Anda di halaman 1dari 21

BADAN INFORMASI GEOSPASIAL

PUSAT PEMETAAN TATA RUANG

MODUL 4
PEMBUATAN PETA DASAR
RENCANA DETAIL TATA RUANG

0
Modul 4 Pembuatan Peta Dasar RDTR

DAFTAR ISI

1 PENDAHULUAN ...........................................................................1
A Latar Belakang ..................................................................................... 1
B Maksud dan Tujuan ........................................................................... 2
2 TATA CARA PEMBUATAN PETA DASAR RDTR .................3
A Pemahaman Tentang Digitasi ...................................................... 3
B Proses Digitasi Peta Dasar ............................................................ 4
C Tata Cara Digittasi Peta Dasar ..................................................... 7
D Tata Cara Digitasi Peta Dasar (Rencana Pola Ruang) ..... 18
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Modul 4 akan membahas mengenai


Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR
dan akan menghabiskan 90 menit
pembelajaran.

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Peta didefinisikan sebagai media penyajian informasi dari unsur-
unsur alam dan buatan manusia pada permukaan bumi yang dibuat
secara kartografis (informasi yang berreferensi geografis) pada
bidang datar menurut proyeksi tertentu dan skala tertentu. Peta
yang baik, adalah peta yang mempunyai nilai informatif, komunikatif,
artistik dan estetik.
Peta secara visual merupakan gambaran wilayah geografis, biasanya
bagian permukaan bumi baik laut maupun darat. Peta digambarkan
kedalam dua dimensi (pada bidang datar) secara keseluruhan atau
sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan dengan skala
tertentu dan dilengkapi dengan simbol-simbol. Pada
perkembangannya peta direpresentasikan sebagai bentuk grafis dari
ruang permukaan bumi atau sebagai peta dasar.
Peta Dasar adalah peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan/atau
buatan manusia, yang berada di permukaan bumi, digambarkan pada
suatu bidang datar dengan skala, penomoran, proyeksi, dan
georeferensi tertentu. Unsur-unsur peta dasar yaitu memiliki sistem
referensi geospasial (koordinat), mempunyai Skala (grafis dan
numerik), sebagai unit pemetaan yang terdiri dari garis pantai,
hipsografi, perairan, nama rupabumi, batas wilayah, transportasi dan
utilitas, bangunan dan fasilitas umum, dan penutup lahan. Dengan
peta dasar dapat dibuat berbagai jenis peta yang diinginkan yaitu
berupa peta tematik, peta rencana tata ruang wilayah, peta detail tata
ruang, dll.

1
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dibutuhkan proses


pembuatan peta dasar yang sesuai dengan peraturan sehingga dapat
dijadikan acuan untuk pembuatan peta rencana. Oleh karena itu
modul 4 ini dibuat untuk memberikan pemahaman tentang proses
atau tata cara pembuatan peta dasar RDTR.

B. MAKSUD DAN TUJUAN


Modul ini dimaksudkan sebagai bahan pemahaman bagi aparat
pemerintah maupun masyarakat di dalam proses pembuatan peta
dasar RDTR.
Tujuan dari modul 4 ini adalah memberikan gambaran umum dan
pengetahuan tentang :
1. Pemahaman Tentang Digitasi
2. Proses Digitasi Peta Dasar
3. Proses Digitasi Rencana Pola Ruang

2
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

BAB 2
TATA CARA PEMBUATAN PETA DASAR RDTR

Di dalam modul tata cara pembuatan peta dasar RDTR ini terlebih
dahulu akan dijabarkan mengenai alur pembuatan peta dasar.
Jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1 Alur Pembuatan Peta Dasar RDTR

A. PEMAHAMAN TENTANG DIGITASI


Pengertian Digitasi Peta
Digitasi secara umum dapat didefinisikan sebagai proses
konversi data analog ke dalam format digital. Objek-objek
tertentu seperti jalan, rumah, sawah dan lain-lain yang
sebelumnya dalam format raster Pada sebuah citra satelit

3
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

resolusi tinggi dapat diubah kedalam format digital dengan


proses digitasi.

Metode Digitasi
Pada saat ini metode digitasi yang digunakan adalah metode
Digitasi on screen paling sering dilakukan karena lebih mudah
dilakukan, tidak memerlukan tambahan peralatan lainnya, dan
lebih mudah untuk dikoreksi apabila terjadi kesalahan.
Perbesaran (zooming) untuk digitasi peta skala 1:5000
dilakukan pada skala dua tingkat lebih detail (skala 1:1000)
Pengolahan data menggunakan perangkat lunak pengolah data
GIS.

B. PROSES DIGITASI PETA DASAR


B.1 Umum
Digitasi yang dimaksud adalah proses konversi data raster
(citra/foto) menjadi data vektor (peta garis) dengan metode
penarikan titik, garis, atau area yang merepresentasikan geometri
dari objek (alami atau buatan) yang termuat dalam citra/foto
menggunakan peralatan komputer. Digitasi untuk peta dasar RDTR
dikhususkan pada skala 1:5000.

B.2 Peralatan dan Data Masukan


On Screen Digitazer
Peralatan yang digunakan antara lain :
a. Perangkat komputer yang memadai untuk mengolah data
vector dan basis data spasial dalam kapasitas besar dan
cepat, setara dengan high end graphic workstation.
b. Software untuk digitasi 2 Dimensi unsur peta dasar adalah
software CAD atau GIS.

4
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Image Ortho
Data masukan yang digunakan adalah :
a. Citra satelit resolusi tinggi hasil orthorektifikasi atau yang
sudah ditegakkan.
b. Data sekunder batas wilayah administrasi.

Pelaksanaan
Metode pelaksanaan digitasi dapat dilihat pada diagram alir
berikut ini :

Gambar 2.2 Diagram Alir Pekerjaan Digitasi Peta Dasar RDTR

B.3 Persiapan
Persiapan dimaksud adalah mengatur alat dan bahan untuk
kelancaran pekerjaan. Hal yang dilakukan adalah:

5
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

a. Memeriksa informasi terkait data (sistem koordinat, ukuran


file (jika terlalu besar, citra/foto dapat dibagi sesuai lembar
peta), pengaturan kecerahan, dsb)
b. Menyiapkan workspace/area kerja (lokasi penyimpanan data,
folder dan sub folder, dsb)

B.4 Pembuatan Layer


Langkah awal dalam digitasi adalah membuat layer menggunakan
software CAD atau GIS. Layer adalah file untuk menyimpan hasil
digitasi. Data dikelompokkan sesuai geometri dari objek digitasi bisa
layer titik, layer garis, atau layer area.
Layer Titik
Layer titik dibuat untuk menyimpan unsur-unsur geografi yang
dikategorikan data titik berdasarkan skala peta. Untuk peta
RDTR dengan skala 1:5000, unsur yang termasuk titik adalah
objek berukuran <0.5 milimeter x skala peta (2.5 meter).
Layer Garis
Layer garis dibuat untuk menyimpan unsur-unsur geografi
yang memiliki panjang lebih >0.5 milimeter x skala peta (2.5
meter) dengan lebar kurang <0.5 milimeter x skala peta (2.5
meter).
Layer Area
Layer area dibuat untuk menyimpan unsur-unsur geografi
yang memiliki panjang lebih >0.5 milimeter x skala peta (2.5
meter) dengan lebar lebih >0.5 milimeter x skala peta (2.5
meter).
Penarikan Garis
Setelah persiapan, proses digitasi dimulai dengan melakukan
penarikan titik, garis atau area. Berikut ini unsur-unsur yang
harus digambarkan adalah :
1. Perairan (Hidrografi) sebagai representasi wilayah aliran
perairan;

6
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

2. Transportasi dan Utilitas sebagai representasi jaringan


penghubung aktifitas dan mobilitas buatan manusia;
3. Bangunan dan Fasilitas Umum sebagai representasi
obyek yang digunakan manusia dalam beraktifitas;
4. Penutup Lahan sebagai representasi zonasi obyek
rupabumi berdasarkan kriteria klasifikasi jenis tutupan
lahan;
5. Batas Wilayah indikatif sebagai representasi pembagian
wilayah administratif secara politis.

C. TATA CARA DIGITASI PETA DASAR


Tata cara digitasi peta dasar untuk Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) yaitu:

C.1 Digitasi Perairan


Digitasi untuk kategori perairan atau jaringan sungai harus dimulai
dari sungai besar dilanjutkan dengan anak sungai, dan kemudian
sungai musiman, pengelompokan tersebut berdasarkan kriteria
berikut:
Tabel II.1 Kriteria Digitasi Perairan
Fitur Ukuran lebar sungai
Sungai besar Lebar sungai 0,5 milimeter x skala peta
Anak sungai Lebar sungai < 0,5 milimeter x skala peta
Sungai musiman Lebar sungai < 0,5 milimeter x skala peta,
dan sungai tidak selalu tergenang air

Proses digitasi harus dimulai dari hulu ke muara. Dalam satu daerah
aliran sungai, segmen garis sungai harus terhubung satu dengan
lainnya membentuk satu jaringan yang bermuara pada satu titik.
Sungai dan alur dapat bermuara pada garis pantai, garis tepi danau,
garis tepi air rawa, atau garis tepi perairan lainnya. Pada daerah
karst, aliran sungai dapat terhenti tanpa diketahui kelanjutan

7
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

muaranya. Bentuk topografi daerah karst dicirikan dengan banyak


cekungan.
Gambar 2.3 Contoh Penarikan Garis dan Area Perairan (Sungai)

Garis tepi perairan lainnya adalah garis batas daratan dan air yang
menggenang. Garis tepi danau/situ, garis pantai/pulau, dan garis tepi
rawa, dan garis tepi empang masuk dalam kategori ini.
Karakteristik geometri garis tepi perairan ditentukan sebagai
berikut:
1. Garis tepi perairan tidak terpotong oleh kontur;
2. Garis pantai dan garis tepi danau/situ tidak terpenggal oleh
muara sungai;
3. Sungai harus berhenti pada garis tepi danau/situ;
4. Sungai harus berhenti pada garis pantai;
5. Sungai dapat memotong garis tepi rawa apabila operator
dapat melihat aliran sungai tersebut.

8
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Gambar 2.4 Contoh Penarikan Garis Area Perairan Sungai Bertemu


Dengan Danau

C.2 Digitasi Transportasi dan Utilitas


Digitasi unsur peta rupabumi 2 Dimensi untuk kategori transportasi
dan utilitas harus memenuhi ketentuan berikut:
1. Semua jaringan transportasi yang dapat terlihat pada citra
harus diplot sesuai dengan keadaan sebenarnya;
2. Digitasi jaringan transportasi dilakukan pada garis tengahnya
(centerline);
3. Jaringan transportasi tidak terputus pada lokasi perpotongan
dengan sungai;
4. Semua jaringan transportasi yang ada pembatas tengah atau
lebarnya 0,5 mm x skala peta harus diplot 3 garis (2 bahu
jalan dan 1 pembatas tengah sebagai centerline);
5. Jembatan disimbolkan titik, garis atau area tergantung
geometri jalan dan sungai yang berpotongan.

9
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Gambar 2.5 Contoh Penarikan Garis Jalan 2 Bahu Jalan (Warna


Oranye) dan 1 Centerline (Warna Merah)

C.3 Digitasi Bangunan dan Fasilitas Umum


Digitasi unsur peta rupabumi 2 Dimensi untuk kategori bangunan
dan fasilitas umum harus memenuhi ketentuan berikut:
1. Semua bangunan diplot sesuai dengan ukuran dan bentuk
sebenarnya;
2. Bangunan diplot pada atap bangunan;
3. Kumpulan bangunan/gedung yang berjarak rapat antara satu
dengan yang lain dibuat sebagai satu kesatuan, dan
dipisahkan dengan garis sharing boundary, untuk kemudian
pada tahapan pembentukan geodatabase dibuat menjadi
poligon tersendiri. Misal: kumpulan ruko, permukiman yang
padat, dll;

10
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

4. Landasan pacu dan dermaga apabila terlihat pada citra harus


digambarkan sesuai dengan bentuk dan ukuran yang
sebenarnya.

Gambar 2.6 Contoh Penarikan Area Bangunan Sesuai Atap


Bangunan

C.4 Penutup Lahan


Unsur peta dasar yang masuk kategori ini terdiri dari: sawah, kebun,
tegalan, hutan, belukar, tanah kosong, padang rumput, dan hutan
bakau. Proses digitasi area tutupan lahan terbentuk dari gabungan
data jalan, sungai, batas permukiman, dan batas vegetasi. Operator
harus melakukan interpretasi kemudian mendelinasi garis batas
vegetasi serta memberi teks label seperti yang tampak pada gambar
di atas tersebut.

11
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Gambar 2.7 Contoh Penarikan Area Tutupan Lahan, Gabungan


Dari Semua Unsur Berbentuk Area

C.5 Batas Administrasi


Data dengan kategori batas administrasi diperoleh dari instansi
resmi pusat/daerah bersangkutan yang memiliki informasi mengenai
data batas administrasi. Data tersebut merupakan data sekunder
yang akan ditambahkan sebagai kategori batas wilayah pada
basisdata hasil tahapan digitasi unsur peta dasar. Batas wilayah
tersebut perlu diverifikasi secara apakah benar demikian dan
dikonfirmasikan ke pemerintah daerah setempat pada saat tahapan
survei kelengkapan lapangan.
Gambar 2.8 Batas Administasi Indikatif Harus Diperbaiki Agar
Mengikuti Batas Alam atau Jalan

12
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

C.6 Ketentuan
Berikut ini beberapa ketentuan yang harus dipenuhi agar kualitas
digitasi terjaga.
a. Skala Zoom
Tampilan data di layar monitor atau zooming data di atur pada
skala 2x lebih besar dari skala peta yang diinginkan. Untuk
skala 1:5000 maka proses digitasi dilakukan pada zooming
data pada skala 1:1000. Hal ini dilakukan agar penarikan garis
tidak keluar dari arahan citra/foto.

Gambar 2.9 Ketepatan Penarikan Garis Harus Dilakukan Zoom 2


kali Skala Peta, Perbandingan Kiri (1:5.000) dan Kanan
(1:2.500)

b. Kerapatan Vertex
Vertex adalah titik-titik yang membentuk sebuah garis atau
area. Untuk menghasilkan tarikan garis atau area yang halus
dan rapi maka sebaiknya jarak antar vertex tidak terlalu jauh
(sekitar 5 meter). Kecuali untuk penarikan jalan yang lurus
tegas atau bangunan tidak diperlukan bataasan jarak vertex.

13
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Gambar 2.10 Jarak Antar Vertex Saat Digitasi (5 Meter)

c. Snapping
Snapping adalah kemampuan software CAD atau GIS untuk
memastikan pertemuan antar titik, garis atau area dapat
menempel dengan tepat. Jika snapping tidak digunakan maka
kesalahan dasar seperti undershoot atau overshoot akan
terjadi.

d. Line To Polygon
Untuk kemudahan pekerjaan, disarankan agar proses digitasi
tutupan lahan diperlakukan sebagai garis (kecuali bangunan).
Setelah digitasi selesai dapat dilakukan konversi garis menjadi
area dengan tool Line to Polygon yang biasanya terdapat di
software CAD atau GIS.

e. Pengelompokan Data
Semua objek yang dihasilkan pada proses digitasi,
dikelompokkan kedalam tema unsur peta dasar dimana setiap
tema dapat berupa titik, garis, atau area. Tabel di bawah ini

14
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

merupakan sistem pengelompokan sesuai dengan tema dan


tipe data-nya :

Tabel II.2 Pengelompokan Tipe Data Sesuai Dengan Tema


No Kategori Peta Dasar Titik Garis Area
1 Perairan
2 Transportasi dan Utilitas
3 Bangunan dan Fasilitas Umum
4 Penutup Lahan
5 Batas Administrasi

C.7 Pembuatan Geodatabase


Pada tahapan pembentukan geodatabase, kegiatan yang dilakukan
antara lain:
1. Konversi data menjadi format geodatabase dengan mengikuti
ketentuan penamaan file dalam geodatabase (untuk data hasil
digitasi dalam format CAD).
2. Edgematching antar kelas fitur hasil proses digitasi
3. Data Cleaning
4. Editing Atribut
Bila dijabarkan ke empat poin diatas adalah sebagai berikut :
a. Konversi Data
Semua objek yang dihasilkan pada proses digitasi, harus
dikonversi ke dalam format geodatabase dan dikelompokkan
kedalam tema unsur peta dasar dimana setiap tema dapat
berupa titik, garis, atau area.
b. Edgematching
Jika peta terdiri dari beberapa lembar peta yang dikerjakan
oleh banyak operator maka diperlukan proses penggabungan
dengan memperhatikan sambungan antar lembar peta atau
disebut edgematching.

15
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

c. Data Cleaning
Analisis spasial akan dapat dilakukan jika hubungan (relasi)
antar unsur peta dasar dapat didefinisikan dengan
membangun topologi. Hasil akhir dari pekerjaan ini harus
betul-betul menjamin bahwa data yang dihasilkan benar-benar
bersih (clean) dari kesalahan, baik kesalahan geometrik,
kesalahan atribut serta kesalahan topologi (free of topological
errors).
Direkomendasikan untuk melakukan proses topologi
menggunakan perangkat lunak GIS standar yang digunakan di
Pusat Pemetaan Dasar Rupabumi-BIG. Cluster toleransi yang
digunakan menggunakan standar (default) dari perangkat
lunak GIS.
Penetapan Topologi Rules
Adapun aturan topologi / rule yang digunakan antara lain
adalah:
Tabel II.3 Penetapan Topologi Rules
Aturan Topologi Titik Garis Area
Tidak boleh tumpang tindih (Must not overlap)
Harus tidak memiliki Dangles (Must not have dangles)
Harus tidak berpotongan (Must not self-intersect)
Harus tidak tumpang tindih (Must not self-overlap)
Harus tidak memiliki kesenjangan (Must not have gaps)
Harus menjadi bagian tunggal (Must be single part)
Harus lebih besar dari toleransi klaster (Must be larger than
cluster tolerance)
Tidak harus berpotongan (Must not intersect)

Koreksi Topologi
Dengan software proses deteksi dan perbaikan kesalahan
topologi dapat dilakukan secara otomatis ataupun manual.
Validasi
Validasi dilakukan untuk pengecekan ulang terhadap
kesalahan topologi.

16
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

Editing Atribut
Untuk pengecekan atribut data, hal-hal yang harus
diperhatikan adalah:
1. Melakukan penyeragaman penulisan pengisian setiap
kolom atribut;
2. Memastikan KODE_UNSUR dan NAMA_UNSUR sesuai
dengan unsurnya;
3. Skema atribut pada setiap tema atau kategori harus
mengikuti ketentuan seperti dibawah ini:

Tabel II.4 Editing Atribut


TEMA BANGUNAN FASUM
TIPE FITUR TITIK, GARIS, AREA
FIELD TYPE WIDTH CONTOH
KODE_UNSUR Text 5 10226 10604
NAMA_UNSUR Text 75 Kantor Camat Pendidikan
Menengah
Umum
TOPONIM Text 50 Kantor SMA Negeri 1
Distrik Cibinong
Membramo
LUAS/PANJANG Numerik 60 150
PELAKSANA Text 50 PT SURVEI A PT SURVEI B
UPDATED Text 8 20140101 20130521

17
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

D. TATA CARA DIGITASI PETA DASAR (RENCANA POLA


RUANG)
D.1 Umum
Secara umum digitasi untuk peta pola ruang adalah proses
menuangkan hasil desain tata ruang khususnya zonasi ke atas peta.
Dilakukan dengan cara penarikan garis atau delienasi blok-blok atau
zonasi perencanaan yang mengacu pada hasil digitasi peta dasar.

D.2 Peralatan Data dan Masukan


On Screen Digitizer
Peralatan yang digunakan antara lain :
a. Perangkat komputer yang memadai untuk mengolah
data vector dan basis data spasial dalam kapasitas
besar dan cepat, setara dengan high end graphic
workstation.
b. Software untuk digitasi 2 Dimensi unsur peta dasar
adalah software CAD atau GIS.
Image Ortho
Data Citra satelit resolusi tinggi hasil orthorektifikasi atau yang
sudah ditegakkan sebagai panduan delienasi zonasi.
Peta Garis (Peta Dasar)
Data masukan yang digunakan adalah peta dasar yang
diperoleh dari digitasi.

D.3 Pelaksanaan
Pelaksanaan digitasi sesuai dengan metode digitasi peta dasar
dengan perbedaan pada kategori atau tema.

18
Modul 4 Tata Cara Pembuatan Peta Dasar RDTR

D.4 Ketentuan Khusus


Beberapa ketentuan yang ditambahkan selain ketentuan sebelumnya
diantaranya :
a. Blok atau zonasi dibuat dengan cara memecah area tutupan
lahan dari peta dasar, sehingga garis batas blok/zona tidak
bergeser atau berbeda dengan peta dasar;
b. Selain memecah area, dimungkinkan juga melakukan
penggabungan area (merge), perlu diperhatikan untuk
memastikan area yang digabung sesuai kebutuhan;
c. Pembentukan geodatabase harus mengacu kepada spesifikasi
teknis basisdata spasial peta RDTR;
d. Pada atribut luas harus dilakukan kalkulasi ulang di akhir
pekerjaan.

Tabel II.5 Pengelompokan Sesuai Dengan Tema dan Tipe


No Kategori Peta Pola Ruang Titik Garis Area
1. Zona Lindung
2. Zona Budidaya

Gambar 2.11 Penarikan Blok/Zona Memperhatikan Hasil


Digitasi Peta Dasar

19

Anda mungkin juga menyukai