Anda di halaman 1dari 28

PERATURAN

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR


4/PERMEN-KP/2015
TENTANG
LARANGAN PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN
NEGARA REPUBLIK INDONESIA 714
DAN
IUU (ILLEGAL UNREPORTED AND UNREGULATED) FISHING DI INDONESIA

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Dan Peraturan Perikanan
Yang Dibimbing Oleh
Dr. Ir. Ismadi, MS

Disusun Oleh
Irfan Hilman Noorsamsi
155080301111016
T04

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Karena berkat limpahan dan karunia
Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Hukum Peraturan
Perikanan tentang Larangan Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Negara Republik Indonesia 714 dan IUU Fishing di Indonesia.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak yang termasuk dalam pengerjaan makalah ini. Karena itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada rekan - rekan sekalian
serta kepada Bapak Dr. Ir. Ismadi, MS selaku dosen mata kuliah Hukum Dan
Peraturan Perikanan yang selalu memotivasi saya dalam mengerjakan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak menutup kemungkinan terdapatnya
kekurangan dalam pengerjaannnya. Untuk itu penulis mengharapakan kritik serta
saran yang membangun, demi perbaikan kedepannya.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat menjadi berkat dan
bermanfaat bagi kita semuanya.

Kamis, 29 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i

DAFTAR ISI................................................................................................................ ii

DAFTAR GAMBAR...................................................................................................iv

PENDAHULUAN.......................................................................................................1

1.1 Latar Belakang.................................................................................................1

1.2 Identifikasi Masalah..........................................................................................2

1.3 Maksud dan Tujuan..........................................................................................3

PEMBAHASAN......................................................................................................... 4

2.1 PERMEN-KP NOMOR 4 TAHUN 2015.............................................................4

2.2 Pendapat Saya Tentang PERMEN-KP NO 4 TAHUN 2015..............................5

2.3 Pengertian IUU Fishing..................................................................................6

2.3.1 Illegal Fishing.............................................................................................7

2.3.2 Unreported Fishing.....................................................................................9

2.3.3 Unregulated Fishing...................................................................................9

2.4 Penyebab Terjadinya IUU Fishing...............................................................10

2.5 Studi Kasus IUU Fishing..............................................................................11

2.5.1 Penangkapan Kapal Berbendera Malaysia...............................................11

2.5.2 Penangkapan Kapal Berbendera Vietnam...............................................12

2.5.3 Analisa Kasus...........................................................................................12

2.6 Solusi Indonesia Tentang IUU Fishing........................................................13

2.6.1 Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan............................................13

2.6.2 Kerjasama Internasional Dengan (RFMO)...............................................14

2.7 Dampak IUU Fishing.....................................................................................16

2.7.1 Dampak Ekonomi.....................................................................................16

ii
2.7.2 Dampak Politik.........................................................................................17

2.7.3 Dampak Sosial.........................................................................................17

2.7.4 Dampak Lingkungan dan Ekologi.............................................................18

PENUTUP................................................................................................................20

3.1 Kesimpulan.....................................................................................................20

3.2 Saran.............................................................................................................. 21

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................22

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 WPP 714 : Thunnus albacares ; Oktober - Desember Titik Kordinat : 126
132 0BT ; 4 6 0LS.............................................................................................................5

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Alfred Thayer Mahan, seorang Perwira Tinggi Angkatan Laut Amerika
Serikat, dalam bukunya The Influence of Sea Power upon History mengemukakan
teori bahwa sea power merupakan unsur terpenting bagi kemajuan dan kejayaan
suatu negara, yang mana jika kekuatan - kekuatan laut tersebut diberdayakan, maka
akan meningkatkan kesejahteraan dan keamanan suatu negara. Sebaliknya, jika
kekuatan - kekuatan laut tersebut diabaikan akan berakibat kerugian bagi suatu
negara atau bahkan meruntuhkan negara tersebut.
Indonesia secara geografis merupakan sebuah negara kepulauan dengan
dua pertiga luas lautan lebih besar daripada daratan. Hal ini bisa terlihat dengan
adanya garis pantai di hampir setiap pulau di Indonesia ( 81.000 km) yang
menjadikan Indonesia menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara
yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Kekuatan inilah yang merupakan
potensi besar untuk memajukan perekonomian Indonesia.
Demi menjaga semua potensi laut yang dimiliki Indonesia, maka diperlukan
sebuah aturan dasar yang mengikat bagi seluruh warga Negara agar laut tetap
lestari, maka pemerintah mengeluarkan sebuah peraturan yang mengatur
pembatasan penangkapan sumberdaya ikan yang statusnya kini dalam kondisi kritis.
Salah satu yang menjadi perhatian Kementrian Kelautan Perikanan yaitu
sumberdaya ikan terutama lobster, kepiting dan rajungan. Dengan melindungi
sumberdaya ikan yang ada, berarti turut menyelamatkan perekonomian Indonesia di
masa mendatang mengingat tak sedikit masyarakat Indonesia yang bergantung
pada hasil laut.
Pengelolaan sumber daya ikan secara berkelanjutan di perairan indonesia
menjadi sangat berat karena maraknya praktek - praktek penangkapan ikan yang
oleh dunia internasional disebut sebagai kegiatan perikanan yang illegal, unreported
and unregulated (IUU Fishing) yang menurut kamus bahasa Inggris - Indonesia
(Echols and Shandily, 2000) merupakan suatu kegiatan illegal berarti kegiatan
melanggar hukum, gelap, tidak syah atau liar. FAO mendefinisikan tentang kegiatan
illegal yaitu segala bentuk kegiatan yang melanggar hokum/peraturan yang ada,

1
sedangkan pemahaman unreported dan unregulated dalam konteks hukum perairan
di indonesia belumlah didefinisikan secara jelas.
Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan Perikanan terdapat 14 zona
fishing ground di dunia, saat ini hanya 2 zona yang masih potensial, dan salah
satunya adalah di Perairan Indonesia. Zona di Indonesia yang sangat potensial dan
rawan terjadinya IUU Fishing adalah Laut Malaka, Laut Jawa, Laut Arafuru, Laut
Timor, Laut Banda dan Perairan sekitar Maluku dan Papua. Dengan melihat kondisi
seperti ini IUU Fishing dapat melemahkan pengelolaan sumber daya perikanan di
perairan Indonesia dan menyebabkan beberapa sumber daya perikanan di beberapa
Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia mengalami over fishing
(Sunyowati, 2013).
Dengan adanya Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik
Indonesia Nomor 4/PERMEN-KP/2015 Tentang Larangan Penangkapan Ikan Di
Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 714, diharapkan di
masa mendatang sumberdaya ikan tersebut masih tetap lestari dan bisa
dimanfaatkan secara bijaksana.

1.2 Identifikasi Masalah


Sesuai dengan latar belakang yang telah dipaparkan, maka terdapat
beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam makalah
ini yaitu :
1. Bagaimana poin - poin dari Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik
Indonesia Nomor 4 Tahun 2015?
2. Bagaimana pendapat penulis tentang Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015?
3. Apa yang dimaksud dengan IUU Fishing?
4. Apa penyebab terjadinya IUU Fishing?
5. Kegiatan apakah yang mencerminkan kegiatan IUU Fishing?
6. Apa dampak dari kegiatan IUU Fishing?
7. Apa solusi Indonesia tentang IUU Fishing?

1.3 Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan dalam makalah ini yaitu:

2
1. Menjelaskan tentang poin - poin dari Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015.
2. Menjelaskan pendapat penulis tentang Peraturan Menteri Kelautan Dan
Perikanan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015.
3. Mengetahui pengertian dari IUU Fishing.
4. Mengetahui apa saja penyebab IUU Fishing.
5. Mengetahui kegiata apa saja yang menunjukkan kegiatan IUU Fishing.
6. Mengetahui dampak dari IUU Fishing.
7. Megetahui langkah apa yang diambil Indonesia tentang masalah IUU Fishing.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERMEN-KP NOMOR 4 TAHUN 2015


Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor
4/Permen-KP/2015 Tentang Larangan Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Negara Republik Indonesia 714.
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1. Penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak
dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan
yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan,
mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya.
2. Setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi.
3. Korporasi adalah kumpulan orang perseorangan dan/atau kekayaan yang
terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.
4. Surat Izin Penangkapan Ikan, yang selanjutnya disingkat SIPI, adalah izin tertulis
yang harus dimiliki setiap kapal perikanan untuk melakukan penangkapan ikan
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Izin Usaha Perikanan.

Pasal 2
Dalam pasal 2, Peraturan Menteri ini menjelaskan tentang :
1. Setiap orang dilarang melakukan penangkapan ikan pada sebagian Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 714 yang merupakan daerah
pemijahan (breeding ground) dan daerah bertelur (spawning ground).
2. Daerah pemijahan (breeding ground) dan daerah bertelur (spawning ground)
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dengan peta dan titik koordinat sebagaimana
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.

Pasal 3
Dalam pasal 3, Peraturan Menteri ini menjelaskan tentang :

4
SIPI dengan daerah penangkapan ikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 yang telah diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini, masih tetap
berlaku sampai dengan habis masa berlakunya.

Pasal 4
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap
orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Lampiran Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor 4/PERMEN-KP/2015 Larangan Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Negara Republik Indonesia 714

Gambar 1 WPP 714 : Thunnus albacares ; Oktober - Desember Titik Kordinat : 126
132 0BT ; 4 6 0LS

2.2 Pendapat Saya Tentang PERMEN-KP NO 4 TAHUN 2015


Pendapat terhadap Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik
Indonesia Nomor 4/Permen-KP/2015 Tentang Larangan Penangkapan Ikan Di
Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 714.
Dengan adanya Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan yang terdapat
pada pasal 2 mengenai larangan melakukan penangkapan ikan pada sebagian
wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia 714 yang merupakan
daerah pemijahan (breeding ground) dan daerah bertelur (spawning ground).
mempunyai tujuan yang baik. Dengan melindungi biota biota laut yang sedang
bertelur, maka akan membantu melindungi mereka dalam berkembang biak dan

5
memberi kesempatan untuk melestarikan keturunannya. Pembatasan penangkapan
dilakukan karena keberadaan biota laut terus mengalami penurunan drastis yang
diakibatkan salah satunya menangkap yang masih dalam kondisi bertelur.
Untuk itu, masukan dari penulis adalah dengan adanya Peraturan Menteri
nomor 4 tahun 2015, diharapkan bukan hanya akan melindungi ikan ikan yang
masih dalam kondisi bertelur, melainkan lobster, kepiting maupun rajungan juga
perlu dilindungi karena maraknya nelayan yang menangkap ketiga crustacea
tersebut dalam kondisi masih bertelur.

2.3 Pengertian IUU Fishing


UNCLOS 1982 tidak mengatur tentang IUU Fishing. Wacana tentang Illegal
Fishing muncul bersama - sama dalam kerangka IUU Fishing Practices pada saat
diselenggarakannya forum CCAMLR (Commision for Conservation of Atlantic Marine
Living Resources) pada 27 Oktober 7 November 1997. IUU Fishing dapat
dikategorikan dalam tiga kelompok:
1. Illegal Fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan secara illegal di perairan wilayah
atau ZEE suatu negara, atau tidak memiliki izin dari negara tersebut.

2. Unregulated Fishing yaitu kegiatan penangkapan di perairan wilayah atau ZEE


suatu negara yang tidak mematuhi aturan yang berlaku di negara tersebut.

3. Unreported Fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan di perairan wilayah atau ZEE
suatu negara yang tidak dilaporkan baik operasionalnya maupun data kapal dan
hasil tangkapannya.
Praktek IUU Fishing terjadi di kawasan laut yang tunduk di bawah kedaulatan
dan di ZEE. Dilakukan oleh kapal berbendera negara pantai yang bersangkutan itu
sendiri maupun oleh kapal berbendera asing. Walaupun tidak mengatur IUU Fishing,
tapi berkaitan dengan penegakan hukum di laut, UNCLOS 1982 mengatur secara
umum, baik di kawasan laut yang tunduk di bawah kedaulatan dan ZEE suatu
negara.
Banyaknya kasus IUU Fishing di Indonesia, pada dasarnya tidak lepas dari
masih lemahnya penegakan hukum dan pengawasan di Perairan Indonesia,
terutama terhadap pengelolaan sumberdaya alam hayati laut, serta ketidaktegasan
aparat dalam penanganan para pelaku Illegal Fishing. Berdasarkan Pasal 85 jo
Pasal 101 Undang Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan dinyatakan

6
secara tegas bahwa pelaku Illegal Fishing dapat dikenai ancaman hukuman penjara
maksimal 5 tahun.
Tetapi terdapat kelemahan dari UU Perikanan tersebut, yaitu kurang
memperhatikan nasib nelayan dan kepentingan nasional terhadap pengelolaan
sumber daya laut. Sebab, pada Undang Undang Perikanan Nomor 31 Tahun 2004
terdapat celah yang memungkinkan nelayan asing mempunyai kesempatan luas
untuk mengeksploitasi sumberdaya perikanan Indonesia. Khususnya di Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Pada Pasal 29 ayat (1), dinyatakan bahwa
usaha perikanan diwilayah pengelolaan perikanan, hanya boleh dilakukan oleh
Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum Indonesia. Selanjutnya pada ayat (2),
kecuali terdapat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada
orang atau badan hokum asing yang melakukan penangkapan ikan di ZEE,
sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban Negara Indonesia berdasarkan
persetujuan internasional atau ketentuan hokum intenasional.
Selain itu, pemerintah juga harus mempercepat terbentuknya pengadilan
perikanan yang berwenang menentukan, menyelidiki, dan memutuskan tindak
pidana setiap kasus Illegal Fishing dengan tidak melakukan tebang pilih. Bahkan,
jika perlu pemerintah harus berani menghentikan penjarahan kekayaan laut
Indonesia dengan bertindak tegas, seperti penenggelaman kapal nelayan asing.

2.3.1 Illegal Fishing


UNCLOS 1982 tidak mengatur tentang IUU Fishing. Wacana tentang Illegal
Fishing muncul bersama - sama dalam kerangka IUU Fishing Practices pada saat
diselenggarakannya forum CCAMLR (Commision for Conservation of Atlantic Marine
Living Resources) pada 27 Oktober 7 November 1997. IUU Fishing dapat
dikategorikan dalam tiga kelompok:
1. Illegal Fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan secara illegal di perairan wilayah
atau ZEE suatu negara, atau tidak memiliki izin dari negara tersebut.

2. Unregulated Fishing yaitu kegiatan penangkapan di perairan wilayah atau ZEE


suatu negara yang tidak mematuhi aturan yang berlaku di negara tersebut.

3. Unreported Fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan di perairan wilayah atau ZEE
suatu negara yang tidak dilaporkan baik operasionalnya maupun data kapal dan
hasil tangkapannya.

7
Praktek IUU Fishing terjadi di kawasan laut yang tunduk di bawah kedaulatan
dan di ZEE. Dilakukan oleh kapal berbendera negara pantai yang bersangkutan itu
sendiri maupun oleh kapal berbendera asing. Walaupun tidak mengatur IUU Fishing,
tapi berkaitan dengan penegakan hukum di laut, UNCLOS 1982 mengatur secara
umum, baik di kawasan laut yang tunduk di bawah kedaulatan dan ZEE suatu
negara.
Banyaknya kasus IUU Fishing di Indonesia, pada dasarnya tidak lepas dari
masih lemahnya penegakan hukum dan pengawasan di Perairan Indonesia,
terutama terhadap pengelolaan sumberdaya alam hayati laut, serta ketidaktegasan
aparat dalam penanganan para pelaku Illegal Fishing. Berdasarkan Pasal 85 jo
Pasal 101 Undang Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan dinyatakan
secara tegas bahwa pelaku Illegal Fishing dapat dikenai ancaman hukuman penjara
maksimal 5 tahun.
Tetapi terdapat kelemahan dari UU Perikanan tersebut, yaitu kurang
memperhatikan nasib nelayan dan kepentingan nasional terhadap pengelolaan
sumber daya laut. Sebab, pada Undang Undang Perikanan Nomor 31 Tahun 2004
terdapat celah yang memungkinkan nelayan asing mempunyai kesempatan luas
untuk mengeksploitasi sumberdaya perikanan Indonesia. Khususnya di Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Pada Pasal 29 ayat (1), dinyatakan bahwa
usaha perikanan diwilayah pengelolaan perikanan, hanya boleh dilakukan oleh
Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum Indonesia. Selanjutnya pada ayat (2),
kecuali terdapat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada
orang atau badan hokum asing yang melakukan penangkapan ikan di ZEE,
sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban Negara Indonesia berdasarkan
persetujuan internasional atau ketentuan hokum intenasional.
Selain itu, pemerintah juga harus mempercepat terbentuknya pengadilan
perikanan yang berwenang menentukan, menyelidiki, dan memutuskan tindak
pidana setiap kasus Illegal Fishing dengan tidak melakukan tebang pilih. Bahkan,
jika perlu pemerintah harus berani menghentikan penjarahan kekayaan laut
Indonesia dengan bertindak tegas, seperti penenggelaman kapal nelayan asing

8
2.3.2 Unreported Fishing
Unreported Fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan di perairan wilayah atau
ZEE suatu negara yang tidak dilaporkan baik operasionalnya maupun data kapal
dan hasil tangkapannya. Sengaja memberi data yang salah dalam melaporkan
kegiatan pada institusi nasional yang relevan, yang mana bertentangan dengan
hukum dan peraturan perundang - undangan yang berlaku di negara tersebut dan
dilakukan dalam wilayah, dimana kegiatan tersebut tidak dilaporkan atau salah
dalam melaporkan, sehingga bertentangan dengan prosedur pelaporan diri dari
organisasi tersebut.
Definisi kegiatan perikanan yang termasuk kategori (unreported) mengacu
pada kegiatan penangkapan ikan yang:
1. Tidak melaporkan atau sengaja memberi data yang salah dalam melaporkan
kegiatan pada institusi nasional yang relevan, yang mana bertentangan dengan
hukum dan per-undang-undangan yang berlaku di negara tersebut; atau
2. Dilakukan dalam wilayah, dimana kegiatan tersebut tidak dilaporkan atau salah
dalam melaporkan, sehingga bertentangan dengan prosedur pelaporan diri dari
organisasi tersebut.

2.3.3 Unregulated Fishing


Unregulated Fishing yaitu kegiatan penangkapan di perairan wilayah atau
ZEE suatu negara yang tidak mematuhi aturan yang berlaku di negara tersebut.
Kegiatan penangkapan ikan didaerah penerapan pengelolaan organisasi regional
yang dilakukan oleh kapal - kapal tanpa berkebangsaan atau oleh kapal yang
berkebangsaan bukan anggota organisasi regional atau oleh entitas penangkapan
dalam suatu cara yang tidak konsisten dan bertentangan dengan prinsip konservasi
organisasi regional tersebut yang bertentangan dengan hukum internasional
mengacu pada kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan diarea dalam peraturan
organisasi pengelolaan perikanan regional oleh kapal tanpa nasionalitas, atau kapal
berbendera negara yang tidak menjadi anggota organisasi tersebut, atau oleh suatu
entitas perikanan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan ketentuan - ketentuan
konservasi dan program - program pengelolaan dari organisasi tersebut dan di area
atau terhadap stok yang tidak diatur pengelolaan dan konservasinya, dimana sifat
kegiatan tersebut bertentangan dengan tanggungjawab negara (bendera) terhadap

9
ketentuan hukum internasional mengenai konservasi sumber daya hayati laut.
Beberapa kegiatan penangkapan ikan yang tidak di atau (unregulated)
diperbolehkan sepanjang tidak melanggar ketentuan hukum internasional yang
berlaku
Definisi yang termasuk kegiatan perikanan yang termasuk kategori
(unregulated) mengacu pada kegiatan penangkapan ikan yang:
1. Di area dalam peraturan organisasi pengelolaan perikanan regional oleh kapal
tanpa nasionalitas, atau kapal berbendera negara yang tidak menjadi anggota
organisasi tersebut, atau oleh suatu entitas perikanan yang tidak sesuai atau
bertentangan dengan ketentuan - ketentuan konservasi dan program - program
pengelolaan dari organisasi tersebut; atau
2. Di area atau terhadap stok yang tiidak diatur pengelolaan dan konservasinya,
dimana sifat kegiatan tersebut bertentangan dengan tanggungjawab negara
(bendera) terhadap ketentuanhukum internasional mengenai konservasi sumber
daya hayati laut. Beberapa kegiatan penangkapan ikan yang tidak di ataur
(unregulated) diperbolehkan sepanjang tidak melanggar ketentuan hukum
internasional yang berlaku.

2.4 Penyebab Terjadinya IUU Fishing


Dari uraian diatas dapat kita ketahui bentuk kegiatan dan dan penyebab
terjadinya Illegal Unreported Unregulated (IUU Fishing) di perairan Indonesia dan
Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia adalah sebagai berikut:
Penyebab Illegal Fishing antara lain sebagai berikut:
1) Meningkat dan tingginya permintaan ikan (DN/LN).
2) Berkurang/Habisnya Sumber Daya Ikan (SDI) di negara lain.
3) Lemahnya armada perikanan nasional.
4) Izin/dokumen pendukung dikeluarkan lebih dari satu instansi.
5) Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di laut.
6) Lemahnya delik tuntutan dan putusan pengadilan.
7) Belum ada visi yang sama aparat penegak hokum.
8) Lemahnya peraturan perundangan dan ketentuan pidana.

Penyebab Unreported Fishing antara lain sebagai berikut:


1) Lemahnya peraturan perundang undangan.
2) Sistem pengumpulan data hasil tangkapan/angkutan ikan yang belum sempurna;

10
3) Belum ada kesadaran pengusaha terhadap pentingnya menyampaikan data hasil
tangkapan / angkutan ikan.
4) Hasil tangkapan dan fishing ground dianggap rahasia dan tidak untuk diketahui
pihak lain (saingan).
5) Lemahnya ketentuan sanksi dan pidana.
6) Bentuk wilayah kepulauan menyebabkan banyaknya tempat pendaratan ikan
yang sebagian besar tidak terpantau dan terkontrol.
7) Unit penangkapan dibawah.
8) Sebagian besar pengusaha yang memiliki armada penanfkapan memiliki
pelabuhan / tangkahan tersendiri.
9) Laporan produksi yang diberikan oleh pengurus perusahaan kepada dinas terkait
cenderung lebih rendah dari sebenarnya. Menurut petugas restribusi, laporan
produksi umumnya tidak pernah mencapai 20 % dari produksi yang sebenarnya.

Penyebab Unregulated Fishing antara lain sebagai berikut:


1) Potensi sumber daya ikan di perairan Indonesia masih dianggap memadai dan
belum membahayakan.
2) Sibuk mengatur yang sudah ada karena banyaknya masalah.
3) Orientasi jangka pendek.
4) Beragamnya kondisi daerah perairan dan sumber daya ikan.
Indonesia belummenjadi anggota organisasi perikanan internasional.

2.5 Studi Kasus IUU Fishing


2.5.1 Penangkapan Kapal Berbendera Malaysia
Petugas pengawas perairan Indonesia menangkap dua kapal asing
berbendera Malaysia di wilayah ZEE Indonesia tepatnya di daerah Selat Malaka
pada bulan September 2013. Dari kedua kapal ini berhasil diamankan barang bukti
berupa hasil tangkapan dan juga alat tangkap yang merupakan alat tangkap
terlarang yaitu berupa Trawl (pukat harimau). Keduanya juga ditangkap karena tidak
mempunyai Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan
(SIPI) dari pemerintah RI. Dari 10 orang ABK, tiga diantaranya kapten kapal telah
dinyatakan sebagai tersangka karena ketiga kapten tersebut adalah orang yang
paling bertanggung jawab, sementara yang lainnya rencananya akan di deportasi.

2.5.2 Penangkapan Kapal Berbendera Vietnam


Petugas pengawas perairan Indonesia juga menangkap kapal berbendera
Vietnam di kawasan perairan Sorong, Papua Barat. Kapal berbendera Vietnam

11
memasuki wilayah perairan Indonesia tanpa izin dan tidak memiliki dokumen
pelayaran serta kedapatan melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan
bahan peledak. Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan mendeportasi
keduabelas nelayan Vietnam pelaku pelanggaran Illegal Fishing tersebut. Kebijakan
ini diambil karena beberapa faktor, diantaranya karena hubungan bilateral antara
Indonesia - Vietnam yang selama ini sudah terjalin dengan baik diharapkan tidak
terputus karena faktor ini.

2.5.3 Analisa Kasus


Aturan mengenai pelanggaran di wilayah laut Indonesia sebenarnya sudah
tertulis secara tegas dalam Undang - Undang Perikanan Indonesia namun dalam
penerapannya masih lemah dan tidak konsisten sehingga sering dipermainkan oleh
negara - negara tetangga. Hal ini sangat bertentangan dengan rencana aksi
nasional yang terdapat dalam Keputusan Menteri No. KEP/50/MEN/2012 tentang
rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan Illegal, Unreported and
Unregulated Fishing (IUU Fishing). Dalam Kepmen tersebut salah satunya
menyebutkan bahwa Indonesia akan meningkatkan konsistensi dalam menerapkan
sanksi bagi para pelaku IUU Fishing. Sikap tidak konsisten Indonesia dalam
menerapkan sanksi bagi pelaku kasus Illegal Fishing di wilayah perairan Indonesia
dapat dilihat dari tindakan yang diambil Indonesia pada kasus nelayan Malaysia dan
Vietnam di atas. Dua kasus di atas jika dilihat secara seksama sebetulnya sama,
yaitu baik kapal berbendera Malaysia maupun Vietnam sama - sama memasuki
wilayah ZEE Indonesia tanpa izin dari pemerintah Indonesia disertai menangkap
ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan terlarang. Namun dalam
memproses kasusnya Indonesia menerapkan kebijakan yang berbeda.

2.6 Solusi Indonesia Tentang IUU Fishing


2.6.1 Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
Keputusan Menteri Nomor KEP/50/MEN/2012 merupakan bentuk penerapan
dari the Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yang disepakati pada
tahun 1995 oleh negara - negara Food And Agriculture Organization (FAO) tentang
pengelolaan dan pembangunan perikanan yang tertib, bertanggung jawab, dan

12
berkelanjutan serta sebagai bentuk implementasi dari aksi internasional untuk
memerangi IUU Fishing yang dituangkan dalam International Plan of Action to
Prevent, Deter and Eliminate IUU Fishing (IPOAIUU Fishing) pada tahun 2001.
IPOA - IUU Fishing tersebut harus di tindak lanjuti oleh setiap negara, termasuk
Indonesia dengan menyusun rencana aksi pencegahan dan penanggulangan IUU
Fishing di tingkat nasional. Upaya penanggulangan IUU Fishing di Indonesia
dilakukan antara lain melalui:
a. Mengadopsi atau meratifikasi peraturan internasional.
b. Review dan penyesuaian legislasi nasional jika diperlukan.
c. Merekrut pengawas perikanan dan PPNS serta melakukan pengembangan
kapasitas.
d. Berpartisipasi aktif dalam RFMO dan organisasi perikanan internasional lainnya.
e. Berperan aktif dalam RPOA IUU.
f. Mengimplementasikan MCS melalui VMS, observer, log book dan pemeriksaan
pelabuhan.
g. Membentuk dan mengembangkan kapasitas UPT Pengawasan SDKP di daerah.
h. Menyediakan infrastruktur pengawasan, seperti kapal pengawas dan speedboat.
i. Meningkatkan kapasitas Pokmaswas.
j. Membentuk Peradilan Perikanan.
k. Mengintensifkan operasi pengawasan dan melakukan patrol bersama atau
terkoordinasi.
Sementara itu untuk Rencana Aksi Nasional Indonesia dalam mencegah dan
menanggulangi IUU Fishing adalah melalui Tanggung Jawab Negara, Tanggung
Jawab Negara Bendera, Tindakan Negara Pantai, Tindakan Negara Pelabuhan,
Kesepakatan Ketentuan Terkait tentang Pasar Internasional, Penelitian, Organisasi
Pengelolaan Perikanan Regional serta Persyaratan Khusus bagi Negara
Berkembang.
2.6.2 Kerjasama Internasional Dengan (RFMO)
RFMO (Regional Fisheris Management Organization) adalah kerjasama
antar negara (regional cooperation) untuk melakukan tindakan konservasi dan
pengelolaan Highly Migratory Fish Stocks dan Straddling Fish Stocks, guna
menjamin pemanfaatan sumber daya tuna secara berkelanjutan. RFMO dibagi
dalam beberapa zona:

13
a. Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) yang mengelola Laut lepas Samudera
Hindia
b. Convention on Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) yang mengelola
Laut lepas Samudera Hindia Bagian Selatan
c. Western Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) yang mengelola Laut
lepas Samudera Pasifik Bagian Barat
d. Inter - America Tropical Tuna Commission (IATTC) yang mengelola Laut lepas
Samudera Pasifik Bagian Timur.
e. International Commission for the Conservation of Atlantic Tunas (ICCAT) yang
mengelola Laut lepas Samudera Atlantik.

Kategori IUU Fishing berdasarkan RFMO:


a. Melakukan penangkapan dan/atau pengangkutan ikan tuna dan spesies seperti
tuna di Laut Lepas dan/atau wilayah pengelolaan RFMO tanpa memiliki Izin
dan/atau;
b. Melakukan penangkapan dan/atau pengangkutan ikan tuna dan spesies seperti
tuna di Laut Lepas dan/atau wilayah pengelolaan RFMO sebelum tercantum
dalam RFMO- Record of Vessels Authorized to Fish or to Operate dan/atau;
c. Melakukan penangkapan tuna dan spesies seperti tuna di wilayah pengelolaan
RFMO, ketika negara bendera kapal tidak mempunyai kuota dan/atau terkena
pembatasan ikan hasil tangkapan dan/atau alokasi upaya penangkapan (effort)
berdasarkan tindakan pengelolaan dan konservasi yang diadopsi oleh RFMO
dan/atau;
d. Tidak mencatat atau tidak melaporkan ikan hasil tangkapan di wilayah laut lepas
dan/atau wilayah pengelolaan RFMO sesuai dengan persyaratan pelaporan yang
ditetapkan RFMO atau membuat laporan hasil tangkapan palsu dan/atau;
e. Melakukan penangkapan atau mendaratkan tuna dan spesies seperti tuna yang
berukuran belum cukup, yang bertentangan dengan tindakan konservasi yang
diadopsi oleh RFMO dan/atau f. Melakukan penangkapan ikan selama musim
penangkapan ikan ditutup atau dalam wilayah penangkapan ikan yang tertutup,
yang bertentangan dengan tindakan konservasi yang diadopsi RFMO dan/atau;
g. Menggunakan alat penangkapan ikan yang dilarang, yang bertentangan dengan
tindakan konservasi yang diadopsi RFMO dan/atau;

14
h. Memindahkan ikan hasil tangkapan, atau turut serta dalam operasi penangkapan
ikan gabungan/bersama seperti memberikan pasokan logistik atau pasokan
bahan bakar kepada kapal-kapal yang tercantum dalam daftar kapal yang telah
melakukan kegiatan IUU Fishing dan/atau kapal yang tercantum dalam IUU
Vessel List dan/atau;
i. Melakukan penangkapan tuna dan spesies seperti tuna di perairan dibawah
yurisdiksi negara lain tanpa memiliki izin dan/atau bertentangan dengan peraturan
perundang - undangan yang berlaku di negara pantai dan/atau;
j. Melakukan penangkapan tuna di wilayah konvensi RFMO tanpa kebangsaan
kapal.
k. Terlibat dalam penangkapan tuna, termasuk alih muatan (transhipment), pengisian
bahan bakar dan/atau logistik dengan cara yang bertentangan dengan tindakan
konservasi dan pengelolaan.
Setiap kapal yang melakukan kegiatan yang termasuk dalam IUU Fishing
baik sendiri - sendiri maupun secara bersama - sama, akan dicantumkan dalam IUU
Vessel List dan akan mendapat tindakan dari Negara peserta RFMO (berdasarkan
Resolusi RFMO) berupa:
a. Melarang melakukan pemindahan ikan hasil tangkapan dari dan/atau kepada
kapal penangkap ikan dan/atau kapal pengangkut ikan lainnya di seluruh wilayah
Indonesia, baik di laut maupun di pelabuhan.
b. Melarang melakukan pendaratan dan/atau memindahkan ikan hasil tangkapan ke
kapal lain, mengisi bahan bakar, mengisi logistic atau terlibat dalam transaksi
perdagangan lainnya.
c. Melarang setiap orang dan/atau badan hukum Indonesia menyewa setiap kapal
yang tercantum dalam daftar provisional IUU Vessel List danIUU Vessels List.
d. Melarang setiap orang dan/atau badan hukum Indonesia membeli ikan dan/atau
melakukan impor ikan yang berasal dari kapal yang tercantum dalam provisional
IUU Vessel List dan IUU Vessels List.
e. Melarang perubahan bendera dan nama kapal.

2.7 Dampak IUU Fishing


Praktik IUU Fishing, tidak hanya merugikan secara ekonomi, dengan nilai
trilyunan rupiah yang hilang, tetapi juga menghancurkan perekonomian nelayan.

15
Selain itu juga menimbulkan dampak politik terhadap hubungan antar negara yang
berdampingan, melanggar kedaulatan negara dan ancaman terhadap kelestarian
sumber daya hayati laut.

2.7.1 Dampak Ekonomi


Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and
Agriculture Organization / FAO) menyatakan bahwa kerugian Indonesia akibat IUU
Fishing diperkiraan mencapai Rp. 30 triliun per tahun.7 FAO menyatakan bahwa
saat ini stok sumber daya ikan di dunia yang masih memungkinkan untuk
ditingkatkan penangkapanya hanya tinggal 20 persen, sedangkan 55 persen sudah
dalam kondisi pemanfaatan penuh dan sisanya 25 persen terancam kelestariannya.
Hal ini diperjelas dengan pernyataan dari Kementerian Kelautan Perikanan
(KKP)8 bahwa tingkat kerugian tersebut sekitar 25 persen dari total potensi
perikanan yang dimiliki Indonesia sebesar 1,6 juta ton per tahun. Kondisi perikanan
di dunia ini tidak berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia. Pada tahun 2003 - 2007,
KKP telah melakukan pengawasan dan penangkapan terhadap 89 kapal asing, dan
95 kapal ikan Indonesia. Kerugian negara yang dapat diselamatkan diperkirakan
mencapai Rp 439,6 miliar dengan rincian Pajak Penghasilan Perikanan (PHP)
sebesar Rp 34 miliar. Selain itu, subsidi BBM senilai Rp 23,8 miliar, sumber daya
perikanan yang terselamatkan senilai Rp 381 miliar, dan nilai sumber daya ikan
tersebut bila dikonversikan dengan produksi ikan sekitar 43.208 ton. Berdasarkan
data tersebut, setiap tahun diperkirakan Indonesia mengalami kerugian akibat IUU
Fishing sebesar Rp. 101.040 trilliun/tahun. Kerugian ekonomi lainnya,9 adalah
hilangnya nilai ekonomis dari ikan yang dicuri, pungutan hasil perikanan (PHP) akan
hilang, dan subsidi BBM dinikmati oleh kapal perikanan yang tidak berhak. Selain itu
Unit Pengelolaan Ikan (UPI) kekurangan pasokan bahan baku, sehingga
melemahkan upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan daya saing produk
perikanan.

2.7.2 Dampak Politik


Salah satu pemicu konflik atau ketegangan hubungan diplomatik diantara
negara - negara adalah permasalahan IUU Fishing. Terutama mengganggu
kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menimbulkan citra negatif,
karena beberapa negara menganggap kita tidak mampu mengelola sumber daya

16
kelautan dengan baik. Apalagi menyangkut hubungan bilateral antar negara yang
berdekatan / bertetangga, yang dilakukan oleh kapal nelayan tradisional (traditional
fishing right), atau kapal - kapal pukat (trawlers) yang dimiliki oleh setiap negara.
Pada beberapa kasus traditional fishing right, yang sering terjadi adalah di
perbatasan Indonesia Malaysia dan Indonesia Australia. Sebagai upaya untuk
memperkecil ketegangan diantara kedua negara, diperlukan telaah ulang terhadap
perjanjian bilateral terkait dengan hal tersebut. Selain itu juga melakukan
penyuluhan / sosialisasi kepada nelayan tradisional terkait penangkapan ikan secara
legal di wilayah yang telah diperjanjian (fishing ground).
Kegiatan IUU Fishing yang dilakukan oleh kapal asing banyak menggunakan
kapal trawl, terutama kapal Thailand, Myanmar, Philipina dan Taiwan. Keberadaan
kapal tersebut dapat memicu dan menjadi konflik diantara kedua negara. Sementara
bagi beberapa negara tersebut, sangat rendah keinginan untuk membuat kerjasama
sub regional atau regional untuk memberantas IUU Fishing. Hal ini didukung dengan
kondisi industri perikanan di negara tetangga yang sangat membutuhkan pasokan
ikan, tanpa memperhatikan dari mana pasokan ikan berasal.
Sebagai upaya untuk memperkecil konflik diantara kedua negara maka
dibutuhkan koordinasi dan saling menghargai kedaulatan negara, terutama tentang
eksplora dan eksploitasi sumberdaya perikanan.

2.7.3 Dampak Sosial


Kegiatan IUU Fishing di Perairan Indonesia, menjadi perhatian dan komitmen
Pemerintah untuk mengatasinya. Bagi Indonesia dan negara - negara di kawasan
Asia Tenggara, sektor perikanan dan kehutanan menjadi sumber utama bagi
ketahanan pangan di Kawasan tersebut. Eksploitasi secara besar-besaran dan
drastis sebagai upaya utama perbaikan ekonomi negara dan kesejahteraan
penduduk menjadi alasan dan penyebab utama berkurangnya secara drastis
sumberdaya perikanan. Dampak sosial muncul dengan rawannya terjadi konflik /
sengketa diantara para nelayan tradisional antar negara dan pemilik kapal pukat /
trawl. Persoalan tersebut akan menyebabkan timbulnya permasalahan dalam
hubungan diantara kedua negara. Terutama Indonesia Malaysia dan Indonesia
Australia.

17
Sebagai negara dengan sumberdaya hayati perikanan yang melimpah, maka
pabrik pengolahan ikan menjadi sangat penting. Seiring dengan berkurangnya hasil
tangkapan dan kegiatan IUU Fishing, maka secara tidak langsung akan berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup karyawan pengolahan pabrik ikan. Pasokan ikan yang
berkurang, menyebabkan beberapa perusahaan tidak beroperasi lagi dan banyak
terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) karena tidak ada lagi pasokan bahan baku,
seperti di Tual dan Bejina. Hasil penangkapan ikan oleh kapal - kapal asing atau
kapal nelayan Indonesia tersebut biasanya langsung dibawa keluar Indonesia
melalui trans - shipment, yang bertentangan dengan Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 16 tahun 2006, yaitu mewajibkan hasil tangkapan ikan diturunkan
dan diolah di darat. Saat ini banyak kapal ikan Indonesia yang lebih memilik menjual
hasil tangkapannya di wilayah perairan Indonesia ke pihak luar (misalnya
Perusahaan Pengolahan Ikan di Philipina dan Taiwan) dibanding menyuplai untuk
kebutuhan domestik.

2.7.4 Dampak Lingkungan dan Ekologi


Kebijakan Pemerintah terkait dengan penangkapan ikan harus memenuhi
aturan dan kriteria adanya Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI), penetapan zona
penangkapan (fishing ground), jenis tangkapan ikan, jumlah tangkapan yang sesuai
dengan jenis kapal dan wilayah tangkap (total allowable catch), dan alat
tangkapnya. Aturan ini pada dasarnya mempunyai makna filosofis dan yuridis, agar
sumberdaya hayati perikanan dapat terjaga kelestariannya dan berkelanjutan. Motif
ekonomi selalu menjadi alasan bagi kapal - kapal penangkap ikan untuk melakukan
kegiatan dalam kategori IUU Fishing. Dampak yang muncul adalah kejahatan
pencurian ikan yang berakibat pada rusaknya sumberdaya kelautan dan perikanan.
Alat tangkap yang digunakan dalam bentuk bahan beracun yang akan merusak
terumbu karang (alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan), sebagai tempat
berpijahnya ikan, akan berakibat makin sedikitnya populasi ikan dalam suatu
perairan tertentu, atau menangkap menggunakan alat tangkap ikan skala besar
(seperti trawl dan Pukat harimau) yang tidak sesuai dengan ketentuan dan keadaan
laut Indonesia secara semena-mena dan eksploitatif, sehingga menipisnya
sumberdaya ikan , hal ini akan mengganggu keberlanjutan perikanan.

18
Upaya yang dilakukan oleh FAO dengan adanya aturan tentang Code of
Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) sangat membantu negara - negara yang
mengalami permasalahan IUU Fishing. Implementasi terhadap CCRF dalam RPOA
dan IPOA diharapkan dapat mengurangi kegiatan IUU Fishing di Indonesia.
Dampak kegiatan IUU Fishing bagi Indonesia sebagai berikut:
a. Ancaman terhadap kelestarian sumber daya ikan;
b. Terdesaknya mata pencaharian masyarakat nelayan lokal dengan armada
penangkapan skala kecil dan alat tangkap sederhana, karena kalah bersaing
dengan pelaku Illegal Fishing;
c. Hilangnya sebagian produksi ikan dan peluang perolehan devisa negara;
d. Berkurangnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
e. Terhambatnya upaya Indonesia untuk memperkuat industry pengolahan ikan di
dalam negeri, termasuk meningkatkan daya saing;
f. Merusak citra Indonesia pada kancah internasional, karena kapal asing yang
menggunakan bendera Indonesia maupun kapal milik warga negara Indonesia
melakukan kegiatan penangkapan ikan secara illegal yang bertentangan dengan
konvensi dan kesepakatan internasional. Hal ini juga dapat berdampak ancaman
embargo terhadap hasil perikanan Indonesia yang dipasarkan di luar negeri.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Dalam Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor
4/PERMEN-KP/2015 Tentang Larangan Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan

19
Perikanan Negara Republik Indonesia 714 Terdapat 4 Pasal Yang Mengatur Tentang
Larangan Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Negara Republik Indonesia 714, salah satu contohnya yaitu larangan melakukan
penangkapan ikan pada sebagian Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik
Indonesia 714 yang merupakan daerah pemijahan (breeding ground) dan daerah
bertelur (spawning ground).
2. Illegal Fishing adalah penangkapan ikan tanpa izin dari Wilayah Perikanan
Tangkap Republik Indonesia (WPTRI) mulai dari laut teritorial hingga ZEE Indonesia
3. Unreported Fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan di perairan wilayah atau ZEE
suatu negara yang tidak dilaporkan baik operasionalnya maupun data kapal dan
hasil tangkapannya.
4. Unregulated Fishing yaitu kegiatan penangkapan di perairan wilayah atau ZEE
suatu negara yang tidak mematuhi aturan yang berlaku di negara tersebut.
5. Penyebab Illegal Fishing antara lain:
a. Meningkat dan tingginya permintaan ikan (DN/LN).
b. Berkurang/Habisnya Sumber Daya Ikan (SDI) di negara lain.
c. Lemahnya armada perikanan nasional.
d. Izin/dokumen pendukung dikeluarkan lebih dari satu instansi.
6. Penyebab Unreported Fishing antara lain sebagai berikut:
a. Lemahnya peraturan perundang undangan.
b. Sistem pengumpulan data hasil tangkapan/angkutan ikan yang belum
sempurna;
c. Belum ada kesadaran pengusaha terhadap pentingnya menyampaikan
data hasil tangkapan / angkutan ikan.
7. Penyebab Unregulated Fishing antara lain sebagai berikut:
a. Potensi sumber daya ikan di perairan Indonesia masih dianggap memadai
dan belum membahayakan.
b. Sibuk mengatur yang sudah ada karena banyaknya masalah.
c. Orientasi jangka pendek.

3.2 Saran
Peraturan Menteri Kelautan Perikanan No 4 Tahun 2015 mungkin sudah
terlaksana namun belum maksimal. Mengingat banyaknya masyarakat nelayan yang
hidup di daerah yang cukup terpencil, sehingga persebaran informasi belum
maksimal diterima oleh nelayan setempat. Ditambah lagi adanya bberapa nelayan
yang bersifat seenaknya sendiri dan tidak memikirkan kepentingan orang lain dan
kedepannya.

20
Dengan adanya masalah tersebut diharapkan Pemerintah gencar memantau
pelaksanaan peraturan tersebut sehingga hasilnya memuaskan. Diharapkan semua
pihak berperan aktif dalam pelaksanaan peraturan ini sehingga timbulnya sinergi
antara pemerintah dan masyarakat. Pelaksanaan pengawasan bisa berupa
sosialisasi terlebih dahulu kepada semua pihak yang dimungkinkan terkait dengan
peraturan ini, pelaksanaan peraturan dan selanjutnya adalah pengawasan. Dengan
adanya sinergi tersebut, maksud dan tujuan dalam peraturan menteri ini bukanlah
hal mustahil lagi.

21
DAFTAR PUSTAKA

Afrianto. 2012. http://www.perumperindo.co.id/publikasi/artikel/171-potensi-


indonesia-sebagai-negara-maritim. Diakses 25 Mei 2017 Pukul 20.30 WIB
Amir, Usmawadi. 2013. Penegakan Hukum IUU Fishing Menurut Unclos 1982 (Studi
Kasus: Volga Case). Jurnal Opinio Juris. Volume 12 : 68 92.
Ariadno, Melda Kamil. 2007. Hukum Internasional Hukum Yang Hidup. Jakarta.
Media Jakarta. Hal. 129
Dahuri, R. dkk. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan
Echols, John M and Hassan Shadily. 2000. Kamus Inggris - Indonesia. Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama
FAO - IUU. 2005. Fishing Dalam Code of Conduct For Responsible Fisheries.
Hardiana, Indrita., dan T. Benedicta. 2011.
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/10/22/308561/potensi-indonesia-
sebagai-negara-maritim. Diakses 29 Mei 2017 Pukul 20.37 WIB
Kaye, Melati. 2015. http://www.mongabay.co.id/2015/05/12/miris-ada-aturan-
penangkapan-lobster-nelayan-beralih-menangkap-pari/. Diakses 25 Mei 2017
Pukul 20.03 WIB
Kohar, Junaidi. 2011. http://koran.bisnis.com/read/20150127/245/395451/editorial-
bisnis-kelestarian-laut-vs-kepentingan-ekspor. Diakses 25 Mei 2017 Pukul
21.42 WIB
Kominfo Indonesia, Data FAO Pada Tahun 2001, Diakses Pada 9 April 2017
jam 15.53 WIB.
Laurance Blakely., The End of The Viarsa Saga and The Legality of Australias
Vessel Forfeiture Penalty for Illegal Fishing in Its Exclusive Economic Zone.
Hal. 680.
Lewerissa, Yanti Amelia. 2010. Praktek Illegal Fishing Di Perairan Maluku Sebagai
Bentuk Kejahatan Ekonomi. Jurnal Sasi. 16 (3) : 61 68.
Penanggulangannya Melalui Pengadilan Perikanan. Jurnal Keadilan. 4 (2).
Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 4/Permen -
KP/2015 Tentang Larangan Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Negara Republik Indonesia 714
Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita: Jakarta

22
Sihotang, Tommy. 2005. Masalah Illegal, Unregulated, Unreported Fishing Dan
Soen'an H Poernomo. 2014. Kepala Pusat Data Statistik Dan Informasi Departemen
Kelautan Dan Perikanan (DKP), Jakarta.
Sunyowati, D. 2013. Port State Measures dalam Upaya Pencegahan terhadap IUU
Fishing di Indonesia, Peran Hukum Dalam Pembangunan di Indonesia. Liber
Amicorum Prof. Dr. Etty R. Agoes, SH., LLM, Remaja Rosdakarya, Bandung,
September, 2013, hal. 438
Wardhaningsih, Ida Kusumah. 2014. KKP, Kerepotan Berantas Illegal Fishing, Politik
Indonesia - Jaringan Informasi Politisi.

23

Anda mungkin juga menyukai