Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN KDRT PADA ANAK DAN PEREMPUAN


DALAM KELUARGA DAN PEKERJA

I. Latar Belakang
Kekerasan Rumah Tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap
seseorang terutama anak dan perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan penelantaran rumah tangga termasuk
ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan yang secara
melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(KDRT) telah menjadi masalah serius di keluarga dan pekerja dalam beberapa dekade
terakhir. Fakta menunjukan bahwa KDRT memberikan efek negatif yang cukup besar
bagi anak dan wanita sebagaikorban kekerasan.
Tindak kekerasan pada anak dan perempuan dalam rumah tangga dan pekerja
merupakan masalah sosial yang serius, akan tetapi kurang mendapat tanggapan dari
masyarakatdan para penegak hukum karena beberapa alasan pertama: tindak
kekerasan pada anak dan perempuan dalam keluarga memiliki ruang lingkup sangat
pribadi dan terjaga privacynya berkaitan dengan keharmonisan rumah tangga , kedua :
tindak kekerasan pada anak dan perempuan dalam pekerjaan dianggap wajar karena
hak majikan sebagai pemimpin di suatu tempat kerja.
Menurut laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan angka
KDRT pada dari tahun 2001 sampai 2007 tercatat 98.564 Kekerasan terhadap
perempuan, dimana 95% dari KDRT tersebut berakhir pada perceraian. Walau
sebenarnya UUPKDRT disusun untuk mencegah terjadinya angka angka Kekerasan
Dalam Rumah Tangga, bukan kemudian UUPKDRT tersebut memberi jalan pada
perceraian. Demikian juga Komnas Anak telah merilis Kompilasi Pantauan
Pelanggaran Hak Anak dalam bentuk Kekerasan, bahwa pada tahun 2007 terdapat
5.892 dan pada tahun 2008 terdapat 4.393 bentuk kekerasan terhadap anak, yang
berupa kekerasan fifik, seksual, psikis dan aborsi.

I. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan, diharapakan peserta memahami tentang konsep
dan asuhan keperawatan KDRT pada anak dan permpuan dalam keluarga dan
pekerja
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan, diharapkan 75 % peserta dapat:
a. Menjelaskan konsep KDRT
b. Menjelaskan definisi KDRT
c. Menyebutkan tanda dan gejala KDRT
d. Menyebutkan faktor penyebab KDRT
e. Menyebutkan factor yang mendukung terjadinya perilaku KDRT
f. Menyebutkan penanggulangan KDRT
g. Menyebutkan prevalensi KDRT

II. Pelaksanaan Kegiatan


1. Topik
Kekerasan Dalam Rumah Tangga
2. Sasaran dan target
Sasaran : Seluruh keluarga di Deda T.
Target : Anak dan Perempuan dalam Keluarga dan Pekerja
3. Materi
Terlampir
4. Metoda
Ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
5. Media dan Alat
Lembar balik dan leaflet
6. Waktu dan Tempat
a. Hari/tanggal : Sabtu, 21 april 2017
b. Waktu : 10.00 WIB
c. Tempat : Desa T
7. Pengorganisasian
a. Moderator : Ayu Monica
b. Pemateri : BawenduSuriantiYuliana
c. Observer : Indriani Ansur
d. Fasilitator : Mulyani Siombi
Yosua
Riza Hendri
8. Uraian Tugas
a. Penanggung jawab
Mengkoordinir persiapan dan pelaksanaan penyuluhan.
b. Moderator
1. Membuka acara.
2. Memperkenalkan mahasiswa dan dosen pembimbing.
3. Menjelaskan tujuan dan topik.
4. Menjelaskan kontrak waktu.
5. Menyerahkan jalannya penyuluhan kepada pemateri.
6. Mengarahkan alur diskusi.
7. Memimpin jalannya diskusi.
8. Menutup acara.
c. Pemateri
Mempersiapkan materi untuk penyuluhan.
d. Observer
Mengamati proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir.
e. Fasilitator
1. Memotifasi peserta untuk berperan aktif dalam jalannya penyuluhan.
2. Membantu dalam menanggapi pertanyaan dari peserta.

III. Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Kegiatan Therapis Kegiatan Peserta


5 menit Pembukaan:
Perkenalan mahasiswa.
Perkenalan dengan dosen. Memperhatikan.
Menjelaskan tujuan.
Menjelaskan kontrak waktu.
Apersepsi
20 menit Pelaksanaan :
Menjelaskan tentang konsep Mengemukakan
KDRT pendapat
Menjelaskan pengertian KDRT Mendengarkan.
Menyampaikan tanda dan gejala
KDRT Mendengarkan
Menyampaikan factor penyebab dan
KDRT memperhatikan
Menyebutkan factor yang Mengemukakan
mendukung terjadinya perilaku pendapat
KDRT
Menyebutkan penanggulangan Mendengarkan.
KDRT
Menyebutkan prevalensi KDRT Mendengarkan
Memberikan reinforcement positif dan
atas jawaban peserta. memperhatikan
Mengemukakan
pendapat

Mendengarkan.

10 menit Penutup:
Meminta peserta untuk Memberikan
memberikan pertanyaan atas pertanyaan
penjelasan yang tidak dipahami.
Menjawab pertanyaan yang Memperhatikan
diajukan.
Menyimpulkan diskusi. Berpartisipasi
Melakukan evaluasi. Menjawab
pertanyaan
Mengucapkan salam. Menjawab salam

IV. Kriteria Evaluasi


1. Evaluasi Struktur
a. Laporan telah dikoordinasi sesuai rencana.
b. 60 % peserta menghadiri penyuluhan.
c. Tempat, media, dan alat penyuluhan sesuai rencana.
2. Evaluasi Proses
a. Peran dan tugas mahasiswa sesuai dengan perencanaan.
b. Waktu yang direncanakan sesuai dengan pelaksanaan.
c. 70 % peserta aktif dalam kegiatan penyuluhan.
d. 70 % peserta tidak meninggalkan ruangan selama penyuluhan.
3. Evaluasi Hasil
Peserta mampu:
a. Menyebutkan pengertian KDRT dengan bahasa sendiri.
b. Menyebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya KDRT
c. Menyebutkan factor pendukung terjadinya perilaku kekerasan
d. Menyebutkan mininmal 3 dari 5 tanda dan gejala KDRT
e. Menjelaskan cara penanggulangan KDRT
MATERI PENYULUHAN
A. Konsep Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perihal yang
bersifat (berciri) keras atau perbuatan seseorang atau kelompok orang yang
menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik
atau barang orang lain. Rumah tangga, menurut KBBI adalah segala sesuatu yang
berkenaan dengan urusan kehidupan dalam rumah dan berkenaan dengan keluarga.
Keluarga adalah bapak dan ibu beserta anak-anaknya dan merupakan satuan
kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Lingkup rumah tangga
dalam Undang-undang RI No. 23 tahun 2004 adalah meliputi: suami, isteri, dan
anak, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang
sebagaimana dimaksud, karena hubungan darah, perkawinan, persusuan,
pengasuhan dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga, dan atau orang
yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.
Dimana orang yang bekerja sebagaimana dimaksud dalam kalimat sebelumnya
adalah dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada
dalam rumah tangga yang bersangkutan. Yang termasuk dalam lingkup rumah
tangga adalah:
1) Suami istri atau mantan suami istri.
2) Orangtua dan anak-anak.
3) Orang-orang yang mempunyai hubungan darah.
4) Orang yang bekerja membantu kehidupan rumah tangga orang-orang lain yang
menetap di sebuah rumah tangga.
5) Orang yang hidup bersama dengan korban atau mereka yang masih atau pernah
tinggal bersama (yang dimaksud dengan orang yang hidup bersama adalah
pasangan hidup bersama atau beberapa orang tinggal bersama dalam satu
rumah untuk jangka waktu tertentu).

B. PENGERTIAN KDRT
Menurut bahasa, keras berasal dari bahasa Inggris violence yang berati kuat
atau kuasa. Mendapat imbuhan ke-an, kekerasan berarti tidak lunak, tidak lembut,
tidak halus (Ali, dkk, 1997: 328). Menurut istilah, kekerasan berarti sebuah
ekspresi baik yang dilakukan secara fisik ataupun verbal yang mencerminkan pada
tindakan agresif dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang yang
dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang (Sefill, 2014: 1).
Kekerasan adalah segala bentuk perbuatan yang menimbulkan luka baik
secara fisik maupun psikologis (Annisa, 2010: 1).
Kekerasan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau
sejumlah orang kepada seseorang atau sejumlah orang, yang dengan sarana
kekuatannya, baik secara fisik maupun non-fisik dengan sengaja dilakukan untuk
menimbulkan penderitaan kepada obyek kekerasan (Mufidah, 2008: 267).
KDRT adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh
suami maupun istri, akan tetapi korban KDRT lebih dialami terutama perempuan
(Anton, 2014: 2). Menurut Annisa (2010: 1), KDRT adalah segala bentuk tindak
kekerasan yang terjadi atas dasar perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan
rasa sakit atau penderitaan terutama terhadap perempuan termasuk ancaman,
paksaan, pembatasan kebebasan, baik yang terjadi dalam lingkup publik maupun
domestik. Pengertian KDRT menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004
adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
pemaksaan, atau perampasaan kemerdekaan secara melawan hukum dalam
lingkup rumah tangga (Mufidah, 2008: 268).
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa KDRT merupakan segala
bentuk tindakan kekerasan yang terjadi terhadap lawan jenis, namun biasanya
perempuan lebih banyak menjadi korban daripada menjadi pelaku. KDRT
mengakibatkan timbulnya penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, atau
penelantaran rumah tangga pada korban KDRT.

C. TANDA DAN GEJALA KDRT


- Tanda Kekerasan
a. Kekerasan fisik; Kekerasan fisik adalah suatu tindakan kekerasan yang
mengakibatkan luka, rasa sakit, atau cacat pada istri hingga menyebabkan
kematian. Selanjutnya yang termasuk dalam bentuk kekerasan fisik adalah:
i. Menampar;
ii. Memukul;
iii. Menarik rambut;
iv. Menyulut dengan rokok;
v. Melukai dengan senjata;dan
vi. Mengabaikan kesehatan istri
b. Kekerasan psikologis; Kekerasan psikologis/emosional adalah suatu
tindakan penyiksaan secara verbal (seperti menghina, berkata kasar dan
kotor) yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri, meningkatkan
rasa takut, hilangnya kemampuan untuk bertidak dan tidak berdaya.
c. Kekerasan seksual; Kekerasan seksual adalah setiap penyerangan yang
bersifat seksual terhadap perempuan, baik terjadi persetubuan atau tidak,
dan tanpa memperdulikan hubungan antara pelaku dan korban. Menurut
Budi Sampurna (2003, dalam Pradipta, 2013:46), kekerasan seksual
meliputi :
i. Pengisolasian istri dari kebutuhan batinnya;
ii. Pemaksaan hubungan seksual dengan pola yang tidak dikehendaki atau
tidak disetujui istri;
iii. Pemaksaan hubungan ketika istri sedang tidak menghendaki, istri sedang
sakit, atau menstruasi; dan
iv. Memaksa istri berhubugn seks dengan orang lain, memaksa istri menjadi
pelacur, dan sebagainya
d. Kekerasan ekonomi / penelantaran rumah tangga; Kekerasan ekonomi /
penelantaran rumah tangga dapat diindikasikan sebagai kekerasan ekonomi
yaitu tidak memberi nakfah kepada istri, memanfaatkan ketergantungan
istri secara ekonomi untuk mengontrol kehidupan istri, atau membiarkan
istri bekerja kemudian penghasilannya dikuasai oleh suami.
e. Ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

D. FAKTOR PENYEBAB TERTJADINYA KDRT


1. Secara Teoritis.
Faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga secara
teoritis maksudnya adalah faktor-faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan
dalam lingkup rumah tangga yang dikategorikan berdasarkan pada suatu teori para
ahli.Beberapa ahli mendefenisikan kekerasan dalam rumah tangga sebagai pola
perilaku yang bersifat menyerang atau memaksa, yang menciptakan ancaman atau
mencederai secara fisik yang dilakukan oleh pasangan atau mantan pasangannya,
secara khusus Neil Alan dkk. membatasi ruang lingkup kekerasan dalam rumah
tangga kepada Child Abuse (kekerasan kepada anak) dan wife abuse (kekerasan
kepada isteri) sebagai korban, namun secara umum pola tindak kekerasan terhadap
anak maupun isteri sesungguhnya sama. Penyebab tinggi angka kekerasan dalam
rumah tangga masih belum diketahui secara pasti karena kompleksnya
permasalahan, tapi beberapa ahli sudah melakukan penelitian untuk menemukan
apa sebenarnya menjadi faktor penyebab tindak kekerasan dalam rumah tangga.

.2. Secara Empiris


Faktor-faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga
secara empiris maksudnya adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya
kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh
dari penemuan percobaan atau pengamatan yang telah dilakukan. Masalah
kekerasan dalam rumah tangga bukanlah merupakan masalah yang baru, tetapi
tetap aktual dalam peredaran waktu dan tidak kunjung reda, malahan
memperlihatkan kecenderungan peningkatan. untuk mengungkap kasus kekerasan
dalam rumah tangga ini ternyata tidak segampang membalikkan tangan. Masih
banyak kasus yang sengaja ditutupi hanya karena takut menjadi aib keluarga.
Padahal tindak kekerasan yang dilakukan sudah tergolong tindak pidana. Malu
mengungkapkan kasus kekerasan dalam rumah tangga karena aib keluarga, atau
persoalan anak dan perasaan masih cinta merupakan hal yang kerap dirasakan
korban kekerasan dalam rumah tangga di negara kita.

E. FAKTOR YANG MENDUKUNG TERJADINYA PERILAKU KDRT


1. Faktor Predisposisi
1) Faktor biologis
a) Intinctual drive theory (teori dorongan naluri)
Dorongan naluri merupkan kemauan yang sudah menjadi naluri setiap
manusia, Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik
bersifat rohaniah maupun jasmaniah (Ngalim, 2009). Seseorang yang tidak
menyukai atau marah terhadap bagian tubunya, seksual yang tidak terpenuhi
sehingga melakukan kekerasan seksual, Pada keadaan ini respon psikologis timbul
karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi ephineprin yang
menyebabkan tekanan darah meningkat, takhikardi, wajah merah, menimbulkan
rasa marah, merasa tidak adekuat,mengungkapkan secara verbal menjadi lega,
kebutuhan terpenuhi. (Latipun, 2010).
b) Psycomatic Theory ( teori psikomatik)
Pengalaman marah merupakan akibat dari respon psikologis terhadap
stimulus eksternal, internal maupun lingkungan. Dalam hal ini system limbic
berperan sebagai pusat untuk mengekspresikan maupun menghambat rasa marah
(Lianawati, 2009). Dengan respon marah individu mampu menyatakan atau
mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju tanpa menyalahkan atau menyakiti
seseorang sehingga dapat menimbulkan kekerasan fisik yang mampu memberikan
kelegaan bagi individu setelah menyakiti orang lain. (Fudyartanta, 2005). Rasa
marah itu timbul karena suatu ancaman atau kebutuhan sehingga mengakibatkan
stress kemudian marah dan mengungkapkan secara verbal sehingga menjaga
keutuhan orang lain dan merasa lega , ketengangan menurun dan rasa marah
teratasi, muncul rasa bermusuhan mengakibatkan rasa bermusuhan menahun
sehingga muncul rasa marah pada diri sendiri dan rasa marah pada orang lain atau
lingkungan sehingga menimbulkan agresif mengamuk dan depresi psikosimatik
2) Faktor Psikologis
a) Frustrasion aggression theory ( teori agresif frustasi)
Menurut teori ini perilaku kekerasan terjadi sebagai hasil akumulasi
frustasi. Frustasi adalah suatu respon yang terjadi akibat individu gagal mencapai
tujuan, kepuasaan, atau rasa aman, yang biasanya individu tidak menemukan jalan
keluar atas masalah yang dihadapinya. Frustasi akan berkurang melalui perilaku
kekerasan (Sarwono, 2002). Timbulnya frustasi karena suatu tekanan atau depresi
sehingga muncul marah dengan masalah yang tidak terselesai
sehinggamenimbulkan gangguan agresif yaitu dengan marah, perilaku agresif
merupakan perilaku yang menyertai marah karena dorongan individu untuk
menuntut sesuatu yang dianggapnya benar, dan masih terkontrol. (Alwisol, 2006).
b) Behavioral theory (teori perilaku)
Kemarahan merupakan suatu proses belajar, hal ini dapat dicapai apabila
tersedia fasilitas atau situasi yang mendukung reinforcement yang diterima pada
saat melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan dalam rumah tangga
atau diluar rumah tangga. Semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi
perilaku kekerasan (Setyobroto, 2004). Perilaku ini akan timbul apabila individu
marah dengan suatu keadaan fasilitas yang tidak terpenuhi sehingga muncul rasa
amuk, rasa amuk adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilang
konrol dimana individu dapat merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan
sehingga muncul perilaku kekerasan fisik yang mengakibatkan cidera pada orang
lain (Yusuf, 2008).
c) Existential theory( teori exsistensi)
Bertindak sesuai perilaku adalah kebutuhan dasar manusia apabila
kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi melalui perilaku konstruktif maka
individu akan memenuhi kebutuhan melalui perilaku destruktif (Zainal, 2002).
Cara demikian tentu tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat
menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah
laku destruktif seperti tindakan kekerasan fisik yang ditujukan kepada orang lain
atau lingkungan dan perilaku yang diekspresikan dengan mengejek. Apabila
perasaan marah di ekspresikan dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan
kata- kata yang dapat mengerti tanpa menyakiti hati orang lain maka perasaan
marahdapat teratasi tanpa menimbulkan perilaku destruktif (Misiak, 2005).
3) Faktor sosio cultural (sosial dan budaya)
a) Social environment theory ( teori lingkungan)
Lingkungan sosial akan mempengaruhi sikap individu dalam
mengekspresikan marah. Budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif
agresif) dan control sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan
menciptakan seolah- olah perilaku kekersan diterima (Andreas, 2008). Contohnya
individu yang menyalurkan kemarahannya dengan menilai, mengkritik tingkah
laku orang lain sehingga orang lain merasa sakit, menghina, merendahkan orang
lain (Otto , 2004).
b) Social lerning theory ( teori belajar sosial)
Perilaku kekerasan dapat dipelajari secara langsung maupun melalui proses
sosialisasi (Latief, 2012). Contohnya perilku marah yang diekspresikan dengan
berdebat, bicara kasar, disertai kekerasan (Azhar, 2011).
2. Faktor Presipitasi
Menurut (Sujono & Purwanto, 2009) Stressor yang mencentuskan perilaku
kekerasan bagi setiap individu bersifat buruk. Stressor tersebut dapat disebabkan
dari luar maupun dalam. Contohnya stressor yang berasal dari luar antara lain
serangan fisik, kehilangan, kematian , krisis dan lain- lain. Sedangkan dari dalam
adalah putus hubungan dengan seseorang yang berarti, kehilangan rasa cinta ,
ketakutan terhadap penyakit fisik, hilang control, menurunnya percaya diri. Selain
itu lingkungan yang terlalu rebut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan,
tindkan kekerasan dapat memicu perilaku kekerasan.
F. PENANGGULANGAN KDRT
Solusi terhadap penanggulangan tindak kekerasan terhadap perempuan
mesti mencakup hal-hal sebagai berikut (Pasalbessy, 2010):

1. Meningkatkan kesadaran perempuan akan hak dan kewajibannya di dalam


hukum melalui latihan dan penyuluhan (legal training).

2. Meningkatkan kesadaran masyarakat betapa pentingnya usaha untuk


mengatasi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan ana, baik di dalam
konteks individual, sosial maupun institusional;
3. Meningkatkan kesadaran penegak hukum agar bertindak cepat dalam
mengatasi kekerasan terhadap perempuan maupun anak;
4. Bantuan dan konseling terhadap korban kekerasan terhadap perempuan dan
anak;
5. Melakukan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dan anak yang
dilakukan secara sistematis dan didukung oleh karingan yang mantap.
6. Pembaharuan hukum teristimewa perlindungan korban tindak kekerasan
yang dialami oleh perempuan dan anakanak serta kelompok yang rentang
atas pelanggaran HAM.
7. Pembaharuan sistem pelayanan kesehatan yang kondusif guna
menanggulangi kekerasan terhadap perempuan dan anak;
8. Bagi anak-anak diperlukan perlindungan baik sosial, ekonomi mauoun
hukum bukan saja dari orang tua, tetapi semua pihak, termasuk masyarakat
dan negara.
9. Membentuk lembaga penyantum korban tindak kekerasan dengan target
khusus kaum perempuan dan anak untuk diberikan secara cuma-cuma
dalam bentuk konsultasi, perawatan medis maupun psikologis
10. Meminta media massa (cetak dan elektronik) untuk lebih memperhatikan
masalah tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam
pemberitaannya, termasuk memberi pendidikan pada publik tentang hak-
hak asasi perempuan dan anak-anak.
G. PREVALENSI (Bandung, Jabar, Indonesia)

1. Jawa Barat Bandung


Kasus KDRT yang terjadi di jawa barat seperti yang dikatakan oleh
sebuah media online Repubika.co.id, minggu 20 mei 2012, 22:31 WIB Bandung
Kasus trafikig di kabupaten bandung cukup tinggi pusat pelayanan terpadu
pemberdayaan dan anak (P2TP2A) Jawa Barat melansir, dalam kurun 2010-2012,
di kabupaten bandung tercatat 40 kasus trafiking, dan 12 kasus KDRTdari total
168 kasus di jawa bara, dari tahun 2010 hingga tahun 2012, ujar ketua Divisi dan
informasi dan dokumentasi P2TP2A, Dedeh fardiah. Rincianya 2010 sebanyak 90
kasus, tahun 2011 sebanyak 61 kasus, dan tahun 2012 hingga bulan Apri, sebanyak
17 kasus.
Jawa Barat merupakan provinsi terbesar dengan jumlah penduduk yang
besar pula, menurut data yang diperoleh dari situs
http://regionalivestment.bkpm.go.id/jumlah penduduk di provinsi jawa Barat
pada tahun 2011 berjumlah 43.826.775 dengan jumlah pria sebesar 22.300.388
juta jiwa dan wanita sebesar 21.526.387 juta jiwa. Dengan besarnya jumlah
penduduk di provinsi jawa barat sendiri, mengakibatkan sulitnya penanganan
kasus-kasus yang dialami oleh penduduk jika mai dilakukan terpusat, maka
pemerintah disetiap daerah-daerah di provinsi jawa barat memiliki kebijakan
khusus mengenai kasus-kasus kependudukan, diantaranya adalah kasus KDRT,
dimana wanita yang banyak menjadi korban. Salahsatu kota besar jawa barat yang
concern dalam menangani kasus KDRT adalah Kota bandung.
Perempuan seringkali menjadi objek yang dianggap lemah dikalangan
masyarakat, oleh karena itu perempuan menjadi sangat rentang untuk dijadikan
objek kekerasan. Namun banyak dari perempuan korban yang mengalami tindan
KDRT masi enggan melaporkan serta melakukan pembelaan terhadap dirinya
dengan alasan takut oleh suami dan pandangan miring dari masyarakat sekitar.
Padahal dalam UUD telah diatur dengan jelas, bahwa perempuan yang mengalami
tindak KDRT layak untuk mendapatkan hak keadilan dengan mengajukan
permohonan, pengadun dan gugatan. Dalam UU No 23 tahun 2004 Tentang
penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (PKDRT) Pasal 10 menyatakan
bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga berhak mendapatkan perlindungan
dari berbagai pihak, pelayanan kesehtan sesuai dengan kebutuhan medis.
UUD telah mengatur secara jelas bahwa perempuan yang mengalami
tindak KDRT dapat memperoleh hak-haknya sebagai warga Negara Indonesia,
namun masi banyak perempuan tindak kekerasan yang tidak berdaya dan yang
memiliki kekuatan dan keberanian untuk menuntut hak-haknya sebaagai
perempuan.
2. Indonesia
Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap
Perempuan (Komnas Perempuan) memuat kasus-kasus kekerasan terhadap
perempuan yang ditangani oleh lembaga-lembaga pengada layanan selama satu
tahun ke belakang. Angka kekerasan terhadap Perempuan (KtP) sejak 2010 terus
meningkat dari tahun ke tahun.
Peningkatan angka yang sangat tinggi terjadi antara tahun 2011 sampai
tahun 2012 yang mencapai 35%. Untuk tahun 2015 jumlah kasus meningkat
sebesar 9% dari tahun 2014. Angka ini adalah jumlah kasus KtP yang dilaporkan,
sedangkan yang tidak dilaporkan mungkin bisa lebih tinggi seperti halnya
femomena gunung es. Tahun 2015 Komnas perempuan mengirimkan 780 lembar
formulir kepada lembaga mitra Komnas Perempuan di seluruh Indonesia,
sementara tahun 2014 sebanyak 664 formulir, dengan tingkat respon pengembalian
mencapai 30%, yaitu 232 formulir. Jumlah kasus KTP 2015 sebesar 321.752
sebagian besar bersumber dari data kasus atau perkara yang ditangani oleh PA.
Dengan demikian data ini dihimpun dari 3 sumber yakni; [1] Dari
Pengadilan Agama atau Badan Peradilan Agama (PA-BADILAG) sejumlah
305.535 kasus; [2] dari Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah
16.217 kasus; [3] dari Unit Pelayanan Dan Rujukan (UPR), satu unit yang sengaja
dibentuk oleh Komnas Perempuan untuk menerima pengaduan korban yang datang
langsung ke Komnas Perempuan dan (4) dari divisi pemantauan yang mengelola
pengaduan yang masuk lewat surat dan surat elektronik. Berdasarkan data-data
yang terkumpul tersebut jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling
menonjol sama seperti tahun sebelumnya adalah KDRT/RP yang mencapai angka
11.207 kasus (69%).
Pada ranah KDRT/RP kekerasan yang paling menonjol adalah kekerasan
fisik 4.304 kasus (38%), menempati peringkat pertama disusul kekerasan seksual
3.325 kasus (30%), psikis 2.607 kasus (23%) dan ekonomi 971 kasus (9%).
Kekerasan di ranah komunitas mencapai angka 5.002 kasus (31%), di mana
kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 3.174 kasus (63%),
diikuti kekerasan fisik 1.117 kasus (22%) dan kekerasan lain di bawah angka 10%;
yaitu kekerasan psikis 176 kasus (4%), kekerasan ekonomi 64 kasus (1%), buruh
migran 93 kasus (2%); dan trafiking 378 kasus (8%).
Di ranah (yang menjadi tanggung jawab) Negara adalah kasus pemalsuan
akta nikah dilaporkan terjadi di Jawa Barat sebanyak 2 kasus. Kemudian 6 kasus
lain nya dilaporkan terjadi di NTT. 2 kasus pernikahan tidak tercatat yang
menemui kesulitan dalam proses di kepolisian. Kasus-kasus pernikahan tidak
tercatat sering mendapatkan hambatan dalam penyelesaian kasus karena tidak
adanya surat nikah menyebabkan perempuan yang mengalami kekerasan tidak
terlindungi UU PKDRT. 1 kasus juga dari NTT adalah kasus trafiking yang
menemui hambatan di kepolisian, kemudian 3 kasus penganiayaan oleh oknum
polisi. 1 Untuk kekerasan di ranah rumah tangga/relasi personal: kekerasan
terhadap istri (KTI) menempati peringkat pertama 6.725 kasus (60%), disusul
kekerasan dalam pacaran 2.734 kasus (24%), kekerasan terhadap anak perempuan
930 kasus (8%) dan sisanya kekerasan mantan suami, kekerasan mantan pacar,
serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga. Masih di ranah relasi personal,
data yang masuk melalui unit pengaduan untuk rujukan dan divisi pemantauan
Komnas Perempuan sepanjang tahun 2015 menunjukkan adanya 71 kasus
pernikahan tidak tercatat dan 80 kasus poligami.
Komnas Perempuan mengamati bahwa kasus- kasus pernikahan tidak
tercatat adalah kasus yang sulit ditangani oleh aparat penegak hukum karena
minimnya perlindungan hukum. Peningkatan kuantitas kasus kekerasan terhadap
perempuan semenjak tahun 2011 di satu sisi menggembirakan tetapi disisi lain
juga memilukan dan memprihatinkan. Menggembirakan, karena dapat dilihat
sebagai indikator bahwa terjadi peningkatan baik kesadaran perempuan korban
atau keluarga korban untuk melaporkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan
maupun kemampuan lembaga-lembaga layanan melakukan dampingan bagi
korban serta mendokumentasikan kasus-kasus KtP yag ditanganinya.
Meningkatnya angka kekerasan dari tahun ke tahun juga menunjukkan
adanya peningkatan jumlah perubahan sikap masyarakat sejak diberlakukannya
UU PKDRT pada tahun 2004: dari melihat KtP sebagai masalah pribadi yang
harus ditutupi, menjadi tindak kriminal yang harus dibawa ke ranah hukum
sehingga pelakunya bisa mendapat hukuman yang setimpal. Dikatakan memilukan
dan memprihatinkan karena terjadi kriminalisasi korban, impunitas terhadap
pelaku, serta keterbatasan perangkat hukum yang masih terus berlanjut.
Hak untuk bebas dari kekerasan dan diskriminasi belum sepenuhnya
terlihat dalam seluruh dimensi kehidupan bangsa Indonesia yang dikenal beradab
dan religius yang semestinya menjunjung nilai-nilai luhur untuk menghormati,
melindungi, memenuhi dan memajukan hak hak asasi perempuan .
Faktor penyebab utama yang mendorong terjadinya kekerasan terhadap
perempuan, menurut PP No.9 tahun 1975 tentang pelaksanaan UU No.1 tahun
1974 tentang perkawinan yang menjadi salah satu dasar kategorisasi BADILAG
khususnya dalam konteks perceraian, yakni: tidak adanya lagi keharmonisan, tidak
adanya tanggungjawab, dan faktor ekonomi. Selain itu juga disebabkan oleh
gangguan pihak ketiga, krisis ahlak, poligami tidak sehat, cemburu, kawin
paksa,kekejaman jasmani, kekejaman mental, kawin dibawah umur, faktor politis,
cacat biologis, salah satu pihak dihukum dan lain-lain.
Dalam perspektif Komnas Perempuan, kategorisasi di atas seperti kategori
poligami tidak sehat, krisis ahlak, belum sejalan dengan prinsip HAM perempuan,
misalnya kategori poligami tidak sehat, bila ditelaah dari perspektif korban,
pengaduan poligami yang dilaporkan ke Komnas Perempuan adalah salah satu
bentuk kekerasan terhadap perempuan. Kategori krisis ahlak jika tidak dipahami
dengan tepat berpotensi menyalahkan korban. Namun Komnas Perempuan
menggunakan data BADILAG tersebut untuk melihat cara pandang negara dalam
mendokumentasikan persoalan perceraian dan melihat dimensi kekerasan di balik
perceraian yang kerap tidak dipersoalkan aspek pidananya. Secara umum
kekerasan terhadap perempuan terjadi akibat posisi rentan perempuan yang
disebabkan masih kuatnya budaya patriarkhi yang diskriminatif subordinatif
dan relasi kuasa yang timpang dalam relasi antara laki-laki dan perempuan,
suami dan istri, anak dan orangtua, buruh dan majikan, rakyat dan negara, guru
dan murid, serta antara bawahan dan atasan.
Data-data CATAHU di atas menegaskan bahwa: [1] Kekerasan seksual
terhadap perempuan semakin meningkat khususnya dalam ranah komunitas, suatu
fakta yang meneguhkan semakin dibutuhkannya instrumen hukum yang
melindungi perempuan dari segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan
seksual. [2] Ranah personal atau ranah rumah tangga yang seharusnya menjadi
tempat aman untuk berteduh keluarga justru tidak aman bagi perempuan. [3}
Pernikahan yang tidak tercatat (secara adat dan agama) adalah fenomena nyata
yang seringkali menemui hambatan penanganan kasus hukum. Walaupun tidak
tercatat tidak semestinya dijadikan alasan oleh aparat Penegak.
Hukum untuk tidak menggunakan UU-PKDRT untuk melindungi
perempuan korban KDRT. Hal ini menunjukkan urgensi dilakukannya monitoring
dan evaluasi terhadap pelaksanaan UU-PKDRT baik substansi maupun aplikasi;
pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual demi perlindungan perempuan
korban; RUU-PRT yang sedang diperjuangkan juga bisa menjadi harapan untuk
mengisi ruang kosong bagi penegakan hak-hak pembantu rumah tangga yang
mengalami kekerasan. [4] Perlunya transformasi budaya yang mengedepankan
nilai-nilai kesetaraan, keadilan, keadaban dan saling menghormati yang
memungkinkan terciptanya budaya kondusif bagi pemajuan perempuan,
penegakan hak-hak perempuan dan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap
perempuan.