonesia.

Manuaba, IBG. (2007). Ilmu Kandungan, Penyakit Kandungan & Keluarga


Berencana untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : EGC.

Sadiah, N dan Melaniani, S. (2014). Pengaruh Faktor Reproduksi Ibu dan Anemia
Terhadap Lama Persalinan Kala I Fase Aktif. Jurnal Biometrika dan
Kependudukan, Vol. 3, No. 2 Desember 2014: 136142

Saifuddin, A. B. (2010). Ilmu Kebidana Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: P.T


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Septiana. E.A. (2015). Hubungan Antara Partus Lama Dan Kondisi Air Ketuban
Dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir (Stady Kasus Di Rsud
Kota Salatiga Tahun 2012). J. Kebidanan Adila Bandar Lampung .
Volume......7 Edisi 2 Tahun 2015 ISSN 2088.9011

Sumampauw, 2006. Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Oxorn, H. (2015). Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta : Yayasan Essentia


Media.

Anggarani, R.D, Subakti, Y. 2013. Kupas Tuntas Seputar Kehamilan. Jakarta:


Agromedia Pustaka

Bobak, L. 2004. Buku Ajar Keperawatan maternitas. Jakarta: EGC

Cunningham. 2006. Obstetri William. Jakarta: EGC

Detiana, P. 2010. Hamil Aman dan Nyaman Diatas Usia 30 Tahun. Yogyakarta:
Media Pressindo

Djallaludin, H., Suharyanto. 2004. Faktor Risiko Ibu Untuk Terjadinya Partus
Lama di RSUD Ulin Banjarmasin dan RSU Ratu Zalecha Martapura.
Jurnal Sains Kesehatan, N o . 1 7 (1) Januari 2004
44

Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP

Reeder, S.J. 2011. Keperawatan Maternitas: Kesehatan wanita, bayi, dan


Keluarga. Jakarta: EGC

Ness, A., Goldberg, J., Berghella, V. 2005. Abnormalities of the First and Second
Stages of Labor. Journal Obstetry Gynecol Clin N Am, No. 32, Hal 201
220

Konferensi INFID. 2013. Institut KAPAL Perempuan/Membedah Angka Kematian


Ibu: Penyebab dan Akar Masalah Tingginya Angka Kematian Ibu.
http://infid.org/ pdfdo/1386827867.pdf (Sitasi 27 Januari 2014)

Tarwoto. 2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil Konsep dan Penatalaksanaan.
Jakarta: Trans Info media

Fraser, M., Cooper, A. 2002. Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta: EGC

Gurewtisch, E., Diamnet, P., Fong, J. 2002. The Labor Curve of Grand Multipara:
Does Progress of Labor Continue to Improve with The Additional
Childbearing? Am J Obstet Gynecol 2002; 186: 13318

Hamranani, S., Indrawan. I, W,A., Sudiarto. 2013. Hubungan Antara Stres dengan
Lama Fase Aktif KalaI Persalinan Pada Ibu Primigravida. Skripsi. Malang.
Universitas Brawijaya

Chandranita.2010.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Edisi 2.


Jakarta :EGC.

Depatemen Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Asuhan Persalinan Normal.


JNPK-KR. Jakarta.

Mochtar R. (2002). Sinopsis Obstetri Jilid II. Penerbit EGC. Jakarta.