Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN GRIFFITH, HERSHEY & CHASE, FREANKEL SERTA

STRUKTUR DNA DAN RNA

RESUME
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Genetika Lanjut yang dibina oleh
Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah M. Pd.

Oleh
Kelompok 2 / Off A
Rochmatul Ummah (160341800267)
M. B. Murditya (160341800937)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JANUARI 2017
Pendahuluan

Asam nukleat penyusun suatu gen dapat dikatakan sebagai pembawa informasi
genetik atau disebut sebagai materi genetik adalah kesimpulan dari tiga penelitian
penting dalam genetika yakni penelitian Griffith, Hershey-Chase dan Fraenkel-
Conrad. Penelitian Griffith berhasil membuktikan bahwa adanya suatu substansi
yang dapat mengubah sifat fisiologis dan morfologis dari suatu organisme. Lebih
lanjut, substansi yang diungkap dalam penelitian Griffith selanjutnya disebut sebagai
materi genetik. Penelitian yang dilakukan oleh Hershey dan Chase pada tahun 1952
berhasil membuktikan bahwa substansi yang diungkap dalam penelitian Griffith
adalah DNA. Penelitian Hershey-Chase menggunakan virus bacteriophage T2, yang
telah ditandai dengan unsur radioaktif pada protein dan DNA-nya untuk
membuktikan senyawa apakah yang masuk ke dalam sel bakteri. Sedangkan pada
penelitian Fraenkel-Conrad penandaan dilakukan pada protein dan RNA dari virus.
Lebih lanjut, penelitian Fraenkel-Conrad berhasil mengkonfirmasi bahwa RNA
merupakan materi genetik bersama dengan DNA.

TOPIK I. PERCOBAAN GRIFFITH

Pada dasarnya penelitian yang dilakukan oleh Griffith, adalah penelitian yang
bertujuan untuk membuktikan terjadinya proses transformasi pada bakteri. Dalam
penelitiannya, Griffith melakukan percobaan dengan menyuntikkan bakteri
Pneumococci Type IIIS yang ganas (virulen) namun telah dimatikan telah dengan
dipanaskan ditambah dengan Pneumococci Type IIR (avirulen) yang masih hidup ke
dalam seekor tikus (Snustad dkk, 2012). Hasil dari perlakuan ini menyebabkan tikus
yang disuntik dengan Pneumococci Type IIIS mati ditambah Pneumococci Type IIR
hidup mengalami pneumonia (Snustad dkk, 2012). Hal ini berbeda dengan hasil
perlakuan dimana tikus yang disuntik dengan bakteri Pneumococci Type IIR atau
Pneumococci Type IIIS yang telah mati, tetap sehat dan tidak menunjukkan gejala
pneumonia.
Gambar 1.1: Penelitian Griffith untuk membuktikan terjadinya transformasi pada
Streptococcus pneumoniae (Snustad dkk, 2012).

Lebih lanjut, observasi mendalam menunjukkan bahwa virulensi tidak


diakibatkan oleh beberapa ekor bakteri pneumococci Type IIIS yang selamat
melewati proses pemanasan, namun karena pneumococci Type IIR yang dicampur
dengan sisa pneumococci Type IIS berubah menjadi memiliki kapsul pneumococci
Type IIS (Snustad dkk, 2012). Kapsul pneumococci Type IIS inilah yang
menyebabkan terjadinya virulensi. Lebih lanjut, dari penelitian yang dilakukan oleh
Griffith ini dapat disimpulkan ada substansi tertentu dalam sisa pneumococci Type
IIS yang dapat mengubah bakteri pneumococci Type IIR menjadi memiliki kapsul
bakteri pneumococci Type IIS. Substansi inilah yang kemudian disebut sebagai
materi genetik. Hipotesis yang berkembang saat itu, ada dua kandidat kuat dari
materi genetic yakni asam nukleat dan protein.

TOPIK II. PERCOBAAN HERSHEY-CHASE

Pada tahun 1952 Alfred Hershey dan Martha Chase melakukan penelitian
yang membuktikan bahwa DNA adalah materi genetik. Berkat penelitiannya ini
Alfred Hershey dan Martha Chase memperoleh hadiah Nobel pada tahun 1969.
Penelitian Alfred Hershey dan Martha Chase ini untuk selanjutnya dikenal sebagai
percobaan Hershey-Chase. Virus yang digunakan pada percobaan Hershey Chase ini
adalah virus bacteriophage T2 (Snustad dkk, 2012).
Gambar 1.2: Langkah-langkah penelitian yang dilakukan oleh Hershey-Chase
dengan menggunakan virus bacteriophage T2, berhasil membuktikan
bahwa DNA yang terdapat di dalam virus bacteriophage T2
merupakan materi genetik, sedangkan protein penyusun kapsid bukan
termasuk materi genetik (Snustad dkk, 2012).

Pemilihan virus sebagai subjek utama pada percobaan ini berdasarkan


petimbangan struktur virus yang sederhana, hanya tersusun atas DNA dan protein
sebagai kapsidnya. Struktur virus yang hanya berupa DNA dan protein
memungkinkan bagi Hershey-Chase untuk menentukan senyawa mana yang secara
pasti merupakan materi genetik. Virus dapat bereproduksi dan mewariskan sifat
pathogennya pada virus generasi selanjutnya jika virus tersebut dapat memasukkan
senyawa kimia tertentu ke dalam sel. Hershey-Chase menduga bahwa senyawa kimia
yang dimasukkan oleh virus ke dalam sel adalah materi genetik dari virus tersebut
sehingga untuk menentukan senyawa kimia apa yang menjadi materi genetik virus
dapat dilakukan dengan mendeteksi dan mengidentifkasi senyawa kimia yang
dimasukkan virus ke dalam sel (Snustad dkk, 2012).
Pendeteksian senyawa kimia yang dimasukkan oleh virus ke dalam sel ini
memerlukan suatu senyawa atau molekul penanda spesifk yang dapat digunakan
untuk membedakan DNA dan protein sebagai penyusun tubuh virus. Molekul
penanda spesifk yang digunakan dalam percobaan ini juga harus dapat
dikualitatifkan dan dikuantifkasikan. Hershey-Chase memilih menggunakan molekul
penanda berupa atom isotop radioaktif dari unsur fosfor (P) dan belerang (S), yakni
32 35
isotop P dan S (Snustad dkk, 2012). Pemilihan isotop dari kedua unsur ini
didasarkan pada fakta penelitian-penelitian lain terdahulu yang menyebutkan bahwa
tidak ada satupun asam amino yang memiliki gugus fosfat ataupun unsur P di dalam
rantai molekulnya, sebaliknya tidak ada satupun senyawa asam nukleat (DNA/RNA)
yang memiliki gugus sulfur ataupun unsur S dalam rantai molekulnya (Snustad dkk,
2012). Hal ini menyebabkan asam nukleat tidak dapat berikatan dengan isotop 35S
sedangkan asam amino protein tidak dapat berikatan dengan isotop 32P.
Penggunaan isotop 32P dan 35S pada penelitian ini memungkinkan Hershey-
Chase untuk mendeteksi secara pasti senyawa apa yang dimasukkan virus ke dalam
sel. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa DNA-lah yang merupakan senyawa
kimia yang dimasukkan oleh virus ke dalam sel, ditunjukkan oleh banyaknya DNA
dengan isotop 32P pada pelet (Snustad dkk, 2012).

TOPIK III. PERCOBAAN FRANKEL-CONRAD

Pada tahun 1957 Heinz Fraenkel-Conrad berhasil melakukan penelitian yang


membuktikan bahwa RNA merupakan materi genetik dari beberapa virus tertentu.
Percobaan Fraenkel-Conrad ini menggunakan TMV (Tobacco Mosaic Virus) yang
telah diketahui tidak memiliki DNA melainkan RNA. Pada penelitian yang
dilakukannya Fraenkel-Conrad menggunakan dua strain TMV yang berbeda, sebut
saja TMV strain A dan B. Fraenkel-Conrad kemudian menghancurkan kapsid TMV
strain A dan RNA TMV strain B dengan perlakuan kimiawi dan sebaliknya.
Fraenkel-Conrad kemudian mencampurkan RNA dari TMV strain A dengan kapsid
dari TMV strain B dan sebaliknya, sehingga terciptalah virus campuran dengan RNA
dari TMV strain A dan kapsid dari TMV strain B, begitu juga sebaliknya. Saat virus
campuran tersebut diinokulasikan pada daun tembakau dan diinkubasi sehingga
dihasilkan virus baru, ternyata virus baru yang dihasilkan adalah virus TMV strain A
dan bukan TMV strain B ataupun virus campuran, demikian juga sebaliknya
(Snustad dkk, 2012). Dari percobaan tersebut, Fraenkel-Conrad menyimpulkan
bahwa materi genetik dapat berupa RNA.
Gambar 1.3: Garis besar langkah-langkah penelitian yang dilakukan oleh Fraenkel-
Conrad dengan menggunakan virus TMV, berhasil membuktikan
bahwa RNA yang terdapat di dalam virus TMV merupakan materi
genetik, sedangkan protein penyusun kapsid bukan termasuk materi
genetik (Snustad dkk, 2012).

TOPIK IV. STRUKTUR DNA DAN RNA

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Griffith, Hershey-Chase dan


Fraenkel-Conrad dapat disimpulkan bahwa materi genetik yang terdapat dalam tubuh
makhluk hidup adalah DNA dan RNA karena keduanya berisi informasi genetik yang
dimiliki oleh makhluk hidup. Informasi genetik seluruh makhluk hidup terdapat pada
asam nukleat seperti hasil penelitian yang menyatakan bahwa informasi genetik tidak
disimpan dalam protein namun disimpan dalam asam nukleat. Asam nukleat
merupakan makromolekul yang terdiri atas kumpulan dari nukleotida, dan setiap
nukleotida terdiri atas 3 gugus molekul yaitu gugus fosfat, gula pentosa (gula
berkarbon 5) dan basa nitrogen. Berdasarkan nukleotida yang menyusun asam
nukleat, maka asam nukleat dibedakan menjadi dua macam yaitu DNA
(deoxyribonucleic acid) dan RNA (ribonucleic acid). Berikut penjelasan dari molekul
DNA dan RNA:
1. DNA
DNA berfungsi sebagai penyimpan informasi genetik dari seluruh makhluk
hidup kecuali virus RNA. Sebagian besar DNA berada dalam inti sel (nukleus)
(Lewin, 2008). Struktur nukleotida pada DNA terdiri atas gugus fosfat, gula 2-
deoksiribosa yang biasa disebut dengan asam deoksiribonukleat, dan basa nitogen
yang terdiri atas adenin (A), guanin (G), timin (T), dan sitosin (C) (Snustad dkk,
2012). Adenin dan guanin merupakan basa bercincin ganda yang disbut dengan
purin, sedangkan timin dan sitosin merupakan basa bercincin tunggal yang disebut
dengan pirimidin. Pada DNA adenin selalu berpasangan dengan timin dengan
dihubungkan oleh 2 atom H, sedangkan guanin berpasangan dengan sitosin dengan
dihubungkan oleh 3 atom H (Snustas dkk, 2012).
Struktur DNA berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chargaff, Wilkins,
Franklin dengan difraksi sinar-X, sehingga disimpulkan bahwa DNA berupa untai
ganda double helix yang saling terpilin dimana dua rantai polinukleotida melingkar
satu sama lain dengan membentuk spiral. Terbentuknya struktur double helix karena
adanya ikatan hidrogen yang bersifat lemah dan adanya ikatan hidrofobik antara
pasangan basa yang berdekatan. Sisi planar dari pasangan basa relatif nonpolar
sehingga bersifat hidrofobik (tidak larut dalam air), karena adanya ikatan hidrofobik
inilah yang menyebabkan molekul DNA mempunyai stabilitas yang tinggi.
2. RNA
RNA merupakan molekul yang berfungsi sebagai penyimpan dan penyalur
informasi genetik. RNA berfungsi sebagai penyimpan informasi genetik seperti
halnya pada virus, terutama golongan retrovirus. Sedangkan RNA berfungsi sebagai
penyalur informasi genetik seperti pada proses translasi dalam sistesis protein.
Karena perannya dalam berhubungan dengan sintesis protein, menyebabkan RNA
cenderung bersifat tidak stabil dikarenakan kadar RNA dalam setiap sel berbeda dan
tidak tetap tergantung dengan jumlah sintesis protein yang dibutuhkan oleh suatu sel
dalam tubuh makhluk hidup. RNA sebagian besar ditemukan pada sitoplasma
(Lewin, 2008).
RNA berupa untai tunggal atau yang biasa disebut dengan polinukleotida
dengan struktur nukleotida pada RNA terdiri atas gugus fosfat, gula ribosa atau yang
biasa disebut dengan asam ribonukleat, dan basa nitrogen yang terdiri atas adenin
(A), guanin (G), urasil (U), dan sitosin (C). Adenin dan guanin merupakan basa
bercincin ganda (purin), sedangan urasil dan sitosin merupakan basa bercincin
tunggal (pirimidin). Sama halnya dengan pasangan basa nitrogen yang terdapat pada
DNA tadi, hanya saja tempat timin digantikan dengan urasil, yakni adenin
berpasangan dengan urasil, sedangkan guanin berpasangan dengan sitosin (Snustad
dkk, 2012).
Penjelasan dari DNA dan RNA diatas dapat ditemukan adanya perpedaan
utama antara molekul DNA dan RNA. Perbedaan tersebut tidak lain adalah pada
struktur nukleotida yang menyusun keduanya, yakni gugus gula dimana gugus gula
DNA adalah 2-deoksiribosa sedangkan gugus gula RNA adalah ribos. Perbedaan
kedua adalah basa nitrogen yang menyusun keduanya, dimana basa nitrogen pada
DNA adalah adenin (A), guanin (G), timin (T), dan sitosin (C), sedangkan basa
nitrogen pada RNA adalah adenin (A), guanin (G), urasil (U), dan sitosin (C). Lebih
jelasnya perbedaan antara DNA dan RNA dapat dilihat pada gambar 1.4 berikut.
Gambar 1.4. Struktur dari komponen asam nukleat
(Snustad dkk, 2012).

PERTANYAAN

32 35
1. Jelaskan alasan penggunaan isotope P dan S sebagai penanda dalam
penelitian yang dilakukan oleh Hershey-Chase? (M. B. Murditya -
160341800937)
2. Jelaskan alasan penggunaan dua strain virus TMV yang berbeda pada percobaan
Fraenkel-Conrad? (M. B. Murditya - 160341800937)
3. Struktur RNA sebagai molekul untai tunggal, menyebabkan RNA selain
merupakan materi genetik, juga dapat memiliki aktivitas enzimatis (Ribozyme),
jelaskan alasan mengapa RNA dapat memiliki sifat enzimatis? (M. B. Murditya -
160341800937)

4. Bagaimana keterkaitan antara struktur dan fungsi DNA sebagai penyimpan


informasi genetik dengan adanya pewarisan sifat dari generasi ke generasi?
(Rochmatul Ummah - 160341800267)
5. Jelaskan alasan mengapa dalam DNA terdapat timin sedangkan RNA tidak
terdapat timin namun digantikan dengan urasil? (Rochmatul Ummah -
160341800267)
6. Terdapat penjelasan mengenai DNA dan RNA yang menyatakan bahwa DNA
cenderung lebih stabil apabila dibandingkan dengan RNA. Jelaskan faktor yang
menyebabkan terjadinya hal tersebut? (Rochmatul Ummah - 160341800267)
JAWABAN

1. Alasan penggunaan isotop 32P dan 35S sebagai penanda dalam penelitian yang
32
dilakukan oleh Hershey-Chase adalah isotop P pasti akan berikatan dengan
DNA dari virus sedangkan isotop 35S pasti akan berikatan dengan kapsid virus.
Sebab tidak satupun DNA atau asam nukleat lain yang memiliki gugus sulfur
sebagai penyusunnya. Tetapi semua jenis asam nukleat termasuk DNA pasti
memiliki gugus fosfor sebagai penyusunnya. Demikian juga tidak satupun asam
amino yang memiliki gugus fosfor sebagai penyusunnya. Namun setiap rantai
polipeptida pasti memiliki gugus sulfur sebab semua rantai polipeptida diawali
oleh metionin yang memiliki gugus S sebagai bagian dari gugus R-nya.
2. Penggunaan strain TMV yang berbeda ditujukan sebagai penanda agar dapat
memastikan
bahwa RNA adalah materi genetik dengan cara melihat virus baru yang
dihasilkan dari inokulasi virus campuran (mis. kapsid virus strain A dan RNA
virus strain B) maka virus baru yang dihasilkan akan memiliki kapsid yang
sama dengan RNA dari virus campuran (virus strain B).
3. Struktur molekul RNA yang merupakan untai tunggal memungkinkan RNA
untuk melakukan berbagai bentuk pelipatan seperti yang dapat dilakukan oleh
protein. Hal inilah yang kemudian menyebabkan RNA dapat memiliki aktivitas
enzimatis seperti protein.

4. Sering dikatakan bahwa struktur mendukung fungsi. Begitupun juga dengan


DNA. Telah diketahui bahwa fungsi DNA adalah sebagai penyimpan informasi
genetik melalui urutan basa nitrogennya. Masing-masing basa nitrogen
mempunyai pasangan masing-masing dalam setiap rantai gandanya. Yang harus
diingat adalah bahwa molekul DNA berupa rantai ganda (double helix). Dan
setiap pasangan basa nitrogen pada double helix saling berkomplemen sehingga
dapat meneruskan informasi genetik dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Hal tersebut terjadi karena urutan basa nitrogen yang tidak saling
berkomplementer pada double helix tidak akan diturunkan kepada generasi
selanjutnya. Selain itu, struktur DNA yang berupa double helix juga
mengakibatkan DNA lebih stabil dan tidak mudah bereaksi. Sehingga DNA pada
satu keturunan cenderung mempunyai DNA yang tetap dan tidak mudah
berubah. Kalaupun ada perubahan itu disebabkan karena adanya mutasi atau
adpatasi dari generasi sebelumnya yang menyebabkan perubahan DNA dari satu
generasi ke generasi selanjutnya.
5. Adanya perbedaan basa nitrogen pada DNA dan RNA yakni pada DNA terdapat
timin sedangkan pada RNA terdapat urasil disebabkan karena harus adanya
kecocokan antara basa nitrogen dengan gugus gula yang terkandung dalam DNA
atau RNA. Dimana timin akan lebih komplemen apabila berpasangan dengan
deoksiribosa dengan adanya tambahan O, sedangkan urasil apabila berpasangan
dengan deoksiribosa maka strukturnya akan menjadi tidak stabil mengingat RNA
juga tidak lebih stabil apabila dibandingkan dengan DNA apabila dikaitkan
dengan fungsinya dalam proses sintesis protein.
6. Pernyataan yang menyebutkan bahwa DNA lebih stabil daripada RNA
dikarenakan DNA mempunyai struktur berupa double helix dimana dalam
struktur tersebut terdapat ikatan hidrogen dan ikatan hidrofobik yang dapat
menyebabkan DNA mempunyai kestabilan yang tinggi, sedangkan RNA
mempunyai struktur berupa untai tunggal yang menyebabkan ikatannya kurang
stabil. Selain itu, kestabilan DNA juga didukung oleh gugus gula DNA yakni
deoksiribosa yang tidak mempunyai oksigen sehingga tidak mudah bereaksi
dengan atom yang lainnya, sedangkan RNA tersusun atas gugus gula ribosa yang
mempunyai oksigen sehingga lebih mudah bereaksi.

DAFTAR RUJUKAN

Lewin, Benjamin. 2008. Genes IX. Canada: Jones and Bartlett Publishers.

Snustad, D.P. dan Simmons, M.J. 2012. Principles of Genetics Sixth Edition. United
States of America: John Wiley and Sons, Inc.