Anda di halaman 1dari 23

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pembahasan Arsitektur Perilaku

Arsitektur merupakan seni dan ilmu dalam merancang yang senantiasa

memperhatikan

tiga

hal

dalam

perancangannya

yaitu

fungsi,

estetika,

dan

teknologi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan yang semakin kompleks

maka perilaku manusia semakin diperhitungkan dalam proses perancangan yang

sering disebut sebagai pengkajian lingkungan perilaku dalam arsitektur.

2.1.1. Pengertian Behaviorisme (Perilaku)

Kata perilaku menunjukan manusia dalam aksinya, berkaitan dengan

aktivitas manusia secara fisik, berupa interaksi manusia dengan sesamanya

ataupun dengan lingkungan fisiknya (Tandal dan Egam, 2011).

Teori behaviorisme hanya menganalisa perilaku yang tampak , dapat

diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan

nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar

artinya perubahan perilaku manusia sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme

tidak

mempersoalkan

apakah

manusia

emosional;

behaviorisme

hanya

ingin

itu

baik

atau

jelek,

rasional

atau

mengetahui

bagaimana

perilakunya

dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih

menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk

reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan.

6

Universitas Sumatera Utara

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku manusia

dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

Perilaku tertutup, adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam , adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam

bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap

stimulus

ini

masih

terbatas

pada

perhatian, persepsi,

pengetahuan /

kesadaran, dan sikap yang terjadi belum bisa diamati secara jelas oleh

orang lain.

Perilaku terbuka, adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam , adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam

bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus

tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek.

2.1.2. Faktor yang mempengaruhi Behaviorisme ( Perilaku)

Perilaku manusia dan hubungannya dengan suatu setting fisik sebenarnya

tedapat keterkaitan yang erat dan pengaruh timbal balik diantara setting tersebut

dengan perilaku manusia. Dengan kata lain, apabila terdapat perubahan setting

yang disesuaikan dengan suatu kegiatan, maka akan ada imbas atau pengaruh

terhadap perilaku manusia. Variabel variabel yang berpengaruh terhadap

perilaku manusia (Setiawan, 1995), antara lain :

Ruang. Hal terpenting dari pengaruh ruang terhadap perilaku manusia Hal terpenting dari pengaruh ruang terhadap perilaku manusia

adalah fungsi dan pemakaian ruang tersebut. Perancangan fisik ruang

memiliki variable yang berpengaruh terhadap perilaku pemakainya.

7

Universitas Sumatera Utara

Ukuran dan bentuk. Ukuran dan bentuk ruang harus disesuaikan dengan Ukuran dan bentuk ruang harus disesuaikan dengan

fungsi yang akan diwadahi, ukuran yang terlalu besar atau kecil akan

mempengaruhi psikologis pemakainya.

Perabot dan penataannya. Bentuk penataan perabot harus disesuaikan Bentuk penataan perabot harus disesuaikan

dengan sifat dari kegiatan yang ada di ruang tersebut. Penataan yang

simetris memberi kesan kaku, dan resmi. Sedangkan penataan asimetris

lebih berkesan dinamis dan kurang resmi.

Warna. Warna memiliki peranan penting dalam mewujudkan suasana Warna memiliki peranan penting dalam mewujudkan suasana

ruang

dan

mendukuing

terwujudnya

perilaku-perilaku

tertentu.

Pada

ruang, pengaruh warna tidak hanya menimbulkan suasana panas atau

dingin, tetapi warna juga dapat mempengaruhi kualitas ruang tersebut.

Suara, Temperatur dan Pencahayaan. Suara diukur dengan decibel, Suara diukur dengan decibel,

akan

berpengaruh

buruk

bila

terlalu

keras.

Demikian

pula

dengan

temperatur

dan

pencahayaan

yang

dapat

mempengaruhi

psikologis

seseorang.

2.1.3. Behaviorisme dalam Kajian Arsitektur

Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah lepas dari lingkungan yang

membentuk diri mereka. Diantara sosial dan arsitektur dimana bangunan yang

didesain manusia, secara sadar atau tidak sadar, mempengaruhi pola perilaku

manusia yang hidup didalam arsitektur dan lingkungannya tersebut. Sebuah

arsitektur dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan sebaliknya, dari

arsitektur itulah muncul kebutuhan manusia yang baru kembali (Tandal dan

Egam, 2011).

8

Universitas Sumatera Utara

Arsitektur Membentuk Perilaku Manusia

Manusia membangun bangunan demi pemenuhan kebutuhan pengguna,

yang kemudian bangunan itu membentuk perilaku pengguna yang hidup dalam

bangunan tersebut dan mulai membatasi manusia untuk bergerak, berperilaku,

dan cara manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Hal ini menyangkut

kestabilan antara arsitektur dan sosial dimana keduanya hidup berdampingan

dalam keselarasan lingkungan.

Desain Arsitektur

berdampingan dalam keselarasan lingkungan. Desain Arsitektur Skema ini menjelaskan mengenai Perilaku Manusia

Skema

ini

menjelaskan

mengenai

Perilaku Manusia

“Arsitektur

membentuk

Perilaku

Manusia”, dimana hanya terjadi hubungan satu arah yaitu desain arsitektur yang

dibangun

mempengaruhi

perilaku

manusia

manusia dari desain arsitektur tersebut.

Perilaku Manusia membentuk Arsitektur

sehingga

membentuk

perilaku

Setelah perilaku manusia terbentuk akibat arsitektur yang telah dibuat,

manusia kembali membentuk arsitektur yang telah dibangun atas dasar perilaku

yang telah terbentuk, dan seterusnya.

Desain Arsitektur

atas dasar perilaku yang telah terbentuk, dan seterusnya. Desain Arsitektur Perilaku Manusia 9 Universitas Sumatera Utara

Perilaku Manusia

atas dasar perilaku yang telah terbentuk, dan seterusnya. Desain Arsitektur Perilaku Manusia 9 Universitas Sumatera Utara
atas dasar perilaku yang telah terbentuk, dan seterusnya. Desain Arsitektur Perilaku Manusia 9 Universitas Sumatera Utara

9

Universitas Sumatera Utara

Pada skema ini dijelaskan mengenai Perilaku Manusia membentuk

Arsitekturdimana desain arsitektur yang telah terbentuk mempengaruhi perilaku

manusia sebagai pengguna yang kemudian manusia mengkaji kembali desain

arsitektur

tersebut

sehingga

arsitektur yang baru.

perilaku

2.2. Pembahasan Ruang

Ruang merupakan

salah

satu

manusia

komponen

membentuk

arsitektur

kembali

desain

terpenting dalam

pembahasan studi hubungan arsitektur lingkungan dan perilaku dikarenakan

fungsinya adalah sebagai wadah untuk menampung aktivitas manusia. Konsep

mengenai ruang dari masa ke masa selalu mengalami perkembangan. Menurut

Setiawan (1995), tiga pendekatan ruang yang paling mendominasi adalah :

tiga pendekatan ruang yang paling mendominasi adalah : Pendekatan ekologi. Pendekatan ini melihat ruang sebagai

Pendekatan

ekologi.

Pendekatan

ini

melihat

ruang

sebagai

suatu

ekosistem dan menganggap bahwa komponen-komponen ruang adalah

saling

terkait

dan

berpengaruh

secara

mekanistis.

Pendekatan

ini

cenderung

melihat

ruang

sebagai

suatu

sistem

yang

tertutup

dan

mengesampingkan dimensi-dimensi sosial, ekonomi, dan politis dalam

dimensi-dimensi sosial, ekonomi, dan politis dalam ruang. Pendekatan fungsional dan ekonomi . Pendekatan ini

ruang.

Pendekatan

fungsional

dan

ekonomi.

Pendekatan

ini

lebih

mengutamakan fungsionalitas ruang dan analisis ekonominya. Pendekatan

ini melihat ruang sebagai sebuah wadah aktivitas dimana lokasi dan jarak

merupakan faktor utama. Penataan ruang bukanlah sesuatu yang penting

10

Universitas Sumatera Utara

dalam pendekatan ini

karena mekanisme pasar akan dengan sendirinya

menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Pendekatan sosial politik . Pendekatan ini menekankan pada

Pendekatan

sosial

politik.

Pendekatan

ini menekankan

pada

aspek

“penguasaan” ruang. Pendekatan ini melihat ruang tidak saja sebagai

sarana produksi akan tetapi juga sebagai sarana mengakumulasi power.

Aspek teritori ruang sangat ditekankan, yakni mengaitkan satuan-satuan

ruang dengan satuan-satuan organisasi sosial tertentu.

2.2.1. Ruang Publik

1. Defenisi dan Tipologi Ruang Publik

Berdasarkan

ruang

lingkupnya

ruang

publik

dapat

dibagi

menjadi

beberapa tipologi (Carmona, et al ,2003) antara lain :

External public space. .

Ruang publik ini

berbentuk ruang luar yang

dapat diakses oleh semua orang

seperti taman kota, alun-alun, jalur

pejalan kaki, dan lain sebagainya.

Internal public space. Ruang publik ini berupa sebuah bangunan fasilitas . Ruang publik ini berupa sebuah bangunan fasilitas

umum yang dikelola pemerintah dan dapat diakses oleh warga secara

bebas tanpa ada batasan tertentu, seperti kantor pos, kantor polisi, dan

pusat pelayanan warga lainnya.

External and internal “quasi” public space. Ruang publik ini berupa . Ruang publik ini berupa

fasilitas umum yang dikelola oleh sektor privat dan ada batasan atau

aturan

yang

harus

sebagainya.

dipatuhi

warga,

seperti

mall,

restoran

dan

lain

11

Universitas Sumatera Utara

Salah satu fungsi public space adalah

sebagai simpul kegiatan. Oleh

karenanya, public space yang memiliki fungsi ini harus memperhatikan aspek

aksesibilitas

sarana

transportasi

serta

pemberhentiannya

(perparkiran).

Ketersediaan jalur sirkulasi dan area parkir merupakan elemen penting bagi suatu

kota dan merupakan suatu alat ampuh untuk menata lingkungan perkotaan.

Sirkulasi dapat menjadi alat kontrol bagi pola aktivitas penduduk kota dan

mengembangkan

aktivitas

tersebut.

Selain

mampu

menampung

kuantitas

perjalanan, sirkulasi di harapkan juga memberikan kualitas perjalanan melalui

experiencenya (Davit dan Kulash dalam Naupan, 2007). Dan sirkulasi yang baik

memiliki beberapa indikator, antara lain kelancaran, keamanan dan kenyamanan.

2. Aktivitas dan Interaksi Sosial

Aktivitas sosial dapat diartikan sebagai kegiatan yang membutuhkan

kehadiran orang lain (Zhang dan Lawson, 2009). Kegiatan ini dapat berupa tatap

muka,

perbincangan,

maupun

aktivas

fisik

lainnya

seperti

bermain

atau

berolahraga.

.

Penanganan

ruang

publik

yang

kreatif

dapat

mendukung

terbentuknya aktivitas sosial antara orang-orang yang tidak saling mengenal

sebelumnya. Sebuah perencanaan ruang publik dapat dikatakan berhasil apabila

dapat menampung aktivitas publik secara fungsional, memiliki aksesibilitas yang

mudah, nyaman dan terjadi interaksi sosial yang baik didalamnya. Faktor-faktor

tersebut juga dapat diuraikan secara terperinci pada gambar 2.1.

12

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1. Uraian faktor yang mempengaruhi ruang publik Sumber : PPS (Project for Public Space)

Gambar 2.1. Uraian faktor yang mempengaruhi ruang publik

Sumber : PPS (Project for Public Space)

2.2.2. Teritori

Teritori merupakan pola perilaku individu atau sekelompok individu yang

didasarkan pada kepemilikan ruang fisik yang terdefinisi, objek atau ide yang

melibatkan

pertahanan,

personalisasi,

dan

penandaan.

Faktor

kunci

dalam

pengelompokan teritori adalah tingkat kebutuhan privasi, keanggotaan atau akses

yang diperbolehkan untuk masing-masing tipe. Tipologi teritori secara ringkas

disampaikan oleh I. Altman (1975) dalam tabel 2.1.

13

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1. Tipe-tipe teritori

Tipe teritori

Daya Akses

Contoh

Teritori Primer

Tinggi. Penghuni memiliki kontrol penuh terhadap suatu ruang.

Domisili seseorang (rumah, apartemen, kantor)

Teritori Sekunder

Sedang. Memiliki kekuatan selama periode tertentu ketika individu merupakan penghuni yang sah.

Bangku favorit seseorang di kelas, meja di kantin.

Teritori Publik

Rendah. Kontrol sangat sulit untuk diakses.

Pantai, taman, ruang tunggu, transportasi umum.

Sumber : Altaian, I. 1975. The environment and social behavior.

Teritori dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama

adalah faktor personal dimana jenis kelamin, usia, kepribadian dan tingkat

intelektual mengambil peran. Faktor yang kedua adalah faktor situasional seperti

seting fisik, iklim, dan sosial dalam suatu lingkungan mempengaruhi teritori

seseorang.

2.2.3. Crowding

Crowding adalah suatu situasi dimana seseorang atau sekelompok orang

sudah tidak mampu mempertahankan ruang privatnya. Crowding tidak selalu

berarti rasio fisik yang tinggi, namun dapat juga berarti pemahaman subjektif

seseorang bahwa individu yang hadir di sekelilingnya terlalu banyak. Sama

halnya dengan teritori, crowding juga dapat dipengaruhi oleh faktor personal,

sosial, dan situasional.

14

Universitas Sumatera Utara

2.2.4.

Adaptasi dan Adjustment

Dalam skema persepsi yang telah dibahas sebelumnya disebutkan bahwa

setelah seseorang mempersepsikan lingkungannya, ada dua kemungkinan yang

akan terjadi. Kemungkinan pertama adalah rangsang yang dipersepsikan berada

dalam batas optimal sehinga timbulah kondisi homoestatis. Kemungkinan kedua

adalah rangsang yang dipersepsikan berada diatas batas optimal atau dibawahnya

yang mengakibatkan stress dan manusia harus melakukan perilaku penyesuaian

diri. Menurut Sarwono (1992), perilaku penyesuaian diri ini terdiri dari dua jenis,

yang pertama adalah mengubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungan yang

disebut dengan adaptasi dan yang kedua adalah mengubah lingkungan agar

sesuai dengan tingkah laku yang disebut adjustment.

1.

Adaptasi

Seperti pembahasan diatas, perilaku penyesuaian diri terhadap lingkungan

diawali dengan stress, yaitu suatu keadaan dimana lingkungan mengancam atau

membahayakan keberadaan atau kesejahteraan atau kenyamanan diri seseorang

(Baum 1985:188). Reaksi terhadap stress bisa berupa tindakan langsung maupun

penyesuaian mental. Contoh dari tindakan langsung adalah migrasi. Misal warga

dari suatu wilayah bermigrasi ke negara bagian lain dengan alasan kualitas

lingkungan yang mulai rusak, air bersih susah didapat, harga perumahan yang

mahal, dan sebagainya. Namun, masih terdapat sebagian warga yang memilih

untuk tinggal di daerah tersebut dengan anggapan daripada pindah ke tempat lain

yang belum tentu lebih baik keadaannya, lebih baik tetap tinggal di tempat lama.

15

Universitas Sumatera Utara

Reaksi jenis ini tergolong penyesuaian mental. Karena relativitas persepsi dan

sifat manusia yang mampu belajar dari pengalaman, perubahan tingkah laku agar

sesuai dengan lingkungan baru bisa dilakukan secara bertahap.

2.

Adjustment

Perubahan lingkungan agar sesuai dengan tingkah laku manusia dapat dilihat

pada

berbagai

jenis

rumah

hunian

manusia.

Manusia

mengubah

atau

memperbaiki lingkungan yang telah ada untuk memenuhi kebutuhan dan tingkah

laku mereka. Di pedalaman Sumatera dan Kalimantan terdapat rumah-rumah

panggung agar manusia terhindar dari banjir dan binatang buas dimana kolong

panggung

juga

bias

dijadikan

kandang

ternak,

lumbung,

maupun

tempat

penampungan air. Rumah di permukiman kumuh kota-kota besar dibuat bersusun

keatas agar dapat menampung lebih banyak penduduk. Dari contoh kasus-kasus

diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia selalu berusaha untuk merekayasa

lingkungan agar sesuai dengan kondisi dirinya. Proses rekayasa lingkungan

melibatkan

tingkah

laku

merancang

lingkungan

dan

perwujudannya

dalam

bentuk nyata. Keseluruhan kegiatan dari merancang sampai melaksanakannya

itulah yang dinamakan adjustment.

sampai melaksanakannya itulah yang dinamakan adjustment . Gambar 2.2. Rumah susun dan rumah bolon merupakan contoh
sampai melaksanakannya itulah yang dinamakan adjustment . Gambar 2.2. Rumah susun dan rumah bolon merupakan contoh

Gambar 2.2. Rumah susun dan rumah bolon merupakan contoh adjustment masyarakat

Sumber : Data sekunder diolah

16

Universitas Sumatera Utara

2.3. Pedagang Kaki Lima (PKL)

Pedagang kaki lima merupakan sektor informal yang keberadaannya

senantiasa diabaikan oleh pemerintah kota. PKL dapat ditemukan hampir di

seluruh kota dan kebanyakan berada di ruang fungsional kota seperti pusat

perdagangan, pusat rekreasi,

taman kota, dan tempat-tempat umum yang dapat

menarik sejumlah besar penduduk sekitar. Sektor informal menurut Ahmad

(2002:73) merupakan kegiatan ekonomi yang bersifat marjinal (kecil-kecilan)

yang memiliki beberapa ciri seperti kegiatan yang tidak teratur, tidak tersentuh

peraturan, bermodal kecil dan bersifat harian, tempat tidak tetap dan berdiri

sendiri, berlaku di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah, tidak

membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus, lingkungan kecil, serta tidak

mengenal perbankan, pembukuan maupun perkreditan.

Menurut Kadir (2010), keberadaan PKL sebagai sektor informal dalam

kegiatan perdagangan menimbulkan suatu dikotomi karena disatu sisi sektor

informal mampu menyerap tenaga kerja terutama pada golongan masyarakat

yang memilki tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah serta modal

kecil. Namun disisi lain sektor ini merupakan sektor yang tidak memiliki legalitas

atau perlindungan hukum dan merugikan sektor formal karena menyebabkan

permasalahan lingkungan kota. Hal ini terjadi karena pemerintah kota tidak

pernah menyediakan ruang bagi PKL dalam Rencana Tata Ruang Kota.

17

Universitas Sumatera Utara

2.3.1.

Asal Mula Pedagang Kaki Lima

Istilah pedagang kaki lima konon berasal dari jaman pemerintahan Rafles,

Gubernur Jenderal pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu dari kata ”five feet

yang berarti jalur pejalan kaki di pinggir jalan selebar lima kaki. Ruang tersebut

digunakan untuk kegiatan berjualan pedagang kecil sehingga disebut dengan

pedagang kaki lima (dalam Widjajanti, 2000:28). Kemudian muncul beberapa

ahli yang mengemukakan defenisi dari pedagang kaki lima diantaranya menurut

McGee (1977:28) menyebutkan PKL sebagai hawkers adalah orang-orang yang

menawarkan barang-barang atau jasa untuk dijual di tempat umum, terutama

jalan-jalan trotoar.

2.3.2. Karakteristik Pedagang Kaki Lima

Berdasarkan

tipe

komoditas

yang

dijual

PKL,

MCGee

dan

Yeung

(1977:81) mengelompokkan PKL menjadi empat kategori, yaitu :

a. Makanan yang tidak diproses dan semi olahan. Makanan yang tidak

diproses, termasuk makanan mentah seperti daging, buah-buahan atau

sayuran. Sedangkan makanan yang semi olahan seperti beras.

b. Makanan siap saji, yakni penjual makanan yang sudah dimasak.

c. Barang bukan makanan , kategori ini terdiri dari barang-barang dalam

skala yang luas, mulai dari tekstil hingga obat-obatan.

d. Jasa , yang terdiri dari beragam aktivitas seperti jasa perbaikan sol sepatu

dan tukang cukur.

18

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan

sifat

layanannya,

MCGee

&

Yeung

(1977:82-83)

mengelompokkan PKL ke dalam tiga tipe, yaitu :

 

a. Pedagang

keliling

(mobile),

pedagang

yang

dengan

mudah

dapat

membawa barang daganngannya berpindah dari satu tempat ke tempat

lain, mulai dari menggunakan sepeda, gerobak atau keranjang.

b. Pedagang semi menetap

(semistatic), pedagang ini mempunyai sifat

menetap sementara, dimana kios dan tempat usahanya akan berpindah

setelah beberapa waktu berjualan di tempat tersebut.

c. Pedagang Menetap (static), sifat layanan pedagang ini memiliki frekuensi

menetap yang paling tinggi, dimana lokasi tempat usahanya permanen di

suatu tempat seperti di jalan atau ruang-ruang publik dengan membangun

kios, maupun jongko.

Berdasarkan

pola

penyebaran

aktivitas

PKL,

Mc.Gee

dan

Yeung

(1977:37-38) mengelompokkan PKL menjadi dua kategori, yaitu:

a. Pola penyebaran mengelompok (focus aglomeration), biasa terjadi pada

mulut

jalan,

disekitar

pinggiran

pasar

umum

atau

ruang

terbuka.

Pengelompokkan

ini

terjadi

merupakan

suatu

pemusatan

atau

pengelompokan

pedagang

yang

memiliki

sifat

sama

/

berkaitan.

Pengelompokan pedagang yang sejenis dan saling mempunyai kaitan,

akan menguntungkan pedagang, karena mempunyai daya tarik besar

terhadap calon pembeli. Aktivitas pedagang dengan pola ini dijumpai

19

Universitas Sumatera Utara

pada

ruang-ruang terbuka

(taman,

lapangan,

dan

lainnya).

Biasanya

dijumpai pada para pedagang makanan dan minuman.

b. Pola penyebaran memanjang (linier aglomeration), pola penyebaran ini

dipengaruhi oleh pola jaringan jalan. Pola penyebaran memanjang ini

terjadi di sepanjang/pinggiran jalan utama atau jalan penghubung. Pola ini

terjadi

ber-dasarkan

pertimbangan

kemudahan

pencapaian,

sehingga

mempunyai

kesempatan

besar

untuk

mendapatkan

konsumen.

Jenis

komoditi yang biasa diperdagangkan adalah sandang / pakaian, kelontong,

jasa reparasi, buah-buahan, rokok/obat-obatan, dan lain-lain.

2.3.3. Pengendalian dan Pengaturan Pedagang Kaki Lima

Keberadaan PKL dapat memberikan keuntungan bagi semua pihak yang

bersangkutan

apabila

PKL

tersebut

“dikendalikan”

dalam

suatu

peraturan.

Daripada berusaha untuk memberantas PKL, akan lebih baik jika membuat suatu

peraturan sebagai kepastian untuk PKL sehingga dapat menjadi suatu potensi

yang baik. Beberapa keuntungan dari PKL yang telah terkendali, yaitu:

a. Mengurangi pengangguran, PKL menjadi salah satu solusi pekerjaan bagi

masyarakat berketerampilan rendah agar tetap mampu menampung beban

ekonomi keluarganya.

b. Keramahtamahan PKL, keunikan dari gerobak , suasana terbuka, dan

aktivitas yang ditimbulkan menciptakan suasana dengan karakter yang

lebih hidup yang tidak dapat ditemukan di toko-toko lain.

20

Universitas Sumatera Utara

c.

Mengawasi keamanan di area berjualan serta memberikan petunjuk jalan

bagi orang yang masi asing di daerah tersebut.

d. Membangkitkan aktivitas positif pada suatu daerah.

2.3.4. Studi Banding PKL : Free Market

Free market merupakan sebuah area yang dikhususkan untuk para petani

menjual

barang produksi

mereka

kepada

konsumen

secara

langsung tanpa

campur tangan pemerintah dalam perkembangan, pendistribusian, dan penetapan

harganya.

Sistem

pengoperasiannya

ditetapkan

berdasarkan

permintaan

dan

penawaran (supply and demand) dalam sektor pasar privat.

1. Jin Tai Road Free Market, Beijing

Sepanjang salah satu jalan utama Beijing di Distrik Chaoyang adalah Jin

Tai Road Free Market, pasar yang terorganisir dengan rapi dan berkembang

dengan baik. Kios-kios berbaris di sepanjang trotoar di salah satu sisi jalan

(gambar 2.3). Terdapat 150 bilik stand untuk para penjual yang mayoritas

merupakan pedagang kaki lima, bukan petani. Free market ini beroperasi setiap

hari dari pagi hingga siang hari.

ini beroperasi setiap hari dari pagi hingga siang hari. Gambar 2.3. Jin Tai Road Free market,
ini beroperasi setiap hari dari pagi hingga siang hari. Gambar 2.3. Jin Tai Road Free market,

Gambar 2.3. Jin Tai Road Free market, Beijing

21

Universitas Sumatera Utara

2.

Hongdae Free Market di Seoul, Korea.

Beroperasi hanya setiap hari sabtu dari jam 13.00 18.00 pada bulan

Maret sampai November. Berbeda dengan “fleamarket”yang menjual barang

bekas, free market ini merupakan pasar yang penuh dengan karya seni seperti

lukisan, kerajinan, dll. Hongdae Free market ini juga sudah merupakan salah satu

tempat pariwisata di Korea (gambar 2.4).

salah satu tempat pariwisata di Korea (gambar 2.4). Gambar 2.4. Hongdae Free market, Seoul 2.4. Pasar
salah satu tempat pariwisata di Korea (gambar 2.4). Gambar 2.4. Hongdae Free market, Seoul 2.4. Pasar
salah satu tempat pariwisata di Korea (gambar 2.4). Gambar 2.4. Hongdae Free market, Seoul 2.4. Pasar

Gambar 2.4. Hongdae Free market, Seoul

2.4. Pasar di Indonesia

2.4.1. Defenisi dan Fungsi Pasar

Pasar

merupakan

suatu

mekanisme

yang

mempertemukan

pembeli

(konsumen) dengan penjual (produsen) sehingga keduanya dapat berinteraksi

untuk membentuk suatu kesepakatan harga. Cakupan pasar sebenarnya lebih luas

dibandingkan dengan pengertian pasar sehari-hari, transaksi pembelian dapat

dilakukan melalui alat-alat komunikasi, misalnya telepon, surat, dan internet.

Barang-barang yang diperdagangkan pun tidak hanya sebatas barangbarang

konsumsi, tetapi juga barang-barang produksi, seperti mesin, bahan mentah,

tenaga kerja, dan jasa. Dalam kehidupan sehari-hari, pasar memiliki peran yang

sangat penting yaitu sebagai sarana distribusi yang bertugas memperlancar proses

22

Universitas Sumatera Utara

penyaluran barang atau jasa dari produsen ke konsumen,sebagai pembentuk

harga, dan sebagai sarana promosi.

2.4.2. Jenis-Jenis Pasar

Secara umum, pasar terdiri dari dua, yaitu pasar konkrit dan pasar abstrak.

Pasar konkret adalah pasar tempat pertemuan antara penjual dan pembeli yang

dilakukan secara langsung. Misalnya ada los-los, toko-toko dan lain-lain. Di

pasar konkret, produk yang dijual dan dibeli juga dapat dilihat dengan kasat mata.

Sedangkan pasar Abstrak adalah pasar yang lokasinya tidak dapat dilihat dengan

kasat mata.konsumen dan produsen tidak bertemu secara langsung. Biasanya

dapat melalui internet, pemesanan telepon dan lain-lain. Dari dua jenis pasar ini,

dikelompokan lagi berdasarkan jenis barang, cara transaksi, cakupan, waktu, dan

juga strukturnya (gambar 2.5.).

cakupan, waktu, dan juga strukturnya (gambar 2.5.). Gambar 2.5. Pemetaan jenis-jenis pasar 1. Menurut Jenis

Gambar 2.5. Pemetaan jenis-jenis pasar

1. Menurut Jenis Barang yang Diperjual-belikan

Menurut jenis barang yang diperjual-belikan, pasar terdiri dari dua jenis.

Yang pertama adalah pasar barang konsumsi, dimana barang yang diperjual

belikan adalah barang siap pakai atau barang jadi seperti kebutuhan hidup. Pasar

23

Universitas Sumatera Utara

jenis kedua adalah pasar faktor produksi, dimana barang yang diperjualbelikan

berupa sumber daya seperti tenaga kerja.

2. Menurut Cara transaksi

Menurut cara transaksinya, pasar terbagi menjadi pasar tradisional dan

pasar modern. Pasar tradisional adalah pasar dimana terjadi tawar menawar

secara langsung, barang yang diperjual-belikan juga merupakan bahan pokok.

Sedangkan pada pasar modern barang yang diperjual-belikan sudah tertera dalam

harga pas dan dengan layanan sendiri. Contohnya di mall dan plaza.

3. Menurut Luas Kegiatan Distribusi

Berdasarkan luasan kegiatan distribusi, pasar terbagi empat jenis yaitu

pasar lokal (dalam satu kota), pasar daerah (satu wilayah daerah), pasar nasional

(satu negara), dan pasar internasional (seluruh dunia).

4. Menurut waktu terjadinya

Berdasarkan waktu terjadinya pasar, pasar terbagi empat jenis yaitu pasar

harian, mingguan, bulanan, dan tahunan (contohnya pekan raya Jakarta).

5. Menurut bentuk atau strukturnya

Menurut strukturnya pasar terbagi dalam dua jenis. Yang pertama dinamakan

pasar persaingan sempurna dimana barang yang diperdagangkan homogeny

sehingga perseorangan penjual maupun pembeli tidak dapat mempengaruhi harga

pasar. Jenis kedua adalah pasar persaingan tidak sempurna dimana penjual dan

pembeli memiliki kekuasaan terhadap harga pasar karena barang yang ditawarkan

berbeda. Contoh pasar persaingan tidak sempurna seperti monopoli/monopsoni,

oligopoli/oligopsoni, dan persaingan monopolistik.

24

Universitas Sumatera Utara

2.4.3. Kriteria Perancangan Pasar tradisional

Meskipun dewasa ini banyak pasar tradisional yang dibangun kembali,

upaya revitalisasi ini belum menunjukkan keberhasilan secara signifikan. Hal ini

ditandai dengan tidak bertambah ramainya pasar tradisional. Kekurangberhasilan

revitalisasi pasar tradisional ini pada beberapa kasus akibat kegagalan dari

perancangan

bangunan.

Keberhasilan

perancangan

tersebut

terlihat

pada

kenyamanan, aksesibilitas, dan ruang sosial. Kenyamanan pada ruang pasar

ditandai dengan pasar yang terlihat bersih, tertata, lapang, tidak pengap dan

sumpek, serta terang. Aksesibilitas pasar tradisional ditandai dengan mudah

dijangkaunya kios-kios di dalam pasar oleh pengunjung. Ruang sosial di dalam

pasar terlihat dengan adanya ruang untuk berinteraksi sosial antara pengunjung,

pedagang, dan pelaku lainnya.

Sebuah

kriteria

perancangan

pasar

diungkapkan

oleh

Duerk

(1993)

dengan model perancangan pasar berbasis isu. Salah satu aspek terpenting

perancangan

pasar

adalah

dari

segi

aspek

arsitektur

kota.

Permasalahan

perancangan pasar tradisional yang termasuk di dalam aspek arsitektur kota

menyangkut keberadaan pasar ini didalam kota. Keberadaan pasar tradisional

dipengaruhi

dan

mempengaruhi

konteks

perkotaan

tempat

pasar

ini

akan

dibangun. Isu-isu yang termasuk dalam aspek arsitektur kota adalah keterkaitan

dengan fungsi sekitar, aksesibilitas dan sistem sirkulasi eksternal, dan respon

terhadap bentuk dan ruang kota. Isu, tujuan, dan kriteria perancangan pasar

tradisional dalam aspek arsitektur kota tersaji dalam tabel 2.2.

25

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2. Isu, tujuan, dan kriteria perancangan pasar tradisional dalam aspek arsitektur kota

Isu

Tujuan

Kriteria

Keterkaitan

Menentukan fasilitas di dalam pasar yang merespon fungsi-fungsi yang ada di sekitarnya

Fasilitas yang disediakan harus sesuai dengan skala pelayanan pasar

dengan fungsi

sekitar

 

Beberapa fungsi harus disediakan berdasarkan analisis potensi kebutuhan pasar untuk menarik pengunjung

Aksesibilitas dan sistem sirkulasi eksternal

Mengatur jalur sirkulasi eksternal yang efektif dan tidak menyebabkan gangguan sekitar

Aksesibilitas dan sistem sirkulasi eksternal harus jelas, efisien, dan tidak menyebabkan kemacetan.

Menyediakan luas area parkir yang cukup untuk menampung kendaraan pengunjung

Luas area parkir harus menampung kendaraan pengunjung

Menjadikan area parkir sebagai “generator”

Area parkir harus diletakkan berkaitan dengan pintu masuk

Menempatkan area loading- unloading barang yang tidak menganggu aktivitas perdagangan

Area loading-unloading barang sebaiknya ditempatkan di area yang tidak menganggu sirkulasi pengunjung.

Jalur pembuangan sampah harus dirancang untuk memudahkan pengangkutan sampah ke tempat pembuangan sampah

Respon terhadap bentuk dan ruang

Mendapatkan gubahan bentuk bangunan pasar yang sesuai dengan konteks arsitekttur kota

Gubahan bentuk pasar harus merespon struktur morfologi

Wajah pasar harus selaras dengan karakter arsitektur setempat.

Sumber : Ekomadyo A., Hidayatsyah S. 2012. Isu, tujuan, dan kriteria perancangan

 

Pasar Tradisional.

26

Universitas Sumatera Utara

2.5. Kesimpulan

Ruang merupakan salah satu elemen arsitektur terpenting yang berfungsi

untuk mewadahi aktivitas manusia. Pasar adalah salah satu contoh ruang luar

yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Setiap

individu

memiliki

kebutuhan

pokok

yang

harus

dipenuhi.

Sebagian

besar

masyarakat Medan masih menganggap pasar tradisional sebagai tempat yang

paling cocok untuk membeli kebutuhan pokok mereka dengan pertimbangan

harga, jangkauan, dan kebiasaan.

Meskipun berbagai upaya revitalisasi sudah dilakukan pada sejumlah

pasar

tradisional

di

Indonesia,

masih

belum

ditemukan

keberhasihan

yang

signifikan. Kegagalan dari perencanaan pasar merupakan salah satu sebabnya

dimana pengunjung merasa tidak nyaman berada disana. Sebuah perencanaan

ruang publik dapat dikatakan berhasil apabila dapat menampung aktivitas publik

secara

fungsional,

memiliki

aksesibilitas

yang

mudah,

nyaman

dan

terjadi

interaksi sosial yang baik didalamnya. Salah satu kriteria yang dapat dijadikan

pedoman dalam perancangan pasar adalah perancangan berbasis isu oleh Deurk

(1993) terkait aspek arsitektur kota.

Seiring

dengan

perkembangan

ilmu

pengetahuan,

perilaku

manusia

semakin

dijadikan

tolak

ukur

dalam

perencanaan

yang

disebut

dengan

pendekatan arsitektur perilaku (behavioral architecture). Manusia membangun

sebuah bangunan atau ruang luar untuk memenuhi kebutuhan manusia dimana

setiap individu memiliki persepsi yang berbeda terhadap lingkungan tersebut.

27

Universitas Sumatera Utara

Apabila rangsang yang dipersepsikan oleh individu telah berada diatas batas

optimal, akan terjadi stress yang berujung pada dua hal, yaitu manusia harus

mencocokan dirinya dengan lingkungan tersebut (adaptasi), atau manusia harus

mengubah lingkungannya agar sesuai dengan perilaku mereka (adjustment)

(Sarwono , 1992).

28

Universitas Sumatera Utara