Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing) merupakan
pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien dengan
injury akut atau sakit yang mengancam kehidupan. Sebagai seorang spesialis,
perawat gawat darurat menghubungkan pengetahuan dan keterampilan untuk
menangani respon pasien saat pasien terancam kehidupannya seperti
keracunan (poisoning).
Racun adalah yang ketika tertelan, terisap, di arbsorbsi , menempel
pada kulit, atau dihasilkan didalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil
menyebabkan cidera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia. Keracunan
melalui inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena
kesengajaan, merupakan kondisi bahaya kesehatan. Sekitar 7% dari semua
pengunjung department kedaruratan datang karena masalah toksik.
Menurut Sentra Informasi Keracunan (SIKer) Nasional tentang
keracunan yang terjadi pada bulan April Juni 2016, keracunan akibat
pangan mendominasi sebanyak 29 insiden, satu insiden keracunan akibat
tumbuhan, satu insiden keracunan akibat binatang dan empat insiden
keracunan akibat pencemaran lingkungan. Total korban keracunan sedikitnya
berjumlah 2.896 korban dengan 18 korban meninggal dunia. Satu insiden
keracunan akibat binatang terjadi di Jawa Timur mengakibatkan korban
sebanyak dua belas orang dengan korban meninggal sebanyak empat orang.
Penyebab keracunan tersebut adalah ikan buntal yang dikonsumsi bersama-
sama dan para korban tidak mengetahui jika ikan buntal beracun. Adapun
kejadian keracunan yang diakibatkan oleh tumbuhan diperoleh dari D.I
Yogyakarta. Satu insiden keracunan tersebut terjadi pada pelajar siswa
Sekolah Dasar yang tidak sengaja mengkonsumsi secara langsung biji buah
yodium yang mengakibatkan korban sebanyak tiga belas orang.
Selain penyebab diatas, pencemaran lingkungan juga berkontribusi
dalam terjadinya insiden keracunan, dimana terjadi empat insiden keracunan
dengan total korban sebanyak enam puluh orang dan Sembilan diantaranya
meninggal dunia. Keracunan yang terjadi cukup beragam, yaitu keracunan
akibat gas beracun dari sumur, gas beracun dari genset yang diduga sebagai
gas CO, serta insiden yang diduga berasal dari bocoran gas pabrik kimia.
Banyaknya kasus keracunan yang terjadi di masyarakat menuntut
kita sebagai perawat professional untuk dapat tanggap (cepat dan tepat)
mengatasi kasus yang mengancam kehidupan tersebut. Tujuannya yaitu untuk
mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat, hingga dapat hidup
dan berfungsi kembali di dalam masyarakat. Maka dari itu dalam makalah ini
kami menjabarkan atau menjelaskan tentang konsep dasar keracunan serta
konsep dasar asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien keracunan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Konsep Dasar Keracunan tersebut ?
2. Bagaimanakah Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada
Pasien Keracunan ?

C. Tujuan
1. Mengetahui Konsep Dasar Keracunan
2. Mengetahui Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada
Pasien Keracunan.

D. Sistematika Penulisan
Dalam makalah keperawatan gawat darurat tentang keracunan ini,
ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku dan makalah ini juga terbagi
menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Bagian pembuka, berupa sampul, kata pengantar dan daftar isi.
2. Tubuh tulisan, berupa :
a) BAB 1 (Pendahuluan)
1) Latar belakang
2) Tujuan
3) Sistematika penulisan
b) BAB 2 (Tinjauan Teori)
1) Konsep dasar teori keracunan
2) Konsep dasar asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien
dengan keracunan
c) BAB 3 (Kesimpulan dan saran)
3. Bagian akhir atau pelengkap, berupa daftar pustaka.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Keracunan


1. Definisi Keracunan / Poisonning
Keracunan adalah bila suatu zat yang masuk ke dalam tubuh
manusia baik disengaja maupun tidak disengaja dapat menyebabkan sakit
atau mengancam nyawa (Sartono, 2009).
Keracunan adalah masuknya suatu zat toksik ke dalam tubuh
melalui system pencernaan baik kecelakaan maupun disengaja, yang
dapat mengganggu kesehatan bahkan dapat menimbulkan kematian
(krisanti paula,2009).
Menurut Brunner & Suffert (2013), Racun adalah yang ketika
tertelan, terisap, di arbsorbsi , menempel pada kulit, atau dihasilkan
didalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil menyebabkan cidera dari
tubuh dengan adanya reaksi kimia. Keracunan melalui inhalasi dan
menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan,
merupakan kondisi bahaya kesehatan. Sekitar 7% dari semua pengunjung
department kedaruratan datang karena masalah toksik.

2. Etiologi
Adapun zat yang dapat menimbulkan keracunan dapat berbentuk :
a. Padat, misalnya obat-obatan atau makanan
b. Gas, misalnya Co, H2S, dan lain-lain
c. Cair, misalnya alkohol, bensin, minyak tanah, dan lain-lain
Seseorang dapat mengalami keracunan dengan cara :
a. Tertelan melalui mulut, misalnya keracunan makanan, minuman,
dan lain-lain.
b. Terhisap melaui hidung, misalnya kercunan gas Co.
c. Terserap melalui kulit atau mata, misalnya kerabunan zat kimia.
d. Suntikan, misalnya gigitan binatang atau alat suntik (narkoba).
Menurut Sartono (2009), keracunan disebabkan oleh makanan,
pestisida, narkotika, psikotropika, kosmetika, obat, bahan kimia dan bisa.
a. Keracunan makanan
Masalah yang sering kita hadapi dari waktu ke waktu ialah
masalah di bidang keselamatan, yaitu keracunan makanan, baik
yang terjadi secara masal maupun perorangan, selain kerusakan
makanannya sendiri. Keracuanan makanan dapat terjadi karena :
1) Makanan mengandung toksin
Keracunan karena ulah mikroorganisme dapat dibedakan antara
keracunan makanan (food intoxication) dan infeksi karena
makanan yang terkontaminasi oleh parasit, protozoa, atau bakteri
yang patogen (food infection). Keracunan makanan (food
intoxication) dapat terjadi karena makanan tercemar oleh toksin.
Keracunan makanan yang biasa terjadi disebabkan oleh makanan
mengandung eksotoksin yang dihasilkan oleh Klostridium
botulinum atau enterotoksin yang dihasilkan, antara lain oleh
Stafilokoki.
2) Makanan tercemar bakteri pathogen
Keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri patogen, disebut
juga infeksi karena makanan (food infection). Bakteri yang biasa
mencemari makanan terutama Salmonela sebagai penyebab
penyakit tipus dan paratipus, selain dapat juga Proteus,
Escherichia, dan beberapa Pseudonomas.
3) Makan tercemar protozoa dan parasit
Makanan yang tercemar protozoa atau parasit dapat menyebabkan
penyakit yang serius, antara lain penyakit disentri yang disebabkan
oleh Entamuba histolitika dan penyakit lain yang dapat
ditimbulkan oleh trikomonas hominis, giardia lamblia, dan
penyakit cacing.
b. Keracunan pestisida
Buah-buahan dan sayuran dilindungi terhadap tikus, serangga,
jamur, bakteri dan mikroorganisme lain, dan hama penyakit
tanaman, dengan menggunakan rodentisida, fungisida, germisida,
dan pestisida lainnya. Pestisida yang ideal ialah yang tidak toksik
dan mudah dicuci. Harapan ini dinyatakan aman bagi manusia, dapat
menimbulkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu.
c. Keracunan narkotika
Keracunan narkotika dapat terjadi karena overdosis dalam terapi,
suatu kecelakaan atau tidak sengaja menggunakan narkotika, dan
penyalahgunaan yang parah, antara lain keracunan morfin dan
turunannya dalam terapi dan penyalahgunaan kokain dan ganja.
d. Keracunan psikotropika
Keracunan psikotropika umumnya disebabkan oleh overdosis obat
golongan psikotropika yang digunakan untuk terapi, atau
penyalahgunaan bahan atau senyawa dari golongan psikotomimetika.
e. Keracunan Kosmetika
Sediaan kosmetika sendiri bukanlah racun. Akan tetapi, karena
dibuat dari bahan-bahan kimia, terutama bagi kulit orang-orang
tertentu, dapat menyebabkan timbul reaksi yang tidak dikehendaki
seperti reaksi alergi, iritasi, dan fotosensitisasi, selain yang
disebabkan oleh kesalahan dalam penggunaannya.
f. Keracunan obat
Keracunan akut yang terjadi pada umumnya disebabkan oleh obat.
Keracunan obat, baik yang tidak sengaja, maupun yang disengaja,
biasanya sebagai akibat overdosis atau dosis yang berlebihan.
g. Keracunan bahan kimia
Bahan kimia adalah semua yang menempati ruang dan bermassa.
Makanan, pakaian, obat, dan udara yang terhirup adalah bahan
kimia. Bahan kima adalah bahan atau senyawa kimia yang bersifat
racun atau potensial dapat menjadi racun, terutama yang digunakan
dalam bidang industri.
h. Keracunan bisa
Beberapa binatang di daerah atau lingkungan hidup kita dapat
membahayakan dengan sengatan dan gigitannya yang mengandung
bisa. Bisa adalah racun yang disekresi oleh beberapa binatang
reptilian dan artropoda. Binatang-binatang tersebut antara lain ular
berbisa, lebah, dan binatang laut.

3. Manifestasi Klinik
Pada hakekatnya semua zat dapat berlaku sebagai racun,
tergantung pada dosis dan cara peberiannya. Karena gejala yang timbul
sangat bervariasi, kita harus mengenal gejala yang ditimbulkan oleh setiap
agens agar dapat bertindak dengan cepat dan tepat pada setiap kasus
dengan dugaan keracunan.
Seseorang dicurigai menderita keracuan bila:
1. Seorang yang sehat mendadak sakit
2. Gejalanya tak sesuai dengan suatu keadaan patologik tertentu
3. Gejala menjadi progresif dengan cepat karena dosis yang besar dan
intolerabel
4. Anamnestik menunjukan ke arah keracunan, terutama pada kasus
bunuh diri/kecelakaan
5. Keracunan kronik dicurigai bila digunakan obat dalam waktu lama
atau lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan zat-zat kimia

Juga perhatikan benda-benda sekitar penderita dan simpan semua zat


yang ada disitu; hal ini terutama pada kecurigaan pembunuhan/bunuh
diri. Meskipun sampai sekarang kira-kira 95% kasus keracuna tidak
dikenal antidotumnya, pengobatan simtomatik yang segera sering cukup
efektif.
Menurut Sartono (2009) efek dan gejala yang ditimbulkan akibat
keracunan, terjadi antara lain pada sistem pencernaan makanan,
pernapasan, kardiovaskuler, urogenital, darah dan hemopoitika, sistem
saraf pusat serta kulit.
a. Sistem pencernaan makanan
Efek dan gejala keracunan pada sistem pencernaan makanan dapat
menyebabkan muntah, diare, perut kembung, dan kerusakan hati
(sebagai akibat keracunan obat dan bahan kimia).
b. Sistem pernafasan
Efek dan gejala keracunan pada sistem pernafasan, antara lain hipoksia
dan depresi pernafasan, edema paru, dan ventilasi paru.
c. Sistem kardiovaskuler
Efek dan gejala pada sistem kardiovaskuler, antara lain syok, gagal
jantung kongesti, dan jantung berhenti berfungsi.
d. Sistem urogenital
Efek dan gejala keracunan pada sistem urogenital, antara lain dapat
menyebabkan gagal ginjal dan retensi urin.
e. Sistem darah dan hemopoitika
Efek dan gejala keracunan pada sistem darah dan hemopoitika, antara
lain dapat menyebabkan methemoglobinemia, agranulositosis dan
diskrasias darah lain dan reaksi hemolitik.
f. Sistem saraf pusat
Efek dan gejala keracunan pada sistem saraf pusat, antara lain dapat
menyebabkan konvulsi, koma, hipoglikemia, hiperaktivitas, delirium,
dan maniak.
4. Jenis-jenis keracunan dan Penatalaksanannya
Menurut Brunner & Suffert (2013), jenis-jenis keracunan dan
penatalaksanananya yaitu :
a) Mencerna (menelan racun)
Tujuan tindakan kedaruratan adalah menghilangkan atau meng-
inaktifkan racun sebelum diarbsorsi untuk memberikan perawatan
pendukung, untuk memelihara system organ vital, menggunakan
antidot spesifik untuk menetralkan racun dan memberikan tindakan
untuk mempercepat eliminasi racun terabsorbsi.

Penatalaksanaan umum :
1) Dapatkan kontrol jalan nafas, ventilasi, dan oksigenasi. Pada
keadaan tidak ada kerusakan serebral atau ginjal, prognosis pasien
bergantung pada keberhasilan penatalaksanaan pernafasan dan
system sirkulasi.
a. Kaji ventilasi adekuat dengan observasi usaha ventilasi melalui
analisis gas darah atau spirometri.
b. Kaji tanda vital kardiovaskuler dengan mengukur nadi, tekanan
darah, tekanan vena central, dan suhu (internal dan perifer).
c. Siapkan untuk ventilasi mekanik jika terjadi pernafasan,
tekanan ekspirasi positif diberikan pada jalan nafas, masker
kantong dapat membantu menjala alveoli tetap mengembang.
d. Berikan oksigen untuk depresi pernafasan, tidak sadar,
sianosis, dan syok.
e. Cegah aspirasi isi lambung dengan posisi kepala pasien
diturunkan, menggunakan jalan nafas orofaring, dan
penghisap.
f. Stabilkan fungsi (kardiovaskuler) dan pemantauan EKG.
g. Masukkan kateter urinarius tidak menetap untuk memantau
fungsi ginjal .
h. Dapatkan spesimen darah untuk konsentrasi obat atau racun.
i. Pantau status neuorolgi (meliputi fungsi kognitif) : pantau
tanda vital dan status neurologic lanjut
j. Lakukan pemeriksaan fisik cepat
2) Coba untuk menentukan zat yang merupakan racun, jumlah,
kapan waktu tertelan , gejala, usia, berat pasien, dan riwayat
kesehatan yang tepat . hubungi pusat control racun diarea jika
agen toksik tidak diketahui atau jika dibutuhkan mengidentifikasi
antidot untuk agen toksik yang diketahui.
3) Tangani syok yang tepat. Mungkin ini berhubungan dengan kerja
kardio depresan dari obat yang ditelan , pengumpulan aliran vena
di ekstermitas bawah, atau penurunan sirkulasi penurunan
sirkulasi volume bawah sampai dengan permeabiliitas kapiler.
4) Hilangkan atau kurangi absorbsi racun. Gunakan prosedur
pengosongan lambung sesuai ketentuan ; hal berikut mungkin
digunakan :
a. Sirup ipeka untuk merangsang muntah pada pasien sadar,
(jangan merangsang muntah setelah menelan zat penyebab
atau petroleum distilata)
b. Bilas lambung. Simpan aspirasi lambung untuk penyaringan
toksikologi
c. Karbon diatifikasi diberikan jika racun adalah salah satu yang
dapat diarbsorbsi oleh karbon
d. Katartik, bila tepat
5) Berikan terapi spesifikasi .berikan antagonis kimia yang spesifik
atau antagonis fisiologis secepat mungkin untuk mengubah atau
menurunkn efek toksin.
6) Dukung pasien yang mengalami kejang. racun mungkin memicu
sisttem saraf pusat atau pasien mengalami kejang karena oksgigen
tidak adekuat.
7) Bantu dalam menjalankan prosedur untuk mendukung
penghilangan zat yang ditelan jika hal hal diatas tidak efektif :
a. Dieresis untuk agen yang dikeluarkan lewat jalur ginjal
b. Dialysis
c. Hemo perkusi ( proses melewatkan darah melalui sirkuit
ekstrakorporeal dan cartridge containingan adsorbent (karbon
atau resin), di mana setelah detoksifikasi darah dikembalikan
ke pasien)
d. Karbon dosis ganda
8) Pantau tekanan vena sentral sesuai indikasi
9) Pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
10) Menurunkan peningkatan suhu
11) Berikan analgesic yang sesuai untuk nyeri : nyeri berat
menyebabkan kolaps vasomotor dan penghambatan reflex fungsi
fisiologik normal
12) Bantu mendapatkan specimen darah, urin, isi lambung dan
muntah
13) Berkan survailens perawat yang konstans dan perhatian pada
pasien koma ; koma karena keracunan akibat gangguan fungsi sel
otak atau metabolisme
14) Pantau dan atasi komplikasi seperti hipotensi , disritmia jantung,
dan kejang .
15) Jika pasien dipulangkan diberikan, bahan tertulis yang
menunjukkan tanda dan gejala masalah potensial dan prosedur
untuk bantuan ulang .
a. Minta konsultasi dokter jiwa jika kondisi tersebut karena
usaha bunuh diri
b. Pada kasus keracunan pencernaan yang tidak disengaja
berikan pencegahan racun dan instruksi pembersihan racun
rumah pada pasien atau keluarga
b) Keracunan korosif
Keracunan zat korosif meliputi alkalin dan agen asam yang
menyebabkan kerusakan jaringan setelah kontak dengan membran
mukosa
a. Produk alkalin : pembersih kering, pembersih toilet, deterjen
nonfosfat ; pembersih oven, baterai (baterai yang digunakan
untuk jam,kalkulator,kamera), tablet Clinitest
b. Produk asam ; pembersih toilet, pembersih kolam renang,
pembersih logam ,penghilang karat, asam baterai .

Pengkajian
1) Catat tipe dan kuantitas dari agens yang ditelan
2) Kaji nyeri dan sensasi terbakar dalam mulut dan tenggorok, nyeri
pada saat menelan, tidak mampu menelan , muntah, pengeluaran
air liur, dan hematuria
Diagnosa keperawatan dapat meliputi perubahan membrane
mukosa oral yang yang berhubungan dengan menelan korosif dan
risiko terhadap kekerasan pada diri sendiri.
Penatalaksanaan kedaruratan
1. Berikan air atau susu untuk pengenceran
a. Pencairan tidak diusahakan jika pasien mengalami edema
jalan napas akut atau obstruksi atau jika terdapat bukti
klinis perforasi esofagus, lambung atau usus
b. Jangan rangsang muntah jika pasien telah mengkonsumsi
asam, basa kuat atau zat korosif lain.
2. Pasien biasanya dibawa ke rumah sakit untuk observasi dan
rencana endoskopi untuk evaluasi daerah yang terbakar dan
ulserasi dalam
3. Minta evaluasi psikiatrik jika keracunan adalah upaya bunuh
diri.
c) Penyalahgunaan zat
Penyalahgunaan zat adalah kesalahgunaan zat tertentu untuk
mengubah alam perasaan atau prilaku penyalahgunaan obat dan
alcohol adalah dua contoh penyalahgunaan zat.

Penyalahgunaan obat
Penyalahgunaan obat adalah penggunaan obat untuk tujuan
diluar tuntutan medis. Manifestasi klinis bervariasi sesuai obat yang
digunakan, tetapi prinsip dasar penatalaksanaan secara esensial sama.
Pengguna obat cenderung menggunakan berbagai obat secara simultan
(misalnya alcohol, barbiturate, narkotik, dan tranquilize) yang
mempunyai egek adiktif. Pengguna obat IV mempunyai risiko tinggi
terhadap HIV,AIDS, hepatitis B, dan paling sering adalah korban dari
tetanus di Amerika Serikat.
Tujuan pelaksanaan untuk pasien yang menderita takar lajak
obat adalah menyokong fungsi pernafasan dan kardiovaskuler dan
meningkatkan pembersihan agens.

Penatalaksanaan Kedaruratan terhadap Reaksi Obat Akut


1) Kaji keadekuatan pernafasan. Dapatkan control jalan napas,
ventilasi, dan oksigenasi.
a. Gunakan selang endotrakea dan berikan bantuan ventilasi
pada pasien dengan depresi berat yang tidak ada reflex batuk.
b. Dapatkan analisis gas darah untuk hipoksia karena
hipoventilasi dan abnormalitas asam basa.
c. Berikan oksigen.
2) Stabilkan sistem kardiovaskuler (uni dilakukan simultan dengan
penatalaksanaan jalan napas )
a. Mulai kompresi jantung ekternal dan ventilasi pada tidak
adanya denyut jantung.
b. Mulai monitor ECG
c. Dapatkan gambaran sampel darah untuk tes glukosa,
elektrolit, BUN, kreatinin, dan skrin toksikologi yang tepat.
d. Mulai cairan IV
3) Berikan antagonis obat sesuai ketentuan jika obat diketahui.
Nalokson hidroklorida (narcan) sering digunakan : dekstrosa 50%
dalam air juga digunakan (untuk hipoglikemia).
4) Singkirkan obat dari lambung sesegera mungkin
a. Rangsang muntah jika setelah pasien ditemukan dini setelah
mencerna ; simpan muntahan untuk pemeriksaan toksikologi.
b. Gunakan bilas lambung jika pasien tidak sadar atau jika tidak
ada jalan untuk menemukan kapan obat diminum. (jika
pasien tidak mengalami reflex ,,emelam atau batuk, lakukan
prosedur ini hanya setelah dinstubasi dengan selang
endotrakea dokembangkan untuk mencegah aspirasi isi
lambung).
c. Karbon teraktivasi mungkin dapat digunakan pada terapi
digunakan setelah muntah atau bilas.
d. Simpan aspirasi lambung untuk analisis toksikologik.
5) Sediakan perawatan pendukung
a. Ukur suhu rectal; termoregulasi yang ekstrem ( hipertermia
atau hipotermia) harus diketahui dan ditangani.
b. Atasi kejang sesuai petunjuk ; mulai kewaspadaan kejang
c. Bantu hemodialisis dan dialysis peritoneal untuk potensi
keracunan mematikan.
d. Pasang kateter urine untuk mempertahankan aliran urine
karena obat atau metabolit dikeluarkan melalui urine.
6) Dapatkan pemeriksaan fisik untuk menghilangkan kemungkinan
syok insulin, meningitis, hematoma subdural, stroke dan
penyebab lain .
a. Kaji tanda jarum dan bukti trauma luar
b. Lakukan pengkajian neurologic cepat ( tingkat respons,ujuran
dan reaksi pupil, reflex, temuan fokal neurologic)
c. Ingat bahwa beberapa pengguna obat menggunakan obat
multipel secara simultan.
d. Waspada bahwa terdapat insiden tinggi HIV dan Hepatitis B
antara pengguna obat karena penggunaan jarum suntik yang
tidak steril.
e. Periksa napas pasien untuk karakteristik bau
alkohol,aseton,dll
7) Coba untuk mendapat riwayat penggunaan obat (dari orang lain
yang ikut bersama pasien).
a. Ciptakan hubungan yang suportif dan realistis dengan pasien.
b. Jangan meninggalkan pasien seniri karena ada potensi
menyakiti diri, orang lain, atau staf di departemen
kedaruratan,
8) Masukkan pasien ke unit perawatan intensif jika tidak sadar; jika
pasien dengan sengaja takar lajak konsultasi dengan dokter
psikiatrik diperlukan.
9) Buat usaha untuk dapat mendaftarkan pasien pada program
penanganan obat (detoksifikasi dan rehabilitasi).

d) Keracunan melalui inhalasi


Penatalaksanaan Umum
1) Bawa pasien ke udara segardengan segera,buka semua pintu dan
jendela
2) Longgarkan semua pakaian ketat.
3) Mulai resusitasi kardiopulmonal jika diperlukan.
4) Cegah menggigil; bungkus pasien dalam selimut.
5) Pertahankan pasien setenang mungkin.
6) Jangan berikan alkohol dalam bentuk apapun.
e) Keracunan karbon monoksida
Keracunan karbon monoksida mungkin terjadi karena
kecelakaan industriatau dirumah atau usaha bunuh diri.. keadaan ini
berimplikasi padakematian lebih banyak dari pada agens toksik lain
kecuali alkohol. Karbon monoksida merupakan toksik karena efeknya
yang mengikat hemoglobin sirkulasi yang menurunkan kapasitas
pembawa oksigen darah. Hemoglobin mengabsorbsi karbon
monoksida lebih dari 200 kali dari pada mengabsorbsi oksigen. Ikatan
karbon monoksida dengan hemoglobin, disebut karboksihemoglobin,
tidak mentranspor oksigen.

Manifestasi klinis dan pengkajian


Karena sistem saraf pusat mempunyai kebutuhan kritis terhadap
oksigen, sistem ini mnunjukkan toksisitas karbon monoksida tampak
terintoksikasi (dari hipoksia serebral). Tanda dan gejala lain meliputi
sakit kepala , kelemahan otot papitasi, pusing, konfusi mental dan
dapat menjadi koma dengan cepat. Warna kulit tidak merupakan tanda
yang meyakinkan dapat merupakan rentang dari merah muda sampai
sianotik atau pucat. Terpajan karbon monoksida membutuhkan
penanganan segera. Diagnosa keperawatan meliputi gangguan
pertukaran gas dan resiko terhadap kekerasan terhadap diri sendiri.

Penatalaksanaan kedaruratan
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mengembalikan
oksigenasi serebral dan hipoksia miokard dan untuk mempercepat
eliminasi karbon monoksida.
1) Berikan oksigen 100% pada atmosfer atau tekanan hiperbarik
untuk menangani hipoksia dan peningkatan eliminasi karbon
monoksida.
2) Ambil darah untuk kadar karboksihemoglobinkurang dari 5%.
3) Observasi pasien secara konstan.
4) Ketika terjadi keracunan karbon monoksida yang tidak disengaja,
hubungi departemen kesehatan. Saluran atau bangunan juga harus
diinspeksi.
5) Minta konsultasi psikiatrik jika keracunan adalah usaha bunuh
diri.

f) Keracunan kontaminasi kulit (luka bakar kimiawi)


Cedera karena pemajanan pada bahan kimia masih menentang
karena jumlah yang besar dari agens dengan kerja yang berbeda dan
efek metabolik. Keparahan luka bakar kimia ditentukan oleh
mekanisme kerja,,kekuatan penetrasi, konsentrasi , dan jumlah durasi
pemajanan zat kimia ke kulit.
Penatalaksanaan kedaruratan
1) Basahi kulit dengan air mengalir
2) Teruskan untuk mengalirkan air ke kulit ketika melepaskan
pakaian kulit ketika melepaskan pakaian kulit dari petugas
perawatan kesehatan harus dilindungi dengan tepat jika daerah
yang terbakar luas.
3) Berikan bilas yang lebih lama dengan air hangat.
4) Tentukan identitas dan karakteristik agens kimia untuk tindakan
lanjut.
5) Berikan tindakan luka bakar standar yang tepat untuk ukuran dan
lokasi luka (tindakan antimikroba,tetanus, profilaksis).
6) Instruksikan pasien untuk memeriksa kembali area yang terkena.

g) Keracunan melalui tusukan : sengatan serangga


Individu mungkin mempunyai sensitivitas yang ekstrem
terhadap bisa Hymnoptera (sengatan lebah,hornets, tawon). Alergi
bisa diperkirakan menjadi reaksi humoral-IgE dengan resiko
kedaruratan akut. Sengatan pada daerah kepala dan leher adalah hal
yang serius, meskipun sengatan pada area tubuh dapat menyebabkan
anafilaksis.
Manifestasi klinis bervariasi dari urtikaria umum,
gatal,malaise, ansietas, sampai edema laring,bronkhospasme berat,
syok dan kematian. Umumnnya waktu yang lebih pendek diantara
sengatan dan kejadian dari gejala yang berat merupakan prognosis
yang paling buruk.
Penatalaksanaan kedaruratan
1) Berikan epinefrin (cair secara langsung). Masase daerah tersebut
untuk mempercepat absorbsi.
2) Jika sengatan pada ekstremitas, berikan torniket dengan tekanan
yang tepat untuk membendung aliran vena dan alimfatik.
3) Terapi hiposensitivitas harus diberikan pada seseorang yang
mempunyai reaksi sistemik atau lokal.
Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah.
Instruksikan pasien, keluarga dan orang terdekt untuk membatasi
pemajanan pada sengatan seranggadengan mengikuti tindakansebagai
berikut:
1) Hindari tempat dimana sengatan serangga berkumpul.
2) Hindari area tempat makan serangga
3) Hindari pergi keluar dengan telanjang kaki
4) Hindari parfum ,sabun yang baunya menyengat
5) Jaga jendela mobil tertutup

h) Gigitan ular
Bisa (racun) ular terdiri dari terutama protein yang mempunyai
efek fisiologik yang luas dan bervariasi. Sistem multiorgan, terutama
neurologik, kardiovaskuler, sistem pernapasan mungkin terpengaruh.
Bantuan pertama pada daerah gigitan ular meliputi
mengistirahatkan korban,melepaskan benda yang mengikat seperti
cincin, memberikan kehangatan, membersihkan luka , menutup luka
dengan balutan steril, dan imobilisasi bagian tubuh dibawah tinggi
jantung. Es atau torniket tidak digunakan. Evaluasi awal kedaruratan
dilakukan dengan cepat meliputi :
1) Menetukan apakah ular berbisa atau tidak
2) Menentukan dimana dan kapan gigitan terjadi dan sekitar gigitan.
3) Menetapkan urutan kejadian, tanda dan gejala (bekas gigi, nyeri,
edema, dan eritema jaringan yang digigit dan didekatnya)
4) Menentukan keparahan dampak keracunan
5) Memantau tanda vital
6) Mengukur dan mencatat lingkar ekstremitas sekitar gigitan atau
area pada beberapa titik.
7) Dapatkan data laboratorium yang tepat. (mis. HDL< urinalisis<
dan pemeriksaan pembekuan).

Proses dan prognosis gigitan ular bergantung pada jenis dan jumlah
bisa dimana terjadi gigitan , dan kesehatan umum, usia serta ukuran
korban. Tidak ada protokol khusus untuk penatalaksanaan gigitan ular
1) Dapatkan data dasar laboratorium
2) Jangan gunakan es, torniket, heparin, atau kortikosteroid selama
tahap akut. Kortikosteroid dikontraindikasikan pada 6-8 jam
pertama setelah gigitan karena agens ini mendepresi produksi
antibodi dan menyembunyikan kerja antivenin (antitoksin untuk
bisa ular).
3) Cairan parenteral dapat digunakan untuk penatalaksanaan
hipotensi. Jika vasopresin digunakan untuk penanganan hipotensi
penggunaaan harus dalam jangka pendek.
4) Bedah eksplorasi terhadap gigitan jarang diindikasikan.
5) Observasi pasiendengan teliti selama 6 jam.
Pemberian antivenin (antitoksin), antivenin paling efektif
diberikan dalam 12 jam dari gigitan ular. Dosis bergantung pada tipe
ular dan perkiraan keparahan gigitan. Anak membutuhkan lebih
banyak antivenin dari pada orang dewasa. Karena tubuhnya lebih kecil
dan lebih rentan terhadap efek toksik bisa. Uji kulit atau mata harus
dilakukan sebelumnya untuk dosis awal mendeteksi alergi terhadap
antivenin.
Sebelum memberikan antivenin dalam setiap 15 menit
setelahnya, sekitar bagian yang terkena diperiksa. Antivenin diberikan
dengan tetesan IV. Meskipun pemberian ini dapat dilakukan..
bergantung pada keparahan gigitan antivenin dicairkan 500-1000 ml
salin normal.infus dimulai perlahan dan kecepatan meningkat setelah
10 menit jika tidak ada reaksi. Dosis total harus diinfus selama4-5 jam
pertama setelah keracunan.
Penyebab yang paling umum dari reaksi seru adalah infus
antivenin yang terlalu cepat , meskipun sekitar 3% dari pasien dengan
uji kulit negatif mengembangkan reaksi tidak berhubungan dengan
kecepatan infus. Reaksi terdiri dari perasaan penuh diwajah, urtikaria,,
pruritus, keletihan dan khawatir. Gejala ini mungikn diikuti dengan
takikardia, napas pendek, hipotensi dan syok. Pada situasi ini , infus
harus dihentikan segera dan diberikan difenhidramin IV. Vasopresor
digunakan jika terdapat syok. Resusitasi kedaruratan harus siap pada
saat antivenin diberikan.

i) Keracunan makanan
Keracunan makanan adalah penyakit yang tiba-tiba dan mengejutkan
yang dapat terjadi setelah menelan makanan atau minuman yang
terkontaminasi. Botulisme adalah keracunan makanan serius yang
membutuhkan surveilens terus menerus.
Penatalaksanaan kedaruratan
1) Menentukan sumber dan tipe keracunan makanan
2) Kumpulkan makanan, isi lambung, muntah dan feses untuk
pemeriksaan.
3) Pantau tanda vital terus menerus
4) Dukung sistem pernapasan. Kematian karena paralisis pernapasan
dapat terjadi pada botulisme , keracunan ikan dan sebagainya.
5) Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Muntah
berlebihan menyebabkan alkalosis dan diar berlebihan
menyebabkan asidosis
- Observasi untuk syok hipovolemia karena kehilangan cairan dan
elektrolit.
- Evaluasi terhadap latergi, frekuensi nadi, demam, oliguria, anuria,
hipotensi, dan delirium
- Dapatkan elektrolit darah.
6) Koreksi dan kontrol hipoglikemia
7) Kontrol mual
- Berikan obat antietmetik secara parenteral jika pasien tidak
menoleransi cairan atau pengobatan per oral
- Berikan teh ringan, minuman karbonat atau air biasa untuk mual
ringan.
- Berikan cairan ringan 12-24 jam setelah mual dan muntah.
- Secara berangsur untuk residu rendah, diet lunak.

5. Penatalaksanaan kegawatan
Penanganan Umum
Dilakukan sesegera mungkin apapun penyebab keracunan tersebut.
a. Tindakan ABCDE
1) Airway (jalan napas)
Bebaskan jalan napas dari sumbatan, apabila perlu pasang pipa
endotrakeal.
2) Breathing (pernapasan)
Jaga agar pasien dapat bernapas dengan baik.apabila perlu
berikan bantuan pernapasan .
3) Circulation (peredaran darah )
Tekanan darah dan nadi dipertahankan dalam batas normal
4) Dekontamination(pembersihan)
Guna mengurangi absorpsi bahan racun dilakukan pembersihan
racun, tergantung cara masuk bahan racun. Bahan racun yang
tertelan atau melalui saluran cerna dapat dilakukan pengosongan
lambung dan usus dengan :
a) Emesis
Dapat dilakukan secara mekanik dengan merangsang
daerah orofaring bagian belakang.dengan obat-obatan
dapat diberikan larutan pekak 10-20 cc dalam 1gelas air
hangat, dan dapat di ulang setelah 30 menit.
b) Kumbah lambung
Kumbah lambung bertujuan mencuci sebersih mungkin
bahan racun dari lambung, namun kurang bermanfaat
apabila dilakukan 4 jam setelah bahan tertelan, karena
bahan telah melewati lambung dan telah diabsorbsi oleh
usus.
c) Kataris (urus-urus)
Dilakukan apabila bahan racun diperkirakan telah
mencapai usus, yang berguna membersihkan usus halus
sampai kolon, dengan memakai 30 g magnesium sulfat.
5) Eliminasi
Eliminasi adalah melakukan pembersihan racun dimana
diperkirakan racun telah beredar dalam darah,dengan cara
diuresis paksa, hemodialisis, hemoperfusi.
- Diuresis Paksa
Terutama berguna pada keracunan yang dapat
dikeluarkan melalui ginjal.tidak boleh dikerjakan pada
keadaan syok, dekompensasi jantung, gagal ginjal,
edema paru dan kercunan akibat bahan yang tidak dapat
di ekresi melalui ginjal.
- Dialisis
Dapat dilekukan hemodialisis maupun dialisis peritoneal.
b. Pemberian antidote
Antidot (bahan penawar) berguna untuk melawan efek
racun yang telah masuk dalam organ target.tidak smua racun
mempnyai antidote yang spesifik.
c. Tindakan suportif
Guna mempertahankan fungsi vital, perlu perawatan
menyeluruh, termasuk perawatan temperature koreksi
keseimbangan asam basa atau elektrolit, pengobatan infeksi dll.
d. Penilaian klinis
Beberapa keadaan klinis yang perlu mendapat perhatan karena
dapat mengancam nyawa ialah :
1) Koma
2) Kejang
3) Henti jantung
4) Henti napas
5) Syok
e. Anamnesis
Beberapa pegangan anamnesis yang penting dalam upaya
mengatasi keracunan ialah :
1) Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat
yang digunakan termasuk obat yang sering dipakai.
2) Kumpulkan informasi dari anggota keluarga, teman, dan
petugas tentang obat yang digunakan.
3) Tanyakan dan simpan (untuk pemeriksaan toksikologos) sisa
oba, muntahan yang masih ada.
4) Tanyakan riwayat alergi obat atau riwayat syok anafilaksis.
f. Pemeriksaan Fisis
Lakukan pemeriksaan fisis untuk menemukan tanda atau kelainan
otonom yaitu pemeriksaan tekanan darah, nadi, ukuran pupil,
keringat, air liur, dan aktivitas peristaltic usus.
g. Dekintaminasi
Umunya zat atau bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap
melalui kulit sehingga dekontaminasi permukaaan sangat
diperlukan, sedangka dekontaminasi saluran cerna ditunjukkan
agar bahan tertelan akan sedikit diarbsorbsi.

Penanganan khusus
Prinsip penanganan keracunan akut adalah tindakan sedini
mungkin mengeluarkan bahan racun tersebut sebelum masuk kedalam
tubuh dan menuju ke organ target.
Setelah kita memberikan tindakan darurat secara umum yaitu
tindakan ABC (memberikan penanganan airway, breathing dan
circulation), kita lakukan dekontaminasi yaitu membersihkan tubuh dari
bahan racun apabila bahan tersebut di absorbs tubuh.

Beberapa zat/obat yang dapat dipergunakan untuk menolong keracunan


yaitu :
a. Pelawan keracunan asam keras
Ex : larutan encer soda kue ke dalam air, 100 gram kapur tulis dalam
air
b. Pelawan keracunan basa keras
Ex : cuka dapur sebanyak 100-200 cc, aor jeruk 100-200 cc, larutan
encer (o,5%) asam kliroda (HCL) 100-200 cc.
c. Obat-obatan pelunak racun
Ex : putih telur, 60-100 cc, larutan tepung kanji atau beras.

6. Komplikasi
Contoh komplikasi keracunan :
a. Keracunan zat padat
1) Obat salisilat : perdarahan, edema paru, depresi pernapasan,
nekrosis tubular akuta.
2) Makanan : dehidrasi, gangguan kesadaran
b. Keracunan gas
1) CO : edema paru, depresi pernapasan, syok, koma
2) Toksik iritan : edema paru
3) Hidrokarbon : depresi pernapasan
c. Keracunan zat cair
1) Alkohol
- Perdarahan lambung dan usus
- Kerusakan ginjal dengan zat gula dalam kencing
- Kerusakan liver
- Kegagalan jantung
- Oedema paru
- Pembentukan methemeglobine
2) Metil alkohol : kejang, syok, koma
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat pada Pasien
Keracunan
1. Pengkajian
Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran menurun
b. Pernafasan
Nafas tidak teratur
c. Kardiovaskuler
Hipertensi, nadi aritmia.
d. Persarafan
Kejang, miosis, vasikulasi, penurunan kesadaran, kelemahan,
paralise
e. Gastrointestinal
Muntah, diare
f. Integumen
Berkeringat
g. Muskuloskeletal
Kelelahan, kelemahan
h. Integritas Ego
Gelisah, pucat
i. Eliminasi
Diare
j. Selaput lendir
Hipersaliva
k. Sensori
Mata mengecil/membesar, pupil miosis
2. Diagnosa
a. Pola nafas infektif b.d obstruksi trakheobronkeal
b. Defisit volume cairan b.d muntah, diare
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
d. Gangguan perfusi jaringan b.d kekurangan O2

3. Intervensi
a. Devisit volume cairan b.d muntah, diare
Tujuan : menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan
kedalaman dalam rentang normal dan paru bersih
Kriteria hasil : suara nafas normal
Intervensi Rasional
1. Kaji frekuensi, kedalaman 1. untuk mengetahui pola nafas,
pernafasan dan ekspansi dan keadaan dada saat
dada bernafas
2. Tinggikan kepala dan 2. untuk memberikan
bantu mengubah posisi kenyamanan dan
3. Dorong atau bantu klien memberikan posisi yang baik
dalam mengambil nafas untuk melancarkan respirasi
dalam 3. untuk membantu
melancarkan pernafasan
klien
b. Defisit volume cairan b.d muntah, diare
Tujuan : mempertahankan volume cairan adekuat
Intervensi Rasional
1. Awasi intake dan output, 1. Untuk mengetahui
karakter serta jumlah feses pemasukan dan pengeluaran
kebutuhan cairan klien
2. Observasi kulit kering 2. untuk mengetahui apakah
berlebihan dan membran klien Kekurangan cairan
mukosa, penurunan turgor dengan mengamati sistem
kulit integuman.
3. Kolaborasi pemberian 3. Untuk membantu
cairan paranteral sesuai menormalkan kembali cairan
indikasi tubuh klien

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anorexia


Tujuan : nutrisi adekuat
Intervensi Rasional
1. Catat adanya muntah 1. untuk mengetahui frekuensi
cairan yang keluar pada saat
klien muntah
2. Berikan makanan dengan 2. untuk membantu klien agar
porsi sedikit tapi sering tidak kekurangan nutrisi
3. Berikan makanan halus, 3. untuk membantu klien agar
hindari makanan kasar dapat mencerna makanan
sesuai indikasi dengan lancar serta tidak lagi
mengalami mual, muntah
4. Kolaborasi pemberian 4. untuk mengurangi nyeri pada
antisida sesuai indikasi abdomen
d. Gangguan perfusi jaringan b.d kekuranagn O2
Tujuan : terjadi peningkatan perfusi jaringan
Intervensi Rasional
1. Observasi warna & suhu 1. untuk mengetahui apakah
kulit atau membran klien mempunyai alergi kulit
mukosa 2. untuk mengetahui apakah
2. Evaluasi ekstremitas ada klien mengalami
atau tidaknya kualitas nadi takikardi/bradikardi dan
kekuatan pada ekstremitas
3. Kolaborasi pemberian 3. untuk menetralkan intake
cairan (IV/peroral) sesuai kedalam tubuh
indikasi
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorbsi, menempel
pada kulit, atau dihasilkan didalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil
menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia. Keracunan
melalui inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena
kesengajaan,merupan kondisi bahaya yang mengganggu kesehatan bahkan
dapat menimbulkan kematian.
Tujuan tindakan kedaruratan adalah menghilangkan atau meng-
inaktifkan racun sebelum diabsorbsi, untuk memberikan perawatan pendukung
, untuk memelihara sistem organ vital, menggunakan antidotum spesifik untuk
menetralkan racun, dan memberikan tindakan untuk mempercepat eliminasi
racun terabsorbsi.
Racun dapat menyebabkan perubahan lokal , seperti edema dan
perdarahan, maka dari itu harus dilakukan penanganan keracunan sedini
mungkin untuk mengeluarkan bahan racun tersebut sebelum masuk kedalam
tubuh dan menuju ke organ target. Setelah kita memberikan tindakan darurat
secara umum yaitu tindakan ABC (memberikan penanganan airway, breathing
dan circulation), kita lakukan dekontaminasi yaitu membersihkan tubuh dari
bahan racun apabila bahan tersebut di absorbs tubuh dan setelah itu baru
dilakukan tindakan eliminasi. Sedangkan tindakan yang berifat suportif
merupakan tindakan sekunder dan dilakukan sesuai dengan kondisi penderita.

B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan pemahaman
dan pengetahuan tentang keperawatan gawat darurat pada klien keracunan atau
poisoning. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari para pembaca agar makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suffert.2013.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta :


EGC
Paula, Krisanti.2009. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : CV Trans
Info Medika
Purwadianto, Agus & Budi Sampurna. 2000.Kedaruratan Medik Edisi Revisi
Pedoman Penatalaksanaan Praktis. Jakarta : Binarupa Aksara
Sartono.2009. Racun dan Keracunan. Jakarta : Widya Medika
Lia Chairanie. 2011. Konsep Dasar Keracunan. Dalam
https://www.scribd.com/doc/69548808/KONSEP-DASAR-
KERACUNAN. Diakses pada 29 November 2016
https://www.scribd.com/document/180348580/Konsep-Dasar-Keracunan-docx.
2013. Konsep Dasar Keracunan. Diakses pada 29 November 2016
https://www.academia.edu/20383834/KERACUNAN
http://dokumen.tips/documents/keperawatan-gawat-darurat-55a0d03434cdc.html