Anda di halaman 1dari 3

PERAN PERAWAT PADA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Berdasarkan berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia, patut diakui seorang


perawat baik dalam praktik perorangan yang dilaksanakannya maupun sebagai perawat yang
bekerj adipusat kesehatan masyarakat mempunyai kesempatan dan dituntut untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas bagi kliennya. Seorang perawat diharapkan mampu menerapkan
pendekatan keperawatan dengan melakukan tindakan pencegahan dan kesehatan masyarakat
pada praktik yang dilakukannya terhadap klien dan keluarganya. Untuk itu, perilaku perawat
sebagai perawat yang bertanggung jawab dengan mendampingi keluarga agar menjadi keluarga
yang sehat merupakan salah satu upaya yang dapat dipandang ikut memberikan konstribusi pada
upaya mencapai kesehatan bagi keluarga dan masyarakat.

Perawat puskesmas yang jumlahnya cukup besar di daerah perkotaan dapat memberikan
bantuan yang bermakna bagi kesehatan keluarga dan masyarakat yang dilayaninya dan lebih jauh
lagi dapat diharapkan ikut mengatasi masalah kesehatan perkotaan di tingkat keluarga dan
perorangan.selain itu, bagi perawat puskesmas prinsip pencegahan dan upaya perumusan
masalah, identifikasi faktor risiko dan protektif, serta melakukan intervensi dan perluasan
intervensi merupakan siklus kegiatan yang mencakup dan mengisi program kesehatan
masyarakat yang dikelolanya.

Secara umum, peran perawat dalam kasus KDRT di antaranya adalah sebagai berikut :

a. Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesi ( anjurkan segera lakukan
pemeriksaan visum).
b. Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban.
c. Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari
kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
d. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif ( Ruang Pelayanan
Khusus).
e. Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban dengan
pihak kepolisian, dinas sosial, serta lembaga sosial yang dibutuhkan korban.
f. Sosoalisasi Undang - Undang KDRT kepada keluarga dan masyarakat.
Selain peran perawat di atas terdapat juga peran dan fungsi perawat pada kekerasan dalam rumah
tangga antara lain :

1. Peran sebagai pendidik (educator)


Meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarga mengenai kekerasan dalam rumah tangga
khususnya mengenai pengertian, jenis, serta dampak.
2. peran sebagai pemberi konseling (counselor)
Disini perawat maternitas dapat berperandengan fokus meningkatkan harga diri korban,
memfasilitasi ekspresi perasaan korban dan terutama untuk memberikan informasi dan
dukungan agar korban korban dapat mengambil langkah pengamanan. konseling tidak
hanya ditujukan untuk perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga. tetapi juga
untuk pelaku. tujuannya adalah untuk mendorong pelaku untuk mengambil tanggung
jawab dalam menghentikan tindak kekerasan dan meningkatkan kualitas hidupnya
sendiri.
3. Peran sebagai pemberi pelayanan keperawatan (caregiver)
peran perawat maternitas sebagai pemberi pelayanan keperawatan adalah memberikan
asuhan keperawatan mulai dari pengkajian hingga pemberian inteervensi dan
evaluasi.perawat harus meningkatkan kepekaan dengan tidak mengabaikan tanda- tanda
bekas perlakuan kekerasan, secara cepat dan dapat mengidentifikasikan masalah,
menentukan apakah wanuta terebut membutuhkan penanganan medis ataupun terapi
khusus.
4. Peran sebagai penemu kasus dan peneliti (case finder researcher)
meningkatkan riset dan pendalaman dalam aspek prevensi, promosi dan deteksi dini.
5. Peran sebagai pembela (advokat)
berperan sebagai advokat, perawat harus senantiasa terbuka untuk suatu kerja sama yang
baik dengan lembaga penyedia layanan pendampingan dan bantuan hokum, mengadakan
pelatihan mengenai perlindungan pada korban tindak kekerasan dalam rumah tangga,
melatih kader- kader (LSM) untuk mampu menjadi pendampingan korban kekerasan.
6. Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesi (anjurkan segera lakukan
pemeriksaan visum).
7. Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari
kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
8. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif (Ruang Pelayanan
Khusus).
9. Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban dengan
pihak kepolisian, dinas sosial, serta lembaga sosoal yang dibutuhkan korban Sosialisasi
Undang-Undang KDRT kepada keluarga dan masyarakat.
(Sumber : ferry efendi & Makhfudli. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik
Dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.2009. Halaman : 198 199)