Anda di halaman 1dari 318

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING


DALAM PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR BIDANG
KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

TESIS

VINCENTIUS UNTORO KURNIAWAN


0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
DEPOK
JULI 2009

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


150/FT.01/TESIS/07/2009

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING


DALAM PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR BIDANG
KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

TESIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Teknik

VINCENTIUS UNTORO KURNIAWAN


0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI
DEPOK
JULI 2009

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber, baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Vincentius Untoro Kurniawan


NPM : 0706172651
Tanda Tangan :

Tanggal : 13 Juli 2009

ii

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


HALAMAN PENGESAHAN

Tesis ini diajukan oleh:


Nama : Vincentius Untoro Kurniawan
NPM : 0706172651
Program Studi : Teknik Sipil
Judul Tesis : Penerapan Value Engineering dalam Penyelenggaraan
Infrastruktur Bidang Ke-PU-an di Lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum dalam Usaha Meningkatkan Efektivitas
Penggunaan Anggaran

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk menyelesaikan Tesis
dalam mencapai Gelar Magister Teknik pada Program Studi Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI :

Pembimbing 1 : DR. Ir. Yusuf Latief, MT ( )

Pembimbing 2 : Ir. Bakuh Nindyo Suripno, Dipl. HE ( )

Penguji 1 : DR. Ismeth S. Abidin ( )

Penguji 2 : M. Ali Berawi, M.Eng.Sc, Ph.D. ( )

Penguji 3 : Ir. Wisnu Isvara, MT ( )

Ditetapkan di : Depok

Tanggal : 13 Juli 2009

iii

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan
dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Teknik
Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Saya
menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa
perkuliahan sampai pada penyelesaian tesis ini. Oleh karena itu, saya
mengucapkan terima kasih kepada:

(1) Bapak DR. Ir. Yusuf Latief, MT selaku Pembimbing Utama yang telah
menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyelesaian tesis ini;
(2) Bapak Ir. Bakuh Nindyo Suripno, Dipl.HE, selaku Pembimbing II dan salah
satu Atasan di Inspektorat Jenderal Departemen PU yang telah menyediakan
waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam penyelesaian
tesis ini;
(3) Bapak DR. Ismeth S. Abidin, M. Ali Berawi, M.Eng.Sc., Ph.D., dan Bapak
Ir. Wisnu Isvara, MT, selaku Penguji yang telah memberikan masukan dan
arahan dalam penyelesaian tesis ini;
(4) Bapak Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Indonesia beserta jajarannya dan para Dosen Pengajar yang tidak dapat saya
sebutkan satu per satu yang telah memberikan fasilitas selama proses belajar
mengajar.
(5) Bapak Direktur Jenderal Bina Marga Departemen PU dan jajarannya yang
telah memberikan kesempatan kepada saya untuk memperoleh fasilitas
beasiswa dalam menempuh pendidikan ini;
(6) Bapak Inspektur Jenderal Departemen PU dan jajarannya yang telah
memberikan ijin belajar dan memberikan dukungan dalam menempuh studi,
serta banyak membantu dalam usaha memperoleh data yang diperlukan
dalam penelitian;

iv

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


(7) Bapak Ir. M. Sjukrul Amien, MM. (Sekretaris Inspektorat Jenderal
Departemen PU) dan Ibu Ir. Rani Woro Wirasmi (Inspektur Khusus
Inspektorat Jenderal Departemen PU) selaku Atasan saya di Inspektorat
Jenderal Departemen PU;
(8) Bapak dan Ibu Tenaga Ahli, baik di Inspektorat Jenderal Departemen PU
maupun di institusi lain, selaku Pakar dalam expert system yang telah
memberikan masukan-masukan dalam penyelesaian tugas akhir ini;
(9) Bapak dan Ibu Kepala Balai/Kepala Satuan Kerja/Pejabat Pembuat
Komitmen bidang Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Cipta Karya di
Lingkungan Departemen PU yang tersebar di seluruh Indonesia selaku
responden penelitian yang telah memberikan data dan keterangan dalam
kuesioner penelitian;
(10) Bapak Drs. Praptomo Widodo, MM., Bapak Drs. H. Helmar Hoesien, ME.,
Ibu Ir. Youla M. Wawolangi, Bapak Ir. Ari Suryawan, M.Sc., Bapak Ir.
Nawawi Achwan, M.Sc., Bapak Ir.Yayan Cahyana, Bapak Ir. Rudy Mathias,
MT, dan Almarhum Bapak Ir. Harjanto Brodjo, Dipl.HE., serta para senior
saya yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah
memberikan dukungan moril dan materiil selama masa studi;
(11) Rekan-rekan kerja di Departemen PU, dan di Inspektorat Jenderal
Departemen PU pada khususnya yang telah memberikan semangat dalam
menempuh masa studi;
(12) Isteri, kedua orang tua, saudara, dan keluarga saya yang telah memberikan
bantuan dukungan material dan moral;
(13) Teman-teman kuliah di Kekhususan Manajemen Konstruksi Program Studi
Teknik Sipil FTUI, khususnya Angkatan 2007, para senior dan para yunior
di Fakultas Teknik yang telah bersama-sama berjuang dalam menempuh
serangkaian kegiatan kuliah yang ditetapkan dan telah memberikan
masukan-masukan dalam penyusunan tesis ini; dan
(14) Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
dan mendukung saya, baik moril maupun materiil, hingga terselesaikannya
tesis ini.

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga tesis ini dapat disetujui dan
dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu.

Depok, 13 Juli 2009

Penulis

vi

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertandatangan di


bawah ini:
Nama : Vincentius Untoro Kurniawan
NPM : 0706172651
Program Studi : Manajemen Konstruksi
Departemen : Teknik Sipil
Fakultas : Teknik
Jenis Karya : Tesis
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non-exclusive
Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM PENYELENGGARAAN
INFRASTRUKTUR BIDANG KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DALAM USAHA
MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN
ANGGARAN
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 13 Juli 2009

Yang menyatakan,

(Vincentius Untoro Kurniawan)

vii

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


ABSTRAK

Nama : Vincentius Untoro Kurniawan


NPM : 0706172651
Program Studi : Teknik Sipil
Judul Tesis : Penerapan Value Engineering dalam Penyelenggaraan
Infrastruktur Bidang Ke-PU-an di Lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum dalam Usaha Meningkatkan Efektivitas
Penggunaan Anggaran

Departemen Pekerjaan Umum dari tahun ke tahun selalu masuk dalam kategori
lima besar instansi yang memperoleh anggaran pendapatan dan belanja negara
(APBN) terbesar. Namun demikian penyimpangan yang bersifat ketidakefisienan,
juga mengalami peningkatan dari tahun 2005 hingga 2007. Dalam pengawasan
fungsional yang dilaksanakan Inspektorat Jenderal Departemen PU apabila
ditemukan adanya indikasi inefisiensi (pemborosan) akibat ketidakwajaran harga
konstruksi, analisis pemilihan tipe/jenis konstruksi, perhitungan konstruksi,
maupun metode konstruksi, maka akan direkomendasikan kepada Pengguna Jasa
dan Penyedia Jasa untuk melakukan value engineering (VE), dengan demikian
diharapkan kesiapan, baik Pengguna Jasa maupun Penyedia Jasa dalam penerapan
VE tersebut.

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang


memengaruhi tingkat kesiapan Pengguna Jasa dalam penerapan VE dan
menganalisis tingkat pengaruh penerapan VE terhadap pencapaian efektivitas
penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-PU-an di
lingkungan Departemen PU. Selain itu dalam tugas akhir ini juga diuraikan
langkah-langkah pelaksanaan studi VE sebagai studi kasus. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa beberapa faktor yang memengaruhi kesiapan Pengguna Jasa
dalam penerapan VE adalah regulasi, ketersediaan sumber daya manusia ditinjau
dari tingkat pendidikan, personil yang bersertifikat keahlian VE, tingkat
pemahaman, dan komposisi personil di lingkungan Pengguna Jasa. Variabel
penerapan VE dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-PU-an di
lingkungan Departemen PU mempunyai pengaruh yang kuat (74,8%) terhadap
efektivitas penggunaan anggaran. Dengan demikian diharapkan para pengambil
kebijakan di Departemen PU dapat menerapkan VE sebagai salah satu alternatif
dalam meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran.

Kata Kunci :
Value Engineering, infrastruktur, efektivitas

viii Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


ABSTRACT

Name : Vincentius Untoro Kurniawan


Student Number : 0706172651
Department : Civil Engineering
Title of Thesis : Application of Value Engineering in Infrastructure
Implementation of Public Works Sector at Ministry of
Public Works of Republic Indonesia to Achieve Efectivity
Improvement

Ministry of Public Works of Republic Indonesia is one of the big five institutions
which get the biggest budget. Nevertheless the ineficiency deviation was also
increasing from 2005 to 2007. In functional audit performed by Inspectorate
General of Ministry of Public Works, if there are ineficiency indications as the
consequences of illogical construction price, analysis of construction type
selection, construction calculation as well as construction method, the Employer
or Contractor will be recommended to undertake value engineering (VE). For that
reason, the readiness of the Employer and Contractor in implementing the VE is
required.

The research is conducted to identify dominant factors that affect the readiness
level of the Employer in VE application and analyze the level of VE application
effect to increase the effectivity of budget usage in infrastructure public work
sector implementation in Ministry of Public Works. In this paper, the VE
apllication steps are also elaborated as the case study. The result indicates that
some factors which influence the readiness of the Employer in applying VE are
regulations, human resource availability in terms of education level, personnel
with VE certificate, understanding level, and personnel composition of the
Employer. VE application in public work sector infrastructure implementation in
Ministry of Public Work has strong influence (74,8%) to the effectivity of budget
usage. It is expected that the policy maker in Ministry of Public Work can apply
VE as one of alternatives to improve the effectivity of budget usage.

Keywords :
Value Engineering, infrastructure, effectivity

ix Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...................... vii
ABSTRAK ................................................................................................ viii
DAFTAR ISI ................................................................................................ x
DAFTAR TABEL............................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvii
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1. Latar Belakang .................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ............................................................ 3
1.2.1. Identifikasi Masalah .............................................. 3
1.2.2. Signifikansi Masalah ............................................. 4
1.2.3. Rumusan Masalah ................................................. 5
1.3. Tujuan Penelitian ................................................................ 6
1.4. Batasan Penelitian ............................................................... 7
1.5. Manfaat Penelitian .............................................................. 7
1.6. Keaslian Penelitian .............................................................. 8
1.7. Sistematika Penelitian ......................................................... 11
BAB 2 LANDASAN TEORI ................................................................... 13
2.1. Pendahuluan .................................................................... 13
2.2. Pembangunan Infrastruktur di Indonesia ............................ 14
2.2.1. Penyelenggaraan Infrastruktur di Indonesia .......... 14
2.2.2. Penyelenggaraan Infrastruktur di Lingkungan
Departemen Pekerjaan Umum .............................. 16
2.2.2.1. Gambaran Singkat Departemen Pekerjaan
Umum .................................................. 16
2.2.2.2. Pola Penganggaran .............................. 21
2.2.2.3. Perencanaan Program dan Anggaran .. 22
2.2.2.4. Organisasi Pelaksana Anggaran .......... 24
2.2.2.5. Pengawasan/Pengendalian Anggaran .. 27
2.3. Permasalahan di Dalam Penyelenggaraan Infrastruktur di
Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum ........................ 30
2.3.1. Permasalahan yang Terkait dengan Prosedural/
Normatif ................................................................ 30
2.3.2. Permasalahan yang Terkait dengan Penggunaan
Sumber Daya ......................................................... 30
2.3.3. Permasalahan yang Terkait dengan Pemanfaatan
Hasil ...................................................................... 32
2.4. Efektivitas Penggunaan Anggaran Sebagai Salah Satu
Indikator Kinerja Instansi Pemerintah ................................ 32
2.4.1. Indikator Kinerja Utama Instansi Pemerintah ....... 32
2.4.2. Ekonomis, Efisien, dan Efektivitas ....................... 33
viii

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


2.5. Teori Dan Konsep Value Engineering ................................. 35
2.5.1. Sejarah dan Perkembangan Value Engineering .... 35
2.5.2. Definisi Value Engineering ................................... 39
2.5.3. Maksud dan Tujuan Value Engineering ................ 43
2.5.4. Konsep Utama VE ................................................ 44
2.5.5. Komponen Value Engineering .............................. 48
2.5.6. Dasar Pertimbangan Melakukan Studi VE ........... 49
2.5.7. Hubungan VE dengan Program-Program
Penghematan Biaya Lain ....................................... 51
2.5.8. Regulasi dan Legislasi terkait Value Engineering 54
2.5.9. Penerapan Value Engineering ............................... 60
2.5.10. Metodologi Value Engineering ............................. 69
2.5.11. Function Analysis System Technique (FAST) ........ 72
2.5.12. Penelitian dan Karya Ilmiah terkait VE ................ 77
2.5.13. Penerapan Value Engineering pada
Penyelenggaraan Infrastruktur ............................... 83
2.5.14. Kendala Penerapan Value Engineering ................. 85
2.6. Kerangka Berpikir Dan Hipotesa ........................................ 89
2.6.1. Ringkasan .............................................................. 89
2.6.2. Kerangka Pemikiran .............................................. 90
2.6.3. Hipotesa Penelitian ................................................ 93
BAB 3 METODE PENELITIAN ........................................................... 94
3.1. Pendahuluan ................................................................... 94
3.2. Rumusan Masalah dan Pemilihan Strategi Penelitian ......... 96
3.2.1. Rumusan Masalah ................................................. 96
3.2.2. Strategi Penelitian .................................................. 97
3.3. Proses Penelitian ................................................................. 98
3.3.1. Alur Penelitian Survei dan Studi Kasus ................. 98
3.3.2. Perumusan Variabel Penelitian ............................. 100
3.3.3. Penyusunan Instrumen Penelitian ......................... 101
3.3.4. Uji Validitas dan Reliabilitas ................................. 103
3.3.5. Pengumpulan Data dan Teknik Sampling ............. 104
3.3.6. Tabulasi Data ......................................................... 106
3.4. Analisis Data .................................................................... 107
3.4.1. Metode Analisis Delphi.......................................... 108
3.4.2. Metode Analisis Statistik ....................................... 110
3.4.3. Metode Analisis Distribusi Frekuensi ................... 120
3.4.4. Studi Kasus ............................................................ 122
3.5. Temuan Dan Bahasan Hasil Analisis Data ......................... 123
3.6. Kesimpulan ................................................................... 123
BAB 4 PELAKSANAAN PENELITIAN DAN ANALISIS DATA..... 124
4.1. Pendahuluan .................................................................... 124
4.2. Tahap Desain Penelitian ...................................................... 124
4.2.1. Identifikasi Variabel .............................................. 124
4.2.2. Validasi Variabel oleh Pakar ................................. 128
4.2.3. Penyusunan Instrumen Penelitian ......................... 129
4.2.4. Uji Coba Penelitian ............................................... 130
4.2.5. Revisi Kuesioner ................................................... 131
ix

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


4.2.6. Gambaran Umum Responden ............................... 131
4.2.7. Penghitungan Jumlah Sampel Penelitian .............. 136
4.3. Tahap Pengumpulan Data ................................................... 137
4.3.1. Proses Pengumpulan Data Kuesioner ................... 137
4.3.2. Rekapitulasi Data .................................................. 137
4.4. Tahap Pengolahan Data ...................................................... 139
4.4.1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas .......................... 139
4.4.2. Analisis Statistik Deskriptif .................................. 143
4.4.3. Analisis Regresi Gabungan ................................... 144
4.4.4. Uji Asumsi Klasik ................................................. 149
4.4.5. Analisis Korelasi ................................................... 150
4.4.6. Analisis Distribusi Frekuensi ................................ 154
BAB 5 STUDI KASUS PENERAPAN STUDI VE ............................... 158
5.1. Pendahuluan .................................................................... 158
5.2. Tahap Informasi .................................................................. 158
5.2.1. Deskripsi Umum ................................................... 158
5.2.2. Data Biaya ............................................................. 162
5.2.3. Lingkup VE dengan Analisis Pareto ..................... 163
5.3. Tahap Analisis Fungsi ......................................................... 167
5.3.1. Identifikasi Fungsi ................................................. 167
5.3.2. FAST Diagramming .............................................. 168
5.4. Tahap Kreatif .................................................................... 170
5.5. Tahap Evaluasi/Pembahasan ............................................... 172
5.6. Tahap Rekomendasi ............................................................ 175
5.6.1. Rekomendasi ......................................................... 175
5.6.2. Perhitungan Penghematan ..................................... 176
5.7. Kesimpulan ................................................................... 177
BAB 6 TEMUAN DAN BAHASAN ....................................................... 178
6.1. Pendahuluan ................................................................... 178
6.2. Hasil Temuan Dan Pembahasan Penelitian ........................ 178
6.2.1. Analisis Regresi dan Korelasi ............................... 178
6.2.2. Distribusi Frekuensi .............................................. 180
6.2.3. Validasi Lima Faktor Dominan ............................. 181
6.2.4. Pembahasan atas Faktor Dominan ........................ 184
6.2.5. Pembahasan atas Studi Kasus ............................... 188
6.2. Pembuktian Atas Rumusan Masalah ................................... 188
6.3.1. Pembuktian atas Rumusan Masalah ...................... 188
6.3.2. Pembuktian atas Hipotesa ..................................... 189
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 190
7.1. Kesimpulan ................................................................... 190
7.2. Saran .................................................................... 191
DAFTAR REFERENSI .................................................................................. xviii
LAMPIRAN

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Rencana dan Realisasi Anggaran 2005-2009 ........................... 22


Tabel 2.2. Selisih Rencana dan Realiasi Anggaran ................................... 22
Tabel 2.3. Identifikasi Fungsi dengan Menggunakan
Kata Kerja dan Kata Benda ...................................................... 47
Tabel 2.4. Fungsi Primer dan Sekunder..................................................... 47
Tabel 2.5. Persentase Pembagian Hasil VE............................................... 59
Tabel 2.6. Persentase Insentif Value Engineering ..................................... 60
Tabel 2.7. Nominated Critical Success Factors for Value
Management Studies................................................................. 66
Tabel 2.8. Deskripsi Jenis Kontrak Kerja Terhadap VE ........................... 68
Tabel 2.9. Deskripsi Jenis Kontrak Kerja Terhadap Efisiensi................... 68
Tabel 3.1. Strategi Penelitian..................................................................... 97
Tabel 3.2. Populasi Penelitian ................................................................... 105
Tabel 3.3. Contoh Tabel Data.................................................................... 106
Tabel 3.4. Contoh Tabel Data Input .......................................................... 107
Tabel 3.5. Contoh Tabel Distibusi Frekuensi ............................................ 107
Tabel 4.1. Daftar Sub Variabel X1 ........................................................... 125
Tabel 4.2. Daftar Sub Variabel X2 ........................................................... 126
Tabel 4.3. Daftar Sub Variabel X3 ........................................................... 127
Tabel 4.4. Profil Pakar Validasi Variabel ................................................. 128
Tabel 4.5. Daftar Tambahan Sub-Variabel dari Pakar ............................. 129
Tabel 4.6. Daftar Jumlah Butir Pertanyaan/Pernyataan ........................... 129
Tabel 4.7. Daftar Pengelompokan Responden Penelitian ........................ 135
Tabel 4.8. Daftar Perhitungan Jumlah Sampel ......................................... 136
Tabel 4.9. Daftar Pemenuhan Jumlah Responden .................................... 138
Tabel 4.10. Uji Reliabilitas Variabel X1 .................................................... 139
Tabel 4.11. Uji Validitas Variabel X1 ........................................................ 140
Tabel 4.12. Uji Reliabilitas Variabel X2 .................................................... 140
Tabel 4.13. Uji Validitas Variabel X2 ........................................................ 141
Tabel 4.14. Uji Reliabilitas Variabel X3 .................................................... 141
Tabel 4.15. Uji Validitas Variabel X3 ........................................................ 142

xi

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Tabel 4.16. Kesimpulan Uji Validitas dan Uji Relibilitas .......................... 143
Tabel 4.17. Analisis Deskriptif ................................................................... 143
Tabel 4.18. Tabel ANOVA ......................................................................... 144
Tabel 4.19. Tabel Coefficients .................................................................... 144
Tabel 4.20. Tabel Model Summary ............................................................. 144
Tabel 4.21. Hasil Uji Multikolinearitas ...................................................... 149
Tabel 4.22. Hasil Uji Autokorelasi ............................................................. 150
Tabel 4.23. Tabel Korelasi X1-Y ................................................................ 151
Tabel 4.24. Tabel Korelasi X2-Y ............................................................... 152
Tabel 4.25. Tabel Korelasi X3-Y ............................................................... 153
Tabel 4.26. Tabel Distribusi Frekuensi X3 ................................................. 155
Tabel 4.27. Daftar Nilai Rata-Rata Sub-Variabel X3 ................................. 156
Tabel 4.28. Lima Faktor Dominan ............................................................. 157
Tabel 5.1. Biaya Pekerjaan Utama ........................................................... 162
Tabel 5.2. Analisis Pareto pada Bendungan X ......................................... 165
Tabel 5.3. Identifikasi Fungsi Bendungan ................................................ 167
Tabel 5.4. Hasil Penilaian Kriteria ........................................................... 173
Tabel 5.5. Hasil Penilaian Alternatif Desain ............................................ 174
Tabel 5.6. Decision Matrix ....................................................................... 175
Tabel 6.1. Koefisien Korelasi Variabel .................................................... 179
Tabel 6.2. Rekapitulasi Kuesionel Ahli .................................................... 182
Tabel 6.3. Distribusi Frekuensi ................................................................. 183
Tabel 6.4. Hasil Pemeringkatan Faktor Dominan .................................... 184

xii

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Alokasi Anggaran Departemen PU Tahun 2005-2008 ......... 5


Gambar 1.2. Temuan In-efisiensi Biaya Tahun 2005-2007....................... 5
Gambar 2.1. Kerangka Teori ..................................................................... 14
Gambar 2.2. Struktur Organisasi Departemen PU..................................... 20
Gambar 2.3. Struktur Pengawasan............................................................. 27
Gambar 2.4. Prinsip Pelaksanaan Anggaran.............................................. 34
Gambar 2.5. Ekonomis, Efisien, dan Efektif ............................................. 35
Gambar 2.6. Potensi Penghematan Biaya Terhadap Perubahan Biaya...... 62
Gambar 2.7. Diagram Alir Studi VE ......................................................... 70
Gambar 2.8. FAST Diagram-Technically Oriented .................................. 74
Gambar 2.9. FAST Diagram-Customer Oriented ..................................... 75
Gambar 2.10. Contoh FAST Diagram ......................................................... 76
Gambar 2.11. Kerangka Pemikiran ............................................................. 92
Gambar 3.1. Alur Penelitian Metode Survei.............................................. 99
Gambar 3.2. Alur Penelitian Metode Studi Kasus ..................................... 100
Gambar 3.3. Model Matematika ................................................................ 101
Gambar 3.4. Diagram Alir Analisis Statistik dengan Program SPSS........ 111
Gambar 3.5. Diagram Alir Studi VE ........................................................ 122
Gambar 4.1. Struktur Organisasi Balai Besar Wilayah Sungai ................ 132
Gambar 4.2. Struktur Organisasi Balai Wilayah Sungai .......................... 133
Gambar 4.3. Struktur Organisasi Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional ................................................................................ 134
Gambar 4.4. Grafik Normalitas ................................................................ 149
Gambar 5.1. Penampang Memanjang Bendungan .................................... 161
Gambar 5.2. Grafik Pareto ........................................................................ 165
Gambar 5.3. Diagram Pareto ..................................................................... 166
Gambar 5.4. FAST Diagram ..................................................................... 169
Gambar 5.5. FAST Diagram Sesudah Studi VE ....................................... 171
Gambar 5.6. Sketsa Rencana Saluran Pengelak ........................................ 176

xiii

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Validasi Variabel oleh Pakar


Lampiran 2. Tabel Penyusunan Instrumen Penelitian
Lampiran 3. Rekap Hasil Validasi Pakar atas Variabel
Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba
Lampiran 5. Rekapitulasi Hasil Uji Coba Kuesioner
Lampiran 6. Kuesioner Penelitian Tesis
Lampiran 7. Tabulasi Data 1
Lampiran 8. Tabulasi Data 2
Lampiran 9. Hasil/Output Analisis Statistik SPSS
Lampiran 10. Kuesioner Validasi Pakar atas Faktor Dominan
Lampiran 11. Hasil Validasi Pakar atas Faktor Dominan
Lampiran 12. Kuesioner Validasi Pakar untuk Studi Kasus Tahap I
Lampiran 13. Kuesioner Validasi Pakar untuk Studi Kasus Tahap II
Lampiran 14. Hasil Analisis Pakar untuk Evaluasi Studi Kasus
Lampiran 15. Lembar Asistensi Tesis

xiv

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan peran dan kontribusi infrastruktur pekerjaan umum dalam


pembangunan nasional, isu, dan lingkungan strategis, serta arahan pembangunan
nasional, maka infrastruktur pekerjaan umum dituntut untuk mempunyai tingkat
pelayanan yang dapat menjamin agar keseluruhan kegiatan sosial ekonomi
masyarakat dapat berlangsung dengan baik, maka sesuai dengan Rencana
Strategis (RENSTRA) yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum (PU) Nomor : 51/PRT/M/2005, maka Departemen PU
menetapkan visi tahun 2005-2009 sebagai berikut : Menjamin Pelayanan
Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum yang Baik dan Layak untuk Kehidupan
yang Produktif dan Berkelanjutan, yang lebih lanjut dijabarkan dalam misi,
tujuan, sasaran, dan kegiatan departemen.

Departemen PU dari tahun ke tahun selalu masuk dalam kategori lima


besar instansi yang memperoleh anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)
terbesar. Tahun Anggaran (TA) 2008 Departemen PU memeroleh anggaran
sebesar Rp.36,1 triliun dan menurut Harian Kompas tanggal 16 Februari 2008
pada artikel Departemen Gemuk Disorot, merupakan pengguna APBN ketiga
setelah Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Pertahanan.

Menurut informasi umum dalam website Departemen PU, peningkatan


alokasi anggaran selalu dialami Departemen PU sejak tahun 2005 senilai
Rp.12,78 triliun, tahun 2006 sebesar Rp.18,01 triliun, tahun 2007 sebesar
Rp.24,21 triliun, dan tahun 2008 sebesar Rp.36,11 triliun. Namun demikian
penyimpangan yang bersifat ketidakefisienan hasil pemeriksaan fungsional
Inspektorat Jenderal Departemen PU juga mengalami peningkatan.

Dengan demikian dibandingkan tahun sebelumnya, pengalokasian


anggaran tahun 2008 untuk Departemen Pekerjaan Umum mengalami kenaikan
lebih dari 40%. Menurut Dicky Laonaha dalam artikelnya di Buletin Pengawasan

1 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


2

No. 67 Tahun 2008 yang antara lain menyatakan bahwa dalam pengarahan
Presiden pada Rapat Kerja Terbatas di Departemen PU, disampaikan bahwa
pembangunan infrastruktur dan fungsi-fungsi lain yang dilaksanakan Departemen
PU sangat penting, baik untuk menggerakkan perekonomian nasional maupun
untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Disampaikan
pula bahwa prioritas pembangunan adalah infrastruktur yang menunjang
ketahanan pangan (berkait dengan sektor pertanian), infrastruktur jalan,
infrastruktur air minum dan air bersih, pengembangan kawasan permukiman
kumuh, dan pembangunan infrastruktur jalan tol.

Inspektorat Jenderal Departemen PU yang merupakan salah satu unit


kerja Eselon I untuk menjalankan fungsi pengawasan/controlling (salah satu
fungsi manajemen, POAC) mempunyai tugas pokok dan fungsi utama antara lain
adalah melaksanakan kegiatan pengawasan fungsional atas pelaksanaan kinerja
satuan kerja di lingkungan Departemen PU agar diperoleh hasil yang dapat
dipertanggungjawabkan. Sesuai kebijakan pengawasan Inspektorat Jenderal
Departemen PU, kegiatan pengawasan fungsional meliputi evaluasi/penilaian
pemanfaatan, sosialisasi, konsultasi, asistensi, reviu, dan pemeriksaan/audit.

Menurut Peraturan Menteri PU No. 14/PRT/M/2007 tentang Pedoman


Umum Pemeriksaan dalam Rangka Pengawasan Fungsional di Lingkungan
Departemen Pekerjaan Umum, pemeriksaan bidang pekerjaan umum yang
dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal meliputi : (i) Pemeriksaan Menyeluruh
(terdiri dari pemeriksaan administrasi umum, pemeriksaan administrasi keuangan,
dan pemeriksaan kinerja), dan (ii) Pemeriksaan Lainnya (terdiri dari pemeriksaan
keteknikan, pemeriksaan khusus, pemeriksaan pengadaan barang/jasa, dan
pemeriksaan lain yang terkait).

Pemeriksaan keteknikan, yang merupakan salah satu jenis pemeriksaan


yang dilaksanakan Inspektorat Jenderal Departemen PU dimaksudkan untuk
menilai pekerjaan penyelenggaraan jasa konstruksi, baik fisik maupun non fisik,
dengan memperhatikan aspek perencanaan, pengadaan, pelaksanaan kontrak,
manajemen pengendalian, dan kualitas teknik, dengan titik berat pada
pemeriksaan 3K (ketaatan, kelengkapan, kebenaran), 2E (ekonomis dan efisiensi),

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


3

dan 1E (efektivitas). Selain itu pemeriksaan keteknikan antara lain didasarkan


pada Pasal 23 Undang Undang RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi, dimana diamanatkan antara lain bahwa penyelenggaraan jasa
konstruksi wajib memenuhi ketentuan tentang keteknikan, keamanan,
keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan tenaga kerja, serta tata lingkungan
setempat untuk menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan jasa konstruksi.

Menurut Peraturan Menteri PU Nomor : 06/PRT/M/2008 tentang


Pedoman Pengawasan Penyelenggaraan dan Pelaksanaan Pemeriksaan Konstruksi
di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum menyatakan bahwa pemeriksaan
dapat dilaksanakan antara lain pada tahap perencanaan pekerjaan konstruksi dan
pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Dalam pemeriksaan tersebut dinyatakan bahwa
apabila ditemukan adanya indikasi inefisiensi (pemborosan) yang terjadi akibat
ketidakwajaran harga konstruksi, analisis pemilihan tipe/jenis konstruksi,
perhitungan konstruksi, maupun metode konstruksi, maka akan
direkomendasikan kepada Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa untuk melakukan
rekayasa nilai (value engineering).

Dengan demikian diharapkan dengan kesiapan, baik Pengguna Jasa


maupun Penyedia Jasa, maka penggunaan anggaran di lingkungan Departemen
PU akan lebih efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan.

1.2 Perumusan Masalah

1.2.1 Identifikasi Masalah

Dengan mengambil bidang pengetahuan dalam Ilmu Manajemen


Konstruksi dan/atau Manajemen Proyek, yaitu Manajemen Biaya, maka penulis
akan mengangkat permasalahan tentang Rekayasa Nilai (Value Engineering)
dalam penerapan penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di
lingkungan Departemen PU, dengan rancangan judul Penerapan Value
Engineering dalam Penyelenggaraan Infrastruktur Bidang ke-PU-an di
Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dalam Usaha Meningkatkan
Efektivitas Penggunaan Biaya.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


4

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya temuan-temuan hasil pemeriksaan


Inspektorat Jenderal Departemen PU pada periode sebelumnya, baik temuan yang
bersifat ketidaktaatan, ketidaklengkapan, maupun ketidakbenaran, yang
selanjutnya akan berdampak pada ketidakekonomisan, ketidakefisienan, dan
ketidakefektifan penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur
bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen PU.

1.2.2 Signifikansi Masalah

Dengan adanya temuan dan dampak yang timbul sebagaimana diuraikan


pada identifikasi masalah di atas, maka dapat diperoleh besaran nilai yang
merupakan kerugian negara, baik yang bersifat keborosan maupun kebocoran
keuangan negara.

Peningkatan alokasi anggaran Departemen PU sebagaimana diuraikan


pada latar belakang, ternyata diikuti peningkatan penyimpangan yang bersifat
ketidakefisienan berdasarkan hasil pemeriksaan fungsional Inspektorat Jenderal
Departemen Pekerjaan Umum. Hal tersebut dinyatakan dalam Laporan Realisasi
Hasil Pemeriksaan Itjen Dep. PU s.d. Triwulan IV Tahun 2007, yaitu tahun 2005
sebesar Rp.24,426 miliar pada 227 objek pemeriksaan (obrik), tahun 2006 sebesar
Rp.88,873 miliar pada 581 obrik, dan tahun 2007 sebesar Rp.108,251 miliar pada
248 obrik. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


5

50.000

40.000 36.110

Anggaran (Rp.miliar)
30.000
24.213
19.835
20.000 16.991

10.000

0
2005 2006 2007 2008
Tahun Anggaran

Gambar 1.1. Alokasi Anggaran Departemen PU Tahun 2005-2008


Sumber : Hasil olahan sendiri

150
Inefisiensi Biaya (Rp.miliar)

108,251

100 88,873

50
24,426

0
2005 2006 2007
Tahun Anggaran

Gambar 1.2. Temuan Inefisiensi Biaya Tahun 2005-2007


Sumber : Hasil olahan sendiri

1.2.3 Rumusan Masalah

Sebagai salah satu alternatif metode dalam rangka meningkatkan


efisiensi dan efektivitas penggunaan biaya sebagaimana diuraikan di atas, maka

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


6

dipilih metode value engineering. Value engineering (VE) secara umum


didefinisikan sebagai berikut :

VE adalah pendekatan yang kreatif dan terorganisasi yang tujuannya


adalah untuk mengoptimumkan biaya dan/atu kinerja fasilitas atau
sistem. (DellIsola, 1982)

VE yang merupakan suatu teknik manajemen yang telah teruji dengan


pendekatan sistematis dan dilaksanakan oleh sejumlah tim multi disiplin ilmu
tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas, yaitu :
- meningkatkan manfaat dengan tanpa mengurangi biaya (biaya tetap)
- meminimalisir biaya dengan tetap mempertahankan manfaat
- merupakan gabungan dari kedua poin di atas

Untuk mengetahui kesiapan penerapan value engineering pada


penyelenggaraan jasa konstruksi infrastruktur bidang pekerjaan umum di
lingkungan Departemen PU, diperlukan jawaban atas pertanyaan :

a. Faktor-faktor dominan apa saja yang memengaruhi kesiapan pihak


Pengguna Jasa di lingkungan Departemen PU dalam penerapan value
engineering ?

b. Seberapa besar pengaruh penerapan metode value engineering dalam


meningkatkan pencapaian efisiensi penggunaan anggaran dalam
penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan
Departemen PU?

c. Bagaimana cara penerapan value engineering yang telah dilakukan hingga


saat ini dalam upaya pencapaian efisiensi biaya ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah sebagaimana tersebut di atas, maka tujuan


penelitian adalah :

a. Mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang mempengaruhi kesiapan


pihak Pengguna Jasa dalam pelaksanaan value engineering,

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


7

b. Melakukan kajian analisis mengenai pengaruh penerapan metode value


engineering dapat meningkatkan pencapaian efisiensi penggunaan
anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di
lingkungan Departemen Pekerjaan Umum,

c. Melakukan evaluasi atas upaya-upaya pencapaian efisiensi biaya.

Selanjutnya penelitian dimaksudkan agar dapat terlaksananya penerapan program


VE dalam menindaklanjuti rekomendasi hasil pemeriksaan/pengawasan
fungsional yang dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Departemen PU, sehingga
dapat diminimalisir terjadinya in-efisiensi untuk memperoleh hasil
penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen
PU yang lebih efisien dan efektif.

1.4 Batasan Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan menganalisis hasil pengumpulan data,


baik data primer maupun sekunder, yang diperoleh antara lain dengan kuesioner,
wawancara, pengamatan di lapangan, dan studi literatur.

Responden adalah pengguna jasa (Kepala Satker, Kepala Balai, PPK)


yang melaksanakan kegiatan fisik di lingkungan Departemen PU yang tersebar di
seluruh Indonesia, yang diambil secara sampling.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat :

a. Menjadi masukan bagi para penentu kebijakan dan penyelenggara proyek


di lingkungan Departemen PU untuk dapat menggunakan metode Value
Engineering sehingga dihasilkan suatu efisiensi dan efektivitas pada
penggunaan anggaran pembangunan

b. Menjadi alternatif penyelesaian apabila ditemukan indikasi inefisiensi


dalam penggunaan anggaran pembangunan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


8

c. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam memahami ilmu


Manajemen Konstruksi

1.6 Keaslian Penelitian

Penelitian serupa tentang penerapan value engineering telah dilakukan


sebelumnya oleh beberapa peneliti, yaitu antara lain :

a. Yohanes John Chandra Fanggidae dalam tesisnya untuk mencapai gelar


Magister Teknik pada Universitas Kristen Petra Surabaya tahun 2006,
dengan judul Penerapan Value Engineering pada Proyek Konstruksi.
Penelitian dilakukan terhadap beberapa perusahaan konsultan dan
perusahaan kontraktor di Surabaya, dengan hasil antara lain adalah bahwa
responden melakukan penerapan VE hanya secara informal dan responden
mempunyai kepercayaan yang besar dalam penerapan VE pada proyek
konstruksi untuk dapat menghasilkan peningkatan dalam hal kualitas
pekerjaan.

b. Reza Mahendra dalam skripsinya untuk mencapai gelar Sarjana S-1 Teknik
Sipil pada Universitas Indonesia tahun 2006, dengan judul Studi Value
Engineering dengan Metode Initial Cost dalam Rangka Usaha
Penghematan Biaya Proyek Konstruksi. Studi ini dilakukan untuk
menerapkan Metode Analisa Pareto dengan objek Proyek Pembangunan
Gedung BNI di Indonesia, dengan kesimpulan bahwa proyek-proyek
tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan Hukum Pareto, dimana biaya
kumulatif dari 20% aktifitas termahal tidak menunjukkan 80% biaya total
proyek, melainkan hanya berkisar antara 43% - 59% saja.

c. Qiping Shen dan Guiwen Liu, University of Hung Hom, Kowloon, Hong
Kong, 2003, dengan judul penelitian Critical Success Factors for Value
Management Studies in Construction, yang dimuat dalam Journal of
Construction Engineering and Management of ASCE, Vol. 129, No.5,
October 1, 2003. Dalam penelitian di Hong Kong tersebut dikemukakan
bahwa faktor keberhasilan yang signifikan pada studi value management di
bidang konstruksi adalah kualifikasi tim value engineering, pengaruh

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


9

pengguna jasa (clients), kompetensi fasilitator, dan dampak/keterlibatan


pihak yang terkait.

d. Silia Yuslim, Dosen Tetap AL/FALTL Universitas Trisakti, yang dimuat


dalam Jurnal Teknik Sipil Universitas Tarumanagara No. 1 Tahun ke IX-
Maret/2003 dengan judul penelitian Program Rekayasa Nilai Konstruksi
bagi Efisiensi Biaya Proyek. Penelitian dilaksakan dengan memadukan
beberapa sistem efisiensi biaya (Krezner, 1995) dan studi kasus pada Tahap
Finishing Arsitektur Proyek PT Sucofindo (Persero) Ujungpandang, dengan
tetap memperhatikan fungsi utama dan konsisten pada ketentuan keandalan,
kualitas, penampilan, dan tingkat pemeliharaan yang diharapkan. Dengan
kerja sama tim yang memanfaatkan kemampuan berpikir kreatif dan
penguasaan kemajuan teknologi, maka penghematan biaya proyek dalam
batas-batas tertentu dapat tercapai.

e. Harry S. Tambunan dalam tesisnya untuk mencapai gelar Master pada


Universitas Indonesia tahun 2002, dengan judul Pengaruh Penerapan
Metode Value Engineering (VE) oleh Pihak Kontraktor terhadap Kinerja
Biaya Proyek Konstruksi Bangunan Industri di Wilayah Jabotabek, di
mana dilakukan penelitian terhadap sejumlah kontraktor penyedia jasa
bangunan industri di wilayah Jabotabek. Hasil penelitian ini adalah bahwa
pengetahuan/keahlian tim value engineering merupakan salah satu kunci
keberhasilan dalam penerapan VE.

f. Johny Johan (Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil dan Magister Teknik
Sipili Universitas Tarumanagara) dan Lillyana Dewi (Alumni Magister
Teknik Sipil Universitas Tarumanagara), yang dimuat dalam Jurnal Teknik
Sipil Universitas Tarumanagara No.1 Tahun ke IV-Maret/1998 dengan
judul penelitian Analisis Penerapan Value Engineering pada Proses
Perencanaan/Desain Sub Struktur Suatu Bangunan Apartamen di
Jakarta, melakukan analisis terhadap pekerjaan sub-struktur suatu
bangunan apartemen di Jakarta dengan bantuan software SAFE dan SAP.
Dalam penelitian dikemukakan bahwa keberhasilan penerapan value
engineering ditunjang dengan tim yang mempunyai pengetahuan dan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


10

pengalaman yang cukup dalam perencanaan struktur yang terkait dengan


material, metode konstruksi, dan idealisasi struktur. Selain itu keberhasilan
penerapan value engineering juga ditunjang pemahaman teknik
berkomunikasi pada tim yang multi disiplin ilmu.

g. Ismail Basha dan Ahmed A. Gab-Allah, Construction Engineering and


Management Department of Zagazig University of Egypt, 1991, dengan
judul penelitian Value Engineering in Egyptian Bridge Construction,
yang dimuat dalam Journal of Construction Engineering and Management
of ASCE, Vol. 117, No.3, September, 1991. Penelitian ini dilakukan
dengan studi untuk mengevaluasi pemilihan sistem konstruksi pada 10
proyek jembatan di Mesir, dengan kriteria evaluasi adalah biaya konstruksi,
ketersediaan sumber daya, umur rencana konstruksi, tingkat progres
konstruksi, umur layanan, efisiensi desain dan pemeliharaan. Kesimpulan
dari penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 43% konstruksi jembatan
menggunakan sistem konstruksi yang bukan pilihan terbaik secara ekonomi
dan teknis, sehingga direkomendasikan bahwa studi VE harus dilaksanakan
di awal proyek untuk membantu perancang dalam mengoptimasi desain
jembatan.

h. Andy Kirana dalam tesisnya untuk mencapai gelar Master S-2 Arsitektur
pada Institut Teknologi Bandung tahun 1991, dengan judul Dampak
Penerapan Value Engineering pada Desain Bangunan (Kasus : Gedung
Pusat Perbelanjaan di Jakarta). Penelitian dilakukan dengan mengadakan
telaah teoritis dan studi komparasi antara hasil studi VE di luar negeri dan
di dalam negeri melalui kasus gedung pusat perbelanjaan di Jakarta, dengan
hasil penelitian bahwa pekerjaan struktur dan mekanikal merupakan
pekerjaan yang mempunyai potensi penghematan biaya operasi dan
pemeliharaan terbesar. Sedangkan dampak penerapan VE terdiri dari
dampak positif berupa efisiensi penggunaan biaya konstruksi, biaya
operasi, biaya pemeliharaan, dan efektivitas pekerjaan dan dampak negatif
berupa redesain, penambahan fasilitas/instalasi, ketidaknyamanan, dan
ketelitian ekstra dalam pelaksanaan konstruksi.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


11

Sedangkan penelitian ini adalah penulis akan melakukan kajian terhadap


penerapan value engineering, faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan
Pengguna Jasa dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di
lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, serta untuk mengetahui seberapa jauh
penerapan metode value engineering dalam pengaruhnya untuk mencapai
peningkatan efektivitas penggunaan anggaran.

1.7 Sistematika Penelitian

Untuk memudahkan dan melakukan analisis terhadap permasalahan yang


ada perlu dilakukan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan mengenai latar belakang, perumusan masalah,


tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, keaslian
penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab II memuat teori-teori yang mendukung dan menjadi dasar


penelitian yang dilakukan pada penulisan tesis ini yaitu mengenai
gambaran umum instansi, teori value engineering, dan penerapan
value engineering.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini membahas mengenai metodologi penelitian yang digunakan


dalam penulisan tesis secara rinci tentang bahan atau materi penelitian,
alat atau instrumen penelitian dan langkah-langkah penelitian mulai
dari persiapan penelitian sampai dengan penyajian data serta
kesulitan-kesulitan yang timbul selama penelitian dan pemecahannya.

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

Bab ini menguraikan mengenai pengumpulan data dan analisis data


(baik kuantitatif maupun kualitatif) terhadap data primer dan sekunder
yang diperoleh hasil survei.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


12

BAB V STUDI KASUS PENERAPAN STUDI VALUE ENGINEERING

Menyajikan contoh (exercise) mengenai pelaksanaan studi value


engineering dan akan menguraikan mengenai prosedur dan/atau
langkah-langkah yang harus dilalui dalam menerapkan studi VE sesuai
dengan prosedur yang diterbitkan oleh SAVE International

BAB VI TEMUAN DAN BAHASAN

Bab ini menguraikan mengenai temuan hasil analisis data dilanjutkan


dengan pembahasan atas temuan-temuan tersebut untuk diperoleh
kesimpulan.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

Menguraikan mengenai kesimpulan yang diperoleh dari analisis pada


bab-bab sebelumnya dan penyusunan saran atas beberapa hal penting
yang dijumpai dalam penelitian untuk dijadikan pertimbangan tindak
lanjut terhadap hasil yang diperoleh dalam penelitian ini.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Pendahuluan

Efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan


infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum
diharapkan akan dapat ditingkatkan. Salah satu upaya alternatif pencapaian
tingkat efisiensi dan efektivitas tersebut adalah dengan menerapkan metode value
engineering (VE), dimana dengan metode VE akan diperoleh peningkatan
manfaat pada biaya yang tetap atau pengurangan biaya pada manfaat yang tetap
atau bahkan pencapaian keduanya, yaitu peningkatan manfaat dengan
pengurangan biaya. Penerapan metode VE tentunya akan mengalami kendala dan
hambatan dalam pelaksanaannya.

Bab ini menyampaikan uraian landasan teori, baik berupa tinjauan


pustaka maupun teori dan aplikasi, yang terbagi dalam beberapa bagian, yaitu
penyelengaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum, efisiensi dan efektivitas, dan metode value engineering (VE).
Penyelenggaraan infrastruktur akan menguraikan mengenai siklus anggaran yang
berlaku, yaitu mulai perencanaan program dan anggaran, pengorganisasian
pelaksanaannya, pelaksanaan anggaran, dan pengawasan pelaksanaannya.
Sedangkan metode VE akan menguraikan mengenai sejarah perkembangan,
definisi, komponen, penerapan, serta kendala dan hambatan penerapan VE.

Kerangka landasan teori penelitian tentang penerapan VE di lingkungan


Departemen Pekerjaan Umum dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

13 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


14

Gambar 2.1. Kerangka Teori

Sumber : Hasil olahan sendiri

2.2 Pembangunan Infrastruktur di Indonesia

2.2.1 Penyelenggaraan Infrastruktur di Indonesia

Penyelenggaraan infrastruktur di Indonesia berdasarkan Undang Undang


Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, menyatakan
bahwa jasa konstruksi sebagai penyelenggara infrastruktur mempunyai peranan
yang penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Hal tersebut dapat
terlihat bahwa produk akhir jasa konstruksi adalah bangunan atau bentuk fisik
lainnya, baik yang berupa prasarana maupun sarana. Tentunya diharapkan bahwa
produk akhir jasa konstruksi tersebut dapat memberikan dukungan terhadap
pertumbuhan dan perkembangan berbagai bidang terutama bidang ekonomi,
sosial, dan budaya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata
materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


15

Selain mempunyai peranan penting dalam mendukung berbagai bidang


pembangunan, jasa konstruksi juga mempunyai peran untuk mendukung tumbuh
dan berkembangnya berbagai industri barang dan jasa yang diperlukan dalam
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. Peran jasa konstruksi nasional dalam
pembangunan nasional dapat dikembangkan melalui peningkatan keandalan yang
didukung oleh struktur usaha yang kokoh dan mampu mewujudkan hasil
pekerjaan konstruksi yang berkualitas. Keandalan tersebut tercermin dalam daya
saing dan kemampuan menyelenggarakan pekerjaan konstruksi secara lebih
efisien dan efektif, serta perlu diwujudkan pula ketertiban penyelenggaraan jasa
konstruksi untuk menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dengan
penyedia jasa dalam hak dan kewajiban.

Dewasa ini hambatan dan kendala dalam penyelenggaraan jasa


konstruksi nasional disebabkan oleh dua faktor :

a. faktor internal, yakni:

1) pada umumnya jasa konstruksi nasional masih mempunyai kelemahan


dalam manajemen, penguasaan teknologi, dan permodalan, serta
keterbatasan tenaga ahli dan tenaga terampil;

2) struktur usaha jasa konstruksi nasional belum tertata secara utuh dan
kokoh yang tercermin dalam kenyataan belum terwujudnya kemitraan
yang sinergis antar penyedia jasa dalam berbagai klasifikasi dan/atau
kualifikasi;

b. faktor eksternal, yakni:

1) kekurangsetaraan hubungan kerja antara pengguna jasa dan penyedia


jasa;

2) belum mantapnya dukungan berbagai sektor secara langsung maupun


tidak langsung yang mempengaruhi kinerja dan keandalan jasa
konstruksi nasional, antara lain akses kepada permodalan,
pengembangan profesi, keahlian dan profesi keterampilan, ketersediaan
bahan dan komponen bangunan yang standar;

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


16

3) belum tertatanya pembinaan jasa konstruksi secara nasional, masih


bersifat parsial dan sektoral.

Dengan segala keterbatasan dan kelemahan yang dimilikinya, dalam dua


dasa warsa terakhir, jasa konstruksi nasional telah menjadi salah satu potensi
Pembangunan Nasional dalam mendukung perluasan lapangan usaha dan
kesempatan kerja serta peningkatan penerimaan negara. Dengan demikian potensi
jasa konstruksi nasional ini perlu ditumbuhkembangkan agar lebih mampu
berperan dalam pembangunan nasional.

2.2.2 Penyelenggaraan Infrastruktur di Lingkungan Departemen Pekerjaan


Umum

2.2.2.1 Gambaran Singkat Departemen Pekerjaan Umum

Sesuai dengan rencana pemerintah yang tertuang dalam Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-N), pertumbuhan ekonomi
diupayakan meningkat dari 5,5% pada tahun 2005 menjadi 7,6% pada tahun 2009
atau rata-rata tumbuh sebesar 6,6% per tahun. Untuk mencapai pertumbuhan
tersebut, peran infrastruktur perlu diwujudkan melalui dukungan untuk
peningkatan ketahanan pangan, penanggulangan bencana alam, pengurangan
ketimpangan pembangunan antar wilayah, pengurangan kemiskinan dan
pengangguran, pertumbuhan investasi sektor lain, pembukaan daerah terisolasi,
serta mengurangi kesenjangan antar wilayah.

Berdasarkan tugas dan fungsinya, Departemen Pekerjaan Umum


melaksanakan penyelenggaraan infrastruktur pada beberapa bidang, meliputi
infrastruktur jalan untuk distribusi lalu lintas barang dan manusia maupun
pembentuk struktur ruang wilayah, infrastruktur sumber daya air untuk
mendukung penyimpanan dan pendistribusian air maupun prasarana dan sarana
untuk pengendalian daya rusak air, infrastruktur lingkungan perumahan dan
permukiman sebagai pendukung kualitas kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang mencakup pelayanan transportasi lokal, pelayanan air minum, dan sanitasi
lingkungan (penanganan persampahan, penyediaan drainase, dan penanganan
limbah domestik).

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


17

Pembangunan infrastruktur pekerjaan umum merupakan bagian integral


dari pembangunan nasional, karena infrastruktur merupakan salah satu roda
penggerak pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian ketersediaan infrastruktur
pekerjaan umum memerlukan dukungan sumber daya manusia yang profesional
dan tanggap terhadap perkembangan teknologi, kondisi sosial masyarakat, serta
kepentingan strategis nasional. Berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor
51/PRT/M/2005, maka Departemen PU menetapkan Rencana Strategis 2005-2009
yang terdiri dari visi, misi, tujuan, dan sasaran. Visi Departemen PU adalah
Menjamin Pelayanan Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum yang Baik dan
Layak untuk Kehidupan yang Produktif dan Berkelanjutan. Selanjutnya dalam
rangka mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut, maka ditetapkan pula misi
Departemen PU adalah Memenuhi Kebutuhan dan Mengembangkan
Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum secara Profesional, Partisipatif, dan
Transparan guna Mewujudkan Ruang Nusantara yang Nyaman dan Berkualitas.

Sedangkan tujuan dan sasaran Departemen Pekerjaan Umum adalah


sebagai berikut :

a. Tujuan 1 : Mengurangi tingkat kemiskinan dan mengembangkan berbagai


wilayah serta meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil
pembangunan antar wilayah melalui pendekatan penataan ruang, meliputi
7 (tujuh) sasaran sebagai berikut :

1) Meningkatnya kualitas lingkungan yang disertai dengan meningkatnya


akses masyarakat terhadap pelayanan sarana dan prasarana perumahan
dan permukiman;

2) Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana dasar, serta perluasan


kesempatan berusaha bagi masyarakat miskin dan kawasan perdesaan;

3) Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana di wilayah tertinggal,


wilayah perbatasan, dan pulau-pulau kecil

4) Meningkatnya kemampuan pelayanan internal wilayah perkotaan dan


terkendalinya pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan;

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


18

5) Meningkatnya pemanfaatan tata ruang sebagai landasan dan acuan


kebijakan bagi pembangunan lintas sektor dan wilayah;

6) Terdukungnya wilayah dengan pembangunan jaringan jalan nasional


dan jalan strategis nasional bukan tol di kawasan perbatasan sepanjang
1.500 km, daerah rawan bencana, serta akibat kerusuhan sosial
sepanjang 649 km, dan daerah terisolir dan daerah terpencil sepanjang
2.014 km;

7) Meningkatnya kapasitas Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan


konstruksi dan keselamatan bangunan serta penataan lingkungan
permukiman.

b. Tujuan 2 : Meningkatkan ketahanan pangan dan mempercepat laju


pertumbuhan ekonomi nasional, meliputi 2 (dua) sasaran sebagai berikut :

1) Meningkatnya pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga,


permukiman, pertanian, dan industri, serta berkurangnya dampak
bencana banjir maupun kekeringan dan terkendalinya pencemaran air;

2) Meningkatnya kecepatan maupun kenyamanan mobilitas manusia,


barang dan jasa seiring dengan meningkatnya daya dukung, kapasitas,
maupun kualitas pelayanan prasarana jalan, serta meningkatnya
aksesibilitas wilayah;

c. Tujuan 3 : Meningkatkan profesionalisme, produktivitas, dan akuntabilitas


dalam penyelenggaraan pekerjaan umum, meliputi 3 (tiga) sasaran sebagai
berikut :

1) Meningkatnya kualitas pengawasan dan profesionalisme


penyelenggaraan pekerjaan umum;

2) Meningkatnya kualitas kelembagaan, ketatalaksanaan, dan pelayanan


publik dalam penyelenggaraan pekerjaan umum melalui penerapan
prinsip-prinsip good governance;

3) Meningkatnya mutu penelitian dan pengembangan pekerjaan umum


serta pemanfaatannya bagi dunia usaha, industri, dan masyarakat.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


19

Untuk melaksanakan terwujudnya rencana strategis sebagaimana


diuraikan di atas, maka berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor
286/PRT/M/2005 Pasal 5 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Pekerjaan Umum, organisasi departemen terbagi menjadi 10 (sepuluh) unit kerja
eselon I, yaitu:

a. Sekretariat Jenderal (SETJEN)

b. Inspektorat Jenderal (ITJEN)

c. Badan Penelitian dan Pengembangan (BALITBANG)

d. Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia (BPKSDM)

e. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (DITJEN SDA)

f. Direktorat Jenderal Bina Marga (DITJEN BM)

g. Direktorat Jenderal Cipta Karya (DITJEN CK)

h. Direktorat Jenderal Penataan Ruang (DITJEN TARU)

i. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT)

j. Badan Pengatur Sistem Penyediaan Air Minum (BPSPAM)

Struktur organisasi secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


20

MENTERI
PEKERJAAN UMUM

Staf Ahli Menteri

Badan Pembinaan Konstruksi


dan Sumber Daya Manusia Badan Litbang Sekretaris Jenderal Inspektorat Jenderal

Set Badan Set Badan Biro Perencanaan & KLN Set Itjen

Biro Keuangan
Pusat Pembinaan Usaha Puslitbang SDA Inspektur Khusus
Konstruksi
Biro Kepegawaian &
Puslitbang Jalan & Inspektur Wilayah I
Pusat Pembinaan Ortala
Jembatan
Penyelenggaraan Konstruksi
Biro Hukum Inspektur Wilayah II
Puslitbang Permukiman
Pusat Pembinaan Keahlian
dan Teknik Konstruksi
Biro Perlengkapan &
Inspektur Wilayah III
Puslitbang Umum
Pusat Pembinaan
Sos.Bud.Ekon. dan
Kompetensi dan Teknik
Peran Masyarakat
Konstruksi Pusat Kajian Strategis Inspektur Wilayah IV

Pusat Pendidikan &


Pelatihan

Pusat Komunikasi Publik

Pusat Pengolahan Data

Pusat Pengelolaaan BMN

Ditjen Ditjen Ditjen Ditjen


Penataan Ruang Sumber Daya Air Cipta Karya Bina Marga

Setditjen Setditjen Setditjen Setditjen

Dit. Penataan Ruang Dit. Bina Program Dit. Bina Program Dit. Bina Program
Nasional

Dit. Bina Dit. Pengembangan Dit. Bina Teknik


Dit. Penataan Ruang Pengelolaan SDA Permukiman
Wilayah I
Dit. Jalan Bebas
Dit. Penataan Hambatan & Jalan
Dit. Sungai Danau
Dit. Penataan Ruang Bangunan dan Kota
dan Waduk
Wilayah II Lingkungan
Dit. Jalan &
Dit. Irigasi Jembatan Wil Barat
Dit. Penataan Ruang Dit. Pengembangan
Wilayah III Air Minum
Dit. Rawa dan Pantai Dit. Jalan &
Dit. Penataan Ruang Dit. Pengembangan Jembatan Wil Timur
Wilayah IV Penyehatan
Lingkungan
Permukiman

BPJT BPSPAM Kelompok Jabatan Fungsional

Gambar 2.2. Struktur Organisasi Departemen PU


Sumber : Peraturan Menteri PU Nomor 286/PRT/M/2005 Pasal 5

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


21

Menurut Peraturan Menteri PU Nomor 603/PRT/M/2005, Pasal 4, Dalam


melaksanakan tugas penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum,
Departemen Pekerjaan Umum mengacu pada siklus SIDLACOM, yaitu meliputi
tahap-tahap survey, investigation, and design (SID), land acquisition (LA),
construction (C), dan operation and maintenance (OM).

Sebelum melaksanakan kegiatan pelaksanaan konstruksi, maka wajib


didahului dengan pekerjaan-pekerjaan perencanaan, yang menggunakan data hasil
survei maupun investigasi. Sedangkan pola perencanaan menurut Peraturan
Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2000 Pasal 26 menyatakan bahwa untuk
pekerjaan konstruksi dengan risiko tinggi harus dilakukan prastudi kelayakan,
studi kelayakan, perencanaan umum, dan perencanaan teknis.

Pengadaan lahan untuk pekerjaan konstruksi harus sudah selesai dalam


prosesnya sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi dimulai. Proses pengadaan
lahan sangat sensitif akhir-akhir ini, sehingga Departemen Pekerjaan Umum harus
berkordinasi dengan pihak-pihak yang terkait, seperti pemerintah daerah setempat,
secara intensif, sehingga tidak ada hambatan terhadap kelancaran pembangunan.

Segera setelah kegiatan perencanaan dan pengadaan lahan selesai dalam


prosesnya, maka dapat dimulai kegiatan pelaksanaan konstruksi, yang
pelaksanaannya dapat diborongkan kepada penyedia jasa maupun dilaksanakan
sendiri secara swakelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tanggung jawab
pengguna jasa di lingkungan Departemen PU tidak berhenti pada kegiatan
konstruksi saja (output), namun pengguna jasa tetap bertanggung jawab atas
kegiatan operasional dan pemeliharaan pekerjaan sehingga dapat dicapai
kemanfaatan hasilnya (outcome).

2.2.2.2 Pola Penganggaran

Untuk mencapai target kondisi yang diharapkan, Departemen PU


membutuhkan pendanaan infrastruktur dari tahun 2005-2009 sebesar Rp.233,639
triliun, yang bersumber dari APBN, baik APBN Murni maupun Pinjaman/Hibah
Luar Negeri (PHLN). Hingga tahun 2008, rencana dan realisasi anggaran dapat
dilihat pada tabel 2.1. sebagai berikut :

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


22

Tabel 2.1. Rencana dan Realisasi Anggaran 2005-2009


(dalam triliun rupiah)
TAHUN
BIDANG 2005 2006 2007 2008 2009
RN RL RN RL RN RL RN RL RN RL
SDA 6,102 4,482 7,005 7,074 7,858 7,401 9,559 8,625 10,800 belum
BM 8,500 5,155 9,800 8,056 11,400 9,806 18,411 16,187 19,700 belum
CK 3,340 5,390 4,510 3,757 5,050 5,775 6,526 6,063 7,300 belum
LAINNYA 0,670 1,965 0,710 0,948 0,780 1,231 1,612 1,192 1,900 belum
TOTAL 18,612 16,991 22,025 19,835 25,088 24,213 36,108 32,068 39,700

Sumber : RENSTRA Departemen PU 2005-2009 dan Laporan Itjen

Dari tabel di atas yang membandingkan antara rencana dan realisasi


penganggaran, terdapat selisih realisasi sebagaimana ditampilkan pada tabel 2.2.
sebagai berikut:

Tabel 2.2. Selisih Rencana dan Realisasi Anggaran


(dalam triliun rupiah)
PROSENTASE
TAHUN RENCANA REALISASI SELISIH
THD RENCANA
2005 18,612 16,991 (1,621) 8,709%
2006 22,025 19,835 (2,190) 9,943%
2007 25,088 24,213 (0,875) 3,488%
2008 36,108 32,068 (4,040) 11,186%
2009 39,700 Belum - -

Sumber : RENSTRA Departemen PU 2005-2009 dan Laporan Itjen

2.2.2.3 Perencanaan Program dan Anggaran

Undang Undang RI Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan


Negara, Penjelasan Umum, menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan
negara untuk mewujudkan tujuan bernegara menimbulkan hak dan kewajiban
negara yang perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan negara.
Pengelolaan keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu dilaksanakan secara
profesional, terbuka, dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat, yang diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pola pengelolaan anggaran yang bersumber dari dana APBN


dilaksanakan berdasarkan beberapa ketentuan sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


23

a. Undang Undang RI Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

b. Undang Undang RI Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

c. Peraturan Pemerintah RI Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja


Pemerintah (RKP);

d. Peraturan Pemerintah RI Nomor 21 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja


Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKA K/L)

Dalam ketentuan tersebut Menteri atau Pimpinan Lembaga mempunyai


kewenangan untuk menyusun dokumen pelaksanaan anggaran, menetapkan
perangkat pelaksananya, mengawasi pelaksanaan anggaran, menyusun dan
menyampaikan laporan hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung
jawabnya. Pengelolaan keuangan negara harus dilaksanakan secara tertib dan taat
pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan, juga
dinyatakan dalam Undang Undang RI Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, Pasal 3 ayat (1).

Dokumen pelaksanaan anggaran, yang disebut sebagai Dokumen Isian


Pelaksanaan Anggaran (DIPA), merupakan dokumen anggaran yang disusun oleh
kementerian/lembaga dan disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas
nama Menteri Keuangan. DIPA memuat informasi satuan-satuan terukur yang
berfungsi sebagai dasar pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran. DIPA
tersebut dapat difungsikan sebagai alat pengendali, pelaksanaan, pelaporan,
pengawasan, dan sekaligus merupakan perangkat akuntansi pemerintah.

Proses penyusunan DIPA didahului dengan penyusunan dan pengesahan


Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL), dimana RKAKL
merupakan dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan
kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari
Rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian
Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


24

yang diperlukan untuk melaksanakannya. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan


Pemerintah RI Nomor 21 Tahun 2004 tentang RKAKL

2.2.2.4 Organisasi Pelaksana Anggaran

Anggaran sebesar Rp.36,108 triliun pada tahun 2008 dilaksanakan oleh


399 satuan kerja yang tersebar, baik di Pusat maupun di 33 provinsi. Satuan kerja
sebagai organisasi pelaksana anggaran tersebut merupakan satuan kerja yang
berada di bawah pembinaan 10 (sepuluh) unit kerja eselon I sebagaimana
diuraikan pada Gambar 2.2. di atas.

Dalam rangka menindaklanjuti amanat Undang Undang RI Nomor 7


Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta Undang Undang RI Nomor 38 Tahun
2004 tentang Jalan, maka Menteri PU membentuk unit kerja untuk melaksanakan
kegiatan pengelolaan infrastruktur, baik wilayah sungai maupun ruas jalan yang
menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Unit kerja balai pengelola wilayah sungai disebut sebagai Balai Besar
Wilayah Sungai (BBWS) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) yang kedudukannya
langsung di bawah Direktur Jenderal Sumber Daya Air, sedangkan sebagai
pengelola ruas jalan nasional disebut Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional
yang kedudukannya di bawah Direktur Jenderal Bina Marga, yang terdiri dari:

a. Balai wilayah sungai, meliputi 11 (sebelas) Balai Besar Wilayah Sungai dan
19 (sembilan belas) Balai Wilayah Sungai, sebagai berikut sesuai Peraturan
Menteri PU Nomor 26/PRT/M/2006 :

1) BBWS Brantas berkedudukan di Surabaya

2) BBWS Bengawan Solo berkedudukan di Surakarta

3) BBWS Pemali-Juana berkedudukan di Semarang

4) BBWS Serayu-Opak berkedudukan di Yogyakarta

5) BBWS Cimanuk-Cisanggarung berkedudukan di Cirebon

6) BBWS Mesuji-Sekampung berkedudukan di Bandar Lampung

7) BBWS Citarum berkedudukan di Bandung

8) BBWS Pompengan-Jeneberang berkedudukan di Makassar

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


25

9) BBWS Citanduy berkedudukan di Banjar Jawa Barat

10) BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian berkedudukan di Serang Banten

11) BBWS Ciliwung-Cisadane berkedudukan di Jakarta

12) BWS Sumatera I berkedudukan di Banda Aceh

13) BWS Sumatera II berkedudukan di Medan

14) BWS Sumatera III berkedudukan di Pekanbaru

15) BWS Sumatera IV berkedudukan di Batam

16) BWS Sumatera V berkedudukan di Padang

17) BWS Sumatera VI berkedudukan di Jambi

18) BWS Sumatera VII berkedudukan di Bengkulu

19) BWS Sumatera VIII berkedudukan di Palembang

20) BWS Bali-Penida berkedudukan di Denpasar

21) BWS Nusa Tenggara I berkedudukan di Mataram NTB

22) BWS Nusa Tenggara II berkedudukan di Kupang NTT

23) BWS Kalimantan I berkedudukan di Pontianak

24) BWS Kalimantan II berkedudukan di Kuala Kapuas

25) BWS Kalimantan III berkedudukan di Samarinda

26) BWS Sulawesi I berkedudukan di Manado

27) BWS Sulawesi II berkedudukan di Gorontalo

28) BWS Sulawesi III berkedudukan di Palu

29) BWS Maluku berkedudukan di Ambon

30) BWS Papua berkedudukan di Jayapura

Balai wilayah sungai tersebut mempunyai tugas untuk melaksanakan


pengelolaan sumber daya air yang meliputi perencanaan, pelaksanaan
konstruksi, operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi sumber daya

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


26

air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air pada
wilayah sungai.

b. Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) terdiri dari 10 (sepuluh),


sebagai berikut:

1) BBPJN I, meliputi Provinsi NAD, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan


Riau, berkedudukan di Medan
2) BBPJN II, meliputi Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung,
berkedudukan di Padang
3) BBPJN III, meliputi Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bangka
Belitung, berkedudukan di Palembang
4) BBPJN IV, meliputi Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat,
berkedudukan di Jakarta
5) BBPJN V, meliputi Provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur,
berkedudukan di Surabaya
6) BBPJN VI, meliputi seluruh provinsi di Pulau Sulawesi, berkedudukan di
Makassar
7) BBPJN VII, meliputi seluruh provinsi di Pulau Kalimantan, berkedudukan
di Banjarmasin
8) BBPJN VIII, meliputi Provinsi Bali, NTB, dan NTT, berkedudukan di
Denpasar
9) BBPJN IX, meliputi Provinsi Maluku dan Maluku Utara, berkedudukan di
Ambon
10) BBPJN X, meliputi Provinsi Papua dan Irjabar, berkedudukan di Jayapura.

Sedangkan untuk kegiatan-kegiatan ke-ciptakarya-an dikelola oleh satuan


kerja non-vertikal tertentu (SNVT) di bawah pembinaan masing-masing direktorat
terkait dan disesuaikan dengan kebutuhan kondisi daerah, antara lain:

a. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum

b. SNVT Pengembangan Kinerja Pengelolaan Penyehatan Lingkungan

c. SNVT Penataan Bangunan dan Lingkungan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


27

d. SNVT Pengembangan Kawasan Permukiman

2.2.2.5 Pengawasan/Pengendalian Anggaran

Sebagaimana telah diketahui bahwa pengendalian merupakan salah satu


fungsi dari manajemen, di mana manajemen meliputi proses merencanakan,
mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan, baik kegiatan maupun sumber
daya untuk mencapai sasaran organisasi yang telah ditentukan. Dengan demikian
diperlukan keterpaduan antara perencanaan dan pengendalian karena diharapkan
pengendalian dapat mendeteksi dan mengungkapkan adanya penyimpangan sedini
mungkin untuk dilakukan peramalan tindak lanjut penanganannya.

Salah satu elemen yang penting dalam tata pemerintahan yang baik (good
governance) adalah adanya akuntabilitas publik. Dengan demikian unsur
pengawasan menjadi salah satu unsur yang penting dalam proses manajemen
pemerintahan dan memiliki peran yang strategis untuk terwujudnya akuntabilitas
dalam pemerintahan dan pembangunan.

Pelaksanaan kegiatan pengawasan terhadap suatu objek dapat terdiri dari


beberapa jenis pengawasan, dan dapat distrukturkan sebagai berikut:

CAKUPAN WASMAS
WASMAS
Antara lain WASLEG/DPR
CAKUPAN
aspek KKN
BPK WASKAT
BPKP Organisasi
CAKUPAN ITJEN Personil
WAS ITJEN
3K, 2E, dan
WASKAT
Kebijakan
1E dgn
indikator tepat
ES I s.d IV
SATKER Perencanaan
waktu, biaya,
WASKAT
Prosedur
kualitas,
manfaat ITJEN Pencatatan
BPKP Pelaporan
CAKUPAN
WAS BPK-RI, BPK Review Int
BPKP thd WASLEG/DPR
Pengelolaan
Keuangan WASMAS
Negara

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


28

Gambar 2.3. Struktur Pengawasan

Sumber : Hasil olahan sendiri

a. Pengawasan Melekat

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara


Nomor: KEP/46/M.PAN/4/2004 tanggal 26 April 2004 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pengawasan Melekat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan,
maka diamanatkan bahwa bahwa Pengawasan Melekat (Waskat) atau
Pengendalian Manajemen/Pengendalian Intern tidak semata-mata berorientasi
pada pengawasan yang dilakukan pimpinan/atasan masing-masing satuan
organisasi/satuan kerja terhadap bawahannya, namun juga menekankan pada
Sistem Pengendalian Intern yang meliputi 8 (delapan) unsur Waskat yaitu:
Pengorganisasian, Personil, Kebijakan, Perencanaan, Prosedur, Pencatatan,
Pelaporan, dan Supervisi & Review Intern.

b. Pengawasan Masyarakat

Masukan masyarakat merupakan salah satu bentuk implementasi peran


masyarakat, dimana pengawasan masyarakat tersebut diperlukan dalam
mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Dalam rangka
mengakomodasikan masukan/pengawasan masyarakat tersebut, maka
diterbitkan Peraturan Menteri PU Nomor 323/PRT/M/2005 tentang Tatacara
Penanganan Masukan dari Masyarakat di Lingkungan Departemen Pekerjaan
Umum.

Dalam Peraturan tersebut diuraikan bahwa masukan masyarakat tersebut dapat


disampaikan kepada Menteri dan/atau Pejabat Eselon I, dengan melalui surat,
kotak pos 5000, situs pengaduan PU-net, email, short message services (SMS),
telepon, media massa, dan/atau datang langsung ke Departemen.

Selain berupa pengaduan adanya dugaan tindak pidana/KKN, masukan


masyarakat dapat berupa sumbang pikiran, gagasan, dan saran yang bersifat
membangun maupun kinerja pelayanan.

c. Pengawasan Fungsional

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


29

Pengawasan fungsional merupakan salah satu jenis pengawasan yang


dilaksanakan oleh aparat pengawas fungsional, baik oleh Aparat Pengawas
Eksternal Pemerintah yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (BPK-RI) maupun oleh Aparat Pengawas Internal
Pemerintah yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) dan Inspektorat Jenderal Departemen.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 286/PRT/M/2005


Pasal 608 tentang Organisasi dan Tata Laksana Departemen Pekerjaan Umum,
salah satu tugas pokok dan fungsi unit kerja Inspektorat Jenderal mempunyai
tugas melakukan pengawasan fungsional di lingkungan departemen terhadap
pelaksanaan tugas di setiap unit di lingkungan departemen agar dapat berjalan
sesuai dengan rencana dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sesuai dengan Kebijakan Pengawasan Inspektorat Jenderal Departemen PU


Tahun 2008, pengawasan yang dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal
tersebut bersifat sebagai pengawasan fungsional, di mana kegiatan
pengawasan fungsional meliputi evaluasi/penilaian pemanfaatan, sosialisasi,
konsultasi, asistensi, reviu, dan pemeriksaan/audit.

Cakupan audit yang dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal meliputi ketaatan-


kebenaran-kelengkapan (3K), ekonomis-efisien (2E), dan efektivitas (1E),
dengan indikator tepat waktu, biaya, kualitas, dan manfaat. Sedangkan jenis
pemeriksaan menurut Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2007 meliputi
pemeriksaan menyeluruh dan pemeriksaan lainnya, sebagai berikut :

a. Pemeriksaan menyeluruh terdiri dari pemeriksaan administrasi umum,


administrasi keuangan, dan pemeriksaan kinerja

b. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan selain pemeriksaan


menyeluruh, yang meliputi pemeriksaan keteknikan, pemeriksaan
khusus, pemeriksaan ex-officio, pemeriksaan pengadaan barang dan jasa,
dan pemeriksaan lain dengan tujuan tertentu.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


30

2.3 Permasalahan di dalam Penyelenggaraan Infrastruktur di


Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilaksanakan oleh Aparat Pengawas


Fungsional, permasalahan-permasalahan yang sering terjadi dalam
penyelenggaraan infrastruktur di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum
dikelompokkan sesuai dengan cakupan audit yang telah ditetapkan, yaitu terkait
dengan normatif terhadap ketentuan (3K; ketaatan-kebenaran-kelengkapan) dan
terkait dengan substansi kegiatan (3E; ekonomis-efisien-efektif). Permasalahan
tersebut adalah:

2.3.1 Permasalahan yang Terkait dengan Prosedural/Normatif

Permasalahan yang terkait dengan prosedur/normatif terhadap ketentuan


peraturan perundang-undangan yang berlaku meliputi ketaatan, kebenaran, dan
kelengkapan, yaitu antara lain:
a. bukti transaksi penerimaan dan/atau pengeluaran uang dibukukan tidak
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atau tidak dibukukan, sehingga
terjadi selisih kas
b. catatan dalam pembukuan tidak didukung dengan bukti yang sah dan
memenuhi syarat
c. denda akibat cidra janji tidak dipungut dari rekanan atau dipungut tidak
sesuai dengan ketentuan kontrak
d. barang yang dibeli atau hasil pekerjaan yang diterima dari rekanan atau
pemborong tidak sesuai dengan kontrak
e. proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai dengan ketentuan

2.3.2 Permasalahan yang Terkait dengan Penggunaan Sumber Daya

Permasalahan yang terkait dengan penggunaan sumber daya meliputi


meliputi ekonomis dan efisien, yaitu antara lain:
a. penggunaan biaya melebihi anggaran yang tersedia sehingga menimbulkan
ketidakhematan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


31

b. pengadaan sumber daya tidak berdasarkan rencana kebutuhan periodik


dalam mencapai tujuan yang ditentukan, sehingga terjadi pemborosan atau
ketidakhematan
c. harga pembelian dalam rangka pengadaan sumber daya melebihi harga
standar atau harga pasar, sehingga mengakibatkan pemborosan atau
ketidakhematan
d. penggunaan sumber daya dalam dalam rangka melaksanakan kegiatan
melebihi kebutuhan yang nyata, sehingga mengakibatkan pemborosan atau
ketidakhematan
e. pemeliharaan sarana dan prasarana dilakukan tanpa memperhatikan
prioritas pencapaian tujuan, sehingga mengakibatkan pemborosan atau
ketidakhematan
f. biaya pemeliharaan melebihi standar yang dibenarkan, sehingga
mengakibatkan pemborosan atau ketidakhematan
g. penggunaan sumber daya manusia atau bahan atau biaya lainnya
melampaui standar untuk mencapai hasil yang ditetapkan
h. hasil yang dicapai ternyata lebih rendah daripada target yang telah
ditetapkan/direncanakan
i. peningkatan hasil yang dicapai lebih rendah dibandingkan dengan
peningkatan sumber daya yang dipergunakan
j. penyedia jasa yang ditunjuk tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang
menjadi tanggung jawabnya
k. pekerjaan perencanaan kurang matang dan terjadi over design sehingga
berakibat pemborosan
l. survei dan investigasi tidak dilakukan dan/atau kurang matang, sehingga
kuantitas pekerjaan berlebihan dan terjadi pemborosan
m. kualifikasi tenaga ahli konsultan tidak sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan dalam TOR atau penggunaan tenaga ahli fiktif
n. biaya personil (billing rate) tenaga ahli tidak sesuai dengan ketentuan
sehingga terjadi pemborosan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


32

2.3.3 Permasalahan yang Terkait dengan Pemanfaatan Hasil

Permasalahan yang terkait dengan pemanfaatan hasil, yaitu antara lain:

a. hasil kegiatan tidak atau belum tercapai sesuai dengan rencana sehingga
kegiatan menjadi tidak efektif
b. hasil kegiatan dipergunakan tidak sesuai dengan tujuan atau sama sekali
tidak dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan,
sehingga hasil kegiatan tersebut mubazir
c. pemanfaatan hasil tidak mengarah pada tujuan semula
d. penanggung jawab program belum mempunyai sistem pelaporan dan
pengukuran efektivitas
e. pelaksanaan pekerjaan menyimpang dari jadual yang telah ditetapkan,
sehingga pemanfaatan hasilnya mengalami hambatan/keterlambatan
f. pekerjaan persiapan dan perumusan proyek (survei dan desain) tidak
mantap, sehingga mengakibatkan hambatan dalam pemanfaatan hasil

2.4 Efektivitas Penggunaan Anggaran Sebagai Salah Satu Indikator


Kinerja Instansi Pemerintah

2.4.1 Indikator Kinerja Utama Instansi Pemerintah

Seperti yang telah dirumuskan dalam Peraturan Menteri Negara


Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/09/M.PAN/5/2007, bahwa dalam
rangka pengukuran dan peningkatan kinerja serta lebih meningkatkan
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah, maka setiap instansi pemerintah perlu
menetapkan indikator kinerja utama (key performance indicator) di lingkungan
instansi masing-masing. Kinerja instansi pemerintah adalah gambaran mengenai
tingkat pencapaian sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah yang
mengindikasikan tingkat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan-
kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan yang ditetapkan.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


33

Indikator kinerja utama (key performance indicator) adalah ukuran


keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis organisasi. Indikator kinerja
utama pada setiap unit organisasi meliputi indikator kinerja keluaran (output) dan
hasil (outcome), dengan karakteristik:
a. spesifik
b. dapat dicapai
c. relevan
d. menggambarkan keberhasilan sesuatu yang diukur
e. dapat dikuantifikasi dan diukur

2.4.2 Ekonomis, Efisien, dan Efektivitas

Pengelolaan keuangan negara harus dilaksanakan secara tertib dan taat


pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan seperti
yang dimaksudkan di dalam Undang Undang RI Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, Pasal 3 ayat (1). Sebagai ilustrasi prinsip-prinsip pelaksanaan
anggaran dapat dilihat pada Gambar 2.4., dimana pada tingkat satuan kerja
disyaratkan prinsip-prinsip pelaksanaan anggaran yang ekonomis (terkait dengan
input berupa sumber daya), efisiensi (terkait dengan input, proses, dan output),
dan efektif (terkait dengan output dan outcome), sedangkan pencapaian efektivitas
biaya secara keseluruhan (cost efectiveness) merupakan tanggung jawab pada
tingkat kebijakan (policy/wisdom).

Menurut Peraturan BPK-RI Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar


Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) BPK-RI, hal 12, pengertian pengelolaan
dan tanggung jawab Keuangan Negara mencakup akuntabilitas yang harus
diterapkan semua entitas oleh pihak yang melakukan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara. Akuntabilitas diperlukan untuk dapat mengetahui
pelaksanaan program yang dibiayai dengan keuangan negara, tingkat
kepatuhannya terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
serta untuk mengetahui tingkat kehematan, efisiensi, dan efektivitas dari program
tersebut.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


34

MENTERI/
PIMPINAN LEMBAGA POLICY/
WISDOM

OUTCOMES EFEKTIVITAS
COST EFECTIVENESS
OUTPUTS
SATUAN KERJA EFISIENSI
PROCESS

INPUT EKONOMIS

RESOURCES

Gambar 2.4. Prinsip Pelaksanaan Anggaran


Sumber : Hasil olahan sendiri

Drs HM Kamaruzzaman dan Drs Suwachju Djalil dalam tulisannya


Sistem Pengendalian Manajemen II, Pusdiklat BPK-RI, 2000, hal 16, menyatakan
bahwa efektivitas diartikan sebagai kemampuan suatu unit kerja untuk mencapai
tujuan yang diinginkan, sedangkan efisiensi menggambarkan seberapa banyak
masukan yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit keluaran tertentu. Unit
organisasi paling efisien dan efektif adalah unit yang dapat menghasilkan
sejumlah keluaran dengan penggunaan masukan yang minimal atau menghasilkan
keluaran terbanyak dengan masukan yang tersedia dan dapat mencapai tujuan
organisasi.

Efektivitas dan efisiensi terkait dengan operasional program.


Pengendalian terhadap operasional program mencakup kebijakan-kebijakan dan
prosedur-prosedur yang diterapkan oleh entitas yang diperiksa yang bisa
menjamin bahwa program tersebut bisa mencapai tujuannya dan tindakan-
tindakan yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Sedangkan pengendalian atas pengamanan sumber daya meliputi


kebijakan dan prosedur yang telah dilaksanakan oleh manajemen untuk
memastikan bahwa sumber daya diamankan secara memadai dari pemborosan,
kehilangan, dan penyalahgunaan. Pemahaman atas pengendalian ini dapat

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


35

membantu dalam merencanakan kehematan dan efisiensi (Standar Pemeriksaan


Keuangan Negara BPK-RI).

Ukuran kinerja ekonomis, efisien, dan efektivitas suatu organisasi dapat


digambarkan sebagai berikut:

OUT
INPUT PROCESS OUTPUT COME

ACTIVITY
MEN SID PRODUK GOAL
MONEY PENGADAAN OUTCOME
MACHINE PENGENDALIAN
MATERIAL PELAKSANAAN
METHOD KONTRAK
MARKET

EKONOMIS EFISIEN EFEKTIF

Gambar 2.5. Ekonomis, Efisien, dan Efektif

Sumber : Standar Pemeriksaan Keuangan Negara BPK-RI

2.5 Teori Dan Konsep Value Engineering

2.5.1 Sejarah dan Perkembangan Value Engineering

Menurut DR Yusuf Latief dalam Materi Kuliah Dasar Manajemen


Konstruksi Value Engineering (2008), penguasaan teknologi, manajemen,
informasi dan melakukan efisiensi di segala bidang terutama terhadap biaya
konstruksi merupakan suatu syarat yang harus dilakukan pada kondisi sekarang
ini, dimana biaya konstruksi semakin lama semakin menanjak dengan cepat, maka
penyedia jasa dituntut untuk dapat menekan biaya konstruksi seminimal mungkin.
Dengan melakukan salah satu teknik dalam hal mengendalikan biaya yaitu value
engineering, maka biaya konstruksi akan berkurang tanpa mengorbankan
kualitas dan fungsi dari proyek. Value Engineering (VE) bermaksud memberikan
sesuatu yang optimal untuk sejumlah uang yang dikeluarkan dengan memakai
teknik yang sistematis untuk menganalisa dan mengendalikan total biaya proyek.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


36

Value engineering adalah suatu pendekatan analisa fungsi yang bertujuan


untuk menekan biaya (cost) produksi atau proyek. Besaran biaya yang dibutuhkan
baik dalam masa perencanaan dan juga pelaksanaan serta proses time saving yang
diupayakan untuk tidak menambah besar cost itu sendiri. Permasalahan yang
sering muncul kemudian adalah untuk menekan biaya tersebut maka akan
mengorbankan beberapa pos tertentu (Kajian Aplikasi dan Sertifikasi
Internasional Keahlian Value Engineering, PT Indulexco Consulting Group,
2007).

Selain menghasilkan suatu efisiensi terhadap biaya (cost efficiency), VE


juga merupakan suatu metode analisis yang dapat menghasilkan inovasi
(inovation) dan kompetisi keunggulan (competitive advantages) pada sebuah
proyek atau produk dalam konteks pembahasan (Berawi, 2006; Berawi, 2009;
Woodhead & Berawi, 2008).

Secara definisi, VE, juga dikenal dengan Value Management atau Value
Analysis, adalah suatu pendekatan tim yang profesional dalam penerapannya,
berorientasi fungsi dan sistematis yang digunakan untuk menganalisa dan
meningkatkan nilai suatu produk, disain fasilitas, sistem, atau servis suatu
metodologi yang baik untuk memecahkan masalah dan atau mengurangi biaya
namun meningkatkan persyaratan kinerja atau kualitas yang ditetapkan. VE
adalah teknik terefektif yang diketahui untuk mengidentifikasi dan menghapuskan
biaya yang tidak perlu (unnecessary cost) dalam disain, pengujian, fabrikasi,
konstruksi produk (DR Yusuf Latief, 2008).

Istilah Value Engineering dan Value Management walaupun sering


diartikan sama, tetapi sebenarnya ada sedikit perbedaan. Untuk memahami
pengertian kedua istilah tersebut, kita mesti melihat kembali sejarah awal mulanya
metode ini.

Dalam bukunya Manajemen Proyek dari Konseptual sampai


Operasional, 1995, Iman Soeharto menyatakan bahwa Value Engineering (VE)
berkembang selama perang dunia ke II. Ketika terjadi krisis sumber daya,
sehingga memerlukan suatu perubahan dalam metode, material dan desain
tradisional. Awal perang dunia ke II General Electric Company USA yang

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


37

dipelopori oleh L.D. Miles melakukan konsep VE sewaktu melayani keperluan


peralatan perang dalam jumlah yang besar, dan ditujukan pertama-tama untuk
mencari biaya yang ekonomis bagi suatu produk.

Brian R. Norton dan William C. McElligot dalam bukunya Value


Management in Construction menjelaskan bahwa sejarah awal mula metode
Value Management berasal dari Perusahaan General Electric ketika terjadi
Perang Dunia Ke-2. Pada waktu itu, akibat perang, perusahaan kekurangan stok
material dan Perusahaan dituntut untuk dapat mencari bahan penggantinya untuk
menghasilkan produk mereka. Mr. Larry Miles, seorang insinyur elektrik di divisi
Pengadaan General Electric menemukan bahwa untuk menghasilkan produk yang
sama dengan kualitas yang sama, ternyata bisa digunakan material lain yang
lebih murah. Untuk mendapatkan material alternatif yang lebih murah ini, Mr.
Miles menganalisis fungsi setiap material dan ternyata ada material-material yang
mempunyai fungsi yang sama tetapi harganya berbeda. Fungsi setiap material
adalah nilai (value) material tersebut.

Berdasarkan hasil pemikirannya tentang analisis fungsi tersebut, pada


tahun 1947 Mr. Miles mengembangkan suatu prosedur untuk menganalisis fungsi
suatu produk yang disebut sebagai Value Analysis. Pada tahun 1954, metode
Value Analysis diterapkan di Navy Bureau of Ship (NBS) Amerika. Sementara
General Electric menerapkan metode Value Analysis pada produk yang sudah
ada, NBS menerapkan metode analisis fungsi ini pada tahap mendisain suatu
produk (Engineering stage), dengan kata lain analisis fungsi dilakukan ketika
produk belum eksis. Metode ini kemudian dikenal sebagai Value Engineering.

Pada awal tahun 1960-an, Value Engineering mulai diaplikasikan


pada industri konstruksi. Ketika itu para kontraktor dituntut untuk menurunkan
biaya proyek tanpa mengurangi kualitas dan fungsi produk konstruksinya. Untuk
mengatasi hal tersebut, para kontraktor dan kliennya mulai mengaplikasikan
metode Value Engineering ketika mendisain produk konstruksi. Dekade
berikutnya, banyak organisasi atau institusi yang menerapkan metode Value
Engineering pada tahap awal suatu perencanaan sebuah produk atau jasa yang
kemudian dikenal sebagai Value Planning.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


38

Setelah Value Planning, Value Engineering dan Value Analysis,


lahirlah istilah Value Management, dimana Value Planning dilakukan pada
tahap awal perencanaan, Value Engineering dilakukan pada tahap mendisain,
Value analysis dilakukan setelah produk eksis, sedangkan Value Management
merupakan istilah yang dapat digunakan untuk ketiga metode tersebut. Namun
untuk selanjutnya dalam tulisan ini digunakan istilah Value Engineering karena
analisis fungsi yang dilakukan ada ditahap pembuatan gambar disain. Walaupun
pada akhirnya dapat mengurangi biaya, tetapi tujuan sesungguhnya metode Value
Management adalah untuk mendapatkan nilai (manfaat/hasil) maksimal suatu
produk atau jasa dari anggaran yang sudah disediakan, atau untuk mendapatkan
The Value for Money.

Dalam situs www.have-i.com, dinyatakan bahwa Value Engineering


terus berkembang penggunaannya ke segala sektor, sehingga pada tahun 1958
terbentuklah asosiasi praktisi Value Engineering yang diberi nama Society of
American Value Engineers (SAVE), yang hingga saat ini telah memiliki anggota di
lebih dari 35 negara di dunia. Sukses VE semakin meningkat setelah Presiden
Clinton menandatangani Public Law 104-106 pada tanggal 10 Februari 1996
sebagai Defense Authorization Act yang berisikan bagian perubahan Procurement
untuk seluruh cabang eksekutif, tidak hanya berlaku di Departemen Pertahanan
saja. Sedangkan perkembangan VE di Indonesia diharapkan juga meningkat
seiring dengan telah terbentuknya Himpunan Ahli Value Engineering Indonesia
(HAVEI) pada tanggal 17 November 2006 dengan tujuan meningkatkan
profesionalisme dalam mengoptimalkan anggaran pembangunan infrastruktur dan
industri melalui value engineering.

Mengingat kemampuan VE yang sangat baik dalam menghemat biaya


produksi dan berdasarkan pengalaman VE sering meningkatkan kualitas serta
kondisi Indonesia yang sedang dilanda krisis ekonomi, maka akan sangat
menguntungkan bila pembangunan konstruksi di Indonesia pada saat ini
khususnya dan pembangunan konstruksi di dunia pada umumnya menggunakan
teknik VE.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


39

2.5.2 Definisi Value Engineering

Value engineering bukan hanya menganalisis biaya suatu proyek tetapi


juga fungsi yang diberikan oleh setiap elemen dari perencanaan proyek tersebut.

a. Definisi Nilai (Value)

Donald S. Barrie, Boyd C. Paulson, Sudinarto dalam buku Manajemen


Konstruksi Profesional, 1993, antara lain menyatakan bahwa Aristotle
membagi nilai menjadi 7 kelas yaitu :
1) Nilai ekonomi
2) Nilai politik
3) Nilai sosial
4) Nilai estetis/keindahan
5) Nilai etis
6) Nilai agama
7) Nilai keadilan

Namun demikian, untuk mengkaji VE para ahli mengutamakan hanya


kepada nilai ekonomi. Menurut Value Engineering Guide Module I
Workshop SAVE-I menyatakan bahwa nilai ekonomi dibagi ke dalam 4
kategori yaitu :
1) Nilai biaya (cost value)
yaitu biaya total untuk memproduksi item tertentu, yaitu jumlah
biaya tenaga kerja, bahan, alat dan overhead.
2) Nilai tukar (exchange value)
yaitu suatu ukuran dari sifat dan kualitas produk yang membuat
seseorang mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan produk tadi.
3) Nilai penghargaan (esteem value)
merupakan ukuran dari semua sifat dan keistimewaan yang
membuat pemiliknya merasa lebih dihargai.
4) Nilai kegunaan (use value)
adalah kerja atau pelayanan yang dapat dihasilkan produk atau
yang dapat dibantu dihasilkan oleh produk.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


40

Sementara itu, nilai sesungguhnya (real value) adalah tingkat


penerimaan dari produk oleh konsumen dan merupakan indeks akhir dari
nilai ekonomi.

b. Definisi Rekayasa Nilai (Value Engineering)


Value Engineering adalah :
1) suatu teknik manajemen yang telah teruji yang menggunakan
pendekatan sistematis dan suatu upaya yang diatur sedemikian
rupa untuk menganalisa fungsi suatu item / masalah atau sistem
dengan tujuan untuk memperoleh fungsi yang diminta dengan
biaya kepemilikan total yang paling kecil, tentu saja disesuaikan
dengan persyaratan permintaan penampilan, rehabilitas, kualitas,
dan kemudahan untuk pemeliharaan suatu proyek (Rochmanhadi,
Teknik Penilaian Desain-Value Engineering, 1992).
2) suatu sistem pemecahan masalah yang dilaksanakan dengan
menggunakan kumpulan teknik tertentu, ilmu pengetahuan, tim
ahli pendekatan kreatif teroganisasi yang memiliki tujuan untuk
mengidentifikasi secara efisien biaya yang tak diperlukan seperti
biaya yang tidak menghasilkan kualitas, kegunaan, umur, dan
penampilan produk serta daya tarik terhadap konsumen (Lawrence
D. Miles. Techniques of Value Analysis and Engineering 2nd ed.
1972).
3) suatu pendekatan yang kreatif dan terorganisir dengan tujuan untuk
mengoptimalkan biaya dan atau kinerja sebuah sistem atau fasilitas
(Alphonse J. Dell Isola. Value Engineering in Construction
Industry 3rd ed., 1982).
4) suatu pendekatan tim yang profesional dalam penerapannya,
berorientasi fungsi dan sistematis yang digunakan untuk
menganalisa dan meningkatkan nilai suatu produk, disain fasilitas,
sistem, atau servis suatu metodologi yang baik untuk
memecahkan masalah dan atau mengurangi biaya namun
meningkatkan persyaratan kinerja atau kualitas yang ditetapkan
(Society of American Value Engineers (SAVE) International).

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


41

5) suatu evaluasi teknik dan nilai dari suatu pembangunan proyek


fisik dengan menggunakan pendekatan sistematis. Evaluasi
terhadap proyek dan/atau bagian proyek dilakukan tanpa
mengorbankan fungsi dan kekuatannya (Asiyanto, Construction
Project Cost Management, 2005).
6) suatu studi terhadap semua cara yang mungkin untuk
mengembangkan produk baru yang akan menunjukkan secara tegas
kinerja fungsi yang diperlukan pada harga minimum (Yusuf
Latief, Materi Kuliah Dasar Manajemen Konstruksi, 2008).
7) suatu usaha yang terorganisir yang ditujukan untuk menganalisa
fungsi dari barang dan jasa untuk mencapai fungsi dasar dengan
biaya total yang paling rendah, konsisten dengan pencapaian
karakteristik yang esensial (Chaidir Anwar Makarim, Materi
Pelatihan Aplikasi dan Sertifikasi Internasional Keahlian Value
Engineering, 2007).
8) as a disciplined procedure directed towards the achievement of
necessary function for minimum cost without detriment to quality,
reliability, performance or delivery (C. Alan Short, et al, Impacts
of Value Engineering on Five Capital Arts Projects, 2007)
9) is the systematic application of recognized, techniques, by multi-
disciplined team(s) which identifies the function of a product or
service; establishes a worth for that function; generates
alternatives through the use of creative thinking; and provides the
needed functions, reliably, at the lowest overall cost (Value
Standard and Body of Knowledge, 2007).
10) (synonymous with the terms value management and value analysis)
is a professionally applied, function-oriented, systematic team
approach used to analyze and improve value in a product, facility
design, system or service, a powerfull methodology for solving
problems and/or reducing cost while improving
performance/quality requirement. By enhancing value

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


42

characteristic VE increases customer satisfaction and adds value


to your investment (Society of Japenese Value Engineering/SJVE).

Program VE mencari kemampuan manajemen seseorang untuk


mengadakan perubahan yang berarti dengan cara agar dapat menemukan
biaya yang tidak berguna dan menghilangkannya. Ada beberapa
desainer dengan pandangan negatif menyatakan bahwa VE itu adalah
mengubah hak cipta atau otoritas atas desain yang mereka buat tanpa
didasari prinsip-prinsip keteknikan dan persyaratan-persayaratan yang
diminta oleh pemilik pekerjaan pada waktu itu. Ada juga pemilik yang
sulit membedakan antara VE dan sekedar pekerjaan kurang.

Menurut SAVE-I, Value Engineering (VE) bukan hanya sekedar


menganalisis biaya, tetapi mempunyai pengertian bahwa Value
Engineering adalah :
1) Orientasi Sistem (Systems Oriented) rencana kerja formal untuk
mengindentifikasi dan menghilangkan biaya-biaya yang tak perlu
(Unnecessary costs).
2) Pendekatan multi disiplin kelompok (Multidisciplined Team
Approach) tim yang terdiri dari perencana-perencana
berpengalaman dan konsultan Value Engineering.
3) Life Cycle Oriented memperhitungkan total biaya dalam jangka
waktu siklus proyek, termasuk total biaya untuk memiliki dan
mengoperasikan fasilitas.
4) Teknik Manajemen yang telah terbukti kebenarannya (A Proven
Management Technique)
5) Orientasi fungsional (Function Oriented) menghubungkan fungsi
yang diinginkan dengan nilai yang diterima.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


43

Sedangkan DR Yusuf Latief memberikan definisi bahwa Value


Engineering bukanlah :
1) Koreksi Desain (Design Review), Value Engineering tidak
bermaksud mengoreksi kekurangan-kekurangan dalam desain, juga
tidak bermaksud mengoreksi perhitungan-perhitungan yang dibuat
oleh perencana.
2) Proses membuat murah (A Cheapening Process), Value
Engineering tidak mengurangi/memotong biaya dengan
mengorbankan keadaan dan performa yang diperlukan.
3) Sebuah keperluan yang dilakukan pada seluruh desain (A
Requirement done on all design), Value Engineering bukanlah
merupakan bagian dari jadwal peninjauan kembali dari perencana,
tetapi merupakan analisis biaya dan fungsi.

4) Kontrol Kualitas (Quality Control), Value Engineering lebih dari


sekedar peninjauan kembali status gagal dan aman sebuah hasil
desain.

Kajian value engineering adalah analisis terhadap fungsi dengan


menghilangkan atau mengubah sesuatu yang menambah biaya tetapi tidak
berpengaruh terhadap fungsi. Kajian value engineering menggunakan teknik yang
kreatif dan informasi teknis terakhir yang terkait dengan material dan metode
sehingga alternatif penyelesaian pekerjaan dapat dibuat untuk fungsi spesifiknya,
bukan dengan memangkas biaya dengan membuat konstruksi lebih kecil atau
menggunakan bahan yang lebih murah.

2.5.3 Maksud dan Tujuan Value Engineering

Penerapan VE pada pelaksanaan proyek menurut Iman Suharto


diharapkan mampu :
1) meningkatkan manfaat dengan tidak menambah biaya.
2) mengurangi biaya dengan mempertahankan manfaat.
3) kombinasi dari keduanya.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


44

Hario Sabrang dalam Lembar Pembahasan Pengajaran Ekonomi


Perancangan Proyek Konstruksi dengan Teknik Analisis Enjiniring Nilai (Value
Engineering), PPBIT-MK-UI, 1996, menyatakan bahwa dalam pemberian
contoh-contoh di atas, optimasi dalam rumus berikut ini:

Manfaat bersih = Manfaat Biaya (2.1)

Kombinasi 1 :
Manfaat bersih ( ) = Manfaat (=tetap) Biaya ( )
Kombinasi 2 :
Manfaat bersih ( ) = Manfaat ( ) Biaya (=tetap)
Kombinasi 3 :
Manfaat bersih ( ) = Manfaat ( ) Biaya ( )

Tujuan aplikasi VE di dalam proyek pembangunan adalah untuk


menekan biaya pelaksanaan fisik serendah mungkin dengan cara mengurangi
biaya-biaya yang tidak perlu tanpa mengubah fungsi dan kekuatan struktur. Selain
penghematan biaya yang diperoleh, bisa juga memperoleh keuntungan yang lain
seperti misalnya percepatan waktu pelaksanaan (Asiyanto, 2005).

Selain itu menurut Adhi Suyanto dalam paper untuk masukan


Penyusunan Rapermen Pedoman Pemeriksaan Keteknikan, 2007 menuliskan
bahwa maksud dari kajian VE adalah mendapatkan fungsi yang dibutuhkan suatu
item atau komponen, atau bagian dari suatu sistem atau fasilitas dengan biaya
yang terendah. Biaya memegang peran yang penting karena merupakan dasar
dalam penghematan dan menentukan pemilihan aplikasi. Hasil merupakan biaya
terendah yang dapat menghasilkan fungsi yang diperlukan.

2.5.4 Konsep Utama VE

Usaha efisiensi dana pembangunan fisik, dapat dilakukan dengan


menerapkan konsep VE untuk menghasilkan biaya pelaksanaan fisik serendah-
rendahnya sesuai dengan batasan fungsional dan teknis yang berlaku yang

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


45

merupakan batasan minimum yang umum berlaku bagi produk fisik yang
dimaksud. Konsep VE dapat mulai diterapkan pada periode perancangan maupun
pelaksanaan.
Konsep VE menggunakan pendekatan fungsional sebagai pendekatan
dasar dalam melakukan studi yang dilakukan dengan cara :
a. function definition, menentukan fungsi utama yang harus diperankan oleh
bagian yang menjadi objek studi
b. function evaluation, mengeliminasi bagian-bagian yang tidak diperlukan
c. function alternatif, mengembangkan alternatif penyelesaian
d. membandingkan dengan mempertimbangkan biaya siklus hidup.

Konsep VE memerlukan estimasi biaya secara rasional dan terorganisasi,


karena untuk menentukan biaya total seminimal mungkin tidak hanya biaya utama
yang dikeluarkan dalam pelaksanaan proyek, tetapi juga biaya operasional dan
pemeliharaan, nilai sisa, biaya penggantian dan biaya lain yang terkait. Dalam
melaksanakan konsep VE, unsur waktu memegang peranan penting

Konsep utama metodologi VE terletak pada fungsi, biaya, dan manfaat


(DellIsola, 1982). Untuk dapat memahami VE lebih mendalam perlu meletakkan
pengertian mengenai arti nilai, biaya dan fungsi. VE memusatkan analisis pada
masalah nilai terhadap fungsinya, bukan sekedar analisis biaya tetapi dicari biaya
terendah yang dapat memenuhi fungsinya. Menurut Iman Soeharto, 1995,
hubungan nilai, biaya, dan fungsi, dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Nilai
Nilai (value) mempunyai arti yang sulit dibedakan dengan biaya (cost)
atau harga (price). Nilai mengandung arti subyektif, apalagi bila
dihubungkan dengan moral, etika, sosial, ekonomi dan lain-lain.
Perbedaan pengertian antara nilai dan biaya adalah:
1) Ukuran nilai ditentukan oleh fungsi atau kegunaannya sedangkan
harga atau biaya ditentukan oleh substansi barangnya atau harga
komponen-komponen yang membentuk barang tersebut.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


46

2) Ukuran nilai lebih condong ke arah subyektif sedangkan biaya


tergantung kepada angka (monetary value) pengeluaran yang telah
dilakukan untuk mewujudkan barang tersebut.

b. Biaya
Biaya adalah jumlah segala usaha dan pengeluaran yang dilakukan dalam
mengembangkan, memproduksi dan aplikasi produk. Penghasil produk
selalu memikirkan akibat dari adanya biaya terhadap kualitas, realibilitas
dan maintainability karena akan berpengaruh terhadap biaya bagi
pemakai.

c. Fungsi
Fungsi diartikan sebagai elemen utama dalam VE, karena tujuan VE
adalah untuk mendapatkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan dari suatu item
dengan biaya total terendah.
Menurut Miles, esensi dari seluruh teknik VE adalah untuk menjamin
fungsi yang sesuai untuk biaya yang sesuai. Fungsi tersebut disebut
dengan fungsi beli. Konsumen tidak membeli barang, tetapi membeli
fungsi.

Singkatnya, produk atau jasa harus menunjukkan kebutuhan yang


dikehendaki dan harus diinginkan oleh konsumen. Untuk
mengindentifikasi fungsi dengan cara yang mudah adalah dengan
mengunakan kata kerja dan kata benda seperti yang terdapat dalam
Tabel.2.3.

Pemahaman akan arti fungsi amat penting, karena fungsi akan menjadi
objek utama dalam hubungannya dengan biaya. Fungsi dapat dibagi
menjadi 2 kategori :
1) Fungsi dasar yaitu suatu alasan pokok sistem itu terwujud, yaitu dasar
atau alasan dari keberadaan suatu produk dan memiliki nilai
kegunaan.
2) Fungsi kedua (secondary function), yaitu kegunaan yang tidak
langsung untuk memenuhi fungsi dasar, tetapi diperlukan untuk
menunjangnya.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


47

Dan biasanya merupakan hasil dari konfigurasi disain tertentu.

Tabel 2.3. Identifikasi Fungsi dengan Menggunakan


Kata Kerja dan Kata Benda

Fungsi
Barang atau Jasa
Kata Kerja Kata Benda
1. Ballpoint menuliskan kata-kata
2. Kacamata menajamkan Penglihatan
3. Jembatan menghubungkan Tepian
4. Waduk menyimpan Air
5. Gedung kantor menyediakan ruang kerja
6. Pondasi menyangga Bangunan
7. Tiang menyangga Atap
8. Pelatihan mengalihkan Keterampilan
9. Konsultasi memberikan Nasehat

Sumber : Hario Sabrang, Lembar Pembahasan Pengajaran Ekonomi Perancangan


Proyek Konstruksi dengan Teknik Analisis Enjiniring Nilai (Value
Engineering), PPBIT-MK-UI, 1996

Ilustrasi pemahaman fungsi dasar (primer) dan fungsi kedua (sekunder)


dapat dilihat pada tabel 2.4. berikut.

Tabel 2.4. Fungsi Primer dan Sekunder

Barang atau Fungsi Primer Fungsi Sekunder


Jasa Kata Kerja Kata Benda Kata Kerja Kata Benda
1. Jembatan menghubungkan tepian 1. memperindah 1. lingkungan
2. memberikan 2. landmark
2. Waduk menyimpan air 1. menternakkan 1. ikan
2. menyediakan 2. wisata
3. Gedung kantor menyediakan ruang kerja memberikan landmark
4. Pelatihan mengalihkan keterampilan
5. Konsultasi memberikan nasehat

Sumber : Hario Sabrang, Lembar Pembahasan Pengajaran Ekonomi Perancangan


Proyek Konstruksi dengan Teknik Analisis Enjiniring Nilai (Value
Engineering), PPBIT-MK-UI, 1996

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


48

Selain itu, D. Miles mengelompokkan fungsi menjadi:


1) Fungsi kerja dihubungkan dengan nilai kegunaan.
2) Fungsi jual dihubungkan dengan nilai keindahan atau penghargaan.

Dengan memadukan prinsip-prinsip konsep efisiensi biaya, program


rekayasa nilai konstruksi dapat mengefisienkan biaya proyek secara
optimal dengan cara menganalisis fungsi suatu item kegiatan untuk
menyederhanakan atau memodifikasi perencanaan atau pelaksanaan
dengan tetap mempertahankan/meningkatkan kualitas yang diinginkan dan
mempertimbangkan operasional pemeliharaan (Silia Yuslim, Program
Rekayasa Nilai Konstruksi bagi Efisiensi Biaya Proyek, Jurnal Teknik
Sipil Universitas Tarumanagara, No. 1 Tahun ke IX-Maret/2003).

d. Manfaat
Manfaat adalah nilai uang ekivalen dari kinerja produk.

e. Hubungan Nilai, Biaya, dan Manfaat


Hubungan ketiga parameter di atas adalah sebagai berikut :
Nilai = manfaat/biaya
dimana : nilai < 1 kinerja kurang
nilai 1 kinerja baik
Nilai = biaya/manfaat
dimana : nilai > 1 kinerja
nilai 1 kinerja baik

2.5.5 Komponen Value Engineering

Dalam Artikel Untuk Penghematan VE Bisa Diterapkan di Semua Sektor,


yang dimuat di Majalah Jalan & Transportasi, Vol. 052, tt, salah satu komponen
dalam value engineering adalah pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan value
engineering adalah Pengguna Jasa, Penyedia Jasa yaitu Kontraktor, Konsultan
Perancang, Konsultan Pengawas, dan Konsultan Value Engineering. Para pihak
tersebut wajib untuk menaati aturan main dan saling menghormati kode etik
profesi, hak dan kewajiban masing-masing.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


49

Pengguna jasa dalam hal ini pemilik proyek wajib memberikan informasi
selengkap-lengkapnya kepada Konsultan Value Engineering sehubungan dengan
objek studi dan memberikan kesempatan kepada Konsultan Value Engineering
untuk melakukan penelitian pada semua bagian objek studi.

Konsultan Perancang wajib memberikan informasi, dan melakukan


diskusi dengan Konsultan VE sehubungan dengan rancangannya selama terlibat
dalam proses kegiatan value engineering. Konsultan Perancang juga berhak atas
fee tambahan atas perancangan kembali akibat perubahan yang dihasilkan oleh
kegiatan VE. Kontraktor mempunyai kewajiban untuk melaksanakan pekerjaan
sesuai perubahan yang dihasilkan oleh proses VE. Konsultan Pengawas
melaksanakan lingkup tugas pengawasan sesuai dengan spesifikasi perubahan
rancangan hasil proses VE.

Konsultan VE berhak menerima bagian dari penghematan sesuai dengan


perjanjian yang berlaku dan berhak mendapatkan jaminan keandalan hasil karya
dari Konsultan VE. Konsultan VE berkewajiban untuk memberikan penjelasan
usulan perubahan kepada para pihak yang terlibat dalam proyek tersebut, secara
rinci dan mudah dipahami tujuan dan kebenaran analisisnya, juga harus mampu
mempertanggungjawabkan hasil karyanya untuk melindungi kepentingan para
pihak yang terlibat dalam objek studi.

2.5.6 Dasar Pertimbangan Melakukan Studi VE

Desainer atau konsultan dalam melakukan desainnya sering terjadi


ketidaksesuaian faham dengan pemilik proyek (owner) antara permintaan pemilik
dan terjemahan desainer akan permintaan-permintaan itu kedalam rencana serta
spesifikasi pekerjaannya, sehingga banyak terjadi biaya - biaya yang tidak
berguna (unnecessary cost).

Rochmanhadi, 1992, menyatakan bahwa diantara sebab-sebab terjadinya


biaya tak berguna yang beraneka ragam termasuk, diantaranya yang menonjol
adalah:

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


50

1. Kekurangan Waktu
Setiap desainer harus menyerahkan hasil kerjanya dibatasi oleh waktu.
Kalau tidak, reputasinya akan jatuh. Artinya dengan kata lain desainer tidak
mempunyai cukup waktu untuk membuat alternatif, dengan cara
perbandingan biaya misalnya untuk mencapai suatu hasil yang dianggap
paling baik.

2. Kurangnya Informasi
Kemajuan teknologi saat ini sangat pesat. Produk-produk dan informasi
informasi baru masuk ke pasaran sangat cepat. Tidak mungkin seseorang
selalu mengikuti perubahan ini, dan tidak mungkin pula kita bisa langsung
percaya pada produk-produk dan informasi baru ini.

3. Kurangnya Ide
Spesialisasi sarjana itu bermacam-macam, tidak seorang pun dapat
menyelesaikan semua masalah. Menggabungkan pemikiran orang banyak
menjadi satu keputusan yang baik itulah masalahnya.

4. Keputusan Sementara yang jadi Permanen


Contoh :
Karena belum memperoleh informasi pasti, seorang desainer memutuskan
beban jembatan pada jalan kerja 8 ton, dan dia melanjutkan kerja desainnya
dengan asumsi dia akan membetulkan/merubah nanti kalau ia akan
memperoleh informasi yang pasti, tetapi ternyata ia tidak pernah kembali ke
hal itu. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya biaya tak berguna.

5. Kesalahan membuat konsep


Selalu ada kemungkinan adanya kesalahan membuat konsep. Karena
keterbatasan kita didalam memperkirakan atau meramalkan sesuatu di
masa mendatang, kadang-kadang segala sesuatu yang kita kerjakan
sekarang dengan berdasarkan pengalaman ilmu yang kita pelajari pada
masa lalu, ternyata kurang memenuhi persyaratan perkembangan suatu
pembangunan.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


51

6. Upaya berbuat sebaik mungkin


Meskipun kita telah berupaya sebaik mungkin didalam mengerjakan sesuatu
dengan kondisi sehari-hari yang berbeda-beda kadang-kadang hasilnya
belum seperti yang kita harapkan. Dan lagi, tenaga sebaik apapun yang ada
akan sedikit tidak berkenan kalau diperiksa oleh orang lain, apakah itu dari
dalam instansi kita sendiri ataupun dari luar.

7. Tidak Adanya Kebebasan Mutlak


Kebebasan mutlak dalam membuat desain akan berpengaruh pada biaya.
Tidak cukupnya dana untuk membuat suatu desain yang lengkap akan
berpengaruh pada produk desain tersebut. Biaya untuk desain adalah
sebagian biaya untuk proyek.

8. Politik
Politik itu sangat kompleks. Kondisi politik kadang-kadang
menguntungkan, tetapi kadang-kadang merugikan di dalam mengambil
keputusan. Kadang-kadang suatu alternatif dari suatu proyek tidak dapat
diterima oleh penduduk setempat.
Maka dari itu desainer dan konsultan VE dituntut tidak hanya yang berilmu
dan berpengalaman secara teknis, serta mau bekerja keras, tetapi juga harus
bisa luwes (fleksibel) dan bisa kompromi, mau menerima pendapat orang
lain.

9. Keengganan untuk Mencari Saran.


Saran orang lain kadang-kadang sangat bermanfaat bagi kita atau pekerjaan
kita, meskipun kita enggan mencari, apalagi menerimanya.

10. Kebiasaan Berpikir Secara Kebiasaan (Habitual Thinking)


Kebiasaan berpikir secara habitual sangat kurang baik untuk pengembangan
ide yang lama maupun timbulnya ide baru.

2.5.7 Hubungan VE dengan Program-Program Penghematan Biaya Lain

Value engineering adalah merupakan alat teknik dasar yang secara luwes
dapat diganti dengan sistem lain dari manajemen proyek, karena teknik ini adalah

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


52

teknik dasar maka dapat digunakan untuk menunjang sehubungan dengan sistem
yang lain.

Asiyanto, 2005, menyatakan bahwa penghematan yang diperoleh dalam


aplikasi VE adalah penghematan yang juga berkaitan dengan waktu, metode,
tenaga, dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan biaya investasi proyek.
Penghematan-penghematan tersebut dapat digolongkan menjadi:

1. Yang bersifat colateral, yaitu penghematan yang terjadi dalam lingkup


pekerjaan kontraktor, sehingga kontraktor berhak atas hasil penghematan
tersebut

2. Yang bersifat acquistion, yaitu penghematan yang terjadi berupa pemilikan


atau pembelian di luar lingkup pekerjaan kontraktor, sehingga kontraktor
tidak berhak atas hasil penghematan tersebut.

Sistem penghematan yang lain termasuk diantaranya adalah seperti


tersebut dibawah ini, disertai dengan penjelasan sedikit hubungannya dengan
Value Engineering itu sendiri (Rochmanhadi, 1992).

1. Pengurangan Biaya (cost reduction)


Suatu sistem yang berorientasi pada desain yang mencari cara-cara untuk
mengurangi biaya dari desain yang ada dengan cara memurahkan
komponennya. Jika Value Engineering menganalisa fungsi suatu item dan
mencari penyederhanaan atau memodifikasi desain tetapi dengan upaya
agar kualitasnya tetap konstan.

2. Mengefektifkan Biaya (cost effectiveness)


Membuat keputusan alternatif yang lebih luas, misalnya :
a. Apakah kita akan membeli secara leasing, atau
b. Apakah kita akan membuat sendiri, atau
c. Apakah kita akan menyewanya
Di dalam VE juga melakukan hal ini sebagai suatu bagian integral dari
tahap analisa dan tahap spekulasi.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


53

3. Standarisasi (standard)
Pencarian perbaikan kualitas dan penghematan biaya lewat penyelesaian
dengan menggunakan elemen elemen standar. Suku - suku cadang
standar, desain standar, modul-modul standar dan lainnya. VE juga selalu
mencari elemen-elemen standar sebagai bagian dari proses pemeriksaan.

4. Nol Kerusakan (zero defects)


Kalau ada kekurangan-kekurangan, upayakan agar kekurangan itu sekecil
mungkin. Teknik motivasi yang bertujuan meningkatkan penampilan
pekerjaan. Di dalam VE, upayanya adalah sederhana saja yaitu
menyederhanakan desain itu sendiri.

5. Kepastian Kualitas (quality assurance)


Suatu program pengontrolan dan pemeriksaan VE sangat membantu
kepastian kualitas karena VE mencari kualitas yang lebih baik.

6. Analisa Penggantian Item


Analisa ini memeriksa efek-efek kemungkinan penggantian - penggantian
item. VE tidak akan terpaku pada fungsi dasar, tetapi dapat mengadakan
perubahan-perubahan untuk menyempurnakan fungsi-fungsi.

7. Pendekatan dengan Cara Menghapuskan (elemination approach)


Hal ini dapat kita dimulai dengan pertanyaan sebagai berikut "Mengapa
tidak kita hilangkan saja bagian ini (atau seluruhnya)?". VE juga
mengadakan penghapusan-penghapusan sebagai bagian dari analisa
pencarian di dalam tahap spekulasi.

8. Pembiayaan Dasar Nol (zero base budgeting)


Suatu teknik yang memaksakan penjelasan suatu program dan menilainya
dari informasi dasar dan tidak membuat ekstrapolasi dari persyaratan-
persyaratan tahun lalu. VE juga melakukan hal yang sama, yaitu dengan
menanyakan segalanya, sampai pada kegunaan proyek itu sendiri.

9. Lingkaran Kualitas (quality circles)


Suatu diskusi teknik yang bertujuan memperoleh input dari para pekerja
yang erat hubungannya dengan produksi suatu item. Hal ini sangat sering
dan sangat populer di bidang industri di Jepang. VE juga berupaya

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


54

memperoleh input semacam ini pada tahap informasi dan tahap spekulasi
dari grup-grup diskusi.

10. Analisa Sistim (system analysis)


Sebuah riset atau strategi pradesain yang lebih merupakan seni daripada
ilmu adalah suatu cara untuk mempelajari suatu masalah yang kompleks
untuk suatu pilihan dengan kondisi yang tak tentu atau tak pasti. VE dapat
membantu mengintegrasikan sub sistim ke dalam desain secara
menyeluruh, sebagian dengan membuat perbandingan biaya siklus hidup.

2.5.8 Regulasi dan Legislasi terkait Value Engineering

Konsultan PT Indulexco Consulting Group dalam kajiannya menyatakan


bahwa penerapan value engineering di Amerika Serikat didasarkan pada Public
Law 104-106, sebagai Defense Authorization Act. Sebuah titik akhir perjalanan
bagi kalangan birokrat pemerintahan Amerika Serikat, terutama dalam zona
internal Departemen Pertahanan, yang terus menerus dikritik karena penggunaan
anggaran yang berlebihan (boros) oleh banyak kalangan di AS, hingga pasca
Perang Teluk I (1990-1991). Senator Strom Thurmond, dari Negara Bagian South
Carolina, pada tanggal 8 Juli 1995 mulai mengajukan rancangan public law yang
selanjutnya diproses dan dibahas dengan Senate Armed Services (semacam badan
pekerja senat khusus bidang militer) dan Congressional Budget Office. Pada
Februari 1996, rancangan tersebut disahkan dengan sebutan Public Law 104-106
yang merupakan produk hukum setingkat undang-undang, yang berfungsi sebagai
National Defense Authorization Act for Fiscal Year 1996. Dalam produk hukum
tersebut terdapat kutipan mengenai kewajiban hukum atas penggunaan VE dalam
proses belanja rutin Departemen Pertahanan dan badan-badan lainnya. Dalam
Public Law 104-106 seksi 4306 sub seksi 36 antara lain menyatakan bahwa:

1. Setiap badan pemerintahan berkewajiban untuk menerapkan dan


menjalankan proses maupun prosedur penghematan biaya berbasiskan value
engineering

2. Value engineering adalah metode analisis fungsi dari suatu program,


proyek, produk, bagian peralatan, bangunan, fasilitas yang dimiliki oleh

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


55

lembaga federal, yang dikontribusikan oleh kontraktor perusahaan atau


perseorangan yang berkompeten, dan diarahkan pada peningkatan
performa, keandalan, kualitas, keamanan, dan siklus pembiayaan.

Selain di atas, masih banyak regulasi yang mengatur penerapan VE di


Amerika Serikat, antara lain di Federal Highway Administration (FHWA
Department of Transportation) dengan Federal-Aid Policy Guide September 8,
1998, Transmittal 24, yaitu:

a. Section 106(e) of Title 23, United States Code provides: "For such projects
as the Secretary determines advisable, plans, specifications, and estimates
for proposed projects on any Federal-aid system shall be accompanied by a
value engineering or other cost reduction analysis."

b. Section 106(g) of Title 23, United States Code provides: "The Secretary
shall establish a program to require States to carry out a value engineering
analysis for all projects on the National Highway System [NHS] with an
estimated total cost of $25,000,000 or more."

c. Paragraph 6b(2) of DOT Order 1395.1A, Use of Value Engineering in the


Department of Transportation, dated May 8, 1992, provides: "Each DOT
Operating Administration should strongly encourage the use of VE in its
grant awards or Federally assisted programs for major transportation
projects throughout the planning, design and/or construction phases. This
may include the use of VE proposals as a result of VE studies/analyses as
well as VE incentive clauses in construction contracts."

d. Paragraph 9 of the Office of Management and Budget's (OMB) Value


Engineering Circular A-131, dated May 21, 1993, provides: "Each agency
shall report Fiscal Year results of using VE annually to OMB, except those
agencies whose total budget is under $10 million or whose total
procurement obligations do not exceed $10 million in a given fiscal year."

Menurut FIDIC, Condition of Contract for Construction for Building and


Engineering Works Designed by the Employer, First Edition, 1999, Pasal 13.2,
value engineering dapat dimungkinkan diterapkan dalam pekerjaan konstruksi,
dimana penyedia jasa (kontraktor) mengusulkan kepada Direksi Teknis berupa

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


56

suatu proposal tertulis (yang menurut pendapat penyedia jasa/kontraktor), jika


disetujui/diterima, (i) mempercepat penyelesaian pekerjaan, (ii) mengurangi biaya
Pengguna Jasa dalam hal pelaksanaan pekerjaan, operasi dan pemeliharaan, (iii)
meningkatkan efisiensi penyelesain pekerjaan atau biaya Pengguna Jasa atau (iv)
meningkatkan keuntungan bagi Pengguna Jasa.

Penerapan value engineering di Indonesia sebenarnya sudah cukup


dikenal, karena telah hadir sejak tahun 1986, namun konsepnya belum
tersosialisasikan secara optimal. Hal ini terlihat dengan belum adanya peraturan
pemerintah yang mengatur penerapan value engineering, sehingga sulit untuk
mendapatkan acuan atau legalitas yang jelas. Namun demikian terdapat beberapa
produk hukum yang dapat dijadikan sebagai referensi penerapan value
engineering, yaitu:

a. Undang Undang RI Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi

Secara substantif belum memuat pasal-pasal yang berkaitan dengan VE di


Indonesia, namun ada dua semangat yang dapat dijadikan pendorong bagi
setiap pemangku kepentingan sektor jasa konstruksi di Indonesia untuk
menyongsong masa depan jasa konstruksi yang lebih prospektif berbasiskan
value engineering, yaitu:

1) Pasal 2 yang menyatakan bahwa : Pengaturan jasa konstruksi


berdasarkan pada asas kejujuran dan keadilan, manfaat, keserasian,
keseimbangan, kemandirian, keterbukaan, kemitraan, keamanan dan
keselamatan demi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Kata manfaat dapat ditransformasikan pada orientasi fungsi yang


menjadi fokus utama penerapan value engineering, sehingga dengan
optimalisasi fungsi dalam setiap jasa konstruksi yang dijalankan, nilai
manfaat dari eksistensinya akan semakin besar dirasakan oleh
masyarakat luas.

2) Pasal 32 yang antara lain memuat bahwa masyarakat jasa konstruksi


adalah para stakeholders yang berkepentingan pada terbinanya kualitas
jasa konstruksi di Indonesia.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


57

Departemen Pekerjaan Umum selaku departemen teknis yang langsung


berkaitan dengan pembinaan jasa konstruksi, tidak dapat lepas dari
tanggung jawab mengenai baik-buruknya sektor jasa konstruksi di
Indonesia. Dengan demikian Departemen PU memiliki urgensi yang
sangat besar pada eksistensi regulasi penerapan value engineering di
masa mendatang.

b. Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman


Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Lampiran I Bab I C.3.a.9) antara lain menyatakan bahwa apabila dalam


dokumen pengadaan mengatur kemungkinan calon penyedia barang/jasa
menyampaikan penawaran alternatif, maka penawaran alternatif yang
ternyata baik dari segi teknis maupun harga lebih menguntungkan bagi
negara (harga lebih rendah dari penawaran utama), dapat diusulkan sebagai
calon pemenang lelang dengan ketentuan penawaran alternatif yang
dievaluasi hanya penawaran alternatif dari calon penyedia barang/jasa yang
penawaran utamanya merupakan penawaran terendah dan responsif.

c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tanggal 27


Desember 2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung
Negara. Pada peraturan yang baru tersebut, ketentuan penerapan VE dalam
pembangunan bangunan gedung negara adalah sebagai berikut:

Bab V.B.2.b.1).h) :

Untuk pekerjaan pembangunan dengan luas bangunan diatas 12.000


m2 atau diatas 8 lantai, penyedia jasa perencanaan diwajibkan pada
tahap pra-rencana menyelenggarakan paket satuan kerja lokakarya
value engineering (VE) selama 40 jam secara in-house, untuk
mengembangkan konsep perencanaan, dengan melibatkan partisipasi
pengelola kegiatan, penyedia jasa manajemen konstruksi, dan pemberi
jasa keahlian VE.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


58

Bab V.B.2.b.2).c) :

Menyelenggarakan paket kegiatan lokakarya value engineering untuk


pengembangan konsep perencanaan teknis, bagi satuan kerja yang
mewajibkan kegiatan tersebut.

Bab V.B.2.d.2).i) :

Dalam hal satuan kerja mewajibkan menggunakan metode VE, maka


pelaksana konstruksi dapat menyusun value-engineering change
proposal (VECP) dalam rangka pemberian alternatif penawaran yang
disertakan pada surat penawaran.

Bab V.B.2.d.2).j) :

Dalam penyusunan VECP, pelaksana konstruksi secara in-house, bagi


yang memiliki tenaga ahli VE, atau bekerja sama dengan pemberi jasa
keahlian VE, harus menggunakan metodologi yang sesuai dengan
standar pelaksanaan studi VE yang lazim berlaku.

Bab V.B.2.d.2).k) :

Dalam hal terjadi penghematan karena penggunaan VECP dalam


rangka pemberian alternatif penawaran tersebut, pengaturan biaya hasil
penghematan (H) adalah sebagai berikut:

- 60 % dari H digunakan untuk meningkatkan mutu dan/atau


menambah kegiatan pekerjaan konstruksi fisik atau disetor ke Kas
Negara;

- 25 % dari H untuk tambahan biaya jasa pelaksana konstruksi dan


pelaksana VE;

- 10 % dari H untuk tambahan biaya jasa konsultan perencana


konstruksi;

- 5 % dari H untuk tambahan jasa konsultan manajemen konstruksi


untuk kegiatan yang menggunakan jasa Konsultan Manajemen
Konstruksi, sedangkan untuk kegiatan yang menggunakan
Konsultan Pengawas Konstruksi, biaya penghematan ini

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


59

ditambahkan untuk meningkatkan mutu dan atau menambah


kegiatan pekerjaan konstruksi fisik, atau disetor ke Kas Negara.

Dengan demikian metode value engineering dapat diterapkan oleh penyedia


jasa pelaksana konstruksi dalam pembangunan bangunan gedung negara,
dengan didahului penyusunan value engineering change proposal (VECP)
yang dilaksanakan secara in-house atau melibatkan tenaga ahli VE dari luar.
Dan hasil penghematan yang diperoleh dapat dilakukan pembagian
sebagaimana digambarkan pada Tabel 2.5. sebagai berikut:

Tabel 2.5. Persentase Pembagian Hasil VE

Prosentase
Peruntukan
Penghematan
60% x penghematan peningkatan mutu, dan/atau
menambah kegiatan pekerjaan konstruksi fisik, atau
disetor ke Kas Negara
25% x penghematan tambahan biaya jasa pelaksana konstruksi, dan
tambahan biaya jasa pelaksana VE
10% x penghematan tambahan biaya jasa konsultan perencana konstruksi
5% x penghematan tambahan jasa konsultan manajemen konstruksi untuk kegiatan
yang menggunakan jasa Konsultan Manajemen Konstruksi,
sedangkan untuk kegiatan yang menggunakan Konsultan
Pengawas Konstruksi, biaya penghematan ini ditambahkan untuk
meningkatkan mutu, dan/atau menambah kegiatan pekerjaan
konstruksi fisik, atau
disetor ke Kas Negara.

Sumber : Permen PU Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan


Bangunan Gedung Negara

d. Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 108 Tahun 2003 tanggal 29


Desember 2003 tentang Aplikasi Value Engineering.

Peraturan ini menghendaki adanya peningkatan kemampuan manajemen


dan memromosikan perubahan secara profesional dan progresif dengan
melakukan identifikasi, analisis fungsi, pengembangkan kreativitas desain
dan metode konstruksi alternatif untuk menghilangkan biaya yang tidak
diperlukan sehingga tercapai efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran
dan semata-mata bukan pemotongan harga. Konsep value engineering dapat
dilakukan baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


60

Dalam peraturan ini, value engineering dimasukkan dalam pembagian


penghematan yang menggunakan prosentase sebagai berikut:

Tabel 2.6.Persentase Insentive Value Engineering

No. Uraian Keterangan


1. Biaya untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana A
semula dan sesuai dengan kontrak setelah dikurangi PPN
2. Biaya untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Value B
Engineering Change Proposal (VECP) sebelum PPN
3. Penghematan brutto = (A - B) C
4. Keuntungan kontraktor = 10% dari C D
5. Penghematan netto = C D E
6. Penghematan untuk Kepala Unit/Satuan Kerja 60% x E
7. Pembagian (sharing) penghematan untuk konsultan VE 15% x E
8. Pembagian (sharing) penghematan untuk kontraktor 10% x E
9. Pembagian (sharing) penghematan untuk konsultan perencana 10% x E
10. Pembagian (sharing) penghematan untuk konsultan pengawas 5% x E

Sumber : Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 108 Tahun 2003 tanggal 29
Desember 2003 tentang Aplikasi Value Engineering.

Namun pada April 2007, produk hukum tersebut dicabut dengan adanya
penolakan dari Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) karena
dianggap tidak dapat diimpelementasikan dan belum adanya asosiasi ahli
VE yang berwenang untuk memberikan sertifikat keahlian bidang VE.

2.5.9 Penerapan Value Engineering

Dalam artikel Untuk Penghematan VE Bisa Diterapkan di Semua Sektor


yang dimuat dalam Majalah Jalan & Transportasi, Vol. 052, tt, penghematan
melalu kegiatan value engineering dapat diterapkan pada semua sektor. Penerapan
VE dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan sistematis dan kreatif yang
bertujuan untuk mendapatkan penghematan dengan mengusahakan biaya produk
dan operasi serendah-rendahnya namun sesuai dengan batasan fungsional dan
teknis dari produk dan sistem untuk menjamin keandalan produk tersebut.
Menurut Irsan Ilyas, tidak ada pihak manapun yang dirugikan oleh VE baik

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


61

Satker, Konsultan, Kontraktor, maupun Pengguna Jasa sebab dengan teknik VE


memungkinkan pengguna Jasa, Perencana dan Kontraktor untuk bersama-sama
mempelajari kriteria dari suatu kegiatan guna menghasilkan penghematan biaya
dari pelaksanaan suatu produk atau sistem tertentu.

Penerapan kajian value engineering berguna untuk menghilangkan biaya-


biaya yang tidak perlu, tidak menghasilkan kegunaan, kualitas, usia bangunan,
penampilan, maupun sesuatu yang diperlukan oleh pengguna jasa. Penerapan
value engineering menggunakan upaya profesional untuk mengoptimumkan biaya
total, mengalokasikan biaya dan waktu, menggunakan rencana manajemen setelah
melalui pendekatan fungsional penyelesaian masalah, menggunakan tim value
engineering yang tidak terlibat dalam pengambilan keputusan sebelumnya, serta
mendokumentasikan hasil kajian serta sistem feed back.

Ketika mengimplementasikan VE, maka pendekatan yang terorganisir


harus dilakukan kontraktor untuk dapat menghasilkan alternatif - alternatif desain
atau metode konstruksi yang dapat menghemat biaya proyek. Sehingga bisa
menjadi bahan pertimbangan owner untuk menyetujui VE yang akan dilakukan
oleh kontraktor.

Program VE secara teoritis dapat digunakan kapan saja selama siklus


pelaksanaan pekerjaan. Sering sekali terjadi bahwa proyek telah dimulai
sedangkan studi penilaian belum dibuat. Disini waktu sangatlah penting, yaitu
pada tahap konsep dan berlanjut sampai desain selesai dan selanjutnya pada waktu
pelaksanaan pekerjaan. DellIsola mengilustrasikan biaya dengan siklus tersebut
seperti terlihat pada gambar 2.6.

Rochmanhadi (1992) menguraikan mengenai penerapan VE pada setiap


tahap sebagai berikut:
a. Tahap Konsep Desain

Studi VE sebaiknya dimulai dari tahap konsep desain, karena pada tahap ini
kita masih mempunya fleksibilitas yang tinggi untuk membuat perubahan
tanpa biaya tambahan untuk redesain. Karena desain berjalan terus, biaya
untuk membuat suatu perubahan akan terus bertambah sampai suatu titik
dimana sudah tidak bisa lagi membuat perubahan. Penghematan-

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


62

penghematan akan dapat dilihat pada redesain, pemesanan kembali barang-


barang serta penjadwalan kembali di dalam tahap konsep ini tentunya
estimasi biaya dibuat berdasarkan tujuan, syarat-syarat yang diminta dan
kriteria yang digunakan. Pemilik menentukan input-input yang sangat
penting tersebut kepada desainer sebagai awal dasar dari pekerjaannya.
Sebaliknya desainer memberikan gambaran yang luas kepada pemilik serta
biaya-biaya yang akan dikeluarkan oleh pemilik untuk pelaksanaan
pekerjaan termaksud.

Gambar 2.6. Potensi Penghematan Biaya Terhadap Perubahan Biaya


Sumber : Rochmanhadi (1992)
Dari pengalaman-pengalaman terdahulu ternyata bahwa desainer sangat
berpengaruh pada biaya proyek secara keseluruhan. Begitu pula pemilik
berpengaruh pada desainer di dalam melaksakan tugas pekerjaannya.
Pengaruh-pengaruh berdampak 70% dari biaya total. Oleh karena itu VE
yang diupayakan sejak tahap konsep sangat berpengaruh pada kualitas dan
pengurangan biaya proyek. Pada tingkat ini, pelaksanaan VE dapat
memberikan saran-saran kepada pemilik untuk menentukan antara

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


63

persyaratan-persyaratan yang ada dengan kemauannya, hal ini


membutuhkan saling pengertian antara pemilik dengan desainer mengenai
fungsi dasar pelaksanaan desain. Pembicaraan yang mendalam antara
pemilik, desainer dan pelaksana VE harus dilaksanakan karena sangat
diperlukan untuk mempelajari semua persyaratan. Di lain pihak, desainer
harus dapat menerima kesepakatan yang akan dicapai dari pembicaraan itu,
karena hal itu akan membantunya untuk memahami yang sebenarnya apa
yang diinginkan oleh pemilik dan selanjutnya untuk menghilangkan hal-hal
yang tidak berguna dalam pekerjaan itu.

b. Tahap Akhir Desain


Karena desain dikerjakan mulai dari tahap konsep, lewat perkembangan
desain yang terprogram, yang sistematis, dari tahap persiapan sampai tahap
desain akhir (Final Design), studi VE sebaiknya dilaksanakan sesuai
dengan tahap - tahap tersebut. Lebih baik lagi jika analisa VE menyertai
tiap-tiap tahapan desain, agar desainer dapat menyesuaikan penilai tim VE,
untuk selanjutnya diusulkan kepada pemilik untuk diputuskan. Paling
lambat analisa VE harus dilaksanakan pada tahap desain persiapan dan
mengikuti perkembangannya. Pada tahap ini keputusan - keputusan untuk
desain yang telah ditetapkan akan dapat dijadikan patokan untuk
menentukan biaya bangunan pada suatu tingkat kepastian yang dapat
dipertanggung jawabkan.
Studi VE tambahan dapat dilaksanakan sejalan dengan tahap desain akhir
(final design), tetapi dengan syarat bahwa elemen-elemen yang harus
dirubah tanpa biaya redesain yang mahal harus dapat dibatasi.

c. Tahap Konstruksi
Upaya VE yang lain juga dapat dilaksanakan selama konstruksi, tetapi
sangat bergantung dari dua hal yaitu :
1). Jika item sudah ditentukan oleh studi VE sebelumnya dan
memerlukan pengecekan lebih lanjut sebelum secara pasti item
tersebut diputuskan.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


64

Contoh : Suatu item yang telah ditentukan oleh studi VE pada tahap
desain persiapan membutuhkan testing dan research sebelum
diputuskan. Meskipun ada kelambatan di dalam proses ini, mungkin
lebih menguntungkan untuk dilaksanakan kalau hasilnya dapat
merupakan penghematan yang berarti.
2). Jika kontraktor menganggap bahwa sesuatu hal dapat diperbaiki. Hal
semacam ini akan selalu timbul kalau di dalam kontrak ada pasal
mengenai insentif, yaitu pasal yang menyebutkan bahwa kalau
kontraktor menemukan hal-hal semacam ini, maka hasil penghematan
akan dibagi dua antara kontraktor dan pemilik. Dapat dimengerti
bahwa kontraktor akan selalu berusaha untuk menemukan hal
semacam itu.

Acharya Prakash, et al, dalam makalah Think Value Engineering,


Journal of Management in Engineering ASCE/November/December 1995,
menyatakan bahwa terdapat tujuh tahap dalam proses penerapan metode VE
sebagai berikut:

a. Pemilihan tim (Team Selection)


Suatu tim VE terdiri dari seorang pemimpin (leader) yang bertugas
mengawasi para anggota tim yang mempunyai keahlian-keahlian untuk
mengembangkan ide - ide VE dan sudah terlatih (experience) dalam proses
studi VE. Proyek manajer dapat menjadi pemimpin tim dengan proyek
engineer dan para ahli lainnya sebagai anggota. Kunci keberhasilan dalam
melakukan VE adalah keahlian dan pengalaman anggota tim dalam proses
studi VE.

b. Pengumpulan Informasi (Information Gathering)


Pada tahapan proyek ini terdiri dari pengumpulan informasi - informasi
yang berkaitan dengan masalah - masalah teknik dan biaya. Para anggota
tim dapat mengumpulkan informasi - informasi dari owner, suplier dan dari
proyek - proyek serupa yang pernah dikerjakan. Pemimpin tim bertanggung
jawab untuk mengumpulkan informasi - informasi yang dibutuhkan serta
menyajikan kepada anggota.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


65

c. Sumbang Saran (Brainstorming)


Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan, maka beberapa alternatif
penghematan biaya harus dibahas dan didokumentasikan. Desain awal
(original design) dengan desain alternatif dibandingkan dari sudut pandang
teknik dan biaya. Pada tahap ini dilakukan juga alternatif dari metode
konstruksi yang dapat menghemat biaya dan menyelidiki item-item biaya
yang tinggi. Tim harus mendapat gagasan - gagasan inovatif yang dapat
membantu menghasilkan biaya yang lebih efisien.

d. Evaluasi alternatif - alternatif (Evaluating Alternatives)


Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk memilih alternatif - alternatif yang
mempunyai kemungkinan - kemungkinan besar dalam penghematan biaya.
Masing - masing alternatif dibuat ranking sesuai dengan besar penghematan
biaya yang dihasilkan.

e. Mengembangkan alternatif - alternatif (Developing Alternatives)


Setiap alternatif - alternatif yang dipilih dipelajari secara rinci, termasuk
juga analisa biaya siklus umur (life cycle cost analysis), modal, operasional
dan biaya pemeliharaan.

f. Membuat Rekomendasi (Making Recommendations)


Pada tahap ini alternatif - alternatif yang telah dikembangkan disajikan oleh
pemimpin tim, kemudian tim memilih salah satu rekomendasi atau lebih
untuk dilaporkan kepada Pengguna Jasa.

g. Mengimplementasikan (Implementing)
Pada tahap ini Pengguna Jasa dapat memilih untuk mengimplementasikan
satu atau lebih alternatif. Jika Value Engineering Change Proposal (VECP)
diterima, maka kontraktor melaksanakan proyek sesuai dengan perubahan -
perubahan yang telah disetujui dan penghematan biaya yang dihasilkan
dibagi antara Pengguna Jasa dan kontraktor.

Secara umum konstruksi selalu dihadapkan kepada tiga topik utama,


yaitu ketersediaan dana proyek, kualitas dan keamanan bangunan, dan dampak
lingkungan yang ditimbulkan akibat pelaksanaannya. Untuk itu pendanaan pada
sektor konstruksi nasional sebagai ujung tombak pembangunan infrastruktur yang

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


66

sangat dibutuhkan oleh seluruh masyarakat harus dilaksanakan secara efisien dan
efektif (PT Indulexco, 2007).

Value engineering menjadi sangat kontributif bila secara benar


dilaksanakan pada pembangunan sarana dan prasarana bandara dan moda
transportasi udara, sistem dan fasilitas penunjang bus dan perkeretaapian,
pelabuhan, jalur transportasi air, perkapalan (kargo), sistem transportasi publik,
pusat kendali trafik dan fasilitas jalan tol, terminal dan stasiun, pengendalian
dampak lingkungan, serta perencanaan arsitektur sistem transportasi pada skala
regional.

R. Barrat dalam makalah Value Engineering A New Concept in


Reducing Cost of Burn Care, Indian Journal of Plastic Surgery, Dept of Burns
and Plastic Survey, Indian, 1994, menyatakan bahwa penerapan value engineering
juga dapat dipergunakan di dunia kesehatan, dimana berdasarkan penelitian yang
dilaksanakan oleh Department of Burns and Plastic Survey of Indian dengan
analisis terhadap biaya penggunaan bahan-bahan kesehatan dan antibiotik pada
rentang waktu Agustus 1992 Januari 1993 (tanpa penerapan VE) dan April 1993
Maret 1994 (dengan penerapan VE). Hasil penelitian menunjukkan adanya
penghematan sebesar 50,07% untuk pembelian bahan-bahan kesehatan dan
sebesar 49,35% untuk pembelian antibiotik.

Berdasarkan penelitian Shen dan Liu, 2003, di Hong Kong, keberhasilan


penerapan value engineering pada sektor jasa konstruksi dipengaruhi beberapa hal
yang menonjol sebagaimana pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7.
Nominated Critical Success Factors for Value Management Studies

Groups Factors
Preparation of Workshop 1. Clear objective of VM study
2. Qualified VM fasilitator
3. Multidisciplinary composition of VM team
4. VM experience and knowledge of participants
5. Professional experience and knowledge of participants in their
own disciplines
6. Personalities of participants
7. Preparation and understanding of related information
8. Timing of VM study

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


67

Lanjutan Tabel 2.7


Groups Factors
VM Workshop 9. Structured job plan
10. Control of workshop
11. Attitude of participants
12. Presence of decision takers
13. Interaction among participants
14. Function analysis
15. Use of relative skills and techniques (such as FAST,
brainstorming, etc)
16. VM proposals selection and development
Impelementation of generated 17. Plan for implementation
proposals 18. Follow-up trailing and support for implementation
Supporting factors 19. Clients support and active participation
20. Cooperation from related departments
21. Adequate time for study
22. Financial support
23. Logistics support
Sumber : Qiping Shen dan Guiwen Liu, Critical Success Factors for Value Management
Studies in Construction, Journal of Construction Engineering and Management of
ASCE, Vol. 129, No.5, October 1, 2003

Penelitian terhadap penerapan VE juga pernah dilaksanakan dengan studi


untuk mengevaluasi pemilihan sistem konstruksi pada 10 proyek jembatan di
Mesir, dengan kriteria evaluasi adalah biaya konstruksi, ketersediaan sumber
daya, umur rencana konstruksi, tingkat progres konstruksi, umur layanan, efisiensi
desain dan pemeliharaan. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa
sebanyak 43% konstruksi jembatan menggunakan sistem konstruksi yang bukan
pilihan terbaik secara ekonomi dan teknis, sehingga direkomendasikan bahwa
studi VE harus dilaksanakan di awal proyek untuk membantu perancang dalam
mengoptimasi desain jembatan (Ismail Basha dan Ahmed A. Gab-Allah, Value
Engineering in Egyptian Bridge Construction, Journal of Construction
Engineering and Management of ASCE, Vol. 117, No.3, September, 1991)

Poegoeh Soedjito,2003, dalam penelitian terhadap penerapan value


engineering pada pembangunan gedung bertingkat tinggi di lima kota besar, yaitu
Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya, dengan responden adalah
pengelola jasa konstruksi, perencana/konsultan, dan kontraktor, menunjukkan
bahwa penerapan value engineering pada pembangunan gedung bertingkat
menjadi harapan bagi pihak pengelola jasa konstruksi. Dalam penelitian tersebut,
jenis proyek yang dominan pada kontrak lumpsum menjadi salah satu ciri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


68

kecenderungan dilaksanakannya manajemen value engineering disamping kontrak


unit price maupun jenis kontrak yang lain.

Hasil penelitian jenis kontrak kerja terhadap penerapan value enginering


dapat digambarkan pada Tabel 2.8 sebagai berikut:

Tabel 2.8. Deskripsi Jenis Kontrak Kerja Terhadap VE

Uraian Lumpsum Unit Price


No.
Informasi Value Engineering Mean Rank Mean Rank
1. Value engineering perlu diterapkan pada 4,1000 1 4,3571 1
pembangunan gedung bertingkat tinggi
2. Penggunaan akan value engineering itu hanya pada 3,8000 3 3,5000 6
proyek-proyek besar
3. Value engineering hanya memberikan penghematan 3,3500 5 3,5714 5
saja tanpa memperhatikan fungsi dari konstruksi
4. Praktek value engineering akan dapat menentukan 3,8500 2 4,2857 2
adanya penghematan, disamping tetap
mempertahankan fungsinya
5. Peran manajemen value engineering dapat 4,1000 1 4,2143 3
menunjukkan adanya penghematan dengan
mempertahankan fungsi dan menekankan pula
efisiensi dan efektivitas
6. Optimalisasi manajemen value engineering hanya 2,9000 7 3,0714 7
pada perencanaan semata
7. Value engineering sulit diaplikasikan pada 2,6500 8 3,0000 8
pengelolaan pembangunan proyek gedung bertingkat
tinggi
8. Manajemen value engineering mudah dipahami 2,9500 6 3,0714 7
9. Untuk pemahaman penggunaan manajemen value 3,4000 4 3,6429 4
engineering sebaiknya melalui pelatihan di bidang jasa
konstruksi
Sumber : Poegoeh Soedjito, Kecenderungan Penerapan Value Engineering pada
Pembangunan Gedung Bertingkat Tinggi, Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2
Desember 2003, Universitas Parahyangan, Bandung, 2003

Sedangkan hasil penelitian jenis kontrak kerja dapat terhadap efisiensi


digambarkan pada Tabel 2.9. sebagai berikut:

Tabel 2.9. Deskripsi Jenis Kontrak Kerja Terhadap Efisiensi

Uraian Lumpsum Unit Price


No.
Hubungan Nilai Efisiensi Mean Rank Mean Rank
1. Value engineering dapat mengoptimalkan pekerjaan 4,0500 3 4,3571 1
yang telah diprogramkan/direncanakan.
Lanjutan Tabel 2.9

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


69

Uraian
No. Lumpsum Unit Price
Hubungan Nilai Efisiensi
2. Untuk kinerja sumber daya manusia yang maksimal 3,7500 4 4,0000 2
akan dapat ditemukan pada pekerjaan yang
mengterapkan manajemen value engineering.
3. Efisiensi bahan/material lebih diutamakan dalam 3,4500 7 3,5714 4
penerapan penggunaan manajemen value engineering.
4. Team value engineering menghasilkan penaksiran yang 3,6500 5 3,7143 3
independen dengan mengurangi biaya tanpa
meninggalkan fungsi.
5. Dari pengalaman menunjukkan bahwa hasil efisiensi 3,3500 9 3,5000 5
pekerjaan yang dikenai value engineering mempunyai
besaran kurang dari 10% biaya total proyek.
6. Dari pengalaman menunjukkan bahwa hasil efisiensi 3,4000 8 3,2857 7
pekerjaan yang dikenai value engineering mempunyai
besaran antara 10-20% biaya total proyek.
7. Dari pengalaman menunjukkan bahwa hasil efisiensi 3,3500 9 3,2857 7
pekerjaan yang dikenai value engineering mempunyai
besaran antara 2030% biaya total proyek.
8. Dari pengalaman menunjukkan bahwa hasil efisiensi 3,6000 6 3,3571 6
pekerjaan yang dikenai value engineering mempunyai
besaran lebih dari 30% biaya total proyek.
9. Efisiensi tidak hanya pada material/bahannya, 4,1000 2 4,0000 2
melainkan di semua sumber daya yang menyusun
pembangunan gedung terencana.
10. Dalam mengelola kinerja untuk masing-masing unsur 4,2000 1 4,3571 1
pengelola pembangunan gedung harus memanfaatkan
sumber daya yang sesuai dengan pengalamannya.
Sumber : Poegoeh Soedjito, Kecenderungan Penerapan Value Engineering pada
Pembangunan Gedung Bertingkat Tinggi, Jurnal Teknik Sipil Vol. 4 No. 2
Desember 2003, Universitas Parahyangan, Bandung, 2003

2.5.10 Metodologi Value Engineering

Dalam Body of Knowledge yang merupakan SAVE International Value


Standard pada Edisi 2007, disampaikan bahwa metodologi value engineering
merupakan sistem/prosedur yang terstruktur yang bertujuan untuk meningkatkan
suatu nilai (value). Prosedur tersebut dinamakan sebagai rencana kerja (job plan).
Job plan terbagi menjadi 3 (tiga) tahap, yaitu Tahap Pra-Studi (Pre
Workshop/Study), Tahap Studi (Value Job Plan), dan Tahap Pasca-Studi (Post
Workshop/Study). Masing-masing tahapan tersebut harus mengikuti diagram alir
proses sebagaimana pada Gambar 2.7. berikut.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


70

Gambar 2.7. Diagram Alir Studi VE


Sumber : SAVE International Value Standard Edisi 2007

2.5.10.1 Tahap Pra Studi/Workshop


Pada tahap ini dilakukan pencarian informasi mengenai keinginan dari
pimpinan pemberi kerja yang akan dicapai dengan melakukan studi ini, baik
kebutuhan yang diperlukan, prioritas-prioritas yang dianggap strategis, maupun
cara untuk meningkatkan nilai organisasi. Selanjutnya dilakukan penetapan dan
pengembangan lingkup studi, pengumpulan data dan informasi, dan penyusunan
jadual studi.

2.5.10.2 Tahap Studi/Workshop


Tahap pelaksanaan studi value engineering terbagi menjadi 6 (enam)
fase, yaitu fase informasi, fase analisis fungsi, fase kreatif, fase evaluasi, fase
pengembangan, dan fase presentasi. Fase-fase tersebut dapat diuraikan secara
singkat sebagai berikut:

a. Fase Informasi (Information Phase)

Fase ini dimaksudkan untuk pemahaman bersama seluruh anggota tim pada
hal-hal yang umum dan mendasar atas proyek yang menjadi obyek studi,
yaitu dengan kegiatan antara lain mengumpulkan informasi, identifikasi isu-

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


71

isu strategis, melakukan pembandingan dengan proyek lain (benchmarking),


dan meninjau parameter-parameter penentu keberhasilan lainnya.

b. Fase Analisis Fungsi (Function Analysis Phase)

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada fase analisis fungsi adalah melakukan


identifikasi atas fungsi-fungsi secara acak (random) yang selanjutnya
diklasifikasikan menurut jenis fungsinya, baik fungsi dasar (basic function),
fungsi sampingan (secondary function), maupun fungsi lain yang terkait
proyek atau bagiannya. Dari fungsi-fungsi yang ada, dilakukan
pengembangan model dengan menggunakan metode FAST Diagram, dan
selanjutnya menghitung indeks nilai (value index) suatu fungsi untuk lebih
memfokuskan pada fase kreatif.

c. Fase Kreatif (Creative Phase)

Pada fase kreatif diharapkan Tim dapat mengembangkan ide-ide kreatif


sehingga tercipta berbagai macam alternatif fungsi-fungsi untuk
meningkatkan nilai sebuah proyek tertentu. Untuk menumbuhkan beberapa
alternatif ide yang mungkin dapat meningkatkan nilai, dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain brainstorming, gordon technique, nominal group
technique, dan sebagainya.

d. Fase Evaluasi (Evaluation Phase)

Fase evaluasi dimaksudkan untuk mengurangi jumlah ide-ide yang telah


diidentifikasi menjadi daftar pendek dengan potensi terbesar untuk
meningkatkan fungsi proyek. Kegiatan-kegiatan dalam fase ini adalah
melakukan klarifikasi dan pengelompokan setiap ide dengan mendiskusikan
bagaimana ide-ide tersebut mempengaruhi biaya proyek maupun parameter
kinerja lainnya. Selanjutnya memilih ide prioritas untuk dikembangkan lebih
lanjut.

e. Fase Pengembangan (Development Phase)

Fase pengembangan dimaksudkan untuk menganalisis dan mengembangkan


lebih lanjut daftar ide-ide menjadi beberapa alternatif nilai. Tim menciptakan
alternatif-alternatif dan skenario dengan risiko rendah-medium-tinggi dan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


72

menyampaikan alternatif gagasan tersebut kepada pimpinan/manajemen


disesuaikan dengan tujuan strategis studi ini.

Kegiatan dalam fase ini antara lain adalah membandingkan kesimpulan studi
dengan persyaratan yang ditetapkan dalam fase sebelumnya, mempersiapkan
alternatif untuk ide terpilih untuk dikembangkan lebih lanjut, mengelola
risiko dan biaya yang sesuai, melakukan analisis biaya-manfaat (cost-benefit
analysis), dan mengembangkan suatu rencana tindak untuk mendefinisikan
langkah-langkah pelaksanaan, jadual, dan tanggung jawab pada setiap
alternatif.

f. Fase Presentasi (Presentation Phase)

Menyampaikan hasil studi berupa alternatif-alternatif value kepada pimpinan,


pemangku kepentingan, atau pembuat keputusan merupakan kegiatan utama
dari fase presentasi. Hasil studi yang disampaikan berupa briefing documents,
analisis risiko, pembandingan biaya dan manfaat (cost-worth), present worth
analysis, pembandingan keuntungan dan kerugian.

2.5.10.3 Tahap Pasca Studi/Workshop

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan setelah studi adalah kegiatan


pelaksanaan dan kegiatan tindak lanjut dari studi VE. Kegiatan pelaksanaan hasil
studi merupakan kegiatan untuk meyakinkan bahwa alternatif value yang dipilih
telah dilaksanakan dan bahwa manfaat proyek hasil studi telah dapat
direalisasikan. Sedangkan kegiatan tindak lanjut pelaksanaan hasil studi
dimaksudkan untuk meningkatkan penerapan value methodology pada kegiatan
studi selanjutnya.

2.5.11 Function Analysis System Technique (FAST)

Westney, Richard E.PE,The Engineers Cost Handbook Tools for


Managing Project Cost Marcel Dekker Inc, New York, USA 1977, menyatakan
bahwa definisi dari FAST adalah suatu metode menganalisa, mengorganisir dan
mencatat fungsi-fungsi dari suatu sistem, produk, rancangan, proses, prosedur,
fasilitas suplai untuk menstimulasi pemikiran dan kreatifitas. Sistem ini pertama

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


73

kali dikembangkan pada tahun 1964 oleh Charles V. Bytheway pada UNIVAC
division of the sperry rand corporatio. FAST merupakan suatu diagram teknik
yang memperlihatkan secara grafik fungsi-fungsi dari sebuah item, sistem atau
prosedur. Hasil-hasil yang dicapai dalam studi VE sebagian besar tergantung pada
keahlian dan kreatifitas yang menentukan fungsi-fungsi dari item atau sistem yang
bersangkutan.
Dalam penggunaannya FAST berfungsi untuk:
Membantu dalam mengorganisir daftar fungsi-fungsi.
Membantu dalam menentukan fungsi dasar.
Membantu dalam menentukan fungsi-fungsi yang tidak tampak dalam daftar
fungsi-fungsi.
Menambah pengertian pada perencanaan yang ada dan penentuan masalah.
Membantu dalam mengembangkan kreatif alternatif yang berlaku.
Memperkuat penyajian visual kepada decision makers.

FAST Diagram yang pertama kali populer adalah dalam bentuk Technical FAST
Diagram yang diciptakan oleh Charles Bytheway. Metode FAST Diagram ini
sering juga disebut sebagai classical FAST Diagram, dimana Tim VE
mengidentifikasi dan mengelompokkan berbagai fungsi atas suatu objek menjadi
basic function dan requried secondary function. Selain itu juga diidentifikasi
tujuan utama sebagai higher/highest order function pada major logic path (Berawi
& Woodhead, 2005a), fungsi yang menjadi sebab utama sebagai lower/lowest
order function atau causative function (Berawi & Woodhead, 2005b), serta
fungsi-fungsi lain yang terjadi atau disebabkan oleh fungsi lain dan fungsi yang
timbul pada waktu yang bersamaan dengan fungsi lain.

Selanjutnya fungsi-fungsi disusun sedemikian rupa dengan bantuan question


words yaitu HOW WHY WHEN sebagai FAST Diagram, dimana akan
diperoleh suatu lintasan kritis yang logis (logical critical path) yang
menghubungkan antara higher order function dan lower order function. Gambar
2.8. berikut menampilkan diagram FAST-Technical.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


74

Gambar 2.8. FAST Diagram Technically Oriented


Sumber : Snodgrass, CVS et all, Function Analysis, 1986

Pada perkembangan selanjutnya Thomas Snodgrass dan Thedore Flower


melakukan modifikasi atas diagram yang sudah ada sebelumnya dengan metode
Customer-Oriented FAST Diagram, dimana fungsi-fungsi yang telah
diidentifikasi selanjutnya dilakukan pengelompokan menjadi 2 (dua) kelompok
besar, yaitu Basic Function dan Supporting Function, di mana kedua fungsi ini
akan mendukung task sebagai higher order function.
Basic function akan digolongkan lagi menjadi beberapa primary function, yang
masing-masing primary function tersebut dirinci lagi menjadi beberapa secondary
function hingga third level function. Sesuai namanya, FAST diagram ini
mempertimbangkan adanya keperluan pelanggan (customer), sehingga sebagai
supporting function terdiri dari 4 (empat) kelompok, yaitu fungsi yang menjamin
kemudahan (assure convenience), fungsi yang menjamin keandalan (assure
dependability), fungsi yang memberikan kepuasan pelanggan (satisfy user), dan
fungsi yang dapat menarik pelanggan (attract user). Selanjutnya fungsi-fungsi ini
dijabarkan menjadi secondary supporting function hingga third level supporting
function seperti pada Gambar 2.9 berikut ini.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


75

Gambar 2.9. FAST Diagram Customer Oriented


Sumber : Snodgrass, CVS et all, Function Analysis, 1986

Chaidir A. Makarim, 2007, menjelaskan mengenai prosedur membuat FAST


Diagram, yaitu:
a. Lakukan pendataan pada semua fungsi dalam suatu uraian kata kerja kata
benda
b. Tuliskan semua fungsi-fungsi secara acak (random identification)
c. Libatkan seluruh anggota tim dalam penyusunan diagram dan memecahkan
hambatan kelompok

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


76

d. Pergunakan worksheet fungsi dalam merumuskan how dan why


e. Tentukan pada level yang rinci (level of indeture or abstraction) dengan
pertimbangan dan pandangan dari anggota tim dan tergantung pada tingkat
kegunaan diagram
f. Gambarkan diagram dimulai dengan mengambil satu fungsi dengan
pertanyaan, baik why maupun how
g. Tempatkan setiap jawaban dari why pada satu blok di sebelah kiri fungsi
dan setiap jawaban dari how pada satu blok di sebelah kanan dari fungsi

Contoh penggunaan dari FAST diagram dapat dilihat pada gambar 2.10 sebagai
berikut.

Gambar 2.10 Contoh FAST Diagram


Sumber : Chandra. S, Mitchell Robert, 1988
Misalnya, rancangan orisinil sebuah struktur yang sedang dianalisa meliputi
sistim lantai yang terdiri dari footings, kolom, girders, balok, decking, dan
finish floor. Fungsi dari bagian - bagian ini bisa dilihat pada tabel di atas.
Perhatikan, bahwa mendukung decking dipilih sebagai fungsi utama.
Penelitian pada rancangan orisinil memperlihatkan bahwa secara konvensional
decking di dukung oleh balok/girder/kolom yang didukung oleh footings di
atas tanah.
Seluruh jaringan fungsi-fungsi ini diadakan berdasarkan keputusan perancang
untuk menggunakan struktur jenis ini. Secara logik, semua fungsi kecuali
fungsi utama bisa di klasifikasikan kedalam fungsi kedua. Mereka bisa
dikategorikan lebih lanjut ke dalam fungsi - fungsi dependen, yang diperlukan,
atau fungsi sekunder. Jadi mereka bisa dirubah atau dihilangkan karena fungsi
sekunder tidak mempunyai nilai di dalam analisa VE. Pilihan lain yang lebih

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


77

jelas adalah untuk menghilangkan sistem decking/balok/girder/kolom dan


menggunakan sistem slab-on-grade.

2.5.12 Penelitian atau Karya Ilmiah terkait Value Engineering

Sebagaimana telah diuraikan pada bahasan terdahulu, berikut


disampaikan beberapa penelitian yang terkait dengan penerapan value
engineering, yang telah dipublikasikan secara umum.

a. Yohanes John Chandra Fanggidae dalam tesisnya untuk mencapai gelar


Magister Teknik pada Universitas Kristen Petra Surabaya tahun 2006,
dengan judul Penerapan Value Engineering pada Proyek Konstruksi.
Penelitian dilakukan terhadap beberapa perusahaan konsultan dan
perusahaan kontraktor di Surabaya, dengan hasil antara lain adalah bahwa
responden melakukan penerapan VE hanya secara informal dan responden
mempunyai kepercayaan yang besar dalam penerapan VE pada proyek
konstruksi untuk dapat menghasilkan peningkatan dalam hal kualitas
pekerjaan.

b. Qiping Shen dan Guiwen Liu, University of Hung Hom, Kowloon, Hong
Kong, 2003, dengan judul penelitian Critical Success Factors for Value
Management Studies in Construction, yang dimuat dalam Journal of
Construction Engineering and Management of ASCE, Vol. 129, No.5,
October 1, 2003. Dalam penelitian di Hong Kong tersebut dikemukakan
bahwa faktor keberhasilan yang signifikan pada studi value management di
bidang konstruksi adalah kualifikasi tim value engineering, pengaruh
pengguna jasa (clients), kompetensi fasilitator, dan dampak/keterlibatan
pihak yang terkait.

c. Silia Yuslim, Dosen Tetap AL/FALTL Universitas Trisakti, yang dimuat


dalam Jurnal Teknik Sipil Universitas Tarumanagara No. 1 Tahun ke IX-
Maret/2003 dengan judul penelitian Program Rekayasa Nilai Konstruksi
bagi Efisiensi Biaya Proyek. Penelitian dilaksakan dengan memadukan
beberapa sistem efisiensi biaya (Krezner, 1995) dan studi kasus pada Tahap
Finishing Arsitektur Proyek PT Sucofindo (Persero) Ujungpandang, dengan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


78

tetap memperhatikan fungsi utama dan konsisten pada ketentuan keandalan,


kualitas, penampilan, dan tingkat pemeliharaan yang diharapkan. Dengan
kerja sama tim yang memanfaatkan kemampuan berpikir kreatif dan
penguasaan kemajuan teknologi, maka penghematan biaya proyek dalam
batas-batas tertentu dapat tercapai.

d. Johny Johan (Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil dan Magister Teknik Sipil
Universitas Tarumanagara) dan Lillyana Dewi (Alumni Magister Teknik
Sipil Universitas Tarumanagara), yang dimuat dalam Jurnal Teknik Sipil
Universitas Tarumanagara No.1 Tahun ke IV-Maret/1998 dengan judul
penelitian Analisis Penerapan Value Engineering pada Proses
Perencanaan/Desain Sub Struktur Suatu Bangunan Apartamen di Jakarta,
melakukan analisis terhadap pekerjaan sub-struktur suatu bangunan
apartemen di Jakarta dengan bantuan software SAFE dan SAP. Dalam
penelitian dikemukakan bahwa keberhasilan penerapan value engineering
ditunjang dengan tim yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang
cukup dalam perencanaan struktur yang terkait dengan material, metode
konstruksi, dan idealisasi struktur. Selain itu keberhasilan penerapan value
engineering juga ditunjang pemahaman teknik berkomunikasi pada tim
yang multi disiplin ilmu.

e. Ismail Basha dan Ahmed A. Gab-Allah, Construction Engineering and


Management Department of Zagazig University of Egypt, 1991, dengan
judul penelitian Value Engineering in Egyptian Bridge Construction,
yang dimuat dalam Journal of Construction Engineering and Management
of ASCE, Vol. 117, No.3, September, 1991. Penelitian ini dilakukan dengan
studi untuk mengevaluasi pemilihan sistem konstruksi pada 10 proyek
jembatan di Mesir, dengan kriteria evaluasi adalah biaya konstruksi,
ketersediaan sumber daya, umur rencana konstruksi, tingkat progres
konstruksi, umur layanan, efisiensi desain dan pemeliharaan. Kesimpulan
dari penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 43% konstruksi jembatan
menggunakan sistem konstruksi yang bukan pilihan terbaik secara ekonomi
dan teknis, sehingga direkomendasikan bahwa studi VE harus dilaksanakan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


79

di awal proyek untuk membantu perancang dalam mengoptimasi desain


jembatan.

f. Yang Qing dan Qiu Wan Hua, School of Economics and Management,
Beijing University of Aeronautics and Astronautics, China, dalam
tulisannya yang berjudul Value Engineering Analysis and Evaluation for
The Second Beijing Capital Airport yang dimuat dan dipublikasikan oleh
SAVE International dalam jurnal Value World Volume 30 Number 1
Spring 2007. Tulisan ini merupakan laporan dari hasil studi VE atas
Pembangunan Bandara Beijing China, dimana hasil studi menunjukkan
bahwa dengan metode VE telah diperoleh nilai (value) yang maksimal,
kebutuhan biaya investasi yang minimum, waktu siklus yang pendek, dan
diperoleh kualitas yang sangat tinggi. Dengan demikian rekomendasi yang
disampaikan sangat berguna bagi pengambil keputusan dalam
pembangunan bandara ini.

g. J. Jerry Kaufman, CVS Life, FSAVE, yang pada waktu itu merupakan
Presiden dari SAVE International, dalam makalah berjudul The Practical
Challenges in Defining Value in VM Practice yang disampaikan dalam
Konferensi Tahunan SAVE International 2007 dan dipublikasikan dalam
jurnal Value World Volume 30 Number 2 Summer 2007, menyampaikan
bahwa terdapat perbedaan antara istilah value dan worth. Value adalah
fokus utama dari penjual dimana value merupakan perbandingan antara
fungsi (function) dengan biaya (cost), sedangkan dari pandangan pembeli
disebut sebagai worth, dimana worth merupakan perbandingan antara
manfaat (benefit) dengan harga (price).

h. Craig L. Squires, AVS, yang pada saat itu menjabat sebagai Vice President
of Global Affairs for SAVE International, menulis makalah yang dimuat
dalam jurnal Value World Volume 30 Number 2 Summer 2007 dengan
judul The Value Information. Dalam makalah yang dipublikasikan oleh
SAVE International tersebut, disampaikan bahwa beberapa faktor informasi
nilai harus lebih mudah dipahami, dimodelkan, diprediksi, dan
diperhitungkan, sehingga dapat dipergunakan oleh para pemangku

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


80

kepentingan seperti praktisi, ekonom, akuntan, analisis, dan para pemegang


saham dalam menjalankan bisnisnya.

i. Richard A. Selg, CCE, dalam makalah yang dimuat jurnal AACE


International Transaction, 2006, dengan judul Value Engineering for
Hazardous Waste Projects, menyimpulkan antara lain bahwa keuntungan
utama dari penerapan VE adalah dapat mencapai fungsi-fungsi yang
dipersyaratkan dengan biaya minimal, namun dengan tetap
mempertimbangkan kualitas, keselamatan, tata lingkungan, dan fungsi yang
lain.

j. Mustansir Hussain Raj, CCE menyampaikan bahwa VE is Not a Group


Cost Cutting yang dimuat dalam jurnal AACE International Transactions,
2002, dimana ditegaskan bahwa VE bukan hanya sekedar pemotongan/
pengurangan biaya (cost cutting), namun dengan menganalisis fungsi
berdasarkan prosedur studi VE dan kriteria tertentu hasil brainstorming Tim
VE. Studi VE dilaksanakan terhadap komponen utama suatu proyek, yaitu
delayed coker unit/diluent recovery unit (DCU/DRU), hydrotreaters unit
(HTU), dan uitilities and offsites, dengan hasil diidentifikasi terdapat
potensi penghematan sebesar $50 juta atau 2,5% dari total biaya proyek.

k. DR. George F. Jergeas, P.Eng. (Department of Civil Engineering of Calgary


University of Canada) dan Vernon G. Cooke (Digital Equipment of Canada
Limited), dalam tulisan berjudul Value Engineering During the Project
Execution Phase yang dimuat dalam jurnal AACE International
Transaction,1997, antara lain menyatakan bahwa studi VE dapat diterapkan
pada tahap pelaksanaan kontrak, dimana berdasarkan dokumen kontrak,
pemilik proyek menganjurkan kepada kontraktor bekerja sama dengan
pihak pemilik proyek untuk menerapkan studi VE dengan komitmen adanya
pembagian hasil yang layak bagi masing-masing pihak yang terkait.

l. Laird Pylkas dan Scott R. Neal (Wendel Duchscherer Architects and


Engineers, PC), dan Iftikhar Kamil Madni, CCE (Promatech, Inc) telah
melakukan studi VE pada bangunan gedung seluas 70.000 ft2 milik
Connecticut Departement of Transportation sebagaimana makalah Smart

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


81

Value Engineering yang dimuat dalam jurnal AACE International


Transactions, 2002. Dalam studi tersebut dicapai hasil bahwa dengan biaya
yang tetap, jumlah luasan bangunan dapat ditingkatkan dari jumlah luasan
semula.

m. R. Terry Hays, CVS Life, FSAVE, yang saat itu menjabat sebagai Presiden
SAVE International, menulis makalah berjudul Value Engineering on
Design-Build Transportation Projects yang dimuat dalam jurnal
Achieving Value - Winter 2006. Tulisan tersebut menyampaikan bahwa
pelaksanaan proyek transportasi dengan kontrak design-build yang disertai
dengan studi VE di setiap tahap, maka pelaksanaan pekerjaan akan lebih
baik, lebih cepat, biaya terendah, dan lebih sedikit masalah yang timbul,
sehingga akan dicapai efektivitas dan efisiensi.

n. James D. McCuish, seorang Value Analysis Engineering Facilitator,


menulis makalah dalam SAVE Annual 2000 Proceeding yang berjudul
Joys and Challenges of an Internal Value Engineering Facilitator,
mengulas mengenai hal-hal yang menyenangkan dan menantang dalam
menjalankan tugas sebagai seorang VE Fasilitator.

o. Benjamin C. Wu, seorang Value Analysis Engineering Target-Costing Risk,


dengan makalah Risk Management Enhances the Effectiveness of Target
Costing yang dimuat dalam SAVE Annual 2000 Proceeding, membahas
mengenai bagaimana manajemen risiko dapat mengurangi risiko-risiko
yang timbul terkait dengan metodologi target-costing dan membuat proses
pencapaian keuntungan lebih efektif.

p. Keith Taylor menulis Using Life Cycle Costing Technique to Improve the
Value Analysis Process dengan mengulas bahwa proses dengan
menggunakan teknik Life-Cycle Cost yang mengidentifikasi faktor-faktor
penentu biaya meruapakan bagian dalam proses value analysis. Tulisan
tersebut dimuat dalam SAVE Annual 2000 Proceeding.

q. John E. Koga dalam makalahnya di SAVE Annual 2000 Proceeding yang


berjudul Does Value Management Have A Place in Project
Management?, menggambarkan bahwa dalam mencapai tujuan dan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


82

sasarannya, maka seorang manajer proyek harus memulai memanfaatkan


Value Methodology.

r. John R. Kelly dan Steven Male menulis dalam SAVE Annual 2000
Proceeding dengan judul The Application of Value Management to The
UK Public Sector Construction Supply Chain menyebutkan bahwa
terdapat 3 (tiga) inisiatif yang dapat membantu dalam pencapaian kinerja
konstruksi publik di Inggris, yaitu private finance initiative, prime
contracting, dan best value.

s. Pier Luigi Maffei dari Italia menulis makalah tentang Value Management
in Building Design sebagaimana dimuat dalam SAVE Annual 1999
Proceeding yang menggambarkan bahwa proses pelaksanaan konstruksi di
Eropa telah menggunakan metode yang memiliki kemiripan dengan Value
Analysis dan lebih menekankan pada indeks nilai (value index).

t. Scot McClintock dalam tulisannya Focussing the Program, Projects, and


Teams Part C : Refining and Controlling Project and Workshop Direction
with FAST menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan VM
workshop pada 3 (tiga) buah proyek konstruksi dengan menggunakan
FAST. Tulisan tersebut dimuat dalam SAVE Annual 1999 Proceeding.

u. Abdulazis S. Al-Yousefi, Ali Al-Khuwaiter, Saleh Al-Oshaish, dan Emad


Shubaq menulis dalam SAVE Annual 1999 Proceeding dengan judul
Value Engineering in Saudi Arabia Overview & Application in Public
and Private Sectors, sebagai makalah diskusi panel yang terdiri 4 (empat)
materi, yaitu peran pemerintah, sejarah VE di Arab Saudi, pengaruh VE
pada kebiasaan praktek engineering di Arab Saudi, dan gambaran mengenai
pendidikan dan pelatihan VE di Arab Saudi.

v. Alfred I. Paley dalam SAVE Annual 1998 Proceeding menulis Value


Engineering : If It Is So Good, Why Does It Require A Law? dengan
tinjauan detail mengenai perkembangan produk-produk hukum di Amerika
Serikat terkait dengan penerapan VE.

w. Donald L. Morris, menulis Value Engineering Arrowrock Dam Outlet


Works sebagaimana dimuat dalam SAVE Annual 1998 Proceeding, yang

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


83

melakukan studi VE dengan hasil, penggunaan pintu clamshell dengan


efisiensi yang tinggi pada pintu utama. Studi ini memperbolehkan
penghilangan bangunan pintu di bagian downstream pintu pelindung
keliling, pemboran terowongan dan trash racks. Hasil rekomendasi tim
adalah potensi penghematan hingga 65% dari nilai total proyek yang
direncanakan.

2.5.13 Penerapan Value Engineering pada Penyelenggaraan Infrastruktur

Pembangunan di Indonesia merupakan suatu keharusan yang tidak


boleh berhenti, meskipun sering dihadapkan pada masalah kekurangan dana.
Untuk mempertahankan kelanjutan proses pembangunan tersebut, maka usaha
untuk mencapai hasil yang optimal harus selalu dilakukan.

Moh. Anas Aly dalam makalah berjudul Penerapan Value Engineering


di Bidang Jalan yang disampaikan pada Seminar Nasional Peranan VE dalam
Pengelolaan Proyek Pembangunan di Indonesia di UII Yogyakarta, 1988,
menyatakan bahwa penyelenggaraan infrastruktur di bidang prasarana jalan di
Indonesia, dikoordinir oleh Departemen Pekerjaan Umum, khususnya Direktorat
Jenderal Bina Marga. Pada fase sebelum dikenal metode VE, banyak usaha untuk
mencapai optimalisasi pembangunan prasarana jalan yang sejiwa dengan VE yang
telah dilakukan oleh Ditjen Bina Marga, antara lain dalam Pelita III dan IV, telah
dikenal kebijakan-kebijakan antara lain Optimasi, The Best Technical
Implementable Product, Menomorsatukan Fungsi/Struktur dan
Menomorduakan Kenyamanan, dan lain-lain. Proyek-proyek jalan di lingkungan
Ditjen Bina Marga telah cukup lama menerapkan prinsip dasar dari VE.

Djoko Ramiadji dalam artikel berjudul Penerapan Effessiensi Nilai


Teknis(Value Engineering) sebagai Suatu Usaha Effesiensi Dana Pembangunan,
yang dimuat dalam Majalan Jalan & Transportasi Vol. 034, 1986, menyatakan
bahwa VE baru dikenal dan diterapkan di bidang konstruksi jalan di Indonesia
sekitar tahun 1986 pada saat dilakukan peninjauan kembali desain dari sebagian
Proyek Jalan Cawang Fly Over di tengah-tengah masa konstruksinya. Pada
proyek tersebut di atas, telah diterapkan prinsip VE yaitu mendapatkan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


84

pengurangan biaya tanpa mengurangi fungsi dasarnya. Penerapan VE pada Proyek


Jalan Cawang Fly Over, telah berhasil mendapatkan penghematan biaya beberapa
milyar rupiah.

Sejak saat itu, usaha-usaha untuk menerapkan VE secara murni dan


selektif telah ditetapkan menjadi suatu kebutuhan, yang artinya bahwa
penerapan VE yang murni yang masih merupakan barang baru, akan diterapkan
secara selektif pada proyek-proyek tertentu. Sambil mengambil langkah
pemantapan. VE kemudian juga diterapkan pada proyek-proyek jalan yang lain
seperti Proyek Tomang Fly Over, Proyek Jakarta Interchange, dan sebagainya.
Penerapan VE juga mulai dilakukan pada proyek jalan tol yaitu Proyek Jalan Tol
Padalarang Cileunyi (Bandung). Pada proyek ini Ditjen Bina Marga membentuk
tim khusus yang melakukan pemeriksaan terhadap Value Engineering Change
Proposal (VECP) yang diusulkan oleh Kontraktor.

Usaha efisiensi dana pembangunan dengan metode value engineering


juga dikenal sebagai Konsep Efisiensi Nilai Teknis (ENT), yang merupakan suatu
metode evaluasi manajemen yang menggunakan pendekatan sistematis dan
bertujuan menghasilkan biaya pelaksanaan fisik serendah mungkin sesuai dengan
batasan fungsional dan teknis yang berlaku. Penerapan konsep ENT dapat dimulai
pada periode perencanaan atau pelaksanaan. Namun penghematan (saving)
terbesar akan dicapai apabila konsep ENT diterapkan pada tahap perencanaan.
Sedangkan pada periode pelaksanaan, konsep ENT diterapkan sebelum
pelelangan dan pada saat terjadinya addendum, dengan demikian desain awal
(original design) dapat dijadikan sebagai alternatif pertama dalam penerapan
konsep ENT.

Proyek-proyek lain yang juga menggunakan VE adalah Proyek Taman


Ria Interchange, Proyek Semanggi Interchange, dan sebagainya. Analisis
dilakukan dengan pendekatan baik Questioning Approach, maupun Problem
Solving Approach.

Berikut ini diuraikan testimonial dari beberapa institusi di luar negeri


yang telah menerapkan VE dalam kegiatannya, yaitu antara lain:

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


85

a. Departemen Perhubungan Darat (Highway and Transportation Department)


Amerika Serikat menyatakan bahwa selama tahun 1999 telah berhasil
memperoleh penghematan lebih dari 845 juta dollar Amerika Serikat dengan
menerapkan value metodologi, yang sering disebut juga VE, value analysis
atau value management, yaitu antara lain mengurangi biaya-biaya proyek
konstruksi, mengurangi biaya operasi dan pemeliharaan, menyederhanakan
proses, meningkatkan jadual proyek, mengurangi limbah, meningkatkan
efisiensi pengadaan, penggunaan sumber daya secara efektif, dan
pengembangan inovasi.

b. Departemen Perhubungan (Ministry of Transportation) Kanada menyatakan


bahwa instansinya merasa bangga dengan program VE, karena programnya
dapat meningkat hingga lebih dari 50 proyek dan berhasil menghemat lebih
dari 100 juta dollar Kanada. Lebih dri 300 orang stafnya berhasil
menyelesaikan kursus pelatihan VE sehingga siap untuk melaksanakan VE
di instansinya. VE juga mendukung adanya pengenalan ide-ide maupun
inovasi yang baru, dan perlu diketahui bahwa inovasi merupakan kunci
keberhasilan instansinya.

c. District of Baltimore Amerika Serikat menyatakan tentang arti penting VE,


dimana salah satu ahli VE, John Vogel, menyatakan bahwa setiap tahunnya
Baltimore District melaksanakan studi VE terhadap 10 proyek, dimana
diperoleh penghematan sebesar 6%, dan sejak tahun 1964 telah dihemat
sebesar 10,3% atau 165 juta dollar.

2.5.14 Kendala Penerapan Value Engineering

Sebelum menerapkan suatu program value engineering dalam suatu


proyek khususnya proyek konstruksi fisik, perlu terlebih dulu diperjelas mengenai
pengertian dari value engineering itu sendiri untuk menghindari kesan terutama
dari perancang bahwa kegiatan value engineering adalah kritikan untuk
rancangan/desain suatu proyek tanpa melibatkan aspek-aspek teknis.

Kendala-kendala yang sering dialami dalam penerapan VE pada suatu


proyek adalah karena :

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


86

a. Pengaruh perubahan waktu pelaksanaan akibat VE dapat menyebabkan


bertambahnya biaya
b. Pengguna jasa tidak menghendaki, karena tidak setuju dengan modifikasi
yang diusulkan
c. Arsitek/Engineer tidak setuju karena dianggap mengoreksi desain mereka

Seringkali kontraktor melakukan VE dengan memodifikasi metode


pelaksanaan tanpa merubah desain dan spesifikasi untuk memperoleh keuntungan
tanpa melalui izin dari Pengguna Jasa atau dari Konsultan.

Dalam penerapan VE terdapat segi lain yang harus dipecahkan yaitu


adanya beberapa sistem nilai diantaranya :
a. Kekeliruan dalam menentukan fungsi yang dibutuhkan para pemanfaat
produk
b. Pemikiran habitual yang tidak kreatif
c. Keengganan untuk mengambil resiko, artinya sesuatu yang telah berjalan
dengan baik ada kecenderungan untuk dipakai terus secara lestari
d. Tingkah laku yang negatif, enggan untuk mengubah karya sendiri,
meskipun ada cara baru yang lebih efisien

Demikian juga bila mempertimbangkan masalah insentif bahwa di


Indonesia, insentif VE dibebankan pada hasil penghematan yang didapat dari
program kegiatan VE yang bersangkutan dengan perbandingan prosentase
tertentu, sebagai berikut :
a. Disetor ke Kas Negara
b. Untuk Konsultan VE
c. Untuk tambahan fee Konsultan Manajemen Konstruksi

Dengan catatan bila tidak terdapat biaya yang dapat dihemat dari studi
Konsultan VE, maka Konsultan VE juga tidak akan mendapatkan insentif.

Dilain pihak, terdapat pula ketersinggungan dari Konsultan Perencana


atas kegiatan VE tersebut, dengan alasan bahwa Konsultan Perencana tidak
pernah dibayar atas dasar manfaat yang diperoleh Pemberi Tugas dengan kata lain

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


87

etika profesi. Konsultan Perencana tidak dapat dibayar atas prestasinya dalam
melakukan penghematan biaya pembangunan.

Perlu diantisipasi juga kemungkinan adanya pihak-pihak yang melakukan


kecurangan-kecurangan dengan memperbesar biaya perencanaan awal, sehingga
setelah dilakukan kegiatan VE, diperoleh keuntungan yang cukup besar.

Penerapan value engineering juga menimbulkan dampak yang terjadi


pada fungsi (fisik) dan estetika (non-fisik) yang perlu dicermati. Dampak yang
terjadi dapat berupa dampak positif yaitu berupa efektivitas pekerjaan, efisiensi
penggunaan biaya konstruksi, operasional, dan pemeliharaannya. Sedangkan
dampak negatifnya berupa perubahan desain, penambahan waktu, perlunya
ketelitian ekstra dalam pelaksanaan proyek.

Faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas penerapan value engineering


untuk mengatasi kendala-kendala yang diakibatkan oleh tingginya ekspektasi
pengguna jasa adalah:

a. Integrasi studi VE (kajian PT Indulexco, 2007)

Program VE perlu dipandang sebagai bagian integral dari keseluruhan


proses delivery order, jadi bukan sebagai suatu entitas yang terpisah,
sehingga harus direncanakan dan dijadualkan secara tepat waktu, efisien,
dan efektif.

Untuk mencapai efek yang maksimum, VE harus dimulai pada saat dini,
yaitu pada proses desain konsep, dilanjutkan pada tahap desain dan
penyiapan dokumen konstruksi. Perhatian utama dipusatkan pada
pencapaian nilai life-cycle yang maksimum untuk pengeluaran biaya awal
(first cost) dari anggaran proyek, dan selanjutnya diupayakan adanya
penurunan biaya awal sebagai hasil penerapan program.

b. Persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang (kajian PT Indulexco,


2007)

Hasil survei di Amerika Serikat dan Kanada mengindikasikan bahwa


persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang merupakan penyebab
diterapkannya value engineering. Selain itu juga mengindikasikan bahwa

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


88

value engineering diterapkan karena untuk memenuhi persyaratan


pendanaan.

Di Indonesia, ketentuan terkait penerapan value engineering belum tersedia


secara spesifik. Hal ini yang memungkinkan merupakan salah satu
penyebab kurang terdorongnya pihak-pihak terkait dalam penerapan value
engineering, meskipun sebenarnya merupakan kebutuhan utama dalam
pendanaan proyek pemerintah.

c. Kesiapan komunitas (kajian PT Indulexco, 2007)

Hal yang kritis bagi keberhasilan penerapan value engineering adalah


kemampuan dan kesiapan komunitas pendukung, baik berupa dukungan
manajemen, kualifikasi tim value engineering, maupun usaha bersama
pihak-pihak yang terkait.

1) Komitmen korporasi merupakan elemen yang esensial dalam


keberhasilan penerapan VE. Program VE harus dapat memastikan
pengambil keputusan (decision maker) bahwa usaha yang diadakan
adalah setara dengan hasil yang diperoleh. Manajemen senior harus
terlibat dan terkait secara penuh dalam program VE, tidak hanya pada
inisiasinya saja tetapi hingga pada implementasi solusinya.

2) Kualifikasi tim VE, pengaruh pengguna jasa, fasilitator, dan pihak-


pihak lain yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung,
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan studi VE
(Shen and Liu, 2003).

3) Secara khusus, Tim VE memegang peranan penting dalam penerapan


VE, sehingga kualifikasi (kualitas dan pengalaman), kepribadian
pemimpin tim dan anggotanya sangat menentukan tingkat
keberhasilannya.

d. Ukuran proyek dan ketersediaan sumber daya

PT Indulexco dalam kajiannya menyatakan bahwa kebijakan pemerintah


Amerika Serikat mensyaratkan bahwa studi nilai (value study) diterapkan
pada proyek-proyek dengan nilai yang besar, misalnya untuk proyek

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


89

infrastruktur transportasi dengan nilai di atas US$ 25 juta dan didanai oleh
pemerintah.

Penerapan VE pada proyek-proyek bernilai kecil masih jarang diterapkan,


karena biasanya sumber daya yang tersedia terbatas. Namun demikian tidak
menutup kemungkinan penerapan VE pada proyek kecil bilamana
lingkupnya belum dapat dipastikan atau untuk membangun konsensus
dengan stakeholders.

e. Insentif kepada Kontraktor

Saat ini pekerjaan konstruksi dikontrakkan sesuai dengan syarat dan kondisi
yang ditetapkan oleh pemilik. Kontraktor akan menawar dengan harga pasti
(fixed price) sehingga apabila kontraktor diminta untuk menurunkan biaya
biasanya terjadi keraguan dan ketidakpastian. Untuk mengatasi hal tersebut
dianjurkan agar penawaran termasuk biaya untuk kajian VE dimana nanti
kalau ada penghematan biaya kontraktor akan mendapatkan insentif (DR
Adhi Suyanto, 2007).

Pemberian insentif perlu diberikan kepada kontraktor yang beperan serta


dalam melaksanakan penghematan dengan tujuan:
Mendapatkan keuntungan dari pengalaman kontraktor
Memperbaiki kriteria
Mengurangi biaya OP
Memberikan cara kontrak untuk bersama sama melakukan
penghematan

Dalam kontrak fixed price, penghematan biaya akan dibagi menjadi 10%
untuk kontraktor dan 90% untuk pemerintah.

2.6 Kerangka Berpikir dan Hipotesa Penelitian

2.6.1 Ringkasan

Kajian VE yang diterapkan pada bidang industri (termasuk bangunan)


telah menghemat biaya siklus hidup fasilitas/bangunan/komponen/proyek

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


90

berkisar antara 5 - 20%. Kajian VE lebih tepat diaplikasikan pada tahap Desain
dan Konstruksi.

Penelitian pada fungsi (fisik) bangunan menunjukkan bahwa penerapan


Value Engineering disamping menghasilkan dampak positif berupa efisiensi
penggunaan biaya konstruksi, biaya operasi, biaya pemeliharaan, dan efektifitas
pekerjaan, juga menghasilkan dampak negatif berupa redesain, penambahan
fasilitas/instalasi, ketidaknyamanan, dan ketelitian ekstra dalam pelaksanaan
konstruksi.

Penghematan biaya yang dihasilkan lebih besar jumlahnya dibanding


biaya yang diakibatkan oleh redesain dan studi Value Engineering. Hasil
penelitian dampak penerapan Value Engineering pada desain bangunan dapat
dijadikan masukan faktor ekonomi bangunan dalam perancangan bagi pendidikan
arsitektur, industri konstruksi, dan pemerintah.

Departemen PU sebagai instansi teknis pembinaan jasa konstruksi di


Indonesia dan sebagai penyelenggara infrastruktur yang menggunakan anggaran
pemerintah yang cukup besar, diharapkan selalu meningkatkan efektivitas
penggunaan anggaran. Salah satu upaya peningkatan efektivitas adalah dengan
menerapkan metode value engineering.

2.6.2 Kerangka Pemikiran

Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa penelitian ini


dilatarbelakangi oleh adanya temuan-temuan hasil pemeriksaan Inspektorat
Jenderal Departemen PU, baik temuan yang bersifat ketidaktaatan,
ketidaklengkapan, maupun ketidakbenaran, yang selanjutnya akan berdampak
pada ketidakekonomisan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan penggunaan
anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di
lingkungan Departemen PU. Besaran nilai penyimpangan yang ditemukan
merupakan kerugian negara, baik yang bersifat keborosan maupun kebocoran
keuangan negara.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


91

Sebagai salah satu alternatif metode dalam rangka meningkatkan


efisiensi dan efektivitas penggunaan biaya sebagaimana diuraikan di atas, maka
dipilih metode value engineering. Atas permasalahan tersebut, penelitian
dilakukan dengan melakukan studi literatur yang terkait dan merumuskan
permasalahan menjadi research question (RQ), yang selanjutnya dilakukan
metode yang sesuai untuk menjawab hipotesa yang telah ditetapkan sebelumnya.

Penelitian mengenai penerapan value engineering pada penyelenggaraan


infrastruktur di lingkungan Departemen PU yang akan dilakukan ini akan
mengikuti alur kerangka berpikir sebagaimana pada gambar 2.11.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


92

Latar Belakang Permasalahan TEORI / LITERATUR

adanya temuan hasil Laporan Realisasi


pemeriksaan Itjen PU, baik Hasil Pemeriksaan
temuan yang bersifat Itjen
ketidaktaatan, Teori & Konsep VE METODA PENELITIAN/
ketidaklengkapan, maupun Penerapan VE ANALISA
ketidakbenaran, yang Penyelenggaraan
selanjutnya akan berdampak Infrastruktur RQ1 :
pada ketidakekonomisan, Metode Penelitian Survei dengan
ketidakefisienan, dan metode analis Distribusi
ketidakefektifan penggunaan Frekuensi dan metode Delphi
anggaran dalam RQ2 :
penyelenggaraan infrastruktur Metode Penelitian Survei
bidang pekerjaan umum di dengan analisa statistik
lingkungan Departemen RQ3 :
Pekerjaan Umum. Metode Penelitian Studi Kasus
dengan metode Delphi

HIPOTESA
PERTANYAAN PENELITIAN/
RUMUSAN MASALAH RQ-1 :
Faktor-faktor dominan yg memengaruhi tingkat
kesiapan Pengguna Jasa dalam penerapan VE
RQ-1 : adalah Regulasi yang Spesifik dan Ketersediaan &
Faktor-faktor dominan apa saja Kompetensi Tim Ahli VE
yang memengaruhi kesiapan
pihak Pengguna Jasa dalam
pelaksanaan value engineering ? RQ-2 :
Penerapan VE dapat meningkatkan efektivitas
RQ-2 : penggunaan anggaran
Seberapa besar pengaruh
penerapan metode value
engineering dalam meningkatkan
pencapaian efisiensi
penggunaan anggaran dalam
penyelenggaraan infrastruktur
bidang pekerjaan umum di
lingkungan Departemen PU?
MANFAAT
RQ-3 :
Bagaimana cara penerapan a. Menjadi masukan bagi para pihak penyelenggara
value engineering yang telah proyek di lingkungan Departemen PU untuk dapat
dilakukan hingga saat ini dalam menggunakan metode Value Engineering
upaya pencapaian efisiensi biaya sehingga dihasilkan suatu efisiensi dan efektivitas
? pada penggunaan anggaran pembangunan
b. Menjadi alternatif penyelesaian apabila
ditemukan indikasi inefisiensi dalam penggunaan
anggaran pembangunan

Gambar 2.11. Kerangka Pemikiran


Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
93

2.6.3 Hipotesa Penelitian

Berdasarkan kajian literatur, hipotesa penelitian dalam rangka


penyusunan tesis ini adalah sebagai berikut:
a. Faktor-faktor dominan yg memengaruhi tingkat kesiapan Pengguna Jasa
dalam penerapan VE adalah regulasi yang spesifik, dan ketersediaan &
kompetensi tim VE.
b. Penerapan VE merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan
efektivitas penggunaan anggaran pada penyelenggaraan infrastruktur di
lingkungan Departemen Pekerjaan Umum

Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Pendahuluan

Bab ini membahas mengenai metodologi penelitian yang digunakan


dalam penulisan tesis secara rinci tentang bahan atau materi penelitian, alat atau
instrumen penelitian dan langkah-langkah penelitian mulai dari persiapan
penelitian sampai dengan penyajian data serta kesulitan-kesulitan yang timbul
selama penelitian dan pemecahannya.

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang


berpengaruh terhadap tingkat kesiapan Pengguna Jasa di lingkungan Departemen
PU, serta untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh penerapan metode value
engineering sebagai alternatif pencapaian efektivitas penggunaan biaya dalam
penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum.

Pada bab ini akan diuraikan mengenai perancangan penelitian yang


digunakan untuk mencapai tujuan dalam penulisan ini yang terdiri dari kerangka
penelitian, pertanyaan penelitian, strategi penelitian, proses penelitian, variabel-
variabel penelitian, instrumen penelitian, proses pengumpulan data serta metode
analisisnya.

Penelitian yang akan dilakukan adalah bersifat deskriptif. Menurut


Sumadi Suryabrata, 2006, penelitian deskriptif dilakukan dengan tujuan untuk
membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta
dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Sedangkan menurut Burhan Bungin
(2008) penelitian kuantitatif dengan format deskriptif bertujuan untuk
menjelaskan, meringkaskan berbagai kondisi, situasi, atau berbagai variabel yang
timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian berdasarkan apa yang terjadi.
Tipe yang paling umum dari penelitian deskriptif ini meliputi penilaian sikap atau
pendapat terhadap individu, organisasi, keadaan ataupun prosedur. Desain
deskriptif bertujuan untuk menguraikan tentang sifat-sifat atau karakteristik
suatu keadaan serta mencoba untuk mencari suatu uraian yang menyeluruh dan

94 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


95

teliti dari suatu keadaan. Karena desain penelitian untuk menguraikan sifat atau
karakteristik suatu fenomena tertentu, maka tidak memberikan kesimpulan yang
terlalu jauh atas data yang ada. Hal ini disebabkan karena desain ini hanya
bertujuan untuk mengumpulkan fakta dan menguraikannya secara menyeluruh
dan teliti sesuai dengan persoalan yang akan dipecahkan. Perencanaan sangat
dibutuhkan agar uraiannya dapat menghasilkan cakupan menyeluruh mengenai
persoalan dan informasi yang diteliti. Data deskriptif pada umumnya
dikumpulkan melalui daftar pertanyaan dalam survei, wawancara, ataupun
observasi.

Penelitian explanatory adalah studi eksplorasi yang bertujuan mencari


hubungan-hubungan baru yang biasanya dilakukan untuk pengujian terhadap
hipotesis-hipotesis. Hipotesis ini didasarkan atas pengalaman masa lampau atau
teori yang telah dipelajari sebelumnya. Akan tetapi seringkali hipotesis ini tidak
bisa dibuat karena tidak ada dasar yang kuat baik mengenai teori maupun
pengalaman-pengalaman waktu lampau sebab persoalan yang ditemukan masih
baru (exploring).

Untuk menjawab pertanyaan penelitian maka pemilihan metode


penelitian yang tepat adalah descriptive explanatory. Penelitian bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesiapan
Pengguna Jasa di lingkungan Departemen PU dalam penerapan value
engineering. Kemudian melakukan analisis atas seberapa besar pengaruh
penerapan VE dalam penyelenggaraan infrastruktur di lingkungan Departemen
PU terhadap peningkatan efektivitas penggunaan anggaran.

Penelitian dimulai dengan merumuskan masalah dan judul penelitian


yang didukung dengan suatu kajian pustaka. Setelah itu ditentukan konsep dan
hipotesa penelitian yang menjadi dasar untuk memilih metode penelitian yang
tepat. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin berpengaruh, maka
dilakukan penyusunan instrumen penelitian berupa variabel-variabel yang
dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan (questionnaire) yang telah
dimatangkan terlebih dahulu, baik melalui validasi/pendapat pakar maupun
stakeholder tertentu sebagai representasi dari sampel penelitian.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


96

Data yang telah terkumpul dilakukan analisis yang akan menghasilkan


temuan. Selanjutnya dilakukan pembahasan atas temuan-temuan tersebut untuk
ditarik kesimpulan mengenai tingkat kesiapan Pengguna Jasa atas penerapan
value engineering, dan dilanjutkan wawancara/diskusi dengan para pakar/ahli
atau dikenal dengan istilah delphi technique, dimana akan diperoleh kesimpulan
dan saran.

3.2 Rumusan Masalah dan Strategi Pemilihan Metode Penelitian

3.2.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah sebagaimana diuraikan pada bab


terdahulu, maka dirumuskan pertanyaan penelitian (research question/RQ) untuk
diperoleh jawabannya. Research question (RQ) tersebut adalah:

a. Faktor-faktor dominan apa saja yang mempengaruhi kesiapan pihak


Pengguna Jasa dalam pelaksanaan value engineering ?

b. Seberapa besar pengaruh penerapan metode value engineering dalam


meningkatkan pencapaian efektivitas penggunaan anggaran dalam
penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan
Departemen PU ?

c. Bagaimana cara penerapan value engineering yang telah dilakukan hingga


saat ini dalam upaya pencapaian efisiensi biaya ?

Untuk menjawab RQ pertama dilakukan identifikasi dan survei kepada


responden atas faktor-faktor yang dominan yang memengaruhi pemahaman dan
kesiapan pihak Pengguna Jasa dalam pelaksanaan value engineering berdasarkan
studi literatur, penelitian sejenis yang dilaksanakan sebelumnya, serta dengan
menggunakan metode Delphi kepada pakar yang terkait. Selanjutnya untuk
menjawab RQ kedua, maka dengan hasil survei yang ada dilakukan analisis
statistik untuk memperoleh korelasi dan/atau regresi seberapa besar pengaruh
penerapan VE dan variabelnya untuk mencapai peningkatan efektivitas
penggunaan anggaran.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


97

Sedangkan untuk memperoleh jawaban atas RQ yang lain, maka


dilakukan studi kasus dengan melakukan analisis atas dokumen
perencanaan/pelaksanaan suatu proyek konstruksi dengan menggunakan metode
Delphi yang melibatkan pakar yang terkait.

3.2.2 Strategi Penelitian

Untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat terfokus kepada tujuan


yang hendak dicapai, maka perlu strategi penelitian yang tepat. Ada beberapa
jenis strategi penelitian, yaitu eksperimen, survei, analisis, historis dan studi
kasus. Masing-masing strategi diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian
tertentu. Yin menyatakan ada cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan
penelitian yang berupa kalimat siapa, apa, dimana dan berapa banyak yaitu
dengan metode survei (Yin, 2003).

Tabel 3.1. Strategi Penelitian

Kontrol dari peneliti Tingkat fokus dari


Bentuk Pertanyaan
Strategi dengan tindakan dari kesamaan penelitian
Penelitian
penelitian yang aktual yang lalu

Eksperimen Bagaimana, mengapa Ya Ya

Siapa, apa, dimana,


Survei Tidak Ya
berapa banyak
Siapa, apa, dimana,
Analisis Tidak Tidak
berapa banyak

Historis Bagaimana, mengapa Tidak Tidak

Studi Kasus Bagaimana, mengapa Tidak Ya

Sumber : Robert K. Yin, Studi Kasus Desain dan Metode, Penerbit PT Rajagrafindo
Persada, Jakarta, 2002, hal 7
Metode survei ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap tingkat kesiapan Pengguna Jasa dalam penerapan value
engineering berdasarkan kuesioner yang diisi oleh responden. Kuesioner yang
merupakan instrumen penelitian, dirumuskan berdasarkan variabel-variabel yang
diuraikan menjadi indikator dan sub indikator, untuk selanjutnya
ditransformasikan menjadi pertanyaan-pertanyaan.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


98

Setelah diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat


kesiapan Pengguna Jasa dalam penerapan value engineering, maka untuk
mengetahui saran tindak lanjut atas penerapan value engineering sebagai salah
satu alternatif upaya peningkatan efektivitas penggunaan anggaran dalam
penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum dengan melakukan
wawancara/konsultasi kepada para ahli atau menggunakan teknik delphi.

3.3 Proses Penelitian

3.3.1 Alur Penelitian Survei dan Studi Kasus

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode survei untuk


mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pemahaman
dan kesiapan Pengguna Jasa dalam penerapan value engineering berdasarkan
kuesioner yang diisi oleh responden. Penelitian dengan metode survei ini
dilaksanakan dengan mengikuti alur penelitian sebagaimana Gambar 3.1.

Selain dilaksanakan dengan metode survei, penelitian juga dilaksanakan


dengan metode/analisis studi kasus atas proses penerapan value engineering.
Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan analisis terhadap contoh desain
yang ada dengan menggunakan metode-metode VE yang berlaku umum. Gambar
3.2. menunjukkan alur penelitian dengan menggunakan metode studi kasus.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


99

MULAI

Studi Literatur & Revisi II Temuan Dan


Mengumpulkan Data Kuesioner Bahasan
Sekunder

Variabel
Penelitian
Data Collecting
& Validasi Pakar
Tabulasi Data
Klarifikasi-
Verifikasi-
Validasi Pakar
Uji Validitas dan
Reliabilitas

Draft Kuesioner Kesimpulan &


Saran

Metode
Klarifikasi/ Pendekatan
Verifikasi/ Distribusi
Validasi Pakar Frekuensi

Revisi Kuesioner
Analisis Data
Statistik

Uji Coba
Kuesioner

SELESAI

Gambar 3.1. Alur Penelitian Metode Survei


Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


100

MULAI

Studi Mempelajari
Literatur Hasil Survei

Verifikasi, Studi Kasus Validasi


klarifikasi, Penerapan VE Pakar
validasi pakar

Metode Delphi
Metode Delphi Kesimpulan
dan Saran
Pemilihan
Proyek Sampel

Pengumpulan Temuan dan


Data Sekunder Bahasan

SELESAI

Gambar 3.2. Alur Penelitian Metode Studi Kasus


Sumber : Hasil olahan sendiri

3.3.2 Perumusan Variabel Penelitian

Untuk penelitian dengan metode survei dimana penelitian tersebut untuk


menjawab rumusan permasalahan yang pertama, maka berdasarkan data yang
diperoleh dilakukan analisis dan penyusunan model matematika yang
menunjukkan hubungan antara tingkat kesiapan pengguna jasa dengan pengaruh
penerapan VE. Hubungan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk grafik Y =
f(X), di mana efektivitas penggunaan anggaran digambarkan sebagai sumbu Y,
sedangkan penerapan VE pada penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-PU-an di
lingkungan Departemen PU sebagai variabel bebas digambarkan pada sumbu X,
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.3.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


101

Y = f(X)

Variabel terikat (Y)

0 Variabel bebas (X)

Gambar 3.3. Model Matematika


Sumber : Hasil olahan sendiri

Variabel yang merupakan instrumen penelitian, dirumuskan dengan


menguraikan menjadi indikator dan sub indikator, untuk selanjutnya
ditransformasikan menjadi pertanyaan-pertanyaan.

a. Variabel Bebas

Variabel bebas (X) terdiri dari beberapa variabel yang merupakan hasil
perincian faktor, indikator, dan sub-indikator penelitian, dengan variabel
utama adalah:
1). Penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan
Departemen PU
2). Cara penggunaan anggaran
3). Penerapan value engineering

b. Variabel Terikat

Variabel terikat (Y) dari penelitian adalah efektivitas penggunaan anggaran.

3.3.3 Penyusunan Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian berupa kuesioner disusun dengan tahapan


pelaksanaan sebagai berikut:
a. Melakukan identifikasi variabel dan sub variabel berdasarkan studi literatur
maupun data sekunder lainnya;

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


102

b. Hasil identifikasi variabel dan sub variabel tersebut selanjutnya dimintakan


klarifikasi, verifikasi, dan validasi kepada beberapa pakar yang terkait,
dengan kriteria antara lain:
1) jumlah pakar setidaknya lima orang,
2) berasal dari kalangan akademisi yang terkait dengan keahlian value
engineering, dengan pendidikan minimal S2
3) berasal dari kalangan praktisi yang terkait dengan keahlian value
engineering, dengan pengalaman minimal 10 tahun
4) berasal dari lingkungan Departemen PU, dengan pengalaman minimal 10
tahun, yang sedang/pernah menjabat sebagai pejabat struktural, pejabat
fungsional, dan pemimpin proyek
c. Berdasarkan masukan dan pendapat dari beberapa pakar tersebut
diakomodasikan ke dalam perbaikan/koreksi dan selanjutnya
ditransformasikan menjadi kuesioner dalam bentuk pertanyaan/pernyataan.
d. Selanjutnya dilakukan uji coba penelitian, dengan mendistribusikan
kuesioner tersebut kepada sejumlah kecil responden tertentu dengan kriteria
yang mirip dengan responden utama dalam penelitian. Responden jumlah
kecil tersebut diambil dengan kriteria antara lain sebagai berikut:
1) Pemimpin unit kerja yang menangani pekerjaan fisik penyelenggaraan
infrastruktur, yang terdiri dari bidang sumber daya air, jalan dan
jembatan, dan keciptakaryaan
2) Berlokasi di DKI Jakarta dan sekitarnya
e. Berdasarkan data, masukan, dan pendapat dari sejumlah responden tersebut
dilakukan analisis konsistensi secara sederhana dan dilakukan perbaikan atas
kuesioner tersebut
f. Kuesioner hasil revisi terakhir tersebut dipergunakan sebagai instrumen
pengumpulan data, yang didistribusikan kepada responden yang dapat
mewakili populasi dan diambil secara sampling.

Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah


pengukuran ordinal, dengan pilihan 1 sampai dengan 6 dan kriteria yang
bervariasi sesuai dengan pertanyaan. Skala tersebut didesain sedemikian rupa ,
dimana jawaban terkecil (1) menunjukkan pilihan jawaban yang tidak

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


103

dikehendaki (unexpected answer) dan terbesar (6) merupakan pilihan jawaban


yang paling dikehendaki (expected answer).

3.3.4 Uji Validitas dan Reliabilitas

3.3.4.1 Uji Validitas

Uji validitas diartikan sebagai pengujian untuk mengetahui sejauh mana


ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu
tes atau instrumen penelitian dapat dinyatakan mempunyai validitas yang tinggi
apabila alat ukur tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil
ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Drs.
Saifuddin Azwar, MA, Reliabilitas dan Validitas, Penerbit Pustaka Pelajar,
Yogjakarta, 1997).

Uji validitas atau kesahihan digunakan untuk mengetahui seberapa tepat


suatu alat ukur mampu melakukan fungsi. Alat ukur yang dapat digunakan dalam
pengujian validitas suatu kuesioner adalah angka hasil korelasi antara skor
pernyataan dan skor keseluruhan pernyataan responden terhadap infomasi dalam
kuesioner (Trition P.B,. SPSS 13.0 Terapan,. Penerbit Andi Yogjakarta 2005)

Pengujian validitas data dilakukan dengan alat bantu software SPSS


dengan menggunakan angka r hasil Corrected Item Total Correlation melalui sub
menu Scale pada pilihan Reliability Analisis.

3.3.4.2 Uji Reliabilitas

Konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu penelitian dapat


dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali
pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang mana diperoleh hasil
yang relatif sama (Drs. Saifuddin Azwar, MA, Reliabilitas dan Validitas,
Penerbit Pustaka Pelajar, Yogjakarta, 1997).

Hasil ukur erat kaitannya dengan error dalam pengambilan sampel


(sampling error) yang mengacu pada inkonsistensi hasil ukur apabila pengukuran
dilakukan ulang pada kelompok individu yang berbeda.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


104

Tujuan utama pengujian reliabilitas adalah untuk mengetahui konsistensi


atau keteraturan hasil pengukuran apabila instrumen tersebut digunakan lagi
sebagai alat ukur suatu responden. Hasil uji reliabilitas mencerminkan dapat
dipercaya atau tidaknya suatu instrumen penelitian berdasarkan tingkat
kemantapan dan ketepatan suatu alat ukur dalam pengertian bahwa hasil
pengukuran yang didapatkan merupakan ukuran yang benar dari suatu ukuran.

Pengujian validitas data dilakukan dengan alat bantu software SPSS


dengan menggunakan metode Alpha-Cronbach. Standar yang digunakan dalam
menentukan reliabel atau tidaknya suatu instrumen penelitian umumnya adalah
perbandingan antara r hitung dengan r tabel pada taraf tingkat kepercayaan 95%
atau tingkat signifikansi 5%, dalam perhitungan ini nilai r diwakili oleh alpha,
apabila alpha hitung lebih besar daripada r tabel dan alpha hitung bernilai positif,
maka suatu instrumen penelitian dapat disebut reliabel.

3.3.5 Pengumpulan Data dan Teknik Sampling

Metode penelitian survei yang dilakukan pada penelitian ini adalah


dengan mendistribusikan kuesioner kepada responden, dimana kuesioner tersebut
merupakan kuesioner final hasil revisi setelah dilakukan klarifikasi-verifikasi-
validasi kepada pakar dan telah diujicobakan kepada sejumlah responden tertentu.

Terdapat dua jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang
didistribusikan kepada pengguna jasa di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum. Data hasil kuesioner tersebut diolah dengan metode
pendekatan Distribusi Frekuensi untuk menghasilkan prioritas faktor-faktor
yang signifikan.
b. Data sekunder, didapat dari hasil studi literatur seperti buku, referensi,
jurnal dan penelitian lain yang terkait dengan penelitian ini.

Syarat-syarat data yang baik adalah:


a. data harus objective, sehingga dapat menggambarkan keadaan seperti apa
adanya (as it as)
b. data harus mewakili (representative)

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


105

c. data perkiraan harus mempunyai tingkat kesalahan sampling yang kecil


d. data harus tepat waktu (up to date)
e. data harus relevan, ada hubungan dengan persoalan

Dalam penelitian ini, untuk menggambarkan populasi yang sebenarnya,


maka responden dipilih dengan menggunakan teori sampling. Tujuan teori
sampling adalah membuat sampling menjadi lebih efisien, artinya dengan biaya
yang lebih rendah diperoleh tingkat ketelitian yang sama tinggi atau dengan biaya
yang sama diperoleh tingkat ketelitian yang lebih tinggi.

Populasi penelitian adalah satuan kerja yang merupakan pengguna jasa


di seluruh wilayah Indonesia. Dalam penelitian ini populasi tersebut dibagi
menjadi 2 (dua) regional, disesuaikan dengan direktorat pembina pada masing-
masing direktorat jenderal, yaitu Regional Barat (Sumatera dan Jawa), Regional
Timur (Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua), dengan
sebaran populasi sebagai berikut:

Tabel 3.2. Populasi Penelitian

JUMLAH POPULASI
BIDANG REGIONAL JUMLAH
BARAT TIMUR TOTAL

CIPTA KARYA 63 68 131


SUMBER DAYA AIR 18 13 31
BINA MARGA 5 5 10
JUMLAH 86 86 172

Sumber : Hasil olahan sendiri dari Program Kerja Pemeriksaan Tahunan (PKPT)
2008 Itjen
Dari populasi sebagaimana diuraikan di atas, penelitian ini mengambil
sampling dengan cara proportionate stratified random sampling karena
mengingat populasi tersebut terdiri dari beberapa anggota yang tidak homogen
(Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Penerbit Alfabeta,
2007). Untuk penghitungan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin, yaitu:

N
n=
1 + N .e 2
(3.1)

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


106

dimana,
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
e = tingkat kesalahan

penelitian ini diambil tingkat kesalahan sebesar 10%, dengan beberapa


pertimbangan sebagai berikut:
- Lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia
- Kesibukan para responden melaksanakan tugas utamanya
- Proses pengambilan data melalui jasa ekspedisi/pos

3.3.6 Tabulasi Data

Berdasarkan data yang telah terkumpul dari kuesioner yang


didistribusikan kepada responden sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya,
maka dilakukan penabulasian data untuk lebih memudahkan dalam proses
analisisnya. Tabulasi data dimaksudkan untuk memasukkan data dari tabel-tabel
tertentu dan mengatur angka-angka serta menghitungnya. Ada dua jenis tabel
yang sering dipakai, yaitu tabel data dan tabel kerja. Tabel data adalah tabel yang
dipakai untuk mendeskripsikan data sehingga memudahkan peneliti untuk
memahami struktur dari sebuah data. Sedangkan tabel kerja adalah tabel yang
dipakai untuk menganalisis data yang tertuang dalam tabel data. Contoh tabel data
sebagaimana pada tabel 3.3. digunakan apabila kita hendak mendeskripsikan data
mentah yang dihitung satu per satu dari responden.

Tabel 3.3. Contoh Tabel Data

Variabel 1 (X1) Variabel 2 (X2) Variabel 3 (X3)


Kode/ No Urut Variabel Y
Responden Pertanyaan No. Pertanyaan No. Pertanyaan No.
1 2 3 dst 1 2 3 dst 1 2 3 dst
Jawaban Responden
1 1 6 5 3 2 2 3 4 5 4 4 2 3
2 2 2 3 5 4 4 3 5 5 4 4 1 4
3 2 5 5 4 1 3 2 5 5 4 6 1 5
4 3 4 6 2 1 4 1 6 5 3 6 1 5
5 2 5 5 2 1 4 2 6 5 4 6 2 4
6 3 5 5 1 1 4 2 5 5 4 5 1 5
7 1 6 4 1 1 5 1 5 5 4 6 1 3
dst

Sumber : Olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


107

Selanjutnya sebagai data untuk masukan pada program bantuan


pengolahan data dengan SPSS, dibuat tabel sebagai berikut:

Tabel 3.4. Contoh Tabel Data Input

No Urut
X1 X2 X3 Y
Responden
1
2
3
4
5
dst

Sumber : Hasil olahan sendiri


Isian pada Tabel 3.4. tersebut di atas merupakan penghitungan nilai rata-
rata dari masing-masing variabel. Sebagai contoh pada variabel X1 yang terdiri
dari 7 (tujuh) sub variabel pada satu orang responden memberikan jawaban
pilihan antara 1 s.d. 6, yaitu 4; 5; 6; 6; 4; 4; dan 5, maka nilai dari variabel X1
adalah pembagian antara jumlah nilai dengan jumlah responden, atau dalam
contoh ini diperoleh nilai X1sebesar 4,86. Demikian seterusnya untuk sejumlah
responden pada variabel X2 dan X3.

Sedangkan tabel distribusi frekuensi untuk menjawab RQ1, dimana


diperlukan identifikasi faktor-faktor dominan yang memengaruhi kesiapan
Pengguna Jasa dalam penerapan VE, maka dibuat tabel hanya untuk variabel X3,
sebagai berikut:

Tabel 3.5. Contoh Tabel Distribusi Frekuensi

Skala Jawaban
Var X3 1 2 3 4 5 6
Jml Mean
F % F % F % F % F % F %
1 1 10 3 30 0 0 0 0 2 20 4 40 10 4,10
2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 100 10 6,00
3 5 50 3 30 2 20 0 0 0 0 0 0 10 1,70
4 1 10 0 0 0 0 0 0 3 30 6 60 10 5,20
5 0 0 1 10 0 0 1 10 2 20 6 60 10 5,20
dst
Sumber : Olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


108

3.4 Analisis Data

Terdapat dua macam teknik statistik inferensial yang dapat digunakan


untuk menguji hipotesis penelitian. Yaitu statistik parametrik dan statistik
nonparametrik.

Penggunaan nonparametrik pertama sekali diperkenalkan oleh Wolfowitz


pada tahun 1942. Metode nonparametrik dikembangkan untuk digunakan pada
kasus-kasus tertentu dimana peneliti tidak mengetahui tentang parameter dari
variabel didalam populasi. Metode nonparametrik tidak didasarkan pada perkiraan
parameter seperti mean dan standar deviation yang menjelaskan distribusi
variabel di dalam populasi. Itu sebabnya, metode ini dikenal juga dengan
parameter-free methods atau distribution-free methods. (Statsof,
http://www.statsosft.com/textbook/stnonpar.html, 7 Mei 2007)

Nonparametrik atau prosedur distribution-free digunakan didalam ilmu


sains dan teknik dimana data yang dilaporkan bukan berupa nilai yang continuum
melainkan skala ordinal yang bersifat natural untuk menganalisis rangking dari
data (Walpole, 2002)

3.4.1 Metode Analisis Delphi

Marimin dalam buku Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan


Kriteria Majemuk, 2007, Metode Delphi adalah modifikasi dari teknik
brainwriting dan survey. Dalam metode ini, panel digunakan dalam pergerakan
komunikasi melalui beberapa kuesioner yang tertuang dalam tulisan. Teknik
Delphi dikembangkan pada awal 1950 untuk memperoleh opini ahli. Objek dari
metode ini adalah untuk memperoleh konsensus yang paling reliabel dari sebuah
grup ahli. Teknik ini diterapkan di berbagai bidang.

Metode Delphi dikembangkan oleh Derlkey dan asosiasinya di Rand


Corporation, California pada tahun 1960-an. Metode Delphi merupakan metode
yang menyelaraskan proses komunikasi suatu grup sehingga dicapai proses yang
efektif dalam mendapatkan solusi masalah yang kompleks.

Pendekatan Delphi memiliki tiga grup yang berbeda yaitu membuat


keputusan, staf, dan responden. Pembuat keputusan akan bertanggung jawab

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


109

terhadap keluaran dari kajian Delphi. Sebuah grup kerja yang terdiri dari lima
sampai sembilan anggota yang tersusun atas staf dan pembuat keputusan, bertugas
mengembangkan dan menganalisis semua kuesioner, evaluasi pengumpulan data
dan merevisi kuesioner yang diperlukan. Grup staf dipimpin oleh koordinator
yang harus memiliki pengalaman dalam desain dan mengerti metode Delphi serta
mengenal problem area. Tugas staf coordinator adalah mengontrol staf dalam
pengetikan, mailing kuesioner, membagi dan proses hasil serta penjadwalan
pertemuan. Responden adalah orang yang ahli dalam masalah dan siapa saja yang
setuju untuk menjawab kuesioner.

Keunggulan dan kelemahan Metode Delphi antara lain adalah sebagai


berikut:

1. Keunggulan Metode Delphi


a. Delphi mengabaikan nama dan mencegah pengaruh yang besar satu
anggota terhadap anggota lainnya
b. Kemungkinan untuk menutupi sebuah area geografi yang lebih sempit
dan grup besar yang heterogen sehingga dapat berpartisipasi pada basis
yang sama
c. Adanya langkah diskrit
d. Masing-masing responden memiliki waktu yang cukup untuk
mempertimbangkan masing-masing bagian dan jika perlu melihat
informasi yang diperlukan untuk mengisi kuesioner
e. Menghindari tekanan sosial psikologi
f. Perhatian langsung pada masalah
g. Memenuhi kerangka kerja
h. Menghasilkan catatan dokumen yang tepat

2. Kelemahan Metode Delphi


a. Lambat dan menghabiskan waktu
b. Tidak mengizinkan untuk kemungkinan komunikasi verbal melalui
pertemuan langsung perseorangan
c. Responden dapat salah mengerti terhadap kuesioner atau tidak memenuhi
ketrampilan komunikasi dalam bentuk tulisan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


110

d. Konsep Delphi adalah Ahli. Para ahli akan mempresentasikan opini yang
tidak dapat dipertahankan secara ilmiah dan melebih-lebihkan
e. Sistematika Delphi menghalang-halangi proses lawan dan mendiami
eksplorasi pemikiran
f. Tidak mengizinkan untuk kontribusi prospektif yang berhubungan
dengan masalah
g. Mengasumsikan bahwa Delphi dapat menjadi pengganti untuk semua
komunikasi manusia di berbagai situasi

3.4.2 Metode Analisis Statistika

Statistika telah mengembangkan teknik-teknik untuk mengklasifikasikan


data dan menyajikan data yang sangat membantu para peneliti. Dengan
menggunakan teknik-teknik penyajian data seperti yang dikembangkan dalam
statistika, misalnya dalam bentuk tabel atau grafik, maka data itu akan mudah
dimengerti.

Statistika juga telah mengembangkan teknik-teknik penghitungan harga-


harga tertentu, seperti misalnya ukuran-ukuran tendensi sentral, ukuran-ukuran
penyebaran, ukuran-ukuran kekeliruan, dan lain-lain, yang diperlukan pada
kebanyakan penelitian ilmiah.

Sedangkan yang terpenting adalah statistika telah mengembangkan


berbagai metode untuk menguji hipotesis, yang merupakan tujuan utama dari
suatu penelitian. Penggunaan metode pengujian hipotesis yang tepat akan sangat
meningkatkan kecermatan keputusan yang diambil sebagai kesimpulan penelitian
itu.

Namun demikian, statistika hanyalah suatu alat, sehingga yang


mempunyai peranan penting adalah rumusan masalah yang dicari jawabannya dan
tujuan penelitian itu sendiri.

Kegiatan analisis statistika dengan bantuan program software SPSS


merupakan salah satu metode analisis data. Tahapan kegiatan pengolahan data
tersebut mengikuti diagram alir sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


111

MULAI

Input Data

Uji Instrumen Data


Output : Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Uji Asumsi Dasar


Output : Uji Normalitas, Uji Linieritas

Uji Penyimpangan Asumsi Klasik


Output : Multikolinieritas, Autokorelasi

Analisis Deskriptif

Analisis Korelasi
Output : Correlate Bivariate (Pearson Product Moment)

Analisis Regresi Linier


Output : Regression Linier, ANOVA, T Test, R, R2

STOP

Gambar 3.4. Diagram Alir Analisis Statistik dengan Program SPSS


Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


112

3. . Analisis Regresi

Metode korelasi akan membahas keeratan hubungan, sedangkan metode


regresi akan membahas prediksi dan peramalan. Analisis regresi digunakan
untuk memperkirakan dan/atau memprediksi nilai rata-rata (populasi) dari
variabel terikat Y berdasarkan nilai variabel-variabel bebas X, yang diketahui
atau ditetapkan. Jika variabel bebas hanya satu disebut regresi sederhana
sedangkan jika variabel bebas lebih dari satu maka disebut regresi berganda.

Dari kelompok variabel yang didapat dari analisis faktor dan analisis variabel
penentu, maka terhadap variabel-variabel terpilih dilakukan analisis regresi,
dari analisis regresi ini terdapat dua ukuran penting yang akan dicari, yaitu:
1) Garis regresi yang merupakan gambar hubungan antar variabel
2) Standard error of estimated, yaitu hanya mengukur pemencaran tiap-tiap
titik (data) terhadap garis regresinya atau merupakan penyimpangan
standar dari harga-harga variabel pengaruh (Y) terhadap garis regresinya.

Menurut Wahid Sulaiman dalam bukunya Analisis Regresi Menggunakan


SPSS, 2004, menyatakan bahwa menguji ada atau tidaknya hubungan linier
antara variabel independen terhadap variabel dependen, harus dirumuskan
hipotesisnya terlebih dahulu, yaitu:

H0 : b = 0 (tidak ada hubungan linier antara variabel independen dan variabel


dependen).

1) H1 : b 0 (ada hubungan linier antara variabel independen dan dependen)

2) H1 : b > 0 (ada hubungan linier antara variabel independen dan dependen


secara positif)

3) H1 : b < 0 (ada hubungan linier antara variabel independen dan dependen


secara negatif)

Selain itu perlu diuji koefisien dari nilai b hasil dari prediksi nilai yang
diperoleh dari sampel, yaitu:

H0 : b = (koefisien regresi tidak signifikan)

H0 : b (koefisien regresi signifikan)

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


113

Pengambilan kesimpulan pada pengujian hipotesis dilakukan sebagai berikut:

1) Kalau thit < -t/2 atau thit < -t/2 kesimpulannya H0 ditolak. Sedangkan kalau
t/2 thit t/2 maka kesimpulannya H0 tidak ditolak. Nilai t/2 dapat
diperoleh dari tabel t pada nilai /2 dengan derajat bebas n-2, dimana
adalah /2 taraf nyata.

2) Kalau thit > t kesimpulannya H0 ditolak. Sedangkan kalau thit t maka


kesimpulannya H0 tidak ditolak. Nilai t dapat diperoleh dari tabel t pada
nilai dengan derajat bebas n-2, dimana adalah taraf nyata.

3) Kalau thit < -t kesimpulannya H0 ditolak. Sedangkan kalau thit t maka


kesimpulannya H0 tidak ditolak.

Bila memakai bantuan program SPSS, yang mana SPSS menggunakan uji
dua arah sebagaimana hipotesis nomor 1), maka prasyarat yang dikenakan
adalah:

Untuk nilai Sig. < , maka kesimpulannya Ho ditolak

Untuk nilai Sig. , maka kesimpulannya Ho tidak ditolak

3. . Analisis Korelasi

Menurut Singgih Santoso dalam buku SPSS Mengolah Data Statistik Secara
Profesional, 2000, analisis korelasi digunakan untuk mempelajari hubungan
antara b variabel. Untuk korelasi antar variabel yang sudah didapat dengan
metode korelasi bivariate sebagai berikut:

1) Koefisien korelasi bivariate/ product moment pearson


Mengukur keeratan hubungan diantara hasil-hasil pengamatan dari
populasi yang mempunyai 2 varian dan berdistribusi normal. Korelasi
pearson banyak digunakan untuk mengukur korelasi data interval dan
rasio.

2) Korelasi peringkat Spearmann (Rank Spearman) dan Kendall Tau


Lebih mengukur keeratan hubungan peringkat dibandingkan hasil
pengamatan itu sendiri (seperti korelasi Pearson). Perhitungan korelasi

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


114

ini dapat digunakan untuk menghitung koefisien korelasi pada data


ordinal dan penggunaan asosiasi pada statistik non parametrik.

Menurut Sambas Ali Muhidin et al dalam bukunya Analisis Korelasi,


Regresi, dan Jalur dalam Penelitian, 2007, dinyatakan bahwa analisis korelasi
dilakukan dengan tujuan antara lain untuk : (1) mencari bukti terdapat
tidaknya hubungan korelasi antarvariabel; (2) bila sudah ada hubungan, untuk
melihat tingkat keeratan hubungan antarvariabel; dan (3) untuk memeroleh
kejelasan dan kepastian apakah hubungan tersebut berarti
(meyakinkan/signifikan) atau tidak berarti (tidak meyakinkan).

Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien


korelasi sebagai berikut:
0,00 0,199 = sangat rendah
0,20 0,399 = rendah
0,40 0,599 = sedang
0,60 0,799 = kuat
0,80 1,000 = sangat kuat

Menurut Wahid Sulaiman dalam bukunya Analisis Regresi Menggunakan


SPSS, 2004, menyatakan bahwa menguji nilai korelasi yang dilambangkan
dengan simbol (baca : rho), harus dilakukan dengan uji hipotesis koefisien
korelasi berdasarkan nilai korelasi sampel (r), sebagai berikut:

H0 : = 0 (tidak ada hubungan antara variabel independen dan variabel


dependen).

1) H1 : 0 (ada hubungan antara variabel independen dan dependen)

2) H1 : > 0 (ada hubungan antara variabel independen dan dependen secara


positif)

3) H1 : < 0 (ada hubungan antara variabel independen dan dependen secara


negatif)

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


115

Statistik yang digunakan adalah:

t=r
(n 2)
(1 r )
2

(3.2)
dengan: t = statistik t dengan derajat bebas n-2

n = banyaknya observasi atau pengamatan

Pengambilan kesimpulan pada pengujian hipotesis dilakukan sebagai berikut:

1) Kalau thit < -t/2 atau thit < -t/2 kesimpulannya H0 ditolak. Sedangkan kalau
t/2 thit t/2 maka kesimpulannya H0 tidak ditolak. Nilai t/2 dapat
diperoleh dari tabel t pada nilai /2 dengan derajat bebas n-2, dimana
adalah /2 taraf nyata.

2) Kalau thit > t kesimpulannya H0 ditolak. Sedangkan kalau thit t maka


kesimpulannya H0 tidak ditolak. Nilai t dapat diperoleh dari tabel t pada
nilai dengan derajat bebas n-2, dimana adalah taraf nyata.

3) Kalau thit < -t kesimpulannya H0 ditolak. Sedangkan kalau thit t maka


kesimpulannya H0 tidak ditolak.

Bila memakai bantuan program SPSS, yang mana SPSS menggunakan uji
dua arah sebagaimana hipotesis nomor 1), maka prasyarat yang dikenakan
adalah:

Untuk nilai Sig. < , maka kesimpulannya Ho ditolak

Untuk nilai Sig. , maka kesimpulannya Ho tidak ditolak

3. . Kriteria Statistik

Untuk memperoleh model regresi yang terbaik, yang secara statistik disebut
BLUE (best linear unbiased estimator), terdapat beberapa kriteria yang harus
dipenuhi, yaitu:

1) Uji R2 (koefisien determinasi)


Nilai koefisien determinasi mempunyai interval antara 0 s.d. 1 (0R1),
semakin mendekati nilai 1, maka model regresi semakin baik, sebaliknya

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


116

semakin mendekati nilai 0 maka variabel independen secara keseluruhan


tidak dapat menjelaskan variabilitas dari variabel dependen.
Rumus yang digunakan menghitung koefisien determinasi adalah:

R 2
=
(Y * Y ^ ) 2
/k )= jumlahkuadrat regresi
(Y Y *) 2
/k jumlahkuadrat total

(3.3)
dimana:
Y = nilai pengamatan
Y* = nilai Y yang ditaksir dengan menggunakan model regresi
Y^ = nilai rata-rata pengamatan
k = jumlah variabel independen

2) Uji F
Uji ini dipakai untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen
secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Pengujian ini dilakukan
dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel.
Rumus yang digunakan:

Fhitung =
((Y * Y ^ ) /(k 1)) = rataratakuadrat
2
regresi

(Y Y ^ ) /(n k ) rataratakuadrat
2
residual

(3.4)
di mana:
Y = nilai pengamatan
Y* = nilai Y yang ditaksir dengan menggunakan model regresi
Y^ = nilai rata-rata pengamatan
n = jumlah pengamatan/sampel
k = jumlah variabel independen

3) Uji t
Uji t dipakai untuk melihat signifikansi pengaruh variabel independen
secara individu terhadap variabel dependen dengan menganggap variabel
lain bersifat konstan. Uji ini dilakukan dengan memperbandingkan thitung
dengan ttabel.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


117

Rumus untuk memperoleh thitung adalah:


bi ( j )
t hitung =
se(bi )
(3.5)
di mana:
bi = koefisien variabel ke-i
j = parameter ke-I yang dihipotesiskan
se(bi) = kesalahan standar bi

3. . Pengujian Model
Meskipun model telah diperoleh, pengujian pemenuhan terhadap BLUE (best
linear unbiased estimator) adalah sebagai berikut:

1) Uji Linearitas
Untuk menguji linearitas hubungan 2 (dua) buah variabel, pertama-tama
kita harus membuat diagram pencarnya, apakah titik-titik data tersebut
membentuk pola linier atau tidak.
Metode lain untuk menguji linieritas suatu model adalah dengan
membuat plot residual terhadap harga-harga prediksi. Jika grafik antara
harga-harga prediksi dan harga residual tidak membentuk suatu pola
tertentu (parabola, kubik, atau lainnya), berarti asumsi linieritas
terpenuhi. Hal ini diindikasikan oleh residual-residual yang
didistribusikan secara random dan terkumpul di sekitar garis lurus yang
melalui titik nol.

2) Uji Homoskedastisitas (kesamaan varians)


Dalam uji heteroskedastisitas, pengujian dilakukan dengan uji Park,
dimana disarankan penggunaan ei2 sebagai pendekatan i2 dan
melakukan regresi sebagai berikut:
Lnei2 = ln . 2 + . ln . Xi + vi
= + . ln . Xi + vi (3.6)
di mana:
vi = unsur gangguan (disturbance) yang stokastik

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


118

Jika ternyata signifikan secara statistik maka dikatakan bahwa dalam


data tersebut terjadi heteroskedastisitas, namun apabila tidak signifikan
maka dikatakan bahwa data tersebut terjadi homoskedastisitas.
Selain itu, terdapat juga metode visual yang dapat dipakai untuk
membuktikan kesamaan varians (homoskedastisitas), yaitu melalui grafik
penyebaran nilai-nilai residual terhadap nilai-nilai prediksi. Jika
penyebarannya tidak membentuk suatu pola tertentu seperti meningkat
atau menurun, maka keadaan homoskedastisitas terpenuhi. Bila tidak,
maka dipertanyakan asumsi varians konstan dari Y terhadap nilai-nilai X.

3) Uji Non-Autokorelasi
Autokorelasi
Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi maka dilakukan
pengujian Durbin-Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut
(Makridakis, 1983):
a) 1,65 < DW < 2,35 tidak ada autokorelasi
b) 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 tidak dapat disimpulkan
c) DW < 1,21 atau DW > 2,79 terjadi autokorelasi

4) Uji Non-multikolinearitas
Multikolinearitas berarti ada hubungan linier yang sempurna atau
pasti di antara beberapa atau semua variabel independen dari model
regresi. Cara pendeteksiannya adalah jika multikolinearitas tinggi,
seseorang mungkin memperoleh R2 yang tinggi tetapi tidak satupun atau
sangat sedikit koefisien yang ditaksir yang signifikan/penting secara
statistik.
Ada beberapa cara untuk menguji multikolinearitas ini, yaitu:
a) Dengan melihat nilai inflation factor (VIF) pada model regresi.
Apabila suatu model mempunyai nilai VIF lebih besar dari 5 maka
variabel tersebut mempunyai persoalan multikolinearitas dengan
variabel bebas lainnya.
b) Dengan membandingkan nilai koefisien determinasi individual (r2)
dengan nilai determinasi secara serentak (R2)
c) Dengan melihat nilai eigenvalue dan condition index

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


119

5) Uji Normalitas
Untuk mendeteksi normalitas suatu model adalah dengan plot
probabilitas normal, dimana masing-masing nilai pengamatan
dipasangkan dengan nilai harapan pada distribusi normal. Normalitas
terpenuhi apabila titik-titik data terkumpul di sekitar garis lurus.
Cara lain pendeteksian normalitas suatu model adalah dengan cara
detrend normal plot. Jika sampel berasal dari populasi normal, maka
titik-titik tersebut seharusnya terkumpul di sekitar garis lurus yang
melalui titik nol dan tidak berpola.
Meskipun plot probabilitas menyediakan dasar yang nyata untuk
memeriksa kenormalan, akan tetapi uji hipotesis juga sangat diperlukan.
Dua buah uji yang sering digunakan adalah uji Shapiro-Wilks dan uji
Liliefors.

Hipotesis:
Ho = sampel ditarik dari populasi dengan distribusi tertentu
H1 = sampel ditarik bukan dari populasi dengan distribusi tertentu
Jika nilai signifikansi < maka Ho ditolak, namun jika nilai signifikasi >
maka Ho tidak ditolak.

Bagaimanapun juga untuk jumlah sampel dengan ukuran besar,


kebanyakan uji goodness-of-fit menghasilkan keputusan menolak Ho, jadi
hampir tidak mungkin untuk mendapatkan data yang benar-benar
terdistribusi normal. Pada kebanyakan uji statistik, cukuplah diperoleh
data yang terdistribusi mendekati normal, sehingga untuk sampel
berukuran besar, seharusnya tidak hanya melihat taraf signifikansi yang
dihasilkan saja, melainkan juga keberangkatan (asal) data dari
normalitas.

Untuk uji asal data dari normalitas digunakan uji sampel Kolmogorov-
Smirnov sebab metode ini dirancang untuk menguji keselarasan pada
data yang kontinyu, oleh karena itu skala pengukuran yang digunakan
minimal ordinal.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


120

Uji 1 sampel Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menentukan


seberapa baik sebuah sampel random data menjajagi distribusi teoritis
tertentu (normal, uniform, poisson, eksponensial). Uji ini didasarkan
pada perbandingan fungsi distribusi kumulatif sampel dengan fungsi
distribusi kumulatif hipotesis.

Tujuan dari uji 1 sampel Kolmogorov-Smirnov adalah untuk memastikan


apakah dapat disimpulkan bahwa F(x) = Fo(x) untuk semua x cocok
dengan fungsi distribusi sampel {S(x)} yang teramati atau fungsi
distribusi empiris.

Hipotesis:
Ho = sampel ditarik dari populasi dengan distribusi tertentu
H1 = sampel ditarik bukan dari populasi dengan distribusi tertentu.
Pengambilan kesimpulan:
Asymp. Sig. < taraf signifikansi () tolak Ho
Asymp. Sig. > taraf signifikansi () terima Ho

e. Analisis Statistik Deskriptif


Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian
seperti mean, standar deviasi, varian, modus, dan sebagainya. Dalam program
SPSS digunakan juga ukuran skewness dan kurtosis untuk menggambarkan
distribusi data apakah normal atau tidak, selain ada beberapa pengujian untuk
mengetahui normalitas data dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-
Wilks.

3.4.4 Metode Analisis Distribusi Frekuensi

Untuk mengetahui bagaimana distribusi frekuensi pada suatu data,


peneliti dapat menganalisis data penelitiannya dengan menggunakan teknik
distribusi frekuensi ini. Teknik ini dilakukan dengan cara menghitung frekuensi
data tersebut untuk selanjutnya diprosentasekan. Frekuensi tersebut juga dapat
dilihat penyebaran prosentasenya yang dikenal dengan frekuensi relatif (Bungin,
2004).

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


121

Analisis distribusi frekuensi dilakukan hanya pada variabel X3


(Penerapan VE), dimana sub variabel yang ada dianalisis untuk memeroleh
faktor-faktor yang signifikan memengaruhi kesiapan Pengguna Jasa dalam
penerapan VE. Analisis ini dilakukan dengan mentabulasikan frekuensi jumlah
responden untuk setiap skala jawaban atas pertanyaan/sub variabel. Dari
frekuensi tersebut, diberikan prosentase yang dihitung dengan membagi frekuensi
masing-masing skala jawaban dengan jumlah total responden. Selanjutnya
dihitung rata-rata (mean) masing-masing sub variabel, dengan rumus:

Mean =
[( F1 x1) + ( F2 x 2) + ( F3 x3) + ( F4 x4) + ( F5 x5) + ( F6 x6)]
F
(3.7)
di mana:
F1 = frekuensi/jumlah responden yang memilih jawaban 1
F2 = frekuensi/jumlah responden yang memilih jawaban 2
F3 = frekuensi/jumlah responden yang memilih jawaban 3
F4 = frekuensi/jumlah responden yang memilih jawaban 4
F5 = frekuensi/jumlah responden yang memilih jawaban 5
F6 = frekuensi/jumlah responden yang memilih jawaban 6
F = jumlah responden (=F1+ F2+ F3+ F4+ F5+ F6)

Kriteria pemilihan faktor-faktor yang signifikan tersebut adalah sub variabel yang
mempunyai mean < 3,5, di mana nilai 3,5 merupakan nilai tengah antara nilai 1
dengan nilai 6. Dengan demikian faktor-faktor tersebut merupakan faktor kendala
dalam penerapan VE.
Faktor-faktor dari hasil identifikasi dengan analisis distribusi frekuensi tersebut,
selanjutnya dilakukan metode delphi, dimana pakar/tenaga ahli diminta
memberikan nilai/skor atas pembandingan beberapa faktor tersebut dengan
instrumen kuesioner yang telah dipersiapkan oleh peneliti.
Hasil isian kuesioner dari para pakar, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan
metode/cara/sistem setengah kompetisi untuk memeroleh peringkat dimulai faktor
yang dinilai paling signifikan.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


122

3.4.4 Studi Kasus


Studi kasus untuk menjawab RQ3 yaitu cara penerapan VE yang telah
dilaksanakan, dengan menggunakan metode studi VE yang ditetapkan SAVE
International sebagaimana dibahas pada bab terdahulu. Langkah-langkah tersebut
adalah:

a. Fase Informasi

b. Fase Analisis Fungsi

c. Fase Kreatif

d. Fase Evaluasi

e. Fase Pengembangan

f. Fase Presentasi

g. Fase Implementasi

Dalam melakukan praktek studi VE, peneliti menggunakan metode delphi,


dimana dalam penelitian dan analisisnya melibatkan sejumlah narasumber yang
dinilai berkompeten di bidangnya.

Dengan diagram alir sebagaimana ditampikan pada Gambar 3.5. berikut.

Gambar 3.5. Diagram Alir Studi VE


Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


123

3.5 Temuan dan Bahasan Hasil Analisis Data

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan, maka


dilakukan analisis-analisis yang selanjutnya akan menghasilkan pokok-pokok
temuan analisisnya. Dari temuan-temuan tersebut selanjutnya dikembangkan dan
dilakukan pembahasan, sehingga akan diperoleh kesimpulan penelitian dan
disampaikan saran yang diperlukan.

3.6 Kesimpulan

Untuk identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat


pemahaman dan kesiapan pengguna jasa dalam penerapan value engineering
pada penyelenggaraan infrastruktur di lingkungan Departemen PU, metode yang
dipakai dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan
kuesioner yang didistribusikan kepada pengguna jasa di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kuesioner tersebut
disusun berdasarkan parameter-parameter analisis yang dibutuhkan dan
relevan dengan maksud dan tujuan dari penelitian ini.

Untuk validasi hasil penelitan dan mengetahui dampak kesiapan dan


tindak lanjutnya digunakan kuesioner kepada pakar dan hasilnya akan dianalisis
dengan Delphi Technique.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


BAB 4
PELAKSANAAN PENELITIAN DAN
ANALISIS DATA

4.1 Pendahuluan

Pada Bab ini penulis akan menjelaskan tentang pelaksanaan penelitian


yaitu mulai dari proses desain penelitian meliputi identifikasi dan validasi
variabel, penyusunan instrumen penelitian berupa kuesioner, uji coba dan revisi
kuesioner, pengelompokan responden, penghitungan jumlah sampel penelitian.
Selanjutnya proses kuesioner yang meliputi distribusi, penerimaan, dan
penyusunan daftar pemenuhan jumlah responden terhadap sampling. Bab ini
juga membahas mengenai proses pengolahan data, baik mengenai statistik hasil
survei maupun studi kasus atas prosedur dan cara pelaksanaan studi VE.

Hasil dari analisis, baik dari analisis statistik maupun studi kasus, maka
akan diperoleh suatu temuan penelitian.

4.2 Tahap Desain Penelitian


4.2.1 Identifikasi Variabel

Peneliti menetapkan 3 (tiga) variabel utama untuk memeroleh


pencapaian efektivitas penggunaan anggaran sebagai variabel independen.
Variabel-variabel utama tersebut adalah:
Y = efektivitas penggunaan anggaran
X1 = penyelenggaraan infrastruktur
X2 = cara penggunaan anggaran
X3 = penerapan VE

Variabel independen dan dependen tersebut untuk dapat memenuhi


persamaan regresi :

Y = a + b.X1 + c.X2 + d.X3 (4.1)

124
Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


125

Berdasarkan studi literatur terhadap beberapa referensi dan hasil


penelitian terkait sebelumnya, maka masing-masing variabel utama tersebut
diidentifikasi beberapa sub-variabel yang dinilai dapat mendukung/terkait
dengan variabel utama.
Hasil identifikasi sub variabel yang mendukung variabel X1-
Penyelenggaraan Infrastruktur diperoleh 16 (enam belas) sub variabel,
sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.1. Daftar Sub Variabel X1.

Tabel 4.1. Daftar Sub Variabel X1

No. Sub Variabel Referensi

1 Perencanaan Kegiatan Berdasarkan Ketersediaan Anggaran PP 29/2000

2 Frekuensi Revisi DIPA/dokumen anggaran UU 01/2004

3 Pemahaman thd Perencanaan Konstruksi (Perencanaan Umum dan PP 29/2000


Perencanaan Teknik)

4 Penyusunan EE yang didahului dng penyusunan metode pelaksanaan, Keppres 80/2003


metode kerja, analisa teknik, dan koefisien harga satuan pekerjaan

5 Pembandingan Nilai HPS thd EE Keppres 80/2003

6 Nilai Penawaran Terendah yg responsif dan terevaluasi Permen PU 06/2008

7 Penyusunan Dokumen Kontrak, terutama pada cara pengukuran untuk PP 29/2000


Pembayaran

8 Pembandingan Nilai Kontrak (RAB) terhadap HPS Keppres 80/2003

9 Addendum/Amandemen Kontrak/Pekerjaan Tambah Kurang Keppres 80/2003

10 Pengawasan Melekat oleh Atasan Kepmen PAN No.


KEP/46/M.PAN/4/2004

11 Pengawasan Melekat oleh Direktorat Jenderal/Direktorat Pembina Teknis Kepmen PAN No.
KEP/46/M.PAN/4/2004

12 Pengawasan Fungsional oleh Inspektorat Jenderal Permen PU 14/PRT/M/2007

13 Pengawasan Masyarakat Permen PU 323/PRT/M/2005

14 Organisasi Proyek Iman Soeharto, 1995

15 Alat (tool) Pengendalian Shen & Liu, 2003

16 Standard Operating Procedures (SOP) Module SAVEI, 2008

Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


126

Hasil identifikasi sub variabel yang mendukung variabel X2-Cara


Penggunaan Anggaran diperoleh 11 (sebelas) sub variabel, sebagaimana
ditampilkan pada Tabel 4.2. Daftar Sub Variabel X2.

Tabel 4.2. Daftar Sub Variabel X2

No. Sub Variabel Referensi

1 Penggunaan biaya melebihi anggaran yang tersedia Permen PU 14/2007

2 Pengadaan sumber daya tidak berdasarkan rencana kebutuhan periodik Permen PU 14/2007
dalam mencapai tujuan yang ditentukan,

3 Harga pembelian dalam rangka pengadaan sumber daya melebihi harga Permen PU 14/2007
standar atau harga pasar

4 Penggunaan sumber daya dalam dalam rangka melaksanakan kegiatan Permen PU 14/2007
melebihi kebutuhan yang nyata

5 Hasil pekerjaan (mutu, waktu, dan biaya) yang dicapai ternyata lebih Permen PU 14/2007
rendah daripada target yang telah ditetapkan/direncanakan

6 Peningkatan hasil yang dicapai lebih rendah dibandingkan dengan Permen PU 14/2007
peningkatan sumber daya yang dipergunakan

7 Pekerjaan survei, investigasi, dan perencanaan kurang matang dan/atau Permen PU 14/2007
tidak dilakukan sehingga terjadi over design

8 Hasil kegiatan tidak atau belum tercapai sesuai dengan rencana Permen PU 14/2007

9 Hasil kegiatan dipergunakan tidak sesuai dengan tujuan atau sama sekali Permen PU 14/2007
tidak dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan

10 Pelaksanaan pekerjaan menyimpang dari jadual yang telah ditetapkan, Permen PU 14/2007
sehingga pemanfaatan hasilnya mengalami hambatan/keterlambatan

11 Pekerjaan persiapan dan perumusan proyek (survei dan desain) tidak Permen PU 14/2007
mantap, sehingga mengakibatkan hambatan dalam pemanfaatan hasil

Sumber : hasil olahan sendiri

Sedangkan sub variabel yang mendukung variabel X2-Penerapan Value


Engineering diperoleh 33 (tiga puluh tiga) sub variabel, sebagaimana
ditampilkan pada Tabel 4.3. Daftar Sub Variabel X3.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


127

Tabel 4.3. Daftar Sub Variabel X3

No. Sub Variabel Referensi

1 Kualifikasi (Tingkat Pendidikan dan Pengalaman) Personil di Pengguna Prakash 1995


Jasa
2 Kemampuan Menyusun Estimasi Biaya Prakash 1995
3 Pengetahuan mengenai Harga Standar/Pasar Prakash 1995
4 Pengetahuan mengenai Metode Kerja (construction method dan Prakash 1995
construction works)
5 Komposisi personil Pengguna Jasa ditinjau dari Disiplin Ilmu Shen & Liu, 2003
6 Pelatihan dan sertifikasi VE Poegoeh, 2003
7 Manajemen VE mudah dipahami Poegoeh, 2003
8 VE dpt Mengoptimalkan Kegiatan yang telah Diprogramkan/Direncanakan Poegoeh, 2003
9 Penerapan VE terbatas hanya pada Proyek/Pekerjaan yang Besar Poegoeh, 2003
10 Penggunaan Teknik VE Shen & Liu, 2003
11 Jenis Proyek dan Tingkat Risiko menurut UU 18/1999 dan PP 29/2000 UU 18/1999
12 Biaya Proyek Prakash 1995
13 Gambar Proyek Prakash 1995
14 Fungsi Bangunan dan Bagiannya Prakash 1995
15 Spesifikasi Material Konstruksi Prakash 1995
16 Kesesuaian jenis, jumlah, dan kapasitas Peralatan yang digunakan Permen PU 06/2008
17 Permasalahan Proyek Permen PU 06/2008
18 Perbandingan antara Desain Awal dng Desain Alternatif ditinjau dari Harry Tambunan, 2002
Sudut Pandang Teknik
19 Perbandingan antara Desain Awal dng Desain Alternatif ditinjau dari Harry Tambunan, 2002
Sudut Pandang Fungsi (Primer, Sekunder, dst)
20 Perbandingan antara Desain Awal dng Desain Alternatif ditinjau dari Harry Tambunan, 2002
Sudut Pandang Biaya
21 Meneliti Item yang Berbiaya Tinggi/Dominan Harry Tambunan, 2002
22 Gagasan Alternatif Metode Konstruksi (construction method dan works Harry Tambunan, 2002
method) untuk Menghemat Biaya
23 Gagasan Inovatif yang Dapat Membantu Menghasilkan Biaya yg Lebih Harry Tambunan, 2002
Efisien
24 Memilih Alternatif yang Paling Memungkinkan dalam Penghematan Biaya Harry Tambunan, 2002
25 Menyusun Urutan Prioritas Alternatif sesuai dengan Penghematan yang Harry Tambunan, 2002
Dihasilkan
26 Memberikan Laporan dan Rekomendasi thd Alternatif yang Dipilih Harry Tambunan, 2002
27 Kerja Sama dengan Pihak Terkait Shen & Liu, 2003
28 Kerja Sama dan Interaksi Tim VE Shen & Liu, 2003
29 Dukungan Keuangan Shen & Liu, 2003
30 Dukungan Logistik Shen & Liu, 2003
31 Regulasi dan Legislasi Indulexco, 2007
32 Insentif kepada Kontraktor Indulexco, 2007
33 Insentif kepada Konsultan VE Permen PU 45/2007

Sumber : hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


128

Dengan demikian, jumlah seluruh sub-variabel yang mendukung ketiga


variabel utama adalah sebanyak 60 (enam puluh) buah.

4.2.2 Validasi Variabel oleh Pakar


Atas hasil identifikasi sub-variabel yang telah diuraikan sebelumnya,
selanjutnya dimintakan pendapat sebagai syarat validasi dari beberapa orang
yang memenuhi kriteria sebagai pakar sebagaimana telah diuraikan pada bab
sebelumnya. Dalam penelitian ini pakar yang dimintakan pendapat sebanyak 11
(sebelas) orang, yaitu dengan profil:

Tabel 4.4. Profil Pakar Validasi Variabel

a. Profesi
Pendidikan Pengalaman
No b. Jabatan Spesialisasi
Terakhir (thn)
c. Instansi
1. S2 Praktisi Konsultan/ 32 Manajemen Konstruksi
Direktur/
PT Wiratman & Associates
2. S2 Praktisi Kontraktor/Akademisi 31 Konstruksi
PT Waskita Karya/
Universitas Indonesia
3. S2 Birokrasi/ 31 Keairan
Eselon I
Departemen PU
4. S2 Pejabat Fungsional Jalan Jembatan/ 22 Jalan Jembatan
Departemen PU
5. S3 Senior Researcher/ 13 Manajemen Konstruksi
Balitbang Dep PU
6. S1 Birokrasi/ 30 Keairan
Auditor Ahli Madya/
Itjen Dep. PU
7. S1 Praktisi Kontraktor/ 25 Konstruksi
Kepala Divisi/
PT Brantas Abipraya
8. S2 Akademisi/ 20 Manajemen Konstruksi
Univ. Atma Jaya Yogyakarta
9. S2 Praktisi Konsultan/Akademisi 27 Konstruksi
PT Bina Karya/ Univ YAI
10. S2 Tenaga Ahli/ 30 Keairan
Itjen Dep PU
11. S2 Tenaga Ahli/ 25 Keairan
Itjen Dep PU

Sumber : hasil olahan sendiri


Berdasarkan hasil validasi tersebut, diperoleh tambahan sub variabel
dan beberapa komentar atas sub variabel yang diajukan. Adapun tambahan sub
variabel seluruhnya berjumlah 7 (tujuh) buah, sehingga seluruhnya berjumlah 67
(enam puluh tujuh) buah, dengan rincian sebagaimana dalam tabel berikut.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


129

Tabel 4.5. Daftar Tambahan Sub-Variabel dari Pakar

Jumlah Sub Variabel


Variabel Utama
Hasil Identifikasi Hasil Validasi Pakar Jumlah

X1 16 4 20
X2 11 2 13
X3 33 1 34
JUMLAH 60 7 67

Sumber : hasil olahan sendiri


Sedangkan komentar yang diberikan oleh para pakar adalah berupa
perbaikan kalimat atau penegasan singkatan-singkatan yang masih dianggap
belum familiar bagi sebagian orang.

4.2.3 Penyusunan Instrumen Penelitian

Berdasarkan identifikasi sub variabel-sub variabel pada tabel-tabel di


atas, maka disusun instrumen penelitian dalam bentuk butir-butir pertanyaan
dan/atau pernyataan. Butir-butir pertanyaan/pernyataan tersebut disusun dengan
mentransformasikan sub variabel yang ada. Butir-butir pertanyaan/pernyataan
dibuat dengan mengakomodasi saran komentar pakar dan sub variabel.

Hal yang mungkin terjadi adalah satu butir pertanyaan/pernyataan dapat


mewakili beberapa sub variabel yang memiliki kemiripan dan kesamaan maksud.
Dengan demikian jumlah butir pertanyaan/pernyataan lebih sedikit dari jumlah
sub variabel.

Tabel 4.6. Daftar Jumlah Butir Pertanyaan/Pernyataan

Jumlah Sub Variabel sesuai Jumlah Butir Pertanyaan/


Variabel Utama
Tabel 4.5. Pernyataan

X1 20 12
X2 13 11
X3 34 31
JUMLAH 67 54

Sumber : hasil olahan sendiri

Dalam kuesioner yang akan disebarkan kepada responden, partisipasi


responden adalah memilih jawaban yang telah disediakan dengan skala 1-6,
dengan kriteria jawaban yang bervariasi. Skala tersebut didesain sedemikian rupa
sehingga skala 1 merupakan pilihan jawaban yang paling tidak diharapkan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


130

(unexpected answer) dan skala 6 merupakan pilihan jawaban yang paling


diharapkan (expected answer).

Kuesioner yang telah disusun secara lengkap terlampir.

4.2.4 Uji Coba Penelitian (Pilot Research)

Kuesioner sebagaimana butir 4.2.3. di atas, selanjutnya diujicobakan


kepada beberapa responden yang memiliki karakteristik hampir sama dengan
seluruh responden yang menjadi sampel penelitian, yaitu 7 (tujuh) satuan/unit
kerja berdomisili di DKI Jakarta dan sekitarnya yang merepresentasikan ketiga
bidang, baik bidang sumber daya air, jalan dan jembatan, serta keciptakaryaan,
sebagai berikut:
a. SNVT PPSDA BBWS Ciliwung-Cisadane, yang merepresentasikan bidang
sumber daya air dan berdomisili di daerah Kalimalang Jakarta Timur
b. SNVT Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, yang
merepresentasikan bidang keciptakaryaan dan berdomisili di daerah
Pejompongan Jakarta Pusat
c. SNVT Penataan dan Revitalisasi Kawasan, yang merepresentasikan bidang
keciptakaryaan dan berdomisili di daerah Pejompongan Jakarta Pusat
d. SNVT Pelaksanaan Pengembangan Permukiman, yang merepresentasikan
bidang keciptakaryaan dan berdomisili di daerah Pejompongan Jakarta Pusat
e. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional IV DKI Jakarta, yang
merepresentasikan bidang jalan dan jembatan dan berdomisili di daerah
Rawamangun Jakarta Timur
f. SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Metropolitan Jakarta, yang
merepresentasikan bidang jalan dan jembatan dan berdomisili di daerah
Pasar Minggu Jakarta Selatan
g. SNVT Preservasi Jalan dan Jembatan Metropolitan Jakarta, yang
merepresentasikan bidang jalan dan jembatan dan berdomisili di daerah
Pasar Minggu Jakarta Selatan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


131

Hasil uji coba terhadap 7 (tujuh) responden dilakukan analisis


sederhana, yaitu dengan membandingkan konsistensi jawaban yang dipilih oleh
masing-masing responden, dengan hasil sebagai berikut:

Jumlah butir pertanyaan sebanyak 54 buah

Jumlah butir pertanyaan dengan jawaban yang konsisten sebanyak 44 buah

Jumlah butir pertanyaan dengan jawaban tidak konsisten, sebanyak 10 buah

Jawaban antar responden yang tidak konsisten tersebut disebabkan


antara lain kalimat pertanyaan yang terlalu panjang dan sulit dipahami, skala
jawaban yang terbalik, dimana pilihan jawaban 1 merupakan kriteria jawaban
yang paling tidak diharapkan (unexpected answer) dan sebaliknya pilihan
jawaban 6 merupakan kriteria jawaban yang paling diharapkan (expected
answer). Dengan demikian pertanyaan/pernyataan dengan jawaban yang tidak
konsisten tersebut diperlukan adanya perbaikan sebagaimana mestinya.

4.2.5 Revisi Kuesioner

Sebagaimana diuraikan pada butir 4.2.4. di atas, maka diperlukan revisi


perbaikan atas pertanyaan/pernyataan dalam kuesioner yang dinilai tidak
konsisten jawaban masing-masing responden, yaitu dengan menyederhanakan
kalimat pertanyaan/pernyataan sehingga lebih mudah dipahami oleh responden
dan menyesuaikan skala jawaban sebagaimana telah ditetapkan.

Dengan demikian diharapkan pertanyaan/pernyataan dapat diperoleh


jawaban responden yang konsisten, sehingga pertanyaan/pernyataan dapat
reliabel dan valid.

4.2.6 Gambaran Umum Responden

Sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu mengenai gambaran


singkat organisasi Departemen Pekerjaan Umum, yang mempunyai tugas pokok
menyelenggarakan infrastruktur, terutama bidang kebinamargaan, bidang sumber
daya air, dan bidang keciptakaryaan. Bidang kebinamargaan menyelenggarakan
infrastruktur bidang jalan dan jembatan, dan bidang sumber daya air

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


132

menyelenggarakan infrastruktur berupa bendungan/waduk, saluran irigasi,


pengamanan pantai dan pengendalian banjir, serta penyediaan air baku.
Sedangkan bidang keciptakaryaan menyelenggarakan infrastruktur berupa sistem
penyediaan air minum, pengelolaan sanitasi, pengelolaan limbah, penataan
bangunan dan lingkungan, serta pengembangan permukiman.

Penyelenggaraan infrastruktur bidang sumber daya air dilaksanakan


oleh satuan kerja balai wilayah sungai yang merupakan bagian dari Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air, dan membawahi unit kerja pelaksana kegiatan sesuai
bidang masing-masing. Hingga saat ini Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
membawahi 11 (sebelas) balai besar wilayah sungai dan 19 (sembilan belas)
balai wilayah sungai. Organisasi balai wilayah sungai dapat digambarkan
sebagaimana pada Gambar 4.1. dan Gambar 4.2.

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Balai Besar Wilayah Sungai


Sumber : Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


133

Gambar 4.2. Struktur Organisasi Balai Wilayah Sungai


Sumber : Direktorat Jenderal Sumber Daya Air

Penyelenggaraan infrastruktur bidang kebinamargaan dilaksanakan oleh


balai besar pelaksanaan jalan nasional yang merupakan bagian dari Direktorat
Jenderal Bina Marga, dan membawahi satuan kerja di beberapa provinsi. Di
setiap provinsi, satuan kerja jalan dan jembatan biasanya terdiri dari Satuan
Kerja Preservasi Jalan dan Jembatan, Satuan Kerja Pembangunan Jalan dan
Jembatan, dan Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan.
pelaksana kegiatan sesuai bidang masing-masing. Hingga saat ini Direktorat
Jenderal Bina Marga membawahi 10 (sepuluh) balai besar pelaksanaan jalan
nasional. Organisasi balai besar pelaksanaan jalan nasional dapat digambarkan
sebagaimana pada Gambar 4.3.

Sedangkan penyelenggaraan infrastruktur bidang keciptakaryaan


dilaksanakan oleh satuan kerja terkait, seperti satuan kerja pengembangan
kinerja pengelolaan air minum, satuan kerja pengembangan kinerja pengelolaan
air limbah, satuan kerja pengembangan permukiman, dan satuan kerja penataan
bangunan dan lingkungan. Masing-masing satuan kerja tersebut di bawah
pembinaan direktorat teknis terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta
Karya.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


134

Gambar 4.3.
Struktur Organisasi Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga

Responden penelitian ini merupakan pejabat yang mewakili unit/satuan


kerja di setiap bidang dan bukan mewakili atas nama perseorangan, dengan
kriteria:

a. Responden bidang kebinamargaan adalah Balai Besar Pelaksanaan Jalan


Nasional (BBPJN), yang dapat diwakili oleh pejabat masing-masing, baik
kepala balai, salah satu kepala satuan kerja, maupun pejabat pelaksana
kegiatan. Sehingga dengan jumlah balai besar pelaksanaan jalan nasional
sebanyak 10 (sepuluh) buah, maka populasi penelitian yang diharapkan
adalah sebanyak 10 (sepuluh) buah;

b. Responden bidang sumber daya air adalah balai besar wilayah sungai
(BBWS) dan balai wilayah sungai (BWS), yang dapat diwakili oleh kepala
balai, kepala satuan kerja pengelolaan sumber daya air, maupun pejabat
pelaksana kegiatan. Sehingga dengan jumlah BBWS sebanyak 11 (sebelas)
buah dan BWS sebanyak 20 (dua puluh) buah, maka populasi penelitian
yang diharapkan adalah sebanyak 31 (tiga puluh satu) buah;

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


135

c. Responden bidang cipta karya adalah kepala satuan kerja atau pejabat
pelaksana kegiatan masing-masing sub bidang. Jumlah satuan kerja di
setiap provinsi adalah bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan setiap
provinsi, sebagai contoh satuan kerja pengembangan prasarana
permukiman perbatasan tidak dibutuhkan oleh seluruh provinsi. Menurut
data dari Bagian Rencana dan Program Sekretariat Inspektorat Jenderal,
jumlah satuan kerja bidang keciptakaryaan adalah sebanyak 131 (seratus
tiga puluh satu) buah, sehingga jumlah populasi yang diharapkan adalah
sebanyak 131 (seratus tiga puluh satu) buah tersebut.

Responden pada masing-masing bidang tersebut di atas dibagi menjadi


2 (dua) kelompok wilayah sesuai dengan pembinaan teknis dari masing-masing
direktorat jenderal, yaitu wilayah Barat dan Timur, sehingga secara keseluruhan
responden dibagi menjadi 6 (enam) kelompok, sebagaimana pada Tabel 4.7.
Dengan demikian diharapkan responden dapat mewakili setiap kelompok
tersebut.

Tabel 4.7. Daftar Pengelompokan Responden Penelitian

No. KODE URAIAN CAKUPAN


1. CKB Cipta Karya Barat satuan kerja bidang cipta karya wilayah Barat,
meliputi Sumatera dan Jawa
2. CKT Cipta Karya Timur satuan kerja bidang cipta karya wilayah Timur,
meliputi Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa
Tenggara, Maluku, dan Papua
3. SAB Sumberdaya Air Barat satuan kerja bidang sumberdaya air wilayah Barat,
meliputi Sumatera dan Jawa
4. SAT Sumberdaya Air Timur satuan kerja bidang sumberdaya air wilayah Timur,
meliputi Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa
Tenggara, Maluku, dan Papua
5. BMB Bina Marga Barat satuan kerja bidang bina marga wilayah Barat,
meliputi Sumatera dan Jawa
6. BMT Bina Marga Timur satuan kerja bidang bina marga wilayah Timur,
meliputi Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa
Tenggara, Maluku, dan Papua

Sumber : hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


136

4.2.7 Penghitungan Jumlah Sampel Penelitian


Untuk memperoleh jumlah sampel atas populasi sebagaimana diuraikan
di atas, maka sampel ditentukan dengan cara teknik sampling, yaitu dengan
menghitung jumlah sampel berdasarkan rumus slovin sebagaimana persamaan
matematika (3.1).
Penelitian ini diambil tingkat kesalahan (e) sebesar 10%, dengan
beberapa pertimbangan sebagai berikut:
Lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia
Kesibukan para responden melaksanakan tugas utamanya
Proses pengambilan data melalui jasa ekspedisi/pos dan sejenisnya

Dengan jumlah populasi seluruhnya (N) adalah 172 (seratus tujuh puluh
dua), maka berdasarkan rumus Slovin dapat dihitung sebagai berikut:
N 172
n= = = 63,23 63
1 + N .e 2
1 + 172.(0,10 2 )
Selanjutnya untuk menghitung jumlah sampel setiap kelompok, maka
dilakukan perhitungan secara proporsional, sehingga akan diperoleh jumlah
sampel masing-masing kelompok sebagaimana Tabel 4.8.

Tabel 4.8. Daftar Perhitungan Jumlah Sampel

JUMLAH
No. KODE JUMLAH SAMPEL
POPULASI
1. CKB 63 = 63 x 63/172 = 24
2. CKT 68 = 63 x 68/172 = 24
3. SAB 18 = 63 x 18/172 = 7
4. SAT 13 = 63 x 13/172 = 5
5. BMB 5 = 63 x 5/172 = 2
6. BMT 5 = 63 x 5/172 = 2
JUMLAH 172 63

Sumber : hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


137

4.3 Tahap Pengumpulan Data


4.3.1 Proses Pengumpulan Data Kuesioner

Berdasarkan instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah


dilakukan uji coba dan telah dilakukan perbaikan seperlunya, maka kuesioner
tersebut didistribusikan kepada sejumlah responden sebagaiman diuraikan
gambaran singkatnya di atas, dengan melalui diantar langsung maupun dikirim
melalui jasa pengiriman.

Dalam jangka waktu yang telah ditargetkan, kuesioner dari para


responden dapat terkumpul kembali dan dilakukan screening untuk memeriksa
valid tidaknya kuesioner tersebut. Data yang dinyatakan tidak valid adalah
kuesioner yang masih terdapat beberapa pertanyaan/pernyataan yang belum diisi
jawabannya, sehingga tidak dapat diproses lebih lanjut.

Tabel 4.9. menampilkan matriks mengenai pemenuhan jumlah


kuesioner yang kembali diterima dibandingkan dengan syarat minimal jumlah
sampel.

4.3.2 Rekapitulasi Data

Data-data yang telah diperoleh dari pengumpulan kuesioner


sebagaimana tersebut di atas, selanjutnya dilakukan rekapitulasi dengan
menggunakan tabel yang telah dirancang. Rekapitulasi ini dimaksudkan untuk
lebih memudahkan pengolahan data pada proses selanjutnya.

Rekapitulasi data dapat disajikan dalam dua bentuk tabel sebagaimana


contoh tabel yang disajikan pada Tabel 3.3 dan Tabel 3.4 yang diuraikan
sebelumnya. Tabulasi data sesuai form Tabel 3.3 disusun untuk mengetahui data
asli hasil pengumpulan data dan digunakan sebagai masukan (input) dalam uji
validitas dan uji reliabilitas. Secara lengkap tabulasi bentuk ini disajikan dalam
Lampiran 7 Tabulasi Data 1.

Sedangkan tabulasi data yang mengikuti form Tabel 3.4. disusun untuk
digunakan sebagai masukan (input) dalam uji analisis statistik, baik analisis
deskriptif, analisis korelasi, maupun analisis regresi. Secara lengkap tabulasi
bentuk ini disajikan dalam Lampiran 8 Tabulasi Data 2. Sebagai penjelasan atas

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


138

tabulasi data bentuk ini dapat disampaikan bahwa data tabel ini merupakan nilai
rata-rata dari beberapa sub variabel dalam suatu variabel sehingga nilai yang
diperoleh masih dalam rentang nilai 1 s.d. 6.

Contoh: Pada responden no.1 diperoleh data bahwa

Variabel X1 dengan sub variabel sebanyak 12 (dua belas) buah, diperoleh


jawaban berturut-turut adalah 4; 5; 5; 3; 3; 4; 4; 3; 4; 5; 4; dan 3. Dengan
demikian rata-rata nilai variabel X1 adalah 3,917.

Variabel X2 dengan sub variabel sebanyak 11 (sebelas) buah, diperoleh


jawaban berturut-turut adalah 5; 4; 4; 4; 4; 4; 4; 4; 4; 4; dan 5. Dengan
demikian rata-rata nilai variabel X2 adalah 4,182.

Variabel X3 dengan sub variabel sebanyak 31 (tiga puluh satu) buah,


diperoleh jawaban berturut-turut adalah 6; 6; 5; 5; 4; 4; 1; 3; 4; 4; 4; 6; 3; 4;
4; 3; 3; 3; 3; 5; 5; 5; 5; 5; 5; 5; 4; 4; 2; 4; dan 4. Dengan demikian rata-rata
nilai variabel X3 adalah 4,129.

Demikian juga seterusnya untuk 99 (sembilan puluh sembilan) responden


lainnya dengan menggunakan cara perhitungan yang sama.

Tabel 4.9. Daftar Pemenuhan Jumlah Responden

POPULASI SAMPEL KEMBALI &VALID PEMENUHAN


KODE SATMINKAL/ REGIONAL THD JML
JML JML % JML % RESPONDEN
DITJEN CIPTA KARYA 131 49 37% 69 53% OK
CKB WILAYAH BARAT 63 24 38% 38 53% OK
(SUMATERA & JAWA)
CKT WILAYAH TIMUR 68 25 37% 31 60% OK
(BALI, NT, KALIMANTAN, SULAWESI,
MALUKU, PAPUA)
DITJEN SUMBER DAYA AIR 31 12 39% 20 65% OK
SAB WILAYAH BARAT 18 7 39% 11 61% OK
(SUMATERA & JAWA)
SAT WILAYAH TIMUR 13 5 38% 9 69% OK
(BALI, NT, KALIMANTAN, SULAWESI,
MALUKU, PAPUA)
DITJEN BINA MARGA 10 4 40% 10 100% OK
BMB WILAYAH BARAT 5 2 40% 5 100% OK
(SUMATERA & JAWA)
BMT WILAYAH TIMUR 5 2 40% 5 100% OK
(BALI, NT, KALIMANTAN, SULAWESI,
MALUKU, PAPUA)
JUMLAH 172 63 37% 99 58% OK

Sumber : hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


139

4.4 Tahap Pengolahan Data


4.4.1 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Pada proses pengolahan data penelitian, maka atas data-data yang


terkumpul dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap masing-masing
variabel untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Proses uji validitas dan
reliabilitas tersebut dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS,
terhadap masing-masing variabel, yaitu variabel X1 (Penyelenggaraan
Infrastruktur) terdiri dari 12 (dua belas) butir, X2 (Cara Penggunaan Anggaran)
terdiri dari 11 (sebelas) butir, dan X3 (Penerapan VE) sebanyak 31 (tiga puluh
satu) butir, dengan jumlah responden sebanyak 99 (sembilan puluh sembilan)
responden.

Kriteria yang ditetapkan untuk uji reliabilitas adalah apabila nilai


cronbachs alpha lebih besar dari 0,700 maka dapat dikatakan reliabel,
sedangkan apabila lebih kecil dari 0,700 maka dikatakan bahwa variabel tersebut
tidak reliabel. Sedangkan kriteria uji validitas untuk jumlah responden 99
(sembilan puluh sembilan), maka berdasarkan tabel r (pearson product moment)
untuk uji 2 sisi (two-tailed) pada taraf signifikansi 0,05, maka diperoleh rtabel =
0,200. Dengan demikian variabel/pertanyaan/pernyataan yang mempunyai
corrected item-total correlation > 0,200 maka dinyatakan valid.

Berikut hasil uji validitas dan reliabilitas atas variabel yang menjadi
instrumen penelitian ini.

a. Variabel X1 (Penyelenggaraan Infrastruktur)

Tabel 4.10. Uji Realibilitas Variabel X1


Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items
.834 12

Sumber : Hasil olahan sendiri

Sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.10 di atas, variabel X1


(Penyelenggaraan Infrastruktur) yang didukung oleh 12 (dua belas) butir

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


140

pertanyaan mempunyai nilai cronbachs alpha sebesar 0,834 (>0,70)


sehingga variabel ini dinyatakan reliabel.

Tabel 4.11. Uji Validitas Variabel X1


Item-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
Infrastruktur_01 46.8687 42.421 .457 .826
Infrastruktur_02 46.3333 44.449 .545 .819
Infrastruktur_03 45.3838 44.770 .610 .817
Infrastruktur_04 47.1414 41.980 .424 .831
Infrastruktur_05 45.6869 41.830 .453 .828
Infrastruktur_06 46.5455 42.169 .431 .830
Infrastruktur_07 46.7374 41.563 .628 .810
Infrastruktur_08 47.6465 45.231 .432 .826
Infrastruktur_09 46.3838 44.076 .595 .816
Infrastruktur_10 45.8283 44.470 .552 .819
Infrastruktur_11 45.8990 43.786 .576 .816
Infrastruktur_12 48.5455 46.597 .612 .822

Sumber : Hasil olahan sendiri

Keduabelas butir pertanyaan/pernyataan mempunyai nilai corrected item


total correlation lebih dari 0,200, sehingga keduabelas butir pertanyaan
yang mendukung variabel X1 tersebut dinyatakan valid.

b. Variabel X2 (Penggunaan Anggaran)

Tabel 4.12. Uji Realibilitas Variabel X2


Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items
.813 11

Sumber : Hasil olahan sendiri

Variabel X2 (Penggunaan Anggaran) yang didukung oleh 11 (sebelas)


butir pertanyaan mempunyai nilai cronbachs alpha sebesar 0,813 (>0,70)
sehingga variabel ini dinyatakan reliabel.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


141

Tabel 4.13. Uji Validitas Variabel X2

Item-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
Penyusunan Anggaran_01 40.9495 25.171 .413 .804
Penyusunan Anggaran_02 41.0707 24.964 .602 .788
Penyusunan Anggaran_03 41.2727 26.078 .463 .800
Penyusunan Anggaran_04 41.0707 24.005 .456 .801
Penyusunan Anggaran_05 41.5758 26.757 .649 .796
Penyusunan Anggaran_06 41.6465 25.006 .668 .785
Penyusunan Anggaran_07 41.1313 23.972 .530 .792
Penyusunan Anggaran_08 41.6667 26.653 .553 .798
Penyusunan Anggaran_09 41.6667 23.102 .482 .801
Penyusunan Anggaran_10 41.8788 25.393 .415 .804
Penyusunan Anggaran_11 41.1212 23.781 .429 .807

Sumber : Hasil olahan sendiri

Kesebelas butir pertanyaan/pernyataan mempunyai nilai corrected item


total correlation lebih dari 0,200, sehingga kesebelas pertanyaan yang
mendukung variabel X2 dinyatakan valid.

c. Variabel X3 (Penerapan VE)

Tabel 4.14. Uji Realibilitas Variabel X3


Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items
.945 31

Sumber : Hasil olahan sendiri

Variabel X3 (Penerapan VE) yang didukung oleh 31 (tiga puluh satu)


butir pertanyaan mempunyai nilai cronbachs alpha sebesar 0,945
(>0,70) sehingga variabel tersebut dinyatakan reliabel.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


142

Tabel 4.15. Uji Validitas Variabel X3

Item-Total Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Total Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Deleted
Penerapan_01 130.1212 279.740 .570 .944
Penerapan_02 129.5859 281.674 .580 .944
Penerapan_03 129.9394 298.629 .535 .943
Penerapan_04 129.7475 299.558 .494 .944
Penerapan_05 129.9192 299.687 .497 .944
Penerapan_06 131.3333 283.408 .537 .944
Penerapan_07 133.2222 300.358 .503 .944
Penerapan_08 131.1919 287.687 .548 .943
Penerapan_09 130.0404 293.366 .717 .942
Penerapan_10 130.4545 296.557 .520 .943
Penerapan_11 129.8788 292.495 .615 .943
Penerapan_12 129.3333 280.939 .586 .944
Penerapan_13 130.2626 295.032 .623 .943
Penerapan_14 130.1212 294.801 .623 .943
Penerapan_15 129.0909 293.900 .581 .943
Penerapan_16 129.8182 290.905 .608 .943
Penerapan_17 129.6869 287.278 .705 .942
Penerapan_18 129.7677 290.752 .662 .942
Penerapan_19 130.0606 292.058 .562 .943
Penerapan_20 129.2727 292.139 .646 .942
Penerapan_21 129.1919 292.504 .643 .942
Penerapan_22 129.1717 291.123 .676 .942
Penerapan_23 129.1111 294.630 .590 .943
Penerapan_24 129.2121 295.944 .529 .943
Penerapan_25 129.2323 290.833 .619 .942
Penerapan_26 129.2424 290.308 .679 .942
Penerapan_27 129.8990 288.847 .621 .942
Penerapan_28 129.8485 288.416 .656 .942
Penerapan_29 131.6263 281.890 .664 .942
Penerapan_30 130.6768 293.221 .584 .943
Penerapan_31 130.5455 293.577 .649 .942

Sumber : Hasil olahan sendiri

Hasil uji validitas menunjukan bahwa ketiga puluh satu butir


pertanyaan/pernyataan mempunyai nilai corrected item total correlation
lebih dari 0,200, sehingga ketigapuluh satu pertanyaan yang mendukung
variabel X3 dinyatakan valid.

Dari hasil olah data tersebut di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut
pada Tabel 4.16.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


143

Tabel 4.16. Kesimpulan Uji Validitas dan Realibilitas

VALIDITAS RELIABILITAS
Rentang Nilai
VARIABEL Corrected
Nilai
Item-Total
Syarat Kesimpulan Cronbachs Syarat Kesimpulan
Correlation
Alpha
(terkecil s.d.
terbesar)
X1 0,424 0,628 > 0,20 valid 0,834 > 0,700 reliabel
X2 0,413 0,668 > 0,20 valid 0,813 > 0,700 reliabel
X3 0,494 0,679 > 0,20 valid 0,945 > 0,700 reliabel

Sumber : hasil olahan sendiri

4.4.2 Analisis Deskriptif

Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data


penelitian seperti mean, standar deviasi, varian, modus, dan sebagainya. Analisis
deskriptif responden dapat digambarkan sebagaimana Tabel 4.17. Sebagaimana
diuraikan sebelumnya bahwa variabel dependen (Y) adalah efektivitas
penggunaan anggaran, sedangkan variabel independen terdiri dari 3 (tiga), yaitu
X1 (Penyelenggaraan Infrastruktur), X2 (Penggunaan Anggaran), dan X3
(Penerapan VE).

Tabel 4.17 Analisis Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation


X1 99 3.42 5.17 4.2349 .35700
X2 99 2.73 4.64 4.1369 .30668
X3 99 3.13 5.26 4.3340 .37610
Y 99 1.00 6.00 3.0606 1.19368
Valid N (listwise) 99

Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


144

4.4.3 Analisis Regresi

Tabel-tabel di bawah ini adalah hasil analisis regresi untuk seluruh


variabel independen (X1, X2, dan X3) terhadap variabel dependen (Y), dimana
Y adalah efektivitas penggunaan anggaran, sedangkan X1 adalah
penyelenggaraan infrastruktur, X2 adalah penggunaan anggaran, dan X3 adalah
penerapan value engineering.

Tabel 4.18. Tabel ANOVA


ANOVAb

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 104.396 3 34.799 93.811 .000a
Residual 35.240 95 .371
Total 139.636 98
a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1
b. Dependent Variable: Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Tabel 4.19. Tabel Coefficients

Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -13.397 1.024 -13.077 .000
X1 1.504 .202 .450 7.438 .000
X2 .925 .228 .238 4.061 .000
X3 1.445 .174 .455 8.322 .000
a. Dependent Variable: Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Tabel 4.20. Tabel Model Summary

Model Summaryb

Adjusted Std. Error of


Model R R Square R Square the Estimate
1 .865a .748 .740 .60905
a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1
b. Dependent Variable: Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


145

Untuk menguji siginifikasi linieritas antara variabel dependen dengan


variabel-variabel independen, dilakukan beberapa uji hipotesis sebagai berikut:

1) Uji F

Hipotesis:

Ho : b = c = d = 0, maka tidak ada hubungan linier pada model regresi


linier berganda

H1 : bi 0, maka terdapat hubungan linier pada model regresi


linier berganda

Dengan pengambilan kesimpulannya adalah, bila:

Fhitung > Ftabel Ho ditolak

Fhitung < Ftabel Ho diterima

Berdasarkan Tabel 4.18, diperoleh hasil Fhitung sebesar 93,811. Untuk


memperoleh pencapaian signifikansi, maka dilakukan
konsultasi/pembandingan dengan nilai Ftabel(3;95;0,05) , dimana hasil
pembacaan tabel F diperoleh Ftabel(3;80;0,05) sebesar 2,72 dan Ftabel(3;100;0,05)
sebesar 2,70, sehingga dengan cara interpolasi linier diperoleh nilai
Ftabel(3;95;0,05) sebesar 2,705.

Dengan demikian nilai Fhitung (93,811) > Ftabel(2,705), maka dapat diartikan
bahwa Ho ditolak, atau dapat diartikan bahwa terdapat hubungan linier
antar variabel dalam regresi linier ini.

Pengujian signifikansi dengan uji F dapat juga diperoleh dengan


membandingkan antara taraf signifikansi hitungan (Tabel 4.18) dengan
taraf signifikansi yang ditetapkan. Berdasarkan hasil analisis dalam Tabel
4.18. diperoleh nilai sig. sebesar 0,000, dimana nilai tersebut lebih kecil
dari 0,05 yang ditetapkan sebagai taraf signifikasi, sehingga dapat
diartikan bahwa Ho ditolak, atau dapat diartikan bahwa terdapat hubungan
linier antar variabel dalam regresi linier ini.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


146

2) Uji t

Uji t dilaksanakan untuk menguji signifikansi pada model linier, baik


konstanta maupun koefisien variabel-variabel independen. Untuk menguji
signifikansi ini dilakukan konsultasi/pembandingan nilai thitung dengan ttabel.
Adapun sebagai referensi pembandingan maka dicari pada tabel t pada
taraf signifikansi 0,05 dan derajat kebebasan v = 96, dari tabel t diperoleh
nilai ttabel(60;2,5%) sebesar 2,000 dan ttabel(120;2,5%) sebesar 1,980, sehingga
dengan interpolasi linier diperoleh nilai ttabel(97;2,5%) adalah 1,988.

a) Uji signifikansi konstanta (a)

Hipotesis:

Ho : a = 0, maka konstanta a tidak signifikan

H1 : a 0, maka konstanta a signifikan

Berdasarkan Tabel 4.19, diperoleh nilai thitung sebesar -13,077, dimana


lebih kecil dari -ttabel(97;2,5%) sebesar -1,988, sehingga :

thit < -t/2 , atau Ho ditolak.

Selain itu berdasarkan tabel yang sama, diperoleh signifikansi sebesar


0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 yang ditetapkan
sebagai taraf signifikasi.

Dengan kedua pertimbangan uji t dan sig diatas, maka disimpulkan


bahwa konstanta a adalah signifikan.

b) Uji signifikansi koefisien (b)

Hipotesis:

Ho : b = 0, maka koefisien b pada X1 tidak signifikan

H1 : b 0, maka koefisien b pada X1 signifikan

Berdasarkan Tabel 4.19, diperoleh nilai thitung sebesar 7,438, dimana


lebih besar dari ttabel(97;2,5%) sebesar 1,988, sehingga :

thit > t/2 , atau Ho ditolak.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


147

Selain itu berdasarkan tabel yang sama, diperoleh signifikansi sebesar


0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 yang ditetapkan
sebagai taraf signifikasi.

Dengan kedua pertimbangan uji t dan sig diatas, maka disimpulkan


bahwa koefisien b yang merupakan koefisien pada variabel X1
(Penyelenggaraan Infrastruktur) adalah signifikan.

c) Uji signifikansi koefisien (c)

Hipotesis:

Ho : c = 0, maka koefisien c pada X2 tidak signifikan

H1 : c 0, maka koefisien c pada X2 signifikan

Berdasarkan Tabel 4.19, diperoleh nilai thitung sebesar 4,061, dimana


lebih besar dari ttabel(97;2,5%) sebesar 1,988, sehingga :

thit > t/2 , atau Ho ditolak.

Selain itu berdasarkan tabel yang sama, diperoleh signifikansi sebesar


0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 yang ditetapkan
sebagai taraf signifikasi.

Dengan kedua pertimbangan uji t dan sig diatas, maka disimpulkan


bahwa koefisien c yang merupakan koefisien pada variabel X2
(Penggunaan Anggaran) adalah signifikan.

d) Uji signifikansi koefisien (d)

Hipotesis:

Ho : d = 0, maka koefisien d pada X3 tidak signifikan

H1 : d 0, maka koefisien d pada X3 signifikan

Berdasarkan Tabel 4.19, diperoleh nilai thitung sebesar 8,322, dimana


lebih besar dari ttabel(97;2,5%) sebesar 1,988, sehingga :

thit > t/2 , atau Ho ditolak.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


148

Selain itu berdasarkan tabel yang sama, diperoleh signifikansi sebesar


0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 yang ditetapkan
sebagai taraf signifikasi.

Dengan kedua pertimbangan uji t dan sig diatas, maka disimpulkan


bahwa koefisien d yang merupakan koefisien pada variabel X3
(Penerapan VE) adalah signifikan.

3) Uji R2

Berdasarkan Tabel 4.20 diperoleh nilai Rsquare atau koefisien determinasi


R2 sebesar 0,748 yang dapat diartikan bahwa variabel X1
(Penyelenggaraan Infrastruktur), X2 (Penggunaan Anggaran), dan X3
(Penerapan VE) dapat menerangkan variabilitas sebesar 74,8% dari
variabel Y (Efektivitas Penggunaan Anggaran), sedangkan variabilitas
sebesar 25,2% diterangkan oleh variabel selain X1, X2, dan X3.

Berdasarkan ketiga pengujian (F, t, R2) dan nilai hitung signifikansi di atas
terlihat bahwa secara umum model telah memenuhi persyaratan statistik.

Secara umum pengaruh dari ketiga variabel X1, X2, dan X3 tersebut
terhadap Y adalah sebesar 74,8% dan termasuk dalam kategori kuat.
Sedangkan dari ketiga variabel independen, yang memiliki pengaruh
terbesar adalah variabel X1 (Penyelenggaraan Infrastruktur), diikuti oleh
variabel X3 (Penerapan VE) dan X2 (Penggunaan Anggaran), dengan nilai
masing-masing koefisien sebagai berikut:

Konstanta a = -13,397
Koefisien b (pada X1) = 1,504
Koefisien c (pada X2) = 0,925
Koefisien d (pada X3) = 1,445

Dengan demikian model regresi yang terbentuk adalah sebagai berikut :

Y = -13,397 + 1,504 X1 + 0,925 X2 + 1,445 X3 (4.1)

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


149

4.4.4 Uji Asumsi Klasik

Setelah diperoleh model regresi sebagaimana persamaan (4.1), maka


dilakukan pengujian terhadap asumsi klasik sebagai berikut:

a. Uji Normalitas

Grafik 4.4. di bawah ini adalah grafik yang menunjukkan normalitas data
dalam pengujian asumsi normalitas. Gambar yang diperoleh menunjukkan
bahwa sebaran data mengikuti garis diagonal. Berdasarkan hasil ini dapat
disimpulkan bahwa model telah memenuhi asumsi normalitas dengan baik.

1.0

0.8
Expected Cum Prob

0.6

0.4

0.2

0.0
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0
Observed Cum Prob

Gambar 4.4. Grafik Normalitas


Sumber : Hasil olahan sendiri

b. Uji Multikolinieritas

Tabel 4.21. Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 X1 .727 1.376
X2 .776 1.289
X3 .887 1.127
a. Dependent Variable: Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


150

Tabel 4.21 di atas adalah output yang menunjukkan hasil pengujian


multikolinieritas dengan menggunakan uji VIF. Hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa ketiga variabel memiliki nilai VIF yang lebih kecil dari
pada 5, maka dapat disimpulkan bahwa model telah memenuhi asumsi non
multikolinieritas dengan baik dengan kata lain dalam model tidak terjadi
multikolinearitas antar variabel independen.

c. Uji Autokorelasi

Tabel 4.22 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb

Durbin-
Model Watson
1 2.176
b. Dependent Variable: Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Tabel 4.22 di atas adalah output yang menunjukkan hasil pengujian


autokorelasi dengan menggunakan uji Durbin Watson. Hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa nilai Durbin Watson adalah sebesar 2,176 dan berada
pada kisaran nilai 1,65 sampai dengan 2,35. Berdasarkan hasil ini dapat
disimpulkan bahwa model telah memenuhi asumsi non autokorelasi dengan
sangat baik atau dengan kata lain tidak terjadi autokorelasi antar variabel
dalam model.

4.4.5 Analisis Korelasi

Untuk mengetahui hubungan antara setiap variabel independen dengan


variabel dependen maka dilakukan analisis korelasi bivariate pearson sebagai
berikut. Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi
koefisien korelasi sebagai berikut:
0,00 0,199 = sangat rendah
0,20 0,399 = rendah
0,40 0,599 = sedang
0,60 0,799 = kuat
0,80 1,000 = sangat kuat

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


151

Sedangkan untuk menentukan referensi uji signifikansi dalam tabel,


maka ditetapkan tingkat signifikansi 5%. Sedangkan dengan jumlah responden
sebanyak 99 orang, maka derajad kebebasan (df) adalah 97. Berdasarkan tabel
nilai t, diperoleh t(60;0,025) sebesar 2,000 dan t(120;0,025) sebesar 1,980, maka dengan
interpolasi linier diperoleh t(97;0,025) sebesar 1,9877. Nilai t tersebut akan
dipergunakan sebagai referensi konsultasi terhadap nilai t hasil perhitungan.

a. Korelasi antara variabel Y (efektivitas penggunaan anggaran) sebagai


variabel dependen dengan variabel X1 (penyelenggaraan infrastruktur)
sebagai variabel independen.

Tabel 4.23 Tabel Korelasi X1-Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Berdasarkan tabel output di atas, diperoleh nilai korelasi (r) antara


penyelenggaraan infrastuktur dengan tingkat efektivitas penggunaan
anggaran sebesar 0,710, dimana nilai r tersebut dapat digolongkan kuat.
Hubungan kedua variabel tersebut adalah searah karena nilai r adalah
positif, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin meningkat
penyelenggaraan infrastruktur maka tingkat efektivitas penggunaan juga
akan mengalami peningkatan.

Pengujian signifikansi dapat dilakukan dengan langkah berikut.

Hipotesis:

Ho : tidak ada hubungan secara signifikan antara penyelenggaraan


infrastruktur dengan efektivitas penggunaan anggaran

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


152

H1 : terdapat hubungan yang signifikan antara penyelenggaraan


infrastruktur dengan efektivitas penggunaan anggaran

Dengan menerapkan persamaan 3.2. maka diperoleh nilai t sebesar:

(n 2) (99 2)
t=r
(1 r )
2
= 0,71
(1 0,71 ) = 9,930
2

Jadi thitung > ttabel, maka Ho ditolak, artinya terdapat hubungan yang
signifikan (positif dan searah) antara penyelenggaraan infrastruktur dengan
efektivitas penggunaan anggaran.

b. Korelasi antara variabel Y (efektivitas penggunaan anggaran) sebagai


variabel dependen dengan variabel X2 (penggunaan anggaran) sebagai
variabel independen.

Tabel 4.24 Tabel Korelasi X2-Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Berdasarkan tabel output di atas, diperoleh nilai korelasi (r) antara


penggunaan anggaran dengan tingkat efektivitas penggunaan anggaran
sebesar 0,547, dimana nilai r tersebut dapat digolongkan sedang.
Hubungan kedua variabel tersebut adalah searah karena nilai r adalah
positif, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin meningkat penggunaan
anggaran maka tingkat efektivitas penggunaan juga akan mengalami
peningkatan.

Pengujian signifikansi dapat dilakukan dengan langkah berikut.

Hipotesis:

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


153

Ho : tidak ada hubungan secara signifikan antara penggunaan


anggaran dengan efektivitas penggunaan anggaran

H1 : terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan


anggaran dengan efektivitas penggunaan anggaran

Dengan menerapkan persamaan 3.2. maka diperoleh nilai t sebesar:

(n 2) (99 2)
t=r
(1 r )
2
= 0,547
(1 0,547 ) = 6,439
2

Jadi thitung > ttabel, maka Ho ditolak, artinya terdapat hubungan yang
signifikan (positif dan searah) antara penggunaan anggaran dengan
efektivitas penggunaan anggaran.

c. Korelasi antara variabel Y (efektivitas penggunaan anggaran) sebagai


variabel dependen dengan variabel X3 (penerapan VE) sebagai variabel
independen.

Tabel 4.25 Tabel Korelasi X3-Y

Sumber : Hasil olahan sendiri

Berdasarkan tabel output di atas, diperoleh nilai korelasi (r) antara


penerapan VE dengan tingkat efektivitas penggunaan anggaran sebesar
0,655, dimana nilai r tersebut dapat digolongkan kuat. Hubungan kedua
variabel tersebut adalah searah karena nilai r adalah positif, sehingga dapat
dikatakan bahwa semakin meningkat penerapan VE maka tingkat
efektivitas penggunaan juga akan mengalami peningkatan.

Pengujian signifikansi dapat dilakukan dengan langkah berikut.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


154

Hipotesis:

Ho : tidak ada hubungan secara signifikan antara penerapan VE


dengan efektivitas penggunaan anggaran

H1 : terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan VE


dengan efektivitas penggunaan anggaran

Dengan menerapkan persamaan 3.2. maka diperoleh nilai t sebesar:

(n 2) (99 2)
t=r
(1 r )
2
= 0,655
(1 0,655 ) = 8,545
2

Jadi thitung > ttabel, maka Ho ditolak, artinya terdapat hubungan yang
signifikan (positif dan searah) antara penerapan VE dengan efektivitas
penggunaan anggaran.

4.4.6 Analisis Distribusi Frekuensi

Teknik analisis distribusi frekuensi dilakukan untuk memperoleh rata-


rata (mean) berdasarkan prosentase frekuensi masing-masing butir
pertanyaan/pernyataan dalam variabel penerapan VE (X3) untuk mengetahui
faktor yang mempengaruhi kesiapan responden selaku pengguna jasa di
lingkungan Departemen PU dalam penerapan VE.

Hasil analisis teknik distribusi frekuensi tersebut adalah sebagaimana


diuraikan pada Tabel 4.26 berikut. Pada kolom (1) merupakan kolom sub-
variabel X3, dimana nomor urut sub-variabel 1 merupakan butir
pertanyaan/pernyataan nomor urut 24, dan selanjutnya hingga nomor urut sub-
variabel 31 merupakan butir pertanyaan/pernyataan nomor urut 54.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


155

Tabel 4.26 Tabel Distribusi Frekuensi X3

SUB 1 2 3 4 5 6 RATA-
VAR F % F % F % F % F % F % RATA
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 0 0,00 33 33,33 31 31,31 12 12,12 5 5,05 18 18,18 3,43
2 0 0,00 5 5,05 21 21,21 15 15,15 9 9,09 49 49,49 4,77
3 0 0,00 1 1,01 2 2,02 53 53,54 41 41,41 2 2,02 4,41
4 0 0,00 0 0,00 2 2,02 40 40,40 52 52,53 5 5,05 4,61
5 0 0,00 1 1,01 1 1,01 51 51,52 45 45,45 1 1,01 4,44
6 10 10,10 30 30,30 31 31,31 14 14,14 4 4,04 10 10,10 3,02
7 94 94,95 1 1,01 3 3,03 0 0,00 1 1,01 0 0,00 1,11
8 6 6,06 28 28,28 17 17,17 35 35,35 12 12,12 1 1,01 3,22
9 0 0,00 0 0,00 1 1,01 73 73,74 16 16,16 9 9,09 4,33
10 0 0,00 0 0,00 24 24,24 63 63,64 5 5,05 7 7,07 3,95
11 0 0,00 0 0,00 1 1,01 64 64,65 18 18,18 16 16,16 4,49
12 0 0,00 4 4,04 21 21,21 6 6,06 1 1,01 67 67,68 5,07
13 0 0,00 0 0,00 13 13,13 69 69,70 11 11,11 6 6,06 4,10
14 0 0,00 0 0,00 6 6,06 70 70,71 15 15,15 8 8,08 4,25
15 0 0,00 0 0,00 1 1,01 13 13,13 39 39,39 46 46,46 5,31
16 0 0,00 1 1,01 11 11,11 27 27,27 48 48,48 12 12,12 4,60
17 1 1,01 0 0,00 8 8,08 25 25,25 49 49,49 16 16,16 4,71
18 0 0,00 0 0,00 11 11,11 25 25,25 53 53,54 10 10,10 4,63
19 1 1,01 1 1,01 14 14,14 36 36,36 42 42,42 5 5,05 4,33
20 0 0,00 0 0,00 1 1,01 19 19,19 45 45,45 34 34,34 5,13
21 0 0,00 0 0,00 0 0,00 18 18,18 42 42,42 39 39,39 5,21
22 0 0,00 0 0,00 0 0,00 19 19,19 38 38,38 42 42,42 5,23
23 0 0,00 0 0,00 0 0,00 13 13,13 43 43,43 43 43,43 5,30
24 0 0,00 0 0,00 1 1,01 14 14,14 50 50,51 34 34,34 5,18
25 1 1,01 0 0,00 1 1,01 15 15,15 45 45,45 37 37,37 5,16
26 0 0,00 0 0,00 0 0,00 24 24,24 35 35,35 40 40,40 5,16
27 0 0,00 0 0,00 15 15,15 37 37,37 29 29,29 18 18,18 4,51
28 0 0,00 1 1,01 9 9,09 43 43,43 27 27,27 19 19,19 4,55
29 16 16,16 35 35,35 25 25,25 11 11,11 11 11,11 1 1,01 2,69
30 3 3,03 0 0,00 33 33,33 53 53,54 8 8,08 2 2,02 3,70
31 1 1,01 0 0,00 27 27,27 61 61,62 7 7,07 3 3,03 3,83

Sumber : hasil olahan sendiri


Berdasarkan hasil perhitungan distribusi frekuensi di atas, maka dapat
disandingkan antara faktor/sub variabel dengan rata-rata (mean) masing-masing
sub variabel sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.27 berikut ini.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


156

Tabel 4.27 Daftar Nilai Rata-Rata Sub Variabel X3


FAKTOR/
RATA-
SUB URAIAN
VARIABEL RATA
1 Tingkat pendidikan personil 3,43
2 Tingkat pengalaman personil 4,77
3 Tingkat kemampuan personil dalam estimasi biaya 4,41
4 Tingkat pengetahuan mengenai harga pasar/standar 4,61
5 Tingkat kemampuan menyusun metode kerja 4,44
Komposisi personil, ditinjau dari ASMET (arsitektur, sipil,
6 3,02
mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan)
7 Jumlah personil bersertifikat VE 1,11
8 Tingkat pemahaman terhadap teknik dan manajemen VE 3,22
9 Optimalisasi program dengan VE 4,33
10 Skala/tipe proyek yang diterapkan VE 3,95
11 Bidang proyek yang diterapkan VE 4,49
12 Nilai proyek yang diterapkan VE 5,07
13 Gambar konstruksi 4,10
14 Analisa fungsi bangunan dan bagiannya 4,25
15 Informasi mengenai spesifikasi material 5,31
16 Informasi mengenai permasalahan proyek 4,60
17 Desain alternatif dari sudut pandang teknik 4,71
18 Desain alternatif dari sudut pandang biaya 4,63
19 Item biaya tinggi 4,33
20 Metode konstruksi yang hemat 5,13
21 Inovasi konstruksi yang hemat 5,21
22 Pemilihan alternatif 5,23
23 Prioritas alternatif 5,30
24 Laporan dan rekomendasi VE 5,18
25 Kerjasama dengan pihak lain yang terkaiT 5,16
26 Kerjasama dan interaksi internal Tim VE 5,16
27 Dukungan logistik 4,51
28 Arti penting regulasi/peraturan penerapan VE 4,55
29 Keberadaan regulasi/peraturan penerapan VE 2,69
30 Insentif kepada kontraktor yang pekerjaannya dilakukan VE 3,70
Insentif kepada konsultan perancang yang desainnya
31 3,83
dilakukan VE

Sumber : hasil olahan sendiri


Berdasarkan rata-rata (mean) hasil distribusi frekuensi sebagaimana
tabel di atas, diperoleh 5 (lima) faktor yang dianggap paling dominan
memengaruhi kesiapan pengguna jasa dalam penerapan VE di lingkungan
Departemen PU. Batasan nilai paling dominan adalah faktor yang mempunyai
mean kurang dari 3,5, dimana batasan nilai 3,5 merupakan nilai tengah dari
skala 1 dan 6. Kelima faktor tersebut adalah sebagaimana pada Tabel 4.28
berikut.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


157

Tabel 4.28
Lima Faktor Dominan yang Mempengaruhi Penerapan VE

No. RATA-
FAKTOR URAIAN
Faktor RATA
7 Sertifikasi/Pelatihan Jumlah personil yg mempunyai 1,11
sertifikat VE
29 Regulasi Regulasi/peraturan penerapan VE 2,69
6 Komposisi Komposisi personil ditinjau dari 3,02
sebaran disiplin ilmu ASMET
8 Pemahaman Tingkat pemahaman terhadap teknik 3,22
dan manajemen VE
1 Pendidikan Jumlah personil dng tingkat 3,43
pendidikan minimal S1 bidang teknik

Sumber : hasil olahan sendiri

Selanjutnya kelima faktor tersebut di atas akan dilakukan pembahasan


dengan melibatkan pendapat pakar/ahli dan akan dibahas pada bab selanjutnya.

Selain itu berdasarkan jawaban para responden atas pertanyaan dalam


kuesioner bahwa Menurut pendapat Bapak/Ibu, berapakah persentase rata-rata
penghematan/efisiensi yang diharapkan pada suatu nilai kontrak pekerjaan jasa
pemborongan (fisik) apabila diterapkan metode value engineering?, dengan
pilihan jawaban (1) 0%; (2) 1%-10%; (3) 11%-15%; (4) 16%-20%; (5) 21%-
25%; (6) >25%, diperoleh rata-rata sebesar 3,05 yang berarti bahwa para
responden mengharapkan adanya penghematan sebesar 11%-15%.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


BAB 5
STUDI KASUS
PENERAPAN STUDI VALUE ENGINEERING
ATAS SALURAN IRIGASI PADA BENDUNGAN X

5.1 Pendahuluan

Bab ini menyajikan contoh (exercise) mengenai pelaksanaan studi value


engineering, dimana peneliti mengambil objek penelitian pada pembangunan
suatu waduk/bendungan di lingkungan Departemen PU.

Pada bahasan ini akan diuraikan mengenai prosedur dan/atau langkah-


langkah yang harus dilalui dalam menerapkan studi VE, antara lain tahap
informasi, tahap analisis fungsi, tahap kreatif, tahap evaluasi, dan tahap
rekomendasi. Prosedur tersebut mengacu pada workbook for value engineering
study yang dikeluarkan oleh Society American of Value Engineers (SAVE)
International.

5.2 Tahap Informasi

5.2.1 Deskripsi Umum

Lingkup pekerjaan Pembangunan Bendungan X meliputi pekerjaan


bendungan/dam, spillway, outlet irigasi, flushing device, terowongan pengelak,
pembangkit listrik (PLTA), dan pekerjaan grouting.

Data teknis pekerjaan-pekerjaan tersebut berdasarkan hasil review detail


desain adalah:
a. Bendungan/dam
Tipe : urugan batu dengan inti tanah
Tinggi : 110 m
Elevasi mercu bendung : EL. 265
Elevasi dasar sungai : EL. 155
Lebar mercu bendung : 12 m

158 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


159

Panjang mercu bendung : 1.600 m


Volume timbunan : 5 juta m3
b. Genangan waduk
Max. Flood Water Level : EL. 262
Full Supply Level (FSL) : EL. 260
Min. Operating Level (MOL) : EL. 230
Volume brutto : 979,5 juta m3
Volume efektif : 796,1 juta m3
Volume pada MOL : 183,4 juta m3
Luas genangan pada FSL : 39,53 km2
Inflow tahunan rata-rata : 62,7 m3/detik (1.979 juta m3)
Annual sediment load : 8,0 juta ton
Luas daerah tangkapan air : 1.460 km2
c. Spillway (pelimpah)
Tipe : mercu OGEE dengan saluran
peluncur
Debit rencana : 11.917 m3/detik
Elevasi mercu pelimpah : EL. 247
Lebar mercu pelimpah : 5 x 13 meter
Pintu radial : 5 x 13 meter x 14,5 meter
d. Outlet Irigasi
Tipe : conduit penampang lingkaran lapis
beton
Diameter : 4,5 meter
Panjang : 393,90 meter
Elevasi dasar intake : EL. 204,50
Elevasi dasar outlet : EL. 198,268
e. Flushing Device (saluran pembilas)
Tipe : terowongan penampang lingkaran
berlapis baja dan beton
Diameter : 2,50 m 1,60 m

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


160

Kapasitas aliran : 75 m3/detik


f. Diversion Tunnel (terowongan pengelak)
Tipe : penampang lingkaran berlapis beton
bertulang
Jumlah terowongan : 1 buah
Lokasi : tebing kanan
Diameter : 8,5 meter
Panjang : 590,50 meter
Panjang conduit : 200 meter
g. Pembangkit Listrik
Debit rencana : 73 m3/detik
Tinggi jatuh PLTA : 170 meter
Jumlah turbin : 2 unit
Daya terpasang : 110 MW
h. Grouting
Struktur : beton bertulang
Panjang : 1.700 meter
Lebar : 2 meter
Tinggi : 2,5 meter

Waduk/bendungan X dibangun dengan tujuan adalah sebagai berikut:


Irigasi 90.000 Ha (primary benefit)
Pembangkit tenaga listrik 110 MW (secondary benefit)
Penyediaan air baku 3,5 m3/detik (secondary benefit)
Pariwisata dan perikanan (secondary benefit)

Gambar saluran irigasi dan terowongan pengelak pada Bendungan X


terlihat pada Gambar 5.1.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Gambar 5.1. Penampang Memanjang Bendungan

161 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


5.2.2 Data Biaya

Pada tahap informasi, diperoleh hasil pengumpulan data mengenai data


biaya yang merupakan engineers estimate berdasarkan desain teknis yang telah
dilaksanakan sebelumnya.

Tabel 5.1. Biaya Pekerjaan Utama


KOMPONEN BIAYA
No. URAIAN
PORSI LOKAL PORSI ASING
(IDR) (USD)
A. Pekerjaan Sipil (Civil Works)
1. Preparation and General Works 53.312.356.981,02 19.805.942,07
2. Diversion Tunnel 202.475.484.614,08 --
3. Grouting Gallery 5.524.634.767,72 5.463.924,50
4. Access Gallery 536.287.744,99 530.394,47
5. Cofferdam 6.331.304.566,41 6.261.729,79
6. Main Dam 108.387.960.600,39 107.196.884,11
7. Spillway 377.380.960.600,39 --
8. Irrigation Outlet 35.244.050.222,08 --
9. Roadworks 1.687.149.004,35 1.668.608,91
10. First Stage of Headrace Tunnel 50.517.272.743,70 --

B. Pekerjaan Hidromekanikal
(Hydromechanical)
1. Preparation and General Works 350.183.011,36 57.722,47
2. Diversion Gate 531.631.808,83 525.789,70
3. Spillway Gate 5.000.469.528,38 4.945.519,31
4. Irrigation Outlet 3.595.780.920,27 3.556.266,84
5. Power Gate 2.287.567.035,36 2.262.428,94

Sumber : Laporan Akhir Detail Engineering Design


Berdasarkan tabel harga pekerjaan utama di atas, maka diperoleh
perhitungan perkiraan harga satuan untuk pekerjaan outlet irigasi (civil works)
adalah :
Panjang saluran = 393,90 meter
Biaya total pekerjaan irigasi = Rp.35.244.050.222,08
Dengan demikian harga satuan pekerjaan saluran irigasi adalah =
Rp.35.244.050.222,08 / 393,90 meter = Rp. 89.474.613,40 / meter

162 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


163

5.2.3. Menentukan Lingkup Pekerjaan Value Engineering dengan


Menggunakan Analisis Pareto

Secara umum salah satu cara untuk menentukan lingkup pekerjaan value
engineering adalah dengan menggunakan analisis Pareto (Paretos Law), dimana
ditentukan bahwa lingkup pekerjaan value engineering adalah 20% item
pekerjaan/kegiatan yang berbiaya di atas 80%.

Pada studi kasus ini akan dicoba dilakukan penerapan analisis Pareto
untuk menentukan lingkup pekerjaan value engineering. Analisis Pareto yang
telah dilaksanakan diperoleh hasil sebagaimana Tabel 5.2., sedangkan langkah-
langkah analisis Pareto atas studi kasus ini adalah sebagai berikut:
a. Menentukan banyaknya komponen pekerjaan, yang selanjutnya akan
dianalisis berdasarkan data yang didapat (kolom 2). Berdasarkan data yang
telah dianalisis, terdapat 11 (sebelas) komponen pekerjaan beserta biaya tiap
komponen pekerjaan tersebut, dengan berdasarkan tabel 5.1 yang telah
ditampilkan sebelumnya;
b. Mengurutkan pekerjaan berdasarkan biayanya mulai dari yang terbesar
hingga yang terkecil. Terlihat pada Tabel 5.2. urutan pekerjaan mulai dari
pekerjaan cofferdam sampai pekerjaan diversion tunnel;
c. Menuliskan biaya komponen masing-masing pekerjaan setiap item
pekerjaan disesuaikan kolom 1 dan ditampilkan pada kolom 3, serta
dijumlahkan ke bawah diperoleh biaya total;
d. Menghitung kumulatif biaya komponen total (kolom 4);
e. Menghitung prosentase komponen pekerjaan (kolom 5), dengan rumus
sebagai berikut:
1
PKP = x100%
TKp
di mana:

PKp : Prosentase Komponen pekerjaan


TKp : Total komponen pekerjaan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


164

Dengan demikian diperoleh prosentase komponen untuk masing-masing


pekerjaan adalah PKp = (1/11) X 100% = 9,09%
f. Menjumlahkan prosentase komponen pekerjaan secara kumulatif (kolom 6);
g. Menghitung prosentase biaya total tiap komponen pekerjaan (kolom 7),
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
BK
PBK = x100%
BT
di mana:
PBK : Prosentase Biaya Komponen
BK : Biaya komponen
Bt : Biaya total
Sebagai contoh, untuk menghitung prosentase biaya komponen pekerjaan
irigasi adalah dengan perhitungan di bawah ini.
Diketahui:
Biaya komponen pekerjaan irigasi : Rp. 62.812.107.272,21
Biaya total bendungan : Rp. 2.226.685.498.361,53
Maka diperoleh prosentase biaya irigasi adalah sebesar:
PBK = (Rp. 62.812.107.272,21/ Rp. 2.226.685.498.361,53) x 100%
= 2,82%
h. Menghitung kumulatif prosentase biaya komponen total (kolom 8);
i. Plot kumulatif prosentase komponen pekerjaan (sumbu x) dan kumulatif
prosentase biaya komponen total (sumbu y) sehingga diperoleh grafik
Pareto untuk pekerjaan bendungan X;
j. Plot biaya total (sumbu x) dan komponen pekerjaan (sumbu y) sehingga
diperoleh diagram Pareto untuk pekerjaan bendungan X.

Berikut ini ditampilkan Tabel 5.2. Perhitungan Analisis Pareto, disertai


gambar grafik dan diagram Pareto untuk pekerjaan bendungan X.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


165

Tabel 5.2. Analisis Pareto pada Bendungan X


Kumulatif
Kumulatif Prosentase
Prosentase Prosentase
Kumulatif Biaya Prosentase Biaya
Komponen Biaya Komponen Komponen Biaya
No. Pekerjaan
Komponen Total
Pekerjaan
Komponen Komponen
Komponen
Pekerjaan Total
Total
(Rp) (Rp.) (%) (%) (%) (%)
1 Cofferdam 1.075.303.855.272,59 1.075.303.855.272,59 9,09% 9,09% 48,29% 48,29%
2 Grouting Gallery 426.990.014.304,97 1.502.293.869.577,56 9,09% 18,18% 19,18% 67,47%
3 Main Dam 232.832.794.143,18 1.735.126.663.720,74 9,09% 27,27% 10,46% 77,92%
4 Spillway 207.749.739.516,91 1.942.876.403.237,65 9,09% 36,36% 9,33% 87,25%
5 First Stage of 70.917.358.039,15 2.013.793.761.276,80 9,09% 45,45% 3,18% 90,44%
Headrace Tunnel
6 Irrigation Outlet 62.812.107.272,21 2.076.605.868.549,01 9,09% 54,55% 2,82% 93,26%

7 Preparation and 54.809.233.757,72 2.131.415.102.306,73 9,09% 63,64% 2,46% 95,72%


General Works
8 Roadworks 50.517.272.743,70 2.181.932.375.050,43 9,09% 72,73% 2,27% 97,99%

9 Access Gallery 22.694.676.074,16 2.204.627.051.124,59 9,09% 81,82% 1,02% 99,01%


10 Power Gate 16.738.001.372,55 2.221.365.052.497,14 9,09% 90,91% 0,75% 99,76%
11 Diversion Tunnel 5.320.445.864,39 2.226.685.498.361,53 9,09% 100,00% 0,24% 100,00%

JUMLAH 2.226.685.498.361,53 100,00% 100,00%

Sumber : hasil olahan sendiri


Berdasarkan Tabel 5.2. di atas, maka dengan cara plotting hasil
perhitungan tersebut, maka diperoleh grafik dan diagram Pareto sebagaimana
ditampilkan Gambar 5.2 dan Gambar 5.3.

Gambar 5.2. Grafik Pareto

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


166

Gambar 5.3. Diagram Pareto


Sumber : Hasil olahan sendiri

Selanjutnya untuk memperoleh 20% item kegiatan yang berbiaya tinggi


melebihi 80% dilakukan dengan mengidentifikasi item kegiatan yang termasuk
dalam jumlah 20%. Dalam Tabel 5.2. diperoleh data bahwa komponen pekerjaan
20% terletak antara kegiatan grouting gallery (18,18%) dan main dam (27,27%).
Untuk memperoleh besaran kumulatif prosentase biaya pada angka 20% tersebut
dilakukan dengan cara interpolasi linier sebagai berikut:

(Y 67,47) (77,92 67,47)


=
(20 18,18) (27,27 18,18)

sehingga akan diperoleh nilai Y adalah 69,56%. Dengan demikian 20%


item pekerjaan yang mempunyai berbiaya tinggi pada bendungan X adalah:
a. Pekerjaan Cofferdam
b. Pekerjaan Grouting Gallery
c. Pekerjaan Main Dam

Dalam hal ini ternyata pekerjaan saluran irigasi bukan merupakan


kegiatan yang termasuk 20% item kegiatan yang berbiaya tinggi.

Namun demikian dengan pertimbangan bahwa bendungan X dibangun


untuk memenuhi kebutuhan irigasi areal sawah seluas 90.000 hektar sehingga
saluran irigasi merupakan tujuan utama (primary benefit) pembangunan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


167

bendungan X, maka studi value engineering dilakukan terhadap bendungan X


dengan lingkup hanya pada saluran irigasi saja.

5.3 Tahap Analisis Fungsi

5.3.1 Identifikasi Fungsi

Pada tahap analisis fungsi, kegiatan yang pertama-tama dilakukan adalah


melakukan identifikasi fungsi secara acak (random) dan selanjutnya
mengelompokkannya, serta mengidentifikasikan terhadap masing-masing jenis
fungsinya. Fungsi suatu komponen/proses terdiri dari kata kerja aktif (active verb)
dan kata benda yang dapat diukur (measurable noun). Hasil identifikasi fungsi
bendungan X dapat ditampilkan pada Tabel 5.3. berikut.

Tabel 5.3. Identifikasi Fungsi Bendungan

FUNGSI
KOMPONEN KETERANGAN
KATA KERJA KATA BENDA
WADUK/BENDUNGAN Menampung Air LOF
Mengatur Aliran SF
Mengendalikan Sedimentasi AT
Mengelakkan Aliran AST
Saluran Irigasi 90.000 Ha Mengalirkan Air SF
Meninggikan Biaya Konstruksi UNF
Memindahkan Air SF
Meningkatkan Produktivitas BF
Mengairi Sawah SF
Mengendalikan Air AST
Mengurangi Risiko Banjir ACB
Mengurangi Risiko Kering ACB
Mengurangi Risiko Cemar ACB
Mengoptimalkan Hasil Panen HOF
Memfasilitasi Pertanian AST
Menahan Beban air ACB
Menggunakan Material UNF
Mempertahankan Stabilitas ACB
Melayani Struktur AST
Mengatur Pola Tanam AST
Memperbesar Debit Irigasi UNF
Pembangkit Listrik 110 MW Menyediakan Energi ACB
Memutar Turbin AST
Penyediaan Air Baku 3,5
Menyediakan Air Baku AT
m3/detik
Pariwisata Memfasilitasi Rekreasi AT
Perikanan Membudidayakan Perikanan AT

Sumber : hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


168

Berdasarkan tabel di atas, diperoleh pengelompokan jenis masing-


masing fungsi dengan kategori sebagai berikut:
HOF : higher order function
LOF : lower order function
BF : basic function
SF : secondary function
AT : function that happen all the time
AST : function that happen at the same time
ACB : function are caused by other function
UNF : unnecessary function
DO : design objective

5.3.2 FAST Diagramming

Selanjutnya fungsi-fungsi tersebut di atas disusun dalam suatu diagram


FAST sehingga akan diperoleh suatu lintasan kritis sebagaimana ditampilkan
pada Gambar 5.4 berikut ini.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Gambar 5.4. FAST Diagram
Sumber : Hasil olahan sendiri

169 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


5.4 Tahap Kreatif

Berdasarkan gambar penampang bendungan terlihat bahwa terdapat 3


(tiga) buah terowongan, yaitu terowongan pengelak (diversion tunnel),
terowongan irigasi (irrigation outlet), dan saluran pembilas (flushing device).
Berdasarkan diskusi dengan expert di bidang bendungan, diperoleh keterangan
bahwa sebaiknya kedua terowongan tidak dibuat secara terpisah, akan lebih
efisien apabila dibuat dengan alternatif lain, yaitu terowongan pengelak tetap
dibuat sesuai dengan desain, sedangkan terowongan irigasi dibuat dengan
memanfaatkan terowongan pengelak tersebut, sehingga terowongan pengelak
juga menampung fungsi terowongan irigasi

Dengan demikian setidaknya terdapat 3 (tiga) alternatif pemanfaatan


terowongan pengelak dan terowongan irigasi tersebut, yaitu:
a. terowongan pengelak tetap dibuat terpisah dengan terowongan irigasi,
termasuk masing-masing bangunan intake-nya sesuai dengan desain asli
b. terowongan pengelak dibuat sesuai desain, lengkap dengan bangunan
intake-nya, sedangkan terowongan irigasi tidak dibangun, namun pada
bagian hilir bendungan tetap dibuat bangunan pengatur aliran irigasi
c. terowongan pengelak dibuat sesuai dengan desain, sedangkan terowongan
irigasi dibuat dengan intake sesuai desain namun pada jarak tertentu,
terowongan irigasi disatukan dengan terowongan pengelak

Pada tahap evaluasi ketiga alternatif tersebut akan dibandingkan dengan


mempertimbangkan beberapa kriteria tertentu, untuk memperoleh tingkat
efisiensi yang paling optimal. Atas alternatif penggabungan fungsi terowongan
pengelak dan terowongan irigasi, maka FAST Diagram mengalami perubahan,
yaitu dengan menggeser fungsi mengelakkan aliran menjadi fungsi yang terjadi
bersamaan atau berfungsi bersama dengan fungsi mengalirkan air, sehingga
beberapa unnecessary function dapat dihilangkan. Dengan demikian FAST
Diagram setelah Tahap Creative ini menjadi sebagaimana Gambar 5.5. berikut.

170 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Gambar 5.5. FAST Diagram sesudah VE
Sumber : Hasil olahan sendiri

171 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


5.5 Tahap Evaluasi/Pembahasan

Pada tahap evaluasi dilakukan evaluasi terhadap hasil yang telah


diperoleh pada tahap-tahap yang telah dilakukan sebelumnya. Evaluasi terhadap
alternatif dilakukan dengan cara mengidentifikasi kriteria penilaian dan
menentukan bobot masing-masing kriteria tersebut. Hasil identifikasi kriteria
adalah sebagai berikut:
a. Biaya konstruksi
b. Waktu pelaksanaan konstruksi
c. Debit aliran irigasi
d. Luas layanan irigasi
e. Elevasi muka air
f. Penggunaan material konstruksi
g. Pemeliharaan saluran
h. Workability konstruksi

Untuk menentukan pembobotan (weighted) atas kriteria tersebut


diperlukan pendapat beberapa pakar dengan menggunakan instrumen kuesioner
studi kasus Tahap I sebagaimana terlampir. Pakar yang dipilih adalah personil
yang memiliki sertifikat keahlian value engineering, yaitu Associate Value
Specialist (AVS), dengan tingkat pendidikan pasca sarjana (S2) dan
berpengalaman lebih dari 10 (sepuluh) tahun, yaitu:

a. Pakar I dengan kualifikasi Pemegang Sertifikat AVS, tingkat pendidikan


S2, pengalaman kerja 11 tahun;

b. Pakar II dengan kualifikasi Pemegang Sertifikat AVS, tingkat pendidikan


S2, pengalaman kerja 17 tahun.

Pakar diminta untuk mengisi kuesioner dengan memberikan penilaian


pada setiap pasangan item kriteria, dengan nilai yang berkisar antara 1 sampai 4,
dimana apabila item kriteria dinilai lebih penting maka diberikan nilai yang lebih
tinggi dibanding item kriteria yang lain, demikian sebaliknya.

172 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


173

Setelah diperoleh penilaian terhadap seluruh item kriteria, selanjutnya


dilakukan analisis dengan menggunakan pair comparison matrix berdasarkan
nilai yang ada, sehingga akan diperoleh nilai total setiap itemnya. Hasil analisis
terhadap masukan 2 (dua) pakar yang telah diperoleh nilai dengan matriks
tersebut, selanjutnya dihitung nilai rata-ratanya untuk memperoleh bobot masing-
masing kriteria penilaian. Dalam hal ini hasil pembobotan adalah sebagaimana
ditampilkan pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4. Hasil Penilaian Kriteria

HASIL PENILAIAN/PEMBOBOTAN
No. KRITERIA RATA-
PAKAR I PAKAR II
RATA
1. Biaya konstruksi 11 9 10,0
2. Waktu pelaksanaan konstruksi 8 9 8,5
3. Debit aliran irigasi 2 2 2,0
4. Luas layanan irigasi 3 1 2,0
5. Elevasi muka air 1 3 2,0
6. Penggunaan material 14 15 14,5
konstruksi
7. Pemeliharaan saluran 8 4 6,0
8. Workability konstruksi 10 7 8,5
Sumber : hasil olahan sendiri

Berdasarkan kriteria dan pembobotan di atas, maka penilaian atas ketiga


kriteria dilaksanakan dengan cara metode delphi, yaitu dengan cara meminta
bantuan pakar (experts system). Pakar yang dimaksud adalah tenaga ahli di
bidang sumber daya air, dengan tingkat pendidikan pasca sarjana (S2) bidang
sumber daya air dan pengalaman lebih dari 15 tahun. Pakar pada tahap ini
berbeda dengan pakar pada proses studi kasus sebelumnya, yaitu:
a. Pakar I adalah Tenaga Ahli Itjen bidang Sumber Daya Air, pendidikan S2
bidang SDA dengan pengalaman kerja 25 tahun;
b. Pakar II adalah Tenaga Ahli Itjen bidang Sumber Daya Air, pendidikan S2
bidang SDA dengan pengalaman kerja 34 tahun;
c. Pakar III Tenaga Ahli Itjen bidang Sumber Daya Air, pendidikan S2 bidang
SDA dengan pengalaman kerja 30 tahun.

Instrumen penelitian yang dipergunakan pada tahap studi kasus ini


adalah kuesioner studi kasus Tahap II. Pakar diminta untuk mengisi penilaian atas

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


174

beberapa alternatif desain berdasarkan kriteria yang telah diberikan bobot pada
Tahap I, dan selanjutnya hasil penilaian ketiga pakar dihitung rata-ratanya. Hasil
penilaian oleh pakar sebagaimana dalam Tabel 5.5.

Tabel 5.5. Hasil Penilaian Alternatif Desain

ALTERNATIF DESAIN
No. KRITERIA
A B C
1 Biaya Konstruksi Pakar I 2,00 5,00 3,00
Pakar II 1,00 4,00 3,00
Pakar III 2,00 5,00 4,00
Rata-rata 1,67 4,67 3,33
2 Waktu pelaksanaan Pakar I 2,00 4,00 3,00
Pakar II 1,00 4,00 4,00
Pakar III 1,00 2,00 2,00
Rata-rata 1,33 3,33 3,00
3 Debit saluran irigasi Pakar I 5,00 1,00 4,00
Pakar II 2,00 1,00 3,00
Pakar III 4,00 3,00 4,00
Rata-rata 3,67 1,67 3,67
4 Luas layanan irigasi Pakar I 4,00 3,00 3,00
Pakar II 4,00 4,00 4,00
Pakar III 3,00 3,00 3,00
Rata-rata 3,67 3,33 3,33
5 Elevasi muka air Pakar I 5,00 4,00 4,00
Pakar II 4,00 3,00 3,00
Pakar III 4,00 4,00 4,00
Rata-rata 4,33 3,67 3,67
6 Penggunaan material Pakar I 3,00 5,00 4,00
Pakar II 2,00 4,00 3,00
Pakar III 2,00 4,00 4,00
Rata-rata 2,33 4,33 3,67
7 Pemeliharaan saluran Pakar I 2,00 1,00 5,00
Pakar II 2,00 2,00 5,00
Pakar III 1,00 1,00 4,00
Rata-rata 1,67 1,33 4,67
8 Workability Pakar I 3,00 4,00 5,00
Pakar II 2,00 3,00 3,00
Pakar III 2,00 3,00 4,00
Rata-rata 2,33 3,33 4,00
Sumber : hasil olahan sendiri

Selanjutnya hasil penilaian rata-rata tersebut dilakukan dihitung nilai


total masing-masing alternatif desain dengan menggunakan tabel decision matrix
sebagaimana ditampilkan pada Tabel 5.6., dimana nilai masing-masing alternatif
desain merupakan penjumlahan dari nilai alternatif berdasarkan kriteria dikalikan
dengan bobot masing-masing kriteria.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


175

Tabel 5.6 Decision Matrix


5 POINT SCALE

Pemeliharaan Saluran
Penggunaan Material
Luas Layanan Irigasi
Waktu Pelaksanaan

Debit Aliran Irigasi


Biaya Konstruksi

Elevasi Muka Air


EXCELENT = 5

Workability
Konstruksi

Konstruksi
VERY GOOD = 4
GOOD = 3
FAIR = 2
POOR = 1
TOTAL
SCORE

WEIGHTAGE 1 2 3 4 5 6 7 8
PROPO
FOR
SAL
CRITERIA 10,0 8,5 2,0 2,0 2,0 14,5 6,0 8,5

A. Membangun 1,67 1,33 3,67 3,67 4,33 2,33 1,67 2,33


saluran irigasi dan
saluran pengelak 115,00
secara terpisah 16,67 11,33 7,33 7,33 8,67 33,83 10,0 19,83
dari hulu ke hilir

B. Membangun 4,67 3,33 1,67 3,33 3,67 4,33 1,33 3,33


saluran irigasi dan
saluran pengelak
menjadi satu
191,50
46,67 28,33 3,33 6,67 7,33 62,83 8,00 28,33
bangunan dari
hulu ke hilir

C. Membangun
saluran pengelak 3,33 3,00 3,67 3,33 3,67 3,67 4,67 4,00
dari hulu ke hilir,
sedangkan saluran
irigasi dari ke hulu, 195,33
dan pada panjang
tertentu disatukan 33,33 25,50 7,33 6,67 7,33 53,17 28,0 34,0
dengan saluran
pengelak

Sumber : hasil olahan sendiri

5.6 Tahap Rekomendasi

5.6.1 Rekomendasi

Berdasarkan hasil matriks keputusan, didapatkan bahwa nilai tertinggi


terdapat pada proposal ketiga (C) yaitu membangun saluran pengelak dari hulu ke
hilir, sedangkan saluran irigasi dari ke hulu, dan pada panjang tertentu disatukan
dengan saluran pengelak.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


176

Saluran irigasi dibangun sesuai rencana namun pada panjang kira-kira


125 meter dari intake di bagian hulu dilakukan penyatuan ke saluran pengelak,
jadi dengan kemiringan saluran cross cut 2:3, maka diperoleh panjang saluran
irigasi adalah 185 meter (=125 meter + 60 meter). Namun demikian panjang
saluran tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan pemenuhan terhadap
syarat-syarat teknis saluran.

Sketsa dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Saluran
BAGIAN irigasi
HULU BAGIAN
HILIR

Saluran
pengelak

Gambar 5.6. Sketsa Rencana Saluran Pengelak


Sumber : Hasil olahan sendiri

5.6.2 Perhitungan Penghematan

Berdasarkan perhitungan panjang saluran irigasi sepanjang 185 meter,


maka diperoleh penghematan/saving dibandingkan dengan desain awal.
Penghematan tersebut dengan perhitungan sebagai berikut:
Panjang saluran = 393,90 meter (desain awal)
Panjang saluran = 185 meter (desain alternatif)
Harga total pekerjaan irigasi = Rp.35.244.050.222,00
Diperoleh penghematan sebesar Rp.16.552.803.480,00 (=(393,9-185)/393,90
x Rp35.244.050.222,00) atau sebesar 53%.

Perhitungan perkiraan penghematan ini masih bersifat potensi, karena


masih dapat dimungkinkan adanya pengembangan ide lebih lanjut dengan
pertimbangan aspek teknis yang lebih spesifik. Selain itu potensi penghematan
pada pekerjaan saluran irigasi ini belum memperhitungkan kompensasi pekerjaan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


177

timbunan bendungan, perkuatan lereng saluran irigasi, maupun item pekerjaan


lain yang timbul akibat pengembangan desain ini.

5.7 Kesimpulan

Berdasarkan uraian mengenai studi kasus sebagaimana diulas pada Bab 5


ini, maka dapat disimpulkan bahwa studi value engineering dapat meningkatkan
efektivitas penggunaan anggaran dengan tetap mempertahankan fungsi bagian
konstruksi yang ada. Syarat utama pelaksanaan studi VE adalah adanya analisis
fungsi, yang digambarkan dalam bentuk FAST Diagram.

Studi kasus yang dibahas pada Bab 5 ini merupakan bentuk exercise
mengenai prosedur atau langkah-langkah studi VE. Studi akan lebih efektif
apabila dilaksanakan oleh sejumlah orang yang berkompeten dan tergabung
dalam suatu tim sebagai tim multi disiplin ilmu, serta dilaksanakan dalam
sejumlah waktu tertentu dengan diskusi-diskusi yang memadai.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


BAB 6
TEMUAN DAN BAHASAN

6.1 Pendahuluan

Setelah melakukan analisis dan pengolahan data pada Bab 4, selanjutnya


bab ini akan membahas mengenai temuan yang diperoleh dan pembahasannya.
Rincian dari temuan tersebut disesuaikan dengan jenis pengujian dan analisa yang
dilakukan.

Selanjutnya adalah pembahasan yang dilakukan berdasarkan validasi


akhir yang dilakukan kepada beberapa pakar mengenai hasil penelitian yang
diperoleh dan dari referensi lainnya.

6.2 Hasil Temuan Dan Pembahasan Penelitian

6.2.1 Analisis Regresi dan Korelasi

Berdasarkan hasil pengujian, baik uji F, t, maupun uji R2 dan nilai hitung
signifikansi koefisien masing-masing variabel dapat disampaikan bahwa model
yang diperoleh telah memenuhi persyaratan statistik.

Secara umum pengaruh dari ketiga variabel independen X1


(penyelenggaraan infrastruktur), X2 (cara penggunaan anggaran), dan X3
(penerapan VE) tersebut terhadap Y (efektivitas penggunaan anggaran) adalah
sebesar 74,8%. Dari ketiga variabel independen tersebut, yang memiliki pengaruh
terbesar adalah variabel X1 (penyelenggaraan infrastruktur), diikuti oleh variabel
X3 (penerapan VE) dan X2 (cara penggunaan anggaran), dengan nilai masing-
masing koefisien sebagai berikut:
Konstanta a = -13,397
Koefisien b (pada X1) = 1,504
Koefisien c (pada X2) = 0,925
Koefisien d (pada X3) = 1,445

178 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


179

Dengan demikian model regresi yang terbentuk adalah sebagai berikut :

Y = -13,397 + 1,504 X1 + 0,925 X2 + 1,445 X3 (6.1)

Sedangkan berdasarkan analisis korelasi antara variabel dependen (Y)


dengan variabel independen (X1, X2, dan X3), diperoleh keterangan bahwa
korelasi paling besar terjadi antara Y (efektivitas penggunaan anggaran) dengan
X1 (penyelenggaraan infrastruktur), disusul kemudian korelasi antara Y dengan
variabel X3 (penerapan VE), dan terakhir adalah korelasi antara Y dengan
variabel X2 (cara penggunaan anggaran). Korelasi antar variabel tersebut dapat
ditampilkan pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1. Koefisien Korelasi Variabel

Koefisien
Korelasi antara variabel Keterangan
Korelasi
Y - X1 0,710 Kuat
Y - X2 0,547 Sedang
Y - X3 0,655 Kuat
Sumber : hasil olahan sendiri

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa ketiga variabel


independen (X1, X2, dan X3) mempunyai pengaruh positif dan signifikan
terhadap variabel dependen (Y), sehingga apabila variabel X1 (kedua variabel
yang lain dianggap tetap) mengalami kenaikan satu satuan maka variabel Y akan
mengalami kenaikan sebesar 1,504 satuan, demikian juga apabila variabel X2
(kedua variabel yang lain dianggap tetap) mengalami kenaikan sebesar satu satuan
maka variabel Y mengalami kenaikan sebesar 0,952 satuan. Sedangkan apabila
variabel X3 (kedua variabel yang lain dianggap tetap) mengalami kenaikan
sebesar satu satuan maka variabel Y mengalami kenaikan sebesar 1,445 satuan.

Demikian pula apabila ketiga variabel independen (X1, X2, dan X3)
dianggap nol atau dengan kata lain penyelenggaraan infrastruktur, cara
penggunaan anggaran, dan penerapan VE tidak dilaksanakan, maka efektivitas
penggunaan anggaran tidak akan mengalami peningkatan, melainkan justru
mengalami penurunan sebesar 13,397.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


180

Variabel X1 (penyelenggaraan infrastruktur) memiliki pengaruh yang


paling besar terhadap variabel Y dibandingkan kedua variabel yang lain, karena
anggaran penyelenggaraan infrastruktur yang telah tersedia tidak akan efektif
apabila tidak ada kegiatan penyelenggaraan infrastruktur, sementara infrastruktur
di Indonesia masih belum memadai. Pengaruh variabel independen terbesar
selanjutnya adalah variabel X3 (penerapan VE), sehingga dapat diperoleh fakta
bahwa penerapan VE adalah sangat penting dalam penyelenggaraan infrastruktur
untuk meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran. Selanjutnya variabel X3
(cara penggunaan anggaran) yang juga memiliki pengaruh terhadap variabel Y,
harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar dicapai efektivitas
penggunaan anggaran.

Dengan nilai R2 sebesar 0,748, maka diartikan bahwa ketiga variabel


independen (X1, X2, dan X3) memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (Y)
sebesar 74,8% atau dapat disebut dengan kategori kuat, sedangkan pengaruh
sebesar 25,2% lainnya diterangkan oleh variabel selain ketiga variabel X1, X2,
dan X3. Adapun variabel lain yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam 25,2%
tersebut antara lain adalah keterbatasan ide perancang karena berpikir secara
kebiasaan (habitual thinking), waktu yang dibatasi tahun anggaran sesuai aturan
keuangan negara, sudah banyaknya disusun standar-standar teknis perancangan,
maupun akibat lingkungan strategis lainnya.

6.2.2 Pengolahan Data Statistik Distribusi Frekuensi

Uji/analisis distribusi frekuensi hanya dilaksanakan untuk menguji


subvariabel-subvariabel yang mendukung variabel X3 (Penerapan VE).
Berdasarkan hasil uji tersebut, diperoleh beberapa faktor dengan nilai rata-rata
rendah, dimana nilainya lebih kecil dari 3,5 yang merupakan nilai tengah antara
nilai 1 dan nilai 6. Diasumsikan bahwa nilai rendah tersebut berarti bahwa faktor
tersebut memengaruhi tingkat kesiapan penerapan VE. Dari faktor-faktor bernilai
rendah diambil 5 faktor terendah sebagai faktor yang paling dominan, yaitu:
Jumlah personil dengan tingkat pendidikan minimal S1 bidang Teknik

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


181

Komposisi personil ditinjau dari disiplin ilmu (pemenuhan terhadap


disiplin ilmu ASMET arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata
lingkungan)
Jumlah personil yang telah mengikuti pelatihan VE dan bersertifikat VE
dari asosiasi profesi ahli value engineering (HAVEI, SAVEI, dsb)
Pemahaman terhadap teknik penggunaan VE dan manajemen VE
Regulasi/peraturan untuk penerapan VE

Dari kelima faktor di atas, diperlukan suatu pemeringkatan untuk


memeroleh faktor yang paling dominan yang mempengaruhi penerapan VE di
lingkungan Departemen PU dengan menggunakan metode pendapat pakar (expert
system) dengan instrumen kuesioner.

6.2.3 Validasi Pakar terhadap Kelima Faktor Dominan

Validasi pakar pada tahap ini dimaksudkan untuk memeroleh hasil


peringkat faktor-faktor tersebut berdasarkan pendapat ahli (experts system). Atas
permasalahan tersebut, maka disusun instrumen berupa kuesioner yang
selanjutnya akan didistribusikan kepada para pakar/ahli untuk memberikan
penilaian atas setiap pembandingan antar faktor-faktor tersebut, yaitu antara:
Pendidikan vs Komposisi
Pendidikan vs Pelatihan
Pendidikan vs Pemahaman
Pendidikan vs Regulasi
Komposisi vs Pelatihan
Komposisi vs Pemahaman
Komposisi vs Regulasi
Pelatihan vs Pemahaman
Pelatihan vs Regulasi
Pemahaman vs Regulasi

Kuesioner sebagai instrumen validasi ini terlampir.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


182

Diharapkan dengan adanya penilaian dan pendapat dari para ahli tersebut
dapat diperoleh suatu peringkat atas faktor-faktor dominan yang memengaruhi
kesiapan penerapan value engineering di lingkungan Departemen PU.

Kuesioner sebagai instrumen penelitian pendapat ahli selanjutnya


didistribusikan kepada beberapa orang yang dianggap ahli dan mengetahui tentang
hal-hal yang terkait dengan penerapan VE. Adapun ahli yang diminta pendapatnya
terdiri dari 5 (lima) orang dengan kualifikasi tertentu, yaitu:
a. Auditor Ahli Madya, tingkat pendidikan S1 Teknik Sipil dengan
pengalaman kerja 20 tahun;
b. Tenaga Ahli Itjen bidang Cipta Karya, tingkat pendidikan S1 Teknik
Sipil dengan pengalaman kerja 25 tahun;
c. Tenaga Ahli Itjen bidang Bina Marga tingkat pendidikan S2 Teknik Sipil
dengan pengalaman kerja 27 tahun;
d. Tenaga Ahli Itjen bidang Bina Marga tingkat pendidikan S2 Teknik Sipil
dengan pengalaman kerja 30 tahun;
e. Tenaga Ahli Itjen bidang SDA tingkat pendidikan S2 Teknik Sipil
dengan pengalaman kerja 25 tahun;

Berdasarkan kuesioner pendapat ahli yang telah diterima kembali, maka


selanjutnya dilakukan analisis dengan menggunakan sistem pemeringkatan
dengan memberikan penilaian atas pembandingan antar faktor tersebut, yaitu nilai
2 apabila salah satu faktor dinilai lebih besar daripada faktor yang lain, nilai 1
apabila pembandingan antar faktor mempunyai nilai sama, dan nilai nol untuk
faktor yang dinilai lebih kecil daripada faktor yang lain. Selanjutnya hasil
pemeringkatan oleh para pakar ditabulasikan sebagaimana Tabel 6.2.

Tabel 6.2. Rekapitulasi Kuesioner Ahli

KODE PAKAR
FAKTOR
FAKTOR I II III IV V
A PENDIDIKAN 3 2 5 4 4
B KOMPOSISI 5 5 4 5 5
C PELATIHAN 2 4 2 1 2
D PEMAHAMAN 4 3 3 2 3
E REGULASI 1 1 1 3 1

Sumber : hasil olahan sendiri

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


183

Dari hasil pemeringkatan oleh kelima pakar sebagaimana Tabel 6.2. di


atas, untuk memperoleh hasil pemeringkatan akhir, maka dilakukan analisis
dengan cara distribusi frekuensi, yaitu dengan menghitung rata-rata peringkat,
dimana untuk peringkat pertama dikalikan dengan faktor nilai 5, peringkat kedua
dikalikan dengan faktor nilai 4, dan seterusnya untuk peringkat kelima dikalikan
dengan faktor nilai 1. Nilai rata-rata merupakan penjumlahan dari kelima nilai
peringkat dibagi dengan jumlah pakar. Perhitungan tersebut dapat mengikuti
persamaan:

( Fi j ) ( F1 5) + ( F2 4) + ( F3 3) + ( F4 2) + ( F 5 1)
Mean = =
F ( F1 + F2 + F3 + F4 + F5 )
(6.1)

Dengan menggunakan persamaan matematika 6.1. tersebut di atas, maka


dilakukan penghitungan dengan hasil sebagaimana Tabel 6.3. berikut.

Tabel 6.3 Distribusi Frekuensi

PERINGKAT MENURUT PAKAR


FAK RATA-
1 2 3 4 5 JML
TOR RATA
F % F % F % F % F %
A 0 0% 1 20% 1 20% 2 40% 1 20% 5 2,4
B 0 0% 0 0% 0 0% 1 20% 4 80% 5 1,2
C 1 20% 3 60% 0 0% 1 20% 0 0% 5 3,8
D 0 0% 1 20% 3 60% 1 20% 0 0% 5 3,0
E 4 80% 0 0% 1 20% 0 0% 0 0% 5 4,6
Sumber : hasil olahan sendiri

Berdasarkan data validasi pakar tersebut dilakukan pengolahan dengan


cara scoring system dan diperoleh hasil pemeringkatan bahwa peringkat (1)
regulasi dengan nilai 4,6; (2) sertifikasi/pelatihan dengan nilai 3,8; (3)
pemahaman dengan nilai 3,0; (4) pendidikan dengan nilai 2,4; dan peringkat (5)
komposisi dengan nilai 1,2, sebagaimana disampaikan pada Tabel 6.4. berikut ini.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


184

Tabel 6.4.
Hasil Pemeringkatan Faktor Dominan yang Memengaruhi
Penerapan VE Menurut Pendapat Ahli

NILAI
PERINGKAT FAKTOR URAIAN
RATA-RATA
1 Regulasi Regulasi/peraturan penerapan VE 4,6
2 Sertifikasi/Pelatihan Jumlah personil yg mempunyai sertifikat VE 3,8
Tingkat pemahaman terhadap teknik dan
3 Pemahaman 3,0
manajemen VE
Jumlah personil dng tingkat pendidikan minimal
4 Pendidikan 2,4
S1 bidang teknik
Komposisi personil ditinjau dari sebaran disiplin
5 Komposisi 1,2
ilmu ASMET
Sumber : olahan sendiri

6.2.4 Pembahasan atas Faktor Dominan

Berdasarkan hasil identifikasi, survei, analisis, dan pemeringkatan


sebagaimana diuraikan pada bahasan sebelumnya, selanjutnya penulis melakukan
pembahasan atas kelima faktor dominan tersebut.

a. Regulasi Penerapan VE

Penerapan value engineering di Indonesia sebenarnya sudah cukup dikenal,


karena telah hadir sejak tahun 1986, namun konsepnya belum
tersosialisasikan secara optimal. Hal ini terlihat dengan belum adanya
peraturan pemerintah yang mengatur penerapan value engineering, sehingga
sulit untuk mendapatkan acuan atau legalitas yang jelas.

Namun demikian Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor


45/PRT/M/2007 tanggal 27 Desember 2007 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara telah mengatur mengenai
penerapan VE tersebut, namun tentunya peraturan tersebut masih dianggap
berlaku dan tersosialisasi pada lingkungan pembangunan gedung negara
saja, sedangkan bidang lain belum tercakup.

Di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta, Gubernur telah mengundangkan


Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 108 Tahun 2003 tanggal 29
Desember 2003 tentang Aplikasi Value Engineering. Namun pada April
2007, produk hukum tersebut dicabut dengan adanya penolakan dari Ikatan
Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) karena dianggap tidak dapat

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


185

diimpelementasikan dan belum adanya asosiasi ahli VE yang berwenang


untuk memberikan sertifikat keahlian bidang VE.

Para penentu kebijakan diharapkan dapat mempertimbangkan disusunnya


regulasi penerapan VE, karena di beberapa negara, salah satunya di Amerika
Serikat telah diterapkan VE dengan dasar hukum yang dituangkan dalam
Public Law 104-106 seksi 4306 sub seksi 36 antara lain menyatakan bahwa
setiap badan pemerintahan berkewajiban untuk menerapkan dan
menjalankan proses maupun prosedur penghematan biaya berbasiskan value
engineering.

Selain itu menurut FIDIC, value engineering dapat dimungkinkan


diterapkan dalam pekerjaan konstruksi, dimana penyedia jasa (kontraktor)
mengusulkan kepada Direksi Teknis berupa suatu proposal tertulis (yang
menurut pendapat penyedia jasa/kontraktor), jika disetujui/diterima, (i)
mempercepat penyelesaian pekerjaan, (ii) mengurangi biaya Pengguna Jasa
dalam hal pelaksanaan pekerjaan, operasi dan pemeliharaan, (iii)
meningkatkan efisiensi penyelesain pekerjaan atau biaya Pengguna Jasa atau
(iv) meningkatkan keuntungan bagi Pengguna Jasa.

Regulasi penerapan VE yang diharapkan untuk disusun akan dijadikan


sebagai pedoman penerapan VE atas proyek-proyek bidang pekerjaan umum
di lingkungan Departemen PU. Regulasi tersebut setidaknya harus memuat
beberapa hal sebagai berikut:

Kriteria proyek yang akan dilakukan studi VE, baik mengenai jenis,
besaran atau nilai proyek, maupun kriteria lain yang logis
Prosedur atau langkah dalam pelaksanaan studi VE
Alokasi sumber daya yang diperlukan, baik waktu maupun biaya
Kriteria anggota Tim studi VE
Proporsi mengenai alokasi hasil penghematan yang diperoleh, beserta
prosedurnya

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


186

b. Sertifikasi/pelatihan Keahlian VE

Himpunan Ahli Value Engineering Indonesia (HAVEI) pada tanggal 17


November 2006 dengan tujuan meningkatkan profesionalisme dalam
mengoptimalkan anggaran pembangunan infrastruktur dan industri melalui
value engineering. HAVEI berafiliasi ke Society of American Value
Engineers (SAVE) International, dimana HAVEI memfasilitasi adanya
pelatihan dan sertifikasi bidang VE.

Hingga saat ini HAVEI telah mempunyai cabang di 6 (enam) wilayah dan
anggota sebanyak 130 orang yang tersebar di seluruh instansi, baik
Departemen PU, badan usaha kontraktor, maupun badan usaha konsultan di
seluruh Indonesia. Sedangkan dari sejumlah anggota HAVEI tersebut
terdapat 30-an orang yang sudah memiliki sertifikat keahlian VE, yaitu
Associate of Value Specialist (AVS) dan beberapa orang yang telah memiliki
sertifikat keahlian VE lingkup nasional.

Tingkatan profesi keahlian VE menurut SAVE International adalah (1) AVS


Associate Value Specialist; (2) VMP Value Management Practitioners;
(3) CVS Certified Value Specialist. Adapun materi dari sertifikasi VE yang
dikeluarkan oleh SAVE International terdiri dari 7 (tujuh) kategori, yaitu:
1) Fundamentals, meliputi dasar-dasar teori VE
2) Function Analysis, meliputi identifikasi, klasifikasi dan analisis fungsi
3) FAST Diagramming, meliputi identifikasi, klasifikasi dan analisis
fungsi, serta pembuatan diagram function analysis system technique
(FAST)
4) Team Building, meliputi pemilihan anggota tim, dinamika kelompok,
dan kreativitas untuk mencapai keberhasilan studi VE
5) Certification, meliputi pengetahuan persyaratan umum mengenai
program sertifikasi, pelatihan, dan seminar
6) Financial, meliputi materi yang terkait dengan value index, life cycle
cost, dan breakeven analysis
7) Essay, meliputi penyusunan tulisan/makalah terkait dengan VE dan
mempresentasikannya

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


187

HAVEI dalam program kerjanya antara lain menyebutkan bahwa akan terus
mengupayakan teraplikasikannya VE dengan cara mensosialisasikannya,
baik melalui pelatihan, sertifikasi, seminar, workshop, maupun sosialisasi
dalam bentuk lainnya.

c. Pemahaman terhadap Teknik dan Manajemen VE

Tingkat pemahaman responden dalam hal teknik dan manajemen VE dinilai


masih kurang, karena memang metode VE belum dapat tersosialisasi
dengan baik. Dengan adanya upaya HAVEI untuk mensosialisasikan
metode VE dan dilanjutkan dengan pelatihan/sertifikasi diharapkan teknik
dan manajemen VE dapat dipahami oleh sebanyak-banyaknya para
penyelenggara proyek.

Namun dengan adanya keterbatasan yang dimiliki oleh HAVEI, diharapkan


para penentu kebijakan di lingkungan Departemen PU dapat memfasilitasi
HAVEI dalam mencapai targetnya tersebut, karena yang pasti metode VE
merupakan salah satu alternatif dalam pencapaian efisiensi biaya dengan
melakukan analisis fungsi dan menghilangkan unnecessary cost namun
dengan tetap mempertahankan fungsi lain, seperti fungsi esteem maupun
fungsi aesthetics, serta fungsi lain yang dianggap penting.

d. Pendidikan dan Komposisi Personil Pengguna Jasa

Studi VE merupakan studi yang dilakukan oleh Multi Discipline Team, yaitu
tim yang memiliki sejumlah anggota yang berlatar belakang yang berbeda-
beda sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dilakukan studi VE.

Keterbatasan mengenai jumlah personil di masing-masing satuan kerja yang


memiliki tingkat pendidikan minimal S1 Bidang Teknik memiliki
keterkaitan dengan komposisi personil satuan kerja ditinjau dari sebaran
bidang ilmu ASMET (arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal dan tata
lingkungan). Komposisi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan usaha jasa
konstruksi menurut Undang Undang RI Nomor 18 tahun 1999 Tentang Jasa
Konstruksi.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


188

Namun demikian keterbatasan jumlah dan komposisi personil tersebut akan


dapat dimungkinkan teratasi dengan melakukan kerja sama dengan pihak
lain di luar lingkungan satuan/unit kerja, antara lain dengan penyedia
jasa/konsultan yang mempunyai domain melakukan studi VE.

Berdasarkan hasil penelitian ini, apabila dikorelasikan dengan hasil


penelitian tentang penerapan VE di Hongkong yang dilaksanakan oleh Shen dan
Liu, 2003, maka terdapat identifikasi beberapa faktor yang sama, yaitu terkait
dengan kesiapan dalam hal ketersediaan sumber daya manusia, baik mengenai
komposisi personil, tingkat pengetahuan/pendidikan/pengalaman, dan pemahaman
terhadap VE.

6.2.5 Pembahasan atas Studi Kasus

Pada Bab 5 telah diuraikan mengenai proses studi kasus mulai pada tahap
persiapan hingga tahap evaluasi dan rekomendasi. Dengan demikian pembahasan
atas hasil studi kasus juga telah disampaikan pada Bab 5.

6.3 Pembuktian Atas Rumusan Masalah Dan Hipotesa

6.3.1 Pembuktian atas Rumusan Masalah

Sebagaimana diuraikan pada Bab I, rumusan masalah penelitian terdiri


dari 3 (tiga) pertanyaan/research question/RQ. Pada bahasan sub bab ini akan
diuraikan mengenai jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan.

Adapun jawaban tersebut adalah sebagai berikut:

a. Jawaban RQ-1 bahwa faktor-faktor dominan yang memengaruhi tingkat


kesiapan pengguna jasa di lingkungan Departemen PU dalam penerapan VE
adalah belum tersedianya regulasi penerapan VE secara spesifik,
keterbatasan personil yang memiliki sertifikat keahlian VE, terbatasnya
tingkat pemahaman terhadap teknik dan manajemen VE, tingkat pendidikan

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


189

personil pengguna jasa, dan komposisi personil pengguna jasa yang belum
memenuhi unsur ASMET;

b. Jawaban RQ-2 bahwa penerapan VE dalam penyelenggaraan infrastruktur


bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen PU mempunyai
pengaruh yang kuat (74,8%) terhadap peningkatan efektivitas penggunaan
anggaran;

c. Jawaban RQ-3 bahwa penerapan VE dapat mengacu pada prosedur yang


berlaku umum, sebagai contoh prosedur baku yang dikeluarkan oleh SAVE
International.

6.3.2 Pembuktian atas Hipotesa

Hipotesa sebagaimana diuraikan pada Bab II adalah adalah:


a. Faktor-faktor dominan yg memengaruhi tingkat kesiapan Pengguna Jasa
dalam penerapan VE adalah regulasi yang spesifik, dan ketersediaan &
kompetensi tim VE.
b. Penerapan VE merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan
efektivitas penggunaan anggaran pada penyelenggaraan infrastruktur di
lingkungan Departemen Pekerjaan Umum

Kedua hipotesa tersebut telah dapat dibuktikan pada uraian bab ini.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Value Engineering sebagai salah satu alternatif dalam upaya


meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran merupakan
pendekatan yang kreatif dan terorganisasi dengan tujuan untuk mengoptimumkan
biaya dan/atau kinerja fasilitas atau sistem. Studi VE dilakukan dengan
melakukan analisis terhadap fungsi untuk diidentifikasi unnecessary cost,
sehingga dapat meminimalkan biaya, namun dengan tetap mempertimbangkan
fungsi-fungsi lain yang dianggap penting.

Penerapan VE di lingkungan Departemen PU masih mengalami


beberapa kendala, antara lain adalah mengenai ketersediaan regulasi penerapan
VE, jumlah personil yang berkompeten dan memiliki sertifikat keahlian VE,
minimnya pemahaman tentang teknik dan manajemen VE, serta tingkat
pendidikan dan komposisi personil satuan kerja ditinjau dari sebaran disiplin ilmu
di bidang jasa konstruksi, yaitu memenuhi bidang arsitektur, sipil, mekanikal,
elektrikal, dan tata lingkungan (ASMET).

Penerapan VE hendaknya tidak diterapkan kepada seluruh paket


pekerjaan yang dilaksanakan oleh pengguna jasa. Hal tersebut dapat berdampak
pada kinerja penyedia jasa/konsultan perancang yang melaksanakan pekerjaan
perancangan, karena penyedia jasa tersebut akan bekerja seadanya, toh nanti
akan dilakukan VE terhadap produknya. Selain itu apabila VE diterapkan kepada
seluruh paket pekerjaan/proyek, maka tentunya membutuhkan alokasi anggaran
juga untuk biaya konsultan VE.

Dengan demikian, penerapan VE dilaksanakan pada paket


pekerjaan/proyek yang mengalami indikasi adanya in-efisiensi biaya dalam
pelaksanaannya. Indikasi tersebut diperoleh dari hasil berbagai pengawasan, baik
pengawasan masyarakat (wasmas), pengawasan melekat oleh atasan (waskat),
maupun pengawasan fungsional (audit/wasfung).

190 Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


191

Berdasarkan pendapat para responden penelitian, diperoleh kesimpulan


bahwa penerapan VE pada penyelenggaraan infrastruktur di lingkungan
Departemen PU mempunyai korelasi sebesar 74,8% atau dengan kategori kuat
dengan tingkat efektivitas penggunaan anggaran, sedangkan 25,2% sisanya
diterangkan oleh variabel selain variabel dalam penelitian ini, sebagai contoh
adalah keterbatasan ide perancang karena berpikir secara kebiasaan (habitual
thinking), waktu yang dibatasi tahun anggaran sesuai aturan keuangan negara,
sudah banyaknya disusun standar-standar teknis perancangan, maupun akibat
lingkungan strategis lainnya.

Sedangkan hasil penelitian studi kasus penerapan VE atas pekerjaan


saluran irigasi pada suatu bendungan, dengan menekankan pada pelaksanaan
analisis fungsi dengan FAST Diagramming, maka akan diperoleh penghematan
yang cukup signifikan.

7.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disampaikan beberapa saran


kepada para penentu kebijakan di lingkungan Departemen PU bahwa:

a. Perlu dirumuskan regulasi yang mengatur secara rinci mengenai penerapan


VE, yang mencakup seluruh bidang substansi ke-PU-an, baik bidang
sumber daya air, jalan dan jembatan, maupun keciptakaryaan yang lain.

b. Perlu adanya sosialisasi tentang VE kepada para pengguna jasa dan


dilanjutkan dengan pelatihan dan/atau sertifikasi tentang VE dengan
melakukan kerja sama dan/atau memfasilitasi asosiasi profesi terkait, dalam
hal ini HAVEI

c. Perlu meningkatkan jumlah personil dengan tingkat pendidikan yang


memadai, serta untuk memenuhi komposisi personil di masing-masing
satuan kerja agar dapat melakukan studi VE atas pekerjaan di
lingkungannya. Apabila diperlukan dapat bekerja sama dengan pihak lain
yang berkompeten dalam studi VE.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


192

d. Penerapan VE dilaksanakan pada paket pekerjaan/proyek yang mengalami


indikasi in-efisiensi biaya dalam pelaksanaanya.

e. Bila diperlukan, dalam organisasi Departemen PU dapat dibentuk suatu unit


kerja tertentu yang khusus menangani adanya penerapan VE, dimana
tugasnya adalah melaksanakan VE terhadap proyek-proyek dengan kriteria
yang dapat dilakukan studi VE. Pelaksanaan penerapan VE akan lebih baik
apabila dilakukan pada tahap awal suatu proyek, sehingga efisiensi yang
akan diperoleh tidak ada pihak lain yang akan dirugikan karena
pekerjaannya dilakukan VE.

Selain itu disarankan pula perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk
mengetahui faktor-faktor lain yang dapat menerangkan penerapan VE untuk
meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran.

Universitas Indonesia

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


DAFTAR REFERENSI

______________. (1988). Value Engineering Incentive Clause Firm Fixed Price,


http://www.boeing.com/companyoffices/doingbiz/tc0692/m517a.gif.
______________. (1988). Value Concept, http://www.valueengineering.com/
______________. (1988). Value Engineering Incentive Clause Firm Fixed Price,
http://www.boeing.com/companyoffices/doingbiz/tc0692/m517a.gif
______________. (1998). Construction Value Engineering, Value Engineering Task Force
AASHTO Guide Specification,
http://www.wsdot.wa.gov/eesc/design/aashtoVE/Constve.htm
______________. (1999). Undang-Undang Republik Indonesia No. 18/1999 Tentang Jasa
Konstruksi, Jakarta, penjelasan umum.
______________. (2000). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 28/2000 Tentang
Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, Jakarta.
______________. (2000). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 29/2000 Tentang
Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, Jakarta, pasal 26.
______________. (2000). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 30/2000 Tentang
Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi, Jakarta.
______________. (2002). Keputusan Menteri Kimpraswil No. 310/KPTS/M/2002 Tentang
Pedoman Pemeriksaan Menyeluruh, Khusus, dan Keteknikan, Jakarta.
______________. (2002). Keputusan Menteri Kimpraswil No. 332/KPTS/M/2002 Tentang
Pedoman Teknis Pembangunan Gedung Negara, Jakarta.
______________. (2003). Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 80/2003 Tentang
Pengadaan Barang dan Jasa Instansi Pemerintah, Jakarta, Lampiran I Bab
I.C.3.a.9)
______________. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No. 17/2003 Tentang
Keuangan Negara, Jakarta, pasal 3 ayat (1).
______________. (2004). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21/2004
Tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian/Lembaga, Jakarta.
______________. (2004). Undang-Undang Republik Indonesia No. 1/2004 Tentang
Perbendaharaan Negara, Jakarta, penjelasan umum, pasal 4 ayat (2).
______________. (2004). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20/2004 Tentang
Rencana Kerja Pemerintah, Jakarta.
______________. (2004). Undang-Undang Republik Indonesia No. 15/2004 Tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, BP Panca
Usaha, Jakarta.
______________. (2005). Peraturan Menteri PU Nomor 286/PRT/M/2005 Tentang
Struktur Organisasi dan Tata Kerja Departemen PU, Jakarta, pasal 5, 608

xviii
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
______________. (2005). Peraturan Menteri PU Nomor 603/PRT/M/2005 Tentang
Pedoman Umum Sistem Pengendalian Manajemen (SISDALMEN) Pembangunan
Prasarana Bidang Pekerjaan Umum di Lingkungan Departemen Pekerjaan
Umum, Inspektorat Jenderal Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, pasal 4.
______________. (2007). Laporan Akhir Kajian Aplikasi Value Engineering dan
Sertifikasi Internasional Keahlian Value Engineering (Paket-11), PT Indulexco
Consulting Group, Jakarta, hal.1-1, 3-1, 3-6, 3-7, 3-8, 3-9, 4-14, 4-20, 4-22, 4-23,
5-17, 5-18.
______________. (2007). Laporan Realisasi Hasil Pemeriksaan Itjen Dep PU sampai
dengan Triwulan III Tahun 2007, Surat No. UM.0111-Ij/06 Tanggal 19 Desember
2007, Inspektorat Jenderal Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
______________. (2007). Laporan Realisasi Hasil Pemeriksaan Itjen Dep PU sampai
dengan Triwulan IV Tahun 2007, Surat No. UM.0111-Ij/598 Tanggal 19 Maret
2008, Inspektorat Jenderal Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
______________. (2007). Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan-RI Nomor 01 Tahun
2007 Tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN), BPK-RI, Jakarta,
hal 12, 60, 61
______________. (2007). Peraturan Menteri PU No. 45/PRT/M/2007 Tentang Pedoman
Teknis Pembangunan Gedung Negara, Jakarta, hal.67, 68, 74.
______________. (2007). Peraturan Menteri PU Nomor 14/PRT/M/2007 Tentang
Pedoman Umum Pemeriksaan dalam Rangka Pengawasan Fungsional di
Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, Inspektorat Jenderal Departemen
Pekerjaan Umum, Jakarta.
______________. (2007). Review Rencana Strategis Departemen Pekerjaan Umum 2005-
2009, Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, hal. 16, 41-45
______________. (2008). Delphi Method, http://www.iit.edu/~it/delphi.html, diakses 18
Mei 2008
______________. (2008). Kompas 16 Februari 2008, Departemen Gemuk Disorot,
Kompas, Jakarta, hal. 3.
______________. (2008). Peraturan Menteri PU Nomor 06/PRT/M/2008 Tentang
Pedoman Pengawasan Penyelenggaraan dan Pelaksanaan Pemeriksaan
Konstruksi di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, Inspektorat Jenderal
Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
______________. (2008). Value Concept, www.valueengineering.com.
______________. (2008). Value Engineering Guide Module I Workshop, Society of
American Value Engineers (SAVE) International.
______________. (2008). Workbook for Value Engineering - Module I Workshop, Society
of American Value Engineers (SAVE) International.
Acharya, Prakash, Charles Pfrommer, & Charles Zirbel. (1995). Think Value Engineering,
Journal of Management in Engineering, November/December 1995, hal.14.
Ahda, Sukra Arnaldi. (2008). Aplikasi Value Engineering pada Pengembangan Bertahap
Sebuah Rumah Tinggal, www.fab.utm.my, hal.4.

xix
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Al Khalil, Mohammed I. (2002). Selecting the Appropriate Project Delivery Method Using
AHP International Journal of Project Management 20 (2002) 469-474, ,
www.elsevier.com/locate/ijproman.
Aly, Moh Anas. (1988). Penerapan Value Engineering di Bidang Jalan, Makalah Seminar
Nasional Peranan VE dalam Pengelolaan Proyek Pembangunan di Indonesia
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Al-Yousefi, Abulaziz S. & Ali Al-Khuwaiter & Saleh Al-Oshaish & Emad Shublaq.
(1999). Value Engineering in Saudi Arabia Overview & Applications in Public
and Private Sectors, SAVE.
Asiyanto. (2005). Construction Project Cost Management, Pradnya Paramita, Jakarta,
hal.54-55.
Assaf, Sadi & Osama A. Jannadi & Ahmed Al-Tamimi. (2000). Computerized System for
Application of Value Engineering Methodology, Journal of Computing in Civil
Engineering, Volume 14, No. 3, July 2000.
Azwar, Saifuddin. (2006). Reliabilitas dan Validitas, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
hal.4, 5.
Barile, Suzy. (2005).Value Engineering Proves Its Worth with Savings, Charlotte Business
Journal, March 14, 2005 http://charlotte.bizjournals.com/charlotte/stories.
Barrie, Donald S. (1995). Manajemen Konstruksi Profesional, Erlangga, Jakarta, hal. 291,
297.
Basha, Ismail M. & Ahmed A. Gab-Allah. (1991). Value Engineering in Egyptian Bridge
Construction, Journal of Construction Engineering and Management Volume 117,
No. 3, September 1991, ASCE, USA.
Bedian, Maral Papazian. (2002). Value Engineering and Its Rewards, Leadership and
Management in Engineering, New York.
Berawi, M.A. & Roy Woodhead. (2005a). How-Why Logic Paths and Intentionality, Value
World Volume 28 Number 2 Fall 2005, pp. 12-15.
Berawi, M.A. & Roy Woodhead. (2005b). The If-Then Modelling Relationship of Causal
Function and Their Conditioning Effect on Intentionality, Value World Volume 28
Number 2 Fall 2005, pp. 16-20.
Berawi, M.A. (2006). Distinguishing Concept Types in Function Models during the Act of
Innovation, Unpublished PhD Thesis, Oxford Brookes University.
Berawi, M.A. (2009). Establishing a Reliable Method of Distinguishing Functions and
Process, Value World Volume 32 Number 1 Spring 2009, hal.13-15.
Bharat, R. (1994). Value Engineering A New Concept in Reducing Cost of Burn Care,
Dept of Burns and Plastic Survey Indian Journal of Plastic Surgery.
Boyd, Daniel W.M. (2008). Value Engineering and Project Risk, www.value-
engineering.com/weblinks.htm.
Bungin, Burhan. (2008). Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan
Kebijakan Publik serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya, Penerbit Kencana, Jakarta,
hal.36, 168.

xx
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Caldwell, Jack. (2006). Technology Review : Value Engineering,
http://www.technology.infomine.com
Chandra, S. (1987). The Application of Value Engineering and Analysis in Design and
Construction Majalah Jalan & Transportasi, 042, Jakarta.
Chandra, S. (1988). Aplikasi Value Engineering & Analysis pada Perencanaan dan
Pelaksanaan untuk Mencapai Program Efisiensi, Jakarta.
Chandra, S. (1988). Aplikasi VE sebagai Alat untuk Mencapai Efisiensi, Pemanfaatan
Value Engineering dalam Teknik Sipil, HMS-ITB, Bandung
Chandra, Yohanes John. (2006). Penerapan Value Engineering pada Proyek Konstruksi,
Universitas Kristen Petra Surabaya, Surabaya.
Chuksin, Peter, et.al. (2008). Using Value-Engineering Analysis + Triz Method for
Improving the Stripping Grain-Harvesting Machine, http://www.trizminsk.org.
DellIsola, Alphonse J. (1982). Value Engineering in the Construction Industry, Van
Nostrand Reinhold Company, New York, hal.2, 7.
Djati, Indra. (1988). Ketidakpastian dan Kriteria Resiko dalam Rekayasa Nilai
(Uncertainty and Risk Criteria in Value Engineering), Pemanfaatan Value
Engineering dalam Teknik Sipil, HMS-ITB, Bandung
FIDIC. (1999). Conditions of Contract for Construction, for Building and Engineering
Works Designed by the Employer, FIDIC, Switzerland, clause 13.2.
Hays, R. Terry. (2006). Value Engineering on Design-Build Transportation Projects
Journal Achieving Value Winter 2006, www.value-eng.org
HMS-ITB, Tim. (1988). Suatu Tinjauan terhadap Penerapan Value Engineering di
Indonesia Pemanfaatan Value Engineering dalam Teknik Sipil, , HMS-ITB,
Bandung.
Hudson, Marshall. (2008). Value Engineering Gives Ft. Meade Better Barracks,
http://www.hq.usace.army.mil/cepa/pubs/update.htm.
Jergeas, George, et all. (1997). Value Engineering During the Project Execution Phase
Journal of AACE International Transaction VE&C.01, Canada.
Johan, Johny, dan Lillyana Dewi. (1998). Analisis Penerapan Value Engineering pada
Proses Perencanaan/Desain Sub Struktur Bangunan Apartemen di Jakarta, Jurnal
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara, No. 1 Tahun ke IV-
Maret/1998, Universitas Tarumanegara, Jakarta.
Kaden, Richard A. (1993). Use Value Engineering Concepts for Spaceport Launching
Journal of Aerospace Engineering, Volume 6, No. 2, April 1993,ASCE, USA
Kamaruzzaman, HM & Suwachju Djalil, Sistem Pengendalian Manajemen II, Pusdiklat
BPK-RI, 2000, hal 16
Karunasena, Gayani, Srinath Perera, & Lalith de Silva. (2008). A Decision Support Model
for Best Value IT Procurement for Construction Organizations, Bear Conference
in Srilanka, Srilanka.
Kelly, John & Steven Male. (1994). Value Management in Sedign and Construction, The
Economic Management of Project, E & FN Spon, UK.

xxi
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Kelly, John R., & Steven Male. (2000). The Application of Value Management to the UK
Public Sector Construction Supply Chin, SAVE.
Kirana, Andi. (1991). Dampak Penerapan Value Engineering pada Desain Bangunan
(Kasus : Gedung Pusat Perbelanjaan di Jakarta), Institut Teknologi Bandung,
Bandung.
Koga, John E. (2000). Does Value Management Have a Place in Project Management?,
SAVE
Kuprenas, John A & Elhami B. Nasr. (2007). Cost Performance Comparison of Two
Public Sector Project Procurement Techniques Journal of Management in
Engineering Volume 23, No. 3, July 2007, ASCE, USA.
Kurniawan, V. Untoro. (2009). Penerapan Value Engineering pada Penyelenggaraan
Infrastruktur di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, Jurnal Auditor
Volume 2/No.3/Mei 2009, Inspektorat Jenderal Departemen PU, Jakarta, hal.13-
26.
Laonaha, Dicky, Rapat Kerja Terbatas Presiden dan Wakil Presiden di Departemen
Pekerjaan Umum, Buletin Pengawasan No. 67 Tahun 2008, hal 8
Latief, Yusuf. (2002). Optimasi Biaya Struktur Pelat Lantai, dengan Metode Value
Engineering, Universitas Indonesia, Jakarta.
Latief, Yusuf. (2008). Value Engineering, Materi Kuliah Dasar Manajemen Konstruksi,
PPSBIT Universitas Indonesia, Depok, hal.2, 4-6, 9
Lembaga Teknologi FT UI, dan HAMKI. (1986). Paket 40 Jam Belajar Value
Engineering, Lembaga Teknologi FT UI, Jakarta.
Lin, Gongbo, dan Qiping Shen. (2007). Measuring the Performance of Value Management
Studies in Construction : Critical Review Journal of Management in Engineering
Volume 23, No. 1, January 2007, ASCE, USA.
Lund, Jay R. (1992). Benefit-Cost Ratios : Failures and Alternatives, Journal of Water
Resources Planning and Management, Volume 118, No. 1, January/February
1992, ASCE, USA.
Lurie, Paul M. (1988). Preserving Value Through Succession Planning.
Macedo, Manuel C., & Paul V. Dobrow, & Joseph J. ORourke. (1978). Value
Management for Construction, John Wiley & Sons, New York.
Maffei, Pier Luigi. (1999). Value Management in Buildings Design, SAVE.
Mahendra, Reza. (2006). Studi Value Engineering dengan Metode Initial Cost dalam
Rangka Usaha Penghematan Biaya Proyek Konstruksi, Universitas Indonesia,
Jakarta.
Makarim, Chaidir Anwar. (2007). Materi Pelatihan Aplikasi Value Engineering dan
Sertifikasi Internasional Keahlian Value Engineering, BPKSDM, Departemen
PU, Jakarta, hal.1-1, 4-3.
Manan, Agus Abdul. (1987). Value Engineering, Majalah Jalan & Transportasi, 052,
Jakarta.

xxii
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Marimin. (2008). Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk, Jakarta,
hal.24-28.
Marzuki, Puti Farida. (2007). Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya dalam Industri
Konstruksi, Konstruksi : Industri, Pengelolaan, dan Rekayasa, Penerbit ITB,
Bandung.
McClintock, Scot. (1999). Focusing the Program, Projects, and Teams Part C: Refining
and Controlling Project and Workshop Direction with FAST, SAVE.
McCuish, James D. (2000). Joys and Challenges of an Internal Value Engineering
Facilitator, SAVE.
Meredith, Jack R. & Samuel J. Mantel. (1995). Project Management, A Managerial
Approach, John Wiley & Sons, Inc., New York.
Miles, Lawrence D. (1972). Techniques of Value Analysis ang Engineering, McGraw-Hill,
Inc., New York, hal.3.
MK Direktorat, Tim. (1997). Peranan Analisa Fungsi pada Enginiring Nilai, Direktorat
MK, PT Wiratman & Associates, Jakarta.
Mochtar, Khrisna. (2003). Pricing Strategy in Indonesian Construction Industry,
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/, Surabaya.
Moris, Donald L. (1998). Value Engineering Arrowrock Dam Outlet Works, SAVE.
Muhidin, Sambas Ali, & Maman Abdurahman. (2007). Analisis Korelasi, Regresi, dan
Jalur dalam Penelitian, Pustaka Setia, Bandung.
Nurgiyantoro, Burhan, Gunawan, dan Marzuki. (2004). Statistik Terapan untuk Penelitian
Ilmu-Ilmu Sosial, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
OBrien, James J. (1976). Value Analysis in Design and Construction, McGraw-Hill Book
Company, New York.
Omigbodun, Akintola. (2001). Value Engineering and Optimal Building Project, Journal
of Architectural Engineering, Volume 7, No. 2, June 2001, ASCE, USA.
Paley, Alfred I. (1998). Value Engineering : If it so Good, Why Does it Require a Law,
SAVE
Palmer, Angela & John Kelly & Steven Male. (1996). Holistic Appraisal of Value
Engineering in Construction in United States Journal of Construction Engineering
and Management Volume 122, No. 4, December 1996, , ASCE, USA
Parker, Donald E. (1998). Value Engineering Theory, The Lawrence D. Miles Value
Fondation, Washington, D.C.
Priyatno, Dwi. (2008). Mandiri Belajar SPSS untuk Analisis Data dan Uji Statistik,
Penerbit Mediakom, Yogyakarta.
Prove. (2003). Program for Research and Optimum Value Engineering, Summary Report,
The National Association of Home Builders, Washington DC.
Pylkas, Laird, et all. (2002). Smart Value Engineering, Journal of AACE International
Transaction CSC 16, USA.

xxiii
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Raj, Mustansir Hussain. (2002). VE Is Not a Group Cost Cutting, Journal of AACE
International Transaction CSC 17.
Ramiadji, Djoko. (1986). Penerapan Effessiensi Nilai Teknis (Value Engineering) sebagai
Suatu Usaha Effesiensi Dana Pembangunan, Majalah Jalan & Transportasi, 034,
Jakarta.
Riduwan. (2002). Variabel-Variabel Penelitian, Penerbit PT Alfabeta, Bandung.
Rochmanhadi. (1992). Teknik Penilaian Disain (Value Engineering), Yayasan Gema
Aproteknika, Semarang, hal.5, 7, 9, 10, 13
Russell, Jeffrey S., et.al. (1994). Constructability Related to TQM, Value Engineering, and
Cost/Benefit, Journal of Performance of Constructed Engineering and
Management Volume 8 No. 1, February 1994, ASCE, USA.
Sabrang, Hario. (1996). Ekonomi Perancangan Proyek Konstruksi dengan Teknik Analisis
Enjiniring Nilai (Value Engineering), Universitas Indonesia, Jakarta, hal.3.
Snchez, Mnica, et.al. (2005). Multiple-Criteria Evaluation for Value Management in
Civil Engineering, Journal of Management in Engineering, Volume 21, No. 3,
July 1, 2005, ASCE, USA.
Santoso, Indriani. (2003). Analisa Overruns Biaya pada Beberapa Tipe Proyek Konstruksi,
http://puslit.petra.ac.id/journals/civil/, Surabaya.
Santoso, Singgih. (2000). SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional, Penerbit PT
Elex Media Komputindo, Jakarta, hal.217, 223.
Shen, Qiping & Guiwen Liu. (2003). Critical Success Factors for Value Management
Studies in Construction, Journal of Construction Engineering and Management
Volume 129, No. 5, October 1, 2003, ASCE, USA.
Short, C. Alan, et.al. (2007). Impacts of Value Engineering on Five Capital Arts Projects,
http://www.tandf.co.uk/journals, hal.289.
Sidharta, Agus. (1988). Penerapan VE pada Tahap Pelaksanaan Pekerjaan Jalan,
Menggunakan Metode Pengukuran Lendutan, Majalah Konstruksi, September
1988, Jakarta.
Snodgrass, Thomas J. & Muthiah Kasi. (1986). Function Analysis, The Stepping Stones to
Good Value, University of Wisconsin, USA.
Soebekti. (1988). Pemanfaatan Value Engineering dalam Teknik Sipil, Value Engineering,
HMS-ITB, Bandung
Soedibyo. (2003). Teknik Bendungan, Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta.
Soedjito, Poegoeh. (2003). Kecenderungan Penerapan Value Engineering pada
Pembangunan Gedung Bertingkat Tinggi, Jurnal Teknik Sipil Volume 4 No, 2,
Desember 2003, Jakarta.
Soeharto, Imam. (1995). Manajemen Proyek : dari Konseptual Sampai Operasional,
Penerbit Erlangga, Bandung, hal.313-315, 321
Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kuantitatif, Penerbit Alfabeta, Bandung.

xxiv
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Penerbit Alfabeta,
Bandung, hal.83.
Sulaiman, Wahid. (2004). Analisis Regresi Menggunakan SPSS, Penerbit Andi Offset,
Yogyakarta.
Supranto, J. (1992). Teknik Sampling untuk Survei dan Eksperimen, Penerbit Rineka Cipta,
Jakarta, hal.7, 52.
Supranto, J. (2003). Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran, Penerbit Rineka Cipta,
Jakarta.
Supranto, J. (2004). Analisis Multivariat Arti dan Interpretasi, Penerbit Rineka Cipta,
Jakarta.
Suryabrata, Sumadi. (2006). Metodologi Penelitian, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta,
hal.75.
Suyanto, Adhi. (2007). Value Engineering, Jakarta, hal.1, 5-7.
Tambunan, Harry S. (2002). Pengaruh Penerapan Metode Value Engineering oleh Pihak
Kontraktor Terhadap Kinerja Biaya Proyek Konstruksi Bangunan Industri di
Wilayah Jabotabek, Universitas Indonesia, Jakarta.
Taylor, Keith. (2000). Using Life Cycle Costing Techniques to Improve the Value Analysis
Process, SAVE.
Tumilar, Steffie. (1992). Berbagai Dampak Penerapan Manajamen Konstruksi Dalam
Daur Hidup Proyek Konstruksi Bangunan Gedung, IMS FT Universitas
Sriwijaya, Palembang.
Venkataraman, Ray R. & Jeffrey K. Pinto. (2008). Cost and Value Management in
Projects, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey.
Woodhead, Roy & Andrew Garnett. (2006). Value Engineering and Theories of the Firm,
SAVE International, Georgia.
Woodhead, Roy & Berawi, M.A. (2008). An Alternative Theory to Idea Generation,
International Journal of Management Practice, Volume 3, No.1, hal.1-19.
Woodhead, Roy & James McCuish. (2002). Achieving Results, How to Create Value,
Thomas Telford Ltd., London.
Wu, Benjamin C. (2000). Risk Management Enhances the Effectiveness of Target Costing,
SAVE.
Yin, Robert K. (2002). Studi Kasus Desain dan Metode, Penerbit PT Rajagrafindo Persada,
Jakarta, hal.7.
Yuslim, Silia. (2003). Program Rekayasa Nilai Konstruksi Bagi Efisiensi Biaya Proyek,
Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara, No. 1 Tahun ke
IX-Maret/2003, Universitas Tarumanegara, Jakarta, hal.101-120.

xxv
Universitas Indonesia
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 1 : Kuesioner Validasi
Variabel oleh Pakar

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM


PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR
BIDANG KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

KUESIONER PENELITIAN TESIS


(VALIDASI PAKAR)

V. UNTORO KURNIAWAN
NPM 0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK
2008

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran 1 (lanjutan)

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI
2008

KUESIONER
SURVEI PENERAPAN VALUE ENGINEERING
DALAM PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR BIDANG KE-PU-AN DI
LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN
ANGGARAN
ABSTRAK

Departemen Pekerjaan Umum dari tahun ke tahun selalu masuk dalam kategori lima besar
instansi yang memperoleh anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) terbesar.
Namun demikian penyimpangan yang bersifat ketidakefisienan, juga mengalami
peningkatan dari tahun 2005 hingga 2007. Dalam pengawasan fungsional yang
dilaksanakan Inspektorat Jenderal Departemen PU apabila ditemukan adanya indikasi
inefisiensi (pemborosan) akibat ketidakwajaran harga konstruksi, analisis pemilihan
tipe/jenis konstruksi, perhitungan konstruksi, maupun metode konstruksi, maka akan
direkomendasikan kepada Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa untuk melakukan rekayasa
nilai (value engineering), dengan demikian diharapkan kesiapan, baik Pengguna Jasa
maupun Penyedia Jasa.

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang memengaruhi


tingkat pemahaman dan kesiapan Pengguna Jasa dalam penerapan VE tersebut dan
menganalisis tingkat pengaruh faktor-faktor dominan tersebut terhadap pencapaian
efektivitas penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-PU-an di
lingkungan Departemen PU.

Identifikasi faktor tersebut diperoleh berdasarkan hasil survei kepada sejumlah Pengguna
Jasa di lingkungan Departemen PU sebagai responden dengan menggunakan instrumen
penelitian kuesioner dan dilakukan dengan metode analisis pendekatan analytical hierarchy
process (AHP) dan teknik delphi. Selanjutnya hasil pemeringkatan (ranking) faktor-faktor
tersebut dilakukan analisis statistik untuk mengetahui tingkat pengaruh faktor-faktor
terhadap efektivitas penggunaan anggaran.

Dengan demikian penelitian ini dimaksudkan agar dapat terlaksananya penerapan program
VE dalam meminimalisir terjadinya in-efisiensi untuk memperoleh hasil penyelenggaraan
infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum yang
lebih efisien dan efektif.

2
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 1 (lanjutan)

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah:


a. Mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pemahaman dan
kesiapan pihak Pengguna Jasa dalam pelaksanaan value engineering,
b. Melakukan kajian analisis mengenai pengaruh penerapan metode value engineering
dapat meningkatkan pencapaian efisiensi penggunaan anggaran dalam
penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum,.

KERAHASIAN INFORMASI

Kerahasian isian kuesioner ini akan dijamin dan hanya akan digunakan untuk keperluan
penelitian saja.

INFORMASI DAN HASIL SURVEI

Hasil penelitian ini dapat kami kirimkan ke alamat anda jika dikehendaki sebagai
informasi tambahan dalam upaya peningkatan efektivitas penggunaan anggaran dalam
penyelenggaraan infrastruktur.
Apabila Bapak/Ibu memiliki pertanyaan mengenai survei ini, dapat menghubungi:
1. Peneliti : V. Untoro Kurniawan
HP: 08174832419 atau e-mail v_untoro@yahoo.com
2. Pembimbing : DR. Ir. Yusuf Latief, MT
HP: 0812809919 atau e-mail latief73@eng.ui.ac.id
Ir. Bakuh Nindyo Suripno, Dipl. HE
HP: 0811265764
Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner
penelitian ini. Semua informasi yang Bapak/Ibu berikan dalam survei ini dijamin
kerahasiaannya dan hanya akan dipakai untuk keperluan penelitian saja

Hormat saya,

V. Untoro Kurniawan

3
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 1 (lanjutan)

PETUNJUK :
1. Jawaban merupakan persepsi Bapak/Ibu terhadap setuju atau tidaknya terhadap
pernyataan faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan dan tingkat pemahaman
Pengguna Jasa dalam penerapan value engineering di lingkungan Departemen PU.
2. Mengisi kolom kosong jika ada tambahan faktor yang memengaruhi kesiapan dan
tingkat pemahaman Pengguna Jasa dalam penerapan value engineering di lingkungan
Departemen PU.
3. Mengisi kolom keterangan jika ada tambahan penjelasan terhadap pernyataan faktor
yang memengaruhi kesiapan dan tingkat pemahaman Pengguna Jasa dalam
penerapan value engineering di lingkungan Departemen PU.
4. Berilah tanda pada kotak pilihan yang sesuai, pada kolom S apabila Bapak/Ibu
setuju dengan variabel atau pada kolom TS apabila Bapak/Ibu tidak setuju dengan
variabel tersebut
5. Bila Bapak/Ibu tidak sesuai dengan kalimat yang dipertanyakan mohon untuk
penjelasan perbaikannya.
6. Jika Bapak/Ibu tidak memahami maksud pernyataan mohon melingkari nomor
pernyataan

BAGIAN I DATA RESPONDEN


1. Nama Responden :
2. Jabatan Sekarang :
3. Instansi/Perusahaan :
4. Jabatan terakhir di Proyek :
5. Pengalaman Kerja : tahun
6. Profesi : akademisi / birokrasi / praktisi konsultan / praktisi
kontraktor / lainnya . .. *)
7. Spesialisasi : keairan / jalan dan jembatan / keciptakaryaan /
penataan ruang / lainnya . *)
8. Pendidikan Terakhir : SLTA / D3 / S1 / S2 / S3 *)
9. No. Telepon :
10. E-mail :

4
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 1 (lanjutan)

BAGIAN II KUESIONER PENELITIAN


Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesiapan dan tingkat pemahaman pihak Pengguna Jasa dalam penerapan value engineering
dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-PU-an di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum?

No. Variabel/Indikator/Sub Indikator S TS KOMENTAR/TANGGAPAN/PENJELASAN/USULAN PERBAIKAN


I Penyelenggaraan Infrastruktur
1. Perencanaan Kegiatan
Berdasarkan Ketersediaan
Anggaran
2. Frekuensi Revisi DIPA/dokumen
anggaran
3. Pemahaman thd Perencanaan
Konstruksi (Perencanaan Umum
dan Perencanaan Teknik)
4. Penyusunan EE yang didahului
dng penyusunan metode
pelaksanaan, metode kerja,
analisa teknik, dan koefisien harga
satuan pekerjaan
5. Pembandingan Nilai HPS thd EE

6. Nilai Penawaran Terendah yg


responsif dan terevaluasi
7. Penyusunan Dokumen Kontrak,
terutama pada cara pengukuran
untuk pembayaran
8. Pembandingan Nilai Kontrak (RAB)

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran 1 (lanjutan)
terhadap HPS
9. Addendum/Amandemen
Kontrak/Pekerjaan Tambah
Kurang
10. Pengawasan Melekat oleh Atasan

11. Pengawasan Melekat oleh


Direktorat Jenderal/Direktorat
Pembina Teknis
12. Pengawasan Fungsional oleh
Inspektorat Jenderal
13. Pengawasan Masyarakat

14. Organisasi Proyek

15. Alat (tool) Pengendalian

16. Standard Operating Procedures


(SOP)
17.

18.

19.

6
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
20.
Lampiran 1 (lanjutan)

II Efektivitas Penggunaan Anggaran


21. Penggunaan biaya melebihi
anggaran yang tersedia

22. Pengadaan sumber daya tidak


berdasarkan rencana kebutuhan
periodik dalam mencapai tujuan
yang ditentukan,
23. Harga pembelian dalam rangka
pengadaan sumber daya
melebihi harga standar atau
harga pasar
24. Penggunaan sumber daya dalam
dalam rangka melaksanakan
kegiatan melebihi kebutuhan
yang nyata
25. Hasil pekerjaan (mutu, waktu, dan
biaya) yang dicapai ternyata
lebih rendah daripada target
yang telah
ditetapkan/direncanakan
26. Peningkatan hasil yang dicapai
lebih rendah dibandingkan
dengan peningkatan sumber
daya yang dipergunakan
27. Pekerjaan survei, investigasi, dan
perencanaan kurang matang
dan/atau tidak dilakukan

7
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
sehingga terjadi over design
28. Hasil kegiatan tidak atau belum
tercapai sesuai dengan rencana
Lampiran 1 (lanjutan)

29. Hasil kegiatan dipergunakan tidak


sesuai dengan tujuan atau sama
sekali tidak dipergunakan dalam
rangka mencapai tujuan yang
ditetapkan
30. Pelaksanaan pekerjaan
menyimpang dari jadual yang
telah ditetapkan, sehingga
pemanfaatan hasilnya
mengalami
hambatan/keterlambatan
31. Pekerjaan persiapan dan
perumusan proyek (survei dan
desain) tidak mantap, sehingga
mengakibatkan hambatan dalam
pemanfaatan hasil
32.

33.

34.
III Penerapan Value Engineering
35. Kualifikasi (Tingkat Pendidikan dan

8
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Pengalaman) Personil di
Pengguna Jasa
36. Kemampuan Menyusun Estimasi
Biaya
37. Pengetahuan mengenai Harga
Standar/Pasar
38. Pengetahuan mengenai Metode
Kerja (construction method dan Lampiran 1 (lanjutan)
construction works)
39. Komposisi personil Pengguna Jasa
ditinjau dari Disiplin Ilmu
40. Pelatihan dan sertifikasi VE

41. Manajemen VE mudah dipahami

42. VE dpt Mengoptimalkan Kegiatan


yang telah
Diprogramkan/Direncanakan
43. Penerapan VE terbatas hanya
pada Proyek/Pekerjaan yang
Besar
44. Penggunaan Teknik VE

45. Jenis Proyek dan Tingkat Risiko


menurut UU 18/1999 dan PP
29/2000
46. Biaya Proyek

9
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
47. Gambar Proyek

48. Fungsi Bangunan dan Bagiannya

49. Spesifikasi Material Konstruksi


Lampiran 1 (lanjutan)

50. Kesesuaian jenis, jumlah, dan


kapasitas Peralatan yang
digunakan
51. Permasalahan Proyek

52. Perbandingan antara Desain Awal


dng Desain Alternatif ditinjau dari
Sudut Pandang Teknik
53. Perbandingan antara Desain Awal
dng Desain Alternatif ditinjau dari
Sudut Pandang Fungsi (Primer,
Sekunder, dst)
54. Perbandingan antara Desain Awal
dng Desain Alternatif ditinjau dari
Sudut Pandang Biaya
55. Meneliti Item yang Berbiaya
Tinggi/Dominan
56. Gagasan Alternatif Metode
Konstruksi (construction method

10
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
dan works method) untuk
Menghemat Biaya
57. Gagasan Inovatif yang Dapat
Membantu Menghasilkan Biaya
yg Lebih Efisien
58. Memilih Alternatif yang Paling
Memungkinkan dalam
Penghematan Biaya
59. Menyusun Urutan Prioritas
Alternatif sesuai dengan
Penghematan yang Dihasilkan
60. Memberikan Laporan dan
Rekomendasi thd Alternatif yang Lampiran 1 (lanjutan)
Dipilih
61. Kerja Sama dengan Pihak Terkait

62. Kerja Sama dan Interaksi Tim VE

63. Dukungan Keuangan

64. Dukungan Logiastik

65. Regulasi dan Legislasi

66. Insentif kepada Kontraktor

67. Insentif kepada Konsultan VE

11
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
68.

69.

.., .. 2008
Validator,

12
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 1 (lanjutan)
LEMBAR TAMBAHAN

No. KOMENTAR/TANGGAPAN/PENJELASAN/USULAN PERBAIKAN

.., .. 2008
Validator,

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran 2 : Tabel Penyusunan
Instrumen Penelitian
TABEL PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN

JUDUL
VARIABEL INDIKATOR SUB INDIKATOR PERTANYAAN
PENELITIAN
I. Penyelengga 1.1. Penganggaran 1. Perencanaan Kegiatan Berdasarkan Pelaksanaan kegiatan pekerjaan fisik di lapangan telah direncanakan
raan Ketersediaan Anggaran berdasarkan ketersediaan anggaran, tanpa mempertimbangkan
Penerapan Value Engineering dalam Penyelenggaraan Infrastruktur Bidang Ke-PU-an di

kinerja outcome yang telah dicapai (anggaran yang tersedia harus


lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dalam Usaha Meningkatkan Efisiensi dan

Infrastruktur
dihabiskan)
2. Frekuensi Revisi DIPA/dokumen anggaran Berapa kalikah rata-rata revisi DIPA di lingkungan Bapak/Ibu dalam
satu tahun anggaran
1.2. Perencanaan 3. Pemahaman thd Perencanaan Konstruksi Apakah pekerjaan fisik konstruksi didahului dengan perencanaan
Teknis teknis yang akurat?
4. Penyusunan EE Pentingkah disusun EE oleh Perencana?

Lampiran 2 : Tabel Penyusunan Instrumen Penelitian


Bagaimana akurasi EE yang disusun oleh Perencana dalam suatu
pekerjaan konstruksi?
1.3. Pemilihan 5. Pembandingan Nilai HPS thd EE Bagaimana prosentase nilai HPS thd EE yang telah disusun
Penyedia Jasa sebelumnya?
6. Nilai Penawaran Terendah yg Responsif Penawar dengan nilai penawaran harga terendah merupakan
pemenang lelang,
Efektivitas

1.4. Pelaksanaan 7. Penyusunan Dokumen Kontrak Dokumen kontrak telah mencantumkan klausul tentang value
Kontrak engineering?
8. Pembandingan Nilai Kontrak (RAB) terhadap Bagaimana prosentase nilai kontrak (RAB) terhadap HPS?
HPS
9. Addendum/Amandemen Kontrak/Pekerjaan Berapa kalikah rata-rata terjadi addendum/amandemen/pekerjaan
Tambah Kurang tambah kurang dalam suatu kontrak?
1.5. Pengendalian/ 10. Pengawasan Melekat oleh Atasan/ Direktorat Seberapa pentingkah pengawasan melekat oleh Atasan/ Direktorat
Pengawasan Jenderal/Direktorat Pembina Teknis Jenderal/Direktorat teknis terkait terhadap pelaksanaan pekerjaan
fisik di lapangan?
11. Pengawasan Fungsional oleh Inspektorat Seberapa pentingkah pengawasan fungsional oleh Inspektorat
Jenderal Jenderal terhadap pelaksanaan fisik di lapangan?
Seberapa sering Inspektorat Jenderal melaksanakan pengawasan
fungsional atas pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan dalam satu
tahun anggaran?

12. Pengaduan Masyarakat Bagaimana kondisi pengaduan masyarakat terhadap pelaksanaan


pekerjaan fisik di lapangan?

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


JUDUL
VARIABEL INDIKATOR SUB INDIKATOR PERTANYAAN
PENELITIAN

II. Penggunaan 2.1. Penggunaan 13. Penggunaan biaya melebihi anggaran yang Apakah penggunaan biaya sesuai dengan anggaran yang tersedia?
Anggaran Sumber Daya tersedia
14. Pengadaan sumber daya tidak berdasarkan Apakah pengadaan barang/jasa sesuai dengan rencana kebutuhan
rencana kebutuhan periodik dalam mencapai dalam mencapai tujuan yang ditentukan?
tujuan yang ditentukan,
15. Harga pembelian dalam rangka pengadaan Apakah harga pembelian dalam pengadaan barang/jasa tidak
sumber daya melebihi harga standar atau melebihi harga standar/harga pasar?
harga pasar
16. Penggunaan sumber daya dalam dalam Apakah penggunaan sumber daya tidak melebihi kebutuhan nyata
rangka melaksanakan kegiatan melebihi
kebutuhan yang nyata
17. Hasil yang dicapai ternyata lebih rendah Bagaimanakah perbandingan tingkat pencapaian hasil terhadap
daripada target yang telah target yang telah ditetapkan?
ditetapkan/direncanakan
18. Peningkatan hasil yang dicapai lebih rendah Bagaimanakah perbandingan peningkatan hasil terhadap
dibandingkan dengan peningkatan sumber peningkatan sumber daya yang dipergunakan?
daya yang dipergunakan
19. Pekerjaan perencanaan, survei, dan Seberapa sering terjadi over design suatu kontrak pelaksanaan
investigasi kurang matang dan/atau tidak pekerjaan fisik?
dilakukan sehingga terjadi over design Terjadinya over design disebabkan karena perencanaan, survei, dan
investigasi (SID) tidak dilakukan dan/atau dilakukan kurang matang.
2.2. Pemanfaatan Hasil 20. Hasil kegiatan tidak atau belum tercapai Bagaimanakah tingkat pencapaian hasil kegiatan terhadap rencana?
sesuai dengan rencana
21. Hasil kegiatan dipergunakan tidak sesuai Bagaimanakah tingkat pemanfaatan hasil terhadap tujuan yang
dengan tujuan atau sama sekali tidak ditetapkan?
dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan
yang ditetapkan
22. Pelaksanaan pekerjaan menyimpang dari Bagaimanakah kondisi prosentase keterlambatan terbesar yang
jadual yang telah ditetapkan, sehingga pernah terjadi di lingkungan Bapak/Ibu?

Lampiran 2 (lanjutan)
pemanfaatan hasilnya mengalami Perencanaan penjadualan pekerjaan tidak akurat sehingga berakibat
hambatan/keterlambatan pada keterlambatan pemanfaatan hasil

23. Pekerjaan persiapan dan perumusan proyek Bagaimanakah tingkat kemantapan pekerjaan persiapan dan
(survei dan desain) tidak mantap, sehingga perumusan proyek (survei dan desain)?
mengakibatkan hambatan dalam
pemanfaatan hasil

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


JUDUL
VARIABEL INDIKATOR SUB INDIKATOR PERTANYAAN
PENELITIAN

III. Penerapan 3.1. Kesiapan 24. Tingkat Pendidikan dan Pengalaman Personil Berapakah jumlah personil dengan tingkat pendidikan terakhir
Value Pengguna Jasa di Pengguna Jasa minimal S1 Teknik?
Engineering Berapakah jumlah personil dengan tingkat pengalaman proyek >10
tahun?
Berapakah jumlah personil dengan kualifikasi di bidang
perencanaan?
25. Kemampuan Menyusun Estimasi Biaya Bagaimanakah tingkat kemampuan personil dalam menyusun
estimasi biaya?
26. Pengetahuan mengenai Harga Standar/Pasar Bagaimanakah tingkat pengetahuan personil mengenai harga
standar/pasar?
27. Pengetahuan mengenai Metode Kerja Bagaimanakah tingkat kemampuan personil dalam menyusun
metode kerja?
28. Komposisi personil Pengguna Jasa ditinjau Bagaimana komposisi personil ditinjau dari sebaran disiplin ilmu?
dari Disiplin Ilmu
3.2. Pemahaman thd 29. Pelatihan dan sertifikasi VE Berapakah jumlah personil yang telah mengikuti pelatihan VE?
VE Berapakah jumlah personil yang telah memiliki sertifikat VE, baik
nasional (HAVE-I maupun SAVE-I)?
30. Manajemen VE dan Penggunaan Teknik VE Bagaimanakah tingkat pemahaman terhadap teknik dan manajemen
mudah dipahami VE?
31. VE dpt Mengoptimalkan Kegiatan yang telah VE dpt Mengoptimalkan Kegiatan yang telah
Diprogramkan/Direncanakan Diprogramkan/Direncanakan
32. Penerapan VE terbatas hanya pada Penerapan VE terbatas hanya pada Proyek/Pekerjaan yang Besar
Proyek/Pekerjaan yang Besar
3.3. Pengumpulan 33. Jenis Proyek Metode VE dapat diterapkan pada semua jenis proyek, baik keairan,
Informasi jalan dan jembatan, maupun keciptakaryaan?
34. Biaya Proyek Pada batasan nilai proyek berapa metode VE dapat diterapkan?
35. Gambar Proyek Metode VE dapat dilaksanakan berdasarkan adanya gambar proyek.

36. Fungsi Bangunan dan Bagiannya Metode VE dilaksanakan dengan melakukan analisis fungsi terhadap

Lampiran 2 (lanjutan)
fungsi bangunan beserta bagian-bagiannya.
37. Spesifikasi Material Konstruksi Seberapa pentingkah informasi mengenai spesifikasi material
konstruksi dalam penerapan VE
38. Permasalahan Proyek Metode VE dapat dilaksanakan dengan mengumpulkan informasi
mengenai permasalahan proyek
3.4. Sumbang Saran 39. Perbandingan antara Desain Awal dng Penerapan VE dilakukan dengan membandingkan desain awal
Desain Alternatif ditinjau dari Sudut Pandang dengan desain alternatif ditinjau dari sudut pandang teknik.
Teknik
40. Perbandingan antara Desain Awal dng Penerapan VE dilakukan dengan membandingkan desain awal

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


JUDUL
VARIABEL INDIKATOR SUB INDIKATOR PERTANYAAN
PENELITIAN

Desain Alternatif ditinjau dari Sudut Pandang dengan desain alternatif ditinjau dari sudut pandang biaya.
Biaya
41. Meneliti Item yang Berbiaya Tinggi/Dominan Penerapan VE dilakukan dengan meneliti item yang berbiaya
tinggi/dominan
3.5. Pemilihan, 42. Gagasan Alternatif Metode Konstruksi untuk Seberapa penting gagasan alternatif metode konstruksi untuk
Evaluasi, dan Menghemat Biaya menghemat biaya?
Pengembangan 43. Gagasan Inovatif yang Dapat Membantu Seberapa penting gagasan inovatif yang dapat membantu
Alternatif Menghasilkan Biaya yg Lebih Efisien menghasilkan biaya yang lebih efisien?
44. Memilih Alternatif yang Paling Memungkinkan Seberapa penting pemilihan atas beberapa alternatif yang paling
dalam Penghematan Biaya memungkinkan dalam penghematan biaya?
45. Menyusun Urutan Prioritas Alternatif sesuai Seberapa penting urutan prioritas alternatif sesuai dengan
dengan Penghematan yang Dihasilkan penghematan yang dihasilkan?
46. Memberikan Laporan dan Rekomendasi thd Seberapa penting laporan dan rekomendasi atas alternatif final yang
Alternatif yang Dipilih dipilih?
3.6. Faktor Pendukung 47. Kerja Sama dengan Pihak Terkait Seberapa penting kerja sama dengan pihak terkait dalam penerapan
Lainnya VE?
48. Kerja Sama dan Interaksi Tim VE Seberapa penting kerja sama dan interaksi Tim VE dalam penerapan
VE?
49. Dukungan Keuangan Seberapa penting dukungan keuangan untuk menerapkan VE?
50. Dukungan Logistik Seberapa penting dukungan logistik untuk menerapkan VE?
51. Regulasi dan Legislasi Seberapa penting regulasi untuk menerapkan VE?
Memadaikah regulasi penerapan VE yang sudah diberlakukan?
Seberapa penting legislasi untuk menerapkan VE?
52. Insentif kepada Kontraktor Kontraktor yang pekerjaannya dilakukan VE harus diberikan insentif
yang memadai.
53. Insentif kepada Konsultan VE Konsultan/pihak yang melakukan VE harus diberikan insentif yang
memadai.

Lampiran 2 (lanjutan)
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran3 : RekapValidasiVariabel
REKAPHASILVALIDASIPAKARATASVARIABELPENELITIAN

J u du l P e n e r a p aVna l u eE n g i n e e r i npga d aP e n y e l e n g g a r aIannf r a s t r u k t uBri d a n gK e - p U -


a n d i L i n g k u n g aDne p a r t e m eP n m u md a l a mU s a h ap e n i n g a k a t a n
n e k e r j a aU
Efektivitas Penggu naan Anggaran
Nama/NPM V. UntoroKurniawan/ 070617265t
Jurusan M a n a j e m e nK o n s t r u k -s D
i e p a r t e m eTne k n i ks i p i l- U n i v e r s i t aI sn d o n e s i a

KODEPAKAR
N o .V a r i a b e l
'1.
1 I 1 0 1. 1 I L 0 1 8
2 1, I 1. 1 1 1 I 1, 0 1 9
3 L 1 1. 1 1. 1 1. I T 1 I 1.1
A
+ L 1 I I 0 t 1. 1 1 1. 1 10
5 I
I 1. 1. 0 1. 0 I T L 1
9
6 1. 1 1. t 0 1. 0 1. t 1, I 9
L 0 1. 1. 0 1. 1
a 1. 1. 1. 1 9
8 L I 1. 1. 0 1. 0 1 1. 1
f 0 8
9 1. I 1. 1. 0 1. 0 1. 1. 1. 1. 9
10 1 0 1. 1. 'J.
T 0 T 1. 1. 8
1.1. 1. 0 1. 0 1. 0 1. 1. 1. 7
1.2 1. 0 T 1. 1. 0 t 1. 1. 1. 9
13 I I 1. L I 0 1. I 1. 1. 10
1.4 1 1 I a
I 1 0 1. 1
a 1. 0 8
15 1. 1. 1 1 1. 1. 1. I 1. 1 10
1.6 1. 1. 1 t I 1 1 1. 10
17 1 2
18 1. 1.
19 I 1.
ZU 0
)'l
1. n 1 1. 0 I I T 0 1. 8
LZ L 1. 1. 1. 0 1. 0 t t L 1. 9
23 1. 0 1 1. U 1 I I 1. 1. t 9
1A
Z+ 0 1 0 0 I 1 I 1. 1. 1. 8
25 1 1. 1. 0 0 0 1. '1.
I I 1. 8
26 1. 1. 1 0 0 0 I T 0 1. I

1 L 1. L 0 1_ 't
zl T I 1 1. 10
28 1. L 1 1 0 0 n 0 1 1. T 7
29 1 t 1. n 0 0 1. +
30 1. 1. 1 0 0 I 0 1. 5
31 1. 1 1 0 I I 1. 8
32 2
33 0
34 0
3s l" 1. 1, 1. 1 1. I t T L 1.1"
36 I a
I 1, I 1. 1, I
I I 1. 1. 1 L1
37 1. 1 1 1. 1. 1 1 t 1. 1. 1 1.1.

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran3 (lanjutan)
KODEPAKAR
N o .V a r i a b e l JUMLAH
1 2 3 4 5 6 8 9 10 1.1.
38 I L 1 T 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1. 1.1.
39 1. 1. I 1. 1 4
a 1. 1. 1 10
40 '1.
T 1_ 1 1. 1 1. I 1 1. 10
A'l
1. 1. 0 4
1. 4
I t 1. 1. 1. 9
42 1. 1 1. 0 1 1. 0 1 1. 1 8
43 1 1 1
l_ 0 0 l_ 0 0 1. 1. 1.
44 1" T 1. U 1 1. 1 1 1. 9
45 1 0 T I 0 0 1. 1. 1, 1
46 I 1. 1. 1. 0 1. 0 1. 1 1 1 9
47 1 1. 1. 1 0 L 1. T L 1. I 10
48 1 '1.
1. a 1 0 1. 1. 1. 1. 1. 10
49 I 1. t I 0 1. 1. 1. L r 1. 10
50 1 1. 1. 1 0 1. 1. I
1. 1. 1. 10
51 T 0 1. I 0 1. 1. l_ 1. 1. T 9
52 4 n 'J.
1. 1
I 0 1. 1. 1. a 1. 10
53 a
a 1. 1. 1 0 1. I 1. 1. 1. 1. 10
54 I I 1. 1 0 T I 1. 1. 1. 1. 10
55 1 1, 1. 1. n 1. 1 1 1. 1 1 10
56 1 1 1. 1. 0 1. a
I 1. 1. 1. I 10
q7
1 1. n 1. 1. 1. T I
9
58 1 0 1. 1. 0 1. 1. T 1. 1. 1. 9
59 1 1. 1 1. 0 1. 1. 1. 1. 1. 1. 10
60 1 1. 1 I 0 1. 1. 1 1. 1. 1. 10
61 I T 1, 1 0 1. 1. 1. 1. 1 1. 10
't
62 1 l_ 1 t 1. T 1 1. 1 1.1.
63 I 1. 1. 1 1. 0 1. 1. 1 a
f 9
64 1 1. 1. 1. 1 0 1. 1. 1. 1. 9
65 I 1. 1 1. 1. 1. 1. 1 10
66 1 1. 1 1 0 1. 1. 1 1. 1. T 10
't-
67 1 1. t 1. 0 1. T 1. 1. 1. 10
68 1 1.
69 0
70 0
Setuju 56 50 60 52 to 51 A1
+l 54 57 58 58
T d kS e t u i u U 10 0 44 5 1.9 3 3 3 2
T d kT a h u 5 0 1 0 4 0 3 0 ? 0
Vari
Jumlah 61 60 o1 o1 60 60 60 6C 60 64 60
J m l V a r iA. w a l 60 60 60 OU 60 60 60 6C 60 OU 60
/ a r i .T a m b a h a r I 0 1 1 0 n 0 0 L 4 0

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran 4 : Kuesioner Uji Coba

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM


PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR
BIDANG KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

KUESIONER PENELITIAN TESIS


(UJI COBA)

V. UNTORO KURNIAWAN
NPM 0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK
2009

1
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI
2009

KUESIONER
SURVEI PENERAPAN VALUE ENGINEERING
DALAM PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR BIDANG KE-PU-AN DI
LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANGGARAN

ABSTRAKSI

Departemen Pekerjaan Umum (PU) dari tahun ke tahun selalu masuk


dalam kategori lima besar instansi yang memperoleh anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN) terbesar. Namun demikian
penyimpangan yang bersifat ketidakefisienan, juga mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor : 06/PRT/M/2008 tanggal 27 Juni


2008 tentang Pedoman Pengawasan Penyelenggaraan dan Pelaksanaan
Pemeriksan Konstruksi, antara lain dinyatakan bahwa apabila dalam
pengawasan fungsional yang dilaksanakan Inspektorat Jenderal
Departemen PU ditemukan adanya indikasi inefisiensi (pemborosan) akibat
ketidakwajaran harga konstruksi, analisis pemilihan tipe/jenis konstruksi,
perhitungan konstruksi, maupun metode konstruksi, maka akan
direkomendasikan kepada Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa untuk
melakukan rekayasa nilai (value engineering), dengan demikian
diharapkan kesiapan, baik Pengguna Jasa maupun Penyedia Jasa.

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang


memengaruhi penerapan VE tersebut dan menganalisis tingkat pengaruh
faktor-faktor dominan tersebut terhadap pencapaian efektivitas
penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-
PU-an di lingkungan Departemen PU. Penelitian dilakukan dengan metode
survei kepada Pengguna Jasa di lingkungan Departemen PU sebagai
responden dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian.

Dengan demikian penelitian ini dimaksudkan agar dapat terlaksananya


penerapan program VE dalam meminimalisir terjadinya in-efisiensi untuk
memperoleh hasil penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum
di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum yang lebih efisien dan efektif.

2
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah:


a. Mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang mempengaruhi
pemahaman dan kesiapan pihak Pengguna Jasa dalam
pelaksanaan value engineering,
b. Melakukan kajian analisis mengenai pengaruh penerapan metode
value engineering dapat meningkatkan pencapaian efisiensi
penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur
bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen Pekerjaan
Umum,.

KERAHASIAAN

Kerahasiaan identitas responden dan jawaban isian kuesioner ini akan


dijamin dan hanya akan digunakan untuk keperluan penelitian saja.

INFORMASI DAN HASIL SURVEI

Hasil penelitian ini dapat kami kirimkan ke alamat anda jika dikehendaki
sebagai informasi tambahan dalam upaya peningkatan efektivitas
penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur.
Apabila Bapak/Ibu memiliki pertanyaan mengenai survei ini, dapat
menghubungi:
1. Peneliti : V. Untoro Kurniawan
HP: 08174832419 atau e-mail
v_untoro@yahoo.com
2. Pembimbing : DR. Ir. YUSUF LATIEF, MT
HP: 0812809919 atau e-mail latief73@eng.ui.ac.id
Ir. BAKUH NINDYO SURIPNO, Dipl. HE
HP: 0811265764

3
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER:
a. Kuesioner terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu:
1) Bagian I Data Responden
Merupakan isian mengenai data dan identitas responden
2) Bagian II Kuesioner A
Merupakan kuesioner untuk mengetahui tingkat
pemahaman dan kesiapan Pengguna Jasa dalam
penerapan value engineering
No. 01 - 12 : Variabel Penyelenggaraan Infrastruktur Bidang Ke-
PU-an
No. 13 - 23 : Variabel Cara Penggunaan Anggaran
No. 24 54 : Variabel Penerapan Value Engineering
3) Bagian III Kuesioner B
Merupakan kuesioner untuk mengetahui tingkat
pencapaian efektivitas penggunaan anggaran yang
diharapkan dalam penerapan value engineering
4) Bagian IV Komentar
Merupakan kolom untuk memberikan kesempatan
responden memberikan komentar/catatan terkait dengan
kuesioner ini
b. Mohon responden mengisi data responden sebagaimana mestinya dan
data ini akan dirahasiakan oleh penulis
c. Mohon membubuhkan tanda silang (X) pada kotak yang sesuai dengan
jawaban Bapak/Ibu terhadap beberapa pertanyaan/pernyataan
sebagaimana tertulis dalam kuesioner, baik pada Bagian II (Kuesioner A)
maupun Bagian III (Kuesioner B).
d. Apabila diperlukan, responden dipersilakan memberikan komentar tertulis
pada kotak nomor pertanyaan/pernyataan yang bersangkutan, atau
pada halaman terakhir kuesioner ini.
e. Contoh :
1. Apakah pekerjaan fisik konstruksi didahului dengan perencanaan
teknis yang akurat?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :
Apabila responden menyatakan SANGAT-SANGAT SETUJUI terhadap
pertanyaan tersebut, maka dipersilakan memberikan tanda silang
pada angka 6 dan apabila diperlukan responden dapat
memberikan komentar singkat terhadap pertanyaan/pernyataan
tersebut

2. Bagaimana persentase nilai kontrak (RAB) terhadap HPS?


1 2 3 4 5 6

<50% 50%-60% 60%-70% 70%-80% 80%-90% 90%-100%

Komentar :
Apabila kondisi yang sering terjadi di lingkungan responden adalah
nilai kontrak (RAB) sebesar 75%, berarti persentase tersebut berada

4
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
pada kisaran 70%-80%, maka dipersilakan memberikan tanda silang
pada angka 4 dan apabila diperlukan responden dapat
memberikan komentar singkat terhadap pertanyaan/pernyataan
tersebut

5
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
BAGIAN I DATA RESPONDEN
1. Nama Responden :

...
2. Jabatan Sekarang : Kepala Satker / PPK / lainnya
..*)
3. Satuan Kerja/PPK :

...

...
4. Satminkal : DJ Sumber Daya Air / DJ Bina Marga / DJ
Cipta Karya*)
5. Lokasi Provinsi :

...
6. Pengalaman Kerja : tahun
7. Spesialisasi : keairan / jalan dan jembatan /
keciptakaryaan / penataan ruang / lainnya
. *)
8. Pendidikan Terakhir : SLTA / D3 / S1 / S2 / S3 *)
9. No. Telepon & HP :

...
10. E-mail :

...

..,
.. 2009
Responden,
**)

6
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
(
)
*) coret yang tidak perlu
**) tanda tangan dan nama responden

7
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
BAGIAN II KUESIONER A
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penerapan value engineering dalam
penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-PU-an di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum?

1. Pelaksanaan kegiatan pekerjaan fisik di lapangan telah direncanakan berdasarkan ketersediaan anggaran.
Dengan demikian anggaran yang tersedia harus dihabiskan walaupun outcome yang ditargetkan telah dicapai.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

2. Berapa kalikah rata-rata revisi DIPA di lingkungan Bapak/Ibu dalam satu tahun anggaran?
1 2 3 4 5 6

5x 4x 3x 2x 1x 0x

Komentar :

3. Apakah pekerjaan fisik konstruksi didahului dengan perencanaan teknis yang akurat?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

4. Bagaimana akurasi Engineer Estimate (EE) yang disusun oleh Perencana untuk diterapkan dalam suatu
pekerjaan konstruksi?
1 2 3 4 5 6

sangat tidak tidak cukup


tidak akurat cukup akurat akurat sangat akurat
akurat akurat

Komentar :

5. Bagaimana persentase nilai Harga Perhitungan Sendiri (HPS/OE) terhadap Engineer Estimate (EE) yang telah
disusun sebelumnya?
1 2 3 4 5 6

>120% 116%-120% 111%-115% 106%-110% 100%-105% <100%

Komentar :

6. Penawar dengan nilai penawaran harga terendah merupakan pemenang lelang,


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :
8
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
7. Dokumen kontrak mencantumkan klausul tentang value engineering.
1 2 3 4 5 6

sangat tidak
tidak perlu & tidak perlu, tapi perlu, tapi tidak sangat perlu &
perlu & tidak perlu & harus
tidak harus harus harus harus
harus

Komentar :

8. Bagaimana persentase nilai kontrak/rencana anggaran biaya (RAB) terhadap Harga Perhitungan Sendiri
(HPS/OE)?
1 2 3 4 5 6

<60%% 60%-74% 75%-84% 85%-94% 95%-99% 100%

Komentar :

9. Berapa kalikah rata-rata terjadi addendum/amandemen/pekerjaan tambah kurang dalam suatu kontrak?
1 2 3 4 5 6

>4x 4x 3x 2x 1x 0

Komentar :

10. Seberapa pentingkah pengawasan melekat oleh Atasan/Direktorat Jenderal/Direktorat pembina teknis terhadap
pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak penting penting sangat penting
tidak penting penting penting

Komentar :

11. Seberapa pentingkah pengawasan fungsional oleh Inspektorat Jenderal terhadap pelaksanaan fisik di lapangan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak penting penting sangat penting
tidak penting penting penting

Komentar :

12. Seberapa seringkah Inspektorat Jenderal melaksanakan pengawasan fungsional atas pelaksanaan pekerjaan
fisik di lapangan dalam satu tahun anggaran?
1 2 3 4 5 6

0x 1x 2x 3x 4x >4x

Komentar :

9
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
13. Apakah penggunaan biaya sesuai dengan anggaran yang tersedia?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak sesuai sesuai sangat sesuai
tidak sesuai sesuai sesuai

Komentar :

14. Apakah pengadaan barang/jasa sesuai dengan rencana kebutuhan dalam mencapai tujuan yang ditentukan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak sesuai sesuai sangat sesuai
tidak sesuai sesuai sesuai

Komentar :

15. Apakah harga pembelian dalam pengadaan barang/jasa tidak melebihi harga standar/harga pasar?
1 2 3 4 5 6

Jauh di Dibawah
atas/melebihi 126%-150% 101%-125% 91%-100% 80%-90%
(>150%) (<80%)

Komentar :

16. Apakah penggunaan sumber daya tidak melebihi kebutuhan nyata?


1 2 3 4 5 6

Jauh di Dibawah
atas/melebihi 126%-150% 101%-125% 91%-100% 80%-90%
(>150%) (<80%)

Komentar :

17. Bagaimanakah perbandingan tingkat pencapaian hasil terhadap target yang telah ditetapkan?
1 2 3 4 5 6

hampir jauh di
target tidak mencapai
di bawah target mencapai di atas target atas/melebihi
tercapai target
target target

Komentar :

18. Bagaimanakah perbandingan peningkatan hasil terhadap peningkatan sumber daya yang dipergunakan?
1 2 3 4 5 6

hampir jauh di
target tidak mencapai
di bawah target mencapai di atas target atas/melebihi
tercapai target
target target

Komentar :

10
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
19. Terjadinya over design disebabkan karena perencanaan, survei, dan investigasi (SID) tidak dilakukan dan/atau
dilakukan tetapi kurang matang.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

20. Bagaimanakah tingkat pemanfaatan hasil terhadap tujuan yang ditetapkan?


1 2 3 4 5 6

hampir jauh di
target tidak mencapai
di bawah target mencapai di atas target atas/melebihi
tercapai target
target target

Komentar :

21. Bagaimanakah kondisi persentase keterlambatan terbesar yang pernah terjadi di lingkungan Bapak/Ibu?
1 2 3 4 5 6

Sangat on schedule
Terlambat Terlambat Terlambat ahead schedule
Terlambat (tidak
(15%-20%) (10%-15%) (1%-10%) (lebih cepat)
(>20%) terlambat)

Komentar :

22. Keterlambatan pemanfaatan hasil diakibatkan oleh perencanaan penjadualan pekerjaan yang tidak akurat.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

23. Bagaimanakah tingkat kemantapan pekerjaan persiapan dan perumusan proyek (survei dan desain)?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak mantap mantap sangat mantap
tidak mantap mantap mantap

Komentar :

24. Berapakah jumlah personil di lingkungan Bapak/Ibu dengan latar belakang tingkat pendidikan terakhir minimal S1
Bidang Teknik?
1 2 3 4 5 6

tidak ada 1-2 orang 3-4 orang 5-6 orang 7-8 orang >8 orang

Komentar :

11
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
25. Berapakah jumlah personil dengan tingkat pengalaman proyek >10 tahun?
1 2 3 4 5 6

tidak ada 1-2 orang 3-4 orang 5-6 orang 7-8 orang >8 orang

Komentar :

26. Bagaimanakah tingkat kemampuan personil dalam menyusun estimasi biaya?


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak tidak cukup sangat


memadai
tidak memadai memadai memadai memadai memadai

Komentar :

27. Bagaimanakah tingkat pengetahuan personil mengenai harga standar/pasar?


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak tidak cukup sangat


memadai
tidak memadai memadai memadai memadai memadai

Komentar :

28. Bagaimanakah tingkat kemampuan personil dalam menyusun metode kerja?


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak tidak cukup sangat


memadai
tidak memadai memadai memadai memadai memadai

Komentar :

29. Bagaimana komposisi personil di lingkungan Satuan Kerja ditinjau dari sebaran disiplin ilmu?
1 2 3 4 5 6

1 disiplin ilmu 2 disiplin ilmu 3 disiplin ilmu 4 disiplin ilmu 5 disiplin ilmu >5 disiplin ilmu

Komentar :

30. Berapakah jumlah personil yang telah mengikuti pelatihan VE dan telah memiliki sertifikat keahlian value
engineering (VE), yang diterbitkan oleh Himpunan Ahli Value Engineering Indonesia (HAVE-I), Society of
American Value Engineers International (SAVE-I), ataupun asosiasi VE lainnya ?
1 2 3 4 5 6

Tidak ada 1 orang 2 orang 3 orang 4 orang >4 orang

Komentar :

12
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
31. Bagaimanakah tingkat pemahaman terhadap teknik penggunaan VE dan manajemen VE?
1 2 3 4 5 6

tidak dapat tidak mudah cukup sulit cukup mudah mudah sangat mudah
dipahami dipahami dipahami dipahami dipahami dipahami

Komentar :

32. VE dapat mengoptimalkan kegiatan yang telah diprogramkan/direncanakan


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

33. Penerapan VE terbatas hanya pada Proyek/Pekerjaan yang Besar


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

34. Metode VE dapat diterapkan pada semua jenis proyek, baik keairan, jalan dan jembatan, maupun
keciptakaryaan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

35. Pada batasan nilai proyek berapa metode VE dapat diterapkan?


1 2 3 4 5 6

Rp.500 miliar Rp.1 miliar Rp.100 juta Rp.1 Rp.100 tanpa batasan
> Rp.1 triliun
Rp.1 triliun Rp.500 miliar Rp.1 miliar juta nilai

Komentar :

36. Metode VE dapat dilaksanakan berdasarkan adanya gambar konstruksi


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

13
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
37. Metode VE dilaksanakan dengan melakukan analisis fungsi terhadap fungsi bangunan beserta bagian-bagiannya.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

38. Seberapa pentingkah informasi mengenai spesifikasi material konstruksi dalam penerapan VE
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

39. Metode VE dapat dilaksanakan dengan mengumpulkan informasi mengenai permasalahan proyek
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

40. Penerapan VE dilakukan dengan membandingkan desain awal dengan desain alternatif ditinjau dari sudut
pandang teknik.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

41. Penerapan VE dilakukan dengan membandingkan desain awal dengan desain alternatif ditinjau dari sudut
pandang biaya.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

42. Penerapan VE dilakukan dengan meneliti item yang berbiaya tinggi/dominan


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

14
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
43. Seberapa penting gagasan alternatif metode konstruksi untuk menghemat biaya?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

44. Seberapa penting gagasan inovatif yang dapat membantu menghasilkan biaya yang lebih efisien?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

45. Seberapa penting pemilihan atas beberapa alternatif yang paling memungkinkan dalam penghematan biaya?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

46. Seberapa penting urutan prioritas alternatif sesuai dengan penghematan yang dihasilkan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

47. Seberapa penting laporan dan rekomendasi atas alternatif final yang dipilih?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

48. Seberapa penting kerja sama dengan pihak terkait dalam penerapan VE?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

15
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
49. Seberapa penting kerja sama dan interaksi Tim VE dalam penerapan VE?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

50. Seberapa penting dukungan logistik/keuangan untuk menerapkan VE?


1 2 3 4 5 6

sangat tidak sangat penting


tidak penting cukup penting penting sangat penting
penting sekali

Komentar :

51. Seberapa penting regulasi untuk menerapkan VE?


1 2 3 4 5 6

sangat tidak sangat penting


tidak penting cukup penting penting sangat penting
penting sekali

Komentar :

52. Bagaimana regulasi/peraturan mengenai penerapan VE yang sudah diberlakukan?


1 2 3 4 5 6

sudah ada & sudah ada, belum ada &


sudah ada & sudah ada &
sangat tetapi belum belum ada harus segera
memadai cukup memadai
memadai memadai disusun

Komentar :

53. Kontraktor yang pekerjaannya dilakukan VE harus diberikan insentif yang memadai.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

54. Konsultan/pihak yang melakukan VE harus diberikan insentif yang memadai.


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

16
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 4 (lanjutan)
BAGIAN III KUESIONER B
(KUESIONER EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANGGARAN)
55. Menurut pendapat Bapak/Ibu, berapakah persentase rata-rata penghematan/efisiensi yang
diharapkan pada suatu nilai kontrak pekerjaan jasa pemborongan (fisik) apabila diterapkan
metode value engineering?
1 2 3 4 5 6

0% 1%-10% 11%-15% 16%-20% 21%-25% > 25%

BAGIAN IV
KOMENTAR/CATATAN RESPONDEN:
(apabila space tidak mencukupi, dapat dituliskan pada lembar tersendiri)

, .
2009

Responden,

(
)

17
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran
5 : RekapHasiluji Coba
R E K A P I T U L AHSAIS I LU J IC O B AK U E S I O N E R

ITEMl ITEM2 ITEM3 ITEM4 ITEM5 ITEM6 ITEMT ITEM8


RESPONDEN1 5 44 6 3 55
RESPONDEN2 1 65 6 I 65
RESPONDEN3 6 | ,,/ 2 54
RESPONDEN4 A
4 44 6 /.1 5l
RESPONDEN5 5 44 6 2 o4
RESPONDEN6 4 55 3 >4
RESPONDENT 55 6 44
ITEMg ITEMlO ITEM11 ITEM12 ITEM13 ITEM14 ITEM15 ITEM16
RESPONDEN1 54 43 4 A
44
R E S P ODNE N 2 56 :? 6 56
R E S P ODNE N 3 44 42 4 4 44
R E S P ODNE N 4 46 52 6 6 55
R E S P ODNE N 5 56 62 4 + 44
R E S P ODNE N 6 55 52 5 4 44
R E S P ODNE N T .:. 4 42 4 5 44
I T E M 1 7 I T E M 1 8 ITEM1.9 ITEM20 I T E M 2 1 TEM22 ITEM23 ITEM24
RESPONDEN1 44 )4 4 A
+ 45
RESPONDEN2 s6 65 6 6 4'a
RESPONDEN3 45 65 I q
4,
RESPONDEN4 44 44 4 4 4)
R E S P ODNE N 5 )A
i+ o+ .t A
46
R E S P ODNE N 6 44 54 4 t 45
RESPONDENT 44 .A
.+ 4 4b

ITEM25 ITEM26 ITEM27 ITEM28 ITEM29 ITEM3O ITEM31, ITEM32


RESPONDENl 44 44 A 1. 44
RESPONDEN2 66 66 56 I

RESPONDEN3 4 45 ) 1. )4
RESPONDEN4 45 q q 1
55
RESPONDEN5 66 66 I z \4
RESPONDEN6 44 44 q I

RESPONDENT 64 44 .i l_ 4'3
I T E M 3 3 I T E M 3 4 I T E M 3 5 I T E M 3 6 ITEM37 I T E M 3 8 ITEM39 ITEM4O
RESPONDE ] .N ,t4 l:l 5 5 6 44
RESPONDEN2 16 66 6 6 66
RESPONDEN3 .:4 .4 +
A
6 56
RESPONDEN4 25 66 6 66
R E S P ODNE N 5 36 6:1 q
6 65
RESPONDEN6 35 VJ 5 6 56
RESPONDENT .4 65 E
J
q
56
ITEM41, ITEM42 ITEM43 ITEM44 I T E M 4 5 I T E M 4 6 ITEM47 ITEM48
R E S P O N D1EN 44 J ) 5 55
R E S P ODNE N 2 66 66 6 6 66
R E S P ODNE N 3 55 56 6 5 56
R E S P ODNE N 4 66 66 R 6 66
R E S P ODNE N 5 55 56 A 6 66
R E S P ODNE N 6 o4 55 5 5 54
R E S P ODNE N T 66 66 5 65

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


5 (lanjutan)
Larnpiran

ITEM49 ITEM50 I T E M 5 1 I T E M 5 2 I T E M 5 3 ITEM54


A
R E S P O N D 1E N 54 64 L+

RESPONDEN2 66 6i 5 5
RESPONDEN3 qi
55 5 5
R E S P ODNE N 4 64 64 5 4
RESPONDEN5 64 65 4 4
n
RESPONDEN6 44 55 4 I

RESPONDENT 65 )

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran 6 : Kuesioner Penelitian

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM


PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR
BIDANG KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

KUESIONER PENELITIAN TESIS

V. UNTORO KURNIAWAN
NPM 0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK
2009

1
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI
2009

KUESIONER
SURVEI PENERAPAN VALUE ENGINEERING
DALAM PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR BIDANG KE-PU-AN DI
LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANGGARAN

ABSTRAKSI

Departemen Pekerjaan Umum (PU) dari tahun ke tahun selalu masuk


dalam kategori lima besar instansi yang memperoleh anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN) terbesar. Namun demikian
penyimpangan yang bersifat ketidakefisienan, juga mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor : 06/PRT/M/2008 tanggal 27 Juni


2008 tentang Pedoman Pengawasan Penyelenggaraan dan Pelaksanaan
Pemeriksan Konstruksi, antara lain dinyatakan bahwa apabila dalam
pengawasan fungsional yang dilaksanakan Inspektorat Jenderal
Departemen PU ditemukan adanya indikasi inefisiensi (pemborosan) akibat
ketidakwajaran harga konstruksi, analisis pemilihan tipe/jenis konstruksi,
perhitungan konstruksi, maupun metode konstruksi, maka akan
direkomendasikan kepada Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa untuk
melakukan rekayasa nilai (value engineering), dengan demikian
diharapkan kesiapan, baik Pengguna Jasa maupun Penyedia Jasa.

Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang


memengaruhi penerapan VE tersebut dan menganalisis tingkat pengaruh
faktor-faktor dominan tersebut terhadap pencapaian efektivitas
penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-
PU-an di lingkungan Departemen PU. Penelitian dilakukan dengan metode
survei kepada Pengguna Jasa di lingkungan Departemen PU sebagai
responden dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian.

Dengan demikian penelitian ini dimaksudkan agar dapat terlaksananya


penerapan program VE dalam meminimalisir terjadinya in-efisiensi untuk
memperoleh hasil penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum
di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum yang lebih efisien dan efektif.

2
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah:


a. Mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang mempengaruhi
pemahaman dan kesiapan pihak Pengguna Jasa dalam
pelaksanaan value engineering,
b. Melakukan kajian analisis mengenai pengaruh penerapan metode
value engineering dapat meningkatkan pencapaian efisiensi
penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur
bidang pekerjaan umum di lingkungan Departemen Pekerjaan
Umum,.

KERAHASIAAN

Kerahasiaan identitas responden dan jawaban isian kuesioner ini akan


dijamin dan hanya akan digunakan untuk keperluan penelitian saja.

INFORMASI DAN HASIL SURVEI

Hasil penelitian ini dapat kami kirimkan ke alamat anda jika dikehendaki
sebagai informasi tambahan dalam upaya peningkatan efektivitas
penggunaan anggaran dalam penyelenggaraan infrastruktur.
Apabila Bapak/Ibu memiliki pertanyaan mengenai survei ini, dapat
menghubungi:
1. Peneliti : V. Untoro Kurniawan
HP: 08174832419 atau e-mail
v_untoro@yahoo.com
2. Pembimbing : DR. Ir. YUSUF LATIEF, MT
HP: 0812809919 atau e-mail latief73@eng.ui.ac.id
Ir. BAKUH NINDYO SURIPNO, Dipl. HE
HP: 0811265764

3
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)
PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER:
a. Kuesioner terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu:
1) Bagian I Data Responden
Merupakan isian mengenai data dan identitas responden
2) Bagian II Kuesioner A
Merupakan kuesioner untuk mengetahui tingkat
pemahaman dan kesiapan Pengguna Jasa dalam
penerapan value engineering
No. 01 - 12 : Variabel Penyelenggaraan Infrastruktur
No. 13 - 23 : Variabel Cara Penggunaan Anggaran
No. 24 54 : Variabel Penerapan Value Engineering
3) Bagian III Kuesioner B
Merupakan kuesioner untuk mengetahui tingkat
pencapaian efektivitas penggunaan anggaran yang
diharapkan dalam penerapan value engineering
4) Bagian IV Komentar
Merupakan kolom untuk memberikan kesempatan
responden memberikan komentar/catatan terkait dengan
kuesioner ini
b. Mohon responden mengisi data responden sebagaimana mestinya dan
data ini akan dirahasiakan oleh penulis
c. Mohon membubuhkan tanda silang (X) pada kotak yang sesuai dengan
jawaban Bapak/Ibu terhadap beberapa pertanyaan/pernyataan
sebagaimana tertulis dalam kuesioner, baik pada Bagian II (Kuesioner A)
maupun Bagian III (Kuesioner B).
d. Apabila diperlukan, responden dipersilakan memberikan komentar tertulis
pada kotak nomor pertanyaan/pernyataan yang bersangkutan, atau
pada halaman terakhir kuesioner ini.
e. Contoh :
1. Apakah pekerjaan fisik konstruksi didahului dengan perencanaan
teknis yang akurat?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :
Apabila responden menyatakan SANGAT-SANGAT SETUJUI terhadap
pertanyaan tersebut, maka dipersilakan memberikan tanda silang
pada angka 6 dan apabila diperlukan responden dapat
memberikan komentar singkat terhadap pertanyaan/pernyataan
tersebut

2. Bagaimana persentase nilai kontrak (RAB) terhadap HPS?


1 2 3 4 5 6

<50% 50%-60% 60%-70% 70%-80% 80%-90% 90%-100%

Komentar :
Apabila kondisi yang sering terjadi di lingkungan responden adalah
nilai kontrak (RAB) sebesar 75%, berarti persentase tersebut berada
pada kisaran 70%-80%, maka dipersilakan memberikan tanda silang

4
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)
pada angka 4 dan apabila diperlukan responden dapat
memberikan komentar singkat terhadap pertanyaan/pernyataan
tersebut

5
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)
BAGIAN I DATA RESPONDEN
1. Nama Responden :

...
2. Jabatan Sekarang : Kepala Satker / PPK / lainnya
..*)
3. Satuan Kerja/PPK :

...

...
4. Satminkal : DJ Sumber Daya Air / DJ Bina Marga / DJ
Cipta Karya*)
5. Lokasi Provinsi :

...
6. Pengalaman Kerja : tahun
7. Spesialisasi : keairan / jalan dan jembatan /
keciptakaryaan / penataan ruang / lainnya
. *)
8. Pendidikan Terakhir : SLTA / D3 / S1 / S2 / S3 *)
9. No. Telepon & HP :

...
10. E-mail :

...

..,
.. 2009
Responden,
**)

6
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)
(
)
*) coret yang tidak perlu
**) tanda tangan dan nama responden

7
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
BAGIAN II KUESIONER A
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penerapan value engineering dalam
penyelenggaraan infrastruktur bidang ke-PU-an di lingkungan Departemen
Pekerjaan Umum?

1. Anggaran DIPA yang tersisa harus dihabiskan walaupun target yang ditetapkan sesuai perencanaan telah
tercapai, dengan alasan karena sudah dianggarkan.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


sangat setuju setuju tidak setuju
setuju setuju tidak setuju

Komentar :

2. Berapa kalikah rata-rata revisi DIPA di lingkungan Bapak/Ibu dalam satu tahun anggaran?
1 2 3 4 5 6

5x 4x 3x 2x 1x 0x

Komentar :

3. Pekerjaan fisik konstruksi selalu didahului dengan perencanaan teknis dan/atau perencanaan umum.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

4. Bagaimana akurasi Engineer Estimate (EE) yang disusun oleh Perencana untuk diterapkan dalam suatu
pekerjaan konstruksi?
1 2 3 4 5 6

<80% 80%-85% 86%-90% 91%-95% 96%-100% >100%

Komentar :

5. Bagaimana persentase nilai Harga Perhitungan Sendiri (HPS/OE) terhadap Engineer Estimate (EE) yang telah
disusun sebelumnya?
1 2 3 4 5 6

>120% 116%-120% 111%-115% 106%-110% 100%-105% <100%

Komentar :

6. Penawar dengan nilai penawaran harga terendah yang responsif dan terevaluasi merupakan pemenang lelang,
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

8
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

7. Dokumen kontrak mencantumkan klausul tentang value engineering.


1 2 3 4 5 6

sangat tidak
tidak perlu & tidak perlu, tapi perlu, tapi tidak sangat perlu &
perlu & tidak perlu & harus
tidak harus harus harus harus
harus

Komentar :

8. Bagaimana persentase nilai kontrak/rencana anggaran biaya (RAB) terhadap Harga Perhitungan Sendiri
(HPS/OE)?
1 2 3 4 5 6

100% 95%-99% 85%-94% 75%-84% 60%-74% <60%%

Komentar :

9. Berapa kalikah rata-rata terjadi addendum/amandemen/pekerjaan tambah kurang dalam suatu kontrak?
1 2 3 4 5 6

>4x 4x 3x 2x 1x 0

Komentar :

10. Seberapa pentingkah pengawasan melekat oleh Atasan/Direktorat Jenderal/Direktorat pembina teknis terhadap
pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak penting penting sangat penting
tidak penting penting penting

Komentar :

11. Seberapa pentingkah pengawasan fungsional oleh Inspektorat Jenderal terhadap pelaksanaan fisik di lapangan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak penting penting sangat penting
tidak penting penting penting

Komentar :

12. Seberapa seringkah Inspektorat Jenderal melaksanakan pengawasan fungsional atas pelaksanaan pekerjaan
fisik di lapangan dalam satu tahun anggaran?
1 2 3 4 5 6

0x 1x 2x 3x 4x >4x

Komentar :

9
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

13. Apakah penggunaan biaya sesuai dengan anggaran yang tersedia?


1 2 3 4 5 6

<80% 80%-85% 86%-90% 91%-95% 96%-100% >100%

Komentar :

14. Apakah pengadaan barang/jasa sesuai dengan rencana kebutuhan dalam mencapai tujuan yang ditentukan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak sesuai sesuai sangat sesuai
tidak sesuai sesuai sesuai

Komentar :

15. Apakah harga pembelian dalam pengadaan barang/jasa tidak melebihi harga standar/harga pasar?
1 2 3 4 5 6

Jauh di Dibawah
atas/melebihi 126%-150% 101%-125% 91%-100% 80%-90%
(>150%) (<80%)

Komentar :

16. Seberapa besar perbandingan penggunaan sumber daya terhadap kebutuhan nyata?
1 2 3 4 5 6

Jauh di Dibawah
atas/melebihi 126%-150% 101%-125% 91%-100% 80%-90%
(>150%) (<80%)

Komentar :

17. Bagaimanakah perbandingan tingkat pencapaian hasil terhadap target yang telah ditetapkan?
1 2 3 4 5 6

hampir jauh di
target tidak mencapai
di bawah target mencapai di atas target atas/melebihi
tercapai target
target target

Komentar :

18. Bagaimanakah perbandingan peningkatan hasil terhadap peningkatan sumber daya yang dipergunakan?
1 2 3 4 5 6

hampir jauh di
target tidak mencapai
di bawah target mencapai di atas target atas/melebihi
tercapai target
target target

Komentar :

10
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

19. Terjadinya over design disebabkan karena perencanaan, survei, dan investigasi (SID) tidak dilakukan dan/atau
dilakukan tetapi kurang matang.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

20. Bagaimanakah tingkat pemanfaatan hasil terhadap tujuan yang ditetapkan?


1 2 3 4 5 6

hampir jauh di
target tidak mencapai
di bawah target mencapai di atas target atas/melebihi
tercapai target
target target

Komentar :

21. Bagaimanakah kondisi persentase keterlambatan terbesar yang pernah terjadi di lingkungan Bapak/Ibu?
1 2 3 4 5 6

Sangat on schedule
Terlambat Terlambat Terlambat ahead schedule
Terlambat (tidak
(15%-20%) (10%-15%) (1%-10%) (lebih cepat)
(>20%) terlambat)

Komentar :

22. Keterlambatan pemanfaatan hasil diakibatkan oleh perencanaan penjadualan pekerjaan yang tidak akurat.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

23. Bagaimanakah tingkat kemantapan pekerjaan persiapan dan perumusan proyek (survei dan desain)?
1 2 3 4 5 6

<80% 80%-85% 86%-90% 91%-95% 96%-99% 100%

Komentar :

24. Berapakah jumlah personil di lingkungan Bapak/Ibu dengan latar belakang tingkat pendidikan terakhir minimal S1
Bidang Teknik?
1 2 3 4 5 6

tidak ada 1-2 orang 3-4 orang 5-6 orang 7-8 orang >8 orang

Komentar :

11
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

25. Berapakah jumlah personil dengan tingkat pengalaman proyek >10 tahun?
1 2 3 4 5 6

tidak ada 1-2 orang 3-4 orang 5-6 orang 7-8 orang >8 orang

Komentar :

26. Bagaimanakah tingkat kemampuan personil dalam menyusun estimasi biaya?


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak tidak cukup sangat


memadai
tidak memadai memadai memadai memadai memadai

Komentar :

27. Bagaimanakah tingkat pengetahuan personil mengenai harga standar/pasar?


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak tidak cukup sangat


memadai
tidak memadai memadai memadai memadai memadai

Komentar :

28. Bagaimanakah tingkat kemampuan personil dalam menyusun metode kerja?


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak tidak cukup sangat


memadai
tidak memadai memadai memadai memadai memadai

Komentar :

29. Bagaimana komposisi personil di lingkungan Satuan Kerja ditinjau dari sebaran disiplin ilmu lingkup bidang
ASMET (arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, tata lingkungan)?
1 2 3 4 5 6

1 disiplin ilmu 2 disiplin ilmu 3 disiplin ilmu 4 disiplin ilmu 5 disiplin ilmu >5 disiplin ilmu

Komentar :

30. Berapakah jumlah personil yang telah mengikuti pelatihan VE dan telah memiliki sertifikat value engineering (VE),
yang diterbitkan oleh Himpunan Ahli Value Engineering Indonesia (HAVE-I), Society of American Value Engineers
International (SAVE-I), ataupun asosiasi VE lainnya ?
1 2 3 4 5 6

Tidak ada 1 orang 2 orang 3 orang 4 orang >4 orang

Komentar :

12
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

31. Bagaimanakah tingkat pemahaman terhadap teknik penggunaan VE dan manajemen VE?
1 2 3 4 5 6

tidak dapat tidak mudah cukup sulit cukup mudah mudah sangat mudah
dipahami dipahami dipahami dipahami dipahami dipahami

Komentar :

32. VE dapat mengoptimalkan kegiatan yang telah diprogramkan/direncanakan


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

33. Penerapan VE terbatas hanya pada Proyek/Pekerjaan yang Besar


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


sangat setuju setuju tidak setuju
setuju setuju tidak setuju

Komentar :

34. Metode VE dapat diterapkan pada semua jenis proyek, baik keairan, jalan dan jembatan, maupun
keciptakaryaan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

35. Pada batasan nilai proyek berapa metode VE dapat diterapkan?


1 2 3 4 5 6

Rp.500 miliar Rp.1 miliar Rp.100 juta Rp.1 Rp.100 tanpa batasan
> Rp.1 triliun
Rp.1 triliun Rp.500 miliar Rp.1 miliar juta nilai

Komentar :

36. Metode VE dapat dilaksanakan berdasarkan adanya gambar konstruksi


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

13
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

37. Metode VE dilaksanakan dengan melakukan analisis fungsi terhadap fungsi bangunan beserta bagian-bagiannya.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

38. Seberapa pentingkah informasi mengenai spesifikasi material konstruksi dalam penerapan VE
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

39. Metode VE dapat dilaksanakan dengan mengumpulkan informasi mengenai permasalahan proyek
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

40. Penerapan VE dilakukan dengan membandingkan desain awal dengan desain alternatif ditinjau dari sudut
pandang teknik.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

41. Penerapan VE dilakukan dengan membandingkan desain awal dengan desain alternatif ditinjau dari sudut
pandang biaya.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

42. Penerapan VE dilakukan dengan meneliti item yang berbiaya tinggi/dominan


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak paham cukup paham paham sangat paham
tidak paham paham

Komentar :

14
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

43. Seberapa penting gagasan alternatif metode konstruksi untuk menghemat biaya?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

44. Seberapa penting gagasan inovatif yang dapat membantu menghasilkan biaya yang lebih efisien?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

45. Seberapa penting pemilihan atas beberapa alternatif yang paling memungkinkan dalam penghematan biaya?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

46. Seberapa penting urutan prioritas alternatif sesuai dengan penghematan yang dihasilkan?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

47. Seberapa penting laporan dan rekomendasi atas alternatif final yang dipilih?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

48. Seberapa penting kerja sama dengan pihak terkait dalam penerapan VE?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

15
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

49. Seberapa penting kerja sama dan interaksi Tim VE dalam penerapan VE?
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak


tidak penting cukup penting penting sangat penting
tidak penting penting

Komentar :

50. Seberapa penting dukungan logistik/keuangan untuk menerapkan VE?


1 2 3 4 5 6

sangat tidak sangat penting


tidak penting cukup penting penting sangat penting
penting sekali

Komentar :

51. Seberapa penting regulasi untuk menerapkan VE?


1 2 3 4 5 6

sangat tidak sangat penting


tidak penting cukup penting penting sangat penting
penting sekali

Komentar :

52. Bagaimana regulasi/peraturan mengenai penerapan VE yang sudah diberlakukan?


1 2 3 4 5 6

belum ada & sudah ada, sudah ada &


sudah ada & sudah ada &
harus segera belum ada tetapi belum sangat
cukup memadai memadai
disusun memadai memadai

Komentar :

53. Kontraktor yang pekerjaannya dilakukan VE harus diberikan insentif yang memadai.
1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

54. Konsultan/pihak yang melakukan VE harus diberikan insentif yang memadai.


1 2 3 4 5 6

sangat sangat sangat tidak sangat sangat


tidak setuju setuju sangat setuju
tidak setuju setuju setuju

Komentar :

16
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 6 (lanjutan)

BAGIAN III KUESIONER B


(KUESIONER EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANGGARAN)
55. Menurut pendapat Bapak/Ibu, berapakah persentase rata-rata penghematan/efisiensi yang
diharapkan pada suatu nilai kontrak pekerjaan jasa pemborongan (fisik) apabila diterapkan
metode value engineering?
1 2 3 4 5 6

0% 1%-10% 11%-15% 16%-20% 21%-25% > 25%

BAGIAN IV
KOMENTAR/CATATAN RESPONDEN:
(apabila space tidak mencukupi, dapat dituliskan pada lembar tersendiri)

, .
2009

Responden,

(
)

17
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
ln Ln Ln Ln Ln s .!- d- co ca $ \.o \r cn d r't n $ (o s- s- co s Ln (o Ln an an t \o t rl-)

{- rr1 -r a- s i- t cr) \tr. co Ln |.r) \J- c4 cn co an rf) s crr $ ra t \1- cn ot t cn s c") \i- rn

N \tr- $ N \1- d- \l- tn LO -t d- N Ln \f \i- -{ \1- cO $ tn \l- S- $ Ln S \tr- sf -t \f $ sJ- t t/)


x
s- s- s- v $ co .o c'1 \tr- s- \r s- sr s- N =| d- rf) $ c") rn $ sJ- t s s t f t .1- r") n-
G
(E
g.| \l- sr \o Ln \o rn (o $ $ $ t.o cq s- d- .-r s s N $ N t $ Ln $ Ln $
d- t s $ t cn
Ctl
c
v ri- \o $ rn co {- cf) n- $ $ s' co sl- (o t tJ) ao {- c"-) co i- co i_ c.) s_ Ln $
f s- cft s_
G
t! s- n- i- s- $ cn s $ s- $ .1- $ .1- s co {- I co s- co s- $ t s- \r sf \r $ rn s- $ !-
v.
uJ Ctl S- d- n d- Ln *1- t d- S \O tn i- N rO {- \O Ln \O $ \O cO \O tn cO Ln d-
z ctl $ S- \O $ t/) $

a
U)
(u
o. $ !- \tr- sf Ln m a4 $ {- rn rn $ co Ln s- to s- d- \r $ s |J) i- s Ln t Ln d- t \r sr $

IU $ $ \O $ cO .1- S- $ \f Ln S- !- S- |.n si- Ln.o $ $ S- $ Ln $ t S Ln t d- \f \f d- t


f
Y d- l.r) Ln.'l Ln Ln cn |.r) tn |-r) Ln Ln Ln rr lf) Ln Ln Ln Ln Ln |-r) t {- Ln Ln |.r) $ Ln N S rY1
J
il
U) $ N N N.{ N cO N N N Fr N NN N N N N N N N N N N N N cON cAN

r s- Ln (o \o Ln sr Ln Ln $ Ln \o Ln Ln Ln (o |f) Ln $ d- $ tf) Ln (o Lo Ln |f) |.r) Ln \o Ln t sr

F
x Ln |J) \o \o Ln tn Ln |J) s (o \o Ln |/) i- |f) t_o Ln $ |J) rn Lo |f) \o tJ) Lr) Ln Ln Ln \o |/) t s-

o J
\t- N Ln i S- - S- S- Ln t Ln tn Ln Ln t rn Ln Ln Ln d- t Ln t =1- Ln $ \r t t tn Ln tr)

a ( (.q N aq $ N $ an --r c-t aO .'t cO i- c't Ln aO N N cO cO cy.) S- (.A $ an c') cO rY-) cn N N


IE
J
s- s s1- Ln $ N $ N ca Ln s Ln \tr- Ln t
f $ s s N {- $ |f) N t <1- sf t sf Ln t \tr- N
m i
G !- S- \O N !- N S S cO c'-) (O N Ln cq $ Ln cq \O.n rn S c't rn \O rn Ln Ln LO cn Ln $
F o
o cq \o N \o Ln \o rn cq ro Ln ro \o (o Ln \o $ H \o \o Ln \o \o tn \o \o \o \o \o Ln \o s- ro
Ctt
cn
o) cn $ i Ln S- $ $ cn tn cY) S- ar) N N t Ln i- S S- S cO ri Lo # u) d il,--{ LO S S- lr)
c,
Ln |o \o \o \o \o (o Ln s- \o (o \o t-.) $ s s1- t/) tn \o Ln Ln v Ln lo '.o \o \o \o ro Ln \o |.')
OJ
o.
Ln .-r Ln cn S- N d- V \f $ Ln d- rn Ln Ln str- Ln cO Ln i- $ If) d- tf) Ln Ln |/) Ln Ln l/) Ln Ln

s- !- co \o N co N s \tr- d- $ (o co sl- rq N m \tr- \o $ N \r \r t Lr) \r t s Ln cr} t (o

--r N cr) sJ- Ln ro N @ m o --r N ao d- lJ) ro N @ o) o --l N cf) $ l-r) (o N oc) o) c) Fr N


"' t'--r il !--r !--r r-r t d il d N N N N N N N N N N CO Cn i.O

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


-

t--

d
l

$ |.n \i- S- |.r) cf) d- $ Ln Ln Ln tn Ln LO Ln \O $ LO Ln Ln \O (o !- S- \1. Ln Ln S- cn Ln c'.) Ln oO N r'') f

cn .n cn m $ rn cn cq rn $ c.) s' $ \r d- an ro s co \r ca oo Ln Ln sr \r s t t \o cn v co t cr) $

N N S V $ N rn cq rn ca Ln Ln s $ t t r-r) s- rJ. s t t \r lf) $ t \o $ cq cr) \f, \r v \r cq ti Ln


x
E S- S S- co co i- $ $ $ S- \j- S- S- c'1 d- $ d- Ln d- cO S d- \f \f cO $ $ S- d- cO n- t S- cA d- S sf
t!
t! Ln $ Ln !- \o Ln tn l/) \r Ln rn \r (o \o d- d- Ln Ln tn \o v |.n co t (o t
El $ $ $ t $ \o s cn Ln t s
ctl
tr
$ss-cqs-$s-$vvd-\3-s-ao{-v$co$aos-anc'tNcr)s1.\i-\i-Lncns-\i-{-\f,$cnrn

G
G $ s s- s- co tn $ d- sr $ s- s1- s- cq s- $ s- $ d- {- $ s- \i- \f, co sf \r sf sl- ca \J. \1. \r t $ cn Ln
c
J
En t in Ln $ \r l.n !- $ !- ro rn <- Ln \o \o !- Ln $ s !- |.n an s Ln tn d- s s- c't \o \o Ln s- Lr) |/) N $
El
c
o rn Ln $ sr $ \1- $ n- s- n- $ s \o s- |.n $ N s- <- |.n Ln !- n- $ d- d- ra Ln \r ro $ \r \r Lo |J) |.r) s
o
s- s- Ln s- $ [n !- \]- $ Ln $ $ lJ) Ln $ rn s- rn \o s- (o tn s- $ Ln $ d- Ln lo s- \o n- $ Ln i- Ln $

LnC.lS-LnLnLO|.r]\J-\l-|.r)$LntntnarlLn\O|-r)LOLnLntnLn\|CqLnCO\|LnrnF{LnLnLnLnLn\t

N N N N N N N CA TN N N N N N C.) Cq N N C'-) N N N CO N N N Cf) CO N N N TN Cq N N N N

Ln |J) Lo $ v $ \o s- Ln rn rn \i- \t. s- $ \o r-r) Ln \o \o \o !- Ln Ln \tr- \o |.n sf Lo $ \o an \o t t \o t


;{
x Ln Ln t $ [n tn \O (o {- ln d- S rO $ t Ln tn Ln (.o tO lJ) $ $ \t- rJ- to d- d- d- {- \O cA \O sf $ \O t

f
!- |.n Ln s- rn $ |'n |.n Ln d- Ln |-r) |r) |-r) Lo |-l-) ca <J- Lo tr) an t v (o $ Lo !- Ln Ln Ln Ln !- !- N rf) ao Ln
J
f
$ $ co $ N an v N N s- cr) rn $.n rq N $ c't ro N s f |.n co an c"1(.f) N c't r/) cf) $ N $ |.n N N
Ul
G
$ S-./) $ N Ln S- $ Ir) $ |.rt Ln $ S $ tn S o..)'-r (O $ sf $ sf Lo cq t $ Ln |J) t $ to $ Ln \f, S-
c
t{
c \|. $ tn rO $ \O \O $ sl- S- i- S' s. \r Ln \O CO Ln V rO rO $ .-t nO Ln S- tO S $ S- rO t \O $ $ -r Ln
t!
o
(! \ocnLn\oLn\o\o[nLn\o\o\ocr')\otodNro(oNd-d\o\o(o\o\oLn\o(oLn\o\o\oraLn
cn
En
c lJ) \i-
o $ tn cq S Ln S Ln [n d- <- $ cn N N \i Ln : N Ln tO $' N .+ S lJ) LO <- ln S- N Ln cq $ $ \O
o
s- Ln Ln Ln \o \o (o s \o |.r) !r Lo \o Ln Ln Ln rn Ln |-r) ro (o $ \o ro \o L.) rn to \o Ln (o s l.o <- Ln (o (o
o
o.
ao $ m [n Ln s rn Ln rn Ln \]- $ {- Ln Ln \o |-r,) cn Ln Ln an v s Ln Ln Ln v Ln Ln Ln Ln s- s- af} Ln \o lf)

Lnrr\oaa|.r).f)s..1oo$rn$$aar-.)r-r)cod-$ro\o\i-\o<r\1.cnLncoao$c4Ln\oLn$rn$

an $ Ln to N @ O\ O .-r N cq \f l.r) \O N @ Or O r{ N cn S tn (o N @ Or O -l N cO S- Ln \O N @ Or
cr) aO cO cn o.) cn cO {- \1- \tr. \i- S \l V \1. d- sf Ln L.) Ln |.r) l.r) lr) Ln Ln Ln Ln \O \O \O \O \O \O \O \O (o \O

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


-

tr-
tr
!

cd
J

(f)
aA [n \O \O cn f tn Ln |.r) sJ* cn S- (O |.J1 Ln cn \O Ln Cn Ln d-
d Ca \O Ln U-) ll1 rO to Ca $

N $ cn cq $ a-) d- co tn ro N
N N d- s- Ln .1- co \tr- cq ("1 rn'--{ $ cr) $ rJ) $ cq ca t $
rl La) \O il
N m cO N S- \1- i Ln N \O Ln \f i- \f \f sf LO -t \t-
N i- d- \f Ln cO lr) \l- Ln
x S

c o s s ,n f s' t \r \J- n- ,1 $ $ sf Ln .tr. co s- $- c.) t


N \r $ co $ cn t \i_ $ f sr
t!
G c'r $ t cn Ln Ln |J) s \o (o ro \o \1. s- Ln s \tr- v
E'I il i- t $ t Ln $ s- s s_ v !_ $ $
E'l
tr
;{ rD d- s $ $ \r $ .l- Ln $ Ln v $ $ $ c") s s- t.,) $ s- t ."1 f sf \r
$ d_ oo $
tr
G r\ Ln v
G r.a $- v $ \r $ $ Ln $ Ln d- $ $ $ n- $ {- ro v (.,-)\r \r \r v s_ s !_ $ s-
tr
E'I rO cq $ s- a-t Ln s \o s- s- |.r) cn \i- t $ (o ca $ |.') N Ln Ln \o ro Ln d- Ln n_ $ (o Ln
ol
o t)
s s- Ln s- rn Ln n- $ Ln \o Ln $ \l- s
o. r{ $ cq Ln Ln cq s d_ t ca Ln s_ s_ s_ an s_ v

$ sr Ln $ l.') Ln d- \r Ln rn \o Ln Ln [n \r
r.'l \o s. tJ1 (o tJ1 s- a,-) s- s- $ \o v $ $ s- u)
(r) \i- s
r.{ rn \o Ln s s- Ln rn Lr) rn Ln ro Ln $ rn rn Ln t .n Ln Ln rn u) v sr \r Ln |/) |J)
N c') N N N cn N an N N N N cq co N N cn cq cq N N N cn N co a! cq ci ot N cr)

r{
F,|
s- Ln Ln l.r) Ln ro \o Ln \o \o tn (o |..r) \r \o Lo t-r) \o d- rr) l..) Lo lf) \o \o \o -i t i_ \o
r{
x or.l Ln LO |f) LO (O Ln rO Ln ro \o Ln \o |.n (o \o tJ) @ ro aq \o Ln Ln Ln Ln (o \o \o
$ a'.) to
=
J
o v u) Ln U.) Ln s- s- ln cq Ln sr !- tn tn rn ttr- Ln rn \o t |J) i- $ Ln Ln Ul Ln ir cq s
=
ta 6 N an cn s s- cq N cn cn N cq \f, $ Ln $ (-o ao r"1 cq r") N cq cn co $ r"1 (o an d- cr)
(E

tr r\ Ln |-r) (o N $ s- N v Ln |.r) $ Ln Ln N n N \O t \f. tn N $ d- t v \o (o d_ t (o


t{

t! r0 \ tn N Lr) \o ro v n- (o tr) $ tn s- \o \o c') H \o $ Ln \t $ I tJ) s ,.o lo co aa (o


IU
o ln .o \o rn Ln \o \o \o \o \tr- (o \o tn Ln S Cr) \O rO $ cO \O to d- \o (c) v ut \o Ln ro Ln
cn
E'I
o + d N $ Ln N o-) Ln Ln Ln $ cq Lo N Ln cn o.) Ln $ cq Ln N cq co Ln (o Ln cq Lo $ N
o
c m o |'r) \o \o \o to \o Ln (o \o \o \o rn \o \o Ln ro \o ..o io $ $ r.o \o (o !o tn s (o @
o
o.
N $ |.n $ rn s- \r $ Ln $ rn d- N Ln Ln Ln $ \o s |.r) u) Ln $ d- tn Ln $ Ln Ln rn Ln

s| $ lO o..l H sf s- S ca n \o \1- Lo d- rJ- ca .o \o cn sJ- S- S \o cn ic \o r{ arl cn llt

cL
t^
I - N q) s Ln \o N 90 9l Q r-r N .n d- Ln \Q \ qg o Q rr N .r1 t tn (() t\
o N f.. N r.. N N tr\ N tr\ N @ co cd oo cb oi co bo cd co d o d d d d 6 o
@ ol
o\ 6;
d

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


-
-
.F
rN N N S. co N'N N N Cr) \O \O N CN N TO N N (O N N N N N $ N N N $ N N N

tr-
-
tr
sr .n \1. n- S s1- S m $ S |-r) t m \tr- $ d- $ aa (o $ S- V S co $ $ co S $'r) <-'q

\r cn $- d- d- cq $ co i- Ln |J) $ cn s $ $ s- co \o \r d- \f, .n ra $ $(^n'n $'n s- ;

N N N cq rn N d- N S N r-r cn N c.) $ N cO N r.O i- lf) cn --l N N rn i N o.) N N cn

s- an af) Ln s $ $ N t tn |o \i- v ln tn d- $ cn (o co s an d- |J) $ a'.) s $ <- $ $ lf)

$ cr) cn Ln $ s- $ cn s- $ \o \o cq cn ao Ln s. i- lo cn $ cn tn Ln S' cn d- an co Lo an tn

tr) S $ tn V i- $ \i- S- Ln \O \O tn \O Ln \f (. \f rO d- $ t \O Ln Ln d- Ln t Ln \O V \O

Ln s Ln Ln lJ) s- Ln cn !tr. Ln (o (o Ln Ln \o Ln t s (o $ $ $ lf) tn Ln $ |1) $ Ln to Ln i

rn rn Ln $ \o \o lJ^) tn Ln \o tn Lo w |J1 s- $ |!o \o \l- Ln \0 Ln (o tn tn $ (o Ln $ (o


|J.) $

rj' Ln !n rn d- Ln tn |.r) tn |J) \tr. Ln \o s Ln s s \o \o Ln |/) Ln Ln \o Ln |f) t Lo \o Ln to

\r Ln Lo tn $ Ln Lo tn $ \o \o $ (o s s |.n $ \o \o $ Ln \o l/) \o l/) Ln v |f) $ Ln Ln

Ln <- |.J) tn \o Ln l.r) Ln Ln \o \o \o Ln \o s ln tn <- \o to \f, tn Ln lf) \o Ln tr) $ $ !- ln \o

Ln $ \o tn tn Ln s- tn tn \o \o l.]^) s s- U1 Ln l]1 $ to $ ca Ln Ln |J1 \o Ln |.J1 U^) \o l,J1 $ \o


m
x tn H
.n cq.q $ co !- Ln Lo s |.n \o \o s $ cq ca rn d- (o N Ln $ IJ) cq $ $ l.n |J) tn \r
E',l
.I Ln cq Ln |f) cq Ln \o
.n s- cn $ <- t') Ln tn i- Ln Lo Ln $ $ tn v !- $ \o $ tn sr $ cq v
o
o
'6 c.) s- ca \i- Ln rn d- Lo d- Ln (o \o $ sf co <- t $ \o w tn |J) tn cn f |.n ro |f) |.r) \o v n

uJ aa {- co $ ln |J) sr \r \1. $ '.o Ln t $ Lr) $ N Lr) \o aq co tn tn $ \t- Ln co Lo tr) lr) \f, s-


o
f
t! s \r |.r) Ln \o tn Ln cf) {- Ln \o \o tn Lo \o \o \r |.n Ln sJ- \t- Ln Ln Ln Ln tn Ln |J) (o \o lo lo

o \r $ sf n- $ $ S- $ S S- d- to t $ co tn S tr) (o $ $ d- \f \f \tr- \f d- t S- c'.) S- |.n


CL
t!
sl- $ $ d- s- co s- v d- ln s- d- w tn $ s- \o s- s- $ s $ c4 $ \f, $ t s- $ cf)
o $

o
o. cf)ao$\ocqo.)\o.n(o.a\o\o\o'ocn\o'.oto(o\oloc.)to\o\otn\o(o\o$c')

<- <- s- f d- Ln d- m $ d- (o ro $ Ln $ s- $ t (o sJ- S $ $ $ S- d- !- t d- $ !- |.n

s- $ cq <f s- d- ct rn cn cr) o.) !- s- $ s- aq v $ \o.n v s co $ t s $ t i- $ r'.) d-

sr $ \r v s- {- $ cn s- $ \o \o s- \r s- |J) v s Ln $ $ s- $ d- $ $ s- <- $ !- d- |.n

d-HcOc.)Ni-$rn.OcaNN\f'-lSd-NcOCqtnNNrnd-Ncq?-icrlN$tn

H f.l ii # H il d i - r-.{ i-l f{ !--t t-.1 rl !--t Ft'.-{ t-t Fl !-l F{ !--{ ?i |f)
i * : : # d t

an cn.O N N N N N N tO r.O F-r N N r.O c') N N i-'-{ N'O cO Fr N d- N N N Ln (O


$

\t V \f \1. Ln $ tn Ln $ S- d- Ln t Ln d- tn $ !n d- {- $ sf {- t d- s| tn Ln \| d- |.n $

|r) sf S- |.r) Ln <- Ln Lo \f \i- t l.r) Ln sf i- t d- lf) ca $ \| S lf) t !f, \l- Ln L|.) S- $ Ln (o

Ln $' |.r) S- Ln S $ n- $ S \f N $ $ $ lJ) d- S- S tn |/) V $ \l- \O


[n $ d- $ $ n- $

\o \o \o cq N co Ln c'-) cf) ca \o (o tn cn rn |.n (o \o sr Lr) |.n l.o N lo $ \o \o \o no (o Lo i-

\o \o d- N N co s- cn ca co Lo $ N ar) $ \O i- \o N N ao co N ca co co i- ro c'1 o.) $ i-

,+ N cv.)i- Ln\o N co o, : = : : s g I > 3 g R K N R N K R R K R I il S

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


-
,=
F
r.) N rq cq ci ar) S- N N rn N N r/] r--r tn S tn sl- <' N
= N N N rO c't cO a'-) $ $ .a trt N (o N cn N t
t--
E
L

s- $ lJ1 $ !- s- s- \i- cn Ln d- c't $ co co $ c"t c.) s- rn cn co c.t <- v ri- ao co t


- s s s- s $ c,1 an ro
Cd
$ v Ln co cf) $ $ s* L Ln s- {- s cq .n \r o.) ar) sr $ af) cn rq d- sr s- s s- an cn !- s- !F ay.) co co co

'\ cn N cn N tn cq N i N N Ln t co co ar) N N Ln [n N N N $ cq to n
$ N o.) s .t- Ln rn,-.i H cn

cn $ Ln |.') \o \r Ln \o s cq ro s- \o ca ro tn s $ l.r) |') sf $ i_ '.o L tf) $ ..o Ln (o str, tr)


t f s \o $

S rf- l.r] S- \O Ln Ln \o $ $ Ln $ \O cq \O d- tn |.r) t Ln Ln Ln Ln |]o Ln t Ln LO cn t cO V ri_ $ LO \f ca

d-\oLnLn\oLnLn\o(o\o\o$tOrq\oi-\otoLnLO\Oto\O\O\.c)LnLnLn(oLn(ovr.ltrnLn..o\o

s-U)U)Lnros-Ln\o\o\o\oroLncarol.r)\oro\otrl\otorotoLnLot.rtLotoLn\oLn\o\oLnto\o

tntnLnu)(otJ)Ln\oLnLnro\oLnao\o$Lntn|f)LnLnLntn\o$LnLnLn(oLnrnd-rg\oLnLn(o

LnLnLnLn(o!-Ln\o\os-\o\o\oco\o!-\otoLnLnLn\ororntrtLntrltcltoto(oln(oLor.l1Ln\o

rntnLn(()Ln\o\o\o\orn\o[ncn\o\tr-$d-r.oLn(o$d-LnLnLn|f)ro\o(or.oLn\orr)rn\o\o

$-Lnrntos-d-tnrn\o\oLn\oLnc")\osrd-siF\orrt\os$LnLnLoLn\oro\otcturtotnLn\o\o

s-LnLnLnd-LnlnLn(o\otn\oLncn\oi-tntJ)Lnto(ornLnLn!-s-$(o\o(o\ot/)(otJ)|.r)Ln\o
(fl
x
v \1- Ln Ln co $ s- s- |.r) Ln Ln s \f, rf) Ln rn \tr- s- Ln |.r) Ln \1- !- Ln $ ro tJ.) Ln s- tn $
C'l v v tn Ln |J) $
c
!i- $ Ln U) [a \r $ !- l"r) [n Ln $ |'f) cn ro Ln a') co rn |.n Ln cn a.) Ln tn \o Ln lJ.) Ln u) Ln s'- ro Ln |J1 Ln lJ1
o
q)
'E d- $ U) tn Ln s d- <- Ln cq Ln d- Ln cn \o Ln \o \o Ln tn Ln \o (o Ln trl ro trt Ln u) Ln t.l1 $ ..o Ln Ln Lo Ln

LIJ
\r Ln Ln $ (o d- d- m \o co Ln \o Ln co \o Ln trl Ln Ln Ln Ln Ln Ln trr Ln \o
o $ Ln c.t $ t s tcr Ln t.lt Ln ao
J
G U) [n U1 tn \o $ Ln \o (o \o (o \o (o cn \o to \o \o r.o Ln i- \o \o Ln $ (o Ln Ln (o \o (o \o Ln (o t.lt
{- \r

G t !- $ .1- Ln s- n- f $ \o sr s- s-.n Ln .i- cn rn Ln \| v cn lf) $ (o d- Lo .tr- t


cl $ !- sl s- t $ d- v
o
(u $ \i- s- s- $ s- !- i- Ln $ d- $ s cn Ln s- s s- co $ {- s- t .a s \1- s $ co cq \trF v @ Ln i- t cr)
c
o
o. \o ro @ ro s \o $- (o N ra \o \o ro co (o an \o \o (o N cn !o (o \o cr) (o \o (o co (c) \o (o \o m (o \o co

\o s- $ Ln s- tr) $ s- $ \o tn s- Ln.q $ Ln d- \i- \o s t \i- s Ln n- t Ln |J) $ d- N rO Ln t .tr- f


$

$ s- n- $ $ s- \f, cq c/.) |.n s- s- $ cn s s- s \f, $ .n co $ $ \r c.) t s- v cf) s co cn ro $ \3- $ s-

Ln s- s- Ln lr) \i- s- v $ $ s- $ s- rn Ln $ \1. s- Ln str- $ s sJ- i- v s_ $ Ln v \o s \o \1. d_ $


s \|

$ $ co N N <f' cn N,--r N N <1- N CO Ln N N N Ln S- (- N N ao \r d- sr co i- s- an u) LJt s- lJ1 $ $

r--1C!t.-lnCO#riHr--tdrir:r:ilrir-lt--{rl!--lir_l!__{fnCf)HF_lrr-.trHdilri

ln an N an N ca N m N cn --{ N t--r cn sl- (o \O rO cq \f ,i \O \O N (O Cn cO rY1 t N cO Ln N Ln ca rY1 $

Ln Ln Ln Ln $ tn Ln s |.r) Ln Ln s- cq d- N $ Ln |J) Ln $ |J) Ln |f) s Ln |'r} Ln t |J) t |f) Ln $ s s |'r) Ln

LO r11 rO t-r) $ Ln Ln \i- Ln Ln t s- sf t/) ao $ Ln |f) Ln d- Lo Ln Ln t rn t |f) Ln lf) |1) $ \o s Lo t') tf) Ln

$ Ln |J,) Ln d- Ln [n \| |.r) Lo cf) \tr- $ tn co \r \r t t s- Ln $ {- t LO \1- Ln $ tn Ln tn Ln t La} rn rn tf)

ao cq co Ln \o \o co cq ao $ s' \J- cq N \o \o (o f ao \o ro \o N \o \o ro cn (o ro (o \o \.o \t- ro (c) (c)

\o $ N s- N N rn |.rl \o an N d- \o s- s ro \o Lo c.t ar) !o .'o @ cr) \o N N co (o \o ro \o \o Ln ..o \o \o

A t !! \9 \ 0o ot o -_1 ry m V rn \o N oo q e n N !.0 $ Ln (O N @ o) O d N cn v Ln \o F. @ Ol
rn rn cq cn cn cq .q $ <i- $ v $ s- {- s + .1- Ln n tri Lri tn |f, 6 Lo lJ) Ln ro ro !d o ro o @ \o \o to

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


o
t!
.F ..|:
ln N t Ln d- !- c'.) \tr- Ln tn c") $ U1 ot c'-) ot N
ln cn U) N rn N N d- rn cn (o S- Fi N CO
J
(-r
_o
uJ
!
rf .n $ ii- rn.q Ln |-r) cq $
u] s v $ s s' s t cn tn c.) s- \o $ cf) s \r |o $ cn $ d-

J
d
m co t s- r cf)(.q v $ |.n l.r) co cf) s \i- cf) s- cn |.n rn d- !o $
ro cn s s- il $ co $ s-

N a'.) N aO : i tn \1. cO N
|rl $ N tn ca cO N d ca # N ar) # LO cr-) a.) c\ d c! cn N a,-)

!n \o [n \.o \o $ Ln Ln rn Ln Ln !- Ln $ |J) s $ d- \o s- $ \o Lo rn u) v to (o cq $ co

o Ln |J) s- \o <- Ln Ln rn \o rn \o \o $
u't $ s- s s- \o l.r) rq \o \o to tJ) t \o (o aq d_ $

o tr) \o \o \o |.r) ro \o (o Ln u1 Ln \o Ln \o Ln Ln v \o \o d- \o tn Ln Ln i- ..o \o co Ln i_


tf,

lJ) \o \o \o |.r) tn \o \o Ln L') Ln \o [n |J) f |J) t \o tn Ln \o ,.o \o Ln |/) \o \o rn Ln i-


$

N n (o (o \o Ln \o \o Ln \o Ln \o \o \o ro s
rt Ln Ln cq Ln i- \o Ln \o tn \o (o \o rn Ln d_

ro o !o \o \o |.r) (o \o \o \o @ (o \o \o I.') s
lt Ln Ln Ln Ln \r @ \o ro tn (o (o \o co Ln s-

to (o \o to ro [n \o \o to \o Ln ro (o \o (o lr) \o (o l.o cn Lo t
t \o ro |J) s Ln |f) \o |J) \r

$ ro \o (o \o Ln \o \o rn \o Ln ..o \o (o |.n $
sf tn |"r) r.o \o s- \o \o Ln lJ) Ln ro to co tJ) s

fYl Ln \o \o \o [n !o \o |.r) Ln \o Ln (o !o l.r) $ \o $ \o \o f r.o \o Ln $ i- \o \o rn Ln t


m d
x N [n Ln s- c') u-] $ tr) Ln l.r) cn Ln co s- \o s rJ) co |J) |J) Ln ao |J) s t co Ln |J) ra Ln rj-
C'l $
c
!{
rn |.r) \o c') Ln Ln [n Ln \o Ln \t Ln [n [n sr Lo Ln |J) Ln tn aa Ln \o $
o \t $ \o Ln rn Ln $
o
tr o Ln [n \O an Ln LO \O Ln \O Ln \]- Ln |.r) rn sf Ln $
E l <f rn rn Ln cO Ln \O d- t (O Ln CO Ln d-
c
LIJ o Inlnrn+r^r^Mr^lntA+tn r^GtntntnmtnrA+
o m , u, u, Cn (O Ln CO |.n t

E @
m \o |.') \o \o Ln \o \o \o \o to \o \o rn Lo Ln \o Ln ro ro Ln ro \o tJ) $ $ \o Ln an Ln Ln
tr N
G s Ln $ \o $ s- $ s- !- Ln Ln Ln s- !- n- \r c"1 \o v \i- \o Ln Ln d- t \o Ln co s- s
ct Fl
(u
ro s- rJ) .o (o \|
o m cn $ \r .o d- Ln v n- $ <- $ s- Ln to sf (o Ln Ln \r sr Lo tJ) co $ sJ-
c
q,
o. u) (fl ro ro \o \o \o \o \o \o .a $- \o (o \o an c\ \o r.1 \o \o \tr- \o (o ro aa ro \o \o cn ao \o

$ \o sf Ln (o [n d- \tr" |.r) ro \o <- !- s1- tf) sr (o $


m $ s d- lo !o lJ) s- s- (o d- ar) \| $

ff)
a't \| Ln \o s- s {- s- s- \o $ Ln $ rn co $ $ tJ) $ cn (o lJ) $ cn co \o $ rq ao sr
ff|

e.l t $ |.r) \o tr) Ln \1. $ Ln Ln s Ln $ (o |.n \o $


rt $ s- $ v lo s1- $ v ro s-.o s- sr

r.l \r [n ca s- cq ln
fn $ N N : s- Ln $ s- (.a cr] N N Ln N cn \o $ N N Ln -.r ca N (-

o d i fr d il i d i i * il d : t H Cr-) il : : r--l ; d 1i !--l d d : : d i


tfl

ol N Cq S- .q co s N f * co cn s$- c'-) s ao $
N N N r,1 .-r N c,t .-r cn an r-{ s an N N

Ln s- !- s- Ln Ln s Ln rn \r Ln $ s- tn $ |.n $ $ Ln \1. |.') rn s- !- t_o (o s L


N d- s

N ro v s \i- |.n l.r) !- |.r) l.r) Ln Ln Ln !-


N Ln $ LO |.r) Ln to $ Ln Ln |-l.) v Ln (o $ tJ) t $

rO Ln $ v s tr1 Ln !- |.r) \o v Ln \J- d- Ln \3- rn Ln Ln Ln $


N Ln Lo Ln d- d- Lr) \tr. tn $ \r

u) f1 i- s- (o \o $ \o \o \o d- \o \o (o \o (-q u) rn \o \o N (o \o c4 $
N $ @ n- |J) to (o

$ s- $ a.) i- Lo ar) s- Ln (o s- lo t/) (o \o s- (o N


N \o \o co $ N c,1 Ln \o ro \tr- co c4 \o

o I n ai ql $ l.n \o N go o) o ; N ca sf t.r) \o Fr @ o o -{ N cn \tr- Ln ro N @ ol


o l-- l\ lt\ N lt. N t. t\ tt\ N @ @ CO CO OO CO CO OO 0O OO Or Or Oi O, d Cl, O, b., O\ 6
d

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran8 : TabulasiData2
TABULASIDATAHASILKUESIONER

1 3,977 4 1Q)
4,L29 3,000
2 ? 7qn 4,000 3,742 2,000
3,750 4,000 ? t-74 2,000
4 4 Q?? 4 )7? 4,065 4,000
5 3,9r7 4 1R) 4,161 3,000
6 3,750 4,000 3,806 2,000
7 3,9r7 4 1R) 4,167 3,000
R
3,727 3,806 2,000
9 3,727 ? R?q 2,000
10 4,000 4 )-7? 4,I94 3,000
11 4,583 4 ?64 4 q?c 6,000
72 4,583 5,000 6,000
IJ 3,833 3,727 3,839 2,000
I4 4 nR? 4,273 4,226 3,000
If 3,917 2,727 3,935 2,000
10 4,083 4,273 4,290 3,000
L7 3,917 3,727 3,968 2,000
1B 3,977 3,727 3,968 2,000
19 4,583 4,364 5,065 6,000
20 4,000 3,727 3,968 2,000
21 4,000 3,818 4,000 2,000
22 4,083 4 )-7? 4 n?) 2,000
23 4,167, 4 )t? 4,032 2,000
24 4,167 4,000 4,032 2,000
25 4,833 4 )7? 4,16r 4,000
26 4,167 4,000 4,065 2,000
27 4,167 ? qno 4 nq7 2,000
28 4,167 ? ono 4,097 2,000
29 4 R?? 4,273 4,794 4,000
30 4,167 3,909 4,r29 2,000
31 4 1Rl ? qnq 4 thl
2,000
32 4,167 ? qnq 4,323 2,000
33 4,083 4,273 4 )An 3,000
34 4,767 3,818 4,323 2,000
35 4,083 4 )-7? 4,323 3,000
36 4,167 3,818 4,323 3,000
37 4,250 3,818 4,323 3,000
3B 4 )\O 4,323 3,000
39 4 417
4,258 4,000
40 4,250 ? R1R 4 ?)? 2,000
47 4,250 3,818 4 ?qq 2,000
42 4,250 4,636 a ?qq 3,000
43 4,333 4 ?64 4 ?qq 2,000
44 4,333 4,273 4 41o 2,000
45 4 )Ci 4,636 4,355 3,000
46 3,667 4,I82 3,r29 1,000
47 4,417 4,545 4,677 5,000
4B 4 01-7 4,273 4,258 4,000

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran8 (lanjutan)
Penyelenggaraan CaraPenggunaan
PenerapanVE Efektivitas
No Resp Infrastruktrrr Anooaran
x1 x2 x3 Y
49 3,417 4,t82 4 41q 2,000
50 3,583 4,182 4,4r9 2,000
51 4,417 4,545 4,677 5,000
52 4 no1 4,258 4,000
53 4,250 4,636 4,387 4,000
54 3,667 4 nq1 4,419 2,000
55 3,667 4 nq1 4,484 2,000
56 4 ??? 4,273 4,355 3,000
57 4,4I7 4,091 4,452 3,000
5B 4,4r7 4 nq1 4 4R4 3,000
59 4,417 4 nq1 4,484 3,000
60 4 )\O 4 ?R4 4,452 4,000
61 4,333 4 )7? 4 4\) 4,000
62 4,417 4 nq1 4,484 3,000
63 4,417 4'11i 5,000
64 3,750 4,000 4,484 2,000
65 5,000 5,161 6,000
66 3,750 4,000 4,516 2,000
67 4 41'7 4,000 4,516 3,000
6B 3,833 3,636 4,548 2,000
69 4,333 4,273 4,484 4,000
70 ? R?? 3,636 4 \4R 2,000
77 4,I82 4,548 4,000
72 4,417 4 \4\ 4,742 5,000
73 4,333 4,I82 4,58r 4,000
74 4,333 4 1R') 4,581 4,000
75 4,4I7 4,000 3,000
76 4 ??? 4 lR) 4 qR1 4,000
77 4,4r7 4 \4\ 4,806 5,000
7B 4,477 4 \4\ 4 R?q 5,000
79 4,4I7 4,636 4,516 3,000
BO 4,333 4 1R) 4 6'1? 4,000
B1 4,583 4 4q\ 4 qo? 5,000
82 4,417 4 \4\ 4,548 3,000
B3 4,500 4 \4R 3,000
B4 4 5R? 4 4\\ 3,7t0 3,000
B5 3,833 4 qR1 2,000
B6 4,583 4,455 3,742 3,000
87 4 5R? 4 4qq 4,903 5,000
BB 3,833 4 71n 2,000
B9 4,667 4 164 3,742 3,000
90 < x<<
4,903 2,000
91 3,917 4 1R) 4,935 2,000
92 4 nq1 4,613 4,000
93 4,667 4 ?64 4,000 3,000
94 4 ?64 4,000 3,000
95 4 nql q 7qR
6,000
96 4,333 4 no1 4,613 4,000
97 3,667 4 na1 3,r94 1,000
9B 3,9r7 4,182 4,065 2,000
99 4,750 4 ?6,4 4,000 3,000

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


D E S C R I P T I V E SV A R I A B L E S = X 1X 2 X 3 Y
/ S T A T I S T I C S = M E A N S T D D E VM I N M A X .

Descriptives

I D a t a S e t 0]

DescriptiveStatistics

N Mrnimum Maximum Mean S t d .D e v i a t i o n


X1 99 3.42 5.17 4.2349 .35700
x2 99 2.73 4.64 4 1369 30668
X3 99 3 . 13 5.26 4.3340 .37610
Y 99 1.00 O.UU 3.0606 1. 19 3 6 8
ValidN (listwise) 99

REGRESSION
/MISSING LIS.IWISE
/STATISTICS C O E L T FO
' UT'S R ANOVA COLLIN TOL
/CRITERIA:PIN(.05) P O U T( . 1 0 )
/NOORIGIN
/DEPENDENT Y
/ M E T H O D _ - E N T ' i i RX I X,] X-I
/ S C A T T E R P L O '. f. ( * Z l ' l t E D , * S I l E S l r D )
/ R E S T D U A L S D U r t B rN f i l S ' I '1, Z 1 1 U , S r D )N O r i M( Z R E S T D ) .

Regression

I DataSet0 ]

Variables Entered/Removed

Variables Variables
l\/odel Entered Removed Method
1 X 3 ,X 2 ,X ? Enter
variablee
a.Allrequested s ntered

M o d e lS u m m a r y b

AdlustedR Std. Errorof Durbin-


Model R R Souare Snrraro the Estimate Watson
1 865a 748 .740 60905 2.176
a . P r e d i c t o r s( C
: o n s t a n tX
) ,3 X 2 X 1
b . D e p e n d e nVt a r i a b l eY

PageI

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


ANOVAb

S u mo f
Moclel Squares df M e a nS o u a r e F Siq
1 Regression 104 396 J 34.799 93.8'11 .000a
Residual 35.240 95 .371
Total 1 3 96 3 6 98
a P r e d i c t o r s( C o n s t a n t X
) ,3 , X 2 X l
b . D e p e n d e nVta r i a b l eY:

Coefficientsa

Standardized
U n s t a n d a r d i z eCdo e f f i c i e n t s Coefficients
Model B S t d .E r r o r Beta Sio
1 (Constant) 13.397 1.Q24 -13.077 .000
X1 1 504 .202 .450 7.438 .000
x2 .925 .228 .zJd 4.061 .000
X3 1.445 .174 .455 6.322 .000
a D e p e n d e nVt a r i a b l eY.

Coefficientsa

C o l l i n e a r i tSvt a t i s t i c s
[\llodel Tolerance VIF
1X1 727 1 376
x2 776 1.289
X3 .887 1.127
a . D e p e n d e nVt a r i a b l eY:

C o l l i n e a r i t yD i a g n o s t i c g

VarianceProportions
Condition
Model Dimension Eiqenvalue Index (Constant) X1 x2 X3
1 3 988 '1.000 .00 00 00 .00
2 005 26.987 .00 12 .81
3 004 33.172 .20 85 .21 .02
A
002 40.379 .80 03 .64 .17
a . D e p e n d e nVt a r i a b l eY

R e s i d u a l sS t a t i s t i c s a

Minimum Maximum Mean S t d .D e v i a t i o n N


P r e d i c t eV
d alue 5069 5 6288 3 0606 1 03212 99
S t d .P r e d i c t e V
d alue -2 474 2.488 .000 1.000 99
S t a n d a r dE r r o ro f 067 304 .115 .041 99
P r e d i c t eV
d alue
AdjustedPredictedValue .2723 5.5758 3.0552 1 04287 99
Residual 1 49305 1.33726 .00000 59966 99
S t d .R e s i d u a l -2.451 2.196 000 .985 oo
S t u d .R e s i d u a l -2.530 2.459 .004 1. 0 1 0 99
a , D e p e n d e nVt a r i a b l eY:

Page2

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


ResidualsStatisticsa

Minimum Maximum Mean Sld l-)pvialion N


D e l e t e dR e s i d u a l 1.59081 1.72774 .00540 .63172 99
S t u d .D e l e t e dR e s i d u a l -2.606 2.528 .003 1.020 99
MahalD
. istance 207 23.383 2.970 J.ZO I 99
Cook'sDistance 000 500 .014 051 99
C e n t e r e dL e v e r a g eV a l u e 002 .239 030 .033 oo
a DenendenV
t a r r a b l eY
.

Charts

Histogram

D ependent
Var iable:Y

M e a n= 1. 4 8 E - 1 4
Std.Dev.=0.985
N =99

o
-
o

l!

-2-1012

Regression Standardized Residual

Dacp ?

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


N o r m a lP -P P l o t o f R e g re ssionStandar dized
Residual

D e p e n d e n tV a riable:Y

0
.o
o
(L
E0
o
1l
q)
OU
o)
CL
x
IrJ

a4 06
ObservedCum Prob

Page4

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Scatterplot

Var iable:Y
D e pendent

0) oo
.9
c) o
(L ac atc
o
o
o OC
.N @eE^ qe,
E0)
"n
(!: "%
EO ^.r-tl]')
a @ o
c> *%@
o oc
a (Jn
C, "oo
.9
a %
Q
o
o) @
o
v.
-1 01

RegressionStudentizedResidual

N P A RT E S T S
/ x - s ( N o n M q1I - ; ' 1 i x 2 x 3
/ M I S S I N G A I \ I \ L , Y S I : J.

NParTests
I D a t a S e t O]

One-SampleKolmogorov-Smirnov Test

X1 x2 X3 Y
N 99 99 99 99
l a r a m e t e ras , b
N o r m aP Mean 4 2349 4 . 13 6 9 4.3340 3.0606
S t d .D e v i a t i o n .35700 .30668 .37610 1. 19 3 6 8
MostExtremeDifferences Absolute 103 .124 .074 .217
Positive 103 .076 .067 .217
Negative -.073 -.124 - 074 -.167

K o l m o g o r o v - S m i r nZo v 1.024 1.235 .738 2.161


Asymp Sig (2-tailed) .245 .095 .o+ I .000

a T e s td i s t r i b u t i oi n
s Normal
o C a l c u l a t efdr o md a t a .

Page5

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


CORRELA'IIONS
/VARIABLES XT Y
/PRINT=TWC]TAIL NOSIG
/M]SSING-PATRWISI.].

Correlations

IDataSetO]

Correlations

X1 Y
X1 P e a r s o rC
- ro r r e l a t i o n 1 .710..
Srg (2-tailed) .000
N 99 99
Y P e a r s o nC o r r e l a t i o n .710"" 1
S i g .( 2 - t a i t e d ) .000
N 99 99
* * C o r r e l a t i oins
s i g n i f i c a natt t h e 0 . 0 1l e v e l( 2 -
tailed)

C O R R E L AITO N S
/VARIABLES..Y X2
/ P R I N T - T W O T ' A I ]N
, OSIG
/MI SS ING- P1\.I..[JI:]E .

Correlations

IDataSet-0]

Correlations

Y x2
Y P e a r s o nC o r r e l a t i o n 1 .c4 |
Sig (2-tailed) .000
N 99 99
X2 P e a r s o nC o r r e l a t i o n 547"" 1
Sig (2-tailed) .000
N 99 99
* * C o r r e l a t i oins
s i g n i f i c a natt t h e 0 . 0 1l e v e l( 2 -
tailed)

CORRELA'I'ION:]
/ V A R . A B L E : J. \ X 3
/ P F . l l J T = T W ' J T. iL l ' l r . rISG
/Mr ss rNG- L,l\i li.t^i !lu .

Gorrelations

Page6

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


I D a t a S e t O]

Correlations

Y X3
Y P e a r s o nC o r r e l a t i o n 1 .o3c
S i g .( 2 - t a i l e d ) .000
N 99 99
X3 PearsonCorrelation .occ 1
Sig (2-tailed) 000
N 99 99
* * .C o r r e l a t i o n
i s s i g n i f i c a natt t h e O O 1I e v e l( 2 -
tailed)

CORRELATIONS
/VARIABLES:'r' X3 X1 X2
/ P R I N T : T W O T ' / \II N O S I G
/ur s s rNc:pALlr.\/Jr
sE.

Gorrelations

I D a t a S e t O]

Correlations

Y X3 X1 x2
Y P e a r s o nC o r r e l a t i o n 1 .ocJ .710.. RAa--

S i g .( 2 - t a i t e d ) 000 000 .000


N 99 99 99 99
X3 P e a r s o nC o r r e l a t i o n 655-- 1 .JZ6 .218-
Sig (2-tailed) 000 .001 .030
N 99 99 99 99
X1 P e a r s o nC o r r e l a t i o n 710-" .328-', 1 .468..
S i g .( 2 { a i l e d ) .000 .001 .000
N 99 99 99 99
X2 PearsonCorrelation 547.. 218' 468'" 1
Sig (2-tailed) 000 .030 .000
N 99 99 99 99
* * . C o r r e l a t i oins
s i g n i f i c a natt t h e 0 . 0 1l e v e l( 2 - t a i l e d ) .
* . C o r r e l a t i oins
s i g n i f i c a natt t h e 0 . 0 5l e v e l( 2 - t a i l e d ) .

S A V E O U T FI L E - ' L : \ i K L - L I r a hM T t J I \ S e m e s t e r I V \ T E S I S \ 2 - E d t s i - 2 1 0 6 2 0 0 9 \ A p p e n d i c e
s \ D a t a S P S S .s . r , . ' '
/COP1PRESSED.

Page7

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran 10 : Kuesioner Validasi
Pakar atas Faktor
Dominan

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM


PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR
BIDANG KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

KUESIONER
PENDAPAT AHLI
(EXPERT SYSTEM)
ATAS FAKTOR DOMINAN

V. UNTORO KURNIAWAN
NPM 0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK
2009

1
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 10 (lanjutan)

KUESIONER
PENDAPAT AHLI UNTUK MEMPEROLEH PERINGKAT MENGENAI FAKTOR-
FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI KESIAPAN PENGGUNA JASA
DALAM PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM PENYELENGGARAAN
INFRASTRUKTUR DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

Pada survei yang telah dilaksanakan sebelumnya, peneliti/penulis telah


mendistribusikan sejumlah form kuesioner untuk dilakukan pengisian oleh
para pengguna jasa, dalam hal ini Kepala Balai, Kepala Satker, dan PPK,
baik di bidang Cipta Karya, Bina Marga, maupun Sumber Daya Air. Dalam
pelaksanaannya, responden-responden tersebut dikelompokkan menjadi 6
(enam) kelompok, yaitu:
1. Bidang Cipta Karya Wilayah Barat (kode : CKB)
Terdiri dari satker bidang cipta karya di wilayah Sumatera dan Jawa
2. Bidang Cipta Karya Wilayah Timur (kode : CKT)
Terdiri dari satker bidang cipta karya di wilayah Kalimantan, Sulawesi,
Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua
3. Bidang Sumber Daya Air Wilayah Barat (kode : SAB)
Terdiri dari kepala balai/satker bidang sumber daya air di wilayah
Sumatera dan Jawa
4. Bidang Sumber Daya Air Wilayah Timur (kode : SAT)
Terdiri dari kepala balai/satker bidang sumber daya air di wilayah
Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua
5. Bidang Bina Marga Wilayah Barat (kode : BMB)
Terdiri dari kepala balai/satker bidang bina marga di wilayah Sumatera
dan Jawa
6. Bidang Bina Marga Wilayah Timur (kode : BMT)
Terdiri dari kepala balai/satker bidang bina marga di wilayah
Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Adapun kuesioner yang dikembalikan kepada peneliti adalah sejumlah 99


(sembilan puluh sembilan) buah, dengan rincian:
Jumlah Sampel (syarat min) Kuesioner Kembali
Kode
Populasi Jumlah % Jumlah %
CKB 63 24 38% 38 60%
CKT 68 25 37% 31 46%
SAB 18 7 39% 11 61%
SAT 13 5 38% 9 69%
BMB 5 2 40% 5 100%
BMT 5 2 40% 5 100%

Berdasarkan hasil pengisian kuesioner dari para responden tersebut,


diperoleh kesimpulan antara lain bahwa beberapa faktor yang

2
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 10 (lanjutan)
mempengaruhi kesiapan pengguna jasa di lingkungan Departemen PU
dalam penerapan value engineering adalah sebagai berikut:

Jumlah personil dengan tingkat pendidikan minimal S1 bidang Teknik


Komposisi personil ditinjau dari disiplin ilmu (pemenuhan terhadap
disiplin ilmu ASMET arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata
lingkungan)
Jumlah personil yang telah mengikuti pelatihan VE dan bersertifikat VE
dari asosiasi profesi ahli value engineering (HAVEI, SAVEI, dsb)
Pemahaman terhadap teknik penggunaan VE dan manajemen VE
Regulasi/peraturan untuk penerapan VE

Dari kelima faktor di atas, diperlukan suatu pemeringkatan untuk


memeroleh faktor yang paling dominan yang mempengaruhi penerapan
VE di lingkungan Departemen PU dengan menggunakan metode
pendapat pakar (expert system) dengan instrumen kuesioner.

Dengan demikian mohon bantuan Bapak/Ibu dapat meluangkan waktu


untuk mengisi kuesioner, dengan memberikan penilaian terhadap masing-
masing faktor sebagaimana mengikuti form kuesioner.
Apabila Bapak/Ibu memiliki pertanyaan mengenai survei ini, dapat
menghubungi:
1. Peneliti : V. Untoro Kurniawan
HP: 08174832419 atau e-mail
v_untoro@yahoo.com
2. Pembimbing : DR. Ir. YUSUF LATIEF, MT
HP: 0812809919 atau e-mail latief73@eng.ui.ac.id
Ir. BAKUH NINDYO SURIPNO, Dipl. HE
HP: 0811265764

Jakarta, April 2009

Hormat saya,

V. UNTORO KURNIAWAN

3
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 10 (lanjutan)

PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER:


a. Faktor-faktor yang memengaruhi penerapan value engineering di lingkungan
Departemen Pekerjaan Umum (hasil kuesioner) adalah:
Jumlah personil dengan tingkat pendidikan minimal S1 bidang Teknik,
selanjutnya disebut PENDIDIKAN
Komposisi personil ditinjau dari disiplin ilmu (pemenuhan terhadap disiplin
ilmu ASMET arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan),
selanjutnya disebut KOMPOSISI PERSONIL
Jumlah personil yang telah mengikuti pelatihan VE dan bersertifikat VE
dari asosiasi profesi ahli value engineering (HAVEI, SAVEI, dsb),
selanjutnya disebut PELATIHAN DAN SERTIFIKASI VE
Pemahaman terhadap teknik penggunaan VE dan manajemen VE,
selanjutnya disebut PEMAHAMAN TERHADAP VE
Regulasi/peraturan untuk penerapan VE, selanjutnya disebut REGULASI
b. Mohon responden mengisi data responden sebagaimana mestinya
c. Mohon memberikan penilaian terhadap masing-masing faktor dalam kotak
yang tersedia di samping masing-masing faktor, dengan kriteria:
Nilai 3, apabila salah satu faktor dinilai sangat penting dibanding faktor
lainnya
Nilai 2, apabila salah satu faktor dinilai penting dibanding faktor lainnya
Nilai 1, apabila salah satu faktor dinilai kurang penting dibanding faktor
lainnya
d. Mohon komentar berupa alasan/pertimbangan masing-masing penilaian
seperti pada huruf c di atas pada kotak nomor pertanyaan/pernyataan yang
bersangkutan, atau pada halaman terakhir kuesioner ini.
e. Contoh :

PENDIDIKAN 1 vs 3 REGULASI

Komentar : regulasi dinilai lebih penting daripada pendidikan, karena tanpa regulasi yang jelas, penerapan
VE tidak dapat berjalan dengan baik, walaupun ditunjang dengan personil yang memiliki tingkat
pendidikan yang sesuai

Apabila responden menyatakan bahwa faktor REGULASI dinilai lebih


penting daripada faktor PENDIDIKAN, dengan selisih penilaian yang besar,
yaitu nilai 1 untuk pendidikan dan nilai 3 untuk regulasi

PELATIHAN & SERTIFIKASI VE 3 vs 2 PEMAHAMAN THD VE

Komentar : pelatihan & sertifikasi VE dinilai lebih penting daripada pemahaman thd VE, karena tanpa dengan
mengikuti pelatihan & memiliki sertifikat VE maka dengan sendirinya akan memahami tentang VE

Apabila responden menyatakan bahwa faktor PELATIHAN & SERTIFIKASI


VE dinilai lebih penting daripada faktor PEMAHAMAN THD VE, dengan

4
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 10 (lanjutan)
selisih penilaian yang tidak terlalu besar, yaitu nilai 3 untuk pelatihan &
sertifikasi VE dan nilai 2 untuk pemahaman thd VE

5
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 10 (lanjutan)
BAGIAN I DATA PAKAR/RESPONDEN
1. Nama Pakar/Responden :

...
2. Jabatan Sekarang :

...
3. Jabatan sebelumnya : Eselon I / II / III / Pimpro / Kasatker / PPK /
Auditor / lainnnya

..
4. Pengalaman Kerja : tahun
5. Spesialisasi : keairan / jalan dan jembatan /
keciptakaryaan / penataan ruang / lainnya
... *)
6. Pendidikan Terakhir : SLTA / D3 / S1 / S2 / S3 *)
7. No. Telepon & HP :

...
8. E-mail :

...

Jakarta, .. 2009
Responden,
**)

(
)
*) lingkari yang sesuai
**) tanda tangan dan nama responden

6
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
BAGIAN II KUESIONER
Mohon diberikan penilaian atas faktor-faktor yang memengaruhi penerapan value
engineering di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum sesuai dengan petunjuk
pengisian di atas.

1
PENDIDIKAN vs KOMPOSISI PERSONIL

Komentar :

2
PENDIDIKAN vs PELATIHAN & SERTIFIKASI VE

Komentar :

3
PENDIDIKAN vs PEMAHAMAN THD VE

Komentar :

4
PENDIDIKAN vs REGULASI

Komentar :

5
5.
KOMPOSISI PERSONIL vs PELATIHAN & SERTIFIKASI VE

Komentar :

7
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 10 (lanjutan)

6
KOMPOSISI PERSONIL vs PEMAHAMAN THD VE

Komentar :

7
KOMPOSISI PERSONIL vs REGULASI VE

Komentar :

8
PELATIHAN & SERTIFIKASI VE vs PEMAHAMAN THD VE

Komentar :

9
PELATIHAN & SERTIFIKASI VE vs REGULASI VE

Komentar :

10
PEMAHAMAN THD VE vs REGULASI VE

Komentar :

8
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 10 (lanjutan)

BAGIAN III
KOMENTAR/CATATAN RESPONDEN:
(apabila space tidak mencukupi, dapat dituliskan pada lembar tersendiri)

, April 2009

Responden,

(
)

9
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
LarnpiranI I : AnalisisValidasiPakaratas
IraktorL)onrinan
V A L I D A SPIA I ( A R
A T A SF A K T O D
RO M I N A N

KODESINGKATAN URAIAN
A PENDIDIKAN J U M L A HP E R S O NDI LN GT I N G K APTE N D I D I K AMNI N 5 1 B I D A N G
TEKNIK
B KOMPOSISI K O M P O S IPSEI R S O NDI LI T I N J ADUA R D
I ISIPLIN L M U( A S M E T )
C PELATIHAN MENGIKUP T IE L A T I H AVN
ED A NM E M I L I KSIE R T I F I KVAET
D PEMAHAMAN P E M A H A M ATNH DT E K N I D K A NM A N A J E M EVNE
E REGULASI R E G U L A S I / P E R A T UU RN
ATNU KP E N E R A P AVNE

WIN 2
DRAW 1
LOSS O

1 Jabatan : A U D T T OARH L IM A D Y A
Pendidikan : SI TEKN|S KtPtL
Pengalaman : 2 0T A H U N

HASIL
KUESIONER PENILAIAN
A-B= J-Z

A-C= KODE M M S K HASIT NILAI


A-D= A 4 2 0 2 l0 10
A-E= 2-3 B 4 0 0 4 8 L2 0
F,a
L 4 3 0 1 9 9 6
R-n-
D 4 1 0 3 9 11 2
2-3 E 4 4 0 0 12 8 8
J-Z

T
2-3 RANK KODE FAKTOR NILAI
E REGULASI 8
2 C PELATIHAN 6
3 PENDIDIKAN 4
4 D PEMAHAMAN 2
5 B KOMPOSISI 0

2 labatan : N A R A S U M B ETRT J E/NB I D A N GC t p T AK A R Y A


Pendidikan : 5 1 T E K N TSKI P t L
Pengalaman : 2 5T A H U N

H A S I LK U E S I O N E R PENILAIAN
A-B= 2-3
A-C= f 1
KODE M M S K HASIL NILAI
A-D= A 4 2 0 2 10 9 4
A-E= 2-3 B 4 0 3 8 1t 2
1-3 c 4 0 3 9 10 2
2-3 D 4 2 0 2 9 10 4
2-3 E 4 4 0 0 L2 8 8
an
23
AR:
2-3 RANK KODE FAKTOR NILAI
1 E REGULASI 8
2 PENDIDIKAN 4
3 D PEMAHAMAN 4
4 C PELATIHAN 2
5 B KOMPOSISI 2

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


I I (lanjutan)
[-anrpiran

3 iabatan : NARASUMBE TR T J E/NB T D A NB


GN A M A R G A
Pendidikan : 5 2T E K N IS
Kt p t L
Pengalaman : 2 7T A H U N

HASIL
KUESIONER PENILAIAN
A-B=1-2
A-C=2-3 KODE M M S K HASIL NILAI
A-D=1.-2 A 4 0 0 4 5 10 0
A-E:1,-3 B 4 0 3 6 9 2
b-L=1-2 c 4 3 0 10 8 6
B-D=2-3 D 4 2 0 2 9 9 4
B-E=1-3 E 4 4 0 0 I2 6 8
CD=3-2
C-E=2-3
u-t=2-3

4 Jabatan : NARASUMBE TR T J E/NB T D A NBCN A M A R G A


Pendidikan : 5 2 T E K N TSKI P I L
Pengalaman : 30TAHUN

H A S I LK U E S I O N E R PENILAIAN
A-B=3-2
AC2-3 KODE M M S K HASIL NILAI
A-D=2-3 A t 0 3 9 1-1, 2
A-E:2-3 B 4 0 0 4 8 t2 0
4 4 0 0 12 8 8
B-D=2-3 D 4 3 0 1 11 9 6
B-L:2-3 E 4 2 0 2 10-10 4
CD=32
C-E:3-2
U-c=3-2 RANK KODE FAKTOR NILAI
1 C ELATIHAN 8
2 D EMAHAMAN 6
3 E EGULASI 4
4 PENDIDIKAN 2
5 B KOMPOSISI 0

5 Jabatan : NARASUMBE I TRI E N/ B I D A N C


SUMBED
R A Y AA I R
Pendidikan : 5 2 T E K N TSKt p t L
Pengalaman : 2 5T A H U N

HASIK
L UESIONER PENILAIAN
A-B=3-1
A-C=2-3 KODE M M s K HASIL NILAI
A-D:2-3 A 4 1 0 3 9 10 2
A-L=2-3 B 4 0 0 4 5 11 0
B-C=1-2 c 4 3 0 I 10 7 6
B-D=2-3 D 4 2 0 2 8 10 4
B-E_-1-3 E 4 4 0 0 12 6 8
L-D=J1
!-r=z-3 AN
D-E=1-3 RANK KODE FAKTOR NILAI
1 E REGULASI 8
2 c PELATIHAN 6
3 D PEMAHAMAN 4
4 PENDIDIKAN 2
5 B KOMPOSISI 0

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


z
U 1 N
j
@
N ,Yi ao s

= rn r-.)

N
o\
\o
o\
s >s>s
a\

I s O

s o\ ;s >s >R
$ N N c\

<ir

JV
<= s c! cn
1< ri LL c\ -l r-i

<<r c! rr) ri >s ON


\o
o\ >ss >s
N

sf c\ cn l-t- F cf)

\o
o\ N >s
:Z $ N co ri >s N
o\

a{ LN $ co FI - an .-l

\o >R >R>s
:Z
cn c\ s r-{ >s o\
N @

-
o
z z z
tlj
d.
z <z
z Z=<6
:z 9(n = at,
=
L!
o
o
I
- -)
J
z
LU
f
LL O r-l v
n?f3xF
r=Fd=a
I
6
z -
Lrl
o_ v
U
J
tlJ
o_ d.
(9
U
U
LL
x61===
_ U LIJ
zto-o-o-\z
t! LIJ \J

5 a^
f
J

t U
O
co
:friN.OSLn
ov>Z:z\zv
co U o tlJ d. co U o U 2zzzzz
:z
U
:Z F
2
;<<
Yl d i & * *

o :z

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Lampiran 12 : Kuesioner Validasi
Pakar untuk Studi Kasus

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM


PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR
BIDANG KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

KUESIONER
PENDAPAT AHLI
(EXPERT SYSTEM)
UNTUK STUDI KASUS VALUE ENGINEERING
Tahap I

V. UNTORO KURNIAWAN
NPM 0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK
2009

1
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 12 (lanjutan)
KUESIONER TAHAP I
PENDAPAT AHLI UNTUK MEMPEROLEH PEMBOBOTAN DAN PERINGKAT
KRITERIA PENILAIAN PEMILIHAN ALTERNATIF DESAIN SUATU BENDUNGAN

KASUS:
Pada desain suatu bendungan, yang fungsi utamanya adalah
diperuntukkan memenuhi kebutuhan irigasi areal persawahan di suatu
daerah, diperoleh gambar desain awal sebagai berikut:

Saluran
BAGIAN irigasi
HULU BAGIAN
HILIR

Saluran
pengelak

Terdapat saluran irigasi dan saluran pengelak (diversion tunnel)


Desain awal: saluran irigasi dibangun secara terpisah dengan saluran
pengelak
Desain alternatif :
- Saluran irigasi dibangun menjadi satu dengan saluran pengelak,
mulai dari hulu sampai ke hilir bendungan
- Inlet saluran irigasi dibangun secara terpisah dan pada stationing
(jarak) tertentu dari hilir, dibangun crosscut untuk disatukan dengan
saluran pengelak
Peneliti akan melakukan studi terhadap desain-desain tersebut di atas
dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria yang sesuai dengan kondisi.
Hasil penetapan kriteria penilaian terdiri dari 8 (delapan) buah, yaitu:
a. Biaya konstruksi (construction cost)
b. Waktu pelaksanaan konstruksi (implementation time)
c. Debit saluran irigasi yang diharapkan
d. Luas layanan irigasi
e. Elevasi muka air
f. Penggunaan material konstruksi
g. Pemeliharaan saluran
h. Workability

2
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 12 (lanjutan)
Dengan demikian mohon bantuan Bapak/Ibu dapat meluangkan waktu
untuk mengisi kuesioner, dengan memberikan penilaian terhadap masing-
masing faktor sebagaimana mengikuti form kuesioner.
Apabila Bapak/Ibu memiliki pertanyaan mengenai survei ini, dapat
menghubungi:
1. Peneliti : V. Untoro Kurniawan
HP: 08174832419 atau e-mail
v_untoro@yahoo.com
2. Pembimbing : DR. Ir. YUSUF LATIEF, MT
HP: 0812809919 atau e-mail latief73@eng.ui.ac.id
Ir. BAKUH NINDYO SURIPNO, Dipl. HE
HP: 0811265764

Jakarta, Juni 2009

Hormat saya,

V. UNTORO KURNIAWAN

3
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 12 (lanjutan)

PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER

a. Kuesioner terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu Bagian I Data Responden, dan
Bagian II Penilaian Kriteria
b. Pada BAGIAN I, mohon responden mengisi data responden sebagaimana
mestinya
c. Pada BAGIAN II
Faktor-faktor yang dilakukan pemeringkatan terdiri dari 8 (delapan) buah,
yaitu:
No Faktor Kriteria Penilaian
1. Biaya konstruksi Semakin terdapat potensi penghematan
biaya konstruksi, maka diberikan penilaian
yang lebih tinggi
2. Waktu pelaksanaan Semakin cepat potensi waktu pelaksanaan,
konstruksi maka diberikan penilaian yang lebih tinggi
3. Debit saluran irigasi Semakin besar debit yang akan dihasilkan,
maka diberikan penilaian yang lebih tinggi
4. Luas layanan irigasi Semakin luas cakupan yang dilayani oleh
saluran irigasi, maka diberikan penilaian yang
lebih tinggi
5. Elevasi muka air Semakin tinggi elevasi muka air yang terjadi,
maka diberikan penilaian yang lebih tinggi
6. Penggunaan material Semakin terdapat potensi penghematan
konstruksi penggunaan material konstruksi, maka
diberikan penilaian yang lebih tinggi
7. Pemeliharaan saluran Semakin mudah pemeliharaannya, maka
diberikan penilaian yang lebih tinggi
8. Workability Semakin mudah cara pengerjaannya, maka
diberikan penilaian yang lebih tinggi
Mohon memberikan penilaian terhadap masing-masing faktor dalam kotak
yang tersedia di samping masing-masing faktor, dengan nilai dari 1 4,
tergantung mana yang dianggap lebih penting. Penilaian terhadap masing-
masing faktor diharapkan tidak terjadi kesamaan penilaian.
Contoh :

BIAYA KONSTRUKSI 4 vs 1 WAKTU PELAKSANAAN


Apabila responden menyatakan bahwa faktor BIAYA KONSTRUKSI dinilai
lebih penting daripada faktor WAKTU PELAKSANAAN, dengan selisih
penilaian yang besar, yaitu nilai 4 untuk biaya konstruksi dan nilai 1 untuk
waktu pelaksanaan.

BIAYA KONSTRUKSI 3 vs 3 WORKABILITY X


Mohon tidak diberikan penilaian yang sama antar faktor, diharapkan
tetap terdapat perbedaan, walaupun dengan selisih 1

4
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 12 (lanjutan)

BAGIAN I DATA PAKAR/RESPONDEN


1. Nama Pakar/Responden :

...
2. Jabatan Sekarang :

...
3. Jabatan sebelumnya : Eselon I / II / III / Pimpro / Kasatker / PPK /
Auditor / lainnnya

..
4. Pengalaman Kerja : tahun
5. Spesialisasi : keairan / jalan dan jembatan /
keciptakaryaan / penataan ruang / lainnya
... *)
6. Pendidikan Terakhir : SLTA / D3 / S1 / S2 / S3 *)
7. No. Telepon & HP :

...
8. E-mail :

...

Jakarta, .. 2009
Responden,
**)

(
)
*) lingkari yang sesuai

5
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 12 (lanjutan)
**) tanda tangan dan nama responden

6
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 12 (lanjutan)

BAGIAN II PENILAIAN ATAS KRITERIA


Mohon diberikan penilaian atas faktor-faktor sebagai kriteria penilaian untuk
melakukan pemeringkatan sesuai dengan petunjuk pengisian di atas, dengan nilai 1
4.

No. FAKTOR A NILAI vs NILAI FAKTOR B


1 Biaya konstruksi x Waktu pelaksanaan
2 Biaya konstruksi x Debit saluran irigasi
3 Biaya konstruksi x Luas layanan irigasi
4 Biaya konstruksi x Elevasi muka air
5 Biaya konstruksi x Penggunaan material
6 Biaya konstruksi x Pemeliharaan saluran
7 Biaya konstruksi x Workability
8 Waktu pelaksanaan x Debit saluran irigasi
9 Waktu pelaksanaan x Luas layanan irigasi
10 Waktu pelaksanaan x Elevasi muka air
11 Waktu pelaksanaan x Penggunaan material
12 Waktu pelaksanaan x Pemeliharaan saluran
13 Waktu pelaksanaan x Workability
14 Debit saluran irigasi x Luas layanan irigasi
15 Debit saluran irigasi x Elevasi muka air
16 Debit saluran irigasi x Penggunaan material
17 Debit saluran irigasi x Pemeliharaan saluran
18 Debit saluran irigasi x Workability
19 Luas layanan irigasi x Elevasi muka air
20 Luas layanan irigasi x Penggunaan material
21 Luas layanan irigasi x Pemeliharaan saluran
22 Luas layanan irigasi x Workability
23 Elevasi muka air x Penggunaan material
24 Elevasi muka air x Pemeliharaan saluran
25 Elevasi muka air x Workability
26 Penggunaan material x Pemeliharaan saluran
27 Penggunaan material x Workability
28 Pemeliharaan saluran x Workability
, Juni 2009

Responden,

7
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 12 (lanjutan)

(
)

8
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 13 : Kuesioner Validasi
Pakar untuk Studi Kasus
Tahap II

UNIVERSITAS INDONESIA

PENERAPAN VALUE ENGINEERING DALAM


PENYELENGGARAAN INFRASTRUKTUR
BIDANG KE-PU-AN DI LINGKUNGAN
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DALAM USAHA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS
PENGGUNAAN ANGGARAN

KUESIONER
PENDAPAT AHLI
(EXPERT SYSTEM)
UNTUK STUDI KASUS VALUE ENGINEERING
Tahap II

V. UNTORO KURNIAWAN
NPM 0706172651

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
KEKHUSUSAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DEPOK
2009

1
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 13 (lanjutan)

KUESIONER TAHAP II
PENDAPAT AHLI UNTUK MEMPEROLEH
PENILAIAN PEMILIHAN ALTERNATIF DESAIN SUATU BENDUNGAN

KASUS:
Pada desain suatu bendungan, yang fungsi utamanya adalah
diperuntukkan memenuhi kebutuhan irigasi areal persawahan di suatu
daerah, diperoleh gambar desain awal sebagai berikut:

Saluran
BAGIAN irigasi
HULU BAGIAN
HILIR

Saluran
pengelak

Terdapat saluran irigasi dan saluran pengelak (diversion tunnel)


Desain awal: saluran irigasi dibangun secara terpisah dengan saluran
pengelak
Desain alternatif :
- Saluran irigasi dibangun menjadi satu dengan saluran pengelak,
mulai dari hulu sampai ke hilir bendungan
- Inlet saluran irigasi dibangun secara terpisah dan pada stationing
(jarak) tertentu dari hilir, dibangun crosscut untuk disatukan dengan
saluran pengelak
Peneliti akan melakukan studi terhadap desain-desain tersebut di atas
dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria yang sesuai dengan kondisi.
Hasil penetapan kriteria penilaian terdiri dari 8 (delapan) buah, yaitu:
a. Biaya konstruksi (construction cost)
b. Waktu pelaksanaan konstruksi (implementation time)
c. Debit saluran irigasi yang diharapkan
d. Luas layanan irigasi
e. Elevasi muka air
f. Penggunaan material konstruksi
g. Pemeliharaan saluran
h. Workability

2
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 13 (lanjutan)

Dengan demikian mohon bantuan Bapak/Ibu dapat meluangkan waktu


untuk mengisi kuesioner, dengan memberikan penilaian terhadap masing-
masing faktor sebagaimana mengikuti form kuesioner.
Apabila Bapak/Ibu memiliki pertanyaan mengenai survei ini, dapat
menghubungi:
1. Peneliti : V. Untoro Kurniawan
HP: 08174832419 atau e-mail
v_untoro@yahoo.com
2. Pembimbing : DR. Ir. YUSUF LATIEF, MT
HP: 0812809919 atau e-mail latief73@eng.ui.ac.id
Ir. BAKUH NINDYO SURIPNO, Dipl. HE
HP: 0811265764

Jakarta, Juni 2009

Hormat saya,

V. UNTORO KURNIAWAN

3
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 13 (lanjutan)

PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER

a. Kuesioner terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu Bagian I Data Responden, dan
Bagian II Penilaian Desain Alternatif
b. Pada BAGIAN I, mohon responden mengisi data responden sebagaimana
mestinya
c. Pada BAGIAN II, mohon responden memberikan penilaian terhadap alternatif
desain berdasarkan 8 (delapan) kriteria sesuai dengan form yang tersedia.
Penilaian dengan skala 1 (jelek), 2 (cukup), 3 (baik), 4 (sangat baik), dan 5
(istimewa).

BAGIAN I DATA PAKAR/RESPONDEN


1. Nama Pakar/Responden :

...
2. Jabatan Sekarang :

...
3. Jabatan sebelumnya : Eselon I / II / III / Pimpro / Kasatker / PPK /
Auditor / lainnnya

..
4. Pengalaman Kerja : tahun
5. Spesialisasi : keairan / jalan dan jembatan /
keciptakaryaan / penataan ruang / lainnya
... *)
6. Pendidikan Terakhir : SLTA / D3 / S1 / S2 / S3 *)
7. No. Telepon & HP :

...
8. E-mail :

...

Jakarta, .. 2009

4
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 13 (lanjutan)
Responden,
**)

(
)
*) lingkari yang sesuai
**) tanda tangan dan nama responden

5
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
Lampiran 13 (lanjutan)

BAGIAN II : PENILAIAN ALTERNATIF DESAIN

ALTERNATIF DESAIN : A - Saluran irigasi dibangun secara terpisah dengan


saluran pengelak
B - Saluran irigasi dibangun menjadi satu dengan
saluran pengelak, mulai dari hulu sampai ke hilir
bendungan
C - Inlet saluran irigasi dibangun secara terpisah dan
pada stationing (jarak) tertentu dari hilir, dibangun
crosscut untuk disatukan dengan saluran pengelak

SKALA NILAI : 5 - ISTIMEWA / EXCELELENT


4 - SANGAT BAIK / VERY GOOD
3 - BAIK / GOOD
2 - CUKUP / FAIR
1 - JELEK / POOR

ALTERNATIF DESAIN
No. KRITERIA
A B C

1 Biaya Konstruksi

2 Waktu pelaksanaan

3 Debit saluran irigasi

4 Luas layanan irigasi

5 Elevasi muka air

6 Penggunaan material

7 Pemeliharaan saluran

8 Workability

, Juni 2009

Responden,

(
)

6
Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
t=]
t 6al l
I
lvl
+

Iz
r{ 6 N m d sl q) o
d

= N N o r o
z

N N N
I
= I I I -

t| =.lh l N N N N
| 6l {t (t (, (9
lrl
N N
4
u

N N
r
@ Q o

xl N

e.l o O
FI
<l
El
zl N N
Q
o l m
-l

<t
>l
ol
el
ul
(rl
=l
e,l .o IJ u 4 (,
<l
o-l

t ,--
^ ^ N d n d N m N N N N - - m N N i m i d N N n n * nl
I lll-
l; l=l I
I-
I lEloo o

_c_cq
co.- Ss .-o Er ; 3g Es :s e
z !P^p-or!o^to-o:co!o:o!l
-iE
!.99.90-tso .so.g!-|]c ?!-*E =; c
i::aj: ::aj: -aj: a;? 5: 2
N * F F { = n = F F { = t > r: = E =! = t = F F - F =.
s; 9; E F=* i; E Fi c; E F=; E F= E F= F==
F

r
t:;
gE g#ss;E ; EpFi; e sei $ $Pi FPi Pi +
4 $e*: ggss::#sF:#FF;e&:e::
r
o d O O u r (, - U O u L (, - O r u g) I u r (, I r C) I g) = -
Y

5
z
mNNNOOmN dN$$Smn$mSNtmm<mmNm9

>< X X >< >< >< >< >< X X X >< >< X X X >< X >< >< X X X X X X X X

= d $ $ $ <i' ri' <f, $ d s N N N N N i i N m dN N N d i < I N


z

H cccccc aaa666 66; eEE


z GGGGG@rcorcrc@@orc@OOf

F
s =- 9=-:9=-=9=- != -l ;23- { i ._rcroG6(rcmmmum@@UmPP=
E E E E E F ! ! -= = r= ; - e et ';
.: ! n b : :.:* * ! Y :o - o r c c 6 6 6 A A t).2 c c c
6 6 a t A rc o t : :- i' i- L (
r 6 o-I:.!
= = - = 6 - c c - - - o
E g E E = = aA - S
o o o rZ: 6 6 6<<
OOOOOOOCCLocd!-@o6
J J J J ; ; ; ; : r r r = 6 6 q q,j, q .t
C G=^=^; ; ^="E
GGcCccGlPm*=O

. c .cso . e . r c . o . s . ! S S S S E q e , s , ! - c E E E E E u" ' b cb ob


co o o m 6 65 5 5 5 5 5 O O O O O -a = =: uE d
U

:l
dNm$ 6@roO O O dd N m<f O@N OOd Nm $ nONco
<l
YI z idi+ddiiiNNNNNNNNN

<l
o.l Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
=
Y
('| g) N m st N

=
z
r
o N

I El
l'ol
| trl T
N N N N

| <l 6 - I I I

LJ N N
d (9 I (,
N

r
d m
u I I

U
d

(J u u I

5
z
NmmmdNN m idiNii JmiidmdNmdiNNN

I U

z
E$$=fr: $$ t5 n ti
3;;:>"; ::',:gE :igt
5: ti
gt i t
ist
N

E;g;9Ei;[Ege;F;gEiE gEiEe;!ii
F

u
gEEJF5!EEgtr5gEJi.5!Jtr5gtr555gg
du o u s (tI cJ o u r (, I o u 4 g) I u u (, I r (j) - g) I I
Y

J N d i i m NN d d d I N N N m $ m mcn s m s <i m co N N <1


=
>< x >< >< >< >< >< x x >< >< >< x x >< >< >< >< x >< >< x x x >< >< x x

= $$$ s s d <i' $ NN m$ mmN dNNN dNN dN NS $N


z

ccccqc;;6.q666AhE
z 6 c rc o rc o G G rc o
.-rcGQ@rcGUUMUL T^tr^tr^tr^s^ 9.19.1 f
F
Y ::::::: F F F fi F E:::::::::<==SS?
; . -' 2 2 2
r ;;; i t t: i i i i i; ! I I s s E e c o
. ow. og .SoZ Eo S6Z ;- ,:Y ;s E
g
r
E E ;>;q ;6 ;q q: ,;i
f, r
I qI ei i6 =
e ;;;
== E EE
:.i
* F F F * * **; *; ; ;*zz;;
66dd#dd
i iEE ftA n; * : * S F E
;;33333::ii###sss
u

.:l
-l
i N m q o $ 4 @ r o o i N m < n @ N o
<l z <- n @ N @ o d d dnd. d
' . i. 1
iiddNNNNNNNNN
YI
<l Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.
I

F^ O a
o tn fn
FX
Ln !n
zz FI ctl o)
r-l
=

n @ o O.
01
N
o; m_ @
N + I

r O O r O
N o- @
o j
oo- + co
N

4 o m m r r
oq (o
+ ^i tri
m
N di d
@ n
v
6

:- i:
r l-- m f,
@ @ @
o
N
d od di { d N OJ
bI o
q F c ci .D
OJ db
! o c oc
N c
c.J -, .o
N r r o
a_
?-_o-e_o_!o^o- o dl o c
=@NNN:@ N di r di o tri 6 :l c
d
G
x- l i
f

c rc 6O
(D
o
-d .:3
z. b.( c
g z c o
r r
>oN-op<s @
a @- @- g q) m
N -i
z. r di N.
T
o9^
U E
o u)
J
.::.
o.
6
a) .- 0J
- dl m
o n a
q)o
Y =@No-$o! N
dt
di N N o cQ
CL
0 bof
Eqr cbo
c c-
r m
f
bI bo; g
r @ r
@
f..
c -=
!o- .A ot o ot
.t
';t
'6
d d
-o
-orc roL
E-
'6,
\ @ e cL
E
A C

z z z
'- '- o ru

U n ! :! '-o
= e ^
: C A
l! S= J X X Z
!
X c
o.-Xdr<
ti o o.- oCoj
:< z z z J
z
-9F3;'EP3H' z z 2 = pQJbO

xl o e-
E = _ c l : ! 6C
9 ShE=)fiU5 -l
rl
9H+X:=e= <l )
- = ' - j 9 0 : Q
x=;aYPE-ts >l
sg3:#p&s zl o I o

o
z. -NOSAOT@ ol
UI

-oa ooo N OOO r N ts


o -io-+
o- !q O O O @
cl s- si
z.
a
(t,
U
g r ts ooo N aoo ooQ o
(I) -- o- o- OOO o^ o- o- o-qo- OOO @ o-
o ,j c.i
z. "i
t
U

a r r r
o_
O O O ooo o ooo F
o- o- OOO @- ooo o- o- o- o- o-
6_ N_ <j -; cic:i.- N

o o
-:= _-= -:=
aoG ooG N ooa o oGo oao ooG aoG o
AGG OGG 6 ooo oQo o ooo ooG 6 aoG o
o-o_tu E LLL o-o-L LLL E LLL E. LLO- LfuL d. o- o- o- d

U c
= o
'c
o
G
f,
:< o q)
a
f
.= G
6
E
o

c
o c o
o N
o
c -o f o
o
o
o i6 E c o
:a E
-a
f ! a G
p G o t
G
n
o o
o
o o
-: I
U o-
E
o
tu s
o
z

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


Form: C2
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITASINDONESIA

FORMULIR PEMANTAUAN PELAKSANAAN TESIS

1. NamaMahasiswa V. Untoro Kurniawan

2. NPM 0706172651

3. ProgramStudi/Kekhususan Teknik Sipil/ManajemenKonstruksi

4. Telp. Yang dapatdihubungi 08174832419

7. JudulTesis Penerapan Value Engineering pada Penyelenggaraan


Infrastruktur Bidang Ke-PU-an di Lingkungan
Departemen Pekerjaan Umum dalam Usaha
MeningkatkanEfektivitasPenggunaanAnggaran

6. Pembimbing1 DR. Ir. Yusuf Latief, MT

Pembimbing2 Ir. BakuhNindyo Suripno,Dipl HE

8. Waktu Pelaksanaan SemesterGanjil / Genap *) Tahun Akademik 200812009

Keterangan:
* Coret yang tidak perlu
* KepadaMahasiswayang sedangmengambilSeminaratauTesis,minimal harusmelaksanakan
8x (delapankali)
pertelnuandenganpembirnbing.

Formulir ini harus diserahkan ke Sekretariat(Dian) sebagaisyarat pendaftaran maju sidangSeminar

Catatan PertemuandenganPembimbing :

Paraf
Materi Yang Dibahas
Pembimbing
'?a+bail<i y.orgtag;aA
tztvdi hqsil gemin4r,
' Konlu
l{-asi kan a"q Ae It rne(h
- t-eagcapr Yts
s<ipl;ng f<nel) ti'aa

l.
?er6ai{ Rrtesione'r

troc..,*"\ $ vli C<h l.r*-

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.


No Tgl Paraf
Materi Yang Dibahas
Urut Pertemuan Pembimbing

0r d3 lt*r* Qf flt^! par A-n',.^r^


(
//-,'
U..r)1 .l;l^
u' I

l|-lyrry
t0J h hlr^r, lrrkQ .
06 tL tuaral 'cq VrgVtbvsi kttttVtutgioyr(-r W <"tl*etz sb'gi:--
t S/.(tnP I i hc1 . \,,,
t+ | an Sr)Suz<
pr2.4tot
lz| POrAen \
?a yfa6t go,rVtot b.trtgaartf a- l,

9b ttort) 'o9 Sarnbil m at urggd Kemba Ln ya \Kuere&o>=-


a7 9iapKttp Bab tV, v, z(st

tv )7 K*-t- /"1
o Anatigg 61o1.4l<ve9'ioner

ffi
(-."....--.-
o9 30Wi(coa9 o Sioptan Aan d.irtrikvri kan Vutsirr,-\
ylrl< parat ( pudoryt ahli
) \ 7//

r0 o / tael Loct<1
\/v'4-
o S'ia-pkan kzsirnVtllan \
ft 2 "lvn'i
)
zoa e La$UtL'An gtvh
't<-rtc/S
VE

I- rr 0-^ 'b^)^tg"l"q9=. / c.--.' /v


V*-r,^.
hA-=L A-91 A \/.- -/ z-
''l

tt
.^
i6 rf*
"/
7-\t *27 Iw1
'L t\ r\
./ -\r-i
/,1 f\^%'
U/
?rr 1

Penerapan value..., Vincentius Untoro Kurniawan, FT UI, 2009.