Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan Praktikum

- Pemisahan senyawa dengan metoda Hight Performance Liquid


Chromatografy (HPLC)
- Memahami penggunaan alat GC
- Untuk mengetahui kadar senyawa (misalnya alkohol dalam minuman
beralkohol) dalam sampel

1.2 Prinsip Kerja


HPLC menggunakan kolom yang mengandung partikel-partikel kecil-kecil
dari fase tetap dan karena luas permukaan yang lebih besar dari fase tetap
maka sampel dalam HPLC terpisah dengan sangat baik dengan efisiensi
yang tinggi.Mekanisme pemisahan yang berbeda dengan cepat dilakukan
mengikatkan gugus-gugus kimia yang berbeda pada permukaan partikel
silica yang disebut dengan fase terikat.Secara teoritis HPLC itu identik
dengan liquid solid choromatografy.Liquid choromatografy dan ion
exchange choromatografy.

1.3 Landasan Teori

1.3.1. KROMATOGRAPHY

Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacam-


macam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu rasa
gerak yang bisa berupa gas ataupun cair dan rasa diam yang juga bisa berupa
cairan ataupun suatu padatan. Penemu Kromatografi adalah Tswett yang pada
tahun 1903, mencoba memisahkan pigmen-pigmen dari daun dengan
menggunakan suatu kolom yang berisi kapur (CaSO 4). lstilah kromatografi
diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna yang
bergerak kebawah kolom. Pada waktu yang hampir bersamaan, D.T. Day juga

1
menggunakan kromatografi untuk memisahkan fraksi-fraksi petroleum, namun
Tswett lah yang pertama diakui sebagai penemu dan yang menjelaskan tentang
proses kromatografi.
Penyelidikan tentang kromatografi kendor untuk beberapa tahun sampai
digunakan suatu teknik dalam bentuk kromatografi padatan cair (LSC).
Kemudian pada akhir tahun 1930 an dan permulaan tahun 1940 an, kromatografi
mulai berkembang. Dasar kromatografi lapisan tipis (TLC) diletakkan pada
tahun 1938 oleh Izmailov dan Schreiber, dan kemudian diperhalus oleh Stahl
pada tahun 1958. Hasil karya yang baik sekali dari Martin dan Synge pada tahun
1941 (untuk ini mereka memenangkan Nobel) tidak hanya mengubah dengan
cepat kroinatografi cair tetapi seperangkat umum langkah untuk pengembangan
kromatografi gas dan kromatografi kertas. Pada tahun 1952 Martin dan James
mempublikasikan makalah pertama mengenai kromatografi gas. Diantara tahun
1952 dan akhir tahun 1960 an kromatografi gas dikembangkan menjadi suatu
teknik analisis yang canggih.

1.3.2. JENIS-JENIS KROMATOGRAPHY

Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil dan
kromatografi dibagi menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fasa mobil dan
mekanisme pemisahannya, seperti ditunjukkan di Tabel

Tabel Klasifikasi kromatografi


Kriteria Nama
Fasa mobil Kromatografi cair, kromatografi gas
Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi

2
Mekanisme Kromatografi pertukaran ion
kromatografi gel
Fasa stationer Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis,
kromatografi kertas

Beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan di laboratorium


diberikan di bawah ini.

a. Kromatografi partisi

Prinsip kromatografi partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang


dapat diterapkan pada sistem multikomponen yang dibahas di bagian sebelumnya.
Dalam kromatografi partisi, ekstraksi terjadi berulang dalam satu kali proses.
Dalam percobaan, zat terlarut didistribusikan antara fasa stationer dan fasa mobil.
Fasa stationer dalam banyak kasus pelarut diadsorbsi pada adsorben dan fasa
mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antar partikel yang ter adsorbsi.

Contoh khas kromatografi partisi adalah kromatografi kolom yang


digunakan luas karena merupakan sangat efisien untuk pemisahan senyawa
organic.

Kolomnya (tabung gela) diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel atau
pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom.
Larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sammpel
diasorbsi oleh adsorben. Kemudian pelarut (fasa mobil; pembawa) ditambahkan
tetes demi tetes dari atas kolom.

Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah (fasa mobil)
dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorben (fasa stationer). Selama perjalanan
turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang.
Laju penurunan berbeda untuk masing-masing zat terlarut dan bergantung pada
koefisien partisi masing-masing zat terlarut. Akhirnya, zat terlarut akan
terpisahkan membentuk beberapa lapisan.

3
Akhirnya, masing-masing lapisan dielusi dengan pelarut yang cocok untuk
memberikan spesimen murninya. Nilai R didefinisikan untuk tiap zat etralrut
dengan persamaan berikut.

R = (jarak yang ditempuh zat terlarut) / (jarak yang ditempuh pelarut/fasa


mobil).

Gambar 12.3 Diagram skematik kromatografi

b. Kromatografi kertas

Mekanisme pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama


dengan mekanisme pada kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi
kertas adalah kertas saring, yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan
ke ujung kertas yang kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas
saring dicelupkan kedalam pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil
(pelarut) dapat saja beragam. Air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini
dapat digunakan.

Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino


dengan sukses besar. Karena asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan
asam-asam amino larut dalam air dan tidak mudah menguap (tidak mungkin
didistilasi), pemisahan asam amino adalah masalah paling sukar yang dihadapi

4
kimiawan di akhir abad 19 dan awal abad 20. Jadi penemuan kromatografi kertas
merupakan berita sangat baik bagi mereka.

Kromatografi kertas dua-dimensi (2D) menggunakan kertas yang luas


bukan lembaran kecil, dan sampelnya diproses secara dua dimensi dengan dua
pelarut.

c. Kromatografi gas

Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer


dapat berupa padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-
cair).

Umumnya, untuk kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert


misalnya karbon teraktivasi, alumina teraktivasi, silika gel atau saringan
molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10 m) dan
tipis. Fasa mobil adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan disebut
gas pembawa. Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon
monoksida dan karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini.

Metoda ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang
mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan
minyak atsiri dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan teknik ini.

Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel


dan cairannya. Disarankan untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif
untuk berbagai senyawa. Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus
kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan mempengaruhi kesensitifan
teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya analisik atau
preparatif.

d. HPLC

5
Akhir-akhir ini, untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis)
senyawa organik skala besar, HPLC (high precision liquid chromatography atau
high performance liquid chromatography) secara ekstensif digunakan. Bi la zat
melarut dengan pelarut yang cocok, zat tersebut dapat dianalisis. Ciri teknik ini
adalah penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fasa mobil kedalam kolom.
Dengan memberikan tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat
ditingkatkan dengan besar.

Silika gel atau oktadesilsilan yang terikat pada silika gel digunakan
sebagai fasa stationer. Fasa stationer cair tidak populer. Kolom yang digunakan
untuk HPLC lebih pendek daripada kolom yang digunakan untuk kromatografi
gas. Sebagian besar kolom lebih pendek dari 1 m.

BAB II
PROSEDUR KERJA

HPLC
2.1 Alat dan bahan

6
a. Alat yang digunakan
1. Wadah fase gerak
2. Pompa
3. Unit injeksi
4. Kolom
5. Detektor
b. Bahan yang digunakan
1. Bodrex
2. Mixagrip
3. Panadol

2.2 Prosedur kerja


Cara pembuatan fase gerak yaitu :

Fase gerak dicampur (campuran CH3-Buffer KH2PO4 0,005 M, pH 4,8


perbandingan 12 : 88).
Disaring dengan Buchner filter.
Digasing dengan ultrasonic cleaner untuk menghilangkan gas pada fase
gerak.

Set semua alat

Kecepatan aliran pada 0 mL per menit.


Tekanan pada 0 kgf/cm2.
Pumpt reset pada constan flow.
Diset UV-Visible spektrofotometry detector pada panjang gelombang 254
nm.
Dipakai lamp D2.
Ditekan tombol absorbansi dan reson standart (kepekaan absorbansi 0,02).
Dihubungkan system dengan arus listrik.
Power detector UV-Visible spektrofotometry ke posisi ON.
Power recorder ke posisi ON.
Drain valve diputar kekiri.
Pada ujung pipa pembuangan dipasang disposible syringe.
Flow rate diatur pada 5 mL/ menit.
Pump pada posisi ON sambil diisap dengan disposible syringe untuk
mempercepat keluarnya udara dari pada cairan pembawa.
Setelah 10 mL pump dimatikan.
Disposible syringe dilepaskan dari ujung pipa.
Ujung pipa dimasukkan kedalam elemeyer.

7
Pump ke posisi ON lagi untuk memastikan udara tidak ada lagi dalam pipa
aliran.
Lalu pump diset ke OFF.
Katup pembuangan ditutup (diputar kearah kanan).
Lalu flow rate dinaikkan ke 1 mL / menit.
Hidupkan pump, tekanan akan naik sampai kira-kira 1 x 100 Kgf/cm 2,
cairan carier mengalir injector.
Analisa dilakukan pada flowrate 2 mL / menit.

Menchek stabil tidaknya alat

Dicari base line, dengan menekan tombol ZERO pada detector.


Diturunkan posisi pen.
Posisi drive ke ON.
Injeksi Fase Gerak
Ditekan tombol ZERO.
Ditekan tombol MARK.
Untuk injeksi, injector diputar keposisi LOAD.
Diumasukkan fase gerak kedalam injector ke posisi inject.
Dihidupkan chart drive.

Injerks serum

Ditekan tombol ZERO.


Ditekan tombol MARK
Injector diputar keposisi LOAD.
Dimasukkan serum kedalam injector dengan ulsyringe.
Injector diputar keposisi inject.
Dihidupkan chart drive.

Mematikan Alat

Recorder ke posisi OFF.


UV-Visible spektrofotometry keposisi OFF.
RID ke posisi OFF.
Pump ke posisi OFF.
Flow rate diturunkan 1 mL / menit.
Pump dihidupkan lagi, kemudian diatur ke OFF lagi.
Flow rate diturunkan perlahan-lahan hingga 0 mL / menit.
Lalu kolom dicuci dengan CH3OHs.

GC

8
2.3. Alat Dan Bahan
a. Alat yang digunakan adalah:
- Satu set peralatan GC
- Kertas saring whatman
- Erlenmeyer
- Gelas ukur
- Labu untuk tekanan vakum
- Pompa vakum
- Corong
- Botol semprot
- Pipet volum ( 10l)
- Stirrer
b. Bahan yang digunakan adalah:
- Aquadest
- Sampel (tuakx)

2.4. Prosedur Kerja


A. Persiapan Sampel
Dimasukkan sampel kedalam beaker Glass kira-kiran 50 ml

B. Penyiapan Larutan Standart


1. Memipet larutan standart methanol dengan menggunakan pipet volum
(10 uL) sebanyak 15 kali (untuk standart 15 : 15).
2. Melakukan langkah 1 untuk larutan eatnol, iso propyl alcohol, amil
alcohol (dengan pipet volum yang berbeda).
3. Menghomogenkan larutan dengan stirrer.

C. Injeksi Standard
1. Mengecek dan menghidupkan alat.
2. Membuka aliran gas dari tabung gas
3. Menghidupkan kompresor

9
4. Menginjeksikan sampel sebanyak 5 (uL)
5. Mengamati hasil pada detector

D. Injeksi Sampel
Melakukan langkah seperti injeksi pada larutan standar untuk larutan
sampel.

BAB III
GAMBAR RANGKAIAN

HPLC
3.1 Gambar Peralatan

3.2 Gambar Rangkaian

10
3.3 Keterangan Gambar Rangkaian

Injeksi sampel
Injeksi sample seluruhnya otomatis dan anda tidak akan mengharapkan
bagaimana mengetahui apa yang terjadi pada tingkat dasar. Karena proses ini
meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas (jika anda telah
mempelajarinya).

Waktu retensi
Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom
menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan
waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian
puncak yang maksimum dari senyawa itu.

Detektor
Detektor berfungsi untuk memonitor keluarnya solute beserta fas gerak
dari kolom output detector berupa sinyal listrik yang sebanding dengan sifat-sifat
fase gerak dan solute.

Kolom
Kolom yang umu digunakan terbuat dari steinless stell yang panjang
bermacam-macam.

Pompa
Pompa digunakan mampu menghasilkan tekanan sampai 500 psi pada
kecepatan aliran sampai 3 ml/menit.

GC
3.4 Gambar Peralatan

11
Seperangkat alat Gass Chromatography (GC)

3.5 Gambar Rangkaian

12
3.6 Keterangan Gambar Rangkaian

Keterangan Gambar:
1. Gas pengangkut/pemasok gas
Gas pengangkut (carrier gas) ditempatkan dalam silinder bertekanan
tinggi. Biasanya tekanan dari silinder sebesar 150 atm.
2. Pengatur aliran dan pengatur tekanan
Ini disebut pengatur atau pengurang Drager. Drager bekerja baik
pada 2,5 atm, dan mengalirkan massa aliran dengan tetap. Tekanan lebih
pada tempat masuk dari kolom diperlukan untuk mengalirkan cuplikan
masuk ke dalam kolom

13
3. Tempat injeksi (The injection port)
Dalam pemisahan dengan GLC cuplikan harus dalam bentuk fase
uap. Gas dan uap dapat dimasukkan secara langsung.
4. Kolom
Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Bentuk dari
kolom dapat lurus, bengkok, misal berbentuk V atau W, dan
kumparan/spiral. Biasanya bentuk dari kolom adalah kumparan. Kolom
selalu merupakan bentuk tabung. Tabung ini dapat terbuadari tembaga
(murah dan mudah diperoleh), Plastik (teflon) dipakai pada suhu yang
tidak terlalu tinggi, Baja (stainless steel) mahal, Alumunium, dan Gelas
5. Detektor
Detektor berfungsi sebagai pendeteksi komponen-komponen yang telah
dipisahkan dari kolom secara terus-menerus, cepat, akurat, dan dapat
melakukan pada suhu yang lebih tinggi.
6. Oven kolom
Kolom terletak didalam sebuah oven dalam instrumen. Suhu oven
harus diatur dan sedikit dibawah titik didih sampel.
7. Rekorder
Rekorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang
diperkuat melalui elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari
kromatogram yang diperoleh dapat dilakukan analisis kualitatif dan
kuantitatif

BAB IV
DATA PENGAMATAN

14
HPLC
Analyse Calibration Curve

Consentration
No (ppm) Emisi
1 0,35 758
2 1,6 2556
3 5 4750
4 7,5 5045
5 10 5787

No Sampel Berat (gram) Luas daerah

1. Mixagrip 0,5 3500

2. Inza 0,5 1983

3. Molexflu 0,5 3650

4. Decolgen 0,5 2750

GC

Tabel Larutan Standard 5:5

STD BM R. Time Area Height Berat (gr)

Metanol 32 0,793 3,572 48154741 2907604 0,03965

Etanol 46 0,791 4,341 54128452 3353701 0,03955

Iso propyl alkohol 60 0,786 5,684 59234852 3578124 0,03930

Tabel Larutan Standard 10:10

STD BM R. Time Area Height Berat (gr)

Metanol 32 0,793 3,955 89678584 4560687 0,0793

15
Etanol 46 0,791 4,532 94587555 4538125 0,0791

Iso propyl alkohol 60 0,786 5,454 98124521 4734584 0,0786

Tabel Larutan Standard 15:15

STD BM R. Time Area Height Berat (gr)

Metanol 32 0,793 3,855 11136067 5052334 0,11895

Etanol 46 0,791 4,412 11173534 5186777 0,11865

Iso propyl alkohol 60 0,786 5,054 11565687 4919887 0,11790

Tabel Larutan Standard 20:20

STD BM R. Time Area Height Berat (gr)

Metanol 32 0,793 3,855 23795889 1295721 0,1586

Etanol 46 0,791 4,412 24025991 1178544 0,1582

Iso propyl alkohol 60 0,786 5,054 24825555 1145256 0,1572

Tabel Sampel : Wodka mix max blueberry

NO Ret. Time Area Height Conc


1 0,718 3732 459 0,006
2 1,087 2386 467 0,004
3 1,522 16433 2392 0,025
4 2,006 1639 181 0,002
5 2,312 65712033 6164143 99,084
6 3,696 13208 2205 0,020
7 3,885 23318 3521 0,035
8 4,123 62696 7118 0,095
9 4,405 2973 925 0,004
10 4,925 481061 45321 0,725
Total 66319479 6226732

Tabel Sampel : Wodka mix max green

16
NO Ret. Time Area Height Conc
1 0,718 7124 1500 0,000
2 0,897 1188 230 0,000
3 1,543 59642 6118 0,000
4 1,857 2480 361 0,000
5 2,305 277792189 30755651 0,000
6 4,072 418339 29010 0,000
7 4,555 107627 12584 0,000
8 4,860 596145 37651 0,000
9 5,317 388729 9485 0,000
Total 279373463 30852599

Tabel Sampel : Bir Guinnes

NO Ret. Time Area Height Conc


1 1,566 68092 5673 0,000
2 2,100 2397 307 0,000
3 2,459 3798673 196789 0,000
4 3,295 106817 10391 0,000
5 4,088 7118 1521 0,000
6 4,313 61075 6522 0,000
7 4,853 1193922 40346 0,000
8 5,260 102524 2998 0,000
Total 530618 264547

Tabel Sampel : Bir Bintang

NO Ret. Time Area Height Conc


1 0,715 18093 2964 0,000
2 1,330 2233 279 0,000
3 1,560 44105 4225 0,000
4 1,860 9376 690 0,000
5 2,321 54950712 4966040 0,000
6 4,316 308236 20924 0,000
7 4,518 302117 30393 0,000
8 4,879 1300727 71495 0,000
9 5,290 1721 530 0,000
Total 56937320 5097540

17
BAB V
PENGOLAHAN DATA

HPLC
5.1. Perhitungan Regresi Liniar Sederhana

No. Concentration Emisi X.Y X2 Y2


(ppm) (Y)
(X)
1. 0,35 758 265,3 0,1225 574564

2. 1,6 2556 4089,6 2,56 6533136

3. 5 4780 23900 25 22848400

4. 7,5 5045 37837,5 56,25 25452025

5. 10 5787 57870 100 33489369

24,25 18926 123962,4 183,9325 88897494

X = 24,25
Y = 18926
XY = 123962,4

18
X2 = 183,9325
Y2 = 88897494
n =5
Persaman yang digunakan untuk mendapatkan garis linier adalah :
Y = a + bx
Dimana nilai a dan b pada persamaan tersebut dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
Maka nilai koefisien a dan b adalah
(Y)( X2) (X)( XY)
a=
n(X2) (X)2

(18926) (183,9325) (24,25) (123962,4)


=
5 (183,9326) (24,25)2

3481106,495 3006088,2
=
919,663 588,0625
475018,295
=
331,6005
= 1432,501745

n(XY) (X)(Y)
b=
n(X2) (X)2

5 (12396,4) (24,25) (18926)


=
5 (183,9325) (24,25)2

619812 458955,5
=
919,663 588,0625
160856,5
=
331,6005
= 485,09

19
Maka dari hasil perhitungan yang diperoleh didapat persamaan regresi y
= a + bx menjadi y = 1432,501745 + 485,09 x

5.2. Perhitungan Koefisien Korelasi

R=

= 0,9509

20
R2 = (0,9509)2

= 0,90421081

5.3. Konsentrasi sample


Sampel Mixagrip

ppm

21
Sampel Inza

ppm

Sampel Molexflu

ppm

22
Sampel Decolgen

2,7 ppm

GC
5.4. Perhitungan Massa Larutan Standard
1. Larutan standard 5:5
V = 5L = 0,05 ml
* Massa = V x
a) Massa Metanol = 0,05 ml x 0,793 gr/ml
= 0,03965 gr

23
b) Massa Etanol = 0,05 ml x 0,791 gr/ml
= 0,03955 gr

c) Massa Iso propyl alkohol = 0,05 ml x 0,786 gr/ml


= 0,0393 gr

d) Massa Amyl alkohol = 0,05 ml x 0,814 gr/ml


= 0,0407 gr

* Massa total = Metanol + Etanol + Iso propyl alkohol + Amy alkohol


= ( 0,03965 + 0,03955 + 0,0393 + 0,0408 ) gr
= 0,1592 gr

* Vol. total = 0,05 ml x 4


= 0,2 ml

* Vol. injeksi = 2L = 2x10-3


* Konsentrasi Standard 5:5
X1 X2
=
V1 V2
0,1592 gr X2
0,2ml
=
2 x10 3 ml

0,0003184
X2 gr
0,2
= 0,001592 gr

2. Larutan standard 10:10


V = 100L = 0,1 ml
* Massa = V x
a) Massa Metanol = 0,1 ml x 0,793 gr/ml
= 0,0793 gr

b) Massa Etanol = 0,1 ml x 0,791 gr/ml


= 0,0791 gr

c) Massa Iso propyl alkohol = 0,1 ml x 0,786 gr/ml


= 0,0786 gr

d) Massa Amyl alkohol = 0,1 ml x 0,814 gr/ml


= 0,0814 gr

* Massa total = Metanol + Etanol + Iso propyl alkohol + Amy alkohol


= ( 0,0793 + 0,0791 + 0,0786 + 0,0814 ) gr
= 0,3184 gr

24
* Vol. total = 0,1 ml x 4
= 0,4 ml
* Vol. injeksi = 2L = 2x10-3
* Konsentrasi Standard 10:10
X1 X2
=
V1 V2
0,3184 gr X2
0,4ml
=
2 x10 3 ml

0,0006368
X2 gr
0,4
= 0.001592 gr
3. Larutan standard 15:15
V = 150L = 0,15 ml
* Massa = V x
a) Massa Metanol = 0,15 ml x 0,793 gr/ml
= 0,11895 gr

b) Massa Etanol = 0,15 ml x 0,791 gr/ml


= 0,11865 gr

c) Massa Iso propyl alkohol = 0,15 ml x 0,786 gr/ml


= 0,1179 gr

d) Massa Amyl alkohol = 0,15 ml x 0,814 gr/ml


= 0,1221 gr

* Massa total = Metanol + Etanol + Iso propyl alkohol + Amy alkohol


= ( 0,11895 + 0,11865 + 0,1179 + 0,1221 ) gr
= 0,4776 gr

* Vol. total = 0,15 ml x 4


= 0,6 ml
* Vol. injeksi = 2L = 2x10-3
* Konsentrasi Standard 15:15
X1 X2
=
V1 V2
0,4776 gr X2
0,6ml
=
2 x10 3 ml

0,0009552
X2 gr
0,6

25
= 0.001592 gr

4. Larutan standard 20:20


V = 200L = 0,20 ml
* Massa = V x
a) Massa Metanol = 0,20 ml x 0,793 gr/ml
= 0,1586 gr

b) Massa Etanol = 0,20 ml x 0,791 gr/ml


= 0,1582 gr

c) Massa Iso propyl alkohol = 0,20 ml x 0,786 gr/ml


= 0,1572 gr

d) Massa Amyl alkohol = 0,20 ml x 0,814 gr/ml


= 0,1628 gr

* Massa total = Metanol + Etanol + Iso propyl alkohol + Amyl alkohol


= ( 0,1586 + 0,1582 + 0,1572 + 0,1628 ) gr
= 0,6368 gr

* Vol. total = 0,20 ml x 4


= 0,80 ml
* Vol. injeksi = 2L = 2x10-3
* Konsentrasi Standard 20:20
X1 X2
=
V1 V2
0,6368 gr X2
0,8ml
=
2 x10 3 ml

0,0012736
X2 gr
0,8
= 0,001592 gr

Tabel Larutan Standard Metanol


Konsentrasi R. Time Area Height Berat (gr)
5:5 3,752 48154741 2907604 0,03965
10:10 3,955 89678584 4560687 0,0793
15:15 3,855 11136067 5052334 0,11895
20:20 3,855 23795889 1295721 0,1586
Jumlah 15,417 172765281 13816346 0,3965
Rata-rata 3,85425 43191320,25 3454086,5 0,099125

26
Tabel Larutan Standard Etanol
Konsentrasi R. Time Area Height Berat (gr)
5:5 4,341 54128452 3353701 0,03965
10:10 4,532 94587555 4538125 0,0791
15:15 4,412 11173534 5186777 0,11865
20:20 4.412 24025991 1178544 0,1582
Jumlah 17,697 183915532 14257147 0,3955
Rata-rata 4,42425 45978883 3564286,75 0,098875

Tabel Larutan Standard Iso Propyl Alkohol


Konsentrasi R. Time Area Height Berat (gr)
5:5 5,684 59234852 3578124 0,0393
10:10 5,454 98124521 4734584 0,0786
15:15 5,054 11565687 4919887 0,1179
20:20 5,054 24825555 1145256 0,1572
Jumlah 21,246 193750615 14377851 0,3930
Rata-rata 5,3115 48437653,75 3594462,75 0,09825

Tabel Larutan Standard Amyl Alkohol


Konsentrasi R. Time Area Height Berat (gr)
5:5 5,560 65248754 3684579 0,0407
10:10 5,983 99099898 4985127 0,0814
15:15 5,722 14854554 7443434 0,1221
20:20 5,722 26458456 1025478 0,1628
Jumlah 22,987 205661662 17138618 0,407
Rata-rata 5,74675 51415415,5 4284654,5 0,1017

5.5. Perhitungan Regresi Linier Sederhana


1. Methanol
No Consentrasi Area XY X2 Y2
1 5 48154741 240773705 25 2,3188 x 1013
2 10 89678584 896785840 100 804,22 x 1013
3 15 11136067 167041005 225 12,401 x 1013
4 20 23795889 475917780 400 56,624 x 1013
50 172765281 1780518330 750 875,5638 x 1013

27
= 43191320,25 ( -3032381,46) (12,5)
= 43191320,25 + 37904768,25
= 81096088,5

2. Ethanol
No Consentrasi Area XY X2 Y2
1 5 54128452 270642260 25 29,298 x 1014
2 10 94587555 945875550 100 89,468 x 1014
3 15 11173534 167603010 225 1,2484 x 1014
4 20 24025991 480519820 400 5,7724 x 1014
50 183915532 1864640640 750 125,7868 x 1014

28
b=

a=

= 45978883 ( (12,5)

= 45978883 + 43430351
= 89409234

= 89409234 - 3474428,08x
3. Iso Propyl Alkohol
No Consentrasi Area XY X2 Y2
1 5 59234852 296174260 25 8,7719 x 1016
2 10 98124521 981245210 100 96,284 x 1016
3 15 11565687 173485305 225 3,0097 x 1016
4 20 24825555 496511100 400 24,652 x 1016

29
50 193750615 1947415875 750 132,7176 x 1016

b = - 3795734,5

= 48437653,75 ( - 3795734,5 x 12, 5 )


= 48437653,75 + 47446681,25
= 95884335

4. Amyl Alkohol
No Consentrasi Area XY X2 Y2
1 5 65248754 326243770 25 42,574 x 1014
2 10 99099898 990998980 100 98,207x 1014
3 15 14854554 222818310 225 2,2065 x 1014
4 20 26458456 529169120 400 7,0004 x 1014
50 205661662 2069230180 750 149,9879 x 1014

30
= 51415415,5 ( -4012324,76) (12,5)
= 51415415,5 + 50154059,5
= 101569475

5.6. Perhitungan Konsentrasi

Diketahui Regresi:
Methanol Y=81096088,5-3032381,46x ;
Etanol Y=89409234-3474428,08x ;
Iso Propyl Alkohol Y=95884335-3795734,5x;

31
Amyl Alkohol Y=101569475-4012324,76x.
Sampel : Wodka mix max blubbery
Metanol
a = 81096088,5 ; b = -3032381,46 ; y = 66319479

= 4,8729
Etanol
a = 89409234 ; b = - 3474428,08 ; y = 66319479

= 6,6456
Iso Propyl Alkohol
a = 95884335 ; b = -3795734,5 ; y = 66319479

= 7,7889

32
Amyl Alkohol
a = 101569475 ; b = -4012324,76 ; y = 66319479

= 8,7854

Kadar total Alkohol yang terdapat dalam sampel:


Xtotal = Xmetanol + Xetanol + Xiso propyl alcohol + Xamyl alcohol
= 4,8729 + 6,6456 + 7,7889 + 8,7854
= 28,0928

Sampel : Wodka mix max green


Metanol
a = 81096088,5 ; b = -3032381,46 ; y = 279373463

= -65,3866

Etanol
a = 89409234 ; b = -3474428,08 ; y = 279373463

33
= -54,6749

Iso Propyl Alkohol


a = 95884335 ; b = - 3795734,5 ; y = 279373463

= -48,3408

Amyl Alkohol
a = 101569475 ; b = - 4012324,76 ; y = 279373463

= -44,3144

Kadar total Alkohol yang terdapat dalam sampel:


Xtotal = Xmetanol + Xetanol + Xiso propyl alcohol + Xamyl alcohol
= -65,3866 + (-56,4749) + (-48,3408) + (-44,3144)
= -214,5123

34
Sampel : Bir Guiennes
Metanol
a = 81096088,5 ; b = -3032381,46 ; y = 5340618

= 24,9823
Etanol
a = 89409234 ; b = -3474428,08 ; y = 5340618

= 24,1963

Iso Propyl Alkohol


a = 95884335 ; b = -3795734,5 ; y = 5340618

= 23,8540

35
Amyl Alkohol
a = 101569475 ; b = -4012324,76 ; y = 5340618

= 23,9833

Kadar total Alkohol yang terdapat dalam sampel:


Xtotal = Xmetanol + Xetanol + Xiso propyl alcohol + Xamyl alcohol
= 24,9823 + 24,1963 + 23,8540 + 23,9833
= 97,0159

Sampel : Bir Bintang


Metanol
a = 81096088,5 ; b = -3032381,46 ; y = 56937320

= 7,9669
Etanol

a = 89409234 ; b = -3474428,08 ; y = 56937320

36
= 9,3459

Iso Propyl Alkohol

a = 95884335 ; b = -3795734,5 ; y = 56937320

= 10,2607

Amyl Alkohol

a = 101569475 ; b = -4012324,76 ; y = 56937320

= 11,1237

Kadar total Alkohol yang terdapat dalam sampel:


Xtotal = Xmetanol + Xetanol + Xiso propyl alcohol + Xamyl alcohol

37
= 7,9669 + 9,3459 + 10,2607 + 11,1237
= 38,697

BAB VI

KESIMPULAN

6.1.Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

HPLC

- Dari perhitungan dapat di atas diperoleh persamaan y = 1432,5 +


485,09x

38
- Dari perhitungan koefisien korelasi di dapatkan harga R = 0,9509 , hal
ini menunjukkan bahwa hubungan antara konsentrasi (x) dengan emisi
(y) adalah kuat
- Konsentrasi sampel yang paling tinggi adalah konsentrasi Panadol
Yaitu sebesar 4,4 ppm dengan % Weight 0,88
- Semakin besar luas area sampel maka semakin besar pula
konsentrasinya.

GC

- Massa total yang diperoleh pada standard 5:5; 10:10; 15:15; 20:20
secara berturut-turut adalah 0,1593 gram, 0,3186 gram, 0,4779 gram,
0,6368 gram.
- Konsentrasi Standard 5:5 ; 10:10 ; 15:15 ; 20:20 yang diperoleh yaitu
0,001592 gr.
- Perhitungan regresi linear yang diperoleh dari methanol
Y=81096088,5-3032381,46x ; Etanol Y=89409234-3474428,08x ; Iso
Propyl Alkohol Y=95884335-3795734,5x; dan Amyl Alkohol
Y=101569475-4012324,76x.
- Total kadar alcohol yang terkandung dalam sampel yaitu wodka mix
max blueberry = 28,0928; wodka mix max green = -214,5167; bir
guinnes = 97,0159; bir bintang = 38,6972

6.2. Saran

- Setiap praktikan harus bekerja dengan teliti agar mendapatkan hasil


yang malsimal, terutama dalam membuat larutan dan melarutkan
sampel.

- Sebelum menghidupkan alat HPLC sebaiknya alat dikalibrasi terlebih


dahulu

39
DAFTAR PUSTAKA

Arswendiyumna.Regalado.2010.Minyak Atsiri Dari Daun Dan Batang Tanaman


Dua Spesies Genus Cymbopogon, Famili Gramineae Sebagai Insektisida
Alami Dan Antibakteri.Institut teknologi Sepuluh Nopember.

Barus, Adil. 2011. Diktat Kimia Analisa Instrument, PTKI Medan

Buku Penuntun Praktikum Kimia Analisa Instrument. 2016. PTKI Medan.

http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/kimia_analis hplc/.

40
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian-
material/kromatografi/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3616/1/farmasi-effendy2.pdf

41