Anda di halaman 1dari 65

1

2.1 Abstrak Rencana Penelitian

PT.South Pacific Viskose yang didirikan tahun 1978, adalah salah satu industri

pembuatan serat rayon viscosa, dan termasuk salah satu industri besar di Indonesia. PT

SPV berstatus penanaman modal asing perusahaan patungan antara India ,Austria , dan

Indonesia. Departemen spinning, salah satu departemen yang ada di PT.SPV yang diberi

wewenang untuk mengolah pulp hingga menjadi serat rayon viscosa dengan kualitas

mutu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Serat rayon viskosa yang bermutu tinggi

adalah serat yang telah mengalami proses penyempurnaan akhir atau yang lebih dikenal

dengan proses after treatment dengan cara pencucian berulang menggunakan air panas

bersuhu 800C, sehingga memerlukan kebutuhan air panas 90 M3/jam

Kebutuhan bahan bakar minyak sebagai sumber energi yang diperlukan untuk

membuat air panas 800C, dan biaya pengolahan air jumlahnya cukup besar. Untuk

mengatasi hal tersebut, industri harus melakukan upaya lainnya supaya industri tidak

selalu tergantung pada bahan bakar minyak Oleh karena itu industri harus

memanfaatkan luaran yang ada, dengan cara memanfaatkan panas dari buangan gas

panas, limbah cair panas, dan memanfaatkan cooling water dari CS2 recovery trought dan

produksi asam sulfat di unit acid plant.

Hal ini menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut , bagaimana supaya terjadi

pengurangan pemakaian bahan bakar minyak dan pemakaian air terkontrol, dengan

melakukan pemasangan alat-alat yang diperlukan untuk menunjang penghematan energi

pada proses after treatment melalui pemanfaatan air panas. Alat-alat yang dibutuhkan

adalah alat pertukaran panas jenis pelat yang dipakai untuk mengambil panas dari limbah

cair panas, dan scrubber sebagai pembersih gas dan filter. Pemasangan alat-alat ini
2

memerlukan biaya yang cukup tinggi, oleh karena itu perlu dilakukan analisis biaya

untuk mengetahui manfaat yang ditimbulkannya dan bagaaimana kelayakan ekonominya.

Analisis Biaya Manfaat (ABM) lebih dikenal dengan analisis manfaat biaya

adalah alat untuk menyusun kebijakan yang memungkinkan pengambilan keputusan

memilih diantara berbagai alternatif yang saling bersaing . Analisis ini dapat digunakan

pada anlisis investasi kegiatan usaha yang hanya melibatkan biaya dan keuntungan

( Djayadiningrat,1997)

Analisis biaya merupakan metode sistematis untuk mengukur manfaat dan biaya

ekonomi dari suatu sistem atau kegiatan pada kegiatan proyek. Kegiatan ini adalah

melakukan investasi suatu peralatan pendukung proses produksi pada suatu industri .

Analisis biaya manfaat adalah suatu strategi untuk pengambilan suatu keputusan dengan

cepat . Manfaat suatu investasi adalah nilai tambah hasil barang atau jasa yang

dimungkinkan karena adanya investasi, sedangkan biaya adalah nilai tambah sumber

daya riil yang dikeluarkan , untuk mendapatkan manfaat dari suatu investasi .

Analisis ekonomi dapat memberikan informasi tentang biaya yang timbul dan

manfaat yang didapat dari sutu kebijakan .atau untuk melihat apakah suatu kebijakan

yang akan dilaksanakan dapat memberikan manfaat yang menguntungkan kepada

masyarakat secara keseluruhan .Untuk menilai kelayakan suatu proyek dapat digunakan

beberapa metode / kriteria diantaranya yaitu ::

1. Menghitung ekivalensi nilai sekarang (Net Present Value/NPV)

2.Menghitung ratio manfaat biaya (Benefit Cost Ratio/BCR)

3Menghitung tingkat bunga pnembalian modal ( Internal Rate of Return/ IRR).


3

2.2 MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN

2.2.1 Maksud dari penelitian adalah sebagai :

1.Menghitung kelayakan ekonomi , biaya pemasangan perlengkapan empat unit plate

heat exhanger, satu unit scrubber, dan dua unit filter

2.2.2 Tujuan penelitian ini adalah

1..Untuk menganalisis kelayakan ekonomi , biaya pemasangan perlengkapan empat unit

plate heat exhanger .

2.3.Keutamaan Rencana Penelitian

Penelitian ini, adalah lanjutan dari penelitian sebelumnya diharapkan dapat

memberikan gambaran tentang manfaat ekonomi pada pengunaan buangan limbah cair

panas pelalui pertukaran panas jenis pelat, dan gas panas perolehan dari sistim scrubber

pada unit CS2 recovery , dan perolehan dari unit acid plant , untuk proses aft serat

rayon viskosa.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang

berkepentingan.

1.Bagi pihak akademisi , diharapkan dapat memberikan kotribusi ilmiah, dalam

mengetahui kelayakan ekonomi pemasangan alat-alat yang dibutuhkan pada

penghematan energi pada proses after treatment serat rayon viskosa melalui

pemanfaatan air panas.

2.Bagi para industri , khususnya industri pembuatan serat rayon viskosa ,memanfaatkan

buangan gas panas dan limbah cair panas, untuk memperoleh air panas hasil sistem
4

scrubber dari unitCS2 recovery, dan dari unit acid plant , pada proses aft serat rayon

viskosa lebih ekonomis, sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi.

2.4 Hipotesa

Hipotesa dari penelitian ini adalah

Pemasangan alat pertukaran panas jenis pelat dan scrubber pada CS2 recovery trought

dan filter pada produksi asam sulfat di unit acid plant secara ekonom dapat

mengnutngkan

2.5. Studi Pustaka

2.5.1 Karakteristik Sistem Scrubber

Scrubber adalah alat yang digunakan untuk membersihkan gas yang mudah

bereaksi dengan air . Prinsip kerjanya adalah mencampur air dengan uap /gas dalam suatu

tempat . Pada umumnya arah aliran berlawanan , agar kontak antara uap gas dengan air

dapat sempurna . Alat ini terdiri dari beberapa tipe , seperti wet scrubber , ventury

scrubber , dan vertical scrubber . Wet scrubber biasanya digunakan untuk membuang

partikel yang terdapat pada dalam industri-industri kimia. Walaupun wet scrubber tidak

lazim digunakan untuk menghilangkan partikel dari gas buang , namun banyak instalasi

yang menggunakan wet scrubber untuk menghilangkan oksida sulfur dari gas buang..

Mekanisme sistem wet scrubber adalah sebagai berikut :mencampur air dingn dengan

uap-gas dalam suatu wadah dengan aliran berlawanan , agar kontak antara uap gas

dengan air dapat sempurna ( Philip .2002) .


5

Sistem scrubber terdapat pada recovery CS2 .Tujuan dari proses ini , adalah untuk

menguapkan CS2 yang terdapat dalam rayon viscosa lebih dikenal dengan CS 2

Recovery Through . Serat rayon yang sudah dipotong (tow) , dimasukan kedalam bak

untuk mengalami pencucian dengan air panas , diikuti dengan pemanasan menggunakan

uap panas bertekanan 0,3 1,5 bar . Tujuan dari proses ini adalah untuk menguapkan CS2

yang terdapat dalam rayon viscosa . Selanjutnya uap CS 2 dialirkan melalui scrubber dan

dikondensasi dalam tiga tingkat condensor . Secara sederhana proses di sistem scrubber

dapat dilihat pada Gambar 1berikut ini :

Gambar 1 Vertical Srcubber (Philip.2002)

2.5.2 Plate Heat Exhanger (PHE) Penukar Panas Jenis Plat

Plat Heat Exhanger (PHE) adalah alat penukar panas permukaan , alat digunakan

untuk penukaran panas , terutama jika perbedaan suhunya tidak terlalu besar . Alat

penukar panas plat ini , terdiri dari serangkaian plat paralel terpisah , dan membentuk
6

lintasan aliran yang tipis . Setiap plat dipisahkan satu sama lainnya , dengan bantuan

gasket , dan aliran panas melintas secara paralel melalui plat-plat alternatif , sementara

cairan yang dipanaskan melintas secara paralel diantara plat-plat panas . Pelat-pelat yang

terdapat pada alat ini berbentuk gelombang , bentuk ini diharapkan agar perpindahan

panas berjalan dengan baik (UNEP.2005).

Cairan panas yang melintas bagian bawah head dialirkan keatas melintas diantara

setiap plat genap , sementara cairan dingin pada bagian puncak head dialirkan turun

diantara plat-plat ganjil . Arah fluida panas dan fluida dingin berlawanan , susunannya

digambarkan sebagai aliran berlawanan arah counter current . Penukar panas jenis plat

dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini :

Gambar 2 Penukar Panas Jenis Plat (UNEP.2005)


7

2.6 METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus , yang mengobservasi kegiatan

proses produksi di industri dalam penggunaan energi . Tujuan penelitian studi kasus

adalah memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang , sifat-sifat serta

karakter yang khas dari kasus ataupun status individu , yang kemudian dari sifat khas

tersebut dijadikan suatu hal yang bersifat umum . Hasil dari penelitian studi kasus

merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal .Penekanan pada studi

kasus lebih pada pengkajian variabel yang cukup banyak pada unit yang kecil

.Keunggulan pada studi kasus adalah dapat mendukung studi-stidi yang besar di

kemudian hari karena memberikan hipitesa untuk penelitian selanjutnya

(Suryabrata.1998) Salah satu pendekatan penelitian yang dilakukan adalah berupa

pendekatan kuantitatif .Pendekatan kuantitatif dilakukan karena , pada penelitian ini

akan menganalisis biaya pemasangan penukar panas jenis pelat sistem scrubber pada

recovery CS2 dan filter pada produksi asam sulfat pada uniti acid plant.

Analisis Biaya dan Manfaat dari penggunaan sistem scrubber dan pemasangan

plat heat exchanger dimaksudkan untuk menghitung apakah sistem scrubber dan

pemasangan plate heat exchanger pada rangkaian aft di department spinning layak

secara ekonomi atau tidak .Analisis ekonomi dilakukan sebagai pertimbangan karena

tersedianya data yang dapat dianalisis .


8

2.7 RANCANGAN PENELITIAN

Rancanan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini :

2.7.1 RANCANGAN ANALISIS YANG DILAKUKAN .

2.7.2 Rancangan Analisis

1.Analisis Manfaat

Manfaat dapat diartikan sebagai kerugian yang dapat dihilangkan dalam proyek .

Suatu proyek pengelolaan lingkungan kerja yang mempunyai manfaat adalah yang dapat

menghilangkan sebagian atau seluruh kerugian . Manfaat diidentifikasikan dalam nilai

moneter .

2. Analisis Biaya

Analisis biaya meliputi keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam suatu proyek .

Biaya pokok operasional unit PHE terdiri dari biaya tetap (vixed cost) dan biaya tidak

tetap (variabel cost). Identifikasi analisis biaya dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini
9

Tabel 3.3 Identifikasi Manfaat dan Biaya Investasi unit PHE


No Komponen Perhitungan Keterangan
1. Harga sistem instalasi Sumber :PT SPV
Identifikasi Biaya
2. Biaya Tetap (fixed coct)
a. Biaya Penyusutan Harga Pembelian Nilai Sisa Nilai sisa = %x
Umur teknis PHE harga PHE
b. Bunga Modal ( interest) Harga beli x Tingkat suku
bunga ( % / tahun )
c. Biaya asuransi Harga beli x Tingkat
penyimpanan ( %/tahun)
d. Biaya Pemeliharaan (Harga beli x %)/ 2.160 jam
3. Biaya tidak tetap (variabel cost)
a. Biaya pemakaian listrik
b. Biaya Pelumas
c. Upah Tenaga kerja
4. Biaya Total Operasional
( Total Cost)
Identifikasi Manfaat
5. Investasi PHE Sumber : PT SPV

2.7.2 PENAFSIRAN HASIL COST BENEFIT ANALISIS

Penafsiran hasil cost benefit analisis dilakukan dengan beberapa metode , antara

lain:

1.Metode ekivalensi Nilai Sekarang ( Net Present Value/ NPV)

NPV merupakan selisih antara Nilai Sekarang / Present Value(PV) dari manfaat

dan Nilai Sekarang dari biaya (Gray.2002)

NPV = (PV benefit ) (PV cost )

Kriteria kelayakan ekonomi adalah apabila NPV > 0

2.Metode Ratio Manfat dan Biaya ( Benefit Cost Ratio / BCR)


10

Metode ini membandingkan antara total manfaat terhadap total biaya , kemudian

ditransformasikan ke dalam bentuk nilai sekarang (Gray.2002) .

BCR = (PV benefit )

(PV cost )

Kriteria kelayakan adalah apabila BCR > 1

3. Metoda Internal Return uf Rate (IRR)

Metode ini merupakan metode penilaian investasi untuk mencari tingkat bunga

( discount rate )yang menyamakan nilai sekarang dari aliran kas neto dan investasi . IRR

juga merupakan tingkat pengembalian modal yang digunakan dalam proyek , nilainya

dinyatakan dalam persen tahun . IRR dapat dihitung dengan rumus (Gray.2002)

IRR = a + NPV a (ba)

(NPV a NPV b)

Keterangan : :

a = suku bunga rendah

b = suku bunga tinggi

NPV a = NPV pada suku bunga a ( bernilai positif

NPV b = NPV pada suku bunga b ( bernilai negatif )

Kriteria nilai IRR harus lebih besar dari bunga

2.7.7. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Departemen SpinningPT. South Pasific Viscose ,

Purwakarta , Jawa Barat .


11

2.7.8 JADWAL PENELITIAN

No. Mei Juni Juli Austus September Oktober


1. Persiapan
2. Penumpulan
data
3. Penolahan
Data
4. Pengolahn
Data
4 Pelaporan

2.8 Baiaya yan dibutuhkan

1. Biaya persiapan dan pengumpulan data = Rp. 1.000.000,-

2. Biaya Pengolahan data dan pelaporan = Rp. 1.000.000,-

Total biaya = Rp. 2.000.000,-

PT.South Pacific Viskose dikenal dengan sebutan PT.SPV yang didirikan tahun

1978 , adalah salah satu industri pembuatan serat rayon viscosa, dan termasuk salah satu

industri besar di Indonesia .PT SPV berstatus penanaman modal asing (PMA) perusahaan
12

patungan antara India ,Austria , dan Indonesia . PT SPV sampai saat ini dapat

memproduksi 450 ton/hari serat rayon viscosa yang bermutu tinggi dalam bentuk staple

dengan spesifikasi regular dan hight tenacity sebagai produk utama , dan 250 ton/hari

natrium sulfat sebagai produk samping .

Departemen spinning , salah satu departemen yang ada di PT.SPV yang diberi

wewenang untuk mengolah pulp hingga menjadi serat rayon viscosa dengan kualitas

mutu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Serat rayon viskosa yang bermutu tinggi

adalah serat yang telah mengalami proses penyempurnaan akhir atau yang lebih dikenal

dengan proses after treatmen (aft) . Proses aft , merupakan bagian yang sangat penting

pada proses pembuatan serat rayon viscosa , karena pada bagian ini terjadi proses

pemurnian serat dengan cara pencucian berulang menggunakan air panas bersuhu

800C,sehingga memerlukan kebutuhan air panas yang cukup besar.

Kebutuhan air panas untuk proses aft yaitu 90 M3/jam /jalur produksi . Untuk

mendapatkan air panas tersebut biasanya dengan jalan air dipanaskan dengan pemanas air

atau boiler, dan cara ini memerlukan biaya yang cukup tinggi . Kebutuhan bahan bakar

minyak sebagai sumber energi yang diperlukan untuk membuat air panas 80 0C, dan

biaya pengolahan air jumlahnya cukup besar Untuk mengatasi hal tersebut , industri harus

melakukan upaya lainnya supaya industri tidak selalu tergantung pada bahan bakar

minyak Hal ini menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut , bagaimana supaya

terjadi pengurangan pemakaian bahan bakar minyak dan pemakaian air terkontrol ,tetapi

produksi tetap berjalan , dan target tetap tercapai .


13

2.1.16 Analisa Manfaat - Biaya

Analisis Biaya Manfaat (ABM) lebih dikenal dengan analisis manfaat biaya

adalah alat untuk menyusun kebijakan yang memungkinkan pengambilan keputusan

memilih diantara berbagai alternatif yang saling bersaing . Analisis ini dapat digunakan

pada anlisis investasi kegiatan usaha yang hanya melibatkan biaya dan keuntungan

( Djayadiningrat,1997)
14

Analisis biaya merupakan metode sistematis untuk mengukur manfaat dan biaya

ekonomi dari suatu sistem atau kegiatan pada kegiatan proyek. Kegiatan ini adalah

melakukan investasi suatu peralatan pendukung proses produksi pada suatu industri .

Analisis biaya manfaat adalah suatu strategi untuk pengambilan suatu keputusan dengan

cepat . Manfaat suatu investasi adalah nilai tambah hasil barang atau jasa yang

dimungkinkan karena adanya investasi, sedangkan biaya adalah nilai tambah sumber

daya riil yang dikeluarkan , untuk mendapatkan manfaat dari suatu investasi .

Analisis ekonomi dapat memberikan informasi tentang biaya yang timbul dan

manfaat yang didapat dari sutu kebijakan .atau untuk melihat apakah suatu kebijakan

yang akan dilaksanakan dapat memberikan manfaat yang menguntungkan kepada

masyarakat secara keseluruhan .Untuk menilai kelayakan suatu proyek dapat digunakan

beberapa metode / kriteria diantaranya yaitu ::

1. Menghitung ekivalensi nilai sekarang (Net Present Value/NPV)

2.Menghitung ratio manfaat biaya (Benefit Cost Ratio/BCR)

3Menghitung tingkat bunga pnembalian modal ( Internal Rate of Return/ IRR).

BAB II
15

KAJIAN PUSTAKA , KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka


2.1.1 Produksi bersih
Di Indonesia konsep produksi bersih diperkenalkan oleh Kementrian Lingkungan
hidup sebagai metode praktis untuk meningkatkan kinerja lingkungan sekaligus
meningkatkan keuntungan sektor industri dalam jangka panjang .(KLH.2003) .United
Nations Environment Program (UNEP.2005) telah menetapkan produksi bersih di
Indonesia sejak tahun 1990 dan baru tiga tahun kemudian tepatnya tahun 1993 diadopsi
oleh Indonesia (KLH.2003) dengan konsep sebgai berikut Suatu strategi pengelolaan
lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu ,yang perlu diterapkan secara terus
menerus pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi
resiko terhadap manusia dan lingkungan .
Dasar Hukum Pelaksanaan Produksi Bersih adalah UU RI No.23 Tahun 1997
tentang pengelolaan lingkungan hidup pasal 14 dan 17 , juga tercantum dalam dokumen
ISO 14001 , beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan produksi bersih yaitu :
manfaat ekonomi dengan berkurangnya konsumsi bahan bakar , air , energi , biaya dalam
proses pengolah limbah , product recycle second-grade product dan by product serta
biaya biaya sosial lainnya ..
Konsep produksi bersih ini pada dasarnya mengacu pada prinsip pengurangan
penggunaan bahan baku ,air, energi , serta menghindari pemakaian bahan racun , dan
secara otomatis dapat mereduksi terbentuknya limbah. Dengan menerapkan konsep
produksi bersih perusahaan mendapatkan keunggulan daya saing di pasar domestik dan
pasar internasional. Strateginya adalah dengan cara mengaplikasikan teknologi akrab
lingkungan dengan melaksanakan usaha minimisasi limbah , pengaturan transportasi
bahan baku dan bahan penolong selama proses produksi secara tertib dan teratur , serta
menjaga kerapihan dan penanganan penyimpanan bahan baku dan bahan penolong di
dalam lokasi industri ( Isminingsih .2005).
Usaha menciptakan produk yang berwawasan lingkungan ,dengan melakukan
beberapa penyesuaian teknologi proses, perlu dilaksanakan melalui strategi produksi
bersih yang mempunyai arti sangat luas karena didalamnya termasuk upaya pencegahan
16

pencemaran , teknologi bersih , pengolahan limbah dan usaha pemulihan lingkungan .


Masyarakat industri nasional maupun internasional akanmengikuti mekanismeyangsaling
mengkait antara produksi bersih dengan penyesuaian teknologi dalam menciptakan
produk yang berwawasan lingkungan . Keterkaitan antara produksi bersih ,Industri ,dan
Lingkungan dapat dilihat pada Gambar 2.1 (BPLHD.2005) berikut ini .

Produksi Bersih

Peningkatan continual imptovement


Efisiensi produksi akan ikut melestarikan
Citra pasar Lingkungan

Industri lingkungan
Dampak:
-penggunaan SDA
-pembuangan limbah

Gambar 2.2 Keterkaitan Produksi Bersih, Industri dan Lingkungan (BPLHD.2005)

Kebijakan yang dapat dilakukan oleh industri khususnya industri pembuatan

serat rayon , yaitu dengan mengurangi timbulnya buangan dan memanfaatkan buangan

tersebut pada suatu sistem produksi .Produk samping yang dimanfatkan pada satu sistem

produksi, adalah implementasi dari penerapan reuse ,sebagai contoh ; buangan panas

tanpa melalui perubahan bentuk dapat digunakan kembali sebagai sumber energi

pembuatan air panas . Hal ini merupakan salah satu bentuk dari efisiensi energi ,

sehingga dapat mengurangi kebutuhan bahan baku bahan bakar minak . Pengurangan

kebutuhan energi dalam proses produksi , diharapkan dapat mencegah atau mengurangi

eksploitasi sumberdaya alam. Pencegahan dan pengurangan eksploitasi sumberdaya alam


17

adalah salah satu jalan untuk mencapai tujuan harmonisasi dengan alam , dan masa

depan yang berkelanjutan (PT SPV) .

2.1.2 Efisiensi Energi

Energi adalah sesuatu yang bersifat abstrak yang sukar dibuktikan , tetapi dapat

dirasakan adanya.Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Secara garis besar

energi dapat diklasifikasikan menjadi dua , yakni :energi dalam transisi dan energi yang

tersimpan . Sumber energi dapat dibedakan yang berasal dari bumi , dikatagorikan jenis

renewable seperti: biomassa, biogas, dan lain-lain . dan non renewable seperti :sumber

energi fosil ,sumber energi nuklir .Katagori sumber energi yang berasal dari luar bumi

yang sifatnya tidak habis atau non-depleted energy resources. Di samping itu sumber

energi dapat juga diklasifikasikan berdasarkan sifatnya (Pudjanarsa. Nursuhud .2006).

Sumber energi fosil dikatagorikan sebagai sumber energi primer seperti bahan

bakar minyak . Pada proses produksi di industri , sebagai sumber energi yang dipakai

adalah bahan bakar minyak , sampai sekarang kebutuhan bahan bakar minyak masih

terus meningkat sejalan dengan bertambahkan aktifitas yang dilakukan manusia . Untuk

meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak pada industri , industri harus

betul-betul mengamati setiap proses dan mencari solusi bagaimana melakukan

pemanfaatan bahan bakar sehingga terjadi penghematan dan efisiensi energi.

Konservasi energi adalah kegiatan pemanfaatan energi secara efisien dan rasional

tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang benar-benar diperlukan untuk

menunjang pembangunan.( KEPPPRES 43/1991). Tujuan konservasi energi adalah untuk

memelihara kelestarian sumber daya alam yang berupa sumber energi melalui kebijakan
18

pemilihan teknologi dan pemanfaatan energi secara efisien , rasional dan bijaksana untuk

mewujudkan kemampuan penyediaan energi , penggunaan energi secara efisien dan

merata serta kelestarian sumber-sumber energi

Untuk melakukan pemanfaatan sumber energi harus memperhatikan ; kelestarian

lingkungan , perancangan yang berorientasi pada penggunaan energi secara hemat ,

pemilihan sarana , peralatan dan bahan yang secara langsung maupun tidak langsung

menghemat penggunaan energi,dan optimasi pengoperasian sistem.Dengan meningkatkan

efisiensi energi pada proses produksi di industri , industri dapat mengurangi biaya

produksi, mampu bersaing di pasaran , profit perusahaan dapat ditingkatkan , dan dapat

melindungi sumber daya energi

2.1.2.1 Hubungan Produksi Bersih dan Efisiensi Energi

Hubungan produksi bersih dan efisiensi produksi adalah metoda untuk

mengurangi biaya dan konsumsi energi di industri dengan mengimplementasikan

produksi bersih . Produksi bersih merupakan strategi pengendalian pencemaran melalui

modifikasi proses produksi , modifikasi alat , dan penambahan teknologi baru ,

penggantian bahan baku , dan tata kelola yang apik . Aplikasi produksi bersih dapat

dilaksanakan sebagai pedoman pelaksanaan proses produksi sehari-hari (PPBN.2005).

Aktifitas produksi bersih efisiensi produksi dilaksanakan dengan :

A. Memperbaiki proses dan alat produksi . :

Meningkatkan kinerja alat produksi melalui perbaikan,modifikasi dan penambahan

teknologi baru .

.
19

Memaksimalkan kinerja alat produksi yang menggunakan energi listrik , seperti alat

motor listril , kompresor , kipas angin , blower , dan lain-lain .

Memperbaiki proses produksi melalui perbaikan kondisi proses , efisiensi alat

produksi dan penggantian bahan baku .

Menggunakan kembali bahan baku , air ,kondensat , gas buang , limbah dan lain-lain

B. Memperbaiki manajemen produksi

Mengimplementasikan program tata kelola yang apik yang dapat mengurangi

konsumsi bahan baku , udara terkompresi dan limbah juga secara tak langsung

mengurangi konsumsi bahan bakar energi (PPBN.2005).

2.1.3 Potensi Buangan Panas sebagai Energi pada Proses Pemurnian Serat .

Pada sistem scrubber (pembersih gas) adalah bagian dari proses CS2 recovery .

CS2 recovery bertujuan untuk menghasilkan CS2 cair sebagai tujuan utama proses

tersebut, selain itu dihasilkan buangan gas panas pada tiap kondensor. Melalui media

pendingin air terjadi pertukaran suhu .Panas dari gas buang diserap oleh air pendingin ,

sehingga air pemndingin menjadi panas . Pada proses pembuatan asam sulfat di unit acid

plant dihasilkan asam sulfat panas sebagai hasil utama. Dengan adanya pertukaran

panas antara asam sulfat dengan air pendingin melalui plat heat exhanger ,maka suhu air

pendingin menjadi naik , proses ini terjadi di unit acid cooler. Air panas dari kedua

proses tersebut dapat dimanfaatkan untuk proses aft serat rayon viskosa . Sejalan dengan

penerapan manajemen mutu ISO 9001 2000 di departemen spinning , kebutuhan air

panas harus tetap terjaga , untuk menghindarkan terjadinya penurunan mutu . Untuk

menyeragamkan suhu air panas pada kedua sumber tersebut, dan sebelum masuk
20

kerangkaian mesin aft ,terlebih dahulu dilewatkan ke unit plat heat exhanger, sehingga

air yang keluar dari unit tersebut mempunyai suhu yang sesuai dengan yang diperlukan

yaitu 800C

2.1.3.1Buangan Panas

Panas dapat dihasilkan dari proses pembakaran atau reaksi kimia , kemudian

panas yang dihasilkan disebut dengan limbah panas , yang kemudian dibuang ke

lingkungan dan tidak dipergunakan kembali untuk tujuan ekonomis yang bermanfaat .

Berdasarkan fakta yang ada, jumlah panas yang dihasilkan bukan merupakan masalah

penting , namun yang lebih penting adalah nilai panasnya. Mekanisme untuk

memanfatkan kembali panas yang tidak digunakan , tergantung pada suhu gas panas

yang terbuang dan nilai ekonominya. . Menurut peraturan lingkungan , panas yang

dibuang tidak boleh melebihi 400C, karena akan berpengaruh pada lingkungan

sekitarnya . Sejumlah besar gas-gas buangan panas dihasilkan dari boiler , kiln,

oven ,dan tungku . Apabila panas yang terbuang dapat dimanfaatkan kembali maka

sejumlah bahan bakar primer dapat dihemat . Pada umumnya energi yang hilang dalam

limbah gas, tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan kembali . Tetapi , banyak panas yang

dimanfaatkan dan berbagai cara untuk meminimalkan kehilangan panas . Buangan panas

dapat dipakai kembali pada setiap proses yang membutuhkannya . Buangan panas dapat

berupa udara panas / gas panas , dan air panas dengan berbagai suhu mulai dari suhu

dingin hingga bersuhu tinggi . Suhu tinggi dihasilkan terutama dari tungku tungku di

industri .Pada umumnya , buangan panas dengan suhu yang tinggi dapat dimanfatkan

untuk prosesa yang lainnya . Tingginya kualitas buangan panas setara dengan tingginya
21

kualitas pemanfaatan panas . Keadaan ini dapat menghasilkan biaya efektivitas yang

lebih besar

(UNEP ,2005)

2.1.3.1.1 Menentukan Kualitas Buangan Panas .

Dalam melakukan pemanfaatan kembali buangan panas , kualitas buangan panas

harus dipertimbangkan terlebih dahulu .Tergantung pada jenis proses , buangan panas

dapat dihasilkan pada berbagai suhu , mulai dari suhu dingin hingga buangan gas

bersuhu tinggi dalam proses di industri .. Di dalam bergabai studi telah dikemukakan

bahwa pemanfaatan kembali buangan panas, yang terpenting adalah terdapat banyak

penggunaan bagi panas yang termanfaatkan kembali .Sebagai contoh yang paling

sederhana dari penggunaan kembali buangan panas ini , umumnya dipakai untuk

pemanasan awal udara pembakaran , pemanasan ruangan , pemanasan awal air umpan

boiler atau air proses .Pemanfaatan kembali buangan panas yang bersuhu tinggi , dapat

digunakan sistim bertingkat . Tingkatan suhu yang tinggi dapat digunakan untuk

pemanasan air umpan proses , atau pembangkit steam , agar supaya jumlah panas yang

dimanfaatkan kembali dapat maksimal (UNEP.2005) .

2.1.3.1.2 Kualitas dan Potensi Penggunaan Buangan Panas

Untuk mempertimbangkan potensi memanfaatkan kembali buangan panas , yang

perlu dilakukan adalah melakukan pengamatan dan mengadministrasikan dengan teliti ,

seluruh sumber limbah yang memungkinkan untuk dimanfaatkan , serta kemungkinan-

kemungkinan penggunaan kembali buangan panas tersebut .


22

Untuk lebih jelasnya sumber dan kualitas buangan panas dapat dilihat pada Tabel 2 .1

berikut ini .

Tabel 2.1 Sumber dan Kualitas Buangan Panas


No. Sumber Buangan Panas Kualitas buangan panas dan kemugkinan
penggunaannya
1. Panas dalam gas buang Makin tinggi suhu maka makin besar nilai potensi
untuk pemanfaatan kembali panasnya .
2. Panas dalam aliran uap Apabila terjadi pengembunan maka panas laten
dapat dimanfaatkan .
3. Panas hilang secara Mutu rendah, apabila dikumpulkan dapat
konveksi & radiasi dari digunakan untuk pemanasan ruangan atau
peralatan luar ruangan pemanasan awal udara
4. Kehilangan panas dalam air Mutu rendah ,apabila terjadi pertukarana panas
pendingin dapat dimanfaatkan .
5. Kehilangan panas dalam 1.Mutu tinggi jika dapat digunakan untuk
pembuatan chilled water mengurangi kebutuhan refrigerasi .
atau pada pembuangan 2.Mutu rendah jika unit refrigerasi yang digunakan
chilled water . dalam bentuk pompa panas .
6. Panas yang tersimpan dalam Kualitas tergantung pada suhu .
produk yang meninggalkan
proses
7. Panas dalam efluen gas & Apabila tercemar berat kurang baik dan
cairan yang meninggalkan memerlukan penukar panas campuran .
proses
Sumber UNEP ,2005

2.1.3.13 Berbagai Suhu Buangan Panas .


Suhu buangan panas yang dihasilkan , tergantung pada proses yang dilakukan .
Potensi penggunaannya tergantung dari suhu yang dihasilkam dan suhu yang akan
dipergunakan .
Untuk lebih jelasnya suhu buangan panas pada industri , dapat dilihat pada Tabel 2.2
berikut ini .
Tabel 2.2 Suhu Buangan Panas pada kisaran Suhu Rendah dan Medium dari
Berbagai Sumber
No Sumber Suhu0C
1. Kondensat steam proses 55-88
2. Air pendingin 32-55
3. Kondensor penyuling cairan 32-88
4. Cairan proses panas 32-232
23

5. Padatan proses panas 93-232


6. Pembuangan steam boiler 230-480
7. Pembuangan turbin gas 370-540
8. Oven pengering 230-600
9. Tungku perlakuan panas 425-650
10. Sistim pendinginan tungku 425-630
Sumber UNEP .2005

2.1.4 Karakteristik Sistem Scrubber

Scrubber adalah alat yang digunakan untuk membersihkan gas yang mudah

bereaksi dengan air . Prinsip kerjanya adalah mencampur air dengan uap /gas dalam suatu

tempat . Pada umumnya arah aliran berlawanan , agar kontak antara uap gas dengan air

dapat sempurna . Alat ini terdiri dari beberapa tipe , seperti wet scrubber , ventury

scrubber , dan vertical scrubber . Wet scrubber biasanya digunakan untuk membuang

partikel yang terdapat pada dalam industri-industri kimia. Walaupun wet scrubber tidak

lazim digunakan untuk menghilangkan partikel dari gas buang , namun banyak instalasi

yang menggunakan wet scrubber untuk menghilangkan oksida sulfur dari gas buang..

Mekanisme sistem wet scrubber adalah sebagai berikut :mencampur air dingn dengan

uap-gas dalam suatu wadah dengan aliran berlawanan , agar kontak antara uap gas

dengan air dapat sempurna ( Philip .2002) .

Sistem scrubber terdapat pada recovery CS2 .Tujuan dari proses ini , adalah untuk

menguapkan CS2 yang terdapat dalam rayon viscosa lebih dikenal dengan CS 2

Recovery Through . Serat rayon yang sudah dipotong (tow) , dimasukan kedalam bak

untuk mengalami pencucian dengan air panas , diikuti dengan pemanasan menggunakan

uap panas bertekanan 0,3 1,5 bar . Tujuan dari proses ini adalah untuk menguapkan CS2

yang terdapat dalam rayon viscosa . Selanjutnya uap CS 2 dialirkan melalui scrubber dan
24

dikondensasi dalam tiga tingkat condensor . Secara sederhana proses di sistem scrubber

dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut ini :

Gambar 2.2 Vertical Srcubber (Philip.2002)

2.1.5. Plat Heat Exhanger (PHE) Penukar Panas Jenis Plat

Plat Heat Exhanger (PHE) adalah alat penukar panas permukaan , alat digunakan

untuk penukaran panas , terutama jika perbedaan suhunya tidak terlalu besar . Alat

penukar panas plat ini , terdiri dari serangkaian plat paralel terpisah , dan membentuk

lintasan aliran yang tipis . Setiap plat dipisahkan satu sama lainnya , dengan bantuan

gasket , dan aliran panas melintas secara paralel melalui plat-plat alternatif , sementara

cairan yang dipanaskan melintas secara paralel diantara plat-plat panas . Pelat-pelat yang

terdapat pada alat ini berbentuk gelombang , bentuk ini diharapkan agar perpindahan

panas berjalan dengan baik (UNEP.2005).


25

Cairan panas yang melintas bagian bawah head dialirkan keatas melintas diantara

setiap plat genap , sementara cairan dingin pada bagian puncak head dialirkan turun

diantara plat-plat ganjil . Arah fluida panas dan fluida dingin berlawanan , susunannya

digambarkan sebagai aliran berlawanan arah counter current . Penukar panas jenis plat

dapat dilihat pada Gambar 2..3 berikut ini :

Gambar 2.3 Penukar Panas Jenis Plat (UNEP.2005)


2.1.6 Ketel Uap

Boiler atau ketel uap adalah peralatan mekanis merupakan tangki atau bejana

yang berukuran besar , yang dalam pengoperasiannya terdapat dua proses . yaitu proses

pembakaran dan proses pelepasan panas dari bahan bakar serta proses perpindahan panas

dan pembangkit uap dari air umpan (feed water). Kegunaan utama dari ketel uap adalah
26

mengambil panas bahan bakar melalui media uap . Ketel uap merupakan peralatan yang

menggunakan energi paling intensif di suatu industri (Endang,2003)

Pada dasarnya ketel uap diklasifikasikan berdasarkan pada : jenisnya ,bahan bakar

yang digunakan,kegunaan,tekanan kerja,produksi uap (Pudjanarsa Nursuhud.2006),menu

rut (Djokosetyardjo.1989), ketel uap didasarkan menjadi dua golongan yaitu ketel uap

pipa api dan ketel uap pipa air

1.Ketel Uap Pipa Api (Fire/shell tube boiler)

Ketel-ketel api dan gas /uap yang digunakan untuk memanasi air dan uap , akan

melalui silinder api , lorong-lorong api dan pipa-pipa ataupun tabung-tabung api (fie

cylinder ,fire duct, fire pipes and fire tubes), yang dibagian luarnya terdapat air atau uap

.Jenis ketel uap yang tergolong dalam ketel lorong api atau ketel pipa api adalah ketel-

ketel uap kecil serta sederhana , yang hanya mampu memproduksi uap maksimum

sebanyak 10 ton uap per jam , dengan tekanan maksimum 24kg/cm2 . Jadi tergolong ketel

untuk tekanan rendah . Ketel-ketel lorong api dan pipa api merupakan awal dari

pembuatan ketel selanjutnya . Ketel-ketel ini umumnya merupakan isi air yang cukup

besar , sehingga merupakan tangki , dan area itu sering disebut ketel-ketel tangki .

2. Ketel Uap Pipa Air (water tube boiler) yang Biasa dan Perencanaan Khusus

Ketel-ketel air atau uap di dalam pipa-pipa atau tabung-tabung yang dipanasi oleh

api atau asap di bagian luarnya .Ketel-ketel pipa air ini umumnya bertekanan sedang

yaitu antara 45kg/cm2 sampai dengan 140 kg/cm2 dengan produksi uap mencapai 1.000

ton uap setiap jamnya . Jenis-jenis ketel ini mempunyai efisiensi total yang lebih besar
27

dari ketel-ketel pipa api. Peralatan-peralatan pada ketel ini umumnya sudah tidak lagi

dilayani dengan tangan (manual). Ketel-ketel perencanaan khusus didisain dengan

maksud untuk menyempurnakan ketel-ketel pipa air yang telah ada sebelumnya .

Ketel-ketel pipa air jenis ini direncanakan dengan berbagai maksud , antara lain :

1) Digunakan untuk tekanan-tekanan tinggi dan tekanan super kritis , melebihi 225

kg/cm2.

2) Untuk dapat menggunakan bahan bakar nuklir.

3) Untuk dapat menggunakan air dengan kualitas agak rendah .

4)Untuk memperbesar beban tungku ketel atau untuk memperbesar angka perpindahan

panasnya .

2.1.7 Air Pendingin (Cooling Water)

Air pendingin diperlukan untuk kelangsungan proses produksi , terutama pada

peralatan yang menggunakan suhu dan tekanan tinggi seperti pada proses pembuatan

serat , proses produksi tekstil dan proses produksi zat kimia . Fungsi air pendingin

adalah sebagai pengatur suhu pada saat proses produksi berlangsung .Apabila pada saat

proses produksi berlangsung tidak ada pengaturan suhu dikhawatirkan terjadi kecelakaan

kerja yang diakibatkan tingginya suhu pada proses tersebut . Air untuk pendingin

umumnya berasal dari kolam clarry flocculator atau disebut dengan raw water, yaitu air

yang hanya mengalami pengolahan awal diproses pengolahan air proses . PT.SPV

khususnya departemen spinning, air pendingin diperoleh melalui pendinginan di cooling

tower dan chiler . Pendinginan menggunakan cooling tower menghasilkan air pendingin
28

dengan suhu sekitar 250C , sedangkan pendinginan menggunakan chiler menghasilkan air

pendingin dengan suhu sampai 20C (PTSPV.2008) .

2.1.8 Air Panas

Air panas yang dihasilkan dari sistem scrubber pada unit recovery CS2 , adalah

hasil pertukaran suhu antara buangan panas dengan soft water yang berlawanan arah .

Selain itu air panas diperoleh dari proses pendinginan asam sulfat di unit acid plant

yaitu hasil dari pertukaran panas antara soft water sebagai air pendingin yang bersuhu

300C dengan dengan asam sulfat panas yang bersuhu 1000C (PT SPV) .

Air panas dari kedua proses tersebut tidak dapat langsung dibuang ke lingkungan karena

dapat merusak sistem lingkungan , disebabkan suhunya melebihi nilai ambang batas

suhu yang boleh dibuang kebadan air . Apabila air panas tersebut dipergunakan untuk

proses lainnya merupakan salah bentuk penghematan energi dan penghematam

sumberdaya air .Air panas yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk proses aft di

department spinning

2.1.9 Bahan Bakar

Ditinjau dari sudut teknis dan ekonomis bahan bakar diartikan sebagai bahan

yang apabila dibakar dapat meneruskan proses pembakaran tersebut dengan sendirinya ,

disertai dengan pengeluaran kalor . Bahan bakar dibakar dengan tujuan untuk

memperoleh kalor tersebut untuk digunakan secara langsung maupun tak langsung .

Sebagai contoh penggunaan kalor dari proses pembakaran secara langsung adalah :untuk
29

memasak pada rumah tangga dan untuk instalasi pemanas di industri (Migas Indonesia

Online.http://www.migas.indonesia.com) .

Sebagai contoh penggunaan kalor secara tidak langsung adalah :

1.Kalor diubah menjadi energi mekanik , misalnya pada motor bakar .

2.Kalor diubah menjadi energi listrik , misalnya pada pembangkit listrik tenaga disel ,

tenaga gas dan tenaga uap .

Bahan bakar yang digunakan di dalam ketel uap pada umumnya diklasifikasikan sebagai

berikut :

1. Bahan bakar padat

Kayu , sampah , ampas debu , kulit kelapa , kulit biji teh , dan lain-lain

Macam-macam batubara

Macam-macam kokas

2. Bahan bakar cair

Beberapa jenis minyak bakar

3. Bahan bakar gas

Gas alam , gas bumi , gas-gas rawa

4. Bahan bakar nuklir

2.1.9.1 Bahan Bakar Minyak Bumi

Minyak bumi ( bahas Inggris : petroleum , dari bahasa Latin petrus-karang danoleum-

minyak ) dijuluki juga sebagai emas hitam , adalah cairan kental , coklat gelap atau

kehijauan yang mudah terbakar , yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak

bumi . Minyak bumi terdiri dari campuran komplek dari bebagai hidrokarbon , sebagian
30

besar seri alkana tetapi bervariasi dalam penampilan komposisi atau kemurniannya

.Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses destilasi , yang kemudian

setelah diolah lagi menjadi minyak tanah , bensin,lilin,aspal,dan lain sebagainya .

Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon , senyawaan hydrogen dan karbon empat alkana

teringan yaitu : (Migas Indonesia Online.http://www.migas.indonesia.com) .

* CH4 (metana) suhu mendidih 161.60C

* C2H6 (etana) suhu mendidih 88,60C

* C3H8 (propane) suhu mendidih 420C

* C4H10 (butane) suhu mendidih 0,50C

Rantai dalam wilayah C5-7 semuanya ringan , dan mudah menguap. Senyawaan

tersebut digunakan sebagai pelarut , cairan pencuci kering (dry clean) , dan produk cepat

kering lainnya . Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur bersama dan digunakan untuk

bensin .Minyak tanah terbuat dari rantai diwilayah C10 sampai C15 , diikuti oleh minyak

diesel (digunakan sebagai bahan bakar mobil) . Minyak bumi ini semuanya dalam bentuk

cair dalam suhu ruangan . Minyak Pelumas dan setengah padat ( termasuk Vaseline )

berada diantara C16 sampai ke C20 .Rantai diatas C20 berwujud padat , dimulai dari lilin ,

tar dan aspal.

Titik pendidihan dalam tekanan atsmosfer fraksi destilasi dalam derajat celcius

berkisar antara yang paling rendah yaitu minyak eter, 40-70 0C (digunakan sebagi

pelarut)., dan yang paling tinggi minyak pelumas > 300 0 C (digunakan sebagai minyak

mesin )
31

2.1.9.2 Pembakaran

Pembakaran adalah reaksi kimia yang cepat antara oksigen dan bahan yang dapat

terbakar , disertai timbulnya cahaya yang menghasilkan kalor . Pembakaran spontan

adalah pembakaran saat bahan mengalami oksidasi perlahan-lahan sehingga kalor yang

dihasilkan tidak dilepaskan , akan tetapi dipakai untuk menaikkan suhu bahan secara

perlahan lahan sampai mencapai suhu nyala .Pembakaran sempurna adalah pembakaran

dimana konstituen yang dapat terbakar , di dalam bahan bakar membentuk gas CO2. , H2O

(air) dan gas SO2 sehingga tak ada lagi bahan yang dapat terbakar tersisa .

Bahan bakar fosil dan bahan bakar organik lainnya umumnyat ersusun dari unsur-

unsur karbon , hidrogen, oksigen, nitrogen , belerang, fosfor ,, dan unsur unsur lainnya

dalam jumlah kecil . Unsur-unsur karbon, hidrogen dan belerang jika terbakar akan

menghasilkan kalor , dan disebut sebagai bahan yang dapat terbakar atau combustible

matter , disingkat dengan BDT . Unsur-unsur lain yang terkandung dalan bahan bakar

namun tidak dapat terbakar adalah oksigen , nitrogen , bahan mineral atau abu dan air .

Komponen-komponeni ni disebut sebagai bahan yang tidak dapat terbakar atau

non- combustible matter (Andreas.2002).

2.1.10 Industri Serat Rayon Viskosa .


Serat rayon viskosa adalah serat setengah sintetik yang terbentuk dari polimer-

polimer , baik yang berasala dari polimer polimer alam maupun polimer-polimer

buatan , yang dibuat dengan polimerisasi senyawa-senyawa kimia yang relativ

sederhana . Semua proses serat dilakukan dengan menyemprotkan polimer yang

berbentuk cair melalui lubang-lubang kecil (spinnirete). Proses ini hanya mungkin
32

dilakukan dengan cairan yang relativ kental . Apabila viscositas cairan terlalu rendah ,

gaya yang disebabkan tegangan permukaan akan menyebabkan cairan membentuk

butiran butiran sebelum terbentuk filament , jadi pembentukan filament dipengaruhi

oleh viskositas larutan polimer , tegangan permukaan dan waktu .Pembuatan serat rayon

dilakukan dengan tiga cara , yaitu :pemintalan basah (Wet Spinning), pemintalan kering

(Dry Spinning), dan pemintalan leleh (Melt Spinning )

Serat rayon viskosa adalah serat selulosa diregenerasi , sehingga strukturnya sama

dengan selulosa yang lain , kecuali derajat polimerisasinya lebih rendah , karena

terjadinya degradasi rantai polimer selama pembutan serat . Sebagai bahan dasar adalah

kayu (pulp) yang dimurnikan dan dengan natrium hidroksida dirubah menjadi selulosa

alkali , kemudian dengan karbon disulfida dirubah menjadi natrium selulosa xantat , dan

selanjutnya dilarutkan didalam larutan natrium hidroksida encer . Larutan ini kemudian

diperam, dan akhirnya dipintal dengan cara pemintalan basah mempergunakan larutan

koagulasi asam ( Handbook Fiber Chemistry .Vol.IV 1966).

2.1 11 Pembuatan Serat Rayon Viskosa .


Pembuatan serat rayon viscosa ditemukan oleh C.F.Cross dan E.J.Bevan pada

tahun 1891 . Produksi serat rayon viscose pertama-tama dilakukan oleh Courtaulds Ltd ,

dan kemudian berkembang pesat keseluruh dunia .Serat rayon viskosa pada awalnya

digunakan sebagai bahan baku alat produksi , seperti tali ban danlain sebagainya Awal

tahun 1900 baru dikembangkan untuk bahan pakaian (Avtex Fiber Inc .1910)

Pada saat ini beberapa industri lama penghasil serat rayon viscose telah menutup

industrinya seperti Du Pont , dan industri Teijin di Iwakuni , Jepang . Hal ini

kemungkinan disebabkan karena selain industri tersebut sudah sangat tua sehingga
33

menjadi kurang menguntungkan ,juga lebih menguntungkan serat buatan bukan selulosa

(http://www.fibersource.com/f-tutor/rayon.htm), Di Jawa Barat hanya ada dua industri

pembuatan serat rayon viskosa yitu PT SPV dan PT IBR.

Cara pembuatan serat rayon viscosa terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut

1.Pembuatan Bubur Kayu (Alkalizing)

Bubur kayu merupakan bahan dasar untuk serat rayon viscose .Dalam

pembuatannya , bubur kayu direndam dalam larutan 17-20 % natrium

hidroksida yang mengandung air pada temperatur sekitar 25 0C sehingga

membentuk selulosa alkali . Reaksi yang terjadi adalah berikut ini :

( C6H10O5)n + n NaOH (C6H9O4ONa)n + nH2O


selulosa alkali selulosa alkali

2.Penekanan (Pressing)

Selulosa alkali yang dibentuk ditekan pada suatu tempat sehingga berat

basahnya menjadi 2,5-3,0 kali bubur kayu yang asli/murni , kemudian

menimbangnya untuk memperoleh suatu perbandingan alkali yang akurat .

3.Parutan /Pencabikan (Shredding)

Selulosa alkali yang telah ditekan , diparut dengan mesin untuk menghasilkan

bubur kayu dengan sempurna dengan membagi butiran halus .Pada tahap ini harus

disediakan tempat permukaan yang sesuai untuk kertas alkali selulosa , sehingga

reaksi - reaksi berikutnya dapat berjalan dengan baik


34

4.Penuaan (Ageing)

Selulosa alkali didiamkan di bawah kondisi temperatur dan waktu tertentu ,

yaitu 18-300C selama tiga hari untuk degradasi rantai polimer bahan kimia untuk

kertas menjadi tinngkat polimerisasi yang diinginkan .

5.Xantasi (Xanthation).

Selulosa alkali yang telah tua ditempatkan dalam suatu tempat (tong) dan

ditambahkan karbon disulfide sehingga bereaksi pada temperatur antara 20-30 0C

untuk membentuk natrium selulosa xanthat. Reaksi yang terjadi seperti berikut ini

(C6H9O4ONa)n + CS2 (C6H9O4O-CS-SNa)n


Selulosa alkali selulosa xanthat

6.Pelarutan dan Penyaringan

Selulosa xantat dilarutkan dengan larutan NaOH encer konsentrasi 19-20g/L.

Pelarutan dilakukan selama 1 jam pada temperatur rendah ( suhu 20 0C).

Selanjutnya Natrium selulosa xantat disaring dengan penyaring yang mempunyai

kehalusan antara 20-25 mikron ,untuk memindahkan bahan yang tidak larut supa-

ya tidak mengganggu pada proses pemintalan .

7.Pemintalan Basah (Wet Spinning)

Pembuatan viscose rayon adalah dengan melewatkan larutan viscosa melalui

suatu spinnerette kedalam suatu bak/rendaman putaran yang berisi asam sulfat

(diperlukan untuk mengasamkan natrium selulosa xanthate), natrium sulfat

(untuk mengendapkan natrium selulosa xanthate), dan sulfat-seng (untuk

menaikkan kekuatan filament yang terbentuk ketika natrium selulosa xanthate di


35

netralkan dan diasamkan). Pembekuan / pengentalan terjadi dengan cepat pada

rayon , kemudian diikuti oleh pembusukan dan peregangan filament. Peregangan

dan pembusukkan adalah hal penting untuk memperoleh ketahanan yang

diinginkan . Pembusukan dan peregangan filament rayon akan mendorong kearah

kristalin , kemudian molekulnya menjadi sejajar terhadap sumbu serat . Asam

sulfat mengubah natrium selulosa xanthate menjadi selulosa pada proses

pemintalan basah . Bagian luar mengeras dan membentuk suatu kulit

(C6H9O4O-CS-SNa)n +1/2 H2SO4 ( C6H10O5)n + CS2 + Na2SO4


selulosa xanthat selulosa
8.Pencucian /pemurnian

Filament rayon viscose yang telah terbentuk masih mengandung banyak garam

dan belum murni sehingga perlu dimurnikan dengan cara melakukan pencucian

berulang dengan air panas yang.bersuhu 800C

9.Pemotongan

Jika diinginkan serat rayon viscosa dalam bentuk staple ukuran serat yang lebih

pendek , maka filament rayon viscosa yang telah terbentuk tadi dipotong terlebih

dahulu dengan melewatkan pada mesin pemotong serat (cutter machine) .Proses

Flow Chart pembuatan serat rayon viscose dapat dilihat pada Gambar 2.4 halaman

28 dan urutan proses pemintalan serat rayon viskosa di PT SPV dapat dilihat pada

Gambar 2.5 pada halaman 28


36

Gambar 2.5 Flow Chart Pembuatan Serat Rayon Viskosa (Avtex Fibers Inc.1910)

Gambar 2.4 Proses Pembuatan Serat Rayon Viskosa (Avtex.1910)


37

Belum digambar

Gambar 2.5 Diagram Alir Pemintalan Serat Rayon Viscosa (PT SPV.2008)

2.1.12. Pengkondensasian Carbon Disulfida (CS2 Recovery Trought )

Pada proses pengkondensasian/pengambilan kembali Karbon disulfide (Recovery

Trought) ini serat rayon viskosa yang telah dipotong masih mengandung gas seperti CS 2,

dilewatkan pada bak penghilang karbon disulfide (CS2 throught) untuk mengalami

pencucian dengan air panas diikuti dengan pemanasan menggunakan uap panas

bertekanan 0,3-1,5 bar . Tujuan dari proses ini adalah untuk menguapkan CS 2 yang

terdapat pada dalam rayon viscosa . Kemudian uap CS2 dialirkan ke dalam srcubber dan

dikondisasi dalam tiga tingkat kondensor . Hasil kondensat CS 2 ditampung pada sebuah

tank yang selanjutna dialirkan ke CS2 plant. Karbon disulfida yang dapat diambil kembali

urang lebih 35% dari CS2 yang digunakan untuk reaksi xantasi (Stieb H.1992) Dari

proses ini didapat manfaat ganda yaitu didapat karbon disulfide cair serta air pendingin

yang naik suhunya dapat dimanfaatkan lagi untuk keperluan proses produksi .

2.1.13. Unit Pembuat Asam Sulfat ( Acid Plant )

Asam sulfat ( H2SO4) , merupakan bahan kimia yang banyak digunakan sebagai

bahan baku , dan bahan penolong dalam berbagai industri , sehingga perkembangan

pemakaiannya dapat merupakan indikator, bagi perkembangan perindustrian di suatu

negara . Asam sulfat diperoleh dari pembakaran belerang dan absorbsi gas yang

dihasilkan dalam air .

Reaksi yang terjadi :


38

S + O SO2

SO2 + 1/2O2 SO3

SO3 + H2O H2SO4

Dikenal dua macam proses pembuatan asam sulfat yang umum dipakai yaitu :

1. Proses kontak , yang menghasilkan asam dengan konsentrasi 98%

2. Proses kamar timbal , yang menghasilkan asam dengan konsentrasi 80%

Pada bagian selanjutnya akan diuraikan pembuatan asam sulfat dengan proses kontak ,

yang merupakan cara yang paling banyak digunakan .

2.1.13.1 Pembuatan Asam Sulfat dengan Proses Kontak

Sejak tahun 1071, hampir semua pabrik asam sulfat menggunakan proses kontak ,

dengan kapasitas minimum 50 ton/hari . Proses kontak menghasilkan asam sulfat pekat ,

sehingga memungkinkan pengurangan biaya produksi , biaya transportasi dan biaya

penyimpanan , serta meningkatkan kemampuan menjangkau pasaran yang lebih luas .

Proses kontak pada prinsipnya adalah reaksi oksidasi gas SO 2 dengan

menggunakan katalis padat , dilanjutkan dengan absorbsi gas SO3 yang dihasilkan untuk

membentuk asam sulfat .

Reaksi utama yang terjadi :

S(p) + O2(g) SO2(g) H =-2998,3kJ.250C

SO2(g) + 1/2 O2(g) SO3(g) H =-2998,3kJ.250C

SO3(g) + H2O(l) H2SO4(l) H =-2998,3kJ.250C


39

Sebelum tahun 1930 ,katalis yang digunakan adalah platinum ,namun karena

harga katalis platinum relative mahal , dan efektifitasnya mudah berkurang dengan adnya

kotoran ,mak akhir-akhir ini lebih banyak digunakan katalis V2O5 yang lebih tahan racun ,

sekalipun tidak seaktif katalias platina .Proses kontak terus mangalami perkembangan

baik dalam hal perlengkapan maupun katalis yang digunakan . Proses kontak yang paling

sederhana adalak Sulfur Burning Plant .

2.1.14. Pengolahan Air Proses ( Water Treatmen Plant )

Industri tekstil terutama pada proses penyempurnaan basah tekstil yang meliputi

proses penganjian dan penghilangan kanji , pemasakan , merserisasi , pengelantangan

,pencelupan , pencapan , penyempurnaan resin dan proses-proses penyempurnaan

lainnya sangat membutuhkan air yang cukup banyak .Untuk memperoleh kebutuhan air

tersebut, diperoleh dari berbagai sumber , diantaranya adalah :

1. Air hujan

Air hujan merupakan air yang paling murni dan dapat mengandung gas-gas yang

terlarut dalam atmosfer , seperti CO2 , SO2 , CL2 ,H2S , dan lain-lain

2.Air permukaan

Merupakan air hujan atau mataair yang terkumpul dalam rawa , sungai , atau danau .

Air ini mengandung zat-zat organik dan beberapa mineral tergantung asal mataair dan

lingkungannya.

3.Air sumur

Merupakan sumber mataair yang berupa sumur dengan kedalaman kurang dari 150

meter
40

4.Air sumber

Berupa sumur artesis dengan kedalaman lebih dari 150 meter . Air ini banyak

mengandung zat mineral , garam sadah , dan logam-logam

Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik , maka air yang digunakan untuk

proses tekstil tersebut harus memenuuhi berbagai persyaratan seperti yang ditunjukan

pada Tabel 2.3. berikut ini

Tabel 2.3 : Syarat Air Untuk Proses Tekstil


No Parameter Kadar Maksimum (mg/L)
1. pH 6,5 7,4
2. Warna Tidak berwarna
3. Kekeruhan 5
4. Besi (Fe) 0,1
5. Mangan (Mn) 0,05
6. Jumlah Fe dan Mn 0,2
7. Logam berat lain 0,01
8. Aluminium oksida 0,5
9. Kesadahan total ( sebagai CaO) 30(30 DH)
10. Alkalinitas 75
11. Jumlah gas terlarut 150
12. Silikat (SiO22-) 110
13. Sulfat (SO42-) 100
14. Khlorida (Cl-) 100
15. Kalsium (Ca2+) 10
16. Magnesium (Mg2+) 5
17. Bikarbonat (HCO3-) 200
Sumber :Trotman .1970

Untuk dipakai dalam proses tekstil air tersebut harus diolah , artinya semua

kotoran dan mineral yang dapat berpengaruh buruk bagi proses tekstil harus dihilangkan .

Kotoran-kotoran yang terkandung dalam air dan dapat mempengaruhi proses pengerjaan

tekstil adalah :

1.Warna
41

Warna air biasanya disebabkan oleh adanya senyawa-senyawa organik yang

terlarutdan dan terdispersi koloidal . Senyawa-senyawa tersebut menjadi besar karena

bergabung dengan senyawa organik besi dan mangan koloidal.

2. Kekeruhan

Kekeruhan disebabkan oleh partikel - partikel tersuspensi dalam air , baik yang berasal

dari bahan anorganik , seperti tanah liat , lumpur , kalsium karbonat , silikat atau bahn-

bahan organil seperti lemak , mikroorganisme .

4.Besi dan Mangan

Garam-garam besi berpengaruh pada beberapa proses industri tekstil , pada proses

pemasakan dan pengelantangan , garam-garam besi dapat menyebabkan noda-noda

kuning coklat yang mengotori pada bahan tekstil , juga dapat memperbesar kerusakan

bahan selulosa , karena logam berat dapat berfungsi sebagai katalis dalam penguraian

zat pengelantangan .

5.Alkalinitas

Alkalinitas air disebabkan oleh adanya natrium karbonat , kalsium karbonat dan

magnesium karbonat . Alkalinitas yang tinggi dalam air dapat menimbulkan kesukaran

dalam mengatur kondisi pengerjaan untuk proses-proses yang akan berlangsung .

5.Kesadahan .

Ada dua macam kesadahan dalam air , yaitu kesadahan sementara dan kesadahan tetap .

Kesadahan sementara disebabkan oleh adanya bikarbonat yang diikat oleh logam-

logam kalsium dan magnesium dalam air . Bikarbonat ini akan hilang dalam

pemanasan , oleh karena itu disebut kesadahan sementara . Kesadahan tetap


42

disebabkan oleh logam-logam kalsium dan magnesium yang terikat sebagai garam

khlorida atau sulfat , dan tidak hilang oleh pemanasan .

Berdasarkan pada syarat-syarat air untuk proses pengerjaan tekstil yang telah

ditentukan , dengan adanya kotoran-kotoran kimiawi yang terdapat dalam air sumber ,

maka sebelum siap dipergunakan untuk proses pengerjaan tekstil , air tersebut harus

dianalisa terlebih dahulu untuk mengetahu komposisi komposisi apa yang terkandung .

Apabila air yang dianalisa itu belum memenuhi persyaratan yang telah

ditentukan , air itu perlu dimurnikan atau dilunakan terlebih dahulu .

Dikenal empat macam pelunakan air , yaitu :

1). Cara Pemanasan

Cara ini hanya untuk menurunkan kesadahan yang disebabkan oleh magnesium

karbonat dan kalsium karbonat . Garam-garam tersebut dalam air panas masing-

masing terurai menjadi magnesium hidroksida , kalsium karbonat yang mengendap

dan karbondioksida .

2) Cara Pengendapan

Cara ini merupakan cara yang paling murah yang dapat mengendapkan kesadahan

total . Pada cara ini garam-garam kalsium dan magnesium penyebab kesadahan

diendapkan sebagai karbonat-karbonat . Sebagai zat pengendap dipakai campuran

soda-kapur , soda-soda , atau tergantung zat yang terkandungan didalam air tersebut .

3)Cara Kompleksometri

Prinsip pelunakan cara ini membentuk pasangan komiawi secara ikatan komplek

dengan ion-ion kesadahan menjadi garam komplek dan tidak menyadahkan air . Zat
43

pengomplek yang sering dipakai adalah calgon , garam tetrafosfat , heksmetafosfat ,

dan pirofosfat atau jenis trilon (garam natriumasetat) .

4) Cara penukar ion

Prinsipnya adala menukar ion-ion yang diikat dengan gaya elektrostatik pada

kelompok fungsional bermuatan pada suatu padatan ditukar atau digantikan oleh ion-

ion dengan muatan yang sama dalam suatu larutan dimana padatan tersebut berada ,

dengan pengertian bahwa penukaran kelompok fungsional bermuatan terjadi pada

permukaan padatan . Oleh karena itu ion-ion yang mengalami penukaran harus

melalui fasa perantara dari fasa permukaan , maka perpindahan ini diklasifikasikan

sebagai proses adsorpsi. Zat penukar ion yang dikenal adalah penukar ion anorganik

seperti garam-garam zeolit , dan penukar ion organik seperti jenis resin .
Sungai Citarum
Air untuk proses pembuatan
Citarum serat rayon viscosa yang dipergunakan di PT SPV

berasal dari sungai Citarum Aerator

Pengolahan air yang dilakukan di PT SPV dapat dilahat pada Gambar 2.6 pada
Flash Mixer Flokulan
halaman berikut ini :
Clariflokulator

Reservoir Tank NaOCl Sand Filter

Cooling water Filter Tank Cl2

Softener SOFT WATER TANK ACF TANK CARBON ACTIVE TANK

AIR PROSES SAC AIR MINUM

DGWT

SBA

AIR BOILER
44

Gambar 2.6 Skema Proses Pengolahan Air (PT.SPV)

2.1.15 Pengolahan Limbah Gas


Pengolahan limbah gas dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi

pengendalian pencemaran udara . upaya ini dapat dilakukan melalu dua cara yaitu :

1. Pengendalian pada sumbernya uang mencakup

- Pengendalian pencemaran debu / partikel

- Pencemaran gas / emisi

Limbah gas yang diemisikan dari berbagai kegiatan proses produksi sangat sulit untuk

dihilangkan sama sekali . Upaya pengendalian emisi ini adalah mengurangi jumlah

emisi/gas yang tidak dikehendaki .

Prinsifnya adalah :

- Mengoftimalkan proses sehingga emisi gas berkurang

- Mengubah menjadi senyawa yang berbeda ang lebih rendah tingkat berbahayanya

- Mengubah menjadi senyawa lain sebagai produk samping ang dapat dijual

2.Pengendalian lingkungan .

Suatu teknologi pengendalian pencemaran pencemaran , umumnya terkait dengan

peraturan tentang baku mutu pencemaran , sehingga pemilihan alternatif dari bentuk

teknologi pengendalian pencemaran tergantung pula dari ketat atau tdakna peraturan .

Pada umumnya teknologi pengendalian pencemaran akan mengacu kepada pembiayaan ,


45

segingga hal tersebut akan terkait pula dengan keadaan ekonomi suatu negara ( Soedomo

Moestikawati . 1998) .

Ada beberapa metoda yang telah dikembangkan untuk penyederhanaan buangan

gas . Dasar pengembangan yang dilakukan adalah absorbsi , pembakaran, penyerapan

ion,kolam netralisasi dan pembersihan partikel . Peralatan dipilih berdasarkan beberapa

faktor , antara lain : jenis bahan pencemar , komposisi , konsentrasi , berat jenis dan

kondisi lingkungan . Disamping itu ada beberapa faktor lan ang harus diperhitngkan ,

yaitu: nilai ekonomi peralatan , karena biaya pengendalian pencemaran akan menjadi

beban konsumen . Beberapa peralatan yang digunakan untuk pengolahan limbah gas

antara lain: scrubber , menara semprot , cara absorbi dan lain sebagainya . ( Philip .2002)

2.1.16 Analisa Manfaat - Biaya

Analisis Biaya Manfaat (ABM) lebih dikenal dengan analisis manfaat biaya

adalah alat untuk menyusun kebijakan yang memungkinkan pengambilan keputusan

memilih diantara berbagai alternatif yang saling bersaing . Analisis ini dapat digunakan

pada anlisis investasi kegiatan usaha yang hanya melibatkan biaya dan keuntungan

( Djayadiningrat,1997)

Analisis biaya merupakan metode sistematis untuk mengukur manfaat dan biaya

ekonomi dari suatu sistem atau kegiatan pada kegiatan proyek. Kegiatan ini adalah

melakukan investasi suatu peralatan pendukung proses produksi pada suatu industri .

Analisis biaya manfaat adalah suatu strategi untuk pengambilan suatu keputusan dengan

cepat . Manfaat suatu investasi adalah nilai tambah hasil barang atau jasa yang
46

dimungkinkan karena adanya investasi, sedangkan biaya adalah nilai tambah sumber

daya riil yang dikeluarkan , untuk mendapatkan manfaat dari suatu investasi .

Analisis ekonomi dapat memberikan informasi tentang biaya yang timbul dan

manfaat yang didapat dari sutu kebijakan .atau untuk melihat apakah suatu kebijakan

yang akan dilaksanakan dapat memberikan manfaat yang menguntungkan kepada

masyarakat secara keseluruhan .Untuk menilai kelayakan suatu proyek dapat digunakan

beberapa metode / kriteria diantaranya yaitu ::

1. Menghitung ekivalensi nilai sekarang (Net Present Value/NPV)

2.Menghitung ratio manfaat biaya (Benefit Cost Ratio/BCR)

3Menghitung tingkat bunga pnembalian modal ( Internal Rate of Return/ IRR).

Dasar perhitungan yang berkaitan dengan metode tersebut , adalah:

1) Nilai Waktu Uang (Time Valueof Money)

Nilai waktu uang adalah nilai yang berbeda dari waktu yang lain . Ini diakibatkan uang

tersebut dianggap barang sewaan yang memiliki nilai jasa atau nilai guna (rental fee) .

Nilai guna tersebut sering disebut sebagai bunga atau interest . Beberapa factor yang

mempengaruhi proses perubahan nilai uang antara lain yaitu :

a. Jumlah aliran kas ( penerimaan dan pengeluaran sejumlah uang )

b. Waktu berlangsungnya aliran kas tersebut , dan

c. Tingkat suku bunga yang digunakan .

2) Perhitungan bunga
47

Istilah bunga uang dapat didefinisikan sebagai jumlah uang yang harus

dibayarkan kepada pemberi pinjaman atas imbalan jasa dari uang yang dipinjam . Untuk

menyatakan besarnya bunga dinyatakan dengan angka persentase . Perhitungan bunga

pada istilah perbankan adalah bunga majemuk, yaitu yang dihitung berdasarkan pokok

pinjaman yang masih tersisa ditambah akumulasi bunganya dari awal periode

peminjaman . Rumus bunga digunakan untuk mempermudah perhitungan , yang

merupakan perkalian antara nilai satu transaksi yang dihitung menurut reperensi waktu

tertentu dengan factor bunganya. Faktor bunga adalah formulasi dari akumulasi antara

bunga dengan aliran kas transaksi tersebut dalam kurun waktu hitung yang ditetapkan .

(Kastaman,2000)

3) Depresiasi

Definisi dari depresiasi adalah penurunan nilai property/asset tetap dari suatu

kegiatan usaha , yang disebabkan oleh antara lain kerusakan karena pemakaian atau tidak

sesuai lagi dengan perkembangan teknologi . Untuk mengantisipasi penurunan kinerja

aset tetap , ditentukan dana konpensasi yang ditetapkan dan dikeluarkan sebagai biaya

secara periodik untuk mengganti aset tetap tersebut dengan aset yang baru apabila umur

pakainya berakhir Besarnya dana konpensasi sama dengan jumlah untuk mengganti aset

tersebut . Biaya yang harus dikeluarkan sebagai konsekuensi atas penurunan kinerja alat ,

mesin atau aset lainnya akibat berakhirnya umur pakai aset yang dibeli dan diganti

dengan aset yang baru , disebut depresiasi .

Salah satu metoda yang digunakan untuk menghitung depresiasi adalah metode

garis lurus (straight line) dengan persamaan sebagai berikut : (Newman ,1990

. Kastaman,2000)
48

d = Nilai investasi Nilai sisa


(N tahun umur asset)
Keterangan ;

d = biaya depresiasi tahunan dari N tahun umur aset

nilai investasi = nilai aser pada awal periode waktu hitung transaksi

nilai sisa = nilai asset pada akhir periode waktu hitung transaksi ,

yaitu di akhir umur asetatau umur pakai asset

4) Metoda Ekivalensi Nilai Sekarang (NPV)

Net present value adalah jumlah nilai sekarang dari keuntungan bersih atau

NPV merupakan perbedaan antara nilai sekarang ( present value / PV) dari manfaat dan

biaya . Metode perhitungan NPV , didasarkan atas nilai sekarang bersih dari hasil

perhitungan nilai sekarang aliran dana masuk (pendapatan/benefit) dengan nilai sekarang

aliran dana keluar (pengeluaran/cost), selama jangka waktu analisis dan suku bunga

tertentu . Apabila NPV positif (NPV>0) dapat diartikan sebagai besarnya keuntungan dari

suatu investasi , artinya investasi akan mendapatkan modalnya kembali setelah

diperhitungkan discount rate nya akan inpas apabila NPV=0.

Apabila NPV negatif (NPV<0) rencana proyek menunjukkan kerugian sehingga perlu

dicari alternative proyek yang lain yang lebih menguntungkan .

(Newman,1990.Siswanto,2000.Gray,2002)

Untuk memudahkan perhitungan , digunakan rumus

NPV ( PV pendapatan / benefit ) ( PV pengeluaran /cost)

5) Metode Rasio dan Biaya ( Benefit Cost Ratio/ BCR)

Metode Manfaat BCR pada dasarnya menggunakan data ekivalensi nilai

sekarang , dari penerimaan dan pengeluaran , dimana BCR merupakan perbandingan


49

antara nilai sekarang dari penerimaan dan pendapatan (benefit)terhadap nilai sekarang

dari pengeluaran (cost) selama investasi tersebut berlangsung dalam kurun waktu tertentu

. Kriteria kelayakan adalah bila BCR>1 dan dirumuskan sebagai berikut

(Newman,1990.Gray,dkk,2002).

BCR = ( PV pendapatan /benefit)


( PV pengeluaran / cost )

6) Metode Internal Return of Rate ( IRR )

IRR merupakan tingkat pengembalian modal yang digunakan dalam suatu

proyek , yang nilainya dinyatakan dalam persen/tahun.. Suatu proyek yang layak

dilaksanakan akan mempunyai nilai IRR yang lebih besar dari suku bunga . IRR

menggambarkan persentase keuntungan senjatanya yang akan diperoleh dari investasi

proyek yang direncanakan (Gray,2002)

Bentuk Persamaannya adalah ;

IRR = a + NPV a (b-a)


( NPV a NPV b )
a = suku bunga rendah

b = suku bunga tinggi

NPV a = NPV pada suku bunga a ( bernilai positif )

NPV b = NPV pada suku bunga b ( bernilai negatif )

7) Payback Period

Maksud dari payback period adalah waktu yang diperlukan proyek untuk

mengumpulkan dana intern guna mengembalikan seluruh dana yang telah diinvestasikan

dalam sebuah proyek ( Siswanto,2000 ) . Cara mengukur profitabilitas proyek

diantaranya adalah dengan menghitung payback period . Dengan pernyataan lain


50

dikemukan . Payback Period adalah tenggang waktu pengembalian profit atau

keuntungan yang lain dari sebuah investasi , yang mana besarnya sama dengan investasi

tersebut ( Newman,1990) .

Payback period dapat memberikan indikasi kasar tentang likuiditas keuangan

proyek yang direncanakan , dalam arti kapan proyek tersebut dapat mengembalikan

seluruh dana yang telah diinvestasikan . Dengan perkiraan masa yang diperlukan untuk

mengembalikan dana yang telah diinvestasikan , para investor mempunyai gambaran

tentang tingkat resiko yang akan dihadapi (Siswanto,2000 )

2.2. Kerangka Pemikiran

Meningkatnya pertumbuhan sektor industri ekivalen dengan meningkatnya

kebutuhan bahan bakar minyak sebagai sumber energi untuk pembakaran . Penggunaan

bahan bakar minyak pada ketel uap adalah untuk menghasilkan uap ,yang dibutuhkan

pada proses produksi . Kenaikan harga bahan bakar minyak dapat secara langsung

menaikkan harga uap dan dapat berpengaruh terhadap biaya produksi . Tingginya biaya

produksi tentunya akan menaikkan harga jual produk , kenaikkan harga jual produk akan

berpengaruh pada persaingan harga di pasaran .

Tingginya harga bahan bakar minyak secara tidak langsung berpengaruh pada

kuantitas dan kualitas produksi sehingga industri perlu menurunkan kebutuhan bahan

bakar minyak untuk melakukan penghematan energi , mempertahankan kualitas dan

kuantitas produksi sekaligus menaikkan profit perusahaan . Industri perlu menjalankan

kebijakan penggantian bahan bakar minyak untuk keberlangsungan proses produksi .

dengan mengganti sumber energi lainnya Kebijakan memperdayakan sumber energi


51

lainnya adalah memberdayakan buangan panas . Penggunaan buangan panas sesuai

dengan konsep Produksi Bersih .,yaitu penghematan dan pemanfaatan kembali (use and

reuse) akan banyak membantu upaya minimisasi limbah (Isminingsih.2002) .Manfaat

lebih jauh dapat mengelola keberadaan bahan bakar minyak di muka bumi ..

Air merupakan kebutuhan penting lainnya disamping energi untuk kegiatan

ekonomi. Untuk mendapatkan air dalam jumlah yang cukup besar sebagai penunjang

kegiatan industri , air biasanya diambil dari air permukaan , air sungai , air hujan , dan

air tanah atau air sumur artesis .Proses basah pada industri sangat memerlukan banyak

air , sehingga air diambil secara tidak terkendali . Hal ini dapat mengakibatkan daerah

sekitarnya banyak yang kekurangan air , karena air terfokus hanya untuk kegiatan

industri saja . Sementara untuk kegiatan selain industri seperti kegiatan rutin masyarakat ,

pertanian , perkebunan dan lainnya kadang-kadang terabaikan . Pengontrolan pemakaian

air dalam industri tekstil dapat dilakukan dengan cara pengunaan secara konsisten prinsif

counter current untuk semua proses yang membutuhkan air Pengambilan air yang

berlebihan akan menggangu keseimbangan ekosistem perairan , dan sangat merugikan

pihak lainya , Oleh karena perlu adanya upaya bagaimana melakukan kegiatan industri

tanpa banyak menggunakan air yang berlebihan ..

Sebagaimana diketahui bahwa pada proses pembuatan serat rayon viskosa , aft

adalah proses yang penting dan dapat mempengaruhi mutu serat , digunakan air panas

dengan suhu 80 C , maksud pemakaian air panas ini adalah supaya tujuan dari proses

pemurnian serat tercapai dengan standar mutu yang telah ditetapkan berdasarkan

permintaan konsumen .Standar mutu serat rayon viskosa yang ditetapkan industri

berdasarkan permintaan konsumen , adalah nilai brightness (90 2)% , dan nilai black
52

partikel 1,5 %. Untuk mendapatkan air panas umumnya dengan jalan air dipanaskan

dengan menggunakan steam , yang berasal dari pemanas boiler . Cara ini memerlukan

biaya yang cukup tinggi , mengingat kebutuhan air panas untuk proses aftt serat rayon

viskosa cukup besar .

PT..SPV salah satu industri pembuatan serat rayon viskosa , dalam memproduksi

serat , memanfaatkan buangan panas dari sistim scrubber pada recovery CS2 sebagai

energi alternativ untuk memanaskan air , dalam memenuhi kebutuhan air panas pada

proses aft Selain itu , air panas hasil pendinginan dari acid plant digabung bersama

sumber air lainnya (soft water) untuk menjaga kondisi aliran apabila kebutuhan air panas

dari proses tersebut tidak mencukupi .

Pada proses recovery CS2 serat rayon viskosa setelah dipotong diinjeksikan

dengan bantuan uap panas bertekanan 0,3-0,5 bar bertujuan untuk menguapkan gas CS 2

dan gas H2S. Selanjutnya gas-gas bersama uap air tersebut dikirim ke kondensor

sehingga terjadi penurunan suhu buangan panas dari gas .Buangan panas dari gas

dilewatkan melalui sistim scrubber , selanjutnya buangan panas diserap oleh cooling

water dan terjadi penyerapan panas sehingga cooling water menjadi panas. Cara lain

untuk mendapatkan air panas , dari proses pembuatan asam sulfat melalui sistim kontak .

Pada proses pembuatan asam sulfat ini , air panas yang dihasilkan didapat melalui proses

pendinginan asam sulfat , pada proses pendinginan asam sulfat ini terjadi pertukaran

panas antara asam sulfat cair yang terbentuk dengan cooling water , sehingga cooling

water mengalami kenaikkan suhu . Air panas yang diperoleh dari kedua proses ini

dimanfaatkan untuk proses aft , yang terlebih dahulu dilewatkan melalui PHE untuk

menyeragamkan suhu .
53

Dengan demikian , penggunaan air panas hasil dari kedua proses tersebut , dapat

dimanfaatkan untuk proses aft serat rayon viskosa , sehingga terjadi penghematan

energi dan biaya produksi pada proses pembuatan serat rayon viskosa, sekaligus

memberikan keuntungan buat industri secara nyata.

Investasi proyek penggunaan scrubber dan PHE pada industri sebagai

pemanfaatan energi secara ekonomi meningkatkan pendapatan atau keuntungan melalui

peningkatan manfaat dan penghematan biaya operasional . Dua metode hitung kelayakan

ekonomi yang digunakan untuk keputusan investasi sesuai dengan kriteria kelayakan

ekonomi adalah ratio manfaat biaya ( Benefit Cost Ratio / BCR ) dan nilai sekarang

bersih ( Net Present Value / NPV ) . Selanjutnya suatu investasi dikatakan layak secara

ekonomi , bila memiliki nilai NPV > 0 , BCR > 1 ( Newman , 1990 . Djajadiningrat, 1997

. Siswanto ,2000.Gray,2002 ).

2.3 HIPOTESIS

Dari Kerangka Pemikiran yang telah diuraikan di atas , maka dapat dibuat Hipoesis

sebagai berikut :

1.Penggunaan buangan panas dari sistem scrubber pada recovery CS2, dan dari

acid plant dapat menggantikan kebutuhan steam pada proses aft .

2.Kualitas serat brightness dan black pertikel serat tidak terlalu dipengaruhi oleh

penggunaan air panas dari sumber yang berbeda

3.Pemasangan PHE secara ekonomi dapat menguntungkan dan layak digunakan .


54

BAB III

OBYEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 OBYEK PENELITIAN

Obyek yang digunakan pada penelitian ini adalah sistem scrubber yang terdapat

pada recovery CS2 , pembuatan asam sulfat pada acid plant dan pemasangan unit plat

heat exchanger sebagai pengatur suhu air panas dengan suhu yang ditentukan pada

proses aft di departemen spinning pada industri pembuatan serat rayon viskosa . Industri

tekstil yang dijadikan sebagai tempat penelitian , adalah perusahaan pembuatan serat

rayon viskosa . PT South Pacific Rayon (PT.SPV) terletak di kampung Ciroyom desa

Cicadas kabupaten Purwakarta propinsi Jawa Barat . Alasan pemilihan lokasi penelitian

ini , karena PT.SPV dalam melakukan proses aft pada proses pembuatan serat di

departemen spinning , mempunyai potensi untuk memanfaatkan buangan panas dari

kedua proses tersebut , dalam rangka memenuhi kebutuhan air panas dan

mengoptiamalkan unit plat heat exchanger sebagai pengaturan suhu .

Perusahaan ini merupakan gabungan antara industri tekstil dan industri kimia di

Jawa Barat , yang telah mendapatkan ISO14001 , sehingga diharapkan lebih peduli
55

terhadap lingkungan , dan tercapainya penerapan perusahaan yang serasi dengan

lingkungan sebagai tujuan perusahaan . Selain itu pertimbangan lain adalah kemudahan

akses untuk melakukan praktek kerja lapangan di perusahaan tersebut dan kemudahan

pengambilan data yang diperlukan . Melakukan praktek kerja lapangan pada salah satu

industri pembuatan serat sebagai studi kasus , dimaksudkan agar hasil penelitian ini

dapat dilakukan secara lebih luas , dengan mempertimbangkan langkah-langkah

perusahaan kearah yang lebih baik dalam pemeliharaan terhadap lingkungan . Selain itu

waktu yang terbatas bagi penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini .

3.2 METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus , yang mengobservasi kegiatan

proses produksi di industri dalam penggunaan energi . Tujuan penelitian studi kasus

adalah memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang , sifat-sifat serta

karakter yang khas dari kasus ataupun status individu , yang kemudian dari sifat khas

tersebut dijadikan suatu hal yang bersifat umum . Hasil dari penelitian studi kasus

merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal .Penekanan pada studi

kasus lebih pada pengkajian variabel ang cukup banyakpad unit ang kecil .Keunggulan

pada studi kasus adalah dapat mendukung studi-stidi ang besar di kemudian hari karena

memberikan hipitesa untuk penelitian selanjutnya (Suryabrata.1998) Salah satu

pendekatan penelitian yang dilakukan adalah berupa pendekatan kuantitatif .Pendekatan

kuantitatif dilakukan karena , pada penelitian ini akan menghitung besarnya efisiensi

pemanfaatkan buangan panas dari sistem scrubber pada recovery CS2 dan dari acid

plant, dibandingkan apabila masih menggunakan steam sebagai sumber panas . Selain
56

itu menghitung besarnya efisiensi penggunaan plat heat exchanger sebagai pengaturan

suhu air panas

Analisis Biaya dan Manfaat dari penggunaan sistem scrubber dan pemasangan

plat heat exchanger dimaksudkan untuk menghitung apakah sistem scrubber dan

pemasangan plat heat exchanger pada rangkaian aft di department spinning layak

secara ekonomi atau tidak .Analisis ekonomi dilakukan sebagai pertimbangan karena

tersedianya data yang dapat dianalisis .

3.3 RANCANGAN PENELITIAN

Pada penelitian ini akan dianalisis apakah penggunaan sistim scrubber pada

recovery CS2 sebagai penghasil buangan panas akan berpengaruh pada hasil pencucian

serat rayon viskosa , dan memberikan keuntungan , sekaligus dapat menghemat biaya

untuk energi .

Selain itu apakah penggunaan unit PHE di acid plant sebanyak satu unit dan di

departemen spinning sebanyak dua unit dapat bermanfaat secara ekonomi.Sebagai

parameter akhir serat rayon viskosa hasil aft dilakukan pengujian terhadap brightness dan

black partikel .

Pada penelitian ini dilakukan pengukuran suhu air panas (0C) dan aliran air

(m3/jam) seperti yang terlihat pada Tabel 3.1:

Tabel 3.1 Pengukuran Suhu (0C) dan Aliran Air (m3/jam)


No Lokasi pengukuran suhu(0C) Lokasi pengukuran aliran (m3/jam)

1. Dari sistem scrubber , sebelum Dari sistem scrubber , sebelum melewati PHE
melewati PHE A& PHE B A& PHE B

2. Dari acid plant sebelum melewati Dari acid plant dan dari booster pump setelah
PHE I melewati PHE I
57

3. Dari Booster pump Soft water -


sebelum melewati PHE I

4. Dari acid plant dan dari booster -


pump setelah melewati PHE I

5. Dari keseluruhan sistem setelah Dari keseluruhan sistem setelah melewati


melewati PHE A , PHE B ,dan PHE A , PHE B ,dan PHE 1 yang dipakai
PHE 1 yang dipakai pada proses pada proses aft dijalur produksi satu dan jalur
aft dijalur produksi 1 dan jalur produksi dua
produksi 2

Untuk lebih jelasnya pengukuran suhu dan aliran air yang dilakukan dapat dilihat pada
Gambar 3.1 berikut ini :

3.3.1 JENIS DAN SUMBER DATA


58

Data primer diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan di departemen spinning

PT SPV , sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil observasi di departemen

laboratorium PT SPV.

Jenis dan sumber data yang akan diteliti dapat dilihat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Jenis dan Sumber Data


No. JENIS DATA SUMBER DATA
DATA PRIMER
1. Penggunaan air panas pada proses aft (m3/jam) Dep.Spinning
2. Pengukuran suhu air panas (0C) di proses aft Sda
3. Efisiensi Energi Sda
*Pengukuran suhu air panas pada setiap lokasi
pengamatan (0C)
*Pengukuran flow air panas pada setiap lokasi
pengamatan (m3/jam)
4. *Nilai investasi PHE di lokasi pengamatan Sda
*Mengidentifikasi biaya tetap & dan biaya tidak
tetap
*Menghitung biaya operasional PHE
DATA SEKUNDER
5. Jumlah produksi serat rayon viskosa Sda
6 Pengukuran kadar H2S dalam air limbah Dep,Auxiliary
7. Pengukuran mutu serat rayon viskosa Dep.Laboratorium.
- Brightness
- Black partikel

3.3.2 Teknik Pengambilan Data

Teknik pengambilan data yang dilakukan berhubungan dengan data yang telah

dikemukaan diatas , untuk menjawab rumusan masalah pada penelitian ini , dapat dilihat

pada Tabel 3.2 berikut ini ;

Tabel 3.2 Teknik Pengambilan Data


No. Karakteristik Teknik Pengambilan Data Jumlah Alat yang
Pengambilan Data digunakan
1. Efisiensi energi Mengukuran suhu air 10x Thermostat
panas pada setiap lokasi
pengamatan (0C)
Pengukuran flow air
panas pada setiap lokasi 10x Flowmeter
59

pengamatan (m3/jam)
2. Analisis Mengumpulkan data Dari data laporan
ekonomi manfaat dan biaya
investasi PHE
3. Kualitas serat -brightness 10x Spektrofotometer
rayon viskosa -black partikel 10x (Vibrochrom
FFR2)
4 Kualitas -kadar H2S dalam air 10x Peralatan
lingkungan buangan pengujian
5. Jumlah produk Mengumpulkan data 10x Dari data laporan
dari laporan produksi

3.2.5 RANCANGAN ANALISIS YANG DILAKUKAN .

1. Analisis efisiensi .

Menentukan jumlah panas dari berbagai situasi pemanfatan kembali panas, untuk

mengetahui jumlah panas yang dapat dimanfatkan kembali , sehingga terjadi efisiensi

Panas total yang berpotensi dapat dimanfaatkan kembali dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut (UNEP.2005)

Q = V x P x Cp x T

Keterangan : Q = kandungan panas dalam kkal

V = laju alir bahan dalam m3 / jam

P = masa jenis gas buang dalam kg/m3

Cp= panas jenis bahan dalam kKal/kg 0C

AT= perbedaan suhu dalam0C

Atau dengan rumus : Q = m. c. T.kkal

Q1 = v x bj x Hu x efisiensi

Keterangan : Q = panas yang diperlukn ( kkal)

M = massa air ( Kg)

C = kalor jenis / panas jenis ( kkal/kg0C)


60

T= perubahan suhu ( 0C)

V = volume solar

Bj = berat jenis minyak bakar

Hu= Nilai bakar minyak bakar

= Efisiensi

1.Analisis Manfaat

Manfaat dapat diartikan sebagai kerugian yang dapat dihilangkan dalam proyek .

Suatu proyek pengelolaan lingkungan kerja yang mempunyai manfaat adalah yang dapat

menghilangkan sebagian atau seluruh kerugian . Manfaat diidentifikasikan dalam nilai

moneter .

2. Analisis Biaya

Analisis biaya meliputi keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam suatu proyek .

Biaya pokok operasional unit PHE terdiri dari biaya tetap (vixed cost) dan biaya tidak

tetap (variabel cost). Identifikasi analisis biaya dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini

Tabel 3.3 Identifikasi Manfaat dan Biaya Investasi unit PHE


No Komponen Perhitungan Keterangan
1. Harga sistem instalasi Sumber :PT SPV
Identifikasi Biaya
2. Biaya Tetap (fixed coct)
a. Biaya Penyusutan Harga Pembelian Nilai Sisa Nilai sisa = %x
Umur teknis PHE harga PHE
b. Bunga Modal ( interest) Harga beli x Tingkat suku
bunga ( % / tahun )
c. Biaya asuransi Harga beli x Tingkat
penyimpanan ( %/tahun)
d. Biaya Pemeliharaan (Harga beli x %)/ 2.160 jam
3. Biaya tidak tetap (variabel cost)
a. Biaya pemakaian listrik
b. Biaya Pelumas
61

c. Upah Tenaga kerja


4. Biaya Total Operasional
( Total Cost)
Identifikasi Manfaat
5. Investasi PHE Sumber : PT SPV

3.2.5.1 PENAFSIRAN HASIL COST BENEFIT ANALISIS

Penafsiran hasil cost benefit analisis dilakukan dengan beberapa metode , antara

lain:

1.Metode ekivalensi Nilai Sekarang ( Net Present Value/ NPV)

NPV merupakan selisih antara Nilai Sekarang / Present Value(PV) dari manfaat

dan Nilai Sekarang dari biaya (Gray.2002)

NPV = (PV benefit ) (PV cost )

Kriteria kelayakan ekonomi adalah apabila NPV > 0

2.Metode Ratio Manfat dan Biaya ( Benefit Cost Ratio / BCR)

Metode ini membandingkan antara total manfaat terhadap total biaya , kemudian

ditransformasikan ke dalam bentuk nilai sekarang (Gray.2002) .

BCR = (PV benefit )

(PV cost )

Kriteria kelayakan adalah apabila BCR > 1

3. Metoda Internal Return uf Rate (IRR)

Metode ini merupakan metode penilaian investasi untuk mencari tingkat bunga

( discount rate )yang menyamakan nilai sekarang dari aliran kas neto dan investasi . IRR
62

juga merupakan tingkat pengembalian modal yang digunakan dalam proyek , nilainya

dinyatakan dalam persen tahun . IRR dapat dihitung dengan rumus (Gray.2002)

IRR = a + NPV a (ba)

(NPV a NPV b)

Keterangan : :

a = suku bunga rendah

b = suku bunga tinggi

NPV a = NPV pada suku bunga a ( bernilai positif

NPV b = NPV pada suku bunga b ( bernilai negatif )

Kriteria nilai IRR harus lebih besar dari bunga

3.2.6. Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Departemen Spinning dan Unit Pengolahan Limbah Gas di

PT. South Pasific Viscose , Purwakarta , Jawa Barat .

3.2.7 JADWAL PENELITIAN

No. Maret April Mei Juni Juli Agustus


1. Persiapan
2. Seminar
Usulan
Penelitian
3. Pengumpulan
Data
4. Pengolahn
Data
5 Pelaporan
63

DAFTAR PU STAKA

1.Billmeyer , W.Fred. Texboox of Polymer Chemistry , Interscience Publisher Inc.

New York .1957

2. Djokosetyardjo ,1989, Ketel Uap Cetakan kedua, PT Pradnya Paramita,Jakarta

3..Djajadiningrta Surna ,1997 Pengantar Ekonomi Lingkungan , Pustaka LP3 ES , Jakarta

4.First U.S.Commercial Rayon Fiber Production ;1910,Avtex Fibers Inc.

5. Gray C.P Simanjuntak ,dkk.2002 Pengantar Evaluasi Proyek Edisi kedua.PT Gramedia

.Jakarta
64

6..Hermans, Physics and Chemistry of Cellulose Fibers , Elsevier Publishing Company

Inc.New York . Amstredam-London Brussels .1949

Handbook of Fiber Science and Teknology : Fiber Chemistry .Vol.IV

7. Hufschmidt. Maynard M - James.David E Meister .Anton D- Bower.Blair T Dixon

.John A Lingkungan , Sistem Alami , dan Pembangunan Pedoman Penilaian Ekonomis.

Diterjemahkan oleh S Reksohadiprojo .Editor oleh S Martopo .1996. Gajah Mada

Uneversity Press .Yogyakarta

8. .http://www.pt-spv.com/Indonesia/environment.asp

9. http:// lenzing.com/technik/en/fiberandpulptechnology/2305.jsp)

10. Isminingsih ,Wiwin Winiati Produksi Bersih di Industri Tekstil Balai Besar Tekstil .

2005

11. Kristianto Philip, Ekologi Industri Edisi ketiga .Penerbit Andi Yogya karta dan

Lembaga Penelitian kepada Masyarakat Universitas Kristen .PETRA Surabaya

12..Kementrian Lingkungan Hidup .2003 .Booklet Kebijakan Nasional Produksi Bersih

13. .Migas Indonesia Online , http;//WWW. migas indonesia .com

14. Otto Soemarwoto .2004 .Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan Penerbit

Djambatan .Jakarta

15.Othmer.Kirk,Encyclopedia of Chemical Tecnology, SecondEdition,

Vol 19,John Wileyand Sons Inc,1060

16..Richad T. Shezhan Allternative Energy Sources .An Aspen Publication.

17.Trotman .ER.Dyeing and Chemistry Technokogy of Textike fibber .Chharles

Griffinand .Co. Ltd.1970


65

18.Unep , Division of Technology ,Industry and Economic 2005 , Energy Effisiency

Guide For Industry in Asia

19.www.energyefisiencyasia.org , Efisiensi Energi untuk Indonesia di Asia , 2004 .

20... , Pembuatan Serat Viskosa ,Training Center PT.South Pacific


Viscose ,Purwakarta .1996